Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN AKHIR

Spektrometer dan Penggunaannya untuk Menentukan band-gap bahan semikonduktor (Modul 1.1)
Kode Grup Nama NPM Partner NPM Hari/Tanggal eksperimen Waktu Asisten : PM-3 : Maria Oktafiani : 140310110018 : Wendi Paramandhita : 140310110026 : 18 Oktober 2013 : 13.30 : Suci W

Hari/Tanggal penyerahan laporan : 1 November 2013

LABORATORIUM FISIKA MATERIAL JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PADJADJARAN 2013

Spektrometer dan Penggunaannya untuk Menentukan band-gap bahan semikonduktor


(Modul 1.1) Kode Grup Nama NPM Partner NPM Hari/Tanggal eksperimen Waktu Asisten : 13.30 : Suci : PM-3 : Maria Oktafiani : 140310110018 : Wendi Paramandhita : 140310110026 : 18 Oktober 2013

Hari/Tanggal penyerahan laporan : 1 November 2013 NILAI

Jatinangor, 1 November 2013 Asisten

Modul 1-1 SPEKTROMETER DAN PENGGUNAANNYA UNTUK MENENTUKAN BAND-GAP BAHAN SEMIKONDUKTOR BAB I TUJUAN

(1) Mempelajari cara pemakaian spektrometer (2) Menggunakan spektrometer untuk menentukan band gap bahan semikonduktor

BAB II TEORI DASAR Pengertian dan Prisip Dasar Spektrum Elektromagnetik Spektroskopi merupakan suatu metode analisa yang menggunakan prinsip absorpsi, emisi dan hamburan radiasi elektromagnetik oleh atom atau molekul untuk studi kualitatif atau kuantitatif atom atau molekul, atau untuk mempelajari proses-proses fisika. Dalam mata kuliah ini tentu saja molekul yang dibahas adalah biomolekul. Sudahkah Anda punya gambaran tentang apa itu biomolekul? Kalau belum silahkan cari referensi yang membahas apa itu biomolekul?

Saat ini, dikenal empat teknik spektroskopi yang biasa digunakan untuk analisa struktural, yaitu spektroskopi ultraviolet, spektroskopi inframerah, dan spektroskopi resonansi magnetik inti (nuclear magnetic resonance spectroscopy), yang termasuk spektroskopi absorpsi, serta spektrometri massa. Dengan menggunakan metode-metode analisa tersebut, suatu molekul, baik molekul sederhana maupun molekul kompleks, dapat diidentifikasi dengan resolusi tinggi, tanpa menimbulkan kerusakan pada molekul uji, hanya dengan menggunakan beberapa nanogram sampai satu miligram sampel.

Spektroskopi juga dapat didefinisikan sebagai suatu metoda analisis yang mempelajari interaksi antara suatu materi dan radiasi gelombang elektromagnetik. Interaksi ini dapat mengakibatkan terjadinya perubahan arah radiasi dan atau transisi antar tingkat energi atom atau molekul. Transisi dari tingkat energi yang lebih rendah menuju tingkat energi yang lebih tinggi dan disertai transfer energi dari medan radiasi terhadap atom atau molekul disebut sebagai absorpsi. Sebaliknya, transisi dari tingkat energi yang lebih tinggi menuju tingkat energi yang lebih rendah disebut sebagai emisi, jika disetai transfer energi menuju medan radiasi, atau disebut sebagai peluruhan nonradiatif, jika tidak ada radiasi yang diemisikan. Sedangkan perubahan arah cahaya akibat interaksi radiasi dengan materi disebut sebagai hamburan, yang dapat terjadi dengan atau tanpa adanya transfer energi.

Dalam fisika klasik, radiasi elektromagnetik dapat dianggap sebagai sebuah penjalaran gelombang yang memiliki komponen listrik yang tegak lurus terhadap komponen magnetiknya dan berosilasi dengan frekuensi yang tepat sama. Berdasarkan pendekatan ini, radiasi elektromagnetik dapat dinyatakan dalam frekuensi atau panjang gelombang. Kedua variabel ini berbanding terbalik satu sama lain dan dihubungkan oleh persamaan : c =

dengan : = panjang gelombang radiasi = frekuensi radiasi elektromagnetik c = kecepatan cahaya = 3.0 x 108 m/s

Berbeda dengan pendekatan fisika klasik, dalam fisika kuantum, radiasi elektromagnetik dianggap sebagai penjalaran paket-paket energi diskrit yang disebut foton. Foton memiliki energi yang sangat spesifik dan dikatakan terkuantisasi. Energi masing- masing foton diperoleh berdasakan persamaan :

