Anda di halaman 1dari 50

KOMPOSISI DARAH, BENTUK DARAH DAN

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

KOMPOSISI DARAH, BENTUK DARAH DAN KONSENTRASI SEL DARAH

Dosen Pembimbing Dra. Retno Susilowati, M. Si.

Oleh : Moch Shofwan 07620019

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI JURUSAN BIOLOGI 2010

BAB 1 PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Darah adalah suatu jaringan yang bersifat cair, terdiri dari sel-sel darah merah, darah putih, keping darah serta plasma darah. Sel-sel darah merah berjumlah 4-5 juta sel/mm3 darah, sel darah putih berjumlah antara 5.000-8.000 sel.mm3 darah dan keping darah berjumlah 150.000-400.000 keping/mm3 darah. Plasma darah mempunyai komposisi 90% air, 7%protein, 1% garam anorganik, dan 2% kandungan lainnya (Susilowati, 2010). Didalam keadaan sehat volume darah adalah konstan dan sampai batas tertentu diatur oleh tekanan osmotik dalam pembuluh darah dan dalam jaringan (Pearce, 2006). Pemisahan komponen darah dapat dilakukan dengan berbagai cara, yang paling sedarhana adalah dengan alat sentrifuga. Bila darah segar dalam tabung reaksi disentrifugasi, maka akan terjadi endapan warna merah didasar tabung dan cairan kuning bening (plasma) pada bagian atasnya. Sedangkan pada batas antara cairan kuning dan endapan merah akan terbentuk lapisan bewarna bening (Susilowati, 2010). Dalam praktikum kali ini kami akan melakukan pengamatan mengenai komposisi darah, bentuk dan konsentrasi sel darah pada manusia dengan membandingkan dengan katak (Bufo

Sp.), sehingga diharapkan pada praktikum kali ini dapat lebih memahami mengenai komposisi, bentuk dan konsentrasi sel darah pada manusia dan katak (Bufo Sp.).

1. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah pada praktikum kali ini yaitu : 1. Bagaimana komposisi darah pada katak (Bufo sp.) dan komposisi darah pada manusia? 2. Bagaimana bentuk darah pada katak (Bufo sp.) dan bentuk darah pada manusia? 3. Bagaimana kosentarasi darah pada katak (Bufo sp.) dan kosentrasi darah pada manusia?

2. Tujuan Adapun tujuan pada praktikum kali ini yaitu : 1. Memahami komposisi darah pada katak (Bufo sp.) dan komposisi darah pada manusia. 2. Memahami bentuk darah pada katak (Bufo sp.) dan bentuk darah pada manusia. 3. Memahami kosentrasi darah pada katak (Bufo sp.) dan kosentrasi darah pada manusia.

BAB II KAJIAN PUSTAKA 1. Pengertian Darah Darah adalah cairan yang tersusun atas plasma cair (55 %), yang komponen utamanya adalah air, dan sel-sel yang mengambang di dalamnya (45%). Plasma kaya akan protein-protein terlarut lipid, dan karbohidrat. Limfe sangat mirip dengan plasma, hanya saja kosentrasinya sedikit lebih rendah total tubuh darah sendiri merupakan satu per dua belas berat tubuh, dan pada manusia umumnya volume darah adalah kurang dari lima liter (George, 1999). Darah adalah suatu jaringan yang bersifat cair, terdiri dari sel-sel darah merah, darah putih, keping darah serta plasma darah (Susilowati, 2010).

Menurut Evelyn (2006), menjelaskan bahwa darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian. Bahan interseluler adalah cairan yang disebut plasma dan di dalamnya terdapat unsur-unsur padat, yaitu sel darah. Darah adalah jaringan hidup yang bersirkulasi mengelilingi seluruh tubuh dengan perantara jaringan arteri, vena dan kapilaris, yang membawa nutrisi, oksigen, antibodi, panas, elektrolit dan vitamin ke jaringan seluruh tubuh. Darah manusia terdiri atas plasma darah, globulus lemak, substansi kimia (karbohidrat, protein dan hormon), dan gas (oksigen, nitrogen dan karbon dioksida). Sedangkan plasma darah terdiri atas eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih) dan trombosit (platelet) (Watson, 1997).

2. Fungsi Darah Menurut Kimball (1994), fungsi darah yaitu : 1. Mengangkut bahan-bahan (dan panas) ke dari semua jaringan-jaringan badan. 2. Mempertahankan badan terhadap penyakit menular. 3. Plasma membagi pritein yang diperlukan untuk membentuk jarinagan. 4. Hormon, enzim diantarkan dari organ ke organ dengan perantara darah. 5. Sel darah merah mengantarkan oksigen ke jaringan dan menyingkirkan sebagian dari karbon dioksida.

3. Darah Manusia Menurut Pearce (1979), didalam Kandir (2009) Dalam keadaan normal, sel darah merah berbentuk cakram kecil bikonkaf dengan diameter sekitar 7.2 m tanpa memiliki inti, cekung pada kedua sisinya, dilihat dari samping seperti 2 (dua) buah bulan sabit yang bertolak belakang, kalau dilihat satu persatu berwarna kuning tua pucat, tetapi dalam jumlah besar seperti kelihatan merah dan memberi warna pada darah. Struktur sel darah merah terdiri atas pembungkus luar atau stroma, berisi massa hemoglobin (HB). Hemoglobin adalah protein yang

kaya akan zat besi, yang mempunyai afinitas (daya gabung) terhadap oksigen dan dengan oksigen tersebut membentuk oxihemoglobin didalam sel darah merah, melalui fungsi ini maka oksigen di bawa dari paru-paru ke jaringan-jaringan lain. Sel darah merah memerlukan protein karena strukturnya terbentuk dari asam amino, juga memerlukan zat besi. Menurut Yatim (2007), sel darah manusia terdiri dari eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), dan trombosit (keeping-keping darah). Eritrosit berwarna merah, karena mengandung pigmen pernapasan yang merah, disebut hemoglobin. Bentuk bulat, dari sisi double cekung (bikonkaf). Sel tak berinti dengan diameter 7-8 mikometer, yang berjumlah 5 juta/mm3 darah. Umumnya terbatas, hanya 120 hari, dihancurkan dalam limpa dan dan sumsum tulang, lalu diganti dengan yang muda lewat pembelahan sel induk eritrosit (eritroblast). Eritrosit berperan mengangkut oksigen dari paru. Leukosit tidak berpigmen, sehingga tidak berwarna. Leukosit ini berguna untuk pertahanan tubuh, macam-macamnya yaitu monosit, granulosit dan limfosit. Trombosit juga tidak berpigmen, dan tidak berupa sel utuh, karena tak memiliki inti dan organel sel yang lengkap. Berperan untuk penggumpulan darah jika terjadi luka. Plasma darah dan sebagian lekosit pada pembuluh kapiler dapat ke luar pembuluh dan berada di celah jaringan, sehingga disebut cairan tubuh saja. Cairan tubuh itu pun sesewaktu dapat kembali masuk pembuluh kapiler, sehingga menjadi darah. Jadi ada pergantian antara cairan tubuh oleh jantung. Sedangkan cairan tubuh tidak ada alat pengalir, dan geraknnya hanya karena bagian tubuh bergerak. Sel darah merah yang berukuran kurang dari 6 m dinamakan sel mikrosit dan yang berukuran lebih dari normal (9 m - 12 m) dinamakan sel makrosit. Komposisi molekuler sel darah merah menunjukkan bahwa lebih dari separuhnya terdiri dari air (60%) dan sisanya berbentuk substansi padat. Secara keseluruhan isi sel darah merah merupakan substansi koloidal yang homogen, sehingga sel ini bersifat elastis dan lunak. Sel darah merah dibatasi oleh membran plasma yang bersifat semipermeable dan berfungsi untuk mencegah agar koloid yang dikandungnya tetap di dalam. Tekanan osmosis di luar sel darah merah haruslah sama dengan tekanan di dalam sel darah merah agar terdapat keseimbangan. Apabila sel darah merah dimasukkan ke dalam larutan hipertonis maka air dalam sel darah merah akan mengalir ke luar yang akan berakibat bentuk sel darah merah menjadi berkerut seperti berduri (sel burr). Sebaliknya, apabila sel darah merah dimasukkan dalam larutan hipotonis, maka air akan masuk

