Anda di halaman 1dari 15

Sejarah Penemuan Fosil Manusia Purba, Manusia Kera dan Manusia

Modern - Teori Perkembangan Evolusi Antar Waktu Arkeologi Biologi

Secara umum penemuan fosil manusia dari jaman ke zaman terbagi atas
tiga kelompok, yaitu manusia kera, manusia purba dan manusia modern. Yang
perlu diingat adalah bahwa teori ini hanya dugaan dan tidak terbukti
kebenarannya karena teori evolusi telah runtuh. Fosil manusia lama yang
ditemukan bisa saja bukan fosil manusia atau manusia yang memiliki bentuk ciri
tubuh yang unik, atau bahkan hasil rekayasa.

A. Manusia Kera dari Afrika Selatan

1. Australopithecus Africanus
Australopithecus africanus ditemukan di desa Taung di sekitar Bechunaland
ditemukan oleh Raymond Dart tahun 1924. Bagian tubuh yang ditemukan hanya
fosil tengkorak kepala saja.
2. Paranthropus Robustus dan Paranthropus Transvaalensis
Dua penemuan tersebut ditemukan di daerah Amerika Selatan dengan ciri isi
volume otak sekitar 600 cm kubik, hidup di lingkungan terbuka, serta memiliki
tinggi badan kurang lebih 1,5 meter. Kedua fosil menusia kera tersebut disebut
australopithecus.

B. Manusia Purba / Homo Erectus

1. Sinanthropus Pekinensis
Sinanthropus pekinensis adalah manusia purba yang fosilnya ditemukan di gua
naga daerah Peking negara Cina oleh Davidson Black dan Franz Weidenreich.
Sinanthropus pekinensis dianggap bagian dari kelompok pithecanthropus karena
memiliki ciri tubuh atau badan yang mirip serta hidup di era zaman yang
bersamaan. Sinanthropus pekinensis memiliki volume isi otak sekitar kurang
lebih 900 sampai 1200 cm kubik.
2. Meganthropus Palaeojavanicus / Manusia Raksasa Jawa
Meganthropus palaeojavanicus ditemukan di Sangiran di pulau jawa oleh Von
Koningswald pada tahun 1939 - 1941.
3. Manusia Heidelberg
Manusia heidelberg ditemukan di Jerman
4. Pithecanthropus Erectus
Pithecanthropus erectus adalah manusia purba yang pertama kali fosil telang
belulang ditemukan di Trinil Jawa Tengah pada tahun 1891 oleh Eugene Dubois.
Pithecanthropus erectus hidup di jaman pleistosin atau kira-kira 300.000 hingga
500.000 tahun yang lalu. Volume otak Pithecanthropus erectus diperkirakan
sekitar 770 - 1000 cm kubik. Bagian tulang-belulang fosil manusia purba yang
ditemukan tersebut adalah tulang rahang, beberapa gigi, serta sebagian tulang
tengkorak.

C. Manusia Modern
Pengertian atau arti definisi manusia modern adalah manusia yang termasuk ke
dalam spesies homo sapiens dengan isi volum otak kira-kira 1450 cm kubik hidup
sekitar 15.000 hingga 150.000 tahun yang lalu. Manusia modern disebut modern
karena hampir mirip atau menyerupai manusia yang ada pada saat ini atau
sekarang.
1. Manusia Swanscombe - Berasal dari Inggris

2. Manusia Neandertal - Ditemukan di lembah Neander

3. Manusia Cro-Magnon / Cromagnon / Crogmanon - Ditemukan di gua Cro-


Magnon, Lascaux Prancis. Dicurigai sebagai campuran antara manusia
Neandertal dengan manusia Gunung Carmel.

4. Manusia Shanidar - Fosil dijumpai di Negara Irak

5. Manusia Gunung Carmel - Ditemukan di gua-gua Tabun serta Skhul Palestina

6. Manusia Steinheim - Berasal dari Jerman

Ciri–ciri manusia purba Indonesia:


Meganthropus
• Memiliki tulang pipi yang tebal
• Memiliki oto kunyah yang kuat
• Memiliki tonjolan kening yang menyolok
• Memiliki tonjolan belakang yang tajam
• Tidak memiliki dagu
• Memiliki perawakan yang tegap
• Memakan jenis tumbuhan
Pithecanthropus
• Tinggi adan sekitar 165 – 180 cm
• Volume otak berkisar antara 750 – 1350 cc
• Bentuk tubuh & anggota badan tegap
• Alat pengunyah dan alat tengkuk sangat kuat
• Bentuk graham besar dengan rahang yang sangat kuat
• Bentuk tonjolan kening tebal
• Bentuk hidung tebal
• Bagian belakang kepala tampak menonjol
Homo
• Volume otaknya antara 1000 – 1200 cc
• Tinggi badan antara 130 – 210 cm
• Otot tengkuk mengalami penyusutan
• Muka tidak menonjol kedepan
• Berdiri tegak dan berjalan lebih sempurna
Hasil budaya manusia purba Indonesia
Pithecanthropus
Kapak perimbas, Kapak penetak, Kapak gengam, Pahat gengam, , Alat serpih,
Alat-alat tulang
Homo:
Kapak gengam / Kapak perimbas, Alat serpih,, Alat–alat tulang

Ciri-ciri
Meganthropus
• Memiliki tulang pipi yang tebal
• Memiliki oto kunyah yang kuat
• Memiliki tonjolan kening yang menyolok
• Memiliki tonjolan belakang yang tajam
• Tidak memiliki dagu
• Memiliki perawakan yang tegap
• Memakan jenis tumbuhan
Pithecanthropus
• Tinggi adan sekitar 165 – 180 cm
• Volume otak berkisar antara 750 – 1350 cc
• Bentuk tubuh & anggota badan tegap
• Alat pengunyah dan alat tengkuk sangat kuat
• Bentuk graham besar dengan rahang yang sangat kuat
• Bentuk tonjolan kening tebal
• Bentuk hidung tebal
• Bagian belakang kepala tampak menonjol
Homo
• Volume otaknya antara 1000 – 1200 cc
• Tinggi badan antara 130 – 210 cm
• Otot tengkuk mengalami penyusutan
• Muka tidak menonjol kedepan
• Berdiri tegak dan berjalan lebih semp

Homo floresiensis
Rentang fosil: Pleistosen Akhir
Pemurnian metal Homo floresiensis.
Pada sampul majalah Nature.
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Primates
Famili: Hominidae
Genus: Homo
Spesies: H. floresiensis

Nama binomial
†Homo floresiensis

Homo floresiensis ("Manusia Flores", disebut Hobbit) adalah sebutan yang


diberikan oleh kelompok peneliti untuk spesies dari genus Homo, yang memiliki
tubuh kecil, otak kecil, dan kelangsungan hidup sampai waktu yang relatif.[1][2]
Antropolog Peter Brown, Michael Morwood, dan koleganya memiliki argumen
yang bervariasi dari berbagai ciri-ciri, baik dari segi primitif dan apa yang didapat
dari penelitian, pengidentifikasian tulang dari LB1 dari spesies homonin baru
hominin, H. floresiensis.[1][2] Spesies tersebut yang telah dibandingkan dengan
manusia modern yang sebaya (Homo sapiens) di pulau Flores, Indonesia. Salah
satu sub-fosil tulang terbesar dan satu gigi geraham berumur 18.000 tahun telah
ditemukan tersimpan di dalam Liang Bua, Flores pada tahun 2003. Bagian dari
masing-masing tujuh tulang lainnya (LB3-LB9, bagian yang hampir lengkap
adalah LB6), yang semua dalam bentuk yang lebih kecil dari tulang normal, dan
juga ditemukannya peralatan batu kecil yang diperkirakan berasal dari 94.000
hingga 13.000 tahun yang lalu.[3] Penggalian terhadap hal tersebut dilakukan
pada tahun 2003 dan publikasi terhadap penggambaran aslinya dilakukan pada
Oktober 2004.

Bantahan.

Pendapat bahwa fosil ini berasal dari spesies bukan manusia ditentang oleh
kelompok peneliti yang juga terlibat dalam penelitian ini, terutama oleh pihak
Teuku Jacob dari UGM. Berdasarkan temuan beliau, fosil dari Liang Bua ini
berasal dari orang katai Flores -- sampai sekarang masih bisa diamati pada
beberapa populasi di sekitar lokasi penemuan -- yang menderita penyakit
mikrosefali.
Para peneliti dari Universitas Gadjah Mada kembali menguatkan
pendapatnya melalui sebuah jurnal sains Amerika bahwa sisa manusia dari Liang
Bua, bukan spesies baru dan merupakan manusia modern. Penguatan tersebut
melalui artikel bertajuk Pygmoid Australomelanesian Homo Sapiens Skeletal
Remains from Liang Bua, Flores: Population Affinities and Pathological
Abnormalities, yang ditulis oleh Teuku Jacob, Ety Indriati, RP Soejono (Indonesia),
M Henneberg, AG Thorne (Australia), RB Eckhardt, AJ Kuperavage, DW Frayer
(AS), serta K Hou (China), yang dimuat dalam jurnal Proceedings of the National
Acedemy of Sciences edisi 21 Agustus 2006.
Menurut tim ini, sisa manusia dari Liang Bua merupakan moyang manusia
katai Homo sapiens yang sekarang juga masih hidup di Flores dan termasuk
kelompok Australomelanesoid. Kerangka yang ditemukan terbaring di Liang Bua
itu menderita microcephalia, yaitu bertengkorak kecil dan berotak kecil. Pada
September 2007, para ilmuwan peneliti Homo floresiensis menemukan petunjuk
baru berdasarkan pengamatan terhadap pergelangan tangan fosil yang
ditemukan. Penemuan tersebut menunjukkan bahwa Homo floresiensis bukan
merupakan manusia modern melainkan merupakan spesies yang berbeda. Hal ini
sekaligus menjadi jawaban terhadap tentangan sejumlah ilmuwan mengenai
keabsahan spesies baru ini karena hasil penemuan menunjukkan bahwa tulang
Homo floresiensis berbeda dari tulang Homo sapiens (manusia modern) maupun
manusia Neandertal.

