Anda di halaman 1dari 12

Apresiasi Budaya Jawa

REOG

Oleh : 1. Lulu Savitri 2. Santi Hariningtyas 3. Avinta Diah (115110600111014) (115110607111005) (110000000000000)

Pendidikan Bahasa dan Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Tahun Ajaran 2011-2012

BAB I Pendahuluan 1.1 Pertama-tama kami ucapkan puji syukur kepada Allah SWT karena atas anugerahnya kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Kami juga mengucapkan terima kasih banyak kepada dosen, teman-teman serta narasumber yang telah membantu kami dalam menyelesaikan tugas makalah ini. Tugas makalah ini kami buat atas dasar perintah dari dosen untuk melengkapi nilai apresiasi budaya jawa. Dimana tugas ini juga bertujuan untuk mengangkat dan mengapresiasikan budaya jawa kepada mahasiswa dan masyarakat. 1.2 Tujuan Adapun tujuan dari tersusunnya makalah ini. Yaitu: 1. Untuk menjabarkan pengertian dari Reog. 2. Untuk mengetahui bagian-bagian dari reog. 3. Untuk mengetahui lebih dalam sejarah dari reog. 1.3 Rumusan masalah. 1. Apa pengertian reog sebenarnya? 2. Apa saja bagian-bagian yang terdapat dari reog? 3. Bagaimana sejarah reog sebenarnya?

BAB II Pembahasan

2.1 Pengertian
Reog adalah salah satu tarian rakyat jawa timur, tepatnya dari ponorogo. Reog sendiri sebuah kesenian Barongan dimana daya tarik utama dari tarian ini adalah kepala macan atau singa dan bulu burung merak, tarian reog ini dimainkan oleh seorang pembarong. Pembarong memainkan barongan dengan cara menggigit sebuah gagang yang terdapat dalam kepala macan atau singa tersebut. Tarian tradisional ini dipentaskan di arena terbuka, berfungsi sebagai hiburan rakyat yang mengandung unsur magis.

2.2 Sejarah
Menurut legenda Reog atau Barongan bermula dari kisah Demang Ki Ageng Kutu Suryonggalan yang ingin menyindir Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Sang Prabu pada waktu itu sering tidak memenuhi kewajibannya karena terlalu dipengaruhi dan dikendalikan oleh sang permaisuri. Oleh karena itu dibuatlah barongan yang terbuat dari kulit macan gembong (harimau Jawa) yang ditunggangi burung merak. Sang prabu dilambangkan sebagai harimau sedangkan merak yang menungganginya melambangkan sang permaisuri. Selain itu agar sindirannya tersebut aman, Ki Ageng melindunginya dengan pasukan terlatih yang diperkuat dengan jajaran para warok yang sakti mandraguna. Di masa kekuasaan Adipati Batorokatong yang memerintah Ponorogo sekitar 500 tahun lalu, reog mulai berkembang menjadi kesenian rakyat. Pendamping Adipati yang bernama Ki Ageng Mirah menggunakan reog untuk mengembangkan kekuasaannya. Kemudian reog dimanfaatkan sebagai sarana mengumpulkan massa dan merupakan saluran komunikasi yang efektif bagi penguasa pada waktu itu. Ki Ageng Mirah kemudian membuat cerita legendaris mengenai Kerajaan Bantaranangin yang oleh sebagian besar masyarakat Ponorogo dipercaya sebagai sejarah. Adipati Batorokatong yang beragama Islam juga memanfaatkan barongan ini untuk menyebarkan agama Islam. Nama Singa Barongan kemudian diubah menjadi Reog, yang berasal dari kata Riyoqun, yang berarti khusnul khatimah yang bermakna walaupun sepanjang hidupnya bergelimang dosa, namun bila akhirnya sadar dan

bertaqwa kepada Allah, maka surga jaminannya. Selanjutnya kesenian reog terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Kisah reog terus menyadur cerita ciptaan Ki Ageng Mirah yang diteruskan mulut ke mulut, dari generasi ke generasi.