ke dalam sel darah merah sehingga sel darah merah menggembung sampai dapat pecah. Peristiwa tersebut dinamakan hemolisis yang ditandai dengan merahnya larutan oleh karena keluarnya hemoglobin (Subowo, 2002). Membran plasma pada sel darah merah dapat mengalami kerusakan, sehingga tidak dapat melakukan fungsi yang diembannya. Jenis kerusakan dapat beraneka ragam, dapat karena tusukan, robek, putus, terkena senyawa kimia, dan sebagainya. Membran plasma berfungsi untuk menyelubungi sebuah sel dan membatasi keberadaan sebuah sel, juga memelihara perbedaan-perbedaan pokok antara isi sel dengan lingkungannya serta sebagai filter untuk memilih dan memilah-milah bahan-bahan yang melintasinya dengan tetap memelihara perbedaan kadar ion di luar dan di dalam sel (Sumadi & Aditya, 2004).

4. Darah Katak (Rana sp.) Pada amphibia, misalnya katak, bagian jantung yang bertindak sebagai pacu jantung adalah sinus venosus. Implus yang mula-mula diterima oleh sinus venosus kemudian di rambatkan ke atrium dan akhirnya dirambatkan ke ventrikel. Implus tersebut merambat melalui serabut oto atrium dan serabut oto ventrikel dan tidak merambat melalui sistem konduksi yang khusus seperti pada hewan mamalia. Bila bagian antara sinus venosus dengan atrium diikat dengan tali (ikatan ini di sebut ikatan stannius 1) tampak bahwa sinus venosus akan berdenyut dengan kecepatan yang sama dengan sebelum diadakan pengikatan, sedangkan atrium dan ventrikel akan berhenti berdenyut. Beberapa menit setelah pengikatan yaitu antara 5- 30 menit, atrium dan ventrikel akan berdenyut kembali dengan kecepatan denyut yang lebih rendah dari pada kecepatan denyut sinus venosus. Bila pengikatan dilakukan antara bagian atrium dan ventrikel (ikatan stannius II). Sinus venosus dan atrium akan berdenyut seperti biasa tetapi ventrikel tampak berhenti berdenyut. Kurang lebih setelah 1 jam pengikatan ventrikel akan berdenyut kembali dengan kecepatan denyut yang lebih rendah dari pada sinus venosus dan atrium (Wulangi S. 1993). Percobaan stannius ini membuktikan bahwa eksitasi jantung mula-mula terjadi di sinus venosus dan kemudian menyebar ke atrium dan ventrikel. Dari percobaan sederhana ini juga

dapat kita simpulkan bahwa dalam keadaan tidak normal setiap bagian jantung bisa menimbulkan denyut sendiri. Pada katak peredaran darahnya cukup unik. Karena katak mempunyai 3 ruang jantung, yaitu: atrium kiri, atrium kanan, dan ventrikel. Darah vena dari seluruh tubuh mengalir masuk ke sinus venosus dan kemudian mengalir menuju ke atrium kanan. Dari atrium kanan darh darah mengalir ke ventrikel yang kemudian di pompa keluar melalui arteri pulmonalis raru-paru vena pulmonalis atrium kiri. Lintasan peredaran darah ini disebut juga peredaran darah paruparu. Selain peredaran darah paru-paru, katak juga mempunyai sistem peredaran darah sistemik yang peredarannya adalah dimulai dari ventrikel conus arteriosus aorta ventralis seluruh tubuh sinus venosus atrium kanan. Pada ikan ruang jantung terdiri dari 2 ruang yaitu, satu atrium dan ventrikel. Antara atrium dan ventrikel terdapat katup yang berfungsi mengalirkan darah ke satu arah. Darah dari seluruh tubuh mengalir dari sinus venosus dan kemudian masuk ke atrium. Dari atrium darah mengalir ke ventrikel conus arteriosus aorta ventralis insang ke seluruh tubuh vena cava sinus venosus. (Wulangi S. 1993). Menurut Soewolo (2000), jantung katak terdiri atas tiga ruang, yaitu dua atria yang berdinding tipis, dan satu ventrikel yang berdinding tebal. Pada sekat antara serambi dan bilik terdapat katup. Darah dari seluruh tubuh masuk ke atrium kanan melalui sinus venosus. Dari atrium kanan, darah masuk ke ventrikel jantung (yang hanya mempunyai satu ruang), lalu dipompa melalui arteri pulmonalis, dan cabang yang lain menuju kulit, disebut arteri kutaneus. Dalam paru-paru dan kulit, darah yang kaya akan oksigen akan masuk ke bilik jantung untuk dipompa ke seluruh tubuh melalui nadi utama. Sistem sirkulasi penuh melalui jantung dua kali. Sistem sirkulasi seperti yang terdapat pada katak ini disebut system sirkulasi ganda, sebab darah selama satu sirkulasi penuh melalui jantung dua kali. Sestem sirkulasi ganda biasanya besar (system sirkulasi sistemik). Meskipun ventrikel katak tidak bersekat, namun rupanya tetap terjadi pemisahan antara darah yang kaya oksigen dengan darah yang kaya karbondioksida. Darah dari paru-paru dan kulit yang kaya akan oksigen oleh ventrikel dialiarkan menuju arteri pulmokutaneus. Pemisahan ini dapat terjadi karena di dalam konus arteriosus tetrdapat suatu lipatan spiral yang mengarahkan aliran tadi.

