Anda di halaman 1dari 9

Review Artikel

Gastroenterology Research and Practice

Status Terkini Pengobatan Abdomen Terbuka Pada Infeksi IntraAbdominal


Yujie Yuan1, Jianan Ren2, and Yulong He1
1

Department of Gastrointestinal and Pancreatic Surgery, The First Affiliated Hospital of Sun Yat-Sen University,58 2nd Zhongshan Road, Guangzhou, Guangdong 510080, China
2

Department of Surgery, Jinling Hospital, Medical School of Nanjing University, 305 East Zhongshan Road, Nanjing,Jiangsu 210002, China Correspondence should be addressed to Jianan Ren; jiananr@gmail.com Received 4 May 2013; Revised 31 August 2013; Accepted 15 September 2013 Academic Editor: Ioannis Pliakos Copyright 2013 Yujie Yuan et al. This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited.

Abdomen terbuka telah menjadi pendekatan penting bagi pasien sakit dengan kondisi kritis yang membutuhkan intervensi dengan pembedahan abdomen. Pengobatan ini berasal dari konsep pembedahan untuk mengontrol kerusakan, pertama kali diterapkan pada pasien dengan trauma berat. Tujuan utama adalah untuk mencapai penutupan fasia abdomen oleh beberapa upaya dan terapi adjuvant (manajemen cairan, dukungan nutrisi, pencangkokan kulit, dll). Sampai saat ini, terapi abdomen terbuka telah menjadi terapi yang sempurna dan memiliki pendekatan yang bertingkat-tingkat dalam pengelolaan pasien dengan trauma berat. Namun, penerapannya pada pasien dengan infeksi intra-abdominal masih merupakan tantangan besar karena komplikasi kritis dan hasil klinis yang buruk. Ulasan ini berfokus pada manfaat spesifik dilakukannya abdomen terbuka dalam populasi tersebut dan secara detail memperkenalkan keprihatinan saat ini dan kemajuan dalam terapi ini. 1 . Konsep Dasar Pengobatan abdomen Terbuka Definisi pengobatan abdomen terbuka (OA) adalah pengobatan dengan cara meninggalkan tepi fasia abdomen secara sengaja, hal ini merupakan salah satu kemajuan bedah terbesar dalam abad kedua puluh [1]. Pengobatan ini berasal dari konsep pembedahan untuk mengontrol kerusakan (DCS), yang pertama kali diciptakan oleh Rotondo et al pada tahun 1993 [2]. Saat ini, prosedur OA telah diterapkan secara luas dan dapat meningkatkan hasil klinis yang baik, oleh karena itu pertama kali dipopulerkan pada pertengahan tahun 1990-an [3,4]. Sampai saat ini, peningkatan tekanan intra-abdominal (IAP) >15 mmHg dapat menimbulkan kegagalan organ dan keadaan ini merupakan indikasi dalam pelaksanaan prosedur OA secara cepat [5]. Sebenarnya, indikasi abdomen terbuka telah diperluas pada beberapa kondisi (lihat pada Tabel 1).

Review Artikel

Gastroenterology Research and Practice

Dari catatan, terapi OA diindikasikan dalam kasus-kasus dengan infeksi intra-abdominal (IAI) atau sepsis ketika terjadi kegagalan pada pembedahan laparotomi tunggal untuk mengendalikan sumber infeksi atau peningkatan risiko disfungsi organ setelah drainase yang efektif dan debridemen. Terapi ini telah dijelaskan dalam beberapa jenis IAI, seperti : purulen, fekal, dan peritonitis sekunder [6-10]. Angka kematian pada pasien dapat menurun hampir 50 % setelah dilakukan pendekatan OA yang efektif [11]. Namun, penggunaan abdomen terbuka pada pasien IAI masih merupakan tantangan besar karena komplikasi kritis dan hasil klinis yang buruk. Oleh karena itu, ulasan ini berfokus pada masalah saat ini dan kemajuan pengobatan OA untuk pasien dengan IAI . Tidak tertutupnya fascia abdomen pada abdomen terbuka yang diikuti dengan penutupan perut sementara (TAC), telah menjadi kemajuan besar dalam pengobatan IAI [5,12]. Pendekatan ini dilakukan secara bertahap yang telah mencakup banyak manfaat klinis, terutama dalam mencegah perkembangan hipertensi intra-abdominal sekunder (IAH) atau kompartemen abdomen sindrom (ACS) [12], sementara prosedur agresif ini juga menghasilkan beberapa masalah yang menantang baik bagi ahli bedah, perawat dan telah menjadi strategi yang kontroversial dalam pengobatan IAI atau pasien sepsis.

2 . Patofisiologi Abdomen Terbuka IAH persisten, didefinisikan sebagai IAP diatas 12 mmHg (>12 mmHg), merupakan keadaan yang sering dikaitkan dengan hasil yang buruk karena terimbas dalam lingkaran setan (Gambar 1). Efek langsung dari abdomen terbuka pada rongga peritoneal adalah penurunan yang cepat pada IAP, sering menurun sekitar 40-75% [13-15]. Selain itu, fisiologi homeostasis, seperti : keseimbangan cairan dan elektrolit, dapat sementara pulih kembali setelah dilakukan abdomen terbuka [2]. Setelah 48 jam, materialisasi sekunder fibrin dalam eksudat membentuk massa gelatin yang longgar pada omentum dan usus secara tetap [16,17]. Selama 4-5 hari, koagulasi longgar ini akan digantikan oleh peningkatan adhesi, karena terjadi polimerisasi fibrin dan terbentuknya kolagen [18]. Juga dapat disebut abdomen beku terutama berkembang dalam periode ini, yang membuat penutupan fasia secara primer [19]. Lebih dari 10 hari prosedur OA, area luka akan ditutupi dengan jaringan granulasi yang matang dan mikrovaskuler sirkulasi yang cukup, hal ini menunjukkan proses fibrindeposition dan collagenization [20]. Tabel 1 : Indikasi yang diakui dalam pembedahan abdomen terbuka INDIKASI IAI KEADAAN SPESIFIK (1) Sumber kontrol yang tidak jelas, (2) SIRS atau kecurigaan terjadinya sepsis, (3) syok hipovolemik akibat kehilangan cairan atau perdarahan yang berat, (4) Status immunocompromised

Review Artikel

Gastroenterology Research and Practice

DCS pada trauma berat

(1) segitiga kematian (hipotermia < 35 C, asidosis berat dengan defisit basa > 15mmol / L, dan koagulopati), (2) abdomen tidak dapat ditutup terutama karena luasnya dinding abdomen (3) perdarahan intra-abdominal mengancam jiwa yang dicurigai atau dikonfirmasi; (4) kegagalan dalam terapi intervensi untuk memperbaiki hemostatis. Persisten IAH/ACS (1) IAP dengan pengukuran tekanan kandung kemih> 20 mmHg lebih dari 48 jam, (2) kelanjutan IAP > 20 mmHg (Dengan / tanpa tekanan perfusi abdomen <60mmHg) dan setidaknya terdapat satu disfungsi organ, khususnya untuk disfungsi ginjal. (3) paru dan fungsi jantung menurun secara signifikan, (4) Tindakan dekompresi (drainase perkutan, diuresis, dll) Iskemik masenterik akut (1) Kebutuhan wajib untuk "melihat kedua kalinya" bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan pada usus dan reseksi segmen usus iskemik jika perlu, (2) perkembangan IAH secara persisten, sesuai dengan keadaan ileus atau nekrosis usus Infeksi nekrosis pada (1) Infeksi terutama berasal dari mikroflora endogen, sering dikaitkan dinding abdomen dengan komplikasi awal laparotomi, (2) translokasi bakteri dapat diprediksi melalui indeks klinis, (3) nekrosis jaringan tidak dapat diperbaiki dengan terapi konvensional, (4) komplikasi terjadinya kompartemen sindrom IAI: intra-abdominal infection; IAH: intra-abdominal hypertension; IAP: intra-abdominal pressure; ACS: abdominal compartment syndrome; SIRS:systematic inflammatory reaction syndrome.

Gambar 1. Lingkaran setan hipertensi persisten intra-abdomen pada pasien IAI. Dalam praktek klinis, tindakan iatrogenik seperti pembedahan dan pengobatan cairan akan mengakibatkan peningkatan hipertensi intra-abdominal. Semua kondisi klinis yang tercantum harus diperhatikan. Siklus ini memberikan informasi yang cukup untuk hasil buruk dari IAH setelah hipertensi persisten yang tidak terkontrol dengan baik.

Review Artikel

Gastroenterology Research and Practice

Tabel 2 : Abdomen Terbuka terkait komplikasi pada pasien dengan infeksi intra-abdomen KOMPLIKASI Fistel enteroarmospheric ALASAN YANG MUNGKIN (1) usus yang terkena udara dan dibiarkan mengering, (2) "perlengketan biomaterial" ke usus akan mencetuskan perubahan transmural dari dinding usus, (3) abdomen menjadi edema dan rentan terhadap invasi bakteri karena sindrom kebocoran protein,(4) keseimbangan nitrogen negatif persisten merupakan komplikasi dari IAI, (5) menurunnya sirkulasi microvessel usus dari IAH atau pembedahan, (6) Perforasi yang tertunda karena cedera dalam operasi. (1) Luas permukaan usus yang lembab dapat menyebabkan kerugian besar akibat evaporasi air, yang selanjutnya akan memburuk jika terjadi fistula enteroatmospheric (2) kebutuhan metabolisme yang meningkat selama IAI, dikombinasikan dengan hilangnya motilitas usus, (3 ) status gizi yang relatif menurun dan akumulasi cairan yang cepat di ruang interstisial. (1) Mengingat suplai darah yang banyak pada abdomen dan organ splanknikus, risiko perdarahan meningkat secara signifikan, terutama ketika meradang atau terjadi trauma dinding usus yang terkena udara, (2) pasien abdomen terbuka yang terinfeksi sering memiliki koagulopati terkait dengan hipotermia, asidosis, hipotensi, pengenceran volume darah, dan kelelahan yang tidak terkendali dari faktor pembekuan, (3) aktivasi komplemen luas atau deplesi yang mengganggu sistem koagulasi . (1) kehilangan elektrolit yang massif akibat luka pada area setelah abdomen terbuka (2) adhesi pasca operasi sering terjadi setelah operasi awal . (1) defek dari luas dinding abdomen tidak bisa diperbaiki dengan penutupan kulit saja (2) operasi rekonstruksi direncanakan dan diperlukan karena reseksi fasia abdomen yang luas dalam prosedur awal OA.

Cairan, protein dan kehilangan panas

Perdarahan

Ileus post operasi

Hernia dinding abdomen

Translokasi bakteri/sepsis/MODS/MOF

Kerusakan mukosa akibat sindrom kebocoran kapiler dan lingkaran setan yang berhubungan dengan infeksi abdomen terbuka (gambar 1) SSI/VAP/ARDS/UTI fungsi kekebalan tubuh yang ditolak karena status infeksi berkelanjutan, infeksi iatrogenic Abses Intraabdominal Sumber infeksi yang tersembunyi atau perforasi sekunder yang tetap oleh omentum yang lebih besar DVT/PE Tidak dapat diperkirakan SSI: surgical site infection; VAP: ventilator-associated pneumonias; DVT: deep vein thrombosis; PE: pulmonary embolism; ARDS: acute respiratory distress syndrome; UTI: urinary tract infection .

Khusus pada kondisi IAI yang berat, terjangkitnya penyakit ini biasanya terjadi 6-12 jam sebelum intervensi bedah, dan akumulasi yang banyak dari sitokin inflamasi (TNF - , IL - 1, IL - 6 , IL - 10, dll )

Review Artikel

Gastroenterology Research and Practice

di sekitar daerah yang terinfeksi, diikuti dengan inflamasi sistemik kaskade respon. Respon serial ini akan menyebabkan disfungsi mikrovaskuler, edema viseral yang masif, dan terjadinya IAH, yang membutuhkan kontrol sumber yang cukup untuk membatasi terjadinya keadaan tersebut. Prosedur OA yang tepat dapat memberikan akses berulang ke rongga peritoneal yang diperlukan untuk debridement dari devitalized jaringan, limbah peritoneal, dan drainase bedah [20,21]. Selain itu, hematoma retroperitoneal yang baru terbentuk dari IAI atau intervensi iatrogenik, seperti pengemasan intraabdomen yang tidak adekuat dan kelebihan cairan resusitasi, akan mungkin meningkatkan IAP oleh karena perkembangan dari ACS. Di luar itu, IAP persisten dari keparahan IAI dapat menyebabkan dinding abdomen iskemik dan fasia abdomen nekrosis, yang pada akhirnya mengakibatkan abdomen dinding ruptur dengan perkembangan selanjutnya dari pembesaran hernia ventral. Oleh karena itu, abdomen terbuka harus dipertimbangkan secara cepat untuk mengetahui sumber kontrol dan dekompresi intra - abdominal. Selain itu, prosedur OA dilaporkan untuk mempromosikan pemulihan barier mukosa intestinal dari kerusakan mekanis yang diinduksi oleh hipertensi [ 22 ]. Peran protektif untuk barier mukosa selanjutnya yaitu akan mengurangi risiko translokasi bakteri dan terjadinya MODS atau MOF [ 23 ].

3 . Langkah Fundamental Abdomen Terbuka Pengobatan OA umumnya terdiri dari tiga langkah berurutan yaitu : laparotomi yang tepat waktu, prosedur TAC, dan penutupan abdomen secara definif [24,25]. IAI atau sepsis merupakan tantangan utama dalam manajemen OA yang bertujuan untuk mengendalikan peritonitis septik dan akumulasi cairan intra-abdominal, sambil menjaga penutupan abdomen sementara [26]. Dibandingkan dengan pasien trauma, langkah terakhir pada pasien sepsis sering tertunda sekitar 4-6 bulan untuk infeksi yang disertai dengan : fistula, perdarahan, malnutrisi, atau komplikasi berat lainnya. Sebelumnya, abdomen beku tidak dapat dihindari dan penutupan awal fasia hampir mustahil dilakukan secara praktis [ 27 ]. Selain itu, populasi septik biasanya dapat meningkatkan angka komorbiditas dari pada populasi traumatis, yang secara langsung meningkatkan risiko komplikasi setelah abdomen terbuka. Oleh karena itu, tingkat penutupan abdomen secara primer pada pasien sepsis mempunyai substansi yang lebih rendah dibandingkan pada pasien trauma [ 28 ]. Banyak pasien yang terinfeksi dengan abdomen terbuka akan berkembang secara meluas dan dapat melemahkan hernia dinding abdomen, yang membutuhkan operasi tambahan untuk memperbaiki tahapan berikutnya [ 29 ]. 4 . Pengobatan AbdomenTerbuka Pada Infeksi Intra-abdomen 4.1. Komplikasi dan Hasil setelah dilakukan Abdomen Terbuka. Meskipun abdomen terbuka telah mengakibatkan sejumlah kematian dengan kasus yang berkaitan dengan keadaan IAI, teknik ini masih berkorelasi dengan timbulnya banyak komplikasi ( Tabel 2 ). Fistula gastrointestinal adalah masalah

Review Artikel

Gastroenterology Research and Practice

yang paling serius dan menantang bagi ahli bedah dan perawat. Komplikasi spesifik utama adalah fistel enteroatmospheric, keadaan ini sulit untuk dicegah, dengan angka kejadian secara keseluruhan sekitar 5-25 % [ 30-32 ]. Keadaan tersebut hampir tidak mungkin untuk mencapai penutupan spontan dari fistel yang telah terbentuk. Intervensi pembedahan pada umumnya tertunda sekitar 3-6 bulan ketika fistel sulit untuk dikeluarkan. Fistel sekunder akan menimbulkan korosi pada area komponen usus dan akan menghasilkan infeksi lokal, infeksi disekitar pembedahan, abses intra-abdominal atau infeksi sistemik dengan potensi terjadinya imbalance elektrolit. Selain pasien trauma, pasien dengan IAI atau sepsis hampir tidak membaik setelah dilakukan abdomen terbuka seperti tingkat kelangsungan hidup menurun, peningkatan fistel sekunder dan tingkat penutupan primer yang relatif. Pasien yang mempunyai resiko tinggi dengan multiple disfungsi organ / kegagalan disfungsi organ (30-40%), abses intra-abdominal (83%) dan hernia ventral (sekitar 25%) [35]. Hasil klinis dari infeksi OA akan menjadi Pasien yang memiliki risiko tinggi yaitu jika terjadi sindrom disfungsi organ atau kegagalan

beberapa organ ( 30-40 % ), abses intra abdominal ( 83 % ), dan hernia ventral ( sekitar 25 % ) [ 35 ]. Selain itu, hasil klinis OA yang terinfeksi akan jauh lebih kecil dengan kebersihan atau hanya terkontaminasi oleh OA saja, termasuk meningkatnya kebutuhan transfusi, pemanfaatan beban

sumber daya kesehatan, dan peningkatan komplikasi infeksi, malnutrisi karena cairan yang signifikan, elektrolit, dan penurunan protein. 4.2 . Kontroversi Abdomen Terbuka Perbandingan penanganan awal dan lambatnya penutupan fascia, seleksi TAC. Umumnya, penutupan fasia secara definitif merupakan tujuan akhir dari pengobatan OA. Dalam praktek klinis, penutupan fasia dapat dicapai dengan mode awal atau prosedur yang lambat selama proses pengobatan pertama. Sayangnya, masih belum ada konsensus tentang model yang harus diprioritaskan untuk digunakan setelah penangangan abdomen terbuka yang sukses. Penutupan awal penutupan fasia umumnya dalam 9 hari setelah laparatomi, biasanya memerlukan pemantauan secara ketat dan memerlukan status tambahan penutupan fasia untuk menilai kemungkinan pembedahan definitif. Pada awal penutupan fasia ke fasia tidak bisa berhasil jika awal kontrol sumber pembedahan gagal [36]. Pliakos et al. Diindikasikan bahwa penutupan fasia secara berurutan bisa segera dimulai pada saat terjadi sepsis abdomen, dimana keadaan ini merupakan kontrol yang baik dan sering mencapai hasil yang lebih baik dari penggunaan tunggal dari penutupan perangkat vakum. (VAC) [37] . Meskipun demikian, pasien dengan IAI atau sepsis abdomen kurang mungkin untuk mencapai penutupan fasia lebih awal [ 27 ] . untuk beberapa populasi, kegagalan upaya ini terutama disebabkan oleh tertunda proses penyembuhan luka karena respon persisten modulasi mediator inflamasi. Penutupan fasia yang tertunda, didefinisikan sebagai penutupan fasia abdomen lebih dari 9 hari setelah awal prosedur OA, sering dilakukan melalui perencanaan perbaikan hernia ventral [ 26 ]. Selain

Review Artikel

Gastroenterology Research and Practice

penyakit utama,

transfusi yang masif (juga dikenal sebagai cairan yang berlebih pada resusitasi ),

timbulnya komplikasi yang lebih awal selama rawat inap dan teknik traksi non fascial juga dikaitkan dengan penutupan yang tertunda [ 38 , 39 ]. Umumnya, penutupan fasia definitif akan dilakukan sekitar 6-12 bulan setelah dilakukan abdomen terbuka. Namun, banyak usaha yang bertujuan untuk mencapai penutupan awal fasia secara aman seperti infeksi pada abdomen terbuka, hal ini telah menunjukkan kemungkinan pemulihan yang cepat dari komplikasi selanjutnya [ 40 ] . Meskipun teknik TAC telah banyak diterapkan pada pengelolaan infeksi abdomen terbuka, banyak modalitas yang tidak ditujukan untuk penutupan pada keadaan infeksi abdomen terbuka, seperti kulit saja, jerat, atau ritsleting. Karena sebagian besar pada kasus IAI, pasien mempunyai empat tipe OA yang juga salah satunya diketahui sebagai frozen abdomen dan disokong oleh usus, mereka tidak bisa menerima operasi definitif dengan penutupan permanen pada stadium awal infeksi abdomen [41]. Aplikasi tekanan negatif, biasanya pada perangkat VAC, dilaporkan bahwa memiliki keunggulan superior dibandingkan dengan teknik TAC dalam mengurangi ketegangan fasia dan

retraksi dinding abdomen [4] . Ulasan sistematik ini diindikasikan bahwa penggunaan Wittmann patch atau VAC diperoleh tingkat penutupan fascia yang jauh lebih tinggi daripada teknik TAC lainnya [42]. Namun, penggunaan perangkat tekanan negatif dihubungkan dengan peningkatan risiko terjadinya fistel sekunder dan tertundanya tingkat penutupan fasia [31, 43]. Baru-baru ini, beberapa metode VAC yang dimodifikasi adalah inovasi untuk memecahkan masalah tersebut dan menegaskan efek dan keamanannya dalam praktek klinis [ 35,44-46 ] .

