Anda di halaman 1dari 31

ESTIMASI RUGI-RUGI ENERGI PADA SISTEM

DISTRIBUSI RADIAL 20 kV STUDI KASUS : SISTEM


DISTRIBUSI JAWA TIMUR APJ MALANG PENYULANG
DINOYO

PROPOSAL SKRIPSI
KONSENTRASI TEKNIK ENERGI ELEKTRIK


Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan
Memperoleh Gelar Sarjana Teknik





Disusun oleh:
ANASTASIA INDAH L.S
NIM. 105060300111024 63







KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
MALANG
2014
2

I. Judul
ESTIMASI RUGI-RUGI ENERGI
PADA SISTEM DISTRIBUSI RADIAL 20 kV
STUDI KASUS : SISTEM DISTRIBUSI JAWA TIMUR
PENYULANG DINOYO G.I. SENGKALING

II. Bidang Skripsi
Tugas Akhir ini meliputi bidang Teknik Energi Elektrik.

III. Latar Belakang Masalah
Pada umumnya rugi-rugi teknis pada tingkat pembangkit dan saluran transmisi
pemantauannya tidak menjadi masalah karena adanya fasilitas pengukuran yang dapat
dipantau dengan baik. Hal yang sama juga terdapat pada gardu induk (GI), sehingga rugi-
rugi teknis dari GI tidak menjadi masalah besar karena disinipun pengukuran dan
pemantauan berjalan baik.
Lain halnya pada sisi distribusi, rugi-rugi teknis lebih kompleks dan sulit diketahui
besarannya. Pada GI setiap penyulang yang keluar dari GI ini dilengkapi dengan alat
pengukuran, begitu pula pada sisi primer trafo tenaganya. Selepas ini tidak terdapat lagi
alat pengukuran kecuali pada meteran pelanggan. Oleh karena itu, sangatlah sulit
menentukan rugi-rugi energi secara tepat pada sistem distribusi.
Metode estimasi rugi-rugi energi yang ada saat ini banyak menggunakan asumsi-
asumsi akibat keterbatasan sumber daya yang tersedia. Tugas akhir ini menawarkan
metode baru untuk memperkirakan rugi-rugi energi pada penyulang distribusi. Nilai-nilai
pengukuran digunakan untuk menyoroti keandalan metode estimasi baru.



3

IV. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari skripsi ini adalah sebagai berikut: Dari latar
belakang di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan antara lain :
1. Bagaimana memperkirakan rugi-rugi energi listrik pada salah satu penyulang
distribusi?
2. Bagaimana perbandingan rugi-rugi energi hasil pengukuran (aktual) terhadap hasil
perkiraan dengan metode yang diusulkan?

V. Tujuan Penulisan
Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui besarnya rugi-rugi energi dari
penyulang distribusi radial 20 kV.

VI. Batasan Masalah
Untuk membatasi materi yang akan dibicarakan pada skripsi ini, maka penulis perlu
membuat batasan cakupan masalah yang akan dibahas. Hal ini diperbuat supaya isi dan
pembahasan dari tugas akhir ini menjadi lebih terarah dan dapat mencapai hasil yang
diharapkan. Maka penulis membatasi penulisan ini dengan hal-hal sebagai berikut :
a) Studi kasus diterapkan dengan cara menganalisa salah satu penyulang yang terdapat
pada sistem distribusi 20 kV G.I. Sengkaling. Penyulang yang dianalisa adalah
Penyulang Dinoyo, Area Pelayanan dan Jaringan Malang.
b) Data yang akan dianalisa merupakan data-data yang berhubungan dengan sistem
distribusi, single line diagram, beserta gardu-gardu distribusi.

VII. Metodologi Penelitian
Untuk dapat menyelesaikan skripsi ini maka penulis menerapkan beberapa metode
studi diantaranya adalah sebagai berikut.
a) Studi literatur
Mempelajari literatur yang berhubungan dengan sistem distribusi dan rugi-rugi
energi.


4

b) Pengumpulan Data
Melakukan pengumpulan data di lapangan berupa data penyulang Dinoyo, Sistem
distribusi 20 kV G.I. Sengkaling.
c) Analisis Data
Dari data-data yang diperoleh selanjutnya dihitung besarnya rugi-rugi energi dengan
menggunakan metode yang diusulkan.
d) Kesimpulan
Menentukan besarnya rugi-rugi yang terjadi serta menarik kesimpulan akan
penggunaan metode yang diusulkan .

VIII. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pemahaman terhadap Tugas Akhir ini maka penulis
menyusun sistematika penulisan sebagai berikut.

BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, batasan
masalah, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II DASAR TEORI
Bab ini membahas tentang pandangan umum sistem tenaga listrik, sistem
distribusi, rugi-rugi pada sistem tenaga listrik, permasalahan dalam
menentukan rugi-rugi energi, serta metode estimasi rugi-rugi energi listrik.

BAB III PENGUMPULAN DATA
Ban ini berisi tentang data-data yang diperlukan, antara lain :
a. Single line penyulang Dinoyo
b. Kurva beban penyulang Dinoyo
c. Data gardu distribusi penyulang Dinoyo beserta karakteristik beban
penyulang Dinoyo
d. Data pelanggan penyulang Dinoyo
e. Data saluran penyulang Dinoyo
5


BAB IV ANALISIS DATA
Dengan data-data yang diperoleh selanjutnya dihitung besarnya rugi-rugi
energi dengan menggunakan metode yang diusulkan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan dari skripsi dan
saran penulis kepada pembaca.

IX. Tinjauan Pustaka
A. PANDANGAN UMUM SISTEM TENAGA LISTRIK
Pada umumnya sistem tenaga listrik terdiri atas kumpulan komponen peralatan
listrik atau mesin listrik, seperti generator, transformator, beban, dan berikut alat-alat
pengaman dan pengaturan yang saling dihubungkan dan membentuk suatu sistem yang
digunakan untuk membangkitkan, menyalurkan, dan menggunakan energi. Secara umum
sistem kelistrikan dapat dibagi menjadi 3 (tiga) bagian utama, yaitu : Pembangkit tenaga
listrik, sistem transmisi, dan yang terakhir adalah sistem distribusi.

Gambar 1.1 Skema umum sistem tenaga listrik
Sumber : Kadir, Abdul. Distribusi dan utilisasi Tenaga Listrik. Jakarta : Universitas
Indonesia Press, 2000, p.5.
6

Gambar 1.1 memperlihatkan skema suatu sistem tenaga listrik. Dalam suatu sistem
tenaga listrik dapat terdiri atas beberapa subsistem yang saling berhubungan, atau yang
biasa disebut sebagai sistem interkoneksi (Gambar 1.2).

Gambar 1. 2 Sebagian dari sistem interkoneksi, yaitu :sebuah pusat listrik, dua buah
GI beserta subsistem distribusinya
Sumber : Marsudi, Djiteng. Pembangkitan Energi Listrik. Jakarta : Erlangga, 2011,
p.5.

Arah mengalirnya energi listrik berawal dari Pusat Tenaga Listrik melalui saluran-
saluran transmisi dan distribusi dan sampai pada instalasi pemakai yang merupakan unsur
utilisasi.
Energi listrik dibangkitkan pada pembangkit tenaga listrik (PTL) yang dapat
merupakan suatu pusat listrik tenaga uap (PLTU), pusat listrik tenaga air (PLTA), pusat
listrik tenaga gas (PLTG), pusat listrik tenaga diesel (PLTD), ataupun pusat listrik tenaga
nuklir (PLTN). PTL biasanya membangkitkan energi listrik pada tegangan menengah
(TM), yaitu pada umumnya antara 6-20 kV.
Pada sistem tenaga listrik yang besar, atau bilamana PTL terletak jauh dari
pemakai, maka energi listrik itu perlu diangkut melalui saluran transmisi, dan tegangannya
harus dinaikkan dari TM menjadi tegangan tinggi (TT). Pada jarak yang sangat jauh
malah diperlukan tegangan ekstra tinggi (TET). Menaikkan tegangan itu dilakukan di
7

gardu induk (GI) dengan menggunakan transformator penaik (step-up transformer).
Tegangan tinggi di Indonesia adalah 70 kV, 150 kV, dan 275 kV. Sedangkan tegangan
ekstra tinggi 500 kV.
Mendekati pusat pemakaian tenaga listrik, yang dapat merupakan suatu industri
atau suatu kota, tegangan tinggi diturunkan menjadi tegangan menengah (TM). Hal ini
juga dilakukan pada suatu GI dengan menggunakan transformator penurun (step-down
transformer). Di indonesia tegangan menengah adalah 20 kV. Saluran 20 kV ini
menelusuri jalan-jalan di seluruh kota, dan merupakan sistem distribusi primer. Bilamana
transmisi tenaga listrik dilakukan dengan mempergunakan saluran-saluran udara dengan
menara-menara transmisi, sistem distribusi primer di kota biasanya terdiri atas kabel-kabel
tanah yang tertanam di tepi jalan, sehingga tidak terlihat.
Di tepi-tepi jalan biasanya berdekatan dengan persimpangan, terdapat gardu-gardu
distribusi (GD), yang mengubah tegangan menengah menjadi tegangan rendah (TR)
melalui transformator distribusi (distribution tansformer). Melalui tiang-tiang listrik yang
terlihat di tepi jalanan, energi listrik tegangan rendah disalurkan kepada pemakai. Di
indonesia tegangan rendah adalah 220/380 volt, dan merupakan sistem distribusi
sekunder.
Energi diterima pemakai dari tiang TR melalui konduktor atau kawat yang
dinamakan sambungan rumah (SR) dan berakhir pada alat pengukur listrik yang sekaligus
merupakan titik akhir pemilikan PLN.

B. SISTEM DISTRIBUSI
Sistem jaringan distribusi tenaga listrik dapat diklasifikasikan dari berbagai segi,
antara lain adalah berdasarkan ukuran tegangan dan bentuk jaringan.
1. Berdasarkan ukuran tegangan
Berdasarkan ukuran tegangan, jaringan distribusi tenaga listrik dapat
dibedakan pada dua sistem, yaitu sistem jaringan distribusi primer dan sistem
jaringan distribusi sekunder.
a. Sistem jaringan distribusi primer
Sistem jaringan distribusi primer atau sering disebut jaringan
distribusi tegangan tinggi (JDTT) ini terletak antara gardu induk dengan
8

gardu pembagi, yang memiliki tegangan sistem lebih tinggi dari tegangan
terpakai untuk konsumen. Standar tegangan untuk jaringan distribusi
primer ini adalah 6 kV, 10 kV, dan 20 kV (sesuai standar PLN).
Sedangkan di Amerika Serikat standar tegangan untuk jaringan distribusi
primer ini adalah 2,4 kV, 4,16 kV, dan 13,8 kV.
b. Sistem jaringan distribusi sekunder
Sistem jaringan distribusi sekunder atau sering disebut jaringan
distribusi tegangan rendah (JDTR), merupakan jaringan yang berfungsi
sebagai penyalur tenaga listrik dari gardu-gardu pembagi (gardu
distribusi) ke pusat-pusat beban (konsumen tenaga listrik). Besarnya
standar tegangan untuk jaringan ditribusi sekunder ini adalah 127/220 V
untuk sistem lama, dan 220/380 V untuk sistem baru, serta 440/550 V
untuk keperluam industri. Besarnya tegangan maksimum yang diizinkan
adalah 3 sampai 4 % lebih besar dari tegangan nominalnya. Penetapan ini
sebanding dengan besarnya nilai tegangan jatuh (voltage drop) yang telah
ditetapkan berdasarkan PUIL 661 F.1, bahwa rugi-rugi daya pada suatu
jaringan adalah 15 %. Dengan adanya pembatasan tersebut stabilitas
penyaluran daya ke pusat-pusat beban tidak terganggu.

2. Berdasarkan bentuk jaringan
a. Sistem Radial Terbuka
Keuntungannya :
- Konstruksinya lebih sederhana
- Material yang digunakan lebih sedikit, sehingga lebih murah
- Sistem pemeliharaannya lebih murah
- Untuk penyaluran jarak pendek akan lebih murah

Kelemahannya :
o Keterandalan sistem ini lebih rendah
o Faktor penggunaan konduktor 100 %
9

o Makin panjang jaringan (dari Gardu Induk atau Gardu Hubung) kondisi
tegangan tidak dapat diandalkan
o Rugi-rugi tegangan lebih besar
o Kapasitas pelayanan terbatas
o Bila terjadi gangguan penyaluran daya terhenti.

Sistem radial pada jaringan distribusi merupakan sistem terbuka, dimana
tenaga listrik yang disalurkan secara radial melalui gardu induk ke konsumen-
konsumen dilakukan secara terpisah satu sama lainnya. Sistem ini merupakan
sistem yang paling sederhana diantara sistem yang lain dan paling murah,
sebab sesuai konstruksinya sistem ini menghendaki sedikit sekali penggunaan
material listrik, apalagi jika jarak penyaluran antara gardu induk ke konsumen
tidak terlalu jauh.


Gambar 1.3 Sistem Jaringan Radial Terbuka
Sumber : Suswanto, Daman. Sistem Distribusi Tenaga Listrik Untuk
Mahasiswa Teknik Elektro, Ed. I, Padang : Universitas Negeri Padang Press,
2009, p.20.

10

Sistem radial terbuka ini paling tidak dapat diandalkan, karena penyaluran
tenaga kistrik hanya dilakukan dengan menggunakan satu saluran saja.
Jaringan model ini sewaktu mendapat gangguan akan menghentikan
penyaluran tenaga listrik cukup lama sebelum gangguan tersebut diperbaiki
kembali. Oleh sebab itu kontinuitas pelayanan pada sistem radial terbuka ini
kurang bisa diandalkan. Selain itu makin panjang jarak saluran dari gardu
induk ke konsumen, kondisi tegangan makin tidak bisa diandalkan, justru
bertambah buruk karena rugi-rugi tegangan akan lebih besar. Berarti kapasitas
pelayanan untuk sistem radial terbuka ini sangat terbatas.

b. Sistem Radial Paralel
Keuntungannya :
- Kontinuitas pelayanan lebih terjamin, karena menggunakan dua sumber
- Kapasitas pelayanan lebih baik dan dapat melayani beban maksimum
- Kedua saluran dapat melayani titik beban secara bersama
- Bila salah satu saluran mengalami gangguan, maka saluran yang satu lagi
dapat menggantikannya, sehingga pemadaman tak perlu terjadi.
- Dapat menyalurkan daya listrik melalui dua saluran yang diparalelkan

Kelemahannya :
o Peralatan yang digunakan lebih banyak terutama peralatan proteksi
o Biaya pembangunan lebih mahal
11



Gambar 1.4 Sistem Jaringan Radial Paralel
Sumber : Suswanto, Daman. Sistem Distribusi Tenaga Listrik Untuk
Mahasiswa Teknik Elektro, Ed. I, Padang : Universitas Negeri Padang Press,
2009, p.21.

Untuk memperbaiki kekurangan dari sistem radial terbuka diatas maka
dipakai konfigurasi sistem radial paralel, yang menyalurkan tenaga listrik
melalui dua saluran yang diparalelkan. Pada sistem ini titik beban dilayani oleh
dua saluran, sehingga bila salah satu saluran mengalami gangguan, maka
saluran yang satu lagi dapat menggantikan melayani, dengan demikian
pemadaman tak perlu terjadi. Kontinuitas pelayanan sistem radial paralel ini
lebih terjamin dan kapasitas pelayanan bisa lebih besar dan sanggup melayani
beban maksimum (peak load) dalam batas yang diinginkan. Kedua saluran
dapat dikerjakan untuk melayani titik beban bersama-sama. Biasanya titik
beban hanya dilayani oleh salah satu saluran saja. Hal ini dilakukan untuk
menjaga kontinuitas pelayanan pada konsumen.



12

c. Sistem Rangkaian Tertutup (Loop Circuit)

Gambar 1.5 Sistem Jaringan Tertutup
Sumber : Suswanto, Daman. Sistem Distribusi Tenaga Listrik Untuk
Mahasiswa Teknik Elektro, Ed. I, Padang : Universitas Negeri Padang Press,
2009, p.22.

Keuntungannya :
- Dapat menyalurkan daya listrik melalui satu atau dua saluran feeder yang
saling berhubungan
- Menguntungkan dari segi ekonomis
- Bila terjadi gangguan pada salauran maka saluran yang lain dapat
menggantikan untuk menyalurkan daya listrik
- Kontinuitas penyaluran daya listrik lebih terjamin
- Bila digunakan dua sumber pembangkit, kapasitas tegangan lebih baik dan
regulasi tegangan cenderung kecil
- Dalam kondisi normal beroperasi, pemutus beban dalam keadaan terbuka
- Biaya konstruksi lebih murah
13

- Faktor penggunaan konduktor lebih rendah, yaitu 50 %
- Keandalan relatif lebih baik

Kelemahannya :
o Keterandalan sistem ini lebih rendah
o Drop tegangan makin besar
o Bila beban yang dilayani bertambah, maka kapasitas pelayanan akan lebih
jelek

Sistem rangkaian tertutup pada jaringan distribusi merupakan suatu sistem
penyaluran melalui dua atau lebih saluran feeder yang saling berhubungan
membentuk rangkaian berbentuk cincin.
Sistem ini secara ekonomis menguntungkan, karena gangguan pada
jaringan terbatas hanya pada saluran yang terganggu saja. Sedangkan pada
saluran yang lain masih dapat menyalurkan tenaga listrik dari sumber lain
dalam rangkaian yang tidak terganggu. Sehingga kontinuitas pelayanan sumber
tenaga listrik dapat terjamin dengan baik. Yang perlu diperhatikan pada sistem
ini apabila beban yang dilayani bertambah, maka kapasitas pelayanan untuk
sistem rangkaian tertutup ini kondisinya akan lebih jelek. Tetapi jika digunakan
titik sumber (Pembangkit Tenaga Listrik) lebih dari satu di dalam sistem
jaringan ini maka sistem ini akan benyak dipakai, dan akan menghasilkan
kualitas tegangan lebih baik, serta regulasi tegangannya cenderung kecil.

d. Sistem Network/Mesh
Sistem network/mesh ini merupakan sistem penyaluran tenaga listrik yang
dilakukan secara terus-menerus oleh dua atau lebih feeder pada gardu-gardu
induk dari beberapa Pusat Pembangkit Tenaga Listrik yang bekerja secara
paralel. Sistem ini merupakan pengembangan dari sistem-sistem yang
terdahulu dan merupakan sistem yang paling baik serta dapat diandalkan,
mengingat sistem ini dilayani oleh dua atau lebih sumber tenaga listrik. Selain
itu junlah cabang lebih banyak dari jumlah titik feeder.
14


Keuntungannya :
- Penyaluran tenaga listrik dapat dilakukan secara terus-menerus (selama 24
jam) dengan menggunakan dua atau lebih feeder
- Merupakan pengembangan dari sistem-sistem yang terdahulu
- Tingkat keterandalannya lebih tinggi
- Jumlah cabang lebih banyak dari jumlah titik feeder
- Dapat digunakan pada daerah-daerah yang memiliki tingkat kepadatan
yang tinggi
- Memiliki kapasitas dan kontinuitas pelayanan sangat baik
- Gangguan yang terjadi pada salah satu saluran tidak akan mengganggu
kontinuitas pelayanan

Kelemahannya :
o Biaya konstruksi dan pembangunan lebih tinggi
o Pengaturan alat proteksi lebih sukar






15


Gambar 1.6 Sistem Jaringan Network/mesh
Sumber : Suswanto, Daman. Sistem Distribusi Tenaga Listrik Untuk
Mahasiswa Teknik Elektro, Ed. I, Padang : Universitas Negeri Padang Press,
2009, p.24.

Sistem ini dapat digunakan pada daerah-daerah yang memiliki kepadatan
tinggi dan mempunyai kapasitas dan kontinuitas pelayanan yang sangat baik.
Gangguan yang terjadi pada salah satu saluran tidak akan mengganggu
kontinuitas pelayanan. Sebab semua titik beban terhubung paralel dengan
beberapa sumber tenaga listrik.

e. Sistem Interkoneksi
Keuntungannya :
- Merupakan pengembangan sistem network / mesh
- Dapat menyalurkan tenaga listrik dari beberapa Pusat Pembangkit Tenaga
Listrik
16

- Penyaluran tenaga listrik dapat berlangsung terus-menerus (tanpa putus),
walaupun daerah kepadatan beban cukup tinggi dan luas
- Memiliki keterandalan dan kualitas sistem yang tinggi
- Apabila salah satu Pembangkit mengalami kerusakan, maka penyaluran
tenaga listrik dapat dialihkan ke Pusat Pembangkit lainnya.
- Bagi Pusat Pembangkit yang memiliki kapasitas lebih kecil, dapat
dipergunakan sebagai cadangan atau pembantu bagi Pusat Pembangkit
Utama (yang memiliki kapasitas tenaga listrik yang lebih besar)
- Ongkos pembangkitan dapat diperkecil
- Sistem ini dapat bekerja secara bergantian sesuai dengan jadwal yang telah
ditentukan
- Dapat memperpanjang umur Pusat Pembangkit
- Dapat menjaga kestabilan sistem Pembangkitan
- Keterandalannya lebih baik
- Dapat di capai penghematan-penghematan di dalam investasi

Kelemahannya :
o Memerlukan biaya yang cukup mahal
o Memerlukan perencanaan yang lebih matang
o Saat terjadi gangguan hubung singkat pada penghantar jaringan, maka
semua Pusat Pembangkit akan tergabung di dalam sistem dan akan ikut
menyumbang arus hubung singkat ke tempat gangguan tersebut.
o Jika terjadi unit-unit mesin pada Pusat Pembangkit terganggu, maka akan
mengakibatkan jatuhnya sebagian atau seluruh sistem.
o Perlu menjaga keseimbangan antara produksi dengan pemakaian
o Merepotkan saat terjadi gangguan petir
17


Gambar 1.7 Sistem Jaringan Interkoneksi
Sumber : Suswanto, Daman. Sistem Distribusi Tenaga Listrik Untuk
Mahasiswa Teknik Elektro, Ed. I, Padang : Universitas Negeri Padang Press,
2009, p.25.

Sistem interkoneksi ini merupakan perkembangan dari sistem
network/mesh. Sistem ini menyalurkan tenaga listrik dari beberapa Pusat
Pembangkit Tenaga Listrik yang dikehendaki bekerja secara paralel. Sehingga
penyaluran tenaga listrik dapat berlangsung terusmenerus (tak terputus),
walaupun daerah kepadatan beban cukup tinggi dan luas. Hanya saja sistem ini
memerlukan biaya yang cukup mahal dan perencanaan yang cukup matang.
Untuk perkembangan dikemudian hari, sistem interkoneksi ini sangat baik, bisa
diandalkan dan merupakan sistem yang mempunyai kualitas yang cukup tinggi.
Pada sistem interkoneksi ini apabila salah satu Pusat Pembangkit Tenaga
Listrik mengalami kerusakan, maka penyaluran tenaga listrik dapat dialihkan
ke Pusat Pembangkit lain. Untuk Pusat Pembangkit yang mempunyai kapasitas
18

kecil dapat dipergunakan sebagai pembantu dari Pusat Pembangkit Utama
(yang mempunyai kapasitas tenaga listrik yang besar). Apabila beban normal
sehari-hari dapat diberikan oleh Pusat Pembangkit Tenaga listrik tersebut,
sehingga ongkos pembangkitan dapat diperkecil. Pada sistem interkoneksi ini
Pusat Pembangkit Tenaga Listrik bekerja bergantian secara teratur sesuai
dengan jadwal yang telah ditentukan. Sehingga tidak ada Pusat Pembangkit
yang bekerja terus-menerus. Cara ini akan dapat memperpanjang umur Pusat
Pembangkit dan dapat menjaga kestabilan sistem pembangkitan.

C. RUGI-RUGI PADA SISTEM TENAGA LISTRIK
Setiap peralatan listrik yang digunakan tidak selamanya bekerja dengan sempurna.
Semakin lama waktu pemakaian, maka akan berkurang efisiensi dari peralatan tersebut
sehingga akan mengakibatkan rugi-rugi yang semakin besar pula (Hadi, Abdul, 1994 :3).
Rugi-rugi pada sistem tenaga listrik dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Rugi-rugi sistem transmisi, yaitu rugi-rugi transformator step-up (trafo tegangan
tinggi), saluran transmisi, dan transformator di gardu induk.
2. Rugi-rugi pada sistem distribusi, yaitu rugi-rugi pada penyulang utama serta
jaringan, transformator distribusi, peralatan distribusi, dan pengukuran.
Rugi-rugi pada sistem tenaga listrik menurut sumber, dibagi menjadi :
1. Rugi-rugi teknis
Rugi-rugi teknis (susut teknis) muncul akibat sifat daya hantar material/
peralatan listrik itu sendiri yang sangat bergantung pada kualitas bahan dari
material/peralatan listrik tersebut, jika pada jaringan maka akan sangat
bergantung pada konfigurasi jaringannya.
2. Rugi-rugi non teknis
Rugi-rugi non teknis muncul akibat adanya masalah pada penyaluran sistem
tenaga listrik. Rugi-rugi non teknis yang sering terjadi antara lain, pencurian
listrik, penyambungan listrik secara ilegal, kurangnya akurasi pencatatan kWh
meter pada pelanggan, dll.

19

Dalam proses penyaluran tenaga listrik ke para pelanggan (dimulai dari
pembangkit, transmisi dan distribusi) terjadi rugi-rugi teknis (losses) yaitu rugi daya dan
rugi energi. Rugi teknis adalah pada penghantar saluran, adanya tahanan dari penghantar
yang dialiri arus sehinggga timbullah rugi teknis (I
2
R) pada jaringan tersebut. Misalnya
pada mesin-mesin listrik seperti generator, trafo, dan sebagainya, adanya histerisis dan
arus pusar pada besi dan belitan yang dialiri arus sehinggga menimbulkann rugi teknis
pada peralatan tersebut. Rugi teknis pada pembangkit dapat diperbaiki dengan
meningkatkan efisiensi dan mengurangi pemakaian sendiri.
Rugi teknis pada sistem distribusi merupakan penjumlahan dari I
2
R atau rugi
tahanan dan dapat dengan mudah diketahui bila arus puncaknya diketahui. Rugi teknis
dari jaringan tenaga listrik tergantung dari macam pembebanan pada saluran tersebut
(beban merata, terpusat). Rugi teknis pada transformator terdiri dari rugi beban nol dan
rugi pada waktu pembebanan. Rugi pada beban nol dikenal dengan rugi besi, dan tidak
tergantung dari arus beban, sedangkan rugi pada waktu pembebanan dikenal dengan rugi
tembaga yang nilainya bervariasi sesuai dengan kuadrat arus bebannya.
Rugi energi (rugi kWh) biasanya dinyatakan dalam bentuk rupiah. Biaya untuk
mencatu kerugian ini dapat dibagi dalam 2 bagian yang utama :
a. Komponen energi atau biaya produksi untuk membangkitkan kehilangan kWh.
b. Komponen demand/beban atau biaya tahunan yang tercakup di dalam sistem
investasinya yang diperlukan mencatu rugi beban rugi beban puncak.
Kedua komponen tersebut biasaya digabungkan menjadi satu, baik dalam bentuk
Rp/kWh untuk rugi energi maupun dalam Rp/kW rugi daya puncak. Biasanya rugi teknis
itu tergantung pada titik yang diamati dari sistem tersebut, titik yang terjauh dari sumber,
sudah tentu biayanya lebih besar.
D. PERMASALAHAN DALAM MENENTUKAN RUGI-RUGI ENERGI
Pada umumnya rugi-rugi teknis pada tingkat pembangkit dan saluran transmisi
pemantauannya tidak menjadi masalah karena adanya fasilitas pengukuran yang dapat
dipantau dengan baik. Hal yang sama juga terdapat pada gardu induk (GI), sehingga rugi-
20

rugi teknis dari GI tidak menjadi masalah besar karena disinipun pengukuran dan
pemantauan berjalan baik.
Lain halnya pada sisi distribusi, rugi-rugi teknis lebih kompleks dan sulit
diketahui besarannya. Pada GI setiap penyulang yang keluar dari GI ini dilengkapi
dengan alat pengukur, begitu pula pada sisi primer trafo tenaganya. Selepas ini tidak
terdapat lagi alat pengukuran kecuali pada meteran pelanggan. Oleh karena itu, sangatlah
sulit menentukan rugi energi secara tepat pada sistem distribusi.
Dengan menentukan rugi/susut energi pada saluran distribusi, cara yang dilakukan
oleh bebrapa perusahaan listrik adalah membandingkan energi yang disalurkan oleh
gardu induk dan energi yang terjual dalam selang waktu tertentu, misalnya setahun.
Ada dua sumber kesalahan pokok dalam perhitungan susut energi :
1. Selisih kWh (energi) yang disalurkan GI dan kWh yang terjual atau energi
yang dipakai oleh pelanggan tidak menggambarkan keadaan sebenarnya,
Karena ada energi yang tidak terukur seperti pencurian listrik, meteran rusak,
kesalahan pembacaan kWh meter dan sebagainya. Dari sini jelaslah selisih
energi yang sebenarnya tidak dapat diukur secara pasti.
2. Pembacaan meteran pada GI mungkin dapat dilakukan pada hari yang sama,
dengan demikian kWh (energi) yang diukur bebar-benar merupakan kWh yang
disalurkan, sedangkan pembacaan meteran pelanggan tidak bersamaan
waktunya sehingga hal ini akan merupakan kesalahan dalam analisis
selanjutnya.







21

E. METODE ESTIMASI RUGI-RUGI ENERGI LISTRIK

Gambar 1. 8 Saluran yang diberi beban

Gambar 1.2 adalah model di mana terdapat rugi-rugi energi pada penghantar
(saluran). Di mana I adalah besarnya arus yang mengalir dan R adalah tahanan pada
penghantar, maka rugi-rugi daya pada saluran adalah :

................................................ (1)
Pada periode T, energi yang terbuang pada saluran adalah :

................................................ (2)
Pada sistem tiga fasa yang terdiri dari N segmen terdapat tahanan konduktor
sebesar R /km, maka total rugi-rugi yang timbul pada penyulang adalah jumlah dari
rugi-rugi di tiap fasa.
Rugi-rugi daya yang timbul di fasa-a, pada waktu t dituliskan dengan :

{[

............................... (3)
Di mana :

: arus yang mengalir di fasa-a pada segmen

dalam
waktu singkat t.


: panjang dari konduktor pada segmen

.




22










Gambar 1.9 Diagram rangkaian listrik dari gardu distribusi










Gambar 1.10 Diagram satu garis dari gardu distribusi

Jika panjang saluran dibagi menjadi N segmen, maka dapat dibuat
perbandingan antara

arus yang mengalir di saluran pada segmen

dalam waktu
singkat t dengan

arus total yang mengalir di sepanjang saluran fasa-a sebagai


berikut :


............................................ (4)



Ia
I
1
I
2
x

l

segmen 1 segmen N
I
1

I
2

x km
l km
segmen 1 segmen N
GD
23


Dengan mensubstitusi persamaan (4) ke persamaan (3), diperoleh :

{[

....................... (5)

Persamaan (5) dapat disederhanakan menjadi :

....................... (6)

Rugi-rugi energi yang; timbul di fasa-a selama periode waktu-T dapat diperoleh
dengan mengintegralkan persamaan (6) :

...................... (7)

Kita dapat menyederhanakan estimasi rugi-rugi dengan mengasumsikan bentuk
variasi beban. Dengan asumsi ini

, kita dapat menjadikannya konstanta. Sebagai


contoh :



Di sini,

: rating daya yang terpasang pada beban motor-motor di segmen

: total rating daya yang terpasang di sepanjang saluran.


Sehingga persamaan (7) dapat dituliskan menjadi :

{
(

............... (8)

Dengan mewakilkan :
{

}

24

Maka diperoleh persamaan estimasi rugi-rugi energi pada fasa-a yang lebih sederhana
menjadi :

............................ (9)

Jadi, total rugi-rugi energi pada sistem tiga fasa merupakan penjumlahan rugi-rugi di
setiap fasa. Dengan demikian, rumus estimasi rugi-rugi energi pada saluran tiga fasa
dapat dituliskan sebagai berikut :

............ (10)
Faktor F dan R (besar tahannan per km) dapat dihitung konstan selama konfigurasi
saluran/penyulang (panjang, topologi, rating daya) tidak berubah.
Nilai

dan

diperoleh berdasarkan rekaman setiap 30 menit setiap hari


dari metering yang terdapat pada penyulang. Data-data ini akan didefenisikan ke dalam
tabel dan digambarkan dalam kurva arus terhadap waktu.
Untuk memudahkan menghitung

, penulis menggunakan metode


simpson.

Metode Simpson
Di samping menggunakan rumus trapesium dengan interval yang lebih kecil, cara
lain untuk mendapatkan perkiraan yang lebih teliti adalah menggunakan polinomial order
lebih tinggi untuk menghubungkan titik-titik data. Misalnya, apabila terdapat satu titik
tambahan di antara f (a) dan f (b), maka ketiga titik dapat dihubungkan dengan fungsi
parabola (Gambar 1.11a). Apabila terdapat dua titik tambahan dengan jarak yang sama
antara f (a) dan f (b), maka keempat titik tersebut dapat dihubungkan dengan polinomial
order tiga (Gambar 1.11b). Rumus yang dihasilkan oleh integral di bawah polinomial
tersebut dikenal dengan metode (aturan) Simpson.
25



Gambar 1.11 Aturan Simpson
1) Aturan Simpson 1/3
Di dalam aturan Simpson 1/3 digunakan polinomial order dua (persamaan
parabola) yang melalui titik f (x
i 1
), f (x
i
) dan f (x
i + 1
) untuk mendekati fungsi.
Rumus Simpson dapat diturunkan berdasarkan deret Taylor. Untuk itu, dipandang
bentuk integral berikut ini.
dx x f x I
}
=
x
a
) ( ) ( (1.11)
Apabila bentuk tersebut didiferensialkan terhadap x, akan menjadi:
) (
) (
) ( ' x f
dx
x dI
x I = = (1.12)
Dengan memperhatikan Gambar 1.12. dan persamaan (1.12) maka persamaan deret
Taylor adalah:
) ( ' '
! 3

) ( '
! 2

) ( ) ( ) ( ) (
i
3
i
2
i i i 1 i
x f
x
x f
x
x f x x I x x I x I + + + = + =
+

) ( ) ( ' ' '
! 4

5
i
4
x O x f
x
+ + (1.13)
) ( ' '
! 3

) ( '
! 2

) ( ) ( ) ( ) (
i
3
i
2
i i i 1 i
x f
x
x f
x
x f x x I x x I x I + = =


) ( ) ( ' ' '
! 4

5
i
4
x O x f
x
+ (1.14)
Pada Gambar 1.12, nilai I (x
i + 1
) adalah luasan dibawah fungsi f (x) antara
batas a dan x
i + 1
. Sedangkan nilai I (x
i 1
) adalah luasan antara batas a dan I (x
i 1
).
26

Dengan demikian luasan di bawah fungsi antara batas x
i 1
dan x
i + 1
yaitu (A
i
),
adalah luasan I (x
i + 1
) dikurangi I (x
i 1
) atau persamaan (1.13) dikurangi persamaan
(1.14).

A
i
= I (x
i + 1
) I (x
i 1
)
atau
) ( ) ( ' '
3

) ( 2
5
i
3
i i
x O x f
x
x f x A + + = (1.15)

Gambar 1.12 Penurunan metode Simpson

Nilai f ''(x
i
) ditulis dalam bentuk diferensial terpusat:
) (

) ( ) ( 2 ) (
) ( ' '
2
2
1 i i 1 i
i
x O
x
x f x f x f
x f +
+
=
+

Kemudian bentuk diatas disubstitusikan ke dalam persamaan (1.15). Untuk
memudahkan penulisan, selanjutnya notasi f (x
i
) ditulis dalam bentuk f
i
, sehingga
persamaan (1.15) menjadi:
) ( ) (
3

) 2 (
3

2
5 2
3
1 i i 1 i i i
x O x O
x
f f f
x
f x A + + + + =
+

atau
) ( ) 4 (
3

5
1 i i 1 i i
x O f f f
x
A + + + =
+
(1.16)
27

Persamaan (1.16) dikenal dengan metode Simpson 1/3. Diberi tambahan nama 1/3
karena Ax dibagi dengan 3. Pada pemakaian satu pias,
2
a b
x

= A
, sehingga
persamaan (1.16) dapat ditulis dalam bentuk:

| | ) ( ) ( 4 ) (
6
i
b f c f a f
a b
A + +

= (1.17)
dengan titik c adalah titik tengah antara a dan b.
Kesalahan pemotongan yang terjadi dari metode Simpson 1/3 untuk satu pias
adalah:

) ( ' ' ' '
90
1
5
t
c f x =
Oleh karena
2
a b
x

= A
, maka:
) ( ' ' ' '
2880
) (
5
t
c f
a b
=

2) Aturan Simpson 1/3 dengan banyak pias
Seperti dalam metode trapesium, metode Simpson dapat diperbaiki dengan
membagi luasan dalam sejumlah pias dengan panjang interval yang sama (Gambar
1.12):

n
a b
x

= A
dengan n adalah jumlah pias.

28

Gambar 1.13. Metode Simpson dengan banyak pias

Luas total diperoleh dengan menjumlahkan semua pias, seperti pada Gambar 1.13.

}
+ + + =

b
a
1 n 3 1
... ) ( A A A dx x f (1.18)
Dalam metode Simpson ini jumlah interval adalah genap. Apabila persamaan (1.16)
disubstitusikan ke dalam persamaan (1.18) akan diperoleh:
) 4 (
3

... ) 4 (
3

) 4 (
3

) (
n 1 n 2 n
b
a
3 2 1 2 1 0
f f f
x
f f f
x
f f f
x
dx x f + + +
}
+ + + + + + =


atau


}
(

+ + + =

=

=
b
a
2 n
2 i
i
1 n
1 i
i
) ( 2 ) ( 4 ) ( ) (
3

) ( x f x f b f a f
x
dx x f (1.19)
Seperti pada Gambar (1.13), dalam penggunaan metode Simpson dengan banyak
pias ini jumlah interval adalah genap. Perkiraan kesalahan yang terjadi pada aturan
Simpson untuk banyak pias adalah:

' ' ' '
180
) (
4
5
a
f
n
a b
= c
dengan ' ' ' ' f adalah rerata dari turunan keempat untuk setiap interval.

3) Metode Simpson 3/8
Metode Simpson 3/8 diturunkan dengan menggunakan persamaan
polinomial order tiga yang melalui empat titik.

dx x f dx x f I
}
~
}
=
b
a
3
b
a
) ( ) (
Dengan cara yang sama pada penurunan aturan Simpson 1/3, akhirnya diperoleh:
| | ) ( ) ( 3 ) ( 3 ) (
8
3
3 2 1 0
x f x f x f x f
x
I + + + = (1.20)
dengan:
29


3
a b
x

= A
Persamaan (1.20) disebut dengan metode Simpson 3/8 karena Ax dikalikan dengan
3/8. Metode Simpson 3/8 dapat juga ditulis dalam bentuk:

| |
8
) ( ) ( 3 ) ( 3 ) (
) (
3 2 1 0
x f x f x f x f
a b I
+ + +
= (1.21)
Metode Simpson 3/8 mempunyai kesalahan pemotongan sebesar:
) ( ' ' ' '
80
3
3
t
c f x = (1.22a)
Mengingat
3
a b
x

= A , maka:
) ( ' ' ' '
6480
) (
5
t
c f
a b
= (1.22b)

Metode Simpson 1/3 biasanya lebih disukai karena mencapai ketelitian
order tiga dan hanya memerlukan tiga titik, dibandingkan metode Simpson 3/8 yang
membutuhkan empat titik. Dalam pemakaian banyak pias, metode Simpson 1/3
hanya berlaku untuk jumlah pias genap. Apabila dikehendaki jumlah pias ganjil,
maka dapat digunakan metode trapesium. Tetapi metode ini tidak begitu baik
karena adanya kesalahan yang cukup besar. Untuk itu kedua metode dapat
digabung, yaitu sejumlah genap pias digunakan metode Simpson 1/3 sedang 3 pias
sisanya digunakan metode Simpson 3/8.










30

X. Jadwal













No Kegiatan
Bulan
Februari
(2014)
Maret
(2014)
April
(2014)
Mei
(2014)
Juni
(2014)
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Pembahasan judul skripsi kepada
KKDK
\ \

2 Pembuatan proposal
\
\ \ \

3 Pengajuan proposal kepada dosen
pembimbing

\ \



4 Seminar Proposal
\ \

5 Pengerjaan Skripsi/Bimbingan
tugas akhir

\ \ \ \ \ \ \

6 Penelitian
\ \ \ \ \

7 Seminar Hasil
\ \

8 Seminar Skripsi
\ \

31

XI. DAFTAR PUSTAKA

Ek Bien, Liem; Kasim, Ishak & Aprianti Pratiwi, Erni, Analysis of Power Losses
Calculation in Medium Voltage Network of Feeder Serimpi, PAM 1, and PAM 2 at
Network Area Gambir PT. PLN (Persero) Distribution Jakarta Raya and
Tangerang, JETri, vol. 8, no. 2, pp. 53-72, Februari 2009.
Forum Distribusi, Peningkatan Mutu dan Keandalan Sistem Distribusi melalui
Penguatan Kendali Operasi serta Kompetensi Pengelola Distribusi, PT PLN
(Persero), Jakarta, 12-13 Juli 2006.
Gunawan, Erwin, Upaya Menurunkan Susut Non Teknis Dengan Optimalisasi Penertiban
Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) di PT PLN (Persero) Area Kotabumi. Telaahan
Staff PT. PLN (Persero) Distribusi Lampung-Area Kotabumi, 2013.
Hadi, Abdul, Sistem Distribusi Daya Listrik, Jakarta : Erlangga, 1994.
http://garyshafer.blogspot.com/2008/03/29/Rugi/Susut Teknis Pada Sistem Distribusi
Tenaga Listrik/diakses tanggal 28 Desember 2013.
http://elista.akprind.ac.id/upload/files/9021_Bab_7.doc/diakses tanggal 30 Desember
2013.
http://kwhprodigy.blogspot.com/2012_02_01_archive.html/diakses tanggal 03 Januari
2013.
Purcell, Edwin J.; Rigdon, Steven E.; & Varberg, Dale, 2007, Kalkulus dan Geometri
Analitis Jilid 1, Edisi kesembilan, (Penerjemah : I Nyoman Susila, Bana
Kartasasmita, Rawuh) , Penerbit Erlangga, Jakarta.
Rao, P. S. Nagendra; Deekshit, Ravishankar, Energy Loss Estimation in Distribution
Feeders, IEEE Trans. On Power Delivery, vol. 21, no.3, pp. 1092-1100, July 2006.
Ramadhianto, Danang, Studi Susut Energi Pada Sistem Distribusi Tenaga Listrik Melalui
Analisis Pengukuran dan Perhitungan, Skripsi, Universitas Indonesia, 2008.