Anda di halaman 1dari 180

i

BUKU BAHAN AJAR


RANGKAIAN LISTRIK II



OLEH
IR.ZAENAB, MT

Program HibahPenulisanBuku Ajar Tahun 2011
Dibiayaiolehdana DIPA BLU UniversitasHasanuddin



FAKULTAS TEKNIK, JURUSAN T. ELEKTRO
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2011
ii

Kata Pengantar
PujiSyukurkehadirat Allah SwtkarenaatasrahmatdankuasaNyamakabahan ajar
Mata KuliahRangkaianListrikII inidapatdirampungkan.Ucapanterimakasihjuga kami
sampaikankepada LKPP Unhasatasdukungansuportif, baiksebagaicouching
maupunsisipendanaandaribahan ajar ini.Awalperumusanulangdaribahan ajar
iniadalahsebagaikonsekuensipositifdaritransformasipembelajaran di
UniversitasHasanuddinyaitudariTeaching Center LearningmenjadiStudent Center
Learner.Dalampembelajaran SCL kemandiriandarimahasiswasangatdiperlukan di
manapembelajarantidakhanyaterjadi di
dalamkelas.Sehinggasuatubentukbahanajarinteraktifdiperlukanuntukmendukung proses
pembelajaran SCL.
Bahan ajar interaktifpada Mata KuliahRangkaianListrik
IIdidesainuntukmemenuhikebutuhanliteraturbaikdalambentukbahanbacajugadalambent
uklatihan-latihansoalsertarujukanke website pendukunglainnya. Mahasiswa yang
eligibel (disetujui) olehdosensebagai admin
dapatdenganmudahmengaksesmatakuliahini.PadaLearning Managemen System (LMS)
tersediafitur-
fiturinteraktifuntukmemudahkankomunikasipembelajaranantaramahasiswadandosen di
dalammaupunluarkelas.
Selayaknyakaryabuatanmanusia, maka kami menyadarimodulbahan ajar
interaktifinimasihkurangdarikesempurnaan.Sehingga saran
membangundariparaakademisibaikmahasiswa,
dosenmaupunpenggunalainnyasangatdiharapkankedepannya.Bentuk saran
inidapatberupa saran langsung di perkuliahanmaupunpadakolom saran yang
disediakan di LMS.

Makassar, 24 November 2012

iii

Ir. ZaenabMuslimin, MT

DAFTAR ISI
Hal
LembarPengesahan I
Kata Pengantar Ii
Daftar Isi Iii
Bab 1 PENDAHULUAN 2
1.1 ProfilLulusan Program Studi 2
1.2 KompetensiLulusan 2
1.3 AnalisisKebutuhanPembelajaran 4
1.4 GBRP 6
Bab 2 PERSAMAAN RANGKAIAN (ANALISIS SIMPUL/NODAL DAN
JERAT/LOOP)
12
2.1 Pendahuluan 12
2.2 DefinisiCabang, Jerat Dan Simpul 12
2.3 PersamaanHukum Kirchhoff 14
2.4 AnalisisPersamaanJerat/Loop/Mesh 14
2.5 PersamaanSimpul/Nodal 16
2.6 ContohSoaldanTugasIndividu 20
2.7 BahanBacaan 26
Bab 3 TEORI RANGKAIAN 28
3.1 Pendahuluan 28
3.2 TeoriSuperposisi 28
3.3 TeoriSubstitusi 30
3.4 TeoriThevenin 31
3.5 Teori Norton 33
3.6 TeoriTransformasiSumber 34
3.7 Teori Transfer DayaMaksimum 35
iv

3.8 ContohSoaldanTugas/Latihan 38
3.9 BahanBacaan 46



Bab 4 PENGGUNAAN PERSAMAAN DIFERENSIAL DAN
TRANSFORMASI LAPLACE DALAM PERSOALAN TRANSIEN
48
4.1 KapasitorDalamRangkaian DC 48
4.2 Rangkaian RL TanpaSumber 48
4.3 KarakteristikTanggapanEksponensial 51
4.4 Rangkaian RC TanpaSumber 53
4.5 Rangkaian RL dengaSumber 55
4.6 TanggapanAlamiahdanPaksa 56
4.7 Rangkaian RLC TanpaSumber 59
4.8 PenggunaanJelmaan Laplace dalamAnalisisTransien 62
4.9 ContohSoaldanTugasKelompok 70
4.10 BahanBacaan 76
Bab 5 RANGKAIAN DUA PINTU (TWO PORT NETWORK) 78
5.1 Pendahuluan 79
5.2 Parameter z 82
5.3 Parameter Admitansi 82
5.4 Parameter h 85
5.5 Parameter g 88
5.6 Parameter ABCD 91
5.7 RangkaianKaskade 93
5.8 FungsiPindahBayangan 94
5.9 ContohSoaldanTugas 94
5.10 BahanBacaan 97
Bab 6 PENGGUNAAN TRANSFORMASI FOURIER DALAM ANALISA
RANGKAIAN
99
6.1 Pendahuluan 99
6.2 Deret Fourier Trigonometri 99
6.3 Kesimetrian 104
v

6.4 PemakaianPadaRangkaianListrik 109


6.5 Daya Rata-Rata dan RMS 112
6.6 BentukEksponensialDeret Fourier 115
6.7 Latihan / Tugas 116
6.8 BahanBacaan 117
Bab 7 RANGKAIN SISTEM TIGA FASA SEIMBANG 119
7.1 Pendahuluan 119
7.2 HubunganSistemTigaFasa 120
7.3 BebanHubungan Y (way) 121
7.4 BebanHubungan Delta 123
7.5 Transformasi Delta Y 124
7.6 DayaTigaFasa 125
7.7 ContohSoaldanTugas 126
7.8 BahanBacaan 131










vi

BUKU BAHAN AJAR


MATEMATIKA TEKNIK I
(Metode dan Penyelesaian Persamaan Differensial)

Penulis:
Dr.Eng.Syafaruddin,S.T.,M.Eng


Jurusan Teknik Elektro
Fakultas Teknik
vii



Daftar Isi
I. Lembarpe
ngesahan (3)
LEMBAR PENGESAHAN


PENULISAN BUKU BAHAH AJAR:
MATEMATIKA TEKNIK I
(Metode dan Penyelesaian Persamaan Differensial)




LembagaKajiandanPengembanganPendidikan (LKPP)
UNIVERSITAS HASANUDDIN

TELAH DIPERIKSA DAN DISETUJUI
OLEH TIM PEMBIMBING LKPP
UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR, 28 NOVEMBER 2011
PEMBIMBING, PENULIS,


viii

Prof. Dr. Ir. H. Ambo Tuwo, DEA Dr. Eng- Syafaruddin, S.T., M.Eng
NIP. 19621118 198702 1 001 NIP. 19740530 199903 1 003
LEMBARAN KONSULTASI
PENULISAN BAHAN AJAR TAHUN 2011

Mata Kuliah : RangkaianListrik II
NamaPeserta : Ir. Zaenab. MT
No. Tanggal
Materi Yang Saran Paraf
Dikonsultasikan Perbaikan Fasilitator Peserta











Makassar, 28Nopember 2011
Fasilitator,


ix

(Prof.Dr.Ir.LellahRahim,M.Sc.)
Nip. 19630501 198803 1 004




















x

HALAMAN PENGESAHAN

HIBAH PENULISAN
BUKU AJAR BAGI TENAGA AKADEMIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
TAHUN 2011

JudulBuku Ajar : RangkaianListrik II

NamaLengkap : Ir. Zaenab. MT
N I P : 19660201 19920202 2 002
Pangkat / Golongan : Pembina Tk 1 / IVa
Jurusan/Bagian/Program Studi : T.Elektro / TeknikElektro
Fakultas/Universitas : Teknik / Unhas
Alamat e-mail : zaenab_muslimin@yahoo.com
Biaya : Rp. 5.000.000,- (Lima Juta Rupiah)

Dibiayaiolehdana DIPA BLU UniversitasHasanuddin
tahun 2011 Sesuai SK. RektorUnhas
Nomor :118 /H4.21.2.4/UM.16/2011 Tanggal14 November 2011


Makassar, 28 November 2011


DekanFakultasTeknik




Dr-Ing.Ir.WahyuH.Piarah,MSME
Nip.19600302 198609 1 001
Penulis




Ir. Zaenab. MT
Nip. 19660201 19920202 2 002

Mengetahui :
KetuaLembagaKajiandanPengembanganPendidikan (LKPP)
UniversitasHasanuddin





Prof.Dr.Ir.Lellah Rahim, M.Sc.
NIP. 19630501 198803 1 004
HALAMAN PENGESAHAN

HIBAH PENULISAN
BUKU AJAR BAGI TENAGA AKADEMIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
TAHUN 2011
xi


JudulBuku Ajar : RangkaianListrik II

NamaLengkap : Ir. Zaenab. MT
N I P : 19660201 19920202 2 002
Pangkat / Golongan : Pembina Tk 1 / IVa
Jurusan/Bagian/Program Studi : T.Elektro / TeknikElektro
Fakultas/Universitas : Teknik / Unhas
Alamat e-mail : zaenab_muslimin@yahoo.com
Biaya : Rp. 5.000.000,- (Lima Juta Rupiah)

Dibiayaiolehdana DIPA BLU UniversitasHasanuddin
tahun 2011 Sesuai SK. RektorUnhas
Nomor :/../.Tanggal


Makassar, 28 November 2011


DekanFakultasTeknik




Dr-Ing.Ir.WahyuH.Piarah,MSME
Nip.19600302 198609 1 001
Penulis




Ir. Zaenab. MT
Nip. 19660201 19920202 2 002

Mengetahui :
KetuaLembagaKajiandanPengembanganPendidikan (LKPP)
UniversitasHasanuddin





Prof.Dr.Ir.Lellah Rahim, M.Sc.
NIP. 19630501 198803 1 004














xii


































xiii

BAB 1


PENDAHULUAN




1.1 PROFIL LULUSAN PROGRAM STUDI
1.2 KOMPETENSI LULUSAN
1.3 ANALISIS KEBUTUHAN PEMBELAJARAN
1.4 GBRP








xiv










B A B1
PENDAHULUAN

1.1 Profil Lulusan Program Studi
1. Memiliki integritas dan kedisiplinan yang tinggi, serta berkemauan keras, jujur
dan bertanggungjawab.
2. Menghasilkan lulusan yang berorientasi pada dunia kerja dengan sumber daya
manusia yang memiliki keahlian di bidang Teknik Energi Listrik, Teknik
Telekomunikasi dan Informasi, Teknik Komputer, Kendali dan Elektronika.
3. Menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan kebutuhan
masyarakat.
4. Lulusan mempunyai penguasaan pengetahuan dan keterampilan kerja di bidang
Teknik Energi Listrik (TEL), Teknik Telekomunikasi dan Informasi (TTI), Teknik
Komputer, Kendali dan Elektronika (TKKE).
5. Lulusan mempunyai jiwa wiraswasta yang mampu menciptakan lapangan kerja
serta mampu berkompetisi sebagai tenaga kerja pada bidang industri.
xv

1.2 Kompetensi Lulusan


a. Kompetensi Utama
1. Memiliki keahlian dasar dalam bidang ilmu teknik elektro (U1)
2. Mampu mendesain sistem kelistrikan dan menganalisisnya secara teknis-
ekonomis (U2)
3. Menguasai ragam teori dan aplikasi teknik instalasi, transmisi dan distribusi
tenaga listrik, serta pekerjaan gardu induk (U3)
4. Menguasai ragam teori dan praktek bidang pengendalian, pengoperasian, dan
perawatan mesin-mesin listrik (U4)
5. Mampu bekerja sebagai tenaga perencana, pelaksana, pengaturan dan
pengendalian sistem, jaringan, perangkat keras maupun perangkat lunak yang
dapat diaplikasikan dalam bidang telekomunikasi dan informasi dalam format
multimedia (U5)
6. Mampu mengantisipasi, merumuskan dan menyelesaikan masalah yang terkait
dengan sistem, jaringan, perangkat keras dan perangkat lunak yang
diaplikasikan dalam bidang telekomunikasi dan informasi dalam format
multimedia (U6)
7. Mampu mengembangkan ilmu-pengetahuan dan teknologi khususnya dalam
bidang telekomunikasi dan informasi, serta senantiasa menyesuaikan diri
dengan kemajuan ilmu-pengetahuan dan teknologi dalam bidang tersebut (U7)
8. Mampu menggunakan paket-paket perangkat lunak komputer untuk pemodelan
dan simulasi masalah-masalah teknik elektro khususnya dan masalah rekayasa
pada umumnya (U8)
9. Menguasai konsep, rancangan dan aplikasi perangkat keras komputer digital
(U9)
10. Mampu merencanakan dan merancang arsitektur jaringan komputer serta
pengetahuan dasar untuk mengadministrasikan suatu jaringan komputer terpadu
(U10)
11. Menguasai dasar-dasar teori kendali, baik yang klasik maupun moderen serta
aplikasinya dalam analisis dan perancangan sistem kendali (U11)
xvi

12. Menguasai pengetahuan tentang perancangan, fabrikasi dan aplikasi berbagai


piranti, rangkaian dan sistem elektronika dan mikroelektronika termasuk
penggunaan paket-paket perangkat lunak untuk merancang tata letak rangkaian
terintegrasi (U12)



b. Kompetensi Pendukung
1. Mampu Berwirausaha / bekerja mandiri dalam bidang Teknik Elektro (P1)
2. Mampu menggunakan bahasa-bahasa pemrograman yang umum digunakan
dalam dunia enjiniring (P2)
3. Mampu menggunakan bahasa asing sebagai second language (P3)

c. Kompetensi Lainnya
1. Mampu terlibat dalam kehidupan sosial bermasyarakat berdasarkan budaya
bahari (L1)
2. Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berbudi pekerti luhur, memiliki etika
dan moral, berkepribadian yang luhur dan mandiri serta bertanggung jawab
terhadap masyarakat dan bangsa (L2)
3. Memiliki jiwa kepemimpinan, peneliti dan enterpreneur serta mampu bersaing
(L3)

1.3 Analisis Kebutuhan Pembelajaran

Mata Kuliah : Rangkaian Listrik II


Kompetensi Utama : Kemampuan dalam menerapkan pengetahuan dasar
Rangkaian Listrik dalam Sistem Tenaga Listrik,
Telekomunikasi serta Kendali, Komputer dan
Elektronika(1)
Kompetensi Pendukung : Kemampuan bekerjasama, baik sebagai ketua maupun
anggota dari sebuah tim kerja (10)
xvii

Kemampuan berkomunikasi dan beradaptasi dalam


lingkungan kerja (11)


Kompetensi Lainnya : Kemampuan dalam beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan YME, berbudi pekerti luhur, memiliki etika dan
moral, berkepribadian yang mantap dan mandiri serta
bertanggung jawab terhadap masyarakat dan bangsa
(13)
Sasaran Pembelajaran : Selesai mengikuti mata kuliah ini mahasiswa diharapkan
dapat menyelesaiakan persamaan rangkaian, teori
rangkaian, persoalan transien dengan penggunaan
persamaandifferensial dan transformasi Laplace, analisa
rangkaian dengan trasformasi Fourier, rangkaian dua
pintu, sistim tiga fasa seimbang.















xviii












ANALISIS KEBUTUHAN PEMBELAJARAN














Persamaan diferensial dan
transformasi Laplace dalam
persoalan transien
Rangkaian sistem tiga fasa
seimbang
Uji Kompetensi
(Mid T t)
Uji Kompetensi
xix
























1.4 GBRP


Persamaan Rangkaian
(Analisis Simpul dan Jerat)
Rangkaian dua pintu (Two
Port Network)
Teori Rangkaian ,
(Reciprocity,Thevenin, Norton
dan transfer daya maksimum )

Penggunaan transformasi
Fourier
xx

xxi

xxii

xxiii

xxiv

xxv

xxvi

xxvii

BAB2

PERSAMAAN RANGKAIAN
(ANALISIS SIMPUL DAN JERAT)


Sasaran Pembelajaran:
Setelah membaca bab ini, mahasiswa diharapkan mampu untuk
:Mengimplementasikan analisis simpul (nodal), jerat (loop) dan seluk beluk
analisis rangkaian








xxviii









BAB 2

PERSAMAAN RANGKAIAN
(ANALISIS SIMPUL/NODAL DAN JERAT/LOOP)

2.1 Pendahuluan

Dalam bab ini kita akan diperkenalkan dengan dua cara yang berbeda untuk melihat,
memandang atau menyelesaikan suatu persoalan rangkaian listrik. Analisis simpul yang biasa
juga disebut analisis nodal berbasiskan hukum arus Kirchhoff memungkinkan kita untuk
mengkonstruksi persamaan untuk berbagai macam rangkaian. Teknik yang lain adalah analisis
jerat dan biasa juga dikenal sebagai analisis mesh/loop yang berdasarkan pada hukun
tegangan Kirchhoff, dan juga merupakan suatu pendekatan yang bergunauntuk analisis
rangkaian. Dalam banyak contoh atau aplikasi di mana kedua teknik atau pendekatan ini valid
untuk digunakan dan akan banyak kita jumpai bahwa salah satu diantaranya biasanya memiliki
kelebihan disbanding lainnya, bergantung pada susunan dan jenis elemen-elemen yang
digunakan dalam rangkaian.
xxix


2.2 Definisi Cabang, Jerat dan Simpul

Rangkaian listrik adalah rangkaian elemen-elemen yang dapat mewakili sifat kelistrikan
bagian-bagian suatu sistem. Elemen-elemen tersebut saling dihubungkan oleh penghantar arus
(konduktor) yang tidak memiliki sifat kecuali sebagai penghantar arus listrik. Titik hubung antara
dua atau lebih elemen disebut titik simpul atau node. Bila titik simpul itu merupakan titik hubung
antara tiga atau lebih elemen maka simpul itu merupakan titik percabangan dan simpul tersebut
disebut simpul silang.
Cabang suatu rangkaian adalah bagian rangkaian yang arusnya selalu sama. Cabang itu
mengandung satu atau lebih elemen. Jadi arus yang melalui setiap elemen yang terdapat pada
satu cabang harus sama. Arus yang mengalir pada satu cabang disebut arus cabang. Arus
listrik dalam rangkaian hanya bisa mengalir bila terdapat jalan melingkar (kembali ke titik asal)
melalui elemen dan penghantar. Setiap jalan atau lintasan melingkar ini disebut
jerat/loop.Gambar 2.1 adalah contoh sebuah rangkaian beberapa elemen aktif dan pasif. Pada
Gambar 2.1 terlihat
Simpul : a, b, c, d, e, f, g, h, I, j, k, l, m, dan n
Simpul silang : b, d, h, dan j
Cabang : Z6, Z7, ea, Z3, Z10, Z8 dst
Jerat : abljhka, bicmdjlb, ghjdefg

2.3 Per
P
a. Jumla
Secar

b. Jumla
dapat

NOTE :
D
p
tin
rsamaan
Persamaan ra
ah jatuh po
ra singkat de
( be
ah arus yang
dituliskan p
( ar
Dalam meng
otensial ant
nggi potensi
Gamba
Hukum K
angkaian dit
tensial pada
engan meng
eda potensia
g mengalir m
ersamaanny
us ) simpul/n
gunakan pe
ara dua titik
ialnya ke sim
ar 2.1 Illustra
irchhoff
turunkan da
a suatu jala
gunakan sim
al ) jerat/loop
masuk ke s
ya sebagai b
node = 0
ersamaan [2
k atau simpu
mpul yang le
asi cabang, s
ri salah satu
an melingka
mbol matema
p = 0
satu simpul/n
berikut

2.1], hendak
ul adalah po
ebih rendah p
simpul dan je
u Hukum Kirc
ar (jerat/loo
atik dapat di

node sama

knya diperha
sitif bila ber
potensialnya
erat
chhoff, yaitu
p/mesh) sa
ituliskan :

dengan nol
.[2.2]
atikan bahw
rgerak dari s
a dan negati
u
ma dengan
[2.1]
. Secara sin
wa polaritas
simpul yang
if bila sebalik
xxx

n nol.
ngkat
beda
lebih
knya.
xxxi

Dalam menggunakan persamaan [2.2], kita sepakati bahwa arus i yang mengalir menuju
ke simpul berpolaritas positif, sedangkan arus i yang keluar dari suatu simpul
berpolaritas negatif.

2.4 Analisis Persamaan Jerat/Loop/Mesh


Marilah kita perhatikan Gambar 1, dimana diperoleh :

(Z1+Z2+Z6+Z7)I1 + (-Z2) I2 + (-Z6) I3 = ea eb
(-Z2) I1 + (Z2+Z3+Z4+Z8) I2 + (-Z8) I3 = eb ec ed
(-Z6) I1 + (-Z8) I2 + (Z5+Z6+Z8+Z9+Z10) I3 = -ef
.[2.3]
..[2.4]


[ Z ] [ I ] = [ E ] [2.5]
Definisikan :
Biarkanlah didefinisikan impedansi diri jerat j. Zjj adalah jumlah semua impedansi yang
ada pada jerat j.
Impedansi bersama atau impedansi gandeng Zjk adalah jumlah impedansi yang
terdapat baik pada jerat j maupun jerat k, yaitu jumlah impedansi yang secara bersama
dimiliki atau menggandengkan jerat j dan jerat k. Sehingga Zjk = Zkj.
E
1
= E
a
E
b
adalah jumlah sumber tegangan yang ada pada jerat 1. Sumber tegangan
dikatakan posistif bila berpolaritas searah dengan I1, dan negatif bila berlawanan arah
denga arah I1.
Pada persamaan [2.5] [Z] adalah matriks bujur sangkar, [I] adalah matriks kolom atau
vektor arus-arus jerat, dan [E] adalah vektor sumber tegangan.

E3
E2
E1
I3
I2
I1
Z33 Z32 Z31
Z23 Z22 Z21
Z13 Z12 Z11
xxxii

Elemen-elemen diagonal utama dari matriks [Z] adalah impedansi dari masing-masing
jerat dan tanda di depannya selalu posistif.
Elemen-elemen lainnya yang terdapat disisi kanan atas atau disisi kiri bawah elemen-
elemen diagonal adalah impedansi bersama atau gandeng pasangan-pasangan jerat
yang terpilih.Tanda di depannya positif atau negatif, tergantung pada polaritas arus-arus
jerat yang melaluinya.

2.4.1 Jawab Persamaan Jerat

Jawab persamaan jerat adalah memperoleh arus-arus jerat [ I ]. Arus arus jerat ini
didapat dengan jalan persamaan [2.5] diperkalikan dengan [ Z ]
-1
sebagai berikut :



[ Z ]
-1
[ Z ] [ I ] = [ Z ]
-1
[ E ]
[ U ] [ I ] = [ Z ]
-1
[ E ]
[ I ] = [ Z ]
-1
[ E ]
[ I ] = [ Y ] [ E ] .................[2.6]

Persamaan [2.6] adalah jawab dari persamaan [2.5].

2.4.2 Langkah-Langkah Penyelesaian

Langkah-langkah penyelesaian untuk memperoleh arus-arus jerat adalah :
xxxiii

Gambarkan rangkaian dengan menyatakan semua elemen aktif (sumber energi)


sebagai sumber tegangan.
Gambarkan arus-arus jeratnya. Ambillah searah dengan arah jarum jam
Tuliskanlah matriks impedansi [ Z ]
Carilah matriks [ Y ] dengan jalan meng-invers matriks [ Z ]
Tentukanlah vektor sumber tegangan [ V ]
Hitung arus [ I ] dengan jalan memperkalikan [ Y ] dengan [ E ]

2.5 Persamaan Simpul/Nodal

Persamaan simpul diturunkan dari persamaan [2.2]. Dalam hal ini semua elemen aktif
atau sumber energi dinyatakan sebagai sumber arus bebas. Biasanya sumber energi itu lebih
sering dinyatakan sebagai sumber tegangan bebas yang seri dengan impedansinya. Terdapat
teori yang mengatakan bahwa terhadap ujung-ujng AB suatu sumber tegangan bebas e seri
dengan sebuah impedansi Zd dapat diagnti dengan suatu sumber arus bebas I paralel dengan
impedansi Zd tersebut asal saja I = E / Zd.
Banyaknya persamaan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan persamaan
simpul sama dengan banyaknya simpul dikurang satu. Dikurang satu karena harus dipilih satu
simpul sebagai simpul acuan. Sehingga semua tegangan simpul lainnya dapat diacukan ke
simpul acuan tersebut.
Marilah kita perhatikan Gambar 2.2. Setelah semua tegangan yang seri dengan suatu
impedansi diganti dengan sumber arus setaranya yang paralel dengan impedansi atau
admitansinya, seperti yang tampak pada Gambar 1.3.


Dari Gam
Simpul A
I1
I1
Gamba
mbar 2.3 dap
A
1 IZ1 + I2
1 Y1 VAC
ar 2.2 Contoh
G
pat dituliskan
2 - IZ2 + I3
+ I2 - Y2 V
h rangkaian
Gambar 2.3 P
n persamaan
3 - IZ3 = 0
VA + I3 Y3
untuk penye
Penyederhan
n berikut :

3 VAB = 0
elesaian per
naan Gamba

rsamaan sim
ar 2.2
mpul

xxxiv
xxxv

I1 Y1 (VA - VC) + I2 - Y2 VA + I3 Y3 (VA - VB) = 0


(Y1 + Y2 + Y3) VA Y3 VB - Y1 VC = I1 + I2 +I3
Simpul B
-I3 + IZ3 - IZ6 + I4 - IZ4 = 0
-I3 + Y3 (VA - VB) - Y6 VB + I4 Y4 (VB - VC) = 0
-Y3 VA + (Y3 + Y4 + Y6) VB Y4 VC = - I3 + I4
Simpul C
-I1 + IZ1 - IZ5 - I4 + IZ4 = 0
-I1 + Y1 (VA - VC) - Y5 VC - I4 Y4 (VB - VC) = 0
-Y1 VA Y4 VB + (Y1 + Y4 + Y5) VC = - I1 - I4

(Y1 + Y2 + Y3) VA + ( Y3) VB + ( - Y1) VC = I1 + I2 +I3
(-Y3) VA + (Y3 + Y4 + Y6) VB + ( Y4) VC = - I3 + I4
( -Y1) VA + ( Y4) VB + (Y1 + Y4 + Y5) VC = - I1 - I4

Secara umum persamaan matriks dapat dituliskan sebagai :



..[2.7]

Penulisan lengkap tersebut dapat disederhanakan menjadi :

C
B
A
C
B
A
33 32 31
23 22 21
13 12 11
I
I
I
V
V
V
Y Y Y
Y Y Y
Y Y Y
xxxvi

[ Y ] [ V ] = [ I ] ..[2.8]


Definisi dari persamaan [2.7] :

Y11 = Y1 + Y2 + Y3; adalah jumlah admitansi yang dihubungkan langsung ke simpul
A=1. demikian pula Y22 = Y3 + Y4 + Y6; dan Y33 = Y1 + Y4 + Y5; masing-masingnya
adalah jumlah admitansi yang dihubungkan langsung ke simpul B=2 dan simpul C=3.
Y11, Y22 ,Y33 adalah admitansi diri. Admitansi diri merupakan elemen-elemen diagonal
utama dan tanda di depannya selalu positif (+).
Y12 = Y21, Y23 = Y32, Y13 = Y31 adalah jumlah admitansi yang menghubungkan atau
menggandengkan simpul 1 dengan simpul 2, simpul 2 dengan simpul 3 serta simpul 1
dengan simpul 3. Admitansi ini disebut admitansi bersama atau admitansi gandeng, dan
tanda di depannya adalah negatif (-).
IA = I1 + I2 + I3; adalah jumlah sumber arus yang berhubungan langsung ke simpul
A=1, dihitung positif bila menuju ke simpul A dan negatif bila keluar dari simpul A.
Demikian pula untuk I
B
dan I
C
.

2.5.1 Jawab Persamaan Simpul

Jawab persamaan simpul adalah memperoleh tegangan pada masing-masing simpul
selain simpul acuan. Jawab persamaan simpul dapat diperoleh dengan jalan yang sama seperti
pada jawab persaman jerat :

[ Y ] -1 [ Y ] [ V ] = [ Y ]
-1
[ I ]
[ U ] [ V ] = [ Y ]
-1
[ I ]
[ V ] = [ Y ]
-1
[ I ]
xxxvii

[ V ] = [ Z ] [ I ] ................[2.9]
Persamaan [2.9] adalah jawab dari persamaan [2.8].

2.5.2 Langkah-Langkah Penyelesaian

Langkah-langkah penyelesaian untuk memperoleh tegangan simpul
Gambarkan rangkaian dengan menyatakan semua elemen aktif (sumber energi)
sebagai sumber arus.
Beri nomor / huruf setiap simpul dan pilih simpul acuan. Simpul acuan yang dipilih
dianjurkan adalah simpul yang banyak cabangnya keluar.
Tuliskanlah matriks admitansi [Y ]
Carilah matriks [ Z ] dengan jalan meng-invers matriks [ Y ]
Tentukan vektor sumber arus [ I }
Hitung tegangan [ V ] dengan jalan memperkalikan [ Z ] dengan [ I ]

2.6 Contoh Soal dan Tugas Individu



2.6.1 Contoh Soal

Contoh 2.1
Tentukan nilai arus i dengan analisis loop.
xxxviii


Gambar 2.4
Jawab :

Gambar 2.5
Tinjau loop I1 :
v = o
-16 V + 2 (I1) + 9 V + 3 (I1- I2) = 0
- 16 V + 9 V + 2 I1 + 3 I1 - 3 I2 = 0
5 I1 3 I2 = 7 V(1)
Tinjau loop I2 :
v = o
-9 V + 6 (I2) +6 V + 3(I2- I1) = 0
-9 V + 6 V + 6 I2 + 3 I2 3 I1 = 0
xxxix

9 I2 3 I1 = 3 V .(2)
Eliminasi persamaan (1) dan (2). :
5 I1 3 I2 = 7 V.x3
3 I1 + 9 I2 = 3 V..x1
15 I1 3 I2 = 21 V
3 I1 + 9 I2 = 3 V +
12 I1 = 24 V
I1 = 2 Asehingga i= I1 = 2 A





Contoh 2.2
Tentukan nilai i dengan analisis loop.

Gambar 2.6
Jawab
xl


Gambar 2.7













Contoh 2.3

Tentukanlah tegangan pada ab
xli



Gambar 2.8





Contoh 2.4

2.6.2 T

1. H

Tugas Indi
Hitunglah teg
vidu
gangan padaa tahanan 4
2.9

ohm dengann menggunaakan persam
Gam
maan jerat.
xlii
mbar
xliii



Gambar 2.10

2. Hitunglah tegangan pada tahanan 4 ohm (V
AB
) dengan menggunakan persamaan
simpul.



Gambar 2.11

3. Hitunglah tegangan pada tahanan 10 ohm dengan menggunakan persamaan jerat dan
simpul.

xliv



Gambar 2.12

4. Hitunglah V
AB
dengan menggunakan persamaan jerat.


Gambar 2.13


5. Hitunglah V
L
dengan menggunakan persamaan jerat dan simpul.



xlv

Gambar 2.14

2.7 Bahan Bacaan :

1. Mohammad Ramdhani, 2002, RANGKAIAN LISTRIK penerbit Erlangga
2. Ramli Cambari Saka MSc; Diktat Rangkaian Listrik
3. Robert L. Boylestad, 2003, Introductory Circuit Analysis, Tenth edition, Prentice Hall
Pearson Education International.
4. Thomas L.Floyd, 2003, Principles of Electric Circuits-Electron Flow Version, Sixth Edition,
Prentice Hall Electronics Supersite.
5. William H.Hayt,JR; Jack E.Kemmerly; Steven M.Durbin, Rangkaian Listrik Jilid 1, Edisi
Keenam, Penerbit Erlangga; 2005
6. Sudaryanto Sudirham ;Analisis Rangkaian Listrik , Penerbit ITB Bandung.

B A B3
TEORI RANGKAIAN

Sasaran Pembelajaran :
Setelah membaca bab ini mahasiswa diharapkan mampu
untuk menyelesaikan suatu rangkaian dengan
menggunakan terori supersposisi, substitusi, Thevenin,
Norton, transformasi sumber dan menentukan resistansi
beban yang akan menghasilkan transfer daya maksimum.

xlvi











BAB 3
TEORI RANGKAIAN

3.1 Pendahuluan
Tujuan utama dari bab ini adalah mempelajari metode-metode untuk menyederhanakan
analisis dari suatu rangkaian yang lebih kompleks. Dalam prakteknya, seringkali kita hanya
tertarik pada unjuk kerja dari suatu rangkaian yang kompleks. Dengan demikian, metode untuk
mengganti bagian rangkaian yang lain dengan suatu rangkaian ekivalen yg lebih sederhana
merupakan hal yang diinginkan. Konsep rangkaian ekivalen dapat juga digunakan untuk untuk
xlvii

menyederhanakan rangkaian multikomponen sebelum analisis terhadap rangkaian ini


dijalankan. Setelah mempelajari metode analisis maka kita akan memiliki kemampuan untuk
memilih metode yang paling mudah dan tepat.

3.2 Teori Superposisi
Teori superposisi ini hanya berlaku untuk rangkaian yang bersifat linier.
Rangkaian linier adalah suatu rangkaian dimana persamaan yang muncul akan
memenuhi jika y = kx, dimana k = konstanta dan x = variabel.
Pada setiap rangkaian linier dengan beberapa buah sumber tegangan/ sumber arus
dapat dihitung dengan cara :
Menjumlah aljabarkan tegangan/ arus yang disebabkan tiap sumber yang
bekerja sendiri-sendiri.
Pengertian dari teori diatas bahwa jika terdapat n buah sumber maka dengan
teori superposisi sama dengan n buah keadaan rangkaian yang dianalisis, dimana
nantinya n buah keadaan tersebut akan dijumlahkan.
Ini berarti bahwa bila terpasang dua atau lebih sumber tegangan/sumber arus, maka
setiap kali hanya satu sumber yang terpasang secara bergantian. Sumber tegangan
dihilangkan dengan cara menghubung singkatkan ujung-ujungnya (short circuit),
sedangkan sumber arus dihilangkan dengan cara membuka hubungannya (open
circuit).
Rangkaian berikut ini dapat dianalisis dengan mengkondisikan sumber tegangan
aktif/bekerja sehingga sumber arusnya menjadi tidak aktif (diganti dengan rangkaian open
circuit = OC). Oleh sebab itu arus i dalam kondisi sumber arus OC yang mengalir di R
10
dapat
ditentukan.






xlviii


Gambar 3.1 Contoh rangkaian superposisi

Kemudian dengan mengkondisikan sumber arus aktif/bekerja maka sumber tegangan
tidak aktif (diganti dengan rangkaian short circuit). Disini arus i dalam kondisi sumber tegangan
SC yang mengalir di R
10
dapat ditentukan juga. Akhirnya dengan penjumlahan aljabar kedua
kondisi tersebut maka arus total akan diperoleh.

Gambar 3.2 Rangkaian dengan sumber di hubung singkat


3.3 Teori Substitusi
Pada teorema ini berlaku bahwa :
Suatu komponen atau elemen pasif yang dilalui oleh sebuah arus yang mengalir
(sebesar i) maka pada komponen pasif tersebut dapat digantikan dengan sumber
tegangan Vs yang mempunyai nilai yang sama saat arus tersebut melalui komponen
pasif tersebut.

Jika pada komponen pasifnya adalah sebuah resistor sebesar R, maka sumber tegangan
penggantinya bernilai Vs = i.R dengan tahanan dalam dari sumber tegangan tersebut sama
dengan nol.

xlix


Gambar 3.3Illustrasi rangkaian teori substitusi

Rangkaian berikut dapat dianalisis dengan teori substitusi untuk menentukan arus yang
mengalir pada resistor 2.

Gambar 3.4 Contoh rangkaian teori substitusi

Harus diingat bahwa elemen pasif yang dilalui oleh sebuah arus yang mengalir (sebesar i)
maka pada elemen pasif tersebut dapat digantikan dengan sumber tegangan Vs yang
mempunyai nilai yang sama saat arus tersebut melaluinya.
Kemudian untuk mendapatkan hasil akhirnya analisis dapat dilakukan dengan analisis mesh
atau arus loop.


