Anda di halaman 1dari 59

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses perawatan mesin produksi tidak mungkin dihindari oleh suatu
perusahaan karena hal ini berkaitan erat dengan kelancaran proses produksi dari
perusahaan tersebut. Seiring dengan kemajuan teknologi di era globalisasi ini,
semakin meningkat pula cara perawatan (maintenance) yang dapat dilakukan oleh
perusahaan atau pabrik di seluruh dunia terhadap peralatan-peralatan produksinya
guna pencapaian kondisi peralatan maupun mesin yang dalam keadaan siap
beroperasi tanpa harus sering mengalami kerusakan. Hal ini akan sangat
berpengaruh kepada tinggi rendahnya biaya produksi suatu perusahaan yang harus
dikeluarkan. Konsep dasarnya adalah menjaga atau memperbaiki peralatan
maupun mesin hingga jikalau dapat kembali kekeadaan aslinya dengan waktu
yang singkat dan biaya yang murah.
P. Perkebunan !usantara """ Kebun #ambutan menggunakan berbagai
peralatan yang mendukung proses dalam menghasilkan minyak sawit (Crude
Palm Oil) dari daging buah dan inti sawit (kernel) dari biji buah, agar diperoleh
kualitas dan mutu produk yang tinggi. $uah kelapa sawit setelah dipanen harus
segera diangkut ke pabrik untuk segera diolah. Penyimpanan buah terlalu lama
dapat menyebabkan kadar asam lemak bebas menjadi tinggi. Pengolahan
dilakukan paling lambat % jam setelah dipanen.
&i pabrik, tandan buah segar ($S) akan diterima oleh stasiun Penerimaan
$uah (loading ramp), pada stasiun ini $S diterima dengan ditimbang dan
diseleksi sesuai mutunya sesuai standar 'raksi kematangan, setelah itu $S
dibawa ke Stasiun Sterilisasi dengan menggunakan lori dan direbus dalam
Sterilizer dengan uap bertekanan untuk memudahkan proses pengolahan
selanjutnya sekaligus menekan laju kenaikan asam lemak bebas (()$), setelah itu
$S yang telah direbus masuk dalam Stasiun Thresing (theressing station) untuk
memisahkan antara buah sawit dan tandan kosongnya, setelah itu berondolan
sawit dikirim ke Stasiun Press. Pada Stasiun Press, buah sawit yang telah lepas
*
dari tandan kosongnnya dimasukkan ke dalam mesin pencacah (digester) untuk
melumatkan daging buah sawit sehingga memudahkan proses pengepressan, lalu
dipres dengan mesin Screw Press untuk mengeluarkan minyak sawitnya (Crude
Palm Oil) dari serabutnya dan dimurnikan di Clarification station. (mpas sisa
pengepresan tadi, dikeringkan dengan menggunakan blower untuk memisahkan
biji (nut) dengan sabut (fibre). $iji dikeringkan dan dipecahkan di Stasiun Kernel
agar inti sawit (kernel) terpisah dari cangkangnya serta proses pengeringan inti
sampai menjadi inti produksi dengan standar mutu Kadar (ir + ,- dan Kadar
Kotoran + .-. Selanjutnya pada stasiun klari'ikasi yaitu tempat untuk proses
pemunian minyak sawit dengan metode gra'imetris dan sentri'ugasi, hingga
menjadi minyak produksi dengan mutu kadar air + /,*0 - dan kadar kotoran +
/,/1 -.
&ari penjelasan proses diatas, suatu proses tidak dapat berlangsung secara
maksimal bila proses sebelumnya belum berjalan2selesai. (tas dasar inilah
perlunya dilakukan perawatan (maintenance) terhadap setiap peralatan dan mesin
yang terdapat di pabrik kelapa sawit ini agar proses produksi dapat berjalan sesuai
dengan yang diinginkan.
Screw Press ber'ungsi untuk mengeluarkan minyak dari daging buah dengan
cara dipres atau ditekan. PP! """ Kebun #ambutan memiliki 3 buah Press
station dengan kapasitas olah masing-masing */ on2jam. $uah sawit yang telah
dilumatkan daging buahnya dari mesin Digester dialirkan ke Screw Press melalui
Chute. &idalam Screw Press terdapat alat Worm Screw yang berbentuk ulir. (lat
ini dibungkus oleh 4aket (Seicher) yang memiliki lubang-lubang kecil 5 3 mm
(61/// lubang) tempat minyak hasil perasan nanti mengalir. Worm Screw
menekan daging buah dari sisi buah masuk dengan menggunakan putaran yang
berasal dari motor listrik berdaya 11 K7, dan ditahan oleh Cone pada ujung
sisinya dengan menggunakan daya tekanan hidrolik (6/-3/ bar) dan daging buah
diperas, sehingga melalui lubang-lubang Seicher minyak dipisahkan dari serabut
(Fibre) dan biji (Nut).
(lat worm screw press sangat menentukan kualitas hasil pengepresan buah
sawit, karena alat inilah yang memisahkan antara minyak sawit dan sabut buah
sawit. Karena alat ini bekerja dengan menggunakan tekanan putaran kerja yang
1
tinggi sehingga dapat menyababkan keausan pada ulir-ulirnya, bahkan tak jarang
dapat terjadi patah pada ulir tersebut saat beban kerja. Hal ini tentu sangat
berpengaruh pada kualitas produk yang dihasilkan, karena apabila keausan yang
terjadi sudah cukup besar sehingga menyebabkan kerenggangan yang besar pada
sisi luar ulir dengan 4acket dan Cone, maka dapat menyebabkan kerugian minyak
sawit yang dihasilkan karena kualitas pengepressan sudah berkurang. Hal ini
dapat dilihat dari ampas yang dihasilkan setelah pengepressan masih terlihat basah
dan mengandung minyak atau tidak terperas sempurna. Setiap pabrikan worm
press selalu memberikan lifetime pemakaian worm screw karena alat ini sangat
rentan dengan keausan dan kerusakan. 8leh karena itu diperlukan perawatan yang
intensi' kepada peralatan ini untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.
1.2 Perumusan Masalah
Worm screw press yang dipakai pada pabrik kelapa sawit PP! """ Kebun
#ambutan mengalami keausan setelah sekian waktu pengoperasiannya dan
terkadang tidak sesuai dengan waktu atau lifetime yang direkomendasikan dari
pabrik pembuatan worm screw pressnya. Hal inilah yang dipandang penting
untuk diteliti dan dikaji lebih lanjut tentang kasus kegagalan yang terjadi. &engan
dilandasi latar belakang diatas penulis memandang perlu untuk diadakan suatu
kajian lebih lanjut untuk mengetahui penyebab kegagalan pada worm screw press
tersebut.
1.3 Tujuan Penelitian
(dapun tujuan dari penelitian ini adalah
*. &apat mengetahui gaya-gaya yang bekerja pada worm press.
1. 9enganalisa kegagalan atau kerusakan yang terjadi pada worm screw
press yang dapat mengurangi umur pemakaian (life time).
1.4 Manaat Penelitian
Penelitian ini berman'aat untuk dapat mengetahui penyebab kegagalan atau
kerusakan dan keausan pada worm press, dan dapat diaplikasikan pada pabrik
6
kelapa sawit sehingga dapat menge'isienkan biaya perawatan screw press dan
juga sebagai bahan kajian penelitian lebih lanjut lainnya.
1.! Batasan Masalah
:ang akan dibahas dalam penelitian ini adalah
*. 9enghitung gaya-gaya yang bekerja pada worm screw press!
1. 9enganalisa kasus kegagalan yang terjadi pada worm screw press yang
terjadi setelah sekian waktu pengoperasian (berdasarkan data lapangan).
1." Met#$#l#gi Penelitian
Pelaksanaan penelitian tugas akhir ini dengan melalui tahapan sebagai
berikut, yaitu ;
*. Stud" )iteratur
Stud" )iteratur ini merupakan studi kepustakaan meliputi
pengambilan teori-teori serta rumus-rumus dari berbagai sumber bacaan
seperti buku, jurnal ilmiah, skripsi2tesis mahasiswa, dan sumber-sumber
dari internet yang berkaitan dengan tugas akhir ini.
1. Sur<ey )apangan.
9elakukan sur#e" lapangan langsung untuk melihat spesi'ikasi
screw press pada pabrik kelapa sawit PP! """ Kebun #ambutan yang
berkapasitas olah 6/ ton $S2jam.
6. &iskusi
$erupa tanya jawab dengan dosen pembimbing mengenai penelitian
yang dilakukan.
3
BAB 2
T%N&AUAN PU'TA(A
2.1. 'ejarah 'ingkat P(' )am*utan
PKS #ambutan (gambar 1.*) merupakan salah satu Pabrik dari ** PKS
yang dimiliki P. Perkebunan !usantara-""", yang terletak di &esa Paya $agas
Kecamatan #ambutan, Kotamadya ebing inggi, Propinsi Sumatera =tara,
sekitar %0 km kearah enggara Kota 9edan.
PKS #ambutan dibangun pada tahun *>%6 dengan kapasitas olah 6/
ton2jam. &imana sumber bahan baku ($S) berasal dari kebun seinduk, kebun
pihak ketiga terutama Perkebunan "nti #akyat (P"#) yang berada di daerah
Serdang $edagai2&eli Serdang dan sekitarnya.