Berkembang pula cerita-cerita dalam masyarakat tentang sejarah reog. Diantaranya adalah:
1. Mengenai pemberontakan Ki Ageng Kutu seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabumi Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak istri raja Majapahit yang berasal dari Cina, selain itu juga murka kepada rajanya dalam pemerintahan yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan di mana ia mengajar seni bela diri kepada anak-anak muda, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan kerajaan Majapahit kembali. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Kertabhumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog. 2. Reog mengacu pada beberapa babad, Salah satunya adalah babad Kelana Sewandana. Babad Klana Sewandana yang konon merupakan pakem asli seni pertunjukan reog. Mirip kisah Bandung Bondowoso dalam legenda Lara Jongrang, Babad Klono Sewondono juga berkisah tentang cinta seorang raja, Sewondono dari Kerajaan Jenggala, yang hampir ditolak oleh Dewi Sanggalangit dari Kerajaan Kediri. Sang putri meminta Sewondono untuk memboyong seluruh isi hutan ke istana sebagai mas kawin. Demi memenuhi permintaan sang putri, Sewandono harus mengalahkan penunggu hutan, Singa Barong (dadak merak). Namun hal tersebut tentu saja tidak mudah. Para warok, prajurit, dan patih dari Jenggala pun menjadi korban. Bersenjatakan cemeti pusaka Samandiman, Sewondono turun sendiri ke gelanggang dan mengalahkan Singobarong. Pertunjukan reog digambarkan dengan tarian para prajurit yang tak cuma didominasi para pria tetapi juga wanita, gerak bringasan para warok, serta gagah dan gebyar kostum Sewandana, sang raja pencari cinta.

3. Versi lain dalam Reog Ponorogo mengambil kisah Panji. Ceritanya berkisar tentang perjalanan Prabu Kelana Sewandana mencari gadis pujaannya, ditemani prajurit berkuda dan patihnya yang setia, Pujangganong. Ketika pilihan sang prabu jatuh pada putri Kediri, Dewi Sanggalangit, sang dewi memberi syarat bahwa ia akan menerima cintanya apabila sang prabu bersedia menciptakan sebuah kesenian baru. Dari situ terciptalah Reog Ponorogo. Huruf-huruf reyog mewakili sebuah huruf depan kata-kata dalam tembang macapat Pocung yang berbunyi: Rasa kidung/ Ingwang sukma adiluhung/ Yang Widhi/ Olah kridaning Gusti/ Gelar gulung kersaning Kang Maha Kuasa. Unsur mistis merupakan kekuatan spiritual yang memberikan nafas pada kesenian Reog Ponorogo.

2.3 Unsur-unsur utama seni tari Reog


1. Pembarong Pembarong atau penari singobarong adalah tokoh yang jahat, menghalangi perjalanan bujangganong untuk melamar putri Sekartaji. Menjadi seorang pembarong sangatlah tidak mudah. Karena pembarong harus mengangkat barongan yang seberat kurang lebih 50 kilogram dengan menggigit gagang yang terdapat di dalam kepala macan. Menurut cerita yang beredar di masyarakat, seorang pembarong menggunakan cara gaib untuk mendapatkan kekuatan agar bisa mengangkat beban barongan yang sangat berat tersebut. Menurut masyarakat, beberapa para pembarong menggunakan susuk pada leher mereka. . Pakaian dan kostum yang digunakan meliputi: ikat kepala hitam, baju kimplong warna merah polos, celana panjang warna hitam seret merah samping kanan-kiri, sabuk warna hitam, dan embong gombyok.

