Anda di halaman 1dari 24

STATUS PASIEN BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARDINAH TEGAL Nama Mahasiswa NIM

: Cahyarani Wulansari Dokter Pembimbing : dr. H. R. Setyadi, Sp.A : 030.08.063 Tanda tangan :

I. IDENTITAS PASIEN Data Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Agama Suku Bangsa Pendidikan Pekerjaan Penghasilan Keterangan Asuransi No. RM 724020 Islam Jawa 2.500.000 per bulan Pasien An. H 8 bulan Laki-laki Ayah Tn.N 30 tahun Laki-laki Munjung Agung, Kramat Islam Jawa SMA Islam Jawa SMA Ibu Rumah Tangga Ibu Ny.S 25 tahun Perempuan

Hubungan orangtua dengan anak adalah anak kandung

II. DATA DASAR ANAMNESIS (Alloanamnesis dan Autoanamnesis) Anamnesis dengan ibu pasien dilakukan pada tanggal 8 Februari 2014 di bangsal Melati pukul 14.00 WIB.

Keluhan Utama

: Panas

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang diantar oleh ibunya ke poli anak RSUD Kardinah Tegal dengan keluhan panas. Sejak 2 hari yang lalu panas dirasakan naik turun, terutama dirasa lebih panas saat malam hari. Saat hari pertama panas pasien berobat ke dokter umum diberi obat penurun panas. Selama minum obat dari dokter tersebut, panasnya turun namun ketika malam panasnya tinggi lagi. Sejak demam pasien tampak kurang aktif dan cenderung banyak tidur. 1 hari sebelum dibawa ke rumah sakit, pasien BAB cair sebanyak 2 kali, BAB cair dengan ampas, berwarna kuning. Ibu pasien mengaku pasien tidak muntah. Ibu pasien mengatakan pasien tampak lemas, sesak nafas, nafsu makannya menurun namun masih mau minum susu. Pasien diberikan susu formula oleh ibunya karena ASI ibunya hanya keluar sedikit. Ibunya mengaku saat buang air kecil pasien tidak tampak kesakitan. BAK berwarna kuning bening dan masih banyak. Pada hari pertama perawatan tgl 4 Februari 2014, pasien BAB cair 2 kali, BAB cair tanpa ampas, tanpa lendir, tanpa darah. Demam naik dan turun setelah minum obat. Pasien lebih rewel dari biasanya. Pada hari kedua Ibunya mengaku setiap kentut pasien bab cair berwarna kuning, tidak ada lendir, tidak berdarah. Demam masih naik dan turun setelah minum obat. Pada hari ketiga perawatan ibu pasien merasa perut anaknya lebih besar daripada sebelumnya, tidak terdapat mual ataupun muntah. Masih bab cair 2x sehari, dan keluar bab cair setiap kentut. Demam naik dan turun. Mulai muncul bintik-bintik merah di kaki pasien yang menurut ibunya seperti bekas digigit nyamuk. Pada hari keempat bab cair 1x, berlendir, saat kentut sudah tidak bab. Menurut ibu pasien, pasien tampak sedikit sesak dan ada sedikit batuk. Bercak di kaki semakin banyak dan merata. Demam masih muncul naik dan turun. Pada hari kelima pasien masih demam naik turun, bab cair 1x, berlendir, ampas sudah lebih banyak, nafsu makan membaik dan minum banyak. Sesak berkurang, batuk juga berkurang. Setelah 6 hari dirawat, ibunya mengatakan bahwa keadaan pasien membaik, sudah tidak bab cair, nafsu makan mulai meningkat, demam mulai turun dan batuk juga berkurang, serta tidak ada keluhan yang lain.

