Anda di halaman 1dari 19

ANASTESI DAN POLA JAHITAN

Disusun oleh : NURUL SULFI ANDINI KELOMPOK I O 111 11 007 KEDOKTERAN HEWAN 2011 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

BAB I PENDAHULUAN I. 1 LATAR BELAKANG Kata anestesi berasal dari bahasa yunani yang berarti keadaan tanpa rasa sakit. Anestesi dibagi menjadi dua kelompok yaitu anestesi lokal dan anestesi umum. Pada anestesi lokal hilangnya rasa sakit tanpa disertai hilangnya kesadaran, sedangkan pada anestesi umum hilangnya rasa sakit disertai hilangnya kesadaran. Anestesi diberikan untuk memblokir sementara sensasi rasa sehingga memungkinkan pasien menjalani operasi dan prosedur kesehatan lainnya tanpa rasa sakit. Pasien harus menjalani tes kesehatan dan fisik sebelum benar-benar memutuskan jenis dan jumlah anestesi yang paling cocok. Anestesi harus diberikan secara hati-hati karena bekerja pada sistem saraf pusat pasien. Oleh karena itu, dosis yang tidak benar akan mengganggu kerja seluruh sistem saraf pusat. Dalam kebanyakan kasus, dimana pasien disarankan mendapatkan anestesi regional atau umum, obat bius biasanya disuntikkan di sumsum tulang belakang. Karena anestesi, otak tidak dapat mengirim sinyal ke bagian tubuh. Dengan demikian, sensasi pasien menjadi mati atau tubuhnya mati rasa. Dalam proses operasi ketika ingin mengakhiri tindakan tentu insisi tadi mesti dijahit namun jahit ini harus memiliki keahlian tersendiri. Jahitan ini memiliki aturan dan pola. Pola jahitan pada dasarnya diklasifikasikan secara luas kedalam pola terputus (interrupted sutures) dan pola lanjutan (continous sutures). Pola jahitan khusus digunakan untuk berbagai tujuan seperti jahitan otot, jahitan tendon, jahitan untuk pembuluh, jahitan untuk saraf dan sebagainya, dapat juga digunakan pada salah satu atau kedua dari kategori tersebut. Klip, pin dan sebagainya merupakan bentuk tipe yang berbeda namun dapat digabungkan dengan pola jahitan terputus.

I. 2 RUMUSAN MASALAH I. 2. 1 Bagaimanakah penggunaan anastesi dalam prosedur bedah? I. 2. 2 Bagaimana cara atau gambaran pola jahitan dalam pembedahan?

I. 3 TUJUAN PRAKTIKUM I. 3. 1 Untuk Mengetahui Penggunaan Anastesi Dalam Prosedur Bedah I. 3. 2 Untuk Mengetahui Pola Jahitan Dalam Pembedahan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Anestesi (pembiusan) berasal dari bahasa Yunani. An-tidak, tanpa dan aesthesos, persepsi, kemampuan untuk merasa. Secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah Anestesia digunakan pertama kali oleh Oliver Wendell Holmes pada tahun 1948 yang menggambarkan keadaan tidak sadar yang bersifat sementara, karena anestesi adalah pemberian obat dengan tujuan untuk menghilangkan nyeri pembedahan. Sedangkan Analgesia adalah tindakan pemberian obat untuk menghilangkan nyeri tanpa menghilangkan kesadaran pasien. (Nainggolan 2011) ]umlah tindakan anestesi diseluruh dunia setiap tahunnya dapat mencapai 240 juta tindakan, 10% tindakan tersebut dilakukan pada pasien dengan risiko tinggi dengan angka mortalitas mencapai 80%. ]umlah pasien dengan risiko moderat mencapai 40%, dan jumlah komplikasi minor mencapai 40% dimana komplikasi minor ini akan meningkatkan biaya dari suatu pembedahan. Sebagian besar komplikasi ini berhubungan dengan tindakan resusitasi yang tidak adekuat dan adanya hipoperfusi jaringan. Berdasarkan fakta tersebut, monitoring terhadap keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen menjadi bagian yang penting pada periode perioperatif. (Sri Redjeki, Ike. Perioperative Goals Directed Therapy.2013) Obat bius memang diciptakan dalam berbagai sediaan dan cara kerja. Namun, secara umum obat bius atau istilah medisnya anestesi ini dibedakan menjadi tiga golongan yaitu anestesi lokal, regional, dan umum. A. Anestesi Lokal

