Anda di halaman 1dari 58

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Metode seismik merupakan salah satu metode geofisika aktif yang memanfaatkan penjalaran gelombang berdasarkan sifat elastisitas mediumnya. Konsep dasar teknik seismik dapat dijelaskan sebagai berikut yaitu apabila suatu sumber gelombang dibangkitkan di permukaan bumi. Akibat material bumi yang bersifat elastik maka gelombang seismik yang terjadi akan dijalarkan ke dalam bumi dalam berbagai arah. Pada bagian batas antar lapisan, gelombang ini sebagiannya dipantulkan dan sebagian lain dibiaskan untuk diteruskan ke permukaan bumi. Dipermukaan bumi gelombang tersebut akan diterima oleh serangkaian detektor (geophone) yang umumnya disusun membentuk garis lurus dengan sumber ledakan (profil line), selanjutnya dicatat/direkam oleh suatu alat seismogram. Dengan didapatkan waktu tempuh gelombang dan jarak antar geophone dan sumber ledakan, maka struktur lapisan geologi di bawah permukaan bumi dapat diperkirakan berdasarkan besar kecepatannya. Metode seismik ini terdiri dari seismik refraksi (bias) dan seismik refleksi (pantul). Seismik refraksi digunakan dalam pengukuran bentuk lapisan dibawah permukaan, perlapisan bawah permukaan diketahui berdasarkan cepat rambat gelombang seismik pada setiap lapisan. Metode ini dipergunakan untuk mendeteksi perlapisan dangkal, sehingga metode ini tidak dapat dipergunakan pada daerah dengan kondisi geologi yang kompleks. Untuk seismik refleksi untuk penentuan struktur lapisan bumi yang dalam sehingga metode seismik refleksi memberikan kontribusi yang besar dalam menentukan titik pemboran minyak dan gas bumi serta telah menunjukkan keberhasilannya dalam meningkatkan success ratio dalam penemuan migas. Mengingat kemampuannya yang baik untuk menggambarkan bidang batas perlapisan di bawah permukaan. Sebagai seorang mahasiswa geofisika tentunya menjadi suatu hal yang wajib untuk mempelajari metode seismik ini, dan untuk mendukung pembelajaran terhadap metode seismik, diyang dapat membantu mahasiswa dalam pemahaman metode seismik serta penerapannya di lapangan.

1.2 Tujuan Adapun tujuan dari praktikum metode seismik ini adalah agar praktikan dapat: 1. Memahami konsep dasar beserta prinsip dasar metode seismik 2. Melakukan akuisisi data metode seismik refreksi maupun reflaksi dengan benar 3. Menginterpretasikan data metode seismik refreksi maupun reflaksi 1.3 Manfaat Adapun manfaat yang dapat diambil setelah melakukan praktikum metode seismik ini adalah mahasiswa geofisika universitas brawijaya dapat memahami konsep dasar dari mulai akuisisi, pengolahan serta interpretasi data metode seismik refraksi maupun reflaksi sebagai pengalaman langsung dilapangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Teori Dasar 2.1.1 Gelombang Seismik Gelombang seismik merupakan gelombang elastik yang menjalar ke seluruh bagian dalam bumi dan melalui permukaan bumi akibat adanya lapisan batuan yang patah secara tiba -tiba atau adanya ledakan. Gelombang utama gempabumi terdiri dari dua tipe yaitu gelombang badan (body wave) dan gelombang permukaan (surface wave).

Gelombang Badan (Body wave).

Gelombang badan merupakan gelombang menjalar melalui bagian dalam bumi dan biasanya disebut free wave karena dapat menjalar ke segala arah di dalam bumi. Gelombang badan terdiri dari gelombang primer dan gelombang sekunder.

Gelombang primer

Gelombang primer Gelombang primer merupakan gelombang longitudinal atau gelombang kompresional, gerakan partikel sejajar dengan arah perambatannya.Sedangkan gelombang sekunder merupakan gelombang transversal atau gelombang shear, gerakan partikel terletak pada suatu bidang yang tegak lurus dengan arah penjalarannya. Gelombang kompresional disebut gelombang primer (P) karena kecepatannya paling tinggi antara gelombang lain dan tiba pertama kaligelombang atau getaran yang merambat di tubuh bumi dengan kecepatan antara 7-14 km/detik. Getaran ini berasal dari hiposentrum

Gelombang Primer (P Wave) ini menjalar akibat adanya penekanan dan peregangan. Kalau dilihat di gambar terlihat bergetar menekan dan meregang. kalau anda menghadap ke kiri maka goyangan tersebut berarah kiri-kanan atau maju-mundur (tergantung dimana arah menghadapnya). Gelombang primer ini memiliki kecepatan rambat sekitar 8 km/detik. Gelombang inilah yg akan dirasakan lebih dahulu ketika gempa, karena dia akan datang lebih dulu dibanding penjalaran gelombang yang lain.

Gelombang sekunder

Gelombang sekunder (gelombang transversal) adalah gelombang atau getaran yang merambat, seperti gelombang primer dengan kecepatan yang sudah berkurang,yakni 4-7 km/detik. Gelombang sekunder tidak dapat merambat melalui lapisan cair. gelombang shear disebut gelombang sekunder (S) karena tiba setelah gelombang P

Gelombang Sekunder (S Wave) ini menjalar seperti gelombang air yang mengalun-alun. Menjalar naik-turun. Jadi gelombang ini melempar-lemparkan keatas kebawah ketika anda merasakan adanya gempa. Gelombang Sekunder ini memilki kecepatan penjalaran sekitar 4 Km/detik, tentunya akan dirasakan lebih lambat dari Gelombang Primer. Namun gelombang sekunder ini memiliki lebar goyangan (amplitudo) yg besar sehingga gelombang ini akan memilki kekuatan yg sangat besar dalam merontokkan bangunan, juga mengakibatkan longsoran tebing-tebing yang curam.

Gelombang Permukaan (Surface wave).

Gelombang permukaan merupakan gelombang elastic yang menjalar melalui permukaan bebas yang disebut sebagai Tide Waves. Gelombang permukaan terdiri dari :

Gelombang Love

Gelombang love merupakan gelombang yang menjalar di permukaan bumi yang karakteristiknya memiliki pergerakan yang mirip dengan gelombang S, yaitu arah pergerakan partikel medan yang dilewati arahnya tegak lurus terhadap arah perambatan gelombang. Yang membedakan adalah lokasi perambatan gelombang cinta terdapat di permukaan bumi. Dan getarannya secara lateral (mendatar)

Gelombang Rayleigh

Gelombang Rayleigh gelombang permukaan juga yang arah pergerakan partikelnya bergerak berputar di permukaan.

2.1.2 Hukum Dasar Bentuk muka gelombang seismik untuk jarak yang jauh dari sumber dapat dianggap datar. Dengan demikian rambatan gelombang seismik dapat diperlakukan bagaikan sinar seismik. Berkas sinar seismik di dalam medium mematuhi pula hokum-hukum fisika pada sinar optic seperti hukum Snellius, hokum Huygens dan Azas Fermat, yang secara singkat dapat dikatakan sebagai berikut: a. Azas fermat

sinar gelombang selalu melintas pada lintasan optik yang terpendek (garis lurus). b. Hukum Huygens

setiap titik pada muka gelombang akan menjadi sumber gelombang baru c. Hukum Snellius 1) Gelombang datang, gelombang pantul dan gelombang bias terletak pada satu bidang 2) Sudut pantul sama dengan sudut datang 3) Sinus sudut bias sama dengan sinus sudut datang kali perbandingan kecepatan medium pembias terhadap kecepatan medium yang dilalui gelombang datang. 2.1.3 Asumsi Dasar Medium bawah permukaan bumi : a. Medium bumi dianggap berlapis-lapis dan tiap lapisan menjalarkan gelombang seismik dengan kecepatan berbeda. b. Makin bertambahnya kedalaman batuan lapisan bumi maka lapisannya makin padat. Penjalaran gelombang seismik : a. Panjang gelombang seismik jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan ketebalan lapisan bumi. Sehingga memungkinkan setiap lapisan bumi akan terdeteksi. b. Gelombang seismik dipandang sebagai sinar seismik yang memenuhi Hukum Snellius dan Prinsip Huygens. c. Kecepatan gelombang bertambah dengan bertambahnya kedalaman

d. Pada bidang batas antar lapisan, gelombang seismik menjalar dengan kecepatan gelombang pada lapisan bawahnya. 2.2 Seismik Refraksi Bila gelombnag elastik yang menjalar dalam medium bumi menemui bidang batas perlapisan dengan elastisitas dan densitas yang berbeda, maka akan terjadi pemantulan dan pembiasan gelombang tersebut. Bila kasusnya adalah gelombang kompresi (gelombang P) maka terjadi empat gelombang yang berbeda yaitu, gelombang P-refleksi (PP1), gelombang S-refleksi (PS1), gelombang P-refraksi (PP), gelombang S-refraksi (PS). Dari hukum Snellius yang diterapkan pada kasus tersebut diperoleh :

Gambar 1: Pemantulan dan pembiasan gelombang 2.2.1 Pembiasan pada Bidang Batas Lapisan Perinsip utama metode refraksi adalah penerapan waktu tiba pertama gelombang baik langsung maupun gelombang refraksi. Mengingat kecepatan gelombang P lebih besar daripada gelombang S maka kita hanya memperhatikan gelombang P. Dengan demikian antara sudut datang dan sudut bias menjadi :

Pada pembiasan kritis sudut r = 90 sehingga persamaan menjadi :

Hubungan ini dipakai untuk menjelaskan metode pembiasan dengan sudut datang kritis. Gambar 2 memperlihatkan gelombang dari sumber S menjalar pada medium V, dibiaskan kritis pada titik A sehingga menjalar pada bidang batas lapisan. Dengan memakai perinsip Huygens pada bidang batas lapisan, gelombang ini dibiaskan ke atas setiap titik pada bidang batas itu sehingga sampai ke detektor P1 yang ada di permukaan.

