Anda di halaman 1dari 51

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang Seiring dengan meningkatnya minat masyarakat dalam memelihara

hewan kesayangan diperlukan satu wadah yang dapat dijadikan masyarakat untuk mendukung hobby mereka, baik itu dijadikan sebagai tempat berkonsultasi mengenai permasalahan kesehatan, management pemeliharaan yang baik dan benar terhadap hewan kesayangan mereka. Sehingga dibutuhkan sarana dan prasarana medis yang dikhususkan untuk hewan yaitu dengan mendirikan Rumah Sakit Hewan. Rumah Sakit Hewan Jakarta (RSHJ) adalah suatu lembaga medis veteriner yang berperan dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi hewan, terdiri atas terapi dan upaya pencegahan penyakit. Selain itu, RSHJ juga berperan sebagai sarana pendidikan, karena RSHJ memberikan kesempatan bagi mahasiswa kedokteran hewan maupun dokter hewan untuk melakukan magang atau praktek kerja di RSHJ. Salah satu kesempatan mahasiswa yang dapat magang di RSHJ yaitu mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH IPB). FKH IPB sebagai institusi pendidikan berkewajiban untuk meningkatkan kualitas sumber daya lulusan dokter hewan yang profesional. Selain itu, FKH IPB dalam mengemban tridharma perguruan tinggi selalu mencari dan memberi yang terbaik dalam menghasilkan lulusan dokter hewan. Melalui Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) FKH IPB, diadakan program kegiatan integrasi di luar kampus dengan menjalin kerjasama dengan instansi terkait. Diharapkan dengan adanya magang profesi ini, calon dokter hewan mampu menyikapi perkembangan era globalisasi dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin, baik melalui pengembangan kemampuan secara individu maupun lembaga

pendidikan formal dan informal yang ada. Tujuan Kegiatan Tujuan umum dari kegiatan ini ialah: Meningkatkan kemampuan, keterampilan praktis, dan sistematis dalam mempersiapkan calon dokter hewan profesional dengan menambah bekal ilmu pengetahuan dan pengalaman di lapangan.

Tujuan khusus dari magang ini ialah: Meningkatkan kemampuan dalam pemeriksaan hewan, diagnosa

penyakit hewan secara klinis dan pemberian terapi obat hewan secara tepat terutama pada hewan kecil. Mempersiapkan yang mempunyai wawasan dan mampu berpikir secara komprehensif dalam peneguhan diagnosa suatu penyakit di klinik. Mampu mengkoordinasikan serta mempunyai manajemen yang baik atas diri pribadi, rekan sekerja, serta lingkungan tempatnya bekerja. Mampu mengintegrasikan kemampuan, ilmu, dan kepribadian dalam menjalankan manajemen praktik dokter hewan mandiri.

Manfaat Kegiatan Manfaat yang dapat diperoleh selama kegiatan magang profesi wajib di Rumah Sakit Hewan Jakarta (RSHJ) antara lain: 1. Menambah kepercayaan diri dalam melaksanakan tugas sebagai dokter hewan praktik. 2. Mendapatkan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang baru baik teori maupun praktik yang nantinya akan digunakan dalam menjalankan tugas sesuai profesi yang dipilih.

LOKASI KEGIATAN

Waktu dan Tempat Kegiatan Kegiatan magang di RSHJ dilakukan selama dua minggu yaitu tanggal 14 Oktober sampai 26 Oktober 2013 Lokasi dan Keorganisasian

Rumah Sakit Hewan Jakarta (RSHJ) terletak di Jakarta Selatan tepatnya di Jl. Harsono RM. No. 28 (belakang) Ragunan Pasar Minggu dengan nomor telepon (021) 7891091-7891095 dan fax (021) 7891094.

Rumah Sakit Hewan Jakarta merupakan rumah sakit hewan pertama di Indonesia yang didirikan diatas lahan seluas 5.777 m2 pada tanggal 28

Desember 1992 dan diresmikan oleh Ibu Tien Soeharto. Pembanguan RSHJ ini dilaksanakan berdasarkan program kerja dari pengurus Yayasan Sapta Namawi Bakti yang bekerja sama dengan pemda DKI Jakarta serta PDHI, Dirjen Peternakan Deptan RI dan Dinas Peternakan DKI Jakarta. RSHJ berfungsi sebagai rumah sakit rujukan dari praktek dokter hewan, praktek dokter hewan bersama, klinik/ poliklinik hewan dan sarana magang bagi calon dokter hewan di daerah terkait. PT. Pramukarti Semesta dibentuk oleh Yayasan Sapta Namawi Bakti untuk melaksanakan manajemen RSHJ secara professional. Direktur melakukan pimpinan operasional RSHJ yang dibantu oleh wakil direktur dan tim medis serta penanggung jawab unit-unit RSHJ. Berikut merupakan bagan organisasi RSHJ yang disajikan pada Gambar 1.

Yayasan Sapta Nawami Bhakti

PT. Pramukarti Semesta

Kepala / GM RSHJ

Wakil Kepala / GM RSHJ

Unit Medis

Unit Non Medis

Pelayanan Medik: Unit rawat inap Unit poliklinik Unit bedah

Penunjang Medik: Unit Lab Diagnostik Unit radiolagi Nutrisi Apotek

Tata usaha (resepsionis dan administrasi) Toko perlengkapan hewan Ambulance

Gambar 1 Struktur Organisasi dan Pengelola Rumah Sakit Hewan Jakarta

Fasilitas Fasilitas non medik RSHJ terdiri dari ruang administrasi yang terdiri dari meja administrasi dan lemari tempat menyimpan dokumen seperti rekam medik, pembukuan harian hingga tahunan serta informasi lainnya. Fasilitas lainnya adalah ruang tunggu. Terdapat juga toko perlengkapan hewan yang

menyediakan perlengkapan hewan kesayangan seperti kandang, pakan, perlengkapan mandi, rantai dan sebagainya. Terdapat juga apotek, taman pusara satwa yang disewakan dan tempat parkir bagi pengunjung RSHJ. Secara rinci fasilitas non medik terdapat pada Tabel 1.

Tabel 1 Fasilitas Non Medik yang ada di RSHJ No 1 2 3 Fasilitas Tata usaha Ruang tunggu Toko hewan 4 5 6 Taman Pusara Hewan Ruang istirahat Ruang baca Kegiatan Pelayanan Resepsionis dan administrasi Ruang tunggu Jumlah 1 ruangan 1 ruangan perlengkapan 1 ruangan

perlengkapan Menyediakan hewan

Penyewaan taman pusara Istirahat staf dan mahasiswa Membaca buku dan lieratur

1 lokasi 2 ruangan 1 ruangan

Fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh RSHJ terdiri dari sebuah bangunan berlantai dua dengan perangkat berupa ruangan kantor, administrasi, ruang tunggu, poliklinik dengan 4 ruang periksa, 4 buah ruang rawat inap. Ruang rawat inap I untuk kasus penyakit tidak menular dan bedah dengan kapasitas 57 kandang, ruang rawat inap II untuk kasus penyakit kulit dengan kapasitas 9 kandang, ruang rawat inap III/ isolasi untuk penyakit menular atau hewan dalam keadaan kritis dengan kapasitas 15 kandang dan ruang kelahiran yang sekarang ini lebih banyak digunakan untuk rawat inap anjing ras besar berkapasitas 6 kandang. Ruang persiapan dan ruang bedah, serta ruang nutrisi masing-masing 1 buah. Fasilitas laboratorium berupa ruangan dan perlengkapan untuk beberapa pemeriksaan laboratorium antara lain pemeriksaan darah dengan metode QBC (Quantitatif Blood Count), preparat ulas darah, kimia darah, urine, feses, kerokan kulit dan test diagnostik (kit test). Selain itu, RSHJ dilengkapi pula dengan ruang rontgen dan perlengkapannya. Selain itu terdapat taman pusara satwa untuk penguburan hewan yang mati dan tempat parkir bagi pengunjung rumah sakit. Pelayanan terhadap pasien diberikan selama 24 jam, dimana pasien dilayani oleh tim dokter yang terdiri dari 9 orang dokter dibantu oleh tenaga paramedis. Pelayanan medis diberikan berupa pelayanan kesehatan hewan peliharaan, pelayanan rawat inap dan rawat jalan serta penerangan dan pendidikan masyarakat (client education). Kegiatan pagi RSHJ dimulai pukul 07.00 WIB, yaitu pengobatan pagi untuk pasien yang berada dalam ruang isolasi. Selanjutnya, sebelum dilakukan pengobatan pagi jam 08.00 WIB, dilakukan pembersihan kandang serta pemberian pakan dan minum untuk pasien. RSHJ buka 24 jam dan dibagi dalam

3 shift dokter. Shift pertama dimulai pukul 08.00 - 15.00 WIB, dengan diselingi waktu istirahat pukul 12.00 - 13.00 WIB. Shift kedua dimulai pukul 15.00 - 21.00 WIB, dengan diselingi waktu istirahat pukul 18.00 sampai 19.00 WIB. Shift ketiga dimulai dari pukul 21.00 hingga pukul 08.00 WIB pagi keesokan harinya. Klien yang datang terlebih dahulu mendaftarkan hewannya sebagai pasien ke bagian pendaftaran (resepsionis). Pasien baru diharuskan mengisi formulir pendaftaran yang terdiri atas identitas pemilik (nama pemilik, alamat, dan nomor telepon) dan identitas pasien (nama hewan, jenis hewan, ras, warna bulu, jenis kelamin, tempat tanggal lahir, dan umur). Untuk pasien yang pernah berobat ke RSHJ, maka data-data mengenai identitas dan rekam medik pasien sudah terdata sehingga tidak perlu mengisi formulir. Petugas di bagian administrasi akan menanyakan keluhan pemilik hewan (anamnese) dan dicatat pada kartu rekam medik. Setelah itu, pasien akan menunggu di ruang tunggu. Untuk pasien gawat darurat seperti pasien yang mengalami kecelakaan, distokia, dan keracunan dapat langsung ditangani oleh dokter hewan tanpa perlu terlebih dahulu mengurus pendaftaran. Dokter yang melakukan pemeriksaan pasien akan mencatat semua hasil pemeriksaan dalam kartu rekam medik. Kartu rekam medik adalah kartu yang berisi informasi tentang anamnese penyakit, hasil pemeriksaan laboratorium, radiologi, USG, diagnosa penyakit serta terapi yang diberikan oleh dokter hewan yang memeriksa. Kartu rekam medik di RSHJ dibedakan dari warna yang digunakan. Warna merah untuk kucing, warna kuning untuk anjing dan warna hijau untuk hewan selain anjing dan kucing. Klien yang hewannya sudah selesai diperiksa dan ditangani oleh dokter hewan selanjutnya melakukan pembayaran di bagian administrasi. Semua kegiatan dan berbagai hasil pemeriksaan yang

berhubungan dengan pasien akan masuk ke bagian administrasi. Kegiatan dan hasil pemeriksaan tersebut meliputi pendaftaran untuk mendapatkan kartu pasien, hasil pemeriksaan laboratorium atau radiologi, pembayaran biaya pemeriksaan, surat pernyataan pelaksanaan operasi, rawat inap, surat pernyataan euthanasia dan pemakaman, surat pengambilan hewan, kartu mandi kutu, jamur, dan Demodex. Pasien yang dioperasi akan mendapat surat pernyataan operasi, rawat inap, serta surat kesediaan pembayaran yang ditanda tangan oleh pemilik hewan. Pasien yang dirawat inap juga akan mendapat surat pernyataan rawat inap dan surat pembayaran biaya perawatan. Apabila pasien mati dapat dibawa pulang oleh klien atau dimakamkan di Taman Pusara Satwa

dengan mengisi surat pernyataan pemakaman. Pasien yang akan dieuthanasia juga akan mendapatkan surat pernyataan euthanasia. Metode Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan magang di RSHJ dilakukan dengan mengikuti semua kegiatan yang ada. Kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan di poliklinik (melihat cara dokter hewan yang praktik dalam menangani pasien dan berinteraksi dengan klien), mengikuti operasi, diskusi, mengikuti pengobatan pagi dan sore pada pasien yang di rawat inap dan melakukan observasi terhadap pasien rawat inap yang akan dijadikan kasus serta mengikuti kegiatan laboratorium, rntgen, dan akupuntur.

