Anda di halaman 1dari 5

Renungan:

Menjadi Pribadi Yang Proaktif


Oleh: Lastiko Runtuwene

Dewasa ini menjadi manusia yang dewasa dan sukses tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intelektualnya saja, namun oleh perilaku dan dan karakternya sebagai manusia yang bebas untuk menentukan

atau memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya secara bertanggungjawab. Bukan karena pilihan orang lain, bukan karena perintah orang lain, bukan karena determinisme lingkungan di luar dirinya melainkan oleh keputusan berdasarkan pilihan bebasnya. Seorang manusia yang dewasa salah satunya ditandai oleh kemampuan proaktif. Manusia yang proaktif akan selalu memiliki inisiatif, memiliki komitmen dan selalu berusaha untuk memenuhi janji dan komitmen yang ia buat. Dalam pergaulannya, ia tidak bersikap defensif melainkan selalu berusaha untuk menggunakan bahasabahasa yang proaktif. Manusia proaktif ialah manusia yang mampu untuk membedakan manakah hal-hal yang berada dalam lingkaran kepeduliannya dan manakah hal-hal yang berada dalam lingkaran pengaruhnya sehingga ia dapat memusatkan perhatian pada lingkaran pengaruhnya dan bertindak dalam lingkaran pengaruh tersebut. Bersikap proaktif berarti berinisiatif dan bertanggung jawab atas hidup kita sendiri. Perilaku yang proaktif adalah produk dari pilihan sadar atau keputusan yang datang dari dalam diri mereka sendiri, berdasarkan prinsip-prinsip serta nilai-nilai yang ada dalam dirinya dan bukan produk dari kondisi mereka, atau suasana sekitarnya. Karena itu orang-orang proaktif tidak bersikap reaktif. Sikap reaktif yaitu sikap menyalahkan lingkungan dan merasa diri menjadi korban. Orang yang reaktif digerakkan oleh perasaan yang diakibatkan oleh kondisi, keadaan dan lingkungan mereka. Padahal orang yang proaktif

digerakkan oleh nilai berdasarkan pilihan bebas mereka.

Sikap proaktif ditunjukkan oleh Yesus sendiri sebagai Guru dan Katekis Agung. Pada saat Yesus dibaptis Yohanes (Mat 313-17; Luk 3:21-22; Yoh 1:32-34), Yesus berinisiatif untuk dibaptis oleh Yohanes. Yohanes berusaha mencegah, akan tetapi Yesus berkata: Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah. (Mat 3:15). Yesus memiliki visi tentang kehendak Allah dalam diri-Nya. Yesus menyadari bahwa melalui pembaptisan Yohanes pada-Nya solidaritas Allah terhadap manusia berdosa dinyatakan. Dalam diri Yesus dinyatakan kasih karunia Allah kepada manusia. Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan. (Mat 3:17). Manusia mengalami stimulus yang datang dari luar dan ia biasanya menanggapinya secara reaktif atau proaktif. Orang yang proaktif sangat menyadari kenyataan bahwa mereka bebas memilih respon terhadap stimulus yang diterima. Belajar dari Yesus juga, bagaimana Yesus mengalami stimulus dari luar dan dengan bebas memilih respon yang diterima-Nya. Dalam Matius 4: 1-11 sangat jelas terlihat Yesus memberikan respons yang proaktif bukan reaktif terhadap godaan iblis. Untuk lebih memahami potensi kebebasan manusia dalam menanggapi stimulus yang datang dari luar untuk menghindari sikap reaktif, perlulah didalami empat anugerah bawaan manusiawi. Pertama, Kesadaran diri. Kesadaran diri adalah kemampuan kita mengambil jarak terhadap diri sendiri dan menelaah pemikiran kita, motif-motif kita, sejarah kita, naskah hidup kita, maupun kebiasaan dan kecenderungan kita. Kedua, Hati nurani. Hati nurani mendekatkan kita dengan kebijaksanaan zaman dan kebijaksanaan hati. Ini merupakan sistem pengarahan yang ada dalam jiwa kita, yang memungkinkan kita untuk memahami ketika kita bertindak atau bahkan merenungkan sesuatu yang tidak sejalan dengan prinsip. Ini juga memberi kita pemahaman akan bakat-bakat khas dan misi kita.

Ketiga, Kehendak Bebas. Kehendak bebas adalah kemampuan kita untuk melakukan sesuatu. Ini memberi kita kekuatan untuk mengatasi paradigma-paradigma kita, untuk betindak atas dasar hidup dan bukannya bereaksi atas dasar emosi dan lingkungan sekitar kita. Kita dapat memberi tanggapan, mampu memilih tenggapan berdasarkan kehendak bebas. Kita memiliki kekuatan kehendak untuk bertindak berdasarkan kesadaran diri, hati nurani, dan visi. Keempat, Imajinasi kreatif. Imajinasi kreatif adalah kemampuan untuk melihat keadaan di masa yang akan datang, untuk menciptakan sesuatu di dalam benak kita, dan memecahkan masalah secara sinergis. Ini adalah anugerah yang memungkinkan kita untuk melihat diri kita sendiri dan orang lain secara berbeda dan lebih baik daripada saat ini. Ini memungkinkan kita untuk menulis penyataan misi pribadi, menetapkan tujuan, atau merencanakan suatu pertemuan. Ini juga membuat kita semakin mampu untuk memvisualisasikan diri kita yang sedang menghayati pernyataan misi pribadi, bahkan dalam lingkungan yang paling menantang, dan untuk menerapkan prinsip-prinsip dalam berbagai situasi baru secara efektif. Orang yang bersikap proaktif adalah orang yang mengambil inisiatif untuk bertindak dan menciptakan keadaan tertentu dan mengakui bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya. Dalam hal inisiatif dimengerti sebagai usaha untuk memulai tindakan. Orang yang punya inisiatif tidak akan menunggu sesuatu terjadi pada diri mereka melainkan berupaya menciptakan suatu keadaan tertentu berdasarkan pilihan bebas mereka. Yesus Sang Guru menunjukkan perilaku inisiatif yang kreatif yakni melakukan sesuatu lebih dahulu. Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani (Mrk 10:45). Inisiatif pelayanan diwartakan oleh Yesus bukan hanya dengan katakata saja melainkan dengan tindakan. Kisah Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya (Yoh 13:1-20) adalah salah satu contoh tindakan Yesus berinisiatif melayani. Dari teladan Yesus, untuk mencapai efektivitas dalam hidup maka dibutuhkan inisiatif. Manusia (umat beriman) yang proaktif
3

adalah manusia yang punya kemampuan inisiatif. Kemampuan inisiatif menghadapkan manusia pada perhatian akan banyak hal dalam kehidupannya. Itulah yang dinamakan lingkaran kepedulian. Di antara hal-hal yang menjadi perhatian manusia terdapat hal-hal yang sulit atau bahkan tidak mungkin untuk dikendalikan. Dalam hal ini manusia tidak dapat membuat pilihan-pilihan. Manusia dapat memilih bahasa apa yang digunakan, sikap, respon terhadap tindakan orang lain. Hal-hal yang dapat dikendalikan ini merupakan bagian dari lingkaran pengaruh. Orang yang proaktif memusatkan perhatiannya pada lingkaran pengaruh. Perbuatan, sikap, tingkah laku, serta bahasanya didasarkan pada hal-hal yang dapat dia pilih atau ia kendalikan. Sifat dari energi orang yang proaktif adalah positif. Hal itu menyebabkan lingkaran pengaruh orang yang proaktif menjadi lebih luas, lebih besar dan meningkat. Sedangkan orang yang reaktif perhatiannya tertuju pada hal-hal yang tidak dapat ia kendalikan dan menyebabkan lingkaran pengaruhnya menyusut. Untuk latihan bersikap proaktif dapat ditempuh proses latihan berikut. Pertama, mencermati bahasa sendiri yang digunakan seharihari juga bahasa orang-orang di sekitarnya. Apakah bahasa yang digunakan adalah bahasa yang proaktif atau bahasa yang reaktif, manakah bahasa yang paling sering dipakai? Mencermati pengalaman sendiri dalam menanggapi situasi-situasi yang sering terjadi dalam

hidup. Hal ini dimaksudkan untuk melihat bagaimana menanggapi keadaan atau situasi yang terjadi. Apakah kita reaktif ataukah menanggapi secara proaktif. Kedua, menemukan pola perilaku yang proaktif dan bagaimana pola perilaku yang reaktif. Tujuannya agar dapat merefleksikan kecenderungannya dalam menanggapi situasi hidup. Ketiga, mencermati dan mendengarkan kembali bahasa-bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari dan mengenali pengalaman-pengalaman yang dijumpai lalu melihat situasi tersebut dalam konteks lingkaran pengaruh kita. Bagaimanakah respon secara proaktif berhadapan dengan pengalaman-pengalaman itu. Selanjutnya membuat komitmen
4

menanggapi secara

pada dirinya sendiri untuk selalu menggunakan kebebasannya untuk memilih respon apa yang akan ia berikan terhadap stimulus yang datang.