Anestesi lokal adalah tindakan pemberian obat yang mampu menghambat konduksi saraf (terutama nyeri) secara reversibel pada bagian tubuh yang spesifik. Pada anestesi umum, rasa nyeri hilang bersamaan dengan hilangnya kesadaran penderita. Sedangkan pada anestesi lokal (sering juga diistilahkan dengan analgesia lokal), kesadaran penderita tetap utuh dan rasa nyeri yang hilang bersifat setempat (lokal). Pembiusan atau anestesi lokal biasa dimanfaatkan untuk banyak hal. Misalnya, sulam bibir, sulam alis, dan liposuction, kegiatan sosial seperti sirkumsisi (sunatan), mencabut gigi berlubang, hingga merawat luka terbuka yang disertai tindakan penjahitan. (Nainggolan 2011) B. Anestesi Regional Anestesi regional biasanya dimanfaatkan untuk kasus bedah yang pasiennya perlu dalam kondisi sadar untuk meminimalisasi efek samping operasi yang lebih besar, bila pasien tak sadar. Misalnya, pada persalinan Caesar, operasi usus buntu, operasi pada lengan dan tungkai. Caranya dengan menginjeksikan obat-obatan bius pada bagian utama pengantar register rasa nyeri ke otak yaitu saraf utama yang ada di dalam tulang belakang. Sehingga, obat anestesi mampu menghentikan impuls saraf di area itu (Nainggolan 2011) C. Anestesi Umum Anestesi umum (general anestesi) atau bius total disebut juga dengan nama narkose umum (NU). Anestesi umum adalah meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran yang bersifat reversibel. Anestesi umum biasanya dimanfaatkan untuk tindakan operasi besar yang memerlukan ketenangan pasien dan waktu pengerjaan lebih panjang, misalnya pada kasus bedah jantung, pengangkatan batu empedu, bedah rekonstruksi tulang, dan lain-lain. Cara kerja anestesi umum selain menghilangkan rasa nyeri, menghilangkan kesadaran, dan membuat amnesia, juga merelaksasi seluruh otot. Maka, selama penggunaan anestesi juga diperlukan alat bantu nafas,

selain deteksi jantung untuk meminimalisasi kegagalan organ vital melakukan fungsinya selama operasi dilakukan. (Nainggolan 2011) Namun setelah anastesi sering terjadi komplikasi. Salah satu komplikasi yang sering terjadi pada pasien pasca anestesi adalah menggigil. Menggigil mengakibatkan keadaan yang tidak nyaman serta menimbulkan berbagai resiko terutama untuk pasien dengan kondisi fisik yang tidak optimal yaitu pasien dengan penyakit paru obstruktif menahun berat, atau pasien dengan gangguan kerja jantung. Namun hal ini dapat dicegah dengan pemberian tramadol 2mg/kg BB secara intra vena yang diberikan menjelang akhir operasi. Hal ini terbukti dengan penurunan kejadian menggigil dan derajat menggigil pada kelompok tramadol. (Melati, Mahalia Sukma. 2012) Anestesi regional (RA) dan anestesi umum (GA) adalah teknik anestesi yang umumnya digunakan untuk operasi Caesar (CS),keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Ini penting untuk menjelaskan apa jenis anestesi yang lebih mujarab. Anestesi regional dibandingkan dengan anestesi umum untuk operasi caesar. Hal ini membutuhkan anestesi yang efektif, biasanya dengan regional (epidural atau tulang belakang) atau anestesi umum. (Rofiq Aunun, Doso Sutiyono 2009) POLA JAHITAN Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh (diskontinuitas jaringan). Keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik atau gigitan hewan. Dalam penjahitan luka,ada tiga hal yang menentukan pemilihan jenis benang jahit, yaitu jenis bahannya, kemampuan tubuh untuk menyerapnya dan susunan filamennya. Benang yang dapat diserap melalui reaksi enzimatik pada cairan tubuh kini banyak dipakai. Penyerapan benang oleh jaringan dapat berlangsung antara tiga hari sampai tiga bulan bergantung pada jenis benang dan kondisi jaringan yang dijahit. Menurut bahan asalnya, benang dibagi dalam benang yang terbuat dari usus

