Anda di halaman 1dari 23

BAB 2 Empat Proses dalam Belajar Sains

Dengan melihat lebih dalam bagaimana siswa belajar sains, penelitian mutakir menemukan cara baru untuk berfikir tentang apa yang terjadi di kelas sains. Buku-buku tentang pengajaran sains telah sering memaparkan perbedaan yang cukup dalam tentang isi sains dan proses sains. Isi sains bisa diartikan sebagai hasil yang terkumpul dari sains seperti observasi-observasi, bermacam fakta, dan teori-teori yang diharapkan akan di pelajari oleh siswa. Proses bisa diartikan sebagai keterampilan sains yang diharpakan dikuasai oleh siswa. Keterampilan itu bisa jadi seperti merancang penelitian, membuat pemngukuran, dan melaporkan hasil penelitian. Yang mendasari argumen dalam buku in, bagaimanapun, adalah suatu cara berfikir baru tentang apa yang dimaksud dengan menjadi cakap di bidang sains dan kerangka kerja untuk kemajuan dan mendapatkan kecakapan. Kerangka kerja ini berdasarkan pada pandangan sains sebagai tubuh pengetahuan dan pengetahuan yang berdasarkan bukti, keberanian merancang contoh yang secara berkalanjutan berkembang, mempertajam, dan memperbaharui sains atau ilmu pengetahuan. Kerangka kerja seperti ini begerak melebihi sebuah fokus pada perbedaan antara isi atau pengetahuan dan keterampilan-ketrampilan proses. Memahami hal ini berarti bahwa dalam sains, isi dan proses adalah dual hal yang tidak bisa di pisahkah. Hubunngan antara isi dan proses sains menjadi sangat penting karena proses-proses sains hampir selalu terjadi saat siswa memikirkan tentang isi sains yang spesifik. Ketika siswa menggunakan ide-ide mereka tentang dunia alam untuk merancang investigasi atau berargumen tentang bukti , hal ini akan memperkuat pemahaman mereka tentang fenomena maupun cara cara yang digunakan untuk menyelidiki fenomena-fenomena tersebut. Lebih jauh lagi, memisahkan isi dan proses sains adalah hal yang tidak kosisten dengan atau tidak sejalan dengan apa yang sekarang diketahui dengan cara sesungguhnya ilmuan melakukan sains. Dari pada menggambar perbedaan antara isi dan proses sains, kita akan mendefenisikan dan menggambarkan empat proses yang mencakup pengetahuan dan

keterampilan-keterampilan menyampaikan alasan yang harus di dapatkan siswa sehingga siswa dianggap pandai dalan sains. Proses proses belajar ini juga menggabungkan praktikpraktik sains yang perlu dikuasai siswa untuk menunjukan kemapuan sains mereka. Proses dalam kecakapan sains ini berdasarkan temuan dari dokumen standard sains seperti Benchmark untuk Melek Sains dan Standard Pendidikan Sains Nasional. Dokumen ini mengatur tujuan dasar dari pendidikan sains dan lebih menekankan pada sains sebagai penyelidikan. Proses dalam kecakapan sains membentuk kerangka kerja untuk memikirkan unsur unsur praktik dan pengetahuan sains. Hal ini bisa sangat berguna bagi pendidik untuk merencanakan dan menilai pembelajaran siswa dikelas dan di dalam sistim sekolah secara umum. Hal ini juga bisa menjadi alat yang sangat berguna untuk mengidentifikasi sains yang di tekankan di dalam panduan kurukulum, buku teks, atau penilaian.

Empat Proses
Proses-proses ini menawarkan sebuah sudut pandang yang baru dalam pelajaran sains, dan hal ini memperkuat ide pengetahuan dalam penggunaan-ide bahwa pengetahuan siswa tidak kaku. Malahan siswa membawa kemampuan-kemapuan tertentu ke sekolah dan membangun kemampuan-kemapuan tersebut melalui pengalaman pendidikan sains K-12 mereka, baik di kelas maupun di luar kelas. Kecakapan meliputi penggunaan semua empat proses ini untuk sukses dalam praktik-praktik sains. Aspek penting lain dari proses ini adalah bahwa proses-proses ini seperti tali. Penelitian menunjukan bahwa setiap proses mendukung proses-proses yang lainnya, sehingga kemajuan pada suatu proses akan membantu kemajuan pada proses yang lain. Contohnya, ada bukti bahwa siswa bisa membuat penghasilan besar pada pengetahuan dasar mereka ketika diberikan kesempatan untuk melakukan sains, dan alasan ilmiah cenderung menjadi paling kuat dalam bidang orang yang lebih banyak pengetahuannya. Siswa sepertinya akan membuat kemajuan pada sains ketika kelas menyediakan ke sempatan untuk mngembangkan empat proses ini. Banyak pendidik sains mungkin mau menerjemahkankan proses-proses dalam bahasa dan konsep-konsep dalam pendidikan sains-contohnya, memetakan proses isi, proses dan hakikat sains, dan partisipasi berturut-turut. Tapi perlu diperhatikan bahwa proses ini dikembangkan karena Panitia pada Pembelajaran Sains memikirkan asumsi baru tentang apa

yang merupakan isi, proses, dan hakikat sains tidaklah cukup. Tiga proses utama memperbaharui dan mengembangkan ide ide yang sama tentang isi, proses dan hakikat sains pada hasil penelitia yang lebih baik dan mecakup penekanan yang lebih besar pada penerapan ide-ide. Proses 1: Memahami Penjelasan Ilmiah. Untuk cakap dalam sains siswa perlu mengetahui, menggunakan, dan menerjemahkan penjelasan ilmiah dunia alam. Mereka harus bisa memahami interrelasi antara konsep sains penting dan menggunakannya dalam membangun dan mengkritik argumen ilmiah. Proses ini mencakup hal-hal yang biasanya dikategorikan sebagai isi, tapi ia fokus pada konsep dan hubungan-hubungan antara fakta-fakta yang berbeda. Itu juga mecakup kemampuan penggunaan pengetahuan ini. Contohnya, dari pada menghafal defenisi seleksi alam, seorang anak yang menunjukan kemapuan dalam penjelasan sains akan mampu menerapkan konsep dalam skenario baru. Pada penemuan spesies awal, seorang anak mungkin berhipotesis tentang bagaimana variasi yang terjadi secara alami mengakibatkan kecocokan organisme dengan lingkungannya. Bagian dari proses ini meliputi pembelajaran fakta-fakta, kosep-konsep, prinsipprinsip, hukum-hukum, teori-teori, dan model-model sains. Sebagaimana Standard Pendidikan Sains Nasional menyatakan: Memahami sains membutuhkan seorang individu untuk mengintegrasikan struktur yang kompleks dari bermacam pengetahuan, meliputi ideide sains, hubungan antara ide-ide, alasanadanya hubungan ini, cara-cara menggunakan ide ide tersebut untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena alam lainnya, dan cara cara mengaplikasikannya pada banyak kegiatan. Proses 2: Menemukan Bukti Ilmiah Bukti adalah jantung pada kegiatan ilmiah. Kecakapan dalam sains mencakup menemukan dan mengevaluasi bukti sebagai bagian dari membangun dan merevisi contoh dan penjelasan dunia alam. Proses ini meliputi hal-hal yang mungkin dianggap sebagai proses tapi ia berubah konsep untuk menekankan teori dan aspek-aspek yang membangun model sains.

