Anda di halaman 1dari 22

BAB III Tegangan regangan bahan

BAB III TEGANGAN - REGANGAN MACAM-MACAM BAHAN


A. Tegangan Regangan Aluminium Kebanyakan bahan alumunium memiliki ketelitian yang cukup tinggi meskipun mereka tidak memiliki suatu titik leleh yang dapat ditetapkan secara jelas. Sebagai gantinya, mereka memperlihatkan suatu transisi secara berangsurangsur dari daerah linier ke daerah tak linier, seperti diperlihatkan oleh diagram tegangan-regangan dalam Gambar 3.1. Bahan aluminum yang cocok untuk tujuan konstruksi tersedia dengan batas tegangan leleh berkisar 7 hingga !" #pa dan tegangan batas berkisar antar 1! hingga $% #pa.

Gambar 3.1 &iagram tegangan-regangan pada aluminium. 'pabila suatu bahan seperti paduan aluminum tidak memilliki titik leleh yang jelas dan masih mengalami regangan-regangan besar setelah tegangan leleh terle(ati, maka suatu tegangan leleh sebarang dapat ditentukan melalui metode o)set *offset method+. &i sini sebuah garis lurus ditarik sejajar dengan bagian a(al kur,a yang linier pada diagram tegangan-regangan *lihat Gambar 3."+. -ang berjarak beberapa regangan standar, seperti , " *atau ,".+. /erpotongan garis o)set *offset line+ ini dengankur,a tegangan-tegangan *titik ' dalam gambar+ mendi)inisikan tegangan leleh. Karena tegangan ini ditentukan oleh suatu aturan sebarang dan bukanlah sesuatu yang merupakan si)at )isik

Pengujian Tarik

25

BAB III Tegangan regangan bahan

bahan, maka, ia disebut tegangan leleh o)set * offset yield strss+. 0ntuk bahan seperti aluminum, tegangan leleh o)setnya berada agak sedikit di atas batas tegangan lelehnya. &alam baja konstruksi, dengan transisi mendadaknya dari daerah linier ke daerah tarik plastis, tegangan o)setnya * offset stress+ sama seperti tegangan leleh dan batas-lelehnyanya.

Gambar 3." /enentuan tegangan leleh dengan metode o)set B. Tegangan Regangan Bahan Karet Karet tetap mempertahankan hubungan linier antar tegangan dan regangan, hingga regangan yang sangat tinggi mendekati ,1 atau ,". Si)at setelah batas leleh terlampui bergantung pada jenis karet *lihat Gambar 3.3+. Beberapa jenis karet yang lembut terus memperlihatkan regangan yang sangat besar tanpa kegagalan. Bahan akhirnya memberi perla(anan yang semakin bertambah besar terhadap beban, sehingga kur,a tegangan-regangan berubah dengan sangat menyolok ke atas sebelum keruntuhan. 'nda dapat merasakan si)at karakteristik ini dengan meregangkan sebuah pita karet. Keliatan sebuah bahan yang mengalami tari dapat dicirikan oleh pemanjangan dan kontraksi luas penampangnya di mana terjadi pemutusan. /ersentase pemanjangan dide)inisikan sebagai berikut1 /ersentase pemanjangan 2
L f Lo Lo *1 +

Pengujian Tarik

26

BAB III Tegangan regangan bahan

Gambar 3.3 &iagram-diagram untuk karet yang mengalami tarik. &imana 3o adalah panjang-ukur semula dan 3) jarak antara tanda-tanda ukur pada bagian yang putus. Karena pemanjangan tidaklah merata sepanjang contoh bahan tetapi terpusat pada daerah kontrasi-luas, maka prosentase pemanjangan bergantung pada panjang-ukur. 4leh karena itu, apabila kita menyatakan persentasi pemanjangan maka haruslah diberitahu pula tentang panjang ukur. 0ntuk suatu panjang-ukur $ mm, baja dapat memilki pemanjangan dalam jangkauan 1 . hingga ! ., tergantung pada komposisiny5 untuk baja konstruksi, harga-harga "$. hingga 3 . la6im diperoleh. &alam hal untuk paduan-paduan aluminium, pemanjangan ber,ariasi dari 1. hingga !$., bergantung pada komposisi dan penaganannya. /ersentase pengurangan *percent redution in area+ mengukur jumlah kontraksi luas yang terjadi dan dide)inisikan sebagai berikut1 /ersentase pengurangan luas =
Ao L f Ao *1 +