domba (catgut) dan dibedakan dalam catgut murni yang tanpa campuran dan catgut kromik yang bahannya bercampur larutan asam kromat. Catgut murni cepat diserap, kira-kira dalam waktu satu minggu, sedangkan catgut cromik diserap lebih lama, kirakira 2-3 minggu. (Lab.Medik, Unsoed. 2005) Pola jahitan pada dasarnya diklasifikasikan secara luas kedalam pola terputus (interrupted sutures) dan pola lanjutan (continous sutures). (Stuart Brown, John 2008) Pola terputus (Interrupted Sutures) Secara umum pola terputus lebih dipilih untuk digunakan daripada pola lanjutan karena jika salah satu jahitan terputus atau terlepas maka jahitan lainnya tidak akan terpengaruh. Tetapi pola terputus membutuhkan waktu yang lebih banyak, membutuhkan jumlah benang yang banyak dan banyaknya lipatan simpul yang tidak diperlukan merupakan beberapa ketidakuntungan dari pola ini. (Stuart Brown, John 2008). Pola terputus sederhana (simple interrupted). Pola ini biasa digunakan pada jahitan kulit. Benang mulai masuk dari salah satu lapisan luka terluar masuk kedalam dan jarum menembus kulit dari dalam keluar ke lapisan luka lainnya dari bawah, kemudian simpul diikat dan sisa benang dipotong. Benang diikat pada sisi kanan dari garis insisi. Jahitan yang dibuat melintasi garis insisi. Pola Mattress (pola horisontal mattress, pola horisontal mattress terputus, pola four stitch terputus). Pola ini juga harus bersifat sedikit lentur dalam merapatkan jahitan. Jika ikatan jahitan dikencangkan terjadinya lapisan luka yang terbalik keatas dapat terjadi. Jahitan dimulai seperti pada pola terputus sederhana. Tetapi benang jahit melintasi kembali ke lapisan sebelahnya membentuk seperti huruf U dan kemudian diikat. Saat benang diikat bagian benang yang tampak dipermukaan terlihat paralel dan sejajar dengan bagian disampingnya dari garis insisi. Pola Mattress melalui pipa kare (Mattress suture through rubber tubing). Saat tarikan benang dirasakan terlalu kencang dan jahitan diinginkan untuk

dipotong melalui kulit lebih baik benang jahit yang tersisa dilonggarkan melalui sebagian kecil dari tabung karet untuk tetap paralel pada lapisan kulit Pola Mattress silang (Cross-mattress suture). Disini bagian benang yang panjang dimasukkan kebagian lapisan kulit lainnya secara diagonal yang membuat seperti huruf X. Pola Halstead (Halstead suture). Ini merupakan pola jahitan Lembert terputus duakali menggunakan benang tunggal yang dilakukan hal yang sama pada sisi lainnya dan diikat. Ini merupakan pola yang berbeda dari pola mattress horisontal sederhana. Pola Mattress vertikal (Vertical mattress suture). Tidak seperti pada pola mattress horisontal, bagian yang terlihat pada jahitan disisi insisi terlihat vertikal terhadap garis insisi tetap pada posisi paralel Pola Crushing atau Gambee (Crushing suture). Ini merupakan tipe jahitan yang spesial untuk menutup saluran usus. Pola crushing lebih dipilih daripada pola inversi biasa ketika lumen dari usus besar yang dijahit hanya menghasilkan sedikit penyambungan. (Stuart Brown, John 2008) Pola jahitan menerus (Continous suture) Pada pola jahitan menerus jahitan yang dibuat berseri dibuat dari benang yang terus menyambung sehingga hanya pada jahitan pertama dan yang terakhir saja yang diikat. Keuntungan dari pola jahitan menerus adalah membutuhkan waktu yang sedikit daripada pola terputus daerah jahitan yang sama. Meskipun demikian terdapat kekurangan antara lain terjadi kerusakan dimana saja sepanjang benang tersebut dapat membuat jahitan tersebut lepas dan luka dapat terbuka (Stuart Brown, John 2008) Pola menerus sederhana (Simple continous suture /Furriers suture). Pola jahitan ini dimulai seperti halnya pada pola terputus sederhana dan jahitan yang dibuat diteruskan menggunakan benang yang sama sampai pada simpul terakhir diikat (Stuart Brown, John 2008)

Pola jahitan menerus terkunci (Continous lock stitch). Penguncian dilakukan dengan cara jarum dan benang melewati tiap lingkaran pola jahitan menerus sederhana sebelum diikatkan. Penguncian tersebut menahan jaringan lebih baik karena terkunci (Stuart Brown, John 2008).