Riwayat Penyakit Dahulu Pasien belum pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya Pasien belum pernah mengalami hal seperti ini Tidak ada riwayat operasi Tidak ada riwayat trauma Tidak ada riwayat alergi

Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada anggota keluarga yang menderita hal serupa

Riwayat Lingkungan Perumahan Kepemilikan Keadaan Rumah : Rumah berukuran 6x15m dinding rumah tembok, lantai di keramik, plafon terbuka, belum terpasang granit. Kamar berjumlah 2, 1 kamar mandi di dalam rumah. Jarak septic tank kurang lebih 10 meter dari rumah, limbah buangan ke kali yang terletak di belakang rumah. Sumber air minum dari air PAM. Pencahayaan dan ventilasi rumah baik, saat siang hari keluarga tidak perlu menyalakan lampu, jendela dibuka saat pagi dan siang hari. Jarak antar rumah saling berdekatan. Keadaan lingkungan : Lingkungan rumah baik. : Rumah sendiri

Riwayat Sosial Ekonomi Ayah pasien bekerja sebagai wiraswasta dengan penghasilan Rp 2.500.000 per bulan, sedangkan ibu adalah ibu rumah tangga. Ayah pasien menanggung 2 orang anak dan 1 orang istri. Biaya pengobatan ditanggung oleh BPJS. Kesan: riwayat sosial ekonomi cukup Riwayat Kehamilan dan Pemeriksaan Prenatal

Ibu memeriksakan kehamilan di bidan secara teratur 1x tiap bulan selama kehamilan. Saat usia 8 bulan, ibu memeriksakan kehamilan setiap 2 minggu. Mendapatkan suntikan TT 2x Tidak pernah menderita penyakit selama kehamilan, riwayat perdarahan selama kehamilan disangkal, riwayat trauma selama kehamilan disangkal, riwayat minum obat tanpa resep dokter dan jamu disangkal. Ibu mengkonsumsi vitamin penambah darah dari Puskesmas. Kesan: riwayat pemeliharaan prenatal baik. Riwayat Persalinan Bayi laki-laki lahir dengan umur kehamilan ibu 38 minggu, secara spontan, ditolong oleh bidan. Bayi lahir langsung menangis keras dengan berat badan lahir 2900 gram, panjang badan lahir 47 cm, lingkar kepala dan lingkar dada lahir ibu lupa. Kesan : Neonatus aterm, lahir spontan, bayi dalam keadaan sehat. Riwayat Pemeliharaan Postnatal Pemeliharaan postnatal dilakukan di Posyandu dan anak dalam keadaan sehat. Riwayat Perkembangan dan Pertumbuhan Anak Pertumbuhan: Berat badan lahir 2900 gram. Panjang badan lahir 47 cm. Berat badan sekarang 9.3 kg Tinggi sekarang 72 cm Perkembangan: Pertumbuhan gigi pertama Psikomotor Tengkurap dan berbalik sendiri Duduk Merangkak Berdiri Berjalan Berbicara : 6 bulan : 7 bulan : Saat ini : : : : ibu lupa

Saat ini anak berusia 8 bulan. Tidak ada gangguan perkembangan dalam mental dan emosi. Interaksi dengan orang sekitar baik. Kesan : Baik ( Perkembangan sesuai dengan usia)

Riwayat Makan dan Minum Anak Ibu mengaku memberikan ASI dan susu Formula sejak lahir sampai sekarang (8 bulan) Usia 7 bulan diberikan ASI, susu Formula dan bubur susu 3 x sehari. Usia 8 bulan (saat ini) diberikan ASI, susu Formula dan bubur tim 3 x sehari.

Kesan : Kualitas makanan baik dan kuantitas makanan baik Riwayat Imunisasi
VAKSIN BCG DPT/ DT POLIO CAMPAK HEPATITIS B DASAR (umur) 1 bulan 2 bulan 2 bulan 0 bulan 4 bulan 4 bulan 1 bulan 6 bulan 6 bulan 6 bulan ULANGAN (umur) -

Kesan : Imunisasi dasar lengkap dan selalu mengikuti jadwal imunisasi yang tertera pada KMS

Riwayat Keluarga Berencana Ibu pasien mengaku belum berencana untuk KB

Silsilah/ Ikhtisar Keturunan

Keterangan:

: laki-laki : Meninggal : Pasien

: Perempuan : Meninggal

III. PEMERIKSAAN FISIK Dilakukan pada tanggal 8 Februari pukul 14.30 WIB, di Bangsal Melati. Kesan Umum : kesadaran compos mentis, tampak sakit sedang. Tanda Vital Nadi Laju Nafas Tekanan darah Suhu : 120 x/menit, reguler, isi cukup : 30 x/menit, reguler :: 37,0 C (aksila)