Gambar 2: Pembiasan dengan sudut datang kritis Jadi gelombang yang dibiaskan di bidang batas yang datang pertama kali di titik P pada bidang batas diatasnya adalah gelombang yang dibiaskan dengan sudut datang kritis. 2.2.2 Travel Time Gelombang Langsung, Bias dan Pantul Bila dibandingkan waktu tempuh gelombang langsung, bias dan pantul maka pada jarak relatif dekat TL < TB < TP, dengan TL, TB, dan T berturut-turut adalah waktuh tempuh gelombang langsung, bias dan pantul. Sedangkan pada jarak yang relatif jauh TB < TL < TP . Jelas bahwa gelombang pantul akan sampai di titik penerima dalam waktu yang paling lama.

Gambar 2.3 : Hubungan jarak dan waktu tempuh gelombang langsung, bias dan pantul. 2.2.3 Penjalaran Gelombang Pada Medium Dua Lapis Horizontal (Datar) Untuk menentukan kedalaman di bawah sumber gelombang dari medium dua lapis horizontal, dapat dilakukan pengukuran seperti pada Gambar berikut:

Gambar 4: lintasan penjalaran gelombang bias Pada titik A diadakan getaran sehingga timbul gelombang seismik yang menjalar ke arah
penerima (geophone) di titik D. Dengan mengamati waktu tiba dapat dibuat grafik hubungan jarak dengan waktu tiba sebagaimana ditunjukkan pada Gambar dibawah:

Gambar 5 Grafik hubungan jarak dan waktu tiba Berdasarkan grafik hubungan jarak dengan waktu tiba dapat ditentukan harga V1,V2, Ti, dan Xo. V1 adalah kecepatan gelombang seismik pada medium 1 sedang V adalah kecepatan gelombang seismik pada medium 2, T adalah waktu penggal (intercept time), dan Xo adalah jarak kritis. Untuk menentukan kedalaman di bawah sumber gelombang h, ditinjau terlebih dahulu tentang lintasan penjalaran gelombang bias waktu yang diperlukan untuk penjalaran dari lintasan A-B-C-D adalah T.

Dengan menggunakan persamaan disederhanakan menjadi:

pada

hokum

Snellius

maka

persamaan

dapat

Kedalaman lapisan di bawah geophone dapat ditentukan dengan dua cara yaitu: 1. Berdasarkan Waktu Penggal (intercept time) Ti Dari persamaan diatas, untuk X=0 maka besarnya T=Ti adalah

Atau

Nilai Ti dicari dari grafik hubungan antara waktu tiba dengan jarak. 2. Berdasarkan Jarak Kritis X0 Pada gambar 5, grafik T1 dan T2 berpotongan di titik (Xo, To). Di titik potong ini berlaku T1 = T2 = To dan X = Xo . Dengan demikian besarnya h adalah:

Harga Xo ditentukan dari titik potong grafik T1 dan T2 dari data yang diperoleh. 2.2.4 Penjalaran Gelombang Pada Medium Tiga Lapis Horizontal Penjalaran gelombang pada medium tiga lapis horizontal dapat dilihat pada Gambar 6 sebagai berikut:

Gambar 6: Penjalaran gelombang seismik untuk medium tiga lapis horizontal Kecepatan penjalaran gelombang seismik masing-masing lapisan adalah h1 (lapisan 1), dan h2 (lapisan 2). Gambar 7 adalah grafik hubungan jarak dengan waktu tempuh untuk medium tiga lapis horizontal. Waktu yang diperlukan untuk penjalaran gelombang adalah T, yang besarnya :

Atau

Gambar 7 : Grafik hubungan jarak vs- waktu tiba untuk tiga lapis horizontal. Kedalaman lapisan kedua di bawah sumber dapat ditentukan dengan dua cara yaitu: 1. Menggunakan Waktu Penggal (intercept time) Ti2 Untuk X=0, maka diperoleh harga T = Ti2 yang besarnya adalah :

2. Menggunakan Jarak Kritis Xc2 Cara ini menggunakan titik potong antara grafik T2 dan T3. Kedua grafik T2 dan T3 berpotongan di titik (XC2, TC2). T2 grafik hubungan antara waktu tiba dengan jarak untuk lapisan kedua. Sedangkan grafik T3 untuk lapisan ketiga.

Sehingga lapisan ketiga adalah: Untuk sejumlah n refraktor datar, secara umum dapat waktu rambat gelombangnya sebagai :

2.3 Seismik Refleksi 2.3.1 Pengolahan data seismik Salah satu metoda geofisika yang sering digunakan dalam eksplorasi migas adalah metoda seismik refleksi. Ada tiga tahapan dalam eksplorasi pada metoda ini yaitu : a) Akuisisi, yaitu pengambilan data lapangan yang hasilnya berupa rekaman hasil respon dari gelombang seismik yang dikirim ke dalam bumi. Proses perekamannya dilakukan dipermukaan bumi. b) Pengolahan, yaitu pengolahan data dari lapangan dan hasilnya ditampilkan dalam bentuk penampang seismik yang siap diinterpretasi.

c) Interpretasi, yaitu menterjemahkan data seismik ke dalam bahasa geologi dengan menerapkan konsep konsep geologi. Pengolahan data seismik ini bertujuan menghasilkan penampang seismik yang mempunyai resolusi yang cukup tinggi untuk melihat zona target yang diinginkan, dan dapat menampilkan kondisi bawah permukaan yang sesuai dengan interpretasi kondisi geologi daerah tersebut. Tahapan utama dalam pengolahan data seismik refleksi (Yilmaz,1994), yaitu : Dekonvolusi, Stack dan Migrasi. Dekonvolusi membantu dalam memperbaiki resolusi temporal dengan cara mengkompresi wavelet. Stack merupakan hasil rekaman yang dilakukan dengan menggabungkan beberapa tras seismik dari rekaman yang berbeda. Penerapan migrasi bertujuan untuk mengembalikan reflektor pada posisi yang sebenarnya dan menghilangkan difraksi. Yilmaz (1994) juga menguraikan tentang urutan dasar pengolahan data seismik. Urutan tersebut adalah sebagai berikut : Pra-pengolahan (Preprocessing) Dekonvolusi Pemilahan menurut CMP Analisis Kecepatan Koreksi NMO Pengolahan Poststack Migrasi

Pra-pengolahan data mengutamakan persiapan data yang akan diproses pada tahap selanjutnya. Persiapan ini misalnya mengubah data lapangan menjadi format yang sesuai dengan sistem atau perangkat lunak yang akan digunakan untuk pengolahan data tersebut. Pemindahan data geometri dari laporan lapangan menjadi data yang akan dibaca pada tahap selanjutnya. Tahap ini juga meliputi pengeditan tras seismik, misalnya muting dan kill trace. Dekonvolusi

Dekonvolusi adalah sebuah proses yang berguna untuk memperbaiki resolusi temporal dari data seismik. Untuk memahami dekonvolusi, pertama perlu ditinjau suatu lapisan litologi di bawah permukaan. Bumi tersusun oleh lapisan batuan dengan litologi dan sifat fisik yang berbeda. Perbedaan impedansi lapisan batuan yang berdekatan menyebabkan adanya refleksi dan terekam sepanjang permukaan. Kebalikan dari sebuah proses konvolusi untuk memperoleh respon reflektivitas disebut dengan dekonvolusi. Persamaan untuk model konvolusi adalah sebagai berikut :

x(t): rekaman seismik, w(t) : wavelet seismik e(t) : respon dari bumi, n (t) adalah noise dan * adalah konvolusi

Pemilahan menurut CMP


Setelah pengolahan diatas kemudian data diubah dari source receiver menjadi midpoint offset koordinat. Dalam tahapan ini sangat dibutuhkan informasi geometri di

lapangan. Istilah common depth point (CDP) juga digunakan untuk menggantikan CMP. CMP gather identik dengan CDP gather jika depth point berada pada bidang reflektor yang horizontal dan medium diatasnya merupakan lapisan yang horizontal. Analisis kecepatan

Pada prinsipnya, masing - masing CMP mempunyai informasi kecepatan, tetapi dalam prakteknya dipilih CMP CMP tertentu setiap beberapa kilometer sepanjang panampang tersebut. Jika memungkinkan analisis ini seharusnya dipilih yang mempunyai hubungan dengan geologi daerah tersebut dan berusaha untuk menghindari daerah anomali kecepatan seperti bidang sesar. Proses migrasi akan sangat tergantung dari analiss kecepatan ini. Koreksi MNO

Normal Moveout (NMO) bertujuan meluruskan suatu reflektor pada CMP gather untuk memperbaiki rasio S/N data yang distack. Dalam suatu limit, kecepatan bumi mendekati kecepatan konstan, persamaan NMO harus mendekati hasil yang nyata,

Dimana to merupakan waktu zero-offset dan v adalah kecepatan pada mediannya. Normal Moveout (NMO) ini dapat menyebabkan terjadinya peregangan (stretching) yang menyebabkan terjadinya distorsi frekuensi. Karena itu sebelum dilakukan penjumlahan beberapa CMP gather (stack) perlu dilakukan penghapusan atau muting. Persamaan Normal Moveout (NMO) menurut Yilmaz, 1994 adalah :

t(x) : waktu tempuh dari sumber reflektor dan reflektor penerima. t(0) : two-way time waktu tempuh vertikal dari permukaan reflektor. x = jarak antara sumber dan penerima V = kecepetan gelombang pada media Pengolahan Poststack

Salah satu proses yang diterapkan pada tahap ini adalah Automatic Gain Control (AGC) yang berguna untuk memperkuat refleksi refleksi yang lemah. AGC ini juga dapat dilakukan setelah migrasi. Migrasi

