Anda di halaman 1dari 6

POSISI, POTENSI DAN STRATEGI SEMEN INDONESIA DI TENGAH MENJAMURNYA INDUSTRI SEMEN DALAM NEGERI (Tema : Business Development

And Project PT Semen Indonesia(Persero)Tbk.) Oleh: Gilang Adi Permana, S.Pd

Semen merupakan komoditi strategis yang memanfaatkan potensi sumber daya alam bahan galian non-logam. Hal ini karena bahan baku pembuat semen terdiri atas batu kapur, tanah liat, pasir silica, pasir besi, dan gypsum. Selain itu dalam proses pembuatannya, industry semen juga menggunakan batu bara sebagai bahan bakar. Diantara bahan-bahan baku pembuatan semen, gypsum merupakan bahan baku yang masih perlu diimpor dari Thailand. Pada pelaporan perkembangan kemajuan program kerja kementrian perindustrian, disebutkan bahwa secara umum perkembangan ekonomi Indonesia pasca krisis ekonomi, tahun 1999-2004, telah mebaik karena adanya pengaruh positif dari beberapa faktor. Salah satu faktor tersebut datang dari bidang industri, khususnya industri non-migas, yang mampu berperan besar dalam peningkatan nilai tambah yang tinggi dan memperluas lapangan pekerjaan. Diantara beberapa industri non-migas yang menjadi BUMN, industri semen merupakan salah satu industri yang mengalami pertumbuhan positif. Industri semen juga merupakan penunjang perekonomian nasional melalui pembangunan infrastruktur dan perumahan. Bahkan, penggunaan semen semakin meluas untuk membangun jalan beton yang mempunyai sisi positif dibandingkan dengan aspal. Hal ini juga ditunjang dengan pertumbuhan semen semakin membaik pada periode tahun 2004-2012. Walaupun sempat mengalami penurunan pada tahun 2008-2009, menurut kementrian perindustrian, industry semen mampu bangkit di tahun 2011-2012 dengan prosentase pertumbuhan sebesar lebih dari 7%. Hal ini berdampak baik pada penambahan kapasitas, dan upaya peningkatan daya saing. Semen Indonesia merupakan produsen semen terbesar diantara produsen semen lain di Indonesia. Hal tersebut didukung oleh angka prosentase penguasaan pasar domestic yang mencapai 45% pada akhir tahun 2013. Bahkan di beberapa kesempatan, Direktur Utama PT Semen Indonesia sangat optimis dapat membawa menjadi perusahaan semen terbesar di ASEAN. Sejalan dengan pernyataan tersebut, daya saing BUMN ini juga sangat kuat di tengah persaingan industry semen dalam negeri. Sebesar 30 juta ton per tahun semen yang diproduksi oleh Semen Indonesia, dimana 27,7 juta ton diproduksi di Indonesia dan 2,3 juta ton diproduksi di Vietnam.