E = h dengan : h = konstanta Planck = 6.626 x 10-34 J s = frekuensi foton Hal ini mempermudah pemahaman tentang fakta bahwa transfer energi hanya terjadi jika besarnya energi kuantum radiasi elektromagnetik tepat sama dengan besarnya energi transisi. Energi kuantisasi tersebut ditransfer pada molekul dan mengakibatkan terjadinya perpindahan menuju tingkat energi yang lebih tinggi, dengan sifat eksitasi tertentu yang bergantung pada besarnya energi elektromagnetik yang diabsorpsi. Namun, dalam beberapa kasus, foton hanya akan diabsorpsi oleh molekul jika memiliki energi yang tepat sama dengan perbedaan energi antara dua tingkat energi molekul, yang sesuai dengan persamaan : E = h dengan : E = perbedaan energi antara dua tingkat energi molekul Berdasarkan teori, setiap foton yang mungkin diradiasi akan bergantung pada transisi yang mungkin terjadi. Pada awalnya, setiap molekul yang diradiasi akan berada pada tingkat dasar. Adanya proses pengabsorpsian foton akan mengakibatkan terjadinya perpindahan molekul menuju tingkat energi yang lebih tinggi, yaitu menuju tingkat eksitasi pertama. Sehingga absorpsi radiasi elektromagnetik yang paling kuat akan terjadi pada energi yang sesuai dengan transisi molekul dari tingkat dasar menuju tingkat eksitasi pertama. Dari seluruh uraian tersebut, terlihat bahwa spektrum absorpsi akan memberikan dua informasi yang diperlukan untuk melakukan analisa struktural molekul. Yang pertama adalah panjang gelombang absorpsi atau frekuensi yang dapat dihubungkan dengan gugus fungsional molekul yang bersangkutan. Sedangkan yang kedua adalah intensitas absorpsi yang merefleksikan penurunan transisi dan konsentrasi molekul tersebut. Intensitas Absorpsi

Intensitas absorpsi radiasi elektromagnetik dipengaruhi tiga faktor. Yang pertama adalah peluang transisi, yaitu pengukuran kemungkinan berlangsungnya beberapa transisi spesifik, dan biasa disederhanakan menjadi transisi yang diijinkan dan terlarang. Dua faktor lainnya merefleksikan kuantitas jenis pengabsorpsi. Pada tingkat submolekul, jika terdapat dua transisi yang mungkin dengan peluang yang sama, maka jenis dengan populasi terbesar akan memberikan kenaikan pada absorpsi yang paling kuat. Sedangkan pada level supramolekul, intensitas absorpsi akan bergantung pada jumlah molekul yang dilewati radiasi. Hal ini berhubungan dengan konsentrasi dan lebar sampel. Uraian tersebut mengesankan bahwa jika konsentrasi atau lebar sampel digandakan akan mengakibatkan terjadinya penggandaan intensitas absorpsi. Namun, yang terjadi tidaklah demikian. Jika suatu sampel mengabsorpsi 50 % radiasi awal dan lebar sampel digandakan, maka sampel tambahan akan mengabsorpsi 50 % radiasi sisa yang sampai pada sampel tersebut, yaitu 25 % dari radiasi awal. Hal serupa juga terjadi pada penggandaan konsentrasi sampel. Namun, situasi ini hanya berlaku jika larutan cukup encer dan tidak ada molekul yang berada dalam bayangan molekul lain. Hubungan antara konsentrasi, lebar sampel, dan absorpsi diberikan oleh hukum Beer-Lambert : log Io/I = c l dengan : I = radiasi transmisi I0 = radiasi awal = koefisien redaman c = konsentrasi sampel l = lebar sampel