Migrasi merupakan suatu proses yang memindahkan amplitudo seismik dari posisi rekaman ke posisi titik refleksi. Proses ini juga berguna untuk menghilangkan difraksi. 2.3.2 Preserved Amplitude Pengolahan data untuk preserved amplitude Pada prinsipnya tidak jauh berbeda dengan pengolahan standar. Pada pengolahan ini dilakukan penambahan tahapan surface consistent amplitude dan surface consistent deconvolution. Surface consistent amplitude berguna untuk mengestimasi amplitudo relatif yang dipengaruhi oleh sumber, penerima, jarak bin, CDP dan channel pada suatu permukaan yang tetap. Amplitudo dari beberapa tras adalah sebuah kombinasi dari sejumlah faktor yang meliputi kekuatan tembakan, respon dan gabungan geophone, kualitas dari amplifier channel, jarak dari tras, densitas dan perbedaan kecepatan pada bidang reflektor dan juga noise. Energi adalah jumlah kuadrat amplitudo dari sebuah wavelet. Amplitudo tersebut dikalikan dengan sebuah konstanta dimana hal ini sering dihilangkan. Jika wavelet bt adalah :

Dan energi adalah:

dimana :

E = energi b = amplitudo k = konstanta

Untuk keperluan analisis, energi ini akan digunakan untuk melihat perbedaan antara pengolahan standar dengan pengolahan preserved amplitude. Rekaman seismik berasal dari sebuah konvolusi dari sinyal dan sumber dengan respon bumi. Respon bumi ini mencakup beberapa efek yang tidak diharapkan seperti reverberation, attenuation dan ghosting. Tujuan dari dekonvolusi adalah mengestimasi efek efek tersebut. Rumusan untuk surface consistent deconvolution sebagai berikut :

Dimana: x(t) : seismogram Sij(t) : komponen gelombang yang berasosiasi dengan lokasi sumber j qi(t) : komponen gelombang yang berasosiasi dengan lokasi receiver h (t) : komponen gelombang yang berasosiasi dengan offset e(t) : respon bumi pada lokasi titik tengah sumber penerima (i+j)/2 n (t) : komponen noise

BAB III METODOLOGI


3.1 Waktu dan Tempat Praktikum metode seismik ini untuk seismik reflaksi digunakan data sekunder dari asisten sedangkan untuk sesimik refreksi dilaksanakan di belakang masjid Universitas brawijaya yang belum jadi pada bulan Desember 2014 dan untuk prosesing data dilaksanakan 3 kali pertemuan. 3.2 Peralatan Pada praktikum seismik refraksi digunakan beberapa peralatan sebagai berikut: 1. OYO McSeis 3 model 1817 2. Geophone 3. GPS 4. Battery size AA 5. Kamera digital 6. Palu pemicu getaran 7. Lempeng besi 8. Peta geologi daerah riset 9. Meteran 10. Peralatan menulis 3.3 Akuisisi Data 3.3.1 Seismik Refraksi Akuisisi seismik refraksi ini digunakan 3 geophone dengan jarak antar geophone yaitu 2 meter. Prngukuran dilakukan dengan bentang garis yaitu segaris antara sumber seismik dengan 3 geophonnya. Pengukuran juga dilakukan dengan dua konfigurasi yaitu forward dan reverse. Untuk forward, sumber seismik berada di depan geophone (off end spread) sedangkan reverse, sumber seismik berada di belakang geophone (end on spread). Sumber seismik yang digunakan yaitu dengan dentuman palu godam yang sudah disiapkan beserta lempengan besi. Parameter yang diukur dan dicatat adalah waktu tiba pertama gelombang seismik atau first break time yang terekam pada alat OYO McSeis 3. : 1 unit : 3 buah : 1 unit : 4 buah : 2 unit : 1 buah : 1 buah : 1 lembar : 1 buah : 1 set

Gambar 3.1: Alat OYO McSeis 3 beserta geophon

Gambar 3.2: rangkaian alat saat pengambilan data seismik refraksi 3.3.2 Seismik Refleksi Dikarenakan keterbatasan peralatan, waktu dan lain sebagainya, maka untuk praktikum seismik refleksi digunakan data sekunder. Oleh karena itu disisni penulis tidak menjelaskan akuisisi untuk seismik refleksi 3.4 Pengolahan Data 3.4.1 Seismik Refraksi Raw data pada akuisisi refraksi adalah berupa waktu tiba gelombang yang dibaca sebanyak tiga kali. Pengolahan data dilakukan menggunakan bantuan Ms Excel dengan cara merata-ratakan nilai pembacaan waktu tiba gelombang. Kemudian dibuat grafik hubungan antara waktu tiba gelombang dengan jarak geophone dari sumber. Dari grafik tesebut ditentuikan gradient-nya. Besarnya gradient sama dengan 1/V, sehingga kecepatan gelombang dapat ditentukan. Selanjutnya kedalaman medium dapat ditentukan dengan dua

cara, yaitu dengan menggunakan waktu penggal dan jarak kritis, namun pada laporan ini digunakan cara dengan jarak kritis. Setelah diketahui nilai kecepatan dan kedalaman tiap lapisan, selanjutnya dibuat model 2D-nya secara sederhana pada program paint untuk melihat bentuk perlapisan bawah permukaan. 3.4.2 Seismik Refleksi Umumnya pengolahan data seismik refleksi dibagi menjadi 3 yaitu: 1. Pre-processing Proses yang dilakukan pada tahapan pre-processing adalah meliputi: a) True Amplitude Recovery Tahapan ini diperlukan untuk memulihkan kembali besaran-besaran amplitudo karena kehilangan energi yang disebabkan oleh hal-hal tersebut di atas agar seolaholah energi adalah sama pada setiap titik. Adapun proses pemulihan amplitudo ini adalah dengan cara mengaplikasikan nilai koreksi amplitudo konstan dengan nilai koreksi sebesar 1,6 dB/sec. b) Edit Trace Prinsip dari proses editing ini adalah membuang atau menghapus sinyal-sinyal yang tidak diinginkan (noise) dalam processing data seismik. Pada tahapan ini, ada dua buah proses editing yang dilakukan, yaitu proses killing trace, dimana pada proses ini dilakukan penghapusan trace-trace yang mengandung noise dalam bentuk 1 dimensi saja (dimensi waktu). Proses yang kedua adalah muting, dimana pada proses ini dilakukan pembuangan sinyal-sinyal noise yang tidak diinginkan dalam bentuk 2 dimensi. Muting ini biasanya membuang sinyal-sinyal noise yang muncul sebelum first break time. Adapun jenis mute yang dipakai pada proyek ini adalah top mute. Selain itu, proses muting ini juga dilakukan sebagai salah satu cara untuk mengecek (QC) hasil dari geometry assignment yang telah dilakukan sebelumnya. Apabila terjadi kesalahan dalam proses geometry assignment, maka hasil plotting dari nilainilai mute yang kita berikan akan tidak cocok dengan data. Hal ini terjadi dikarenakan bentangan yang terjadi di lapangan berbeda dengan pattern yang telah kita set sebelumnya pada geometry assignment. Jika terjadi kesalahan semacam ini, maka perlu dilakukan perbaikan ulang pada proses geometri assignment dengan nilai-nilai pattern yang benar. c) Filtering Pada prinsipnya, frekuensi sinyal seismik di lapangan mempunyai bandwith yang cukup lebar. Pada projek A5.43 ini bandwith frekuensi yang dihasilkan

mempunyai range frekuensi 1 250 Hz. Oleh karena itu, dari sekian range bandwith frekuensi yang dihasilkan tersebut, tidak semuanya merupakan data-data sinyal seismik, sebagian merupakan sinyal-sinyal noise. Untuk itu diperlukan suatu proses yang dapat memisahkan range frekuensi antara sinyal sesimik dengan sinyal noise yang biasa dikenal dengan proses Filtering. Band-pass filter adalah metoda yang mudah untuk menekan noise yang ada di luar spektrum frekuensi dari sinyal yang diinginkan. Adapun filter digital yang dipakai pada projek ini merupakan filter digital bandpas filter dengan range nilai frekuensi 8 10 40 50 (Hz). Nilai parameter ini didapat dari hasil try & error tes parameter di awal pengerjaan. d) Dekonvolusi Dekonvolusi dilakukan sepanjang sumbu waktu (time axis) yang bertujuan untuk meningkatkan resolusi temporal dengan mengkompresi wavelet seismik asal sampai mendekati bentuk spike dan meminimalkan reverberasi gelombang. Untuk itulah, maka pada awal pengerjaan dekonvolusi diperlukan suatu time gate dimana di dalam gate tersebut diusahakan tercakup nilai-nalai sinyal to noise rasio yang cukup baik agar dihasilkan operator dekonvolusi yang tepat. Biasanya nilai signal to noise rasio yang masih cukup baik terdapat antara first break time sampai beberapa milisecond di bawahnya, dimana amplitudo sinyal masih dapat terlihat cukup kuat. Adapun jenis dekonvolusi yang dipakai pada pengolahan data kali ini adalah tipe spike / predictive dekonvolusi, dimana konsep dari metode ini yaitu dengan menggunakan teori filter Wiener yang merupakan sebuah operasi matematik yang menganut azas kuadrat terkecil dalam menjalankan operasinya. e) Koreksi Statik Tujuan dari koreksi statik ini adalah untuk menghilangkan pengaruh topografi terhadap sinyal-sinyal seismik yang berasal dari reflektor. Pada flow ini dilakukan perhitungan koreksi statik berdasarkan metode refraksi statik. Sebelum menjalankan refraksi statik, user harus menjalankan subflow apply elevation statics terlebih dahulu untuk menghasilkan harga koreksi statik source dan receiver. Koreksi statik yang telah telah dihasilkan tersebut akan disimpan di dalam database source dan receiver sebagai koreksi statik ketinggian (elevation statics), yang diperlukan untuk perhitungan koreksi refraksi statik sisa (residual refraction statics). 2. Processing Pemrosesan data seismik adalah untuk mengolah data hasil perekaman yang merupakan proses awal yang hanya membaca data produksi yang berada di dalam tape dari Labo. Data dari Labo tersebut kemudian diolah menggunakan data koordinat topografi, sehingga menghasilkan data berupa penampang melintang stack yang selanjutnya data ini akan diproses.