&imana ' adalah luas penampang semula dan ') luas terakhir pada bagian patahan. 0ntuk baja-baja liat, reduksinya sekitar $ .. Bahan-bahan yang tidak dapat bertahan terhadap tarikan pada hargaharga regangan relati) rendah, dikalsi)ikasikan sebagai bahan-bahan rapuh *brittle+. 7ontoh-contohnya adalah beton, batu, besi-tuang, * cast iron+, kaca, bahan-bahan keramik dan kebanyakan paduan-paduan logam yang la6im. Bahanbahan ini gagal *fail+ hanya dengan pemanjangan yang kecil setelah batas sebanding *titik ' dalam Gambar 3.!+ terlampui, dan tegangan patahnya * stress fracture+ *titik B+ sama dengan tegangan batas. Baja-baja dengan kandungan karbon yang tinggi bersi)at rapuh. #ereka dapat memiliki tegangan leleh yang

Pengujian Tarik

BAB III Tegangan regangan bahan

sangat tinggi *dalam beberapa kasus 7

#/a ke atas+, tetapi patahanterjadi pada

pemanjangan yang hanya beberapa persen saja.

Gambar 3.! &iagram tegangan regangan suatu bahan rapuh C. Tegangan Regangan Bahan Ka!a Kaca biasa hampir bersi)at seperti bahan rapuh ideal, karena ia hampir tidak memperlihatkan kaliatan. Kur,a tegangan 8 regangan untuk kaca yang mengalami tarik pada umumnya berupa sebuah garis lurus, degan kegagalan terjadi sebelum pelelehan. 0ntuk beberapa jenis pelat kaca tertentu, tegangan batasnya sekitar 7 #pa tetapi terdapat pula ,ariasi-,ariasi yang besar, tergantung pada tipekaca, ukuran contoh bahan dan adanya cacat-cacat mikroskopik. Seratserat kaca dapat membentuk kekuatan yang sangat besar, dan tegangan batas di atas 7 Gpa telah dicapai. &iagram-diagram tegangan-regangan untuk tekan memiliki bentukbentuk yang berbeda dari yang mengalami tarik. 3ogam-logam liat seperti baja, aluminium dan tembaga memiliki batas sebanding untuk tekan lebih mendekati ke yang untuk tarik. 4leh karena itu daerah-daerah permulaan dari diagram tegangan-regangan dalam kedaan tekan dari logam-logam ini mirip sekali dengan diagramnya dalam keadaan tarik. 9etapi apabila mulai terjadi pelelehan, maka si)atnya sangat berbeda. &alam uji tarik, contoh bahannya diregangkan, sehingga dapat terjadi kontarksi

Pengujian Tarik

2"

BAB III Tegangan regangan bahan

luas dan pada akhirnya terjadi patahan. 'pabila sebuah contoh bahan berukuran kecil ditekan, maka bagian sampingnya mengembung ke luar dan berbentuk seperti tong. &engan menambahkan beban, contoh beban ini menjadi rata, jadi ia memberi perla(anan yang semakin bertambah terhadap pemendekkan selanjutnya *yang berarti kur,a tegangan-regangannya ke atas+. 7iri khas ini diilustrasikan dalam gambar 3.$ yang memperlihatkan diagram tegangan-regangan dalam keadaan tekan untuk tembaga.

Gambar 3.$ &iagram-diagram tegangan-regangan bagi tembaga

Pengujian Tarik

2#

BAB III Tegangan regangan bahan

Bahan-bahan rapuh yang mengalami tekan khasnya memiliki daerah a(al yang linier kemudian diikuti dengan suatu daerah di mana pendekatan bertambah lebih cepat daripada beban yang ditambahkan. :adi, diagram tegangan-regangan tekannya memiliki bentuk yang mirip dengan diagram tariknya. 9etapi bahanbahan rapuh, biasanya mencapaitegangan batas dalam keadaan tekan yang lebih tinggi daripadadalam keadaan tarik. :uga berbeda dengan bahan-bahan liat dalam keadaan tekan *lihat Gambar 3.$+, bahan-bahan rapuh ternyata patah pada beban maksimum. &iagram-diagram tegangan-regangan tekan dan tarik untuk suatu jenis besi taung khusus diberikan dalam Gambar 3.%. Kur,a-kur,a untuk bahanbahan rapuh lainnya, seperti beton dan batu, memiliki bentuk yang mirip tetapi sangat berbeda dalam harga numeriknya. 9abel sia)t-si)at mekanis yang penting untuk berbagai bahan diberikan dalam 'pendisk ;. <alaupun demikian, si)at-si)at dan kur,a-kur,a teganganregangannya sangat ber,ariasi meskipun untuk bahan yang sama, karena proses pembuatan *manufakturing+ nya yang berbeda, komposisi kimia, cacat-cacat internal, temparetur dan )aktor-)aktor lainnya. Karena itu, data apapun yang diperoleh dari tabel-tabel umum seharusnya dipandang sebagai yang kgas, tetapi tidak perlu cocok bagi suatu penerapan yang spesi)ik.