Data Antropometri Berat badan sekarang : 9,3 kg Tinggi badan sekarang : 72 cm

Status Generalis Kepala Rambut Mata : Mesocephali : Hitam, lebat, tampak terdistribusi merata : Conjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), oedem palpebra (-/-), mata cekung (-/-) Hidung : Bentuk normal, simetris, sekret (-/-) cuping hidung (+/+) Telinga Mulut Tenggorok : Bentuk dan ukuran normal, discharge (-/-) : Bibir kering (-), bibir sianosis (-), stomatitis (-) : Faring hiperemis (-) : Tonsil T1-T1 hiperemis (-), detritus (-), granulasi (-) Leher Axilla Thorax Pulmo: o Inspeksi : Pergerakan dinding thorax kiri-kanan simetris, retraksi (+) sub costae o Palpasi o Perkusi : Vokal fremitus tidak dilakukan : Sonor pada seluruh lapang paru kirikanan, agak redup di basal paru kanan o Auskultasi : Suara nafas vesikuler diseluruh lapang : Simetris, pembesaran KGB (-) : Pembesaran KGB (-) : Dinding thorax normothorax dan simetris

paru kiri-kanan, rhonki (+/+), wheezing (-/-) Cor :

o Inspeksi o Palpasi

: Ictus cordis tidak tampak : Ictus cordis teraba di ICS IV midclavicula sinistra

o Perkusi o Auskultasi

: Sulit dinilai : Bunyi jantung I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

: : buncit dan simetris. : Bising usus (+) meningkat : Supel, turgor kembali < 2 detik, nyeri tekan (+) Hepar teraba 2 jari dibawah arcus costae, Tepi tajam, permukaan rata, konsistensi kenyal, lien tidak teraba.

Inspeksi Auskultasi Palpasi

Perkusi

: timpani di ke 4 kuadran abdomen. : Pembesaran KGB (-) : laki-laki, testis turun ke dalam kantung pelir, tidak ada kelainan

Inguinal Genitalia

Anorektal Ekstremitas

: anus (+) tidak ada kelainan : Superior Inferior +/+ -/<2 -/-

Akral Dingin Akral Sianosis CRT Oedem

-/-/<2 -/-

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Foto Rontgen Thoraks Jenis Foto: AP dan LLD

Deskripsi : Corakan bronkovaskular meningkat dan bluring Silhote sign (+) Lamilar ground glass opacity hemithorax dextra Cor CTR <0,56

Kesan : Edema pulmo dengan efusi pleura dextra

2. Laboratorium Jenis Leukosit Eritrosit 4Februa ri 2013 (18.23) 5.1 4.5 6Februari 7Februari 8Februari 9Februari Nilai 2013 2013 2013 2013 rujuka (16.59) (09.44) (10.25) (11.01) n 8.9 8.7 10.3 6.0 4.2 17.0 4.2 4.7 4.1 4.0 3.6 5.2 11.8 12.8 11.2 11.5 10.1 13.5

Hemoglobin 12.5

Hematokrit MCV MCH MCHC Trombosit

35.7 79,3 27.8 35.0 184 56.0 37.7 5.9 0 0.4 Negatif

34.6 81.6 27.8 34.1 18 -

37.5 80.3 27.4 34.1 19 Diff count -

32.7 80.5 27.6 33.3 16

29.0 80.1 27.9 34.8 15

34 40 76 96 27 31 33.0 37.0 150 400 50 70 25 40 28 24 01

Neutrofil Limfosit Monosit Eosinofil Basofil CRP

PEMERIKSAAN KHUSUS Data antropometri: Bayi Laki-laki usia Berat badan Tinggi badan Pemeriksaan Status Gizi Pertumbuhan fisik bayi laki-laki menurut CDC 2000 : BB/U= 9,3/8,9 x100% = 104% (Gizi Baik) TB/U = 72/70 x 100% = 102% (Tinggi normal) BB/TB = 9,3/9,1 x 100% = 102% (Gizi Baik) Kesan : Berat badan baik, tinggi badan normal dan status gizi baik : 8 Bulan : 9,3 kilogram : 72 cm

10

Daftar Masalah pada pasien ini: 1. Demam 2. Bab cair 3. Sesak & Batuk 4. Thrombositopenia