Melacak Jejak Manusia Neanderthal

Bagi mereka yang ingin menyusun kembali sejarah evolusi, sebuah fosil
kecil bisa menyimpan banyak cerita. Sekeping tulang rahang atau tengkorak
kepala atau sebagian tulang pinggul, bisa menjadi titik tolak seorang
palaeontolog mengungkap misteri masa silam. Peralatan kuno atau artefak
kebudayaan yang ditemukan bisa membantu mereka mengisi celah informasi
yang ada. Namun ibarat mengintip sejarah lewat lubang kunci, hal ini masih
membutuhkan lagi amat banyak data dan penjelasan.
Majalah New Scientist antara lain melaporkan aktivitas sebuah tim yang
dipimpin oleh Svante P‰‰bo, pakar ilmu genetika evolusi di Max Planck
Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman. Tim ini berniat
merekonstruksi keseluruhan genome manusia Neanderthal (Homo
Neanderthalensis) dari berbagai fosil mereka yang telah ditemukan selama ini.
Manusia Neanderthal adalah salah satu ras manusia purba yang secara fisik lebih
unggul dari ras manusia lainnya, namun telah mengalami kepunahan secara
misterius.
Ahli antropologi fisik sering melukiskan manusia Neanderthal bertubuh
tegap dan kuat. Semuanya membawa penggada atau tombak besar yang
ujungnya terbuat dari batu runcing dan tajam. Mereka mengepung seekor
mastodon (gajah purba ) yang tiga kali lipat tinginya dari tubuh para manusia
purba itu. Para manusia purba itu lalu berteriak dan menyerang. Terjadilah
penye-rangan ganas.
Dengan kondisi alam yang begitu keras, cuaca yang begitu ekstrem,
lingkungan yang buas dan tidak bersahabat, maka bagi manusia Neanderthal
kekuatan menjadi alasan utama untuk bertahan. Mereka hidup sepenuhnya dari
pertarungan, perburuan atau peperangan suku yang buas. Mereka belum bisa
membuat api dan bercocok tanam. Perjuangan keras inilah yang membuat
manusia Neanderthal bertahan lebih dari seperempat juta tahun lalu. Ras
manusia Neanderthal ini adalah ras para jagoan penguasa pada zamannya.
Karena itu kepunahan mereka secara serempak, sekitar 45 ribu tahun silam,
dianggap sebagai misteri besar. Ini tak ubahnya dinosaurus yang pernah
menguasai bumi, lalu punah secara mendadak.
Penemuan pertama fosil manusia Neanderthal terjadi pada bulan Agustus
1856. Sebagian dari tengkorak manusia purba ini ditemukan di Gua Feldhofer, di
Lembah Neander Valley, dekat Dusseldorf, Jerman. Karena itulah mereka disebut
sebagai manusia Neanderthal. Di tahun 1908, Palaeontolog Prancis Marcellin
Boule, menulis tentang sebuah kerangka Neanderthal yang hampir lengkap dari
La Chapelle-aux-Saints, Prancis. Ilustrasi pertama tentang menusia Neanderthal
ini pun dipublikasikan bersama temuan ilmiahnya. Maka muncullah imaji pertama
tentang manusia Neanderthal. Manusia purba yang tingginya rata-rata 166 cm
dan berbobot minimal maksimal 77 kg ini sehari-harinya memakan daging.
Dengan ukuran otak yang 12 persen lebih besar dari otak manusia modern, maka
musnahlah mitos yang mengatakan bahwa para manusia purba ini kurang cerdas
dan lebih mengandalkan nalurinya bila berburu.
Sebenarnya cukup banyak mitos yang salah. Misalnya mitos bahwa
manusia Neanderthal berkomunikasi satu sama lain dengan menggeram. Di
tahun 1983, para ilmuwan menemukan tulang hyoid manusia Neanderthal di
sebuah gua di Israel. Hal ini mengakhiri perdebatan tentang apakah manusia
purba ini bisa bicara. Hyoid adalah tulang kecil yang terletak di tenggorokan,
yang menjadi bagian dari mekanisme pengucapan vokal yang membuat manusia
modern bisa berbicara. Mitos lain yang tidak benar adalah anggapan bahwa
manusia Neanderthal berjalan membungkuk seperti gorila. Penemuan tulang
kerangka yang mendukung teori ini gugur karena melalui pemeriksaan mikro
karbon dan pembandingan dengan tulang kerangka lainnya menunjukkan sebuah
data. Bahwa tulang punggung yang melengkung itu diakibatkan serangan
penyakit sejenis arthritis.

