Anda di halaman 1dari 18

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Manokwari

B AB
KERANGKA PENGEMBANGAN
WILAYAH KABUPATEN
M A NOK W A R I 5
5.1 Tujuan Pengembangan Wilayah
Kabupaten Manokwari memiliki visi yaitu ” Terwujudnya Perekonomian Daerah
yang Mampu Menopang Kehidupan Rakyat untuk Mandiri, Aman, Rukun, Damai dan
Sejahtera”. Sedangkan misi dari wilayah ini adalah :
1. Perwujudan kesejahteraan rakyat
2. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia
3. Penanganan kesenjangan wilayah distrik dan kampung melalui penerobosan
isolasi daerah
4. Penguatan kelembagasan otonomi daerah
5. Perlindungan hak dan martabat kaum perempuan
6. Pembinaan bakat dan prestasi generasi muda
7. Pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan hidup
8. Meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana kota yang komparatif dan
ramah lingkungan
9. Mempertahankan Kabupaten Manokwari dalam kondisi aman, tertib, tentram
dan damai dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Rencana tata ruang yang diakomodasikan dalam RTRW Kabupaten Manokwari


ditujukan untuk :
1. Mempersiapkan dukungan ruang bagi pertambahan penduduk dan kegiatannya
selama 10 (sepuluh) tahun ke depan melalui alokasi ruang dengan
mempertimbangkan daya-dukung dan daya-tampung wilayah dan lingkungan,
struktur dan pola kegiatan, distribusi demografi menurut ruang dan

Laporan Akhir V- 1
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Manokwari

kegiatannya, serta kebijakan Nasional dan Provinsi yang perlu


diakomodasikan di Kabupaten Manokwari
2. Mengurangi disparitas perkembangan dan pertumbuhan antar bagian wilayah
Kabupaten Manokwari melalui perkuatan setiap bagian wilayah sesuai potensi
dan kendala perkembangan yang dihadapi, terutama antara kawasan
pedalaman dan perdesaan dengan kawasan di pesisir Kabupaten Manokwari
3. Pengurangan disparitas tidak dimaksudkan sebagai pencapaian perkembangan
dengan tingkat yang sama di antara seluruh bagian wilayah Kabupaten
Manokwari, namun ditujukan untuk memperkuat daya saing masing-masing
bagian wilayah secara proporsional sesuai potensi sumberdaya alam dan posisi
geografis yang dimilikinya. Dalam hal ini, ketersediaan prasarana dan sarana
produksi dan distribusi bagi bagian wilayah dengan tingkat perkembangan
rendah menjadi signifikan, dimana upaya penyediaannya menjadi
tanggungjawab Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Papua/Irian Jaya Barat,
dan Pemerintah Kabupaten Manokwari
4. Mendorong kemampuan setiap bagian wilayah Kabupaten Manokwari untuk
memenuhi kebutuhan perkembangan dengan mengoptimalkan pemanfaatan
sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya binaan secara
berkelanjutan. Keragaman potensi lokal perlu dimanfaatkan sebagai modal
pembangunan, namun tetap memperhatikan daya-dukung lingkungan sekitar
5. Mendorong pertumbuhan sektor primer, sekunder, dan tersier secara sinergis
untuk memperkuat basis perekonomian setiap bagian wilayah Kabupaten
melalui pembentukan nilai tambah. Jika sektor primer menjadi basis
pertumbuhan, maka inisiatif perkembangan sektor sekunder dan tersier sebagai
tata kaitan ke depan (forward linkage) yang kuat dan tangguh menjadi
prasyarat bagi pengembangan Kabupaten Manokwari
6. Pengembangan industri diarahkan kepada industri berbasis kehutanan dan
pertanian sebagai potensi terbesar di wilayah dan dilaksanakan dalam prinsip
pembangunan yang berkelanjutan

Laporan Akhir V- 2
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Manokwari