Gambar 3.%. &iagram-diagram tegangan-regangan untuk sebuah besi yang mengalmi tari dan tekan.

Pengujian Tarik

$%

BAB III Tegangan regangan bahan

&. Ela'ti'ita' &an (la'ti'ita' &iagram-diagram tegangan-regangan yan diuraikan dalam bagian di atas menggambarkan kelakuan dari berbagai bahan apabila mereka dibebani secar statik dalam keadaan tarik atau tekan. Sekarang baiklah kita tinjau apa yang terjadi apabila bebannya dihilangkan secara perlahan-lahan, dan bahannya tak dibebani. 'nggap misalnya, bah(a kita mengenakan suatu beban pada suatu contoh bahan tarik sehingga tegangan dan regangan bergerak dari 4 ke ' pada kur,a tegangan-regangan dala gambar 3.7a. 'nggap selanjutnya pula bah(a apabila bebannya diambil bahannya mengikuti kur,a yang tepat sama kembali ke titik asal 4. Si)at bahan yang demikian ini di mana ia kembali ke demensi semulanya selama pengambilan beban *unloading+ disebut si)at elatisitas *elasticity+ dan bahannya sendiri disebut elastis * elastic+. /erhatikan bah(a kur,a tegangan-regangan dari 4 hingga ' tidak perlu linier agar bahannya elastis.

Gambar 3.7. *a+ Si)at elastis5 *b+ Si)at elastis sebagian Sekarang, baiklah kita angap bah(a kita membebani bahan yang sama ini ke tingkat yang lebih tinggi, sehingga titik B pada diagram tegangan-regangan tercapai *Gambar 3.7b+. &alam hal ini, apabila terjadi pengambilan beban maka bahannya akan mengikuti garis B7 pada diagram. Garis pengambilan beba ini khas dan sejajar dengan bagian a(al kur,a pembebanan5 yakni, garis B7 sejajar dengan garis-singgung terhadap kur,a tegangan-regangan di 4. 'pabila titik 7 tercapai, maka bebannya telah dihilangkan sama-sekali, tetapi ternyata suatu regangan sisa *residual strain+ atau regangan permanen *permanent strain+, 47

Pengujian Tarik

$)

BAB III Tegangan regangan bahan

tetap terdapat dalam bahan. /emanjangan-sisa yang bersangkutan dari batang disebut de)ormasi-permanen *permanent set+. &ari regangan total 4& yang berbentuk selama pembebanan dari 4 hingga B, regangan 7& diperoleh kembali secara elastis dan regangan 47 tetap sebagai regangan-permanen. :adi selama pembenan batang sebagiaannya kembali ke bentuk semula5 karena itu, bahnnya disebut elastis sebagian *partially elastic+. 'pabila sebuah batang uji, maka bebannya dapat diperbesar dari nol hingga sejumlah kecil pilihan harga dan kemudian dihilangkan. :ika tidak terdapat de)ormasi permanen *yakni, jika pemanjangan batang kembali ke nol+ maka bahannya elastis hingga tegangan yang dinyatakan oleh harga pilihan beban. /roses pembebanan dan pengambilan beban ini dapat diulang untuk harga-harga pembebanan yang makinlama makin tinggi. /ada akhirnya, akan tercaapai suatu teganganyang sedemikian rupa sehingga tidak semua regangan diperoleh kembali selama pengambilan beban. &engan cara kerja ini, ia dapat berupa tegangan pada titik = dalam Gambar 3.7b. 9egangan ini dikenal sebagai batas elastis * elastic limit+ dari bahan. Kebanyakan bahan, termasuk kebanyakan logam-logam, memiliki daerahdaerah linier pada bagian a(al dari kur,a-kur,a tegangan-regangannya *lihat Gambar 3.>+. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, batas teratas dari daerah linier ini dide)inisikan oleh batas sebanding. Biasanya batas elastis agak sedikit di atas atau hampir sama dengan batas senanding. Karena itu, untuk kebanyakan bahan kedua batas ini diberikan harga numerik yang sama. &alam hal baja lunak, tegangan leleh juga sangat dekat dengan batas sebanding,sehingga untuk kegunaan-kegunaan praktis maka tegangan leleh, batas elastis dan batas sebanding dianggap sama. 9entu saja, keadaan ini tidak berlaku untuk semua bahan. Karet memberi contoh menonjol dari suatu bahan yang masih bersi)at elastis jauh di atas batas sebanding. 7iri-khas sebuah bahan dalam mana ia mengalami regangan tak elastis di atas regangan-regangan pada batas elastis dikenal sebagai plastisitas * plasticity+. :adi, pada kur,a tegangan-regangan dalam Gambar 3.7a, kita mempunyai suatu daerah elastis yang diikuti dengan suatu daerah plastis. 'pabila terjadi de)ormasi

