Anda di halaman 1dari 7

Opini Edisi 2 : Syari'at Islam Tidak Mungkin Merendahkan Perempuan

Wawancara dengan Dr. Musda Mulia, APU. Pendiri LKAJ


(Lembaga Kajian Agama dan Jender)

Seiring dengan otonomi daerah, beberapa daerah di Indonesia seperti Aceh,


Tasikmalaya, Kendal, Makasar dan Pamekasan menginginkan untuk memberlakukan
syari'at Islam di daerah masing-masing. Keinginan itu menimbulkan pro dan kontra
dalam masyarakat. Menurut DR.Musda Mulia, APU, persoalannya bukan menolak atau
menerima pelaksanaan syari'at Islam. Yang terpenting, bagaimana mendefinisikan
apa itu syari'at Islam ? Banyak pengalaman menunjukan pelaksanaan syari'at Islam
tak lebih dari sekedar pemaksaan pemahaman satu kelompok Islam terhadap
kelompok lain. Dan, perempuan adalah kelompok yang paling rentan dengan
pemaksaan ini. Wawancara Nefisra Viviani dari Swara Rahima, dengan pendiri LKAJ
(Lembaga Kajian Agama dan Jender) yang sehari-hari menjadi staf ahli menteri
agama ini, akan memunculkan pandangan yang segar dan kritis tentang fenomena
pemberlakukan syari'at Islam di Indonesia, khususnya dari sudut pandang
perempuan.

SWARA RAHIMA(SR) :Umat Islam berbeda pendapat tentang apa yang


dimaksud dengan syari'at Islam. Ada yang mengatakan syari'at adalah
aturan-aturan yang ada dalam al-Qur'an dan as-Sunah. Sebagian lain,
melihat apa yang tercantum dalam kitab-kitab fikih sebagai syari'at. Apa
yang dimaksud dengan syari'at Islam pada masa Nabi ?

Musda Mulia(MM) : Konsep syari'at Islam yang sering diperdebatkan akhir-akhir ini
agaknya lebih difahami sebagai hukum-hukum fikih. Pada masa Nabi Saw, yang
dimaksud syari'at Islam adalah segala sesuatu yang diturunkan Allah Swt kepada
Rasul-Nya, Muhammad Saw dalam bentuk wahyu yang terdapat dalam al-Qur'an dan
sunah Nabi. Syari'at dalam pengertian ini berbeda dengan fikih. Syari'at adalah nash-
nash yang bersifat suci dan mutlak benarnya, sedang fikih merupakan hasil rekayasa
nalar manusia. Karenanya, fikih bisa benar bisa salah. Dengan kata lain,
kebenarannya tidak bersifat mutlak.

SR : Jadi, syari'at Islam adalah teks-teks yang terdapat dalam al-Qur'an dan
as-Sunah?

MM : Nabi hanya meninggalkan Al-Qur'an dan Sunnah. Para sahabat melakukan


kompilasi terhadap ayat-ayat yang bersebaran, menjadi satu mushaf. Pada masa
tabi'in di abad ke-3 atau 8 Masehi, baru dikumpulkan hadis yang bersebaran menjadi
kitab-kitab hadis. Kemudian dirasakan apa yang ada dalam kitab Al-Qur'an dan Hadis
itu tidak cukup untuk meresponi berbagai perkembangan zaman. Lalu dilakukan
penafsiran-penafsiran terhadap Al-Qur'an atau Hadis. Penafsiran itulah yang
dibukukan dalam kitab-kitab Tafsir atau kitab-kitab fikih yang sekarang kita kenal.
Kitab fikih tentang perkawinan, misalnya, adalah salah satu contoh variasi pandangan
dalam memahami dan menginterpretasi hadist-hadist yang diucapkan oleh Rasul.
Persoalannya, apakah interpretasi itu menjadi satu hal yang mutlak atau tidak. Itu
yang harus kita fahami.