4.3. Kemajuan dalam penggunaan Abdomen Terbuka pada infeksi Intra-abdomen. Meskipun waktu optimal untuk melakukan penutupan secara definitif masih kontroversial, prinsip umum bahwa mengingat operasi ini telah dilakukan selama dekade terakhir. Prinsip ini meliputi : (1) IAP dilakukan dengan tekanan kurang dari 15 20 mmHg ketika fascia dapat didekatkan secara sementara. (2) Tidak terdeteksi adanya kebocoran usus, atau volume pengeluaran cairan usus yang rendah. (3) Integritas dinding abdomen dapat dikembalikan berdasarkan evaluasi pra-operasi secara sistematis. (4) Tidak ada masalah penyembuhan luka yang dapat diantisipasi. (5) Sumber infeksi benar-benar dihilangkan dan debridemen rongga peritoneal yang cukup. (6) Status gizi dan fungsi paru yang memuaskan untuk mentolerir stres dalam operasi. Sekali lagi bahwa infeksi pada abdomen terbuka, sistem VAC sangat menganjurkan hasil klinis terbaik secara keseluruhan [34]. dibandingkan dengan aplikasi tekanan negatif, sistem VAC dapat secara efektif dapat mencegah perlengketan dinding perut, peningkatan penutupan fascia, dan mempunyai kelangsungan yang bagus dengan sumber kontrol pada pasien sepsis. Penting bahwa teknik ini tidak efektif dan sederhana untuk dilakukan diberbagai tingkat rumah sakit [47-49 ]. Ini merupakan sistem VAC baru yang inovatif ( ABThera ) yang telah memiliki tambahan fitur spons

Review Artikel

Gastroenterology Research and Practice

ekstensi yang dapat diperpanjang sampai ke ujung lembaran plastik untuk memfasilitasi drainase yang lebih efektif dari limbah peritoneal [ 4,50 ]. Selain kemajuan perkembangan pada pengelolaan OA, kontrol OA terkait dengan komplikasi dapat ditingkatkan. Fistel entero atmospheric, merupakan salah satu dari banyaknya kasus infeksi abdomen terbuka, keadaan ini hampir dapat disembuhkan tanpa operasi, jaringan lunak tidak tersedia sebagai tempat untuk menutupi dinding yang rapuh pada infeksi perut terbuka. Akibatnya, pencegahan merupakan prinsip manajemen tetap yang paling penting. Bila mungkin, bahan biokompatibel yang disukai sebagai mediator untuk memisahkan kontak jaringan visera dari keadaan luar. Sebagai tambahan perawatan luka seharusnya dilakukan oleh ahli bedah yang berpengalaman atau perawat spesialis [ 51 ]. Setelah fistel timbul, secara agresif harus didukung oleh nutrisi dan perawatan luka secara teliti untuk kesembuhan yang cepat. Sistem VAC dilaporkan telah menjadi efektif dalam pengendalian limbah dengan penyembuhan fistel [5]. Baru-baru ini, kami menemukan bahwa "patch fistel Bahan silikon pipih buatan tangan, sangat membantu untuk pengelolaan fistel entero atmospheric. tersebut dapat menyatukan manfaat untuk menghindari hilangnya cairan usus,

