Anda di halaman 1dari 5

Nama : Fajaruddin Maruf Nim : 201110330311074

Kelas : Kedokteran 2011-A IBADAH MALIAH A. Pengertian Ibadah Maliah adalah bertakarub(mendekatkan diri) kepada Allah dengan cara mengeluaran harta untuk dipergunakan di jalan Allah. B. Macam-macam Ibadah Maliah : a. ZAKAT/ Shodaqoh Wajib Zakat secara harfiah berarti : Tumbuh dan berkembang Suci dan bersih

QS AT-TAUBAH (9) : 103 Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dinamakan Zakat karea didalamnya terkandung harapan untuk memperoleh berkah, membersihkan jiwa dan memupuknya dengan berbagai kebajikan. Istilah Zakat lebih menekannkan pada fungsinya untuk mensucikan dan membersikan harta dan jiwa. Kewajiban memberi nafkah kepada keluarga. Kewajiban membayar zakat : Zakat Profesi Zakat Usaha (perniagaan) Zakat Pertanian Zakat Perternakan Zakat Emas-Perak

Zakat Simpanan Tabungan (deposito), dll Rikaz (Harta Karun)

b. SHODAQOH : Sedekah berarti mengeluarkan atau memberikan sesuatu untuk membenarkan apa yang diperintahkan Allah. Sedekah kadang-kadang juga berarti Zakat QS At-Taubah (9) : 60 Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Secara moral bahwa mengeluarkan sebagian harta kepada yang berhak menerimannya merupakan wujud terimakasih manusia kepada Allah yang telah memberikan harta/karunia kepada-Nya. Shodaqoh Sunah yaitu : Qurban :pada hari raya Idul Adha dan hari-hari Tasyrik (11 sampai 13 Dzulhijjah) Aqiqoh(kelahiran anak) : u/ anak laki-laki = 2 ekor kambing, u/ anak perempuan = 1 ekor kambing. Waqaf Hibah Hadiah

c. KIFARAT (pelanggaran), seperti : i. Sumpah ii. Zhihar iii. Kafarat membunuh tanpa sengaja

Kifarat sumpah (bersumpah palsu), salah satu caranya adalah dengan memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa diberikan kepada keluarga sendiri atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan sorang hamba sahaya. Dalam hadits riwayat Muslim juga diterangkan bahwa kifarat nadzar yang tidak dapat dilakukan sama dengan kifarat sumpah. Kifarat shaum (sebagai akibat melakukan pelanggaran shaum, melakukan jima atau persetubuhan pada siang hari bulan Ramadhan bagi mereka yang wajib melakukan shaum Ramadhan), selain bisa dengan memerdekakan hamba sahaya, bisa juga dengan melakukan shaum selama dua bulan berturut-turut, tertapi juga bisa dengan memberi makan kepada enam puluh orang fakir miskin. Kifarat zhihar (mengharamkan istri dengan mempersamakannya dengan ibu sendiri), adalah dengan memberikan makan enam puluh orang miskin, selaian itu bisa juga dengan memerdekakan hamba sahaya atau melakukan shaum selama dua bulan berturut-turut. Pelaksanaan atau pemenuhan kifarat zhihar diwajibkan kepada suami sebelum kembali (melakukan senggama) lagi kepada istrinya. Kifarat membunuh (tak sengaja) adalah dengan memerdekakan hamba sahaya atau diganti dengan puasa enam puluh hari bertutur-turut atau dengan memberi makan enam puluh fakir miskin ditambah dengan kewajiban membayar diyat, semacam uang duka kepada keluarga yang terbunuh. Pemberian diyat (pembayaran sejumlah harta kepada keluarga korban) ditetapkan sesuai dengan kesepakatan, karena sesuatu tindakan menghilangkan nyawa ssesorang dengan tidak sengaja, juga sebagai tebusan bila ada maaf dari pihak keluarga terbunuh. Untuk pembayaran diyat, tidak terikat dengan ketentuan mesti konsumtif, mungkin saja bersifat produktif dan monumental.

d. FIDYAH Fidyah adalah menempatkan sesuatu pada tempat lain sebagai tebusan (pengganti) nya, baik berupa makanan atau lainnya. Fidyah juga berarti kewajiban manusia mengeluarkan sejumlah harta untuk menutupi ibadah yang ditinggalkannya. Fidyah shaum wajib dilakukan oleh seseorang yang tak sanggup karena kepayahan dalam melakukan shaum fardhu khususnya di bulan Ramadhan, sebagai salah satu bentuk rukhsah (dispensasi) yang

diberikan Allah kepada mereka. Karena Allah SWT tidak membebani hambahamba-Nya melainkan sesuai dengan kemampuannya. Selain itu juga Allah tidak pernah menjadikan syariat yang diturunkan-Nya menyulitkan hambahamba-Nya.

C. Urgensi Ibadah Maliah Ibadah Maliah seperti tersebut terdahulu memiliki kedudukan sangat penting didalam membangun kesejahteraan sosial masyarakat (taawwun/tolong menolong).

D. Hikmah Melakukan Ibadah Maliah 1. Sebagai wujud syukur atas karunia yang diberikan Allah kepadanya dengan cara memberikan sebagian dari karunia itu kepada orang lain. QS Ibrahim (14) : 7 Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

2. Memenuhi anjuran Allah membelanjakan harta seblum datang kematian. QS Al-Baqaraah (2) : 254 Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa`at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang lalim.

3.

mencari keridhoan Allah

QS Al-Baqarah (2) : 265 Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu

menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. QS Al-Insaan (76) : 8-9 Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.

4. Untuk mendapatkan pahala yang berlipat ganda sebagai investasi ukhrowi QS Al-Baqarah (2) : 261 Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

DAFTAR PUSTAKA Abduh Al manar. 1999. Ibadah Syariah, Surabaya: PT. pamator. Al-Haritsi, Jaribah bin Ahmad. 2003, Fikih Ekonomi Umar bin Al- Khathab, Jakarta: khalifa (pustaka al-kautsar Group). Al-Qadhi, Abdullah Muhammad Muhammad. 1990. Siyasah As-Syariyah baina AlNadariyah wa al-Tadbiq. Dar al-Kutub al-Jamiyah al-hadits. Dr. Yusuf Qardhawi. 2002. Konsep Ibadah Dalam Islam, Bandung: Mizan. Hendi. 2008. Fiqih Muamalah, Jakarta: Raja Grafindo Persada.