Anda di halaman 1dari 2

Midazolam Midazolam adalah suatu derivat imidazoensodiazepinedan cincin imidazol yang mencapai kelarutan air pada pH < 4.

Pada pH darah, obat tersebut menjadi lebih larut lemak dan mempenetrasi otak dengan cepat dengan onset sedasi dalam 90 detik dan efek puncak pada 2-5 menit. Tersedia dalam vial 50 ml terdiri dari 1 mg/ml dan tablet 15 mg dan bioavailabilitas 44%. Midazolam melewati metabolisme oksidatif hepatik dan memiliki waktu paru 1 jam dan meskipun aktif secara biologik, obat tersebut penting hanya sesudah pemanjangan waktu infus pada pasien dengan kelainan ginjal. Midazolam lebih potensial 1,5-2 kali dari diazepam dan memiliki farmakokinetik yang lebih baik untuk digunakan sebagai suatu sedatif intravena jangka pendek. Dosis Premedikasi : 15 mg oral atau 5 mg IM, anak > 6 bulan 70-100 g/kg Sedasi : 2-7 mg IV (lebih tua : < 4 mg) Terapi intensif : IV 0,03-1 mg/kg/jam

Atrophine / Sulfas Atropin Penghambat reseptor muskarinik atau anti-muskarinik dikelompokkan dalam 3 kelompok yaitu: 1. Alkaloid antimuskarinik : Atropin dan Skopolamin 2. Derivat semisintetisnya, dan 3. Derivat sintetis Sintesis dilakukan dengan maksud mendapatkan obat dengan efek khusus terhadap gangguan tertentu dan efek samping yang lebih ringan. Kelompok obat ini bekerja pada reseptor muskarinik dengan afinitas berbeda untuk berbagai subtipe reseptor muskarinik. Oleh karena itu saat ini terdapat antimuskarinik yang digunakan untuk: 1. Mendapatkan efek perifer tanpa efek sentral misalnya, antispasmodik. 2. Pengunaan lokal pada mata sebagai midriatikum. 3. Memperoleh efek sentral, misalnya untuk mengobati penyakit Parkinson 4. Bronkodilatasi 5. Memperoleh efek hambatan pada sekresi lambung dan gerakan saluran cerna.

Atropin (campuran dan l-hiosiamin) terutama ditemukan pada Atropa belladonna dan Datura stramonium, merupakan ester organik dari asam tropat dengan tropanol atau skopin (basa organik). Walaupun selektif menghambat reseptor muskarinik, pada dosis sangat besar atropine memperlihatkan efek penghambatan juga di ganglion otonom dan otot rangka yang reseptornya nikotinik.