BAB III METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Pada praktikum kali ini dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 26 April 2010 jam 09.50-12.00 WIB, yang bertempat di Laboratorium Pendidikan Dasar A jurusan Biologi fakultas sains dan teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

2. Alat dan Bahan Adapun alat yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu, Bunsen, Blood Lancet, Deck Glass, Mikroskop Binokuler, Preparat, Kapiler Hematokrit, Korek Api, Kapas, Seperangkat alat bedah, dan Sentrifuga.

3.3 Bahan Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu, Larutan NaCl 0,1%, 0,2%, 0,4%, 0,6%, 0,8%, 0,9%, dan 1%, Klorofom. Alkohol 96% dan antikoagulan.

3.3 Cara Kerja

1. Komposisi Darah

2. Bentuk Sel Darah Merah

3. Kosentrasi Sel Darah Merah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan Pada praktikum kali ini, kami ingin mengamati komposisi, bentuk dan kosentrasi sel darah merah pada manusia dan katak dengan hasil sebagai berikut:

1. Komposisi Darah 1. Darah Katak (Bufo Sp.) b. Darah Manusia X = 2,8 cm X = 0,8 cm Y = 5,5 cm Y = 5,5 cm Rumus sel darah merah = X x 100 Rumus sel darah merah = X x 100 YY = 2,8 x 100 = 1,5 x 100 5,5 3 = 50,9 % = 25,81 %

Plasma (berwarna kuning) Leukosit dan Trombosit (berwarna merah) Y Eritrosit (berwarna merah kehitaman) X

2. Bentuk Darah

No. 1.

Eritrosit pada katak

Eritrosit pada manusia

Gambar eritrosit pada katak dengan kosentrasi NaCl 0,6 Perbesaran 40 x 10 Nokia 3235 2.

Gambar eritrosit pada manusia dengan kosentrasi NaCl 0,6 Perbesaran 40 x 10 Nokia 3235

Gambar eritrosit pada katak dengan kosentrasi NaCl 0,9 Perbesaran 40 x 10 Nokia 3235

Gambar eritrosit pada manusia dengan kosentrasi NaCl 0,9 Perbesaran 40 x 10 Nokia 3235

3. Kosentrasi Darah

No. 1. 2. 3. 4. 5 5. 6.

Kekentalan NaCl 0,1 % 0,2 % 0,4 % 0,6 % 0,8% 0,9 % 1% Lisis

Darah Katak

Darah Manusia Lisis

Lisis Lisis Tidak Lisis Lisis Tidak Lisis Krenasi (Mengkerut)

Lisis Lisis Tidak Lisis Lisis Krenasi Krenasi (Mengkerut)

4.2 Pembahasan Dalam praktikum fisiologi hewan kali ini kami melakukan pengamatan terhadap komposisi darah, bentuk dan konsentrasi sel darah. Dalam hal ini kami mencoba membandingkan antara komposisi, bentuk dan konsentrasi sel darah pada mamalia (manusia) dan amphibia (Bufo Sp.), hal ini dilakuakan karena untuk mengetahui perbedaan dari pada keduannya.

1. Komposisi Darah Manusia dan Katak (bufo sp.) Untuk mengetahui komposisi darah pada manusia kami melakukan pengambilan darah pada salah satu teman kami dengan menggunakan bllod lancet, kemudian dimasukkan ke hematokrit sampai 80%, kemudian dipanaskan pada bagian pipi sampai benar-benar meleleh, lalu disentrifugasi pada 500 rpm selama 15 menit, bertujuan agar antara plasma darah dengan leukosit, trombosit dan eritrosit benar-benar terpisah. Apabila darah segar tabung reaksi sentrifugasi terdapat endapan warna merah di didasar bagian atasnya. Sedangkan pada bagian pada batas antara cairan kuning dan endapan merah akan terbentuk lapisan bewarna bening (Susilowati, 2010). Sedangkan untuk mengetahui komposisi darah pada katak terlebih dahulu kami membius katak dengan larutan klorofrom, kemudian kami bedah dan diambil darahnya pada bagian ventrikel yang kemudian, dengan menggunakan suntikan dan darah tersebut kami masukan ke pipa kapiler samapai 80%, kemudian kami panaskan ujung pipa dan disentrifugasi pada kecepatan 500 rpm dengan waktu 15 menit yang tujuannya untuk pemisahan komposisi darah, secara sederhana.

Faktor-faktor yang berkenaan dengan tahap isolasi antara lain kecepatan dan waktu sentrifus, cara dan waktu pengocokan, serta cara pemisahan lapisan ekstrak. Berdasarkan kondisi optimum untuk isolasi ambroksol dari dalam plasma adalah dengan menggunakan sentrifus dengan kecepatan 2000 rpm selama 6 menit, pencampuran dengan vorteks selama 4 menit, dan cara pemisahan lapisan ekstrak dengan metode pembekuan. (Marpaung SU, 1995 didalam harmita 2004). Menurut soewolo (2000), bila suatu sampel darah ditempatkan dalam suaru tabung pemusing (sentrifugasi) atau tabung khusus untuk menentukan hematokrit dan diberi perlakuan agar tidak membeku maka, unsur-unsur yang berat akan menegendap ke dasar tabung dan plasma yang lebih tinggi berada di bagian atas. Bagian yang menendap tersebut tersusu atas selsel darah dan terutama adalah eritrosit 99%. Presentase volume eritrosit dari suatu volume darah ini disebut hematokrit, sedangkan volume plasma rata-rata 58%. Hematokrit tidak merata pada bagian tubuh. Darah vena mempunyai hematokrit sedikit lebih besar dari darah arteri. Dari hasil pengamatan yang telah kami lakukan bahwasannya komposisi darah manusia <> darah memiliki komposisi yang terdiri atas sekitar 55% cairan darah (plasma) dan 45% selsel darah. Terdapat tiga macam sel darah, yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit) sedangkan pada katak hanya memiliki salah satu dari ketiganya. Sedangkan untuk plasma darah pada katak > manusia hal ini dikarenakan pada katak termasuk hewan poikiloterm yang mana katak mempertahankan suhu tubuhnya secara fluktuatif mengikuti suhu lingkungannya. Plasma memiliki fungsi sebagai perantara untuk penyaluran makanan, mineral, lemak, glukosa, dan asam amino kejaringan. Juga merupakan medium untuk mengangkat bahan buangan urea, asam urat dan karbodioksida (Pearce, 2006). Dimana plasma darah ini mengandung ion-ion, kolekul-molekul anorganik dan organik, protein, sel-sel dan gas. Pada spesies tertentu (Bufo sp) komponen-komponen tersebut secara homeostatik dijaga pada tingkat yang relatif konstan (Soewolo, 2000).

Isnaeni (2006), tekanan hidrosatik yang ditimbulkan oleh darah mengendalikan kekuatan untuk filtrasi, sedangkan osmotik plasma bekerja untuk reabsorbsi (yang arahnya berlawanan dengan arah filtrasi). Jadi, protein dalam plasma merupakan bahan yang penting untuk menentukan besarnya tekanan osmotik dalam plasma. Kekuatan osmotik juga penting untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh pada hewan invertebrata, yang mempunyai sistem sirkulasi terbuka. Protein plasma pada hewan vertebrata tingkat tinggi dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu fibrinogen, globulin, dan albumin. Fibrinogen bertanggung jawab dalam prose pembekuan darah. Globulin bertanggung jawab dalam berbagai fungsi, terutama yang berkaitan dengan reaksi kekebalan (immun) dan transpor molekul tertentu seperti hormon, vitamin, dan zat besi. Sementara, albumin bertanggung jawab mempertahankan.