SR : Perbedaan penafsiran dalam memahami al-Qur'an dan Hadis


sebenarnya sudah terjadi pada masa Nabi. Para sahabat memahami ajaran
Islam sesuai tingkat kecerdasan, kedekatannya dengan Nabi dan berbagai
faktor lainnya. Dan Nabi mentolerir perbedaan pandangan tersebut tanpa
menyalahkan siapapun.

MM : Oh iya ! Ada kisah menarik yang bisa kita jadikan pelajaran. Waktu itu, ada
beberapa sahabat yang diutus Nabi untuk berda'wah. Nabi mengatakan, mereka
harus sholat Ashar di daerah bani Quraidhoh. Ketika shalat Ashar tiba, mereka belum
juga sampai ke tempat tersebut. Kemudian terjadi perbedaan pendapat di kalangan
para sahabat. Kelompok pertama mengatakan, kita harus tetap sholat di tempat bani
Quraidhoh karenanya harus jalan cepat. Kelompok kedua mengatakan, kita harus
sholat Ashar sekarang. Sebab, kalau kita jalan terus takut, waktu sholat asharnya
habis. Jadi sebagian melakukan shalat Ashar diperjalanan, sebagian lain
melakukannya di bani Quraidhoh ketika waktu Ashar hampir lewat. Ketika persoalan
ini disampaikan pada Nabi, beliau membenarkan kedua pandangan tersebut. Tidak
ada masalah, karena sahabat tersebut menafsirkan kata-kata nabi sesuai tingkat
akalnya masing-masing. Yang penting, kata Nabi, adalah toleransi dan saling
menghargai. Sewaktu saya kuliah S2, seorang teman menyatakan di kelas bahwa
kalau begitu Nabi plintat-plintut dong, tidak konsisten dengan jawabannya. Bukan
begitu! Nabi melihat persoalan itu tidak hitam putih, karena Nabi bukan seorang
hakim yang harus menegakkan hukum tanpa melihat latar belakang timbulnya
persoalan.

SR : Sewaktu Nabi saw hidup, para sahabat kembali padanya untuk


menyelesaikan perbedaan pendapat di kalangan mereka. Nabi diyakini
memiliki otoritas dan legitimasi karena dia menerima wahyu dari Allah.
Bagaimana umat Islam menyelesaikan persoalan-persoalan mereka setelah
Nabi saw wafat ?

MM : Ketika Nabi tidak ada, ada Khulafaurrasyidin. Mereka dipercaya bukan semata-
mata karena kualitas kepemimpinan yang tidak diragukan, tapi juga karena adil dan
faqih. Mereka punya otoritas ilmu keagamaan yang tidak diragukan. Pada dinasti
Umayyah dan Abbasiyah, kualitas kekhalifahan mulai menurun kadar keilmuannya.
Tetapi ada lembaga qodhi, dan persoalan keagamaan itu dikembalikan kepada
mereka. Ada yang namanya Syaikhul A'zham, atau Syaikhul Islam. Di zaman
Abbasiyah, ada yang namanya Qodhitul Qudhat, atau kalau di Indonesia itu
Mahkamah Agung. Ada lembaga keagamaan yang mengatur persoalan-persoslan
keagamaan yang muncul dalam masyarakat. Nah di Indonesia tidak ada, karena
Indonesi bukan negara Islam.

SR : Kembali pada perbedaan pendapat dalam memahami masalah-masalah


agama. Di dunia Islam dikenal beberapa mazhab besar seperti Maliki,
Hambali, Syafi'i dan Hanafi. Bisa anda menjelaskan bagaimana keempat
imam mazhab itu meletakan dasar-dasar hukum keagamaan mereka ?