KEBOHONGAN "MITOCHONDRIAL EVE" DI DISCOVERY CHANNEL

Discovery Channel baru-baru ini menayangkan sebuah dokumenter


berjudul The Real Eve, dimana skenario khayalan diajukan untuk menjelaskan
penyebaran manusia modern, yang katanya muncul dari evolusi di Afrika, ke
seluruh penjuru dunia. Namun, penemuan ilmiah menunjukkan bahwa evolusi
manusia tidak lebih dari khayalan, dan pernyataan Discovery Channel tidak
berdasar. Tulisan ini membongkar kesalahan ilmiah saluran ini.
Program ini dimulai dengan pernyataan bahwa ras manusia yang ada
sekarang berasal dari seorang wanita hidup di Afrika sekitar 130.000 tahun yang
lalu, dan wanita ini merupakan Homo sapiens pertama yang katanya muncul
melalui proses evolusi. Karena klaim mengenai wanita ini berasal dari analisa
DNA mitokondria, wanita dalam mitos ini dikenal dengan nama "mitochondrial
Eve"
Dikatakan bahwa manusia ini, dengan otak yang lebih besar, meninggalkan
benua itu, mungkin untuk menemukan tempat baru, dan mulai menyebar ke
seluruh dunia sekitar 80.000 tahun yang lalu. Kemungkinan jalur migrasi
sekelompok kecil manusia, digambarkan berpakaian primitive dan dengan
kejadian-kejadian yang mungkin terjadi selama perjalanan. Hal-hal seperti
perubahan iklim, hubungan antara Neanderthals dan manusia modern, dan
sejumlah penemuan fosil juga dijelaskan. Pesan Darwinisnya adalah, setiap orang
yang hidup saat ini merupakan hasil evolusi, dan bahwa jejak-jejak evolusi ini
dapat ditemukan dalam gen-gen kita.
Namun kenyataan genetik yang disebutkan untuk menegaskan pernyataan
ini sebenarnya sama sekali bukan penemuan ilmiah yang objektif, melainkan
kenyataan-kenyataan yang diterjemahkan dengan prasangka evolusionis.
Dengan kata lain, pemahaman gen semacam ini tidak mempunyai dasar yang
realistis.
Contoh yang paling jelas dalam hal ini adalah "DNA mitokondria" (mtDNA),
yang digunakan sebagai batu loncatan bagi klaim evolusionis dalam acara ini.
Analisis mengenai DNA mitokondia selalu dibangga-banggakan dalam klaim yang
mereka tayangkan. Dugaan bahwa Homo sapiens muncul sekitar 130.000 tahun
yang lalu di Afrika dan bahwa orang Amerika pertama mendarat di benua itu
20.000 tahun yang lalu, serta rekaan jalur perpindahan yang dilalui manusia saat
menyebar dari Afrika, semua berdasarkan mtDNA.
Padahal sebenarnya analisa umur berdasarkan DNA mitokondria baru-baru ini
tidak lagi diakui!
Hingga baru-baru ini, diyakini bahwa mtDNA diwariskan hanya dari Ibu,
sehingga mtDNA seorang wanita dapat ditelusuri dari generasi ke generasi. Ahli
biologi evolusi seringkali menggunakan analisa mtDNA dan mtDNA untuk
mengajukan spekulasi mengenai asal-usul kehidupan. Namun, dengan
keterikatan mereka terhadap dogma-dogma evolusi, mereka menerjemahkan
mtDNA secara sepihak, dan memaksakan suatu kondisi awal perbedaan antara
berbagai contoh mtDNA yang mereka uji harus terjadi dari mutasi.
Namun, fakta yang baru muncul setahun yang lalu telah secara mendasar
meruntuhkan kredibilitas analisi ini. Sebuah tulisan berjudul"Mitochondria can be
inherited from both parents" ("mitokondria dapat diwarisi dari kedua orang tua")
dalam majalah terkenal New Scientist menggambarkan bagaimana 90%
mitokondria seorang pasien berkebangsaan Denmark diwarisi dari ayahnya.
Maka terungkaplah bahwa seluruh penelitian mtDNA yang dilakukan untuk
mendukung skenario evolusi khayalan sebenarnya tidak bermakna. New Scientist
mengakui kenyataan ini sebagai berikut: Ahli biologi evolusi seringkali
menghubungkan keragaman spesies dengan perbedaan urutan genetic dalam
DNA mitokondria. Bahkan, jika DNA ayah sangat jarang diwariskan sekalipun,
penemuan-penemuan mereka boleh jadi tidak lagi berlaku.1
Karena alasan ini, pendapat tentang "mitochondrial Eve" yang diajukan
Discovery Channel benar-benar tidak lagi berlaku dengan adanya penemuan di
atas. Sumber-sumber evolusionis seperti Discovery Channel menerjemahkan
perbedaan-perbedaan genetic pada manusia di dunia dengan kacamata
prasangka untuk menegakkan teori mereka sendiri. Hal tersebut yang
menyebabkan tidak berlakunya klaim evolusionis berdasarkan analisis genetika.
Teknik penelitian lain yang dikenal oleh evolusionis sebagai pendukung
teori "out of Afrika" (Keluar dari Afrika) mereka adalah analisa kromosom Y,
berdasarkan penelitian tentang kromosom Y, yang hanya diturunkan melalui
ayah. Namun ketika analisa kromosom Y dan mtDNA dibandingkan,
ketidakkonsistenan pendapat evolusionis semakin nyata. Lebih jauh lagi,
sejumlah besar pelaeontolog menolak dengan tegas kronologis berdasarkan
analisis genetik. Bukti palaeontolog benar-benar tidak masuk akal jika
dibandingkan dengan analisis mtDNA dan kromosom Y.
Spencer Wells seorang peneliti, yang mempelajari perbedaan antara
berbagai ras manusia menggunakan analisa kromosom Y, berpendapat bahwa
seluruh umat manusia berasal dari seorang nenek moyang yang hidup di Afrika
sekitar 60.000 tahun yang lalu. Palaeontolog yang menggunakan catatan fosil
sebagai dasar gambar-gambar mereka berpendapat bahwa ini terjadi sekitar
40.000 tahun yang lebih awal. Jelas sekali ada perbedaan yang besar antara
waktu yang didapatkan dari analisa genetika dengan catatan fosil. Alison Brooks,
seorang palaeontolog dari Universitas George Washington mengatakan, "The
dates don't compare well to the order or the geography of the migration patterns
revealed by the fossil record." ("Waktu yang disebutkan tidak sesuai dengan
urutan atau geografi pola migrasi yang diungkapkan oleh catatan fosil.")"2
Perbedaan antara analisis kromosom Y dan mtDNA semakin besar. Penelitian
berdasarkan analisis mtDNA menyatakan bahwa perjalanan ini terjadi 90.000
tahun hingga 150.000 tahun lebih awal.
Dapat dilihat disini bahwa evolusionis bahkan tidak semuanya setuju
mengenai teori "out of Africa" yang dibicarakan dalam Discovery Channel.
Kenyataannya, banyak antropolog evolusionis dan palaeontolog yang benar-
benar menolak teori "out of Africa". Sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh
peneliti seperti Alan Thorne dan Milford Wolpoff membela teori multi-regional dan
mengemukakan penemuan yang menunjukkan bahwa pendapat "mitochondrial
Eve" adalah pekerjaan khayalan. Mungo Man (orang Mungo) berusia 68.000
tahun yang ditemukan di Australia oleh Alan Thorne telah memberikan pukulan
telak terhadap teori "out of Africa" dan juga, tentu saja, mementahkan pendapat
"mitochondrial Eve".3
Alasan mengapa banyak sekali pendapat-pendapat yang saling
bertentangan adalah karena proses perubahan evolusi hanyalah khayalan belaka
dan tidak nyata. Karena tidak ada proses evolusi di masa lalu, semua
mengajukan hasil pemikirannya masing-masing.