V. DIAGNOSA BANDING 1. Demam DHF Demam Tifoid

2. Sesak dan Batuk Infeksi Saluran Pernapasan Atas Asma Edema paru Efusi Pleura

VI. DIAGNOSA SEMENTARA Dengue Hemmorraghic Fever dengan Edema paru dan Efusi Pleura Dextra

VII. PENATALAKSANAAN 1. Medikamentosa Infus RL 9 tpm Injeksi : Furosemide 2x5 mg IV Oral : Zinc 2x1 C Paracetamol syrup 3x1 cth

11

2. Non medikamentosa Informasi keadaan pasien Bed rest Evaluasi keadaan umum dan tanda vital Edukasi ke orangtua pasien agar anak banyak minum air putih Memberi asupan gizi yang baik sesuai usia

VIII. PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad santionam Quo ad fungsionam : Dubia ad bonam : Dubia ad bonam : Dubia ad bonam

IX. USULAN PEMERIKSAAN Darah rutin ulang

X. ANALISA KASUS Pada pasien ini ditegakan diagnosa dengue hemmoraghic fever karena dari hasil berikut didapatkan : I. Anamnesa Dari allo-anamnesa, didapatkan data-data yang mendukung ke arah diagnosis demam berdarah dengue : 1. Demam mendadak 2 hari SMRS 2. Anak tampak lemas dan kurang aktif 3. Pada perawatan hari ke 3 muncul bintik-bintik merah di kedua kaki dan tangan pasien II. Pemeriksaan fisik Pada saat dilakukan pemeriksaan fisik ditemukan adanya nafas cuping hidung, ronkhi dikedua lapang paru, perkusi redup pada basal paru kanan, hepatomegali 2 jari dibawah arcus costae, terdapat ptekie di keempat ekstremitas. Hal ini menggambarkan adanya edema paru dan efusi pleura karena kebocoran plasma. Adanya hepatomegali dan perdarahan spontan berupa ptekie menguatkan diagnosa DHF.

III. Pemeriksaan penunjang Pada kronologi pemeriksaan penunjang berupa laboratorium darah serial didapatkan gambaran kebocoran plasma yang ditandai dengan peningkatan kadar hematokrit >20%, dan trombositopenia (<100.000/l). Pada pemeriksaan rontgen thorax juga terdapat adanya

12

gambaran efusi pleura kanan dan oedem paru, yang dapat terjadi pada DHF. Setelah penatalaksanaan DHF selesai, terlihat bahwa kadar hematokrit bergerak turun mendekati normal dan kadar trombosit juga cenderung meningkat sebagai tanda bahwa volume plasma darah yang bocor telah tergantikan dan produksi trombosit berangsur-angsur membaik. Setelah 6 hari dirawat, terdapat perbaikan pada kondisi pasien. secara bertahap terdapat peningkatan selera makan, panas tidak terdapat lagi, dan nilai laboratorium darah yang stabil. Pada tanggal 10 Februari 2014 pasien dipulangkan dengan keadaan umum yang stabil dan kondisi yang baik.

13

TINJAUAN PUSTAKA

DEMAM BERDARAH DENGUE Penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus genus Flavivirus famili Flaviviridae, mempunyai 4 jenis serotipe yaitu den-1, den2, den-3 dan den-4 melalui perantara gigitan nyamuk Aedes aegypti. Keempat serotipe dengue terdapat di Indonesia, den-3 merupakan serotipe dominan dan banyak berhubungan dengan kasus berat. Penyakit ini dapat menyerang semua orang dan dapat mengakibatkan kematian terutama pada anak-anak. Sampai sekarang penyakit DBD ini masih menimbulkan masalah kesehatan di Indonesia, karena jumlah penderitanya semakin meningkat dan wilayah yang terjangkit semakin luas. Jumlah kasus biasanya meningkat bersamaaan dengan peningkatan curah hujan oleh karena itu puncak jumlah kasus berbeda di tiap daerah. Pada umumnya di Indonesia meningkat pada musim hujan sejak bulan Desember sampai dengan April-Mei tiap tahun. DBD dapat berkembang menjadi demam berdarah dengue yang disertai syok (dengue shock syndrome = DSS ) yang merupakan keadaan darurat medik, dengan angka kematian cukup tinggi. Penatalaksanaan DBD adalah dengan memberikan terapi simptomatis dan suportif, dan memonitor dengan ketat terhadap timbulnya DBD/DSS. Timbulnya DBD/DSS harus dikenal dengan cepat dengan melakukan pemeriksaan hematokrit dan trombosit secara teratur. Apabila terjadi DBD/DSS, penatalaksanaannya diutamakan untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit karena terjadi leakage plasma. DBD adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam akut disertai gejala perdarahan dan bila timbul renjatan, angka kematiannya cukup tinggi. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan trombositopeni (trombosit < 100.000) dan hematokrit cenderung meningkat lebih dari 20% dari harga normalnya. Manifestasi Klinik Manifestasi klinis infeksi virus dengue dapat bersifat asimptomatis atau dapat berupa demam yang tidak jelas, demam dengue, demam berdarah dengue dengan kebocoran plasma yang mengakibatkan syok atau sindroma syok dengue (SSD).