Pola Lambert menerus (Continous Lamberts suture). Ini merupakan pola jahitan inversi yang digunakan pada rongga visera seperti usus. Jahitan dilakukan menembus serosa dan muskuler dan selaput submuksoa tetapi tidak melalui membran mukosa. (Stuart Brown, John 2008) .

Pola Cushing. Ini merupakan pola yang hampir sama dengan pola Cornell hanya perbedaannya pada pola Cushing pola ini tidak masuk kedalam selubung mukosa dan masuk ke lumen. (Stuart Brown, John 2008) .

Pola Parker-Kerr. Merupakan pola Cushing yang digunakan untuk menutup bagian ujung. Dimulai dari mengitari forcep yang menahan dari bagian ujung tersebut dan kemudian forsep ditarik dan jahitan ditarik dan diikat. (Stuart Brown, John 2008) .

BAB III MATERI DAN METODE

III.1 MATERI (Alat dan Bahan) II1.1.1 Anastesi a. Alat : Jarum suntik/ spoit Handskun Masker b. Bahan Atropine Kifacaine Ketamin Xylacin

III.1.2 Teknik Menjahit a. Alat Pinset anatomis Pinset chirurgis Needle Needle holder Gunting Handskun Masker

b. Bahan Benang Absorbable atau benang Non-Absorbable Suture Kanebo

III.2 METODE (Cara Kerja) A. Anastesi 1. Sebelum dilakukannya anastesi hal yang harus dilakukan adalah melakukan anamnesa seperti mengisi signalement (Umur,Ras,Jenis Kelamin,Tanda Khusus), Bobot Badan, Kapan keluhan terakhir, serta jenis obat yang pernah diberikan (Antibiotik, Obat Jantung, Phenobarbital, Anti radang nonsteroid). 2. Melakukan persiapan anastesi. 3. Persiapan pasien, pasien dipuasakan (untuk hewan normal dipuasakan selama 6 jam sedangkan hewan yang kehilangan berat badan 2kg dari berat normal dipuasakan tidak lebih dari 1-2jam), pemilik harus memahami resiko anastesi yang akan dilakukan. Serta menjaga kebersihan rambut hewan artinya bebas dari kutu dan pinjal. 4. Persiapan dokter hewan antara lain menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam menganastesi. 5. Menentukan jenis obat yang akan digunakan. 6. Menghitung volume dosis yang akan digunakan oleh pasien berdasarkan dosis (mg/kg), berat badan (kg) serta konsentrasi obat (mg/mL). 7. Kemudian lakukan anastesi, misalnya anastesi pada anjing dilakukan pada vena cephalica, vena saphena lateral et medial, vena jugularis.

B. Pola Jahitan 1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam membuat suatu pola jahitan seperti pinset anatomis, pinset chirurgis, needle, needle holder, gunting, benang absorbable atau benang non-absorbable, suture, handskun, dan masker. 2. Lakukan pemasangan benang pada jarum. 3. Kemudian buatlah simpul misalnya surgeons knot dan diikuti pola jahitan misalnya dengan menggunakan pola jahitan Simple Interrupted Suture pada daerah yang luka.

BAB IV PEMBAHASAN
A. Anastesi Menghitung Volume (mL) D x BB V= Konsentrasi Keterangan : V = Volume (ml) D = Dosis (mg/kg) BB = Berat Badan (kg)

1. Atropine Diketahui konsentrasi Atropine : 0,25 mg/kg


( )

2. Kifacaine Diketahui konsentrasi Atropine : 20 mg/kg


( )

3. Ketamin Diketahui konsentrasi Ketamin : 100 mg/kg

4. Xylacin Diketahui konsentrasi Xylacin : 20 mg/kg


( )