2. Bentuk Sel Darah Merah Manusia dan Katak (bufo sp) Pengamatan selanjutnya yaitu mengenai bentuk sel darah merah pada manusia dan katak, dimana kami menggunakan larutan NaCl 0,9% sebab, NaCl adalah salah satu garam yang mudah larut dalam air, sehingga pada saat direaksikan NaOH dengan HCl tidak terbentuk endapan NaCl tetapi larutan NaCl dalam bentuk kristalisasi yaitu pembentukan Kristal NaCl dengan cara menguapkan pelarutnya (Day, 1986). Pengaruh konsentrasi ke bentuk dapat menimbulkan membran eritrosit tua dapat pecah apabila toleransi osmotis rendah, sebaliknya membran eritrosit muda memiliki toleransi osmotik yang lebih besar tidak mudah pecah. Homolisis kimiawi, dimana akibat eritrosit rusak akibat subtansi kimia, contoh yang dapat merusak membran eritrosit yaitu aseton, alkohol, benzena, klorofrom dan eter (Soewolo, 2000). Selanjutnya kami mengamati bentuk darah menggunakan mikroskop binokuler perbesaran 40 x 10. Dimana eritrosif berbentuk cakram bikonkaf, bewarna merah karena mengandung hemoglobin, pada eritrosit dewasa pada mamalia akan kehilangan inti, mitokondria, ribosom, dan beberapa enzim untuk leukosit ukurannya lebih besar dari pada eritrosit dengan diameter 9-15 um, sedangkan untuk trombosit, merupakan bukan sel yang utuh

tetapi berupa fragmen atau keping sel kecil (garis tengahnya 2-4 um), tidak berinti, tidak bewarna (Soewolo, 2000).

3. Konsentrasi Sel Darah Merah Manusia dan Katak (bufo sp.) Untuk mengetahui konsentrasi sel darah, kami menggunakan larutan NaCl dengan konsentrasi yang berbeda yaitu : 0,1%, 0,2%, 0,4%, 0,6%, 0,9%, dan 1%. Maka, didapatkan bahwa konsentrasi yang mengalami lisis yaitu 0,1%, 0,2%, 0,4% dan 0,8% baik pada nabusia maupun katak. Sedangkan yang tidak mengalami lisis yaitu 0,6% pada katak dan manusia sedangkan 0,9 % hanya pada manusia, untuk yang mengalami krenasi 1% pada manusia dan 0,9% pada katak. Dalam penggunaan NaCl dapat terjadi krenasi, apabila eritrosit dimasukkan kedalam medium yang hipertonis terhadap isi eritrosit, misalnya pada hewan hewan homoiterm (manusia) larutan NaCl yang elebih pekat dari 0,9% NaCl, sedangkan eritrosit hewan poikiloterm (Rana Sp) adalah larutan NaCl yang lebih pekat dari 0,7% (Soewolo, 2000). Krenasi terjadi karena mengkerutnya membran sel akibat keluarnya air dari dalam eritrosit, krenasi dapat terjadi apabila eritrosit dimasukkan kedalam media hipertonis (Soewolo, 2000). Lisis merupakan peristiwa mengelembungnya dan pecahnya sel akibat masuknya air ke dalam sel. Yang kemudian terjadi homolisis dimana, eritrosit dimasukkan kedalam medium yang hipertonis terhadap sel eritrosit, yang mana sel eritrosit hewan homoiterm isotonis terhadap larutan 0,9% NaCl, oleh karena itu homolisis akan terjadi apabila eritrosit hewan homoiterm dimasukkan kedalam larutan NaCl dengan konsentrasi di bawah 0,9%, yang mana eritrosit memiliki toleransi osmotik (Soewolo, 2000).

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Dari hasil pengamatan dan pembahasan yang telah panjang lebar dijelaskan di atas maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Komposisi eritrosit katak setelah diberi gaya sentrifugal maka didapatkan nilainya pada katak (Bufo sp) 50,9 , sedangkan eritrosit pada manusia didapatkan nilai sebesar 25,81.

2. Bentuk sel darah merah katak dengan manusia tidak sama dimana pada hasil pegamatan kami sel darah merah manusia berbentuk lebih kecil daripada darah katak. Namun pada kedua darah tersebut kelihatan dengan jelas inti-intinya. 3. Pada pengamatan kosentrasi terdapat perbedaan antara darah katak dengan manusia, walaupun diberi perlakuan yang berbeda-beda dengan kosentrasi NaCl.

DAFTAR PUSTAKA

Day, Ahmad. 1986. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.

Evelyn, Franklin. 2006. Fisiologi Manusia untuk Paramedis. Surabaya: Sinar Wijaya

Fried, George. 1999. Schaum's Outline of Theory and Problems og Biology. Jakarta: Airlangga

Harmita, dkk. 2004. Metode Penetapan Kadar Meloxicam Dalam Darah Manusia In Vitro Secara Kromotografi Cair Kinerja Tinggi. Departemen Farmasi FMIPA Universitas Indonesia, 02 : 79-92.

Pearce, Evelyn C. 1979. Anatomy & Physiology for Nurses. Terjemahan oleh Sri Yuliani Handoy. Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama.

Pearce, Evelyn C. 1979. Anatomy & Physiology for Nurses. Terjemahan oleh Sri Yuliani Handoy. Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama (cetakan 28. Januari 2006).

Popkol, J. et.al. 2003. Lead, Cadmium, Copper and Zinc Concentration in blood and Hair of Mother of Childern With Locometer System Malformations. Polandia : Medical University in bialytok. 03 : 375-379

Subowo. 2002. Histologi Umum. Jakarta : Bumi Aksara.

Sumadi dan Aditya M. 2004. Buku Ajar Biologi Sel. Semarang : Jurusan Biologi-FMIPAUNNES.

Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional.

Susilowati, Retno. 2010. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan. Malang: UIN Malang.

Watson, Roger. 1997. Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat Edisi 10. Jakarta : EGC Buku Kedokteran.

Wulangi S. Kartolo. 1993. Prinsip-Prinsip Fisiologi Hewan. Bandung: ITB

Yatim, Wildan. 2007. Kamus Biologi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Kandir. 2009. Fenomena pergerakan sel darah merah manusia di dalam sistem elektrodielektrik. Tugas Akhir Tidak diterbitkan. Semarang : Jurusan Fisika Universitas Negeri Semarang.