MM: Ini juga contoh yang bisa kita ambil pelajaran. Keempat imam mazhab berbeda
pandangan dalam melihat berbagai masalah agama, padahal rujukannya sama yaitu
al-Qur'an dan Hadis. Perbedaan pendapat terjadi karena latar belakang kepentingan,
wawasan, intelektualitas dan yang paling penting juga adalah perbedaan latar
belakang sosio historis dan sosio politis mereka. Tak satupun diantara imam mazhab
tersebut mengklaim pendapat mereka yang paling benar. Imam Syafi'i mengatakan,
apa yang saya tuangkan dalam tulisan ini tidak semuanya harus kalian ikuti. Yang
benar ambil, yang salah tinggalkan. Imam Hanafi berkata, jika yang saya sampaikan
itu benar, berarti itu datangnya dari Allah. Bila salah itu datangnya dari setan. Imam
Ahmad mengatakan, ambillah yang benar-benar saja dari pendapatku, yang kalian
ragukan, tinggalkan. Imam Malikpun demikian. Artinya, para imam ini tidak pernah
memutlakkan pandangan mereka. Mereka membuka ruang untuk kritik. Dalam
bahasa kita, anda jangan percaya begitu saja. Teliti dulu. Ini menunjukan
ketawadu'an (kerendah hatian- Red) mereka. Sayangnya kemudian, para pengikut
mereka justru memutlakkan pendangan para Imam tersebut. Mereka mengatakan,
kalau tidak begini, anda kafir. Kalau tidak begitu, anda salah. Itu yang ingin saya
katakan. Cara beragama seperti ini yang kemudian menimbulkan perpecahan di
kalangan umat Islam. Para Imam, yang lebih dekat ke zaman Nabi, yang otoritas
keagamaan dan kesalehannya tidak diragukan, tidak pernah melakukan itu.

SR : Sekarang, seiring dengan otonomi daerah, beberapa daerah di


Indonesia seperti Tasikmalaya, Banten, Makasar, dan lain-lain,
merencanakan untuk melaksanakan syari'at Islam di daerah masing-masing.
Bagaimana anda melihat fenomena itu ?

MM: Ada kelompok-kelompok Islam tertentu yang ingin menegakkan syari'at Islam di
Indonesia, dengan alasan mayoritas penduduk Indonesia adalah umat Islam.
Karenanya, menurut mereka, adalah sebuah keharusan mengatur kehidupan bangsa
ini dengan aturan Islam. Keinginan itu ada di mana-mana dan boleh-boleh saja.
Persoalannya, mereka tidak boleh memaksakan kehendaknya untuk memberlakukan
syari'at Islam. Apalagi pandangan mereka tentang syari'at Islam itu terbatas pada
pada pandangan fikih yang sangat sempit, sangat literalis. Keinginan itu sah-sah
saja, tetapi bila dipaksakan menjadi tidak islami lagi. Karena Islam sangat
menentang pemaksaaan kehendak, pemasungan kebebasan. Nabi sendiri tidak
pernah memaksakan kehendaknya kepada umatnya.

SR : Ini memang tidak mudah. Seperti yang anda katakan, para pendahulu
kita sudah meletakan etika dasar bagaimana menghadapi perbedaan
pendapat di kalangan umat. Tapi sebagian umat Islam mengatakan, kita
harus mengikuti Nabi, karena seluruh hidup Nabi mengimplementasikan
ajaran ideal Islam. Persoalannya, justru dalam memahami kata-kata dan
perilaku Nabi (yang kita sebut Sunnah) itu umat Islam berbeda pendapat.

MM : Persoalannya, ada orang yang meniru Nabi pada hal-hal yang sebetulnya tidak
esensial. Mereka memahami sunnah Nabi secara lahiriah saja. Misalnya, ada yang
pakai jenggot karena Nabi pakai jenggot. Padahal pada masa itu semua laki-laki Arab
pakai jenggot, termasuk orang yang paling jahat sekalipun. Mereka bahkan pakai
sorban, yang sekarang ini dianggap sebagai simbol kesalehan. Kemudian ada yang
poligami, karena Nabi juga berpoligami. Padahal Nabi berpoligami justru untuk
menepis praktek poligami yang tidak adil dan menyudutkan posisi perempuan.
Poligami saat itu tidak mengenal batas jumlah istri dan tak ada ketentuan berlaku
adil. Semangat itu yang harus kita tangkap ! Sunnah Nabi yang harus kita ikuti
adalah nilai-nilai demokratis, keadilan, persamaan, kesetaraan, persaudaraan,
toleransi kepada yang berbeda pandangan, yang berbeda agama. Bahkan kepada
orang musyrikpun Nabi sangat bersikap belas kasih. Itu nilai yang ditanamkan Nabi
dalam meletakan dasar pembentukan sistem sosial.