Proses 2 meliputi pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk membangun dan menyempurnakan model dan penjelasan, desain, dan menganalisa penemuan, dan membangun dan mempertahankan argumen dengan bukti-bukti. Contohnya, proses ini mencakup pengenalan ketika ada bukti yang cukup untuk membuat kesimpulan dan menentukan data tambahan apa saja yang diperlukan. Proses ini juga mencakup penguasaan alat-alat hitung, fisika, matematik, dan konsep yang perlu diaplikasikan dalam membangun dan mengevaluasi kebenaran pengetahuan. Oleh karena itu ia meliputi praktik dalam cakupan yang luas yang terlibat dalam mendisain dan menemukan investigasi ilmiah. Hal ini meliputi meminta pertanyaan, menentukan apa yang akan di ukur, mengembangkan ukuran, mengumpulakan data dari pengukuran, membangun data, menerjemahkan dan mengevalusi data, dan menggunakan hasil untuk mengembangkan dan memperbaharui argumen, model, dan teori- teori. Proses 3: Menampilkan Pengetahuan Ilmiah Pengetahuan ilmiah bangkit sendirinya seiring perjalanan waktu. Pelajar sains yang cakap memahami bahwa pengetahuan ilmiah bisa di revisi saat bukti baru ditemuakan. Mereka juga bisa melacak dan membantah ide mereka sendiri saat ide-ide tersebut berubah seiring waktu. Proses ini meliputi ide-ide yang biasanya di anggap bagian dari pemahaman hakikat sains, seperti sejarah ide-ide ilmiah. Bagaimanapun, ia fokus pada bagaimana pengetahuan ilmiah dibangun. Begitulah, bukti dan argumen yang berdasarkan bukti yang ditemukan. Hal ini juag meliputi kemapuan siswa untuk merefleksikan kondisi pengetahuan mereka. Proses 3 membawa hakikat sains kedalam praktik, merangsang siswa untuk belajar bagaimana rasanya melakukan sains, juga memahami tentang permainan sains. Proses 3 fokus pada pemahaman siswa terhadap sains sebagai cara mengetahui. Pengetahuan ilmiah adalah suatu pengetahuan tertentu dengan ketidak pastian, sumber, dan buktinya sendiri. Siswa mengetahui bahwa prediksi dan penjelasan bisa direvisi berdasarkan bukti baru, dengan mempelajri fakta-fakta baru, atau pengembangan model baru. Dengan cara seperti ini siswa belajar bahwa mereka menggunakan ide mereka untuk menganalisa. Ketika siswa paham hakikat dan pengembanagn pengetahuan ilmiah, mereka tahu bahwa sains mengikuti pencarian penjelasan inti dan hubungannya. Siswa memahami bahwa

mungkin ada banyak penafsiran terhadap fenomena yang sama. Mereka memahami bahwa penjelasan sangat berharga saat penjelasan tersebut bisa menjadi bukti yang lebih lengkap. Mereka juga memahami nilai dari npenjelasan dalam menemukan pertanyaan baru dan produktif untuk penelitian. Proses 4: Partisipasi Secara Produktif dalam Sains Sains adalah proyek sosial yang diatur oleh suatu kesatuan nilai-nilai dan normanorma untuk bisa berpartisipasi didalamnya. Kecakapan dalam sains mengikuti partisipasi yang penuh keahlian dalam komunitas sains di kelas dan menguasai cara cara produktif dalam menyampaikan ide-ide, menggunakan alat-lata ilmiah, dan berintearaksi dengan teman sejawat dalam sains. Proses ini meminta siswa untuk memahami norma-norma yang tepat dalam penyampaian argumen ilmiah dan bukti, dan untuk mempraktikan interaksi sosial produktif dengan teman sejawat dalam konteks penelitian sains kelas. Hal in juga meliputi motivasi dan sikap yang membentuk fondasi bagi siswa untuk terlibat secara produktif dan aktif di kelas sains. Proses 4 meletakan sains dalam pergerakan dan koteks sosial, menekankan pentingnya melakukan sains dan melakukannya bersama dalam group. Seperti ilmuan, siswa sains mendapat keuntungan dari berbagi ide dengan teman sejawatnya, membuat tafsiran penemuan, dan bekerja sama untuk menentukan penemuan mana yang paling berpengaruh. Proses 4 sangat sering diabaikan oleh pendidik, tapi penelitian menandakan bahwa ini merupakan bagian yang sangat penting dalam pembelajaran sains, khususnya bagi siswa dari masyarakat yang belum terpapar sains. Siswa yang memandang sians bernilai dan menarik cenderung menjadi pelajar sains yang pintar dan menjadi pesearta dalam sains. Mereka percaya bahwa usaha yang terus menerus dalam memahami sains akan terbayar- bahwa beberapa orang memahami sains dan yang lain tidak pernah paham. Cara terbaik untuk mulai memahami tentang empat proses kecakapan ilmiah dan hubungan timbalbaliknya adalah dengan melihat mereka bekerja sama dikelas, sebagaimana diilustrasikan dalam studi kasus dibawah ini (lihat gambar hal 21).

Kelas Sains
Keanekaragaman Hayati di Halaman Sekolah Gregory Walker berfikkir bahwa siswa kelas 5 di Massachusettsn didominasi oleh siswa miskin pinggir kota. Waktu itu adalah tahun keempat ia mengajar, dan dia masih belajar bagaimana cara mengatur kelas, bagaimana cara merencanakan dan menampilkan aktifitas belajar yang menarik bagi siswa yang sangat heterogen. Saat itu sekolahnya sedang bekerja keras untuk meningkatkan prestasi siswa untuk mencapai target yang diminta oleh ujian negara. Lebih dari 75 persen siswa disekolahnya puas dengan makan siang yang gratis dan di subsidi, dan daerahnya dianggap sebagai daerah terbelakang dan dalam pengawasan negara. Dengan tantangan-tantangan ini, guru-guru di sekolah Mr. Walker berbagi tugas, penuh energi, mau membuka pintu mereka, kolega dan orang tua, dan mau saling membagi kesuksesannya. Untuk beberapa tahun terakir, sekolah telah bekerja keras dalam peningkatan kemampuan membaca dan menulis, pretasi matematika dengan hasil yang memuaskan. Sekarang sekolah itu mengarahkan perhatiannya pada sains. Sekolah telah menunjuk panitia dari guru dan spesislis kurikulum untuk bekerja sama selama satu tahun untuk membuat rekomendasi kurikulum sains yang baru. Pada saat yang sama guru diminta berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi permintaan standard sains negara dan mempersiapkan siswa kelas 5 untuk mengikuti ujian sain negara. Kelas sains Mr. Walker menggunakan buku teks yang lama dan peralatan sains usang yang sudah kehilangan beaberapa bahan ajar penting. Dia sering begadang tengah malam untuk menemukan ide kegiatan pengajaran sains yang menarik bagi siswanya, tapi ia tidak pernah merasa cukup mengetahui cara menemukan pelajaran sains yang menarik. Bagaimanapun ia sangat tertarik pada keanekaragaman hayati, sebuah topik yang ditekankan dalam standard nasional, walaupun topiknya tidak dikembangkan dengan baik baik dalam buku teks maupun pada peralatan yang tersedia. Ketertarikan Mr. Walker pada keanekaragaman hayati bukannya tidak berdasar. Ia telah mengambil mata kuliah biologi saat kuliah yang di ajar oleh seorang professor karismatik. Dia menjelaskan pada siswanya keanekaragaman hayati membutuhkan