2. Warok Warok adalah pasukan yang bersandar pada kebenaran dalam pertarungan antara kebaikan dan kejahatan dalam cerita kesenian reog. Warok Tua adalah tokoh pengayom, sedangkan Warok Muda adalah warok yang masih dalam taraf menuntut ilmu. Hingga saat ini, Warok dipersepsikan sebagai tokoh yang pemerannya harus memiliki kekuatan gaib tertentu. Bahkan tidak sedikit cerita buruk seputar kehidupan warok. Warok adalah sosok dengan stereotip: memakai kolor, berpakaian hitam-hitam, memiliki kesaktian dan gemblakan.Menurut sesepuh warok, Kasni Gunopati atau yang dikenal Mbah Wo Kucing, warok bukanlah seorang yang takabur karena kekuatan yang dimilikinya. Warok adalah orang yang mempunyai tekad suci, siap memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. Warok itu berasal dari kata wewarah. Warok adalah wong kang sugih wewarah. Artinya, seseorang menjadi warok karena mampu memberi petunjuk atau pengajaran kepada orang lain tentang hidup yang baik.Warok iku wong kang wus purna saka sakabehing laku, lan wus menep ing rasa (Warok adalah orang yang sudah sempurna dalam laku hidupnya, dan sampai pada pengendapan batin). 3. Gemblakan Gembalakan adalah penari penunggang kuda yang berjumlah kuarang lebih 5 orang. Selain segala persyaratan yang harus dijalani oleh para warok tersebut, selanjutnya muncul disebut

dengan Gemblakan. Dahulu warok dikenal mempunyai banyak gemblak, yaitu lelaki belasan tahun usia 12-15 tahun berparas tampan dan terawat yang dipelihara sebagai kelangenan, yang kadang lebih disayangi ketimbang istri dan anaknya. Memelihara gemblak adalah tradisi yang telah berakar kuat pada komunitas seniman reog. Bagi seorang warok hal tersebut adalah hal yang wajar dan diterima masyarakat. Konon sesama warok pernah beradu kesaktian untuk memperebutkan seorang gemblak idaman dan selain itu kadang terjadi pinjam meminjam gemblak. Biaya yang dikeluarkan warok untuk seorang gemblak tidak murah. Bila gemblak bersekolah maka warok yang memeliharanya harus membiayai keperluan sekolahnya di samping memberinya makan dan tempat tinggal. Sedangkan jika gemblak tidak bersekolah maka setiap tahun warok memberikannya seekor sapi. Dalam tradisi yang dibawa oleh Ki Ageng Suryongalam, kesaktian bisa diperoleh bila seorang warok rela tidak berhubungan seksual dengan perempuan. Hal itu konon merupakan sebuah keharusan yang berasal dari perintah sang guru untuk memperoleh kesaktian.

Kewajiban setiap warok untuk memelihara gemblak dipercaya agar bisa mempertahankan kesaktiannya. Selain itu ada kepercayaan kuat di kalangan warok, hubungan intim dengan perempuan biarpun dengan istri sendiri, bisa melunturkan seluruh kesaktian warok. Saling mengasihi, menyayangi dan berusaha menyenangkan merupakan ciri khas hubungan khusus antara gemblak dan waroknya. Praktik gemblakan di kalangan warok, diidentifikasi sebagai praktik homoseksual karena warok tak boleh mengumbar hawa nafsu kepada perempuan.

Saat ini memang sudah terjadi pergeseran dalam hubungannya dengan gemblakan. Di masa sekarang gemblak sulit ditemui. Tradisi memelihara gemblak, kini semakin luntur. Gemblak yang dahulu biasa berperan sebagai penari jatilan (kuda lumping), kini perannya digantikan oleh remaja putri. Padahal dahulu kesenian ini ditampilkan tanpa seorang wanita pun. Kostum yang digunakan meliputi: ikat kepala hitam (gadung) jilit Ponoragan, kemeja warna putih lengan panjang, jarit loreng putih parang barong keprajuritan, sabuk cinde dasaran merah, sabuk epek dasaran hitam, dua sampur warna merah dan kuning, celana dingkikan kepanjen bordiran dasaran hitam, boro-boro samir, cakep, srempang, kaos, gulon ter, binggel.