Data yang disimpan dalam disket berupa XPS (informasi nomor record, Shot Point, dan active channel), SEG (koordinat trace), SPS (informasi data mengenai uphole, waktu tembak, dan SP), RPS (informasi nomor trace dan koordinat), OBS (data seperti laporan), dan RAW (informasi mengenai kegiatan Labo). Tahapan awal dalam pemrosesan data adalah pengecekan terhadap data yang terekam dalam cartridge, disket, dan observer report. Setelah itu dilakukan proses geometri yaitu pemberian titik koordinat pada data tersebut. Kemudian dilakukan pengecekan terhadap posisi penembakan. Setelah data mengalami pengecekan dan sesuai dengan kondisi semestinya, dilakukan tahap preprocessing yaitu proses penyempurnaan data dengan cara true amplitudo recovery dan deconvolution. Tahapan selanjutnya dengan melakukan velocity analysis, NMO, dan terakhir proses brute satck. Penampang brute stack ini menampilkan model struktur lapisan bumi berdasarkan domain waktu. Ada beberapa contoh peranan topografi terhadap pengolahan data seismik antara lain: a) Kontrol Geometri Sebagai contoh pemrosesan data memerlukan koordinat berformat SEG untuk penentuan quality control geometri yang akan berpengaruh pada hasil stack (penjumlahan record dari tiap trace yang berada pada CDP yang sama). b) Koreksi statik Koreksi statik ini menggunakan elevasi yang diukur oleh topografi. Koreksi ini dilakukan untuk menyamakan datum dari receiver sehingga diperoleh arrival time yang terletak pada satu bidang horizontal yang sama. c) Plotting Final Stack Pada plotting final stack dibutuhkan data crossing line yang berfungsi untuk mengikat antara 2 line yang saling berpotongan. Lebih jauh lagi data crossing line ini dibutuhkan interpreter untuk menginterpretasi awal supaya interpreter dapat melihat penampang seismik baik itu secara inline maupun crossline secara tepat. Hasil akhir dari pemrosesan data adalah berupa hasil stack yang merupakan gambaran yang berada di bawah permukaan yang terekam oleh receiver dimana noisenoise yang ada sudah difilter, sehingga hasil final stack ini dapat diinterpretasi lebih lanjut oleh interpreter. 3. Post-processing a) Koreksi Residual Statik Dalam flow ini akan dilakukan koreksi statik sisa, yang disebut residual statics correction. Input dari flow ini pada dasarnya adalah koreksi statik ketinggian dari source dan receiver yang telah dihasilkan sebelumnya dari subflow apply elevation statics di dalam flow refraction statics. Sebelum masuk ke residual statics, flow

pengolahan data seismik masuk dulu ke trace display, agar dapat dilakukan static horizon picking yang nantinya akan digunakan sebagai time gate pada pengaplikasian koreksi statik sisa tersebut. Static horizon picking dilakukan dengan membuat picks untuk satu ensemble traces pada suatu time, dimana pada time tersebut diperkirakan akan terdapat event seismik yang utama/dominan. Setelah dilakukan picking autostatic horizon, kemudian hasil dari koreksi residual static ini diaplikasikan kembali ke data preprocessing untuk di hitung ulang nilai kecepatannya melalui analisa kecepatan tahap 2. Sehingga, setelah melalui tahapan proses ini diharapkan data-data yang dihasilkan benar-benar sudah terkoreksi secara benar dan menghasilkan penampang seismik yang benar-benar merepresentasikan keadaan bawah permukaan bumi dengan tepat. Adapun tampilan dari hasil residual static serta analisa kecepatan ke-2 ini dapat ditampilkan / di-display ke dalam display Final Stack. b) Migrasi Untuk mengkoreksi letak titik refleksi pada posisi sebenarnya maka digunakanlah metode migrasi. Dalam flow ini akan dilakukan serangkaian tahap untuk mengaplikasikan proses migrasi pada data, sehingga akan dihasilkan dataset terakhir dari pengolahan data seismik ini berupa data yang telah dimigrasi (migrated data). Algoritma migrasi yang akan diaplikasikan dapat dipilih sendiri oleh user, disesuaikan dengan kebutuhan dan treatment dari data yang bersangkutan. Dalam panduan ini, metode yang akan digunakan untuk migrasi adalah dengan menerapkan postack time migration menggunakan finite difference time migration dengan max dip 70 derajat. Pemilihan ini didasarkan pada hasil pemilihan atau try & error pemilihan parameter. Sampai dengan tahap ini telah selesai dilakukan serangkaian tahap dalam melakukan pengolahan data seismik postack time migration untuk tahap dasar, yaitu dari pembacaan raw data seismik sampai dengan dihasilkannya data postack yang telah di migrasi. Pada penampang postack hasil migrasi tersebut diatas, sangat terlihat adanya efek smile atau swing. Efek tersebut dapat disebabkan oleh adanya noise dominan yang belum dibersihkan secara optimal pada saat proses trace editing. Adanya hal tersebut sekaligus untuk menunjukkan kepada pembaca bahwa kurang optimalnya (atau bahkan kesalahan) dalam pengolahan data seismik di suatu tahap (atau flow) akan sangat mempengaruhi hasil pengolahan dari tahap lainnya, hingga pada akhirnya kesalahan-kesalahan itu akan terakumulasi pada hasil akhir pengolahan data seismik, yang dalam konteks ini adalah penampang postack hasil migrasi. Sebagai tahapan akhir dari field processing, dilakukan suatu tahapan akhir berupa plotting, dimana plotting ini dilakukan sebagai alat untuk menampilkan hasil akhir data berupa penampang seismik dalam bentuk wiggle lengkap dengan attribut-atribut keterangan yang menyertainya.

BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Seismik Refraksi
3

2,5

2 t (ms)

1,5

R f

0,5

0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 X (meter)

= Reverse = Forward Dari grafik yang telah di plot dari percobaan forward dan reverse didapatkan 3 perlapisan dengan kecepatan rambat yang berbeda. Kecepatan gelombang merupakan nilai kebalikan dari gradient (gradient = 1/V), sementara ketebalan lapisan dapat diperoleh dari perhitungan menggunakan jarak kritis, dengan persamaan sebagai berikut:

Dengan analisa kecepatan dari gradient grafik dan penentuan ketebalan menggunakan persamaan di atas, maka diperoleh nilai kecepatan dan kedalaman tiap lapisan seperti pada table berikut:

Tabel hasil perhitungan kecepatan dan ketebalan Lapisan 1 2 3 Forward Kecepatan (m/s) Ketebalan (m) 6000 2,47 1140 0,68 3330 Reverse Kecepatan (m/s) Ketebalan (m) 13330 2,2 3000 1719,16 8000 -

Dari perhitungan diatas, dibuatlah perlapisan 2D sebagai berikut:

Dari hasil perhitungan diatas terdapat ketimpangan dengan dasar teori. Bisa dilihat dari pemodelan diatas kecepatan nya semakin dalam lapisan semakin turun kecepatan rambatnya. Sedangkan dari pemodelan diatas terjadi ketimpangan akan kedalamannya yang sampai 1719,16 m. Padahal untuk seismik refraksi hanya untuk eksplorasi 40-50 meter saja. Keanehan yang terakhir adalah nilai kecepatan rambat gelombang yang sangat besar mencapai 8000 m/s. Jika dibandingkan dengan table kecepatan rambat gelombang, nilai kecepatan gelombang pada lapisan sedimen atau lapisan lapuk berkisar antara 1400-1800 m/s, seperti yang ditunjukkan pada table di bawah.

Tabel Massa jenis dan kecepatan gelombang di lapisan sedimen

Beberapa hal yang mungkin mempengaruhi hasil interpretasi seismik refraksi ini sehingga mengakibatkan ketimpangan adalah proses dan lokasi akuisisi yang tidak memungkinkan sehingga akuisisi data dilakukan seadanya. Hal ini mungkin menjadi salah satu faktor mengingat lokasi akuisisi yang curam dan dengan panjang line yang hanya 8 meter. Selain itu, proses pengolahan data juga memberikan andil dalam kesalahan interpretasi ini, seperti kurang tepatnya parameter yang digunakan untuk menentukan gradient data pada grafik dan kurang sesuainya rumus perhitungan yang digunakan untuk menentukan ketebalanan lapisan. 4.2 Seismik Refleksi 4.2.1 Tahapan Pengolahan Data Seismik Beberapa tahapan yang biasa dilalui didalam pengolahan data seismik: 1.Edit Geometri Data sebelumnya di-demultiplex dan mungkin di-resampel kemudian disorting didalam CDP (common depth point) atau CMP (common mid point). Informasi mengenai lokasi sumber dan penerima, jumlah penerima, jarak antara penerima dan jarak antara sumber di-entry didalam proses ini. 2. Koreksi Statik

Koreksi statik dilakukan untuk mengkoreksi waktu tempuh gelombang seismik yang ter-delay akibat lapisan lapuk atau kolom air laut yang dalam. 3. Automatic Gain Control (AGC) Kompensasi amplitudo gelombang seismik akibat adanya divergensi muka gelombang dan sifat attenuasi bumi. 4.Dekonvolusi (Pre-Stack) Dekonvolusi dilakukan untuk meningkatkan resolusi vertikal (temporal) dan meminimalisir efek multiple. 5. Analisis Kecepatan (Velocity Analysis) dan Koreksi NMO Analisis kecepatan melibatkan semblance, gather, dan kecepatan konstan stack. Informasi kecepatan dari velocity analysis digunakan untuk koreksi NMO (Normal Move Out) 6. Pembobotan tras (Trace Weighting) Teknik ini dilakukan untuk meminimalisir multiple yang dilakukan dalam koridor CMPsebelum stacking. Proses ini menguatkan perbedaan moveout antara gelombang refleksi dengan multiplenya sehingga dapat mengurangi kontribusi multiple dalam output stack. 7. Stack Penjumlahan tras-tras seismik dalam suatu CMP tertentu yang bertujuan untuk mengingkatkan rasio sinyal terhadap noise. Nilai amplitudo pada waktu tertentu dijumlahkan kemudian dibagi dengan akar jumlah tras. 8. Post-Stack Deconvolution Dekonvolusi mungkin dilakukan setelah stacing yang ditujukan untuk mengurangi efek ringing atau multipel yang tersisa. 9. Migrasi F-K (F-K Migration) Migrasi dilakukan untuk memindahkan energi difraksi ke titik asalnya. Atau lapisan yang sangat miring ke posisi aslinya. Mingrasi memerlukan informasi kecepatan yang mungkin memakai informasi kecepatan dari velocity analysis. Gambar dibawah menunjukkan karakter rekaman seismik sebelum dan sesudah migrasi. 10. Data Output

