Anda di halaman 1dari 86

FILARIASIS

OLEH dr. Siti Istianah, M.Sc Dep. Parasitologi FK UII

Nematoda jaringan: Filarioidea Dracunculoidea

Filarioidea: filaria limfatik filaria non limfatik: Onchocerca vovulus Dipetalonema perstans Manzonella ozardi Loa-loa Dracunculoidea: Dracunculus medinensis

Filariasis limfatik
Penyebab filariasis / kaki gajah / elephantiasis: Nematoda darah / jaringan:
Wuchereria bancrofti Brugia malayi Brugia timori

Habitat:
Saluran limfe Kelenjar limfe

Hospes antara:
Nyamuk

The areas in red indicate the geographic distribution of lymphatic filariasis (CDC,2010).

Wuchereria bancrofti
Manusia: Urban: Culex quenquefasciatus (Jakarta, Bekasi, (Tangerang, Semarang) Rural: An. subpictus, An. vagus & An aconitus (Flores) Periodik nocturnal Tipe lain: subperiodik nokturnal (Thailand) diurnal (Kep. Pasifik) Hewan Wuchereria kalimantani
7

Brugia malayi
Rural: Nokturnal
Manusia An. barbirostris (anthropophylic): persawahan (Sulawesi)

Selubung lepas

Sub-periodik nokturnal
Manusia, hewan (kera, kucing): zoonosis Ma. uniformis, Ma. Indiana, Ma. anulifera, Ma.anulata, Ma.dives anthropozoophylic: swamp area Sumatra, Kalimantan & Sulawesi

Non-periodik: Kalimantan timur


8

Brugia timori
Rural: Nokturnal:
Manusia An. barbirostris

persawahan
Flores, NTT

Brugia pahangi
Menginfeksi hewan (kucing) Nokturnal Nyamuk Mansonia

Kalimantan / Sumatra

Morfologi
(dewasa, mikrofilaria, larva)
Dewasa: Habitat: sistem limfe (Vasa dan kelenjar) hospes difinitif Bentuk: panjang seperti benag Jantan: 4 cm Betina: 10 cm Bertahun-tahun (10 tahun): penyakit kronis Mikrofilaria: Di dalam darah hospes Di dalam darah perifer saat tertentu (periodik) Mampu hidup 1 tahun Larva: di dalam hospes perantara nyamuk Ada 3 stadium: L1, L2 dan L3 L3 merupakan bentuk infektifnya

11

CACING DEWASA FILARIA LIMFATIK

12

MIKROFILARIA
1 = KEPALA 2 = EKOR 3 = INTI 4 = SELUBUNG 3

1 2

13

MF Wuchereria bancrofti
UKURAN: 224 - 296m RUANG KEPALA: PANJANG = LEBAR PUNYA SELUBUNG, tidak tercat UJUNG EKOR TAK ADA INTI HABITAT: DLM DARAH & CAIRAN HIDROKEL
KEPALA MF
EKOR MF

14

MIKROFILARIA Brugia malayi


UKURAN : 177 233 m RUANG KEPALA : PANJANG = 2x LEBAR PUNYA SELUBUNG, tercat merah (Giemsa) UJUNG EKOR ADA 2 INTI TERPISAH HABITAT DI DLM DARAH

15

MIKROFILARIA Brugia timori


UKURAN : 177 233 m RUANG KEPALA : PANJANG = 3x LEBAR PUNYA SELUBUNG, tidak tercat UJUNG EKOR ADA 2 INTI TERPISAH HABITAT DI DLM DARAH

16

CIRI CIRI MORFOLOGIS MIKROFILARIA


HAL
1. UKURAN (m) 2. RUANG KEPALA 3. SELUBUNG

W. bancrofti
224 - 296 PANJANG = LEBAR + tidak tercat giemsa TAK ADA INTI DALAM DARAH & CAIRAN HIDROKEL

B. malayi
177 - 230 PANJANG = 2 KALI LEBAR + merah (Giemsa)

B. timori
265 - 323 PANJANG = 3 KALI LEBAR + tidak tercat Giemsa

4. UJUNG EKOR 5. HABITAT

ADA 2 INTI TERPISAH


DALAM DARAH

ADA 2 INTI TERPISAH


DALAM DARAH
17

Siklus hidup
Hospes difinitif: Manusia, hewan (kera, kucing) Hospes antara: Nyamuk: W. bancrofti: Culex, Anopheles, Aedes, Mansonia B. malayi: Anopheles, Aedes, Mansonia B. timori: Anopheles Habitat: Sistem limfe (kelenjar limfe, saluran limfe) Bentuk infektif: Larva stadium tiga Cara infeksi: Gigitan nyamuk yg mengandung larva stad. tiga Larva masuk kedalam tubuh hospes secara aktif Infeksi filariasis > sukar infeksi d/p plasmodium
18