14

Manifestasi infeksi virus dengue

Simptomatis

Asimptomatis

Demam tidak jelas Demam Dengue Dengan perdarahan Tanpa perdarahan

Demam Berdarah Dengue

Dengan Syok Tanpa Syok

Patofisiologi Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, pasien akan mengalami keluhan dan gejala karena viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh badan, hiperemi di tenggorokan, timbulnya ruam dan kelainan yang mungkin muncul pada system retikuloendotelial seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Ruam pada DHF disebabkan karena kongesti pembuluh darah dibawah kulit. Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan DD dan DBD ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena pelepasan zat anafilaktosin, histamin dan serotonin serta aktivasi system kalikrein yang berakibat ekstravasasi cairan intravaskuler. Hal ini berakibat berkurangnya volume plasma, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan. Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler dibuktikan dengan ditemukannya cairan dalam rongga serosa, yaitu dalam rongga peritoneum, pleura dan perikard. Renjatan hipovolemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma, bila tidak segera teratasi akan terjadi anoxia jaringan, asidosis metabolik dan kematian. Sebab lain kematian pada DBD adalah perdarahan hebat. Perdarahan umumnya dihubungkan dengan trombositopenia, gangguan fungsi trombosit dan kelainan fungsi trombosit. Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses imunologis terbukti dengan terdapatnya kompleks imun dalam peredaran darah. Kelainan sistem koagulasi disebabkan diantaranya oleh kerusakan hati yang fungsinya memang tebukti terganggu oleh aktifasi sistem koagulasi. Masalah terjadi tidaknya DIC pada DHF/ DSS, terutama pada pasien dengan perdarahan hebat.

15

Diagnosis Demam Dengue (DD) merupakan penyakit demam akut selama 2-7 hari, ditandai dengan dua atau lebih manifestasi klinis sebagai berikut: o Nyeri kepala. o Nyeri retro-orbital. o Mialgia / Atralgia. o Ruam kulit. o Manifestasi perdarahan (petekie atau uji bendung positif). o Leukopenia, dan pemeriksaan serologi dengue positif. Demam Berdarah Dengue (DBD). Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan kriteria klinis dan laboratorium (WHO tahun 2011). Kriteria Klinis: o Demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus-menerus selama 2-7 hari, biasanya bifasik. o Terdapat manifestasi perdarahan, termasuk *uji bendung positif, petekie, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, dan / melena. o Hepatomegali. o Dengan atau tanpa tanda syok/renjatan (Nadi cepat dan lemah sampai tidak teraba, tekanan nadi < 20mmHg, hipotensi, akral dingin, lembab, sianosis, kesadaran menurun, gelisah, oligo-anuri, CRT menurun) * Uji bendung dilakukan dengan membendung lengan atas menggunakan manset pada tekanan sistolik ditambah diastolik dibagi dua selama 5 menit. Hasil uji positif bila ditemukan 10 atau lebih petekie per 2.5 cm2 (1 inci). Kriteria Laboratorium: o Trombositopenia (jumlah trombosit < 100.000/ml). o Hemokonsentrasi, dilihat dari peningkatan hematokrit >20% menurut standar umur dan jenis kelamin. Dua kriteria klinis pertama + trombositopenia dan hemokonsentrasi, serta dikonfirmasi secara uji serologik hemaglutinasi. Sindroma Syok Dengue (SSD). Seluruh kriteria di atas untuk DBD disertai kegagalan sirkulasi dengan manifestasi nadi yang cepat dan lemah, tekanan nadi turun ( 20mmHg), hipotensi dibandingkan standar sesuai umur, kulit dingin dan lembab serta gelisah.