Pengujian Tarik

$2

BAB III Tegangan regangan bahan

besar dalam bahan liat yang dibebani hingga daerah plastis, maka bahan tersebut dikatakan mengalami aliran plastis *plastic flow+. :ika bahan tetap di dalam jangkauan elastis, ia dapat dibebani, tak dibebani dan dibebani lagi tanpa terlalu mengubah si)atnya. <alaupun demikian, apabila dibebani kedalam jangkauan plastis, maka struktur internal bahan dirubah dan dengan demikian si)at-si)at bahan turu berubah. Sebagai misal, telah kita amati bah(a sebuah regangan 8permanen terdapat dalam contoh-bahan setelah pengambilan beban dari daerah plastis *Gambar 3.7b+. Sekarang anggaplah bah(a bahannya dibebani kembali setelah pengambilan beban di atas *Gambar 3.>+. /embebanan yang baru ia mulai di titik 7 pada diagram dan berkesinambungan ke atas menuju titik B tegangan, yaitu titik di mana pengambilan beban dimaulai selama siklus pembebanan pertama , bahan kemudian mengikuti diagram tegangan-regangan semula menuju titik ?. Selama pembebanan kedua, bahan bersi)at linier dari 7 hingga B, karena itu bahan memiliki suatu batas sebanding yang lebih tinggi dan tegangan leleh yang lebih tinggi daripada yang sebelumnya. :adi dengan meregangkan suatu bahan, adalah mungkin terjadi menaikkan titik leleh meskipun keliatan dikurangi karena jumlah pelelhan dari B hingga ? lebih kecil daripada dari = hingga ?.

Gambar 3.>. &iagram tegangan 8 ragangan pada beban siklik @angkak *creep+. &iagram tegangan-regangan yang dinaikkan di atas diperoleh dari uji tarik yang hanya menyangkut pembeaban statik dari contohcontoh bahan5 karena itu )aktor (aktu tidak masuk dalam pembahasan kita. Aamun demikian, beberapa bahan menimbulkan regangan 8regangan tambahan dalam selang (aktu yang cukup panjang dan dikatakan rangkak * creep+. Gejala

Pengujian Tarik

$$

BAB III Tegangan regangan bahan

ini dapat memeperlihatkan dirinya sendiri dalam berbagai cara. Sebagai misal, kita menganggap bah(a sebuah batang ,ertical *Gambar 3.Ba+ dibebani oleh suatu gaya konstanta /. Ketika beban pada mulanya dikenakan, batang memanjang sejauh Co. Baiklah kita mengaggap bah(a pembebanan ini dan pemanjangan yang bersangkutan terjadi selama suatu selang (aktu to *Gambar 3.Bb+. Setelah selang (aktu to ini, pembebanan tetap konstan. 9etapi, oleh karena rangkak, maka dapat terjadi bah(a batang berangsur-angsur memanjang seperti diperlihatkan dalam Gambar 3.Bb, meskipun pembebanan tak berubah. Kelakuan ini terjadi pada banyak bahan, meskipun kadang-kadang perubahannya sangat kecil untuk menarik perhatian.

Gambar 3.B. @angkak dalam sebuah batang di ba(ah beban konstan.

Pengujian Tarik

$*

BAB III Tegangan regangan bahan

Gambar 3.1 . @elaksasi tegangan dalam sebuah ka(at di ba(ah regangan konstan. Sebagai contoh kedua dari rangkak, tinjau sebuah ka(at yang diregangkan antara dua penyangga yang tak dapat bergerak sehingga ka(at memiliki tegangan tarik a(al Do *Gambar 3.1 a+. Sekali lagi, kita akan menunjukkan (aktu selama ka(at mula-mula dibebani dengan to *Gambar 3.1 b+. &engan bertambahnya (aktu tegangan dalamka(at makin lama berkurang dan akhirnya mencapai suatu harga konstan, meskipun penyangga-penyangga pada ujung-ujung ka(at tidak bergerak. /roses ini, yang adalah suatu per(ujudan dari rangkak, disebut relaksasi *relaEation+ dari bahan. @angkak biasanya lebih menonjol pada temperatur tinggi daripada temperatur biasa. Karena itu, gejala rangkak ini harus diperhatikan dalam disain mesin-mesin, tungku pembakaran, dan struktur-struktur lainnya yang beroperasi pada temparatur tinggi dalam selang (aktu yang cukup lama. 9etapi, bahan-bahan seperti baja, beton dan kayu sudah mulai mengalami sedikit rangkak meskipun pada temparatur-temparatur atmos)ir. 4leh karena itu, kadang-kadang perlu untuk mengkompensasikan e)ek rangkak ini dalam struktur-struktur biasa. Sebagai misal, rangkak dari beton dapat menciptakan Fgelombang-gelombangG dalam lantai jembatan *bridge deck+ karena lendutan *sagging+ antara penyanggapenyangga. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan mengkonstruksikan latai jembatan dengan suatu anti lendutan *camber+ ke atas, yang mana adalah suatu lendutan a(al di atas hori6ontal sehingga, apabila terjadi rangkak, maka bentangnya *span+ menurun ke kedudukan datar *le,el+. E. Ela'ti'ita' +inier &an Hu,um H--, Kebayakan bahan struktur memiliki suatu daerah a(al pada diagram tegangan-regangan dalam mana bahan-bahan berkelakuan secara elastis dan linier. Salah satu contohnya adalah daerah dari titik asal 4 hingga batas-sebanding di titik ' pada diagram kur,a tegangan-regangan untuk baja konstruksi. 7ontoh-

Pengujian Tarik

$5

BAB III Tegangan regangan bahan

contoh lain adalah daerah-daerah di ba(ah kedua batas sebanding dan batas elastis pada diagram-diagram dari Gambar 3.1 sampai dengan 3.%. 'pabila suatu bahan berkelakuan secara elastis dan juga memperlihatkan suatu hubungan linier antara tegangan dan regangan, maka ia dikatakan elastis secara linier. :enis kelakuan ini sangat penting dalam kerekayasaan karena kebanyakan struktur dan mesin didisain untuk ber)ungsi pada tegangan yang rendah dan agar menhindari de)ormasi permanen dari pelelehan atau de)ormasi plastis. =lastisitas linier adalah suatu si)at dari kebanyakan bahan padat, termasuk logam-logam, kayu, beton,plastik-plastik dan keramik-keramik. ;ubungan linier antara tengan dan regangan untuk suatu batang yang mengalami tekan atau tarik yang sederhana dapat dinyatakan oleh persamaan. D2=.H di mana = adalah suatu kostanta pembanding yang dikenal sebagai modulus elastisitas *modulus of elasticity+ dari bahan. #odulus elastisitas adalah kemiringan dari diagram tegangan-regangan dalam daerah elastis linier, dan harganya bergantung pada bahan tertentu yang dipergunakan. Satuan-satuan dari = sama dengan satuan tegangan, karena regangan-regangan tak berdemensi. Karena itu, satuan dari = adalah pascal *atau kelipannya+ dalam sistem satuan SI. /ersamaan D 2 = . H biasanya dikenal sebagai hukum ;ooke, yang dinamakan untuk menghargai ilmu(an kenamaan berkebangsaan Inggris @obert ;ooke *1%3$-17 3+. ;ooke adalah orang pertama yang menyelidiki si)at-si)at elastis dari bahan-bahan, di mana ia menguji beraneka ragam bahan yang memiliki si)at demikian seperti logam, kayu, tulang-tulang dan otot-otot. Ia mangukur regangan dari ka(at-ka(at panjang yang menyangga beban-beban berat dan mengamati bah(a pemanjangan-pemanjangannya Fselalu memeperlihatkan perbandingan *proportion+ yang sama terhadap berat bebanbeban yang bersangkutan yang menyebabkan pemanjangan-pemanjangan ituG. :adi ;ooke, membuktikan hubungan linier antara beban yang dikenakan dan pemanjagan yang dihasilkan. /ersamaan di atas hanya berlaku untuk tarik dan tekan yang sederhana5 untuk keadaan-keadaan tegangan yang lebih rumit, dibutuhkan suatu hukum

Pengujian Tarik

$6

BAB III Tegangan regangan bahan

;ooke yang diperluas. &alam perhitungan-perhitungan, tegangan dan regangan tarik biasanya diambil berharga positi) dan tegangan dan regangan tekan negati). #odulus elastisitas = memeilki harga-haraga yang relati) tinggi untuk bahan-bahan yang sangat kaku *stiff+, seperti logam-konstruksi. Baja memeilki modulus-modulus 8elastis sekitar " dengan 7 Gpa5 untuk aluminium, = kira-kira sama Gpa. Bahan-bahan yang lebih lentur * flexible+ memiliki modulus

elastikyang lebih rendah5 harga yang khas untuk kayu adalah 11 Gpa. Beberapa harga yang lebih bersi)at me(akili *reprenssentati e+ dari =. 0ntuk kebanyakan bahan, harga = dalam kedaan tekan sama dengan dalam keadaan tarik. #odulus elastisitas seringkali disebut modulus young *!oung"s modulus+, yang dinamakan untuk menghargai ilmu(an berkebangsaan Inggris lainnya, 9homas -oung *1773-1>"B+. &alam hubugannya dengan penyelidikan terhadap tarik dan tekan pada batang batang prismatik, -oung memperkenalkan ide Fmodulus elastisitas1. 9etapi, modulus elastisitasnya tidak sama dengan yang digunakan de(asa ini, karena ia menyangkut si)at-si)at dari batang-batang dan juga dari bahan-bahan. 'ngka /oisson *Poisson#s ratio+. 'pabila sebuah batang prismatik dibebani dalam keadaan tarik, maka pemanjangan aksialnya diikuti dengan kontraksi letaral *lateral contraction+ *tegak lurus terhadap arah bekerjanya beban+. /erubahan bentuk ini digambarkan dalam Gambar 3.11, di mana garis.

Gambar 3.11. &e)ormasi aksial dan dari suatu bahan dan kontraksi lateral dari sebuah batang dalam keadaan tarik. 9erputus-putus menyatakan bentuk sebelum pembebanan dan garis-garis tebal memberikan bentuk setelah pembebanan. Konstraksi-lateral dapat dilihat dengan mudah dalam sebuah pita karet yang diregangkan tetapi dalam logamlogam perubahan dalam demensi lateral biasanya sangat kecil untuk dapat dilihat. <alaupun demikian, mereka dapat diamati dengan alat-alat pengukur. @egangan lateral sebanding dengan regangan aksial dalam jangkauan elastis linier, asalkan bahannya homogen dan isotropik. Suatu bahan adalah homogen jika ia memilki komposisi yang sama di seluruh badan, karena itu si)at-

Pengujian Tarik

BAB III Tegangan regangan bahan

si)at elastisnya sama di tiap-tiap titik dalam badan. /erhatikan bah(a, (alaupun demikian si)at-si)at tidak perlu sama pada semua arah agar suatu benda homogen. Sebagai misal, modulus-elastisitas dapat berbeda dalam arah-arah sumbu *aksial+ dan trans,ersal. Bahan-bahan isotropik mempunyai si)at-si)at elastis yang sama dalam semua arah. &engan demikian bahannya haruslah homogen dan isotropik agar regangan-regangan dalam suatu konstruksi memenuhi persyaratanpersyaratan ini. /erbandingan antara regangan dan tegangan dalam arah lateral dan arah sumbu dikenal sebagai angka /oisson */oissonJs ratio+ dan dinyatakan dengan huru) -unanai K *nu+5 jadi
= regangan lateral regangan aksial

0ntuk batang dalam keadaan tarik, regangan lateral menyatakan suatu penurunan dalam ukuran lebar *regangan negati)+ dan regangan aksial menyatakan pemanjangan *regangan positi)+. 0ntuk keadaan tekan kita jumpai keadaan sebaliknya, di mana batang menjadi lebih pendek *regangan aksial negati)+ dan lebih lebar *regangan lateral positi)+. 4leh karena itu, angka /oisson memeilki harga positi) untuk kebanyakan bahan. 'ngka /oisson dinamakan untuk menhargai ilmu(an metematika kenamaan /erancis, Simeon &emis /oisson *17>1-1>! +, yang mencoba menghitung angka ini dengan sesuatu teori molekuler dari bahan-bahan. 0ntuk bahan-bahan isotropik, /oisson mendapatkan
= 1 . 9etapi, perhitungan!

perhitungan yang lebih akhir yang didasarkan pada suatu model struktur atom memberikan
= 1 . Kedua harga ini dekat dalam jangkauan ,"$ hingga ,3$. 3

bahan-bahan dengan harga angka /oisson yang sangat rendah, termasuk gabus yang harganya ,-nya secara praktik noL, dan beton yang harga ,-nya sekitar ,1 atau ,". Batas teratas teoritis untuk angka /oisson adalah ,$ sebagaimana diterangkan dalam sub-bagian berikut mengenai perubahan ,olume. Karet mendekati harga batas ini. 0ntuk kebanyakan alasan praktis, harga , dapat diambil sama, baik dalam tarik dan tekan.

Pengujian Tarik

$"

BAB III Tegangan regangan bahan

Kontraksi lateral dari sebuah batang dalam kedaan tarik, atau pemuaian sebuah batang dalam keadaan tekan, adalah suatu ilustrasi dari regangan tanpa adanya tegangan yang bersangkutan. 9isdak, ada tegangan normal dalam arah trans,ersal sebuah batang yang dibebani secara aksial, meskipun terdapat regangan karena e)ek /oisson. 7ontoh lain yang la6im dari regangan tanpa tegangan adalah regangan karena termik *thermal strain+, yang dihasilkan oleh perubahan temparatur. /erubahan Kolume. Karena dimensi-demensi sebuah batang dalam keadaan tarik atau tekan berubah apabila dibebani *lihat Gambar 3.11+, maka ,olume batang juga berubah. /erubahan ini dapat dihitung dari reganganregangan aksial dan lateral. Baiklah kita ambil sebuah elemen kecil dari bahan yang dipotong dari sebuah batang isotropik yang mengalami tarik *Gambar 3.1"+. Bentuk semula dari elemen diperlihatkan oleh jajaran-genjang ruang *pararel epiped+ siku-siku abcde)g 4 yang memilki panjang-panjang d 1, b1 dan c1 berturuttururt dalam arah-arah E,y dan 6LL. Sumbu E diambil dalam arah longitudinal batang yang ditujukkan pula dalam gambar dengan memperlihatkan arah-arah tegangan-normal D yang dihasilkan oleh gaya-gaya aksial. Bentuk akhir elemen diperlihatkan oleh garis-garis tebal. /emanjangan elemen dalam arah pembebanan adalah a1H, dimana H adalah regagan aksial. Karena regangan lateral adalah -, H *lihat /ers. 1-%+, dimensi-dimensi terakhir dari elemen adalah
M 1 *1 + H+, b1 *1 ,H + dan*1 ,H + dan ,olume terakhir adalah
f

= a1b1 c1 *1 ++*1 +*1 +

'pabila pernyataan ini diuraikan, kita peroleh suku-suku yang mengandung kuadrat dan

Pengujian Tarik

$#

BAB III Tegangan regangan bahan

pangkat-tiga dariH sangat kecil dibandingkan terhadap satu, maka kuadrat dan pangkat-tiganya dapat diabaikan terhadap H dan

Gambar 3.1". /erubahan bentuk dari sebuah elemen dalam keadaan tarik. dapat dihapuskan dari pernyataan ini. &engan demikian, ,olume terakhir dari elemen di atas adalah
f

= a1b1 c1 *1 + " +

dan perubahan ,olume adalah


=
f

= a1b1 c1*1 " +

di mana Ko adalah ,ulume semula dilatasi *dilatation+. /ersamaan pertambahan ,olume dapat dipergunakan untuk perubahan ,olume dibagi dengan ,olume semula, atau
= NK D = H*1 "K+ = *1 ",+ Ko =

Besaran e yang dikenal sebagai dilatasi *dilatation+. /ersamaan tersebut dapat dipergunakan untuk menghitung pertambahan ,olume sebuah batang yang mengalami tarik asalkan regangan-aksial . *atau tegangan D+ dan angka /oisson , diketahui. /ersamaan ini dapat dipergunakan pula untuk keadaan tekan, di mana . adalah regangan negati) yang mengakibatkan ,olume batang berkurang.