+am*ar 2.1 Pabrik Kelapa Sawit #ambutan PP! """.
2.1.1. Pr#il Pa*rik
2.1.1.1. 'um*er Bahan Baku $an )ealisasi Penerimaan
Sumber bahan baku $S yang masuk ke PKS #ambutan berasal dari ;
a. Kebun Seinduk yang terdiri dari ;
Kebun #ambutan.
Kebun anah #aja.
Kebun ?unung Pamela.
Kebun ?unung 9onako.
0
Kebun Sarang ?iting.
Kebun Silau &unia.
Kebun Sei Putih.
Kebun ?unung Para
b. Pihak """ yang terdiri dari ;
P"#
Pembelian $S pihak """
2.1.1.2. 'um*er Da,a Manusia
=ntuk mendukung kelancaran Pengoperasian, PKS - #ambutan
mempunyai enaga Kerja sebanyak 116 orang dengan perincian sbb. ;
*. Karyawan Pimpinan @ , orang.
1. Karyawan Pengolahan. @ %1 orang (1 Shi't)
6. Karyawan )aboratorium 2 Sortasi @ 61 orang
3. Karyawan $engkel @ 3/ orang
0. Karyawan &inas Sipil @ *3 orang
.. Karyawan (dministrasi @ *, orang
,. Karyawan $agian =mum2Hansip @ 16 orang
%. Karyawan $agian Produksi @ % orang
2.1.1.3. (egiatan Usaha
PKS #ambutan mengolah andan $uah Segar ($S) buah Sawit menjadi
Crude Palm Oil (AP8) dan Kernel.
2.1.1.4. 'tasiun Peng#lahan
=ntuk mengolah $S menjadi Crude Palm Oil (AP8) dan Kernel, PKS
#ambutan memiliki ** stasiun kerja yang saling terkait, yaitu ;
*. Stasiun penerimaan $S dan pengiriman produksi.
1. Stasiun $oading %amp.
6. Stasiun #ebusan
3. Stasiun Threshing
0. Stasiun Pressing
.
.. Stasiun Klari'ikasi
,. Stasiun Kernel
%. Stasiun Water treatment
>. Stasiun Power Plant
*/. Stasiun $oiler
**. Stasiun Fat-fit dan &ffluent
Skema &iagram Pengolahan Pabrik Kelapa Sawit dijelaskan pada gambar
1.1. Secara garis besar, skema tersebut menjelaskan seluruh bagian pemrosesan
kelapa sawit yang ada di pabrik kelapa sawit mulai dari buah sawit yang masuk
hingga menjadi AP8. =ntuk pembahasan selanjutnya, kita akan 'okus pada
stasiun pengepressan (Pressing Station).
,
Boiler

Kernel Station
Dust
Feul
(Fibre & Shell)
Gas
Nut Nut Silo Ripple Mill Clay Bath Kernel Silo
Press
Digester
Threser
Sterillizer
BPV
Turbin
Fibre
Sparator
CPO
Vibro
Sparator
Crue Oil Tan!
"o# Spee
Sparator
Oil Tan!
Oil Puri$ier
Oil Station
%ater Re&ourses
'!sternal
(nion)Kation
Dearator
Stea*
Hot Water
Water
+ot %ater
Tan!

Storage
Tan!
Fat Pit '$$luent Treat*ent Plant
Condensate
to Fat Pit
Waste Water Cooler
Condensat Heater Waste to Effluent
"an (ppli&ation
Kernel
Oil
Recover
Clari$ier Tan!
FFB
Fro*
Plantation
Crude Oil
Sumber: Bagian Perencanaan PTPN 3
CPO
Kernel
Hi!h Pullutan
"o# Pollutan
Ra# Water
Water
Stea$ & Hot Water
Oil
Nut & Kernel
FF%
Stea$ to &roces
P#-er 'tati#n
Water 'reat$ent
Plant
Fibre & shell
+am*ar 2.2 Skematik &iagram Pengolahan Pabrik Kelapa Sawit
6/ on
*>,% on
%
2.2. 'tasiun Pengem.aan /Pressing Station0
Pada stasiun pengempaan terdapat dua unit sistem yang memegang peranan
dalam satuan operasi pengolahan kelapa sawit yang terdiri atas mesin digester dan
mesin screw press (gambar 1.6)
+am*ar 2.3 Stasiun Press
Secara umum, buah kelapa sawit (gambar 1.3) terdiri dari daging buah,
cangkang, dan inti. ebal daging buah dari buah yang cukup baik atau normal
berkisar antara 1 hingga % mm sesuai dengan ukuran buahnya.
+am*ar 2.4 $uah Kelapa Sawit
2.2.1 Penga$ukan /Digester0
Digester berasal dari kata dasar BdigestC yang berarti mencabik, jadi yang
dimaksud dengan mesin digester adalah suatu mesin yang digunakan untuk
mencabik sambil mengaduk, dalam hal ini yang diaduk adalah buah sawit yang
telah lepas (rontok) dari tandannya setelah melewati stasiun threshing.
>
)alu buah sawit yang telah menjadi berondolan tersebut dilumatkan dengan
cara disayat-sayat daging buahnya dan diaduk dalam ketel adukan (digester).
$uah menjadi hancur akibat adukan pisau-pisau (stirring arm) yang berputar
sekitar 10-1. rpm sehingga buah bergesekan dengan pisau digester dan dinding
digester. Proses pengadukan dalam digester dibantu oleh uap (steam) yang berasal
dari 'ack Preassure (essel ($PD) dengan suhu uap sebesar >/
/
A. =ap tersebut
dimasukkan kedalam digester dengan cara diinjeksikan menggunakan pipa uap.
=ap (steam) tersebut bertekanan 6 kg2cm
1
. Pengadukan dalam digester
berlangsung selama 6/ menit supaya daging buah sawit tercabik sempurna.
9inyak yang mulai keluar dari bottom bearing digester ditampung ditalang
minyak untuk selanjutnya di kirim ke #ibrating sceen. Setelah sampai pada tingkat
terbawah maka buah sawit selanjutnya di kirim oleh e)peller arm ke bagian chute
untuk selanjutnya diperas minyaknya di mesin pengempa (screw press). $uah
yang diperas berupa lumatan buah sawit yang disayat-sayat dimana struktur
jaringan buah telah rusak dan membuka sel sel yang mengandung inti minyak,
daging buah (pericarp) pecah dan terlepas dari biji (nut), serat-serat buah harus
masih jelas kelihatan dan bersi'at homogen E(dlin )ubis,*>>3F
=ntuk lebih jelasnya, ?ambar 1.0 menjelaskan tentang instalasi Digester
dan Screw Press pada Pabrik Kelapa Sawit.