4.2.2 Pengolahan Data Seismik Menggunakan Seismic Unix Untuk mengolah data seismik reflaksi pada praktikum ini digunakan software Seismic Unix, berikut tahapan pengolahan data seismik reflaksi menggunakan software Seismic Unix yang diambil dari studi kasus pada literatur ensiklopedi seismik oleh Agus Abdullah: Tahap1: Ambil data seismik 2D dengan format segy Tahap2: Simpanlah file tersebut dalam folder tertentu, katakanlah processing, lalu ekstrak sehingga kita akan memperoleh beberapa file berikut: Line_001.sgy, Line_001.SPS, Line001.RPS, Line_001.XPS, dan Line_001.TXT. File dengan ektensi SPS dan RPS berisikan informasi sumber-penerima seperti indeks (nomor), koordinat, elevasi, statik, dll. File XPS berisikan informasi hubungan sumber-penerima (relational) dan TXT berisikan informasi tentang parameter survey. Berikut adalah isi dari Line_001.TXT:

Tahap 3: Untuk melakukan processing dengan Seismic Unix, terlebih dahulu kita melakukan konversi format data seismik dari segy ke su.
segyread tape=Line_001.sgy verbose=1 endian=0 > Line_001.su

Pada perintah di atas, saya mendefiniskan endian=0 karena saya menggunakan mesin little endian (Laptop/PC). Jika anda menggunakan workstation anda harus medefinisikan endian=1. Tahap 4: Analisa header data su dengan perintah
surange < Line_001.su

Sehingga diperoleh:

Dari informasi di atas terlihat bahwa data seismik ini memiliki jumlah trace 71284, ep adalah shot number dari 32 sampai 282 = 251 shots, serta indeks trace dalam setiap shot tracf dari -1 sampai 282. Dengan kata lain jumlah trace dalam setiap shot adalah 284. Tahap 5: Untuk mengevaluasi data yang kita miliki lakukan peritah berikut:
suwind < Line_001.su key=ep min=32 max=32 | suxwigb perc=80

Perintah di atas, kita memilih data dengan suwind untuk shot ke 32, lalu ditampilkan sebagai wiggle dengan suxwigb dengan persentase amplitudo 80. Gambar di bawah ini adalah hasil dari perintah di atas, serta zoom in (kanan) dari trace-trace awal. Terlihat bahwa 2 trace pertama adalah data source signature yang didefinisikan dengan tracf=-1 dan tracf=0.

Lakukanlah proses ini untuk beberapa tempat dengan ep berbeda. Kesimpulan yang saya peroleh adalah semua shot memiliki 284 trace dengan 2 trace pertama sebagai source signature yang ditanamkan pada setiap shot record. Tahap 6: Pada tahapan ini, lalu menghilangkan (kill), trace vibroseis dengan key=tracf -1 dan 0. Dari surange, kita mengetahui bahwa rentang tracf dimulai dari -1,0,1,2,3...,282. Perintah berikut adalah cara untuk tidak melibatkan trace vibroseis yang tertanam pada shot gather.
suwind < Line_001.su key=tracf min=1 max=282 > Line_001_kill_vibro.su

Coba tampilkan dengan perintah berikut lalu zoom in dengan meng-klik left button, tahan dan geser untuk memastikan trace vibroseis telah hilang (untuk meng-unzoom, klik pada window xwigb).
suwind < Line_001_kill_vibro.su key=ep min=32 max=32 | suxwigb perc=80

Lalu jika ingin menampilkan shot 32 dalam bentuk image,


suwind < Line_001_kill_vibro.su key=ep min=32 max=32 | suximage perc=80

Dari gambar di atas terlihat sebuah rekaman yang masih penuh dengan noise seperti ground roll, air blast, direct wave, coherent noise, trace yang tidak koheren (time shift), amplitudo yang tidak sama antara zona dangkal dan dalam (akibat geometrical spreading), dll.

Tahap 7: Perintah berikut ini adalah cara untuk mengkompensasi penurunan amplitudo dengan AGC (Automatic Gain Control). Perlu diingat bahwa AGC merupakan operasi trace by trace, bisa digunakan hanya untuk interpretasi bukan untuk analisis AVO. Untuk analisis AVO sebaiknya digunakan dB/sec gain setelah koreksi NMO.
sugain < Line_001_kill_vibro.su agc=1 wagc=0.2 > Line_001_kill_vibro_agc.su

Tampilkan:
suwind < Line_001_kill_vibro_agc.su key=ep min=32 max=32 | suximage perc=80

Gambar di atas adalah shot gather AGC

Tahap 8: Sebagaimana yang kita perhatikan pada tahapan sebelumnya, shot gather yang kita miliki masih mengandung berbagai macam noise, diantara noise yang paling dominan adalah ground roll. Untuk mengeliminasi ground roll, pada tahapan ini kita akan melakukan F-K filtering. Dimana F-K merupakan spectrum frekuensi (F) terhadap bilangan gelombang (K). Fungsi Seismic Unix untuk melakuan F-K filtering adalah sudipfilt.

Sebelum melakukan F-K filtering, data yang kita miliki harus memiliki sampling spatial (d2) yang pada hakikatnya merupakan jarak antara trace atau geophone interval (dalam hal ini 25 meter atau 0.025km).
sushw < Line_001_kill_vibro_agc.su key=d2 a=0.025 > Line_001_kill_vibro_agc_d2.su

Setelah memasukkan d2 terhadap trace header (perintah di atas), marilah kita melakukan test dengan memilih shot gather 32 (ep=32).
suwind < Line_001_kill_vibro_agc_d2.su key=ep min=32 max=32 > Line_001_kill_vibro_agc_d2_shot32.su

Didalam terminal ketiklah gedit & lalu copy-paste dan save kode berikut lalu berilah nama testfk

#!/bin/sh slopes=-0.5,-0.3,0.3,0.5 amps=1,1,1,1 bias=0.0 dx=0.025 dt=0.002 sudipfilt < Line_001_kill_vibro_agc_d2_shot32.su dt=$dt dx=$dx \ slopes=$slopes amps=$amps bias=$bias | suximage title="slope=$slopes amps=$amps bias=$bias" \ windowtitle="Shot 32" \ label1="Samples" label2="Trace" f1=1 d1=1 f2=1 d2=1 perc=80& sudipfilt < Line_001_kill_vibro_agc_d2_shot32.su dt=$dt dx=$dx \ slopes=$slopes amps=$amps bias=$bias | suspecfk | suximage title="F-K Spectrum of Shot 32" \ windowtitle="F-K" label1="Frequency" label2="K" legend=1 cmap=hsv1 perc=97&

Lalu ketik pada terminal linux sh testfk. Maka anda akan memperoleh gambar seperti di bawah ini. Data seismik sebelum F-K filter (kiri) dan Spektrum F-K (kanan).
Klik u ntu k memperbesar gambar.

Parameter utama dari operasi F-K filtering adalah slopes, amps, bias. Slopes adalah kemiringan dari F-K spectrum, amps=1,1,1,1 (tidak melakukan filter), amps=1,0,0,1 (reject filter), amps=0,1,1,0 (pass filter). dx adalah geophone interval dalam km dan dt adalah time sampling interval dalam detik. Sedangkan bias adalah parameter aliasing. Bias=0 artinya data yang kita miliki tidak memiliki aliasing. Coba anda lakukan test jika bias=0,25 lalu lihat perbedaannya. Gambar dibawah ini adalah hasil nya: slopes=-0.5,-0.3,0.3,0.5, amps=0,1,1,0, bias=0.0, dx=0.025, dt=0.002

Bandingkan shot gather diatas (setelah F-K) dengan shot gather sebelumnya (sebelum F-K), perhatikan ground roll yang sudah mulai tereliminasi Gambar dibawah ini adalah jika dipilih amps=1,0,0,1 (reject filter). Kita melihat bahwa inilah noise yang kita kehendaki untuk di-reject.

Untuk analisa F-K, anda bisa melakukan test dengan berbagai macam slopes katakanlah slopes=-1,-0.5,0.5,1. Lihat hasilnya, lalu anda putuskan mana yang paling baik. Lakukanlah untuk beberapa lokasi ep, jika sudah memperoleh hasil yang terbaik dengan parameter tertentu, maka anda bisa melakukan F-K filter untuk seluruh shot gather yang kita miliki dengan mengetikkan kode berikut (buat satu baris).
sudipfilt < Line_001_kill_vibro_agc_d2.su dt=0.002 dx=0.025 slopes=-0.5,-0.3,0.3,0.5 amps=0,1,1,0 bias=0 > Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk.su

Tahap 9:

Setelah kita melakukan eliminasi groundroll dengan F-K filtering, pada tahapan ini kita akan melakukan eliminasi noise-noise yang lainnya dengan menggunakan bandpass filter (sufilter). Didalam bandpass filter terdapat empat parameter frekuensi yang harus kita tentukan f1,f2,f3 dan f4. Pemilihan rentang frekuensi yang akan diloloskan merupakan hal yang sangat krusial, jangan sampai proses ini menghilangkan data reflektor yang anda miliki. Untuk menghindari hal ini anda harus memperhatikan spektrum frekuensi serta rekaman reflektor yang dilihat pada shot gather. Didalam terminal linux, ketiklah gedit & lalu copy, paste dan save kode berikut lalu beri nama filter
#!/bin/sh #memilih shot dengan ep=80 suwind < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk.su key=ep min=80 max=80 > Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_ep80.su #menampilkan shot dengan ep=80 suximage < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_ep80.su perc=80 & #memilih shot dengan ep=80 dan tracf 100-105 suwind < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_ep80.su key=tracf min=100 max=105 > Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_ep80_tracf100_105.su #spectrum untuk shot dengan ep=80 dengan tracf 100-105 suspecfx < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_ep80_tracf100_105.su | suxwigb & #melakukan filter untuk shot dengan ep=80 sufilter < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_ep80.su f=10,15,50,60 > Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_ep80_flt.su #menampilkan shot yang telah difilter suximage < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_ep80_flt.su perc=80 & #memilih shot yang telah difilter dengan tracf 100-105 suwind < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_ep80_flt.su key=tracf min=100 max=105 > Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_ep80_flt_tracf100_105.su #spectrum untuk shot dengan ep=80 dengan tracf 100-105 setelah filter suspecfx < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_ep80_flt_tracf100_105.su | suxwigb &

Lalu ketik sh filter sehingga kita memperoleh gambar berikut:

Gambar di atas adalah shot gather dengan ep=80 (kiri) serta spektrum frekuensi untuk shot gather tersebut dengan tracf ke 100 sampai 105 (kanan). Perhatikan noise yang terdapat pada data, serta rentang frekuensi yang masih full bandwidth dari 8 sampai 100Hz (sumbu vertikal pada gambar sebelah kanan adalah frekuensi dalam Hz). Alasan dipilih tracf ke 100 sampai 105 karena trace tersebut adalah mid offset, dari surange pada tahapan-tahapan sebelumnya kita mengetahui bahwa tracf yang kita miliki dimulai dari 1 s/d 282. Gambar di bawah ini adalah hasil setelah difilter dengan bandpass filter 10,15,50,60Hz, yang berarti saya hanya meloloskan frekuensi dari 10 sampai 60Hz. Anda mungkin berargumen bahwa pemilihan cut off frekuensi 10Hz sangat membahayakan data seismik yang kita miliki, akan tetapi alasannya bahwa untuk kasus data ini, walaupun cut off 10Hz, reflektor yang saya miliki masih bisa terselamatkan (lihat shot gather). Tentu saja sebelumnya dilakukan test dengan berbagai kombinasi frekuensi dari mulai 3,6,50,60Hz, 4,8,50,60Hz, 5,10,50,60Hz dan seterusnya.

Lakukanlah proses di atas untuk beberapa lokasi ep, jika anda sudah memperoleh hasil yang paling baik, maka anda dapat menerapkannya untuk seluruh data yang kita miliki dengan perintah sbb:
sufilter < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk.su f=10,15,50,60 > Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt.su

Tahap 10: Pada tahapan ini kita akan menerapkan proses deconvolusi yang bertujuan untuk meningkatkan resolusi temporal dari reflektor serta menekan multiple. Namun sebelum melakukan deconvolusi, saya akan menerapkan autocorrelation terlebih dahulu yang sangat membantu mempelajari perilaku multiple. Kode di bawah ini adalah kode untuk melakukan test autocorrelation dan deconvolusi. Parameter utama yang harus kita perhatikan adalah minlag dan maxlag, sedangkan ntout adalah jumlah sampel hasil autocorrelasi yang akan dihasilkan. Anda bisa melakukan test dengan pnoise yang berbeda. Pada terminal linux ketik gedit, copy paste kode berikut lalu save dengan nama decon

#!/bin/sh minlag=0.02 maxlag=0.1 pnoise=0.001 ntout=120 #memilih data dengan ep=150 suwind < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt.su key=ep min=150 max=150 > Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_ep150.su #menampilkan data dengan ep=180 suximage < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_ep150.su perc=80 & #melakukan autocorrelation dan menampilkan autocorrelation-nya suacor < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_ep150.su suacor ntout=$ntout | suximage perc=80 & #melakukan deconvolusi supef < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_ep150.su > Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_ep150_decon.su minlag=$minlag maxlag=$maxlag pnoise=$pnoise #menampilkan hasil deconvolusi suximage < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_ep150_decon.su perc=80 & #melakukan autocorrelation dari data yang telah di-deconvolusi suacor < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_ep150_decon.su suacor ntout=$ntout | suximage perc=80 &

Lalu pada terminal linux ketik sh decon. Gambar dibawah ini adalah gather sebelum deconvolusi (kiri) serta autocorrelation (kanan)

Untuk menentukan minlag dan maxlag, lihatlah penampang autocorrelation. minlag dihitung dari peak amplitude sampai zero crosing yang kedua. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa peak amplitude data ini adalah sekitar 0.12s dan zero crossing yang kedua sekitar 0.14s, dengan demikian minlag=0.14-0.12=0.02, sedangkan maxlag 0.1 dipilih karena reverberasi masih terulang sampai sekitar 0.22s. sehingga maxlag=0.22-0.12=0.1s. Gambar di bawah ini adalah hasil deconvolusi serta autocorrelation-nya. Perhatikan bentuk wavelet setelah deconvolusi yang lebih ramping (meningkat resolusi temporal), serta reverberasi yang sudah tereliminasi. Hal ini bisa kita lihat baik pada shot gather walaupun pada autocorrelation.

Setelah anda puas dengan hasil test, maka terapkanlah deconvolusi untuk seluruh data, dengan perintah sbb (satu baris):
supef < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt.su minlag=0.02 maxlag=0.1 pnoise=0.001 > Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon.su

Tahap 11: Pada tahapan ini, saya akan menunjukkan bagaimana caranya melakukan edit geometry. Edit geometry sangat penting dilakukan karena bermanfaat untuk sorting dari shot gather ke CMP gather, koreksi statik, regularisasi bin, dll. Jika kita melakukan surange, berikut adalah key yang kita miliki:

Dari hasil surange di atas terlihat bahwa data tersebut belum memiliki informasi geometri seperti koordinat sumber, penerima, offset, cdp, dll. Marilah kita lihat kembali 3 file geometri untuk data ini i.e. Line_001.SPS (sumber), Line_001.RPS (receiver), Line_001.XPS

(relational). Jika kita membuka file Line_001.SPS dengan gedit, maka akan diperoleh informasi sbb:

Di dalam file Line_001.SPS, baris ke 1 s/d 20 merupakan header yang menjelaskan lokasi kolom (COLS) untuk setiap parameter sumber: point number (nomor sumber), Static Correction, Map grid easting (X coordinate), Map grid northing (Y coordinate), Surface Elevation, dll. Data ini memiliki point number (shot number) 701, 703, 705, ...1201. Informasi 1V1 bukanlah bagian dari point number (lihat kembali header, COLS dari point number adalah 18-25), dengan gedit informasi posisi baris (Ln) dan kolom (Col) bisa dilihat di pojok kanan bawah. Dari sini kita mengetahui bahwa jumlah sumber (shot) adalah (1201-701)/2+1 = 251 shots. Koreksi statik untuk shot pertama dan seterusnya: -50, -50, -51, dst. Koordinat X shot pertama: 688081.8, koordinat Y shot pertama: 3838302.1, dan elevasi shot pertama: 46.0. Demikian juga dengan file Line_001.RPS (informasi receiver):

Point number (receiver number) adalah 561, 562, ..., 1342. Koreksi statik untuk receiver 561: -48, Koordinat X untuk receiver 561:684590.2, koordinat Y receiver 561:3837867.6, dan elevasi receiver 561:41.0. Sedangkan file Line_001.XPS, memuat informasi hubungan sumber penerima:

Perhatikan informasi di atas dengan sebaik-baiknya: Point Number (COLS 30-37): 701, 703, ...1201 merupakan penomoran untuk shot pertama, kedua, dst. From receiver untuk shot 701: 561 (receiver pertama untuk shot 701) To receiver untuk shot 701:842 (receiver terakhir untuk shot 701) From Channel : 1 dan To Channel: 282 untuk semua shot adalah sama artinya setiap shot memiliki jumlah trace 282.

Setelah kita memahami konfigurasi file di atas, saya akan membuat sebuah matrix dengan jumlah kolom 10 i.e. [sx,xy,selev,sstat,gx,gy,gelev,gstat,cdp,offset] dengan jumlah baris sebanyak jumlah trace yang saya miliki (70782). Dengan menggunakan gedit copy-lah kode berikut, save, lalu beri nama geom
#!/bin/sh # skip header dengan (NR>20), remove 1V1 # ekstrak source number (col2), sx (col8),sy (col9), selev (col10),sstat (col3) awk ' gsub(/1V1/,"") {if (NR > 20) {print $2,$8, $9, $10,$3 }}' Line_001.SPS > sps.txt # skip header dengan (NR>20), remove 1G1 # ekstrak receiver number (col2), gx (col8),gy (col9), gelev (col10),gstat (col3) awk ' gsub(/1G1/,"") {if (NR > 20) {print $2,$8, $9, $10,$3 }}' Line_001.RPS > rps.txt

Pada terminal linux ketik sh geom. Lalu dengan gedit copy-lah kode berikut, save, lalu beri namageomoctave.m
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%% %%%%%%% clear; clc load sps.txt load rps.txt % Ingat no of shots: 251,no of receiver in each shot: 282,total number of traces is 251*282=70782 %%%menyusun matrix sps untuk seluruh trace (70782)%%%%%% for i=1:251 sps_for_traces_in_each_shot{i}=repmat(sps(i,:),282,1); end sps_all_traces=cell2mat(sps_for_traces_in_each_shot'); %%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%% %%%%% %%%menyusun matrix rps untuk seluruh trace (70782)%%%%%% for i=1:251 rps_for_traces_in_each_shot{i}=rps([(i*2)-1:281+(i*2)-1]',:); end rps_all_traces=cell2mat(rps_for_traces_in_each_shot'); %%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%% %%%%% %%%% menghitung offset sx=sps_all_traces(:,2); sy=sps_all_traces(:,3);

selev=sps_all_traces(:,4); sstat=sps_all_traces(:,5); gx=rps_all_traces(:,2); gy=rps_all_traces(:,3); gelev=rps_all_traces(:,4); gstat=rps_all_traces(:,5); ox=gx-sx; oy=gy-sy; offset=sqrt(ox.^2+oy.^2); %%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%% %%%%%%%%%% %%%menghitung cdp untuk masing-masing trace %%%dikarenakan interval geophone 25m dan interval sumber 50m, maka: %%%cdp untuk shot pertama adalah 1 s/d 282 %%%cdp untuk shot kedua adalah 5 s/d 286 %%%cdp untuk shot ketiga adalah 9 s/d 290 dst....(lihat ilustrasi stacking diagram dibawah untuk memahaminya) for i=1:251 cdp_each_shot{i}=[(4*i-3):281+(4*i-3)]'; end cdp_all_traces=cell2mat(cdp_each_shot'); geom_header=[sx,sy,selev,sstat,gx,gy,gelev,gstat,cdp_all_traces,offset]; save -ascii geom_header.txt geom_header %%%%plot koordinat sumber dan penerima plot(sx,sy,'r*'); hold on plot(gx,gy,'b^') %%%%akhir dari kode

Lalu ketik octave untuk memasuki terminal octave. Jika belum memiliki octave (octave adalah open source yang mirip dengan Matlab), anda bisa menginstall dengan mengetik sudo apt-get install octave3.2 Pada terminal octave ketik geomoctave untuk mengeksekusi kode di atas sehingga kita akan memiliki matriks geom_header.txt dan plot koordinat sumber dan penerima. Keluarlah dari octave dengan menekan ctrl+z Gambar dibawah ini adalah ilustrasi stacking chart untuk interval sumber 2X interval receiver. Perhatikan CDP yang pertama untuk shot kedua terletak pada CDP ke 5 dari shot pertama, CDP yang pertama untuk shot ketiga terletak pada CDP ke 9 untuk shot kedua, dst.

Gambar di bawah ini adalah koordinat sumber (merah) dan penerima (biru). Perhatikan bahwa posisi sumber dan penerima tidak benar-benar berada dalam satu garis lurus, hal demikian terjadi karena kondisi medan yang bersangkutan. Jadi, walaupun secara teoritik kita menghendaki group interval 25m dan shot interval 50m, tetapi pada kenyataannya sangat sulit untuk diwujudkan.

Selanjutnya, ubahlah format dari geom_header.txt menjadi binary dengan mengetikkan:


a2b < geom_header.txt n1=10 > geom_header.bin

a2b adalah perintah untuk mengubah format ascii ke binary, n1=10 adalah jumlah kolom dalam matriks geom_header.txt Check-lah dengan mengetikkan ls -l, lihat jika ukuran file geom_header.bin adalah 2831280 byte atau 4*10(kolom)*70782(jumlah baris = jumlah trace). Setelah itu anda siap untuk menuliskan geom_header.bin ke dalam trace header dari data anda dengan perintah di bawah ini (buat dalam satu baris):
sushw < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon.su infile=geom_header.bin

key=sx,sy,selev,sstat,gx,gy,gelev,gstat,cdp,offset > Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom.su

Dengan perintah
surange < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom.su

Perhatikan bahwa informasi geometry dan cdp sudah berada dalam trace header data seismik anda. Untuk keperluan sorting dari shot gather ke CMP gather, dua informasi penting yang harus dimiliki adalah cdp dan offset. Data ini memiliki cdp: 1 1282 (1 - 1282), jika angka yang berada di luar kurung sama dengan yang berada di dalam kurung maka penomoran cdp data ini benar, sedangkan jika kita lihat nilai offset: 12 3525 (3518 - 3509), rentang angkanya berbeda. Hal ini terjadi karena angka offset yang exact sangat sulit diperoleh akibat medan akuisi (lihat plot x-y coordinate sebelumnya). Oleh mengantisipasi hal ini, saya akan melakukan 'regularisasi' offset. Kita mengetahui dari shot gather bahwa geometri akuisisi data tersebut adalah split-spread dengan interval geophone = 25m dan jarak dari sumber ke geophone pertama=25m. Ketik gedit copy, paste kode di bawah ini dan save dengan nama regoff.m
clear; clc %%%offset regularization... right=[25:25:3525]'; left=[-3525:25:-25]'; offset_each_shot=[left;right]; offset_all_shot=repmat(offset_each_shot,251,1); %%%mengganti offset pada geom_header.txt dengan offset yang baru load geom_header.txt geom_header_reg_offset=[geom_header(:,[1:9]),offset_all_shot]; save -ascii geom_header_reg_offset.txt geom_header_reg_offset %%%%%

Ketik octave, lalu pada terminal octave ketik regoff Keluar dari octave dengan ctrl+z, lalu pada terminal linux ketik:
a2b < geom_header_reg_offset.txt n1=10 > geom_header.bin

Ulangi perintah sushw di atas, lalu dengan surange diperoleh:

Dari hasil surange di atas, terlihat bahwa cdp dan offset memiliki nilai yang sama antara di luar kurung dan dalam kurung. Tahap 12: Pada tahap ini, kita akan melakukan sorting dari shot ke cmp gather dengan perintah susort berikut (buat dalam satu baris):
susort cdp offset <Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom.su > Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_cdp.su

Lalu pilihlah cdp tertentu dan tampilkan:


suwind < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_cdp.su key=cdp min=1000 max=1002 | suxwigb perc=95

Sehingga diperoleh gambar sbb:

Tahap 13: Pada tahap ini akan ditunjukkan bagaimana caranya melakukan koreksi NMO dan membuat Brute Stack. Pada Seismic Unix, koreksi NMO dilakukan dengan perintah sunmo. Informasi penting untuk sunmo yang harus kita berikan adalah pasangan kecepatan(m/s) dan waktu(s). Untuk kasus data ini, saya melakukan trial and error untuk mencari 3 pasangan waktu dan nilai velocity yang paling optimal (yang ditentukan dengan reflektor yang flat). Test ini dilakukan pada CMP 1000 s/d 1002 (lihat tahapan sebelumnya untuk melihat CMP yang belum dikoreksi NMO). Pasangan kecepatan dan waktu yang diperoleh adalah vnmo=1700,2750,3000 dan tnmo=0.1,1.0,2.0 Berikut adalah kode untuk koreksi NMO (buat dalam satu baris)
sunmo vnmo=1700,2750,3000 tnmo=0.1,1.0,2.0 < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_cdp.su Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_cdp_nmo_v1.su >

Lalu ditampilkan hasilnya:


suwind < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_cdp_nmo_v1.su max=1002 | suxwigb perc=95 key=cdp min=1000

Sehingga diperoleh gambar sbb :

Pada gambar di atas terlihat bahwa reflektor pada CMP 1000-1002 sudah terlihat cukup flat. Disamping itu proses muting nampaknya telah dilakukan secara otomatis bersamaan dengan nmo. Muting tersebut dilakukan untuk event yang mengalami NMO strech yang signifikan. Tahap 14: Setelah kita cukup puas dengan hasil NMO, maka kita siap untuk memproduksi brute stack dengan perintah:\
sustack < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_cdp_nmo_v1.su > Line001_brute_stack.su

Lalu ditampilkan dengan:


suximage < Line001_brute_stack.su cmap=hsv17 perc=90

Sehingga diperoleh penampang seismik dibawah ini:

Untuk mengubah skala warna pada brute stack, kita bisa melakukannya dengan mengubah parameter cmap. Berikut adalah contoh jika saya menggunakan cmap=hsv4.

Tahap 15: Pada tahapan ini, akan ditunjukkan dengan Interactive Velocity Analysis. bagaimana melakukan velocity analysis

Lakukan pemilihan setiap 50 CMP pada data input berikut: Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_cdp.su, yang kita miliki sebelumnya.
suwind < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_cdp.su key=cdp min=200 max=1000 j=50 > inva_every_50cmp.su

Jika proses picking telah dilakukan untuk seluruh cmp yang dimiliki, maka secara otomatis akan terbentuk file inva_every_50cmp.par Tahap 16: Setelah diperoleh model kecepatan, maka kita siap untuk melakukan koreksi NMO untuk seluruh CMP.
sunmo < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_cdp.su > Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_cdp_nmo_v2.su par=inva_every_50cmp.par

Dengan output
Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_cdp_nmo_v2.su

Setelah itu lakukan proses stacking:


sustack < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_cdp_nmo_v2.su > Line001_stack_vel2.su

Lalu tampilkan dengan perintah:


suximage < Line001_stack_vel2.su cmap=hsv17 perc=90 title='Setelah Velocity Picking' &

Gambar di atas adalah stack dengan menggunakan velocity analysis yang saya pick. Bandingkan hasilnya dengan brute stack yang dihasilkan pada tahapan sebelumnya

Berikut adalah animasi perbandingan antara brute stack (kecepatan tunggal) dengan stack dari velocity pick

Pada bagian ini, akan ditunjukkan bagaimana caranya melakukan elevation statics dan residual statics untuk data seismik yang kita miliki. Elevation statics umumnya dilakukan sebelum koreksi NMO pada tahap 13. Akan tetapi untuk melihat efek elevation statics terhadap citra seismik, saya lakukan setelah memperoleh citra yang terbaik. Hal ini sah-sah saja untuk dilakukan, mengingat kita masih memiliki peluang untuk terus memperbaiki citra tersebut diantaranya dengan analisa kecepatan pada interval CMP yang lebih rapat, analisa pada super gather, dll. Informasi yang harus kita miliki untuk melakukan elevation statics adalah elevasi sumberpenerima relatif terhadap datum serta kecepatan sedimen di bawah sumber-penerima sehingga diperoleh waktu tempuh gelombang dari elevasi yang bersangkutan terhadap datum. Untuk data ini, waktu tempuh sumber dan penerima (elevation statics) telah dilakukan dan sudah diselipkan ke dalam trace header. Sehingga, jika kita melakukan surange diperoleh hasil sbb:

Dari hasil surange di atas, terlihat elevation statics dari sumber (selev) dan penerima (gelev) telah berada pada trace header. Jika kita tidak memiliki informasi gelev dan selev, maka kita harus menghitungnya melalui first break picking dari gelombang refraksi. Elevation statics dilakukan dengan perintah:
sustatic < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom.su > Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_elev_stat.su hdrs=1

sustatic adalah perintah untuk elevation static, hdrs=1 menunjukkan bahwa data statics berada pada trace header. Untuk mempelajari options atau parameter yang digunakan pada sustatic, ketiklah sustatic pada terminal linux. Gambar dibawah ini adalah shot gather sebelum elevation static:

