Anda di halaman 1dari 8

TUGAS PSIKOLOGI PENDIDIKAN

TEORI PERKEMBANGAN
PIAGET DAN VYGOTSKY

OLEH SUYATMI TUGE 13B08020

PENDIDIKAN FISIKA PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2013

1. MENURUT PIAGET
Perkembangan kognitif mempunyai empat aspek, yaitu : 1) kematangan, sebagai hasil perkembangan susunan syaraf; 2) pengalaman, yaitu hubungan timbal balik antara orgnisme dengan dunianya; 3) interaksi social, yaitu pengaruh-pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkungan social, dan 4) ekullibrasi, yaitu adanya kemampuan atau system mengatur dalam diri organisme agar dia selalu mempau mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Untuk keperluan pegkonseptualisasian pertumbuhan kognitif /perkembangan intelektual Piaget membagi perkemabngan ini ke dalam 4 periode yaitu : 1. Periode Sensori motor (0-2,0 tahun) Pada periode ini tingksh laku anak bersifat motorik dan anak menggunakan system penginderaan untuk mengenal lingkungannya untu mengenal obyek. Selama tahap sensorimotor, pertumbuhan kognitif didasarkan pada tindakan panca indera dan motorik. Dimulai dengan tindakan yang terutama berbentuk reaksi refleks, bayi itu berkembang melalui enam tahapan di mana tindakan untuk mencapai tujuan meningkat secara menyolok. Dalam tahap terakhir dari periode sensorimotor, anak itu membentuk gambaran mental, dapat meniru tindakan orang lain yang telah lalu, dan merancang arti baru dari pemecahan persoalan dengan menggabungkan skema yang didapat sebelumnya dengan pengetahuan secara mental

2. Periode Pra operasional (2,0-7,0 tahun) Pada periode ini anak bisa melakukan sesuatu sebagai hasil meniru atau mengamati sesuatu model tingkah laku dan mampu melakukan simbolisasi. Manipulasi simbol, termasuk kata-kata merupakan karakteristik penting dari tahap praoperasional. Hal ini dinyatakan dalam meniru yang tertunda (menghasilkan suatu tindakan yang telah dilihat di masa lalu) dan dalam imajinasi anak-anak atau pura-pura bermain (Piaget, 1951). Seorang anak usia 2

tahun dapat meniru pergerakan barisan atau loncatan yang dilihatnya kemarin. Dalam suatu permainan ia akan menggunakan benda sebagai simbol benda lain: Sebuah kotak dapat digunakan sebagai tempat tidur, meja, kursi, mobil, kapal terbang, atau kereta bayi. Anak-anak ini telah fasih menggunakan tanggapan simbolik. Karena pengetahuan bahasa mereka berkembang pesat selama periode ini, kemampuan untuk menggunakan penggambaran simbolik dalam berpikir, memecahkan masalah dan permainan kreatif yang lebih dipertinggi lagi dalam tahun-tahun berikutnya. Walaupun demikian cara berpikir anak dalam tahap praoperasional terbatas dalam beberapa hal yang penting. Menurut Piaget karakteristiknya ialah egosentris; anak praoperasional mempunyai kesulitan untuk membayangkan bagaimana benda-benda itu terlihat dari perspektif orang lain. Piaget merancang model dari tiga gunung yang seringkali dipakai untuk mempelajari egosentrisme. Batasan lainnya dalam pikiran anak-anak praoperasional dapat dimengerti paling baik dengan mengamati perubahan yang terjadi bila mereka memasuki tahap operasi konkret.

3.

Periode konkret (7,0-11,0 tahun) Pada periode ini anak sudah mampu menggunakan operasi. Pemikiran anak tidak lagi didominasi oleh persepsi, sebab anak mampu memecahkan masalah secara logis. Pada tahap ini anak telah mencapai kemampuan untuk melakukan operasi mental yang fleksibel dan dapat diputar balik sepenuhnya. Anak-anak pada tahap ini mengerti peraturan dasar logis tertentu (disebut grouping oleh Piaget) dan karenanya mampu berpikir secara logis dan kuantitatif dengan cara yang tidak kelihatan dalam tahap praoperasional. Anak-anak pada tahap operasi konkret bergerak bebas dari satu pandangan ke yang lain; jadi mereka mampu berperilaku obyektif dalam mengkaji kejadian.