PEMBAHASAN REKAPITULASI KASUS Rekapitulasi kasus selama kami berada di RSHJ disajikan pada Tabel 2. Tabel 2 Rekapitulasi kasus selama magang di RSHJ Jumlah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 2 1 1 1 2 1 1 2 1 1 1 3 Kasus Pyometra Babesiosis Panleukopenia Otitis Externa Feline Low Urinary Tractus Diseases (FLUTD) Tumor Testis Prolap Bulbi Feline Infectious Peritonitis Urolitiasis Hot Spot Periodentitis Keracunan Paracetamol helminthiasis

1. PERIODONTITIS Anamnesa Hewan sakit gigi dengan bau yang menyengat Signalemen Tanggal Nama Jenis hewan Ras Warna Jenis Kelamin Umur Berat badan Tanda khusus Temuan Klinis Aktivitas Nafsu Makan Minum Defekasi Urinasi Vomit Batuk Bersin Status Present Berat badan

: 19 Oktober 2013 : Bogel : Anjing : Mix : hitam : Jantan : 12 tahun : 15 kg :-

: Lethargi : Menurun : Normal : Normal : Normal : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

Gambar 2 Anjing Bogel

: 15 kg

Suhu SLN VMM Nasal discharge Eyes discharge Telinga Oral Kulit

: 40.2 C : Tidak bengkak : Rose : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada kelainan : Karang gigi, akar gigi terlihat, lidah nekrosa, bau mulut : Tidak ada kelainan

Tabel 3 Kondisi harian sebelum dan pasca operasi periodentitis Tanggal Kondisi Hewan Treatmen 19 Oktober 2013 T/ Ampicillin 3 cc/IV s2dd App :Minum : + Urinasi : + Defekasi : + 20 Oktober 2013 App Minum Urinasi Defekasi 21 Oktober 2013 App Minum Urinasi Defekasi 22 Oktober 2013 App :+ Minum : + Urinasi : + Defekasi : + 23 Oktober 2013 App :+ Minum : + Urinasi : + Defekasi : + Cek CBC App :+ Minum : + Urinasi : + Defekasi : + T/ Ampicillin 3 cc/IM s2dd T/ Enrofoxacin 1.5 cc/IM s1dd :Puasa :+ :+ :+ T/ Ampicillin 3 cc/IM s2dd T/ Enrofoxacin 1.5 cc/IM s1dd ::+ :+ :+ T/ Ampicillin 3 cc/IV s2dd T/ Enrofoxacin 1.5 cc/IM s1dd T/ Ampicillin 3 cc/IV s2dd T/ Enrofoxacin 1.5 cc/IM s1dd

24 Oktober 2013

R/ Clindamycin 100 mg m.f.pulv. da in caps s2dd 1 caps pc

10

Diagnosa Penunjang Diagnosa penunjuang yang dilakukan pada kasus ini adalah pemeriksaan darah CBC. Berikut hasil pemeriksaan darah pada anjing Bogel yang tercantum pada Tabel 4. Tabel 4 Hasil pemeriksaan CBC kasus periodentitis Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Pre Operasi Post Operasi WBC ( x 103/L) 31.9 22.4 RBC ( x 106/L) 6.32 7.99 Hemoglobin (g/dL) 13.1 16.2 Hematrokit (%) 37.3 47.1 MCV (fl) 59.0 58.9 MCH (pg) 20.7 20.3 MCHC (g/dL) 35.1 34.4 Platelet ( x 103/L) 328 362 Diff Leukosit Limfosit (%) 9.0 8.6 Monosit (%) 3.5 1.9 Eosinofil (%) 2.4 2.9 Granulosit (%) 85.1 86.6

Nilai Normal 6.0-17.0 5.50-8.50 12.0-18.0 37.0-55.0 60.0-77.0 19.5-24.5 32.0-36.0 200-500 12.0-30.0 2.0-10.0 2.0-10.0 60.0-80.0

Gambaran darah anjing Bogel sebelum operasi pada Tabel 4 menunjukan kondisi hewan yang mengalami infeksi berat. Hal tersebut ditunjukan oleh jumlah sel darah putih yang sangat tinggi dibandingkan dengan nilai normal, yaitu 31.9 x 103/L. Tingginya sel darah putih dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah infeksi bakteri, limfoproliferative, FIP, nekrosa jaringan, kebuntingan, dan peradangan (Bush BM. 1991). Peningkatan sel darah putih pada kasus anjing ini adalah akibat adanya infeksi bakteri yang cukup parah pada gigi dan gusi. Gambaran darah setelah operasi menunjukan penurunan jumlah sel darah putih dari sebelum operasi. Ini mengindikasikan terjadi penurunan infeksi bakteri pada rongga mulut anjing setelah mengalami treatmen. Penurunan MCV menunjukkan cronic inflammatory disease dan infeksi kronis (), hal ini karena penyakit periodontitis merupakan suatu penyakit yang

membutuhkan waktu yang lama, mulai dari pembentukan plak, tartar, pocket, deeping pocket, terjadi nekrose pada rongga lidah, gusi, rongga mulut sehingga tertanggalnya gigi. Proses ini membutuhkan waktu 2 hingga 5 tahun. (Eisner 1989 & Harvey 1998 ). Diagnosa Periodontitis

11

Prognosa Fausta-Dubius Terapi Dental scaling dan cabut gigi Pembahasan Anjing Bogel datang pada tanggal 19 Oktober 2013 dengan keluhan tidak mau makan, keluar liur yang banyak bewarna hijau, dan disertai bau yang busuk. Anjing itelah berusia 12 tahun dengan bobot badan 15 kg. Bogel bertemperamen galak, ketika dilakukan pemeriksaan pada rongga mulutnya. Pemeriksaan pada rongga mulut, terlihat hiperemi pada semua bagian gusi anjing disertai gusi yang mengalami pendarahan, luka, dan ada bagian yang nekrosa. Selain itu ditemukan lapisan karang gigi. Gigi pre molar dan molar atas bawah kiri dan kanan memperlihatkan akar gigi, dengan ada bagian lidah yang terlihat membiru karena telah nekrosa. Hasil pemeriksaan dengan didukung oleh diagnosa penunjang, anjing Bogel mengalami periodontitis. Penyakit periodontal merupakan penyakit pada struktur pendukung gigi (Tabers 1989). Penyakit ini paling umum terjadi pada anjing dan kucing tua. Kejadian ini sering menyerang anjing diantara umur 4 hingga 8 tahun (Watson. 1994). Semakin tua anjing semakin banyak tartar dan semakin tinggi tingkat kejadian periodontitis. Struktur periodontal terdiri dari ligament periodontal (jaringan ikat diantara akar gigi dan socket), gums, cementum, tulang (Gambar 3) (Cox dan Lepine 2002). Peradangan pada bagian ini disebut sebagai periodontitis yang dapat disebabkan oleh interaksi bakteri, plak dengan mekanisme pertahanan induk, awalnya akan menyebabkan ginginvitis kemudian berlanjut menjadi periodontitis.

12

Gambar 3 Struktur periodontal Penyakit ini bersifat kronis dan progresif. Proses terjadinya periodontitis diawali dengan akumulasi plak pada permukaan gigi (Gambar 4). Produksi saliva membentuk lapisan gula protein yang disebut sebagai pellicle. Bakteri normal pada gigi mengadhesi pellicle dan bermultifikasi. Partikel makanan dan epitel yang regresi berinteraksi dengan pellicle dan bakteri menyebabkan terbentuknya plak (Cox dan Lepine 2002).

13

Gambar 4 Proses terjadinya periodontitis

Sifat

plak

lebih

lembut

tetapi

sulit

untuk

dihilangkan

dengan

menggunakan lidah, air minum atau air liur, namun dapat dihilangkan dengan gesekan seperti sikat gigi dan mengunyah sesuatu yang keras. Plak yang tidak dibersihkan akan berubah menjadi dental calculus atau tartar. Tartar terbentuk saat saliva yang mengandung garam mineral seperti kalsium karbonat dan kalsium phosphate terdeposit pada plak yang mengandung bakteri. Sifat tartar lebih keras dan dapat ditemukan bewarna kecoklatan pada garis gum (Cox dan Lepine 2002). Bau mulut yang ditimbulkan pada penyakit ini disebabkan oleh hasil metabolisme bakteri dengan protein pada rongga mulut. Protein yang terdapat pada rongga mulut terdiri dari sisa makanan, saliva, sel epitel, dan darah. Keberadaan plak atau tartar membentuk lingkungan yang mendukung untuk proliferasi dan metabolisme bakteri sehingga menyebabkan bau busuk. Sifat dental tartar yang kasar apabila tidak ditangani akan melebar ke gum socket, permukaan yang kasar akan mengiritasi garis gums yang menyebabkan inflamasi pada jaringan sekitarnya. Toksin dari bakteri juga akan megiritasi dan memperparah peradangan pada jaringan gum. Hal ini ditandai dengan gusi yang terlihat merah dan bengkak (Cox & Lepine 2002). Bengkak pada garis Gums menyebabkan bakteri terperangkap, bakteri tersebut akan mengeluarkan toksin sehingga terjadi akumulasi sel darah putih

14

dan menyebabkan kerusakan jaringan. Jaringan dibawah garis gums menjadi periodontal pocket sehingga terbentuk lingkungan yang anaerob dimana bakteri anaerob dapat berkembang biak di lingkungan ini. Produksi toksin secara terus menerus terjadi menyebabkan respon peradangan. Umumnya, bakteri tidak menyebabkan kerusakan jaringan secara langsung, namun sistem imun pada anjing dalam mengontrol infeksi dan inflamasi yang menyebabkan kerusakan jaringan. Pembentukan plak dapat menyebabkan inflamasi mencapai ligamen periodontal. Kerusakan pada struktur ini menjadi awal mula penyakit periodontal (Cox dan Lepine 2002). Kerusakan pada ligamen periodontal bersifat irreversible. Penyakit periodontal yang tidak diobati memerlukan waktu yang cukup lama sekitar 2-5 tahun sampai dapat menyebabkan gigi terlepas (Harvey CE 1998). Penyakit sering terjadi tanpa disertai dengan gejala klinis yang khas. Beberapa gejala klinis yang timbul akibat penyakit ini adalah halitosis, anoreksia, kesulitan untuk makan, chronic drooling, head shaking, bengkak, pendarahan, kehilangan gigi, daya deteksi yang lemah, akumulasi plak dan tartar ulser pada gusi (Cox dan Lepine 2002). Efek jangka panjang periodotitis pada hewan dapat menyebabkan perubahan histopathologi pada otot jantung, ginjal, dan jaringan hati (DeBowes 1998).