Mutasi dan Kebohongan Jam Molekuler


Acara dalam Discovery Channel menghasilkan berbagai spekulasi
mengenai kapan orang Amerika pertama tiba di benua ini. Migrasi ini
diperkirakan telah terjadi 15.000 tahun yang lalu. Acara ini menggambarkan
bahwa dengan mengikuti analisa mtDNA, perkiraan waktunya mundur 5000
tahun, menjadi 20.000 tahun yang lalu. Seorang peneliti yang pendapatnya
dilaporkan berkata bahwa perbedaan mutasi telah tampak pada orang-orang
yang menyeberangi Selat Bering dengan mereka yang tinggal di Asia. Kemudian
ia melanjutkan komentarnya tentang "jam molekuler", yang sering disebut-sebut
oleh peneliti evolusionis, dengan pernyataan "jika kami menduga bahwa mutasi
terjadi setiap 20.000 tahun …" Namun penerjemahan seperti ini tidak lebih dari
istana di awang-awang, tanpa dasar ilmiah. Konsep bahwa jam molekuler yang
digunakan dalam mengidentifikasi mutasi genetis benar-benar merupakan
konsep kosong, hasil dari pandangan yang keliru. Akan sangat berguna sekali jika
kita memperthatikan lebih dalam lagi konsep yang sudah sering digunakan oleh
evolusionis dalam penyimpangan-penyimpangan fakta-fakta genetis.

Hipotesa (dugaan) tentang jam molekuler menganggap bahwa asam-asam


amino dalam protein makhluk hidup, atau nukleotida dalam gen-gen mereka
berubah dengan kecepatan tertentu. Pernyataan yang diajukan dalam Discovery
Channel bahwa manusia mengalami mutasi sekali dalam setiap 20.000 tahun
dibuat berdasarkan hipotesa tersebut. Evolusionis mempelajari mitokondria
simpanse dan manusia, yang dianggap berasal dari satu nenek moyang, dan
mengidentifikasi nukleotida berbeda dalam daerah-daerah DNA analog. Dengan
anggapan bahwa manusia dan simpanse telah terpisah 6 juta tahun yang lalu,
mereka membagi angka 6 juta dengan jumlah nukleotida berbeda di dalamnaya,
sehingga didapatkan jadwal mutasi khayalan. Tentu saja, pernyataan ini tidak
memiliki dasar apapun kecuali persangka evolusionis, dan tidak berarti di
hadapan fakta-fakta ilmiah. (untuk lebih jelasnya lihat Darwinism Refuted:How
the Theory of Evolution Breaks Down in the Light of Modern [Darwinisme
Tersangkal: Bagaimana Teori Evolusi Runtuh oleh Pengetahuan Modern] Harun
Yahya, Goodword Books, 2003)
"Memutar" jam molekuler ini seluruhnya didasari oleh prasangka
evolusionis. Kenyataannya, "jam" yang sedang kita bicarakan ini tidak diatur
untuk keperluan itu: Diklaim bahwa dalam salah satu tulisan di jurnal terkemuka
Science bahwa menurut sebuah jam molekuler baru "mitochondrial Eve" pasti
hidup tidak lebih dari 6.000 tahun yang lalu. Ini semua menunjukkan bahwa
pendapat tentang "mitochondrial Eve" yang dinyatakan dalam Saluran The
Discovery Channel sebenarnya tidak berarti. Inti teori ini adalah, evolusionis yang
terpesona oleh ilusi Darwinisme tentunya akan melihat pada gen dibawah
pengaruh ilusi itu, dan melihat apa yang ingin mereka lihat.

Kebohongan Neanderthal

Dalam bagian mengenai skenario "out of Africa", kita dibaritahu bagaimana


manusia modern bertemu dengan Neanderthal saat tiba di Eropa, dan informasi
singkat tentang Neanderthal diberikan. Meskipun Neanderthal diterima sebagai
ras manusia, manusia Neanderthal masih digambarkan sebagai spesies primitive.
Hiburan yang ditayangkan Discovery Channel menunjukkan manusia Neanderthal
sebagai manusia yang berteriak, bukannya berbicara normal, seekor makhluk
buas yang melolong seperti serigala. Meskipun demikian kenyataannya adalah,
penemuan mengenai anatomi dan budaya Neanderthal menunjukkan bahwa
manusia Neanderthal sama sekali tidak primitive, dan membuktikan bahwa
mereka termasuk ras manusia yang hidup, berpikir dan berbicara, serta
menyukai kebudayaan dan peradaban sebagaimana halnya manusia modern.
Dalam hal ini penyimpangan evolusionis dimulai pada abad ke 19, saat
penemuan fosil Neanderthal pertama tahun 1856. Penyimpangan rekonstruksi
kerangka yang dilakukan oleh ahli anatomi Prancis Marcelline Boule membuat
manusia Neanderthal dianggap sebagai manusia kera yang kasar, yang berjalan
merunduk dan tidak berbudaya. Faktanya, kata "Neanderthal" bahkan digunakan
dalam Bahasa Inggris sebagai persamaan kata "crude, ignorant" (kasar, bodoh).
Namun, penemuan baru mengenai Neanderthal menunjukkan bahwa ini benar-
benar sebuah kekeliruan, dan pendapat bahwa mereka manusia kera saat ini
telah benar-benar ditinggalkan. Discovery Channel dalam hal ini masih digunakan
sebagai alat bagi propaganda Darwinis. Usaha mereka untuk menggambarkan
manusia Neanderthal sebagai hasil evolusi dengan melukiskannya sebagai "10
kali lebih dekat pada manusia daripada simpanse" benar-benar pembandingan
yang tidak berarti dan fiktif.

Kesimpulan

Dokumenter "mitochondrial Eve" yang ditampilkan di Discovery Channel


mengandung kebohongan besar. Analisa yang digunakan sebagai bukti tidak
valid dan tidak menunjukkan apapun kecuali prasangka-prasangka evolusionis.
Propaganda Darwinis yang ditayangkan oleh Discovery Channel, yang sama
sekali mengabaikan fakta-fakta ilmiah, telah benar-benar runtuh. Homo sapiens
sapiens (manusia modern) dan manusia Neanderthal keduanya sama-sama
bukan spesies yang berevolusi. Keduanya manusia, yang diciptakan Allah,
dengan kemampuan unggul seperti kemampuan bicara dan berpikir.