Dari hasil data ditemukan bahwa volume masing masing Atropin, Kifacin, Ketamin dan Xyalin adalah 0.4 s.d 0.8, 0.005 0.01. 0.55 0.65, 0.25 0.75 . maksud dari nilai rentang itu merupakan batas minimal dan maksimum diberikannya obat tersebut. misalnya untuk atropine memiliki nilai minimum dan maksimum volume yang diberikan, ini berarti pemberian atropine itu sendiri berada dalam rentang 0.4 sampai 0.8 mL. misalnya 0.5 ml, 0.6 dan 0.7 ml. Dengan volume minimal untuk 5 kg berat badan adalah 0.4 dan volume maksimal adalah 0.8 ml. Ini terjadi karena atropine memiliki rentang dosis antara 0.02 sampai 0.04 mg/kg. Begitu halnya juga dengan jenis anastetik lainnya seperti Kifacine, Ketamin, Xyalin. Pemberian seberapa banyak obat tersebut diberikan itu tergantung pada dosis, berat badan dan konsentrasi. Pola Jahitan Pola jahitan yang dilakukan dalam praktikum ini ada 2 yaitu pola jahitan terputus dan continue atau bersambung. Untuk keduanya digunakan pola jahitan yang sederhana. Untuk pola jahitan terputus pertama- tama jarum dikaitkan dengan benang terlebih dahulu setelah itu ambil salah satu tepi luka masukkan jarum dan benangnya kaitkan dengan tepi luka yang lain. Setelah itu tarik jarum beserta benangnya sisakan sedikit untuk membentuk simpul. Untuk membuat simpul pertama tama letakkan needle holder dari arah atas putar lilitkan needle holder benang sebanyak 3 kali.

Selanjutnya ambil dengan needle holder benang yang telah disisakan tadi. Tarik kedua ujung benang tersebut terbentuklah simpul pertama. Namun yang harus diperhatikan simpul dibuat kea rah kesamping jangan tepat diatas insisi atau luka. Karena hal tersebut menghambat penyembuhan. Selanjutnya dilakukan simpul kedua dengan cara yang sama namun dari arah bawah dengan melilitkan needle holder dari arah bawah dengan satu kali lilitan. Ambil ujung lain benang tarik terbuatlah simpul kedua.simpul ketiga dari arah atas dengan cara yang sama cukup dengan satu lilitan. Terbentuklah satu jahitan. Gunting benang yang tersisa lanjutkan dengan jahitan selanjutnya. Untuk pola jahitan continue. Buatlah satu jahitan yang sama dengan jahitan terputus tadi tapi jangan digunting. Setelah jadi jahitan pertama lalu simpul (dengan cara yang sama dengan jahitan terputus), lanjutkan dengan mengambil tepi luka dan jahitlah secara terus menerus hingga akhir luka / isisi. Pada jahitan terakhir sisakan satu jahitan angkat dan tegangkan jahitan yang lain dan mulailah menyimpul dengan cara yang sama namun sisa benang yang satu digantikan oleh jahitan terakhir dari jahitan continue.

BAB V KESIMPULAN & SARAN

1. Dalam melakukan anastesi yang harus diperhatikan adalah obat yang digunakan, berapa jumlah dosisnya, berat badan pasien serta konsentrasi zatnya. Untuk menghitung volume zat yang akan diberikan digunakan D x BB V= Konsentrasi Keterangan : V = Volume (ml) D = Dosis (mg/kg) BB = Berat Badan (kg) 2. Pola jahitan terdiri atas 2 jenis terputus dan bersambung yang masing masing memiliki beberapa jenis atau model jahitan. Dan masing masing memiliki kelebihan serta kekurangan. Jadi hal ini tergantung dari dktermau menggunakan yang mana dengan memperhatikan kondisi luka pasien.

DAFTAR PUSTAKA Melati, Mahalia Sukma. 2012. Efektivitas tramadol sebagai pencegah menggigil pasca anestesi umum. Efektivitas tramadol sebagai pencegah menggigil pasca anestesi umum. Fakultas Kedokteran UNIVERSITAS DIPONEGORO. Nainggolan, B. 2011. Anestesi, pdf. Universitas Sumatera Utara. Stuart Brown, John 2008. Buku Ajar dan Atlas Bedah Minor. EGC Sri Redjeki, Ike. Perioperative Goals Directed Therapy.2013. Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Kelompok Lab. Keterampilan Medik PPD. 2005. Modul Skill Lab A- Jilid 1. Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Jenderal Soedirman Rofiq Aunun, Doso Sutiyono. 2009. Perbandingan Antara Anestesi Regional Dan Umum Pada Operasi Caesar. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FK Undip/ RSUP Dr. Kariadi, Semarang.

LAMPIRAN

Gambar 1. Jarum mengait 2 tepi luka

gambar 2. Membentuk jahitan

Gambar 3 Membentuk Simpul

Gambar 4. Simpul pertama

Gambar 5. Simpul Pertama Kedua dan Ketiga selesai

Gambar 6 pola Jahitan continue

Gambar 7. Pola jahitan Terputus

Gambar 8. Pola jahitan terputus dan continue