+am*ar 2.! "nstalasi Digester dan Screw Press pada Pabrik Kelapa Sawit
*/
ujuan utama dari proses pengadukan adalah untuk mempersiapkan daging
buah untuk di-press, sehingga minyak dengan mudah dapat dipisahkan dari
daging buah dengan kerugian yang sekecil-kecilnya. =ntuk mencapai tujuan itu
diperlukan syarat-syarat sebagai berikut ;
a. Pengadukan harus menghasilkan cincangan yang baik sehingga daging buah
terlepas seluruhnya dari bijinya dan tidak boleh ada lagi terdapat buah yang
utuh, dimana daging buah masih melekat pada bijinya.
b. Pengadukan harus menghasilkan massa yang sama rata, dan biji-biji tidak
boleh terpisah dari daging buah dan turun ke bagian bawah ketel.
c. &aging buah tidak boleh teremas terlalu lumat menjadi bubur, harus tampak
struktur serabut dari daging buah.
Penelitian terhadap syarat-syarat diatas adalah penting sekali, sebagian besar
diperoleh dari penglihatan dan pengamatan minyak yang keluar dari bejana
pengadukan. =ntuk mencapai hasil pengadukan yang baik maka pengadukan
harus dilakukan pada digester yang berisi ,0 persen saja. 4ika digester hanya terisi
,0 persen, maka tekanan yang ditimbulkan oleh beban berat isian itu sendiri
mempertinggi gaya-gaya gesekan yang diperlukan untuk memperoleh hasil yang
optimal. 4angka waktu pengadukan yang dialami oleh digester sebelum dikempa
atau di-press juga merupakan 'aktor yang cukup penting untuk dapat memenuhi
syarat-syarat pengadukan yang baik. Semakin banyak isian suatu digester maka
semakin lama buah teraduk sebelum masuk ke screw press. 4adi gabungan kedua
'aktor diatas dapat disimpulkan bahwa isian digester dan jangka waktu
pengadukan harus diusahakan sejauh mungkin untuk dipenuhi secara simultan.
2.2.2 Pengem.aan /Presser0
Pengempaan bertujuan untuk mengambil minyak dari adukan hasil output
digester, dimana buah-buah yang telah diaduk secara bertahap dengan bantuan
pisau-pisau stirring arm di digester dimasukkan ke dalam feed screw con#e"or
dan mendorongnya masuk ke dalam mesin pengempa (twin screw press), seperti
dijelaskan pada gambar 1...
**
+am*ar 2." 9odel Screw Press yang &igunakan pada Pengolahan Kelapa Sawit
8leh karena adanya tekanan screw yang ditahan oleh cone, massa tersebut
diperas sehingga melalui lubang-lubang press cage minyak dipisahkan dari
serabut dan biji. Hasil yang keluar dari proses berupa ampas dan biji yang
selanjutnya masuk ke Cake 'ake Con#e"or dan minyak kasar yang masih
mengandung kotoran seperti pasir, serat-serat dan air yang selanjutnya akan
melewati tahap klari'ikasi berupa Sand Trap Tank untuk memisahkan pasir dari
minyak kasar yang berasal dari screw press dan (ibrating Screen untuk
memisahkan serat-serat dari minyak kasar tersebut dan selanjutnya dikirim ke
Crude Oil Tank sebagai tangki penampungan minyak kasar.
*1
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pengempaan ini antara lain;
a. (mpas kempa (press cake) harus merata keluar di sekitar konus
b. ekanan hidrolik pada kumulator dijaga 6/-3/ bar.
c. $ila screw press harus berhenti pada waktu yang lama, screw press harus
dikosongkan.
d. ekanan kempa yang terlalu tinggi akan mengakibatkan kadar inti pecah
bertambah dan kerugian inti bertambah.
e. ekanan kempa yang terlalu rendah akan mengakibatkan cake basah,
kerugian (looses) pada ampas dan biji bertambah, pemisahan ampas dan
biji tidak sempurna, bahan bakar ampas basah sehingga pembakaran dalam
dapur boiler pun menjadi tidak sempurna.
2.3 'istem Manajemen Pemeliharaan Pa*rik
Sistem pemeliharaan adalah suatu kombinasi dari setiap tindakan yang
dilakukan untuk menjaga suatu barang dalam atau untuk memperbaikinya sampai
suatu kondisi yang diterima (Aorder (.S, *>>1).
2.3.1 &enis1jenis Manajemen Pemeliharaan Pa*rik
2.3.1.1 Pemeliharaan )utin /Preventive Maintenance0
Prinsip dari sistem perawatan ini adalah melakukan perawatan pada selang
waktu yang ditentukan sebelumnya, atau terhadap kriteria lain yang diuraikan, dan
dimaksudkan untuk mengurangi bagian-bagian lain tidak memenuhi kondisi yang
bisa diterima (Aorder (.S, *>>1).
Seperti dalam industri motor masih dikenal istilah Gser<isH istilah ini
meliputi semua pemeriksaan dan penyetelan yang tercakup dalam buku petunjuk
pemeliharaan, terutama pelumasan, pengisian kembali, pemeriksaan minor dan
sebagainya. &alam setiap kejadian pemeliharaan korekti' biasanya memerlukan
keadaan berhenti, sedangkan pemeliharaan rutin (pre#enti#e maintenance) dapat
dilakukan pada waktu berhenti maupun waktu berjalan (Aorder (.S, *>>1)
2.3.1.2 Pemeliharaan 'etelah )usak /Breakdown Maintenance0
Pemeliharaan setelah rusak ('reakdown) merupakan pemeliharaan yang
dilakukan terhadap peralatan setelah peralatan mengalami kerusakan sehinggga
*6
terjadi kegagalan yang menghasilkan ketidaktersediaan suatu alat (Aorder (.S,
*>>1).
Pada mulanya semua industri menggunakan sistem ini. 4ika industri
memakai sistem ini maka kerusakan mesin akan berulang dan 'rekuensi
kerusakannya sama setiap tahunnya. "ndustri yang menggunakan sistem ini
dianjurkan menyiapkan cadangan mesin (stand b" machine) bagi mesin-mesin
yang <ital. Si'at lain dari sistem ini adalah data dan 'ile in'ormasi, dimana data
dan 'ile in'ormasi perbaikan mesin2peralatan harus tetap dijaga. Pada sistem ini
untuk pembongkaran tahunan tidak ada karena pada saat dilakukan penyetelan
dan perbaikan, unit-unit cadanganlah yang dipakai. Sistem 'reakdown
*aintenance ini sudah banyak ditinggalkan oleh industri-industri karena sudah
ketinggalan Iaman karena tidak sistematik secara keseluruhannya dan banyak
mengeluarkan biaya.
2.3.1.3 Pemeliharaan (#rekti /Corrective Maintenance0
Pemeliharaan korekti' adalah pemeliharaan yang dilakukan untuk
memperbaiki suatu bagian (termasuk penyetelan dan reparasi) yang telah terhenti
untuk memenuhi suati kondisi yang bisa diterima (Aorder (.S, *>>1).
9isalnya sebuah mesin telah beroperasi berjam-jam dan meskipun telah
dilakukan pemeliharaan pencegahan secara teratur tetapi akan datang masanya
karena keausan atau retak, maka mesin tersebut harus mengalami o#erhaul!
2.3.1.4 Pemeliharaan Darurat /Emergency Maintenance0
Pemeliharaan darurat adalah pemeliharaan yang perlu segera dilakukan
untuk mencegah akibat yang serius (Aorder (.S, *>>1).
9isalnya sebuah mesin sedang beroperasi namun tiba-tiba mesin tersebut
mati. $erapa kalipun dihidupkan ternyata tidak mau hidup lagi. Ketika tutup
mesin dibuka ternyata air radiator mesin habis, setelah diperiksa didapat
kerusakan di bagian pipa radiator, dan ada juga bagian mesin yang retak. (kibat
kerusakan tersebut maka diperlukan adanya reparasi atau penggantian unit yang
mengakibatkan operasi mesin harus terhenti untuk beberapa saat.
*3
2.3.2. Maksu$ $an Tujuan Manajemen Pemeliharaan Pa*rik
(dapun maksud pemeliharaan adalah untuk meningkatkan e'ekti<itas serta
porsi keuntungan bagi perusahaan (Suharto, *>>*). Hal ini bisa dimungkinkan
karena dengan dilakukannya perawatan maka dapat ditekan ongkos produksi
disamping dapat pula ditingkatkan kapasitas produksi suatu mesin.
(dapun tujuan utama dilakukannya pemeliharaan adalah ;
=ntuk memperpanjang usia kegunaan asset.
=ntuk menjamin ketersediaan optimum peralatan yang dipasang untuk
produksi dan mendapatkan laba in<estasi maksimum.
=ntuk menjamin kesiapan operasional dari seluruh peralatan yang
diperlukan dalam keadaan darurat setiap waktu.
=ntuk menjamin keselamatan orang yang menggunakan sarana tersebut
(Aorder (.S, *>>1).
2.4. Corrective Maintenance
#eparasi mesin setelah mengalami kerusakan bukanlah kebijaksanaan
pemeliharaan yang paling baik. $iaya pemeliharaan terbesar biasanya bukan biaya
reparasi, bahkan bila hal itu dilakukan dengan kerja lembur. )ebih sering unsur
biaya pokok adalah biaya berhenti untuk reparasi. Kerusakan-kerusakan yang
terjadi pada mesin walaupun reparasi dilakukan secara cepat akan menghentikan
operasi, para karyawan dan mesin menganggur, produksi terganggu bahkan dapat
menghentikan jalannya produksi +,li *ashar- .//01.
Pemeliharaan Correcti#e adalah peningkatan perbaikan kemampuan
peralatan mesin kedepan karena kegagalan atau pengurangan kemampuan mesin
selama pemeliharaan pre#enti#e dikerjakan atau sebaliknya, demi perbaikan mesin
dan optimal dalam penggunaannya. Pemeliharaan correcti#e terdiri dari beberapa
bagian seperti ;
*. Perbaikan karena rusak.
$agian ini 'okus dengan perbaikan pada bagian kerusakan peralatan supaya
kembali kepada kondisi operasionalnya.
*0
1. 8<erhaul.
$agian ini 'okus dengan perbaikan atau memulihkan kembali (restoring)
peralatan ke keadaan yang semula yang dapat dipergunakan (complete
ser#iceable) untuk seluruh peralatan di pabrik tersebut.
6. Sal#age;
$agian ini 'okus dengan pembuangan dari material yang tidak dapat
diperbaiki dan peman'aatan material yang masih bisa dipakai dari peralatan yang
tidak dapat diperbaiki pada o<erhaul, perbaikan karena rusak dan rebuild
programs.
3. Ser#icing;
ipe bagian pemeliharaan korekti' ini mungkin dibutuhkan karena adanya
tindakan pemeliharaan korekti', seperti pengelasan, dan lainnya.
0. %ebuild;
$agian ini 'okus dengan pemulihkan kembali (restoring) peralatan ke
keadaan yang standard sedekat mungkin ke keadaan aslinya berkenaan dengan
keadaan 'isik, daya guna dan perpanjangan masa pakai ($. S. &hillon, 1//.).
?ambar 1., menjelaskan tentang gra'ik pola kerusakan alat atau mesin pada
umumnya.
+am*ar 2.2 ?ra'ik Pola Kerusakan (lat pada =mumnya
(#al Pe)
*a!aian
Pe*a!aian Nor*al
(lat rusa!
,
Titik kritis
Waktu
-u*lah Kerusa!an
Sumber gambar : R. Keith Mobley 2004
*.
&ari gambar 1., gra'ik diatas dapat dilihat bahwa suatu peralataan baru
mempunyai suatu kemungkinan kegagalan atau kerusakan yang tinggi yang
disebabkan instalasi awal proses operasi. Pada awal periode, kemungkinan
terjadinya kerusakan dari peralatan tersebut menjadi tinggi. Setelah peralatan
berjalan dengan normal, maka tingkat kerusakan akan stabil dan meningkat
kembali seiring berjalannya waktu. Pemeliharaan correcti#e bertujuan untuk
memperbaiki kondisi peralatan ketika rusak, supaya dapat kembali normal
ataupun lebih maningkat kinerjanya.
9enurut R. Keith Mobley dalam bukunya yang berjudul Maintenance
Fundamentals Edisi kedua, tahun 2004, baha !emeliharaan atau maintenance
da!at digolongkan menjadi tiga ti!e bagian besar !emeliharaan, se!erti yang
dijelaskan !ada gambar 2." dibaah ini.
Sumber ; R. Keith Mobley 2004
+am*ar 2.3 Struktur dari 9aintenance.
Pada gambar 1.% diatas dapat kita lihat bagaimana pembagian pemeliharaan
yang cukup lengkap. Pada pembagian sistem pemeliharaan correcti#e terdapat *
bagian utama sistem pemeliharaan yang terdiri dari 'reakdowns *aintenance-
&mergenc" *aintenance- %emedial *aintenance- %epairs *aintenance dan
%ebuilds *aintenance!
%MP)45EMENT
/M%0
MA%NTENAN6E
P)E5ENT%5E
/PM0
)elia*ilit,1$ri7en
9odi'ication
#etro'it
#edesign
Ahange order
64))E6T%5E
/6M0
Pre$i8ti7e
Statistical analysis
rends
Dibration monitoring Tri*#l#g,
hermography =ltrasonics
8ther !&
Time1E9ui.ment
Periodic
JiKed inter<als
Hard time limits
Speci'ic time
E9ui.ment1$ri7en
Sel'-scheduled
9achine-cued
Aontrol limits
7hen de'icient (s reLuired
E7ent1$ri7en
$reakdonws
Mmergency #emedial
#epairs Rebuilds
*,
Pada pembagian bagian sistem correcti#e *aintenance terdapat salah satu
bagian yang membahas mengenai %emedial (untuk perbaikan kedepan). Kita akan
'okus dalam hal ini karena tujuan utama dari skripsi ini adalah perbaikan dalam
mesin screw press!
9asalah utama yang dijumpai pada mesin screw press adalah terjadinya
keausan pada ulir screw press akibat torsi dan tekanan kerja dari konus yang
menekan buah sawit setelah sekian waktu pemakaian. erkadang masa pakai yang
direkomendasikan oleh pabrik pembuatan screw press tersebut tidak sesuai
dengan kondisi aktualnya, sehingga menimbulkan kerugian biaya dan waktu.
9ekanisme keausan yang disebabkan gesekan sering juga disebut dengan istilah
tribolog"!
2.4.1 Mekanisme Tribology
Tribolog" ini adalah salah satu cabang ilmu dalam bidang engineering yang
'okus membahas tentang tiga bagian penting 'enomena dalam permesinan yang
sangat erat hubungannya satu sama lain. Ketiga bagian tersebut adalah gesekan
(friction), keausan (wear) dan pelumasan (lubrication) (Gwidon W. Stachowiak
and Andrew W. Batchelor). Ketiga bagian ini pasti terjadi pada permesinan dan
amatlah penting untuk dibahas. 4adi dapat disimpulkan topik pembahasan pada
bagian remedial ini adalah memperhitungkan terjadinya gesekan dalam setiap
komponen permesinan yang dapat menyebabkan keausan yang melibatkan
pelumasan, baik itu pelumasan kering dan basah supaya kedepannya dapat
diambil suatu tindakan pencegahan atau pengurangan keausan tersebut.
(us terjadi karena adanya kontak gesek antara dua permukaan benda dan
menyebabkan adanya perpindahan material dan adanya pengurangan dimensi
pada benda tersebut. &e'enisi keausan menurut standard 4erman (&"! 0/ 61/)
bahwa keausan di de'enisikan sebagai kehilangan material secara bertahap dari
permukaan benda yang bersentuhan (heo 9ang and 7il'ried &resel, 1//,).
Keausan yang terjadi pada setiap sistem mekanisme sebenarnya sangat sulit
diprediksi secara teori atau perumusannya, karena banyak 'aktor dilapangan yang
menyebabkan kekeliruan dalam memprediksi keausan tersebut (K. A. )udema,
*>>.).
*%
Keausan sendiri terbagi dalam bebrapa jenis keausan, seperti keausan
abrasi', adesi', korosi', keausan 'atik, kimia, erosi dan lain-lain. Keausan yang
terjadi pada pembahasan skripsi ini adalan keusan jenis abrasi'. (brasi' dan
kontak lelah (fatigue cantact) adalah hal yang paling penting dalam perhitungan
keausan pada permesinan. $isa diperkirakan bahwa total keausan yang terjadi
pada elemen-elemen mesin dapat kisarkan antara %/->/- adalah keausan abrasi'
dan dalam %- adalan keausan lelah (wear fatigue). Kontribusi dari jenis keausan
yang lain sangatlah kecil. Sebagian besar pengamatan keausan dilakukan secara
tidak langsung. Salah satunya adalah dengan menimbang berat spesimen atau
benda kerja. "ni adalah cara yang termudah untuk dapat mendeteksi keausan. &ari
menimbang berat benda kerja yang akan dianalisa, kita dapat mengetahui berapa
total material yang telah aus dari selisih berat awal benda kerja sebelum operasi
dengan berat benda kerja setelah operasi, tetapi distribusi kedalaman keausan
yang terjadi pada permukaan kontak tidak dapat diketahui ((l'red NmitrowicI,
1//.).
9empresdiksi keausan yang terjadi pada permesinan cukuplah sulit. Setiap
rumus pada literatur yang dapat mengitung laju keausan hanya sebatas estimasi
atau pendekatan saja. Pada tahun *>0/-an 4. J. (rchard menemukan suatu hukum
yang dapat memprediksi terjadinya keausan pada material yang saling bergesekan,
dan dia menamai hukum itu dengan dirinya sendiri, yaitu hukum keausan (rchard
(,rchard wear law).
$erdasarkan hukum keausan (rchard tentang hukum keausan (wear law)
bahwa persamaan <olume keausan dapat diperoleh dengan (Gwidon W.
Stachowiak and Andrew W. Batchelor);
D @ K (
r
) @ K )
2
W
..................................... (1.*)
&imana ; D @ Dolume keausan (m
6
)
) @ 4arak lintas meluncur (m)
7 @ $eban (!)
K @ Koe'isien keausan
H @ Kekerasan material (Pascal, !2m
1
)
(r @ (rea kontak (m
1
)
2.! . Pr#ses Maintenance $i P(' )am*utan
*>
&alam melaksanakan pemeliharaan Pabrik Kelapa Sawit PKS #ambutan
mengacu ke prosedur 2 instruksi kerja ("K) PP !usantara """, adapun system
pelaksanaan pemeliharaan dilaksanakan secara Correcti#e, Pre#enti#e dan
Predicti#e *aintenance dengan alur proses dapat dilihat pada ?ambar 1.>.
+am*ar 2.: Skema (lur Proses Kegiatan Pemeliharaan
=ntuk pekerjaan correcti#e maintenance mengacu ke "K 6./1-/1 mengenai
Pelaksanaan Kegiatan eknik, dimana setiap pelaksanaan breakdown
maintenance yang harus mengacu pada Work Order yang diminta pengguna alat.
=ntuk pekerjaan pre#enti#e mengacu ke "K 6./1 O /12/% mengenai Pemeliharaan 2
Perawatan 9esin dan "nstalasi PKS dan "K 6./1 O /12/> mengenai Pemeliharaan 2
Perawatan 9esin dan "nstalasi )istrik. Sedangkan untuk pekerjaan Predicti#e
*aintenance mengacu ke "K 6./1 O //2/. mengenai Pelaksanaan Predicti#e
*aintenance.
&alam pelaksanaan pekerjaan correcti#e dan pre#enti#e maintenance yang
dilaksanakan secara S (menggunakan tenaga sendiri) spare part yang digunakan
berasal dari gudang, system pengadaan terdiri dari 6 kategori, yaitu ;
1/
Pengadaan local (8P)) oleh managemen unit langsung.
Pengadaan di tingkat &istrik 9anager, melalui &P$$
kewenangan &9
Pengadaan di tingkat Kantor &ireksi, melalui &P$$
kewenangan Kandir (Kantor &ireksi)
Ketiga jenis kategori ini dibedakan berdasarkan ada atau tidaknya sistem
keagenan atas barang2bahan yang akan diadakan, untuk barang keagenan harus
diadakan dengan kewenangan Kandir, serta berdasarkan nilai pengajuan, untuk
nilai pengajuan + #p. 0/ jt dapat diadakan secara 8P), sedangkan yang nilai
pengajuannya antara #p. 0/ jt s2d #p. 1// jt menjadi kewenangan &9 sedangkan
yang nilai pengajuannya lebih dari #p. 1// jt menjadi kewenangan Kandir.
=ntuk pekerjaan correcti#e maintenance dan pre#enti#e maintenance yang
dilaksanakan oleh tenaga pemborong (P) atau outsourcing, pelaksanaanya
berdasarkan P3 (Pengajuan Permintaan Pekerjaan Pemeliharaan 2 eknik) yang
terdiri dari 1 kategori ;
P3 di tingkat &istrik 9anager.
P3 di tingkat Kantor &ireksi.
Kedua jenis kategori ini dibedakan berdasarkan ada atau tidaknya sistem
keagenan atas peralatan yang akan diperbaiki, serta berdasarkan nilai pengajuan,
untuk nilai pengajuan + #p. 10/ jt menjadi kewenangan &9 sedangkan yang nilai
pengajuannya lebih dari #p. 10/ jt menjadi kewenangan Kandir.
Kegiatan pemeliharaan pre#enti#e dapat dipermudah dan berjalan secara
e'ekti' dengan menggunakan sistem komputer. Setiap pabrik pasti membutuhkan
sparepart, e3uipment, tool, material dan consumable dalam proses operasinya.
Semua ini dapat di jadwalkan secara komputerisasi, dan ini akan membantu
sistem pemeliharaan pre#enti#e dalam mengantur workorder, biaya, pembelian
dan penjadwalan kegiatan pemeliharaan. Pabrik kelapa sawit Kebun #ambutan
PP! """ dalam hal ini sedang akan menggunakan sistem komputerisasi (A99S)
lagi dalam membantu proses pemeliharaannya.
BAB 3
MET4D4L4+% PENEL%T%AN
1*
3.1. Dasar Pemilihan Mekanisme
&ari mekanisme-mekanisme pemeras yang ada, mekanisme pemeras yaitu
screw press merupakan mekanisme yang paling e'ekti'! Hal ini dikarenakan pada
screw press memiliki keuntungan baik dari segi teknik maupun dari segi non
teknik.
3.1.1. (euntungan $ari 'egi Teknik;
a. 9emiliki gaya tekan yang besar untuk memeras buah kelapa sawit.
b. 9emiliki konstruksi yang kokoh dan kuat. &engan demikian proses
produksi dapat berlangsung secara optimal dengan umur pemakaian yang
panjang.
c. Pengoperasian mesin yang mudah sehingga tidak memerlukan tenaga yang
ahli.
d. 9emiliki prinsip kerja yang sederhana sehingga perawatan dapat
dilakukan dengan mudah.
e. Produkti'itas yang tinggi, sebab proses produksi berlangsung secara
kontinu.
3.1.2. (euntungan $ari 'egi N#n Teknik;
a. 9esin ini dapat memeras serta menghasilkan minyak yang telah terpisah
dengan ampasnya.
b. Prinsip kerja yang sederhana, produksi secara kontinu dan e''esiensi kerja
yang tinggi.
3.2. 6ara (erja Mesin Screw Press
Pada mesin ini worm screw press memiliki peranan utama yang mendorong
dan menekan kelapa sawit supaya terjadi pemerasan. $uah sawit yang telah
11
dihancurkan pada digester diperas akibat gaya tekan yang ditimbulkan antara
screw, casing (press cage), dan cone! ?ambar 6.* menjelaskan sistem kerja screw
press ketika terisi buah sawit (keadaan bekerja) serta katika screw pres sedang
kosong (tidak bekerja).
Screw press mendapatkan tenaga putaran dari motor listrik berdaya 11 K7
(1>,0 HpP 6%/ D, *30/ rpm) yang direduksi melalui gearbo) hingga mencapai >-
** rpm dan disalurkan memalui 1 buah worm screw press! Press cage atau casing
memiliki lubang penyaringan sebanyak 61./// buah diseluruh sisinya. Cone
mendapatkan daya tekan dari pompa hidrolik sebesar 6/-3/ bar.
ekanan Konus yang terlalu besar mengakibatkan presentasi biji pecah
menjadi tinggi, tetapi bila tekanan konus terlalu kecil maka presentasi kadar
minyak pada ampas buah sawit juga menjadi besar. 9aka diperlukan suatu sistem
pengaturan yang baik pada pengaturan tekanan hidrolik konus. 9inyak kasar
sawit (AP8) dan air mulai keluar saat pengepressan berlangsung melalui 61.///
lubang pada press cage (casing) dan terpisah dari ampasnya yaitu fibre dan nut
(gambar 6.1).
Pada pengoperasiaannya, kedalam mesin pengempa ini dimasukkan air
panas supaya mempermudah pengeluaran minyak dari daging buah sawit. 9esin
ini beroperasi pada putaran rendah, yaitu >-** rpm (tergantung kebutuhan). Hal
ini bertujuan untuk memberikan waktu yang cukup dalam pengeluaran minyak
dari kelapa sawit yang telah dihancurkan hingga tuntas.
16
I