SR : Dan, bagaimana Nabi memposisikan perempuan


dalam struktur dan sistem masyarakat saat itu ?

MM : Nabi diutus pada masyarakat yang sangat patriarkhis, dan hampir tak ada
tempat bagi perempuan. Nabi datang untuk membebaskan manusia dari sistem yang
tiranik, termasuk membebaskan perempuan dari belenggu budaya yang tidak adil.
Nabi mulai menetapkan waris bagi perempuan, meski jumlahnya belum sebanding
dengan laki-laki. Saat itu, penetapan hak waris bagi perempuan merupakan tindakan
yang sangat progresif. Sebab, jangankan punya hak waris, perempuan saat itu
merupakan komoditi yang diwariskan. Itu hanya satu contoh bagaimana Nabi
mengangkat harkat perempuan.

SR: Jadi semangatnya adalah pemberdayaan.


Apakah anda masih melihat hal itu dalam masyarakat Islam saat ini ?

MM : Kebetulan saya menulis tesis tentang negara Islam. Dalam tesis itu saya
mengatakan setiap negara yang mencanangkan dasar negaranya dengan asas Islam,
program pertamanya adalah pembatasan hak-hak perempuan. Kenapa kebijakan itu
yang diambil ? Kenapa bukan dimulai dengan perbaikan ekonomi dan sosial ? Ketika
Nabi sampai di Madinah, hal pertama yang diurusnya adalah masalah ekonomi. Ia
membangun pasar Madinah dan mengatur cara bertransaksi. Nabi menpersaudarakan
kaum Anshor dan Muhajirin sehingga mereka bisa hidup berdampingan dengan
damai. Nabi memperbaiki ekonomi masyarakat sambil membangun toleransi. Kenapa
bukan itu yang dilakukan para pencanang negara Islam ? Karena itu terlalu sulit
untuk dikerjakan ! Yang paling mudah dan tidak memakan biaya tinggi adalah
mengatur perempuan. Karena, mereka adalah kelompok yang paling rentan dan
paling mudah dikuasai. Saya beranggapan, semua negara yang memproklamasikan
diri sebagai negara Islam, sebetulnya tidak punya konsep yang jelas tentang
perbaikan sosial dan ekonomi. Itu bisa kita lihat di Pakistan dan pemerintahan
Thaliban di Afghanistan.

SR : Pemerintahan Thaliban di Afghanistan melarang perempuan bekerja.


Mereka menerapkan peraturan yang ketat untuk membatasi ruang gerak
perempuan di dunia publik. Ini bahkan lebih dahsyat dari yang terjadi
semasa awal revolusi Islam Iran.
MM : Makanya saya katakan, jangan salahkan kalau banyak orang tidak memberikan
respon positif terhadap negara yang memproklamirkan dirinya sebagai negara Islam.
Konsep itu sangat tidak simpatik. Apa sih yang mereka inginkan dengan menegakkan
syari'at Islam dengan cara seperti itu? Pemasungan-pemasungan terhadap
perempuan, seperti yang dilakukan Thaliban. Profesor-profesor perempuan dilarang
bekerja, dokter perempuan dilarang berpraktek, mereka digiring untuk kembali ke
rumah. Inikan sebuah kemunduran !

SR : Tentunya ada argumen teologis yang mereka gunakan untuk mendasari


gerakan seperti itu ?