Dari ”Homo Erectus”, ”Homo Soloensis”,


hingga ”Homo Floresienses”
Indonesia, ”Sarang” Hobbit yang Pintar.

JAKARTA- Dijuluki sebagai Hobbit, entah sebuah kebanggaan atau bukan.


Yang jelas memang fosil manusia purba yang ditemukan di Indonesia selalu
berukuran lebih kecil dibanding fosil di negara barat. Tapi semuanya sama-sama
pintar menciptakan peralatan penunjang hidup sehari-hari.
Mahluk bangsa Hobbit tidak hanya ada dalam karya fiksi JRR.Tolkien, Lord
of The Ring. Suku bangsa yang digambarkan bertubuh cebol menyerupai
manusia itu sudah ada sejak 13.000 tahun silam. Dan mereka hidup di pulau
Flores, Indonesia. Manusia mungil ini memiliki tengkorak kepala seukuran dengan
buah anggur. Mereka disinyalir hidup sezaman dengan gajah pigmi dan komodo
di pulau tersebut.

Membantah Teori Lama


Temuan yang dihasilkan oleh ilmuwan Indonesia dan Australia ini berupa
miniatur tubuh manusia di sebuah gua di Flores. Para ilmuwan mengumumkan
bahwa ini merupakan fosil manusia purba paling lengkap dalam dunia arkeologi.
Dinamakan Homo floresiensis, fosil manusia cebol ini berasal dari manusia purba
perempuan dengan tinggi tubuh hanya satu meter, bobot 25 kilogram dan
diperkirakan berusia 30 tahun saat meninggal.
Homo floresienses disebut sebagai temuan paling spektakuler dalam ilmu
paleoantropologi dalam setengah abad terakhir ini. Yang unik, karena hidup sejak
13.000 silam, berarti manusia cebol tersebut hidup bersamaan dengan manusia
normal lainnya.
“Mahluk ini hidup sama dengan manusia spesies lainnya. Berjalan dengan
dua kaki dan memiliki otak berukuran kecil. Fakta bahwa mereka hidup di masa
yang sama dnegan manusia lain sungguh di luar dugaan,” komentar Peter Brown,
seorang paleoantropolog dari University of New England di New South Wales,
Australia seperti yang dikutip National Geographic baru-baru ini. Brown bersama
dengan timnya didanai oleh National Geographic Society’s Committee for
Research and Exploration untuk ekspedisi tersebut.
Diperkirakan pulau Flores telah didiami manusia cebol itu sejak 95.000
hingga 13.000 tahun silam. Ini disimpulkan dari usia tulang belulang dan
peralatan yang mereka pakai di pulau tersebut. Dengan temuan ini maka
berubahlah pandangan para ilmuwan mengenai bagaimana manusia purba di
masa lalu berevolusi dalam hal budaya, biologi dan geografi.
Temuan ini membuktikan bagwa genus Homo jauh lebih bervariasi dan
lebih fleksibel dalam hal beradaptasi. Yang termasuk genus Homo meliputi pula
manusia modern, Homo erectus, Homo habilis, and Neandertals. Kesamaan di
antara mereka adalah sama-sama memiliki ruang simpan luas di otak, postur
tubuh tegap, dan mampu menciptakan alat-alat.
Karena memiliki tubuh yang lebih kecil, ukuran otak lebih mungil dan
anatomi tubuh yang lebih primitif, maka Homo Floresienses membantah semua
teori yang menyatakan bahwa ciri khas genus Homo adalah ukuran tubuh yang
besar. Para ilmuwan memprediksi bahwa mereka ini masih berhubungan dengan
populasi Homo erectus yang tiba di Flores sekitar 840.000 tahun lalu.
Homo Erectus
Temuan fosil Hobbit tersebut bukan yang pertama di Indonesia.
Sebelumnya sudah ditemukan spesies Homo erectus dikenal pula dengan nama
Pithecanthropus Erectus. Spesies ini ditemukan sekitar dua juta tahun yang lalu,
ketika curah hujan di dataran Sunda dan dataran Sahul sangat besar, dan ketika
seluruh daerah ini tertutup oleh vegetasi tropikal yang sangat padat. Selama
jangka waktu tujuh puluh tahun lamanya, di berbagai tempat di sepanjang
lembah sungai brantas di Jawa Timur, telah diketemukan sebanyak 41 buah fosil
manusia purba itu. Situs-situs yang tertua berlokasi di dekat desa Trinil,
Ngandong dan Sangiran dan dekat kota Mojokerto.
Mereka adalah manusia purba yang diperkirakan hidup dalam kelompok-
kelompok kecil bahkan mungkin dalam keluarga-keluarga yang terdiri dari enam
hingga 12 individu, yang memburu binatang di sepanjang lembah-lembah sungai
di dataran Sunda, cara hidup seperti itu agaknya tetap berlangsung selama satu
juta tahun. Kemudian ditemukan sia-sia artefak yang terdiri dari alat-alat kapak
baru di sebuah situs dekat desa Pacitan, dalam lapisan bumi yang berdasarkan
data geologi diperkirakan berumur 800.000 tahun.
Dari manusia purba yang baru ini, didapat dua buah tulang kaki dan 11
tengkorak dengan ukuran yang lebih besar dari pada Pithecanthropus yang lebih
tua umurnya. Tengkoraknya menunjukkan tonjolan yang tebal ditempat alis,
dengan dahi yang miring kebelakang. Suatu analisa cermat atas tengkorak
tersebur yang dilakukan oleh ahli paleoantropologi di Indonesia, yakni Teuku
Yakup pada tahun 1967, membenarkan bahwa manusia Ngandong itu merupakan
keturunan langsung dari Pithecanthropus Erectus. Manusia Ngandong ini
biasanya disebut Homo Soloensis yang terus menjadi mahluk manusia Homo
Sapiens dengan ciri-ciri ras yang merupakan ciri-ciri ras nenek moyang ras Austro
Melanosoid. Sisa-sisa jenis ini ditemukan disuatu tempat di Wajak Jawa Timur (E.
Debois 1920) yang ada persamaannya dengan orang Australia pribumi purba.
Sebuah tengkorak kecil dari seorang wanita, sebuah rahang bawah dan sebuah
rahang atas dari manusia purba itu sangat mirip dengan manusia purba ras
Australoid purba yang ditemukan di Talgai dan Keilor yang rupanya mendiami
daerah Irian dan Australia.

Archeoastronomy: The "Missing Link" in Darwin's Theory of


Evolution
Nama Charles Darwin tentu tidak asing lagi bagi kita. Dalam Origin of
Sepcies-nya (1859) yagn sangat populer dan merombak pemikiran dunia
tersebut, semua bentuk kehidupan di bumi dijejak ulang, baik primata, mamalia,
vertebrata, mundur hingga bentuk kehidupan paling sederhana yg dipresumsikan
sudah ada sejak milyaran tahun lalu..
Namum seiring dengan bertambahnya penemuan fosil2 di sana sini,
bertambahlah kebingungan para ilmuwan. Mereka menarik kesimpulan, bahwa
bentuk awal spesies manusia berawal di ASIA sejak 500.000 tahun lalu. Namun
dgn ditemukannya fosil2 yg lebih tua usianya, asumsi berubah, dan cikal bakal
jenis primata nenek moyang manusia ada pada titik 25jt tahun yang lalu.
Penemuan di Afrika Timur membawa tambahan informasi bahwa transisi dari
bentuk tersebut ke bentuk kera yang menyerupai manusia (hominids) terjadi
pada 14jt tahun lalu, dan baru setelah melewati proses sangat lamban, 11jt
tahun kemudian, muncul bentuk yang layak diklasifikasikan sebagai Homo.
Jenis pertama dalam klasifikasi ini adalah Advanced Australophitecus dari
Afrika sekitar 2jt tahun lalu. Setelah sekitar 1jt tahun, muncul Homo Erectus, dan
ditambah lagi 900.000thn (50.000SM) barulah muncul jenis manusia primitf
pertama, yaitu Neanderthal. Yang perlu dicatat, perkakas primitif seperti batu
tajam yang dipergunakan Advanced Australophitecus dan Neanderthal berbentuk
hampir mirip, padahal rentang masa antara kedua jenis tersebut adalah 2jt
tahun. Artinya selama rentang masa 2jt tahun itu perkembangan peradaban dan
intelektualitas berjalan dalam percepatan yang sangat lambat sekali.
Lalu secara mendadak, tiba2, 35000thn yang lalu muncul satu spesies baru
Homo Sapiens (artinya "manusia berpikir") di wilayah Mediterania, setelah
punahnya spesies Neanderthal, dengan ebab yagn diperkirakan para ahli karena
kondisi iklim bumi yang memburuk pada mas aitu. Spesies baru ini, Homo
Sapiens yg memiliki peradaban dan intelektualitas yang jauh lebih maju
dibandingkan para spesies pendahulunya. Mereka hidup di gua2 ("cavemen"),
mereka sudah mengenal pakaian, perkakasnya dibuat lebih halus dan fungsional
dengan bahan kayu atau tulang. Lukisan2 ditemukan di dinding gua2 purba
menunjukkan adanya rasa seni, emosi, bahkan religi. Mereka mengubur orang
yang telah mati, menunjukkan adanya konsep hidup, mati, bahkan kehidupan
setelah kematian. Mereka juga sudah mengenal bicara sebagai alat komunikasi.
Di sinilah letaknya "missing link" dari teori Darwin. Mengapa bisa terjadi
lonjakan jenis spesies, peradaban, kebudayaan, dan teknologi seperti itu?
Menurut Prof. Theodosius Dobhansky, pengarang buku Mankind Evolving, yang
paling mengherankan sebenarnya bukan keterbelakangan manusia purba, tapi
kemajuan kita, manusia modern, yg sangat pesat. Menurutnya, dengan
percepatan evolusi yang normal, manusia seharusnya saat ini pun masih dalam
tahap primitif. Untuk megnembangkan perkakas batu saja perlu waktu 2jt tahun.
Pengenalan penggunaan material lain, seperti logam misalnya, paling tidak perlu
2jt tahun lagi, dan mungkin perlu proses evolusi 10jt tahun lagi bagi manusia
untuk mencapai tahap dasar ilmu pengetahuan seperti matematika dan
astronomi. Tapi justru kita, yang berselisih sekitar 50000tahun saja dengan
manusia Neanderthal, sudah bisa mendaratkan manusia di bulan dan
menciptakan komputer.
Adalah Ralph Solecki, seorang arkeolog yg pada tahun 1957 menemukan
penemuan yang mengejutkan di gua Shanidar di kawasan Timur Tengah. Pada
waktu melakukan penggalian di gua tersebut, terkuak bukti2, setelah dari lapisan
demi lapisan tahan digali, bahwa peradaban manusia tidak menunjukkan
kemajuan seiring berjalan waktu, bahkan malah menunjukkan kemunduran. Dan
dalam hitungan tahun antara 27000SM - 11000SM, ditemukan bukti2 kuat bahwa
baik peradaban dan populasi manusia menyusut dan hampir punah dari seluruh
area itu selama masa 16000tahun, yg sangat mungkin disebabkan bencana yang
bersifat katastropik. Lalu, di titik 11000SM itulah tiba2 muncul jenis manusia
Homo Sapiens tersebut, yagn langsung sekaligus membawa peradaban, budaya,
dan teknologi yang sangat jauh lebih maju dibandingkan jenis pendahulunya
yang hampir punah selama masa 16000tahun itu.
Jadi jelas, mulai dari jenis Hominids hingga Neanderthal, proses evolusi lah
yang memegang peranan. Namun jenis Homo Sapiens muncul dari suatu proses
yang tiba2, revolusioner, dan terlalu dini bila dipandang dari kecepatan proses
evolusi yang normal. Ilmuwan lain yang mendukung hipotesis ini adalah Jeffrey
Schwartz, melalui bukunya Sudden Origins. Ia menyimpulkan bahwa Homo
Sapiens muncul secara tiba2 dan sampai kapan pun fosil missing link untuk
membuktikan kebenaran teori Darwin tak akan dapat ditemukan. Namun ia juta
tidak dapat memberikan teori substitusi yg dapat menjawab pertanyaan
mengapa Homo Sapiens tiba2 muncul tanpa melalui proses evolusi ala Darwin.
Pertanyaan selanjutnya yg pasti akan segera muncul di dalam benak kita
adalah:
Dari pemaparan di atas, apakah leluhur kita Homo Sapiens bisa mencapai
peradaban dan teknologi tersebut dengan usaha kita sendiri?
Ataukah ada faktor eksternal lain, misalnya pengadopsian (atau
pengwarisan) teknologi dari peradaban lain yang jauh lebih maju?.

Memburu Spesies Manusia Purba di Liang Bua

BEGITU hasil temuan fosil manusia kerdil--seperti tokoh hobbit dalam buku
legendaris JRR Tolkien, The Lord of The Rings-- di Liang Bua, Flores, Nusa
Tenggara Timur, diumumkan hari Kamis (28/10) dalam konferensi pers di Sydney,
Australia, dunia keilmuan sontak heboh. Awam pun ikut bergunjing. Apalagi
ketika jaringan televisi dan kantor berita dunia menempatkannya sebagai salah
satu berita "besar", kemudian dirilis oleh media massa di berbagai belahan bumi,
temuan spesies manusia purba yang kemudian dinamai homo floresiensis itu pun
menjadi pembicaraan.
Pengetahuan tentang adanya kehidupan dari masa ribuan tahun lampau di
Liang Bua bukanlah hal baru. Para arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi
Nasional (Puslit Arkenas) sejak tahun 1976 sudah melakukan penelitian secara
intensif di Liang Bua. Menjelang akhir tahun 1970-an, tim yang diketuai Prof. Dr.
Raden Panji Soejono itu bahkan telah mendapatkan temuan "spektakuler" berupa
tengkorak manusia dan kerangka tubuh manusia dewasa. Bersamaan dengan itu
ditemukan pula kuburan manusia purba, lengkap dengan bekal kuburnya yang
masih relatif utuh. Juga ditemukan lapisan budaya berupa berbagai artefak yang
diyakini sebagai sisa pendukung keberadaan mereka.
Hanya saja, ketika itu para arkeolog Indonesia belum memiliki alat dan
kemampuan yang memadai untuk membuat suatu kesimpulan yang agak
menyeluruh. Hanya dikatakan bahwa ras manusia yang tinggal di sana paling
tidak berasal dari sekitar 10.000 tahun lalu. Karena ketiadaan biaya, penelitian
pun sempat terhenti. Tahun-tahun berikutnya, hingga tahun 1989, penelitian
cenderung bersifat sporadis. "Untuk melakukan penelitian di Liang Bua butuh
biaya cukup besar. Dengan anggota tim sebanyak 18 orang, ketika itu kami
harus naik Dakota ke Flores, setelah singgah di Denpasar dan Kupang. Belum lagi
biaya untuk kebutuhan lain," ujar Soejono.
Di tengah ketiadaan dana, tahun 2001, datang tawaran kerja sama dari Australia.
Mike Morwood dari University of New England memimpin tim dari Australia,
sedangkan RP Soejono bertindak sebagai ketua tim dari Puslit Arkenas. Setelah
melakukan serangkaian ekskavasi, September 2003, tim gabungan ini berhasil
mendapatkan temuan menghebohkan itu: si hobbit dari Liang Bua!"Sebetulnya
penelitian ini belum sepenuhnya usai. Kok, tiba-tiba saja hasilnya sudah
diumumkan oleh pihak Australia. Apalagi ketika itu diumumkan tanpa didampingi
oleh satu pun peneliti dari Indonesia. Saya tak tahu di mana etika penelitian dan
etika kerja sama yang selama ini diagung-agungkan di dunia keilmuan," ujar
Soejono.
Namun, apa mau dikata. "Ini tak lepas karena kita tidak memiliki dana
penelitian serta alat dan pakar yang memadai," ujarnya menambahkan. Ia
mengakui, kondisi serba kekurangan itu menjadi dilema bagi dunia penelitian
arkeologi di Indonesia. Akibatnya, begitu ada tawaran kerja sama dengan luar
negeri langsung diterima. Padahal, tidak sepenuhnya kerja sama itu
menguntungkan, termasuk dalam konteks penelitian di Liang Bua. Ada kalanya
hasil penelitian dibawa ke luar negeri sehingga sebagian besar hasil penelitian
berada di pihak Australia dan Indonesia tidak mendapatkan apa-apa.
"PENCARIAN terhadap sisa-sisa manusia kerdil dari Liang Bua
sesungguhnya dimulai oleh Pastor Verhoeven pada tahun 1958," kata Rokus Due
Awe, tenaga teknisi dokumentasi di Puslit Arkenas. Dia ikut serta dalam
penggalian yang dilakukan pastor tersebut sejak awal.

ADITYA
P.
X-D/2