Berikut ini adalah empat tahapan kemampuan yang dimiliki anak pada usia 7-12 tahun (pada tahap operasi konkret): a) Desentrasi dan Konservasi. Menurut Piaget anak-anak tahap operasi konkret mengerti masalah konservasi karena mereka dapat melaksanakan operasi mental yang diputarbalikkan dan mereka juga mengerti dua prinsip logika yang penting. Prinsip pertama, disebut identitas atau prinsip ekuivalen, yang menunjukkan bahwa bila ukuran A sama dengan B (misalnya panjangnya), dan B sama dengan C, maka seharusnya A adalah sama dengan C. Seseorang tidak perlu mengukur A dan C untuk mengetahui kebenarannya. Prinsip kedua, ialah bahwa benda dan kejadian mempunyai lebih dari satu dimensi, misalnya berat dan ukuran, dan dimensi ini mungkin terdiri dari hubungan yang berbeda-beda. Anak mengetahui bahwa sebuah batu kerikil itu kecil dan ringan, sebuah bola boling: kecil dan berat, sebuah balon besar walaupun ringan, mobil besar dan berat. b) Seriasi Karakteristik lain dari tahap operasional konkret ialah kemampuan untuk mengatur benda sesuai dengan beberapa dimensi kuantitatif seperti berat atau ukuran. Kemampuan ini disebut seriasi. Seorang anak usia 8 tahun dapat mengatur delapan tongkat dengan panjang yang berbeda dengan urutan terpendek sampai terpanjang. Seriasi menggambarkan kemampuan anak akan logis lain yang penting disebut transitivitas, yang menyatakan bahwa terdapat hubungan tetap yang tertentu di antara kualitas dari benda. Misalnya A lebih panjang dari B dan B lebih panjang dari C, maka A harus lebih panjang dari C. Anak-anak dalam tahap operasi konkret mengetahui berlakunya peraturan itu bahkan juga bila mereka tidak pernah melihat benda A, B dan C. Kemampuan yang oleh Piaget disebut seriasi penting untuk mengerti hubungan satu nomor dengan yang lain dan karenanya untuk mempelajari ilmu hitung. c) Pemikiran Relasional Anak tahap operasional konkret menghargai istilah seperti lebih tinggi, lebih pendek, dan lebih gelap daripada besar absolut. Anak yang lebih

kecil berpikir dalam istilah absolut dan menginterpretasikan lebih gelap dengan arti sangat gelap daripada lebih gelap dari benda lain. Bila pada mereka diperlihatkan dua benda warna cerah, salah satu di antaranya sedikit lebih gelap, dan mereka diminta untuk mengambil benda yang lebih gelap, maka mereka mungkin tidak menjawab atau mereka akan berkata bahwa tidak ada yang lebih gelap. Berpikir relasional merupakan gambaran lain dari kemampuan untuk menimbang lebih dari satu kejadian secara bersamaan karena ia membutuhkan perbandingan dari dua benda atau lebih. d) Inklusi Kelas Anak tahap operasional konkret dapat berpikir secara bersamaan tentang bagian dan keseluruhan. Bila pada seorang anak usia 8 tahun diperlihatkan delapan permen kuning dan empat permen coklat dan ditanya, Apakah terdapat lebih banyak permen kuning atau coklat? anak itu menjawab, terdapat lebih banyak permen. Demikian juga seorang anak yang berusia 5 tahun yang diberi persoalan yang sama biasanya akan berkata, lebih banyak permen kuning. Jawaban ini menurut Piaget mencerminkan ketidakmampuan anak kecil untuk memikirkan tentang sebagian dan keseluruhan secara bersama-sama. 4. Periode operasi formal (11,0-dewasa) Periode operasi fomal merupakan tingkat puncak perkembangan struktur kognitif, anak remaja mampu berpikir logis untuk semua jenis masalah hipotesis, masalah verbal, dan ia dapat menggunakan penalaran ilmiah dan dapat menerima pandangan orang lain. Piaget mengeukakan bahwa ada 4 aspek yang besar yang ada hubungnnya dengan perkembangan kognitif : a. Pendewasaaan/kematangan, merupakan pengembangan dari syaraf. b. Pengalaman fisis, anak harus mempunyai pengalaman dengan bendabenda dan stimulus-stimulusdalam lingkungan tempat ia beraksi terhadap benda-benda itu. c. Interaksi social, adalah pertukaran ide antara individu dengan individu susunan

d. Keseimbangan, adalah suatu system pengaturan sendiri yang bekerja untuk menyelesaikan peranan pendewasaan, penglaman fisis, dan interksi social. Dalam tingkatan paling lanjut dari perkembangan kognitif mulai sekitar usia 12 tahun dan berlangsung sampai dewasa, pembatasan tahap operasi konkret dapat dilampaui. Manusia menggunakan berbagai variasi operasi kognitif dan strategi dalam memecahkan masalah. Mereka sangat cakap dan fleksibel dalam pemikiran dan pencarian alasan serta dapat melihat benda dari sejumlah perspektif atau sudut pandangan lain (Ginsburg & Opper, 1979). Pemikiran orang dewasa lebih kompleks daripada remaja, dan bidang kemampuan kecerdasan serta keaktifannya lebih besar. Salah satu ciri yang terlihat jelas dalam tahap ini ialah perkembangan dari kemampuan untuk berpikir tentang masalah-masalah hipotesis maupun yang nyata, dan berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan seperti juga yang aktual. Anak yang ada dalam tahap operasi konkret secara mental memanipulasi benda dan kejadian; dalam tahap operasi formal, anak itu dapat memanipulasi gagasan tentang situasi hipotesis Teori perkembangan Piaget dengan konsep kecerdasan seperti halnya sistem biologi membangun struktur untuk berfungsi, pertumbuhan kecerdasan ini dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan sosial, kematangan dan ekuilibrasi. Semua organisme dilahirkan dengan kecenderungan untuk beradaptasi (menyesuaikan diri) dengan lingkungannya. Cara beradaptasi berbeda bagi setiap individu, begitu juga proses dari tahap yang satu ke tahap yang lain dalam satu individu. Adaptasi terjadi dalam proses asimilasi dan akomodasi. Kita merespon dunia dengan menghubungkan pengalaman yang diterima dengan pengalaman masa lalu kita (asimilasi), sedangkan setiap pengalaman itu berisi aspek yang mungkin saja baru sama sekali. Aspek yang baru inilah yang menyebabkan terjadinya dalam struktur kognitif (akomodasi).Asimilasi adalah proses merespon pada lingkungan yang sesuai dengan struktur kognitif seseorang. Tetapi proses pertumbuhan intelektual tidak akan ada apabila pengalaman yang ditangkap tidak berbeda dengan skemata yang ada oleh sebab itu diperlukan proses akomodasi, yaitu proses yang merubah struktur kognitif.