19

20

21

Perkembangan mikrofilaria dalam tubuh nyamuk


Mf. nyamuk selubung lepas lambung thorax Larva stadium satu:
Tidak aktif, pendek, kutikula tebal, ekor memanjang

(Brugia: 1-2 inti pada ujung ekor)

Larva stadium dua:


Gerakan lebih aktif, memanjang, melebar, kutikula tipis Ekor memendek, papila pada ujung posterior

Larva stadium tiga:


Bergerak sangat aktif, langsing dan panjang Ditemukan pada abdomen, thorax, kepala dan proboscis

22

Perkembangan mikrofilaria dlm nyamuk (lanjutan)

Larva stadium tiga: Wuchereria: 3 caudal papila yang jelas Brugia : papila central > jelas papila ventro lateral < jelas Perkembangan larva (L1 L3): Temperatur (makin tinggi, makin cepat) Brugia malayi: 8-10 hari Brugia pahangi: 8-10 hari Wuchereria bancrofti: 12-14 hari Wuchereria kalimantani: 3 minggu
23

24

Perkembangan larva dalam tubuh hospes

L3 hospes saluran limfe L4 L5 dewasa mf Mikrofilaria menuju kedarah tepi secara periodik
Perkembangan L3 menjadi dewasa: Brugia malayi: 3 bulan Brugia pahangi: 3 bulan Brugia timori: 3 bulan Wuchereria kalimantani: 9 bulan Wuchereria bancrofti: 9 bulan
25

Periodisitas: Mekanisme belum jelas Adaftasi mf. dengan kebiasaan menggigit nyamuk Perbedaan tekanan O2 antara darah vena dan arteri Aktivitas hospes
Patogenesis (mikrofilaria, larva, dewasa hidup / mati): Mikrofilaria:
Selubungnya: imunogenik bagi yag sensitif

Larva:
Hsl metabolisme (ES), moulting fluid: protein alergi / radang

Dewasa:
Mati: kalsifikasi menyebabkan obstruksi saluran limfe

26

Patogenesis (lanjutan)

Dewasa (hidup): Iritasi mekanik: proliferasi endothel obstruksi saluran limfe kaki bengkak / kaki gajah / elefantiasis Hasil metabolisme:
Protein / benda asing Proses radang

Parturition fluid:
Protein / benda asing Berusaha mengeleminir: proses radang

27

Gejala klinis
Parasit (nematoda): Dewasa (paling utama): elefantiasis Larva: radang / alergi Reaksi hiperesponsif terhadap mikrofilaria: Occult filariasis / Tropical pulmonary eosinophilia:

B. malayi dan B. pahangi Eosinophilia Ig E meninggi Mf. dlm darah neg. (mf mati ok proses ADCC) Kelainan paru: sesak nafas, batuk bercak milier pada paru

limfadenopati: sisa mf dikelilingi sel radang dsb. Meyers

bodi,s
28

Tropical pulmonary eosinophilia


(Occult filariasis)

Penyebab: human / non-human filaria (B. malayi/pahangi Individu yg hiperesponsive thd mikrofilaria Gejalanya:
Hipereosinophilia, fever, berat badan turun

Produksi IgE & IgG thd mikrofilaria berlebihan


Mikrofilaria dlm darah negative Batuk & sesak nafas malam hari (seperti asma) Radiologis: infiltrasi pd paru spt TB milier Pd lien, hepar, limfonodi dan paru: terlihat sisa-sisa mf yg mati

dikelilingi sel eosinophil

Terapi: dietilkarbamasin (DEK) Jika tidak diobati: fibrosis paru


29

30

Gejala klinis (ok parasit / nematoda)


Asimtomatis Akut:

Brugia malayi / timori: fever berulang limfadenitis: abses non-purulenta limfangitis desendens Wuchereria bancrofti: fever, limfadenitis, limfangitis des. Epididimitis, funikulitis, orkitis gejala akut Brugia > Wuchereria Kronis: limfudema, elefantiasis / elefantiasis scroti hidrokel testis dan chyluria
31

Gejala klinis kronik (lanjutan)


Limfedema: kaki bengkak, kulit halus, pitting oedema Elefantiasis grade I: > normal fibrosis +

pitting oedema + sembuh + Elefantiasis grade II: >>normal fibrosis ++ pitting oedema deformitas sembuh: meragukan (+ / -) Elefantiasis grade III: >>>normal ( 3 x N / 2 x N) pitting oedema fibrosis +++ deformitas + sembuh 32

Gejala klinis kronis (lanjutan)


Elefantiasis Brugia: di bawah lutut

di bawah siku 2 x normal Elefantiasis Wuchereria: seluruh tungkai seluruh lengan genital 3 x normal kulit kasar, menebal kulit melipat sec. infeksi: bacteria / jamur
33

Gejala klinis kronis (lanjutan) Hidrokel: grade I : < kepalan tangan grade II : antara I dan III grade III: > kepala DD: Fever : infeksi bacteria / lainnya Benjolan inguinal: hernia Abses : bacteria (mengandung pus) Limfangitis : bacteria Limfoedema : kelainan jantung Elefantiasis : obstruksi sal. limfe post operatif
34

Dampak penderita filaria kronis di masyarakat


Produktivitas kerja menurun Menjadi beban keluarga / masyarakat Sulit mencari jodoh Angka perceraian meningkat Tidak menyebabkan kematian Kematian penderita: depresi Diderita: sosial ekonomi rendah Laki-laki > menderita d/p perempuan Banyak diderita pd orang dewasa Cacat tubuh yg sulit disembuhkan
35

Diagnosis
Klinis:

banyak kelemahannya: asimtomatis >>> simtomatis < Parasitologis: mikrofilaria dalam darah dewasa: ultra sound (filarial dance sign) histologis Serologis: deteksi antibodi deteksi antigen: dg. antibodi monoklonal Molecular: metode PCR (deteksi DNA) Limphography: obstruksi saluran limfe
36

Parasitologis:
mikrofilaria: darah - ujung jari sesuai periodisitasnya

- vena: filtrasi Knott,S (sentrifugasi) urine (bancrofti) cairan hidrokel jaringan tes provokasi: DEC 2 mg / kg BB 30-45 menit kemudian: diperiksa darah QBC (quantitatif buffy coat: 50 mf / 1 ml darah Cara:
mikrohematokrit: heparin, EDTA & acridine orange (untuk memberi warna mikrofilaria) dilihat di bawah mikroskop fluorescent Keuntungan : cepat Kelemahan: darah cuma sedikit, sehingga pada infeksi ringan tidak terdeteksi.

37

Pemeriksaan mf tidak memuaskan: Pre paten Elefantiasis TPE / occult filariasis Infeksi dengan satu macam jenis kelamin Kepadatan mikrofilaria dlm darah rendah
Pemeriksaan stadium dewasa: USG Biopsi kelenjar Tidak disukai penderita

38

Diagnosis serologis:
Deteksi antibodi

kelemahannya: reaksi silang tak dapat bedakan infeksi / sembuh contoh: intra dermal tes: antigen crude (larva, mf., stad dewasa Dirofilaria immitis) Immuno fluorescent anti body test (IFAT) Immuno-haemaglutination test (IHA) Presipitasi Enzyme link immuno absorbent assay (ELISA)

39

Diagnosis serologis (deteksi antigen) Deteksi antigen beredar:


kelebihannya: lebih spesifik dpt bedakan infeksi / sembuh kesulitan: perlu antibodi monoklonal Teknik yang dipakai: Sandwich ELISA : mendeteksi antigen 10 ng dot ELISA : mendeteksi antigen 0,05 ng Sampel: darah / serum urin

40

Pengobatan
Diethyl-carbamacine (DEC): Microfilaricide

Macrofilaricide

Tahan panas
Non-toksik Tidak berasa

medicated salt (garam DEC 0,2%)

Cepat diekresi
Hanya efektif pd stadium akut
41

Dosis DEC menurut WHO


Brugia: 3-6 mg/kgBB/hari selama 12 hari Wuchereria: 6mg/kgBB/hari selama 12 hari

Timbul reaksi samping: fever, sakit kepala Nausea, vomitus Hipotensi, lemah badan Gatal, erythema (rash) dan tidak ada nafsu makan Reaksi samping: Brugia > Wuchereria Farmakologi obat Disintegrasi mikrofilaria (matinya mf.)
42

Pengobatan filariasis di Indonesia


Tujuan khusus: Menurunkan angka kesakitan: ADR & CDR Menurunkan angka infeksi: mf. rate dan vektor rate Sasaran: Daerah endemis lama: telah diobati mf rate tetap baru: elefantiasis Daerah prioritas: mf rate > 1% endemis lama / baru: pembangunan, pariwisata transmigrasi, perbatasan
43

Pemberian obat DEC utk mengurangi efek samping


Pengobatan massal dosis rendah: Lebih 10 th: 1 tab / minggu selama 40 minggu Kurang 10 th: tab / minggu selama 40 minggu Perkecualian: Umur kurang dari 2 th Sedang hamil / menyusui Orang tua sekali / sakit berat Pelaksanaan: Puskesmas: kader kesehatan / prinsip dasa wisma Evaluasi: 5 th sekali Parameter: angka transmisi (L3 pd nyamuk) angka infeksi (mf rate & deteksi antigen)
44

Obat filariasis selain DEC Suramin: Microfilaricide Macrofilaricide Toksik: penggunaannya terbatas Obat filariasis yg baik: Microfilaricide & macrofilaricide Single dose Oral Tidak toksis
45

Obat filariasis (lanjutan) Ivermectin: dosis: 220 420 g / kg BB / hari sifatnya: microfilaricide side effect seperti pd DEC Benzothiazol: dosis: 25 mg / kg BB / hari selama 5 hari 50 mg / kg BB / hari selama 1 hari dilakukan pd hewan coba (monkey): Mak, 1991 sifatnya: microfilaricide
46

Siti Istianah, M.Sc Dep Parasitologi FK UII

47

Vectors
Invertebrata Menularkan parasit darivertebrata ke yang lain Vektor mekanik: perkembangan parasit (-) Vektor biologik: reproduksi parasit (+)

48

Vector borne Diseases nyamuk (malaria, St. Louis encephalitis, dengue


fever, yellow fever, West Nile virus) Flea/pinjal (bubonic plague) sand flies (leishmaniasis) tick (Lyme disease, rocky mountain spotted fever, tick-borne encephalitis) deer mouse (hantavirus) kissing bug (Triatominae) (Chagas Disease) bat (Rabies)

49

Mechanical Vector borne Transmission


Secara mekanik (lengan, antena, badan)
Tak ada multiplikasi parasit Contoh: Kontaminasi fekal : lalat membawa Shigella enteric diseases. Pathogen-exposure 24 jam

50

Biological Vector borne Transmission


Parasit hidup dalam siklus vektornya, berkembang

biak atau perubahan bentuk Biological transmission = cyclical transmission Vector control = disease reduction
Adult control misal: jumlah nyamuk dewasa

terinfeksi. Larval control tujuan jumlah nyamuk.

Vector elimination = disease elimination


Infeksi akut : vector elimination end disease.
Vector elimination tidak mengeliminasi penyakit,

misal filaria dan malaria persisten.


51

Biological transmission
Tiga tipe: Propagative transmission
Multiplikasi tanpa perubahan biologik (virus dan

bakteri)

Cyclopropagative transmission Multiplikasi dan perubahan biologik( protozoa) Cyclodevelopmental transmission Perubahan biologik tanpa multiplikasi (filaria) Beberapa penyakit mempunyai hospes reservoir.
52

Eg. malaria
Three way interaction

53

Resevoir host

54

Disease control
1) Kemotherapi eliminasi sumber infeksi
Mass distribution of antimalarial drugs

2) Memutus hubungan/kontak host-Anopheles vector mencegah penularan.


Proteksi personal- repellents, bednets, coils, etc.

3) Reduksi / eradikasi vector.


sampai lefel tertentu akan memutus siklus penyakit Menggunakan insecticida

55

dr. Siti Istianah Dep Parasitologi FK UII

56

Difinisi

Bahan yg punya efek menolak/mematikan serangga utk membasmi serangga pengganggu / vektor penyakit Racun ekonomis Insektisida merupakan racun ekonomis

57

Tergantung pada : 1. Macam insektisida 2. Bentuk insektisida 3. Cara masuk dlm tubuh serangga 4. Jumlah/konsentrasi/dosis yg tepat 5. Ketrampilan pengguna

58

1. Spesies 2. Ukuran/besarnya 3. Tubuhnya 4. Stadiumnya 5. Sistim pernapasan 6. Bentuk mulutnya 7. Habitat dan kebiasaan makannya

59

Keuntungan: 1. Meningkatkan aktivitas 2. Efeknya/daya kerja tahan lama 3. Tidak mudah rusak oleh perubahan cuaca 4. Menjadi mudah ditangani oleh pengguna
60

Macam formulasi insektisida


1. Tepung hembus (Dust = D)
Tepung kering, digunakan langsung dihembuskan

Tanpa dicampur/diencerkan dg bahan lain


Bahan aktif rendah (1-10%)

2. Butiran (Granule = G)
Berupa butiran pasir

Penggunaan langsung (Abate

larva Aedes)

61

3. Tepung semprot (Wettable powder = WP) * Penggunaan dicampur dengan air * Digunakan dengan berbagai alat 4. Emulsi (Emulsifiable concentrate = EC) * Cairan yg dicampur dg emulsifier * Bhn aktif tinggi, hrs diencerkan & pakai alat

62

5. Aerosol

Bentuk cair, dlm tabung dg tekanan tinggi Jika tombol ditekan keluar cairan seperti kabut Sering dipakai dlm rumah tangga

6. Ultra Low Volume (ULV)

Berupa cairan pekat Bahan aktif tinggi tanpa pengenceran Memerlukan nozzle khusus (didarat/udara)

7. Fumigan

Bentuk padat/cair pd temp & tek normal dpt berubah gas/uap Cara kerja racun pernafasan
63

Menurut cara kerjanya

a. Racun perut (stomach poison), terserap dlm saluran pencernaan (timbal arsenat, kalsium arsenat, dll) b. Racun kontak (contact poison), racun masuk melalui kulit serangga (DDT, aldrin, folidol, diazinon) c. Racun sistemik, diserap oleh tanaman & pd batas wkt tertentu mempunyai daya tolak / mematikan serangga yg menghisap tanaman tsb.
64

d. Fumigan, senyawa kimia dlm bentuk gas/uap yg dpt mematikan serangga (metilbromiol) e. Attractan, senyawa kimia yg baunya menarik serangga & tdk bersifat racun (metaldehid) f. Repelent, baunya dpt menolak serangga

65

Mode of Toxicity in Insects


Physical poison General protoplasmic poison Cellular enzyme poison Nerve poison Growth regulator Disease causing agent Repellant

66

Toxisitas terhadap manusia atau organisme nontarget


Highly toxic LD50 0 50 mg/kg
Moderately toxic - LD50 50 500 mg/kg Low toxicity - LD50 500 5,000 mg/kg Nontoxic - LD50 <5,000 mg/kg

67

Menurut stadium serangga a. imagosida b. ovisida c. larvasida


Menurut jenis serangga a. muscicida (lalat) b. pediculicida (kutu) c. miticida (tungau) d. akaricida (acarina)
68

Menurut cara pemakaian

a. dibakar b. bentuk asap (fogging) c. disemprotkan pd dinding/ruangan d. ditaburkan pd tandon tempat perindukan e. penyemprotan bentuk ultra low volume (ULV)

69

Menurut asal dan susunan kimia

a. senyawa anorganik (paris green, sodium fluoride, sodium fluoroasetat) b. senyawa organik dari tumbuhan atau binatang c. senyawa organik sintetis

70

Organoklorin (hidrokarbon)

tdk larut dlm air, tapi lrt dlm lemak murni warna putih berpengaruh terhadap syaraf residu lama, stabil daya racun terhadap mamalia rendah contoh DDT, Lindane, Aldrin, Dieldrin

71

Organofosfat
Paling banyak digunakan Warna tengguli Tidak stabil Lebih toksik pd hewan bertulang belakang Mempengaruhi sistim saraf dg menghambat fungsi enzim asetilkolin esterase Bekerja thd neuro muscular junction dari saraf shg serangga hiperaktif, menggelepar, lumpuh & mati. Contoh paration, malation, temefos/abate, diazinon, fention, fenitrotion, dll.
72

Karbamat
Merupakan racun saraf Efek residu lebih panjang tetapi tdk persisten, shg lebih ekonomis Bekerja sbg racun perut, racun kontak & racun sistemik Kisaran toksisitas dari aman (Sevin), sampai beracun Contoh: Furadan, Sevin, Temik, Isolan (Baygon), Matacil dsb.
73

1. Golongan nikotin

dpt digunakan sbg racun kontak, fumigan, & racun perut. Sifatnya sangat beracun Mudah terurai oleh cahaya

2. Rotenon atau rotenoid

Diperoleh dari tanaman kacang-kacangan (Derris & Lonchocarpus) yg banyak tumbuh di Amerika Selatan. Aktivitas menghambat fungsi enzim asam glutamat oksidase
74

3. Piretrin

Diperoleh dari ekstrak bunga

Pengaruhnya sangat cepat pd serangga yg sedang terbang (paralisis otot) Merupakan insektisida rumah yg paling ideal
75

Chrysanthemum

Syarat harus spesifik 1. Virus Contoh: Nuclear Polyhidrosis Heliothis 2. Jamur Contoh: Coelomomycoes stegomyiae efektif untuk larva nyamuk A. gambiae di Afrika 3. Bakteri Contoh: Bacillus thuringensis, sporanya melukai saluran pencernaan serangga 4. Protozoa Contoh: Nosemalocustae
76

A. RESISTENSI
Difinisi Populasi serangga yg mampu bertahan terhadap pengaruh insektisida dg dosis yg biasa diberikan Mekanisme a. Resistensi morfologi (penebalan kutikula, bulu lebat)
77

b. Resistensi fisiologi/enzymatis Fisiologi bawaan - daya absorbsi lambat - penyimpanan pd jaringan tdk vital - ekskresi cepat - detoksikasi oleh enzim Fisiologi yg didapat Toleransi akibat dosis subletal c. Resistensi watak Watak bawaan - perubahan habitat - avoidance (menghindar dari insektisida) Watak yg didapat menghindar dari dosis subletal

78

B. PENCEMARAN LINGKUNGAN
1. Dosis yang berlebihan Fitotoksisitas Daerah tidak aman Efek residu berbahaya Pencemaran air 2. Pengulangan terlalu banyak Berbahaya bagi org yg bekerja dg insektisida Mempercepat timbulnya resistensi
79

3. Pemakaian alat yg tidak sesuai


Alat tdk sesuai daerah sasaran manusia & mamalia

insektisida keluar dari dpt membahayakan

4. Pemilihan waktu yang tidak tepat

a. Waktu terjadinya hujan (3-5 jam sebelum hujan) b. Adanya angin (arah & banyaknya angin)

80

INSEKTISIDA

Meracuni alam & penghuninya

Bahaya bagi pemakai

Sampah ikutan B3

Termakan/ terminum

Terhirup Btk gas/udara

Terserap Lewat kulit

Masuk dlm tubuh


81

Bahan aktif yg banyak terdapat dlm insektisida rumah tangga


Dichlorvos atau DDVP (dichlorovynill dimetyl phosphate) Berdaya racun tinggi (WHO) Merusak sistim saraf, mengganggu sistim pernapasan & jantung Potensial sbg karsinogenik, menghambat pertumbuhan organ & serta kematian prenatal Pd lingkungan hal cukup serius bagi hewan/tban waktu terurai ckp lama

82

Propoxur (karbamat) Racun kelas menengah (WHO) Jika terhirup/msk tbh mengaburkan mata, keringat berlebih, pusing, sakit kepala & badan lemah Menurunkan aktivitas enzim yg berperan pd transmisi saraf Berpengaruh buruk pada hati dan reproduksi Di AS hanya diijinkan untuk diperkebunan /pertanian

83

Pyrethroid Racun kelas menengah (WHO) Iritasi mata/kulit sensitif Menyebabkan penyakit asma Yg banyak digunakan d-allethrin, transflutrin, bioallethrin, pralethrin, d-phenothrin, cyphenothrin, atau esbiothrin. Untuk repelen biasa dipakai DEET (diethyltoluamid) efeknya iritasi kulit berbahaya pada kulit luka dan selaput lendir tubuh

84

Toksisitas insektisida rumah tangga yang berbentuk

mosquito coil >insektisida cair> insektisida semprot karena mosquito coil sifatnya hanya mengusir nyamuk Penggunaan mosquito coil hrs dlm ruang terbuka Insektisida semprot hrs digunakan thdp ruang kosong minimal 1 jam sebelum ditempati

85

86