Koefisien redaman () merupakan refleksi numerik peluang transisi dan nilainya selalu konstan untuk setiap transisi yang diberikan. Jika transisi diijinkan, koefisien redaman absorpsi akan besar dan sebaliknya. SPEKTROSKOPI UV-ViS Ultraviolet-visible spectroscopy atau ultraviolet-visible spectrophotometry (UV/ VIS) menggunakan cahaya tampak dalam rentang ultraviolet(UV) dan infrared(NIR). Akibat pemberian cahaya ini, molekul mengalami transisi elektronik. Instrument yang digunakan dalam spektroskopi ultraviolet-visible dinamakan UV/vis spectrophotometer. Ada dua macam UV/vis spectrophotometer, yaitu single beam dan double beam. Pemanfaatan Uvvis untuk berbagai macam penelitian umumnya untuk analisis kuanlitatif seperti optimasi, menentukan kadar kafein dalam campuran parasetamol, penetapan kadar triprolidina hidroklorida dalam tablet anti influenza, dan lain sebagainya. Dalam sifat optik van UV-Vis Spect. Digunakan untuk mengetahui tingkat absorbsi bahan dan dengan memodifikasi sistem menjadi integrating sphere UV-Vis dapat juga digunakan untuk mengetahui dispersi bahan. Sifat dispersi bahan yaitu sifat bahan yang mempunyai nilai indeks bias (n) bergantung pada panjang gelombang yang diberikan. Konsep Spektroskopi UV-Vis dan Instrunment U-Vis Spect. mempunyai rentang panjang gelombang 10 10 nm dengan peristiwa absopbsi yang mengakibatkan adanya transisi electron. Terdapat dua jenis UV/vis spectrophotometer, yaitu single beam dan double beam. Jika kita melewatkan sinar putih pada media yang berwarna, sebagian warna akan terserap. Larutan yang mengandung ion tembaga(II) terhidrat, sebagai contoh, kelihatan biru pucat karena larutan menyerap sinar dari spektrum merah. Panjang gelombang yang tersisa akan berkombinasi di dalam mata dan otak untuk memunculkan warna sian (biru pucat). Beberapa media yang takberwarna juga menyerap sinar - tetapi dalam daerah ultraungu (UV). Karena kita tak mampu melihat sinar UV, maka kita tak dapat mengamati penyerapannya.

Media yang berbeda akan menyerap sinar dengan panjang gelombang yang berbeda, dan ini dapat dipakai untuk mengidentifikasi suatu materi - keberadaan ion logam, sebagai contoh, atau gugus fungsi dalam senyawa-senyawa organik. Besarnya penyerapan juga tergantung pada konsentrasi materi, jika berupa larutan. Perhitungan banyaknya penyerapan dapat digunakan untuk menentukan

konsentrasi larutan yang sangat encer. Suatu spektrometer serapan menghitung banyaknya sinar yang diserap oleh berbagai senyawa yang dilewati spektrum UV dan tampak.

Aplikasi Spektroskopi Absorbsi Spektroskopi absorbsi Ultraviolet dan Visible (UV-Vis) adalah pengukuran atenuasi cahaya setelah melalui suatu sampel atau setelah dipantulkan oleh permukaan sampel tersebut. Spektroskopi UV-Vis ini sangat berguna untuk mengkarakterisasi sifat absorbsi, transmisi, dan pemantulan dari bahan penting yang banyak dipakai dalam aplikasi bahan pewarna, bahan sifat optik pelapis, dan filter teknologi berbagai seperti Untuk

dan sebagainya. bahan tersebut

mengkarakterisasi

elektronik

diperlukan Pengukuran

pengukuran spektrum yang mencakup daerah UV dan Visible. tersebut karena dapat dilakukan secara kuantitatif.

Hal tersebut dimungkinkan

cahaya UV dan Visible cukup besar untuk mengeksitasi elektron-

elektron pada kulit terluar ke tingkat energi yang lebih tinggi. Spektroskopi UV-Vis berkaitan dengan absorbsi elektron antar pita energi. Koefisien absorbsi bisa didapatkan dari spektrum absorbsi atau spectrum transmisi. Dengan demikian spektroskopi UV-Vis dapat digunakan untuk

melakukan analisa lebar celah energi (band gap). Dari segi bahan, struktur pita energi bahan semikonduktor terdiri dari pita valensi penuh dan pita konduksi kosong serta lebar energi gap sekitar 1 eV. Berdasarkan Teori Pita Energi, elektron yang berada pada pita valensi akan

berpindah ke pita konduksi apabila menyerap foton yang memiliki energi sama dengan atau lebih besar dari energi gap bahan tersebut. Bahan semikonduktor dapat memiliki struktur direct energy band atau indirect energy band. Bahan yang memiliki struktur indirect energy band, transisi elektron harus memenuhi konservasi energi dan momentum. Di lain pihak, bahan yang memiliki struktur direct energy band, transisi elektron cukup konservasi antara energi. Dari hubungan tersebut memenuhi

dapat diturunkan hubungan

koefisien absorbsi dengan energi gap. Bahan semikonduktor III-V

memiliki struktur direct band gap.