pemahaman sebuah dunia detail, sementara fisika, kimia, dan aspek mekanis biologi lebih sering memerlukan pemahaman yang dalam tentang prinsip-prinsip dan keterampilanketrampilan untuk mengaplikasikannya. Dia berkata bahwa kemampuan untuk mengajar keanekaragaman hayati memerlukan pengetahuan karakteristik dan kebiasaan yang membedakan suatu individu, spesies, gen, keluarga, urutan, dan kelas dengan yang lainnya. Ini diperlukan untuk membantu siswa menyerap alat-alat dan kecenderungan untuk melihat dan mengkategorikan variasi dalam dan diantara spesies. Ini membutuhkan pengetahuan yang dalam tentang fungsi-fungsi dan jenis ekosistim. Dan juga ini memerlukan kesadaran sejarah evolusi, geologi, dan manusia. Dengan alsan alasan ini, kelasnya didisain untuk mengajarkan mahasiswa bagaimana mengajarkan keanekaragaman hayati walaupun dirtawarkan melalui jurusan biologi. Professor itu berharap bahwa mahasiswanya akan mengajarkan keanekaragaman hayati pada orang lain. Mr. Walker memutuskan bahwa ia bisa mengaplikasikan pelajaran pelajran yang telah ia pelajari selama kuliah untuk pengajaran sains kelas 5. Karena sebagian besar mata kuliah keanekaragaman hayati mempesiapakan panduan lapangan berdasarkan perjalanan akhir pekan, dia dan koleganya guru kelas 2 Alicia Rivera memutuskan untuk bekerja sama untuk mengembangkan proyek tahunan pemetaan tumbuhan dan tanaman yang ada di halaman sekolah. Untuk menyiasati kekurangan bahan ajar sains, dia dan Ms. Rivera memutuskan untuk menggabungkan pekerjaan lapangan dengan teknologi sederhana yang menggunakan komputer dan pemindai yang dibawa Mr.Walker dari rumah, dan juga website sekolah. Mereka membayangkan bahwa awal dari tugas sederhana katalog spesies di halaman sekolah mereka akan memakan banyak waktu bagi siswa. Ketika semakin sedikit spesies yang ditemukn, siswa bisa mulai fokus mengamati kebiasaan spesies yang berbeda dan merubah kepadatan dan penyebaran populasi. Dari mata kuliah yang telah diambil oleh Mr. Walker, dia mengetahui bahwa memilih keanekaragaman hayati sebagai tema yang memberikan kesempatan untuk mngembangkan prinsip prinsip dasar bialogi yang penting untuk pemikiran evolusi, seperti: Organisme bisa digambarkan sebagai kumpulan dari materi dan bisa dikelompokkan berdasarkan variasi diantara materi-materi ini.

Perubahan dari materi yang terpilih dari organisme (seperti tinggi tumbuhan) bisa dicontohkan secara matematika, sehingga studi perbandingan pola perubahan bisa dilakukan pada level organisme, sebuah level dengan penampilan yang menakjubkan bagi siswa yang menanam tumbuhan mereka sendiri atau merawat serangga mereka.

sejarah alam dari organisme (contohnya siklus kehidupan) bisa digambarkan dan dibandingkan. Pertumbuhan bisa digabungkan dalam beberapa level (genotip, fenotip, populasi). Pertumbuhan populasi bisa di modelkan secara matematika. Penurunan sifat dan seleksi mengubah penyebaran materi terpilih dari populasi, memberikan maksud yang jelas tentang perbedaan pada level analisis.

Selanjutnya, pada persiapan Mr. Walker dan Ms. Rivera menghabiskan waktu mendiskusikan penemuan sains halaman belakang sekolah. Mereka mencari panduan lapangan dan sumber teks lain yang membantu mereka melihat bahwa memahami kebiasaan itu sangat penting dalam ilmu biologi dan ilmu sosial dan mengikuti penyerapan konsepkonsep yang saling berhubungan, meliputi: Gambaran dari bermacam tingkah laku pada level yang detail (contohnya mikro ke makro) dan cakupan aplikasinya (contohnya tingkah laku individu, grup, populasi,dan spesies ). Semua organisme yang mempunyai kumpulan tingkahlaku menjadikannya spesies kusus. Yang satu bisa mengidentifikasi tingkah laku yang sama. Beberapa tingkah laku ada yang otomatis, dan tidak fleksibel, yang lain dibawah kontrol dan fleksibel Bentuk dan/ fungsi tingkah laku mungkin berubah saat perkembangan organisme. Kadang tingkah laku mempertahankan bentuknya ketika fungsinya berubah; diwaktu lain organisme mengembangkan tingkah laku baru untuk mendapatkan fungsi yang sama. Mr. Walker dan Ms. Rivera menghabiskan waktu membahas sumber matematika yang berguna untuk mocontohkan tingkah laku, mencakup tindakan covariasi, penyebaran, fungsi, dan pengelompokan model. Mr. Walker membawa catatan kuliahnya tentang model khusus

area yang bisa dikembangkan oleh siswa, termasuk aturan-aturan, program-program, etnogram, dan model yang memproses informasi. Mr. Walker dan Ms. Rivera juga mempunyai banyak siswa berbahasa spanyol di rumah dan sedikit siswa yang baru belajar bahasa Inggris. Harapan mereka adalah bahwa proyek itu bisa membuat siswa tertarik baik yang berbahasa inggris maupun spanyol untuk membuat panduan lapangan bilingual on line yang secara berkelanjutan dan bisa diperbaharui. Mr. Walker dan Ms. Rivera memulai proyek dengan acak membagi halaman menjadi dua bagian. Siswa kelas dua mengambil bagian barat yang meliputi halaman depan sekolah yang berumput, sebatang pohon besar, sebuah tempat parkir, sebuah area bermain, dan area kolam renang yang menjadi sarang katak. Siswa kelas lima mendapatkan bagian timur, meliputi jalan di satu sisi dan jurang yang mengarah ke sungai berbatu dan berlumpur. Walaupun dua kelas bekerja secara terpisah, mereka setuju untuk mengikuti rencana bersama: pertama mengindentifikasi pohon, kemudian pohon-pohon kecil, dan bunga. Kelompok ini bertemu pada sore hari sekali sebulan untuk saling melaporkan apa yang mereka telah dan sedang mereka kerjakan dan temukan. Konferensi keaneka ragaman hayati bulanan ini populer bagi dua kelas ini. Mr. Walker dan Ms. Rivera bergantian menyediakan makana ringan bagi siswa yang mereka sebut makanan untuk pikiran. Pada persiapan pertemuan bulanan kedua kelompok menyiapkan idenya untuk dipresentasikan, biasanya dalam bentuk selebaran, poster, atau berbentuk gambar, dan mereka bekerja keras dalam mengkomunikasikan ide ide mereka dengan jelas. Mereka membuat slide PowerPoint yang mereka sebut laporan sementara, poster baru, peta, dan kadang-kadang gambar-gambar daun atau serangga yang mereka temukan. Selama bebrapa bulan awal, kedua kelas membuat katalog pohon, pohon-pohon kecil, dan bunga. Mereka menemukan bahwa mengindentifikasi pohon adalah suatu hal yang cukup mudah, tapi siswa kelas dua lebih merasa kesulitan dalm mengidentifikasi pohon-pohon kecil dan bunga. Mr. Walker dan Ms. Rivera berdialog apakah mereka harus menyuruh siswanya mengembangkan tumbuhan contoh secara tidak lansung. Gambar 2-1 (lihat halaman 24).