3.4 Te
P
S
sumber
yang dia

T
yaitu me
dengan s

eori Theve
Pada teori in
Suatu rangk
tegangan y
amati, dima
Tujuan sebe
embuat rang
suatu imped
Gamba
enin
ni berlaku b
kaian listrik
yang seri d
na rangkaia
narnya dari
gkaian peng
ansi ekivale
Gam
r 3.5 Illustra
bahwa :
k dapat dis
dengan seb
an ini diseb
teori ini ad
gganti yang
ennya.
bar 3.6Rang
asi rangkaian
ederhanaka
buah imped
but sebagai
dalah untuk
berupa sum
gkaian ekiva
n teori subst
an dengan
dansi ekiva
rangkaian
k menyederh
mber tegan
alen Theveni

itusi
hanya terd
alennya pad
ekivalen th
hanakan an
gan yang d
in
diri dari seb
da dua term
hevenin.
nalisis rangk
dihubungkan
l
buah
minal
kaian,
n seri
li


Cara menentukan resistansi/impedansi pengganti (Rth/Zth) adalah impedansi masuk
dilihat dari ujung-ujung AB dimana semua sumber tegangan/sumber arus dimatikan atau
dinon aktifkan (yaitu untuk sumber tegangan digantikan dengan rangkaian short circuit
dan untuk sumber arus digantikan dengan rangkaian open circuit).

Langkah-langkah penyelesaian dengan teori Thevenin:
Cari dan tentukan titik terminal A-B dimana parameter yang ditanyakan.
Lepaskan komponen pada titik A-B tersebut, open circuit kan pada terminal A-B
kemudian hitung nilai tegangan dititik A-B tersebut (VAB = Vth).
Tentukan nilai tahanan diukur pada titik A-B tersebut saat semua sumber di non aktifkan
dengan cara diganti dengan tahanan dalamnya (untuk sumber tegangan diganti dengan
rangkaian short circuit dan untuk sumber arus diganti dengan rangkaian open circuit)
(RAB = Rth).
Gambarkan kembali rangkaian pengganti Theveninnya, kemudian pasangkan kembali
komponen yang tadi dilepas dan hitung parameter yang ditanyakan.

3.5 Teori Norton
Pada teori ini berlaku bahwa :
Suatu rangkaian listrik dapat disederhanakan dengan hanya terdiri dari satu buah
sumber arus yang dihubungparalelkan dengan sebuah tahanan/impedansi ekivelennya
pada dua terminal yang diamati.
Tujuan teori Norton adalah untuk menyederhanakan analisis rangkaian, yaitu
dengan membuat rangkaian pengganti yang berupa sumber arus yang diparalel dengan
suatu tahanan ekivalennya, seperti tampak pada Gambar 3.7.
lii


Gambar 3.7 Rangkaian ekivalen Norton

Langkah-langkah penyelesaian dengan teori Norton :
Cari dan tentukan titik terminal A-B dimana parameter yang ditanyakan.
Lepaskan komponen pada titik A-B tersebut, short circuit kan pada terminal A-B
kemudian hitung nilai arus yang mengalir dititik A-B tersebut (IAB = Isc = IN).
Tentukan nilai tahanan diukur pada titik A-B tersebut saat semua sumber di non
aktifkan dengan cara diganti dengan tahanan dalamnya (untuk sumber tegangan
diganti dengan rangkaian short circuit dan untuk sumber arus diganti dengan
rangkaian open circuit) (RAB = RN = Rth).
Gambarkan kembali rangkaian pengganti Nortonnya, kemudian pasangkan
kembali komponen yang tadi dilepas dan hitung parameter yang ditanyakan.
3.6 Teori Transformasi Sumber
Sumber tegangan yang dihubungserikan dengan resistansi dapat diganti dengan
sumber arus yang dihubungparalelkan dengan resistansi yang sama atau sebaliknya.Teori ini
berguna untuk menyederhanakan rangkaian dengan multi sumber tegangan ataumulti sumber
arus menjadi satu sumber pengganti (Teorema Millman)
liii


Gambar 3.8 Rangkaian dengan teorema Millman

Langkah-langkah analisa :
Ubah semua sumber tegangan ke sumber arus

Gambar 3.9 Sumber tegangan diganti menjadi sumber arus


Jumlahkan semua sumber arus paralel dan tahanan paralel




3 2 1
3
3
2
2
1
1
1 1 1 1
R R R R
R
V
R
V
R
V
i
t
t
+ + =
+ + =
liv





Gambar 3.10 Penyederhanaan rangkaian pada gambar 3.9

Konversikan hasil akhir sumber arus ke sumber tegangan







Gambar 3.11 Rangakian akhir sumber tegangan seri dengan resistansinya

3.7 Teori Transfer Daya Maksimum

Teori ini menyatakan bahwa :
Transfer daya maksimum terjadi jika nilai resistansi beban sama dengan nilai
resistansi sumber, baik dipasang seri dengan sumber tegangan ataupun dipasang
paralel dengan sumber arus dan nilai reaktansi sumber adalah negatif dari nilai reaktansi
beban.
Daya listrik ditransfer dari satu tempat ke tempat lainnya melalui saluran transmisi.
Saluran transmisi meliputi impedansi, oleh sebab itu arus listrik yang mengalir akan
menimbulkan rugi daya yang sepanjang saluran. Pada umumnya dikehendaki meminimalkan
t ek
t t ek
R R
R i V
=
= .

rugi daya
gambar r

G

Z
supaya d
sudah ad
Daya akt







Supaya P
haruslah
dipenuhi
a tersebut,
rangkaian ya
Gambar 3.1
ZS adalah im
daya yang d
da, jadi diang
tif beban ada
PB maksimu
X
B
= -X
S
. P
persyaratan
sehingga d
ang merupak
2 Rangkaia
mpedansi sa
diterimanya m
ggap tetap,
alah :
um, penyebu
Persoalan me
n : dP
B
/dR
B
=
S
B
2
B
R (R
R I P
+
=
= =
aya yang s
kan suatu m
an model tra
aluran yang
maksimum.
RB dan XB
ut suku tera
enjadi : mak
= 0.
S
2
B
B
2
B S
(X ) R
R . E
) Z (Z
E
+ +

+
=
sampai ke tu
model sistem
ansfer daya
sudah ada
Biarkan Z
S
dapat diuba
khir harusla
ksimumkan P
2
B
B
2
) X
R .
)
+

ujuan sema
transfer day
a maksimu
jadi tetap.H
= R
S
+jX
S
d
h secara be
h minimum
P
B
dengan m
aksimal mun
ya maksimu

m
Hendak diten
dan Z
B
= R
B
ebas.
yaitu salah
merubah-rub
ngkin. Perha
m.
ntukan beba
+jX
B
. R
S
da
satu persya
bah RB. Haru
lv
atikan
an ZB
an X
S

ratan
uslah
lvi













Jadi persyaratan yang harus dipenuhi supaya daya yang ditransfer maksimum adalah
Z
B
= Z
S
*
Yaitu impedansi beban dan impedansi saluran transmisi (termasuk impedansi sumber) saling
berkonyugasi.

Karena R
B
=R
S
maka rugi daya pada saluran = daya beban atau daya luaran sehingga
efisiensi maksimum sistem adalah 50%. Tentu hal ini tidak baik bagi suatu sistem penyaluran
daya besar-besaran. Karena itu untuk sistem penyaluran daya besar tidak digunakan prinsip
transfer daya maksimum, yang diperlukan adalah supaya rugi rugi daya dan jatuh tegangan
pada saluran transmisi seminimal mungkin untuk memenuhi permintaan daya beban yang
sudah tertentu. Ini dilakukan dengan jalan meminimalkan impedansi saluran Z
S
, tentu dengan
memperhatikan kriteria biaya dan konstruksi saluran.
S B
S B B S B
B S
B
B S
B S
B B S
B S
B S B B S
B S
B
B B
B
X X
tkan dipersyara telah dan R R R R R
R R
E R
R R
E
R R
E R R R E
R R
R R R E R R E
R R
R E
dR
d
dR
dP
=
= + =
=
+

+
=
=
+
+
=
=
+
+ +
=
=
+
=
. 2
0
) (
. . 2
) (
0
) (
. . 2 ) (
0
) (
) ( 2 . ) (
0
) (
.
3
2
2
2
3
2 2
4
2
2
2
2
2

U
saluran t
rugi daya
ditransfe
jelas. Ka
beban (m
impedan

3.8 Con

3.8.1 C

Contoh 3
Tentukan


Jawab :
Tentukan
saat terb
Untuk menya
transmisi se
a turun seba
rkan relatif k
arena itu pri
misalnya imp
si (impedanc
ntoh Soal
Contoh So
3.1
nlah arus i d
n titik a-b pa
buka :
alurkan daya
hingga untu
anding deng
kecil, yang p
insip transfe
pedansi pen
ce matching
dan Tuga
oal-soal
engan teore
ada R diman
a tertentu, ja
uk menyalurk
an kuadrat
penting adala
er daya mak
erima telepo
g).
as / Latiha
ema Theven
Ga
a paramete
alan yang laz
kan suatu d
arus.Untuk s
ah informas
ksimum dap
on) dengan
an
in untuk ran
ambar 3.13
r i yang dita
zim ditempu
aya tertentu
sistem telek
i yang disalu
pat digunaka
konyugat s
gkaian sepe
nyakan, hitu
h ialah men
u besar arus
komunikasi,
urkan dapat
an. Menyam
saluran diseb
erti pada Gam

ung teganga
naikkan tega
s turun, sehi
besar daya
diterima de
makan imped
but penyelar
mbar 3.13
an di titik a-b
lvii
angan
ingga
yang
engan
dansi
rasan
bpada

Mencari
lihat dari
seperti ta


Contoh 3

Rth ketika s
titik a-b ( G
ampak pada
3.2
semua sumb
Gambar 3.14
Gambar 3.1
Ga
ber bebasny
4, sebalah k
15.
Ga
ambar 3.14


ya tidak akti
kanan atas)

ambar 3.15
f (diganti de
kemudian r
engan tahan
rangkaian ek

nan dalamny
kivalen Thev
lviii
ya) di
venin

Tentukan
3.16.

Jawab

Pada saa
dalamnya

Maka
nlah arus I d
at sumber te
a yaitu tak h
dengan men
eangan aktif
hingga atau r
nggunakan t
Ga
f/bekerja ma
rangkaian op
Ga
eorema sup
ambar3.16
aka sumber
pen circuit)
ambar 3.17

perposisi, un
arus tidak a
ntuk rangkaia

aktif (diganti

an pada Ga
dengan tah
lix
mbar
hanan

Pada saa
dalamnya
Contoh 3
Tentukan
Gambar
at sumber a
a yaitu nol a
3.3
nlah tegang
3.19.
rus aktif/bek
atau rangkaia
an V denga
kerja maka s
an short circ
Ga
an menggun

sumber tega
cuit).
ambar3.18
nakan trans

ngan tidak a
sformasi sum
aktif (diganti

mber untuk
dengan tah
rangkaian
lx
hanan
pada


Jawab





Contoh 3

3.4
Ga
Ga
ambar 3.19
ambar 3.20



lxi
lxii

Tentukanlah arus yang mengalir pada tahanan 4 ohm untuk rangkaian pada Gambar 3.21
dengan menggunakan teori Norton










Gambar 3.21

Jawab
Tentukan titik a-b pada R dimana parameter I ditanyakan, dan hitung i
sc
= i
n
saat R = 4 dilepas,
lihat Gambar 3.22



lxiii

Gambar 3.22

Analisa:
Tinjau loop I
1
:
I
1
= 6A
................................................................................................................................ (1
)
Tinjau loop I
3
:

v
= 0
-5 + 8(I
3
I
2
) = 0
8(I
3
I
2
) =5
................................................................................................................................ (2
)
Tinjau loop I
2
:
V = 0
8(I
2
I
3
) + 4I
2
= 0
12I
2
8I
3
= 0
8I
3
= 12I
2

I
3
=
12
8
I
2
=
3
2
I
2
................................................................................................................................ (3
)
Subtitusikan persamaan (3) ke persamaan (2):
8 _
SI
2
2
-I
2
] = S
4I
2
= 5
I
2
=
S
4
A
Sehingga,i
sc
= i
N
= I
1
-I
2
= 6 -
5
4
=
19
4
A
lxiv

Mencari sumber R
th
ketika semua sumber bebasnya tidak aktif (diganti dengan tahanan
dalamnya) dilihat dari titik a-b, lihat Gambar 3.23
R
N
= 4

Gambar 3.23

Rangkaian ekivalen Norton terlihat pada Gambar 3.24 :
i =
4
4 +4
i
N
=
4
8
.
19
4
=
19
8
A


Gambar 3.24 Rangkaian ekivalen Norton




3.8.2 T

1. Tent
Supe


2. Tent

3. Tent
untuk
Tugas / La
ukanlah ar
erposisi
ukanlah aru
ukanlah te
k rangkaian
atihan
rus i yang
us I seperti
gangan pa
n pada Gam
tampak p
Ga
pada Gam
Ga
ada titik a-b
mbar 3.27.
pada Gamb
ambar 3.25
mbar 3.26 de
ambar 3.26

b dengan
bar 3.25de
engan men
mengguna
ngan men

nggunakan

kan transfo
ggunakan
teori Norto
ormasi sum
lxv
teori
n.
mber,
lxvi

Gambar 3.27

4. Tentukanlah arus yang mengalir pada tahanan 4 ohm dengan cara Thevenin,
Gambar 3.28.

Gambar 3.28

3.9 Bahan Bacaan

1. Mohammad Ramdhani, 2002, RANGKAIAN LISTRIK penerbit Erlangga
2. Ramli Cambari Saka MSc; Diktat Rangkaian Listrik
3. Robert L. Boylestad, 2003, Introductory Circuit Analysis, Tenth edition, Prentice Hall
Pearson Education International.
lxvii

4. Thomas L.Floyd, 2003, Principles of Electric Circuits-Electron Flow Version, Sixth


Edition, Prentice Hall Electronics Supersite.
5. William H.Hayt,JR; Jack E.Kemmerly; Steven M.Durbin, Rangkaian Listrik Jilid 1,
Edisi Keenam, Penerbit Erlangga; 2005.
BAB 4

PERSAMAAN DIFERENSIAL DAN


TRANSFORMASI LAPLACE DALAM PERSOALAN
TRANSIEN

Sasaran pembelajaran, setelah membaca bab ini
mahasiswa diharapkan mampu untuk :Menghitung
respons/tanggapan total dari sebuah rangkaian RL,
RC, RLC dengan menggunakan metode klasik
(diferensial) dan metode transformasi Laplace.





lxviii







BAB 4

PERSAMAAN DIFERENSIAL DAN TRANSFORMASI LAPLACE


DALAM PERSOALAN TRANSIEN

4.1 Kapasitor dalam Rangkaian DC



Sebuah kapasitor akan termuati bila terhubung ke sumber tegangan dc seperti yang
diperlihatkan pada Gambar 4.1. Pada Gambar 4.1(a), kapasitor tidak bermuatan yaitu plat A
dan plat B mempunyai jumlah elektron bebas yang sama. Ketika saklar tertutup sebagaimana
diperlihatkan pada Gambar 4.1(b), sumber tegangan menggerakkan elektron dari plat A melalui
rangkaian ke plat B yang ditunjukkan olek anak panah. Plat A kehilangan elektron dan plat B
elektronnya bertambah sehingga plat A menjadi lebih positif dari plat B. Proses ini berlangsung
terus hingga tegangan pada kapasitor sama dengan tegangan sumber tetapi polaritasnya
berlawanan arah seperti pada Gambar 4.1(c), dan ketika kapasitor muatannya penuh tidak ada
arus yang mengalir (I=0). Bila kapasitor dilepas dari sumber [Gambar4.1(d)] kapasitor tetap
bermuatan untuk waktu yang lama.

A B
A B A B A B
lxix

+ - + -
V
s
V
s



V
s
V
s
V
s
V
s
(a) (b) (c) (d)


Gambar 4.1 Proses pemuatan kapasitor




4.2 Rangkaian RL Tanpa Sumber

Analisis rangkaian yang memuat induktor dan/atau kapasitor sangat bergantung pada
perumusan dan pemecahan persamaan-persamaan (karakteristik) integral-diferensial yang
menjabarkan rangkaian yang bersangkutan. Kita akan menyebut tipe persamaan yang kita
jumpai dalam bab ini sebagai persamaan diferensial linier homogen; yaitu sebagai persamaan
diferensial yang hanya mengandung satu variabel terikat, dan/atau turunan dari derajat
pertama. Solusi bagi persamaan semacam ini adalah sebuah nilai variabel terikat yang
memenuhi baik persamaan diferensial yang terkait maupun kondisi energi di induktor dan
kapasitor.

Solusi persamaan diferensial ini merepresentasikan tanggapan yang diberikan oleh
rangkaian dan memiliki banyak nama. Karena bergantung pada sifat umum dari rangkaian yang
bersangkutan maka tanggapan ini sering disebut sebagai tanggapan alamiah (natural
response). Akan tetapi rangkaian apapun yang kita buat di dunia nyata tidak dapat menyimpan
energi untuk selamanya; tahanan yang secara internal terdapat di dalam induktor dan kapasitor
lxx

pada akhirnya akan mengubah semua energi yang tersimpan menjadi panas. Sehingga
tanggapan rangkaian pada akhirnya akan hilang, dan untuk itu tanggapan rangkaian dikenal
juga dengan sebutan tanggapan transien. Terakhir kita perlu juga mengetahui nama yang
diberikan para ahli matematika bagi solusi untuk sebuah persamaan diferensial linier homogen;
mereka menyebutnya sebagai fungsi komplementer.

Bila kini kita pertimbangkan pula pengaruh sumber bebas yang tersambung ke
rangkaian, maka kita akan melihat bahwa sebagian dari tanggapan tersebut membawa warna
sumber (fungsi paksaan) yang bersangkutan; bagian tanggapan ini disebut solusi khusus
tanggapan tunak atau tanggapan paksaan (forced response), kemudian akan berbaur dengan
tanggapan rangkaian tanpa sumber (tanggapan alamiah atau tanggapan transien). Dengan
demikian tanggapan total rangkaian adalah jumlah dari tanggapan alamiah (tanggapan
transien) dan tanggapan paksa, atau dalam bahasa matematiknya : jumlah dari fungsi
komplementer ditambah solusi khusus untuk fungsi paksaan. Kita dapat menyebut tanggapan
rangkaian ketika tersambung ke sumber listrik (tanpa fungsi paksaan) sebagai tanggapan
alamiah, tanggapan transien, tanggapan bebas sumber, atau fungsi komplementer; namun
karena sifatnya yang lebih menggambarkan karakteristik umum rangkaian maka sebutan
tanggapan alamiah lebih sering dipakai.

Kita akan mempelajari beraneka ragam metode penyelesaian sistem persamaan
diferensial untuk tanggapan total rangkaian. Kita memulai studi analisis transien dengan
memperhatikan rangkaian seri RL sederhana dalam Gambar 4.2. Bila kita menamakan arus
fungsi waktu sebagai i(t); kita akan merepresentasikan nilai i(t) pada saat t=0 sebagai I
0
;
dengan kata lain i(0) = I
0
, dengan demikian kita mendapatkan,

Ri + v
L
= Ri +
dt
di
L = 0
0 i
L
R
dt
di
= + ..[4.1]
lxxi


Gambar 4.2 Rangkaian RL seri

Tujuan kita adalah mencari sebuah pemecahan umum untuk i(t) yang memenuhi persamaan
[4.1] dan memiliki nilai I
0
pada t=0.
Cara paling sederhana untuk memecahkan sebuah persamaan diferensial adalah
dengan menuliskan persamaan yang bersangkutan sedemikian rupa, sehingga variabel-
variabelnya dapat dikumpulkan secara terpisah, kemudian mengintegralkan kedua sisi
persamaan. Variabel-variabel dalam persamaan (1) adalah i dan t dan dengan mudah kita
dapat melihat bahwa kedua sisi persamaan dapat dikalikan denga dt, dibagi dengan i lalu
disusun kembali untuk memisahkan kedua variabel tersebut.

t/L R
0 0
i(t)
t0
t
0
e I i(t) t
L
R
I ln i ln
dt
L
R
i
di
dt
L
R
i
di

= =
= =

..[4.2]

Kita dapat memeriksa validitas solusi ini dengam memperlihatkan bahwa substitusi persamaan
[4.2] ke dalam persamaan [4.1] akan menghasilkan 0=0 dan kemudian memperlihatkan bahwa
substitusi t=0 ke dalam persamaan [4.2] akan menghasilkan i(0) = I
0
. Kedua tahapan validasi ini
wajib dilakukan karena pemecahan i(t) yang kita dapatkan harus memenuhi persamaan
diferensial karakteristik rangkaian maupun kondisi awal rangkaian.

4.3 Karakteristik Tanggapan Eksponensial

lxxii

Sekarang marilah kita tinjau mengenai karakteristik tanggapan eksponensial yang


dihasilkan sebuah rangkaian RL seri. Kita telah mengetahui bahwa arus induktor secara umum
memiliki bentuk matematika :
t/L R
0
e I i(t)

=

Pada saat t=0, arus ini akan memiliki nilai I
0
. Namun seiring dengan berjalannya
waktu, arus akan terus berkurang nilainya hingga mendekati nol. Bentuk kurva yang
merepresentasikan fungsi peluruhan eksponensial ini dapat dilihat pada Gambar 4.3, yang
merupakan plot antara i(t)/I
0
terhapat t. Karena fungsi yang digambarkan oleh plot ini pada
dasarnya adalah e
-Rt/L
kurva tesebut tidak akan berubah jika nilai rasio R/L tidak berubah.
Sehingga kurva dengan bentuk yang sama akan selalu didapatkan untuk setiap rangkaian RL
seri yang memiliki rasio R/L atau L/R yang sama.
i/I
0


1






0 t

Gambar 4.3 Plot untuk e
-Rt/L
terhadap t


Laju perubahan awal nilai arus dapat ditentukan dengan mengambil turunan i/I
0
pada
titik awal nol.

lxxiii

L
R
e
L
R
I
i

dt
d
0 t
L / Rt
0 t
0
= =
=

=


Kita melambangkan waktu yang dibutuhkan oleh besaran i/I
0
untuk meluruh nilainya
dari satu hingga nol mengasumsikan laju peluruhan yang tetap dengan huruf Yunani (tau),
sehingga :

R
L
1
L
R
= =

.[4.3]

Rasio L/R memiliki satuan detik, karena eksponen Rt/L harus merupakan sebuah
besaran tanpa dimensi.Nilai waktu disebut sebagai konstanta waktu.


4.4 Rangkaian RC Tanpa Sumber

Rangkaian-rangkaian yang berbasiskan kombinasi resistor dan kapasitor lebih umum
dijumpai dalam berbagai aplikasi praktis, ketimbang resistor dan induktor. Terdapat berbagai
alasan untuk hal ini, diantaranya adalah rugi-rugi daya yang lebih kecil pada kapasitor, biaya
yang lebih murah, kesesuaian yang lebih baik antara model matematika teoritis dengan
karakteristik aktual rangkaian, dan terutama ukuran fisik yang lebih kecil dan ringan dimana
kedua hal ini sangat penting bagi aplikasi rangkaian terpadu (IC).

Marilah kita menganalisis rangkaian paralel RC yang diperlihatkan pada Gambar 4.4.
Kita mengasumsikan bahwa kapasitor telah menyimpan energi di awalnya, dengan menetapkan
kondisi awal v(0) = V
0
.
lxxiv

Arus total yang meninggalkan simpul di bagian atas rangkaian harus berjumlah nol, sehingga
kita dapat menuliskan :


Gambar 4.4 Rangkaian RC paralel

0 0
dt
dv
C = + = +
RC
v
dt
dv
R
v
..[4.4]

dengan tanggapan rangkaian RL yang telah kita ketahui, maka untuk rangkaian RC diperoleh,

RC / t
0
t/RC
e v e v(0) v(t)

= =
[4.5]
Bila kita memilih arus i sebagai variabel yang dicari untuk rangkaian RC, kita terapkan hukum
tegangan Kirchhoff,

0 Ri ) v(t t d i
C
1
0
t
t0
= + +

...[4.6]

kita mendapatkan sebuah persamaan integral, akan tetapi bila kita turunkan terhadap waktu
dan menggantikan i dengan v/R maka akan diperoleh persamaan seperti pada persamaan [4.4].
Sekarang marilah kita membahas karakteristik dari tanggapan tegangan yang dihasilkan
oleh sebuah rangkaian RC, sebagaimana diperlihatkan bentuk matematiknya oleh persamaan
lxxv

[4.5]. Pada t=0 rangkaian berada dalam kondisi awalnya [ v(o) = v


0
], dan seiring dengan
bertambahnya t menuju tak terhingga, tegangan v(t) terus meluruh mendekati nol. Hal ini sesuai
dengan jalan pemikiran kita bahwa selama masih terdapat tegangan pada kapasitor, energi
akan terus mengalir ke resistor dan terdisipasi menjadi panas. Sehingga tegangan akhir pada
kapasitor harus bernilai nol. Konstanta waktu untuk rangkaian RC dapat ditentukan melalui
hubungan dualitas dengan konstanta waktu rangkaian RL,

RC 1
RC

= =
[4.7]

Semakin besar nilai R atau C, semakin besar pulalah konstanta waktu semakin lama
waktu yang dibutuhkan untuk mendisipasikan seluruh energi yang tersimpan.Nilai tahanan yang
besar menjadikan lebih sedikit energinya yang terdisipasi untuk nilai tegangan yang tetap dan
akibatnya dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengubah semua energi menjadi panas;
nilai kapasitansi yang lebih besar menjadikan lebih banyak energi yang tersimpan untuk nilai
tegangan yang tetap akibatnya dibutuhkan waktu lebih lama untuk menghabiskan energi awal
ini.

4.5 Rangkaian RL dengan Sumber

Setelah sejauh ini membahas rangkaian RL dan fungsi paksa, kini kita siap
menganalisis apa yang terjadi bila kita menyambungkan secara mendadak (dalam waktu nol)
sebuah sumber dc ke sebuah rangkaian sederhana. Rangkaian terdiri sebuah baterai dengan
nilai tegangan v
0
yang disambungkan seri ke sebuah saklar, sebuah resistor, dan sebuah
induktor. Saklar menutup pada t=0, sebagaimana diperlihatkan pada diagram rangkaian
Gambar4.5. Cukup jelas kiranya bahwa arus i(t) bernilai nol pada interval waktu sebelum t=0.
lxxvi



Gambar 4.5 Rangkaian RL dengan sumber

Kita dapat menentukan i(t) dengan cara menuliskan persamaan rangkaian yang
sesuai dan kemudian memecahkan persamaan ini dengan memisahkan variabel-variabel dan
melakukan integrasi. Setelah kita mendapatkan solusi persamaan dan menganalisisnya kita
akan melihat bahwa solusi ini terdiri dari dua bagian yang masing-masingnya merefleksikan
suatu karakteristik fisik tertentu dari rangkaian. Dengan pemahaman yang lebih intuitif
mengenai apa yang menghasilkan tiap-tiap bagian tanggapan ini, kita akan mampu menyusun
sebuah solusi secara lebih cepat dan ringkas untuk berbagai soal yang serupa. Menerapkan
hukum tegangan Kirchhoff pada rangkaian dalam Gambar 4.5, kita dapatkan :

k t Ri) (V ln
R
L
dt
Ri V
Ldi
V
dt
di
L Ri
0
0
0
+ = =

= +


Untuk dapat menentukan nilai k, maka suatu kondisi awal harus diketahui. Pada interval
sebelum t=0, i(t) bernilai nol dan karena itu i(0
-
) = 0. Karena arus di dalam sebuah induktor tidak
dapat berubah nilainya seketika (dalam waktu nol) tanpa adanya tegangan yang tak terhingga,
maka kita dapat mengetahui bahwa i(0
+
) = 0. Dengan menetapkan bahwa i=0 pada titik waktu
t=0 kita akan memperoleh


lxxvii


/L Rt 0 0 L / Rt
0
0
0 0 0
e
R
V
R
V
i e
V
Ri V
t ] V ln Ri) (V [ln
R
L
- k V ln
R
L

= =

= =
...[4.8]
4.6Tanggapan Alamiah dan Paksa

Dari sudut pandang matematis, pemilihan tanggapan total rangkaian menjadi dua
bagian alamiah dan paksa akan sangat membantu kita dalam melakukan analisis. Alasannya,
pemecahan untuk setiap persamaan diferensial linier selalu dapat dinyatakan sebagai
penjumlahan dua buah solusi: solusi komplementer (tanggapan alamiah) dan solusi partikulir
(tanggapan paksa). Bentuk umum persamaan diferensial :


Q Pi
dt
di
= +
....[4.9]

4.6.1 Tanggapan Alamiah

Pertama-tama perhatikan bahwa untuk sebuah rangkaian tanpa sumber, Q harus
memiliki nilai nol, dan karenanya solusi bagi persamaan [4.9] adalah murni tanggapan alamiah.

Pt
n
e A i

=
[4.10]

Kita akan mendapatkan bahwa konstanta P tidak pernah bernilai negatif untuk setiap rangkaian
yang hanya terdiri resistor, induktor dan kapasitor, nilainya bergantung hanya pada elemen-
elemen pasif ini dan hubungannya di dalam rangkaian. Dengan demikian tanggapan alamiah
akan bergerak mendekati nol seiring dengan berjalannya waktu menuju tak berhingga. Hal ini
lxxviii

dijumpai pada rangkaian-rangkaian RL sederhana, karena energi awal yang tersimpan secara
berangsur-angsur akan terdisipasi di resistor meninggalkan rangkaian dalam bentuk panas.

4.6.2 Tanggapan Paksa

Untuk setiap rangkaian yang tanggapan alamiahnya akan meluruh hilang seiring
dengan t yang mendekati tak berhingga, maka harus ada suku yang sepenuhnya
merepresentasikan tanggapan rangkaian setelah bagian tanggapan alamiah menghilang. Hal ini
biasanya disebut tanggapan paksa atau tanggapan keadaan-tunak, solusi partikulir. Tanggapan
paksa diperoleh dari :

P
Q
i
f
=
....[4.11]

4.6.3 Menentukan Tanggapan Total

Marilah kita pelajari bagaimana caranya menentukan tanggapan total rangkaian
dengan menjumlahkan tanggapan alamiah dan tanggapan paksanya, menggunakan sebuah
rangkaian RL sederhana untuk mengilustrasikan metode ini. Rangkaian tersebut diperlihatkan
pada Gambar 5.Dengan saklar tertutup dan telah dianalisis sebelumnya. Tanggapan yang
diinginkan adalah arus i(t), dan pertama-tama kita menyatakan arus ini sebagai jumlah dari arus
alamiah ditambah arus paksa,

(t) i (t) i i(t)
f n
+ =
....[4.12]

Bentuk fungsi tanggapan alamiah telah diperoleh sebelumnya :
Rt/L
n
e A i

= dimana
amplitudo A masih harus ditentukan nilainya; karena kondisi awal hanya berlaku bagi
lxxix

tanggapan total rangkaian maka kita tidak dapat secara langsung mengasumsikan bahwa
A=i(0). Selanjutnya kita beralih ke tanggapan paksa, tanggapan paksa bernilai konstan karena
sumber yang menghasilkannya juga bernilai konstan V
0
untuk sepanjang waktu. Karena setelah
tanggapan alamiah hilang seluruhnya tidak terdapat tegangan apapun pada induktor, tegangan
V
0
akan muncul di R dan menjadikan tanggapan paksa rangkaian
R
V
i
0
f
= Perhatikan
bahwa tanggapan paksa dapat ditentukan sepenuhnya; tidak terdapat nilai amplituda yang
belum diketahui. Berikutnya kita menggabungkan kedua komponen tanggapan alamiah dan
paksa,

R
V
e A i(t)
0 Rt/L
+ =



dan menerapkan kondisi awal untuk menentukan nilai A. Tanggapan arus adalah nol sebelum
t=0, dan nilai ini tidak dapat berubah dalam sekejap karena merupakan arus yang mengalir
melewati induktor. Sehingga arus ini masih akan bernilai nol sesaat setelah t=0, hal ini
memberikan kita :

0 = A + V
0
/R sehingga ) e 1 (
R
V
e
R
V
i(t)
Rt/L 0 0 Rt/L 0
= + =
R
V
...[4.13]







4.7 Rangkaian RLC Tanpa Sumber

lxxx

Pembahasan kita sebelumnya berfokus pada rangkaian resistif yang disertai dengan
kapasitor atau induktor, namun tidak sekaligus kedua-duanya. Keberadaan induktansi dan
kapasitansi secara bersamaan di dalam sebuah rangkaian akan menghasilkan sebuah sistem
persamaan diferensial derajat dua. Sistem dari persamaan derajat yang lebih tinggi ini
mempersyaratkan diketahuinya dua buah konstanta untuk menentukan solusinya.



Gambar 4.6 Rangkaian RLC tanpa sumber

Gambar 4.6 memperlihatkan sebuah rangkaian RLC seri dimana persamaan integral-
diferensial karakteristik untuk rangkaian tersebut adalah :
0 ) (t v dt i
C
1
Ri
dt
di
L
0 C
t
t
0
= + +

...[4.14]
Persamaan diferensial derajat dua diperoleh dengan mendiferensialkan persamaan tersebut
terhadap waktu diperoleh
0 i
C
1
dt
di
R
dt
i d
L
2
2
= + + .[4.15]
Bila kita asumsi solusi
st
e A i = dengan mengambil bentuk paling umum, dimana A dan s
dapat memiliki nilai kompleks kemudian disubstitusi ke persamaan (14) menghasilkan,

0 ]
C
1
s R L s [ e A
0 e A
C
1
e s A R e s A L
2 st
st st st 2
= + +
= + +
[4.16]
lxxxi

Agar persamaan ini terpenuhi untuk semua nilai waktu, setidaknya salah satu dari ketiga faktor
di atas bernilai nol. Oleh karenanya kita akan menjadikan faktor yang ketiga bernilai nol yaitu :

0
C
1
s R L s
2
= + + .......[4.17]

Persamaan [4.17] dikenal sebagai persamaan karakteristik. Karena persamaan
[4.17] adalah sebuah persamaan kuadrat maka persamaan tersebut memiliki dua buah
pemecahan yang diidentifikasikan sebagai s
1
dan s
2
.

4.7.1 Tanggapan Rangkaian RLC Seri

Merujuk ke rangkaian pada Gambar 4.6, bentuk umum tanggapan teredam lebih
(overdamped) untuk rangkaian seri adalah

t s
2
t s
1
2 1
e A e A +
[4.18]
dimana
0
2 2
2
1,2

LC
1
L 2
R
2L
R
s =

=
dan karena itu


LC
1

2L
R

0
= =

Bentuk umum tanggapan teredam kritis adalah
lxxxii


) A t (A e i(t)
2 1
t
+ =

.[4.19]

dan tanggapan kurang teredam dapat dituliskan bentuk umumnya sebagai

) t sin B t cos (B e i(t)
d 2 d 1
t -
+ = ..[4.20]
dimana
2
0
2
d
=

4.7.2 Tanggapan Total Rangkaian RLC

Kini saatnya kita beralih ke rangkaian RLC yang melibatkan sumbersumber dc yang
menghasilkan tanggapan paksa rangkaian, dimana tanggapan ini tidak akan meluruh habis
dengan berjalannya waktu. Solusi umum untuk rangkaian semacam ini dapat diperoleh dengan
mengikuti prosedur yang sama untuk rangkaian RL; tanggapan paksa ditentukan terlebih
dahulu; tanggapan alamiah diperoleh sebagai sebuah fungsi eksponensial negatif yang
mengandung konstanta-konstanta yang belum diketahui. Tanggapan total dituliskan sebagai
jumlah dari tanggapan paksa dan tanggapan alamiah dan kondisi-kondisi awal kemudain dicari
dan diterapkan untuk mendapatkan nilai-nilai konstanta.

Tanggapan total (dalam hal ini diasumsikan berupa tanggapan tegangan) dari sebuah
sistem derajat dua terdiri dari sebuah komponen tanggapan paksa: v
f
(t) = V
f
yang bernilai
konstan untuk sumber dc dan sebuah komponen tanggapan alamiah, v
n
(t) = Ae
s1t
+ Be
s2t

sehingga,

v(t) = V
f
+ Ae
s1t
+ Be
s2t
.....................................................[4.21]
lxxxiii


kita mengasumsikan bahwa s
1
,s
2
,V
f
dapat diketahui secara langsung dari rangkaian dan
fungsi paksa yang diterapkan; A dan B masih harus dicari. Persamaan (21) memperlihatkan
salingketergantungan A, B, v dan t di dalam fungsi matematika tersebut, dan karenanya
substitusi nilai yang diketahui untuk v pada t=0
+
akan memberikan kita sebuah persamaan
tunggal yang menghubungkan A dan B, yaitu v(0
+
) = V
f
+ A + B.

Kita masih memerlukan satu persamaan lagi yang menghubungkan A dan B dan
biasanya persamaan ini diperoleh dengan mengambil turunan dari fungsi tanggapan,

dv/dt = 0 + s
1
Ae
s1t
+ s
2
Be
s2t


dan memasukkan nilai yang diketahui untuk dv/dt pada t=0
+
. Dengan demikian kita akan
memiliki dua buah persamaan yang menghubungkan A dan B dan keduanyan dapat
dipecahkan secara bersamaan untuk mendapatkan nilai-nilai konstanta tersebut.

4.8 Penggunaan Jelmaan Laplace dalam Analisis Transien

Dalam pembahasan yang telah lalu terlihat bahwa penyelesaian lengkap persoalan
rangkaian listrik yang mengandung elemen-elemen pasif R, L dan C biasanya melibatkan
penyelesaian persamaan diferensial linier tak homogen. Jawab terdiri atas dua bagian, yaitu
jawab natural dan jawab paksa. Jawab natural itu pada umumnya akan segera lenyap dan yang
tertinggal akhirnya adalah jawab paksa yang menjadi jawab mantap. Bila hanya jawab mantap
yang dikehendaki,maka penggunaan persamaan diferensial dapat dihindari, antara lain dengan
mneggunakan jelmaan fungsi waktu ke fungsi frekuensi. Pada penyelesaian persoalan arus
bolak-balik mantap, frekuensi dianggap tetap sehingga fungsi-fungsi frekuensi yang dihadapi
diperlakukan sebagai konstanta. Dengan demikian penyelesaian yang diperoleh meskipun
benar hanya untuk satu frekuensi tertentu, cukup mudah mendapatkannya. Selanjutnya untuk
lxxxiv

mendapatkan jawab mantap sebagai fungsi waktu (nilai sesaat) masih perlu dilakukan jelmaan
balik fungsi frekuensi tersebut ke fungsi waktu. Dalam penyelesaian seperti ini, persoalan
dinyatakan sebagai fungsi waktu, atau dalam domain waktu, fungsi ini kemudian dijelmakan ke
fungsi frekuensi yaitu kita pindah dari domain waktu ke domain frekuensi. Penyelesaian
selanjutnya dilakukan dalam domain frekuensi. Jawab ini selanjutnya dapat dijelmabalikkan ke
domain waktu.

4.8.1 Prinsip Penggunaan Jelmaan Laplace

Jelmaan Laplace F(s) dari suatu fungsi waktu f(t) adalah hasil pengoperasian :
0 ) ( ) (
0
=

t untuk dt e t f s F
st
..........................[4.22]

Pengoperasian ini biasa juga dinyatakan dengan notasi F(s) = {f(t)}. Menghitung
integral [4.22] untuk fungsi-fungsi sederhana pada umumnya tidak sulit, tetapi lebih disukai
menyiapkan daftar jelmaan yang telah dihitung menggunakan daftar ini untuk pemakaian
selanjutnya. Jelmaan balik F(s) ke f(t), yaitu
-1
{F(s)} adalah :

+

= =
j c
j c
st
ds e s F
j
s F L t f ) (
2
1
)} ( { ) (

.............................[4.23]

Dalam menggunakan jelmaan Laplace untuk penyelesaian persoalan rangkaian, integral
kompleks atau integral kontur [4.23] pada umumnya tidak dipakai untuk mencari balikan suatu
F(s): yang dilakukan ialah memanfaatkan tabel jelmaan Laplace yang telah disiapkan. Tabel
Jelmaan (jelmaan balik) beberapa fungsi yang lazim dijumpai dalam persoalan rangkaian listrik
disertakan sebagai Tabel 4.1.

lxxxv

Seperti telah diutarakan di atas, persoalan rangkaian biasanya dinyatakan dalam


domain waktu dan jawabnya juga pada umumnya dikehendaki dinyatakan sebagai fungsi
waktu, yaitu dalam domain waktu t. Untuk menghindari penggunaan persamaan diferensial,
analisis dilakukan dalam domain frekuensi kompleks s. Frekuensi kompleks s adalah variabel
kompleks yang bagian realnya dinyatakan sebagai dan bagian imajinernya sebagai , jadi
s = + j .

Persoalan rangkaian yang dalam domain waktu berbentuk persamaan diferensial, dalam
domain frekuensi kompleks s menjadi persamaan aljabar linier, sehingga penyelesaiannya lebih
mudah. Yang sulit adalah jelmaan balik hasil atau jawab yang diperoleh itu ke dalam domain
waktu. Dengan pengalaman dan dengan upaya-upaya penguraian jawab itu ke dalam fungsi-
fungsi s yang telah dikenal maka jawab dalam domain waktu pada umumnya dapat diperoleh.
Hendaknya selalu diusahakan menggunakan huruf kapital untuk menyatakan fungsi-fungsi
frekuensi s, dan huruf kecil untuk menyatakan fungsi-fungsi waktu t. Jadi {f(t)}= F(s), {g(t)}=
G(s), {h(t)} = H(s), {v(t)} = V(s), dan {i(t)} = I(s).

4.8.2 Upaya Memanfaatkan Tabel Jelmaan Laplace

Bilangan fungsi yang terdapat dalam Tabel Jelmaan seperti Tabel 4.1, sangat terbatas
yaitu hanya pada fungsi-fungsi yang sangat lazim dijumpai dan dalam bentuk umum saja. Untuk
memaksimalkan dan mengefektifkan pemanfaatan tabel itu diperlukan upaya-upaya supaya
bentuk fungsi yang dijumpai dalam analisis yang sebenarnya dapat disesuaikan dengan bentuk
yang terdapat dalam tabel. Upaya yang diperlukan adalah menguraikan suatu fungsi yang tidak
terdapat dalam tabel ke dalam komponen-komponen yang lebih sederhana dan yang bentuk
umumnya terdapat dalam tabel.
4.8.2.1 Mengurai Dan Memanipulasi Fungsi S

Fungsi-fungsi s yang lazim dijumpai berbentuk pembagina dua polinomial dalam s, atau
pecahan dalam fungsi s, seperti :

lxxxvi

F(s)=
N(s)
K(s)
...................................................................................................[4.24]
Tabel 4.1 Jelmaan Laplace

f(t) F(S)
u(t) 1/S

T 1/S2

c
-ut

1
(S +o)


sin t

(S
2
+
2
)


cos t
S
(S
2
+
2
)


c
-ut
sin t

(S + o)
2
+
2


c
-ut
cos t
S +o
(S + o)
2
+
2


di/dt S I(S) i(0
+
)

_i(t)Jt
I(S)
S


J
2
i
Jt
2

S
2
I(S) S i(0
+
) i(0)

Nilai s yang menjadikan N(s) = 0 disebut nol (zero), dan nilai s yang menjadikan K(s) = 0
disebut kutub (pole). Seperti terlihat pada Tabel 1 nol dan kutub itu sangat menentukan sifat
jelmaan balik F(s) yaitu f(t). Tabel 1 menyajikan F(s) berupa pecahan sederhana dengan kutub
di titik asal, atau di sumbu real, atau pasangan kutub di sumbu imajiner, atau pasangan kutub
kompleks. Kalau F(s) yang dijumpai dapat diuraikan dalam komponen-komponen seperti F(s)
yang terdapat dalam Tabel 4.1, maka akan dapatlah dengan mudah dituliskan fungsi balikannya
f(t). Misalnya bila :
F(s) =
N(s)
(S-k
1
)(S-k
2
)(S-k
3
)
...............................................................................[4.25]
lxxxvii


Dapat diuraikan ke dalam bentuk :

F(s) =
A
(S-k
1
)
+
B
(S-k
2
)
+
C
(S-k
3
)
......................................................................[4.26]

Maka dari Tabel 4.1 diperoleh :

(t) = Ac
k1t
+Bc
k2t
+Cc
k3t
.....................................................................[4.27]

Contoh 4.1 :

Uraikanlah fungsi-fungsi s berikut ini dan carilah f(t) jelmaan baliknya.

F(s) =
2S + 41
S
2
+ 1SS + Su


Kadang-kadang penyesuaian bentuk fungsi s yang dijumpai itu dengan bentuk F(s) dalam tabel
dapat dilakukan dengan sedikit manipulasi atau pengolahan bentuk, seperti Contoh 4.2

Contoh 4.2 :

a. F(s) =
3S
S
2
+6S+13
b. F(s) =
1.2(S+1000)
S
2
+1000S+1.25x10
6


Koefisien A, B, C,.... uraian F(s) pada contoh-contoh di atas disebut residu F(s). Selanjutnya
akan dibicarakan beberapa cara khusus yang lebih mudah dan dapat langsung mendapatkan
residu F(s).

lxxxviii

4.8.2.2 F(s) pecahan murni berkutub sederhana



Bila pangkat s dari penyebut K(s) lebih tinggi daripada pangkat s pembilang N(s) dari
F(s) = N(s)/K(s), yaitu kutub lebih banyak dari nol, maka F(s) adalah pecahan murni.
Selanjutnya bila kutub-kutub F(s) semuanya kutub sederhana (tidak berlipat), maka F(s) dapat
dituliskan dalam bentul :

F(s) =
N(s)
K(s)
=
N(s)
(s - k
1
)(s - k
2
) -(s -k
n
)


F(s) =
A
1
s-k
1
+
A
2
s-k
2
+ +
A
n
s-k
n
.....................................................................[4.28]

Maka L
-1
{F(s)} = f(t) = A
1
e
k1t
+ A
2
e
k2t
+ ... + A
n
e
knt


Residu atau koefisien pecahan bagian itu diperoleh sebagai berikut :

A
1
= (s - k
1
)F(s)
s-k
1
Im
........ dst ...................................................................[4.29]

Contoh 4.3 :

Carilah jelmaan balik fungsi-fungsi s berikut ini, dengan jalan mencari residu

F(s) =
6s + 2
(s + 1)(s +S)


Contoh 4.4

lxxxix

Carilah jelmaan balik fungsi-fungsi s berikut ini, dengan jalan mencari residu
F(s) =
1.2(s + 1u
3
)
s
2
+ 1u
3
s +1.2Sx1u
6


Catatan, untuk soal no.4 lebih mudah diselesaikan dengan jalan manipulasi F(s) .

4.8.2.3 Pecahan Murni Berkutub Lipat

Bila ada faktor penyebut dari F(s) yang berpangkat dua atau lebih, maka kutub yang
bersangkutan berlipat dua (kutub ganda) maka cara mendapatkan residu berkenaan dengan
kutub tersebut adalah sebagai berikut, biarkanlah diberi fungsi :
F(s) =
N(s)
(s-k)
m
............................................................................................[4.30]

F(s) dapat dituliskan sebagai :

F(s) =
K
m
(s-k)
m
+
K
(m-1)
(s-k)
m-1
+
K
(m-2)
(s-k)
m-2
+ ......................................................[4.31]

K
m
, K
(m-1)
, K
(m-2)
,... adalah residu yang berkenaan dengan kutub k yang berlipat m kali, diperoleh
sebagai berikut :
K
m
= (s - k)
m
F(s)
s-k
Im


K
(m-1)
=
J
Js
(s -k)
m
F(s)
s-k
Im


xc

K
(m-1)
= -
1
2
d
2
ds
2 s-k
Im
(s - k)
m
F(s) .................................................................[4.32]

dst



Contoh 4.5 :
Carilah jelmaan balik fungsi-fungsi s berikut ini, dengan jalan mencari residu
F(s) =
s - 4
s(s + 2)
2


4.8.3 Impedansi

Gambar 4.7 Rangkaian seri R, L dan C

Z(s) Z
R
= R Z
L
= SL Z
C
= 1/SC

Rangkaian seri R, L dan C seperti yang tampak pada Gambar 1., gunakan Hukum Kirchhoff
tentang tegangan pada suatu lintasan tertutup.

xci

V
R
+ V
L
+ V
C
= V(t)
Ri(t) + I
Ji
Jt
+I
C
(u) +
1
C
_ i Jt = :(t)
t
0


R I(s) + I |SI(s) -i(u
+
)] +
Ic(u)
s
+
I(s)
C
= I(s)

_R + SI +
1
SC
_ I(s) = I(s) -
Ic(u)
s
+ Ii(u
+
)

I(s) =
v(s)-
vc(0)
s
+L(0
+
)
R+SL+1SC
=
L(s)
z(s)
..[4.33]
dimana :
Z(s) = R+SL+1/SC = impedansi rangkaian seri R, L dan C
V(s) = sumber energi yang mampu mengalirkan arus i(t) = sumber tegangan
Li(0
+
) = sumber energi yang tersimpan pada induktor ( L )
Vc(0) = sumber energi yang tersimpan pada kapasitor ( C )

4.9 Contoh Soal dan Tugas Kelompok
4.9.1 Contoh Soal
Contoh 1
Saklar telah lama tertutup, tiba-tiba dibuka pada saat t=0, carilah arus sesaat yang mengalir
setelah saklar terbuka? Lihat Gambar 4.8

xcii

Gambar 4.8

t< 0 ; sk ditutup

I =
v
R
=
54
108
= u,S A
i(t) = 0,5 A







V
AC
= 54 i(t) + 54
= 54 (- 0,5) + 54
= 27 volt

xciii

V
AB
=54(0,5)=27volt=V
C
(0

t> 0 ; sk dibuka

Z V = 0
V
R
+ V
C
= 0
108 i(t) - V
C
(0
-
) +
1
2
] i(t)Jt = u
t
0


1
08 I(t) 27 + ] i(t)Jt = u
t
0

108
d(t)
dt
+
1
-108
i(t). Jt = u

PDLH0RDE1

Ji(t)
Jt
+
1
-1u8
i(t). Jt = u
xciv

i(t) = In(t)
In(t) = Ie
st
Ji(t)
Jt
+
1
1u8
i(t). Jt = u
_
J
Jt
+
1
1u8
] i(t) = u
S +
1
108
= u S = -
1
108
= -9. 2.1u
-3
I
n
(t) = I
e
-9. 2.1u
-3
t
u/ t = (0
+
)
I
0-
= I
0(+)
. I = 0,5 A
0,5 = I
e
-9. 2.1u
-3
(0)
0,5 = I
e
0
I = 0,5
Sehingga
i(t) = i
n
(t)
i(t) = u,S c
-9,2 .10
-3
t Ampere
Contoh 4.2
Dari rangkaian pada Gambar 4.9 di bawah ini :






xcv

Gambar 4.9
Carilah harga-harga : i(0+) ;
d
dt
(u
+
) dan
d
2

dt
2
(u
+
)bila saklar ditutup pada saat t = 0.
Jawab :
Karena sifat L yang tidak bisa berubah dengan seketika, maka rangkaian ekivalendari
rangkaian di atas saat saklar ditutup adalah :





maka terlihat bahwa i(0+) = 0.

Adapun persamaan tegangan pada rangkaian setelah penutupan saklar adalah :
I
d
dt
+ R. i = I (a)
Pada saat saklar ditutup arus yang mengalir pada rangkaian adalah nol dan karenasifat dari L
yang tidak bisa berubah dengan seketika, maka saat setelah penutupan saklar(t = 0
+
), dengan
demikian persamaan (a) menjadi :
I
d
dt
(u
+
) + R. i (u
+
) = I atauI
d
dt
(u
+
) + R. u = I
atau:

d
dt
(u
+
) =
v
L
=
10
1
= 1u
Amp
dct

untuk mendapatkan
d
2

dt
2
(u
+
), maka peisamaan (a)uiuefeiensialkan satu kali
I
d
dt
(u
+
) + R.
d
dt
(u
+
)
d
2

dt
2
(u
+
) + 1uu [1u
Amp
dct
= u
xcvi

atau :

d
2

dt
2
(u
+
) = -1uu AmpJct

4.9.2 Tugas Kelompok
1. Saklar telah lama terbuka, tiba-tiba ditutup pada saat t=0. Carilah arus sesaat i(t) yang
mengalir setelah saklar tertutup dengan menggunakan metode klasik /metode diferensial
untuk Gambar 4.10

Gambar 4.10

2. Saklar telah lama tertutup, tiba-tiba dibuka pada saat t=0. Carilah arus sesaat i(t) yang
mengalir setelah saklar terbuka, untuk Gambar 4.11 dengan menggunakan metode klasik
/metode diferensial
(a)

xcvii

Gambar 4.11.a
(b)

Gambar 4.11b Gambar 4.11 c

1. Lihat Gambar 4.12 di bawah ini, saklar telah lama terbuka tiba-tiba ditutup pada
saat t=0. Carilah arus sesaat yang mengalir setelah saklar tertutup dengan
menggunakan Jelmaan Laplace.

Gambar 4.12 Gambar 4.13

2. Lihat Gambar 13, saklar telah lama tertutup tiba-tiba dibuka pada saat t=0. Carilah
arus sesaat yang mengalir setelah saklar terbuka, dengan menggunakan Jelmaan
Laplace

xcviii

3. Lihat Gambar 14, saklar telah lama tertutup tiba-tiba dibuka pada saat t=0. Carilah
arus sesaat yang mengalir setelah saklar terbuka. Bila v(t) = 2202 cos 1000t volt.


Gambar 4.14






4.10 Bahan Bacaan


1. Mohammad Ramdhani, 2002, RANGKAIAN LISTRIK penerbit Erlangga
2. Ramli Cambari Saka MSc; Diktat Rangkaian Listrik
3. Robert L. Boylestad, 2003, Introductory Circuit Analysis, Tenth edition, Prentice Hall
Pearson Education International.
4. Thomas L.Floyd, 2003, Principles of Electric Circuits-Electron Flow Version, Sixth
Edition, Prentice Hall Electronics Supersite.
4. William H.Hayt,JR; Jack E.Kemmerly; Steven M.Durbin, Rangkaian Listrik Jilid 1,
Edisi Keenam, Penerbit Erlangga; 2005
5. William H.Hayt,JR; Jack E.Kemmerly; Steven M.Durbin, Rangkaian Listrik Jilid 2,
Edisi Keenam, Penerbit Erlangga; 2005
6. Sudaryanto Sudirham ;Analisis Rangkaian Listrik , Penerbit ITB Bandung.


xcix























B AB 5

RANGKAIAN DUA PINTU

Sasaran pembelajaran :
Setelah membaca bab ini, mahasiswa diharapkan
mampu untuk : mengetahui perbedaan antara
rangkaian satu pintu dengan rangkaian dua pintu,
menghitung parameter z, y, g dan h untuk
c

mencirikan rangkaian dengan parameter z, y, g dan


h serta dapat menganalisis rangkaian dengan
menggunakan parameter-parameter rangkaian
berkaskade.

BAB 5

RANGKAIAN DUA PINTU


(TWO PORT NETWORK)

5.1 Pendahuluan

ci

Suatu rangkaian yang secara umum diketahui mempunyai dua buah pasangan terminal,
yang salah satunya diberi nama terminal masukan dan yang lainnya diber nama terminal
keluaran, merupakan blok rangkaian yang sangat penting peranannya dalam sistem-sistem
elektronika, sistem komunikasi, sistem kendali otomatik, sistem transmisi dan distribusi tenaga
listrik, maupun sistem yang lain dimana energy listrik masuk melalui terminal masukan,
mengalami proses di dalam rangkaian dan akhirnya keluar melalui terminal keluarannya.
Pasangan terminal keluaran rangkaian ini mungkin terhubung dengan pasangan terminal
masukan dari rangkaian yang lain. Ketika kita mempelajari konsep rangkaian Thevenin maupun
Norton pada bab sebelumnya, kita berkenalan dengan dasar pemikiran bahwa kita tidak selalu
perlu mengetahui kerja detil dari bagian-bagian suatu rangkaian. Bahasan dalam bab ini kurang
lebih menggunakan konsep yang sama yang dikembangkan ke situasi di mana kita bahkan
tidak mengetahui detil bagian dalam dari suatu rangkaian. Dengan hanya berbekal informasi
atau pengetahuan bahwa rangkaiannya merupakan rangkaian linier, dan kemampuan untuk
mengukur tegangan dan arus-arus rangkaian, kota akan segera melihat bahwa kita dapat
mencirikan rangkaian semacam ini dengan sekumpulan parameter yang memperkenankan kita
untuk memprediksi bagaimana rangkaian ini akan berinteraksi dengan rangkaian lain.Contoh
rangkaian dua pintu adalah bentuk T, bentuk H, bentuk L, dan lain-lain.Rangkaian satu pintu
dan rangkaian dua pintu dapat di lihat pada Gambar 5.1.












cii

Gambar 5.1.a Rangkaian satu pintu Gambar 5.1.b Rangkaian dua pintu


5.2 Parameter Impedansi z

Parameter impedansi z ini pada umumnya banyak dipergunakan dalam sintesa filter,
dan juga dalam penganalisaan jaringan impedance matching dan juga pada distribusi sistem
tenaga.









Gambar 5.2: (a) Rangkaian dua pintu dengan sumber tegangan ;
(b) Rangkaian dua pintu dengan sumber arus

Adapun bentuk matriks hubungan tegangan dalam parameter impedansi z ini adalah





dengan determinan impedansi dari parameter z

2
1
22 21
12 11
2
1
I
I
z z
z z
V
V
ciii














Gambar 5.3 Rangkaian untuk menentukan parameter-parameter z
12
dan z
22











Gambar 5.4 Rangkaian untuk menentukan parameter-parameter z
11
dan z
21


0 I
2
2
22
0 I
2
1
12
1
1
I
v
z
I
v
z
=
=
=
=
0 I
1
2
21
0 I
1
1
11
2
2
I
v
z
I
v
z
=
=
=
=
civ








Gambar 5.5: Rangkaian resiprokal (a) ammeter di terminal kiri ; (b) ammeter di terminal kanan

Contoh 5.1

Carilah parameter z dari rangkaian pada Gambar 5.6 di bawah ini














cv






Gambar 5.6

Jawab :

Untuk mendapatkan z
11
dan z
21
, maka pasangkan sumber tegangan V
1
pada terminal input dan
terminal output terbuka.









Gambar 5.7

Untuk mencari z
12
dan z
22
, maka V1 dibuka dan sumber tegangan V
2
dipasangkan pada
terminal output, sehingga rangkaian menjadi :



= = = =
= + = + =
+
= =
=
=
40
. 40 .
60 40 20 ) (
). (
1
1
1
1 3
0
1
2
21
3 1
1
1 3 1
0
1
1
11
2
2
I
I
I
I R
I
v
z
R R
I
I R R
I
v
z
I
I
cvi








Gambar 5.8










5.3 Parameter Admitansi y

Parameter admitansi y juga pada umumnya banyak dipergunakan dalam sintesa filter,
perencanaan penganalisaan matching network dan distribusi sistem tenaga. Bentuk matriks
hubungan tegangan dalam parameter admitansi y iniadalah :



= + = + =
+
= =
= = = =
=
=
70 40 30 ) (
). (
40
.
3 2
2
2 3 2
0
2
2
22
3
2
2 3
0
2
1
12
1
1
R R
I
I R R
I
v
z
R
I
I R
I
v
z
I
I

2
1
22 21
12 11
2
1
V
V
y y
y y
I
I
cvii




dimana sebagai determinan admitansi dari parameter y















Gambar 5.9 Rangkaian untuk menentukan y
11
dan y
21







21 12 22 11
22 21
12 11
y . y y . y
y y
y y
y = =
0 V
1
2
21
0 V
1
1
11
2
2
V
I
y
V
I
y
=
=
=
=
cviii










Gambar 5.10 Rangkaian untuk menentukan y
12
dan y
22


Contoh 5.2

Hitunglah parameter-parameter y dari rangkaian di bawah ini:









Gambar 5.11

Jawab :
0 V
2
2
22
0 V
2
1
12
1
1
V
I
y
V
I
y
=
=
=
=
cix

Untuk mencari y
11
dan y
21
maka hubung singkat terminal output dan pasangkan sumber arus I
1

pada terminal input.







Gambar 5.12

dari rangkaian terlihat bahwa :

dan












=
+
=
+
=
3
4
2 4
2 . 4 .
2 1
2 1
1
R R
R R
R
p
1 1 1 1
3
4
. I R I V
p
= =
1 2 1 1 1
2 1
1
2
3
2
3
2
2 4
4
I I atau I I x I x
R R
R
I = =
+
=
+
=
S
I
I
V
I
V
I
y
V
4
3
3
4
1
1
1
1
0
1
1
11
2
= = = =
=
S
I
I
V
I
y
V
2
1
3
4
3
2
1
1
0
1
2
21
2
=

= =
=
cx


Untuk mendapatkan y
12
dan y
22
maka hubung singkat terminal input dan pasangkan sumber
arus I
2
pada terminal output.











Gambar 5.13

dari rangkaian terlihat bahwa :


dan





maka :
=
+
=
+
=
5
8
8 2
8 . 2 .
3 2
3 2
2
R R
R R
R
p
2 2 2 2
5
8
. I R I V
p
= =
2 1 2 2 2
3 2
3
1
5
4
5
4
8 2
8
I I atau I I x I x
R R
R
I = =
+
=
+
=
S
I
I
V
I
y
V
2
1
5
8
5
4
2
2
0
2
1
12
1
=

= =
=
cxi


dan





5.4 Parameter h

Parameter h ini sering juga disebut dengan parameter Hibrid (Hybrid parameters),
parameter ini mengandung sifat-sifat dari parameter z dan y. Bentuk persamaan matriks dari
parameter h ini adalah :





Sebagai determinan dari parameter h








S
I
I
V
I
V
I
y
V
8
5
5
8
2
2
2
2
0
2
2
22
1
= = = =
=

2
1
22 21
12 11
2
1
V
I
h h
h h
I
V
21 12 22 11
22 21
12 11
. . h h h h
h h
h h
h = =
0 V
1
2
21
0 V
1
1
11
2
2
I
I
h
I
V
h
=
=
=
=
cxii








Gambar 5.14 Gambar rangkaian untuk mencari h
11
dan h
21












Gambar 5.15 Rangkaian untuk mencari h
12
dan h
22




Contoh 5.3

Hitunglah parameter-parameter h dari rangkaian Gambar 5.16
0 I
2
2
22
0 I
2
1
12
1
1
V
I
h
V
V
h
=
=
=
=
cxiii













Gambar 5.16

Jawab :
Untuk mencari h
11
dan h
21
, maka hubung singkat terminal output dan pasangkan sumber
arus I
1
pada terminal input.









R
2
=

6

cxiv



Gambar 5.17


Dari rangkaian ini terlihat bahwa

dan





maka rangkaian pengganti









Gambar 5.18

Maka :
=
+
=
+
= 2
3 6
3 x 6
R R
R . R
R
3 2
3 2
1 p
= + = + = 4 2 2 R R R
1 p 1 1 s
cxv





Dengan pembagian arus :











Gambar 5.19

dari rangkaian ini terlihat bahwa :




sehingga


1 1 1 1
. 4 . I I R V
s
= =
= = =
=
4
4
1
1
0
1
1
11
2
I
I
I
V
h
V
R
1
= 2 R
3
= 3
I
1
I
2
+
V
1
-
+
V
2
= 0
-
-I
2
I
R2
I
1
1
1
3 2
1 2
2
3
2
3 6
. 6 .
I
I
R R
I R
I =
+
=
+
=

1 2
3
2
I I =
3
2
.
3
2
1
1
0
1
2
21
2
=

= =
=
I
I
I
I
h
V
cxvi





Selanjutnya untuk mencari h
12
dan h
22
, maka terminal input dibuka dan pasangkan sumber
tegangan V
2
pada terminal output.









Gambar 5.20

maka menurut rangkaian pembagi tegangan








R
3
= 3 ? R
1
= 2 ?
R
2
= 6 ?
+
-
V
2
I
2
I
1
= 0
+
V
1
-
+
-
2 2 2
3 2
2
1
V .
3
2
V .
3 6
6
V .
R R
R
V =
+
=
+
=
3
2
V
V .
3
2
V
V
h
2
2
0 I
2
1
12
1
= = =
=
( ) ( )
2 2 2 3 2 2
I . 9 I . 3 6 I . R R V = + = + =
cxvii


dan


5.5 Parameter g

Parameter g sering juga disebut sebagai kebalikan / invers dari parameter h.Bentuk
persamaan matriks dari parameter g ini adalah :





Sebagai determinan dari parameter g adalah:












S
9
1
I . 9
I
V
I
h
2
2
0 I
2
2
22
1
= = =
=

2
1
22 21
12 11
2
1
I
V
g g
g g
V
I
21 12 22 11
22 21
12 11
. . g g g g
g g
g g
g = =
0 V
2
2
22
0 V
2
1
12
1
1
I
V
g
I
I
g
=
=
=
=
cxviii



Gambar 5.21 Rangkaian untuk menentukan g
11
dan g
21












Gambar 5.22 Rangkaian untuk menentukan g
12
dan g
22


Contoh 5.4
Carilah parameter g dari rangkaian berikut ini :








0 I
1
2
21
0 I
1
1
11
2
2
V
V
g
V
I
g
=
=
=
=
cxix




Gambar 5.23

Jawab :
Untuk mencari g
11
dan g
21
pasang pada sumber tegangan V
1
pada terminal input sedangkan
terminal output terbuka.









Gambar 5.24

Dari rangkaian ini terlihat bahwa :



maka


= + = + = 5 , 1 5 , 0 1 R R R
3 2 1 s

= =
+
=
+
= 375 , 0
2
75 , 0
5 , 1 5 , 0
5 , 1 x 5 , 0
R R
R . R
R
1 s 1
1 s 1
1 p
1
1
1
1
1
. 667 , 2
375 , 0
V
V
R
V
I
p
= = =
cxx


sehingga




karena







maka




Selanjutnya untuk mendapatkan g
12
dan g
22
, maka hubung singkat terminal input, sedangkan
pada terminal output dipasangkan sumber arus I
2.





S
V
V
V
I
g
I
667 , 2
. 667 , 2
1
1
0
1
1
11
2
= = =
=
1 1 1
1 1
1
3
. 25 , 0
5 , 1 5 , 0
5 , 0
I I I
R R
R
I
s
R
=
+
=
+
= 1 1 3 3 2
. 125 , 0 5 , 0 . . 25 , 0 . I I R I V
R
= = =
1
1
1 1 1
. 375 , 0
667 , 2
: . 667 , 2 I
I
V maka V I = = =
333 , 0
. 375 , 0
. 125 , 0
1
1
0
1
2
21
2
= = =
=
I
I
V
V
g
I
2
1
2
1
2
2
R2
R3
cxxi








Gambar 5.25

Dari rangkaian terlihat





sehingga




Dari rangkaian juga terlihat bahwa R
2
paralel R
3
atau





1 2 2 2
3 2
3
2
. 333 , 0 .
5 , 0 1
5 , 0
. I I I I
R R
R
I
R
= =
+
=
+
=

2 2 1
. 333 . 0 I I I
R
= =
333 , 0
. 333 . 0
2
2
0
2
1
12
1
=

= =
=
I
I
I
I
g
V
=
+
=
+
= 333 , 0
5 , 0 1
5 , 0 1 .
3 2
3 2
x
R R
R R
R
p

2 2 . 2
. 333 . 0 I I R V
p
= =

Sehingga




5.6 Par




P
ci







a :
rameter A
Parameter-pa
ircuit
22
g
ABCD
arameter AB
= =
=
0
0
2
2
1
I
V
V
0
0
=
=
=
=
R
R
I
R
S
I
R
S
V
I
C
V
V
A
Ga
V
S
=
I
S
=
BCD dinyata
= 3 , 0
333 , 0
2
2
I
I
ambar 5.26

= A V
R
+ B I
R
C V
R
+ D I
R
akan dengan
333
0
0
I
=
=
=
=
R
R
V
R
S
V
R
S
I
I
D
V
B
R

R

n ujung pene

erima open circuit dan
cxxii
short




Fungsi I







Bila AD

V
R
= D V
I
R
= -C V



nvers Param
BC = 1, ma
V
S
B I
S

V
S
+ A I
S

meter ABCD
aka
D
V
S
=
I
S
=
[S] = [K] [R
= A V
R
+ B I
R
C V
R
+ D I
R
R] [R] = [K

R

R

K]
-1
[S]


cxxiii

5.7 Ran













B
sehingga

C
C
C
ngkaian K
Bila sistem di
a :

C Z
2
O + D ZO
C Z
2
O + (D
C Z
2
O = B
Kaskade
iakhiri denga
O = A ZO + B
A)ZO = B

ZO
an impedans
Zin = Z
B
simetri A

O = B/C
si bayangan
Zout = Zo
A=D
(Zo) maka

berlaku hubungan :
cxxiv

C
sh
uj
Z
uj
Z

Z



5.8 Fun

F

5.9 Con

5.9.1 C

Carilah p

Cara lain me
hort circuit.
jung penerim
Zin (OC) = Vs
jung penerim
Zin (SC) = Vs
Zin (OC) x Zi
ngsi Pinda
ungsi pinda
a. Tegan
b. Arus I
c. Daya
ntoh Soal
Contoh So
parameter a,
enentukan Z
ma open circ
s/Is = A VR/
ma open circ
s/Is = B IR/D
n (SC) = A/C

ah Bayan
h bayangan
ngan VS / VR
IS / IR
PS / PR
dan Tuga
oal
b,c,d rangka
ZO , yang di
cuit (IR=0)
CVR = A/C
cuit dan shor
D IR = B/D
C x B/D = B/
gan
meliputi :
R
as
aian pada G
inyatakan de
rt circuit
/C
Gambar 5.27
engan ujungg penerima open circui
cxxv
t dan

Jawab
Dari ranggkaian pada Gambar 5.2
Ga
Ga
28 dapat dih

ambar 5.27

ambar 5.28

itung :




cxxvi


dari rang




Sehingga
Dari rang
gkaian juga t
a rangkaian
gkaian terliha
terlihat bahw
ekivalen di a
at bahwa :
wa :
atas berbentuk:




cxxvii



Akan teta
Selanjutn

Akan teta


Maka dip





api karena I
6
nya dari rang
api karena I
6
peroleh :
V
2
6
= -I
1
maka
gkaian juga
6
= -I
1
dan V
2
2
= R
2
. I
6
= 1
persamaan
terlihat :
2
= -I
1
maka p
1.I
6

(*) menjadi
persamaan (

(*)
V
2
= -I
1
deng

(**) menjadi

gan demikian


c
n
cxxviii
cxxix


5.9.2 Tugas / Latihan Soal

1. Diketahui rangkaian dua pintu bentuk T, dengan nilai Z
S
= 20 ohm, Z
R
= 40 ohm.
Tentukanlah :
a. Parameter y
b. Parameter z
c. Parameter g
d. Parameter h
2. Diketahui rangkaian dua pintu bentuk phi, dengan nilai Z
S
= 4+j6 ohm, Z
R
= -j8 ohm.
Tentukanlah :
a. Parameter ABCD
b. Impedansi bayangan
c. Zin bila Zo terpasang
d. Fungsi pindah bayangan
3. Diketahui rangkaian dua pintu bentuk T, dengan nilai Z
S
= 25 ohm, Z
R
= 30 ohm.
Tentukanlah tegangan dan arus pada ujung penerima jika tegangan dan arus pada
ujung pengirim masing-masing 220 volt dan 4 Ampere.

5.10 Bahan Bacaan
1. Hugh Hildreth Skilling; Electrical Engineering Circuits ,John Wiley & Son. Inc.
4. Mohammad Ramdhani, 2002, RANGKAIAN LISTRIK penerbit Erlangga
5. Ramli Cambari Saka MSc; Diktat Rangkaian Listrik
7. Robert L. Boylestad, 2003, Introductory Circuit Analysis, Tenth edition, Prentice Hall
Pearson Education International.
8. Thomas L.Floyd, 2003, Principles of Electric Circuits-Electron Flow Version, Sixth
Edition, Prentice Hall Electronics Supersite.
cxxx

9. William H.Hayt,JR; Jack E.Kemmerly; Steven M.Durbin, Rangkaian Listrik Jilid 2,


Edisi Keenam, Penerbit Erlangga; 2005



BAB 6
PENGGUNAAN TRANSFORMASI FOURIER
DALAM ANALISA RANGKAIAN

Sasaran pembelajaran, setelah membaca bab ini
mahasiswa diharapkan mampu untuk mempresentasikan
fungsi periodik dengan menggunakan bentuk trigonometri
deret Fourier, menyatakan suatu fungsi dengan sifat
kesimetrian genap dan ganjil, serta harmonisa genap dan
ganjil dan dapat menganalisisrangkaian dalam domain
frekuensi dengan menggunakan transformasi Fourier.




cxxxi





BAB 6

PENGGUNAAN TRANSFORMASI FOURIER DALAM ANALISA
RANGKAIAN

6.1 Pendahuluan











Gambar 6.1 Fungsi-fungsi eksistesi (a) v = konstan ; (b) v = V sin t




cxxxii








Gambar 6.2 Gelombang gigi gergaji

Gelombang gergaji ini dapat dinyatakan sebagai f(t) = (V/T)t dalam interval 0 < t < T dan oleh
f(t) = (V/T)(t T) dalam interval T < t < 2T.

6.2 Deret Fourier Trigonometri

Suatu fungsi f (t) dikatakan periodik apabila : f(t) = f(t + nT)

dimana n adalah bilangan bulat/integer dan T adalah periode dari f (t).Menurut teori Fourier
setiap fungsi periodik dengan frekuensi
o
dapat di ekspresikan sebagai penjumlahan dari
fungsi sinus ataupun kosinus atau :




o
= 2/T disebut sebagai frekuensi dasar
{
4 4 4 4 4 3 4 4 4 4 4 2 1
ac
t n b t n a
dc
a
n
o n o n o

=
+ + =
1
) sin cos ( f(t)
cxxxiii

sin not atau cos not merupakan harmonisa yang ke-n dari f (t) dan bila n merupakan
bilangan ganjil disebut harmonisa ganjil dan bila genap disebut harmonisa genap.

Suatu fungsi f(t) dapat dinyatakan dengan sebuah deret Fourier apabila :
1. f(t) memiliki nilai tunggal untuk setiap t.
2. Jika f(t) tidak kontinyu maka hanya terdapat jumlah diskontinuitas terbatas pada periode T.
3. Memiliki jumlah maksimum dan minimum yang terbatas dalam periode.

4. Untuk setiap t
0
.
syarat-syarat ini disebut sebagai syarat Dirichlet
Adapun proses untuk menentukan koefisien a
o
; a
n
dan b
n
disebut sebagai analisa. Fourier,
dimana dalam analisa Fourier ini ada beberapa bentuk integral trigonometri yang sangat
membantu diantaranya :










Dari analisis Fourir, didapat :


;

+
<
T t
t
dt t f
0
0
| ) (

=
=
=
=
=
=
=
T
o
T
o
T
o o
T
o o
T
o o
T
o
T
o
g m semua T dt t m
f n semua T dt n
e m n dt t m n
d m n dt t n n
c m n semua dt t n n t n
b n semua dt n
a n semua dt n
0
2
0
2
0
0
0
0
0
) ( ....... .......... 2 / cos
) ( .......... .......... 2 / cos
) ( ...... .......... 0 cos cos
) ( ......... .......... 0 sin sin
) ( .... , 0 cos sin
) ( .. .......... .......... 0 0 cos
) ( ........ .......... .......... 0 sin

=
T
o
dt t f
T
a
0
) (
1

=
T
o n
dt t n t f
T
a
0
cos ) (
2


=
T
0
o n
dt t n sin ) t ( f
T
2
b
cxxxiv


dan





Sehingga
; ; ;


dalam bentuk kompleks :
Contoh 6.1:
Carilah bentuk deret Fourier gelombang pada Gambar 6.3 dibawah ini dan gambarkan juga
spektrum amplitudo dan spektrum fasa dari gelombang tersebut.








=
+ + =
1
) cos( ) (
n
n o n o
t n A a t f


=

=
+ = + +
1 1
sin ) sin ( cos ) cos ( ) cos(
n
o n n o n n o
n
o n o
t n A t n A a n t n A a
n n n
A a cos =
) sin (
n n n
A b =
2 2
n n n
b a A + =
n
n
n
a
b
1
tan

=
n n n n
jb a A =
cxxxv


Gambar 6.3

Jawab :



Adapun deret forier




Adapun bentuk persamaan gelombang diatas :












=
+ + =
1
) sin cos ( f(t)
n
o n o n o
t n b t n a a

< <
< <
=
2 1 0
1 0 1
) (
t
t
t f
2
1
2
1
0 1
2
1
) (
1
0
1
2
0
1
0 0
= =

+ = =

t dt dt dt t f
T
a
T
o
0
0
cos 0
1
0
sin
1
cos 1
2
2
cos ) (
2
2
1
1
0 0
=

+ = =


4 43 4 42 1 4 43 4 42 1
dt t n
t
n
dt t n dt t n t f
T
a
T
o n


cxxxvi























Harga-harga a
0
, a
n
dan b
n
yang telah diperoleh disubstitusikan ke persamaan umum deret
fourier, maka deret Fourier dari bentuk gelombang diatas adalah :


) 1 n (cos
n
1
0
dt t n sin 0
1
0
t n cos
n
1
dt t n sin 1
2
2
dt t n sin ) t ( f
T
2
b
2
1
1
0
T
0
o n

= =


4 43 4 42 1 43 42 1
[ ]

= =
genap n harga untuk 0
ganjil n harga untuk
2
) 1 ( 1
1

n
n
b
n
n
... 5 sin
5
2
3 sin
3
2
sin
2
2
1
) ( + + + + = t t t t f

cxxxvii







untuk mendapatkan spektrum amplitudo dan spektrum fasa :












Telah diketahui didepan bahwa 0 = dan harga An dan n untuk beberapa harga n maka
hasilnya seperti pada tabel dibawah ini.
1 2 : ini hal dalam sin
1 2
2
1
) (
1
= + =

=
k n t n
n
t f
k

{ {

= =
=
+ =
genap n 0
ganjil
2
2 0
2 2 n
n
b
ganjil n
n
n
b
b a An
n n n



= =

ganjil n
genap n
a
b
n
n
n
0
90
tan
1

cxxxviii



maka spektrum amplitudo :













o

2 3 4 5 6

2
3
2
5
2
o

2 3 4 5 6
n

cxxxix






Gambar 6.4 Spektrum amplitudo

6.3 Kesimetrian

6.3.1 Simetri Genap

f(t) = f(-t) untuk semua harga t














2
T
2
T

cxl


Gambar 6.5 Fungsi Genap






Adapun sifat yang utama dari fungsi genap ini adalah :





dimana notasi e pada f
e
(t) untuk melambangkan fungsi genap (even), didapat koefisien-
koefisien Fourier-nya :








b n = 0

) 2 / ( ) 2 / ( :
T/2 t harga untuk A - f(t)
T/2 t harga untuk A - f(t)
T f T f maka =

= =
= =

=

2 /
0
2 /
2 /
) ( 2 ) (
T
e
T
T
e
dt t f dt t f

=
2 / T
0
0
dt ) t ( f
T
2
a

=
2 / T
0
0 n
dt t n cos ) t ( f
T
4
a
cxli

6.3.2 Simetri Ganjil



f(-t) = -f(t) untuk semua harga t















Gambar 6.6 Fungsi ganjil







4
T
4
T

)
4
( )
4
( :
4
T
t harga untuk A - f(t)

4
T
t harga untuk A f(t)
T
f
T
f maka =

= =
= =
cxlii

Adapun bentuk umum fungsi ini adalah :








dimana f
o
(t) hanya berupa simbol dari fungsi ganjil (Odd).

Untuk fungsi ganjil ini harga-harga :
A
0
= 0
an = 0






Setiap fungsi periodik f(t) dapat merupakan gabungan fungsi-fungsi genap atau ganjil saja
ataupun gabungan fungsi genap atau ganjil.






0 ) (
2 /
2 /
=

T
T
o
dt t f

=
2 /
0
0
sin ) (
4
T
n
dt t n t f
T
b
) ( ) ( sin sin ) (
1
0
1
0 0
t f t f
ganjil
t n b
genap
t n a a t f
o e
n
n
n
n
+ = + + =



=

=
4 43 4 42 1 4 4 4 3 4 4 4 2 1

cxliii


6.3.3 Simetri Setengah Gelombang

Suatu fungsi dikatakan simetris gelombang setengah apabila :













Gambar 6.7 Contoh gelombang setengah simetris (ganjil)

Koefisien Fourier nya :






) ( ) ( )
2
( ganjil t f
T
t f =

+ = =


2 /
0
0
2 /
2 /
2 /
0
) ( ) (
1
) (
1
T
T
T
T
dt t f dt t f
T
dt t f
T
a

0 ) ( ) (
1
2 /
0
2 /
0
0
=

+ =

T T
dt t f dx x f
T
a

+ =

2 /
0
0
0
2 /
0
cos ) ( cos ) (
2
T
T
n
dt t n t f dt t n t f
T
a
cxliv












Contoh 6.2
Carilah deret Fourir dari f(t) yang tergambar di bawah ini :










Gambar 6.8

Jawab :
[ ]

= =

genap n untuk
ganjil n untuk dt t n t f
T
dt t n t f
T
a
T
T
n
n
. .......... .......... .......... .......... 0
. .......... cos ) (
4
cos ) ( ) 1 ( 1
2
2 /
0
0
2 /
0
0

=

genap n untuk
ganjil n untuk dt t n t f
T
b
T
n
. .......... .......... .......... .......... 0
. .......... sin ) (
4
2 /
0
0

cxlv

Fungsi ini adalah fungsi ganjil sehingga a


0
= 0 = a
n
dimana periodenya T = 4 sehingga

maka








maka terlihat bahwa deret merupakan deret Fourir sinus.

Contoh 6.3:

Carilah deret Fourir dari fungsi di bawah ini :










2 4
2 2
0

= = =
T

=
2 /
0
0
sin ) (
4
T
n
dt t n t f
T
b

+ =

2
1
1
0
2
sin 0
2
sin 1
4
4
dt t n dt t n b
n

= =
2
cos 1
2
2
cos
2
1
0

n
n
t n
n
b
n

=
1
2
sin
2
cos 1
1 2
) (
n
n n
n
t f

cxlvi


Gambar 6.9
Jawab :
Fungsi adalah gelombang ganjil setengah simetris, sehingga a
0
= 0 = a
n
dengan periode T = 4
dan




Maka : f(t) = 1 -1 < t < 1






karena sin (-x) = - sin x pada fungsi ganjil dan cos (-x) = cos x padafungsi genap, maka






Sehingga


2 4
2 2
0

= = =
T

=
2 /
0
0
sin ) (
4
T
n
dt t n t f
T
b
2
cos
4
2
sin
8
2 2

n
n
n
n
b
n
=

= =
= =
=
+

... , 6 , 4 , 2 ) 1 (
4
... , 5 , 3 , 1 ) 1 (
8
2 / ) 2 (
2 / ) 1 (
2 2
genap n untuk
n
ganjil n untuk
n
b
n
n
n

=
=
1
2
sin ) (
n
n
t
n
b t f

cxlvii



6.4 Pemakaian Pada Rangkaian Listrik

Untuk mendapatkan respons steady state rangkaian terhadap eksitasi non-sinusoidal
periodik ini diperlukan pemakaian deret Fourier, analisis fasor ac dan prinsip superposisi.
Adapun langkah-langkah yang diperlukan diantaranya :
1. Nyatakan eksitasi dalam deret Fourier.
2. Transformasikan rangkaian dari bentuk wawasan waktu menjadi wawasan frekuensi.
3. Cari resonse komponen dc dan ac dalam deret Fourier.
4. Jumlahkan masing-masing response secara superposisi.
















) t 1 cos( v
1 0 1
+
) t 2 cos( v
2 0 2
+
) t n cos( v
n 0 n
+
0
v
cxlviii








Gambar 6.10 a) Rangkaian linier dengan sumber tegangan periodik
b) Merepresentasekan deret Fourier (wawasaan waktu)

adapun pernyataan deret Fourier-nya :














=
+ + =
1
0 0
) ( cos ) (
n
n n
t n V V t v
0
v
1 1
v
n n
v
2 2
v Gambar 6.11
a) Respons steady state komponen
dc
b) Respons steady state komponen
ac (wawasan frekuensi)
cxlix












Contoh 6.4 :

Rangkaian seperti di bawah ini :











=
+ + =
1 n
n 0 0
) t n ( cos In i ) t ( i
cl

Gambar 6.12
Bilamana sumber tegangan v
s
(t) pada rangkaian berbentuk :




Carilah v
0
(t).

Jawab :

















1 k 2 n t n sin
n
1 2
2
1
) t ( v
1 k
s
=

+ =

=
(*)
s s
n
n
V
n j
n j
V
L j R
L j
V

2 5
2
0
+
=
+
=
( )

n j
n j V
V atau
n j
n j
V
V
s s
2
2 5
1 1
:
2 5
2
0
0
+
=

+
=
) 90 2 (
1
) 2 (
1
2
1 1
2
1
: 2
1
= =

= = =

n
j
n j n n j
V atau n j
V
s
s
= 90
2
n
V
s
2 2
1
0
4 25
5
2
tan 4

n
n
V
+


+
= 90
2
2 5
2
0

n n j
n j
V
cli



dan dalam wawasan waktu




maka dengan mensubstitusikan harga ( k = 1, 2, 3, atau n = 1, 3, 5,) untuk harmonisa
ganjil akan diperoleh :




dan kalau digambarkan spektrum amplitudo-nya :










Gambar 6.13

1 2 :
5
2
tan cos
4 25
4
) (
1
1
2 2
0
=


+
=

k n untuk
n
t n
n
t V
k

Volt t
t t t Vo
... ) 96 , 80 5 ( cos 1257 , 0
) 14 , 75 3 ( cos 2051 , 0 ) 49 , 51 1 ( cos 4981 , 0 ) (
+
+ + =


2 3 4 5 6 7
0
V
clii

6.5 Daya Rata-rata dan RMS



Untuk mendapatkan harga daya rata-rata yang diserap oleh suatu rangkaian dengan
sumber suatu fungsi periodik , yaitu :





sedangkan sebagaimana diketahui bahwa daya rata-rata adalah :





harga efektif (rms) dari suatu f(t) adalah :






Contoh 6.5:
Rangkaian seperti di bawah ini :

=
+ =
1
n 0
) - t n ( cos ) (
n
n dc
V V t v

=
+ =
1
m 0
) - t m ( cos ) (
m
m dc
V I t i

=
T
dt vi
T
P
0
1

=
+ =
1
n n
) - ( cos
2
1
n
n n dc dc
I V I V P

=
T
rms
dt t f
T
F
0
2
) (
1

( )

=
+ + =
1
2 2 2
0
2
1
n
n n rms
b a a F
cliii










Gambar 6.14
Carilah daya rata-rata yang diberikan oleh sumber ke rangkaian bilamana :



dan cari pula V
rms
.

Jawab :
Impedansi rangkaian :






Maka

A t t t i ) 35 3 cos( 6 ) 10 cos( 10 2 ) ( + + + + =

20 1
10
2
1 20
2
10
2
1
10
2
1
10
.
j
j
j
j
j
j
X R
X R
Z
C
C
+
=
+

=
+
=
cliv








untuk komponen dc ( = 0) :





untuk = 1 rad/det, maka :



untuk = 3 rad/det, maka :





sehingga dalam wawasan waktu :



20 tan 400 1
. 10
1
20
tan ) 20 ( 1
. 10
20 1
. 10
20 1
10
. .
1 2
1 2 2

+
=
+
=
+
=
+
= =
I I
j
I
j
I Z I V
I = 2 A

v 20
) 0 ( 20 tan ) 0 ( 400 1
) 2 ( 10
V
1 2
=
+
=

=


=
+

= =

14 , 77 5
14 , 87 20
10 100
) 1 ( 20 tan ) 1 ( 400 1
) 10 10 ( 10
10 10
1 2
V dan I
=


=
+

= =

04 , 54 1
04 , 89 60
35 60
) 3 ( 20 tan ) 3 ( 400 1
) 35 6 ( 10
35 6
1 2
V dan I
V ) 04 , 54 t 3 cos( 1 ) 14 , 77 t cos( 5 20 ) t ( v + + =
clv


Adapun daya rata-rata dapat dihitung dengan :










Cara lain :





Contoh 6.6:
Suatu tegangan diekspresikan dengan :




carilah harga rms dari tegangan in

=
+ =
1 n
n n n n dc dc
) - ( cos I V
2
1
I V P
[ ] [ ] ) 35 ( 04 , 54 cos ) 6 )( 1 (
2
1
) 10 ( 14 , 77 cos ) 10 )( 5 (
2
1
) 2 ( 20 P + + =
P = 40 + 1,247 + 0,05 = 41,297 W
W 30 , 41 06 , 0 25 , 1 40
10
1
2
1
10
5
2
1
10
20
R
V
2
1
R
V
P
2 2 2
1 n
2
n
2
dc
= + + = + + = + =

=
... ) 7 , 78 4 cos( 4851 , 0
) 56 , 71 3 cos( 6345 , 0 ) 45 , 63 2 cos( 8944 , 0 ) 45 cos( 414 , 1 1 ) (
+ +
+ + + + + =
t
t t t t v
clvi

Jawab :

Dengan menggunakan :




maka






6.6 Bentuk Eksponensial Deret Fourier





Untuk mendapatkan harga rms




=
+ =
1
2 2
0
2
1
n
n rms
A a F
[ ] V V
rms
649 , 1 ) 4851 , 0 ( ) 6345 , 0 ( ) 8944 , 0 ( ) 414 , 1 (
2
1
1
2 2 2 2 2
= + + + + =

=
=
n
t jn
n
o
e c t f

) (



=
T
t jn
n
dt e t f
T
c
o
0
) (
1

=
+
+ =
1
2 2
2
0
2
n
n n
rms
b a
a F
clvii

karena

dan


maka





Contoh 6.7:

Carilah bentuk eksponensial deret Fourier dari :




Jawab



maka



2
2 2
n n
n
b a
c
+
=
2
0
2
0
a c =

=
+ =
1
2
2
0
2
n
n rms
c c F
) ( ) 2 ( : 2 0 ; ) ( t f t f dengan t e t f
t
= + < < =
1
2
2
0
= = =
T
maka T Karena




= =

2
0 0
2
1
) (
1
dt e e dt e t f
T
c
jnt t
T
t jn
n
o

2
0
) 1 (
1
1
2
1
t jn
n
e
jn
c

=
clviii











sehingga deret Fourier-nya :




6.7 Latihan / Tugas

1. Sebuah gelombang periodic f(t)dideskripsikan sebagai berikut: f(t)=-4 0<t<0.3 ; f(t) =
6, 0.3 < t < 0.4; f(t) = 0, 0.4< t < 0.5; T = 0.5. Evaluasilah:
(a) a
o
(b) a
3
(c) b
1

2. Sketsakanlah masing-masing fungsi berikut, nyatakanlah apakah muncul simetri
genap,ganjil dan simetri setengah gelombang atau tidak, berikan periodenya .
(a). v=0, -2 < t < 0 dan 2 < t < 4; berulang
(b). v=10,1< t < 3; v = 0, 3 < t < 7; v = -10, 7 < t < 9 berulang
3. Tentukanlahderet Fourier untuk gelombang-gelombang pada soal latihan no.2.

6.8 Daftar Bacaan
[ ] 1
) 1 ( 2
1
2 2

=
n j
n
e e
jn
c


1 0 1 2 sin 2 cos
2
= = =

j n j n e
n j

[ ]
) 1 (
51 , 85
1
) 1 ( 2
1
2
jn
e
jn
c
n

jnt
e
jn
t f



=
) 1 (
51 , 85
) (
clix

2. A. Bruce Carlson, 2000, CIRCUITS Engineering Concept and Analysis of


Linier Circuits, Brooks / Cole Thomson Learning.
3. Hugh Hildreth Skilling; Electrical Engineering Circuits ,John Wiley & Son.
Inc.
4. Joseph A. Edminister, Theory and Problems of Electric Circuits, Third
Edition, Schaums Outline Series McGRAW-HILL
5. Ramli Cambari Saka MSc; Diktat Rangkaian Listrik
6. Robert L. Boylestad, 2003, Introductory Circuit Analysis, Tenth edition,
Prentice Hall Pearson Education International.
7. Thomas L.Floyd, 2003, Principles of Electric Circuits-Electron Flow
Version, Sixth Edition, Prentice Hall Electronics Supersite.
8. William H.Hayt,JR; Jack E.Kemmerly; Steven M.Durbin, Rangkaian Listrik
Jilid 2, Edisi Keenam, Penerbit Erlangga; 2005















clx







BAB7
RANGKAIAN SISTEM TIGA FASA SEIMBANG

Sasaran pembelajaran, setelah membaca bab ini,
mahasiswa diharapkan mampu untuk :memahami
perbedaan antara rangkaian satu fasa dan rangkaian tiga
fasa, menguasai sumber tiga fasa terhubung-Y dan
terhubung , menguasai teknik analisisper fasadari
suatusistem tiga fasa.

clxi

BAB 7

RANGKAIANSISTEMTIGAFASASEIMBANG

7.1 Pendahuluan
Hampir semua listrik yang digunakan oleh industry, dibangkitkan, ditransmisikan, dan
didistribusikan dalam system tiga fasa. System tiga fasa ini memiliki besar yang sama (untuk
tegangan atau urus) tetapi mempunyai perbedaan sudut sebesar 120 antar fasanya. Sumbu ini
juga disebut dengan sumbu yang seimbang.
clxii

System tiga fasa sering juga disebut dengan system fasa banyak. Adapun yang dimaksud
dengan sumber bolak balik (ac) fase banyak (polyphase) adalah sumber bolak balik yang
bekerja pada amplitudo dan frekuensi yang sama akan tetapi berbeda phasa (misalnya pada
sistem dua fase), sedangkan sumber tiga fase adalah suatu sumber terdiri dari tiga sumber
yang ditempatkan pada satu poros, dimana frekuensi setiap sumber sama akan tetapi memiliki
beda fase satu sama lainnya sebesar 120.


Gambar 7.1 Sistem Tiga Fase Empat Kawat



Ada beberapa hal, yang perlu diperhatikan dari sistem tiga fase ini, diantaranya
clxiii

1. Kebanyakan pembangkit tenaga listrik dibangkitkan dengan tiga fase pada frekuensi
50 Hz ( = 314.rad/det) atau 60.Hz ( = 377 rad/det). Seandainya pada suatu saat
yang diperlukan hanya satu dua fase, maka ini dapat diambil dari sistem tiga fase
tersebut.
2. Adapun daya sesaat (instantaneous power) konstan/tidak mengandung pulsasi.
3. Untuk daya yang sama, maka sistem tiga fase lebih ekonomis daripada sistem satu
fase, hal ini disebabkan jumlah konduktor yang diperlukan lebih sedikit pada system
tiga fase.
4. Daya yang dibangkitkan lebih besar.

7.2 Hubungan Sistem 3 Fasa














Beban hubungan Beban hubungan Y
clxiv


Gambar 7.2 Diagram rangkaian dari sebuah generator hubungan Y yang terhubung
pada beban Y dan beban



















Gambar 7.3 Diagram rangkaian dari sebuah generator hubungan Y mensuplai
beban hubungan Y melalui saluran 3 fase

Dimana : Van, Vbn, Vcn = Tegangan Fase pada terminal generator
VAN, VBN, VCN = Tegangan fase pada terminal beban

clxv

7.3 Beban hubung Y (way)


Hubungan antara tegangan line (tegangan line to line) dan (tegangan fase
(tegangan line to netral) dengan fase a dipilih sebagai referensi adalah :








Gambar 7.4 Urutan fase positif atau ABC

VAN = |Vp| < 0
0

VBN = |Vp| < - 120
0

VCN = |Vp| < - 240
0

Dimana |Vp| = magnitude tegangan fase
Tegangan line pada terminal beban dalam hubungannya dengan tegangan fase-
fase diperoleh dengan menerapkan hukum Kirchhoff tentang tegangan adalah :
V
AB
= V
AN
+ V
NB
= V
AN
V
BN
= |Vp| [1< 0
0
1< - 120
0
] =S|Vp|<30
0

V
BC
= V
BN
+ V
NC
= V
BN
V
CN
= |Vp| [1< 120
0
1< - 240
0
] =S|Vp|<90
0

V
OA
= V
ON
+ V
NA
= V
ON
V
AN
= |Vp| [1< 240
0
1< - 0
0
] =S|Vp|<120
0

Diagram fasor tegangan untuk beban hubungan Y diperlihatkan pada Gambar 7.5




V
CNL

V
BNL

V
ANL
10
120
0
clxvi






Gambar 7.5 Diagram fase dari tegangan fase dan tegangan line
Jika nilai efektif tegangan line dinyatakan sebagai VL, maka beban tiga fase hubungan Y dapat
dinyatakan sebagai berikut :
VL = S |Vp| < 30
0

Arus-arusnya dapat pula dinyatakan sebagai berikut :
IA=
v
AN
z
D
= |Ip| < -A
IB=
v
BN
z
P
= |Ip| < -12u - A
IC=
v
CN
z
P
= |Ip| < -24u - A
Dimana : = sudut fase impedansi
Dalam hubungan Y arus line juga arus fase sehingga : I
L
= I
P


7.4 Beban Hubung (delta)

Beban hubungan seimbang diperlihatkan pada Gambar 7.6. Dari gambar tampak
bahwa tegangan line sama dengan tegangan fase.
V
L
= Vp


clxvii





Gambar 7.6 Beban terhubung
Hubungan arus-arus pada beban yang terhubung dinyatakan sebagai berikut
I
AB
= |Ip| < 0
I
BC
= |Ip| < - 120
0

I
CA
= |Ip| < - 240
0

Dimana
|Ip| = Magnituda arus fase
Hubungan antara arus fase dan arus line dapat diperoleh dengan hukum Kirchhoff
tentang arus sebagai berikut :
I
B
= I
AB
- I
CA
= |Ip| [1< 0
0
1< - 140
0
] =S|Ip|< - 30
0

I
B
= I
BC
+ I
AB
= |Ip| [1< 120
0
1< - 0
0
] =S|Ip|< - 150
0

I
B
= I
CA
+ I
BC
= |Ip| [1< 240
0
1< - 120
0
] =S|Ip|< - 90
0

Hubungan antara arus fase dan arus line dapat dilihat pada Gambar 7.7. Jika nilai efektif
dari arus line dinyatakan sebagai I
L
, maka arus line dapat dituliskan :
I
L
= S|Ip|< - 30
0









Gambar 7.7 Diagram fasor dari arus fase dan arus line

I
BC
I
B

I
CA
I
C

I
AB
30
0

clxviii

7.5 Transformasi - Y
Untuk menganalisis masalah rangkaian, biasnaya rangkaian yang terhubung
digantikan dengan rangkaian ekibalen yang terhubung Y, rangkaian terhubung Y, impedansi
adalah Zy atau fase alaralen dengan rangkaian impendasi terhubung ZB / fase seperti di
perlihatkan pada Gambar 7.8.







Gambar 7.8 Rangkaian hubungan (a) (b) Y
Untuk rangkaian hubungan , arus fase Ia di peroleh :
IA =
vAB
z
+
vAC
z
=
vAB+vAC
z

Dari diagram fasor pada gambar 8, diperoleh
VAB + VAC = S VAN < 30
0
+ S VAN < - 30
0
= 3 VAN
Substitusi persamaan (11) ke persamaan (10)
I =
SIAN
Z

Atau
IAN =
Z
S
IA
Untuk rangkaian hubungan Y diperoleh : V
AN
= Z
Y
IA
Dari kedua persamaan terakhir diperoleh : Z
Y
= 1/3 Z

atau Z

= 3Z
Y





A
I
A

I
C
I
B
I
B

I
C

A
I
A
I
B
I
C
Z
Y

Z
Y
Z
Y

V
CN

V
AB

V
AN

V
AC

V
BN

30
0

clxix



Gambar 7.8 Diagaram fasor tegangan fase dan tegangan line

7.6 Daya Tiga Fasa
Misal tegangan dan arus dinyatakan sebagai berikut :
Van =SVp Cos (wt + v)
Vbn =SVp Cos (wt + v - 120
0
)
Vcn = S VP Cos (wt + v - 240
0
)
ia = S IP Cos (wt + i)
ib = S IP Cos (wt + I - 120
0
)
ic = S IP Cos (wt + I - 240
0
)
Dimana :
V
P
. I
P
= Magnituda teg dan arus fasa efektif
Daya total tiga fasa adalah :
P3 = Van ia + Vbn ib + Vcn ic
Substitusi persamaan (14) & (15) ke persamaan (16) diperoleh
P3 = 3 VpIP cos (wt + v) cos (wt + i) + 3Vp IP cos (wt + v - 120
0
)
cos (wt + I - 120
0
) + 3VpIP cos (wt + v-240
0
) cos (wt + I - 240
0
)
P3 = Vp.Ip [cos[(v-c) + cos (2wt + v + i)]
+ Vp.Ip [cos (v - i) + cos (2wt + v + I - 240
0
)]
+ Vp.Ip [cos (v - i) + cos (2wt + v + I - 480
0
)]
= 3 Vp.Ip cos
Dimana : = v - i = sudut antara tegangan fasa dan arus fasa atau sudut
impedansi
Q
3
= 3.Vp.Ip. Sin
S
3
= P
3
+ j Q
3
= 3 Vp.Ip
Beban hubungan Y (bintang) : Vp = VL / S ; IP = IL
P
3
= S.V
L
.I
L
Cos
clxx

Q
3
= S.V
L
.I
L
.Sin
Beban hubungan (delta) : Vp = VL ; Ip = IL / S
P
3
= S.V
L
.I
L
.Cos
Q
3
= S.V
L
.I
L
. Sin










7.7 Contoh Soal dan Tugas
7.7.1 Contoh Soal
Contoh 7.1
Berikut diagram rangkaian tiga phasa



clxxi


V
L
= 207,85 V
Z
L
= 2 + j4
Z
Y
= 30 + j40 (seimbang)
Z

= 60 j45 (seimbang)
Carilah :
Arus, daya aktif, reaktif, yang diperoleh dari supply
Tegangan line pada terminal beban
Arus per fasa pada setiap beban
Daya total yang diserap oleh setiap beban dan daya total yang diserap oleh saluran
Jawab:



clxxii






Contoh 7.2
Sebuah sumber tegangan hubungan Y urutan abc yang seimbang dengan Van 110<10
0
v
dihubungkan ke beban seimbang dengan impedansi per fasa adalah z = 8+j4 ohm.
Hitunglah arus-arus fasa dan arus line

Jawab

7.7.2 T
1. S
m
p
a
Tugas / La
Sistem tiga
masing fase
ada tegang
. V
an

atihan
kawat tiga
e terdiridari
gan Va= 40
b.I
aA

a fasa sei
tiga beban
00<0
0
V. Te
c. daya



mbang me
n parallel : -
entukanlah
a total yang
emiliki beba
-j100 ohm,
g diserap ol

an terhubu
100 ohm d
leh beban

ung Y. Mas
dan 50+j50
clxxiii
sing-
ohm
clxxiv

2. Sistem tiga kawat tiga fasa seimbang memiliki tegangan 500 V. Terdapat dua
beban terhubung Y seimbang. Salah satunya adalah beban kapasitif dengan 7-
j2 ohm per fase, dan yang lainnya adalah beban induktif dengan 4+j2 ohm per
fase. Tentukanlah
a. Tegangan fase
b. daya total yang diserap oleh beban
c. Arus
d. Faktor daya pada sumber
3. Masing-masing fase dari beban terhubung tiga fase seimbang terdiri dari
induktor 0.2 H yang seri dengan kombinasi paraleldari kapasitor 5 F dan
resistansi 200 ohm. Diketahui tegangan fase 200 V pada w=400 rad/dtk.
Hitunglah
a. Arus fase
b. Arus saluran
c. Daya total yang diserap oleh beban

7.8 BahanBacaan
1. A. Bruce Carlson, 2000, CIRCUITS Engineering Concept and Analysis of Linier
Circuits, Brooks / Cole Thomson Learning.
4. Joseph A. Edminister, Theory and Problems of Electric Circuits, Third Edition,
Schaums Outline Series McGRAW-HILL
5. Mohammad Ramdhani, 2002, RANGKAIAN LISTRIK penerbit Erlangga
2. Ramli Cambari Saka MSc; Diktat Rangkaian Listrik
3. Robert L. Boylestad, 2003, Introductory Circuit Analysis, Tenth edition, Prentice Hall
Pearson Education International.
4. Thomas L.Floyd, 2003, Principles of Electric Circuits-Electron Flow Version, Sixth
Edition, Prentice Hall Electronics Supersite.
5. William H.Hayt,JR; Jack E.Kemmerly; Steven M.Durbin, Rangkaian Listrik Jilid 2,
Edisi Keenam, Penerbit Erlangga; 2005


clxxv

GARIS BESAR RENCANA PEMBELAJARAN (GBRP)



Nama Mata Kuliah :Rangkaian Listrik II
Kode Mata Kuliah : 406D4102
Semester Penyajian : III (tiga)
Prasyarat :Rangkaian Listrik I , Matematika Teknik

Kompetensi Utama : Kemampuan dalam menerapkan pengetahuan dasar Rangkaian Listrik dala
Telekomunikasi serta Kendali, Komputer dan Elektronika (No. 1)
Kompetensi Pendukung : Kemampuan bekerjasama, baik sebagai ketua maupun anggota dari sebuah t
Kemampuan berkomunikasi dan beradaptasi dalam lingkungan kerja (No. 11)

Kompetensi lainnya :
(Institusial)



Sasaran Pembelajaran :









Kemampuan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berbudi pe
dan moral, berkepribadian yang mantap dan mandiri serta bertanggung jaw
dan bangsa (No. 13)


Selesai mengikuti mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menyelesaiaka
tori-teori rangkaian, persoalan transien dengan penggunaan persamaandiffe
Laplace,analisa rangkaian dengan trasformasi Fourier, rangkaian dua pintu, s















clxxvi











Sasaran pembelajaran
Materi
Pembelajaran/topik
kajian
Strateg
pemb
2 3
untuk : Mengimplementasikananalisissimpul (nodal), jerat (loop)
n PersamaanRangkaian
(AnalisisSimpul dan
Jerat)
Kuliah + Kerja
(ProblemB
untukmenyelesaikansuaturangkaiandenganmenggunakanterorisupersposisi,
n, transformasisumberdanmenentukanresistansibeban yang akanmenghasilkan
TeoriRangkaian
(Superposisi,
Reciprocity,Thevenin,
Norton, transfer
dayamaksimum)
Tutorial (Proble
clxxvii

untuk : Menghitungrespons/tanggapan total darisebuahrangkaian RL, RC, RLC


lasik (diferensial) danmetodetransformasi Laplace.
Persamaan
diferensial dan
transformasi laplace
dalam persoalan
transien
Kuliah + KerjaK
Presentasi
(CollaborativeL


an rangkaian dan menerapkan teknik-teknik analisis rangkaian dengan tepat
Uji Kompetensi (Mid
Test)
Studi Kasus
puuntuk :
arangkaiansatupintudenganrangkaianduapintu, menghitung parameter z, y,
mencirikanrangkaiandengan parameter z, y, g dan h
gkaiandenganmenggunakan parameter-parameter rangkaianberkaskade.



Rangkaianduapintu
(Two Port Network)
Kuliah +
KeraTugas(Col
untukmempresentasikanfungsiperiodikdenganmenggunakanbentuktrigonometrideret
menyatakansuatufungsidengansifatkesimetriangenapdanganjil,
ldandapatmenganalisisrangkaiandalam domain
ntransformasi Fourier.
Penggunaan
transformasi Fourier
dalam analisa
rangkaian


Kuliah + Kerja T
(ProblemBased
ngkaiansatufasadanrangkaiantigafasa, menguasaisumbertigafasaterhubung-Y
nikanalisis per fasadarisuatusistemtigafasa.
Rangkaian Sistem
tiga fasa seimbang
Kuliah + Kerja T
(ProblemBased
clxxviii






Namadankode dosenpengampuhmatakuliahj

1. Ir. Sri Mawar Said, MT (D41-SM)
2. Ir. ZaenabMuslimin, MT (D41-ZM)
3. FitriyantiMayasari, ST (D41-FM)

Daftar pustaka
7. A. Bruce Carlson, 2000, CIRCUITS Engineering Concept and Analysis of Linier Circuits,
Brooks / Cole Thomson Learning.
8. Carl H.Durney; L.Dale Harris; Charles L.Alley, Electric Circuits Theory and Engineering
Application, Holt-Saunders international Edition.
9. Hugh Hildreth Skilling; Electrical Engineering Circuits ,John Wiley & Son. Inc.
10. Joseph A. Edminister, Theory and Problems of Electric Circuits, Third Edition, Schaums
Outline Series McGRAW-HILL
11. Mohammad Ramdhani, 2002, RANGKAIAN LISTRIK penerbitErlangga
12. RamliCambariSaka MSc; Diktat RangkaianListrik
menerapkan konsep dengan tepat
UjiKompetensi (Final
Test)
StudiKasus
clxxix

13. Robert L. Boylestad, 2003, Introductory Circuit Analysis, Tenth edition, Prentice Hall
Pearson Education International.
14. Thomas L.Floyd, 2003, Principles of Electric Circuits-Electron Flow Version, Sixth Edition,
Prentice Hall Electronics Supersite.
15. William H.Hayt,JR; Jack E.Kemmerly; Steven M.Durbin, RangkaianListrikJilid 1,
EdisiKeenam, PenerbitErlangga; 2005
16. SudaryantoSudirham ;AnalisisRangkaianListrik , Penerbit ITB Bandung.



















clxxx