(A)

(B)

Gambar 5 Keadaan gigi anjing. A. Sebelum operasi. B. Setelah operasi

Treatmen Penanganan kasus ini adalah pemberian antibiotik, dental scaling, dan ekstrasi gigi. Anjing dirawat inap selama dua hari sebelum operasi ekstrasi gigi dan dental scaling. Operasi dilakukan dengan pre medikasi xylazin dan valium, maintenance dengan mengunakan isoflurant dan oksigen. Operasi dimulai

15

dengan dental scaling, pada gigi taring atas kanan dan bawah, kemudian pre molar dan molar. Gigi pre molar bagian atas satu ditemukan sudah goyang lalu dicabut. Setelah itu, dental scaling dilanjutkan pada sisi sebelah kiri atas bawah dan pre molar dan molar. Pada sisi sebelah kiri gigi pre molar bawah ditemukan sudah pecah, kemudian sisa-sisa gigi yang tertinggal dibersihkan. Harvey dan Emily (1993) menjelaskan bahwa tujuan pengobatan periodontitis adalah untuk mengontrol mikroorganisme, mengembalikan anatomi dan fisiologi normal, dan mencegah terbentuknya kembali plak pada permukaan gigi. Hal ini dapat dilakukan secara mekanik atau kimiawi seperti sikat gigi dengan dentifrices, aplikasi topical untuk menghilangkan tartar yaitu

menggunakan 0.12-0.2% chlorhexidine glukonate, manipulasi diet (seperti diet khusus dan chew toys). Scaling dapat membersihkan plak dan tartar, scaling dapat dilakukan dengan mesin maupun secara manual. Pada kasus berat seperti deep pockets, bone loss, mucogingival surgery, dan open curettage dapat dilakukan tambal dengan bantuan general anaesthesia (Niemiec 2008). Clindamycin hydrochloride, amoxicillin/clavulanate dan metronidazole merupakan antibiotika yang efektif diberikan sebelum dan setelah operasi selama 7-10 hari (Lobprise. 2007; Niemiec. 2008). Antibiotika lokal seperti doxycycline gel dapat diulas pada gigi yang telah dibersihkan (Niemiec. 2008). Terapi lain seperti regenerasi periodontal termasuk soft tissue grafts, bone replacement grafts, root biomodifications, enamel matrix derivatives, dan produk bioaktif seperti bone morphogenic protein (BMP) (Greenwell 2001). Terapi terakhir

adalah ektraksi gigi (Niemiec 2008) 2. KERACUNAN PARASETAMOL Anamnesa Diberi obat flu manusia kapsul sore, keracunan, sempoyongan, berbaring. Signalemen Tanggal : 16 Oktober 2013 Nama : Jerry Jenis hewan : Kucing Ras : Persia Warna : Putih coklat Jenis Kelamin : Jantan Umur :Berat badan : 3.5 kg Tanda khusus :-

16

Temuan Klinis Aktivitas :Nafsu Makan : Menurun Minum : Menurun Defekasi : Normal Urinasi : Normal Vomit :Batuk : Tidak ada Bersin : Tidak ada Status Present Berat badan : 3.5 kg Suhu : 40 C SLN : Tidak bengkak VMM : Cyanotic Nasal discharge : Tidak ada Eyes discharge : Tidak ada Telinga : Tidak ada kelainan Oral : Tidak ada kelainan Kulit : Tidak ada kelainan Diagnosa Keracunan Parasetamol Prognosa Dubius Terapi : T/ Infus NS 200 ml IV/day T/ Flumucil syr 10 ml/po Pakai lampu Tabel 5 Kondisi rawat inap kasus keracunan parasetamol Tanggal 16/10/2013 Kondisi Mukosa rose dan sudah lebih aktif Minum : OK Minum :OK Sudah mulai makan Terapi T/ infus 200 ml/IV/ day T/ inj Flumucil 4.2 ml/ IV 1x T/ flumucil 4.2 ml (15.30) T/ infus NS 200 ml/Iv T/ Flumucil 3 cc/po setiap 4 jam sekali T/ Infus NS 200 ml/Iv/day T/ flumucil 3 ml/Po setiap 4 jam T/ inj Biodin 0.5 ml/IM/day T/ flumucil 3 ml/po Biodin 0.5 ml/Im/day NS 200 ml/IV R/ flumucil 3 ml/po R/ biodin 0.5 ml/ im T/ Infus NS 200 ml/IV

17/10/2013

18/10/2013

Minum: OK Sudah mau makan T: 38.1 C

19/10/2013

Makan dan minum baik respon mulai membaik Membaik

20/10/2013

17

Pembahasan Tiga ekor kucing datang ke RSH Jakarta dengan anamnese pemiliknya telah diberikan obat flu kepada ketiga ekor kucingnya. Salah satu diantara ketiga kucing tersebut adalah kucing ras persia bernama jerry, jenis kelamin jantan, dengan bobot badan 3.5 kg. Dari hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan kucing tampak lemah dan sempoyongan, lemas, mukosa mulut dan mukosa mata tampak pucat. Diduga kucing ini mengalami keracunan atau intoksikasi. Intoksitas atau keracunan merupakan permasalahan serius yang perlu ditangani secara baik pada manusia maupun pada hewan. Intoksitas dapat bersumber dari makanan, minuman, udara, maupun melalui zat-zat atau kandungan obat tertentu. Pada hewan seringkali ditemukan kasus keracunan akibat obat-obatan diantaranya obat dengan kandungan paracetamol yang sangat sensitif terhadap kucing dan anjing. Dewasa ini terjadi peningkatan minat manusia memelihara kucing dan anjing sebagai hewan kesayangan. Seperti halnya manusia, kucing juga sering kali terserang Flu dan demam, dan tidak jarang owner menganggap hal seperti ini sebagai masalah yang tidak serius sehingga seringkali tidak dilakukan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan pada kucing. Bahkan tidak jarang owner berusaha memberi pengobatan tanpa petunjuk dari dokter hewan dan kasus yang sering ditemukan yaitu pemberian obat yang sering digunakan oleh manusia dalam mengobati flu dan demam dimana obat tersebut umumnya mengandung paracetamol. Paracetamol (asetaminofen, N-aasetil-p.aminofenol), merupakan obat yang digunakan secara meluas di masayarakat. Obat ini digolongkan obat yang berlabel bebas terbatas, bisa dibeli secara bebas. Paracetamol merupakan salah satu obat yang bersifat hepatotoksik. Paracetamol digunakan sebagai obat analgesik dan antipiretik di seluruh dunia baik dalam sediaan tunggal sebagai analgetik-antipiretik maupun kombinasi dengan obat lain dalam sediaan obat flu, melalui resep dokter, atau yang dijual bebas (Sumioka et al. 2004). Paracetamol telah lama diketahui mempunyai mekanisme yang sama dengan aspirin oleh karena persamaan struktur kedua zat tersebut. Paracetamol bekerja

menghambat enzim cyclooxygenase (COX) sehingga dapat mengurangi produksi prostaglandin yang berperan dalam proses peradangan, tetapi paracetamol tidak dapat berfungsi sebagai antiinflamasi. Paracetamol secara tidak langsung menghalangi enzim COX sehingga menjadi efektif terhadap peroksida, hal ini

18

menyebabkan paracetamol menjadi efektif bekerja pada susunan saraf pusat dan sel endotel (Darsono 2002). Paracetamol dimetabolisme terutama oleh enzim-enzim mikrosomal sel hati, di dalam saluran pencernaan, acetaminofen dengan cepat akan diserap dan dalam waktu 30 menit akan mencapai konsentrasi puncak plasma.

Acetaminophen dimetabolisme untuk metabolit N-asetil-p-benzoquinoneimine (NAPQI) yang sangat reaktif dalam sel. Pada sebagian besar spesies, termasuk kucing, mayoritas acetaminophen diekskresikan dalam urin sebagai glucoronide dan konjugat sulfat yang pada dasarnya metabolit yang tidak beracun. Penggunaan paracetamol pada dosis yang besar dapat menyebabkan gangguan fungsi hati (Susana 1987). Kucing relatif kekurangan aktivitas enzim glucuronyl transferase yang merupakan konjugat antara acetaminophen dan asam glukuronik untuk kemudian diekresikan. Untuk dosis acetaminophen yang diberikan, kurang dari 3% dari glukuronida acetaminophen diekskresikan oleh kucing, sementara manusia dan anjing dapat menghilangkan 50-60% sebagai konjugat glukuronat. Oleh karena itu, acetaminophen pada kucing proporsi yang relatif lebih besar tersedia dan dimetabolisme menjadi senyawa antara reaktif. Menurut Bright & Post (2008) dosis yang beracun bagi kucing dan anjing adalah 50-100 mg/kg berat badan. Kucing lebih sensitif terhadap dan karena itu lebih rentan terhadap

acetaminophen daripada anjing

keracunan acetaminophen. Salah satu kekuatan ekstra (500 mg) tablet dapat mengakibatkan toksikosis. Kelainan yang paling umum diamati pada

pemeriksaan fisik dari kucing adalah: tingkat pernapasan meningkat, selaput lendir terlihat pucat , hipotermia, dan takikardia. Tanda-tanda lain adalah SSP depresi, anoreksia, muntah, wajah dan cakar membengkak, air liur, diare, koma dan kematian. Namun, ada yang berpendapat bahwa dosis acetaminophen

sekecil apapun yang diberikan kepada kucing dapat menyebabkan keracunan, yang ditandai dengan kerusakan sel darah merah yang terjadi dengan cepat. Berbeda halnya dengan anjing, keracunan acetaminophen ini bisa bergantung pada berat badan dan kesehatan anjing. Semakin besar dosis yang dicerna semakin besar resiko yang terjadi. Pada anjing kerusakan hati dan kerusakan sel darah merah dapat terjadi dengan cepat ( Almgren 2013). Selain itu acetaminophen juga menyebabkan pembentukan Heinz, terbentuk dari presipitasi hemoglobin yang rusak dalam sel darah merah, yang mengarah ke peningkatan kerapuhan osmotik eritrosit dan hemolisis, serta

19

terbentuknya

methemoglobin,

jenis

nonfungsional

hemoglobin.

Hemoglobin memungkinkan sel darah merah untuk membawa oksigen. Ketika methemoglobin terbentuk, sel darah merah tidak dapat membawa oksigen dan kucing akan mengalami kesulitan bernafas. Diagnosis biasanya didasarkan pada riwayat konsumsi, tanda-tanda klinis yang tepat, methe-moglobinemia,

Badan Heinz anemia, hemo-globinuria, dan pemeriksaan serum enzim hati. Gejala keracunan asetaminofen berkembang secara bertahap. Gejala dapat terja di lebih cepat atau lambat tergantung pada jumlah yang tertelan.

Tahap 1 (0-12 jam). Gejala-gejala termasuk muntah, kesulitan bernapas, lesu, anoreksia, kelemahan, gusi berwarna coklat (bukan warna pink normal) dan hipersalivasi.

Tahap 2 (12-24 jam). Gejala-gejala termasuk pembengkakan wajah, bibir dan anggota badan, gerakan tidak terkoordinasi, kejang, koma dan potensi kematian.

Tahap 3 (lebih dari 24 jam). Gejala yang berhubungan dengan kegagalan hati dan termasuk perut yang menyakitkan, sakit kuning (kuning ke gusi, mata dan kulit).

Pengobatan untuk toksikosis asetaminofen pada kucing dan anjing meliputi: 1). Administrasi acetylcysteine secara intravena atau oral (140 mg / kg sebagai solusi awalnya 5%, diikuti dengan 70 mg / kg IV setiap 4 jam, dengan total 4 sampai 6 perawatan). Acetylcysteine (NAC) adalah disetujui Food and Drug

Administration (FDA) untuk mengurangi tingkat kerusakan hati akibat keracunan acetaminophen. Efek toksik acetaminophen membentuk metabolit N-asetil-pbenzoquinoneimine (NAPQI) di dalam tubuh dalam jumlah banyak sehingga membuat penipisan glutathione dan kerusakan hati. Penambahan administrasi NAC bermanfaat dalam mencegah atau mengurangi kerusakan hati melalui stimulasi sintesis glutathione, meningkatkan metabolisme, detoksifikasi racun

dan radikal bebas. Fungsi glutathione (GSH) dapat menetralisir zat-zat racun yang masuk kedalam tubuh, seperti dari makanan dan sisa metabolisme obat. Digunakan oleh hati untuk membuang racun, termasuk formalin, Acetaminophen, Benzpyrene dan berbagai senyawa lainnya serta mempunyai peran penting dalam reaksi detoksifikasi (Barton 2005). 2). Cimetidine, diperlukan untuk menghambat kerusakan hati 3). Asam askorbat (30 mg / kg secara oral) untuk pengobatan methemoglobinemia. Vitamin C harus diberikan setiap 6 jam sesuai kebutuhan.