Mereka menyarankan bahwa siswa diatur dalam pemetaan bagian-bagian halaman mereka, meneyediakan kertas foto, tapi mereka tidak memaksa ini (lihat gambat 2-1 sebagai contoh peta awal). Mereka berharap bahwa kebutuhan untuk rencana yang lebih sistimatis akan keluar dari pertanyaan siswa itu sendiri. Tambahan untuk pohon dan tanaman, mereka mengidentifikasi sedikit jenis-jenis hewan, meliputi dua spesies tupai, satu spesies bajing tanah, beberapa spesies burung, dan serangga yang bermacam macam. Mereka meminjam sejumlah panduan lapangan dari pustaka lokal (Panduan Peterson adalah yang favorit), yang mereka gunakan untuk mengidentifikasi tumbuhan yang berbeda beda. Semak-semak susah dibedakan dengan pohon-pohon kecil, dan bunga sulit dibedakan ketika mereka tidak berbunga. Hal ini menjadi topik pembicaraan yang hangat. Saat mereka membuat katalog spesies tumbuhan dan hewan, siswa menemui beberapa tantangan. Menggunakan panduan lapangan kadang membingungkan ketika mereka menemukan pohon yang sebenarnya berbeda dengan yang ada dalam buku panduan. Mr. Walker dan Ms. Rivera menggunakan ini sebagai kesempatan untuk mengarahkan siswa untuk membaca teks eksposisi. Ketika tidak jelas apakah pohon sama dengan yang ada dalam buku panduan, siswa menemukan buku lain atau bahan ajar lain yang memberikan informasi tentang tumbuhan yang sama. Ini pada akhirnya mendorong siswa untuk menemukan informasi tambahan saat mereka mengumpulkan petunjuk-petunjuk: Dimana tumbuhan ini sering ditemukan? Kapan ia berbunga? Berapa tingginya? Membuat katalog hewan di halaman sekolah merupakan hal yang cukup menantang. Bagaimana mereka bisa menentukan mereka melihat dua tupai yang sama atau berbeda dua kali? Terjadilah diskusi yang panjang. Mr. Walker menjelaskan bahwa praktik yang membuat ahli biologi untuk mengindentifikasi hewan tertentu adalah dengan meletakkan alat untuk mengidentifikasi hewan-hewan itu. Hal ini tentu memerlukan penangkapan dan pembiusan hewan. Hewan itu mungkin dikasih warna dikaki atau kadang kadang titik yang tak mudak terhapus pada kuku kaki. (contohnya titik hijau pada kaki kiri tupai dan titk merah pada tupai yang lainnya). Ini tentunya tidak mungkin dilakukan di halaman sekolah. Tapi dia memberitahu mereka bahwa tidak semua identifikasi memerlukan campur tangan. Contohnya, ketika ahli biologi mengandalkan fotografi paus, mengidentifikasi individu dengan pola kutu paus yang terlihat pada cacing giginya.

Setelah banyak diskusi selama memilih-milih proposal yang banyak, siswa memutuskan bahwa mereka bisa malakukan apa yang dilakukan ahli biologi pada paus. Setelah suatu pengamatan mereka bertanya jika salah seorang pernah melihat tupai dengan ciri yang berbeda-ekor yang kusut, atau bulu rambut ekor yang tebal, tupai dengan warna yang lebih gelap atau warna yang lebih terang dari bulu badan mereka, hitam atau coklat, bekas luka atau bagian yang gundul, dsb. Siswa membuat gambar, mengambil foto, dan berusaha merekam pengamatan individu tertentu atau spesies, berdsarkan ciri ciri ini. Dari sana siswa bisa mengembangkan sistim kategori yang dapat dipercaya secara ilmiah, tentu berdasarkan juga pada fitur-fitur yang paling didiagnosa dalam menceritakan tupai. Dari pengamatan awal, bacaan-bacaan, dan koleksi koleksi, siswa memutuskan untuk memetakan area mereka dengan lebih hati-hati. Ketertarikan pada sample yang lebih sistimatis menimbulkan diskusi yang panjang pada konferensi bulanan keanekaragaman hayati. Walaupun kedua guru itu telah meransang siswanya membuat pola halaman untuk memandu pengamatan mereka, siswa pada awalnya tidak memahami perlunya memetakan atau mengembangkan rencana yang sitematis. Para siswa telah memulai dengan strategi kelinci penggerak : melihat ke sekitar, meuliskan spesies baru, dan terus melakukan sampai kamu tidak melihatnya lagi. Dalam perbandingan hasil antara dua kelas- akibat membandingkan halaman bagian barat dan timur-siswa menyadari bahwa mereka perlu lebih sistimatis dalam penentuan penyebaran dan kepadatan spesies yang sama. Untuk melakukan ini mereka berbagi teknik pemetaan dan beberapa strategi untum mengambil sampel untuk mengelompokan area pohon dan lembah (menggunakan kompas dan langkah) dan membuat keputusan tidak lansung tentang dimana, bagaimana, dan apa yang akan dijadikan sampel (lihat gambat 2-2) Dengan peta-peta yang lebih akurat, mereka mulai berspekulasi tentang sebab-sebab variasi tumbuhan dan kehidupan hewan. Mereka mulai berfikir jika suatu spesies sering tumbuh di suatu tempat dari pada ditempat lain karena tumbuhan lain tumbuh disekitarnya. Observasi yang teliti meliputi tempat yang teduh, posisi permukaan yang menonjol, dan jarak dari jalan dimana tanahnya rusak terbentuk fungsi baru. Mereka menyadari bahwa ada pohon yang lebih besar dan banyak di suatu sisi halaman sekolah dari pada di sisi halaman yang lain. Hal ini membuat siswa berfikir tentang penyebabnya: Apakah penyebabnya cahaya matahari, kualitas tanah, atau kandungan air? Ini mengajak siswa pada pengukuran tinggi dan jarak yang lebih sistimatis. Mr. Walker dan Ms. Rivera menyadari bahwa keputusan siswa

untuk menggunakan pengukuran yang sitematis harus dimotivasi oleh teori dan investigasi mereka sendiri untuk terlihat sebagai teknik yang berguna dan diperalukan. Setelah beberapa bulan, sejumlah siswa dari masing-masing kelas bergabung menjadi siswa yang mempunyai skil tinggi dan seniman, menggambar detail daun tumbuhan, pembuluh kayu, dan kulit kayu. Kelas dua membuat gabungan kliping tumbuhan, dan satu kelompok yang terdiri dari empat orang siswa laki-laki bersama-sama mengantung koleksi serangga. Di musim semi, para siswa menemukan kecebong di kolam- kolam yang terbentuk dari rawa, dan mereka terpana ketika kecebong menjadi katak. Beberapa siswa yang tidak menggunakan bahasa inggris bergabung sebagai pengamat yang teliti dan mereka sangat dihargai atas peran mereka yang indah. Yang lain tertarik pada penjelasan dari gambar dan memastikan bahwa semua keterangan dibuat dalam bahasa inggris dan spanyol. Ms. Rivera, yang bisa berbicara di dua bahasa tersebut sangat bermanfaat. Secara berangsur-angsur, kelompok yang tertarik bermunculan. Satu kelompok hanya tertarik pada pepohonan, menaksir umur tumbuhan dengan mengukur keliling dan tinggi tumbuhan. Untuk menyelesaikan tantangan mengukur ketinggian pohon yang tinggi, Mr. Walker membangun pemahaman matematika siswa dalam segitiga. Dia menunjukkan siswa tersebut bagaimana membuat alat pengukur tinggi yang sederhana yang sama dengan teori pitagoras, siswa biasanya mengukur ketinggian semua pohon di halaman. Ini memberi kelompok yang mengukur tumbuhan sebuah kesempatan untuk mendiskusikan variabel pengukuran tersebut dan sumber kesalahan pengukuran yang mereka bagi dengan teman sekelas mereka. Kelompok yang lain tertarik pada rumput yang lebih sulit dikategorikan daripada pohon dan semak-semak. Setelah beberapa minggu berdebat dan berdiskusi, kelompok tersebut menyadari bahwa istilah rumput bisa digunakan untuk menerangkan segala tumbuhan yang tak diinginkan. Para siswa tersebut membuat sebuah ungkapan yang mereka tampilkan pada majalah dinding di kedua kelas mereka. rumput seseorang bisa jadi bunga orang lain dan makan malam orang lain. Ini membantu siswa sadar bahwa bagaimana seseorang memandang dunia mempengaruhi seseorang menjelaskannya dan memaksa mereka mengklarifikasi kerja dan asumsi mereka untuk menyamakan bahasa dan makna dalam kerja ilmiah.