16

Klasifikasi Derajat Penyakit Infeksi Virus Dengue DD/DBD Derajat* Gejala DD Demam disertai 2 atau lebih tanda: sakit kepala, Nyeri retro-orbital, Mialgia, Atralgia. DBD I Gejala di atas ditambah uji bendung positif. DBD II Gejala di atas ditambah perdarahan spontan.

DBD

III

Trombositopenia (<100.000/l), bukti ada kebocoran plaasma. *DBD derajat III dan IV juga disebut sindroma syok dengue (SSD) Tatalaksana Tidak ada terapi yang spesifik untuk DD dan DBD, prinsip utama adalah terapi suportif. Dengan terapi suportif yang adekuat, angka kematian dapat diturunkan hingga kurang dari 1%. Pemeliharaan volume cairan sirkulasi merupakan tindakan yang paling penting dalam penanganan kasus DBD. Asupan cairan pasien harus tetap dijaga, terutama cairan oral. Jika asupan cairan oral pasien tidak mampu dipertahankan, maka dibutuhkan suplemen cairan melalui intravena untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi. Tatalaksana DBD dibagi atas 3 fase berdasarkan perjalanan penyakitnya: 1. Fase Demam terapi simptomatik dan suportif. 1. Parasetamol 10 mg/kgBB/dosis setiap 4-6 jam (aspirin dan ibuprofen dikontraindikasikan). Kompres hangat diberikan apabila pasien masih tetap panas. 2. Terapi suportif yang dapat diberikan antara lain larutan oralit, jus buah atau susu dan lain-lain. 3. Apabila pasien memperlihatkan tanda-tanda dehidrasi dan muntah hebat, berikan cairan sesuai kebutuhan dan apabila perlu berikan cairan intravena. Setelah bebas demam selama 24 jam tanpa antipiretik, pasien DBD akan memasuki fase kritis. Sebagian pasien sembuh setelah pemberian cairan intravena, sedangkan kasus berat akan jatuh ke dalam fase syok.

DBD

IV

Gejala di atas ditambah kegagalan sirkulasi (kulit dingin dan lembab serta gelisah). Syok berat disertai dengan tekanan darah dan nadi tidak terukur.

Laboratorium Leukopenia Trombositopenia, tidak ditemukan bukti kebocoran plasma. Trombositopenia (<100.000/l), bukti ada kebocoran plaasma. Trombositopenia (<100.000/l), bukti ada kebocoran plaasma. Trombositopenia (<100.000/l), bukti ada kebocoran plaasma.

17

2. Fase Kritis (berlangsung 24-48 jam), sekitar hari ke-3 sampai dengan hari ke-5 perjalanan penyakit. Umumnya pada fase ini pasien tidak dapat makan dan minum oleh karena anoreksia atau dan muntah.