Beberapa prestasi pun telah ditorehkan oleh Semen Indonesia. Tetapi hal tersebut masih harus dipertahankan, mengingat program perluasan pabrik di seluruh wilayah Indonesia yang telah dicanangkan oleh semua produsen semen dalam maupun investor dari luar negeri. Hal ini memang seiring dengan meningkatnya kebutuhan semen dalam negeri yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan kebutuhan semen dalam negeri ini diperkirakan akan naik sebesar 6% tiap tahunnya. Secara nasional produksi semen akan mencapai 67 juta ton di tahun 2014. Menurut Kementrian Perindustrian, penambahan kapasitas produksi semen dalam negeri merupakan dampak susulan dari optimalisasi pabrik dan investasi yang dilakukan oleh seluruh produsen semen dalam negeri. Selain itu juga, izin dari Badan Koordinasi Penanaman Modal kepada investor asing yang mengakibatkan tumbuhnya produsen semen asal luar negeri di titik strategis Indonesia. Beberapa investor asing tersebut adalah sebagai berikut, Tabel Investor Luar Negeri Industi Semen di Indonesia No. 1. KAPASITAS PRODUKSI (per tahun) Anhui Conch Cement Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, 10 juta ton Co Ltd, Tiongkok dan Papua Barat Tanjung, Kalimantan Selatan 2,5 juta ton China Trio bit Subang, Jawa Barat 1,5 juta ton Engineering Co Ltd State Development and Papua 1 juta ton Investment Cooperation (SDIC), Tiongkok Siam Cement, Thailand Sukabumi, Jawa Barat 1,8 juta ton Bayah, Banten 1,2 juta ton PT Jui Shin Karawang, Jawa Barat 2,5 juta ton PT Semen Grobogan Grobogan, Jawa Tengah 1,5 juta ton (CTIEC) Lafarge Cement Langkat, Sumatera Utara 1,5 juta ton Indonesia Wilmar Group Banten 2 juta ton Ultra Tech Cement, Wonogiri, Jateng 4 juta ton India Jumlah 29,5 juta ton (Sumber : Indonesia Cement Association) PRODUSEN SEMEN LOKASI PEMBANGUNAN PABRIK

2. 3.

4. 5. 6. 7. 8. 9.

Selain investor asing tersebut, kebutuhan semen di Indonesia akan dipenuhi oleh produsen semen dalam negeri sebagai berikut, Tabel Kapasitas Produksi Semen dari Produsen Semen di Indonesia No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. PRODUSEN SEMEN Semen Indonesia Indocement TP Holcim Indonesia Semen Bosowa Semen Andalas Semen Baturaja Semen Kupang Jumlah KAPASITAS PRODUKSI DOMESTIK (per tahun) 27,7 juta ton 20,5 juta ton 10,4 juta ton 3,6 juta ton 1,6 juta ton 1,3 juta ton 0,5 juta ton 65,6 juta ton (Sumber : SMGR Co Presentation, 2013)

Dari data di atas, sebesar 95,1 juta ton semen per tahun akan diproduksi di Indonesia. Dan, menurut data di atas pula tingkat prosentase kapasitas produksi Semen Indonesia di dalam negeri sebesar 29% disusul dengan Indocement TP dan Holcim Indonesia sebesar 22% dan 11% yang mengakibatkan Semen Indonesia tetap bertengger di posisi teratas untuk kapasitas produksi semen dalam negeri. Semen Indonesia merupakan Holding Company yang terdiri atas OpCo Semen Gresik, Semen Padang, Semen Tonasa, dan Thang Long Cement. Selain itu, PT Semen Indonesia juga merupakan BUMN pertama yang berstatus multi national company. Pada presentasi SMGR, Semen Indonesia memiliki 42% dari total produksi semen oleh produsen semen dalam negeri. Dan, sampai tahun 2017, dengan kenaikan 6% konsumsi semen dalam negeri tiap tahunnya, Semen Indonesia memprediksi masih bisa berpartisipasi memenuhi kebutuhan semen dalam negeri bahkan masih bisa mengekspor sebesar 200 ribu ton per tahunnya. Pertanyaan yang muncul dari asumsi di atas adalah Apa yang harus dilakukan oleh Semen Indonesia untuk mempertahankan prestasi yang sudah ditorehkan saat ini?. Kenaikan sebesar 6% konsumsi semen dalam negeri juga telah dibaca oleh produsen semen dalam negeri maupun investor luar yang ikut memeriahkan industry semen di Indonesia. Hal ini tercermin dari upaya perluasan pabrik dalam rangka meningkatkan produksi semen di beberapa daerah di Indonesia oleh produsen semen lainnya. Selain itu, di tengah persaingan produksi semen dalam negeri, Semen Indonesia nampaknya juga harus terus berupaya mempertahankan posisinya. Hal ini terkait prediksi penjualan semen pada tahun 2014 akan stagnan karena kenaikan suku bunga Bank Indonesia

menjadi 7,5% dan tingkat inflaasi masih cukup tinggi yang mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat. Keadaan petumbuhan ekonomi Indonesia yang stagnan memang berdampak pada industry semen. Tetapi, masih terdapat angin segar untuk perkembangan industry semen dalam negeri. Semen Indonesia, sebagai brand mark semen yang ternama di Indonesia, masih berpeluang untuk mempertahankan eksistensinya. Proyek infrastruktur menjadi salah satu celah pada pertumbuhan industry semen. Menurut data Bappenas total investasi infrastruktur diperkirakan menyentuh angka 5% dari PDB. Hal ini mencerminkan bahwa pembangunan infrastruktur di Indonesia masih mengalami pertumbuhan yang berdampak baik pula pada pertumbuhan industry semen. Menurut laporan World Economic Forum, untuk periode 2012-2013 kualitas infrastruktur Indonesia masih perlu mengalami pengembangan yang signifikan termasuk peningkatan sarana perhubungan dan listrik. Sejalan dengan hal itu, Pemerintah Indonesia menawarkan proyek infrastruktur Rp. 359 triliun di 6 koridor proyek MP3EI di seluruh Indonesia pada tahun 2014 meliputi sektor gas, jalan, pelabuhan, kelistrikan hingga bandara. Hal inilah yang dapat digunakan sebagai peluang oleh Semen Indonesia untuk mempertahankan eksistensinya di selasela stagnansi pertumbuhan ekonomi dalam negeri tahun 2014. Dalam rangka mempertahankan eksistensi Semen Indonesia di industry semen di Indonesia, dibutuhkan beberapa strategi untuk mewujudkannya. Tercatat dalam SMGR Corporate Presentation 2013, ada 6 strategi yang dapat digunakan oleh Semen Indonesia diantaranya meningkatkan adalah citra meningkatkan perusahaan, kapasitas mendekatkan produksi, diri mengatur pengamanan energi,

dengan

pelanggan,

melaksanakan

perngembangan perusahaan, dan meminimalisir resiko kerugian. Dari keenam startegi tersebut, Semen Indonesia dapat mengimplementasikan keenam strategi tersebut dalam program optimalisasi peluasasn pabrik berbasis Vertical Grinding Mill dengan Wasta Heat Recovery Power Generation di daerah penghasil batu kapur di Indonesia maupun di daerah luar Indonesia. Vertical Grinding Mill dan Wasta Heat Recovery Power Generation merupakan dua inovasi pabrik yang dapat menekan biaya produksi menjadi sangat efisien. Hal ini sudah dibuktikan di beberapa pabrik Semen Indonesia di Tuban-Jawa Timur dan Indarung-Sumatra Barat. Vertical Grinding Mill hanya membutuhkan 24 KWh untuk produksi per ton semen. Kebutuhan listrik pada Vertical Grinding Mill ini lebih rendah daripada grinding plant yang ada sebelumnya dan membutuhkan 34 KWh per ton semen. Sedangkan, Wasta Heat Recovery Power

Generation merupakan alat yang sangat efisien dalam mereduksi emisi gas CO2 sehingga dapat menghemat biaya sangat besar. Prinsip kerja WHRPG ini adalan setiap 1 MVA potensi listrik yang dihasilkan, biaya produksi akan dapat dihemat sebesar Rp 4,125 miliar per tahun dan dapat mereduksi 5.375 ton emisi gas CO2 per tahun. Dengan demikian, kapasitas produksi semen dapat ditingkatkan dengan mendapatkan efisiensi berupa penghematan biaya produksi dan pereduksian emisi gas CO2 yang ramah lingkungan. Sehingga, kombinasi diantara kedua inovasi ini bisa meminimalisir resiko kerugian yang dapat dialami pada proses produksi semen. Selain berdampak baik pada segi peningkatan biaya produksi, penurunan resiko kerugian dan pengaturan keamanan energi, penggunaan Wasta Heat Recovery Power