Ketertarikan siswa dalam proyek yang bervariasi secara luas, dan tidak semua mereka dengan mudah digambarkan dalam pelajaran. Ms. Rivera dan Mr. Walker bekerja keras untuk membuat siswa sadar tentang aspek yang berbeda dari penyelidikan untuk membantu mereka mengidentifikasi ketertarikan mereka dalam kesatuan. Beberapa tertarik pada bidang studi seperti ketahanan, mengumpulkan dan mempelajari serangga (hidup dan mati). Beberapa tertarik pada pengembangan dan menggunakan alat-alat seperti database excel dan paket software lain untuk membantu menggambar. Siswa yang mengumpulkan dan mempelajari serangga mengejar ketertarikan mereka sepanjang waktu dan secepatnya fokus pada penyelidikan pergerakan serangga. Fokus utama mereka adalah pada area sungai, karena terlihat tidak terlalu dipengaruhi oleh manusia daripada area halaman lain dan memiliki banyak serangga. Siswa membandingkan daya penggerak serangga di air dengan daya penggerak mereka pada permukaan tanah yang berbeda, seperti rumput, lumpur, dan bebatuan. Siswa di kelompok serangga pada awalnya ingin mengelompokkan serangga berdasarkan ciri-ciri yang menonjol seperti warna dan ukuran. Mr. Walker dan Ms. Rivera menganggap hal ini berguna untuk memfokuskan kembali perhatian mereka pada bagian yang lebih penting seperti bagian-bagian mulut, dengan menampilkan alat yang dianalogikan dengan bagian bagian mulut beserta jenis makanan yang berbeda dan meminta siswa untuk menyelidiki makanan jenis makanan apa yang bisa paling mudah diambil dengan alat apa. Ini mengarahkan pada pengamatan yang menarik tentang alat yang berbeda yang dimiliki serangga. Sejumlah siswa di kelas lima mulai menggali sejarah tentang tumbuhan yang berbeda di halaman, mewawancarai warga yang lebih tua yang tinggal disekitar mereka dan mengunjungi museum sejarah lokal. Setelah pengamatan yang intensif, mereka memutuskan bahwa pohon yang paling besar dan tinggi di depan halaman mungkin lebih tua daripada bangunan sekolah itu. Di akhir tahun ajaran, kedua kelompok memasang panduan lapangan elektronik, dengan digambarkan menditel, komentar yang tercatat dalam bahasa inggris dan spanyol, dan peta flora dan fauna yang disusun dengan quadran dan dengan jaringan meter persegi. Pada keseluruhannya, anak anak telah mengetahui 9 spesies pohon, 12 jenis semaksemak berkayu, dan 14 spesies tanaman bunga. Panduan lapangan tersebut berisi 47

gambaran rinci , dengan bab yang terpisah pada pohon, semak-semak, tanaman bunga, rumput, binatang, dan serangga. Dua kelas tersebut menampilkan sebuah versi cetakan dari panduan lapangan yang lengkap untuk sekolah, untuk diletakkan pada cadangan perpustakaan. Mereka menampilkan kerja mereka melalui presentasi power point pada pertemuan seluruh-kelas. Ketika Mr. Walker dan Ms. Rivera puas dengan hasil proyek keanekaragaman hayati itu, mereka tahu ini hanya permulaan. Seorang teman dari Mr. Walker yang bekerja di lapangan menguji panduan lapangan dan menemukan beberapa kesalahan dalam klasifikasi tersebut. Selain itu, meskipun persentasi sekolah tersebut dan semua informasi yang mereka dapatkan siswa telah menjawab banyak pertanyaan yang tak terjawab. Mereka masih kurang yakin apa yang mereka catat tentang keanekaragaman pada ketinggian pohon. Mereka telah menentukan perbedaan kualitas tanah, tapi bukan penyebab yang ada hubungannya dengan umur atau kondisi cahaya matahari atau spesies itu sendiri. September berikutnya, Mr. Walker dan Ms. Rivera memutuskan untuk melanjutkan kurikulum mereka, yang mereka sebut sekarang dengan keanekaragaman hayati pada halaman sekolah. Siswa dari tahun sebelumnya ingin melanjutkan kerja mereka. Untuk menanggapi, guru kelas tiga dan kelas enam meminta bergabung dengan Mr. Walker dan Ms. Rivera. Tahun kedua dari proyek ini mulai dengan presentasi dari siswa yang sudah mengembangkan panduan lapangan tahun sebelumnya. Peluncuran ide merupakan kerja yang tidak selesai dan pertanyaan yang tidak terjawab yang dihasilkan oleh siswa kelas tiga dan lima tahun sebelumnya. Sesi perkenalan untuk semua siswa mencakup pertanyaan yang menggantung sebagaimana pertanyaan yang baru. Seorang siswa ingin tahu berapa banyak pohon dengan ketinggian melebihi 60 kaki dilingkungan tersebut. Yang lain ingin memetakan pohon-pohon besar melalui seluruh kota menggunakan teknologi sistim pemetaan global. Kedua guru tersebut terus tertarik pada kesuksesan masa lalu mereka dan khawatir pada kekurangan keahlian bidang pelajaran. Ini memberikan kesempatan belajar pada semua orang. Mr. Walker memutuskan untuk meminta bantuan dari anggota jurusan biologi di universitas terdekat. Dia tekejut dengan responnya. Beberapa fakultas dan sarjana tertarik mengunjungi sekolah untuk mendidskusikan proyek tersebut. Ketika pembicara tamu datang,

guru mempunyai bayak pertanyaan sama halnya dengan siswa, menanyakan tentang metode untuk meanjawab pertanyan siswa serta meminta informasi yang sebenarnya. Meskipun perhatian mereka tentang kemapuan untuk memprediksi semua kegiatan ini secara sempurna, Mr. Walker dan Ms. Rivera masih merasa mereka sedang melakukan banyak hal yang baik. Dan perhatian mereka dengan kesuksesan proyek ini membawa mereka mencapai dan menekmukan sumber daya yang mungkin tidak pernah mereka miliki. Pelajaran tentang keanekaragaman hayati Mr. Walker dan Ms. Rivera menjadi sebuah kunci untuk pengajaran sains disekolah mereka. Pelajaran itu mengajukan perntanyaan pentingnya masyarakat dan masyarakt umum. Ia mempersatukan perbedaan model pertanyaan yang bermacam-macam. Hal ini disebut keahlian dan alat matematika, sejarah, sastra, dan seni. Dia tidak hanya memberi siswa hubungan yang dalam dan hubungan pribadi dengan pelajaran mereka tapi juga juga dengan sebuah pemahaman bahwa belajar sains didasarkan pada penyelidikan yang terus menerus dan kreatif: bertannya, memetakan, merefleksikan pengamatan yang sistimatis, analisa data, presentasi, diskusi, pemodelan, penteorian, dan penjelasan. Bagian yang paling menarik adalah bahwa pengamatan yang berkelanjutan tidak bisa diabaikan menimbulkan banyak pertanyaan baru. Pelajaran keaneka ragaman hayati menawarkan kesempatan tiada henti untuk belajar. Pengujian Empat Proses dalam Belajar Kasus keanekaragaman hayati di halaman sekolah menyediakan sebuah contoh bagaimana keempat proses dari belajar sains bisa digandakan dengan pengajaran dan bagaimana keahlian dan ilmu dibangun dari waktu ke waktu. Proses 1: Memahami Penjelasan Ilmiah Siswa muda di kelas Mr. Walker dan Ms. Rivera tidak memulai pelajaran mereka tentang keanekaragaman hayati secara sempurna dari kecil. Mereka semua datang dengan dasar dari pemahaman dasar, hasil dari ketertarikan pribadi dan pengalaman sebelumnya atau interaksi dengan alam. Mereka juga mempunyai rasa yang berkembang dengan baik dari peraturan sebab akibat, mekanism, dan prinsip-prinsip dari dunia biologi, dan Mr. Walker dan Ms. Rivera dapat mengaktifkan dan membangun pengetahuan tersebut.

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang sangat muda tersebutbahkan bayidapat membedakan binatang (burung) dari benda-bendalainnya, bahkan ketika mereka mempunyai penampilan menarik yang sama. Ini bisa dihubungkan dengan kemampuan mereka membedakan pengganti dari benda yang bukan binatang, binatang tersebut berbeda karena mereka adalah ciptaan yang bersifat sosial dengan keinginan, tujuan, dan pernyataan kognitif dan emosional lain yang membantu menjelaskan perbuatan mereka. Anak-anak yang muda cendrung untuk tidak tahu banyak tentang mekanisme yang mendasari proses biologi, seperti pencernaan, gerak, dan reproduksi. Namun demikian, mereka memiliki kemampuan yang luar biasa untuk membawa bermacam pola dalam dunia biologi. Contohnya, mereka mengerti bahwa makanan diubah dalam sebuah cara yang memberi makhluk hidup kemampuan untuk tumbuh dan bahwa makhluk hidup akan rusak secara fisik jika dia tidak makan. Jadi mereka mengerti beberapa proses khusus yang penting untuk pencernaan. Anak-anak juga bisa mengetahui aspek khusus atau pola yang berhubungan dengan benda hidup: bahwa mereka mempunyai hakikat yang mendasar dan bahwa mereka ditempelkan pada sistim yang diurutkan dari kelompok dan kategori. Tentu saja, beberapa aspek dari kepercayaan anak-anak tentang biologi yaitu kesamaan budaya, menyarankan bahwa cara-cara penyusunan dunia kehidupan ditanamkan secara dalam pada fikiran manusia. Dengan kesempatan-kesempatan seperti mata pelajaran keanekaragaman hayati di halaman sekolah, ide-ide siswa tentang dunia makhluk hidup mengalami perubahan yang dramatis sejak sekolah dasar. Mereka bergerak dari melihat tanaman dan binatang sebagai spesial karena mereka memiliki paksaan yang penting untuk melihat mereka karena dimodelkan oleh aktifitas metabolisme. Mereka bisa menggali, memetakan, dan memodelkan habitat dan ekosistim. Dalam proses tersebut, pemahaman konseptual mereka tentang kehidupan mengalami perubahan yang penting: mereka mulai melihat hubungan antara kehidupan dalam sistim yang dinamis. Proses 2: Menemukan Bukti Ilmiah Walaupun anak anak masih terlalu muda dan banyak menjadikan bahasa Inggris sebagai bahsa kedua, banyak dari apa yang siswa lakukan di kelas Mr. Walker dan Ms.

Rivera meliputi menemukan data ilmiah. Mereka memetakan halaman sekolah

dan

mengembangkan cara-cara yang sistimatis untuk mengambil sampel sejumlah tanaman dan hewan. mereka mengumpulkan samplel-sampel tanaman dan serangga, mengambil pengukuran dengan hati-hati dan mengurutkan jenis dan kepadatan spesies hewan dan tumbuhan yang berbeda. Mereka menggambar pembuluh tumbuhan, daun, dan pucuk dan sering memotongnya untuk meneliti bagian dalamnya. Mereka juga membawa contoh bagian dalam dan mengeluarkan pelajaran daya tahan tumbuhan dalam pot dengan tanah, makanan, dan cahaya matahari yang berbeda. Mereka membuat laboratorium untuk menguji siklkus kehiduapan kupu-kupu dari ulat yang mereka temukan di daun. Mereka ,mencatat perubahaperubahan ini dalm buku catatan, catatan akhir, dan catatan dinding dan menggunakan dokumen-dokumen ini menggambarkan perubahan sipanjang tahun. Proses 3: Menampilkan Pengetahuan Ilmiah Siswa-siswa dalam dua kelas mempunyai banyak kesempatan untuk menunjukkan pengetahuan mereka yang telah meningkat saat mereka memecahkan masalah. Dalam menjawab pertanyaan mengapa pohon yang berada di tepi taman lebih tinggi, para siswa menyadari akan keterbatasan bukti-bukti yang mereka miliki dengan memperhatikan umur pohon tersebut. Ketika mereka melaporkan apa yang mereka temukan setelah aktifitas di lapangan, mereka saling bertanya tentang kualitas dan keakuratan data yang mereka kumpulkan. Secara tidak sadar, mereka menanyakan bukti dari teman mereka yang lain ketika sebuah penjelasan diperlukan. Setelah panduan lapangan berkembang dari tahun ke tahu, muncul spekulasi-spekulasi tentang klasifikasi yang perlu ditangani. Para siswa mengetahui kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dan mencari tahu bagaimana cara untuk memecahkannya, sejalan dengan bagaimana ide-ide yang mereka miliki berubah-ubah dari waktu ke waktu. Contoh nyatanya adalah perubahan pemikiran siswa tentang perbedaan antara rumput dan bunga. Panduan lapangan menjadi memori kolektif bagi grup. Pembaharuan-pembaharuan terhadap panduan mengingatkan semua orang tentang bagaimana sebuah ide dapat berubah secara signifikan. Proses 4: Berpartisipasi Secara Produktif dalam Sains Praktik-praktik ilmiah pada inti sebuah penelitian tentang keanekaragaman hayati dilakukan di dalam dan di luar kelas. Di lapangan (pemetaan, pengamatan, penggambaran,

frekuensi perencanaan), para siswa dengan aktif berpartisipasi dalam sebuah diskusi tentang data-data, pertanyaan-pertannyaan, dan dugaan-dugaan yang muncul dalam diri mereka serta berbagai rencana, sehingga secara sistimatis mereka mengikuti cara-cara ini. Siswa bekerja dalam grup kecil dan dengan teratur tergabung dalam sesi diskusi silang dimana mereka bertukar informasi dengan grup-grup lain. Dan tentunya ada konferensi keanekaragaman hayati bulanan, yang diatur oleh Mr. Walker dan Ms. River. Dasar dari penelitian di lapangan dan di dalam kelas adalah grup mempunyai waktu yang tepat untuk menyaring, memperbaiki, dan memberitahukan hasil dari penelitian mereka, sehingga mereka dapat berbagi dengan yang lain-kelas lain, ahli-ahli lokal, dan anggota-anggota komunitas. Pertemuan bulanan grup-grup tersebut didisain agar tampak seperti konferensi ilmiah, dan agar siswa dapat mengikutinya dengan serius. Kehadiran kedua kelas hampir 100 persen dalam masa-masa konferensi ini, dan para siswa jarang bertingkah yang lain-lain. Mereka sibuk menghabiskan waktu untuk mempersiapkan presentasi mereka. Hal utama yang diperbincangkan dalam konferensi keanekaragaman hayati melibatkan pertanyaan tentang penjelasan apa itu rumput. Kesimpulan yang menjelaskan tentang rumput nantinya lebih kepada interpretasi dan perspektif, tidak seperti fakta ilmiah, dan terbentuk dalam jangka waktu yang lama. Perubahan muncul sebagai akibat dari adanya ketidakcocokan, penyusunan bukti yang sistimatis, penelitian yang berkelanjutan (yang melibatkan beberapa siswa yang meneliti, orang dewasa, dan tukang-tukang kebun sekitar), dan bahkan oleh adanya bantuan dari ahli dari luar. Lalu, beberapa siswa mengajukan untuk meneliti sekolah dan menyatakan pendapat, sementara yang lain berpendapat bahwa mereka mungkin akan mendapatkan bukti yang ilmiah untuk membuat sebuah penjelasan. Keadaan seperti ini merupakan salah satu masa yang paling bersemangat selama setahun penelitian. Hasil dari konferensi adalah data yang diperoleh oleh satu seorang. Kelogisan dan seberapa meyakinkan pendapat-pendapatnya, dan keberhasilan dalam beberapa macam penelitian adalah hal utama dalam konferensi keanekaragaman hayati yang akan datang Hakikat Empat Proses yang Saling Berhubungan Walau pun memungkinkan untuk memisahkan prosess untuk tujuan analisa, dalam praktiknya proses tersebut mencocokkan satu sama lain. Sebuah tugas tertentu bisa berfungsi dalam berbagai cara dan sekaligus menjadi bagian dari banyak prosess.

Contohnya, dalam sebuah konferensi keanekaragaman hayati bulanan, seorang siswa kelas lima SD yang bernama Cara memperlihatkan sebuah diagram yang menunjukkan bagian-bagian dari pohon dan ukuran tinggi pohon dari dua lokasi yang berbeda di sekolah. Dalam menunjukkan digramnya, Cara mengatakan bahwa grup peneliti pohon telah menemukan cara untuk mengukur tinggi pohon dengan menggunakan segitiga dan teori Pytagoras. Tapi penghitungan mereka terhadap tinggi pohon membuat mereka bingung dan membuat mereka berpikir apakah data yang mereka dapatkan akurat. Seorang siswa dari penonton bertanya apakah perbedaan tinggi pohon itu berhubungan dengan adanya cahaya matahari, karena dia menemukan bahwa dalam eksperimennya terhadap bunga liar (yang tumbuh dalam kondisi yang berbeda), suatu bunga tertentu tumbuh lebih cepat dan lebih tinggi dengan adanya cahaya matahari. Dalam hal ini, para siswa sudah menyusun penjelasan-penjelasan ilmiah dengan menggunakan data-data dan bukti-bukti yang mereka dapatkan sendiri, menurut pemahaman mereka sendiri-sendiri, dan berpartisipasi dalam praktik ilmiah yang benar sebagai pemateri dan pendengar. Keempat prosess telah berperan aktif. Sangat penting untuk memperhatikan bahwa proses-proses yang berbeda saling memberikan informasi dan saling mendukung. Proses-proses tersebut saling mendukung sehingga kemajuan siswa dalam satu proses dapat menjadi pemicu kemajuan siswa tersebut dalam proses yang lain. Dalam hal ini, Keberagaman dalam Sebuah Taman Sekolah, seseorang dapat melihat kerjasama semacam ini muncul dalam sebuah penelitian. Pengetehuan dan pemahaman dasar dapat membantu para siswa ketika mereka mulai mengamati dan mencatat. Ketertarikan mereka yang berbeda membawa mereka ke arah yang berbeda dalam tahap-tahap awal penelitian. Kumpulan data (proses 2) menjadi bukti yang mereka gunakan untuk menggambarkan dan mempertimbangkan (proses 3). Setelah itu, mendorong mereka untuk menanyakan lebih banyak pertanyaan dan mencari informasi dari sumber-sumber yang berbeda, yang akan membawa mereka ke dalam pemahaman prosesproses biologi yang lebih dalam (proses 1). Ketika pemahaman mereka akan proses-proses tersebut meningkat, pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan dan pencarian bukti yang mereka lakukan pun menjadi lebih kompleks dan lebih terfokus (proses 2). Contoh, ketika siswa mulai memahami hubungan antara pangan dan kepadatan penduduk, mereka menggunakan teknik yang lebih baik untuk menggambarkan penduduk dan kepadatan penduduk dalam bagian yang berbeda. Mereka menggunakan alat-alat yang lebih canggih

untuk memetakan dan menggambarkan kepadatan tanaman tertentu dan mengukur tinggi dari tanaman. Ketika kecanggihan alat-alat yang mereka gunakan meningkat, bukti-bukti yang mereka dapatkan juga menjadi lebih banyak, dan teknik yang mereka gunakan menjadi lebih sistimatis (proses 2). Hal ini juga akan membawa kepada lebih banyak spekulasi tentang pengukuran dan lebih banyak diskusi tentang kualitas dan keakuratan data (proses 3). Lama kelamaan, pertimbangan dan pemahaman siswa terhadap gejala-gejala dan pola-pola menjadi lebih matang (bagian 1), dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan menjadi lebih berkembang. Siswa menjadi lebih mempunyai pembahasan yang lebih kritis tentang metode mana yang lebih baik untuk mengolah data dan keberhasilan sebuah penelitian (proses 3 dan 4). Ketika pertanyaan-pertanyaan dan pemahaman terhadap mana yang merupakan sebuah bukti, menjadi lebih baik, bentuk dari penelitian mereka menjadi lebih bagus dan tepat (proses 1, 2, 3, dan 4). Teknik-teknik yang Mr. Walker dan Ms. Rivera gunakan untuk menunjukkan diskusi silang dan diskusi semua kelompok memungkinkan semua siswa mempunyai jalan menuju pemikiran, data, dan penemuan (proses 4). Dalam konferensi keanekaragaman hayati bulanan, mereka dapat mengkritik pendapat dan gambaran orang lain dengan bukti-bukti mereka sendiri, dan membuat pendapat yang konstruktif berdasarkan penelitian yang telah mereka lakukan sebelumnya (proses 3 dan 4) . Pengamatan ini akan memberikan pemahaman halaman sekolah yang lebih kompleks dan cara ahli biologi ahli tumbuhan memahami dunia (proses 1 dan 3) Sains Sebagai Praktik: Melakukan dan Belajar Bersama Melalui buku ini, kita bicara tentang praktik-praktik ilmiah dan merujuk kepada jenis pengajaran yang menggabungkan empat proses kedalam sains sebagai praktik. Kenapa kita tidak menggunakan istilah penyelidikan? Karena sains sebagai praktik melibatkan melakukan sesuatu dan mempelajari sesuatu dimana melakukan dan mempelajari tidak dapat benar-benar dipisahkan. Jadi, istilah praktik yang digunakan di dalam buku ini, meliputi beberapa defenisi dari kamus tentang istilah tersebut. Istilah ini merujuk kepada melakukan sesuatu secara berkala agar dapat menjadi cakap (seperti meniup terompet). Istilah ini juga berkenaan dengan mempelajari sesuatu secara begitu menyeluruh sehingga ia