ekanan hidrolik
konus
6/-3/ bar
+am*ar 3.1 Screw Press pada keadaan operasi dan ketika tidak beroperasi serta layout screw press
13
+am*ar 3.2 Press Cage, Cone dan (mpas
Press Cage
(mpas dari Screw Press (Nut dan Fibre)
Cone
10
3.3. Bagian 'istem Screw Press ,ang Men$a.at Pera-atan )utin
$erisi tentang bagian-bagian pada mesin srew press yang akan dilakukan
perawatan rutin, meliputi
*. Digester
1. 9otor listrik
6. 4ear 'o)
3. Kopling Jlens Kaku
0. 4ear Pentrans'er Putaran Worm
.. Poros 4ear 'o)
,. Saringan (Chute)
%. Worm Screw Press
>. Penahan (Cone)
3.4. Pengam*ilan Data $an Pengukuran
Sebagai dasar perhitungan analisa gaya O gaya yang bekerja pada worm
screw press terdapat beberapa 'aktor yang harus diperhatikan, sebagaimana yang
terjadi pada proses pengolahan. Jaktor-'aktor yang dimaksud adalah;
a. (ir dimasukkan dengan temperatur >/QA yang berguna untuk mengencerkan
larutan minyak dan agar lubang-lubang saringan tidak tersumbat.
b. Kadar air tidak lebih dari 1/- terhadap buah sehingga tidak sulit diproses
di stasiun minyak.
c. ekanan dipertahankan antara 6/-3/ bar karena apabila tekanan yang
diberikan saat pengempaan (pressing) terlalu kecil, maka angka kehilangan
minyak (oil losses) lebih tinggi dan sebaliknya jika tekanan pengempaan
terlalu besar menyebabkan persentase biji pecah menjadi tinggi.
d. $uah yang masuk ke dalam screw press telah mengalami proses terdahulu
(telah dijelaskan pada $ab 1, point 1.1) sehingga massa buah dari *//-
$S menjadi ..- yang berbentuk brondolan, seperti yang dijelaskan pada
gambar 6.6 berikut.
1.
+Sumber 5 Data sesuai dengan buku operasi proses pengolahan kelapa sawit "ang terdapat di P6S1
+am*ar 3.3. 9aterial balance pengolahan kelapa sawit
&ata-data dari hasil sur<ei mesin screw press pada Pabrik Kelapa Sawit
PP! 6 Kebun #ambutan ditabulasikan pada tabel 6.* dan gambar worm screw
press pada gambar 6.3.
Ta*el 3.1 Spesi'ikasi mesin Screw Press
N# Uraian (eterangan
* Kapasitas (R) */ on $uah Sawit24am
1 T"pe Continous Double Screw press
6 ekanan Konus (cone) (P) 6/ O 3/ $ar
3 Clearance 10 mm
0 Putaran Poros (n) >-** rpm
. Siklus "nput Kontiniu
,. $erat Worm Screw +W1 *// kg @ >%* !
% 4umlah =lir 3,0
$S (*//-)
&*PT7 '8NC22
andan Kosong
(11-)
F%89TS2$erondolan
(..-)
&(, PO%,T9ON
(*1-)
C%8D& O9$
(3*-)
NOTT&N2$"4"
(*1-)
P&%9C,%P2
(mpas Kempa
(*6-)
S$8D4&
(*>-)
P8%& O9$
(11-)
S2&$$2(Aangkang)
(,-)
KM#!M)2("nti
Sawit) (.-)
1,
+am*ar 3.4 Worm Screw Press pada PKS PP! 6 Kebun #ambutan
3.!. Bahan Baku /Raw Material0
$ahan baku yang diolah dalam mesin screw press adalah buah kelapa sawit
yang telah diaduk dan dihancurkan daging buahnya dalam ketel adukan (digester).
Keadaan awal buah sawit adalah berkumpul dalam satu tandan. $uah kelapa sawit
ini termasuk jenis tumbuhan monokotil. $agian-bagian utama (gambar 6.0) yang
terdapat pada buah kelapa sawit adalah sebagai berikut.
*. )apisan bagian luar (epicarpium) yang disebut sebagai kulit luar.
1. )apisan tengah (mesocarpium) yang disebut daging buah yang
mengandung minyak.
6. )apisan dalam (endocarpium) yang disebut inti, berada dalam biji dan
mengandung minyak. &iantara mesocarpium dengan endocarpium
terdapat cangkang (shell) yang keras.
+am*ar 3.!. $agian utama buah kelapa sawit
9assa jenis buah sawit pada suhu >/
/
A, S @ .3* kg2m
6
(!aibaho,P. *>>%).
*
1
6
1%
3.". Laju Aliran 5#lume /(a.asitas0
&alam menentukan kapasitas screw press yang digunakan terdapat beberapa
hal yang perlu menjadi perhatian, antara lain;
*. Sebelum kelapa sawit masuk ke dalam digester dan screw press, massa
awal buah kelapa sawit telah berkurang. Kondisi ini disebabkan karena
pada proses penebahan pada mesin thresser buah sawit telah terpisah dari
tandannya. andan kosong tersebut dipindahkan melalui belt con#e"or ke
lokasi penampungan tandan kosong.
1. =ntuk memperoleh hasil pressan yang baik, yaitu minyak sawit yang
keluar semuanya, maka perlu diperhatikan bahwa screw press harus dalam
keadaan selalu terisi penuh. Kondisi ini dibutuhkan untuk memperoleh
e'isiensi yang lebih baik dari penekanan yang dilakukan, sebab jika
banyak ruang kosong pada saat penekanan, maka penekanan yang terjadi
tidak maksimal.
&engan memperhatikan kondisi diatas, maka kapasitas screw press yang
dapat diperoleh berdasarkan data berikut;
*. Kapasitas olah satu buah mesin screw press */ on $uah Sawit24am
1. #asio fruitlet terhadap $S sebesar .. persen
9aka fruitlet yang diolah diperoleh dihitung sebagai berikut;
R @
*//
..
K */ on $uah Sawit24am..................(6.*)
R @ ..// Kg24am
Harga <olume aliran ( #
) dapat diperoleh bilamana dihubungkan dengan
massa jenis bubur buah kelapa sawit yang besarnya S @ .3* kg2m
6
. &engan
demikian, <olume aliran kelapa sawit adalah sebagai berikut ;

:
#
........................................................................
(6.1)
1>
6
2 .3*
2 ..//
m kg
;am kg
#
<am m 2 ,/> , ,
6

3.2. Analisa +a,a .a$a Screw Press
3.2.1 +a,a T#rsi
Screw Press berguna untuk memindahkan buah hasil pencabikan (digest)
ke arah keluar (outlet). &engan adanya penyempitan yang diakibatkan konus,
maka akan terjadi pemerasan pada buah tersebut sehingga minyak keluar dari
daging buah sawit. ?ambar 6.. menerangkan ukuran screw.
+am*ar 3." Peristilahan screw press
&aerah paling kritis yang sering menjadi area keausan terjadi pada ujung
screw (dari sur<ei, gambar 6.,). &iasumsikan titk kritis tersebut terjadi pada jarak
maksimal */ mm dari sisi terluar screw. 9aka d
k
adalah;
d
k
@ 1>* - (*/ K 1) @ 1,*mm.
titik kritis
6/
+am*ar 3.2 &aerah paling kritis yang sering menjadi area keausan
Pada gambar 6.% dibawah ini, dapat dilihat gayaOgaya yang bekerja pada
screw. ?aya maksimum yang bekerja terletak pada bagian seksi penyumbatan
(plug section) yang terletak pada ujung worm screw press. &imana jarak antara
screw (Pitch) ialah p @*%0 mm.
+am*ar 3.3 ?aya-gaya yang bekerja pada worm screw press
.
&ari gambar 6.% dapat dilakukan perhitungan untuk menentukan torsi ()
yang bekerja pada seksi penyumbatan (plug section) dibentuk hipotenusa heliK
yang dilinierkan pada bidang datar (dapat dilihat pada gambar 6.>). &ari suatu
6*
segitiga sikuOsiku yang alasnya merupakan pitch screw dan tingginya sama
dengan keliling dari lingkaran diameter rataOrata screw tersebut.