MM : Memang,secara literal ada ayat atau hadits yang membenarkan sikap mereka.
Misalnya, dalam surat Al-Azhab ayat 33 yang secara literal, berarti perempuan tidak
boleh keluar. Ahli tafsir seperti al-Qurtubi, Ibnu 'Arabi, Ibnu Katsir, juga punya
pandangan seperti itu. Kalau kita masih merujuk kepada tafsir-tafsir seperti itu,
jangan harap akan ada perbaikan dalam kualitas hidup perempuan. Mereka melarang
perempuan keluar rumah agar terhindar dari berbagai perbuatan maksiat. Supaya
mereka terjaga kedudukannya, karena rumah adalah tempat yang paling terhormat
bagi perempuan. Baru belakangan ada mufassir yang mencoba melakukan
pembaruan dalam fikih Islam, untuk menghadapi problem-problem praktis dalam
kehidupan modern. Jadi persoalannya, bagaimana menjadikan fikih bisa memenuhi
kebutuhan-kebutuhan kontemporer. Ukuran yang menentukan, adalah metode yang
dipakai dalam mempertemukan antara kepentingan sosial dan tuntutan pemikiran
fikih. Mahmud Saltut, misalnya, membolehkan perempuan keluar rumah kalau
dibutuhkan, seperti tugas sebagai pendidik, sebagai bidan. Perempuan boleh keluar
rumah bila tidak ada yang menanggung beban hidupnya, sehingga ia harus keluar
rumah mencari nafkah.

SR : Jadi sebetulnya ada banyak perbedaan pandangan dalam soal ini.


Pertanyaannya, kalau syari'at Islam akan diberlakukan di Indonesia,
pendapat kelompok mana yang akan dipakai. Seperti kita tahu, ada banyak
mazhab dan cara pandang keagamaan (Islam) di negeri ini.

MM : Ya, jika syari'at Islam difahami sebagai hukum fikih, pertanyaannya, mazhab
mana yang mau dipakai? Dalam mazhab Syafi'i saja, terdapat banyak pandangan.
Yang mana mau dipakai ?. Kalau mereka menentukan satu aliran, satu mazhab saja,
atau satu sekte saja yang dipakai, atas dasar apa ? Apalagi kalau mengklaim
pandangan Islam mereka yang paling benar. Meraka kan bukan Nabi yang bisa
mengklaim kebenaran mutlak. Hanya Nabi yang ma'sum !

SR : Imam Maliki pernah menolak ketika salah satu karyanya tentang fikih
dijadikan sebagai rujukan hukum negara.

MM : Itu menunjukan betapa tawadhu, rendah hati, dan tolerannya para imam itu.
Mereka tidak pernah mengklaim pendapatnya yang paling benar. Sikap sebaliknya,
justru ditunjukan sebagian penyeru syari'at Islam.

SR : Juga terjadi pemaksaan-pemaksaan. Di Aceh, perempuan digunduli


karena tak pakai jilbab. Di Yogya, ada aktivis perempuan yang pernah di
'sweeping' salah satu kelompok Islam karena dia keluar di malam hari.
Padahal saat itu ia mempunyai suatu kebutuhan penting.

MM : Saya berulang kali mengatakan, semua bentuk pemaksaan itu tidak dikenal
dalam Islam. Di zaman Nabi, tidak ada orang yang dihukum lantaran tidak
melaksanakan syari'at secara individual. Yang ada, orang dihukum karena melanggar
dan mengganggu ketertiban umum. Nabi tidak pernah mengatakan, kamu harus
begini, kamu harus begitu. Saya pikir, ada yang melihat hubungan sebab akibat
secara dangkal. Pornografi merajalela dan mereka mengatakan itu karena
perempuan bertebaran di mana-mana. Seperti rancangan PERDA (peraturan daerah)
di Sumatera Barat itu. Mereka mendefinisikan ma'siat, antara lain berupa zina atau
prostitusi. Mereka tidak tahu bahwa dalam kasus zina atau prostitusi, kebanyakan
perempuan cuma diperdayakan, hanya sebagai objek. Tentu beda dong, perempuan
yang memasuki dunia prostitusi karena diiming-imingi uang, dan yang lain karena
terpaksa. Hukumnya tidak sama. Saya setuju zina menjadi salah satu hukum
nasional, tetapi dalam proses verbalnya harus ditelusuri, kenapa perempuan itu
sampai terjun kedunia prostitusi. Dari suatu penelitian terungkap, kebanyakan
perempuan yang terlibat dalam prostitusi, berpendidikan rendah dan memiliki
kendala ekonomi. Sementara pelanggan, adalah orang yang memiliki kelebihan uang
dan kualitas pendidikan yang memadai. Inikan tidak imbang. Satu pemakai, satu
objek. Ini harus difahami, kalau kita menghukumi kasus protitusi. Selama ini yang
dirazia hanya perempuan. Coba sekarang kita balik, yang ditangkap adalah laki-laki
hidung belang yang menjadi pelanggan. Hasilnya pasti menakjubkan !