Proses akomodasi tersebut dapat disamakan dengan belajar. Konsep ini mejelaskan tentang perlunya guru memilih dan menyesuaikan materi berpijak dari ide dasar yang diketahui anak, untuk kemudian dikembangkan dengan stimulasi lebih luas misalnya dalam bentuk pertanyaan sehingga kemampuan anak meningkat dalam menghadapi pengalaman yang lebih kompleks.

2.

MENURUT VOGOTSKY
Dalam konsep yang berbeda, Vygotsky menyatakan bahwa manusia dilahirkan dengan seperangkat fungsi kognitif dasar yakni kemampuan memperhatikan, mengamati, dan mengingat (Dworestky, 1990). Kebudayaan akan mentransformasikan kemampuan tersebut dalam bentuk fungsi kognitif yang lebih tinggi, terutama dengan cara mengadakan hubungan bermasyarakat dan melalui proses pembelajaran serta penggunan bahasa. Dalam buku teori perkembangan ( 2007, h. 347), berdasarkan sebuah eksperimen, Vygotsky mengemukakan bahwa anak-anak yang paling muda, antara usia 4 sampai 8 tahun, bertindak seolah-olah mereka bisa mengingat suatu hal. Entah tugas ini sederhana atau sulit, mereka segera melakukannya setelah mendengar instruksiinstruksi tersebut. Ketika para peneliti menawarkan mereka gambar dan kartu untuk membantu mengingat, biasanya mereka mengabaikan bantuan-bantuan itu, atau menggunakannya secara tidak tepat. Anak kecil, simpul Vygotsky, tidak tahu kapasitas dan keterbatasan mereka atau bagaimana menggunakan stimuli eksternal untuk membantu mereka mengingat sesuatu (1913b, h.71). Anak-anak yang lebih tua, biasanya 9 sampai 12 tahun, menggunakan gambar-gambar yang ditawarkan Vygotsky, dan bantuan-bantuan ini sungguh menyempurnakan performa mereka. Yang menarik adalah tambahan bagi bantuan-bantuan semacam itu tidak selalu memperbaiki ingatan orang dewasa. Namun hal ini bukan berarti karena mereka telah kembali lagi menjadi seperti anak kecil dan tidak lagi menggunakan alat-alat memori. Lebih tepatnya, ini karena mereka sekarang melatih diri memahami instruksi-instruksi dan membuat beberapa catatan mental bagi diri sendiri, tanpa memerlukan lagi petunjuk-petunjuk eksternal (Vygotsky, 1930, h. 41-45).

Karya vygotsky didasarkan pada pada tiga ide utama: 1. Bahwa intelektual berkembang pada saat individu menghadapi ide-ide sulit mengaitkan ide-ide tersebut dengan apa yang mereka ketahui. 2. Bahwa interaksi dengan orang lain memperkaya perkembangan intelektual. 3. Peran utama guru adalah bertindak sebagai seorang pembantu dan mediator pembelajaran siswa. Vygotsky menjabarkan implikasi utama teori pembelajarannya yaitu: 1. Menghendaki setting kelas kooperaif, sehingga siswa dapat saling berinteraksi baru dan

dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efekif dalam masng-masing zone of proximal development mereka. 2. Pendekatan Vygotsky dalam pembelajaran dalam menekankan scaffolding. Jadi teori belajar vigotsky adalah salah satu teori belajar social sehingga sangat sesuai dengan model pembelajaran kooperatif karena dalam model pembelajaran kooperatif terjadi interaktif social yaitu interaksi antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru dalam usaha menemukan konsep-konsep danpemecahan masalah.

Inti dari teori Vygotsky yaitu penekanan pada interaksi pembelajaran antara aspek internal dan aspek eksternal pada lingkungan social. Menurut teori Vygotsky, fungsi kognitif berasal dari interaksi sosial masing-masing individu dalam konsep budaya. Vygotsky juga yakin suatu pembelajaran tidak hanya terjadi saat disekolah atau dari guru saja, tetapi suatu pembelajaran dapat terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum pernah dipelajari disekolah namun tugas-tugas itu bisa dikerjakannya.