4. Bujang Ganong Mempunyai kelincahan dan kelenturan tubuh. Bujangganong dalam setiap pertunjukan reog sering melakukan atraksi. Pemain atau penari Bujangganong terdiri dari dua orang. Penari Bujangganong adalah penari yang dituntut atraksi yang cukup berbahaya. Tata rias dan kostumnya adalah: baju rompi warna merah seret hitam, sabuk hitam, sabuk epek timang dasaran hitam, embong gombyok dari sayet, dua sampur warna merah dan kuning, cakep, celana dingkikan lepas jebug seret putih samping kanan-kiri dan bawah, binggel.

5. Klono Sewandono
Klono Sewandono merupakan tokoh raja Bantarangin yang gagah dan tampan. Tokoh Klono Sewandono memiliki perwatakan yang keras, mempunyai ilmu kanuragan yang tinggi. Mempunyai senjata yang ampuh, dikenal dengan pecut samandiman. Kostum yang digunakan: probo, uncal, ikat bahu, keris blangkrak berhias ronce bunga, jarit loreng putih parang barong, sabuk cinde dasaran merah, sabuk epek dasaran merah, dua sampur warna merah dan kuning, celana panjang cinde dasaran merah, kace dasaran merah, ulur dasaran merah, cakep dasaran merah, boro-boro samir dasaran merah, binggel. 6. Pengrawit Pengrawit dalam kesenian reog memiliki peranan yang tidak kalah penting. Kelompok ini yang selalu dapat memeriahkan pertunjukan reog dengan tabuhan gamelannya yang sangat khas. Atribut dan pakaian yang digunakan meliputi: ikat kepala hitam (gadung) jilit Ponoragan, baju penadon lengan panjang warna hitam potong gulon, srempang jarit loreng putih parang barong, celana panjang warna hitam kombor Ponoragan. Perbedaan yang mencolok antara kostum reog dalam festival dan reog pada umumnya adalah pada kostum penari jathil selain memakai samir juga memakai selempang warna kuning, sedangkan reog pada umumnya hanya memakai samir. Selain itu, penari bujangganong pada reog festival memakai baju rompi warna merah seret hitam, sedangkan pada reog secara umum penari bujangganong memakai kaos lorek warna merah-putih.

2.4 Instrumen atau Peralatan Reog


Dalam kesenian reog terdapat dua macam instrumen atau peralatan yang dipergunakan, yaitu: 1. Peralatan Pemain Peralatan yang digunakan meliputi: Topeng Singobarong Dhadakmerak, Topeng Klono Sewandono, Topeng Bujangganong, dan Kuda Kepang (istilah lokal: eblek). Pada masa lalu, sekitar tahun 1940, topeng Singobarong Dhadakmerak terbuat dari ijuk atau bahan pembuat sapu. Setelah itu, terbuat dari rumput merakan bahan ini dipilih karena dinilai menyerupai bahan aslinya. Setelah masa kemerdekaan, sekitar tahun 1950 terjadi perubahan pada topeng Singobarong. Sejak saat itu, reog sudah mulai menggunakan topeng Singobarong sebagaimana sekarang, yang terbuat dari bahan utama kulit harimau dan bulu merak asli.Topeng Singobarong Dhadakmerak merupakan ciri khusus reog Ponoragan yang membedakan dengan jenis reog lainnya yang berkembang di daerah Wonogiri. Pada reog Caplok misalnya, topeng Singobarong hanya berupa kepala harimau tanpa dhadakmerak. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh adanya perhatian dari pemerintah pada waktu itu, berupa dukungan pembiayaan dalam pengadaan reog yang lebih baik. Pada waktu itu, kelompokkelompok reog yang dinilai maju mendapat bantuan dana untuk membeli reog dari Ponorogo. Selain itu, upaya pengadaan reog yang lebih baik juga berasal dari masyarakat pencinta atau pelaku reog sendiri. Pada saat itu, bisa saja seseorang yang memiliki dana berkenan membeli peralatan reog untuk kelompoknya. Bahkan, untuk memajukan kelompok reognya seseorang rela menjual sebagian harta benda yang dimilikinya misalnya berupa hewan ternak untuk dibelikan reog. 2. Peralatan Musik Pengiring atau Gamelan Peralatan yang digunakan meliputi: 1 buah Kendang, 1 buah Selompret, 1 buah Ketipung, 1 buah Kempul, 2 buah Kenong, dan 4 buah Angklung, serta Gayur atau tempat kempul dan kenong. Pada saat berkembangnya tema atau lakon cerita reog Sambernyawan Wonogiren tahun 1990, terdapat peralatan musik yang lain sebagai pengiring pementasan reog disamping gamelan reog seperti pada umumnya yang telah disebutkan di atas. Adapun peralatan musik tersebut lengkap

