Anda di halaman 1dari 20

Suplemen PETUNJUK PENULISAN USULAN PENELITIAN DAN TESIS

Suplemen PETUNJUK PENULISAN USULAN PENELITIAN DAN TESIS Oleh: Achmad Djunaedi Untuk dipakai di PROGRAM PASCASARJANA

Oleh:

Achmad Djunaedi

Untuk dipakai di

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER PERENCANAAN KOTA & DAERAH UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA

Edisi Juni 2002

Edisi Pertama: Mei 2002 Edisi Kedua: Juni 2002

Djunaedi, A. 2002. Suplemen Petunjuk Penulisan Usulan Penelitian dan Tesis. Edisi Kedua-Juni 2002. Program Pascasarjana Magister Perencanaan Kota & Daerah (MPKD), Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Kontak ke penulis:

E-mail:

achmaddjunaedi@yahoo.com

adjun@ugm.ac.id

Telpon:

0274-580095 (MPKD) Fax: 0274-580852

SMS: 0811293897

Website: http://mgate.ugm.ac.id/~adjun/

ii

DAFTAR ISI

Halaman

I. PENGANTAR

II. KESALAHAN UMUM TATA CARA PENGETIKAN

A. Jenis huruf

B. Bilangan dan satuan

C. Alinea baru

D. Judul, sub judul, anak sub judul dan lain-lain

E. Rincian ke bawah

F. Gambar dan Tabel

III. KESALAHAN UMUM PEMAKAIAN

BAHASA INDONESIA

A. Tanda baca

B. Huruf besar

C. Alinea dan Kalimat

D. Kata depan “di”

E. Kata sambung “sedangkan”

F. Kata tanya “dimana”

G. Kata baku bahasa Indonesia

IV. KESALAHAN UMUM SUBSTANTIF

A. Penulisan latar belakang permasalahan

B. Penulisan pertanyaan penelitian

C. Penulisan tinjauan pustaka dan daftar pustaka

D. Penulisan metode penelitian

E. Penulisan temuan dan pembahasan serta hubungannya dengan kesimpulan

V. KESALAHAN UMUM LAIN-LAIN

A. Penghindaran plagiatisme

B. Penulisan Abstract (bahasa Inggris)

C. Penulisan Lampiran

VI. TANDA-TANDA KOREKSI

iii

1

VII. TAMBAHAN PEDOMAN PENULISAN KUTIPAN

PUSTAKA (CITATION) DAN DAFTAR PUSTAKA

27

A. Penulisan Kutipan Pustaka Cetak dan Elektronis

27

B. Penulisan Daftar Pustaka Cetak dan Elektronis

28

iv

I. PENGANTAR

lebih

memperjelas isi buku Petunjuk Penulisan Usulan Penelitian dan Tesis yang diterbitkan oleh Program Pascasarjana UGM (Edisi

Agustus 2001). Meskipun petunjuk tersebut telah lengkap, namun

dalam

kesalahan- kesalahan. (beberapa penulis tesis memang belum sempat membaca dengan baik petunjuk tersebut). Di samping itu, suplemen petunjuk ini berupaya menambah

hal-hal yang dirasa berguna, terutama karena pemakaian teknologi

melakukan

Maksud

penyusunan

tulisan

ini

adalah

untuk

kenyataannya

para

penulis

tesis

masih

banyak

internet) untuk pengetikan tesis (dengan asumsi:

memakai perangkat lunak Microsoft Word untuk PC). Petunjuk yang disusun oleh Program Pascasarjana UGM lebih bernuansa teknologi mesin ketik, maka beberapa hal dalam petunjuk tersebut

komputer

(dan

perlu diinterpretasikan secara hati-hati dalam pemakaian teknologi komputer.

dengan

Beberapa

hal

lain

yang

ditambahkan

berkaitan

pemakaian

bahasa

dan

penghindaran

plagiatisme.

Hal-hal

ini

sebenarnya

telah

ada

dalam

buku

petunjuk

dari

Program

Pascasarjana tapi dalam jumlah yang sedikit dan beberapa bersifat implisit. Beberapa hal dalam buku suplemen ini dapat dianggap bersifat “interpretatif”. Oleh karena itu, pemakaian buku suplemen ini harap dibatasi hanya pada Program Magister Perencanaan Kota dan Daerah (MPKD) UGM saja, dan terutama untuk mahasiswa pelaku tesis dalam bimbingan penulis buku suplemen ini.

2

II. KESALAHAN UMUM TATA CARA PENGETIKAN

A. Jenis Huruf

Dengan mempertimbangkan bahwa kita memakai komputer (Ms. Word) maka untuk huruf dalam alinea atau kalimat pakailah ukuran 12. Macam huruf (font) sebaiknya dipilih salah satu dari bebarapa pilihan berikut ini:

1)

Times New Roman (ukuran 12)

2)

Arial (ukuran 12)

Karena kita memakain teknologi komputer, maka hasil cetakan naskah kita sama dengan standar cetak. Dalam standar cetak, bila dalam naskah ada kata yang diberi garis bawah, maka dalam cetakan, hurufnya akan ditebalkan (bold) atau dimiringkan (italic). Dengan demikian, meskipun dalam buku petunjuk dari Program Pascasarjana dianjurkan pemakaian garis bawah, tetapi itu hanya berlaku untuk penggunaan mesin ketik (yang tidak bisa mengetik huruf tebal, apalagi huruf miring). Berkaitan dengan itu, jangan memakai garis bawah untuk sub judul, kata asing dan sebagainya (meskipun itu dianjurkan dalam buku petunjuk Program Pascasarjana). Catatan: semua kata asing dicetak miring.

B. Bilangan dan Satuan

Tidak perlu memakai standar penulisan akuntan, seperti pada penulisan kuitansi, yaitu menuliskan angka disertai kata di dalam kurung. Misal: 2 (dua), 10 (sepuluh). Penulisan seperti ini tidak perlu dilakukan. Pilih salah satu saja, angka atau kata. Dianjurkan untuk bilangan di bawah 10, pakailah kata (misal: satu, dua, tiga, delapan), sedangkan untuk bilangan 10 ke atas, pakailah angka

3

(kecuali bila bilangan tersebut mengawali kalimat, maka harus ditulis dalam bentuk kata). Satuan perlu ditulis dengan tanda yang resmi (lihat buku “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan / EYD”). Dengan teknologi komputer, tidak sulit untuk menuliskan huruf kuadrat, yang melayang (superscript), misal km 2 , maka tulislah seperti itu (jangan seperti ini: km2).

C. Alinea Baru

Dalam buku petunjuk dari Program Pascasarjana disebutkan bahwa “alinea baru dimulai pada ketikan yang ke-6 dari batas tepi kiri”. Petunjuk ini mudah diterapkan bila kita menggunakan mesin ketik, tapi bila menggunakan Ms. Word maka akan sulit karena Ms. Word menggunakan azas “proporsional” untuk menempatkan huruf-hurufnya (artinya jarak antar huruf berbeda, tergantung lebar huruf masing-masing). Jarak yang diukur dengan mengetikkan 5 huruf “a” akan berbeda dengan jarak 5 huruf “w”. Untuk mengatasi hal ini, yang penting buatlah jarak tersebut konsisten untuk semua alinea baru. Caranya: pilih huruf yang bukan paling gemuk (“w”, “m”) dan bukan paling ramping (“i”, “l”), misal pilihlah “a” atau “n”. Ketiklah 5 huruf itu dari tepi kiri, perhatikan tanda penggaris di bagian atas layar komputer (Ms. Word) dan tandai jarak lima huruf tersebut dan disitulah letak untuk huruf ke- 6 atau tempat mulai setiap alinea baru.

D. Judul, Sub Judul, Anak Sub Judul dan Lain-lain

Dalam buku petunjuk dari Program Pascasarjana, untuk sub judul, anak sub judul, dan sub anak sub judul ditulis dengan diberi garis bawah. Untuk pengetikan dengan komputer, sebaiknya tidak

4

5

memakai garis bawah tapi diganti dengan huruf tebal atau huruf miring, dengan anjuran sebagai berikut:

a. Judul bab ditulis dengan huruf besar semua dan diatur supaya simetris, ditempatkan di ujung atas halaman baru; judul diketik dengan huruf tebal (bold); judul ditulis tanpa diakhiri titik. Pakailah ukuran 14 untuk judul bab.

b. Sub judul ditulis simetris di tengah-tengah, semua kata

kata

penghubung dan kata depan, dan semua huruf ditebalkan (bold), tanpa diakhiri dengan titik. Pakailah ukuran 14 untuk sub judul.

dimulai dengan

huruf

besar

(kapital),

kecuali

c. Anak sub judul diketik mulai dari batas tepi kiri; huruf pertama saja yang merupakan huruf besar; huruf ditebalkan (bold), tanpa diakhiri titik. Pakailah ukuran 12 untuk anak sub judul. Kalimat pertama setelah anak sub judul dimulai dengan alinea baru.

d. Sub anak sub judul diketik mulai dari batas alinea baru, dengan huruf yang ditebalkan dan sekaligus dimiringkan (bold-italic), dapat diakhiri titik atau tidak. Bila tidak diakhiri titik maka sub anak sub judul tersebut merupakan awal dari suatu kalimat. Bila diakhiri titik maka setelah titik dapat diteruskan dengan kalimat penjelasan dalam judul

tersebut. Pakailah ukuran 12 untuk sub anak sub judul. Catatan: jangan tinggalkan sebuah judul sendirian sebagai baris paling bawah pada suatu halaman (dalam hal seperti ini, paksalah judul tersebut pindah ke halaman berikutnya).

judul-judul

tersebut di atas, lihatlah contoh di bawah ini:

Untuk

memberi

gambaran

petunjuk

penulisan

Judul bab Sub judul Anak sub judul Sub anak sub judul BAB I. PENDAHULUAN I.1.
Judul bab
Sub judul
Anak sub judul
Sub anak sub judul
BAB I. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang Permasalahan
I.1.1. Latar belakang
a. Isu yang mendorong penelitian ini antara lain terjadinya
krisis ekonomi yang berkepanjangan menyebabkan timbulnya
kemiskinan perkotaan. Kemiskinan ini telah memaksa penduduk
kota untuk berkreasi dalam mencari nafkahnya, salah satunya

E. Rincian ke Bawah

Dalam buku petunjuk dari Program Pascasarjana telah jelas

bahwa rincian ke bawah perlu menggunakan butir angka atau huruf; tidak boleh menggunakan tanda “-“ atau “.” atau semacamnya. Tapi masih banyak penulis tesis yang melanggar hal

angka

memudahkan penunjukan butir tersebut dalam diskusi (misal butir

3 atau butir c). Akan sulit bila digunakan tanda “-“, maka kita harus menghitung dulu, “urutan ke berapa dari atas”.

dapat

menggunakan huruf besar atau huruf kecil. Bila diawali dengan huruf besar, maka tiap kalimat perlu diakhiri dengan titik, sedangkan bila diawali dengan huruf kecil, maka tiap kalimat (kecuali butir terbawah) diakhiri dengan koma atau titik koma. Dalam hal ini, butir terbawah diakhiri dengan titik. Contoh format rincian yang dianjurkan terlihat seperti di bawah ini.

ini. Penggunaan butir

(rincian

ke

bawah)

dengan

Selain

itu,

permulaan

kalimat

dalam

rincian

6

7

Macam kota menurut ukurannya sebagai berikut:

1)

Kota Besar, misalnya: Jakarta dan Surabaya.

2)

Kota Sedang, misalnya: Yogyakarta, Semarang.

3)

Kota Kecil, misalnya: Bantul, Wates.

 

Faktor-faktoryang

mempengaruhi

perkembangan

fisik

kota,

antara lain, sebagai berikut:

 

1)

situasi geografis; kondisi tapak (site); kondisi sosial, ekonomi, dan budaya.

 

2)

3)

Tiap

rincian

perlu

dihantarkan

oleh

sebuah

kalimat, seperti

sebagai “

sebuah butir rincian sendirian sebagai baris paling bawah pada suatu halaman (dalam hal seperti ini, paksalah butir rincian

berikut” tersebut di atas. Selain itu, jangan tinggalkan

tersebut

pindah

ke

halaman

berikutnya)

atau

sendirian

sebagai

baris

paling

atas

dalam

sebuah

halaman

(dalam

hal

ini,

carikan

teman satu butir lagi dari halaman sebelumnya—dengan memaksa butir yang dijadikan “teman” tadi ke halaman berikutnya).

Catatan: bila rincian diketik mendatar, pakailah tanda angka atau

yang kurung tutup). Misal:

huruf

kurung buka dan kurung tutup (jangan hanya

diberi

Faktor-faktoryang mempengaruhi perkembangan fisik kota, antara lain, sebagai berikut: (1) situasi geografis; (2) kondisi tapak (site); dan (3) kondisi sosial, ekonomi, dan budaya.

Jangan seperti di bawah ini (nampak “tidak enak” dipandang):

Faktor-faktoryang mempengaruhi perkembangan fisik kota, antara lain, sebagai berikut: 1) situasi geografis; 2) kondisi tapak (site); dan 3) kondisi sosial, ekonomi, dan budaya.

F. Gambar dan Tabel

1. Gambar

Semua foto, diagram, chart dianggap sebagai gambar. Judul gambar diletakkan simetris di bawah gambar dan tanpa diakhiri dengan titik. Nomor gambar diurutkan dari halaman paling depan sampai halaman paling belakang buku tesis (tanpa mengandung nomor bab). Dengan kata lain, jangan pakai nomor gambar seperti misalnya: Gambar II.10. Catatan: untuk tahap konsultasi, penomoran dengan mengkaitkan dengan nomor bab masih diperbolehkan karena akan mudah diberi sisipan gambar lagi. Tapi untuk naskah final, semua gambar perlu diurutkan dari sejak halaman 1 sampai dengan halaman-halaman lampiran.

2. Tabel

Penomoran untuk tabel juga diurutkan dari halaman terdepan sampai halaman paling belakang tesis. Judul tabel diletakkan

simetris di atas tabel dan tanpa diakhiri dengan titik. Usahakan tabel tidak terpotong oleh pergantian halaman; tapi bila terpaksa maka berilah kata “(bersambung)” pada sisi kiri bawah tabel yang terpotong, dan pada sambungan tabelnya: mulailah dengan kata

“Tabel

Lanjutan”—tulis nomor tabel pada tanda titik-titik

tersebut. Jangan lupa untu mensalinkan kop tabel ke sambungan tabel. Contoh:

Tabel 1: Jumlah penduduk dan luas kota-kota di Propinsi Amarta, Tahun 2002

Nama Kota

Jumlah penduduk

Luas wilayah (Ha)

(bersambung)

8

Pada halaman berikutnya:

Tabel 1 Lanjutan

Nama Kota

Jumlah penduduk

Luas wilayah (Ha)

Sumber: Djunaedi (2002: 15)

Catatan penting untuk gambar dan tabel:

1)

Judul gambar maupun judul tabel tidak diakhiri dengan titik

2)

(karena judul bukan merupakan kalimat). Bila diambil dari suatu pustaka (baik pustaka cetak atau dari website) harus disebutkan sumbernya—bila tidak kita dapat dianggap melakukan plagiatisme (penjiplakan). Untuk sumber berupa buku, tulis nama pengarang dan tahun penerbitan serta halaman tempat tabel yang diacu (tahun dan halaman di dalam kurung)—lihat contoh di atas.

9

III. KESALAHAN UMUM PEMAKAIAN BAHASA INDONESIA

A. Tanda Baca

1. Tanda tanya

Tiap kalimat pertanyaan—termasuk pula pertanyaan penelitian yang memakai gaya kalimat tanya—perlu diakhiri dengan tanda tanya (“?”). Bila suatu kalimat menggunakan kata tanya dianggap merupakan kalimat pertanyaan. Misal:

Penelitian ini ingin mengetahui apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pola-pola perumahan tersebut?

Kata tanya yang terkandung dalam kalimat di atas yaitu “apa saja”.

2. Spasi kosong mendatar

Sebelum tanda titik, koma, titik koma, titik dua, tanda tanya,

spasi

kurung

pengetikan yang salah terlihat di bawah ini.

tutup

tidak

boleh

ada

kosong

mendatar.

Contoh

sebagai berikut :

seharusnya:

sebagai berikut:

menurut Djunaedi ( 2001 )

menurut Djunaedi (2001)

B. Huruf Besar

Untuk nama orang tertentu, bangunan tertentu, jabatan tertentu dan obyek tertentu diawali dengan huruf besar, sedangkan

untuk

kata

yang

menunjukkan

macam

bangunan,

jenis

jabatan,

jenis

obyek

dan

sebagainya

tidak

diawali

dengan

huruf

besar.

Misal:

10

Rapat tersebut dihadiri oleh Gubernur Suwardi serta bupati- bupati seluruh Jawa Tengah. Salah satu bupati yang hadir yaitu Bupati Kabupaten Kendal mengajukan pertanyaan yang penting dalam rapat tersebut. Dalam rapat ini, semua camat dari seluruh kecamatan (kecuali dari Kecamatan Ungaran) hadir dan berpartisipasi aktif. Rapat koordinasi tersebut diadakan di Gedung Wanita, Jalan Pemuda, Semarang. Foto suasana rapat terlihat pada Gambar 10 di bawah ini.

Perhatikan bahwa huruf besar (kapital)) dipakai untuk “Gubernur

Suwardi”

dan

“Bupati

Kabupaten

Kendal”

serta

“Kecamatan

Ungaran”,

karena

merupakan

nama

jabatan

tertentu,

sedangkan

kata

“bupati-bupati”

dan

“semua

camat”

tidak

diawali

dengan

huruf

besar

karena

merupakan

macam

jabatan

(tidak

menunjuk

pada orang atau obyek tertentu). Demikian pula, kata “Gedung Wanita”, “Gambar 10” merupakan nama obyek tertentu sehingga perlu diawali dengan huruf besar. Contoh obyek yang tidak tertentu: “gambar-gambar”, “gambar yang dipasang di dinding”, “gedung-gedung negara”. Catatan: mungkin kata “tertentu” dan “tidak tertentu” kurang cukup jelas, tapi perhatikan pengertiannya dari contoh-contoh tersebut di atas.

C. Alinea dan Kalimat

1. Alinea Dalam tulisan ilmiah, alinea merupakan sekumpulan kalimat yang membahas suatu topik tertentu. Dengan demikian, sebuah alinea tidak mungkin terdiri dari hanya satu kalimat (kecuali dalam novel). Jangan buat alinea “yang terlalu panjang”, misal satu halaman. Minimum, sebuah alinea terdiri dari dua kalimat. Bila berganti topik pembicaraan, harus ganti alinea (buatlah alinea baru). Namun, bila topik belum berganti, jangan ganti alinea

11

baru. Alur pembahasan dari suatu alinea ke alinea berikutnya perlu lancar dan berpindah “secara halus”.

2. Kalimat

predikat.

Seringkali pemakaian keterangan tempat yang mengawali kalimat mengaburkan subyek; misal:

Sebuah

kalimat

paling

tidak

memuat

subyek

dan

Dalam rapat tersebut dihadiri oleh Gubernur Suwardi serta bupati-bupati seluruh Jawa Tengah.

seharusnya:

Rapat tersebut dihadiri oleh Gubernur Suwardi serta bupati- bupati seluruh Jawa Tengah.

Pemakaian kata “Dalam” yang mengawali kalimat tersebut di atas merubah kata “rapat” menjadi keterangan tempat dan kalimat tersebut tidak mempunyai subyek. Pada perbaikan kalimat di bawahnya, kata “Rapat” menjadi subyek kalimat setelah kata “Dalam” dihapus.

Seringkali

sebuah

kalimat

memuat subyek saja; contohnya:

tidak

mempunyai predikat, hanya

Dalam rapat tersebut yang dihadiri oleh Gubernur Suwardi serta bupati-bupati seluruh Jawa Tengah.

Seharusnya kata “yang” tersebut di atas tidak dipakai karena membuat bagian kalimat setelah kata “yang” menjadi bagian dari subyek (bukan lagi bersifat predikat). Sebuah kalimat yang “terlalu panjang” (misal terdiri dari 15 baris) akan menyiksa pembacanya, karena pembaca baru akan menarik nafas bila telah menjumpai tanda titik. Dalam hal seperti ini, potonglah kalimat tersebut menjadi dua atau tiga kalimat.

12

13

D. Kata Depan “di”

Kata depan “di” yang diikuti oleh kata yang menunjukkan tempat perlu dipisahkan dari kata penunjuk tempat tersebut; contoh:

di sana; di atas; di bawah, di lapangan, di Semarang

Kata “di” yang merupakan awalan untuk kata kerja tidak dipisahkan dari kata kerja tersebut; contoh:

dihadiri; dikerjakan, diolah, diamati, diwawancarai

E. Kata Sambung “sedangkan”

Kata “sehingga” dan “sedangkan” merupakan kata sambung atau kata hubung yang berfungsi menghubungkan dua anak kalimat, maka jangan pakai kata ini untuk mengawali kalimat. Contoh pemakaian kata “sedangkan” yang salah:

dilakukan

oleh Pemerintah. Sedangkan masyarakat hanya

membantu membersihkan jalan-jalan.

Perbaiki kalimat di atas menjadi:

dilakukan

oleh Pemerintah, sedangkan masyarakat hanya

membantu membersihkan jalan-jalan.

Catatan: pedoman pemakaian kata “sedangkan” telah dijelaskan pula dalam buku petunjuk dari Program Pascasarjana, Bagian IV, Butir “E. Bahasa”, sub butir “5. Kesalahan yang sering terjadi”.

F. Kata Tanya “dimana”

baku),

misalnya dipakai sebagai kata “where” dalam kalimat bahasa Inggris—seperti pada contoh berikut ini:

Kata

“dimana”

sering

dipakai

secara

salah

(tidak

Penelitian ini dilakukan di kota Yogyakarta dimana terdapat banyak perguruan tinggi.

Kata “dimana” yang merupakan kata tanya tidak tepat dipakai dalam kalimat berita (meskipun sering kita gunakan dalam bahasa

percakapan).

tepat; contohnya:

kata “dimana” tersebut dengan kata yang

Gantilah

Penelitian ini dilakukan di kota Yogyakarta, tempat banyak terdapat perguruan tinggi.

Selain itu, sering pula terjadi kesalahan berkaitan dengan pemakaian kata “dari” yang diterjemahkan dari kata “of”—seperti pada contoh berikut ini:

Produk dari industri berat perlu digalakkan agar Indonesia menjadi salah satu dari negara industri dan mengurangi dari hutang-hutang dari luar negeri yang telah menumpuk.

Pemakain kata “dari” tersebut di atas terlalu berlebihan. Cobalah hapus kata tersebut satu per satu. Bila penghapusan tersebut tidak mengurangi arti maka hapus saja kata “dari” tersebut. Misal:

Produk industri berat perlu digalakkan agar Indonesia menjadi salah satu negara industri dan mengurangi hutang- hutang luar negeri yang telah menumpuk.

14

Catatan: pedoman pemakaian kata “dimana” dan “dari” telah dijelaskan pula dalam buku petunjuk dari Program Pascasarjana, Bagian IV, Butir “E. Bahasa”, sub butir “5. Kesalahan yang sering terjadi”.

G. Kata Baku Bahasa Indonesia

Banyak istilah dari luar Indonesia yang masuk ke bahasa Indonesia dan istilah-istilah tersebut sudah dibakukan oleh Pemerintah. Aculah penggunaan istilah atau kata yang telah dibakukan dari buku-buku tersebut, seperti misalnya buku “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD)”.pada penjelasan tentang penulisan unsur serapan (dari bahasa asing ke bahasa Indonesia). Contoh istilah atau kata baku seperti terlihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2: Sebagian kata dan istilah baku bahasa Indonesia

Kata/istilah yang tidak baku

Kata/istilah yang baku

tehnik

teknik

kreativ

kreatif

efektiv

efektif

eksekutiv

eksekutif

diskripsi

deskripsi

synthesis

sintesis

sistim

sistem

metoda

metode

prosentase

persentase

diskriptiv

deskriptif

Sumber: buku “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD)” oleh G.B. Yuwono dan Tata Iryanto, 1987, diterbitkan oleh Penerbit Indah, Surabaya.

15

IV. KESALAHAN UMUM SUBSTANTIF

A. Penulisan Latar Belakang Permasalahan

Isu

yang

mendorong

dilakukannya

penelitian

harus

jelas

(dukunglah

dengan

fakta

tertulis

dari

pustaka,

terutama

jurnal

ilmiah

terbaru).

Pemilihan

kasus

harus

jelas

alasannya

(alasan

karena

peneliti

berasal

dari

kota/daerah

yang

dijadikan

kasus

bukan

merupakan

alasan

ilmiah).

Tunjukkan

bahwa

kasus

yang

dipilih bersifat unik dibandingkan kondisi umumnya (yang sudah menjadi teori/pengetahuan yang umum). Contoh: dipilih kasus interaksi antar kota di Provinsi Maluku karena provinsi tersebut merupakan kepulauan, sedangkan teori interaksi antar kota berdasar asumsi bahwa kota-kota terletak di suatu dataran yang luas. Permasalahan yang akan diteliti perlu ditunjukkan ada kaitannya dengan isi latar belakang tersebut.

B. Penulisan Pertanyaan Penelitian

Meskipun dapat berupa kalimat berita, sebaiknya pertanyaan penelitian berupa kalimat tanya (yang diakhiri dengan tanda

tanya).

Bila

pertanyaan

penelitian

lebih

dari

satu,

maka

semua

pertanyaan

haruslah

berada

dalam

satu

“payung”

(satu

sistem).

Bila tidak, maka akan terasa mengerjakan dua tesis sekaligus atau lebih. Untuk memperjelas “payung” tersebut dapat pula ditulis satu pertanyaan besar yang memayungi sejumlah pertanyaan kecil. Bila perlu, beri penjelasan tentang beberapa istilah dan letakkan penjelasan tersebut di bawah daftar pertanyaan penelitian. Tujuan penelitian berkaitan dengan pertanyaan penelitian, tapi tingkatan tujuan tergantung hasil kajian pustaka. Beberapa tingkatan atau macam tujuan penelitian, antara lain:

16

(1)

mengeksplorasi;

misal:

mengeksplorasi

faktor-faktor

yang

mempengaruhi

(2)

mendeskripsikan;

misal:

mendeskripsikan

pola

;

mendeskripsikan

perkembangan

 

;

mendeskripsikan

katagori

(3)

menguji hipotesis; misal: menguji hipotesis bahwa tidak ada

hubungan antara

dengan

(4)

mengevaluasi;

misal:

mengevaluasi

ketepatan

pemilihan

lokasi ibukota

dengan kriteria akademis.

 

Sebaiknya

dirumuskan

suatu

tujuan

bagi

setiap pertanyaan

penelitian. Tujuan untuk masing-masing pertanyaan penelitian dapat berbeda, tergantung pada status/ujung pengetahuan yang ada saat ini (“state of the art”)—hasil kajian pustaka—bagi masing- masing pertanyaan penelitian.

C. Penulisan Tinjauan Pustaka dan Daftar Pustaka

1. Perlunya kerangka isi tinjauan pustaka

Seringkali, dalam bab tinjauan pustaka, penulis tesis/proposal langsung saja menulis bahasan tiap topik. Pembaca tesis tidak tahu “mau dibawa ke mana” isi kajian pustaka tersebut dan tidak tahu

pula relevansi topik demi topik yang dibaca dengan fokus penelitian tesis tersebut. Perasaan yang tidak enak ini dapat diatasi bila penulis tesis membuat suatu alinea pengantar di bawah tulisan “Bab II. Tinjauan Pustaka”. Alinea tersebut berisi kerangka isi tinjauan pustaka (topik demi topik secara sistem). Dalam kerangka tersebut, tunjukkan relevansi tiap topik dengan pertanyaan penelitian, karena pada dasarnya tinjauan pustaka merupakan upaya untuk menjawab pertanyaan penelitian secara umum lewat

sebuah

alinea

(didahului

pengetahuan

yang

sudah

seperti

ada

(dalam

pada

pustaka).

kotak

Contoh

pengantar

terlihat

berikut

dengan contoh pertanyaan penelitian yang terkait).

 

17

Contoh pertanyaan penelitian:

 
 

permasalahan

yang

dihadapi

oleh

penelitian

ini

dapat

dirumuskan sebagai berikut:

 

1)

Seperti

apa

pola

perkembangan

fisik

kota

pada

kasus

tersebut?

2)

Faktor-faktor

apa

saja

yang

mempengaruhi

pola

perkembangan fisik seperti ditemukan pada kasus ini?

 

Contoh alinea pengantar bab tinjauan pustaka yang terkait dengan permasalahan penelitian tersebut di atas:

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Sesuai dengan permasalahan penelitian tersebut dalam Bab I, pada dasarnya tinjauan pustaka ini diarahkan untuk mencari dari khazanah pengetahuan yang ada sampai saat ini tentang: (1) cara mendeskripsikan pola perkembangan fisik suatu kota, dan (2) daftar faktor-faktor yang mempengaruhi pola perkembangan fisik suatu kota. Untuk menuju pada dua uraian tersebut perlu dikaji lebih dulu beberapa hal, seperti terlihat pada diagram kerangka tinjauan pustaka di bawah ini:

A
A

PENGERTIAN “KOTA”, “FISIK KOTA” DAN “POLA”

 
   
   

CARA MENDESKRIPSIKAN PERKEMBANGAN FISIK KOTA (sebagai masukan untuk metode survei)

B
B
 
 
 
 

CARA

   

RAGAM POLA

   

DAFTAR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI (POLA) PERKEMBANGAN FISIK KOTA (sebagai landasan teori dan

MEMPOLAKAN

PERKEM-

PERKEM-

BANGAN FISIK

KOTA (sebagai

PERKEM- BANGAN FISIK KOTA (sebagai BANGAN FISIK KOTA (sebagai teori yang akan dipakai untuk membahas

BANGAN FISIK KOTA (sebagai teori yang akan dipakai untuk membahas

PERKEM- BANGAN FISIK KOTA (sebagai BANGAN FISIK KOTA (sebagai teori yang akan dipakai untuk membahas

masukan untuk

metode analisis)

temuan kasus)

D
D

hipotesis)

 
 
C
C
E
E
F
F
 

18

19

Catatan: kerangka topik tinjauan pustaka tidak selalu ditampilkan dalam bentuk diagram, tapi dapat pula ditunjukkan dengan narasi (uraian kalimat) atau diperlihatkan dalam bentuk daftar urutan topik, seperti contoh di bawah ini.

Untuk menuju pada dua uraian tersebut perlu dikaji lebih dulu

beberapa hal, seperti terlihat pada daftar urutan topik tinjauan pustaka di bawah ini:

A. Pengertian “Kota”, “Fisik Kota” dan “Pola”

B. Cara mendeskripsikan perkembangan fisik kota

C. Cara mempolakan perkembangan fisik kota

D. Ragam pola perkembangan fisik kota

E. Landasan teori: Faktor-faktor yang umumnya mempengaruhi

perkembangan (pola) fisik kota

F. Hipotesis: Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi perkambangan (pola) fisik kota pada kasus yang diteliti

Catatan:

metode survei, sedangkan Topik C berguna untuk masukan bagi metode analisis, dan Topik D berguna sebagai teori banding untuk membahas pola yang ditemukan pada kasus.

perancangan

Topik

B

berguna

sebagai

masukan

untuk

2. Kaitan tinjauan pustaka dengan landasan teori dan

hipotesis serta metode penelitian Bilamana kajian pustaka mampu memberikan jawaban secara umum pada pertanyaan penelitian (bukan jawaban pada kasus), maka kita akan mempunyai hipotesis (dugaan secara umum)— seperti pada contoh di atas. Dalam hal seperti ini, maka tujuan penelitiannya adalah untuk menguji hipotesis dan metode penelitiannya adalah pengujian hipotesis dengan fakta di lapangan atau kasus (metode ini disebut metode berfikir deduktif). Bila tinjauan pustaka tidak berhasil atau tidak relevan untuk menjawab pertanyaan penelitian, maka kita harus (hanya) mencari jawaban tersebut ke lapangan (mencari fakta empiris) dan metode yang dipakai adalah metode berfikir induktif (membangun teori dari fakta lapangan/ empiris). Mencari fakta di lapangan tanpa

bekal teori dapat juga menggunakan cara/ metode survei eksplorasi (penjelajahan).

Kadang kajian pustaka tidak mampu menjawab pertanyaan penelitian, tapi berhasil menyiapkan teori-teori yang dapat dipakai untuk mencari jawaban di lapangan. Teori-teori tersebut perlu

disusun

sebagai

landasan

teori.

Berbekal

teori

tersebut

dapat

dikembangkan

daftar

pertanyaan

atau

daftar

hal-hal

yang

akan

disurvei. Dengan demikian, surveinya lebih terarah dan tidak perlu melakukan survei eksploratif. Berdasar uraian di atas, para mahasiswa perlu sadar bahwa

kajian

akan mendikte tujuan penelitian dan metode penelitian yang akan dipakai. Maka, susunlah bab tinjauan pustaka secara sistematis, terarah, semua yang ditulis relevan dengan pertanyaan penelitian. Bila memungkinkan akhiri dengan landasan teori dan hipotesis.

hasilnya

pustaka

merupakan

hal

yang

sangat

penting

dan

3. Kelengkapan informasi dalam daftar pustaka

Informasi dalam daftar pustaka mencakup unsur-unsur: (1) nama pengarang, (2) tahun penerbitan, (3) judul karangan/pustaka, (4) penerbit, dan (5) kota penerbitan. Format daftar pustaka yang dipakai di UGM dapat dilihat dalam buku petunjuk penulisan tesis dari Program Pascasarjana. Kadang, penulis tesis menulis informasi daftar pustaka secara tidak lengkap atau tidak sesuai dengan pustaka yang diacu dalam narasi. Misal: dalam narasi

disebutkan

Djunaedi (1993)

tapi dalam daftar pustaka ditulis:

Djunaedi, A.

Hindarkan kesalahan seperti ini.

Teliti tulisan tesis, terutama dalam bab tinjauan pustaka dan bab hasil penelitian dan pembahasan, berkaitan dengan nama-nama penulis yang diacu karyanya. Nama-nama yang diacu tersebut harus muncul di daftar pustaka sebagai informasi pustaka. Hal ini merupakan salah satu cara untuk memberi penghargaan bagi penulis-penulis yang kita acu karyanya. Sehubungan dengan cara menghargai ini, bila dalam narasi pengacuan ditulis “dkk”, maka dalam daftar pustaka, semua nama penulis perlu dituliskan (jangan

20

21

hanya “dkk”). Silahkan baca lagi berkaitan dengan penulisan daftar

tesis

berhenti

sampai

disini

dan

menulis

ulang

temuan

tersebut

pustaka dalam buku petunjuk dari Program Pascasarjana.

sebagai

kesimpulan.

Terhadap

temuan

atau

hasil

penelitian

perlu

D. Penulisan Metode Penelitian

Agar penulisan bab metode penelitian lebih mudah dipahami

pembaca, pakailah sistematika yang diuraikan dalam buku petunjuk penulisan tesis dari Program Pascasarjana. Dengan sistematika yang seragam, pembaca dan pembimbing/ penguji

(yang

telah

banyak

membaca

tesis)

akan

dapat

membaca

dan

mengevaluasinya

dengan

lebih

cepat.

Sambil

melihat

kembali

isi

buku petunjuk dari Program Pascasarjana, disini diperlihatkan struktur isi bab metode penelitian: (1) materi penelitian, (2) alat penelitian (termasuk pula: kuesioner), (3) jalan penelitian (metode pengumpulan dan pengolahan data), (4) analisis hasil, dan (5) kesulitan dan cara pemecahan. Bila dalam bab metode penelitian digunakan istilah-istilah metodologi penelitian (misal: metode kualitatif, metode rasionalisme, fenomenologi, dan sebagainya)—silahkan beri penjelasan yang cukup (meskipun singkat) agar tidak terjadi kesalah-pahaman di pihak pembaca (catatan: tiap penulis/peneliti

istilah

yang

metode

mungkin

menuliskan

istilah-istilah

penelitiannya, pembaca/pembimbing/penguji dapat mengetahui katagori atau macam metode yang dipakai.

mempunyai

pengertian

penulis

karena

dari

yang

tesis

berbeda

tidak

terhadap

perlu

(desain)

sama).

Sebenarnya,

tersebut

rancangan

E. Penulisan Temuan dan Pembahasan serta hubungannya dengan Kesimpulan

Hasil analisis data atau hasil pengujian hipotesis disebut sebagai temuan (findings) atau hasil penelitian. Seringkali penulis

dilakukan pembahasan sebelum ditarik kesimpulan. Pembahasan dapat dilakukan dengan membandingkan temuan dengan teori yang umum (yang telah ada dalam bab tinjauan pustaka) atau

dengan

membedakan

tesis yang baik dengan yang “biasa saja”. Hasil pembahasan ini akan menjadi bahan bagi penulisan kesimpulan dan saran. Misal, bila temuan lapangan/kasus berbeda dengan teori umum, maka perlu dibahas “mengapa berbeda? / mengapa sama?”. Dari pembahasan muncul dugaan bahwa ada faktor “x” yang dulu secara umum belum pernah dipertimbangkan, tapi ternyata muncul pada kasus yang diteliti. Maka, kesimpulannya: teori umum tersebut perlu dikaji ulang dan disarankan agar temuan kasus tersebut juga perlu diteliti pada kasus-kasus lain agar temuannya bersifat mantap dan mampu merevisi teori umum tersebut. Sebagai tradisi yang baik, dalam saran, tulislah beberapa judul/ topik yang dapat diteliti sebagai kelanjutan dari tesis Saudara yang dapat diambil oleh mahasiswa lain sebagai judul tesisnya—semoga Saudara mendapat pahala untuk itu. Amien.

diteliti

sebelumnya.

temuan

pada

kasus-kasus

pembahasan

lain

yang

pernah

Kedalaman

inilah

yang

22

V. KESALAHAN UMUM LAIN-LAIN

A. Penghindaran Plagiatisme

Plagiatisme atau penjiplakan dalam dunia akademis dapat dikenakan hukuman yang besar, sampai dengan pencabutan gelar akademis (catatan: sampai dengan tahun 2002, pernah terjadi di

UGM,

satu

kali

pencabutan

gelar

magister,

dan

satu

kali

pencabutan

gelar

doktor).

Pada

dasarnya,

untuk

menghindari

penjiplakan (tanpa sengaja), bila mengacu karya ilmiah pihak lain, sebutkanlah sumbernya dengan teknik pengacuan yang benar atau baku (diberlakukan di UGM). Karya pihak lain yang diacu dapat

berupa hasil pemikiran naratif, berupa gambar atau berbentuk foto. Tulislah nama sumber di bawah gambar yang diambil dari karya

pihak

prosedur

pengacuan gambar atau foto—perlukah minta ijin kepada pemilik hak cipta?).

lain

(Catatan:

teliti

lagi

UU

Hak

Cipta

tentang

Bila

kita

mengutip

kalimat

karya

pihak

lain

dengan

cara

mengutip

tepat

persis

aslinya

(disebut

sebagai

kutipan

langsung),

maka kita perlu menempatkan kutipan tersebut dalam tanda kutip

(“

melakukan pencurian karya pihak lain (plagiatisme). Sebaiknya, dalam mengutip narasi (teks) pihak lain, ubahlah narasi tersebut dengan kalimat Saudara sendiri. Kurangi sebanyak mungkin pengutipan langsung.

Bila tanpa tanda kutip, maka kita dapat dituduh

”).

B. Penulisan Abstract (bahasa Inggris)

Abstract bukan merupakan terjemahan kalimat demi kalimat, kata demi kata dari isi “Intisari”. Pakailah cara penerjemahan berdasar maknanya (meaning-based translation), kemudian susun kalimat dalam bahasa Inggris menurut gaya dan kultur berbahasa Inggris. Bila minta pertolongan kepada penerjemah, mintalah

23

terjemahan berdasar makna dan beri keleluasaan padanya untuk menangkap makna “Intisari” (yang telah Saudara buat) dan menuliskannya kembali dalam suatu terjemahan “bebas” ke bahasa Inggris.

C. Penulisan Lampiran

 

Materi

yang

ditempatkan

dalam

Lampiran

bukanlah

materi

yang

penting.

Lampiran

artinya

dapat

dilihat

dan

dapat

pula

diabaikan.

SPSS, sedangkan rangkumannya yang telah ditulis kembali ditempatkan di dalam pembahasan bab. Karena bersifat “optional”, maka lampiran “jangan terlalu tebal”. Lampiran yang umum ada adalah kuesioner (bila memakai kuesioner).

cetakan

Materi

yang

umum

dilampirkan

adalah

hasil

24

VI. TANDA-TANDA KOREKSI

Belum ada pembakuan tentang tanda koreksi. Meskipun

demikian, beberapa tanda koreksi yang terlihat pada tabel di bawah

ini sering dipakai oleh Penulis buku suplemen ini dalam memberi

koreksi pada naskah tesis.

Tabel 3: Contoh pemakaian tanda koreksi

 

Contoh

 

Artinya

 

diatas

Pisahkan antara “di” dan “atas”.

  Sambung “di” dengan “kerjakan”, menjadi
 

Sambung “di” dengan “kerjakan”, menjadi

di

kerjakan

di kerjakan

“dikerjakan”

 

e

pengambangan

pengambangan

Ganti “a” dengan “e”.

perencanan

perencanan

Sisipkan huruf “a”.

 

a

perencanaaan

perencanaaan

Hapus huruf “a”.

sebagai berikut

:

sebagai berikut :

Hapus spasi sebelum tanda titik dua.

sebagai sebagai

Hapus kata yang dicoret tersebut.

  hal itu. Dalam Pisahkan dan ganti alinea baru.
 
hal itu. Dalam

hal itu. Dalam

Pisahkan dan ganti alinea baru.

hal

ketertiban

 
hal itu.
hal
itu.

Dalam hal

Gabung menjadi satu alinea (alinea teruskan).

25

26

27

VII. TAMBAHAN PEDOMAN PENULISAN

KUTIPAN PUSTAKA (CITATION) DAN DAFTAR

PUSTAKA

Dalam buku pedoman penulisan tesis dari Program Pascasarjana UGM Edisi 2001 di halaman 29-31 terdapat tiga versi penulisan daftar pustaka. Untuk keseragaman di program MPKD, dianjurkan untuk memilih salah satu tipe saja, yaitu versi yang ada di halaman 30 (yaitu Lampiran 4b). Selain itu, pada buku pedoman tersebut belum pernah dijelaskan cara penulisan daftar pustaka yang berasal dari sumber elektronis (misal: CD-ROM dan situs web/internet). Berkaitan dengan itu, dalam buku suplemen ini ditambahkan cara pengacuan dan penulisan daftar pustaka elektronis dengan mengacu pada cara yang diterangkan oleh Li dan Crane dalam buku The Research Paper and World Wide Web, Edisi Kedua, tahun 2000, karangan Dawn Rodrigues dan Raymond J. Rodigrues, yang diterbitkan oleh Prentice Hall, Upper Saddle River, New Jersey, halaman 129-131.

A. Penulisan Kutipan Pustaka Cetak dan Elektronis

Pada

dasarnya

penulisan

kutipan

pustaka

(citation)

mempunyai dua unsur, yaitu:

(1)

Bagian nama pengarang/editor yang ditulis di muka dalam daftar pustaka. Dalam tradisi Barat, bagian tersebut adalah nama keluarga (family name), misal bila nama lengkapnya:

Robert Rodrigues maka yang dipakai sebagai unsur adalah:

Rodrigues. Tetapi pada tradisi Timur, terutama Indonesia, nama belakang tidak selalu nama keluarga. Untuk ini, pengambilan unsur terserah pada penulis tesis. Misal untuk nama lengkap: Achmad Djunaedi, dapat diambil unsur:

Djunaedi, atau nama lengkap tersebut ditulis semua sebagai unsur nama dalam kutipan pustaka. Untuk nama Cina dan

28

Korea, misalnya, nama keluarga justru diletakkan di depan. Dengan demikian, bila mengambil nama belakang, justru kita mengambil nama “kecil”, bukan nama keluarga. Untuk nama

29

1. Daftar Pustaka bersumber buku

Format:

dengan

“bin

”,

misal:

Achmad

Djunaedi

bin

Nama mengikuti tradisi tertentu. Tahun. Judul buku diketik miring.

Tjokromartono,

lebih

sulit

lagi

(terserah

ke

penulis

tesis,

Edisi bila ada. Nama penerbit, kota penerbitan.

asalkan konsisten). Bila nama pengarang tidak ada, sering dipakai “anonim” atau nama lembaga yang bertanggung

Contoh:

jawab tapi dipakai singkatannya (karena nama panjangnya akan dituliskan lengkap di daftar pustaka. (2) Tahun penerbitan bagi pustaka cetak atau tahun edisi/revisi

Andrew, Jr., H.N. 1961. Studies in Paleobotany. John Wiley & Sons, Inc., New York. Djunaedi, A. 2002. Suplemen Petunjuk Penulisan Usulan

bagi

pustaka

elektronis.

Catatan:

pustaka

dari

situs

web

Penelitian dan Tesis. Edisi Kedua-Juni 2002.

mengalami

revisi

atau

pembaruan

yang

jauh

lebih

sering

Program Pascasarjana Magister Perencanaan Kota

daripada pustaka cetak. Selain itu, sekali direvisi, maka biasanya edisi sebelumnya sudah tidak dapat diakses (maka diperlukan tanggal akses dalam informasi daftar pustaka).

unsur

(bila

tidak di dalam kurung). Bila ingin diperlihatkan nomor halaman,

Dua

di

atas

digabung

tapi

dipisahkan

dengan

koma

maka ditambah titik dua dan disusul dengan nomor halaman tempat kutipan yang diacu.

Contoh:

menurut Djunaedi (2002: 28)

&

Yogyakarta.

Daerah

(MPKD), Universitas Gadjah Mada,

Catatan: perhatikan tanda pemisah antar unsur; ada yang memakai titik, dan ada yang memakai koma.

2. Daftar Pustaka bersumber artikel/bab dalam buku

tersebut (Djunaedi, 2002: 28) menurut Li dan Crane (dalam Rodrigues dan

Format:

Rodrigues, 2000: 129-131)

Nama

mengikuti

tradisi

tertentu.

Tahun.

Judul

artikel/bab.

Kata

Catatan: untuk kutipan langsung diperlukan nomor halaman tempat

“Dalam” ditambah Nama editor/penulis buku serta

kutipan tersebut berada.

Judul

buku

diketik

miring.

Edisi

bila

ada.

Nama

penerbit, kota penerbitan.

 

B. Penulisan Daftar Pustaka Cetak dan Elektronis

Contoh:

Sumber pustaka cetak dibedakan dalam bentuk: buku, artikel atau bab dalam buku yang di-edit, artikel dalam jurnal, dan naskah yang tidak diterbitkan. Sumber pustaka elektronis dibedakan dalam dua macam, yaitu: situs web/internet, dan CD-ROM.

Hutt, C. 1978. Towards a taxonomy and conceptual model of play. Dalam S.J. Hutt, D.A. Rogers and C. Hutt (eds.), Developmental processes in early education. Routledge & Kegan Paul, London.

30

Catatan: format di atas biasanya untuk buku yang memakai editor (editors) yang di dalamnya banyak penulis (tiap artikel atau bab disusun oleh penulis yang berbeda).

 

31

 

semacam

itu.

Lembaga

yang

bertanggung

jawab,

kotanya.

Contoh:

Djunaedi,

Achmad.

2001. Memahami Perkembangan Ilmu

3.

Daftar Pustaka bersumber artikel dalam jurnal

 

Arsitektur dalam Lingkup Kelompok Ilmu-ilmu

Format:

Teknik—Di Indonesia pada umumnya dan khususnya di UGM. Karya Ilmiah tidak

Nama

mengikuti

tradisi

tertentu.

Tahun.

Judul

artikel/bab.

Nama

dipublikasikan—disimpan di perpustakaan. Jurusan

jurnal

diketik

miring,

volume,

nomor

isu:

halaman

Teknik Arsitektur FT UGM, Yogyakarta.

dari ke. Catatan: nama jurnal dapat disingkat dengan singkatan yang telah berlaku umum.

Contoh:

Anderson, T.F. 1951. Techniques for the Preservation of Three

for

Dimensional

Structure

in

Preparing

Specimens

the Electron Microscope. Trans. N. Y. Acad. Sci. 13:

130-134.

Fukui, Y. and Yuu, S. 1985. Removal of Coloidal Particles in Electroflotation. AIChE Journal, 31: 201-208.

Catatan: kata “and” di atas (sesuai bahasa aslinya) dapat diganti dengan “dan” (bahasa Indonesia) atau lebih “generik” dapat diganti dengan tanda “&”.

5. Daftar Pustaka bersumber situs web/internet

Format:

Nama mengikuti tradisi tertentu atau bila tidak ada diganti nama lembaga yang bertanggung jawab. Tahun (atau ditambah tanggal di dalam kurung, bila ada) terakhir diperbarui. Judul artikel dan bisa ditambah, bila ada, informasi nama publikasi/judul jurnal elektronik ditulis miring. Tulisan “Tersedia di situs:” diteruskan dengan alamat situs web ditambah [tanggal akses di dalam kurung seperti ini].

Contoh:

Li, X, & N. Crane. 1996 (Agustus 26). Bibliographic format for

 

citing

electronic

information.

Tersedia

di:

4.

Daftar Pustaka bersumber naskah yang tidak diterbitkan

http://www.uvm.edu/~xli/reference/estyles.htm April 1996].

[29

Format:

Sanchez,

C.

1996

(13

Januari).

Future

of affirmative action in

Nama

mengikuti

tradisi

tertentu.

Tahun.

Judul naskah/buku.

 

higher

education. National Public Radio. Electric

Tulisan

“Tidak

dipublikasikan”

atau

“Tidak

Library,

hal.

B5

(9

alinea). Tersedia di:

dipublikasikan tapi disimpan di perpustakaan” atau

http://www.elibrary.com [1 Oktober 1996].

32

Catatan: kata “http” dapat diganti dengan yang lain, misal: “fttp”, “gopher”; sesuai dengan cara/teknik pengaksesan yang dipakai. Bila tidak ada informasi tentang tahun terakhir diperbarui, maka ditulis “Tanpa tahun”.

6. Daftar Pustaka bersumber CD-ROM

Catatan:

CD-ROM

biasanya

dipunyai

oleh

perpustakaan

yang

berlangganan

atau

mempunyai

kontrak

layanan

dengan

produsen

CD-ROM tersebut, atau ada juga CD-ROM yang disebarluaskan sebagai pengganti buku/jurnal cetak.

Format:

Nama mengikuti tradisi tertentu atau bila tidak ada diganti nama

ini

tidak

(ditambah tanggal, bila ada). Judul artikel dan informasi publikasi. Tulisan “CD-ROM tersedia:” diteruskan dengan nama lembaga pemberi layanan atau penerbitnya ditambah [tanggal akses di dalam kurung seperti ini].

terbit

lembaga

yang

bertanggung

bila

jawab

ada.

atau

nama

dicantumkan

tidak

Tahun

Contoh:

Howell, V. & B. Carlton. 1993 (29 Agustus). Growing up tough:

New generation fights for its life: Inner-city youths live by rule of vengeance. Birmingham News, hal. 1A (10 halaman). CD-ROM tersedia: 1994 SIRS/ SIRS 1993 Youth/ Volume 4/ Article 56A [16 Juli

1995].

Oxford English Dictionary computer file: On compact disc (2 nd ed.). 1992. CD-ROM tersedia: Oxford UP [27 May

1995].

33

34

35