20

Cairan terapi untuk kemungkinan asidosis (Almgren 2013). Setelah dilakukan observasi dan pengobatan selama 5 hari kucing Jerry menunjukan kondisi yang membaik. 3. FELINE INFECTIOUS PERITONITIS (FIP) Anamnesa Hewan tidak nafsu makan, lemas, dengan keadaan perut membesar Signalemen Nama Jenis kelamin Umur Ras Warna bulu Berat Badan

: Unying : Jantan : 2 tahun : Lokal : Kuning : 2.3 Kg : 39.8C : 156 x/menit : 36 x/menit : anemis : tidak ada discharge : tidak ada discharge : tidak ada batuk : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : membesar

Status Present Suhu tubuh Frekuensi jantung Frekuensi nafas Mukosa Pemeriksaan Mata Pemeriksaan Hidung Palpasi trachea Pemeriksaan Telinga Pemeriksaan Rongga Mulut Pemeriksaan Rongga perut

Temuan Klinis Pembesaran bagian abdomen Diagnosa FIP Prognosa Fausta-Dubius Terapi Aspirasi cairan di rongga abdomen Pembahasan Seekor kucing jantan bernama Unying datang ke Rumah Sakit Hewan Jakarta dengan tujuan Checkup Medical, BB 2.3 kg, suhu 39.8oC. Setelah dilakukan pemeriksaan dan observasi diketahui terdapat pembesaran pada bagian abdomen yang dicurigai FIP. Pembesaran pada bagian abdomen diakibatkan karena adanya akumulasi cairan pada rongga abdomen. Terapi yang dilakukan yaitu dilakukan aspirasi cairan di rongga abdomen. Terapi ini hanya bersifat suporatif.

21

Feline Infection Peritonitis (FIP) merupakan salah satu penyakit serius pada kucing. Penyakit ini disebabkan oleh famil Coronaviridae yaitu coronavirus (Sparkes 2004). Penyakit ini ditemukan di seluruh dunia dan tidak hanya menyerang kucing domestik, tapi juga kucing yang liar, termasuk cougars, bobcats, lynx, singa, dan cheetah (Sherding 2004). Tidak semua kucing terinfeksi corona virus dapat terserang FIP, namun ketika virus tersebut bermutasi maka kucing memiliki kemungkinan untuk terseran FIP. Infeksi tersebut dapat bersifat fatal dan dapat menyebabkan kematian (Meadows dan Flint 2006). Coronavirus adalah virus RNA per-envelope yang memiliki genom RNA terbesar yang menyebabkan virus ini sangat rentan terhadap mutasi spontan selama replikasi (Spakers 2004). Feline conora virus (FcoV) terdiri dari dua serotipe yaitu tipe satu (FCov-1) dan tipe dua (FCoV-2). Virus tipe satu umumnya lebih banyak terjadi, sedangkan serotipe dua jarang terjadi. Dari respektif klinis dikenal biotipe FCoV yang tidak ada kaitannya dengan serotipe. Biotipe FCoV yang dikenal adalah Feline Infectious Coronavirus dan Feline Enteric Coronavirus (FECV) (Hartmann 2003). FECV pada dasarnya relatif tidak berbahaya dan biasa menyerang kucing. FECV yang bermutasi menjadi virus ganas disebut Feline Infectious Peritonitis Virus (FIPV). Bila respons kekebalan tubuh kucing kurang baik, FECV yang bermutasi jadi FIPV ini dapat menyebabkan penyakit sistemik yang disebut Feline Infectious Peritonitis (Bell 2006; Simons 2005). FIP terjadi antara umur enam bulan sampai dua tahun, selain itu bisa terjadi pada periode sapih. Tingkat mortalitas FIP relatif rendah sekitar 5% (Sparkes 2004). Virus FIP dapat bertahan hidup selama dua sampai tiga Minggu dengan suhu ruangan pada permukaan kering, termasuk pada peralatan makan kucing, mainan, kotak kotoran (liter), tempat ridur (bedding), pakaian kucing (Clothing) atau rambut kucing. Dalam waktu 24 jam sejak virus tertelan virus akan menyebar dari tonil ke dalam saluran cerna. Dalam waktu dua minggu sudah menyebar ke usus besar, kelenjar getah bening, dan hati yang lama kelamaan akan menyebar ke organ tubuh lainnya (Evermann et al. 1995). Kucing sehat tertular coronavirus melalui kontak langsung dengan kucing yang terinfeksi atau kotorannya. Kucing yang terinfeksi menyebarkan virus melalui liur dan feses. Penularan terutama terjadi melalui jalur fekal-oral, selain itu bisa juga melalui saluran pernafasan. Induk yang carrier dapat menularkan virus ke anaknya. Kejadian FIP dipengaruhi oleh faktor stres. Beberapa faktor

22

yang menyebabkan stres adalah perpindahan tempat, tindakan bedah, vaksinasi, dan adanya infeksi oleh virus lain seperti Feline Leukemia dan Feline Imunodefisiency (Sparkes 2004). Infeksi FCoV terjadi melalui rute fekal-oral. Kucing yang sudah terinfeksi biasanya akan bersifat persisten dan mengeluarkan virus dan fesesnya. Virus bereplikasi dalam eritrosit matang di usus halus dan usus besar, yang menyebabkan diare dan muntah. Gejala terparah ditunjukan dengan adanya lesi yang parah di ileum, dengan terjadinya atrofi Ali dan fusi usus (Foley 2005). Penyakit ini bermanifestasi dalam dua bentuk : basah dan kering. Tipe basah menyebabkan sekitar 60-70% dari keseluruhan kasus penyakit ini dan lebih ganas dari tipe kering. Bentuk penyakit yang muncul sangat tergantung pada reaksi kekebalan tubuh kucing. Bila kekebalan tubuh bereaksi cepat biasanya yang muncul adalah tipe kering. Sebaliknya bila kekebalan tubuh lambat bereaksi, maka tipe basah yang muncul (Snott 1997). Gejala klinis Feline Infectious Peritonitis sering berubah-ubah dan kompleks tergantung variasi refleksi virus dalam tubuh, respons imunitas alami dan pengaruh dari stres lingkungan pada kucing. Secara umum gejala klinis yang muncul seperti mata berair, lemah, anoreksia, depresi, muntah, diare, ikterus, uveitis, dan lesi granuloma retina. Gejala nun spesifik yang muncul seperti kehilangan nafsu makan, depresi, rambut kasar, dan demam (Simons et al. 2004). Bentuk penyakit yang muncul sangat tergantung dari reaksi kekebalan individu. Kucing dengan imunitas yang kuat biasanya dapat bertahan, sedangkan kucing dengan imunitas seluler yang relatif sedang tidak dapat menyingkirkan semua virus sehingga gejala penyakit bisa tidak muncul tetapi kucing akan bertindak sebagai carrier dan dapat menularkan virus selama beberapa tahun hingga kekebalan tubuhnya berkurang sedikit demi sedikit. Kucing dengan imunitas seluler yang relatif rendah akan sangat rentan terhadap infeksi, sifat carrier menjadi aktif seiring dengan berkurangnya kekebalan. Penyakit akan semakin berkembang hingga timbul gejala dan akhirnya menyebabkan kematian (Foley 2005).

23

Gambar 6 Pembesaran abdomen kucing

Gejala klinis pada bentuk basah seperti demam, kehilangan nafsu makan, cepat lelah, dan anemia sehingga membran mukosa terlihat pucat, diare yang terjadi akibat akumulasi cairan di rongga perut dan rongga dada menyebabkan pembengkakan daerah perut yang disertai kesulitan bernafas. Gejala bentuk kering yaitu cairan menumpuk relatif lebih sedikit dan gejala yang muncul tergantung organ yang terinfeksi virus. Gejala yang biasa muncul dari infeksi bentuk kering yaitu kelumpuhan, inkordinasi, kejang, gagal ginjal,

pembebngkakan hati, depresi, anemia, berat badan berkurang sangat drastis, diare dan ikterus (Sparkes 2004). Diagnosa FIP biasanya didasarkan pada hasil pemeriksaan hewan dengan gejala klinis, foto sinar-X, pemeriksaan dan evaluasi cairan pada rongga toraks dan abdomen (Hartmann 2003). Dalam diagnosis FIP harus memiliki diagnosa banding Diana satu kondisi tentang selaput atau berkaitan dengan toraks dan akumulasi cairan yang berkenaan dengan penyakit kronis pada kucing. Infeksi FIP dengan keterlibatan selaput harus dapat dibedakan dengan ascites karena kongesti, kegagalan jantung atau hipoproteinemia (ginjal dan penyakit hati, glomerulonepritis, malabsorbsi, neoplasia, toksoplasmosis,

tuberkulosis, kehamilan dan trauma (Simons et al. 2005). Sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan penyakit ini. Pengobatan yang ada masih berupa pengobatan suportif untuk mengurangi gejala dan mengurangi rasa sakit kucing. Kucing yang sakit dapat bertahan hidup 1 minggu - 1 tahun tergantung kekebalan tubuh dan keparahan penyakit. Terapi yang dilakukan pada kucing Unying yaitu aspirasi cairan abdomen.

24

Gambar 7 Aspirasi cairan Abdomen (A), Cairan yang di aspirasi (B)

Gambar 8 Kucing setelah cairan abdomen di aspirasi

4. OTITIS EXTERNA Anamnesa Hewan terlihat menggaruk-garuk telinganya, telinga terlihat kotor, basah, dan keluar nanah. Tercium bau yang tidak enak dari telinga. Bagian luar telinga lecet dan luka. Signalemen Tanggal Nama Jenis hewan Ras Warna Jenis Kelamin Umur Berat badan Tanda khusus Temuan Klinis Aktivitas Nafsu Makan Minum Defekasi Urinasi Vomit

: 23 Oktober 2013 : Tama : Kucing : Domestik : Kuning dan putih : Betina : 1 tahun : 3.8 kg :-

: Lincah : Menurun : Normal : Normal : Normal : Tidak ada

25

Batuk Bersin

: Tidak ada : Tidak ada

Status Present Berat badan : 3.8 kg Suhu : 38.5 C SLN : Tidak bengkak VMM : Rose Nasal discharge : Tidak ada Eyes discharge : Tidak ada Telinga : Basah, bau, kotor, dan adanya pus dari kedua telinga Oral : Tidak ada kelainan Kulit : Tidak ada kelainan Diagnos Otitis externa Prognosa Fausta Terapi T/ inj Enrofloxacin 0.2 ml R/ Clindamycin syrup No. 1 fls s1dd pc R/ Otolin ear drop s1dd 2 gutt sinetra et dextra

Pembahasan Seekor kucing bernama tama yang berusia 1 tahun datang ke rumah sakit hewan jakarta (RSHJ) dengan keluhan telinga kotor, bau, basah, dan keluar nanah dari telinga. Bagian luar telinga terlihat lecet dan adanya luka, sehingga dari gejala klinis yang terlihat kucing mengalami otitis externa. Otitis externa adalah peradangan pada saluran telinga eksternal distal ke membran timpani. Otitis externa ada yang bersifat akut ataupun kronis, bisa terjadi secara unilateral atau bilateral . Secara umum penyebab otitis eksterna didefinisikan menjadi primer dan sekunder. Faktor primer atau utama bisa dikarenakan oleh adanya alergi, autoimun, endokrin, gangguan epitelisasi, benda asing, gangguan kelenjar, parasit, sistem imun (misalnya, reaksi obat). Faktor sekunder bisa dikarenakan jamur, bakteri, dan reaksi obat (Kesser 2012). Hipersensitivitas termaksud dermatitis atopik atau otitis. Alergi makanan dan hipersensitivitas merupakan penyebaba paling umum terjadinya otitis externa. Gejala klinis yang terlihat adanya aritema dari pinna sampai vertikal saluran telinga (Murphy 2011). Faktor yang disebabkan parasit, biasnya Otodectes cynotis tungau normal yang berada ditelinga ini bisa menyebabkan terjadinya otitis externa. Pada kucing berusia muda, tungau telinga ini sering dilaporkan sebagai penyebab terjadinya otitis externa dibandingkan pada anjing. Otodectes cynotis merupakan tungau yang secara normal ditemukan di dalam