Gambar dibawah ini adalah shot gather setelah elevation statics yang ditampilkan dengan perintah:
suwind < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_elev_stat.su key=ep min=32 max=32 |suxwigb perc=80 &

Perbandingannya

Gambar dibawah ini menunjukkan stack sebelum elevation statics yang kita peroleh sebelumnya:

Gambar di bawah ini adalah stack setelah elevation statics dengan dengan mengunakan model kecepatan dari analisa kecepatan sebelumnya. Lakukan proses yang sama (Tahap 16), dengan mengganti data input dan output. Dilakukan sorting dari shot ke cmp dengan perintah:
susort cdp offset < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_elev_stat.su > Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_cdp_elev.su

Lalu, pada nmo.sh:


Input: Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_cdp_elev.su Output: Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_cdp_elev_nmo_v2.su

Run dengan mengetikkan sh nmo.sh Lakukan stacking:


sustack < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_cdp_elev_nmo_v2.su > Line001_stack_vel2_elev.su

Tampilkan:
suximage < Line001_stack_vel2_elev.su cmap=hsv17 perc=90 title='After Elevation Statics' &

Berikut perbandingannya:

Tahap 17: Pada Seismic Unix, residual static dilakukan dengan perintah suresstat dimana metoda yang digunakan mengacu pada Ronen dan Claerbout, Geophysics 50, 2759-2767 (1985). Berbeda dengan elevation statics, residual statics dilakukan setelah koreksi NMO, akan tetapi harus dilakukan pada domain shot gather dengan key=fldr. Berikut adalah tahapan untuk melakukan residual statics: Lakukan sorting:
susort < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_cdp_elev_nmo_v2.su > Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_cdp_elev_nmo_v2_fldr.su fldr offset

Hitung residual statics:


suresstat < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_cdp_elev_nmo_v2_fldr.su ssol=sstats rsol=rstats ntraces=70782 ntpick=50 niter=5 nshot=481 nr=282 nc=70782 sfold=282 rfold=282 cfold=284

ntraces=70782 (jumlah seluruh trace pada data) ntpick=50 (banyaknya sample maksimum untuk melakuan shifting dalam korelasi) niter=5 (jumlah iterasi, pada mesin 32bit dengan Intel Core Duo, 1.5GB Mem memerlukan waktu 12-15 menit) nshot=481 (fldr maksimum, lakukan surange untuk melihat semua key) nr=282 (jumlah receiver maksimum pada shot) nc=70782 (harus sama dengan banyaknya seluruh trace) sfold=282 (harus sama dengan nr) rfold=282 (maksimum ep) cfold=284 (maksimum cdpt)

Perintah di atas akan menghasilkan dua file i.e. sstats and rstats yang masing-masing berisikan source and receiver statics. Terapkankanlah statics tersebut dengan perintah:
sustatic < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_cdp_elev_nmo_v2.su > Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_cdp_elev_nmo_v2_rstat.su \ hdrs=3 sou_file=sstats rec_file=rstats ns=481 nr=1282

hdrs=3 (Angka 3 memerinta sustatic untuk membaca statics dari file) sou_file=sstats (file source statics) rec_file=rstats (file receiver statics) ns=481 (harus sama dengan nshot pada command sebelumnya) nr=1282 (banyaknya cdp didalam stack data)

Gambar di bawah ini adalah stack sebelum elevation dan residual statics.

Gambar di bawah ini adalah penampang setelah elevation dan residual statics. Lakukan perintah-perintah sbb: Stacking:
sustack < Line_001_kill_vibro_agc_d2_fk_flt_decon_geom_cdp_elev_nmo_v2_rstat.su > Line001_stack_vel2_elev_rstat.su

Dikarenakan kedua koreksi statics tersebut mengakibatkan time shifting, maka untuk kenyamanan dalam membandingkan hasilnya, saya lakukan shiting dengan perintah:
suresamp < Line001_stack_vel2_elev_rstat.su > Line001_stack_vel2_elev_rstat_shift.su ns=1501 dt=0.002 tmin=0.25

ns=1501 (banyaknya sample) dt=0.002 (samping interval dalam detik) tmin=0.25 (di shifting ke atas 0.25 detik)

Tampilkan:
suximage < Line001_stack_vel2_elev_rstat_shift.su cmap=hsv17 perc=90 title='After Elevation and Residual Statics' &

Dan perbandingannya:

Dari perbandingan di atas, terlihat bahwa residual statics masih belum memberikan hasil yang optimal, walaupun di beberapa tempat memberikan hasil yang lebih baik. Anda masih bisa memperbaiki hasilnya dengan melakukan perubahan dari parameter-parameter yang saya pilih sebelumnya. Tahap 18: Pada tahapan ini, akan ditunjukkan bagaimana melakukan PoSTM (Post Stack Time Migration) dengan menggunakan Seismic Unix. Seismic Unix menyediakan fungsi migrasi dengan menggunakan beberapa metodologi diantaranya Stolt Migration, Gazdag atau PhaseShift Migration, Claerbout's Migration, dll. Teknik-teknik migrasi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Disini akan diterapkan PoSTM pada data telah distack dengan menggunakan velocity analysis dan juga telah mengalami koreksi statik. Dipilih Metoda Stolt, karena metoda ini sangat cepat dan cukup robust. Sebelumnya, diterapkan mute dan tapering (walaupun pada sustolt sendiri diterapkan tapering) sehingga diperoleh ujung lintasan kiri, kanan dan atas yang lebih gradual. Hal ini penting dilakukan karena perbedaan amplitudo yang tiba-tiba akan

menghasilkan migration artifacts. Setelah itu migrasi diterapkan dengan menggunakan kecepatan RMS (yang saya ambil dari CMP ke 1000) dari hasil velocity analysis sebelumnya. Berikut ini adalah kode Bourne Shell untuk melakukan mute, menampilkan stack sebelum migrasi, melakukan Stolt Migration dan sekaligus menampilkan hasilnya:
#!/bin/sh sumute < Line001_stack_vel2_elev_rstat.su key=tracl xmute=1,150,1132,1132 tmute=3.0,0.2,0.2,3.0 ntaper=50 > Line001_stack_vel2_elev_rstat_mute.su suximage < Line001_stack_vel2_elev_rstat_mute.su key=cdp perc=90 title='Before Stolt Migration' & time=0.0187891,0.494781,0.914405,1.37787,1.94781,2.90605 vels=1992.35,2211.92,2488.77,2765.61,2975.64,3319.31 sustolt < Line001_stack_vel2_elev_rstat_mute.su \ cdpmin=1 cdpmax=1282 dxcdp=50 \ tmig=$time vmig=$vels \ smig=0.6 vscale=1 lstaper=50 lbtaper=50 | suximage title="After Stolt Migration" key=cdp min=100 max=1100 perc=90 verbose=0 & exit

Copy-lah code di atas dengan menggunakan text editor (vi, pico, gedit, atau nedit) lalu save dengan nama tertentu katakanlah stoltmig. Lalu ketik sh stoltmig. Berikut adalah stack sebelum migrasi (untuk mengubah skala warna, tekan hurup r pada ximage yang aktif, untuk mengeksplorasi lebih jauh ketik ximage pada terminal linux).

Setelah Migrasi:

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan Dari hasil kegiatan praktikum yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa persiapan matang sangat perlu dilakukan guna mengefisiensikan waktu, dana, tenaga dan tentunya kualitas data. Dengan melakukan perencanaan terlebih dahulu maka dapat mengurangi resiko kegagalan proyek. Maka dari itu hasil perhitungan dan pemodelan yang di buat seberapa sesuai dengan dasar teori yang ada. Selain itu, juga dapat disimpulkan bahwa metode seismic refraksi efektif digunakan untuk target dangkal sedangkan metode seismic refleksi akan efisien digunakan untuk target yang dalam. 5.2 Saran Diharapkan untuk asisten lebih memperjelas jadwal praktikum agar praktikannya tidak malas untuk datang praktikum. Juga diharapkan untuk lebih mengenalkan softwaresoftware yang digunakan untuk pegolahan data seismik.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Agus. 2010. http://ensiklopediseismik.blogspot.com/2010/11/seismic-processingwith-seismic-unix.html: diakses tanggal 31 Desember 2013 Mukaddas, Abdullah. 2005. ANALISIS PERBEDAAN PENAMPANG SEISMIK ANTARA HASIL PENGOLAHAN STANDAR DENGAN PENGOLAHAN PRESERVED AMPLITUDE. Meknek Library Susilawati. ( 2004). Seismik refraksi (dasar teori dan akuisisi data), USU Digital Library. Telford, Geldart and Sheriff, 1976, Applied Geophysics, 2nd edition, Cambridge University Press, New York. Yilmaz, O., 1994, Seismic Data Processing, Society of Exploration Geophysicists, Tulsa.

KATA PENGANTAR
Puji Tuhan, atas kasih karunia-Nya sehingga Laporan Praktikum Metode Seismik ini dapat terselesaikan. Laporan ini berisikan berbagaivinformasivhasil kegiatan praktikum Metode Seismik yang dilaksanakan di wilayahvUniversitasvBrawijaya. Mengingat ketidaksempurnaan yang masih banyak terdapat dalam laporan ini, maka penulis sangat terbuka pada kritik yang membangun untuk perbaikan laporan-laporan berikutnya. Tidak lupa penulis juga mengucapkan terimakasih kepada keluarga yang menjadi motivasi terbesar bagi penulis, dan seluruh teman-teman maupun kakak-kakak tingkat yang sudah membantu dalam penyelesaian laporan ini baik secara langsung maupun melali dukungan moral. Akhir kata semoga laporan ini dapat memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada para pembaca sehingga dapat berguna untuk menambah khasanah pengetahuan kita bersama. Terimakasih.

Malang, 6 Januari 2014

Penulis

LAPORAN PRAKTIKUM METODE SEISMIK


Di susun oleh : M. Tajul Arifin 115090700111008

LABORATORIUM GEOFISIKA PRODI GEOFISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG