Anda di halaman 1dari 7

Anti-Lock Braking System sebagai Implementasi Feedback Control System dalam Kehidupan Sehari-Hari

Faktor keselamatan dalam mengendarai mobil, menjadi salah satu kriteria utama saat ini, di kalangan pembeli kendaraan kelas menengah dan keatas. Saat ini, setiap produsen mobil, berlomba dalam menempatkan teknologi yang menunjang, dari sisi keselamatan penumpang dan pengemudi. Salah satu teknologi yang di gunakan adalah, ABS (Anti-lock Braking System). A. Pengertian Dasar ABS (Anti-lock Braking System). Antilock Brake System (ABS) adalah sistem rem yang mengontrol tekanan minyak rem dari master silinder ke setiap silinder roda/caliper agar tidak terjadi penguncian saat pengereman berlangsung. Lebih khusus lagi ABS merupakan sistem rem yang dapat memberikan kontrol yang cukup pada tekanan minyak rem agar selalu pada angka slip optimum antara roda dan permukaan jalan, sehingga kendaraan dapat berhenti dengan baik dan cepat. Sistem ini bekerja apabila pada mobil terjadi pengereman keras sehingga salah sebagian atau semua roda berhenti sementara mobil masih melaju, membuat kendaraan tidak terkendali sama sekali. Ketika sensornya mendeteksi ada roda mengunci, ia akan memerintahkan piston rem untuk mengendurkan tekanan, lalu mengeraskannya kembali begitu roda berputar. Proses itu berlangsung sangat cepat, bisa mencapai 15 kali/detik. Efeknya adalah mobil tetap dapat dikendalikan dan jarak pengereman makin efektif.

Gambar 1 : Struktur Umum ABS pada Mobil

B.

Komponen Penyusun ABS (Anti-lock Braking System). 1. Wheel Speed Sensor

Wheel Speed Sensor berfungsi untuk mendeteksi kecepatan roda dan mendeteksi terjadinya slip pada roda kendaraan yang nantinya data yang diterima diinformasikan ke ABS Control Modul. Wheel speed sensor terdiri dari sensor dan rotor. Di dalam sensor terdapat magnet yang menghasilkan garis gaya magnet dan pada rotor terdapat roda gigi. Saat rotor berputar roda gigi yang berputar memotong garis gaya magnet sehingga menghasilkan gaya induksi elektromotif bolak-balik sesuai dengan kecepatan rotor. Oleh sensor gaya induksi elektromotif bolak-balik ini dubah menjadi sinyal gelombang sinus tegangan kemudian dikirimkan ke ABS Control Modul.

Gambar 2 : Konstruksi Wheel Speed Sensor

Gambar 3 : Bentuk asli dari perangkat Wheel Speed Sensor

2.

Valves (Actuator)

Agar mampu bekerja secara optimal, sistem anti-lock brake harus mengetahui ketika ada bagian roda yang berpotensi terkunci akibat hilangnya traksi. Komponen speed sensor yang diletakkan di setiap roda berfungsi untuk memberikan informasi ini kepada sistem tersebut.

Gambar 4 : Perangkat Valve

Pada sistem anti-lock brake, setiap brake line dilengkapi dengan valve yang dikontrol oleh ABS. Pada sejumlah produk, valve ini memiliki tiga posisi : Posisi pertama adalah posisi terbuka yang membuat tekanan dari master cylinder rem yang diatur oleh pedal didistribusikan secara langsung ke sistem rem. Posisi kedua adalah posisi menutup yang mengisolasi tekanan dari master cylinder ke sistem rem. Hal ini bertujuan untuk mencegah peningkatan yang terjadi pada jumlah tekanan dari pedal rem akibat pengendara menginjak pedal rem lebih dalam. Posisi ketiga adalah ketika valve tersebut membuka sesuai kebutuhan agar tekanan dari master cylinder didistribusikan secara ideal ke sistem rem. 3. Pump (Actuator)

Setelah penjelasan mengenai bagaimana valve mampu melepas tekanan dari sistem rem, maka dibutuhkan komponen yang mampu mengembalikan tekanan tersebut kembali ke sistem rem. Inilah fungsi dari pump tersebut, yaitu untuk mengembalikan tekanan dari master cylinder kembali ke sistem rem.

Gambar 5 : Perangkat Pump

4.

