Anda di halaman 1dari 2

Guru

Siapakah yang mengajari anda berhitung, merangkai kata-kata menjadi kalimat, cara bertamu yang
baik, kelima sila Pancasila, membaca not balok, senam lantai, bahkan apa yang harus anda lakukan
sebelum tidur? Guru. Siapa yang menentukan cerdas tidaknya anda secara hukum melalui ijazah?
Sebagian adalah guru. Siapa yang konon kata peribahasa jika dia kencing berdiri kita justru kencing
berlari? Lagi-lagi guru. Dan siapakah yang menyebabkan ide-ide ini keluar? Salah satunya adalah guru.
Cukup banyak pertanyaan bernada “Siapa” dapat dijawab dengan kata “Guru.”.

Mungkin memang seharusnya begitu, karena pada awal kehidupan kita, akan sangat banyak kata tanya
yang kita lontarkan kepada guru, dan tentu saja lebih banyak lagi pertanyaan yang guru lontarkan
kepada kita. Mengapa demikian? Kita butuh bertanya kepada guru karena kita belum mengerti akan
sesuatu. Mengapa guru bertanya kepada kita? Karena guru memiliki tanggung jawab secara moral dan
profesional untuk mengetahui seberapa jauh kita mengerti apa yang guru sampaikan, untuk kemudian
diarahkan agar ilmu yang disampaikan dapat kita pahami dan aplikasikan kelak.

Tadi disebutkan bahwa guru memiliki tanggung jawab secara moral dan profesional. Guru tentu
haruslah seorang yang profesional, dalam arti memiliki kualifikasi yang penuh akan ilmu yang Ia
kuasai, dan tentu saja Ilmu untuk menyampaikan Ilmu yang Ia kuasai tersebut, mengingat status guru
sebagai “digugu dan ditiru”, status yang sangat – sangat berbahaya. Karena guru merupakan salah satu
arsitek kehidupan dalam tahap perkembangan awal manusia. Jika hal ini terkesan klise, maka kita bisa
berbicara fakta bahwa nilai UAN, STTB, apalagi IPK, merupakan salah satu dari sekian angka-angka
yang sah secara hukum untuk dipergunakan sesuai fungsinya, seperti syarat minimum untuk melamar
di instansi tertentu, dan tentu saja sebagai alat rekam diri atas kualifikasi kita sebagai tenaga kerja. Dan
tentu saja, salah satu yang menentukan besar angka-angak ini adalah pihak guru.

Oleh karena guru dapat memberikan pengaruh yang demikian besar dan sah secara hukum, dan
demikian beratnya tanggung jawab guru, guru haruslah diperlakukan layaknya profesional, agar Ia
memiliki tanggung jawab yang penu akan keprofesiannya itu. Salah satu aspek yang harus diperhatikan
adalah: guru berhak menerima penghargaan yang sesuai, baik materi maupun sosial. Inilah yang
membedakan profesional dengan amatir, dimana seorang profesional melakukan sesuatu karena
memang itu tugas yang sesuai dengan kualifikasi yang Ia miliki, sementara amatir melakukan sesuatu
lebih kepada dasar minat dan kecocokan semata, dan dapat dikatakan bukan kualifikasinya melakukan
hal tersebut. Bukan berarti guru melanggar pernyataan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Laiknya
pahlawan, tentu saja gelar pahlawan itu sendiri adalah merupakan suatu bentuk penghargaan. Orientasi
materi kepada guru semata-mata adalah salah semata-mata imbal balik atas pengakuan keprofesionalan
guru, bukan karena ingin pamrih, alias “Ada maksud”.

Namun disisi lain, guru juga memiliki tanggung jawab moral, untuk sekuat tenaga berusaha
mencerdaskan orang-orang disekelilingnya, terutama kepada anak didiknya sendiri. Sangat berbeda
rasanya menjadi seseorang yang telah didaulat menjadi guru, dimana Ia harus mendharma-baktikan
segenap Ilmu keguruan yang Ia miliki, kepada siapapun kapanpun dan dimanapun. Karena hanya
pendidikanlah, salah satu hal yang wajib manusia miliki tanpa syarat-syarat, dan ketentuan apapun,
kecuali niat. Istilahnya, siapapun yang bertanya kepada guru, wajib bagi guru tersebut untuk menjawab
pertanyaan tersebut sesuai kualifikasi yang Ia miliki, karena inilah tugas pokok guru, seseorang yang
memiliki kelebihan untuk menyampaikan ilmu-ilmu dengan jelas, dengan maksud agar “ditiru dan
digugu”, dengan harapan agar setiap orang yang tadinya tidak tahu menjadi tahu. Ilmu pengetahuan
sangat vital, karena inilah dasar bagi setiap manusia dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ada.
Hal ini menjelaskan mengapa ada guru yang walaupun hingga puluhan tahun berjuang meninggikan
taraf hidup siswa-siswinya dengan bekal ilmu-ilmu yang Ia sampikan, taraf hidupnya sendiri tidak
kunjung membaik.

Oleh karenanya, dewasa kini, amatlah perlu status guru sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa kita
evaluasi ulang. Karena dibalik status mereka, mereka pun sama seperti kita. Memiliki keluarga yang
menunggu di rumah selepas sore, bahkan tengah malam ketika guru pun harus lembur tak jauh berbeda
dengan karyawan kantor. Karena guru adalah seorang profesional yang bermoral, bukan profesional
kejar tayang demi memenuhi tenggat waktu proyek semata.