18

A. Tatalaksana umum Rawat di bangsal khusus atau sudut tersendiri sehingga pasien mudah diawasi. Catat tanda vital, asupan dan keluaran cairan dalam lembar khusus. Berikan oksigen pada kasus dengan syok. Hentikan perdarahan dengan tindakan yang tepat. B. Kewaspadaan perlu ditingkatkan pada pasien dengan risiko tinggi, seperti: Bayi. DBD derajat III dan IV. Obesitas. Perdarahan masif. Penurunan kesadaran. Mempunyai penyulit lain, seperti Thalasemia dll. C. Tatalaksana cairan Indikasi pemberian cairan intravena: Trombositopenia, peningkatan Ht 10-20%, pasien tidak dapat makan dan minum melalui oral. Syok. Jenis cairan pilihan: Kristaloid (jenis cairan pilihan diantaranya: ringer laktat dan ringer asetat terutama pada fase syok) Koloid (diindikasikan pada keadaan syok berulang atau syok berkepanjangan) Jumlah Cairan: Selama fase kritis pasien harus menerima sejumlah cairan rumatan ditambah defisit 5-8% atau setara dehidrasi sedang. Pasien dengan berat badan (BB) lebih dari 40kg, total cairan intravena setara dengan 2 kali rumatan. Pada pasien obesitas,perhitungkancairan intravena berdasar atas BB ideal. Tetesan: Pada kasus non syok BB < 15 kg 6-7 ml/kgBB/jam BB 15-40 kg 5 ml/kgBB/jam BB > 40 kg 3-4 ml/kgBB/jam Pada kasus DBD derajat III mulai dengan tetesan 10 ml/kgBB/jam. Pada kasus DBD derajat IV, untuk resusitasi diberikan cairan RL 10 ml/kgBB dengan tetesan lepas secepat mungkin (10-15 menit) kalau perlu dengan tekanan positif, sampai tekanan darah dan nadi dapat diukur, kemudian turunkan sampai 10 ml/kgBB/jam. D. Pemantauan Pemantauan terhadap syok dilakukan dengan ketat selama 1-2 jam setelah resusitasi. Apabila pemberian cairan tidak dapat dikurangi menjadi 10 ml/kg/jam, oleh karena tanda vital tidak stabil (tekanan nadi sempit, nadi teraba cepat dan lemah), syok belum teratasi, maka segera diberikan cairan koloidal 10 ml/ kgBB/jam.
19

Pada kasus-kasus dengan syok persisten, yang tidak bisa diatasi dengan pemberian cairan kristaloid maupun koloidal, maka perlu dicurigai adanya perdarahan internal. Untuk keadaan ini diberikan transfusi darah segar. Pada kasus-kasus DBD derajat IV (DSS) yang pada waktu masuk rumah sakit nilai awal hematokritnya rendah, dipikirkan kemungkinan perdarahan internal, sehingga pemantauan nilai Ht harus lebih sering. Apabila Ht tetap rendah, berikan transfusi darah segar, koreksi gangguan metabolit dan elektrolit, seperti hipoglikemia, hiponatremia, hipokalsemia dan asidosis. Apabila terjadi asidosis, cairan infus sebaiknya diberikan Ringer Acetate. Enam sampai 12 jam pertama setelah syok, tekanan darah dan nadi merupakan parameter penting untuk pemberian cairan selanjutnya. Akan tetapi kemudian, semua parameter sekaligus harus diperhatikan sebelum mengatur jumlah cairan yang akan diberikan.

20

Parameter pemberian cairan yang harus diperhatikan adalah : - Kondisi klinis : penampilan umum, pengisian kapiler, nafsu makan dan kemampuan minum pasien. - Tanda vital : Tekanan darah, suhu tubuh, frekuensi nafas. - Hematokrit. - jumlah urine Indikasi transfusi darah adalah : - Perdarahan saluran cerna berat (melena). - Kehilangan darah bermakna, yaitu > 10% volume darah total. (Total volume darah = 80 ml/kg). Berikan darah sesuai kebutuhan. Apabila packed red cell (PRC) tidak tersedia, dapat diberikan sediaan darah segar. - Pasien dengan perdarahan tersembunyi. Penurunan Ht dan tanda vital yang tidak stabil meski telah diberi cairan pengganti dengan volume yang cukup banyak, berikan sediaan darah segar 10 ml/kg/kali atau PRC 5 ml/kgBB/kali

