Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU BEDAH UMUM VETERINER (Anastesi dan Pola Jahitan)

OLEH :

MUHAMMAD REZA BASRI O11111004 KELOMPOK 8

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada bidang sains veteriner atau ilmu kedokteran hewan, pelaksanaan anastesi diperlukan untuk berbagai kasus dalam pembedahan dan juga untuk penentuan diagnosis didalam praktik. Sebagaimana yang telah diketahui, dipraktik sering terjadi kecelakaan dalam tindak pemberian anastesi yang tentunya melalui pemahaman protocol anastesi yang dibuat akan dapat mengurangi risiko terjadinya kecelakaan pada hewan penderita akibat pemberian anastesi. Anestesi diberikan untuk memblokir sementara sensasi rasa sehingga memungkinkan pasien menjalani operasi dan prosedur kesehatan lainnya tanpa rasa sakit. Pasien harus menjalani tes kesehatan dan fisik sebelum benar-benar memutuskan jenis dan jumlah anestesi yang paling cocok. Anestesi harus diberikan secara hati-hati karena bekerja pada sistem saraf pusat pasien. Oleh karena itu, dosis yang tidak benar akan mengganggu kerja seluruh sistem saraf pusat. Dalam proses operasi ketika ingin mengakhiri tindakan tentu insisi tadi mesti dijahit namun jahit ini harus memiliki keahlian tersendiri. Jahitan ini memiliki aturan dan pola. Pola jahitan dimana digunakan untuk berbagai tujuan seperti jahitan otot, jahitan tendon, jahitan untuk pembuluh, jahitan untuk saraf dan sebagainya, dapat juga digunakan pada salah satu atau kedua dari kategori tersebut. Dari beberapa penjelasan di atas, tentunya kita harus mengetahui semuanya agar tidak terjadi kesalahan ketika menghadapi pasien. Oleh karena itu, dilakukannya praktikum ini untuk mengetahui lebih jelas mengenai anastesi dan pola-pola jahitan dalam ilmu bedah.

1.2. Rumusan Masalah 1.2.1. Bagaimana prosedur anastesi dalam prosedur bedah ? 1.2.2. Bagaimana pola jahitan dalam pembedahan ?

1.3. Tujuan Percobaan 1.3.1. Untuk mengetahui penggunaan anastesi dalam prosedur bedah 1.3.2. Untuk mengetahui pola jahitan dalam pembedahan

1.4. Manfaat Percobaan Adapun manfaat praktikum ini yaitu agar praktikan dapat mempelajari cara penggunaan anastesi dalam prosedur saat melakukan beda dan dapat melakukan penjahitan sesuai pola-pola jahitan dalam ilmu bedah.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anestesi Pada bidang sains veteriner atau ilmu kedokteran hewan, pelaksanaan anastesi umum diperlukan untuk berbagai kasus dalam pembedahan dan juga untuk penentuan diagnosis didalam praktik. Sebagaimana yang telah diketahui, dipraktik sering terjadi kecelakaan dalam tindak pemberian anastesi yang tentunya melalui pemahaman protocol anastesi yang dibuat akan dapat mengurangi risiko terjadinya kecelakaan pada hewan penderita akibat pemberian anastesi (Sardjana, 2011). Perjalanan waktu sepanjang sejarah menunjukkan bahwa anestesi pada hewan digunakan untuk menghilangkan rasa dan sensasi terhadap suatu rangsangan yang merugikan (nyeri), menginduksi relaksasi otot, dan terutama untuk membantu melakukan diagnosis atau proses pembedahan yang aman. Alasan lain penggunaan anestesi pada hewan adalah untuk melakukan pengendalian hewan (restraint), keperluan penelitian biomedis, pengamanan pemindahan (transportasi) hewan liar, pemotongan hewan yang humanis, dan untuk melakukan ruda paksa (euthanasia). Secara umum tujuan pemberian anestetikum pada hewan adalah mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri dengan meminimalkan kerusakan organ tubuh dan membuat hewan tidak terlalu banyak bergerak. Semua tujuan anestesi dapat dicapai dengan pemberian obat anestetikum secara tunggal maupun dalam bentuk balanced anesthesia, yaitu mengkombinasikan beberapa agen anestetikum maupun dengan agen preanestetikum (McKelvey dan Hollingshead 2003; Tranquilli et al. 2007). Anestesi lokal didefinisikan sebagai hilangnya sensasi sementara pada suatu area tubuh yang relatif kecil atau terbatas yang tercapai dengan aplikasi topikal atau injeksi obat-obat yang PRAKTIS menekan eksitasi ujung saraf atau menghambat konduksi impuls sepanjang saraf perifer (Yuanita, 2010). Anestesi umum adalah keadaan hilangnya nyeri di seluruh tubuh dan hilangnya kesadaran yang bersifat sementara yang dihasilkan melalui penekanan sistem syaraf pusat karena adanya induksi secara farmakologi atau

penekanan sensori pada syaraf. Agen anestesi umum bekerja dengan cara menekan sistem syaraf pusat (SSP) secara reversibel (Adams 2001). Anestesi umum merupakan kondisi yang dikendalikan dengan ketidaksadaran reversibel dan diperoleh melalui penggunaan obat-obatan secara injeksi dan atau inhalasi yang ditandai dengan hilangnya respon rasa nyeri (analgesia), hilangnya ingatan (amnesia), hilangnya respon terhadap rangsangan atau refleks dan hilangnya gerak spontan (immobility), serta hilangnya kesadaran (unconsciousness) (McKelvey dan Hollingshead 2003).

Anestesi untuk Pembedahan Dalam tindakan pembedahan dilakukan pemberian anastesi yang disesuaikan dengan keperluan dan tujuan pembedahan. Pemberian anastesi dimaksudkan untuk penderita menjadi tidak peka terhadap rasa sakit yang dengan keadaan tersebut hewan penderita menjadi tenang dan mudah dikendalikan. Dengan demikian pemberian anestesi menyebabkan hilangnya sensibilitas rasa sakit dan meniadakan refleks yang terjadi pada penderita, yaitu tekanan pada refleks berhubungan dengan lokomosi dan juga system neurovegetatif (Sardjana, 2011). Setiap tindakan anestesi harus memperhatikan kondisi pasien karena tindakan anestesi ini bisa menimbulkan efek pada semua sistem pada tubuh, antara lain terjadinya perubahan hemodinamik pada tubuh pasien. Salah satu teknik anestesi regional yang sering digunakan ialah anestesi spinal. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan bahwa terjadi perubahan hemodinamik pada penderita dengan seksio sesarea yang dioperasi dengan menggunakan teknik anestesi spinal (Ismar, 2006). Anestesi dan operasi dapat menyebabkan timbulnya respon stres, dengan akibat dapat terjadinya kenaikan kadar gula darah bahkan menjadi hiperglikemi. Oleh karenanya perlu dicari cara anestesi yang paling sedikit menaikkan kadar gula darah, dengan spinal ataukah anestesi umum (Asri, 2006).

Obat Anestesi Pemberian obat ini dalam 2 gologan, yang pertama digunakan sebagai induksi anestesi seperti obat anestesi golongan barbiturate yang kedua untuk penggunaan dosis tunggal maupun dosis kombinasi untuk memperoleh keadaan seperti pada neuroleptanalgesia, misal : Droperidol, dan obat anestesi disosiasi sperti Ketamin serta obat sedative seperti diazepam. Obat ini diberikan dengan cara sebagai dosis tunggal untuk induksi anestesi dan pemberian berulang dimana tidak digunakan anestesi inhalasi, yang dalam hal ini pemberian dosis ulangan lebih kecil dari dosis awal dan disesuaikan dengan kebutuhan. Obat juga dapat diberikan melalui infuse dengan maksud untuk menambah daya anestesi inhalasi. Beberapa anestetika yang sering digunakan adalah Tiopentone sodium, Ketamin (Ketalar), Diazepam (Valium), Zoletil, Immobilon-revivon, Propofol, Halothan, Nitrous oxide (N2O), Ethyl chloride (C2H5Cl), Ether (Diethyl ether), Enfluran (Ethrane), Isoflurane (Forane) (Sardjana, 2011). Farmakologi obat yang berkaitan dengan anastesi Atropine Sulfate Digunakan untuk mengurangi sekresi salive dan bronchial, melindungi jantung dari efek vagal inhibition dan mencegah efek muskarinik anticholinesterase seperti neotigmine. Atropine dapat menurunkan peristaltic intestinal dan menyebabkan dilatasi pupil. Dapat diberikan secara rutin bersamaan dengan penggunaan ketamine, phencycline dan azaperone, tetapi pemberian tidak dianjurkan pada kondisi takikardi. Atropine dapat diberikan subkutan atau intramuscular 30-40 menit sebelum anestesi atau segera sebelum anestesi dilakukan bila diberikan intravena (Sardjana, 2010). Xylazine Xylazine menimbulkan efek relaksasi muskulus sentralis, selain itu juga mempunyai efek analgesi. Kondisi tidur yang ringan sampai kondisi narcosis yang dalam dapat tercapai, tergantung pada dosis untuk masingmasing spesies hewan. Bila dipakai bersama barbiturate dan ketamine potensiasi yang terjadi dapat mencapai 50%. Obat ini berfungsi sebagai

sedative terutama pada sapid an domba, tetapi dapat juga dipakai untuk kuda, kucing, anjing, primate dan kelinci. Efek sedasi tercapai meksimal 20 menit setelah pemberian intramuscular dan berakhir setelah satu jam (Sardjana, 2010).

Pemberian obat anastesi pada anjing dan kucing (Sardjana, 2010) 1. Pemberian secara Peroral : acetylsalicylic acid (ANAL) 2. Pemberian secara Parenteral Pemberian secara intravena : -chloralose, thiamylal sodium, thiopental sodium (ANEST) Pemberian secara intravena, intraperitoneal, intramuscular atau intrapleural : pentobarbital sodium (ANEST) Pemberian secara intramuscular, intravena, subkutan atau oral : acepromazine maleate, chlorpromazine hydrochloride atau

triflupromazine hydrochloride (PRE) Pemberian secara intramuscular atau intravena : droperidol fentanyl citrate, atropine sulfate (ANAL, PRE, ANEST) Pemberian secara intramuscular atau intravena : d-tubocurarine chloride, gallamine triethiodide, succinylcholine chloride (PRE). Pemberian secara intramuscular, subkutan atau intravena : ketamine hydrochloride (PRE, ANEST). Pemberian secara intramuscular, intravena atau subkutan : xylazine (PRE, ANES, ANAL). Pemberian secara subkutan, intramuscular atau intravena : atropine sulfate (PRE). Pemberian secara subkutan atau hydrochloride, morphine sulfate, intramuscular : oxymorphine meperidine

hydrochloride,

pentazocaine lactate (PRE, ANAL). 3. Pemberian secara Inhalasi Penggunaan ruangan anestesi, corong, masker, atau pipa endotrakeal : diethyl ether, halothane, methoxyflurane dengan atau tanpa nitrous oxide (ANEST).

2.2 Pola Jahitan Teknik Mengikat Simpul Mengikat simpul bisa dengan alat atau tangan. Pada hewan kecil lebih disukai pemakaian alat. Perlu untuk memakai pemegang jarum yang dapat memegang benang cukup erat supaya tidak lepas, tetapi tidak terlalu keras sampai benangnya rantas. Bagian benang yang dipegang tidak boleh dipakai untuk simpul berikutnya. Berbagai prosedur pengikatan simpul paling baik diajarkan dengan demonstrasi praktis tetapi gambar berurutan ditambahkan sebagai penunjuk pada pengikatan dengan alat. Satu ciri penting dari setiap metode adalah bahwa jaringan yang diikat terletak diantara dua titik tarik pada waktu mengikat simpulnya, ini untuk menghindari traksi pada jaringan itu (Sardjana, 2010). Bila ada benang yang harus ditinggalkan dalam tubuh hewan penderita, maka panjangnya harus seminim mungkin agar tidak berbahaya. Ujung-ujung ikatan pada permulaan bisa dibiarkan panjang supaya bisa ditarik pelan-pelan untuk menambah kekuatan. Ini terutama dapat dilakukan bila ikatannya ditusuk. Ikatan yang ditusuk dapat dibuat dengan sengaja pada suatu organ dengan tujuan menariknya kembali tetapi jaringannya harus cukup kuat untuk menahan tarikan tersebut. Sebuah lingkaran benang yang belum diikat bisa disisipkan ke dalam jaringan untuk ditarik kembali, misalnya untuk menahan supaya dinding-dinding saluran yang dipotong tetap terbuka. Benang-benang yang tinggal ini bisa diikat, dipotong pendek atau dibuang pada akhir prosedur (Sardjana, 2010). Teknik Menjahit Jahitan digunakan baik untuk hemostatis atau untuk menghubungkan struktur anatomi yang terpotong. Ada banyak teknik menjahit berbagai organ dan jaringan tubuh. Tetapi, prinsip dalam memilih benang bahwa tepatlah benang berdiameter sekecil mungkin dan kuat untuk kegunaan tertentu. Kekuatan yang diperlukan sebanding dengan kekuatan jahitan yang akan dijahit. Ketika menjahit struktur bersama-sama, ahli bedah dapat memilih penggunaan jahitan kontinu atau terputus (interupted). Jahitan terputus menggunakan beberapa jahitan, masing-masing disimpul sendiri-sendiri;

jahitan kontinu menggunakan sebuah benang yang disimpul pada salah satu ujung barisan dan kemudian dilewatkan melalui jaringan berulang kali dan diakhiri dengan simpul pada ujungnya. Indikasi pemulihan salah satu teknik ini tergantung atas kombinasi ilmu, tradisi, kebiasaan, latihan dan naluri. Umumnya, jahitan terputus dianggap sebagai teknik yang lebih aman karena kegagalan satu jahitan tidak mempengaruhi seluruh jahitan yang ada, sedang kegagalan simpul pada salah satu ujung jahitan continu dapat memperngaruhi seluruh jahitan yang ada. Sebaliknya jahitan kuntinu mungkin meninggalkan benda asing yang lebih kecil di dalam luka (disbanding simpul yang banyak) dan menyebabkan stress lebih merata sepanjang jahitan tersebut. Ciri-ciri penting dari cara menjahit yang baik adalah mencocokan dengan sempurna tepi-tepi jaringan yang akan dijahit (terutama untuk kulit dan jaringan) dan memberi tekanan cukup untuk meratakan tepi-tepi tanpa menghentikan aliran darah. Bila menjahit beberapa lapisan, misalnya dalam menutup dinding perut, perhatikan untuk menghilangkan rongga yang tersembunyi di antara permukaan yang datar supaya tidak terjadi pembentukan haematoma. Suatu peraturan yang baik dalam menjahit dan juga pada membuat bundelan, adalah memakai bahan yang paling ringan yang cocok dengan kemajuan yang efisien (Sardjana, 2010). Jahitannya bisa bersambung atau terputus-putus. Keuntungan dari yang bersambung adalah dapat dilakukan karena bundelannya hanya pada ujungujung jahitan dan lebih haemostatic tetapi kurang kuat dan kurang rapi pada tepi-tepinya seperti pada jahitan terputus-putus (Sardjana, 2010).

Jahitan bersambung adalah jahitan berulang-ulang (over and over), kasur vertical (vertical matras) dan selimut (blanker), sedangkan jahitan terputusputus adalah jahitan kasur biasa (palin), kasur vertical dan kasur horizontal dan jahitan angka delapan, yang terakhir ini adalah jahitan dengan tekanan yang baik bila kelebihan rentangan melintang pada garis jahitan (Sardjana, 2010).

Benang Jahitan Benang ideal harus cukup kuat sehingga hanya dibutuhkan utas yang halus untuk menyatukan jaringan, mengurangi jumlah benda asing yang tertinggal didalam tubuh. Benang dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Sabiston) : Benang Alamiah Catgut terbuat dari submukosa domba atau usus babi. Catgut polos yang tak diolah akan menimbulkan reaksi peradangan yang hebat pada jaringan, dengan tumpukan sel-sel peradangan yang besar disekitar jahitan pada pemeriksaan mikroskopik (Sabiston). Benang Sintetik Benang sintetik yang dapat terabsorpsi seperti asam poliglikolat dan poliglaktin, kurang menimbulkan peradangan pada jaringan, terutama bila dibandingkan dengan catgut. Berbeda dengan catgut, simpul pada bahan sintetik tidak mudah terlepas (Sabiston). Benang yang tidak terabsorbsi memiliki keuntungan dapat

mempertahankan kekuatannya pada luka infeksi pada tingkat jauh lebih besar daripada benang absorbs dan paling kuat didalam jaringan bila disbanding bahkan dengan benang sintetik terabsorpsi yang terbaru sekalipun (Sabiston).

BAB III MATERI DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Percobaan ini dilaksanakan pada Senin, 10 November 2013 pada pukul 08.00 09.30 WITA di Kampus Barayya Universitas Hasanuddin.

3.2 Materi Alat dan Bahan 1. Materi Alat a. Anastesi Bahan a. Anastesi Obat anastesi atropine Obat anastesi xylazin Obat anastesi ketamin Spoit

b. Teknik penjahitan Needle holder Needle Pinset cilurgis Pinset anatomis

b. Teknik menjahit Suture absorebel Suture non-absorebel Kanebo Tali

2. Metode A. Anastesi Menyiapkan meja, alat dan bahan sebelum melakukan Anastesi

Mendengarkan penjelasan setiap jenis bahan/obat anaestesi beserta kegunaannya Melakukan setiap perhitungan volume/konsentrasi anestetika pada setiap bahan/obat yang akan diberikan. Cara melakukan anastesi itu sendiri adalah hanya dilakukan demonstrasi oleh asisten

B. Pola jahitan Menyiaplan alat dan bahan yang akan digunakan dalam menjahit Menjepit needle menggunakan needle holder Memasang benang pada needle yang telah dijepit menggunakan needle holder Menyiapkan kanebo, dengan mempertemukan dua sisi kanebo yang nantinya akan dijahit Melakukan proses penjahitan Menjahit kanebo dengan menggunakan pola interrupted suture Menjahit kanebo dengan menggunakan pole continous suture

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL

Gambar alat dan bahan

Gambar pemasangan benang pada needle

Gambar simulasi penyimpulan

Gambar teknik continuous suture

4.2 PEMBAHASAN 1. Anastesi Perhitungan Volume yang dibutuhkan yaitu : V= Ket : V : Volume ( ml) D : Dosis anjuran (ml/kg) BB : Berat badan (kg) [ ] : Dosis sediaan DA = 0,02 0,04
[ ]

Atropine Diketahui : BB = 10 kg DS = 0, 25 ml Ditanya : DB = ? DB = DB = (0,02 0,04) mg/kg . 10 kg 0,25ml = (0,2 0,4) 0,25 = 0,8 1,6 ml Xylazin Diketahui : DA = 1 - 3 BB = 10 kg DS = 20 ml Ditanya : DB = ? DB = DB = (1 - 3) mg/kg . 10 kg 20ml = (10 - 30) 20 = 0,5 1,5 ml

Ketamin Diketahui : BB = 3 kg DS = 100 ml Ditanya : DB = ? DB = DB = (11 - 33) mg/kg . 3 kg 100 ml = (33 - 99) 100 = 0,33 0,99 ml = 0,4 1 ml 2. Teknik menjahit Pada praktikum ini, digunakan pola menjahit Interrupted suture yaitu pola jahitan yang selalu diputus setiap simpul dibuat dan pola menjahit continous Suture yaitu pola jahitan menerus dan penyimpulan dilakukan pada akhir jahitan. Pada pola menjahit interrupted suture, bermacammacam, yaitu simple interrupted suture, horizontal mattress suture, ventrical mattress suture. Ada bermacam-macam simpul yang dapat digunakan diantaranya first tie/half hitch knot, square knot, surgeons knot, triple knot, dan granny knot. Tetapi pada praktikum ini paling banyak digunakan simpul triple knot. DA = 11 33 (kucing)

BAB V KESIMPULAN Dari praktikum yang kami lakukan, dapat disimpulkan bahwa anestesi merupakan tindakan yang dilakukan oleh seorang dokter hewan untuk menghilangkan rasa sakit sebelum dilakukan pembedahan. Pemilihan teknik anestesi adalah suatu hal yang kompleks, memerlukan kesepakatan dan pengetahuan yang dalam baik antara pasien, dokter hewan dan faktorfaktor pembedahan. Seorang dokter hewan pun harus mengetahui mengenai obat-obat yang digunakan dalam anestesi seperti Atropine Sulfate, Kifacaine Lidocaine, Ketamine, Xylacine dll. Diperlukan juga mengetahui mengenai pemberian dosis pada setiap jenis obat sehingga tidak terjadi kesalahan dalam anestesi. Adapun pola jahitan yang sering digunakan dalam anastesi yakni pola jahitan interrupted suture dan continous suture. Dimana kedua pola jahitan tersebut masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, tergantung kita menggunakannya pada media yang kita jahit ketika dalam pembedahan. Rumus menghitung volume anestetika adalah V = volume, D: dosis, BB: berat badan, dan [ ] : konsentrasi.
[ ]

dimana v:

DAFTAR PUSTAKA Sabiston, David C. Buku Ajar Bedah Bagian I. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta. Sardjana, I Komang Wiarsa dan Kusumawati, Diah. 2010. Anestesi Veteriner Jilid I. Gadja Mada Universitas Press : Yogyakarta. Sardjana, I Komang Wiarsa dan Kusumawati, Diah. 2011. Bedah Veteriner. Airlangga University Press : Surabaya. Hardianto, Ismar Tri. 2006. Pengaruh Anestesi Spinal Terhadap Hemodinamik Pada Penderita Dengan Seksio Sesarea. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Sardjana, I Komang Wiarsa dan Kusumawati Diah. 2011. Bedah Veteriner. Surabaya: Pusat Penerbitan dan Percetakan Unair (AUP). Suryanti Asri. 2006. Perbedaan Pengaruh Pemberian Anestesi Spinal Dengan Anestesi Umum Terhadap Kadar Gula Darah. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Utama, Yuanita Dian. 2010. Anestesi Lokal dan Regional Untuk Biopsi Kulit. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.