+am*ar 3.: "lustrasi pembebanan pada Screw Press
?ambar (6.>) menunjukkan kondisi pembebanan rata-rata pada jarak r dari
sumbu poros. ?aya J merupakan penjumlahan gaya aksial berupa gaya tekan
yang terjadi pada screw! P adalah gaya yang bekerja untuk memindahkan beban
(material kelapa sawit). ?aya ! adalah ga"a normal, sebagai akibat dari gaya
tekan material terhadap screw. ?aya T! adalah ga"a gesek yang terjadi pada
permukaan kontak material kelapa sawit dan permukaan screw. ?aya normal
dihitung dengan mempertimbangkan 'aktor pembebanan yang mengindikasikan
jumlah total permukaan kontak screw dengan material.
(nalisis torsi dilakukan dengan analitik pada sudut heliK (U) sebagai
berikut ;

/ sin . cos . N F N F
2
..................................
(6.6 a)

/ cos . sin . + N P N F
(
.................................(6.6 b)
&engan mengeliminir gaya normal ! pada persamaan 6.6a dan 6.6b untuk
mendapatkan P, maka ;
61

( ) [ ] /
*
sin . cos
N
F N F
2


( ) / sin cos
N
F

....................................(6.3 a)

( ) [ ] /
*
cos . sin +
N
P N F
(


( ) / cos sin +
N
P

....................................(6.3 b)
&engan mensubtitusi persamaan (6.3a) dan (6.3b) diperoleh gaya (P) ialah ;

( )


sin cos
cos sin

F
P
.................................................(6.0)
Persamaan (6.0) dibagi dengan cos U dan dengan mensubtitusi tan U @
dm p , sehingga diperoleh ;

( ) [ ]
( ) dm p
dm p F
P

*
....................................................(6..)
orsi merupakan hasil kali gaya P dan radius daerah kritis (d
m
21) , maka
diperoleh persamaan ;

,
_

p dm
dm p dm F
T
. .
. .
1
.


..................................................
(6.,)
&imana ;
@ orsi yang bekerja pada screw (!.mm)
J @ ?aya aksial yang bekerja pada screw (!)
T @ Koe'isien gesek sliding kering antara material dengan screw @ /,3>
66
koe'isien gesekan antara $esi uang dengan kayu Oak (tabel 6.1)
p @ Pitch screw (mm)
d
m
@ Harga radius area rata-rata screw @
1
dr d +
@
1
*/% 1>*+
@*>>,0 (mm)
Ta*el 3.2 Koe'isien ?esekan 9aterial
9aterial * 9aterial 1
Aoe''icient 8' Jriction
&#: ?reasy
Static Sliding Static Sliding
(luminum (luminum *,/0-*,60 *,3 /,6
(luminum 9ild Steel /,.* /,3,
$rake 9aterial Aast "ron /,3
$rass Aast "ron /,6
$rick 7ood /,.
$ronIe Aast "ron /,11
$ronIe Steel /,*.
Aadmium Aadmium /,0 /,/0
Aadmium 9ild Steel /,3.
Aast "ron Aast "ron *,* /,*0 /,/,
Aast "ron 8ak /,3> /,/,0
Ahromium Ahromium /,3* /,63
Sumber 5 Dari situs internet- Wikipedia
?aya aksial yang bekerja pada screw merupakan beban yang diakibatkan
oleh adanya hambatan oleh konus sehingga menimbulkan tekanan. ekanan ini
sebesar 6/ O 3/ $ar, pada perhitungan diambil tekanan maksimal sebesar 3/ $ar
ialah ;

1 0
2 */ 3/
3/
m N ) P
'ar P
k
k

Perhitungan beban (7
k
) yang terjadi pada screw adalah sebagai berikut;
7
k
@ P
k
V ( (6.%)
dimana ( @ luas penampang screw tegak lurus terhadap poros
63
9enurut (Sae'ul "dad, 1//,) mekanisme pengempaan pada worm screw
press terbagi atas tiga bagian, yaitu ; seksi pengisian (feed scetion ), seksi
pemadatan (ram scetion), dan seksi penyumbatan ( plug section). Pada bagian
plug section akan mengalami proses penekan yang paling besar oleh karena
adanya tahanan lawan yang diberikan oleh konus, dapat dilihat pada gambar 6.*/
(a).
(a)
(b)
+am*ar 3.1; (a) Pembagian penampang screw , (b) ?aya tekanan yang dialami
oleh screw
&imana luas penampang sebuah screw diperoleh (=gural, 1//6);
( @ W d b n .........................................................(6.>)
( @ W (1>*) (3/) (*)
( @ 6.03>,. mm
1
@ 6.03>,. V */
-.
m
1
dengan tan U @ dm p U @ *,,.6
/
=ntuk penampang screw tegak lurus sumbu poros, ialah ;
60
( @ (6.03>,. V */
-.
) cos *,,.6
/

@ /,/63%66 m
1

$eban untuk sebuah screw (tekanan hidrolik dibagi oleh 1 konus, sehinga
harga P 3 V*/
.
21 @ 1 V*/
.
) maka persamaan (6.%) menjadi ;
7
k
@ (1 V*/
.
) (/,/63%66)
@ .>... !
&engan demikian harga torsi (T) dapat diperoleh dari persamaan (6.,) dgn J
@7
k
;

,
_

p dm
dm p d F
T
m
. .
. .
1
.


