Anda di halaman 1dari 17

Tinjauan Pustaka

KERACUNAN OKSIGEN
Oleh Diah Puspita Rifasanti I1A009052 Pembimbing: dr. Dwi Setyohadi
BAGIAN/SMF ILMU KEDOKTERAN DAN KEHAKIMAN FK UNLAM RSUD ULIN BANJARMASIN Desember, 2013

PENDAHULUAN
Setiap sel tubuh manusia membutuhkan oksigen untuk melaksanakan fungsi metabolisme, sehingga oksigen merupakan zat terpenting dalam kehidupan manusia. Keracunan oksigen pada pasien sakit kritis masih kontroversial namun demikian pada kondisi tertentu kelebihan oksigen dapat merupakan racun yang berbahaya.

Pierson DJ. Pathophysiology and Clinical Effects of Chronic Hypoxia. Respiratory Care. 2000;45 (1): 39-46. Singh CP. Oxygen Therapy. Journal Indian Academy of Clinical Medicine 2001; 2 (3): 178-183.

TOKSIKOLOGI
Toksikologi adalah ilmu yang mempelajari sumber, sifat serta khasiat racun, gejala-gejala dan pengobatan pada keracunan, serta kelainan yang didapatkan pada korban yang meninggal. Racun ialah zat yang bekerja pada tubuh secara kimiawi dan fisiologik yang dalam dosis toksik akan menyebabkan gangguan kesehatan atau mengakibatkan kematian.

Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ilmu Kedokteran Forensik, Edisi Kedua. Jakarta : 1997.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


1. Cara masuk 2. Umur 3. Kondisi tubuh 4. Kebiasaan 5. Idiosinkrasi dan alergi pada vitamin E, penisilin, streptomisin dan prokain.

Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ilmu Kedokteran Forensik, Edisi Kedua. Jakarta : 1997.

MEKANISME KERACUNAN

hiperoksia

reactive O2 species/ROS

MANIFESTASI KLINIS
Tergantung tipe paparan: Toksisitas pulmoner, atau efek Lorraine Smith.

Toksisitas sistem saraf pusat, atau efek Paul Bert

TOKSISITAS PULMONER (EFEK LORRAINE SMITH)


FiO2 yang tinggi, yaitu >0,60 dalam waktu yang lama (24 jam) pada tekanan barometrik normal, yaitu 1 atm (atmospheres absolute (ATA)) ROS merangsang sekresi kemoatraktan oleh sel paru dan sitokin menstimulasi pergerakan dan akumulasi makrofag dan monosit menuju paru, yang akan semakin menambah ROS. Interaksi ROS dengan leukosit akan mengeksaserbasi cedera yang lebih lanjut.

Mach WJ, Thimmesch AR, Pierce JT, et al. Consequence of hyperoxia and the toxicity of oxygen in the lung. Nursing Research and Practice 2011; 7: 1-7.

TOKSISITAS PULMONER (EFEK LORRAINE SMITH)


Paparan oksigen setelah hampir 12 jam akan berakibat terjadinya kongesti jalan napas, edem paru, dan atelektasis yang disebabkan oleh kerusakan dinding bronkus dan alveolus. Terbentuknya cairan di paru menyebabkan sesak dan rasa terbakar pada tenggorokan dan dada, sehingga akan terasa sakit saat menarik napas.

Mach WJ, Thimmesch AR, Pierce JT, et al. Consequence of hyperoxia and the toxicity of oxygen in the lung. Nursing Research and Practice 2011; 7: 1-7.

TOKSISITAS SISTEM SARAF PUSAT (EFEK PAUL BERT)


Tekanan atmosfer tinggi (1,6 4 atm) dan lamanya paparan dengan FiO2 tinggi hanya sebentar. Pada penyelam, tanda pertama dari keracunan oksigen pada SSP adalah terjadinya kejang tipe grand mal. Kejang pada keracunan oksigen diyakini tidak akan menyebabkan masalah yang permanen karena tubuh berada pada kondisi surplus oksigen. Namun jika kejang terjadi saat penyelam sedang menyelam, maka penyelam tersebut dapat tenggelam.