7. Mempertahankan dan meningkatkan kelestarian lingkungan melalui


pengelolaan dan pelestarian kawasan berfungsi lindung dan pengendalian
kegiatan budidaya di Kabupaten Manokwari. Kebijaksanaan pembangunan
yang berkelanjutan di Kabupaten Manokwari menjadi landasan utama bagi
pelaksanaan pengelolaan lingkungan secara taat asas. Oleh karena kawasan
berfungsi lindung merupakan determinan dalam pemanfaatan ruang wilayah,
maka pengembangan dan pengalokasian ruang budidaya dilakukan secara
komplementer terhadap delineasi kawasan berfungsi lindung yang disepakati
oleh para pihak
8. Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana pendidikan
terutama di pusat kegiatan kabupaten untuk mendukung terwujudnya kawasan
perkotaan Manokwari sebagai pusat pendidikan
9. Mengembangkan kegiatan industri, perdagangan dan investasi
10. Meningkatkan penyediaan dan pemanfaatan sumber energi dan tenaga listrik
yang murah dan ramah lingkungan
11. Mengembangkan kebijakan pertanahan, termasuk hak ulayat dan hak adat
12. Meningkatkan pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana publik
(transportasi, telekomunikasi, energi dan listrik serta air bersih)
13. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh
pendidikan yang bermutu
14. Meningkatkan sarana dan prasarana fasilitas kesehatan
15. Menata, mengembangkan dan mempromosikan potensi pariwisata

5.2 Kerangka Pengembangan Wilayah

Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Manokwari berasaskan :


1. Demokratisasi tata ruang
Penataan ruang diarahkan untuk menciptakan akses yang sama terhadap
pemanfaatan ruang dan sumberdaya alam, kemudahan dalam pemanfaatan

Laporan Akhir V- 3
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Manokwari

prasarana dan pelayanan sosial-ekonomi, dan mendorong motivasi untuk


melestarikan perlindungan lingkungan bagi seluruh sektor dan kelompok
masyarakat secara proporsional
2. Kesesuaian dan keserasian pemanfaatan ruang
Penataan ruang merupakan wahana untuk proses penyesuaian dan penyerasian
antara tuntutan pertumbuhan kegiatan pembangunan dengan daya-dukung dan
daya-tampung wilayah secara fisik, ekologi, dan sosial-ekonomi, sehingga
tercapai pemanfaatan ruang secara optimal bagi para pihak
3. Pelestarian lingkungan hidup
Pemanfaatan ruang merupakan keputusan pemberian fungsi tertentu bagi suatu
satuan wilayah dengan mempertimbangkan fungsi perlindungan lingkungan
bagi wilayah yang bersangkutan. Kegiatan pembangunan harus menjamin
kelestarian fungsi perlindungan lingkungan dan keberlanjutan kegiatan yang
bersangkutan
4. Sinergi perkembangan wilayah
Perencanaan tata ruang wilayah pada hakekatnya adalah upaya pembentukan
struktur ruang yang dibangun oleh sistem pusat-pusat permukiman yang secara
fungsional dapat berbeda satu dengan lainnya. Oleh karena sistem pusat-pusat
permukiman merepresentasikan proses interaksi sosial, ekonomi, dan fisik,
maka perkembangan setiap satuan ruang wilayah perlu didorong dan
digerakkan oleh keterkaitan diantara pusat-pusat permukiman secara sinergis

Konsep penataan ruang wilayah Kabupaten Manokwari dibangun berdasarkan


kinerja pemanfaatan ruang; perkembangan dan perubahan yang berlangsung
dalam dasawarsa terakhir; serta karakteristik fisik, ekologis, dan demografis,
ekonomi dan sarana prasarana wilayah Kabupaten Manokwari.

Laporan Akhir V- 4
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Manokwari

Penetapan konsep penataan ruang dilandasi pertimbangan berikut :


Kondisi geografis Kabupaten Manokwari relatif luas, sehingga faktor jarak
dan aksesibilitas tidak selalu mampu mendorong terbentuknya satuan ruang
yang efisien dan efektif dalam tata kaitan input dan output sektor produksi
Kondisi ekologis wilayah Kabupaten Manokwari mensyaratkan upaya
konservasi yang ketat untuk dapat mendukung usaha-usaha produksi yang
berkelanjutan. Daur ekologis yang perlu dilestarikan dalam setiap satuan
ekosistem cenderung berperan sebagai determinan bagi proses perkembangan
dan perluasan kegiatan budidaya secara terus-menerus
Kesenjangan distribusi populasi antara koridor pertumbuhan kawasan pesisir
dengan kawasan pedalaman merupakan kendala bagi dukungan sumberdaya
manusia untuk pengembangan kegiatan budidaya di kawasan pedalaman dan
perdesaan
Proses globalisasi selain membuka peluang bagi kerjasama ekonomi regional
dan internasional; juga menuntut upaya konservasi bagian wilayah Kabupaten
Manokwari yang memiliki fungsi ekologis tertentu bagi kepentingan
lingkungan global

Dalam jangka waktu rencana, pendekatan yang dipilih dalam pembentukan


struktur dan pola pemanfaatan ruang Kabupaten Manokwari adalah sebagai
berikut :

1. Growth Pole

Pengembangan wilayah dilakukan dengan mengembangkan pusat-pusat


pertumbuhan yang diharapkan jika sudah berkembang dapat memberikan efek
penetasan ke bawah (trickling down effect) pada wilayah sekitarnya (wilayah
hinterland-nya).

2. Decentralized Territorial Approach

Pendekatan tersebut pada hakekatnya ditujukan untuk mendorong dan


mempercepat pemberdayaan potensi seluruh wilayah Kabupaten secara lebih

Laporan Akhir V- 5
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Manokwari

merata dengan bertumpu pada pusat-pusat pertumbuhan yang telah ada.


Melalui pendekatan tersebut, yang dituju adalah terciptanya proses
pertambahan nilai yang lebih efektif, sehingga mampu mendorong tumbuhnya
keterkaitan antara sektor primer, sekunder, dan tersier dalam satuan ruang
yang lebih terbatas, yaitu sebagai komplementaritas bagi terciptanya trickle
down effect oleh pusat-pusat pertumbuhan yang ada.

3. Konsep Linier
Penataan ruang yang memanfaatkan jaringan jalan utama yang ada di wilayah
tersebut. Konsep ini dapat diaplikasikan pada wilayah yang relatif jarang
penduduknya demi mencapai efisiensi dan keefektifan pelayanan prasarana.
Konsep ini menjadi tidak relevan lagi apabila jumlah dan aktivitas penduduk
sudah mencapai tingkat tinggi. Sehingga dapat dikembangkan menjadi konsep
yang tidak linier, tentunya hal ini harus dijamin dengan mempersiapkan lahan
cadangan bagi pengembangannya dikemudian hari. Pembentukan dan
pemanfaatan ruang di Kabupaten Manokwari juga mengacu pada konsep linier,
yaitu kota memanjang yang dibangun atas prinsip bahwa rute transport harus
menjadi determinan atau penentu mengenai bentuk kota dan yang
pembangunannya diatur pada kedua sisi poros atau pada jalan utama.

4. Water Front City


Pembentukan dan pola pemanfaatan ruang di Kabupaten Manokwari lebih
dipusatkan pada kegiatan yang menghadap/berdekatan dengan sumber air,
yang bisa berupa sumber air dari sungai, pantai, dan danau. Pada konsep water
front city dilakukan dengan membuat sempadan sungai untuk pembebasan
pinggir pantai bagi daerah-daerah perencanaan yang merupakan water front
city (pusat kegiatan menghadap ke air) serta membangun jalan-jalan inspeksi
sebagai pembatas dari pusat kegiatan di wilayah tersebut, seperti Distrik
Manokwari. Pembentukan pola pemanfaatan ruang tersebut adalah :

Laporan Akhir V- 6
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Manokwari

• Sea Front City

Konsep pembentukan dan pola pemanfaatan ruang di Kabupaten


Manokwari lebih dipusatkan pada kegiatan yang menghadap ke laut (kota
di tepi laut). Seperti Distrik Masni, Mubrani, Manokwari Utara,
Manokwari Timur, Manokwari Selatan, Warmare, Tanah Rubuh,
Oransbari, Amberbaken, Mumi Waren, Tohota, Ransiki yang secara
geografis distriknya terletak dipinggir laut
• River Front City
Konsep pembentukan dan pola pemanfaatan ruang dipusatkan pada
kegiatan yang mengahadap sungai (kota di tepi sungai). Sesuai dengan
kondisi geografis di Kabupaten Manokwari yang banyak terdapat sungai.
Distrik-distrik yang mayoritas terdapat sunga-sungai besar adalah Distrik
Masni (Sungai Kwapi dan Sungai Waryari) dan Distrik Sidey (Sungai
Mangopi dan Sungai Waryani)
• Lake Front City
Konsep pembentukan dan pola pemanfaatan ruang yang dipusatkan pada
kegiatan yang menghadap danau (kota di tepi danau). Sesuai dengan
kondisi geografis di Kabupaten Manokwari yang didalamnya terdapat 6
danau, diantaranya terdapat 2 danau besar, yaitu Danau Anggi Gita dan
Danau Anggi Gili yang terletak di Distrik Anggidida

Prioritas utama dari pengembangan wilayah di Kabupaten Manokwari


adalah menggunakan pendekatan pengembangan Growth Pole (Kutub
Pertumbuhan), yaitu pengembangan pusat kegiatan dan perkembangan
yang ada di wilayah inti yang dikembangkan lebih dulu dari wilayah
lainnya untuk tujuan apabila telah berkembang dapat mempengaruhi
perkembangan kegiatan wilayah lebih lanjut (hinterland-nya). Sehingga
dengan adanya pendekatan dari growth pole diharapkan terjadi penyebaran
wilayah yang dilakukan dengan mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan
yang diharapkan jika sudah berkembang dapat memberikan efek penetasan
ke bawah (trickling down effect) pada wilayah sekitarnya (wilayah

Laporan Akhir V- 7
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Manokwari

hinterland-nya). Pusat pertumbuhan (Growth Pole) ini biasanya terdapat di


daerah perkotaan. Misalnya Distrik Manokwari sebagai pusat kegiatan inti
di Kabupaten Manokwari dikembangkan lebih dari distrik lainnya yang
ditujukan untuk perencanaan wilayah yang pada akhirnya akan
menyebarkan tumbuhnya pusat-pusat kegiatan baru di wilayah sekitarnya.

Setelah pusat pertumbuhan cukup berkembang dan mampu memberikan


efek penetasan ke wilayah lainnya (trickling down effect). Melalui
pendekatan desentralisasi perkembangan wilayah yang perlu ditingkatkan
terutama pada pengembangan pusat-pusat kegiatan kedua agar pusat
kegiatan utama tidak menjadi terlalu “primat” karena ada pusat-pusat
perkembangan lain dalam skala yang lebih rendah yang mengimbangi daya
tarik terhadap pusat-pusat pertama. Pusat kedua ini dapat disebut sebagai
counter magnet bagi trend privatisasi pusat pertama. Pada pelaksanaannya
pendekatan growth pole ini dapat mengakibatkan backwash effect bagi
wilayah sekitar. Untuk memperjelas dapat dilihat pada Gambar 5.1 dan
Gambar 5.2 di bawah.

Laporan Akhir V- 8
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Manokwari

Gambar 5.1 Backwash Effect

Gambar 5.2 Water Front City

Laporan Akhir V- 9
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Manokwari

5. Konsep Mitigasi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami


Morfologi dan tipe pantai merupakan faktor fisik geomorfologis yang
mempunyai pengaruh terhadap tingkat kerawanan bahaya tsunami yang
berupa jangkauan limpasan tsunami ke daratan pesisir. Secara ekstrim
morfologi pantai dapat dikelompokkan menjadi dua bentuk pantai, yaitu
pantai terjal terbuka atau tertutup dan pantai datar/landai terbuka atau tertutup.
Sedangkan pada kedua bentuk pantai tersebut dapat berupa pantai berpasir,
berpasir dan berbatu, berlumpur, berlumpur dan berpasir, dan sebaliknya.
Bentuk-bentuk dan tipe-tipe pantai tersebut mewujudkan variasi morfologi
pantai yang berakibat tidak sama didalam merespon gelombang tsunami.

Kabupaten Manokwari mempunyai dua tipe morfologi tersebut, yaitu pantai


Utara adalah pantai datar/landai terbuka dan pantai Timur adalah pantai terjal
terbuka. Bencana gempa dan tsunami, selain menimbulkan korban juga akan
merubah kondisi fisik alam dan lingkungan di wilayah tersebut. Terlepas dari
itu, pengetahuan dan pemahaman mengenai kondisi alam sangat diperlukan
sebagai dasar-dasar pertimbangan bagi perencanaan tata ruang yang akan
disusun. Dengan mengetahui kondisi fisik alam dan lingkungan tersebut
diharapkan dapat menjadi dasar perencanaan sehingga perencanaan tersebut
nantinya telah mengantisipasi keadaan, terutama bencana alam, yang mungkin
bakal terjadi kembali.

Tsunami merupakan proses akibat terjadinya gempa bawah laut pada


kedalaman fokus dangkal, karena sebagian besar energy release ke kolom air
laut di atasnya, gempa bawah laut merenggutkan massa besar air laut dalam
suatu hentakan kuat. Gelombang balik air menerjang dengan kecepatan tinggi,
mendekati pantai gelombang melambat namun mendesak ke atas,
menghempas ke daratan, dan menghancurkan apapun di belakang pantai.
Terjangan gelombang menunjukkan arah relatif tegak lurus garis pantai. Pola
kerusakan sejajar garis pantai dengan gradasi kerusakan melemah tegak lurus
menjauhi pantai. Sedangkan gempa bumi di daratan kemungkinan akan

Laporan Akhir V- 10
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Manokwari

menimbulkan tanah longsor dan hentakan (vibrasi) yang kuat. Beberapa cara
meminimalkan kerusakan akibat tsunami adalah :

1. Manajemen Bencana (Disaster Management)


Dalam hal ini bencana merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari oleh
manusia sehingga perlu upaya mengantisipasi terhadap bencana yang mungkin
akan terjadi dengan mengembangkan dan mengenalkan manajemen resiko
melalui early warning system. Sistem peringatan dini (early warning system)
ini membutuhkan antara lain :
• Pemanfaatan teknologi yang mampu mendeteksi dan memberikan respon
atas kondisi alam yang terjadi terutama saat terjadinya bencana
• Adanya integrasi yang menyeluruh berkaitan dengan pengelolaan sistem
ini, baik regional (Asia), nasional dan lokal
• Adanya pendukung pengoperasian sistemyang bukan hanya perangkat
teknologi, namun juga kehandalan pengoperasian
• Adanya pemahaman yang sama mengenai urgensi sistem ini terutama agar
pemanfaatannya menjadi efisien

2. Pencegahan (Preventive)
Langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan dengan menghambat atau
menghilangkan bahaya yang mungkin timbul dari kejadian bencana yang
berdampak merugikan masyarakat, seperti langkah-langkah
antisipasi/pencegahan bencana yang relevan, diantaranya :
a. Pencegahan terhadap perbuatan yang dapat mengakibatkan bencana antara
lain pembatasan eksplorasi sumberdaya alam yang berlebihan tanpa
memperhatikan lingkungan. Contoh : penggundulan hutan, pengambilan
air tanah dan lain-lain
b. Pengembangan buffer zone dengan mempertimbangkan karakter
geomorfologi pantai. Faktor pembatas yang efektif untuk meminimalkan
lipasan tsunami dengan jenis vegetasi yang ditanam harus memenuhi
persyaratan, antara lain :

Laporan Akhir V- 11
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Manokwari

• Sesuai dengan kondisi lahan, iklim dan karakteristik tanah


• Kuat dan kokoh menahan terpaan (gelombang, angin dan bongkahan
material)
• Memenuhi persyaratan ketinggian yang mampu meminimalkan dampak
bencana
c. Mengembalikan fungsi dan pemanfaatan lahan kawasan pantai/pesisir
seperti semula seperti mengembangkan kawasan tambak sebagai salah satu
kawasan sabuk hijau. Jenis vegetasi yang ditanam harus memenuhi
persyaratan, antara lain :
• Sesuai dengan kondisi lahan, iklim dan karakteristik tanah
• Kuat dan kokoh menahan terpaan (gelombang, angin dan bongkahan
material)
• Memenuhi persyaratan ketinggian yang mampu meminimalkan
dampak bencana
d. Menetapkan sabuk hijau sebagai kawasan konversi dengan PERDA
e. Mengatur tingkat kerapatan vegetasi disesuaikan dengan fungsi kawasan,
tingkat keamanan terhadap bencana
f. Menggunakan struktur tahan gempa dan tsunami pada bangunan
g. Pada daerah-daerah sesar dan gerakan tanah diperlukan adanya sabuk hijau
terutama pada daerah yang kemiringan lereng searah dengan kemiringan
lapisan batuan
h. Pembuatan struktur penehan erosi pantai
i. Pengerukan muara sungai untuk mencegah dan mencegah dan mengurangi
banjir
j. Pembuatan bangunan di luar zona rawan bencana

3. Mitigasi Bencana
Mitigasi bencana di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil (termasuk wilayah
Kabupaten Manokwari) dilakukan karena bencana alam seperti gempa,
tsunami dan lainnya tidak dapat dihentikan oleh manusia, manusia hanya bisa
menghindari atau mengurangi dampaknya. Dampak yang ditimbulkan

Laporan Akhir V- 12
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Manokwari

seminimal mungkin dapat dikurangi (risk reduction). Mitigasi bencana alam


sangat penting untuk antisipasi dampak yang ditimbulkan. Upaya mitigasi
yang komprehensif dengan mengkombinasikan dengan upaya struktural dan
non struktural. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.1 di bawah
ini.

Tabel 5.1
Upaya Mitigasi Bencana Kawasan Pesisir Secara Menyeluruh
Struktur Non Struktur
Metode Perlindungan Alami : • Prakiraan tsunami dan peringatan dini
• Mangrove • Pemindahan/relokasi
• Terumbu karang • Tata ruang, tata guna lahan
• Tumbuhan pantai • Penetapan sempadan pantai
Metode Perlindungan Buatan : • Informasi publik dan penyuluhan
• Breakwater, tembok laut • Penegakan hukum
• Struktur tahan tsunami : • Pelatihan dan simulasi mitigasi
 Batu-batu pemecah ombak/bronjong • Bencana
 Sisi panjang dari struktur sedapat
mungkin diarahkan sejajar dengan
antisipasi arah penjalaran gelombang
 Shear wall dan lateral bracing
ditempatkan searah dengan penjalaran
gelombang tsunami
 Lantai terbawah dari bangunan dibuat
terbuka
Sumber : Dep. Kelautan dan Perikanan, 2005

1. Salah satu langkah mitigasi bencana tsunami, yaitu dengan upaya struktur dan
non struktur. Terkait dengan upaya non strukturyang dapat dilakukan di
wilayah Kabupaten Manokwari di antaranya pengaturan tata guna lahan/tata
ruang/pola ruang. Pola pemanfaatan ruang kawasan sepanjang pantai di
Kabupaten Manokwari disesuaikan dengan karakteristik wilayah yang rawan
bencana, meliputi zona-zona sebagai berikut :

a) ZONA N 1 :
Zona ditepi muka air pasang berjarak minimal 100 meter dari pasang laut
tertinggi dimanfaatkan untuk membangun fasilitas perlindungan (Buffer

Laporan Akhir V- 13
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Manokwari

Zone) dengan hutan tanaman mangrove, waru laut dan tanaman penyangga
lainnya sesuai dengan karakteristik pantai.

b) ZONA N 2 :
Zona yang dicapai oleh gelombang Tsunami dengan ketinggian > 1 meter
DPL, dengan pemanfaatan ruang sebagai lahan budidaya perkebunan atau
taman kota dengan tanaman penyangga yang dapat difungsikan sebagai
Buffer Zone dengan bangunan terbatas dan kepadatan wilayah terbangun
rendah (TPI, permukiman nelayan, dll) yang dilengkapi dengan disaster
mitigation plan.

c) ZONA B 1 :
Zona transisi (zona antara) yang dicapai gelombang Tsunami < 1 meter
DPL dengan zona aman, dengan pemanfaatan ruang untuk kegiatan jasa
dan perdagangan serta permukiman kepadatan rendah sampai sedang.

d) ZONA B 2 :
Zona yang aman dari terpaan gelombang tsunami dengan pemanfaatan
ruang sebagai pusat kegiatan bisnis (CBD), pelayanan sosial dan
permukiman perkotaan. dengan kepadatan tinggi, disesuaikan dengan
kondisi daya dukung lahan setempat dan pemanfaatan ruang yang ada.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 5.3 dan Peta 5.1 tentang
mitigasi bencana pada daerah pesisir.

2. Langkah mitigasi dalam pengaturan bangunan, jenis bangunan apapun yang


akan dibangun di daerah rawan tsunami dan gempa harus memiliki struktur
yang mampu membelokkan atau melewatkan energi gelombang tsunami dan
memiliki kakuatan atau kelenturan untuk menahan getaran akibat gempa.
Bangunan yang disarankan untuk menghadapi tsunami dan gempa adalah
sebagai berikut :

Laporan Akhir V- 14
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Manokwari

a. Rumah Tinggal
Rumah tinggal harus mengadopsi model rumah panggung, yang secara
hidrolis (hydraulic) ternyata mampu membelokkan energi gelombang
tsunami. Karena secara strutuktur memiliki banyak celah, baik di bawah
lantai (karena panggung) maupun lubang-lubang di dinding. Dengan
berbagai modifikasi terutama dari sisi arsitekturnya, maka rumah
panggung bisa cukup ideal untuk di bangun di daerah rawan tsunami dan
gempa.

b. Rumah Berventilasi Banyak


Model rumah yang berventilasi banyak merupakan salah satu desain
bangunan rumah yang banyak memberikan ruang terbuka, kusen kaca
yang cukup lebar di sepanjang dinding dan lorong-lorong di dalamnya.
Sehingga energi gelombang tsunami tidak menabrak frontal pada
bangunan, namun di akan menerobos memecahkan kaca-kaca dan
langsung ke luar di sisi lainnya. Dengan cara ini struktur bangunan secara
keseluruhan tidak akan ambruk atau hancur.

c. Rumah Modern Bertingkat


Rumah modern bertingkat, akan cukup efektif untuk meredam energi
gelombang tsunami jika :
 Memiliki lantai II yang cukup tinggi, aman dari ketinggian air tsunami,
 Memiliki kolom-kolom beton yang cukup kuat, dan
 Dinding/tembok yang hanya memiliki fungsi penutup saja, dan cukup
mudah lepas/runtuh jika diterjang gelombang, sehingga bangunan
secara keseluruhan tidak menahan energi tsunami secara frontal,
namun hanya meneruskan atau membelokkan.
 Cara yang lebih baik adalah jika membiarkan lantai bawah lebih
terbuka, bisa untuk garasi mobil atau tempat bermain atau fungsi
lainnya. Dengan cara ini, penghuni cukup aman untuk menyelamatkan
diri ke lantai atas, karena bangunan secara keseluruhan tidak hancur.

Laporan Akhir V- 15
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Manokwari

d. Gedung Bertingkat
d.1 Tahan gempa
Agar struktur bisa tahan gempa yang harus dilakukan adalah:
 Mewajibkan para perencana dan pelaksana untuk mematuhi dengan
ketat persyaratan pembangunan gedung di daerah gempa, misal
dari peraturan yang dikeluarkan oleh SNI (Standar Nasional
Indonesia); sebab disain pondasi, struktur kolom dan balok,
berbeda dengan kondisi normal
 Melakukan uji site/lokasi rencana bangunan untuk mengetahui
kapasitas daya dukung tanah dan untuk mengetahui lapisan tanah
keras terdekat, untuk didijadikan pijakan bagi tiang
pancang/pondasi penahan struktur bangunan
 Apabila tidak layak, misal karena lapisan tanah yang bisa
mengalami kehilangan daya dukungnya terlalu tebal, sebaiknya
mencari lokasi baru yang lebih sesuai; khususnya Kota Banda
Aceh struktur tanahnya adalah alufial atau endapan lumpur
berpasir, dan ketika terjadi gempa dalam skala yang cukup besar,
air tanah merembes masuk ke lapisan tanah yang akhirnya
mengakibatkan tanah kehilangan daya dukungnya (liquifaction);
inilah yang mengakibatkan banyak gedung bertingkat amblas
ketika terjadi gempa.

d.2 Tsunami
Untuk menghadapi tsunami, maka gedung-gedung bertingkat perlu
membuat :
 Struktur kolom yang cukup stream line, misal berbentuk lingkaran
 Cukup kokoh dari terpaan air dengan kecepatan tinggi
 Bagian bawah, sebaiknya merupakan ruang kosong atau dengan
dinding pentup yang mudah roboh, untuk meneruskan energi
gelombang tsunami

Laporan Akhir V- 16
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Manokwari

 Memiliki ketinggi yang cukup aman, yang berbeda-beda untuk


masing masing daerah.

Gambar 5.3
Contoh Konsep Mitigasi Gempa

Laporan Akhir V- 17
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Manokwari

Peta 5.1 Mitigasi Bencana

Laporan Akhir V- 18