BAB III Metodelogi Eksperimen 3.1 Alat-alat dan Bahan 1. Manual spektrometer T 70+ UV/Vis 2. Substrat kaca kosong 3. Kuvet dengan film tipis GaN di atasnya 4. Cairan Teepol dan Aseton 5. Pinset 6. Kain kasa dan tissue 7. Straining Jar 8. Ultrasonic Cleaner 9. Spin Coating 10. Microcal OriginPro 7

3.2 Prosedur Percobaan 3.2.1 Menyiapkan Substrat Baseline a. Mengambil film tipis dan pinset dari lemari penyimpanan. b. Menyiapkan cairan Teepol dengan takaran tertentu. c. Menyiapkan kain kasa dan tissue kering. d. Menjepit substrat baseline dengan pinset, lalu membasahinya sejenak dengan air yang mengalir. e. Mengoleskan Teepol pada kedua permukaan substrat baseline dengan kain kasa, mengusahakan agar dioleskan searah.

f. Membasahinya dengan air, setelah minyak dan kotoran telah terangkat di kedua permukaan substrat baseline. Mengusahakan agar tidak ada cairan Teepol yang tertinggal pada dua permukaan substrat. g. Mengeringkan substrat baseline dengan meletakkannnya di atas tissue kering. Menghindari gesekan ulang antar keduanya. h. Mengamati permukaan substrat dengan bantuan cahaya (lampu). i. Memasukkan substrat baseline dengan bantuan pinset ke dalam Straining Jar. Mengusahakan substrat terletak vertikal tepat mengisi celah-celah Straining Jar. j. Menambahkan Aseton ke dalam Straining Jar. Mengusahakan tinggi cairan sama dengan tinggi posisi vertikal substrat baseline. k. Menutup rapat Straining Jar. Memasukkannya ke dalam Ultrasonic Cleaner. l. Mengatur waktu hingga 10 menit dan temperatur hingga 60C pada Ultrasonic Cleaner.

3.2.2 Menyiapkan Spektrometer T 70+ UV/Vis a. Menyalakan APC, Komputer, dan Spektrometer UV/Vis. Menunggu inisialisasi dari ketiga perangkat keras tersebut. b. Membuka perangkat lunak UVWin, berupa perangkat bawaan yang akan disinkronisasikan dengan Spektrometer UV/Vis. Menunggu sinkronisasi antar keduanya, hingga benar-benar siap untuk digunakan. c. Menetralisasi daerah monokromator dengan meletakkan benda hitam ke dalamnya. Menunggu perangkat lunak memproses penetralisasian monokromator.

3.2.3 Menyiapkan Substrat GaN a. Mengambil padatan GaN dan substrat kosong di lemari penyimpanan.

b. Membuat padatan menjadi substrat tipis dengan bantuan alat Spin Coating. c. Mengoleskan GaN pada substrat kosong. Meletakkan substrat pada kuvet (sample holder). Mengusahakan daerah tembusnya cahaya tepat simetris dengan substrat GaN. Sehingga tidak ada galat pengukuran intensitas cahaya yang masuk.

3.2.4 Mengukur Absorbansi dan Transmitansi Substrat a. Menetralisasi monokromator untuk kedua kalinya dengan meletakkan substrat baseline ke dalamnya. Menunggu proses inisialisasi perangkat lunak. Mengangkat kembali substrat pada monokromator. b. Meletakkan sample holder ke dalam monokromator. Mengusahakan agar cahaya tembus tepat pada lubang kuvet dan tidak ada substrat yang tidak terhitung nilai absorbansinya. c. Menunggu beberapa saat proses absorbansi pada substrat terjadi ,hingga grafik dan data absorbansi didapatkan. d. Mengekspor data dan grafik dari perangkat lunak ke folder praktikan e. Mengulangi prosedur (a) s.d (d) untuk transmitansi substrat GaN.

BAB IV HASIL DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Hasil Data Grafik Hasil Pengukuran Spektrum Absorbansi dan Transmitansi pada Film Tipis GaN a) Grafik Absorbansi terhadap panjang gelombang interval 1 nm

b) Grafik Absorbansi terhadap panjang gelombang interval 2 nm

c) Grafik Transmitansi terhadap panjang gelombang interval 1 nm

d) Grafik Transmitansi terhadap panjang gelombang interval 2 nm

4.2 Pengolahan Data 4.2.1 Spektrum Absorbansi dan Transmitansi Hasil Penghalusan Data Untuk menghaluskan grafik yang masih terdapat loncatan data yang diperoleh dari data awal, maka kita harus memasukkan data baru dan kita menggunakan Software OriginPro 7 untuk memperhalus permukaan grafik. 1) Absorbansi dengan panjang gelombang = 1 nm Before Smoothing

After smoothing

after smoothing

2)Absorbansi dengan panjang gelombang = 2 nm Before Smoothing

After smoothing

3)Transmitansi dengan panjang gelombang = 1 nm Before Smoothing

After smoothing

4)Transmitansi dengan panjang gelombang = 2 nm Before Smoothig

After smoothing

4.2.2 Menentukan band gap GaN dari grafik basorbansi dan Transmitansi terhadap foton. Untuk menentukan energi band gap, menggunakan rumus: E = hc/