Sawatzky D. Oxygen toxicity signs and symptoms. Sport Diving Medicine 2012; 12: 55

Gejala lain yang berkaitan dengan SSP adalah terjadinya gangguan penglihatan serta telinga berdenging. Kemudian diikuti kejang setelah adanya penurunan kesadaran secara mendadak.6

Sawatzky D. Oxygen toxicity signs and symptoms. Sport Diving Medicine 2012; 12: 55

TERAPI DAN PENCEGAHAN


Pengobatan pada kondisi ini hingga memerlukan ventilasi mekanik diikuti dengan pengobatan suportif.5 Karena pengobatan pada kasus ini lebih pada simtomatik, maka pencegahan dan pengawasan untuk mengenali kondisi hiperoksik secara dini lah yang lebih penting. Cara paling efektif untuk menurunkan resiko keracunan oksigen pada SSP adalah dengan membatasi tekanan oksigen yang diberikan, membatasi waktu paparan, dan istirahat menghirup oksigen murni saat melakukan penyelaman
Mach WJ, Thimmesch AR, Pierce JT, et al. Consequence of hyperoxia and the toxicity of oxygen in the lung. Nursing Research and Practice 2011; 7: 1-7. Sawatzky D. Oxygen toxicity signs and symptoms. Sport Diving Medicine 2012; 12: 55.

TERAPI DAN PENCEGAHAN


Patel et al: antioksidan eksogen seperti vitamin E dan C dapat diberikan sebagai pencegahan pada bayi dengan resiko keracunan oksigen, mengingat mekanisme keracunan ini didasarkan pada ROS sebagai radikal bebas. Dosis yang direkomendasikan adalah, vitamin E 100mg/kgBB/hari selama 4 6 minggu.2

Patel DN, Goel A, Agarwal SB, et al. Oxygen toxicity. JIACM 2003; 4 (3): 234-237.

PENGGUNAAN DAN PEMANTAUAN TERAPI OKSIGEN


Pada pasien dengan hipoksemia kronis, lebih bijak jika menggunakan oksigen yang membantu pernapasan seminimal mungkin. PaO2 sekitar 50 55mmHg biasanya cukup pada kondisi ini. Positive end-expiratory pressure (PEEP) harus digunakan selama pemberian ventilasi mekanik jika konsentrasi oksigen yang diinspirasi >50% gagal memperbaiki keadaan hpoksia. Namun jika tidak terjadi hal demikian maka PEEP tidak diperlukan pada pasien.

Patel DN, Goel A, Agarwal SB, et al. Oxygen toxicity. JIACM 2003; 4 (3): 234-237.

PENGGUNAAN DAN PEMANTAUAN TERAPI OKSIGEN


Terapi oksigen harus diberikan terus menerus sampai pasien pulih dan tidak boleh dihentikan mendadak, karena penghentian mendadak dapat mengakibatkan turunnya tekanan oksigen alveolar. Penyapihan terapi oksigen harus dipertimbangkan ketika pasien menjadi nyaman, penyakit yang mendasarinya sembuh, tekanan darah, denyut nadi, frekuensi pernapasan, warna kulit, dan oxymetri berada dalam kisaran normal. penyapihan dapat secara bertahap dengan menghentikan oksigen atau menurunkan konsentrasi untuk jangka waktu tertentu misalnya 30 menit dan mengevaluasi kembali parameter klinis dan PaO2 secara berkala.
Semedi BP, Hardiono. Pemantauan oksigenasi. Departemen Anestesiologi dan Reanimasi FK UNAIR 2012; 2 (2): 85-93.

PROGNOSIS
Angka mortalitas membaik semakin hari namun masih dalam kisaran 30 hingga 75% dan terjadi pada 86 dari 100.000 pasien per tahun.

Patel DN, Goel A, Agarwal SB, et al. Oxygen toxicity. JIACM 2003; 4 (3): 234-237.

KESIMPULAN
Oksigen, merupakan zat yang sering digunakan untuk mengobati kondisi hipoksemia pada berbagai kondisi klinis. Namun oksigen itu sendiri dapat menjadi trigger terjadinya cedera paru akut jika tidak diberikan pada konsentrasi dan durasi yang sesuai. Efek toksik biasanya pada SSP dan paru. Terapi yang dapat diberikan berupa terapi suportif namun pencegahan dan deteksi dini merupakan hal yang penting pada keracunan oksigen ini.

TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai