Anda di halaman 1dari 45

REFERAT

Otitis Media Supuratif Kronik - OMSK

PEMBIMBING
dr. Renie N.Z, Sp. THT dr. Djoko Srijono, Sp. THT dr. Dumasari Siregar, Sp.THT dr. Puteri Anugrah Rizki, Sp.THT

PEN!"IS
Angelika 0 0.0!.0"0

#epaniteraan #linik $lmu Pen%akit Telinga Hidung Tenggorokan RS&D 'udhi Asih (akarta Periode ) (anuari "0)* + ), -e.ruari "0)* -akultas #edokteran &ni/ersitas Trisakti

"EMBAR PENGESA#AN

Re0erat dengan judul1 23titis 4edia Supurati0 #ronik5 Diajukan untuk memenuhi salah satu s%arat men%elesaikan #epaniteraan #linik $lmu #esehatan THT RS&D 'udhi Asih periode ) (anuari + ), -e.ruari "0)*

Disusun oleh1 Angelika 0 0.0!.0"0

Telah diterima dan disetujui oleh dr. Renie Augustine N.Z, Sp. THT selaku dokter pem.im.ing dan koordinator kepaniteraan S4- departemen THT RS&D 'udhi Asih pada -e.ruari "0)*

(akarta, No/em.er "0) 4engetahui

dr. Renie Augustine N.Z, Sp. THT 6 koordinator kepaniteraan S4- THT 7

KATA PENGANTAR
Puji s%ukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan 8ang 4aha 9sa atas .erkah dan anugerahN%a sehingga tugas re0erat kepaniteraan klinik $lmu Pen%akit THT %ang .erjudul 23titis 4edia Supurati0 #ronik 6 34S# 7 5 dapat diselesaikan pada :aktun%a. Re0erat ini disusun untuk melengkapi tugas dalam kepaniteraaan #linik $lmu Pen%akit THT Periode ) (anuari + ), -e.ruari "0)* di RS&D 'udhi Asih (akarta Timur. Pertama + tama penulis ingin mengu;apkan terima kasih kepada dokter pem.im.ing 1 1. dr. Renie Augustine N.Z, Sp.THT 2. dr. Djoko Sriwojo, Sp. THT 3. dr. Dumasari siregar, Sp.THT 4. dr. uteri Anugra! Ri"ki, Sp.THT atas .im.ingan .eliau semua %ang .egitu .esar kepada penulis selama ini. Penulis juga mengu;apkan terima kasih kepada seluruh sta0 .agian THT RS&D 'udhi Asih, atas .antuann%a selama ini untuk penulis memperdalam ilmu pen%akit THT, sehingga memudahkan penulis untuk men%usun se.uah re0erat. Penulis juga ingin mengu;apkan terima kasih kepada rekan< rekan ;o + assistant, serta semua pihak %ang telah mem.antu proses pem.uatan re0erat ini. Penulis .erharap re0erat ini dapat mem.erikan in0ormasi tentang 3titis 4edia Supurati0 #ronik 6 34S# 7 se;ara lengkap. Penulis men%adari .ah:a penulisan re0rat ini masih jauh dari sempurna karena pengetahuan dan pengalaman penulis masih ter.atas. 3leh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik %ang mem.angun dari .er.agai pihak untuk men%empurnakan re0erat ini. Akhir kata dengan segala kerendahan hati, penulis .erharap re0erat ini dapat .erman0aat .agi %ang mem.a;an%a. (akarta, ) (anuari "0)*

ii

$AFTAR ISI

"e%&ar Pen'esa(an ......................................................................................................................i Kata Pen'antar .............................................................................................................................ii $aftar Isi .......................................................................................................................................iii $aftar Ga%&ar ===============================.i/ Ba& I ) Penda(u*uan ....................................................................................................................) Ba& II - Tin+auan Pustaka , Pe%&a(asan====================.... Anatomi Telinga ................................................................................................................. -isiologi Pendengaran .........................................................................................................> 3titis 4edia Supurati0 #ronik < 34S# De0inisi =======================........................> 9pidemiologi =================.......................................? 9tiologi =============================? #lasi0ikasi 34S# ========================.)) Patogenesis ==========================....), Patologi ============================.)> Diagnosis ===========================...)?

iii

Penatalaksanaan =========================" #omplikasi ===========================

Ba& III ) Penutup ======............................................................................................... ? $aftar Pustaka ........................................................................................................................... *0

$AFTAR GAMBAR
@am.ar ) 1 Anatomi Telinga==========================... @am.ar " 1 Anatomi Telinga Tengah =======================, @am.ar 1 Per0orasi Sentral pada 4em.ran Timpani ================.))

@am.ar * 1 Per0orasi 4arginal pada 4em.ran Timpani ============..===)) @am.ar , 1 #olesteatoma ===========================..)) @am.ar A 1 Perjalanan Pen%akit 34S# pada 4em.ran Timpani ===========...), @am.ar > 1 Anatomi Tu.a 9usta;hius pada Anak dan De:asa ============...)A @am.ar ? 1 audiometri; pada tuli kondukti0 ... ===================.") @am.ar ! 1 'agan $ + Pengerjaan Aural Toilet ===================."* @am.ar )0 1 'agan $$ + Anti.iotik Topikal=...==================="> @am.ar )) 1 'agan $$$ + Pem.edahan Tatalaksana 34S# ==============. ) @am.ar )" 1 Algoritma Pengo.atan 34S# ==================== "

iv

BAB I PEN$A#!"!AN
3titis media ialah peradangan se.agian atau seluruh mukosa telinga .agian tengah, Tu.a 9usta;hius, antrum mastoid dan sel<sel mastoid. 3titis media ter.agi atas otitis media supurati0 dan otitis media non supurati0. 4asing<masing mempun%ai .entuk akut dan kronis. Pada .e.erapa penelitian, diperkirakan terjadin%a otitis media le.ih sering pada anak<anak. $n0eksi umumn%a terjadi dua tahun pertama kehidupan dan pun;akn%a pada tahun pertama masa sekolah.) Radang telinga tengah menahun atau otitis media supurati0 kronik 634S#7, %ang .iasa dise.ut 2;ongek5 adalah radang kronis telinga tengah dengan adan%a lu.ang 6per0orasi7 pada gendang telinga 6mem.ran timpani7 dan ri:a%at keluarn%a ;airan 6sekret7 dari telinga 6otorea7 le.ih dari " .ulan, .aik terus menerus atau hilang tim.ul. Sekret mungkin serous, mukous atau purulen. Pen%akit ini .iasan%a diikuti oleh penurunan pendengaran dalam .e.erapa tingkatan.) $nsiden 34S# ini .er/ariasi pada setiap negara. Se;ara umum, insiden 34S# dipengaruhi oleh ras dan 0aktor sosioekonomi. 4isaln%a, 34S# le.ih sering dijumpai pada orang 9skimo dan $ndian Amerika, anak<anak a.origin Australia dan orang kulit hitam di A0rika Selatan. Balaupun demikian, le.ih dari !0C .e.an dunia aki.at 34S# ini dipikul oleh negara< negara di Asia Tenggara, daerah Pasi0ik 'arat, A0rika, dan .e.erapa daerah minoritas di Pasi0ik. #ehidupan sosial ekonomi %ang rendah, lingkungan kumuh dan status kesehatan serta gizi %ang jelek merupakan 0aktor %ang menjadi dasar untuk meningkatn%a pre/alensi 34S# pada negara %ang sedang .erkem.ang.", Sur/ei pre/alensi di seluruh dunia, %ang :alaupun masih .er/ariasi dalam hal de0inisi pen%akit, metode sampling serta mutu metodologi, menunjukkan .e.an dunia aki.at 34S# meli.atkan A,+ 0 juta orang dengan telinga .erair, A0C di antaran%a 6 !+"00 juta7 menderita kurang pendengaran %ang signi0ikan.* Se;ara umum, pre/alensi 34S# di $ndonesia adalah ,?C dan pasien 34S# merupakan ",C dari pasien<pasien %ang .ero.at di poliklinik THT rumah sakit di $ndonesia. 'e.erapa 0aktor %ang dapat men%e.a.kan otitis media akut menjadi otitis media kronis %aitu terapi %ang terlam.at di.erikan, terapi tidak adekuat, /irulensi kuman %ang tinggi, da%a tahan tu.uh %ang rendah 6 gizi .uruk 7 atau h%giene %ang jelek. ), ,*

3titis media supurati0 akut atau kronis mempun%ai potensi untuk menjadi serius karena komplikasin%a dapat mengan;am kesehatan dan dapat men%e.a.kan kematian. 'entuk komplikasi ini tergantung pada kelainan patologi %ang men%e.a.kan otore. #omplikasi ini .iasan%a di dapatkan pada pasien 34S# tipe .aha%a tetapi 34S# tipe manapun dapat men%e.a.kan komplikasi .ila terin0eksi kuman %ang /irulen 6 eksaser.asi akut 7. Dengan tersedian%a anti.iotika mutakhir komplikasi menjadi semakin jarang.,,A Penanganan 34S# dapat di.agi atas konser/ati0 dan operati0. Penanganan konser/ati0 .ertujuan untuk mengontrol proses in0eksi %ang .erupa pem.ersihan telinga untuk mengusahakan telinga %ang DamanE dan pertim.angan 0ungsional merupakan tujuan %ang sekunder dan pem.erian anti.ioti; topikal atau sistemik. Terapi medikamentosa ditujukan pada 34S# tipe jinak dan tindakan operasi dikerjakan pada 34S# tipe ganas.Penanganan operati0 dilakukan untuk eradikasi jaringan patologi %ang terdapat di dalam rongga mastoid dan ka/um timpani, dapat .erupa mastoidektomi sederhana, mastoidektomi radikal, dan mastoidektomi radikal modi0ikasi.)

BAB II PEMBA#ASAN

Anato%i Te*in'a Telinga di.agi atas telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.

@am.ar )1 anatomi telinga > Te*in'a "uar Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai mem.ran timpani. Telinga luar atau pinna merupakan ga.ungan dari tulang ra:an %ang diliputi kulit. Daun telinga terdiri dari tulang ra:an elastin dan kulit. Fiang telinga 6meatus akustikus eksternus7 .er.entuk huru0 S, dengan rangka tulang ra:an pada sepertiga .agian luar, di sepertiga .agian luar kulit liang telinga terdapat .an%ak kelenjar serumen 6modi0ikasi kelenjar keringat G #elenjar serumen7 dan ram.ut. #elenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada dua pertiga .agian dalam han%a sedikit dijumpai kelenjar serumen, dua pertiga .agian dalam rangkan%a terdiri dari

tulang. Panjangn%a kira<kira ",, <

;m. 4eatus di.atasi oleh kulit dengan sejumlah ram.ut,

kelenjar se.asea, dan sejenis kelenjar keringat %ang telah mengalami modi0ikasi menjadi ke#enjar seruminosa, %aitu kelenjar apokrin tu.uler %ang .erkelok<kelok %ang menghasilkan zat lemak setengah padat .er:arna ke;oklat<;oklatan %ang dinamakan serumen 6min%ak telinga7. Serumen .er0ungsi menangkap de.u dan men;egah in0eksi.? Te*in'a Ten'a( Telinga tengah terdiri darti ka/um timpani, Tu.a 9usta;hius, antrum mastoid, serta sel<sel tulang matoid. #a/um timpani di dalamn%a terdapat rangkaian tulang pendengaran %ang dise.ut .agian %aitu maleus, inkus, dan stapes %ang saling .erhu.ungan. #a/um timapani di.agi dalam atik, .agian tengah ka/um timpani, dan hipotimpanum.? Atik ialah .agian %ang terletak di .agian atas kaki maleus. Disana terdapat .agian kepala dan leher maleus, serta se.agian dari inkus. 'agian tengah dari ka/um timpani .er.atas di .agian lateral dengan gendang telinga, sedangkan di .agian medial dengan promontorium, %aitu dinding %ang mem.atasi dengan koklea. (arak ka/um timpani ialah " milimeter. Di dinding anterior terdapat pintu ke Tu.a 9usta;hius, sedangkan di dinding posterior terdapat aditus ad antrum., %aitu saluran %ang menuju ke rongga mastoid. Dinding lateral ter.entuk oleh mem.ran timpani dan dinding atik. Pada dinding medial terdapat dari atas ke .a:ah1 ). 'agian anterior ;analis semisirkularis, ". Saluran untuk ner/us 0a;ial, . Fu.ang tingkap lonjong 60enestra o/alis7, *. Prompntorium, ,. Fu.ang tingkap .ulat 60enestra rotundum7. 'agian .esar ka/um timpani dipisahkan dari .ul.us jugularis oleh tulang, sedangkan .agian atapn%a .erhu.ungan dengan duramater dari kranii media.? $ner/asi. Ner/us sensoris .erasal dari ;a.ang timpani sara0 otak ke $H, ;a.ang dari ner/us 0asial, ;a.ang pleksus karotis, dan ner/us petrosus super0i;ialis minor. Iaskularisasi .erasal dari arteri 0aringeal as;endens, arteri meningea media, arteri stilomatoid, dan arteri karotis eksterna. Iena menuju ke pleksus pterigoid, pleksus meningeal, .ul.us jugular, sinus petrosus superior, dan plekus /enosus karotis. Aliran lim0a dialirkan ke kelenjar retro0aring dan kelenjar preaurikular.? Antrum mastoid dihu.ungkan ke ka/um timpani oleh aditus ad antrum di .agian depan, dan di .agian posterior terdapat sel<sel mastoid. Sel<sel mastoid di.agi dalam .er.agai .entuk, pneumatik, sklerotik, dan diploik. Pada sel mastoid %ang pneumatik 6sel<seln%a tampak telah

.erkem.ang7, %ang sklerotik 6tulang tidak .erlu.ang7, sedangkan %ang diploik 6.er.entuk antara pneumatik dan sklerotik7, terdapat .an%ak pem.uluh darah.? Tu.a 9usta;hius ialah saluran %ang mengu.ungkan naso0aring dengan ka/um timpani. Panjangn%a kira<kira * sentimeter. Tu.a ini merupakan saluran %ang .erguna .agi ka/um timpani, supa%a tekanan di dalam ka/um timpani sama dengan tekan udara luar. Dengan demikian mem.ran timpani dapat .ergerak dengan .aik. Selain ini Tu.a 9usta;hius merupakan saluran %ang akan mem.a:a in0eksi dari hidung, naso0aring, dan 0aring ke ka/um timpani dan rongga mastoid. Tu.a 9usta;hius se.agian .erdinding tulang, se.agian lagi tulang ra:an %ang panjangn%a sepertiga dari seluruh panjang Tu.a 9usta;hius. 'agian tulang ra:an .ermuara ke naso0aring, sedangkan .agian %ang .erdinding tulang 6"J panjang seluruh tu.a7 .ermuara ke ka/um timpani, di dinding anteriorn%a. Tu.a 9usta;hius ter.uka pada :aktu menelan, menguap, dan mengun%ah.>,?

@am.ar "1 telinga tengah>

Te*in'a $a*a% Telinga dalam terdiri dari koklea 6rumah siput7 %ang .erupa "J lingkaran dan /esti.uler %ang terdiri dari .uah kanalis semisirkularis. &jung atau pun;ak koklea dise.ut helikotrema, menghu.ungkan perilim0a skala timpani dengan skala /esti.uli. #analis semisirkularis saling .erhu.ungan tidak lengkap dan mem.entuk lingkaran %ang tidak lengkap. Pada irisan melintang koklea tampak skala /esti.uli se.elah atas, skala timpani dise.elah .a:ah, dan skala media 6duktus koklearis7 diantaran%a. Skala /esti.uli dan skala timpani .erisi perilim0a, sedangkan skala media .erisi endolim0a. $on dan garam %ang terdapat di perilim0a .er.eda dengan endolim0a. Hal ini penting untuk pendengaran. Dasar skala /esti.uli dise.ut se.agai mem.ran /esti.uli 6ReissnerEs mem.rane7 sedangkan dasar skala media adalah mem.ran .asalis. Pada mem.ran ini terletak organ ;orti. Pada skala media terdapat .agian %ang .er.entuk lidah %ang dise.ut mem.ran tektoria, dan pada mem.ran .asal melekat sel ram.ut %ang terdiri dari sel ram.ut dalam, sel ram.ut luar dan kanalis ;orti, %ang mem.entuk organ ;orti. Di telinga dalam terdapat kanalis semisirkularis dan utrikel %ang diperlukan untuk keseim.angan, sedangkan sakulus dan duktus koklea diperlukan untuk pendengaran.? -asku*arisasi dan Persarafan Te*in'a Telinga dalam diperdarahi oleh arteri auditori interna ;a.ang dari arteri ;ere.ellaris anterior in0erior dan arteri .asilaris. Arteri auditori interna mem.entuk dua ;a.ang %aitu arteri /esti.ularis anterior %ang memperdarahi utrikulus dan sakulus .agian superior, serta .agian superior dan horizontal dari kanalis semisirkularis. Ka.ang lain dari arteri auditori interna adalah arteri koklearis komunis %ang .er;a.ang menjadi arteri koklearis dan arteri /esti.ulokoklearis. Arteri koklearis memperdarahi semua .agian koklea ke;uali sepertiga .agian .asal %ang diperdarahi oleh rami koklearis, ;a.ang dari arteri /esti.ulokoklearis. Ka.ang lain dari arteri /esti.ulokoklearis adalah arteri /esti.ular .agian posterior %ang memperdarahi utrikulus dan sakulus .agian in0erior, serta kanalis semisirkularis .agian posterior. Iena dialirkan ke /ena auditori interna %ang diteruskan ke sinus sigmoideus atau sinus petrosus in0erior. Iena</ena ke;il mele:ati /esti.ular aLuedu;t dan .ermuara di sinus petrosus in0erior dan superior.? &ntuk persara0an, telinga se.agai organ pendengaran sekaligus se.agai organ keseim.angan dipersara0i oleh ner/us /esti.ulokoklearis. Ner/us koklearis tersusun oleh sekitar 0.000 sel<sel

sara0 e0eren %ang mempersara0i ),.000 sel ram.ut pada spiral organ di setiap koklea. Sera.ut sara0 dari ner/us koklearis .erjalan sepanjang meatus akustikus internus .ersama sera.ut sara0 dari ner/us /esti.ularis mem.entuk ner/us /esti.ulokoklearis 6KN I$$$7. Pada ujung medial dari meatus akustikus internus, sara0 kanial I$$$ menem.us lempengan tulang tipis .ersama sara0 kranial I$$ 6ner/us 0asialis7 dan pem.uluh darah menuju dorsal dan /entral ;o;lear nu;lei di .atang otak. Se.agian .esar sera.ut sara0 dari kedua nu;lei naik menuju in0erior ;olli;ulus se;ara kontralateral, dan se.agian lainn%a se;ara ipsilateral. Selanjutn%a, dari in0erior ;olli;ulus, sara0< sara0 pendengaran .erjalan menuju media# geni$u#ate %od& dan akhirn%a menuju korteks auditorius di lo.us temporalis.? Fisio*o'i Penden'aran Proses mendengar dia:ali dengan ditangkapn%a energi .un%i oleh daun telinga dalam .entuk gelom.ang %ang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. @etaran terse.ut menggetarkan mem.ran timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tlang pendengaran %ang mengampli0ikasi getaran melalui da%a ungkit tulang pendengaran dan perkalian per.andingan luas mem.ran timpani dan tingkap lonjong. 9nergi getar %ang telah diampli0ikasi ini akan diteruskan ke stapes %ang menggerakan tingkap lonjong sehingga perilim0a pada skala /esti.uli .ergerak. @etaran diteruskan melalui mem.rana Reissner %ang mendorong endolim0a, sehingga akan menim.ulkan gerak relati0 antara mem.ran .asilaris dan mem.ran tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik %ang men%e.a.kan terjadin%a de0leksi stereosilia sel<sel ram.ut sehingga kanal ion ter.uka dan terjadi penglepasan ion .ermuatan listrik dari .adan sel. #eadaan ini menim.ulkan proses depolarisasi sel ram.ut sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis %ang akan menim.ulkan potensial aksi pada sara0 auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran 6area !<*07 di lo.us temporalis.?

OTITIS ME$IA S!P!RATIF KRONIK $efinisi Suatu in0eksi kronis telinga tengah dengan per0orasi mem.ran timpani dan ri:a%at keluarn%a sekret dari telinga 6otorea7 le.ih dari " .ulan, .aik terus menerus atau hilang tim.ul.),

Epide%io*o'i $nsiden 34S# ini .er/ariasi pada setiap negara. Se;ara umum, insiden 34S# dipengaruhi oleh ras dan 0aktor sosioekonomi. 4isaln%a, 34S# le.ih sering dijumpai pada orang 9skimo dan $ndian Amerika, anak<anak a.origin Australia dan orang kulit hitam di A0rika Selatan. Balaupun demikian, le.ih dari !0C .e.an dunia aki.at 34S# ini dipikul oleh negara<negara di Asia Tenggara, daerah Pasi0ik 'arat, A0rika, dan .e.erapa daerah minoritas di Pasi0ik. #ehidupan sosial ekonomi %ang rendah, lingkungan kumuh dan status kesehatan serta gizi %ang jelek merupakan 0aktor %ang menjadi dasar untuk meningkatn%a pre/alensi 34S# pada negara %ang sedang .erkem.ang. Sur/ei pre/alensi di seluruh dunia, %ang :alaupun masih .er/ariasi dalam hal de0inisi pen%akit, metode sampling serta mutu metodologi, menunjukkan .e.an dunia aki.at 34S# meli.atkan A,+ 0 juta orang dengan telinga .erair, A0C di antaran%a 6 !+"00 juta7 menderita kurang pendengaran %ang signi0ikan. Se;ara umum, pre/alensi 34S# di $ndonesia adalah ,?C dan pasien 34S# merupakan ",C dari pasien<pasien %ang .ero.at di poliklinik THT rumah sakit di $ndonesia. Etio*o'i Terjadi 34S# hampir selalu dimulai dengan otitis media .erulang pada anak, jarang dimulai setelah de:asa. -aktor in0eksi .iasan%a .erasal dari naso0aring 6adenoiditis, tonsilitis, rinitis, sinusitis7, men;apai telinga tengah melalui Tu.a 9usta;hius. -ungsi Tu.a 9usta;hius %ang a.normal merupakan 0aktor predisposisi %ang dijumpai pada anak dengan ;le0t palate dan Do:nEs s%ndrom. -aktor Host %ang .erkaitan dengan insiden 34S# %ang relati0 tinggi adalah de0isiensi immun sistemik. #elainan humoral 6seperti hipogammaglo.ulinemia7 dan ;ell < mediated 6 seperti in0eksi H$I, sindrom kemalasan leukosit7 dapat mani0est se.agai sekresi telinga kronis.),",)0 Pen%e.a. 34S# antara lain), ,,,)01 ). Fingkungan Hu.ungan penderita 34S# dan 0aktor sosial ekonomi .elum jelas, tetapi mempun%ai hu.ungan erat antara penderita dengan 34S# dan sosioekonomi, dimana kelompok

sosioekonomi rendah memiliki insiden %ang le.ih tinggi. Tetapi sudah hampir dipastikan hal ini .erhu.ungan dengan kesehatan se;ara umum, diet, tempat tinggal %ang padat. ". @enetik -aktor genetik masih diperde.atkan sampai saat ini, terutama apakah insiden 34S# .erhu.ungan dengan luasn%a sel mastoid %ang dikaitkan se.agai 0aktor genetik. . 3titis media se.elumn%a. Se;ara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis media akut. *. $n0eksi 'akteri %ang diisolasi dari sekret telinga tengah hampir tidak .er/ariasi pada otitis media kronik %ang akti0, sehingga metode kultur kuman merupakan pilihan %ang tepat. 3rganisme %ang dijumpai terutama adalah @ram < negati0, 0lora tipe < usus, dan .e.erapa organisme lainn%a. ,. $n0eksi saluran na0as atas 'an%ak penderita mengeluh keluarn%a sekret dari telinga sesudah terjadi in0eksi saluran na0as atas. $n0eksi /irus dapat mempengaruhi mukosa telinga tengah %ang men%e.a.kan menurunn%a da%a tahan tu.uh terhadap organisme normal %ang .erada dalam telinga tengah, sehingga memudahkan pertum.uhan .akteri. A. Autoimun Penderita dengan pen%akit autoimun akan memiliki insiden le.ih .esar terhadap otitis media kronis. >. Alergi Penderita alergi mempun%ai insiden otitis media kronis %ang le.ih tinggi di.anding %ang .ukan alergi. ?. @angguan 0ungsi Tu.a 9usta;hius. Pada otitis kronis akti0, dimana Tu.a 9usta;hius sering tersum.at oleh edema tetapi apakah hal ini merupakan 0enomen primer atau sekunder masih .elum diketahui.

'e.erapa 0aktor < 0aktor %ang men%e.a.kan per0orasi mem.ran timpani menetap pada 34S#),",)0 1 $n0eksi %ang menetap pada telinga tengah mastoid %ang mengaki.atkan produksi sekret telinga purulen .erlanjut. 'erlanjutn%a o.struksi Tu.a 9usta;hius %ang mengurangi penutupan spontan pada per0orasi. Pada pinggir per0orasi dari epitel skuamous dapat mengalami pertum.uhan %ang ;epat diatas sisi medial dari mem.ran timpani. Proses ini juga men;egah penutupan spontan dari per0orasi. -aktor < 0aktor %ang men%e.a.kan pen%akit in0eksi telinga tengah supurati0 menjadi kronis *,A,)0 1 ). @angguan 0ungsi Tu.a 9usta;hius %ang kronis atau .erulang. a. $n0eksi hidung dan tenggorok %ang kronis atau .erulang. .. 3.struksi anatomi; Tu.a 9usta;hius parsial atau total. ". Per0orasi mem.ran timpani %ang menetap. . Terjadin%a metaplasia skumosa atau peru.ahan patologik menetap lain%a pada telinga tengah. *. 3.struksi menetap terhadap aerasi telinga atau rongga mastoid. Hal ini dapat dise.a.kan oleh jaringan parut, pene.alan mukosa, polip, jaringan granulasi atau timpanosklerosis. ,. Terdapat daerah < daerah dengan sekuester atau osteomielitis persisten dimastoid. A. -aktor < 0aktor konstitusi dasar seperti alergi, kelemahan umum atau peru.ahan mekanisme pertahanan tu.uh.

10

K*asifikasi OMSK 'entuk per0orasi mem.ran timpani adalah 1 ). Per0orasi sentral Fokasi pada pars tensa, .isa antero < in0erior, postero < in0erior dan postero < superior, kadang < kadang su.total. )0

@am.ar 1 Per0orasi sentral! ". Per0orasi marginal Terdapat pada pinggir mem.ran timpani dengan adan%a erosi dari anulus 0i.rosus. Per0orasi marginal %ang sangat .esar digam.arkan se.agai per0orasi total. Per0orasi pada pinggir postero < superior .erhu.ungan dengan kolesteatom. )0

@am.ar * 1 Per0orasi marginal!

@am.ar , 1 #olesteatom. !

. Per0orasi atik Terjadi pada pars 0lasida, .erhu.ungan dengan primar% a;Luired ;holesteatoma. )0

11

34S# dapat di.agi atas " tipe %aitu 1 ). Tipe tu.otimpani G tipe .enigna G tipe aman G tipe mukosa. Pen%akit tu.otimpani ditandai oleh adan%a per0orasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik %ang .er/ariasi dari luas dan keparahan pen%akit. 'e.erapa 0aktor lain %ang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi Tu.a 9usta;hius, in0eksi saluran na0as atas, pertahanan mukosa terhadap in0eksi %ang gagal pada pasien dengan da%a tahan tu.uh %ang rendah, disamping itu ;ampuran .akteri aero. dan anaero., luas dan derajat peru.ahan mukosa, serta migrasi sekunder dari epitel skuamous. Sekret mukoid kronis .erhu.ungan dengan hiperplasia go.let sel, metaplasia dari mukosa telinga tengah pada tipe respirasi dan mukosiliar %ang jelek. )0 Se;ara klinis pen%akit tu.otimpani ter.agi atas1 -ase akti0 Pada jenis ini terdapat sekret pada telinga dan tuli. 'iasan%a didahului oleh perluasan in0eksi saluran na0as atas melalui tu.a euta;hius, atau setelah .erenang dimana kuman masuk melalui liang telinga luar. Sekret .er/ariasi dari mukoid sampai mukopurulen. &kuran per0orasi .er/ariasi dari se.esar jarum sampai per0orasi su.total pada pars tensa. (arang ditemukan polip %ang .esar pada liang telinga luar. Perluasan in0eksi ke sel<sel mastoid mengaki.atkan pen%e.aran %ang luas dan pen%akit mukosa %ang menetap harus di;urigai .ila tindakan konser/ati0 gagal untuk mengontrol in0eksi, atau jika granulasi pada mesotimpanum dengan atau tanpa migrasi sekunder dari kulit, dimana kadang< kadang adan%a sekret %ang .erpulsasi diatas kuadran posterosuperior. )0 -ase tidak akti0 J 0ase tenang Pada pemeriksaan telinga dijumpai per0orasi total %ang kering dengan mukosa telinga tengah %ang pu;at. @ejala %ang dijumpai .erupa tuli kondukti0 ringan. @ejala lain %ang dijumpai seperti /ertigo, tinitus,atau suatu rasa penuh dalam telinga. )0 -aktor predisposisi pada pen%akit tu.otimpani )01 $n0eksi saluran na0as %ang .erulang, alergi hidung, rhinosinusitis kronis Pem.esaran adenoid pada anak, tonsilitis kronis 4andi dan .erenang dikolam renang, mengkorek telinga dengan alat %ang terkontaminasi 4alnutrisi dan hipogammaglo.ulinemia

12

3titis media supurati0 akut %ang .erulang

". Tipe atikoantral G tipe maligna G tipe .aha%a G tipe tulang Pada tipe ini ditemukan adan%a kolesteatom dan .er.aha%a. Pen%akit atikoantral le.ih sering mengenai pars 0lasida dan khasn%a dengan ter.entukn%a kantong retraksi %ang mana .ertumpukn%a keratin sampai menghasilkan kolesteatom. )0 #olesteatom adalah suatu massa amor0, konsistensi seperti mentega, .er:arna putih, terdiri dari lapisan epitel .ertatah %ang telah nekrotis. #olesteatom dapat di.agi atas " tipe %aitu1 a7 #ongenital #riteria untuk mendiagnosa kolesteatom kongenital, menurut Derlaki dan Klemis 6)!A,7 adalah 1 'erkem.ang di.elakang dari mem.ran timpani %ang masih utuh. Tidak ada ri:a%at otitis media se.elumn%a. #ongenital kolesteatom le.ih sering ditemukan pada telinga tengah atau tulang temporal, umumn%a pada apeks petrosa. Dapat men%e.a.kan 0asialis parese, tuli sara0 .erat unilateral, dan gangguan keseim.angan. ,)0 .7 Didapat. ). Primar% a;Luired ;holesteatoma. #olesteatom %ang terjadi pada daerah atik atau pars 0lasida. ". Se;ondar% a;Luired ;holesteatoma. 'erkem.ang dari suatu kantong retraksi %ang dise.a.kan peradangan kronis .iasan%a .agian posterosuperior dari pars tensa. #hasn%a per0orasi marginal pada .agian posterosuperior. Ter.entukn%a dari epitel kanal aurikula eksterna %ang masuk ke ka/um timpani melalui per0orasi mem.ran timpani atau kantong retraksi mem.ran timpani pars tensa. 'an%ak teori %ang diajukan se.agai pen%e.a. kolesteatom %ang didapat primer, tetapi sampai sekarang .elum ada %ang .isa menunjukan pen%e.a. %ang se.enarn%a.
,)0 ,)0

13

Teori < teori itu antara lain pem.entukan kista.

,)0

a. Tekanan negati0 dalam atik, men%e.a.kan in/aginasi pars 0lasida dan .. 4etaplasia mukosa telinga tengah dan atik aki.at in0eksi. ;. Hiperplasia in/asi0 diikuti ter.entukn%a kista dilapisan .asal epidermis pars 0lasida aki.at iritasi oleh in0eksi. d. Sisa < sisa epidermis kongenital %ang terdapat di daerah atik. e. Hiperkeratosis in/asi0 dari kulit liang telinga .agian dalam Ada .e.erapa teori %ang mengatakan .agaimana epitel dapat masuk kedalam ka/um timpani. Pada umumn%a kolesteatom terdapat pada otitis media kronik dengan per0orasi marginal. teori itu adalah1 ). 9pitel dari liang telinga masuk melalui per0orasi kedalam ka/um timpani dan disini ia mem.entuk kolesteatom 6 migration teori menurut Hartmann7M epitel %ang masuk menjadi nekrotis, terangkat keatas. Di.a:ahn%a tim.ul epitel .aru. $nipun terangkat hingga tim.ul epitel < epitel mati, merupakan lamel < lamel. #olesteatom %ang terjadi ini dinamakan 2se;ondar% a;Luired ;holesteatoma5. ". . teori menurut Bendt7.
,)0 ,)0

4ukosa dari ka/um timpani mengalami metaplasia oleh karena in0eksi 6metaplasia #olesteatom %ang letakn%a pada pars 0lasida 6 atti; retra;tion;holesteatom7. 3leh karena tu.a tertutup terjadi retraksi dari mem.ran0lasida, %ang mengaki.atkan terjadi deskuamasi epitel %ang tidak lepas dan .ertumpuk. Fam.at laun epitel ini han;ur dan menjadi kista. #ista ini tam.ah lama tam.ah .esar dan tum.uh terus kedalam ka/um timpani dan mem.entuk kolesteatom. $ni dinamakan 2primar% a;Luired ;holesteatom5 atau genuines ;holesteatom5. 4ula < mula .elum tim.ul peradangan, lam.at laun dapat terjadi peradangan. Primar% dan se;ondar% a;Luired ;holesteatom ini dinamakan juga 2 pseudo;holesteatoma.
,)0

14

@am.ar A 1 Perjalanan Pen%akit 34S#!

Pato'enesis 'an%ak penelitian pada he:an per;o.aan dan preparat tulang temporal menemukan .ah:a adan%a dis0ungsi Tu.a 9usta;hius, %aitu suatu saluran %ang menghu.ungkan rongga di .elakang hidung 6naso0aring7 dengan telinga tengah 6ka/um timpani7, merupakan pen%e.a. utama terjadin%a radang telinga tengah ini 6otitis media, 347. Pada keadaan normal, muara Tu.a 9usta;hius .erada dalam keadaan tertutup dan akan mem.uka .ila kita menelan. Tu.a 9usta;hius ini .er0ungsi untuk men%eim.angkan tekanan udara telinga tengah dengan tekanan udara luar 6tekanan udara atmos0er7. -ungsi tu.a %ang .elum sempurna, tu.a %ang pendek, penampang relati0 .esar pada anak dan posisi tu.a %ang datar menjelaskan mengapa suatu in0eksi saluran na0as atas pada anak akan le.ih mudah menjalar ke telinga tengah sehingga le.ih sering menim.ulkan 34 daripada de:asa.

15

@am.ar > 1 Anatomi Tu.a 9usta;hius anak dan de:asa!

Pada anak dengan in0eksi saluran na0as atas, .akteri men%e.ar dari naso0aring melalui Tu.a 9usta;hius ke telinga tengah %ang men%e.a.kan terjadin%a in0eksi dari telinga tengah. Pada saat ini terjadi respons imun di telinga tengah. 4ediator peradangan pada telinga tengah %ang dihasilkan oleh sel<sel imun in0iltrat, seperti netro0il, monosit, dan leukosit serta sel lokal seperti keratinosit dan sel mastosit aki.at proses in0eksi terse.ut akan menam.ah permea.ilitas pem.uluh darah dan menam.ah pengeluaran sekret di telinga tengah. Selain itu, adan%a peningkatan .e.erapa kadar sitokin kemotaktik %ang dihasilkan mukosa telinga tengah karena stimulasi .akteri men%e.a.kan terjadin%a akumulasi sel<sel peradangan pada telinga tengah.
,,

4ukosa telinga tengah mengalami hiperplasia, mukosa .eru.ah .entuk dari satu lapisan, epitel skuamosa sederhana, menjadi pseudostrati'ied respirator& epit!e#ium dengan .an%ak lapisan sel di antara sel tam.ahan terse.ut. 9pitel respirasi ini mempun%ai sel go.let dan sel %ang .ersilia, mempun%ai stroma %ang .an%ak serta pem.uluh darah. Pen%em.uhan 34 ditandai dengan hilangn%a sel<sel tam.ahan terse.ut dan kem.ali ke .entuk lapisan epitel sederhana.
,,

16

Pato*o'i 3titis media supurati0 kronis le.ih sering merupakan pen%akit kam.uhan dari pada menetap. #eadaan kronis ini le.ih .erdasarkan keseragaman :aktu dan stadium dari pada keseragaman gam.aran patologi. #etidakseragaman ini dise.a.kan karena proses peradangan %ang menetap atau kekam.uhan ini ditam.ah dengan e0ek kerusakan jaringan, pen%em.uhan dan pem.entukan jaringan parut.)0 Se;ara umum gam.aran %ang ditemukan adalah)0 1 ). Terdapat per0orasi mem.rana timpani di .agian sentral. &kurann%a dapat .er/ariasi mulai kurang dari "0C luas mem.rana timpani sampai seluruh mem.rana dan terkenan%a .agian < .agian dari anulus. Dalam proses pen%em.uhann%a dapat terjadi penum.uhan epitel skuamosa kedalam ketelinga tengah. Pertum.uhan kedalam ini dapat menutupi tempat per0orasi saja atau dapat mengisi seluruh rongga telinga tengah. #adang < kadang perluasan lapisan tengah %ang ke daerah atik ini, mengaki.atan pem.entukan kantong dan kolesteatom sekunder %ang didapat. #adang < kadang terjadi pem.entukan mem.rana timpani atri0ik dua lapis tanpa unsure jaringan ikat. 4em.rana ini ;epat rusak pada periode in0eksi akti0. ". 4ukosa .er/ariasi sesuai stadium pen%akit. Dalam periode tenang, akan tampak normal ke;uali .ila in0eksi telah men%e.a.kan pene.alan atau metaplasia mukosa menjadi epitel transisional. Selama in0eksi akti0, mukosa menjadi te.al dan hiperemis serta menghasilkan sekret mukoid atau mukopurulen. Setelah pengo.atan, pene.alan mukosa dan sekret mukoid menetap aki.at dis0ungsi kronik Tu.a 9usta;hius. -aktor alergi dapat juga merupakan pen%e.a. terjadin%a peru.ahan mukosa menetap. Dalam .erjalann%a :aktu, #ristal < kristal kolesterin terkumpul dalam kantong mukus, mem.entuk granuloma kolesterol. Proses ini .ersi0at iritati0, menghasilkan granulasi pada mem.ran mukosa dan in0iltrasi sel datia pada ;airan mu;us kolesterin. . Tulang < tulang pendengaran dapat rusak atau tidak, tergantung pada .eratn%a in0eksi se.elumn%a. 'iasan%a prosesus longus inkus telah mengalami nekrosis karena pen%akit trom.otik pada pem.uluh darah mukosa %ang mendarahi inkus ini. Nekrosis le.ih jarang mengenai maleus dan stapes, ke;uali kalau terjadi pertum.uhan skuamosa se;ara sekunder kearah ke dalam, sehingga arkus stapes dan lengan maleus dapat rusak. Proses

17

ini .ukan dise.a.kan oleh osteomielitis tetapi dise.a.kan oleh ter.entuknn%a enzim osteolitik atau kolagenase dalam jaringan ikat su.epitel. *. 4astoid 34S# paling sering pada masa anak < anak. Pneumatisasi mastoid paling akhir terjadi antara , < )0 tahun. Proses pneumatisasi ini sering terhenti atau mundur oleh otitis media %ang terjadi pada usia terse.ut atau le.ih muda.'ila in0eksi kronik terus .erlanjut, mastoid mengalami proses sklerotik, sehingga ukuran prosesus mastoid .erkurang. Antrum menjadi le.ih ke;il dan pneumatisasi ter.atas, han%a ada sedikit sel udara saja sekitar antrum. $ia'nosis ). Telinga .erair 6otorrhoe7 Sekret .ersi0at purulen 6kental, putih7 atau mukoid 6seperti air dan en;er7 tergantung stadium peradangan. Sekret %ang dihasilkan oleh akti/itas kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. Pada 34S# tipe jinak, ;airan %ang keluar mukopus %ang tidak .er.au .usuk %ang sering kali se.agai reaksi iritasi mukosa telinga tengah oleh per0orasi mem.ran timpani dan in0eksi. #eluarn%a sekret .iasan%a hilang tim.ul. 4eningkatn%a jumlah sekret dapat dise.a.kan in0eksi saluran na0as atas atau kontaminasi dari liang telinga luar setelah mandi atau .erenang.)0,)),)" Pada 34S# stadium inakti0 tidak dijumpai adan%a sekret telinga. Sekret %ang sangat .au, .er:arna kuning a.u<a.u kotor mem.eri kesan kolesteatoma dan produk degenerasin%a. Dapat terlihat keping<keping ke;il, .er:arna putih, mengkilap. Pada 34S# tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah .erkurang atau hilang karena rusakn%a lapisan mukosa se;ara luas. Sekret %ang .er;ampur darah .erhu.ungan dengan adan%a jaringan granulasi dan polip telinga dan merupakan tanda adan%a kolesteatom %ang mendasarin%a. Suatu sekret %ang en;er .erair tanpa n%eri mengarah kemungkinan tu.erkulosis.)0,)),)" ". @angguan pendengaran. $ni tergantung dari derajat kerusakan tulang<tulang pendengaran. 'iasan%a dijumpai tuli kondukti0 namun dapat pula .ersi0at ;ampuran. @angguan pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat he.at, karena daerah %ang sakit ataupun kolesteatom, dapat

18

mengham.at .un%i dengan e0ekti0 ke 0enestra o/alis. 'ila tidak dijumpai kolesteatom, tuli kondukti0 kurang dari "0 d. ini ditandai .ah:a rantai tulang pendengaran masih .aik. #erusakan dan 0iksasi dari rantai tulang pendengaran menghasilkan penurunan pendengaran le.ih dari 0 d.. 'eratn%a ketulian tergantung dari .esar dan letak per0orasi mem.ran timpani serta keutuhan dan mo.ilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah. Pada 34S# tipe maligna .iasan%a didapat tuli kondukti0 .erat karena putusn%a rantai tulang pendengaran, tetapi sering kali juga kolesteatom .ertindak se.agai penghantar suara sehingga am.ang pendengaran %ang didapat harus diinterpretasikan se;ara hati<hati.)0,)),)" Penurunan 0ungsi kohlea .iasan%a terjadi perlahan<lahan dengan .erulangn%a in0eksi karena penetrasi toksin melalui jendela .ulat 60oramen rotundum7 atau 0istel la.irin tanpa terjadin%a la.irinitis supurati0. 'ila terjadin%a la.irinitis supurati0 akan terjadi tuli sara0 .erat, hantaran tulang dapat menggam.arkan sisa 0ungsi koklea.)0,)),)" . 3talgia 6 n%eri telinga7 N%eri tidak lazim dikeluhkan penderita 34S#, dan .ila ada merupakan suatu tanda %ang serius. Pada 34S# keluhan n%eri dapat karena ter.endungn%a drainase pus. N%eri dapat .erarti adan%a an;aman komplikasi aki.at ham.atan pengaliran sekret, terpaparn%a durameter atau dinding sinus lateralis, atau an;aman pem.entukan a.ses otak. N%eri telinga mungkin ada tetapi mungkin oleh adan%a otitis eksterna sekunder. N%eri merupakan tanda .erkem.ang komplikasi 34S# seperti Petrositis, su.periosteal a.ses atau trom.osis sinus lateralis.)0,)),)" *. Iertigo Iertigo pada penderita 34S# merupakan gejala %ang serius lainn%a. #eluhan /ertigo seringkali merupakan tanda telah terjadin%a 0istel la.irin aki.at erosi dinding la.irin oleh kolesteatom. Iertigo %ang tim.ul .iasan%a aki.at peru.ahan tekanan udara %ang mendadak atau pada penderita %ang sensiti0 keluhan /ertigo dapat terjadi han%a karena per0orasi .esar mem.ran timpani %ang akan men%e.a.kan la.irin le.ih mudah terangsang oleh per.edaan suhu. Pen%e.aran in0eksi ke dalam la.irin juga akan me%e.a.kan keluhan /ertigo. Iertigo juga .isa terjadi aki.at komplikasi sere.elum. -istula merupakan temuan %ang serius, karena in0eksi kemudian dapat .erlanjut dari telinga tengah dan mastoid ke telinga dalam sehingga tim.ul la.irinitis dan dari sana mungkin .erlanjut menjadi meningitis. &ji 0istula perlu

19

dilakukan pada kasus 34S# dengan ri:a%at /ertigo. &ji ini memerlukan pem.erian tekanan positi0 dan negati0 pada mem.ran timpani, dengan demikian dapat diteruskan melalui rongga telinga tengah. ,)0 Tanda K*inis Tanda<tanda klinis 34S# tipe maligna),",,,)0 1 ). Adan%a A.ses atau 0istel retroaurikular ". (aringan granulasi atau polip diliang telinga %ang .erasal dari ka/um timpani. . Pus %ang selalu akti0 atau .er.au .usuk 6 aroma kolesteatom7 *. -oto rontgen mastoid adan%a gam.aran kolesteatom. Pe%eriksaan K*inis &ntuk melengkapi pemeriksaan, dapat dilakukan pemeriksaan klinik se.agai .erikut1 ). Pemeriksaan Audiometri Pada pemeriksaan audiometri penderita 34S# .iasan%a didapati tuli kondukti0. Tapi dapat pula dijumpai adan%a tuli sensorineural, .eratn%a ketulian tergantung .esar dan letak per0orasi mem.ran timpani serta keutuhan dan mo.ilitas sistim penghantaran suara ditelinga tengah. Paparela, 'rad% dan Hoel 6)!>07 melaporkan pada penderita 34S# ditemukan tuli sensorineural %ang dihu.ungkan dengan di0usi produk toksin ke dalam skala timpani melalui mem.ran 0enstra rotundum, sehingga men%e.a.kan penurunan am.ang hantaran tulang se;ara temporerJpermanen %ang pada 0ase a:al ter.atas pada lengkung .asal kohlea tapi dapat meluas ke.agian apek kohlea. @angguan pendengaran dapat di.agi dalam ketulian ringan, sedang, sedang .erat, dan ketulian total, tergantung dari hasil pemeriksaan 6 audiometri atau test .er.isik7. )0,))

20

Derajat ketulian Nilai am.ang pendengaran)0,)) Normal 1 <)0 d' sampai "A d' Tuli ringan 1 "> d' sampai *0 d' Tuli sedang 1 *) d' sampai ,, d' Tuli sedang .erat 1 ,A d' sampai >0 d' Tuli .erat 1 >) d' sampai !0 d' Tuli total 1 le.ih dari !0 d'. @am.ar ? 1 audiometri pada tuli kondukti0.!

9/aluasi audimetri penting untuk menentukan 0ungsi kondukti0 dan 0ungsi koklea. Dengan menggunakan audiometri nada murni pada hantaran udara dan tulang serta penilaian tutur, .iasan%a kerusakan tulang<tulang pendengaran dapat diperkirakan, dan .isa ditentukan man0aat operasi rekonstruksi telinga tengah untuk per.aikan pendengaran. &ntuk melakukan e/aluasi ini, o.ser/asi .erikut .isa mem.antu)0,)) 1 a. .. Per0orasi .iasa umumn%a men%e.a.kan tuli kondukti0 tidak le.ih dari ),<"0 d' #erusakan rangkaian tulang<tulang pendengaran men%e.a.kan tuli kondukti0 0<,0 d' apa.ila disertai per0orasi. ;. Diskontinuitas rangkaian tulang pendengaran di.elakang mem.ran %ang masih utuh men%e.a.kan tuli kondukti0 ,,<A, d'. d. #elemahan diskriminasi tutur %ang rendah, tidak peduli .agaimanapun keadaan hantaran tulang, menunjukan kerusakan koklea parah. Pemeriksaan audiologi pada 34S# harus dimulai oleh penilaian pendengaran dengan menggunakan garpu tala. Audiometri tutur dengan masking dianjurkan, terutama pada tuli kondukti0 .ilateral dan tuli ;ampur.

21

". Pemeriksaan Radiologi. Pemeriksaan radiogra0i daerah mastoid pada pen%akit telinga kronis nilai diagnostikn%a ter.atas di.andingkan dengan man0aat otoskopi dan audiometri. Pemerikasaan radiologi .iasan%a mengungkapkan mastoid %ang tampak sklerotik, le.ih ke;il dengan pneumatisasi le.ih sedikit di.andingkan mastoid %ang satun%a atau %ang normal. 9rosi tulang, terutama pada daerah atik mem.eri kesan kolesteatom. )0,)) Pro%eksi radiogra0i %ang sekarang .iasa digunakan adalah 1 a. Pro%eksi S;huller, %ang memperlihatkan luasn%a pneumatisasi mastoid dari arah lateral dan atas. -oto ini .erguna untuk pem.edahan karena memperlihatkan posisi sinus lateral dan tegmen. Pada keadaan mastoid %ang skleritik, gam.aran radiogra0i ini sangat mem.antu ahli .edah untuk menghindari dura atau sinus lateral. )0,)) .. Pro%eksi 4a%er atau 3:en, diam.il dari arah dan anterior telinga tengah. Akan tampak gam.aran tulang<tulang pendengaran dan atik sehingga dapat diketahui apakah kerusakan tulang telah mengenai struktur<struktur. )0,)) ;. Pro%eksi Sten/er, memperlihatkan gam.aran sepanjang piramid petrosus dan %ang le.ih jelas memperlihatkan kanalis auditorius interna, /esti.ulum dan kanalis semisirkularis. Pro%eksi ini menempatkan antrum dalam potongan melintang sehingga dapat menunjukan adan%a pem.esaran aki.at kolesteatom. )0,)) d. Pro%eksi Khause $$$, mem.eri gam.aran atik se;ara longitudinal sehingga dapat memperlihatkan kerusakan dini dinding lateral atik. Politomogra0i dan atau KT s;an dapat menggam.arkan kerusakan tulang oleh karena kolesteatom, ada atau tidak tulang< tulang pendengaran dan .e.erapa kasus terlihat 0istula pada kanalis semisirkularis horizontal. #eputusan untuk melakukan operasi jarang .erdasarkan han%a dengan hasil H<ra% saja. Pada keadaan tertentu seperti .ila dijumpai sinus lateralis terletak le.ih anterior menunjukan adan%a pen%akit mastoid. )0,))

22

. 'akteriologi Balapun perkem.angan dari 34S# merupakan lanjutan dari mulain%a in0eksi akut, .akteriologi %ang ditemukan pada sekret %ang kronis .er.eda dengan %ang ditemukan pada otitis media supurati0 akut. 'akteri %ang sering dijumpai pada 34S# adalah Pseudomonas aeruginosa, Sta0ilokokus aureus dan Proteus. Sedangkan .akteri pada 34SA Streptokokus pneumonie, H. in0luensa, dan 4oreNella kataralis. 'akteri lain %ang dijumpai pada 34S# 9. Koli, Di0teroid, #le.siella, dan .akteri anaero. adalah 'a;teriodes sp. $n0eksi telinga .iasan%a masuk melalui tu.a dan .erasal dari hidung, sinus parasanal, adenoid atau 0aring. Dalam hal ini pen%e.a. .iasan%a adalah pneumokokus, streptokokus, atau hemo0ilius in0luenza. Tetapi pada 34S# keadaan ini agak .er.eda. #arena adan%a per0orasi mem.ran timpani, in0eksi le.ih sering .erasal dari luar %ang masuk melalui per0orasi tadi. )0,)) Penata*aksanaan Penatalaksanaan 34S# %ang e0ekti0 harus didasarkan pada 0aktor<0aktor pen%e.a. dan pada stadium pen%akitn%a. Dengan demikian haruslah die/aluasi 0aktor<0aktor %ang men%e.a.kan pen%akit menjadi kronis, peru.ahan<peru.ahan anatomi %ang menghalangi pen%em.uhan serta mengganggu 0ungsi, dan proses in0eksi %ang terdapat ditelinga. 'ila didiagnosis kolesteatom, maka mutlak harus dilakukan operasi, tetapi o.at <o.atan dapat digunakan untuk mengontrol in0eksi se.elum operasi.)) Prinsip pengo.atan tergantung dari jenis pen%akit dan luasn%a in0eksi, dimana pengo.atan dapat di.agi atas)0,)) 1 ). #onser/ati0 ". 3perasi OMSK Beni'na Tenan' #eadaan ini tidak memerlukan pengo.atan, dan dinasehatkan untuk jangan mengorek telinga, air jangan masuk ke telinga se:aktu mandi, dilarang .erenang dan segera .ero.at .ila menderita in0eksi saluran na0as atas. 'ila 0asilitas memungkinkan se.aikn%a dilakukan operasi rekonstruksi 6miringoplasti, timpanoplasti7 untuk men;egah in0eksi .erulang serta gangguan pendengaran.)0,))

23

OMSK Beni'na Aktif Prinsip pengo.atan 34S# .enigna akti0 adalah)) 1 ). ". 4em.ersihkan liang telinga dan ka/um timpani Pem.erian anti.iotika 1 anti.iotikaJantimikro.a topikal anti.iotika sistemik Pem.ersihan liang telinga dan ka/um timpan 6aural toilet7 Tujuan aural toilet adalah mem.uat lingkungan %ang tidak sesuai untuk perkem.angan mikroorganisme, karena sekret telinga merupakan media %ang .aik .agi perkem.angan mikroorganisme.))

'agan ) 1 Pengerjaan aural toilet) Kara pem.ersihan liang telinga 6aural toilet71 < Aural toilet se;ara kering 6dr% mopping7. Telinga di.ersihkan dengan kapas lidi steril, setelah di.ersihkan dapat di .eri anti.iotik .er.entuk ser.uk. Kara ini se.aikn%a dilakukan di klinik atau dapat juga dilakukan oleh anggota keluarga. Pem.ersihan liang telinga dapat dilakukan setiap hari sampai telinga kering. )0,))

24

<

Aural toilet se;ara .asah 6s%ringing7. Telinga disemprot dengan ;airan untuk mem.uang de.ris dan nanah, kemudian dengan kapas lidi steril dan di.eri ser.uk anti.iotik. 4eskipun ;ara ini sangat e0ekti0 untuk mem.ersihkan telinga tengah, tetapi dapat mengaki.atkan pen%e.aran in0eksi ke .agian lain dan ke mastoid. Pem.erian ser.uk anti.iotik dalam jangka panjang dapat menim.ulkan reaksi sensiti0itas pada kulit. Dalam hal ini dapat diganti dengan ser.uk antiseptik, misaln%a asam .ori; dengan $odine. )0,))

<

Aural toilet dengan pengisapan 6su;tion toilet7 Pem.ersihan dengan su;tion pada nanah, dengan .antuan mikroskopis operasi adalah metode %ang paling populer saat ini. #emudian dilakukan pengangkatan mukosa %ang .erproli0erasi dan polipoid sehingga sum.er in0eksi dapat dihilangkan. Aki.atn%a terjadi drainase %ang .aik dan resor.si mukosa. Pada orang de:asa %ang koperati0 ;ara ini dilakukan tanpa anastesi tetapi pada anak<anak diperlukan anastesi. Pen;u;ian telinga dengan H"3" C akan men;apai sasarann%a .ila dilakukan dengan 2 displa;ement methode5 seperti %ang dianjurkan oleh 4a:son dan Fudmann. )0,))

Pem.erian anti.iotika topikal Terdapat per.edaan pendapat mengenai man0aat penggunaan anti.iotika topikal untuk 34S#. Pem.erian anti.iotik se;ara topikal pada telinga dengan sekret %ang .an%ak tanpa di.ersihkan dulu, adalah tidak e0ekti0. 'ila sekret .erkurangJtidak progresi0 lagi di.erikan o.at tetes %ang mengandung anti.iotik dan kortikosteroid. Dianjurkan irigasi dengan garam 0aal agar lingkungan .ersi0at asam dan merupakan media %ang .uruk untuk tum.uhn%a kuman. Selain itu dikatakan .ah:a tempat in0eksi pada 34S# sulit di;apai oleh anti.iotika topikal. Djaa0ar dan @ito:irjono menggunakan anti.iotik topikal sesudah irigasi sekret pro0us dengan hasil ;ukup memuaskan, ke;uali kasus dengan jaringan patologis %ang menetap pada telinga tengah dan ka/um mastoid. 4engingat pem.erian o.at topikal dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah, maka tidak dianjurkan anti.iotik %ang ototoksik misaln%a neomisin dan laman%a tidak le.ih dari ) minggu. Kara pemilihan anti.iotik %ang paling .aik adalah dengan .erdasarkan kultur kuman pen%e.a. dan uji resistensi. 3.at<o.atan topikal dapat .erupa .u.uk atau tetes telinga %ang .iasan%a dipakai setelah telinga di.ersihkan dahulu.)0,))

25

'u.uk telinga %ang digunakan seperti)) 1 a. A;idum .ori;um dengan atau tanpa iodine .. Terram%;in. ;. A;idum .ori;um ",, gram di;ampur dengan khloromi;etin ",0 mg Pengo.atan anti.iotika topikal dapat digunakan se;ara luas untuk 34S# akti0, dikom.inasi dengan pem.ersihan telinga, .aik pada anak maupun de:asa. Neomisin dapat mela:an kuman Proteus dan Sta0ilokokus aureus tetapi tidak akti0 mela:an gram negati0 anaero. dan mempun%ai kerja %ang ter.atas mela:an Pseudomonas karena meningkatn%a resistensi. Polimiksin e0ekti0 mela:an Pseudomonas aeruginosa dan .e.erapa gram negati0 tetapi tidak e0ekti0 mela:an organisme gram positi0. Seperti aminoglikosida %ang lain, @entamisin dan -ramisetin sul0at akti0 mela:an .asil gram negati0. Tidak ada satu pun aminoglikosida %ang e0ekti0 mela:an kuman anaero..)) 'iasan%a tetes telinga mengandung kom.inasi neomisin, polimiksin dan hidrokortison, .ila sensiti0 dengan o.at ini dapat digunakan sul0anilaid<steroid tetes mata. #loram0enikol tetes telinga tersedia dalam a;id ;arrier dan telinga akan sakit .ila diteteskan. #loram0enikol akti0 mela:an .asil gram positi0 dan gram negati0 ke;uali Pseudomonas aeruginosa, tetapi juga e0ekti0 mela:an kuman anaero., khususn%a. Pemakaian jangka panjang lama o.at tetes telinga %ang mengandung aminoglikosida akan merusak 0oramen rotundum, %ang akan men%e.a.kan ototoksik.)) Anti.iotika topikal %ang dapat dipakai pada otitis media kronik adalah)0 1 ). Polimiksin ' atau polimiksin 9 3.at ini .ersi0at .akterisid terhadap kuman gram negati0, Pseudomonas, 9. #oli #le.eilla, 9ntero.akter, tetapi resisten terhadap gram positi0, Proteus, '. 0ragilis Toksik terhadap ginjal dan susunan sara0. ". Neomisin 3.at .akterisid pada kuma gram positi0 dan negati0, misaln%a 1 Sta0ilokokus aureus, Proteus sp. Resisten pada semua anaero. dan Pseudomonas. Toksik terhadap ginjal dan telinga.

26

. #loram0enikol 3.at ini .ersi0at .akterisid terhadap 1 Sta0ilokokus, koagulase positi0, !!C Sta0ilokokus, koagulase positi0, !,C Sta0ilokokus group A, )00C 9. #oli, !AC Proteus sp, A0C Proteus mira.ilis, !0C #le.siella, !"C 9ntero.akter, ! C Pseudomonas, ,C Dari penelitian terhadap ,0 penderita 34S# %ang di.eri o.at tetes telinga dengan o0loksasin 6 gol. #uinolon 7 dimana didapat ??,!AC sem.uh, mem.aik ?,A!C dan tidak ada per.aikan *,, C. )0 Anti.iotika topikal %ang sering digunakan pada pengo.atan 3titis 4edia Supurati0 #ronik 634S#7 adalah) 1

'agan "1 Anti.iotik Topikal)

27

( )atatan1 Terapi topikal le.ih .aik di.andingkan dengan terapi sistemik. Tujuann%a untuk mendapatkan konsentrasi anti.iotik %ang le.ih tinggi. Pilihan anti.iotik %ang memiliki akti0itas terhadap .akterigram negati0, terutama pseudomonas, dan gram positi0terutama Staph%lo;o;;us aureus. Pem.erian anti.iotik seringkali gagal, hal ini dapat dise.a.kan adan%a de.ris selain juga aki.at resistensi kuman. Terapi sistemik di.erikan pada pasien %ang gagal dengan terapi topikal. (ika 0okus in0eksi di mastoid, tentun%a tidak dapat han%a dengan terapi topikal saja, pem.erian anti.iotik sistemik 6seringkali $I7 dapat mem.antu mengeliminasi in0eksi. Pada kondisi ini se.aikn%a pasien di ra:at di RS untuk mendapatkan aural toilet %ang le.ih intensi0. Terapi dilanjutkan hingga <* minggu setelah otore hilang.) Pem.erian anti.iotika sistemik Pemilihan anti.iotika sistemik untuk 34S# juga se.aikn%a .erdasarkan kultur kuman pen%e.a.. Pem.erian anti.iotika tidak le.ih dari ) minggu dan harus disertai pem.ersihan sekret pro0us. 'ila terjadi kegagalan pengo.atan , perlu diperhatikan 0aktor pen%e.a. kegagalan %ang ada pada penderita terse.ut.)) Dalam penggunaan antimikro.a, perlu diketahui da%a .unuh antimikro.a terhadap masing< masing jenis kuman pen%e.a., kadar ham.at minimal terhadap masing<masing kuman pen%e.a., da%a penetrasi antimikro.a di masing<masing jaringan tu.uh dan toksisitas o.at terhadap kondisi tu.uh. 'erdasarkan konsentrasi o.at dan da%a .unuh terhadap mikro.a, antimikro.a dapat di.agi menjadi " golongan. @olongan pertama antimikro.a dengan da%a .unuh %ang tergantung kadarn%a. 4akin tinggi kadar o.at, makin .an%ak kuman ter.unuh, misaln%a golongan aminoglikosida dan kuinolon. @olongan kedua adalah antimikro.a %ang pada konsentrasi tertentu da%a .unuhn%a paling .aik. Peninggian dosis tidak menam.ah da%a .unuh antimikro.a golongan ini, misaln%a golongan .eta laktam.)) Anti.iotika golongan kuinolon 6sipro0loksasin dan o0loksasin7 mempun%ai akti0itas anti pseudomonas dan dapat di.erikan peroral. Tetapi tidak dianjurkan di.erikan untuk anak dengan umur di.a:ah )A tahun. @olongan se0alos0orin generasi $$$ 6se0otaksim, se0tazidim dan se0triakson7 juga akti0 terhadap pseudomonas, tetapi harus di.erikan se;ara parenteral. Terapi ini sangat .aik untuk 34A sedangkan untuk 34S# .elum pasti ;ukup, meskipun dapat mengatasi

28

34S#. 4etronidazol mempun%ai e0ek .akterisid untuk kuman anaero.. 4etronidazol dapat di.erikan pada 34S# akti0, dosis *00 mg per ? jam selama " minggu atau "00 mg per ? jam selama "<* minggu.)) OMSK Ma*i'na Pengo.atan %ang tepat untuk 34S# maligna adalah operasi. Pengo.atan konser/ati0 dengan medikamentosa han%alah merupakan terapi sementara se.elum dilakukan pem.edahan. 'ila terdapat a.ses su.periosteal, maka insisi a.ses se.aikn%a dilakukan tersendiri se.elum kemudian dilakukan mastoidektomi.),)) Ada .e.erapa jenis pem.edahan atau tehnik operasi %ang dapat dilakukan pada 34S# dengan mastoiditis kronis, .aik tipe .enigna atau maligna, antara lain),)) 1 ). 4astoidektomi sederhana 6 simple mastoide;tom%7 3perasi ini dilakukan pada 34S# tipe aman %ang dengan pengo.atan konser/ati0 tidak sem.uh. Dengan tindakan operasi ini dilakukan pem.ersihan ruang mastoid dari jaringan patologik. Tujuann%a ialah supa%a in0eksi tenang dan telinga tidak .erair lagi. Pada operasi ini 0ungsi pendengaran tidak diper.aiki.) ". 4astoidektomi radikal 3perasi ini dilakukan pada 34S# tipe .aha%a dengan in0eksi atau kolesteatoma %ang sudah meluas. ) Pada operasi ini rongga mastoid dan ka/um timpani di.ersihkan dari semua jaringan patologik. Dinding .atas antara liang telinga luar dan telinga tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan, sehingga ketiga daerah anatomi terse.ut menjadi satu ruangan. ) Tujuan operasi ini ialah untuk mem.uang semua jaringan patologik dan men;egah komplikasi ke intra;ranial. -ungsi pendengaran tidak diper.aiki. ) #erugian operasi ini ialah pasien tidak diper.olehkan seumur hidupn%a. Pasien harus datang dengan teratur untuk kontrol, supa%a tidak terjadi in0eksi kem.ali.

29

Pendengaran kurang sekali sehingga dapat mengham.at pendidikan atau karier pasien. ) 4odi0ikasi operasi ini ialah dengan memasang tandur 6gra0t7 pada rongga operasi serta mem.uat meatoplasti %ang le.ar, sehingga rongga operasi kering permanen, tetapi terdapat ;a;at anatomi, %aitu meatus liang telinga luar menjadi le.ar.) . 4astoidektomi radikal dengan modi0ikasi 3perasi ini dilakukan pada 34S# dengan kolesteatoma di daerah atik, tetapi .elum merusak ka/um timpani. Seluruh rongga mastoid di.ersihkan dan dinding posterior liang telinga direndahkan. ) Tujuan operasi ialah untuk mem.uang semua jaringan patologik dari rongga mastoid dan mempertahankan pendengaran %ang masih ada. ) *. 4iringoplasti 3perasi ini merupakan jenis timpanoplasti %ang paling ringan, dikenal juga dengan nama timpanoplasti tipe $. Rekonstruksi han%a dilakukan pada mem.ran timpani. ) Tujuan operasi ialah untuk men;egah .erulangn%a in0eksi telinga tengah pada 34S# tipe aman dengan per0orasi %ang menetap. ) 3perasi ini dilakukan pada 34S# tipe aman %ang sudah tenang dengan keluhan ringan han%a dise.a.kan oleh per0orasi mem.ran timpani. ) ,. Timpanoplasti 3perasi ini dikerjakan pada 34S# tipe aman dengan kerusakan %ang le.ih .erat atau 34S# tipe aman %ang tidak .isa ditenangkan dengan pengo.atan medikamentosa. Tujuan operasi ialah untuk men%em.uhkan pen%akit serta memper.aiki pendengaran. )

30

Pada operasi ini selain rekonstruksi mem.ran timpani sering kali harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran. 'erdasarkan .entuk tulang pendengaran %ang dilakukan maka dikenal istilah timpanoplasti tipe $$, $$, $I dan I. ) Se.elum rekonstruksi dikerjakan, le.ih dahulu dilakukan eksplorasi ka/um timpani dengan atau tanpa mastoidektomi, untuk mem.ersihkan jaringan patologis. Tidak jarang operasi ini dilakukan dua tahap dengan jarak :aktu A sJd )" .ulan. ) A. Pendekatan ganda timpanoplasti 6 Kom.ined approa;h t%mpanoplast%7 3perasi ini merupakan teknik operasi timpanoplasti %ang dikerjakan pada kasus 34S# tipe .aha%a atau tipe aman dengan jaringan granulasi %ang luas. ) Tujuan operasi untuk men%em.uhkan pen%akit serta memper.aiki pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal 6 tanpa meruntuhkan dinding posterior liang telinga 7. 4em.ersihkan kolesteatoma dan jaringan granulasi di ka/um timpani, dikerjakan melalui " jalan 6 ;om.ined approa;h 7 %aitu melalui liang telinga dan rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior. Teknik operasi ini pada 34S# tipe .aha%a .elum disepakati oleh para ahli, oleh karena sering terjadi kam.uhn%a kolesteatoma kem.ali. )

'agan . Pem.edahan pada tatalaksana 34S#)

31

Tujuan operasi adalah menghentikan in0eksi se;ara permanen, memper.aiki mem.ran timpani %ang per0orasi, men;egah terjadin%a komplikasi atau kerusakan pendengaran %ang le.ih .erat, serta memper.aiki pendengaran.)) Pedoman umum pengo.atan penderita 34S# adalah Algoritma .erikut)0 1

'agan *. Algoritma Pengo.atan 34S# )0

32

Ko%p*ikasi 3titis media supurati0 akut atau kronis mempun%ai potensi untuk menjadi serius karena komplikasin%a dapat mengan;am kesehatan dan dapat men%e.a.kan kematian. 'entuk komplikasi ini tergantung pada kelainan patologi %ang men%e.a.kan otore. #omplikasi ini .iasan%a di dapatkan pada pasien 34S# tipe .aha%a tetapi 34S# tipe manapun dapat men%e.a.kan komplikasi .ila terin0eksi kuman %ang /irulen 6 eksaser.asi akut 7. Dengan tersedian%a anti.iotika mutakhir komplikasi otogenik menjadi semakin jarang. #omplikasi intra;ranial %ang serius le.ih sering terlihat pada eksaser.asi akut dari 34S# .erhu.ungan dengan kolesteatom. )0,) #omplikasi otitis media terjadi apa.ila sa:ar 6.arier7 pertahanan telinga tengah dile:ati sehingga in0eksi menjalar ke struktur di sekitarn%a." a. Pertahanan pertama 8aitu mukosa ka/um timpani %ang mampu melokalisasi in0eksi. 'ila sa:ar pertahanan ini runtuh masih ada sa:ar pertahanan %ang kedua %aitu dinding tulang ka/um timpani dan sel mastoid." .. Pertahanan kedua 8aitu dinding tulang ka/um timpani dan sel mastoid. Runtuhn%a periosteum akan men%e.a.kan terjadin%a a.ses su.periosteal 6tidak .er.aha%a7. Apa.ila in0eksi mengarah kedalam %aitu ke tulang temporal akan men%e.a.kan paresis n.I$$ atau la.irinitis. 'ila kearah kranial akan men%e.a.kan a.ses ekstradural, trom.o0le.itis sinus lateralis, meningitis, dan a.ses otak." ;. Pertahanan ketiga 8aitu ter.entukn%a jaringan granulasi. $ni terjadi jika sa:ar tulang terlampaui. ) Pada otitis media supurati0 akut pen%e.aran melalui hematogen atau osteotrom.o0le.itis, sedangkan pada otitis media supurati0 kronis pen%e.aran terjadi melalui erosi tulang. Kara pen%e.aran lainn%a %aitu toksin masuk melalui jalan %ang sudah ada misaln%a

33

melalui 0enestra rotondum, meatus akustikus internus, duktus perilim0atik dan duktus endolim0atik." Dari gejala dan tanda %ang ditemukan dapat diperkirakan jalan pen%e.aran suatu in0eksi telinga tengah ke intra kranial." A. Pen%e.aran se;ara hematogen Pen%e.aran se;ara hematogen dapat diketahui dengan adan%a " 1 - #omplikasi terjadi pada a:al in0eksi, dapat terjadi pada hari pertama atau kedua sampai hari kesepuluh. - @ejala prodromal tidak jelas seperti pada gejala meningitis lokal - Pada operasi didapatkan dinding tulang telinga tengah utuh dan tulang serta lapisan mukoperiosteal meradang dan mudah .erdarah sehingga dise.ut juga mastoiditis hemoragika. '. Pen%e.aran melalui erosi tulang Pen%e.aran melalui erosi tulang dapat diketahui .ila" 1 - #omolikasi terjadi .e.erapa minggu atau le.ih setelah a:al pen%akit. - @ejala prodromal in0eksi lokal mendahului gejala in0eksi %ang luas misaln%a paresis n.I$$ ringan %ang hilang tim.ul mendahului paresis n.I$$ total atau gejala meningitis lokal mendahului meningitis purulen. - Pada operasi ditemukan lapisan tulang %ang rusak diantara 0okus supurasi dengan struktur sekitarn%a . K. Pen%e.aran melalui jalan %ang sudah ada Pen%e.aran melalui jalan %ang sudah ada dapat diketahui .ila" 1 - #omplikasi terjadi pada a:al pen%akit .

34

- Ada serangan la.irinitis atau meningitis .erulang, mungkin ditemukan 0raktur tengkorak, ri:a%at operasi tulang, ri:a%at otitis media %ang sudah sem.uh. #omplikasi intra kranial mengikuti komplikasi la.irinitis supurati0. - Pada operasi ditemukan jalan penjalaran melalui sa:ar tulang %ang .ukan karena erosi. Perjalanan komplikasi in0eksi telinga tengah ke intra kranial harus mele:ati ). Dari rongga telinga tengah ke selaput otak. 4elalui jalan %ang sudah ada, seperti garis 0raktur tulang temporal, .agian tulang %ang lemah atau de0ek karena pem.edahan, dapat memudahkan masukn%a in0eksi. Fa.irin juga dapat dianggap se.agai jalan pen%e.aran %ang sudah ada .egitu telah terin0eksi, men%e.a.kan mudahn%a in0eksi ke 0osa kranii media. (alan lain pen%e.aran ialah melalui trom.o0le.itis /ena emisaria menem.us dinding mastoid ke dura dan sinus durameter. Trom.o0le.itis pada susunan kanal ha/ersian merupakan osteitis atau osteomielitis dan merupakan 0aktor utama pen%e.aran menem.us sa:ar tulang daerah mastoid dan telinga tengah. ". 4enem.us selaput otak. Dimulai .egitu pen%akit men;apai dura, men%e.a.kan pakimeningitis. Dura sangat resisten terhadap pen%e.aran in0eksi, akan mene.al, hiperemi, dan le.ih melekat ketulang. (aringan granulasi ter.entuk pada dura %ang ter.uka, dan ruang su.dura %ang .erdekatan tero.literasi. . 4asuk kejaringan otak. Pem.entukan a.ses .iasan%a terjadi pada daerah diantara /entrikel dan permukaan korteks atau tengah lo.us sere.elum. Kara pen%e.aran in0eksi ke jaringan otak ini dapat terjadi .aik aki.at trom.o0le.itis atau perluasan in0eksi ke ruang Iir;ho: Ro.in %ang .erakhir didaerah /askular su.kortek. 'ila dengan pengo.atan medikamentosa tidak .erhasil mengurangi gejala klinik dengan tidak .erhentin%a otorea, dan pada pemeriksaan otoskopik tidak menunjukkan .erkurangn%a reaksi in0lamasi dan pengumpulan ;airan maka harus di:aspadai komplikasi." ma;am lintasan 1

35

Pada stadium akut naikn%a suhu tu.uh, n%eri kepala atau adan%a tanda toksisitas seperti malaise, somnolen, gelisah %ang menetap dapat merupakan tanda .aha%a. Tim.uln%a n%eri kepala di parietal atau oksipital dan mual muntah pro%ektil serta kenaikan suhu .adan %ang menetap selama terapi di.erikan merupakan tanda komplikasi intrakranial." Adam dkk 6)!?!7 mengemukakan klasi0ikasi se.agai .erikut ",)01 A. #omplikasi ditelinga tengah 1 ). Per0orasi persisten ". 9rosi tulang pendengaran . Paralisis ner/us 0asial '. #omplikasi telinga dalam ). -istel la.irin ". Fa.irinitis supurati0 . Tuli sara0 6 sensorineural7 K. #omplikasi ekstradural ). A.ses ekstradural ". Trom.osis sinus lateralis . Petrositis D. #omplikasi ke susunan sara0 pusat ). 4eningitis ". A.ses otak . Hindrose0alus otitis Paparella dan Shumri;k 6)!?07 mem.agi dalam )01 A. #omplikasi otologik ). 4astoiditis koalesen ". Petrositis . Paresis 0asialis *. Fa.irinitis '. #omplikasi $ntrakranial ). A.ses ekstradural ". Trom.osis sinus lateralis

36

. A.ses su.dural *. 4eningitis ,. A.ses otak A. Hidrose0alus otitis Sham.ough 6"00 7 mem.agi atas komplikasi meningeal dan non meningeal ",)01 A. #omplikasi intratemporal ). Per0orasi mem.ran timpani ". 4astoiditis akut . Paresis n. -asialis *. Fa.irinitis ,. Petrositis '. #omplikasi ekstratemporal ). A.ses su.periosteal K. #omplikasi intrakranial ). ". . *. ,. A.ses otak Trom.o0le.itis Hidrose0alus otikus 9mpiema su.dural A.ses su.duralJ ekstradural

37

BAB IPEN!T!P

3titis media supurati0 kronik ialah in0eksi kronik di telinga tengah le.ih dari " .ulan dengan adan%a per0orasi mem.ran timpani, sekret %ang keluar dari telinga tengah dapat terus menerus atau hilang tim.ul. Sekret .isa en;er atau kental, .ening atau .erupa nanah. Tipe klinik 34S# di.agi atas dua, %aitu tipe aman 6tipe mukosa, 34S# tipe jinak7 dan tipe .aha%a 6tipe tulang, 34S# tipe ganas7.#ehidupan sosial ekonomi %ang rendah, lingkungan kumuh dan status kesehatan serta gizi %ang jelek merupakan 0aktor %ang menjadi dasar untuk meningkatn%a pre/alensi 34S# pada negara %ang sedang .erkem.ang.Pen%akit ini pada umumn%a tidak mem.erikan rasa sakit ke;uali apa.ila sudah terjadi komplikasi. 'iasan%a komplikasi didapatkan pada penderita 34S# tipe maligna seperti la.irinitis, meningitis, a.ses otak dan dapat men%e.a.kan kematian. 3titis media supurati0 akut atau kronis mempun%ai potensi untuk menjadi serius karena komplikasin%a dapat mengan;am kesehatan dan dapat men%e.a.kan kematian. 'entuk komplikasi ini tergantung pada kelainan patologi %ang men%e.a.kan otore. #omplikasi ini .iasan%a di dapatkan pada pasien 34S# tipe .aha%a tetapi 34S# tipe manapun dapat men%e.a.kan komplikasi .ila terin0eksi kuman %ang /irulen 6 eksaser.asi akut 7. Dengan tersedian%a anti.iotika mutakhir komplikasi otogenik menjadi semakin jarang. Pem.erian o.at< o.at itu sering men%e.a.kan gejala dan tanda klinis komplikasi 34S# menjadi kurang jelas.

38

$AFTAR P!STAKA
). Djaa0ar ZA. *e#ainan te#inga tenga!. Dalam1 Soepardi, 9, et al, 9d. 'uku Ajar $lmu Pen%akit Telinga Hidung Tenggorokan. 9disi I$. 'alai Pener.itan -#&$, (akarta. "00A1 p. A*<>>. ". Helmi. #omplikasi otitis media supurati0 kronis dan mastoiditis. Dalam1 Soepardi 9A, $skandar N, 9d. 'uku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. 9disi I$. (akarta1 -#&$, "00). h. >?<?,.
3. A;uin, (ose. Khroni; Suppurati/e 3titis 4edia. '4( Klini;al 9/iden;e. FondonM

Pu.lished online "00> -e.ruar% ). O;ited "0)* (anuari http1JJ:::.n;.i.nlm.nih.go/Jpm;Jarti;lesJP4K"!* ?)*J *. 'allenger ((. *)".

)P A/aila.le 0rom1

en&akit Te#inga *ronis. Dalam 'uku Pen%akit Telinga, Hidung,

Tenggorok, #epala dan Feher. 9d.) (ilid Satu. 'inarupa Aksara, (akarta. )!!*1 p. !"<

,. BH3. Khroni; suppurati/e otitis media .urden o0 illness and management options. Khild and adoles;ent health and de/elopment pre/ention o0 @ene/a, S:itzerlandM "00*.p.)0. O;ited "0)* (anuari ) P A/aila.le 0rom 1 http1JJ:::.:ho.intJp.dJpu.li;ationsJKhroni;suppurati/eotitisQmedia.pd0 A. Paparella 44, Adams @F, Fe/ine SK. Pen%akit telinga tengah dan mastoid. Dalam1 900endi H, Santoso #, 9d. '3$9S .uku ajar pen%akit THT. 9disi A. (akarta1 9@K, )!!>1 ??<))?. >. Netter -H. Head and Ne;k. $n1 NetterEs Klini;al Anatom% "nd ed. Hansen, (ohn T editors. Phliladelphia1 9lsei/ier. "0)). *00<* ?. Soetirto $, Hendarmin H, 'ashiruddin. @angguan Pendengaran dan #elainan Telinga. Dalam1 'uku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala dan leher edisi A. Soepardi 9A, $skandar N, 'ashiruddin (, Restuti RD editors. (akarta1 'alai Pener.it -#&$. "0)0.)0<A.

39

9. Pi;ture

per0orasi mem.rane timpani. &pdated "0 (uli "0)". A/aila.le at 1

http1JJ.ahankedokteran.:ordpress.;omJ"0)"J0>J"0Jotitis<media<supurati0<kronik<omskJ )0. Nursiah, Siti. Pola #uman Aero. Pen%e.a. 34S# dan #epekaan terhadap .e.erapa Anti.iotika di .agian THT -# &S& J RS&P H. Adam 4alik 4edan. O disertasi P4edanM "00 . )). Paparella et al. 3tolar%ngolog%. Iolume $$<3tolog% and Neuro<otolog% Third 9dition. B' Saunders Kompan%M )!!). p1) A . )". Paparella 44., et all Pen%akit Telinga Tengah dan 4astoid, 9ditor 900endi H, Santoso #, Dalam 1'oies 'uku Ajar Pen%akit THT, Alih 'ahasa 1 Dr. Karoline Bija%a, 9disi A, (akarta, 9@K, )!!* M ?? < )) . ) . Penatalaksanaan 3titis 4edia Supurati0 #ronik 634S#7. Kermin Dunia #edokteran )A J/ol. , no.*J (uli+Agustus "00?.

40