dengan nyanyian atau tembangnya adalah sebagai berikut: Drum, Tambur, Suling, Kloken Stil, Kenthongan, Kempul Laras Gulu Alit, dan Laras Barang, serta lagu atau tembangnya meliputi: lagu Mars Sambernyawan dan tembang Sigra Mangsah. (Naskah Lagu atau Tembang Terlampir). Alat musik Tambur dan Kenthongan merupakan ciri khas garap Wonogiren.Pada saat ini, tema atau lakon cerita reog Sambernyawan Wonogiren sudah tidak berkembang lagi. Oleh karena itu, peralatan musik yang mengiringinya pun sudah tidak digunakan lagi dalam pementasan reog. Peralatan musik pengiring reog yang berkembang sekarang adalah peralatan reog Ponoragan. Hanya saja dalam perkembangannya, mengenai jumlah peralatan musik yang digunakan bisa berubah-ubah. Sebagai contoh, pementasan reog di FRN tahun 2006 yang lalu, reog Kabupaten Wonogiri menampilkan peralatan musik pengiring reog yang serba ganda.

2.4 Bentuk Pertunjukan Kesenian Reog


Dalam mengamati beberapa macam pementasan reog yang berbeda-beda, unik, dan terikat ruang dan waktu, penulis mengelompokkan menjadi dua bentuk pementasan. Langkah ini bertujuan untuk mengenali dan memahami tentang fenomena kesenian reog.
1.Kesenian

Reog dalam Tanggapan atau Obyogan

Dalam bausastra Jawa-Indonesia, obyog atau obyog-obyog diartikan sebagai nayub atau mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. Jadi, obyogan adalah kata lain dari tayuban atau sebuah suasana ramai karena sekerumunan orang yang mengerjakan sesuatu.[33] Reog obyogan biasanya ditanggap oleh individu, keluarga, desa, organisasi, atau kelompok masyarakat tertentu untuk mengisi acara-acara khusus seperti pernikahan, khitanan, selametan, bersih desa atau rasulan, serta peristiwa-peristiwa penting lainnya.
2.

Kesenian Reog dalam Festival Reog festival merupakan bentuk pementasan reog Reog festival dilakukan di ruang pentas

berupa stage atau sebuah panggung.[41] Dalam hal ini, sebuah panggung pertunjukan dengan level-level tertentu atau dalam pengertian yang lebih umum sebagai ruang pentas yang tetap dan mempunyai batas-batas yang jelas antara pemain dan penonton. Di dalam reog festival, pola gerakan tari yang ditampilkan lebih berupaya untuk mendudukkan tubuh ke dalam standar-standar yang telah ditentukan.

Bab III Kesimpulan Indonesia memiliki banyak sekali warisan budaya dari nenek moyang. Sebagai generasi muda, kita harus mengetahui apa saja warisan dari nenk moyang. Kita harus bisa menjaga kebudayaan tersebut agar tidak musnah dan diambil oleh Negara lain, karena kebudayaan adalah identitas suatu bangsa.