menjadi sebuah kebiasaan (seperti membiasakan berhemat). Dan juga berhubungan dengan penggunaan pengetahuan seseorang untuk mencapai sebuah tujuan (seperti menerapkan hukum atau mengajar). Sebuah bentuk yang sangat penting dalam praktik ilmiah adalah penelitian ilmiah. Istilah penelitian mempunyai makna yang berbeda ketika konsepnya telah

diimplementasikan kedalam kerangka kurikulum, buku-buku teks, dan kelas-kelas dalam setahun terakhir. Untuk menggambarkan keragaman ini dan untuk meluaskan diskusi akan pengajaran dan pembelajaran sains yang efektif, Komite Pembelajaran Sains, Taman KanakKanak sampai kelas delapan memilih untuk menekankan praktik-praktik ilmiah daripada praktik penelitian tertentu. Keputusan tersebut mempunyai beberapa keuntungan. Apa yang kita katakan tentang prkatek ilmiah digunakan dalam penelitian sama halnya dengan banyak aktifitas lainnya yang ada di dalam kelas sains. Menfokuskan kepada praktik juga menempatkan penelitian kedalam konteks yang labih luas yang dapat menerangkan kapan dan kenapa penelitian itu efektif. Ketika siswa terlibat dalam praktik ilmiah, mereka terlibat dalam sebuah kerangka social, mereka menggunakan istilah-istilah ilmiah, dan mereka akan bekerja dengan gambargambar dan alat-alat yang ilmiah. Dalam hal ini, pemahaman konseptual akan sistim yang alami akan terhubung dengan kemampuan untuk mengembangkan atau mengukur kemampuan pengetahuan, melakukan penelitian-penelitian yang bersifat empiris, dan mengembangkan penjelasan-penjelasan. Perspektif ini merupakan karakterisasi yang jauh lebih baik tentang apa itu sains dan pengajaran sains yang efektif, dari pada kecenderungan umum yang mengajarkan isi dan proses secara terpisah. Ketika siswa terlibat dalam sains sebagai praktik, mereka mengembangkan pengetahuan dan penjelasan-penjelasan tentang dunia alam saat mereka menemukan dan manfsirkan suatu bukti. Di waktu yang sama, mereka mulai mengerti hakikat dan perkembangan sains ketika berpartisipasi dalam sains sebagai proses sosial. Kelompok professional yang bermacam-macam yang secara bersamaan membangun dan mendukung pembelajarn sains anak-anak dapat digambarkan dari proses dalam cara yang penting. Pada tingkat kelas, seorang guru dapat menganalisa sumber-sumber yang merupakan kewenangannyabuku-buku teks, buku keterampilan, perlengakapan sains, dan

instrument-instrumen penghitungandan mulai mempertimbangkan bagaimana mereka mendukung proses. Sepertinya banyak dari sumber-sumber ini akan menyediakan dukungan yang tidak rata atau tidak lengkap untuk beberapa aspek penting dalam proses. Beberapa guru bisa ditempatkan dengan baik untuk mendapatkan sumber-sumber yang tersedia dengan cara membaca beberapa literatur atau berhubungan dengan beberapa profesional lokal. Untuk yang lainnya, tidak akan semudah itu. Meski pun latar belakang sainsnya bagus, Ms. Fredericks harus berjuang dari dalam kelas dan akhirnya menemukan dukungan melalui jaringan kolega informal yang menyumbangkan waktu dan tenaga untuk menolongnya belajar bagaimana mengajar sains. Walau pun aktifitas yang dirancang oleh guru seperti Ms.Fredericks dan beberapa temannya merupakan hal yang sangat penting dalam perubahan sains di K-8, itu tidaklah cukup. Para ahli kurikulum sains tingkat sekolah dan daerah, dan juga kesempatan untuk perkembangan para ahli tersebut, pengawasan pengajaran, dan penilaian pasti berperan jika suatu perubahan yang berarti terjadi. Seperti guru, para pendidik di sekolah dan di tingkat daerah harus memeriksa sumber-seumber yang berada dalam kewenangannnya, termasuk materi-materi pelatihan pengajaran oleh guru, panduan kurikulum daerah, dan proses pengambilan bahan ajar. Mereka dapat memeriksa, mengkritik, dan menyaring sumbersumber ini untuk menunjukkan proses. Mereka juga bisa mengetahui bahwa kesempatan pembelajaran seperti para ahli tersedia bagi para guru melalui sistim sekolah, universitas lokal, pusat sains, dan cara-cara lainnya yang dapat menunjukkan cara bagaimana guru dapat berkembang dalam memahami proses proses tersebut. Proses-proses ini menawarkan dasar yang sama untuk perencanaan, penggambaran, dan peningkatkan pendidikan sains. Bab selanjutnya akan memaparkan tentang bagaimana seorang pendidik yang ingin melibatkan proses kedalam kurikulum sainsnya mempunyai banyak persamaan dengan murid-muridnya. Pengajar, peneliti, penyelenggara, dan para pembuat kebijakan harus menemukan cara untuk menigkatkan pemahaman mereka dan memberikan dukungan kepada satu sama lain ketika mereka menggunakan dan menggabungkan model baru ini dimana anak-anak mengerti dan terlibat di dalam sains.

Catatan-Catatan Bab 2 Gambar tali yang menampilkan proses yang saling berkaitan dipinjam dari Lembaga Riset Nasional volume pengajaran dan pembelajaran matematika: Lembaga Riset Nasional. (2001). Menambah : Membantu Anak-anak Belajar Matematika. Komite Studi Pembelajaran Matematika. J. Kilpatrick, J. Swafford, dan B. Findell (Edr.). Washinton, DC: National Academy Press.
2

Lembaga Riset Nasional. (1996). Standard Pendidikan Sains Nasional. Panitia Nasional Bisang Standard Pendidikan Sains dan Penilaian. Washinton, DC: National Academy Press.

Kasus ini berdasarkan kerja guru dan peneliti yang melibatkan Proyek Alam Percontohan, yang dipimpin oleh Rich Lehrer Leona Schauble di Universitas Vanderbilt, juga kerja dari ahli tumbuhan dan pendidik guru Adelson di Universitas Wellesley

Lampiran A Pertanyaan-Pertanyaan untuk Praktisi Bab 2 1. Dimana anda melihat bukti dari empat proses pembelajaran sains pada pengamatatan keanekaragaman hayati Mr. Walker dan Ms. Rivera yang

dilakukan di halaman sekolah? Bagian mana dari pengamatan mereka yang bisa kamu implementasikan di daerah, sekolah atau kelasmu? 2. Jika anda akan mengimplementasikan pengamatan yang sama di kelas atau sekolahmu, bagaimana anda memulainnya? Dukungan apa yang anda perlukan? Sumber daya apa yamng akan anda gunakan? 3. Untuk kepala sekolah dan ahli sains: Bagaimana anda mendukung para guru untuk melakukan pengembangan proyek seperti proyek keanekaragaman hayati? Bagaimana anda menyesuaikan proyek itu agar cocok dengan lokasi geografis tertentu, juga daerah dan sekolah tertentu? 4. Apa arti sains sebagai praktik bagi anda?