21

Indikasi transfusi trombosit adalah : Hanya diberikan pada perdarahan masif. Dosis: 0.2 /kgBB/dosis 3. Fase penyembuhan Setelah masa kritis terlampaui maka pasien akan masuk dalam fase maintenance/penyembuhan, pada saat ini akan ada ancaman timbul keadaan overload cairan. Sehingga pemberian cairan intravena harus diberikan dalam jumlah minimal hanya untuk memenuhi kebutuhan sirkulasi intra vaskuler, sebab apabila jumlah cairan yang diberikan berlebihan, akan menimbulkan kebocoran ke dalam rongga pleura, abdominal, dan paru yang akan menyebabkan distres pernafasan yang berakibat fatal. Secara umum, sebagian besar pasien DBD akan sembuh tanpa komplikasi dalam waktu 24-48 jam setelah syok. Indikasi pasien masuk ke dalam fase penyembuhan adalah : - Keadaan umum membaik. - Meningkatnya nafsu makan - Tanda vital stabil - Ht stabil dan menurun sampai 35-40%. - Diuresis cukup 4. Indikasi Pulang - 24 jam tidak pernah demam tanpa antipiretik - secara klinis tampak perbaikan - Nafsu makan baik - Nilai Ht stabil - Tiga hari sesudah syok teratasi - Tidak ada sesak nafas atau takipnea - Trombosit 50.000/l. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan darah yang rutin dilakukan untuk menapis pasien tersangka demam dengue adalah melalui pemeriksaan kadar hemoglobin, kadar hematokrit, jumlah trombosit dan hapusan darah tepi untuk melihat adanya limfositosis relatif disertai gambaran limfosit plasma biru. Parameter laboratori yang dapat diperiksa: - Leukosit: dapat normal atau menurun. Mulai hari ke-3 dapat ditemui limfositosis relatif (> 45% dari total leukosit) disertai adanya limfosit plasma biru (LPB) > 15% dari jumlah total leukosit yang pada fase syok akan meningkat. - Trombosit: umumnya terdapat trombositopenia pada hari ke 3-8 akibat depresi sumsum tulang. - Hematokrit: kebocoran plasma dibuktikan dengan ditemukannya peningkatan hematokrit 20% dari hematokrit awal. Sering ditemukan mulai hari ke-3. - Hemostasis: dilakukan pemeriksaan PT, APTT, Fibrinogen, D-Dimer, atau FDP pada keadaan yang dicurigai terjadi perdarahan atau kelainan pembekuan darah.
22

Imunoserologi ~ Pemeriksaan anti-dengue IgG, IgM IgM IgG Interpretasi + Infeksi primer + + Infeksi sekunder + Riwayat terpapar/ dugaan infeksi sekunder Bukan infeksi Flavivirus, ulang 3-5 hari bila curiga.

~ Uji HI: 1: 2560 Infeksi sekunder Flavivirus - Protein/Albumin: dapat terjadi hipoproteinemia akibat kebocoran plasma. - SGOT/SGPT dapat meningkat. - Ureum, Kreatinin: dapat meningkat pada keadaan gagal ginjal akut. - Gas darah: terdapat gangguan pada konsentrasi gas darah sesuai dengan keadaan pasien. - Elektrolit: sebagai parameter pemberian cairan. - Golongan darah dan cross match: dilakukan sebelum tindakan tranfusi darah untuk keamanan pasien. 2. Pemeriksaan Radiologis - Pemeriksaan foto roentgen dada, bisa didapatkan efusi pleura terutama pada hemitoraks kanan tetapi apabila terjadi perembesan plasma hebat, efusi dapat dijumpai pada kedua hemitoraks. Pemeriksaan foto dada sebaiknya dalam posisi lateral dekubitus kanan. Pemeriksaan foto dada dilakukan atas indikasi dalam keadaan klinis ragu-ragu dan pemantauan klinis, sebagai pedoman pemberian cairan. - USG: untuk mendeteksi adanya asites dan juga efusi pleura. Komplikasi o Ensefalopati dengue, dapat terjadi pada DBD dengan syok ataupun tanpa syok. o Kelainan ginjal, akibat syok berkepanjangan dapat terjadi gagal ginjal akut. o Edema paru, seringkali terjadi akibat overloading cairan. Langkah Promotif / Preventif Pencegahan /pemberantasan DBD dengan membasmi nyamuk dan sarangnya dengan melakukan tindakan 3M, yaitu: Menguras tempat-tempat penampungan air secara teratur seminggu sekali atau menaburkan bubuk larvasida (abate). Menutup rapat-rapat tempat penampungan air. Mengubur/menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air.

23

DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes RI. 2005. Pedoman Tatalaksana Klinis Infeksi Dengue di Sarana Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. 2. WHO Indonesia. 2008. Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota. Alih bahasa: Tim Adaptasi Indonesia. Jakarta: Depkes RI. 3. Hardiono, dkk. 2005. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak.Ed.I. 2004. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. 4. Nusirwan Acang. 2009. Pemberian Cairan Pada Demam Berdarah Dengue. Sub Bagian Petri, Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK-Unand/RS Dr. M. Djamil Padang. Available from: http://papdiplg.multiply.com/journal (diakses: 2011, Februari 1).

24