Anda di halaman 1dari 4

BAB I PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG Beton merupakan elemen struktur bangunan yang telah dikenal banyak

dimanfaatkan sampai saat ini. Beton banyak mengalami perkembangan, baik dalam pembuatan campuran maupun dalam pelaksanaan konstruksinya. Salah satu perkembangan beton yaitu pembuatan kombinasi antara material beton dan baja tulangan menjadi satu kesatuan konstruksi yang dikenal sebagai beton bertulang. Beton bertulang banyak diterapkan pada bangunan seperti: gedung, jembatan, perkerasan jalan, bendungan, tendon air dan berbagai konstruksi lainnya. Beton bertulang pada bangunan gedung terdiri dari beberapa elemen struktur, misalnya balok, kolom, plat lantai, pondasi, sloof, ring balok, ataupun plat atap. Beton bertulang sebagai elemen balok harus diberi penulangan yang berupa penulangan lentur (memanjang) dan penulangan geser. Penulangan lentur dipakai untuk menahan pembebanan momen lentur yang terjadi pada balok. Penulangan geser (penulangan sengkang) digunakan untuk menahan pembebanan geser (gaya lintang) yang terjadi pada balok. Ada beberapa macam tulangan sengkang pada balok, yaitu sengkang vertikal, sengkang spiral, dan sengkang miring. Ketiga macam tulangan ini sudah lazim diterapkan dan sangat dikenal, yang dikenal sebagai tulangan sengkang konvensional (Wahyudi, 1997). Dari ketiga bentuk tulangan sengkang tersebut di atas, bentuk tulangan sengkang vertikal lebih sering dipergunakan pada konstruksi balok beton bertulang karena faktor kemudahan pembuatan dan pelaksanaannya. Tulangan sengkang vertikal dalam pembuatannya disesuaikan dengan bentuk penampang balok beton yang akan dibuat. Untuk bentuk penampang balok beton persegi empat, maka tulangan sengkang dibuat membentuk persegi empat pula dengan ujung-ujung bengkokan yang saling bertemu (Rachman, 2013).

Tulangan sengkang konvensional yang telah dikenal selama ini dalam konsep perhitungannya dengan memperhitungkan bahwa bagian tulangan sengkang yang berfungsi menehan beban geser adalah bagian tulangan sengkang pada arah vertikal (tegak lurus terhadap sumbu batang balok). Hal ini dikarenakan perilaku beban geser balok akan menyebabkan terjadinya keretakan geser. Keretakan geser akan menyebabkan terbelahnya balok menjadi dua bagian yang terpisah oleh garis keretakan geser tersebut, yaitu bagian bawah retak geser dan bagian atas retak geser (Iqbal, 2013).

a. Sengkang miring

b. Sengkang vertikal

Gambar 1.1 Penulangan geser

Pengamanan yang dapat dilakukan diantaranya yaitu menyediakan sejumlah tulangan geser yang dibuat miring di dekat tumpuan untuk menahan gaya tarik tegak lurus terhadap retak tarik diagonal (retak miring) sehingga kemungkinan mampu mencegah retak lebih lanjut (runtuh geser) (David, 2013). Penelitian yang dilakukan oleh Achmad David dan Bambang Sabariman dengan judul Pengaruh Sudut Sengkang Miring Pada Balok Pendek Terhadap Pola Runtuh pada tahun 2013 mendapatkan kesimpulan Semakin miring sudut yang digunakan (mendekati 45) maka semakin besar kuat geser yang dihasilkan balok, dan peneliti menyarankan perlu ada penelitian lanjut menggunakan variasi sudut lebih kecil dari 50. Karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perilaku balok terhadap variasi bentang geser, jarak tulangan geser dan kemiringan sengkang. Penelitian ini nantinya akan dilakukan dengan menggunakan analisis metode elemen hingga dengan bantuan program komputasi ANSYS versi 9.0.

1.2

PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya maka

rumusan masalah penelitian ini adalah permodelan balok dengan program komputasi ANSYS versi 9.0 untuk mengetahui bagaimana perilaku balok beton bertulang mutu normal dengan variasi bentang geser, jarak tulangan geser dan kemiringan sengkang dalam merespon beban terpusat dengan sistem two point loading yang diberikan sampai balok tersebut mengalami keruntuhan.

1.3

TUJUAN PENELITIAN Adapun tujuan penelitian ini antara lain: 1. Mendapatkan beban ultimit yang mampu diterima balok. 2. Mengetahui perilaku retak yang terjadi pada balok. 3. Mengetahui pola keruntuhan yang terjadi akibat variasi bentang geser, jarak tulangan geser dan sudut kemiringan tulangan geser.

1.4

BATASAN MASALAH Dalam penelitian yang dilakukan, ada beberapa lingkup masalah yang

dibatasi, yaitu: 1. Permodelan menggunakan analisis elemen hingga dengan bantuan komputasi ANSYS versi 9.0. 2. Sampel balok beton bertulang dibuat dengan ukuran penampang yaitu bentang bersih (ln) 2200mm, tinggi (h) 400mm, lebar (b ) 200mm. 3. Variasi jarak pembebanan dengan = sampai dengan .

4. Variasi jarak antar sengkang, s = 50mm sampai dengan 100mm. 5. Variasi bentang geser = 75 sampai dengan 30

6. Jumlah tulangan tarik tiga buah. Dengan diameter tulangan baja polos yang digunakan adalah 12mm. 7. Diameter sengkang yang digunakan adalah 6mm. 8. Tebal selimut beton (ds) 40mm. 9. Mutu beton yang digunakan adalah fc = 20 MPa. 10. Tegangan leleh tulangan baja, fy = 240 MPa.

11. Balok diberikan pembebanan terpusat dengan sistem two point loading .

Adapun dimensi model balok, detail tulangan lentur dan tulangan geser dal letak pembebanan terpusat, dapat dlihat pada Gambar 1.2 berikut. Untuk gambar detail model balok dengan variasi jarak antar sengkang, lebih lengkapnya dapat dilihat pada Bab III.

Gambar 1.2 Model balok dengan tulangan geser miring (50) jarak sengkang = 100mm

1.5

MANFAAT PENELITIAN Manfaat penelitian ini antara lain: 1. Dapat diketahui kriteria desain tulangan geser yang tepat untuk balok pada beton mutu normal dan variasi bentang geser. 2. Memberikan suatu konsep permodelan yang tepat dan ekonomis dari segi waktu dan biaya.