26

saluran external telinga kucing. Pada jumlah populasi yang masih mampu ditoleransi oleh tubuh tungau tersebut tidak akan menyebabkan infeksi. Tetapi jika jumlah populasi melebihi ambang batas dan kemampuan tubuh untuk mentolerir rendah baru akan terlihat seperti iritasi. Mekanisme terjadinya otitis yang disebabkan oleh Otodectes cynotis bisa dikarenakan tungau ini mampu menembus membran dan mengisap pembulah darah limfe yang mana akan menghasilkan kerak pada kulit yang akan terlihat kering, berwarna coklat dan rapuh. Infestasi yang lebih hebat dapat menyebabkan timbulnya eksudasi yang bersifat purulen (cairan nanah) (Jubb 1993). Dilaporkan oleh Rosser (2004) otodectes cynotis (tungau telinga) merupakan penyebab ototis externa mencapai 50 % yang terjadi pada kucing dan 5% sampai 10% kasus pada anjing. Awalnya eksudat biasanya terlihat berwarna coklat gelap, namun pada kasus kronis dapat disebabkan oleh infeksi sekunder oleh bakteri atau jamur, sehingga pada saat itu eksudat dapat terlihat purulen. Parasit lain yang dapat menyebablan otitis eksterna adalah Sarcoptes scabiei, Notoedres cati, Cheyletiella Spp. Penyakit autoimun yang dapat mempengaruhi pinna dari eksternal kanal telinga adalah foliaceus pemfigus, pemfigus eritematosus, diskoid lupus eritematosus, vaskulitis kulit, pemfioid bulosa. Akan tetapi kasus otitis externa yang disebabkan oleh penyakit autoium ini jarang terjadi.Gejala yang dapat terlihat ialah adanya lesi pada kulit daerah lokasi dari tubuh atau lesi pada berbagai membran mukosa (Rosser 2004). Faktor sekunder yang disebabkan oleh bakteri. Ada beberapa bakteri normal yang berada di saluran telinga bagian luar yaitu Staphylococcus intermedius , Pseudomonas spp , Streptococcus spp, dan Proteus spp. Ada beberapa bakteri yang paling sering terisolasi jika terjadinya otitis externa yaitu S. intermedius, Pseudomonas aeruginisa, Proteus mirabilis, Escherichia coli, Corynebacterium spp , Enterococcus spp , dan Streptococcus spp. Dalam kasus kronis atau berulang bakteri yang sering ditemukan adalah bakteri patogen oportunistik P.aeruginosa. Begitu pula yeast dalam keadaan normal ada yang terdapat di dalam saluran telinga eksternal yaitu Pachydermatis malassezia. Dalam kasus otitis externa terkadang ditemukan isolasi yeast P. Malassezia dan sesekali Candida spp. Beberapa faktor predisposisi yang dapat menyebabkan terjadinya otitis externa diantaranya adalah konformasi saluran telinga, kelembaban saluran telinga, efek pengobatan, dan penyakit sistemik. Penyakit ini lebih sering menyerang pada hewan kecil daripada hewan besar. Hewan anjing lebih sering

27

terkena penyakit ini daripada kucing. Biasanya anjing-anjing ras dengan telinga panjang yang lebih sering terinfeksi contohnya seperti cocker spaniels, poodles. Telinga panjang yang diikuti dengan rambut yang lebat di sekitar liang telinga dianggap mempengaruhi retensi panas dan kelembaban di saluran telinga. Kelembaban yang berlebihan disaluran telinga terkait dengan berenang atau mandi dapat menyebabakan rusaknya stratum korneum lapisan telinga, sehingga dapat menyebabkan terjadinya infeksi sekunder. Efek pengobatan meliputi trauma mekanis, hal ini bisa dikarenakn penyalahgunaan pembersih telinga (Murphy 2011). Gejala klinis yang terlihat pada hewan yang terkena otitis externa ini akan menunjukan kulit bagian luar telinga terlihat merah, gatal. Terlihat adanya pus, waxy material, dan kumpulan debris yang menumpuk. Otitis externa dapat

menyebabkan kepala gemetar, menggaruk-garuk dan menggosokkan kepalanya ke kandang, selain itu akan tercium bau busuk, prilaku abnormal atau bahkan mudah marah (Pet Kare Clinic 2008). Penanganan yang diberikan untuk kasus ini dengan menyuntikan antibiotika enrofloxacin. Diberikan resep clindamycin sirup yang nantinya harus diminumkan, serta diberikan resep otolin. Otolin merupakan obat tetes telinga untuk pengobatan otitis externa yang kronis dan akut yang disebabkan oleh bakteri yang peka terhadap kloramfenikol dan polimiksin. Menurut Murphy (2004) untuk menanggani kasus ini harus dibersihkan terlebih dahulu saluran telinga. Eksudat yang masih ada tertinggl dibersihkan agar tidak menyebabkan perlabuhan materi benda asing yang nantinya dapat menyebabkan infeksi. Pemberian terapi lokal yang mengandung kombinasi glukokortikoid, antibiotik, antijamur dan antiparasit. Prinsip terapi telinga topikal tepat termasuk memilih obat oles yang tepat dan menerapkan untuk periode waktu yang diperlukan. Glukokortikoid topikal digunakan untuk efek antiinflamasi dan antigatal, membantu dalam mengurangi eksudasi, sekresi kelenjar, dan pembengkakan di saluran telinga. Dengan pengurangan rasa sakit dan pruritus, hewan menjadi lebih mudah untuk mengobati. Terapi sistemik yang dapat diberikan adalah prednison oral atau triamcinolone acetonide selama 7-14 hari.

28

5. PYOMETRA Anamnesa Hewan lemas, anoreksia, malas bergerak, dan sering keluar cairan putih dan bau dari vulva. Signalemen Tanggal Nama Jenis hewan Ras Warna Jenis Kelamin Umur Berat badan Tanda khusus : Temuan Klinis Aktivitas Nafsu Makan Minum Defekasi Urinasi Vomit Batuk Bersin Status Present Berat badan Suhu SLN VMM Nasal discharge Eyes discharge Telinga Oral Kulit

: 18 Oktober 2013 : Avryl : Anjing : Golden Retriver : Coklat muda : Betina : 9 tahun : 36 kg

: Lethargi : Tidak ada : Normal : Tidak ada : Normal : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : 36 kg : 39.8 C : Tidak bengkak : Rose : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan

Diagnosa Penunjang Tabel 6 Hasil Pemeriksaan CBC kasus pyometra Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan WBC ( x 103/L) 32 6 RBC ( x 10 /L) 6.32 Hemoglobin (g/dL) 13.1 Hematrokit (%) 37.3 MCV (fl) 65 MCH (pg) 20.7 MCHC (g/dL) 35.1 3 Platelet ( x 10 /L) 328 Diff Leukosit Limfosit (%) 19 Monosit (%) 3.5 Eosinofil (%) 2.4 Granulosit (%) 85.1

Nilai Normal 6.0-17.0 5.50-8.50 12.0-18.0 37.0-55.0 60.0-77.0 19.5-24.5 32.0-36.0 200-500 12.0-30.0 2.0-10.0 2.0-10.0 60.0-80.0

29

Diagnosa Pyometra Prognosa Fausta Terapi T/ Ovariohisterektomi (OH) T/ Infus Ringer laktat iv T/ Cefriaxone 7.2 ml iv s2dd T/Biosalamin 1 ml im s1dd Pembahasan Anjing betina Avryl ras Golden retriever berumur 9 tahun datang dengan keluhan tidak mau makan, malas bergerak, dan keluar cairan putih (nanah) dari vulva. Diagnosa penunjang yang dilakukan yaitu pemeriksaan darah CBC dan USG. Hasil pemeriksaan menunjukan bahwa anjing avryl mengalami pyometra dan dilakukan operasi Ovariohisterectomi (OH) (Gambar 8). Pyometra

merupakan infeksi pada uterus bersifat akut maupun kronis dengan akumulasi nanah pada lumen uterus khas terjadi pada anjing betina yang belum di steril (Gambar 9). Menurut Kennedy (2008), kejadian pyometra lebih sering terjadi pada kucing dibandingkan dengan anjing, berbeda dengan kejadian pyometra di Rumah Sakit Hewan Jakarta selama 2 minggu semua terjadi pada anjing.

Gambar 8 Pyometra pada anjing Avryl.

30

Gambar 9 Skematis uterus normal (kiri) dan uterus yang mengalami pyometra (Gilshenan 2003).

Bakteri hasil ulasan uterus anjing yang mengalami pyometra biasanya bakteri yang normal ditemukan pada uterus anjing sehat. Bakteri tersebut menjadi patogen dan menginfeksi uterus akibat faktor hormonal yang menyebabkan perubahan struktur uterus. Pyometra terjadi akibat gangguan pada masa diestrus yang dipengaruhi oleh aktivitas hormon progesteron yang tinggi. Progesteron mengakibatkan perubahan patologis pada uterus sehingga tercipta lingkungan yang baik untuk pertumbuhan bakteri sebagai infeksi sekunder. Bakteri yang biasanya terkait dengan pyometra adalah E. coli, Staphylococcus, Streptococcus, Klebsiella, Pseudomonas, Proteus, Haemophilus, Pasteurella, dan Serratia (Feldman dan Nelson 2004). Kejadian pyometra pada anjing paling sering didiagnosa 4 hingga 8 minggu setelah estrus. Siklus estrus pada mamalia dipengaruhi oleh berbagai hormon. Pada awal siklus estrus, follicle-stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH) akan menstimulasi perkembangan folikel ovarium. Selsel folikular yang mengelilingi telur mensekresikan hormon estrogen yang menyebabkan penebalan endometrium, perkembangan folikel, dan menghambat produksi FSH. Sel telur akan matang dan akan terjadi ovulasi yang diinduksi oleh kadar LH yang tinggi dan melepaskan sel telur. Sel telur akan melalui oviduk

31

yaitu tempat terjadinya fertilisasi apabila bertemu dengan sperma atau sel telur akan masuk ke uterus dan berdegenerasi jika tidak terjadi fertilisasi. Bagian dari folikel yang robek saat ovulasi akan diisi oleh sel folikular berwarna kuning yang disebut corpus luteum. Corpus luteum ini akan menghasilkan progesteron, yaitu hormon yang akan meningkatkan proliferasi endometrium (Feldhamer et al. 1999). Corpus luteum akan mengalami regresi apabila tidak terjadi fertilisasi sehingga sintesis dan pelepasan progesteron berhenti secara mendadak. Apabila terjadi fertilisasi, maka corpus luteum akan persisten pada awal masa kebuntingan. Pada kasus pyometra, corpus luteum persisten dalam waktu yang lama walaupun tidak terjadi kebuntingan. Hal tersebut terjadi karena adanya infeksi uterus yang mengganggu mekanisme luteolisis sehingga corpus luteum tidak beregresi. Corpus luteum persisten juga sering dihubungkan dengan infeksi uterus yang timbul karena retensi sisa-sisa plasenta akibat kebuntingan. Corpus luteum yang persisten menyebabkan hormon estrogen dan progesteron terus diproduksi (Gambar 10). Progesteron mengakibatkan perubahan patologis pada uterus sehingga tercipta lingkungan yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Perubahan patologis yang dialami uterus adalah penebalan endometrium secara terus-menerus, peningkatan sekresi kelenjar uterus, dan penurunan kontraksi miometrium (Smith 2006). Progesteron mengakibatkan penebalan dinding endometrium dengan meningkatkan ukuran dan jumlah kelenjarnya sehingga mengakibatkan

peningkatan sekresi kelenjar. Hiperplasia endometrium yang progresif dapat menjadi sistik dan menghasilkan hiperplasia sistik endometrial (Feldman dan Nelson 2004). Penurunan kontraksi miometrium didasari oleh perubahan permeabilitas ion dari sel miometrium yang disebabkan oleh progesteron dan perubahan ketersediaan kalsium interseluler

32

Gambar 10 Skema terjadinya kebuntingan (kiri) dan patogenesis pyometra (kanan).

Pyometra juga dapat terjadi akibat rangsangan dari luar tubuh. Pemakaian estrogen dari luar sebagai terapi untuk mencegah kebuntingan serta terapi progesteron untuk mengurangi estrus pada hewan dapat meningkatkan resiko terjadinya pyometra (Smith 2006). Oleh sebab itu, berbagai faktor yang berkontribusi dalam perkembangan pyometra antara lain keberadaan bakteri, konsentrasi progesteron yang tinggi pada saat diestrus, dan pemakaian progesteron dan estrogen dari luar (Feldman dan Nelson 2004). Gejala klinis yang terlihat pada anjing Avryl yaitu nafsu makan menurun, polidipsia, lethargi, dan pembesaran pada abdominal. Pyometra dapat disertai dengan keluarnya nanah dari vagina (pyometra terbuka) seperti yang terjadi pada anjing Aryl ataupun tanpa keluarnya nanah (pyometra tertutup). Nanah yang keluar dari vagina dapat bersifat purulen, mucoid, atau dapat juga bercampur dengan darah ketika sudah parah (Smith 2006). Hasil pemeriksaan darah anjing Avryl menunjukan peningkatan total sel darah putih dari jumlah normalnya (Tabel 1). Hasil pemeriksaan total sel darah putih pada anjing dengan pyometra dapat bervariasi, namun peningkatan total sel darah putih (leukositosis) umumnya terjadi pada kasus pyometra terbuka.

33

Hiperproteinemia dan hiperglobulinemia umumnya terjadi akibat proses dehidrasi dan stimulasi antigen yang berlangsung lama (Feldman dan Nelson 2004). Pemeriksaan anjing Avryl dilakukan juga dengan pemeriksaan

ultrasonografi (USG) pada bagian abdomennya. Menurut Bigliardi (2004), diagnosa untuk kasus pyometra paling baik dilakukan melalui pemeriksaan USG dan radiografi. Pemeriksaan USG dapat mengungkapkan adanya eksudat dalam uterus, pembesaran endometrium, dan distensi uterus. Hasil radiografi uterus dengan pyometra terlihat sebagai struktur tabung atau pipa berisi cairan dengan diameter yang lebih besar dari usus halus dan terletak di ventrocaudal abdomen (Feldman dan Nelson 2004). Feldman dan Nelson (2004) membagi penanganan pyometra menjadi dua yaitu melalui bedah dan perawatan medis. Perawatan medis dilakukan pada anjing yang masih ingin dikembangbiakkan yaitu dengan pemberian

prostaglandin. Prostaglandin memberikan efek kontraksi miometrium sehingga dapat mengeluarkan eksudat dalam lumen secara paksa. Pemberian

prostaglandin juga dapat menghambat sirkulasi progesteron dengan cara melisiskan corpus luteum sehingga mengurangi stimulus proliferasi endometrium dan sekresi kelenjar uterus. Penanganan dengan prosedur bedah yang biasa dilakukan di Rumah Sakit Hewan Jakarta adalah ovariohisterektomi (OH). Sebelum melakukan OH, kondisi cairan tubuh, elektrolit, dan keseimbangan asam basa harus

dikembalikan normal. Infus cairan dan antibiotik berspektrum luas harus diberikan, serta eksudat uterus harus dikeluarkan untuk menghilangkan infeksi bakteri (Agudelo 2005). OH pada kasus pyometra umumnya berhasil dengan kesembuhan yang cepat dan dapat meminimalkan resiko pengulangan pyometra. Resiko neoplasia pada ovarium atau uterus juga dapat terhindarkan. Mortalitas post-operasi OH pada anjing yang mengalami pyometra diperkirakan sekitar 5% (Wheaton et al. 1989).

34

6. PROLAPS BULBI Anamnesa Hewan dengan bola mata yang terkeluar (prolaps bulbi) Signalemen Tanggal Nama Jenis hewan Ras Warna Jenis Kelamin Umur Berat badan Tanda khusus Temuan Klinis Aktivitas Nafsu Makan Minum Defekasi Urinasi Vomit Batuk Bersin Status Present Berat badan Suhu SLN VMM Nasal discharge Eyes discharge Telinga Oral Kulit Diagnosa Prognosa Terapi Pembahasan Cerita hewannya dulu Enukleasi merupakan pengankatan bola mata yang sudah tidak dapat diobati lagi. Sakit yang berlanjut dan kebutaan menyebabkan dokter hewan dan pemilik meminta untuk melakukan enukleasi pada hewan kesayangannya (Mitchell 2008). Indikasi untuk melakukan enukleasi adalah stadium akhir dari glaucoma, discharge yang terakumulasi pada kantong konjungtiva, tumor intra

: 16 Oktober 2013 : Capuci : Anjing : Duch Hound : Coklat : Jantan : 5 tahun : 4.5 kg :-

: Aktif : Menurun : Normal : Normal : Normal : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

Gambar 11 Anjing Capuci

: 4.5 kg : 40.2 C : Tidak bengkak : Rose : Tidak ada : Mata sebelah kanan keluar : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan

35

ocular yang progressif, trauma yang menyebabkan kerusakan pada lensa yang mendorong hewan terus menggaruk, endophthalmitis, phthisis bulbi (jika terjadi inflamasi kronik menyebabkan enteropion secunder, proptosis (otot extraocular yang terkeluar merusak bola mata), penyakit retrobulbar seperti neoplasma yang timbul sekitar orbit (Mitchell 2008). Teknik enukleasi dipilih untuk berbagai macam alasannya, salah satunya untuk bedah kosmetik. Metode operasi yang dijelaskan oleh Mitchell (2008) ada 4 mcam, yaitu Trans-conjuctival enucleation, Trans-palpebral enucleation, Exenteration, dan Ocular prosthesis (Fossum 2012). Teknik enukleasi

transconjuctival dapat mempertahankan jaringan lemak dan otot extraocular yang dapat menambah nilai kosmetik. Teknik ini juga dapat mengurangi trauma, pendarahan dan masih terexpose saraf dan pembuluh darah. Kekurangan dari teknik ini adalah ketika ada infeksi pada kantung cunjunctival dapat menyebar ke orbit dan dapat menyebabkan pertumbuhan sel tumor. Teknik transpalpebral enucleation merupakan teknik untuk sel neoplastik atau infeksi pada kantong konjunktiva atau bola mata yang ruptur. Kelemahan dari teknik ini adalah terbentuk jaringan mati yang besar, menyebabkan sulit untuk dijahit. Prosedurnya adalah mengeluarkan bola mata dan semua yang menempel pada konjungtiva, membran niktitan dan otot extraokular. Eyelids dijahit bersama dengan jahitan continius. Teknik lain enukleasi adalah exenteration dengan mengangkat bola mata dan semua isi orbital. Ini adalah lanjutan dari teknik transpalpebral setelah pengangkatan lemak dan jaringan ikat dikeluarkan. Selanjutnya adalah ocular prosthesis yang merupakan teknik enukleasi traditional. Prosthesis silicon spherical dimasukkan ke dalam orbital mata untuk meingkatkan nilai kosmetik. Prosthesis dapat dimasukkan ke dalam orbital mata ketika semua atau sebagian isi dari orbital dikeluarkan. Prosthesis juga dibagi menjadi dua intraorbital prosthesis dan sclera cup prosthesis. Perban dipasangkan pada bagian luka jahitan, ketika terjadi pendarahan perban akan meyerap darah dan caira yang keluar agar tidak terjadi lembab dan iritasi. Colar Elizabeth diperlukan untuk pencegahan trauma pada luka operasi. Hewan baik dibiarkan 24 jam di hospital untuk pemantauan dokter dan mencegah terjadinya pendarahan. Analgesik yang dapat digunakan di hospital saat post operasi adalah antiinflamasi nonsteroid, fentany, dan morphin. Pada hari berikutnya dapat diberikan pengobatan oral analgesik seperti (carprofen,

36

deracoxib, tepoxalin, atau ,meloxicam pada anjing dan kucing) untuk 3 hingga 5 hari. Antibiotika sistemik diperlukan untuk mencegah infeksi intra ocular. Reevaluassi dilakukan 5 hingga 6 hari setelah operasi dan melepas jahitan dilakukan 12 hingga 14 hari posoperasi (Krohne 2009). 7. FELINE LOW URINARY TRACTUS DISEASE ( FLUTD) Anamesa Hewan datang dengan keluhan sulit untuk urinasi, sudah 2 hari menunjukan ingin urinasi tapi tidak keluar, ada sedikit darah dari kencing yang dikelurkan. Signalemen Tanggal Nama Jenis hewan Ras Warna Jenis Kelamin Umur Berat badan Tanda khusus Temuan Klinis Aktivitas Nafsu Makan Minum Defekasi Urinasi Vomit Batuk Bersin Status Present Berat badan Suhu : 3.7 kg : 39.1 C : Lemas : Menurun : Menurun : Kesulitan : Kesulitan : ada : Tidak ada : Tidak ada : 22 Oktober 2013 : Gendut : Kucing : Domestik : Abu-abu : Jantan : 2 tahun : 3.7 kg :-

37

SLN VMM Nasal discharge Eyes discharge Telinga Oral Kulit Diagnos

: Tidak ada kelainan : Rose : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan

Feline Low Urinary Tractus Disease (FLUTD) Prognosa Fausta-Dubius Terapi T/ pasang cateter T/ Diazepam tab T/ Ampicilin

Pembahasan Seekor hewan datang ke RSHJ dengan keluhan sulit urinasi, terkadang urinasi berdarah dengan jumah yang sedikit. Diagnosa yang diberikan dari seorang dokter adalah Feline Lower Urinary Tract Disorder (FLUTD), hal ini ditunjang dari gejala klinis yang terlihat. FLUTD yang sering dikenal dengan feline urologic syndrome (FUS) merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi pada kucing terutama pada kucing jantan. Biasanya penyakit ini mengganggu vesika urinaria (VU) dan utertra kucing. Hal ini dapat disebabkan oleh struktur uretra kucing jantan yang berbentuk seperti tabung yang memiliki bagian menyempit sehingga menimbulkan penymbatan urin dari VU keluar tubuh (Hostutler 2005). Gejala klinis yang terlihat pada kucing ialah disuria, hematuria, pollakiuria, stranguria, dan periuria (urinasi di lokasi yang tidak pantas) serta kucing lebih sering menjilat dirinya secara berlebihan. Penyebab terjadinya LUTD bisanya dikarenakan idiopatik lower urinary tract disease, yang sering disebut idiopatik sisttis (FIC). Bisa dikarenakan adanya Urolithiasis, Urethral Obstruction , infeksi saluran kemih (Forrserter et al. 2008).

38

Ada beberapa

faktor predisposis yang dapat mempengaruhi resiko

terjadinya FLUTD yaitu faktor usia, jenis kelamin, keturunan, dan kondisi tubuh (Hostutler 2005). Kucing berusia 4 dan 7 tahun memiliki resiko yang lebih tinggi terhadap penyakit ini, dan kucing berusia 4 sampai 10 tahun mengalami peningkatan resiko terjadinya urocystolithiasis dan FIC, sedangkan kucing yang lebih tua dari 10 tahun beresiko terkena neoplasia. Beberapa keturunan kucing mengalami resiko LUTD, ada penelitian yang menyatakan bahwa kucing persia, himalaya, dan manx paling sering terinfeksi LUTD (Forrserter et al. 2008).

Kucing jantan yang sudah dikastrasi dan betina yang paling sering mengalami terjadinya FLUTD. Biasanya kucing jantan yang sudah dikastrasi akan mengalami peningkatan struvit oksalat uroliths dan bisanya terjadi peningkatan resiko obstruksi uretra. Berdasarkan penelitian mengenai kucing dengan penyakit trakstus urinarius nonobstruksi, dimana ada 2 kasus yang lebih sering ditemukan adalah Feline Instertitial cystitis (FIC) 55%- 69% dan urolithiasis 13%- 28%. Kebanyakan kasus FLUTD terjadi pada kucing yang berumur 2 dan 6 tahun, LUTD tidak biasa terjadi pada kucing dibawah 1 tahun dan yang di atas 10 tahun. Bobot dan manajeman diet telah dilaporkan sebagai salah satu faktor terjadinya LUTD. Kucing yang mengalami obesitas dan hanya berdiam saja atau malas bergerak memiliki insidensitas LUTD yang lebih besar, sama halnya seperti kucing yang diberi makan dry food sepanjang hari (Hostutler 2005). Cara pemeriksaan FLUTD ialah dengan meraba VU untuk mengevaluasi ukuran, bentuk, kontur, dan ketebalan dinding VU. Adanya nyeri dan massa di dalam lumen harus segera di kaji. Pada kucing jantan, penis dan preputium harus diperiksa untuk kelainan uretra. Jika memungkinkan pasien harus di amati selama buang air kecil untuk mengevaluasi dan mendektesi kelainan seperti urin berdarah (hematuria), pollakiuria, disuria dan stranguria (Forrserter et al. 2008). Dikarekan penyebab terjadinya FLUTD mendiagnosapun sulit dilakukan, banyak maka kesulitan untuk diperlukan langkah untuk

sehingga

pemeriksaan fisik, pH urine, adanya kristal, pendarahan, peradangan, dan infeksi (Cornell feline health center 2010). Tanpa gejala klinis atau kombinasi klinis merupakan keterangan diagnosa LUTD. Membuat diagnosa dengan menyatukan temuan dari signalement, sejarah, pemeriksaan fisik, gejala klinis, perjalaan penyakit. Diagnosa penunjang yang dapat dilakukan adalah dengan cara

39

radiografi dan USG bagian abdomen. Pemeriksaan sedimen urin secara mikroskopis sangat penting dilakukan untuk mengkonfirmasi adanya hematuria, piuria, dan kristaluria. Walaupun pemeriksaan ini metode untuk mendektesi adanya bakteriuria. Terapi untuk penanganan kasus FLUTD yang harus

dilakukan adalah kateterisasi urin sehingga terjadi pengeluaran urin dan kristal dari vu. Pemberian cairan fisiologis intravena atau perinfusi diperlukan ketika sindrom uremia terjadi (depresi, muntah, dehidrasi) dengan tujuan mengganti cairan tubuh dan menstabilkan pH cairan tubuh. Pemberian antibiotik diperlukan untuk mencegah infeksi sekunder oleh bakteri dan obat-obatan

parasimpatomimretik yang menstimulasi otot VU berkontraksi dan relaksasi uretra diperlukan. Dalam beberapa kasus, tindak bedah diperlukan untuk menghilangkan sumbatan atau mencegah terjadinya pengulangan timbulnya kristal mineral. Setelah dipasang kateter kucing dirawat inap, selama rawat inap diberikan terapi antibiotik Amcilin dan infus Ringer Lactate (RL) (Nicklin Way Vet Surgery 2011). Pada kasus kucing ini dirawat inap untuk bisa selalu memantau kondisi. Penanganan yang dilakukan oleh dokter hewan yang berada di RSHJ yaitu dengan memasang kateter dan infus RL. Pemeriksaan dilakukan dua kali sehari dengan cara memflasing VU untuk mengeluarkan urin dan pemberian antibiotika ampicilin. Faktor penyebab terjadinya FLUTD atau sering kita dengar dengan sebutan feline idiopatik cystitis (FIC). FIC adalah abnormalitas vesika urinaria (VU), sistem syaraf pusat (SSP), dan hipotalamus pituitary adernal yang merupaka faktor utama menifestasi klinis FIC, syaraf pelvis dan hypogastric hubungannya dengan syaraf pusat di medulla spinalis yang memberikan inerversi pada VU. Normalnya, bladder urothelium dilapisi oleh

glycosaminoglycan spesifik (GAG) yang biasa disebut GP-51 yang melindungi dari bakteri dan urothelium dari unsur urin yang berbahaya. Manusia dan hewan yang menderita interstitial cystitis dikarenakn berkurangnya jumlah GAG dan GP5. Lapisan GAG pada urothelium akan melindungi dari unsur pada urin yang dapat menyebabkan inflamasi (Byrne et al. 1999).

40

Gambar 12 VU normal dengan urothelium yang utuh dan lapisan glycosaminoglcan (GAG). Urothelium dan GAG sebagai lapisan yang melindungi lapisan di bawahnya dan syaraf sensori dari unsur urin berbahaya.

Gambar 13 Feline interstitial cystitis pada VU kucing. Gambar tersebut menunjukan hilangnya intergritas lapisan glycosaminoglycan dan urothelium. Hilangnya intergritas pada lapisan tersebut akan memepengaruhi kerja syafar sensoris, SSP, dan aktivitas sel mast (Hostutler 2005). Menifestasi klinis dan kejadian kasus ini bisanya menghilang secara

sepontan dalam tiga sampai lima hari, dengan atau tanpa pengobatan . Kucing dengan kasus ini biasanya akan kambuh kembali dalam waktu 6-12 bulan periode. Pada penderita FIC tidak menunjukan gejala klinis yang spesifik,

sehingga pemilik harus lebih teliti terjadinya periuria. FIC paling umum terjadi

41

pada usia kurang dari 10 tahun. Stres dan diet dapat meningkatakan terjadinga FIC, kucing sebanyak 40-50 % dalam setahun memiliki resiko terjadinya kasus ini. Terapi manajemen nutrisi merupakan pengobatan yang penting dalam menanganai kasus ini. Manajemen nutrisi sangat direkomdasikan pada kucing yang terinfeksi FIC, bersaman dengan manajeman prilaku (Cornell feline health center 2010) . Diet yang konsisten, dimana makan yang baik diberikan kepada penderita FIC adalah makanan basah dengan kemasan kaleng, dari pada membarikan pakan kering akan menyebabkan cepat kembali terjadinya FIC, selain itu untuk mengurangi terjadinya FIC ini bisa dilakukan dengan menambah asupan air. Jika kasus ini masih terus berulang, bisa diberikan

glycosaminoglycan (GAG) yang diaplikasikan secara oral. Dimana mekanisme obat ini kan diekskresikan memalui urin serta dalam bentuk ureum, yang menurunkan permeabilitas dinding vesica dan rendahnya peradaangan pada syaraf. Obat-obat lain yang bisa diberikan yaitu clomipramine, fluoxetine, dan buspirone. Pemberian diazepam tidak dianjurkan kerena dapat menyebabkan nekrosa hati kucing (Hostutler 2005). Urolitiasis (kencing batu). Pembentukan batu kemih didalam kandungan kemih dan uretra ini dikarenakan akumulasi mineral yang terbentuk di saluran kemih kucing. Untuk mendiagnosa bisa dengan menggunkan X-ray atau USG. Yang sering terlihat dalam uroliths adalah kalsium oksalat dan struvite. Cara penangan kasus ini bisa dengan menerapkan diet, jika diet gagal dan terbentuk kembali batu maka operasi yang harus dilakukan untuk mengeluarkan batu yang yang ada VU (Cornell feline health center 2010). Uretral obstruction paling

banyak terjadi pada kucing jantan, penyebab ini belum diketahui. Namum faktor predisposisi yang sangat tinggi terjadi pada kucing jantan dibandingkan kucing betina. Hal ini dikarenakan lumen uterra penisnya sempit sehingga adanya urolit dapat menyebabkan obstruksi pada kucing. Kucing yang mengalami obstruksi harus diperlakukan sebagai kasus darurat. Penanganan yang harus segera ditangan ini ialah pemasangan cateter dengan melakukan cystosentesis dan dekompres (menurunkan tegangan). Jika penangan medis masih gagal, kemungkinan yang bisa dilakukan ialah dengan cara uretrostomi perianal. Pembedahan ini dilakukan pada hewan yang keadaanya parah (Smith 2002). Infeksi saluran kemih bisa dikarenakan bakteri, jamur, parasit atau mungkin virus. Meskipun infeksi bakteri lebih sering terjadi daripada jamur, parasit, atau virus namun relaif terjadi pada kucing. Biasanya infeksi saluran kemih disebabkan

42

adanya penyakit yaitu diabetes dan uroliths yang dapat meningkatkan resiko infeksi saluran kemih. Penyakit gagal ginjal dan diabetes lebih sering terjadi pada kucing yang lebih tua dari 10 tahun. Pada kucing muda infeksi saluran kemih penyebab FLUTD kurang dari 5% hal ini dikarenakan kandungan asam dan konsentrasi urin yang dapat mencegah infeksi. Pengobatan untuk infeksi saluran kencing tergantung pada tingkatan keparahan infeksi dan organisme penyebab infeksi, terapi cairan dan antibiotik bisa diberikan (Cornell feline health center 2010). Perawatan selama 3 hari kucing terlihat membaik urin yang

dikelurkan sudah kembali normal.

8. TUMOR TESTIS Anamesa Kedua testis terlihat membesar dan menggantung jauh kebawah. Signalemen Tanggal Nama Jenis hewan Ras Warna Jenis Kelamin Umur Berat badan Tanda khusus Temuan Klinis Aktivitas Nafsu Makan Minum Defekasi Urinasi Vomit : Lincah : Menurun : Normal : Normal : Normal : Tidak ada : 19 Oktober 2013 : Miki : Anjing : Labrador : Kream : Jantan : 12 tahun : 22 kg :-

43

Batuk Bersin Status Present Berat badan Suhu SLN VMM Nasal discharge Eyes discharge Telinga Oral Kulit Diagnos Prognosa Terapi

: Tidak ada : Tidak ada

: 18 kg : 38.9 C : Tidak bengkak : Rose : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tumor penis : Dubius : Operasi kastrasi

Tabel 7 Kondisi harian pasca operasi tumor testis Tanggal 19/10/2013 Kondisi Hewan lemas, belum mau makan, mau minum Urinasi: + Hewan masih lemas, mulai makan, minum baik Urinasi:+ Hewan mulai aktif, mau makan dan minum Urinasi:+ Defekasi:+ Hewan mulai aktif, mau makan dan minum Urinasi:+ Defekasi:+ Hewan mulai aktif, mau makan dan minum Urinasi:+ Defekasi:+ Jahitan sudah kering Malamnya pulang Terapi T/ Ampicilin 5 cc/IV (2x) T/ infus RL T/ Ampicilin 5 cc/IV (2x)

20/10/2013

21/10/2013

T/ ampicilin 5 cc/IV (2x)

22/10/2013

T/ ampicilin 5 cc/IV (2X)

23/10/2013

T/ampicilin 5 cc/IV (2X)

44

Pembahasan Seekor anjing yang bernama miki datang ke RSHJ dengan terlihat testis membesar dan menggantung, setelah dilakukan pemeriksan diagnosa yang dapat diberikan adalah anjing miki mengalami tumor testis. Tumor atau yang sering disebut dengan kata neoplasama merupakan semacam benjolan. Tumor testis merupakan pertumbuhan yang tidak terkontrol dari sel-sel testis yang telah mengalami transformasi (abnormal), yang bisa menyebabkan testis membesar atau menyebabkan adanya benjolan di dalam skrotum. Tumor dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu tumor jinak dan ganas. Ciri dari tumor jinak pertumbuhannya lambat, tidak menyerang atau merusak jaringan sekitarnya, dan tidak menyebar ke bagian tubuh lainya. Tumor ganas berpotensi mengancam hidup pasein, berbagai macam jenis tumor ganas adalah karsinoma, sarkoma, dan limfoma (Eldredge et al. 2007). Dewasa ini kejadian tumor testis terjadi pada anjing dan manusia sering dilaporkan, ada beberapa data yang dipublikasikan tentang frekuensi terjadinya tumor pada testis anjing. Pemeriksaan histologis testis dikumpulkan pada nekropsi dari 100 anjing, sebanyak 41 tumor yang diamati yang terdiri 19 semioma, 16 tumor sel interstitial, dan 4 sertilo cell tumor. Dari ketiga jenis tumor ini, tumor sel sertoli merupakan tumor yang berbahaya karena memiliki potensi yang besar untuk menyebar keorgan lain dan 50 % tumor ini menyebabakan peningkatan estrogen. Estrogen ini dapat menyebabakan pembesaran payudara dan pembesaran kantung penis sehingga terlihat menggantung kebawah. Tumor testis jarang terjadi pada kucing kebanyak kucing jantan dikastrasi pada usia muda (Client information series 2011). Penyebab spesifik tumor testis belum diketahui, namun, testis tidak turun dan usia lanjut merupakan faktor risiko. Tumor testis sering terjadi pada anjing jantan tua yang belum dikastrasi. Ratarata usia anjing sekitar 10 tahun yang sangat rentan terkena tumor testis. Gejala klinis adanya tumor testis terlihat adanya pembengkakan atau benjolan pada salah satu atau kedua testis, pembesaran skrotum, rambut rontok, hiperpigmentasi (penggelapan kulit), inflamasi disepanjang garis preputium. Tanda lainnya yang terlihat puting susu memanjang, pembesaran payudara, atrofi penis, preputium bengkak, dan terlihat anemis. Perubahan prilaku yang terlihat anjing seperti jongkok untuk buang air kecil, libido menurun (Degner 2010).

