Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

Kista merupakan rongga patologis yang berisi cairan, bahan setengah cair atau padat dan seringkali dibatasi oleh lapisan epitel dan bagian luarnya dilapisi oleh jaringan ikat serta pembuluh darah. Berdasarkan klasifikasi WHO kista dentingerous merupakan kista dari lapisan epitel pada rahang yang terjadi karena proses pertumbuhannya. Kista dentingerous berasal dari dental follicle gigi yang tidak mengalami erupsi atau sedang dalam pertumbuhan (setelah proses kalsifikasi). Kista dentingerous sinus maksilaris merupakan kondisi dimana

terdapatnya kista yang mengakibatkan gangguan pada sinus maksilaris. Kista dentingerous paling banyak ditemukan terutama pada !ollar ke"# baik pada rahang atas maupun rahang ba$ah. %ecara anatomis sinus maksilaris merupakan sinus yang terbesar dan terletak berdekatan dengan akar gigi rahang atas yaitu premolar (& dan &'), molar (! dan !'), kadang gigi taring (() dan gigi molar #. Bahkan akar dari gigi tersebut dapat menonjol ke dalam sinus sehingga jika terdapatnya kista dapat mengganggu fungsi dari sinus maksilaris.' Kista dentingerous dapat tumbuh membesar yang bisa menyebabkan pembengkakan bahkan dapat terjadinya fraktur patologis yang tanpa disertai rasa sakit kecuali bila kista tersebut terinfeksi. %erta terdapat kecenderungan untuk menjadi ameloblastoma. )ika kista dentingerous khususnya pada gigi molar rahang atas membesar dan terinfeksi maka sangat memudahkan terjadinya sinusitis maksilaris.#

*ujuan dari penulisan referat ini yaitu untuk membantu mengetahui dan penatalaksanaan yang sesuai pada kista dentingerous sinus maksila serta mengetahui hubungan dari terdapatnya kista dentingerous terutama pada gigi rahang atas dengan sinus maksila.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi Kista Dentigerous Kista dentigerous atau kista folikuler merupakan salah satu jenis kista odontogenik ( kista yang berasal dari sisa sisa epitelium pembentukan gigi). Kista dentigerous adalah rongga pataologik yang dibatasi oleh epitelium atau kantung jaringan ikat yang berbatas epitelium skuamosa berlapis yang terbentuk di sekeliling mahkota gigi yang tidak erupsi dan terdapat cairan . Kista dentigerous mengelilingi mahkota gigi yang belum erupsi dan melekat pada gigi sepanjang ser+ikal, keadaan ini yang membedakan antara kista folikuler dengan kista primordial.' Kista folikuler biasanya terbentuk pada gigi yang impaksi dan gigi supernumerari permanen, kemungkinan terjadi pada gigi susu sangat kecil dan biasanya terjadi pada gigi yang sedang erupsi sehingga disebut juga kista erupsi.' 2.2 Etiologi dan E ide!iologi Kista Dentigerous ,sal mula kista ini masih belum diketahui dengan pasti. -iduga infeksi periapeks pada gigi sulung dapat menstimulasi respon jaringan folikel gigi permanen yang belum erupsi untuk terlepas dari mahkota gigi dan mengalami degenerasi kistik.' Banyak pendapat mengatakan kista berasal dari intrafolikuler yaitu pembesaran folikel serta mahkota gigi. ,da pula yang berpendapat kista berasal dari ekstra folikular mengingat kista pertama kali berkembangan dari sisa ekstrafolikular yang kemudian bersatu dengan folikel gigi yang erupsi. ,da yang berpendapat bah$a kista dentigerous berkembaang setelah mahkota gigi yang impaksi terbentuk seluruhnya. ,da pula yang menyatakan bah$a kista dentigerous dapat muncul dari organ email setelah mahkota gigi terbantuk setengan sempurna. Organ email yang mengelilingi mahkota gigi seutuhnya atau yang melekat pada mahkota gigi.'

Kista folikuler biasanya terdeteksi pada anak"anak, remaja atau de$asa, $alaupun terkadang dapat ditemukan pada orang yang lebih tua '. Kista dentigerous dapat terjadi pada kisaran usia #"./ tahun, dan pada penelitian di Bra0il ditemukan 1 dari / kasus kista dentigerous terjadi pada anak di ba$ah . tahun#. Kista dentigerous biasanya lebih banyak ditemukan pada laki"laki dibanding $anita dan hampir 213 dari kista ini terjadi pada dekade dua hingga dekade tiga kehidupan. %ekitar /13 dari lesi terjadi pada mandibula dan #13 terjadi pada maksila. Hampir 2'3 terjadi pada gigi molar, '3 terjadi pada premolar, dan '3 terjadi pada gigi kaninus dan sisa 43 muncul pada tempat lain dalam tulang rahang. &re+alensi kista dentigerous pada populasi kulit putih lebih tinggi dibandingkan dengan populasi kulit hitam.' 2." Patofisiologi Kista Dentigerous Sinus #a$sila Beberapa orang peneliti telah menguraikan patogenesis dari kista dentrigenous, namun asal mula kista ini tetap belum diketahui secara pasti. Kista dentigerous tumbuh di antara sisa epithelium email dan mahkota gigi impaksi pada beberapa indi+idu dan tampaknya faktor genetis juga mempengaruhi.' 5mpaksi gigi menghambat aliran +ena keluar dari kel dan kemudian menyebabkan transudasi cairan yang melintasi dinding kapiler. *ekanan hidrostatik membuat folikel terpisah dari mahkota sehingga menyebabkan perluasan kista. &ada dasarnya kista ini terjadi akibat dilatasi ruang folikular normal di sekitar mahkota gigi yang sedang erupsi yang disebabkan akumulasi cairan jaringan atau darah.' Kebanyakan kista dentrigenous menunjukkan perkembangan lebih lanjut dari beberapa elemen epitel yang terletak tepat diatas permukaan email. &ada keadaan seperti ini, kista dapat terbnentuk secara baik mengikuti pola yang telah ada dan melibatkan proliferasi epitel.' 6pitel yang membentuk sebagian besar dari kista dentigerous diduga berasal dari sisa epithelium email, yang pada keadaan normal menyelubungi
4

mahkota gigi yang belum erupsi. Konsep ini didukung dengan kenyataan susunan epithel kebanyakan kista dentigerous melekat pada daerah pertautan semento"email.' Kista dentigerous relatif umum dijumpai karena kista jenis ini dapat terjadi pada 3 anak selama erupsi insisif dan #13 pada anak yang sedang erupsi caninus dan molar. 7etak dari gigi memiliki peranan penting dalam terjadinya kista ini. Hal ini dibuktikan dengan tingkat kejaian lebih tinggi pada molar ketiga rahang atas yang impaksi dibandingkan dengan kaninus rahang atas yang impaksi. !olar ketiga mandibula dan kaninus maksila merupakan gigi yang paling sering terkena kista ini.' &erkembangan kista dentigerous mengikuti akumulasi cairan yang terdapat diantara sisa organ email dan mahkota gigi. %isa epithelium email akan membentuk suatu batasan permukaan kista dan mahkota gigi yang telah terbentuk sempurna membentuk bagian lainnya. ,kumlasi cairan terdapat diantara sisa epithelium email dan mahkota gigi. Biasanya ruang sekitar mahkota dengan ukuran ',. mm atau lebih merupakan suatu ukuran minimal memungkinkan mendiagnosis sebagi kista dentigerous.' %ecara anatomis sinus maksilla merupakan sinus yang terbesar dan terletak berdekatan dengan akar gigi rahang atas yaitu premolar (& dan &'), molar (! dan !'), kadang gigi taring (() dan gigi molar #, karena itu kista dentrigenous maksila dapat meluas ke sinus maksila, menimbulkan gejala gejala gangguan sinus maksila #. 2.% &a!'aran Klinis Kista Dentigerous #a$sila Kista dentigerous umumnya tidak menyebabkan rasa sakit, tetapi kadang kadang dapat pula menimbulkan rasa sakit yang disebabkan oleh pembesaran dari kista atau kista tersebut teinfeksi.' %eperti halnya dengan jenis kista lainnya, gejala kista folikuler tidak terlihat bila masih pada tahap a$al. Kista dentigerous kadang kadang tidak diikuti dengan rasa nyeri. Kista folikuler yang belum mengalami komplikasi

seperti kista lainnya tidak akan menyebabkan gejala sampai pembesarannya nyata terlihat. !eski gejala biasa tidak ada, dengan terlambatnya erupsi gigi semakin besar pula indikasi terjadinya kista folikuler. Kista folikuler dapat dideteksi melalui pemeriksaan radiografis atau pada saat dilakukan pemeriksaan gigi yang tidak erupsi. 5nfeksi dapat menyebabkan gejala umum seperti bengkak yang membesar dan rasa sakit.' Kadang"kadang mahkota gigi dapat masuk ke dalam lumen kista. Kista dapat memiliki berbagai macam ukuran, dari yang pembesarannya berlangsung lambat pada kantong perikoronal hingga yang meliputi seluruh badan dan ramus mandibula serta sebagian tulang rahang'. Kista sebagian besar mengenai mandibula, hal ini kemungkinan disebabkan karena perbedaan anatomi rahang atas dan rahang ba$ah, dimana rahang ba$ah memiliki ukuran yang lebih lebar dibandingkan rahang atas. Kista umumnya berkembang pada satu gigi tetapi dapat juga meliputi beberapa gigi yang berdekatan bila kista tersebut membesar. %elanjutnya akan menyebabkan pergeseran gigi jauh dari posisinya yang normal terutama pada kista yang mengenai gigi"geligi dirahang atas sehingga tidak mungkin menentukan gigi asal kista. 8igi yang 9tidak bersalah: biasanya tetap ada dalam folikel.' Kista folikuler biasanya soliter, bila multipel mungkin terjadi bersamaan dengan sindrom karsinoma sel basal ne+oid. 5nfeksi sekunder sering terjadi. Kista dapat juga ditemukan bersamaan dengan disostosis kleidokranial dan kadang"kadang bersamaan dengan amelogenesis imperfekta tipe hipoplastik dan menyebabkan beberapa atau bahkan banyak gigi menjadi non+ital. Kista dentigerous paling banyak ditemukan terutama pada !ollar ke"# baik pada rahang atas maupun rahang ba$ah. %ecara anatomis sinus maksilla merupakan sinus yang terbesar dan terletak berdekatan dengan akar gigi rahang atas yaitu premolar (& dan &'), molar (! dan !'), kadang

gigi taring (() dan gigi molar #. Bahkan akar dari gigi tersebut dapat menonjol ke dalam sinus sehingga jika terdapatnya kista dapat mengganggu fungsi dari sinus maksilla .

8ambar . 8ambar %inus !a;illaris# 8ejala klinis kista dentrigenous sinus maksila akibat adanya gangguan pada sinus maksila adalah adanya tanda tanda peradangan sinus maksila yaitu< " " " " " " =yeri kepala yang tak jelas yang biasanya reda dengan pemberian aspirin. %akit dirasa mulai dari pipi ( di ba$ah kelopak mata ) dan menjalar ke dahi atau gigi. %akit bertambah saat menunduk. Wajah terasa bengkak dan penuh. =yeri pipi yang khas < tumpul dan menusuk, serta sakit pada palpasi dan perkusi. Kadang ada batuk iritatif non"produktif. %ekret mukopurulen yang dapat keluar dari hidung dan kadang berbau busuk.

" "

,danya pus atau sekret mukopurulen di dalam hidung, yang berasal dari metus media, dan nasofaring. &enurunan atau gangguan penciuman. Kista dentigenous sinus maksilaris, sulit didiagnosis, diperlukan

teknik radiografi yang stereoskopik. !eskipun demikian, kon+eksitas dinding lateral kista yang kontras dengan dinding lateral sinus yang konkaf dapat membantu diagnosis4. 2.( Diagnosa Banding Kista Dentigerous Kista dentigenous sering ditemukan secra kebetulan pada pemeriksaan radiografi dan tidak jarang kista ini salah terdiagnosis. 8ambaran lesi yang hampir mirip sering kali menjadi kendala bagi seorang dokter gigi untuk dapat menentukan diagnosis secara tepat.' %alah satu diagnosis banding dari kista dentigerous adalah ameloblastoma pada gigi impaksi yaitu ameloblastoma unikistik. Kista dentigerous memiliki gambaran lesi yang mirip dengan ameloblastoma unikistik.' ,meloblastoma unikistik digambarkan suatu rongga kistik tunggal yang memperlihatkan suatu transformasi sel ameloblastik pada lapisan dinding kista. &ada kista unilokular, ditemukan lapisan yang rata serta adanya sel ameloblastik pada lapisan basal di beberapa area dan tidak terdapat infiltrasi sel neoplasma pada dinding penyokong kista. ,da juga kemungkinan terdapat proliferasi intraluminal tanpa infiltrasi dari sel neoplasma pada dinding kista. ,kan tetapi pada beberapa kasus, terdapat ameloblastoma pleksiform atau folikular yang menginfiltrasi dinding kista.' %ecara histopatologis, pada ameloblastoma unikistik terlihat ruang kistik yang besar atau ruang yang dibatasi lapisan epitel tipis dengan sel"sel basal yang berjejer. )uga terdapat in+aginasi epitel ke jaringan ikat penyokong dan kadang"kadang terlihat pulau"pulau mural yang berisi sael ameloblastoma. %elain itu, terjadi perubahan karakteristik spongiosa pada lapisan epitel dan kadang"kadang hialinisasi epitel. Beberapa lesi
8

menunjukkan pleksiform.'

adanya

komponen

intraluminal,

biasanya

pada

tipe

2.) &a!'aran *adiografi Kista Dentigerous Sinus #a$sila Kista dentigerous dapat diidentifikasikan secara radiologis dengan mudah karena gambaran radiografisnya sangat khas. Biasanya kista dentigerous tampak berupa gambaran radiolusen simetris, unilokular, berbatas tegas, dan mengelilingi mahkota gigi yang tidak erupsi (impaksi). Kecuali terinfeksi sehingga tepinya berbatas buruk, pertumbuhan kista yang lambat dan teratur, membuat kista dentigerous mempunyai tepi sklerotik yang berbatas tegas, dengan korteks yang jelas, dan ditandai dengan garis batas radiopak yang tipis. 8ambaran radiografis kista ini perlu dibedakan dengan gambaran keadaan normal dari sirkum koronal atau ruang folikular. &ada kasus lain daerah radiolusen dapat muncul menyusup kearah lateral dari mahkota gigi, terutama jika kista relati+e besar ukurannya atau jika telah terjadi perubahan posisi gigi dari tempatnya.' &ergerakan atau pepindahan dari gigi yang tidak erupsi dengan segala macam posisi sering terjadi dan dapat ditemukan pada rahang atas atau rahang ba$ah. &ada kista dentigerous rahang atas yang melibatkan daerah kaninus, perluasan kedalam sinus maksilaris atau kearah dinding orbita dapat ditemukan dan juga perluasan ke dalam fosa nasalis. Kista dentigerous pada molar tiga rahang atas dapat meluas ke distal dan superior, kadangkala berhubungan dengan ruang sinus maksilaris.' Kista dentigerous memiliki potensi untuk membesar, menyebabkan kerusakan medulla tulang dan ekspansi rahang. Kista dentigerous juga dapat meluas ke prosesus koronoideus dan leher kondil. 8igi yang terkena kista biasanya sering berpindah tempat dengan jarak tertentu. &ada mandibula, molar tiga dapat tertekan ke inferiornya. Kista juga dapat meresorbsi akar gigi didekatnya yang sudah erupsi. Kista yang besar ukurannya mungkin mungkin berhubungan denagan perluasan kista dalam tulang. Kista dentogerous berukuran besar jarang terjadi, kebanyakan lesi yang secara

raiografis diduga sebagai kista dentigerous yang besar, sering kali terbukti merupakan suatu kista keratosis odontogenik atau ameloblastoma.' -i antara #/3 gigi molar tiga yang impsksi pada mandibula dan .3 gigi molar tiga yang impaksi pada maksila yang memperlihatkan radiolusen pada daerah perikoronal, hanya 3 yang keungkinan besar diduga sebagai kista dentigerous. Biasanya ruangan perikoronal yang mencapai ',. mm atau lebih dapat dipertimbangkan sebagai jarak minimal untuk dapat didiagnosis sebagai kemungkinan kista dentigerous sinus maksila. Kista dentigerous harus dapat dibedakan dengan pembesaran kantong folikel. =amun gambaran radiolusensi berukuran #"4 mm atau lebih mengindikasikan adanya pembentukan suatu kista.'

8ambar ' < Kista dentigenous sebelum dilakukan pengobatan#

10

8ambar # < Kista dentigenous dalam poros mandibula setelah dekompresi" proyeksi aksial.# &emeriksaan lain yang diperlukan untuk menegakkan diagnosa kista dentrigenous sinus maksila yaitu >oto Waters &, dan lateral, akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa atau air-fluid level pada sinus yang sakit.

8ambar 4 < >oto Waters pada Kista dengtrigenous dengan kelainan sinus maksillaris kanan# (*scan merupakan pemeriksaan yang dapat memberikan gambaran yang paling baik akan adanya kelainan pada mukosa dan +ariasi antominya yang rele+an untuk mendiagnosis adanya gangguan sinus. Walaupun

11

demikian, harus diingat bah$a (* %can menggunakan dosis radiasi yang sangat besar yang berbahaya bagi mata.

8ambar .< Hasil (* scan sinusitis ma;illaris 2.+ &a!'aran Histo atologi Kista Dentigerous *idak ada gambaran histopatologi yang khas dari kista dentigerous yang dapat membedakannya dari kista odontogenik lainnya. >aktanya, dinding epitelnya merupakan sisa epithelium email terdiri atas '"# lapisan sel gepeng atau kuboid. &ermukaan epitel dan jaringan penghubung berbentuk datar. )aringan penghubung berupa jaringan fibrosa tipis yang berasal dari folikel gigi, terdiri atas sel fibroblast muda yang terpisah lebar oleh stroma yang senya$a dasarnya kaya akan asam mukopolisakarida.' 8ambaran histopatologi kista dentigerous ber+ariasi, umumnya terdiri atas lapisan dinding jaringan ikat tipis, dilapisi epitel gepeng berlapis tak berkeratin yang bersatu dengan sisa epithelium email, meliputi atau melekat pada bagian leher mahkota gigi.' &ada kista dentigerous yang mengalami peradangan atau mengalami infeksi sekunder, lapisan epitel mengalami hyperplasia, terjadi akatosis dengan perkembangan rete peg dari epitel skuamosa. &ada kista dentigerous yang terinflamasi, dinding fibrosa lebih padat kolagen sehingga lebih kenyal, dengan bermacam"macam infiltrasi dari sel radang kronis. &ada lapisan

12

epithelial juga terlihat bermacam"macam ukuran hyperplasia dengan perkembangan dari rete ridges.' &ada beberapa kasus ditemukan kista dentigerous yang mengandung pigmen melanin dan melanosit pada lapisan dinding epitel. 8ambaran permukaan epitel yang berkeratin kadang dapat terlihat dan harus dibedakan dengan kista keratosis odontogenik. Kadang"kadang tampak dinding epitel dengan atau tanpa permukaan keratinisasi yang halus dan banyak granular dari pigmen melanin yang terdistribusi di sel basal pada lapisan epitel. %el mukus dapat tersebar dalam epitel kista dentigerous.'

8ambar 2< -inding kista yang menempel pada cer+ical gigi

13

8ambar /< *erlihat lapisan epitel lining dengan dinding fibrous connecti+e tissue tanpa adanya infiltrasi sel"sel radang. 2., Tera i Kista Dentigerous Sinus #a$sila !ayoritas kista yang dibatasi epithelium pada rahang dapat dira$at dengan cara yang serupa yaitu enukleasi terhadap keseluruhan kista, termasuk lapisan epithelial maupun kapsul dengan penanganan yang sukses dari ruang yang mati adalah suatu usaha kuratif. -rainase bebas dari cairan isi dari kista ini sedemikian rupa sehingga rongga kista kosong dan dalam hubungan bebas dengan mulut, adalah juga suatu usaha kuratif. Kantung kista akan menyusut ukurannya dan akan terbentuk tulang baru pada aspek kapsularnya. !ekanisme yang mendasari penyembuhannya masih belum jelas diketahui. -ahulu dianggap sebagai dekompresi dan pengangkatan dari isi kista yang memiliki osmolaritas yang lebih besar dari pada jaringan di sekelilingnya dan yang kemudian menimbulkan tekanan hidrostatik internal yang positif.. *erapi !edikamentosa yang dapat diberikan pada kista dentigenous sinus maksila yaitu< o ,ntibiotik (diberikan minimal 'minggu)< 7ini pertama< ,mo;ycilline #;.11mg. (otrimo;a0ole '; tablet. 6rythromycine 4;.11mg.

7ini kedua<

14

Bila ditemukan kuman menghasilkan en0im beta" laktamase diberikan kombinasi ,mo;ycilline?(la+ulanic acid, cefaclor atau cephalosporine generasi 55 atau 555 oral o -ekogestan *opikal< %olusio 6fedrin 3 tetes hidung O;ymetha0oline 1,1'.3 tetes hidung untuk anak, 1,1.3 semprot hidung. )angan digunakan lebih dari . hari %istemik< >enil &ropanolamine &seudoefedrine #;21mg

o !ukolitik< ="acetytilcystein, bromhe;ine o ,nalgesik@antipiretik (bila perlu)< &arasetamol #;.11mg !etampiron #;.11mg

BAB III
15

PENUTUP
Kista dentigerous atau kista folikuler merupakan salah satu jenis kista odontogenik ( kista yang berasal dari sisa sisa epitelium pembentukan gigi). Kista dentigerous adalah rongga pataologik yang dibatasi oleh epitelium atau kantung jaringan ikat yang berbatas epitelium skuamosa berlapis yang terbentuk di sekeliling mahkota gigi yang tidak erupsi dan terdapat cairan. Kista dentigerous biasanya lebih banyak ditemukan pada laki"laki dibanding $anita dan hampir 213 dari kista ini terjadi pada dekade dua hingga dekade tiga kehidupan. Kista dentigerous tumbuh di antara sisa epithelium email dan mahkota gigi impaksi pada beberapa indi+idu dan tampaknya faktor genetis juga mempengaruhi. &ada dasarnya kista ini terjadi akibat dilatasi ruang folikular normal di sekitar mahkota gigi yang sedang erupsi yang disebabkan akumulasi cairan jaringan atau darah. Kista dentingerous dapat tumbuh membesar yang bisa menyebabkan pembengkakan bahkan dapat terjadinya fraktur patologis yang tanpa disertai rasa sakit kecuali bila kista tersebut terinfeksi. %erta terdapat kecenderungan untuk menjadi ameloblastoma. )ika kista dentingerous khususnya pada gigi molar rahang atas membesar dan terinfeksi maka sangat memudahkan terjadinya sinusitis maksilaris. Beberapa usaha kuratif pada kista dentingerous ini yaitu enukleasi terhadap keseluruhan kista, termasuk lapisan epithelial maupun kapsul, serta drainase bebas dari cairan isi dari kista ini sedemikian rupa sehingga rongga kista kosong dan dalam hubungan yang bebas dengan mulut. Beberapa medikamentosa yang dapat diberikan yaitu antibiotik, dekongestan, mukolitik dan analgesik.

DA-TA* PUSTAKA

16

. Birnbaum W, %tephen !. -unne. Diagnosis Kelainan dalam Mulut. 68(. )akarta. '11A. Hal. ' B. '. 8oeorge 7, ,dams, 7a$rence C. Boies, &eter H. HiglerD alih bahasa, (aroline WijayaD editor, Harjanto 6ffendi. Boies< Buku Ajar Penyakit THT. 6disi 2. )akarta< 68(, '111. p '41"'.A #. %oetjipto -amayanti. Patogenesis, Diagnosis dan Penatalaksanaan Medik inusitis, disampaikan dalam< %imposium &enatalaksanaan Otitis !edia %upuratifa Kronik, %inusitis dan -emo *impanoplasti ''"'# !aret '11#, -enpasar, Bali 4. %udiono, )anti. Kista !dontogenik. 68(. )akarta. '1 . Hal. ''"#/

.. ,nna 8ade$a, 6$a )ach, *omas0 *omas0e$ski, )olanta Wojciecho$ic0. Treatment of t"e follicular cyst of t"e mandi#le in a $regnant %oman. )ournal of &re"(linical and (linical Cesearch, '1 , Eol ., =o , #B"41

2. %yafriadi, !ei. Patologi Mulut. &enerbit ,ndi. Fogyakarta. '11B. Hal 4 /. %hear, !er+yn. Kista &ongga Mulut edisi '. 68(. )akarta. '1 '. Hal. 'AB

17