Anda di halaman 1dari 27

A.

Pihak yang berpekara


Perkara perdata yang tidak dapat diselesaikan secara kekeluargaan (damai), tidak boleh diselesaikan dengan cara main hakim sendiri (eigenrichting) tetapi harus diselesaikan melalui pengadilan. Pihak yang merasa dirugikan hak perdatanya dapat mengajukan perkaranya ke pengadilan untuk memperoleh penyelesaian sebagaimana mestinya, yakni dengan

menyampaikan gugatan terhadap pihak dirasa merugikan. Perkara perdata ada 2 yaitu: 1. Perkara contentiosa (gugatan) yaitu perkara yang di dalamnya terdapat sengketa 2 pihak atau lebih yang sering disebut dengan istilah gugatan perdata. Artinya ada konflik yang harus diselesaikan dan harus diputus pengadilan, apakah berakhir dengan kalah-menang atau damai tergantung pada proses hukumnya. Misalnya sengketa hak milik, warisan, dll. Dalam Gugatan Contentiosa atau yang lebih dikenal dengan Gugatan Perdata, yang berarti gugatan yang mengandung sengketa di antara pihak-pihak yang berperkara. Dikenal beberapa istilah para pihak yang terlibat dalam suatu Gugatan Perdata yaitu: 1. Penggugat Dalam Hukum Acara Perdata, orang yang merasa haknya dilanggar disebut sebagai Penggugat. Jika dalam suatu Gugatan terdapat banyak Penggugat, maka disebut dalam gugatannya dengan Para Penggugat. 2. Tergugat Tergugat adalah orang yang ditarik ke muka Pengadilan karena dirasa telah melanggar hak Penggugat. Jika dalam suatu Gugatan terdapat banyak pihak yang digugat, maka pihak-pihak tersebut disebut; Tergugat I, Tergugat II, Tergugat III dan seterusnya. 3. Turut Tergugat Pihak yang dinyatakan sebagai Turut Tergugat dipergunakan bagi orang-orang yang tidak menguasai barang sengketa atau tidak berkewajiban untuk melakukan sesuatu. Namun, demi lengkapnya suatu gugatan, maka mereka harus disertakan. Dalam pelaksanaan hukuman

putusan hakim, pihak Turut Tergugat tidak ikut menjalankan hukuman yang diputus untuk Tergugat, namun hanya patuh dan tunduk terhadap isi putusan tersebut. 4. Penggugat/Tergugat Intervensi Pihak yang merasa memiliki kepentingan dengan adanya perkara perdata yang ada, dapat mengajukan permohonan untuk ditarik masuk dalam proses pemeriksaan perkara perdata tersebut yang lazim dinamakan sebagai Intervensi. Intervensi adalah suatu perbuatan hukum oleh pihak ketiga yang mempunyai kepentingan dalam gugatan tersebut dengan jalan melibatkan diri atau dilibatkan oleh salah satu pihak dalam suatu perkara perdata yang sedang berlangsung. Pihak Intervensi tersebut dapat berperan sebagai Penggugat Intervensi atau pun sebagai Tergugat Intervensi. Dalam hal pengikut-sertaan pihak ketiga dalam proses perkara yaitu voeging, intervensi/tussenkomst dan vrijwaring tidak diatur dalam HIR atau RBg.1 Tetapi dalam praktek ketiga lembaga hukum ini dapat dipergunakan dengan berpedoman pada Rv, yaitu berdasarkan Pasal 279 Rv dst dan Pasal 70 Rv serta sesuai dengan prinsip bahwa hakim wajib mengisi kekosongan, baik dalam hukum materil maupun hukum formil. Berikut ini penjelasan 3 (tiga) macam intervensi yang dimaksud, yaitu: a) Voeging (menyertai) adalah ikut sertanya pihak ketiga untuk bergabung kepada penggugat atau tergugat. Dalam hal ada permohonan voeging, Hakim memberi kesempatan kepada para pihak untuk menanggapi, kemudian dijatuhkan putusan sela, dan apabila dikabulkan, maka dalam putusan harus disebutkan kedudukan pihak ketiga tersebut. b) Intervensi / tussenkomst (menengah) adalah ikut sertanya pihak ketiga untuk ikut dalam proses perkara tersebut, berdasarkan alasan ada kepentingannya yang terganggu. Intervensi diajukan karena pihak ketiga yang merasa bahwa barang miliknya disengketakan/diperebutkan oleh Penggugat dan Tergugat.

Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan Perdata Umum dan Perdata Khusus, Balitbang Diklat Kumdil Mahkamah Agung RI 2007.

Kemudian, permohonan intervensi dikabulkan atau ditolak dengan Putusan Sela. Apabila permohonan intervensi dikabulkan, maka ada dua perkara yang diperiksa bersama-sama yaitu gugatan asal dan gugatan intervensi. c) Vrijwaring (ditarik sebagai penjamin) adalah penarikan pihak ketiga untuk

bertanggung jawab (untuk membebaskan Tergugat dari tanggung jawab kepada Penggugat). Vrijwaring diajukan dengan sesuatu permohonan dalam proses pemeriksaan perkara oleh Tergugat secara lisan atau tertulis. Setelah ada permohonan vrijwaring, Hakim memberi kesempatan para pihak untuk menanggapi permohonan tersebut, selanjutnya dijatuhkan putusan yang menolak atau mengabulkan permohonan tersebut. Apabila permohonan intervensi ditolak, maka putusan tersebut merupakan putusan akhir yang dapat dimohonkan banding, tetapi pengirimannya ke pengadilan tinggi harus bersama-sama dengan perkara pokok. Apabila perkara pokok tidak diajukan banding, maka dengan sendirinya permohonan banding dari intervenient (pihak intervensi) tidak dapat diteruskan dan yang bersangkutan dapat mengajukan gugatan tersendiri. Apabila permohonan dikabulkan, maka putusan tersebut merupakan putusan sela, yang dicatat dalam Berita Acara Persidangan, dan selanjutnya pemeriksaan perkara diteruskan dengan menggabungkan permohonan intervensi ke dalam perkara pokok. Dalam suatu gugatan perdata, orang yang bertindak sebagai Pengugat harus orang yang memiliki kapasitas yang tepat menurut hukum. Begitu juga dengan menentukan pihak Tergugat, haruslah mempunyai hubungan hukum dengan pihak Penggugat dalam perkara gugatan perdata yang diajukan. Kekeliruan bertindak sebagai Pengugat maupun Tergugat dapat mengakibatkan gugatan tersebut mengandung cacat formil. Cacat formil dalam menentukan pihak Penggugat maupun Tergugat dinamakan Error in persona.

2. Perkara voluntaria yaitu yang didalamnya tidak terdapat sengketa atau perselisihan tapi hanya semata-mata untuk kepentingan pemohon dan bersifat sepihak (ex-parte). Disebut

juga gugatan permohonan. Contoh meminta penetapan bagian masing-masing warisan, mengubah nama, pengangkatan anak, wali, pengampu, perbaikan akta catatan sipil, dll. Gugatan permohonan (voluntair) adalah permasalahan perdata yang diajukan dalam bentuk permohonan yang ditandatangani pemohon atau kuasanya yang ditujukan kepada ketua pengadilan.2 Ciri-cirinya sebagai berikut : 1. Masalah yang diajukan bersifat kepentingan sepihak semata (for the benefit of one party only):

Benar-benar murni untuk menyelesaikan kepentingan pemohon tentang sesuatu permasalahan perdata yang memerlukan kepastian hukum, misalnya permintaan izin dari pengadilan untuk melakukan tindakan tertentu.

Apa yang dipermasalahkan pemohon tidak bersentuhan dengan hak dan kepentingan lain.

2. Permasalahan yang dimohon penyelesaian kepada pengadilan negeri, pada prinsipnya tanpa sengketa dengan pihak lain (withaout disputes of defferences with another party). Berdasarkan ukuran ini tidak dibenarkan mengajukan permohonan tentang penyelesaian sengketa hak atau pemilikan maupun penyerahan serta pembayaran sesuatu oleh orang lain atau pihak ketiga. 3. Tidak ada orang lain atau pihak ketiga yang ditarik sebagai lawan, tetapi bersifat ex parte. Benar-benar murni dan mutlak satu pihak atau bersifat ex parte. Permohonan untuk kepentingan sepihak (on behalf of one party) atau yang terlibat dalam permasalahan hukum (involving onle one party to a legal matter) yang diajukan dalam kasus itu, hanya satu pihak.

Perbedaan antara contentiosa dan voluntaria dapat ditinjau dari :


1. Pihak yang berpekara :

Contentiosa, pihak yang berperkara adalah penggugat dan tergugat. Ada juga isitlah turut tergugat (tergugat II,II, IV , dst). Pihak ini tidak menguasai objek sengketa atau mempunyai kewajiban melaksanakan sesuatu. Namun hanya sebagai syarat lengkapnya pihak dalam berperkara. Mereka dalam petitum hanya sekedar dimohon agar tunduk dan taat dan taat terhadap putusan pengadilan (MA tgl 6-8-1973 Nomor 663 K/Sip/1971 tanggal 1-8-1973

M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, Cet. 2, hlm. 18.

Nomor 1038 K/Sip/1972). Sedangkan turut penggugat tidak dikenal dalam HIR maupun praktek.

Voluntaria, pihak yang berpekara adalah pemohon. Istilah pihak pemohon dalam perkara voluntaria diatas tentunya tidak relevan jika dikaitkan dengan UU No. 7 tahun 1989 tentang peradilan Agama sebab dalam UU tersebut dikenal adanya permohonan dan gugatan perceraian. Permohonan perceraian dilakukan oleh suami kepada istrinya sehingga pihak-pihaknya disebut pemohon dan termohon berarti ada sengketa atau konflik . istilah pihak-pihak yang diatur dalam UU No. 7 tahun 1989 tentunya adalah suatu pengecualiaan istilah yang dipakai dalam perkara voluntaria.

2. Aktifitas hakim dalam memeriksa perkara :


Contentiosa, terbatas yang dikemukakan dan diminta oleh pihak-pihak Voluntaria : hakim dapat melebihi apa yang dimohonkan karena tugas hakim bercorak administratif.

3. Kebebasan hakim

Contentiosa : hakim hanya memperhatikan dan menerapkan apa yang telah ditentukan undang-undang

Voluntaria : hakim memiliki kebebasan menggunakan kebijaksanaannya.

4. Kekuatan mengikat putusan hakim

Contentiosa : hanya mengikat pihak-pihak yang bersengketa serta orang-orang yang telah didengar sebagai saksi.

Voluntaria : mengikat terhadap semua pihak.

5. Hasil akhir perkara :


Hasil suatu gugatan (Contentiosa) adalah berupa putusan (vonis) Hasil suatu permohonan (voluntaria) adalah penetapan (beschikking).

B. Pemberian Kuasa (Lastgeving)


Pengaturan mengenai kuasa pada prinsipnya diatur dalam Bab XVI, Buku III Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata), sedangkan aturan khususnya diatur pada Herziene Indonesische Reglement (HIR) dan Reglement voor de buitengewesten (RBg). 1. Pengertian Kuasa Secara Umum Dalam memahami pengertian kuasa secara umum, kita dapat merujuk pada Pasal 1792 KUH Perdata yang berbunyi sebagai berikut: Pemberian kuasa adalah suatu persetujuan dengan mana seorang memberikan kekuasaan kepada seorang lain, yang menerimanya, untuk dan atas namanya menyelenggarakan suatu urusan.3 Dalam suatu perjanjian kuasa, terdapat dua (2) pihak yang terdiri dari: Pemberi kuasa atau lastgever (instruction, mandate); Penerima kuasa atau disingkat kuasa, yang diberi perintah atau mandat melakukan sesuatu untuk dan atas nama pemberi kuasa. Lembaga hukumnya disebut pemberian kuasa atau lastgeving (volmacht, full power), jika: Pemberi kuasa melimpahkan perwakilan atau mewakilkan kepada penerima kuasa untuk mengurus kepentingannya, sesuai dengan fungsi dan kewenangan yang ditentukan dalam surat kuasa; Dengan demikian, penerima kuasa (lasthebber, mandatory) berkuasa penuh bertindak mewakili pemberi kuasa terhadap pihak ketiga untuk dan atas nama pemberi kuasa; Oleh karena itu, pemberi kuasa bertanggung jawab atas segala perbuatan kuasa, sepanjang perbuatan yang dilakukan kuasa tidak melebihi wewenang yang diberikan pemberi kuasa.4

3 4

R. Subekti, R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Pradnya Paramita, Jakarta, Cet. 25, hlm. 382 Putusan MA No. 331 K/Sip/1973, tgl 4-12-1975, Rangkuman Yurisprudensi (RY) MA Indonesia, II, Hukum Perdata dan Acara Perdata, Proyek Yurisprudensi MA 1997, hlm. 57.

Pada dasarnya, pasal-pasal yang mengatur pemberian kuasa, tidak bersifat imperatif.5 Apabila para pihak menghendaki, dapat disepakati selain yang digariskan dalam UndangUndang. Misalnya, para pihak dapat menyepakati agar pemberian kuasa tidak dapat dicabut kembali (irrevocable). Hal ini dimungkinkan, karena pada umumnya pasal-pasal hukum perjanjian, bersifat mengatur (aanvullend recht).6

2.

Sifat Perjanjian Khusus

Beberapa prinsip hukum pemberian kuasa yang penting untuk diketahui, antara lain: 1. Penerima Kuasa Langsung berkapasitas sebagai Wakil Pemberi Kuasa. Pemberian kuasa mengatur hubungan hukum antara pemberi kuasa dan penerima kuasa, dimana pemberi kuasa langsung menerbitkan dan memberi kedudukan serta kapasitas kepada penerima kuasa untuk menjadi wakil penuh (full power) pemberi kuasa, yaitu: Memberi hak dan kewenangan (authority) kepada penerima kuasa, bertindak untuk dan atas nama pemberi kuasa terhadap pihak ketiga; Tindakan penerima kuasa tersebut langsung mengikat kepada diri pemberi kuasa, sepanjang tindakan yang dilakukan penerima kuasa tidak melampaui batas kewenangan yang dilimpahkan pemberi kuasa kepadanya; Dalam ikatan hubungan hukum yang dilakukan penerima kuasa dengan pihak ketiga, pemberi kuasa berkedudukan sebagai pihak materil atau principal atau pihak utama, dan penerima kuasa berkedudukan dan berkapasitas sebagai pihak formil. 2. Pemberian Kuasa Bersifat Konsensual Sifat perjanjian kuasa adalah konsensual, yaitu perjanjian berdasarkan kesepakatan antara pemberi kuasa dan penerima kuasa, serta berkekuatan mengikat sebagai persetujuan di antara mereka. Pasal 1792 KUH Perdata dan Pasal 1793 ayat (1) KUH Perdata pada pokoknya

5 6

M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, Cet. 2, hlm. 2. Bandingkan putusan MA No. 731 K/Sip/1975, tgl 16-12-1976, ibid., hlm. 292.

menyatakan, pemberian kuasa selain didasarkan atas persetujuan kedua belah pihak, dapat dituangkan dalam bentuk akta otentik atau di bawah tangan maupun dengan lisan. 3. Bersifat Garansi-Kontrak Kekuatan mengikat tindakan kuasa kepada principal (pemberi kuasa), hanya terbatas: (i) (ii) Sepanjang kewenangan (volmacht) atau mandat yang diberikan oleh pemberi kuasa; apabila penerima kuasa bertindak melampaui batas mandat, maka tanggung jawab pemberi kuasa hanya sepanjang tindakan yang sesuai dengan mandat yang diberikan, sedangkan pelampauan itu menjadi tanggung jawab pribadi penerima kuasa, sesuai dengan asas garansi-kontrak yang diatur dalam Pasal 1806 KUH Perdata.

3. Jenis Kuasa Pemberian kuasa terbagi atas 2 (dua) jenis, yakni: pemberian kuasa secara umum dan pemberian kuasa secara khusus (Pasal 1795 KUHPerdata). Surat Kuasa Umum

Pemberian kuasa yang meliputi pelaksanaan segala kepentingan dari pemberi kuasa, kecuali perbuatan hukum yang hanya dapat dilakukan oleh seorang pemilik (Pasal 1796 KUHPerdata). Kuasa diberikan seluas-luasnya sehingga nyaris tanpa ada pengecualian, termasuk terhadap halhal yang tidak disebutkan dalam surat kuasa. Contohnya: Kuasa pengurusan dan pemeliharaan/perawatan penghunian rumah. Surat Kuasa Khusus

Pemberian kuasa yang hanya meliputi pelaksanaan satu/lebih kepentingan tertentu dari pemberi kuasa. Perbuatan hukum/kepentingan dimaksud harus disebutkan/dirumuskan secara tegas dan detail/terperinci (Pasal 1975 KUHPerdata). Contohnya:

Kuasa memasang hipotek atau membebankan hak tanggungan, kuasa untuk melakukan perdamaian, kuasa bagi Advokat untuk mewakili perkara kliennya di pengadilan.

Surat Kuasa Istimewa

Surat kuasa istimewa diatur dalam pasal 157 HIR (pasal 184 RBg) 7, yang menyatakan Sumpah itu, baik yang diperintahkan oleh hakim, maupun yang diminta atau ditolak oleh satu pihak lain, dengan sendiri harus diangkatnya kecuali kalau ketua pengadilan negeri memberi izin kepada satu pihak, karenasebab yang penting, akan menyuruh bersumpah seorang wakil istimewa yang dikuasakan untuk mengangkat sumpah itu, kuasa yang mana hanya dapat diberi dengan surat yang syah, di mana dengan saksama dan cukup disebutkan sumpah yang akan diangkat itu. Dari hal tersebut, kita bisa lihat bahwa surat kuasa ini baru bisa digunakan dalam pengadilan apabila seseorang dalam melakukan sumpah nya di pengadilan berhalangan dengan sebab yang penting -contohnya dalam kondisi sakit. Jadi, tentang lingkup tindakan yang dapat diwakilkan berdasarkan kuasa istimewa , hanya terbatas pada:

untuk mengucapkan sumpah tertentu atau sumpah tambahan sesuai aturan perundangundangan,

untuk memindah-tangankan benda-benda milik pemberi kuasa, atau meletakan hipotek (hak tanggungan) diatas benda tersebut,

dan untuk membuat perdamaian dengan pihak ketiga. Untuk kuasa istimewa ini dalam pasal diatas dinyatakan bahwa hanya dapat diberikan dengan surat yang sah. Untuk surat sah sendiri, diberikan tafsir oleh para praktisi hukum, adalah surat yang berbentuk akta otentik.8 Dengan kata lain, pembuatan surat ini harus dibuat dalam akte notaris dan ditegaskan dengan kata-kata yang jelas, mengenai tindakan apa yang hendak dilakukan oleh penerima kuasa.

7 8

M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata Indonesia, CV Zakir, Medan, Cet. I, hlm. 121. R. Soesilo, RBG/HIR dengan penjelasan, Politeia, Bogor, 1985.

Secara kesimpulan, surat kuasa istimewa ini memiliki dua syarat untuk dianggap sah, yaitu bersifat terbatas (limitatif) dan bentuk akte otentik.

KuasaPerantara Surat kuasa perantara disebut juga agen (agent). Dalam hal ini pemberi kuasa sebagai

principal memberi perintah (instruction) kepada pihak kedua dalam kedudukannya sebagai agen atau perwakilan untuk melakukan perbuatan hukum tertentu dengan pihak ketiga. Apa yang dilakukan agen, mengikat principal sebagi pemberi kuasa, sepanjang tidak bertentangan atau melampaui batas kewenangan yang diberikan. Kuasa ini berdasar dengan pasal 1972 KUH Perdata yang mengatur secara umum tentang surat kuasa, dan pasal 62 KUHD yang menyatakan Makelar adalah pedagang perantara yang diangkat oleh Gubernur Jenderal (dalam hal ini Presiden) atau oleh penguasa yang oleh Presiden dinyatakan berwenang untuk itu. Mereka menyelenggarakan perusahaan mereka dengan melakukan pekerjaan seperti yang dimaksud dalam pasal 64 dengan mendapat upah atau provisi tertentu, atas amanat dan atas nama orang-orang lain yang dengan mereka tidak terdapat hubungan kerja tetap. Sebelum diperbolehkan melakukan pekerjaan, mereka harus bersumpah di depan raad van justitie di mana Ia termasuk dalam daerah hukumnya, bahwa mereka akan menunaikan kewajiban yang dibebankan dengan jujur.

4. Kuasa Menurut hukum

1. Wali terhadap anak di bawah perwalian Berdasarkan ketentuan Pasal 51 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UU Perkawinan), wali dengan sendirinya menurut hukum menjadi kuasa untuk bertindak mewakili kepentingan anak yang berada di bawah perwalian.

2. Kurator atas orang yang tidak waras

Menurut Pasal 299 HIR, seseorang yang sudah dewasa tetapi tidak bisa memelihara dirinya dan mengurus barangnya karena kurang waras, dapat diminta untuk diangkat seorang Kurator. Dengan demikian, Kurator sah dan berwewang bertindak mewakili kepentingan orang yang berada di bawah pengawasan tersebut sebagai kuasa menurut hukum.

3. Orang tua terhadap anak yang belum dewasa Menurut Pasal 45 ayat (2) UU Perkawinan, orang tua dengan sendirinya menurut hukum berkedudukan dan berkapasitas sebagai wali anak-anak sampai mereka dewasa. Oleh karena itu, orang tua adalah kuasa yang mewakili kepentingan anak-anak yang belum dewasa kepada pihak ketiga maupun di depan pengadilan tanpa memerlukan surat kuasa dari anak tersebut.

4. Balai Harta Peninggalan sebagai Kurator Kepailitan Menurut Pasal 15 ayat (1), Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaaan Kewajiban Pembayaran Utang (UU Kepailitan), dalam putusan pernyataan pailit, harus diangkat kurator. Balai Harta Peninggalan atau Kurator dalam kepailitan berkedudukan dan berkapasitas sebagai kuasa menurut hukum (legal mandatory) untuk melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit, dan tugas itu dilakukan berdasarkan perintah undang-undang tanpa memerlukan suarat kuasa dari debitur.

5. Direksi atau pengurus badan hukum Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT) sendiri menentukan, yang berhak bertindak sendiri menurut hukum mewakili kepentingan Perseroan di dalam dan di luar pengadilan adalah direksi, tanpa perlu memerlukan surat kuasa dari Perseroan.

Apabila badan hukum tersebut berbentuk yayasan, maka menurut Pasal 35 ayat (1) Undangundang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan (UU Yayasan), pengurus yayasan bertanggung jawab penuh atas kepengurusan yayasan untuk kepentingan dan tujuan yayasan serta berhak mewakili yayasan baik di dalam maupun di luar pengadilan. Berdasarkan

ketentuan ini, pembina atau pengawas tidak bertindak sebagai legal mandatory, akan tetapi hanyalah organ pengurus yayasan saja. Dalam hal, apabila badan hukum berbentuk koperasi, maka pengurus koperasi bertindak sebagai kuasa mewakili kepentingan koperasi di dalam dan di luar pengadilan.

6. Direksi perusahaan perseroan Perusahaan Perseroan (Persero) menurut Pasal 1 angka 2 Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1998 tentang Perusahaan Perseroan, adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1969 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 1969 tentang Bentuk-Bentuk Usaha Negara, yaitu berbentuk Perseroan Terbatas sebagaimana yang dimaksud dalam UU PT yang seluruh atau sedikitnya 51% (lima puluh satu persen) saham yang dikeluarkan, dimiliki oleh Negara melalui penyertaan modal secara langsung. Maka, prinsip-prinsip Perseroan Terbatas berlaku terhadap BUMN sebagai Persero. Oleh karena itu, direksi berkedudukan sebagai kuasa menurut hukum untuk mewakili Perseroan di dalam dan di luar pengadilan tanpa memerlukan surat kuasa dari pihak manapun. Ketentuan kuasa menurut hukum ini juga berlaku tidak terbatas terhadap BUMN, tetapi meliputi Perusahaan Daerah.

7. Pimpinan Perwakilan Perusahaan Asing Pimpinan perwakilan perusahaan asing yang ada di Indonesia dinyatakan sebagai legal mandatory yang disejajarkan dengan wettelijke vertegenwoordig, berkedudukan dan berkapasitas sebagai kuasa menurut hukum untuk mewakili kepentingan kantor perwakilan perusahaan tersebut di dalam dan di luar pengadilan tanpa memerlukan surat kuasa khusus dari kantor pusat yang ada di luar negeri.

8. Pimpinan Cabang Perusahaan Domestik Menurut Putusan Mahkamah Agung No. 779 K/Pdt/1992, bahwa pimpinan cabang suatu bank berwenang bertindak untuk dan atas pimpinan pusat tanpa memerlukan surat kuasa khusus untuk itu. Maka dalam praktik peradilan juga telah mengakui, bahwa pimpinan cabang

perusahaan domestik, berkedudukan dan berkapasitas sebagai kuasa menurut hukum sesuai dengan batas kualitas pelimpahan wewenang yang diberikan Perusahaan Pusat kepada cabang tersebut.

5. Bentuk Kuasa di Depan Pengadilan Secara Lisan Pihak yang memberikan kuasa selalu hadir bersama pihak yang menerima kuasa Ditunjuk lisan ketika membuat gugatan lisan dilakukan didepan ketua PN. Maka ketika itulah disebutkan maksud memberi kuasa. Ditunjuk secara lisan dimuka persidangan. Pemberi dan penerima kuasa hadir di sidang (dicatat dalam berita acara sidang) Secara Tertulis Dengan menunjuk nama orang yang diberi kuasa di dalam surat gugatan. Surat Kuasa Khusus: mencantumkan identitas pemberi dan penerima kuasa Mencantumkan lawan dan objek perkara Mencantumkan pengadilan tempat berperkara Mencantumkan hal-hal yang dikuasakan (jika perlu) cantumkan pemberian hak substitusi (memberikan kuasa kepada orang lain)
Contoh kuasa khusus:
9

SURAT KUASA Yang bertanda tangan dibawah ini : Nama TTL / Umur Pekerjaan Jenis kelamin Kebangsaan : FIRDAUS Bin DAUS : Makasar, 26 Juni 1975 / 29 tahun : Tani : Laki-laki : WNI

Dikutip dari: http://tiarramon.wordpress.com/category/bahan-kuliah/hukum-acara-perdata/

Alamat

: Jalan Pelita jaya No. 20 Tembilahan Inhil Riau

Dengan ini menerangkan memberikan kuasa pekara No. (tulis nomor perkara jika perkara sudah masuk dipersidangan) kepada : Nama Pekerjaan : ABDUL HADI HASIBUAN, SH : Pengacara / Advokat

Berkantor jalan Subrantas No. 09 Tembilahan. KHUSUS Untuk dan atas nama pemberi mewakili sebagai Penggugat, mengajukan gugatan .terhadap H. SINAGA Bin H. LUBIS di Pengadilan Negeri Tembilahan. Untuk itu yang diberi kuasa dikuasakan untuk menghadap dan menghadiri semua persidangan Pengadilan Negeri Temvbilahan, menghadapi instansi-instansi, jawabatan-jawatan, hakim, pejabat-pejabat, pembesar-pembesar, menerima, mengajukan kesimpulan-kesimpulan, meminta siataan, mengajukan dan menolak-saksi-saksi, menerima atau menolak keterangan saksi-saksi, meminta atau memberikan segala keterangan yang diperlukan, dapat mengadakan perdamaian dengan syarat-syarat yang dianggap baik oleh yang diberi kuasa, menerima uang pembayaran dan memberikan kwitansin tanda penerimaan dan memberikan kwitansi tanda penerimaan uang, meminta penetapan, putusan, pelaksanaan putusan (eksekusi), melakukan peneguran-peneguran, dapat mengambil segala tindakan yang penting, perlu dan berguna sehubungan dengan menjalankan perkara serta dapat mengerjakan segala sesuatu pekerjaan yang umumnya dapat dikerjakan oleh seorang kuasa/wakil guna kepentingan tersbeut diatas, juga mengajukan permohonan banding atau kontra, kasasi atau kontra. Kuasa ini berikan dengan berhak mendapatkan honorarium (upah) dan retensi (hak menahan barang milik orang lain) serta dengan hak substitusi (melimpahkan) kepada orang lain baik sebagian maupun seluruhnya. Tembilahan, Penerima Kuasa Materi 6000 ABDUL HADI HASIBUAN, SH FIRDAUS BIN DAUS 2010 Pemberi Kuasa

6. Berakhirnya Surat Kuasa Berdasarkan Pasal 1813 KUHPerdata, pemberian kuasa berakhir : Dengan Penarikan Kembali Kuasa Penerima Kuasa;

Pemberi kuasa bukan hanya dapat menarik kembali kuasanya bila dikehendakinya, tapi dapat pula memaksa pengembalian kuasa tersebut jika ada alasan untuk itu. Terhadap pihak ketiga yang telah mengadakan persetujuan dengan pihak penerima kuasa, penarikan kuasa tidak

dapat diajukan kepadanya jika penarikan kuasa tersebut hanya diberitahukan kepada penerima kuasa. Pengangkatan penerima kuasa baru untuk menjalankan urusan yang sama menyebabkan penarikan kembali kuasa atas penerima kuasa sebelumnya terhitung sejak hari (tanggal) diberitahukannya pengangkatan penerima kuasa baru tersebut. Dengan Pemberitahuan Penghentian Kuasanya Oleh Penerima Kuasa;

Pemegang kuasa dapat membebaskan diri dari kuasanya dengan memberitahukan penghentian kuasanya kepada pemberi kuasa dan pemberitahuan tersebut tidak mengesampingkan kerugian bagi pemberi kuasa kecuali bila pemegang kuasa tidak mampu meneruskan kuasanya tersebut tanpa mendatangkan kerugian yang berarti. Dengan Meninggalnya, Pengampuan Atau Pailitnya, Baik Pemberi Kuasa Maupun Penerima Kuasa; Setiap perbuatan yang dilakukan pemegang kuasa karena ketidaktahuannya tentang meninggalnya pemberi kuasa adalah sah dan segala perikatan yang dilakukannya dengan pihak ketiga yang beritikad baik, harus dipenuhi terhadapnya. Dengan Kawinnya Perempuan Yang Memberikan Atau Menerima Kuasa (sudah tidak berlaku lagi). Selain karena alasan-alasan yang disebutkan dalam Pasal 1813 KUHPerdata, berakhirnya pemberikan kuasa dapat pula terjadi karena telah dilaksanakannya kuasa tersebut dan karena berakhirnya masa berlaku atau jangka waktunya.

BENTUK PEMBERIAN KUASA DITINJAU DARI STATUS PENERIMA KUASA Ditinjau dari penerima kuasa, kuasa dibedakan dalam dua bagian, yaitu : 1. Kuasa Advokat Syarat Kuasa Advokat adalah Penerima kuasa harus berprofesi sebagai advokat sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang 18/2003 tentang Advokat yang dibuktikan dengan Kartu Tanda Anggota Advokat 2. Kuasa Insidentil

Syarat Kuasa Insidentil adalah pemberian kuasa tersebut telah mendapat izin dari Ketua Pengadilan dan Ketua Pengadilan hanya memberi izin hanya jika Penerima Kuasa memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: - Penerima Kuasa tidak berprofesi sebagai advokat/ pengacara - Penerima Kuasa adalah orang yang mempunyai hubungan keluarga sedarah atau semenda dengan pemberi kuasa sampai derajat ketiga yang dibuktikan dengan surat keterangan hubungan keluarga yang dikeluarkan oleh Lurah/ Kepala Desa. (pengertian derajat ketiga mencakup hubungan garis lurus ke atas, ke bawah, dan ke samping). - Tidak menerima imbalan jasa atau upah - Sepanjang tahun berjalan belum pernah bertindak sebagai kuasa insidentil pada perkara yang lain.

Perdamaian dalam Hukum Acara Perdata Penyelesaian melalui perdamaian dinilai jauh lebih efektif dan efisien,10 jika dibandingkan dengan proses persidangan yang memakan banyak waktu karna penyelesaiannya dinilai lambat. Biaya perkara mahal dan biaya itu semakin mahal sehubungan denga lamanya waktu penyelesaian. Dengan demikian penyelesaian melalui perdamaian inipun menjadi salah satu cara yang dapat ditempuh oleh pihak-pihak yang bersengketa. Dilihat dari pengertiannya mediasi adalah Proses penyelesaian sengketa di pengadilan melalui perundingan antara pihak yang berperkara atau Perundingan yang dilakukan para pihak, dibantu oleh mediator yang berkedudukan dan berfungsi sebagai pihak ketiga yang netral dan tidak memihak (imparsial) serta sebagai pembantu mencari berbagai kemungkinan-kemungkinan penyelesaian sengketa yang terbaik dan menguntungkan para pihak. Konsep dari mediasi ini sendiri pun ialah win-win solution. Maka dari para pihak dapat melihat berbagai manfaat dalam penyelesaian melalui perdamaian yakni 1. Penyelesaian bersifat informal 2. Penyelesaian sengketa dilakukan oleh para pihak sendiri
10

M. Yahya Harahap, op cit., hlm. 238.

3. Jangka waktu penyelesaian pendek 4. Biaya ringan 5. Aturan pembuktian tidak perlu 6. Penyelesaian bersifat konfidensial (rahasia) 7. Hubungan para pihak bersifat kooperatif 8. Komunikasi dan fokus pada penyelesaian 9. Hasil yang dituju sama menang (win-win solution) 10. Bebas emosi dan dendam

I. A.

Landasan formil prosedur mediasi pasal 130 HIR / pasal 154 RBG

Pasal 130 HIR yang berbunyi : 1. Jika pada hari yang ditentukan itu kedua belah pihak menghadap, maka pengadilan negeri, dengan perantaraan ketuanya, akan mencoba memperdamaikan mereka itu. (IR. 239.) 2. Jika perdamaian terjadi, maka tentang hal itu, pada waktu sidang, harus dibuat sebuah akta, dengan mana kedua belah pihak diwajibkan untuk memenuhi perjanjian yahg dibuat itu; maka surat (akta) itu berkekuatan dan akan dilakukan sebagai keputusan hakim yang biasa. (RV. 31; IR. 195 dst.) 3. Terhadap keputusan. yang demikian tidak diizinkan orang minta naik banding. 4. Jika pada waktu mencoba memperdamaikan kedua belah pihak itu perlu dipakai seorang juru bahasa, maka dalam hal itu hendaklah dituruti peraturan pasal berikut.

Pasal 154 RBG yang berbunyi : 1) Bila pada hari yang telah ditentukan para pihak datang menghadap, maka pengadilan negeri dengan perantaraan ketua berusaha mendamaikannya. 2) Bila dapat dicapai perdamaian, maka di dalam sidang itu juga dibuatkan suatu akta dan para pihak dihukum untuk menaati perjanjian yang telah dibuat, dan akta itu mempunyai kekuatan serta dilaksanakan seperti suatu surat keputusan biasa. 3) Terhadap suatu keputusan tetap semacam itu tidak dapat diajukan banding.

4) Bila dalam usaha untuk mendamaikan para pihak diperlukan campur tangan seorang juru bahasa, maka digunakan ketentuan-ketentuan yang diatur dalam pasal berikut. (Rv. 31; IR. 130.)

B.

Semula diatur dalam SEMA no.1 tahun 2002

sema ini terbit bertitik tolak dari salah satu hasi rakernas Mahkamah Agung. Alasan yang memotivasi ialah untuk membatasi perkara kasasi secara substantif dan prosesual.

C.

Disempurnakan dalam PERMA No.2 tahun 2003

Dikemukakan beberapa alasan yang melatarbelakangi penerbitan PERMA, antara lain mengatasi penumpukan perkara dan SEMA No.1 Tahun 2002 belum lengkap. menurut Perma instumen mediasi dianggap efektif untuk mengatsi menumpukan perkara di pengadilan, khususnya pada tingkat kasasi dan didalam SEMA No.1 tahun 2002 belum sepenuhnya mengintegrasikan mediasi kedalam sistem peradilan secara memaksa (compulsory) tetapi masih bersifat sukarela (voluntary).

D. Disempurnakan kembali oleh PERMA No.1 tahun 2008

II. Ruang Lingkup tahap pramediasi Tahap pramediasi merupakan persiapan ke arah proses tahap mediasi. Sebelum pertemuan dan perundingan membicarakan penyelesaian materi pokok sengketa dimulai, terlebih dahulu dipersiapkan prasarana yang dapat menunjang penyelesaian sengketa melalui perdamaian, yakni: A. Hakim memerintahkan menempuh mediasi

Hakim waib memerintahkan para pihak untuk lebih dahulu menempuh penyelesaian melalui proses mediasi yang bersifat imperatif, bukan regulatif oleh karena itu mesti ditaati para pihak . penyampaian perintah melakukan mediasi pada sidang pertama. Sidang harus dihadiri kedua belah pihak. Permasalahan harus dihadirinya oleh kedua belah pihak . jika salah satu pihak tidak hadir, menurut hukum acara dapat dilakukan tindakan yakni ,

1. 2. 3.

Hakim berwenang menggugurkan gugatan (PS. 124 HIR) Hakim berwenang menjatuhkan putusan verstek (PS.125 (1) HIR) Berwenang memundurkan persidangan

B.

Hakim wajib menunda persidangan

Berbarengan dengan akan dilakukannya proses mediasi, hakim wajib menunda proses persidangan perkara secara mutlak hakim dilarang melakukan pemeriksaan perkara, tetapi mesti menundanya.

C.

Hakim wajib memberi penjelasan tentang prosedur dan biaya mediasi

Pada persidangan pertama hakim memberi penjelasan mengenai tata cara dan prosedur mediasi meliputi, tata cara pemilihan mediator, cara pertemuan, perundangan, jadwal pertemuan, tenggang waktu berkenaan dengan pemilihan mediator, proses mediasi serta penanda-tanganan hasil kesepakatan. Selain itu, haki memberi penjelasan tentag biaya mediasi: 1. Mediasi yang dilakukan ditempat lain, biaya ditanggung para pihak berdasarkan kesepakatan 2. Bila mediator bukan yang disepakati bukan hakim, tetapi besal dari luar lingkup daftar mediator yang ada di pengadilan, biaya mediator tersebut ditanggung para pihak berdasarkan kesepakatan

D. Wajib memilih mediator 1. Para pihak wajib memilih mediator, sesuai dengan asa kebebasan berkontrak. Hakim tidak berhak menunjuk mediator secara ex-officio dalam keadaan normal. 2. Pemilihan mediator diwajibkan dengan cara berunding yakni berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. 3. Jangka waktu pemilihan mediator oleh para pihak yaitu paling lama satu hari kerja

terhitung sejak sidang pertama. Apabila para pihak tidak berhasil menyepakati mediator, salah satunya cara wajib memilih mediator yang disediakan oleh pengadilan. Maka penunjukan mediator oleh ketua majelis dituangkan dalam bentuk penetapan (ex-officio). 4. Bebas memilih mediator yang ada didaftar pengadilan maupun dari luar pengadilan .

E.

Proses mediasi oleh mediator luar

Apabila proses mediasi menggunakan mediator dari luar daftar mediator yang dimiliki pengadilan, perlu diatur perlakuan khusus mengenai hal-hal : 1. Proses mediasi tiga puluh hari kerja, terhitung dari tanggal pemilihan mediator oleh para pihak. 2. Kewajiban menghadap hakim pada sidang lanjutan 3. Meminta akta penetapan perdamian atau menyatakan pencabutan gugatan. Miminta akta penetapan ini bukan lah sebuah keharusan boleh saja hasil kesepakatan yang tidak dimintakan akta perdamian ini berbentuk penjanjian biasa yang tunduk pada pasal 1338 KUH perdata. Karan menjadi penjanjian biasa hal tersebut tidak dapat dmintakan eksekusi kepada pengadilan, upaya yang bisa ditempuh hanyalah mengajukan gugatan perdata biasa agar pihak yang ingkar dihukum memenuhi kesepakatan .

III. Klasifikasi mediator dan yurisdiksi proses mediasi A. Klasifikasi mediator 1. Mediator dalam lingkungan pengadilan a. Menurut pasal 6 (1) PERMA , yang dapat dicantumkan sebagai mediator dalam daftar mediator pengadilan : (1) Berasal dari kalangan hakim (2) Boleh juga yang bukan hakim (3) Sudah memiliki sertifikasi sebagai mediator b. Jumlah meditor pada setiap pengadilan Pasal 6 (2) menegaskan bahwa pada setiap pengadilan memiliki sekurang-kurangnya dua orang mediator. c. Setiap pengadilan wajib memiliki daftar mediator Daftar mediator tersebut harus mencantumkan nama yang disertai riwayat hidup dan pengalaman kerja. Hal itu penting guna iformasi para pihak.

2.

Mediator di luar lingkungan pengadilan

selain mediator yang tercantum dalam daftar mediator di pengadilan, para pihak dapat dan bebas menyepakati mediator di luar pengadilan.

B. Syarat mediator 1. Telah mengikuti pelatihan atau pendidikan mediasi tempat pelatihan atau pendidikan yang diakui, terbatas pada lembaga yang telah diakreditasi oleh Mahkamah Agung. 2. Memiliki sertifikat mediator sertifikat dari lembaga yang diakreditasi oleh MA sebagai bukti yang bersangkut benar qualified sebagai mediator 3. Netral dan tidak memihak syarat ini dianggap meliputi sikap independen, sehingga pengertiannya mencangkup : a) b) c) d) bersikap bebas dan merdeka dar pengaruh siapapun bebas secara mutlak dari paksaan dan direktiva pihak manapun bersifat imparsial tidak boleh diskriminatif

Menurut yahya harahap dalam bukunya menyebutkan, patokannya adalah kesepakatan para pihak, bukan pada faktor hubungan darah atau pekerjaan. Siapapun dapat bertindak sebagai mediator asalkan para pihak sepakat dan orang itu memiliki sertifikat mediator. Namun demikian, pemilihan mediator seperti itu, lebih baik dihndari karena potensial mengandung pertentangankepentingan ( conflict of interest)

IV.

Ruang lingkup tahap mediasi

A. Para pihak wajib menyerahkan fotokopi dokumen Dokumen yang berkaitan dengan duduknya perkara seperti masalah yang disengketakan, penyelesaian yang diinginkan dan gantu rugi atau pemulihan yang diminta. Serta surat-surat bukti yang mengandung fakta tentang yang disengketakan. Tenggang waktu penyerahan paling lambat dalam waktu tujuh hari kerja terhitung dari tanggal para pihak memilih mediator atau

ketua majelis menunjuk mediator. Dokumen surat tersebut diserahkan secara timbal balik ke masing-masing para pihak.

B. Kewajiban dan peran mediator 1. Mediator wajib menentukan jadwal pertemuan para pihak, dua kali pertemuan dalam

seminggu dianggap layak dan realistis jiaka dihubungkan dengan proses yang dianut mediasi adalah expedited procedure . 2. Mediator wajib memperhatikan Kehadiran para pihak. Para pihak dapat didampingi oleh

kuasa hukum kehadiran kuasa hukum hanya sebagai pendamping pihak principal. 3. Mediator sebagai pembantu atau helper yang bersifat netral dan tidak memihak yang

berfungsi mencari berbagai kemungkinan penyelesaian yang akan ditempuh oleh para pihak. Seperti mendorong atau menulusuri dan menggali kepentingan mereka dan mencari alternatif penyelesaian. Mediator wajib berperan sebagai pembantu yang cakap seperti : 1. 2. 3. Mampu memodifikasi sengketa dengan jelas Mampu dan berperan meluruskan persamaan persepsi Mampu dan berperan membangun jalinan komunikasi yang harmonis dan bersahabat

diantara para pihak 4. 5. 6. Dapat mengontrol buruk sangka para pihak Dapat memberi dan mengemukakan analisis yang cermat atas masalah yang kompleks Mampu mengarahkan pertemuan dan pembicaraan atau perundaingan menuju pokok

permasalahan

Apabila fungsi dan peran yang disebut di atas dapat dilaksanakan mediator dengan penuh kerendahan hati dan menjauhkan sikap arogansi kemungkinan besar mediator dapat mengantarkan para pihak menuju gerbang perdamian berdasarkan konsep win-win solution

4 .Mediator dapat mengundang ahli

Berdasarkan kesepakatan para pihak dan permintaan para pihak. Ahli uang dapat diundang haruslah memiliki keahlian yang kompetemn dalam bidang tertentu yang berkaitan langsung dengan masalah yang disengketakan jika bertentang mediator dapat menolak untuk mengundang ahli, hal ini harus sesuai urgensi dan relevansi terhadap perkara yang disengketakan. Biaya pengudangan ahli tsb ditanggung oleh para pihak

C. Sistem proses mediasi Mengenai tata cara pertemuan perundingan ini terdapat tiga sistem yakni,

1. Tertutup untuk umum Sistem Proses mediasi pada asasnya tidak bersifat terbuka untuk umum, kecuali para pihak menghendaki lain. Dengan demikian setiap perundingan bersifat konfidensial yaitu hanya terbtas dihadiri para pihak seperti para pihak, kuasa hukum (jika ada) dan mediator. Oleh karena itu segala sesuatu pernyataan , keterangan dan pendapat yang dikemukakan dalam setiap pertemuan tidak boleh dipublikasikanoleh salah satu pihak ataupun mediator.

2. Terbuka untuk umum atas persetujuan para pihak Sistem Proses open court ini kebolehannya apabila para pihak menghendaki dalam arti menyetujuinya dengan dinyatakan secara tegas. Sistem ini sebenarnya diperlukan agar tidak menimbulkan persoalan dikemudian hari.

3. Sengketa publik mutlak terbuka untuk umum Sistem proses ini mutlak terbuka untuk umum untuk segala sengketa publik. Dengan syarat apabila objek mediasi sengketa publik, misal a. b. c. d. e. Lingkungan hidup Hak asasi manusia Perlindungan konsumen Pertanahan Perburuhan yang melibatkan kepentingan banyak buruh

D. Mediasi menghasilkan kesepakatan Hasil kesepakatan mediasi haruslah berbentuk tertulis dalam perumusannya dibantu oleh mediator dan kesepakatan yang telah tercapai tersebut ditanda-tangani oleh para pihak. Hal tertulis pun oleh dalam akta otentik maupun dibawah tangan (onderhandse acte). Selain dibuat dalam tertulis keepakatan tersebut wajib mencantumkan klausul pencabutan perkara. Mediator memeriksa kembali hasil kesepakatan sangat penting diperhatikan karna kemungkinan bertentangan dengan ketertiban umum dan kesusilaan. Setelah kesepakatan tercipta para pihak wajib menghadap hakim pada sidang lanutan yang sudah dijadwalkan. Lalu hakim dapat mengukuhkan hasil kesepakatan menjadi penetapan akta perdamian, asalkan ada permintaan dari para pihak karana hakim tidak dapat mengeluarkan penetapan para pihak secara ex-officio.

E. Proses mediasi gagal Apabila dijangka waktu yang telah ditetapkan untuk waktu mediasi tidak juga membuahkan kesepakatan untuk para pihak, situasi ini disebut dengan gagal menempuh perdamaian atau mediasi. Oleh karnanya yang harus dilakukan mediator adalah Mediator wajib memberitahu hasil kepada hakim dalam bentuk tertulis, yang berisi gagalnya penyelesaian melalui mediasi . setelah diketajui proses mediasi gagal majelis hakim melanjutkan pemeriksaan perkara yang tunduk pada hukum acara yang berlaku.

V. A.

Syarat Formil putusan perdamaian Persetujuan perdamian mengakhiri perkara

Persetujuan perdamaian harus mengakhiri perkara secara tuntas dan mencakup keseluruhan. Perdamian harus membawa para pihak terlepas dari semua sengketa. Dengan demikian dapatllah dikukuhkan dalam bentuk penetapan akta perdamian. B. persetujuan perdamaian berbentuk tertulis

Syarat yang kedua ini digariskan pasal 1851 KUH perdata mengenai bentuk persetujuan : 1. Harus berbentuk akta tertulis :

Boleh akta dibawah tangan yang ditandatangani oleh kedua belah pihak. Atau pun juga berbentuk akta Otentik. 2. Persetujuan tidak dibenarkan dalam bentuk lisan . Bila tidak tertulis, dinyatakan tidak sah

(Ps.1851 (2) KUH perdata) C. Pihak yang membuat persetujuan perdamian adalah orang yang mempunyai kekuasaan

Syarat ini berkaitan dengan ketentuan perjanjian yang diatur dalam hal pasal 1320 jo pasal 1330 KUH perdata. Mengenai pasal 1320 tentang tidak cakap yaitu orang yang belum dewasa dan orang yang berada dibawah pengampunan. Erta pasal 1330 tsb tentag tidak mempunyai kewenangan meliputi badan hukum yang belum mendapat mengesahan dari menteri hukum dan HAM . D. Seluruh pihak yang terlibat dalam perkara ikut dalam persetujuan perdamaian Syarat ini berkenaan dengan tidak boleh kurang dari pihak yang terlibat dalam membuat persetujuan. Kesepakatan yang tidak mengikutertakan seluruh pihak peggugat dan tergugat dianggap mengandung cacat plurium litis consortium yaitu tidak lengkap pihak yang berdamai E. Putusan perdamian yang bertentangan dengan Undang-undang dapat dibatalkan

Putusan akta perdamaian tidak boleh bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum yang digariskan pasal 1337 KUH perdata. Begitu juga halnya putusan itu tidak boleh bertentangan dengan ketentuan pasal 1859, 1860, 1861, dan 1862 KUH perdata. Apabila putusan tersebut mengandung salah satu cacat yang disebut dalam pasal-pasal dimaksud, dapat dijadikan alasan untuk menuntut pembatalan terhadapya. F. Kekuatan hukum yang melekat pada penetapan akta perdamaian

Kekuatan hukum pada akta pada putusan atau penetapkan akta perdamian diatur dalam pasal 1858 KUH perdata dan pasal 130 ayat (2)(3) HIR.

1.

Disamakan kekuatanya dengan putusan yang berkekuatan hukum tetap

Hal ini ditegaskan pada kalimat akhir pasal 130(2) HIR bahwa putusan akta perdamian memiliki kekuatan sama seperti putusan yang telah berkekuatan hukum tetap.

2.

Mempunyai kekuatan eksekutorial

Selain berkekuatan hukum tetap akta perdamian ini juga berkekuatan eksekutorial. Sesaat setelah putusan dijatuhkan, langsung melekat keuatan eksekutorial padanya. Apabila salah satu pihak tidak menaati atau melaksanakan pemenuhan yang ditetapkan dalam perjanjian secara sukarela, dapat diminta eksekusi kepada PN (Ps.195 HIR)

3.

Putusan akta perdamaian tidak dapat dibanding

Putusan akta tidak dapat dibanding (130 (3) HIR), penjelasan pun ada dalam putusan MA No.975 K/sip/1973 yang mengataka berdasarkan pasal 154 RBG/ 130 HIR putusan perdamaian merupakan putusan yang tertinggi . Memperhatikan kekuatan yang langsung melekat pada putusan akta perdamaian,

penyelesaian perkara melalui sistem ini sangat efektif dan efisien. Segala upaya hukum tertutup, sehingga dapat langsung diminta eksekusi apabila pihak ingkar memenuhi perjanjian secara sukarela.

Sumber: http://www.hukumacaraperdata.com/2012/06/01/istilah-pihak-pihak-dalam-gugatanperdata/#more-131 http://tiarramon.wordpress.com/category/bahan-kuliah/hukum-acara-perdata/