Generation(WHRPG) dapat mempertahankan citra PT Semen Indonesia sebagai Green Industry di Indonesia. Sejalan dengan hal tersebut, kombinasi Vertical Grinding Mill dan WHRPG juga merupakan bentuk pertanggungjawaban dari sejumlah penghargaan yang telah diraih PT Semen Indonesia di tahun 2013. Kombinasi kedua inovasi ini akan sangat lebih menguntungkan jika dioptimalkan di beberapa daerah penghasil batu kapur di Indonesia. Hal ini karena batu kapur merupakan bahan baku pembuat semen dimana keberadaan batu kapur ini juga tersedia melimpah di seluruh wilayah Indonesia. Jika Vertical Grinding Mill dan WHRPG dibangun di daerah pengahasil batu kapur maka hal ini akan sejalan dengan strategi Semen Indonesia yaitu pelaksanaan pengembangan perusahan dan lebih mendekatkan diri dengan pelanggan di seluruh Indonesia pada umumnya dan Kawasan Indonesia Timur (KTI) pada khususnya. Menurut Departemen Perindustrian, terdapat 26 titik yang berpotensi ketersediaan batu kapur di Indonesia meliputi 7 di Pulau Sumatera, 8 di Pulau Jawa, 2 di Pulau Kalimantan, 4 di Pulau Sulawesi, 2 di Kepulauan Nusa tenggara, dan 3 di Pulau Papua. Di kawasan inilah, perlu dipertimbangkan pengembangan industry semen. Sementara itu, menurut SMGR Corporate Pesentation, keberadaan pabrik produksi Semen Indonesia belum menyentuh KTI. Jika Vertical Grinding Mill dan WHRPG dapat dilrealisasikan di daerah-daerah penghasil batu kapur maka Semen Indonesia akan mendapatkan banyak keuntungan diantaranya dapat meningkatkan kapasitas produksi, mengurangi biaya distribusi ke KTI, mengatasi masalah keterlambatan penyaluran di KTI, dan dapat lebih dekat dengan pelanggan di seluruh Indonesia. Semen Indonesia merupakan pelaku industry semen terkemuka di Indonesia bahkan di ASEAN. Berbagai prestasi telah ditorehkan pada tahun 2013 dan tahun-tahun sebelumnya. Seperti penerapan Strategic Holding, akuisisi TLCC Vietnam, penguasaan pasar domestic yang

mencapai angka 45%, dan penggahargaan dari beberapa instansi industry dalam maupun luar negeri semakin memposisikan PT Semen Indonesia pada peringkat teratas perindutrian semen di Indonesia. Selain itu, potensi Semen Indonesia untuk mempertahankan posisinya masih terbuka lebar di bidang pembangunan infrastruktur di Indonesia. Ditambah lagi, jika strategi mempertahankan eksistensi Semen Indonesia yang diimplementasikan pada optimalisasi peluasasn pabrik berbasis Vertical Grinding Mill dengan Wasta Heat Recovery Power Generation di daerah penghasil batu kapur dilaksanakan maka produksi Semen Indonesia akan mengalami surplus. Sehingga, Semen Indonesia akan menjadi produsen semen yang dapat memenuhi kebutuhan semen dalam negeri dan pengekspor semen terbesar di Asean bahkan Asia. Dengan demikian, PT Semen Indonesia akan menjadi BUMN kebanggan Indonesia sekarang dan untuk masa-masa mendatang.

Daftar Pustaka Departemen Perindustrian. 2009. Roadmap Industri Semen. Jakarta: Direktorat Jenderal Industri Argo dan Kimia SMGR Corporate. 2013. The [www.semenindonesia.com] Prospect Of Indonesian Cement Industry.

Kementrian Perindustrian. 2013. Laporan Perkembangan Kemajuan Program Kerja Kementrian Perindustrian 2004-2012. Website www.semenindonesia.com www.asi.com www.tempo.com www.indopos.com www.mmINDUSTRI.co.id www.detikfinance.com www.sindonews.com www.bisnis.com