Anda di halaman 1dari 2

Faktor-faktor yang mempengaruhi mtamorfosis katak antara lain adalah pemberian hormone tiroksin, faktor lingkungan (suhu), dan

pakan. Martinez et al (1994) mengemukakan bahwa faktor suhu akan sangat mempengaruhi proses metamorfosis. Pada kondisi suhu di bawah optimal peningkatan suhu akan diikuti dengan peningkatan laju metamorfosis dan sebaliknya dengan penurunan suhu maka laju metamorfosis semakin lambat. Pada jenis katak Rana perezi, suhu 22-25 derajat celcius menyebabkan metamorfosis berlangsung lebih cepat (9-11 minggu), sedangkan pada suhu 17-22 derajat celcius metamorfois berlangsung agak lambat (11-12 minggu). Pemberian pakan yang bagus (protein, lemak, dan karbihidrat) dan peningkatan oksigen melalui acrasi dapat meningkatkan fungsi kerja tiroksin sehingga metamorfosis berlangsung lebih cepat dan meningkatkan pertumbuhan kecebong (Mohanty and Dash, 1986 dalam Sarjono, 2002). Sedang Osalde et al. (1996) melaporkan bahwa katak lembu yang diberi pakan dengan kandungan protein (45-55%), (35-45%), dan (30-35%) mulai bermetamorfosis masing-masing setelah umur 6 minggu, 7 minggu, dan 10 minggu. Hormon tiroid yang beredar dalam darah sebagian besar berikatan dengan protein dalam plasma dan hanya sebagian kecil yang dalam keadaan bebas (0,05% tiroksin dan 0,5% triioditironin). Hormon yang dalam kondisi bebas atau tidak terikat protein merupakan hormone yang siap pakai dan hormone ini yang akan berperan dalam menentukan metamorphosis kecebong. Selain itu ada juga hormon yang terikat protein sebagai cadangan, bilamana diperlukan maka akan dilepas sebagai pasokan hormone tiroid (Djojosoebagio, 1996 dalam Sarjono, 2002). Menurut Dojosoebagio (1996) larva amfibia seperti halnya kecebong katak lembu untuk dapat berkembang secara sempurna membutuhkan hormone tiroid yang memadai dalam tubuhnya. Kebutuhan hormone tersebut untuk meningkatkan kemampuan dalam biokimia dan morfologi selama berlangsung metamorphosis hingga mencapai metamorphosis sempurna (Galton dan Munck, 1981; Galton, 1985 dalam Sarjono, 2002). Pada stadia prametamorfosis (stadia I-VIII) keberadaan hormone tiroksin sangat terbatas dan hampir tidak terdeteksi. Peningkatan hormon secara tajam mulai stadia prametamorfosis (stadia IX-XX) dan mencapai puncaknya pada stadia metamorphosis sempurna (stadia XXI-XXV) (Galton, 1983; Galton dan Germain, 1985 dalam Sarjono, 2002). Regard et al (1978) melaporkan bahwa pada stadia prametamorfosis, kandungan hormone tiroid sangat rendah, yaitu triiodotironin (5< ng/100 ml) dan tiroksin (<50 ng/100 ml), pada stadia metamorphosis sempurna kandungan hormone tiroid serum darah triiodotironin (78 ng/100 ml) dan tiroksin (0,5 /100 ml). selanjutnya pada pascametamorfosis sempurna, fungsi hormone tiroid tidak nampak pengaruhnya terhadap metabolism (Djojosoebagio, 1996 dalam Sarjono, 2002). Ditegaskan Turner dan Bagnara (1976) bahwa hormone tiroid adalah esensial untuk metamorfosis larva, sehingga ketersediaannya harus mencukupi hingga metamorfosis mencapai sempurna. Bilamana pada stadia kecebong ketersediaan hormone tiroid tidak mencukupi (hypothyroidism) atau fungsi kelenjar tiroid dihambat sehingga tidak dapat mensintesis hormone tiroksin, maka proses pendewasaan jaringan hewan tersebut akan terhambat atau tumbuh terus menjadi kecebong besar dan tidak akan menjadi katak (Djojosoebagio, 1996 dalam Sarjono, 2002).

Sumber: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/7775