Pengujian Tarik

*%

BAB III Tegangan regangan bahan

&ari /ersamaan pertambahan ,olume kita melihat bah(a harga maksimum yang mungkin dari , adalah ,$, karena untuk harga-harga yang lebih besar berarti ,olumenya berkurang apabila batang diregangkan, yang mana secara )isik adalah O atau 1P3 dalam daerah elastis, yang mana berarti bah(a perubahan ,olume satuan berada dalam jangkauan ,3 .. &alam daerah plastis, tak terjadi perubahan ,olume, sehingga angka /oisson dapat diambil ,$. 7ontoh. Sebuah batang prismatik dengan penampang berbentuk lingkaran dibebabni gaya tarik / 2 >$ kA *lihat Gamb. 1-" +. /anjang batang 3 2 3, m dan diameternya d 2 3 mm. Batang ini terbuat dari aluminium dengan modulus elastisitas = 2 7 Gpa dan /oisson , 2 1P3 . hitunglah pemanjangan C, pengurangan diameter Nd, dan pertambahan ,olume NK dari batang. 9egangan longitudinal D dalam batang dapat diperoleh dari persamaan
=
P >$k% = = 1" $Pa A *3 mm+ " P !

9egangan ini mungkin berada di ba(ah batas sebanding *lihat 9abel 11-3, 'pendiks ;+, karena itu kita akan mengaggap bah(a bahannya bersi)ar elastik linier. Kemudian regangan aksial didapatkan dari hukum ;ooke1
= 1" $Pa = = , ' 7 &Pa
171

/emanjangan total adalah


= L = * ,
171+*3, m+ = $,1!mm

@egangan samping diperoleh dari nilai-banding /oisson1


1 H lateral = ,H = * , 3 171+ = , $7

/engurangan diameter secara numerik sama dengan regangan-lateral kali diameter1


d = H
lateral

d =* ,

$7 +*3 mm+ = ,

171mm

akhirnya perubahan ,olume dihitung dari /ersamaan pertambahan ,olume 1


K = K H *1 - ",+

= *3 mm+ " *3, m+* , !

" 171+1 = 1"1 mm 3 3

Pengujian Tarik

*)

BAB III Tegangan regangan bahan

karena batang dalam keadaan tarik, maka N, menyatakan suatu pertambahan dalam ,olume. /. Be0era1a Bentu, Ben2a 34i (engu4ian Tari, /ada pengujian tarik pada benda uji akan terjadi tegangan-tegangan aksial di seluruh penampang elemennya, seperti targambar pada gambar 3.13.

Gambar 3.13 9egangan pada pengujian tarik

0ntuk pelaksanaan pengujian tarik telah diatur bentuk dan ukuran benda uji untuk tiap-tiap jenis bahan. Berikut gambar bentuk dan ukuran beberapa jenis bahan untuk spesimen pengujian tarik.

Gambar 3.1! Bentuk spesimen pengujian tarik baja bulat

Pengujian Tarik

*2

BAB III Tegangan regangan bahan

Gambar 3.1$ #odel spesimen pengujian tarik kayu

Gambar 3.1%. #odel spesimen pengujian plat baja dengan tebal ,1 - ,$ inchi

Pengujian Tarik

*$

BAB III Tegangan regangan bahan

Gambar 3.17 Bentuk spesimen pengujian tarik kayu arah tegak lurus serat

Gambar 3.1> #odel spesimen pengujian tarik plat baja dengan tebal lebih dari ()*+ inchi

Gambar 3.1B #odel spsimen pengujin tarik spesi dan gypsum

Pengujian Tarik

**

BAB III Tegangan regangan bahan

Gambar 3." #odel spsimen pengujin tarik baja

Gambar 3."1 #odel spsimen pengujin tarik bahan plastik

Pengujian Tarik

*5

BAB III Tegangan regangan bahan

Gambar 3."". #odel kerusakan akibat pengujian tarik

Pengujian Tarik

*6