Kimball, John. 1983. Biology, Fifth Edition, jilid 5.Terjemahan Prof. DR. Ir. H. Siti Soetarmi T. dkk. Bogor: IPB Penerbitan Erlangga.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

KOMPOSISI DARAH, BENTUK DARAH DAN KONSENTRASI SEL DARAH

Dosen Pembimbing Dra. Retno Susilowati, M. Si.

Oleh : Moch Shofwan 07620019

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI


MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI JURUSAN BIOLOGI 2010

BAB 1 PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Darah adalah suatu jaringan yang bersifat cair, terdiri dari sel-sel darah merah, darah putih, keping darah serta plasma darah. Sel-sel darah merah berjumlah 4-5 juta sel/mm3 darah, sel darah putih berjumlah antara 5.000-8.000 sel.mm3 darah dan keping darah berjumlah 150.000-400.000 keping/mm3 darah. Plasma darah mempunyai komposisi 90% air, 7%protein, 1% garam anorganik, dan 2% kandungan lainnya (Susilowati, 2010). Didalam keadaan sehat volume darah adalah konstan dan sampai batas tertentu diatur oleh tekanan osmotik dalam pembuluh darah dan dalam jaringan (Pearce, 2006). Pemisahan komponen darah dapat dilakukan dengan berbagai cara, yang paling sedarhana adalah dengan alat sentrifuga. Bila darah segar dalam tabung reaksi disentrifugasi, maka akan terjadi endapan warna merah didasar tabung dan cairan kuning bening (plasma) pada bagian atasnya. Sedangkan pada batas antara cairan kuning dan endapan merah akan terbentuk lapisan bewarna bening (Susilowati, 2010). Dalam praktikum kali ini kami akan melakukan pengamatan mengenai komposisi darah, bentuk dan konsentrasi sel darah pada manusia dengan membandingkan dengan katak (Bufo Sp.), sehingga diharapkan pada praktikum kali ini dapat lebih memahami mengenai komposisi, bentuk dan konsentrasi sel darah pada manusia dan katak (Bufo Sp.).

1. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah pada praktikum kali ini yaitu : 1. Bagaimana komposisi darah pada katak (Bufo sp.) dan komposisi darah pada manusia? 2. Bagaimana bentuk darah pada katak (Bufo sp.) dan bentuk darah pada manusia? 3. Bagaimana kosentarasi darah pada katak (Bufo sp.) dan kosentrasi darah pada manusia?

2. Tujuan

Adapun tujuan pada praktikum kali ini yaitu : 1. Memahami komposisi darah pada katak (Bufo sp.) dan komposisi darah pada manusia. 2. Memahami bentuk darah pada katak (Bufo sp.) dan bentuk darah pada manusia. 3. Memahami kosentrasi darah pada katak (Bufo sp.) dan kosentrasi darah pada manusia.

BAB II KAJIAN PUSTAKA 1. Pengertian Darah Darah adalah cairan yang tersusun atas plasma cair (55 %), yang komponen utamanya adalah air, dan sel-sel yang mengambang di dalamnya (45%). Plasma kaya akan protein-protein terlarut lipid, dan karbohidrat. Limfe sangat mirip dengan plasma, hanya saja kosentrasinya sedikit lebih rendah total tubuh darah sendiri merupakan satu per dua belas berat tubuh, dan pada manusia umumnya volume darah adalah kurang dari lima liter (George, 1999). Darah adalah suatu jaringan yang bersifat cair, terdiri dari sel-sel darah merah, darah putih, keping darah serta plasma darah (Susilowati, 2010). Menurut Evelyn (2006), menjelaskan bahwa darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian. Bahan interseluler adalah cairan yang disebut plasma dan di dalamnya terdapat unsur-unsur padat, yaitu sel darah. Darah adalah jaringan hidup yang bersirkulasi mengelilingi seluruh tubuh dengan perantara jaringan arteri, vena dan kapilaris, yang membawa nutrisi, oksigen, antibodi, panas, elektrolit dan vitamin ke jaringan seluruh tubuh. Darah manusia terdiri atas plasma darah, globulus lemak, substansi kimia (karbohidrat, protein dan hormon), dan gas (oksigen, nitrogen dan karbon dioksida). Sedangkan plasma darah terdiri atas eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih) dan trombosit (platelet) (Watson, 1997).

2. Fungsi Darah Menurut Kimball (1994), fungsi darah yaitu :

1. Mengangkut bahan-bahan (dan panas) ke dari semua jaringan-jaringan badan. 2. Mempertahankan badan terhadap penyakit menular. 3. Plasma membagi pritein yang diperlukan untuk membentuk jarinagan. 4. Hormon, enzim diantarkan dari organ ke organ dengan perantara darah. 5. Sel darah merah mengantarkan oksigen ke jaringan dan menyingkirkan sebagian dari karbon dioksida.

3. Darah Manusia Menurut Pearce (1979), didalam Kandir (2009) Dalam keadaan normal, sel darah merah berbentuk cakram kecil bikonkaf dengan diameter sekitar 7.2 m tanpa memiliki inti, cekung pada kedua sisinya, dilihat dari samping seperti 2 (dua) buah bulan sabit yang bertolak belakang, kalau dilihat satu persatu berwarna kuning tua pucat, tetapi dalam jumlah besar seperti kelihatan merah dan memberi warna pada darah. Struktur sel darah merah terdiri atas pembungkus luar atau stroma, berisi massa hemoglobin (HB). Hemoglobin adalah protein yang kaya akan zat besi, yang mempunyai afinitas (daya gabung) terhadap oksigen dan dengan oksigen tersebut membentuk oxihemoglobin didalam sel darah merah, melalui fungsi ini maka oksigen di bawa dari paru-paru ke jaringan-jaringan lain. Sel darah merah memerlukan protein karena strukturnya terbentuk dari asam amino, juga memerlukan zat besi. Menurut Yatim (2007), sel darah manusia terdiri dari eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), dan trombosit (keeping-keping darah). Eritrosit berwarna merah, karena mengandung pigmen pernapasan yang merah, disebut hemoglobin. Bentuk bulat, dari sisi double cekung (bikonkaf). Sel tak berinti dengan diameter 7-8 mikometer, yang berjumlah 5 juta/mm3 darah. Umumnya terbatas, hanya 120 hari, dihancurkan dalam limpa dan dan sumsum tulang, lalu diganti dengan yang muda lewat pembelahan sel induk eritrosit (eritroblast). Eritrosit berperan mengangkut oksigen dari paru. Leukosit tidak berpigmen, sehingga tidak berwarna. Leukosit ini berguna untuk pertahanan tubuh, macam-macamnya yaitu monosit, granulosit dan limfosit. Trombosit juga tidak berpigmen, dan tidak berupa sel utuh, karena tak memiliki inti dan organel sel yang lengkap. Berperan untuk penggumpulan darah jika terjadi luka. Plasma darah dan sebagian lekosit pada pembuluh kapiler dapat ke luar pembuluh dan

berada di celah jaringan, sehingga disebut cairan tubuh saja. Cairan tubuh itu pun sesewaktu dapat kembali masuk pembuluh kapiler, sehingga menjadi darah. Jadi ada pergantian antara cairan tubuh oleh jantung. Sedangkan cairan tubuh tidak ada alat pengalir, dan geraknnya hanya karena bagian tubuh bergerak. Sel darah merah yang berukuran kurang dari 6 m dinamakan sel mikrosit dan yang berukuran lebih dari normal (9 m - 12 m) dinamakan sel makrosit. Komposisi molekuler sel darah merah menunjukkan bahwa lebih dari separuhnya terdiri dari air (60%) dan sisanya berbentuk substansi padat. Secara keseluruhan isi sel darah merah merupakan substansi koloidal yang homogen, sehingga sel ini bersifat elastis dan lunak. Sel darah merah dibatasi oleh membran plasma yang bersifat semipermeable dan berfungsi untuk mencegah agar koloid yang dikandungnya tetap di dalam. Tekanan osmosis di luar sel darah merah haruslah sama dengan tekanan di dalam sel darah merah agar terdapat keseimbangan. Apabila sel darah merah dimasukkan ke dalam larutan hipertonis maka air dalam sel darah merah akan mengalir ke luar yang akan berakibat bentuk sel darah merah menjadi berkerut seperti berduri (sel burr). Sebaliknya, apabila sel darah merah dimasukkan dalam larutan hipotonis, maka air akan masuk ke dalam sel darah merah sehingga sel darah merah menggembung sampai dapat pecah. Peristiwa tersebut dinamakan hemolisis yang ditandai dengan merahnya larutan oleh karena keluarnya hemoglobin (Subowo, 2002). Membran plasma pada sel darah merah dapat mengalami kerusakan, sehingga tidak dapat melakukan fungsi yang diembannya. Jenis kerusakan dapat beraneka ragam, dapat karena tusukan, robek, putus, terkena senyawa kimia, dan sebagainya. Membran plasma berfungsi untuk menyelubungi sebuah sel dan membatasi keberadaan sebuah sel, juga memelihara perbedaan-perbedaan pokok antara isi sel dengan lingkungannya serta sebagai filter untuk memilih dan memilah-milah bahan-bahan yang melintasinya dengan tetap memelihara perbedaan kadar ion di luar dan di dalam sel (Sumadi & Aditya, 2004).

4. Darah Katak (Rana sp.)

Pada amphibia, misalnya katak, bagian jantung yang bertindak sebagai pacu jantung adalah sinus venosus. Implus yang mula-mula diterima oleh sinus venosus kemudian di rambatkan ke atrium dan akhirnya dirambatkan ke ventrikel. Implus tersebut merambat melalui serabut oto atrium dan serabut oto ventrikel dan tidak merambat melalui sistem konduksi yang khusus seperti pada hewan mamalia. Bila bagian antara sinus venosus dengan atrium diikat dengan tali (ikatan ini di sebut ikatan stannius 1) tampak bahwa sinus venosus akan berdenyut dengan kecepatan yang sama dengan sebelum diadakan pengikatan, sedangkan atrium dan ventrikel akan berhenti berdenyut. Beberapa menit setelah pengikatan yaitu antara 5- 30 menit, atrium dan ventrikel akan berdenyut kembali dengan kecepatan denyut yang lebih rendah dari pada kecepatan denyut sinus venosus. Bila pengikatan dilakukan antara bagian atrium dan ventrikel (ikatan stannius II). Sinus venosus dan atrium akan berdenyut seperti biasa tetapi ventrikel tampak berhenti berdenyut. Kurang lebih setelah 1 jam pengikatan ventrikel akan berdenyut kembali dengan kecepatan denyut yang lebih rendah dari pada sinus venosus dan atrium (Wulangi S. 1993). Percobaan stannius ini membuktikan bahwa eksitasi jantung mula-mula terjadi di sinus venosus dan kemudian menyebar ke atrium dan ventrikel. Dari percobaan sederhana ini juga dapat kita simpulkan bahwa dalam keadaan tidak normal setiap bagian jantung bisa menimbulkan denyut sendiri. Pada katak peredaran darahnya cukup unik. Karena katak mempunyai 3 ruang jantung, yaitu: atrium kiri, atrium kanan, dan ventrikel. Darah vena dari seluruh tubuh mengalir masuk ke sinus venosus dan kemudian mengalir menuju ke atrium kanan. Dari atrium kanan darh darah mengalir ke ventrikel yang kemudian di pompa keluar melalui arteri pulmonalis raru-paru vena pulmonalis atrium kiri. Lintasan peredaran darah ini disebut juga peredaran darah paruparu. Selain peredaran darah paru-paru, katak juga mempunyai sistem peredaran darah sistemik yang peredarannya adalah dimulai dari ventrikel conus arteriosus aorta ventralis seluruh tubuh sinus venosus atrium kanan. Pada ikan ruang jantung terdiri dari 2 ruang yaitu, satu atrium dan ventrikel. Antara atrium dan ventrikel terdapat katup yang berfungsi mengalirkan darah ke satu arah. Darah dari seluruh tubuh mengalir dari sinus venosus dan kemudian masuk ke atrium. Dari atrium darah mengalir ke ventrikel conus arteriosus aorta ventralis insang ke seluruh tubuh vena cava sinus venosus. (Wulangi S. 1993).

Menurut Soewolo (2000), jantung katak terdiri atas tiga ruang, yaitu dua atria yang berdinding tipis, dan satu ventrikel yang berdinding tebal. Pada sekat antara serambi dan bilik terdapat katup. Darah dari seluruh tubuh masuk ke atrium kanan melalui sinus venosus. Dari atrium kanan, darah masuk ke ventrikel jantung (yang hanya mempunyai satu ruang), lalu dipompa melalui arteri pulmonalis, dan cabang yang lain menuju kulit, disebut arteri kutaneus. Dalam paru-paru dan kulit, darah yang kaya akan oksigen akan masuk ke bilik jantung untuk dipompa ke seluruh tubuh melalui nadi utama. Sistem sirkulasi penuh melalui jantung dua kali. Sistem sirkulasi seperti yang terdapat pada katak ini disebut system sirkulasi ganda, sebab darah selama satu sirkulasi penuh melalui jantung dua kali. Sestem sirkulasi ganda biasanya besar (system sirkulasi sistemik). Meskipun ventrikel katak tidak bersekat, namun rupanya tetap terjadi pemisahan antara darah yang kaya oksigen dengan darah yang kaya karbondioksida. Darah dari paru-paru dan kulit yang kaya akan oksigen oleh ventrikel dialiarkan menuju arteri pulmokutaneus. Pemisahan ini dapat terjadi karena di dalam konus arteriosus tetrdapat suatu lipatan spiral yang mengarahkan aliran tadi.

BAB III METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Pada praktikum kali ini dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 26 April 2010 jam 09.50-12.00 WIB, yang bertempat di Laboratorium Pendidikan Dasar A jurusan Biologi fakultas sains dan teknologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

2. Alat dan Bahan Adapun alat yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu, Bunsen, Blood Lancet, Deck Glass, Mikroskop Binokuler, Preparat, Kapiler Hematokrit, Korek Api, Kapas, Seperangkat alat bedah, dan Sentrifuga.

3.3 Bahan

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu, Larutan NaCl 0,1%, 0,2%, 0,4%, 0,6%, 0,8%, 0,9%, dan 1%, Klorofom. Alkohol 96% dan antikoagulan.

3.3 Cara Kerja

1. Komposisi Darah

2. Bentuk Sel Darah Merah

3. Kosentrasi Sel Darah Merah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan Pada praktikum kali ini, kami ingin mengamati komposisi, bentuk dan kosentrasi sel darah merah pada manusia dan katak dengan hasil sebagai berikut: 1. Komposisi Darah 1. Darah Katak (Bufo Sp.) b. Darah Manusia X = 2,8 cm X = 0,8 cm Y = 5,5 cm Y = 5,5 cm Rumus sel darah merah = X x 100 Rumus sel darah merah = X x 100 YY = 2,8 x 100 = 1,5 x 100 5,5 3 = 50,9 % = 25,81 %

Plasma (berwarna kuning) Leukosit dan Trombosit (berwarna merah) Y Eritrosit (berwarna merah kehitaman) X

2. Bentuk Darah

No. 1.

Eritrosit pada katak

Eritrosit pada manusia

Gambar eritrosit pada katak dengan kosentrasi NaCl 0,6 Perbesaran 40 x 10 Nokia 3235 2.

Gambar eritrosit pada manusia dengan kosentrasi NaCl 0,6 Perbesaran 40 x 10 Nokia 3235

Gambar eritrosit pada katak dengan kosentrasi NaCl 0,9 Perbesaran 40 x 10 Nokia 3235

Gambar eritrosit pada manusia dengan kosentrasi NaCl 0,9 Perbesaran 40 x 10 Nokia 3235

3. Kosentrasi Darah

No. 1. 2. 3. 4. 5 5. 6.

Kekentalan NaCl 0,1 % 0,2 % 0,4 % 0,6 % 0,8% 0,9 % 1% Lisis

Darah Katak

Darah Manusia Lisis

Lisis Lisis Tidak Lisis Lisis Tidak Lisis Krenasi (Mengkerut)

Lisis Lisis Tidak Lisis Lisis Krenasi Krenasi (Mengkerut)

4.2 Pembahasan Dalam praktikum fisiologi hewan kali ini kami melakukan pengamatan terhadap komposisi darah, bentuk dan konsentrasi sel darah. Dalam hal ini kami mencoba membandingkan antara komposisi, bentuk dan konsentrasi sel darah pada mamalia (manusia) dan amphibia (Bufo Sp.), hal ini dilakuakan karena untuk mengetahui perbedaan dari pada keduannya.

1. Komposisi Darah Manusia dan Katak (bufo sp.) Untuk mengetahui komposisi darah pada manusia kami melakukan pengambilan darah pada salah satu teman kami dengan menggunakan bllod lancet, kemudian dimasukkan ke hematokrit sampai 80%, kemudian dipanaskan pada bagian pipi sampai benar-benar meleleh, lalu disentrifugasi pada 500 rpm selama 15 menit, bertujuan agar antara plasma darah dengan leukosit, trombosit dan eritrosit benar-benar terpisah. Apabila darah segar tabung reaksi sentrifugasi terdapat endapan warna merah di didasar bagian atasnya. Sedangkan pada bagian pada batas antara cairan kuning dan endapan merah akan terbentuk lapisan bewarna bening (Susilowati, 2010). Sedangkan untuk mengetahui komposisi darah pada katak terlebih dahulu kami membius katak dengan larutan klorofrom, kemudian kami bedah dan diambil darahnya pada bagian ventrikel yang kemudian, dengan menggunakan suntikan dan darah tersebut kami masukan ke pipa kapiler samapai 80%, kemudian kami panaskan ujung pipa dan disentrifugasi pada kecepatan 500 rpm dengan waktu 15 menit yang tujuannya untuk pemisahan komposisi darah, secara sederhana. Faktor-faktor yang berkenaan dengan tahap isolasi antara lain kecepatan dan waktu sentrifus, cara dan waktu pengocokan, serta cara pemisahan lapisan ekstrak. Berdasarkan kondisi optimum untuk isolasi ambroksol dari dalam plasma adalah dengan menggunakan sentrifus dengan kecepatan 2000 rpm selama 6 menit, pencampuran dengan vorteks selama 4 menit, dan cara pemisahan lapisan ekstrak dengan metode pembekuan. (Marpaung SU, 1995 didalam harmita 2004). Menurut soewolo (2000), bila suatu sampel darah ditempatkan dalam suaru tabung pemusing (sentrifugasi) atau tabung khusus untuk menentukan hematokrit dan diberi perlakuan agar tidak membeku maka, unsur-unsur yang berat akan menegendap ke dasar tabung dan plasma yang lebih tinggi berada di bagian atas. Bagian yang menendap tersebut tersusu atas selsel darah dan terutama adalah eritrosit 99%. Presentase volume eritrosit dari suatu volume darah ini disebut hematokrit, sedangkan volume plasma rata-rata 58%. Hematokrit tidak merata pada bagian tubuh. Darah vena mempunyai hematokrit sedikit lebih besar dari darah arteri.

Dari hasil pengamatan yang telah kami lakukan bahwasannya komposisi darah manusia <> darah memiliki komposisi yang terdiri atas sekitar 55% cairan darah (plasma) dan 45% selsel darah. Terdapat tiga macam sel darah, yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit) sedangkan pada katak hanya memiliki salah satu dari ketiganya. Sedangkan untuk plasma darah pada katak > manusia hal ini dikarenakan pada katak termasuk hewan poikiloterm yang mana katak mempertahankan suhu tubuhnya secara fluktuatif mengikuti suhu lingkungannya. Plasma memiliki fungsi sebagai perantara untuk penyaluran makanan, mineral, lemak, glukosa, dan asam amino kejaringan. Juga merupakan medium untuk mengangkat bahan buangan urea, asam urat dan karbodioksida (Pearce, 2006). Dimana plasma darah ini mengandung ion-ion, kolekul-molekul anorganik dan organik, protein, sel-sel dan gas. Pada spesies tertentu (Bufo sp) komponen-komponen tersebut secara homeostatik dijaga pada tingkat yang relatif konstan (Soewolo, 2000). Isnaeni (2006), tekanan hidrosatik yang ditimbulkan oleh darah mengendalikan kekuatan untuk filtrasi, sedangkan osmotik plasma bekerja untuk reabsorbsi (yang arahnya berlawanan dengan arah filtrasi). Jadi, protein dalam plasma merupakan bahan yang penting untuk menentukan besarnya tekanan osmotik dalam plasma. Kekuatan osmotik juga penting untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh pada hewan invertebrata, yang mempunyai sistem sirkulasi terbuka. Protein plasma pada hewan vertebrata tingkat tinggi dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu fibrinogen, globulin, dan albumin. Fibrinogen bertanggung jawab dalam prose pembekuan darah. Globulin bertanggung jawab dalam berbagai fungsi, terutama yang berkaitan dengan reaksi kekebalan (immun) dan transpor molekul tertentu seperti hormon, vitamin, dan zat besi. Sementara, albumin bertanggung jawab mempertahankan.

2. Bentuk Sel Darah Merah Manusia dan Katak (bufo sp)

Pengamatan selanjutnya yaitu mengenai bentuk sel darah merah pada manusia dan katak, dimana kami menggunakan larutan NaCl 0,9% sebab, NaCl adalah salah satu garam yang mudah larut dalam air, sehingga pada saat direaksikan NaOH dengan HCl tidak terbentuk endapan NaCl tetapi larutan NaCl dalam bentuk kristalisasi yaitu pembentukan Kristal NaCl dengan cara menguapkan pelarutnya (Day, 1986). Pengaruh konsentrasi ke bentuk dapat menimbulkan membran eritrosit tua dapat pecah apabila toleransi osmotis rendah, sebaliknya membran eritrosit muda memiliki toleransi osmotik yang lebih besar tidak mudah pecah. Homolisis kimiawi, dimana akibat eritrosit rusak akibat subtansi kimia, contoh yang dapat merusak membran eritrosit yaitu aseton, alkohol, benzena, klorofrom dan eter (Soewolo, 2000). Selanjutnya kami mengamati bentuk darah menggunakan mikroskop binokuler perbesaran 40 x 10. Dimana eritrosif berbentuk cakram bikonkaf, bewarna merah karena mengandung hemoglobin, pada eritrosit dewasa pada mamalia akan kehilangan inti, mitokondria, ribosom, dan beberapa enzim untuk leukosit ukurannya lebih besar dari pada eritrosit dengan diameter 9-15 um, sedangkan untuk trombosit, merupakan bukan sel yang utuh tetapi berupa fragmen atau keping sel kecil (garis tengahnya 2-4 um), tidak berinti, tidak bewarna (Soewolo, 2000).

3. Konsentrasi Sel Darah Merah Manusia dan Katak (bufo sp.) Untuk mengetahui konsentrasi sel darah, kami menggunakan larutan NaCl dengan konsentrasi yang berbeda yaitu : 0,1%, 0,2%, 0,4%, 0,6%, 0,9%, dan 1%. Maka, didapatkan bahwa konsentrasi yang mengalami lisis yaitu 0,1%, 0,2%, 0,4% dan 0,8% baik pada nabusia maupun katak. Sedangkan yang tidak mengalami lisis yaitu 0,6% pada katak dan manusia sedangkan 0,9 % hanya pada manusia, untuk yang mengalami krenasi 1% pada manusia dan 0,9% pada katak. Dalam penggunaan NaCl dapat terjadi krenasi, apabila eritrosit dimasukkan kedalam medium yang hipertonis terhadap isi eritrosit, misalnya pada hewan hewan homoiterm

(manusia) larutan NaCl yang elebih pekat dari 0,9% NaCl, sedangkan eritrosit hewan poikiloterm (Rana Sp) adalah larutan NaCl yang lebih pekat dari 0,7% (Soewolo, 2000). Krenasi terjadi karena mengkerutnya membran sel akibat keluarnya air dari dalam eritrosit, krenasi dapat terjadi apabila eritrosit dimasukkan kedalam media hipertonis (Soewolo, 2000). Lisis merupakan peristiwa mengelembungnya dan pecahnya sel akibat masuknya air ke dalam sel. Yang kemudian terjadi homolisis dimana, eritrosit dimasukkan kedalam medium yang hipertonis terhadap sel eritrosit, yang mana sel eritrosit hewan homoiterm isotonis terhadap larutan 0,9% NaCl, oleh karena itu homolisis akan terjadi apabila eritrosit hewan homoiterm dimasukkan kedalam larutan NaCl dengan konsentrasi di bawah 0,9%, yang mana eritrosit memiliki toleransi osmotik (Soewolo, 2000).

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Dari hasil pengamatan dan pembahasan yang telah panjang lebar dijelaskan di atas maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Komposisi eritrosit katak setelah diberi gaya sentrifugal maka didapatkan nilainya pada katak (Bufo sp) 50,9 , sedangkan eritrosit pada manusia didapatkan nilai sebesar 25,81. 2. Bentuk sel darah merah katak dengan manusia tidak sama dimana pada hasil pegamatan kami sel darah merah manusia berbentuk lebih kecil daripada darah katak. Namun pada kedua darah tersebut kelihatan dengan jelas inti-intinya. 3. Pada pengamatan kosentrasi terdapat perbedaan antara darah katak dengan manusia, walaupun diberi perlakuan yang berbeda-beda dengan kosentrasi NaCl.

DAFTAR PUSTAKA

Day, Ahmad. 1986. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.

Evelyn, Franklin. 2006. Fisiologi Manusia untuk Paramedis. Surabaya: Sinar Wijaya

Fried, George. 1999. Schaum's Outline of Theory and Problems og Biology. Jakarta: Airlangga

Harmita, dkk. 2004. Metode Penetapan Kadar Meloxicam Dalam Darah Manusia In Vitro Secara Kromotografi Cair Kinerja Tinggi. Departemen Farmasi FMIPA Universitas Indonesia, 02 : 79-92.

Pearce, Evelyn C. 1979. Anatomy & Physiology for Nurses. Terjemahan oleh Sri Yuliani Handoy. Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama.

Pearce, Evelyn C. 1979. Anatomy & Physiology for Nurses. Terjemahan oleh Sri Yuliani Handoy. Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama (cetakan 28. Januari 2006).

Popkol, J. et.al. 2003. Lead, Cadmium, Copper and Zinc Concentration in blood and Hair of Mother of Childern With Locometer System Malformations. Polandia : Medical University in bialytok. 03 : 375-379

Subowo. 2002. Histologi Umum. Jakarta : Bumi Aksara.

Sumadi dan Aditya M. 2004. Buku Ajar Biologi Sel. Semarang : Jurusan Biologi-FMIPAUNNES.

Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional.

Susilowati, Retno. 2010. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan. Malang: UIN Malang.

Watson, Roger. 1997. Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat Edisi 10. Jakarta : EGC Buku Kedokteran.

Wulangi S. Kartolo. 1993. Prinsip-Prinsip Fisiologi Hewan. Bandung: ITB

Yatim, Wildan. 2007. Kamus Biologi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Kandir. 2009. Fenomena pergerakan sel darah merah manusia di dalam sistem elektrodielektrik. Tugas Akhir Tidak diterbitkan. Semarang : Jurusan Fisika Universitas Negeri Semarang.

Kimball, John. 1983. Biology, Fifth Edition, jilid 5.Terjemahan Prof. DR. Ir. H. Siti Soetarmi T. dkk. Bogor: IPB Penerbitan Erlangga.