ABS Controller

Gambar 6 : ABS Controller

Controller merupakan komputer yang mengatur kerja valve lewat informasi yang diterima dari wheel speed sensor. Selain fungsi tersebut ABS Controller sebagai: a. Fungsi Self Diagnosis, adalah fungsi untuk mendiagnosa sistem dan komponen rem pada berbagai kondisi dan hasilnya diinformasikan dalam DTC dengan penyalaan lampu peringatan ABS. b. Fungsi Fail-Safe, adalah fungsi keamanan dimana jika terjadi masalah pada fungsi ABS, maka sistem ABS akan off dan sistem rem akan kembali pada sistem rem konvensional (tanpa ABS).

c. Sirkuit Pembentuk Gelombang, merubah sinyal output dari wheel speed sensor berupa gelombang sinus (analog) yang frekuensinya berubah-ubah berdasarkan perubahan kecepatan roda menjadi sinyal pulsa (digital) sehingga dapat diproses oleh mikro komputer. d. Micro Computer Unit (MCU), mendeteksi kecepatan roda, percepatan atau perlambatan kecepatan roda dan kecepatan kendaraan sesuai dengan sinyal digital yang dikirim dari sirkuit pembentuk gelombang sehingga kondisi slip kendaraan dapat dideteksi setiap waktu: (1) Saat perlambatan kecepatan roda menurun drastis hingga dibawah kecepatan yang ditentukan, MCU menentukan angka slip tinggi dan mengirim sinyal untuk menahan atau mengurangi tekanan rem. (2) Sebaliknya saat percepatan kecepatan roda meningkat hingga pada batas yang telah ditentukan, MCU menentukan angka slip rendah mengirim sinyal untuk menaikkan tekanan rem. e. Sirkuit Solenoid Control, sirkuit ini menggunakan power transistor dan mengontrol arus yang mengalir ke solenoid valve didalam hidrolik unit (Valve dan pump). f. Sirkuit Fail- safe, sirkuit ini memonitor kerja dari sensor, solenoid dan ABS control modul. Bila terdapat unit atau sistem yang tidak berfungsi sirkuit akan menghentikan kerja dari semua solenoid dan motor, dan sistem rem akan berfungsi secara konvensional, lampu peringatan ABS pada panel instrumen akan menyala. C. Prinsip Kerja ABS (Anti-lock Braking System). Salah satu algoritma cara kerja dari sistem ABS secara sederhana adalah dengan memonitor speed sensor pada roda sepanjang waktu untuk mencari terjadinya perlambatan (deceleration) yang tidak wajar. Tepat sebelum terkunci, roda akan mengalami perlambatan yang sangat cepat. Apabila dibiarkan, roda akan berhenti jauh lebih cepat dari mobil, misalnya mobil yang bergerak dengan kecepatan 60 mil per jam akan berhenti dalam 5 detik, namun roda yang terkunci akan berhenti berputar dalam waktu kurang dari 1 detik. ABS Controller kemudian membaca perubahan yang tidak mungkin ini dan mengurangi tekanan (release) pada rem tersebut sampai kembali terjadi akselerasi dan kemudian meningkatkan tekanan (pumping) lagi sehingga menimbulkan deselerasi lagi. Sistem ABS dapat bekerja dengan sangat cepat dalam melakukan siklus tersebut, sebelum roda mengalami perubahan kecepatan yang signifikan. Hal ini menyebabkan roda melambat dengan perlambatan yang sama dengan mobil, dengan rem menjaga roda sangat dekat dengan titik dimana roda akan mulai terkunci

(lock up). Kondisi ini menghasilkan daya pengereman yang maksimum pada sistem, begitu juga hal ini dapat menjaga roda terus berputar sehingga tetap dapat dikendalikan.

Daftar Pustaka 1) http://www.rentalmobilbali.net/cara-kerja-rem-abs/ . Diakses pada 13.45 WIB 11-03-2014 2) http://panjimitiqo.wordpress.com/2010/05/22/rem-abs-anti-lock-brakingsistem/ . Diakses pada 13.50 WIB 11-03-2014 3) http://speedarchitech.com/abs-system Diakses pada 15.35 WIB 11-032014 4) http://rizkapradhana.blogspot.com/ Diakses pada 15.40 WIB 11-03-2014 5) http://kristio-m--fst08.web.unair.ac.id/artikel_detail-35378-UmumSimulasi%20ABS%20(Anti%20lock%20Braking%20System). Diakses pada 16.00 WIB 11-03-2014