menyederhanakan perawatan luka, sembuhnya jaringan yang rusak,dan nutrisi pendukung [52 ] . Penggunaan nutrisi enteral (EN) untuk pasien dengan abdomen terbuka masih menimbulkan banyak keraguan, EN selalu dikaitkan dengan kasus akses enteral, kekhawatiran terjadinya edema usus, atau dilema terjadinya motilitas usus dan fungsinya. Baru-baru ini, studi multi-institusional menunjukkan bahwa pemberian EN setelah dilakukan abdomen terbuka dikaitkan dengan peningkatan penutupan fasia, penurunan tingkat komplikasi, dan memperbaiki angka kematian [53]. Selain itu, pemberian EN secara awal dapat berhasil melalui berbagai pendekatan pada pasien IAI, dengan penurunan pembentukan fistel dan memperbaiki angka kematian [54,55]. Inisiasi secara dini dari makanan enteral dilaporkan menjadi prediktor independen penutupan fasia yang sukses pada OA dengan pasien komplikasi fistel usus [45]. Namun, prosedur berfokus pada hasil yang harus dibayar ketika menempatkan nasogastrik atau tabung pengisi postpyloric untuk mengurangi insiden kebocoran anastomotik atau fistel. Keadaan tersebut tidak seharusnya menimbulkan komplikasi yang dapat membahayakan pendekatan penutupan abdomen pada masa depan dan perlunya kontrol yang baik selama pengelolaan infeksi abdomen terbuka. 5 . Harapan Pengobatan Abdomen Terbuka Pada Infeksi Intra-abdomen. Tantangan utama dalam pengobatan abdomen terbuka yang terinfeksi adalah untuk mengontrol terjadinya peritonitis septik dan sekresi cairan intra-abdominal dan untuk memfasilitasi terjadinya eksplorasi abdomen berulang, sambil menjaga fasia peritoneal untuk penundaan penutupan yang dilakukan secara primer [26]. Sebelumnya bahwa keputusan untuk tidak melakukan abdomen terbuka harus dipertimbangkan oleh dokter bedah. Namun, terdapat kriteria pasti untuk memandu dokter bedah dalam pengambilan keputusan untuk pasien-pasien sepsis. Banyak pekerjaan yang diperlukan untuk

Review Artikel

Gastroenterology Research and Practice

lebih menentukan indikasi tepat dalam melakukan prosedur abdomen terbuka. Tidak peduli apakah secara cepat atau lambat dilakukan penutupan fasia abdomen akan membaik, tingkat kesuksesannya adalah terjadi penutupan pada pengobatan abdomen terbuka yang terinfeksi. Selain itu, berbagai teknik seperti VAC serta tautan, hidrogel biokompatibel dan sistem TAC lainnya (misalnya : sistem perut reapproximation anchor), seharusnya dapat mencegah komplikasi yang potensial terkait dengan terapi OA. Sementara itu, beberapa biomarker dengan nilai-nilai prediktif untuk komplikasi yang akan datang, seperti : PCT,C3, CRP, dan TNF - , seharusnya lebih diperhatikan dalam praktek klinis selanjutnya. Karena penggunaan terapi OA pada pasien dengan IAI cukup menantang saat ini, banyaknya jumlah studi klinis, dengan ukuran sampel yang besar dan desain kontrol secara acak, hal ini diperlukan untuk mengevaluasi lebih lanjut dalam pemanfaatan area spesifik tersebut. 6. Kesimpulan Kesimpulannya adalah abdomen terbuka merupakan salah satu kemajuan bedah terbesar dalam beberapa dekade terakhir dan menghasilkan popularitas besar dalam pengelolaan sehari-hari secara kritis atau pada pasien yang terinfeksi. Perawatan bedah multistage membawa manfaat besar bagi populasi tersebut dengan menghindari serangkaian masalah dari penutupan abdomen bagian bawah, memfasilitasi prosedur kontrol kerusakan, mengurangi risiko hipertensi intra-abdomen, dan

memberikan kontribusi bagi pengenalan dini masalah intra-abdomen. Namun, penggunaan abdomen terbuka pada pasien dengan infeksi intraabdominal juga membawa banyak tantangan di luar bagi orang-orang yang mungkin diharapkan dari penyakit primer. Manajemen yang sepatutnya bergantung terutama pada pemulihan normal dari sisi fisiologis dan status gizi, melindungi kulit dan fasia, dan mencegah terjadinya syok septik yang akan datang atau beberapa kegagalan organ. Dengan pengelolaan yang profesional dan hati-hati, tantangan ini sedikit demi sedikit akan dapan diselesaikan. Setiap teknik inovatif yang dirancang untuk meningkatkan penutupan fasia dan hasil klinis, seharusnya dapat mendorong terjadinya infeksi pada abdomen terbuka. Hal Ini adalah tanggung jawab dokter untuk menerapkan prinsip-prinsip manajemen yang bijaksana untuk memperoleh manfaat yang paling baik dari abdomen terbuka. Meskipun pengobatan abdomen terbuka untuk infeksi intraabdominal tampaknya dapat memberikan manfaat, percobaan acak secara prospektif dan terkontrol, dijamin dapat lebih memperjelas perannya pada populasi spesifik.

Anda mungkin juga menyukai