SR : Selain karena perbedaan cara menafsirkan ajaran agama, apakah anda


melihat alasan lain dalam pemberlakuan syari'at Islam. Alasan politik,
misalnya... ?

MM : Ya.saya kira. Mereka membicarakan syari'at Islam hanya untuk kepentingan


politik saja. Saya meragukan kesungguhan mereka. Tiba-tiba semua orang bicara
tentang keharusan menegakkan syari'at Islam. Apa sepak terjang mereka selama ini
dalam membangun Islam ? Kok tiba-tiba mereka sangat vokal meneriakkan syari'at
Islam ? Itu dimunculkan dalam berbagai forum, bahkan dalam pengambil keputusan
di DPR. Saya tanyakan apa itu syari'at Islam? Mereka bilang syari'at Islam, ya
syari'at Islam. Kalau jawabannya seperti itu, anak kecil juga tahu. Padahal sebelum
memberlakukan syari'at Islam, terlebih dahulu harus didefinisikan apa itu syari'at
Islam. Dan terpenting, menurut saya, perempuan harus dilibatkan jika ingin
memutuskan suatu hukum yang berkaitan dengan perempuan. Tetapi selama ini
tidak. Itu yang menyedihkan.

SR : Apa yang harus dilakukan perempuan untuk memperkuat posisi tawar


mereka dalam pengambil keputusan di lembaga-lembaga strategis, seperti
DPR misalnya.?

MM : Pertama, harus dilakukan adalah pendidikan politik untuk perempuan. Ini harus
dilakukan secara sistemik dan terorganisir, mulai dari kalangan awam sampai tingkat
elit. Perempuan harus memahami persoalan politik dengan baik. Setelah itu, dengan
menggunakan berbagai saluran mereka dapat menyuarakan hak-hak politiknya.
Kedua, kita harus selalu mensosialisasikan ajaran agama yang padat nilai-nilai
kemanusiaan. Kalau tidak, orang beragama tidak memiliki 'sense' kemanusiaan.
Orang mengatakan dirinya sholat, tetapi setelah sholat, dia korupsi atau berbuat
aniaya, seperti membunuh orang. Itu sangat ironis.

SR : Sebetulnya banyak kelompok yang telah berusaha mewujudkan aspirasi


perempuan dalam Islam. Tapi perjuangan nampaknya masih panjang.
Bagaimana anda melihat fenomena ini ?

MM : Saya kira, karena pandangan feminisme yang sangat liberal dan radikal. Itu
juga yang mengkhwatirkan. Saya pikir, jangan sampai kita kalangan feminis muslim
mengadopsi utuh seperti itu. Kita harus mereduksi hal yang bertentangan dengan
Islam. Kita harus menyadari, dalam feminisme liberal misalnya, ada hal yang sangat
bertentangan dengan Islam. Misalnya, orang yang menganut free sex (seks bebas),
itukan bertentangan dengan ajaran Islam. Saya ingin mengatakan, kita harus
menghilangkan kecurigaan orang bahwa wacana gender yang kita kembangkan
terbias oleh faham liberal seperti itu.

SR : Maksud anda, kita tetap harus mempertimbangkan nilai-nilai dasar


Islam ketika kita bicara kesadaran gender ?

MM : Ya, kita bisa mulai dengan mengemukakan ajaran Islam yang menekankan
persamaan antar manusia. Kemudian kita masuk ke persoalan relasi laki-laki dan
perempuan. Jadi kita harus membicarakan kembali pendekatan yang kita gunakan
selama ini.