Ef h c x 108 m.s-2)

= = =

Energi foton bahan semikonduktor (eV) Konstanta Planck (6,62 x 10-34 J.S) Kecepatan cahaya dalam ruang hampa (3

Panjang gelombang (nm)

Grafik Absorbansi terhadap Energi Foton 1) Absorbansi dengan = 1 nm

Egap = 2,8 eV KSR = { | 2.8 eV 3.4 eV| : |3.4 eV| } x 100 % = 17.64 %

2) Absorbansi dengan = 2 nm

Egap = 2,9 eV KSR = { | 2.9 eV 3.4 eV| : |3.4 eV| } x 100 % = 14.70 % Grafik Transmitansi terhadap Energi Foton 1) Transmitansi dengan = 1 nm

Egap = 3,8 eV KSR = { | 3.8 eV 3.4 eV| : |3.4 eV| } x 100 % = 11.76 %

2) Transmitansi dengan = 2 nm

Egap = 3,5 eV KSR = { | 3.5 eV 3.4 eV| : |3.4 eV| } x 100 % = 2.96 %

BAB V ANALISA

Pada praktikum kali ini kita telah melakukan analisa spektroskopi terhadap bahan quartz dengan substrat GaN. Disini kita menggunakan 2 parameter yang akan diukur yakni bagaimana respon absorbansinya dan transmitansinya terhadap dua macam interval panjang gelombang yang berbeda yaitu 1 nm dan 2 nm. Pada dasarnya, grafik yang dihasilkan baik oleh absorbansi maupun transmitansi tadinya mengalami loncatan data sehingga harus dilakukan smoothing grafik agar terlihat bagaimana penyebaran data yang sesungguhnya atau yang mendekati hasil eksperimen, setelah kami smooothing dengan melakukan pendekatan beberapa nilai data, maka didapatkanlah hasil smoothing untuk setiap parameter seperti yang ditunjukkan di atas. Kemudian setelah smoothing kita plotkan lagi grafik masing-masing parameter untuk menentukan seberapa energi gap nya jika dihitung dari grafik yang kami buat lalu kami bandingkan dengan nilai energi gap literatur. Jika dilihat dari hasil grafiknya baik untuk absorbansi dan transmitansi ternyata memiliki energi gap yang sangat berbeda walapun perbedaannya tidak cukup besar, dan terlihat bahwa ternyata yang memiliki energi gap mendekati literatur adalah grafik transmitansi. Hal ini menunjukkan bahwa transmitansi dapat menunjukkan keakuratan nilai energi gap dikarenakan prinsip transmitansi adalah menembus cahaya yang dia terima dibanding absorbansi yang hanya

menyerap sehingga tampak bahwa pada grafik absorbansi pun nilai energi gap yang ditunjukkan jauh lebih kecil dibanding nilai energi gap pada literatur. Hanya saja, nilai energi gap pada absorbansi antara 1 nm dengan 2 nm ternyata tidak persis sama, begitupun dengan grafik transmitansi interval 1 nm dan 2 nm. dikarenakan interval yang digunakan akan mempengaruhi keakuratan dalam menerima informasi dimana semakin kecil rentang panjang gelombangnya maka seharusnya informasi yang diperoleh akan lebih banyak dan lebih akurat

BAB VI KESIMPULAN 1. Telah dipelajari bagaimana cara menggunakan spektrometer dimana cara pemakaiannya seperti yang tercantumkan dalam prosedur percobaan. Prinsip dari alat spektrometer ini adalah memperlihatkan respon suatu material terhadap cahaya yang diberikan dengan panjang gelombang tertentu, dalam hal ini cahaya yang digunakan adalah sinar dengan rentang panjang gelombang UV-Visible

2. Band gap semikonduktor dapat diperoleh dengan spektrometer ini yaitu dengan menplotkan dahulu grafik absorbansi atau transmisi terhadap energi foton dan diberi garislinier yang menyinggung kurva tersebut lalu diproyeksikan terhadap sumbu x dan di titik hasil proyeksi itulah besar nilai energi gap nya.

DAFTAR PUSTAKA

Beiser, Arthur. 1987. Konsep Fisika Modern. Jakarta: Erlangga. Joni, I Made. 2010. Diktat Kuliah BioSpektromolekul. Fisika Universitas Padjadjaran http://wanibesak.wordpress.com/2011/07/04/pengertian-dasar-spektrofotometervis-uv-uv-vis/