45

Seorang dokter hewan dapat mendiagnosa adanya tumor testis dengan cara pemeriksaan fisik pada hewan secara inpeksi dan palpasi, melihat dari gejala klinis yang terlihat, pemeriksaan darah CBC, profil biokimia, urinalisis, xray dada dan perut, USG perut dan skrotum, aspirasi jarum halus dari massa testis dan histopatologi (biopsi) dari testis (Degner 2010). Treatment yang

dilakukan untuk mengatasi tumor testis dapat melakukan pembedahan yaitu kastrasi (Gambar 14), jika penyeberan tumor testis ini sudah bermetastasis bisa dilakukan radiasi dan kemoterapi (Client information series 2011). Penanganan yang dilakukan oleh dokter yang berada di RSHJ dalam kasus ini ialah pembedahan dengan mengaangkat kedua testis (kastrasi). Tujuan utama dari pembedahan kastrasi untuk mengangkat testis hewan. Testis merupakan organ primer dari alat reproduksi jantan yang menghasilkan spermatozoa dan hormonhormon reproduksi, khususnya testosteron. Salah satu tujuan kastrasi ini dapat mengurangi atau mencegah penyakit tertentu yang berhubungan dengan hormon androgen seperti penyakit prostat, kanker/tumor testis, hernia perianal, dan mengurangi gangguan endokrin. Indikasi lain dilakukan prosedur orchiectomy adalah sebagai salah satu pilihan terapi dalam menangani kasus-kasus patologi pada testis atau scrotum (Bright 2011).

Gambar 14 Operasi kastrasi

46

Beberapa treatment yang dapat dilakukan untuk menangani kasus tumor atau kanker disajikan pada Tabel 8. Tabel 8 Treatment kasus tumor atau kanker Pembedahan Bedah dapat menghilangkan tumor atau dapat membuat lebih kecil sehingga jika dilakukan kemoterapi dan radiasi lebih efektif. Resiko anestesi, masalah perdarahan, dan pasca operasi Kemoterapi Kemoterapi digunakan untuk membunuh sel-sel kanker. Efek samping anjing dapat mersakan mual, kekebalan tubuh menurunkan, dan masalah perdarahan. Tidak semua kanker rentan terhadap kemoterapi. Radiasi Radiasi menggunakan khusus sinar-X untuk merusak jaringan kanker. Efek samping termasuk pengelupasan jaringan, menurunkan kekebalan tubuh, dan kerusakan pada jaringan normal. Tidak semua kanker rentan terhadap radiasi. Cryotherapy Cryotherapy menggunakan probe untuk membekukan jaringan kanker. Tujuannya adalah untuk menghancurkan kanker dengan sedikit kerusakan di sekitarnya jaringan normal. Ini hanya tersedia pada rujukan hewan. Tidak semua kanker rentan terhadap cryotherapy dan lokasi tumor dapat membuat terapi ini tidak mungkin. Hyperthermy Hyperthermy menggunakan probe panas atau radiasi untuk menghancurkan jaringan kanker. Tidak semua kanker rentan terhadap kerusakan akibat panas. Letak kanker dapat membuat terapi ini tidak mungkin. Diet Diet telah terbukti dapat membantu dalam mengontrol kanker. Diet pemberian karbohidrat dan protein. Diet ini akan membuat hewan cenderung lapar. Dalam keadaan kelaparan sel-sel kanker dapat membantu sel-sel normal tetap baik. Imunoterapi imunoterapi menggunakan reaksi kekebalan tubuh untuk melawan kanker sel. Metode ini dapat menggunakan pengubah imun non spesifik seperti interferon, atau vaksin khusus dirancang untuk kanker individu. Sumber: Eldredge et al. 2007 Cara lain bisa dilakukan biopsi testis merupakan teknik yang digunakan untuk membantu mendiagnosis lesio yang terjadi pada testes, misalnya neoplasma. Biopsi pada lesio ini penting dilakukan untuk membantu diagnosa terhadap lesio tersebut, sehingga dapat diketahui langkah pengobatan selanjutnya (Morris & Dobson 2001). Perawatan pasca operasi dilakukan setiap pagi dan sore hari dengan memberikan antibiotika Ceftriaxone secara IV.

47

SIMPULAN DAN SARAN

48

DAFTAR PUSTAKA Agudelo CF. 2005. Cystic endometrial hyperplasia-pyometra complex in cats. VetQuart 27(4):173-182. Albuquerque C, Morinha F, Requicha J, Martins T, Dias I, et all. 2012. Canine periodontitis: The dog as an important model for periodontal studies. J Vet. 191: 299305. Almgren CM. 2013. Acetaminophen (Tylenol) poisoning alert for dogs and cats. Pet poison helpline. www. Petpoisonhelpline.com. Barton S. 2005. Acetylcysteine for Acetaminophen Overdose. Poison Control Center expresses 7: 1-4. J The Utah

Bigliardi E, Parmigiani E, Cavirani S, Luppi A, Bonati L, Corradi A. 2004. Ultrasonography and cystic hyperplasiapyometra complex in the bitch. Reprod Domest Anim 39:136-140. Bright RM. 2011. Castration of Male Dogs. Saunders, an imprint of Elsevier Inc. All rights reserved [Terhubung Berkala]. http://www.aptoscreeksidepets.com/site/1514apto/Castration_of_Male_Dogs.pdf. [5 November 2013]. Bright SJ & Post LO. 2008. Veterinary Antidotes and Availability: An Update. division of surveillancev office of surveillance and compliancev center for veterinary medicinev food and drug administrationv 7519 standish placev rockville: maryland 20855. Bush. BM. 1991. Interpretation of Laboratorium Result for Small Animal Clinicians. Blackwell Scientific publications: London. Byrne DS, Sedor JF, Estojak J. 1999. The urinary glycoprotein GP51 as a clinical marker for interstitial cystitis. J Urol 161:178690. Client information series. 2011. Testicular tumor. Hills Pet Nutrition, Inc [Terhubung Berkala]. http://www.hillsvet.com/pdf/enus/testicularTumor_en.pdf. [5 November 2013]. Cornell Feline Health Center. 2010. Feline lower urinary tract disease. American Veterinary Medical Association [ Terhubung Berkala]: www.avma.org [5 November 2013]. Cox ER dan Lepine AJ. 2002. Nutritional influences on dental health in the field dog. In Nutrition and Care of the Sporting Dog. Dayton: USA. Darsono L. 2002. Diagnosis dan terapi intoksikasi salisilat dan parasetamol. Bagian Farmakologi fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha. Bandung. Vol 2:1. DeBower LJ. 1998. The effect of dental desease on systemic disease. Canine Dentristry 28: 1057-1062.

49

Degner A. 2010. Surgery Service. Michigan Veterinary Specialists [Terhubung Berkala]. www.michvet.com [5 November 2013]. Eisner ER. 1989. Periodontal disease in pets: The Patogenesis of a preventable problem. Vet Med 1989; 1364. Eldredge DM, Carlson DG, Carlson LD, Giffin JM. 2007. Dog Owners Home Veterinary Handbook. New Jersey: Wiley Publishing. Feldhamer GA, Vessey SH, Drickamer LC. 1999. Mammalogy: Adaptation, Diversity, and Ecology. USA: McGraw-Hill. Feldman EC, Nelson RW. 2004. Canine and Feline Endocrinology and Reproduction. Ed ke-3. USA: Saunders. Forrester SD, Kruger JM, Allen TA. 2008. Feline lower urinary tract disease.Veterinary Clinics of North America: Small Animal Nutrition 46: 921-976. Fossum TW. 2012. Small Animals Surgery Fourth Edition. J ELSEVIER. Gilshenan L. 2003. Why we should desex our pets. [terhubung berkala]http://www.gsdcqld.org.au/whydesexourpets.htm [28 Oktober 2013]. Greenwell H. 2001. Committee on Research, Science and Therapy, American Academy of Periodontology. Position paper: Guidelines for periodontal therapy. J of Periodontology 72: 16241628. Harvey C. Emily P. 1993. Small Animal Dentistry. Mosby year book inc, St. Louis. Harvey CE. 1998. Periodontal disease in dogs: Ethiopathogenesis, prevalence, significance. Canine Dentistry 28:1111-1128. Hostutler RA. 2005. Recent concepts in feline lower urinary tract disease. J Vet clin small anim 35:147-170. Jubb KVF, Kennedy PC, Palmer N. 1993. Pathology of domestic animal. London: Academi press Inc.Professionals. Krohne SG. 2009. Subconjunctival Enucleation Surgery in dogs & Cats. Navc clinicians brief. Surgical Suite. Procedure Pro [7/11/2013]. Lobprise HB. 2007. Periodontal disease: Periodontitis. In: Lobprise, H.B. (Ed.), Blackwells Five Minute Veterinary Consult Clinical Companion Small Animal Dentistry, First Ed. Ames Iowa State University Pr: USA. Morris J, Dobson J. 2001. Small Animal Oncology. Blakwell Science: USA. Murphy KM. 2011. Otitis: Diagnosis and treatment. North Carolina: University College of Veterinary Medicine Raleigh, NC 27607. Natasha M. 2008. Enucleation in companion animals. J Irish Vet 61: 2

50

Nicklin Way Vet Surgery 2011. Feline lower urinary tract disease.[Terhubung Berkala]: www.nicklinwayvet.com.ua [5 November 2013]. Niemiec BA. 2008. Periodontal Therapy. Topics in Companion Animal medicine 23: 81-90. Pet Kare Clinic. 2008. Otitis externa. Client handout from cote, clinical veterinary advisor, elsevier. Rosser EJ. 2004. Cause of otitis externa. J Vet Clin Small Anim 34: 459468. Smith CW. 2002. Perineal urethrostomy. J Vet Clin N Am Small Anim Pract 32(4): 1725. Smith FO. 2006. Canine pyometra. Theriogenology 66: 610-612. Sumioka I, Matsura T & Yamada K. 2004. Acetaminophen-Induced Hepatotoxicity: Still an Important Issue. Acta Medica; 47: 17-28. Susana N. 1987. Pengaruh pemberian seduhan rimpang temulawak terhadap hepatotoksisitas parasetamol pada mencit jantan [skripsi]. Yogyakarta: Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada. Tabers Cyclopedic Medical Dictionary, 16th edition. Philelphia: F.A. Davis Co., !989: 1364. Watson A. 1994. Diet and periodontal diaseasevin dog and cat s. J Aust Vet. 71: 313-318. Wheaton LG et al. 1989. Results and complications of surgical treatment of pyometra: A review of 80 cases. JAAHA 25(5):563-568.

51

LAMPIRAN