@

,
_

+
) *%0 .( 3> , / ) 0 , *>> .(
) 0 , *>> .( 3> , / . *%0
1
) 0 , *>> .( .>...

@ .6%/,/,,>*. !.mm
3.2.2 Tegangan .a$a Screw Press
(da dua bentuk tegangan yang terjadi pada screw (gambar 6.**), yaitu
tegangan lentur dan tegangan geser. $esarnya masing-masing tegangan akan
diperoleh berdasarkan perhitungan berikut.
+am*ar 3.11 ?eometri dari screw press yang digunakan untuk menentukan
tegangan geser dan tegangan lentur yang terjadi pada dasar screw.
6.
egangan geser nominal X dimana torsi bekerja pada dasar screw dapat
dihitung dengan;

( )
3 3
*.
r r
nom
d D
TD

...........................................(6.*/)
egangan aksial Y pada dasar screw akibat beban J ialah ;
Y @
( )
1 1
3
r r
d D
F
,
F

.......................................(6.**)
egangan lentur Y
b
dapat dihitung dengan menggunakan persamaan beam
cantile#er yang diproyeksikan dari dasar batang screw (dapat dilihat pada gambar
6.**).
Y
b
@
c 9
*
..................................................(6.*1)
momen inersia dihitung dengan persaman ;
" @

1 2
1 2
1
b
b
d, "
............................................(6.*6 a)
&imana luas penampang pada dasar batang screw (() (=gural, 1//6);
( @ W Z&
r
b n d( @ W Z&
r
n dy
&engan mensubtitusi d( ke persamaan (6.*/a) ;
" @

1 2
1 2
1
. .
b
b
r
n D "
dy
" @ ( )
1 2
1 2
6
6
. .
b
b
r
"
n D

1
]
1


" @
( )
1
1
]
1

,
_

,
_

6 6
1 1 6
*
. .
b b
n D
r

" @
( )

,
_

%
1
6
*
. .
6
b
n D
r

" @ ( )
6
. .
*1
*
b n D
r
.................................................(6.*6 b)
6,
9odulus penampang "2c diperoleh dengan mensubtitusi c @ b21 ke
persamaan (6.*6 b), sehingga ;

1
) . . (
.
*
b n D
c
9
r

..........................................(6.*3)
&engan mensubtitusi persamaan (6.*3) dan momen yang bekerja pada beam
cantile#er 9 @
1
.h F
ke persamaan (6.*1) sehingga diperoleh tegangan lentur Y
b
Y
b
@
1
. . .
6
b n D
Fh
r

dimana Z&
r
@ &
r
O d
r
Y
b
@
( )
1
. . .
6
b n d D
Fh
r r

...................................................(6.*0)
egangan geser X yang bekerja pada dasar screw akibat gaya J ialah ;
( ) b n d D
F
n b D
F
,
(
r r
. 1
6
. . . 1
6
1
6

.........................(6.*.)
&ari sistem koordinat pada gambar (6.**), dapat dicatat ;
Y
K
@
( )
1
. . .
6
b n d D
Fh
r r


/
)"

Y
y
@ /
( )
3 3
*.
r r
"z
d D
TD

( )
1 1
3
r r
z
d D
F

/
z)

&ari persamaan O persamaan diatas maka dapat diperoleh besar tegangan pada
screw, yaitu ;
egangan geser nominal X ;
( )
3 3
3> */%
) */% )( . .6%/,/,,>* )( *. (

nom
nom

@ 1., >01/6 !2mm


1
egangan aksial Y
Y
( )
1 1
3> */%
) .>... )( 3 (

6%
Y

- >,0%/, !2mm
1
egangan lentur Y
b
Y
b
@
( )
1
) 3/ )( * ( 3> */% .
) 0 , >* )( .>... )( 6 (

Y
b
@ .3,0*0 !2mm
1
egangan geser X yang bekerja pada dasar screw
( ) ( ) 3/ ). * .( 3> */% ) 1 (
) .>... )( 6 (



33,1,>1 !2mm
1
PerhitunganOperhitungan diatas dimasukkan dalam bentuk tegangan tiga
dimensi seperti terlihat pada sistem koordinat dari gambar (6.**) ;
Y
K
@ .3,0*0 !2mm
1
/
)"

Y
y
@ /

"z

1/,*6,, !2mm
1
Y
I
@ - >,0%/, !2mm
1
/
z)

3.3. Perhitungan (eausan .a$a Worm Screw Press.


3.3.1. Laju 5#lume (eausan
Keausan terjadi karena adanya gesekan antara permukaan suatu material.
=ntuk lebih mempermudah kita mengerti tentang terjadinya gesekan dan keausan
pada mesin screw press atau yang biasa disebutkan sebagai mekanisme tribolog"
seperti yang telah dijelaskan pada bab 1, maka mari perhatikan gambar 6.*1. Pada
gambar 6.*1 dijelaskan secara sistematis bagaimana terjadinya gesekan material
yang terjadi antara permukaan ulir screw press dengan material lain yang dalam
hal ini dimaksudkan dengan buah sawit yang sedang diperas, dan perbesaran
permukaan material yang bergesek.
6>
erjadinya gesekan antara kedua permukaan tersebut dapat menyebabkan
terjadinya perpindahan material yang aus (chips) yang terjadi diantara kedua
permukaan material yang bergesekan. $ila kita melihat suatu permukaan material
dengan bantuan mikroskop dengan pembesaran tertentu, dapat kita melihat
bagaimana keadaan mikrostuktur permukaan material tersebut. Hampir tidak ada
permukaan mikrostruktur suatu material yang benar-benar rata setelah proses
permesinan berlangsung, walaupun itu telah melewati berbagai proses permesinan
untuk perataan permukaan (lapping, honing dan lainnya).
&alam hal ini, keausan terjadi pada permukaan dan diujung sisi worm screw
press (gambar 6.,). =ntuk mempermudah perhitungan laju keausan maka hanya
satu ulir saja yang dihitung, yaitu ulir terluar yang mengalami gaya tekan
langsung dari konus.

3/
+am*ar 3.12 9ekanisme gesekan dipermukaan ulir dan terjadinya partikel aus.
Kekerasan bahan worm screw press yaitu baja tuang (cast steel) adalah
berkisar 1//-16/ $H! (abel 6.6), maka diambil harga kekerasan rata-ratanya
yaitu 1*0 $H! ('rinell 2ardness Number).
Ta*el 3.3 Kekerasan bahan Cast Stell
=loaded asperity
Aoncentration o'
de'ormation at
deep asperity
contact
'li$ing
Partikel aus
Shallow asperity
contact
&eep asperity
contact
Hard material
So't material
3*
Sumber 5 *achine Design Databook
* $H! @ * kg'2mm
1
@ >,% 9pa.
9aka 1*0 $H! @ 1*0 K >,% @ 1*/, 9pa.
Sedangkan nilai koe''isien keausan K yang diambil untuk abrasi#e wear
pada 1 bod", didapat dari gambar 6.*6 (#obert. ). !orton, 1//.) berikut.
+am*ar 3.13 Wear Coefficient K
31
=ntuk memprediksi terjadinya aus pada permukaan screw press dapat
digunakan persamaan (1.*) hukum keausan (rchard, yaitu;
D @ K )
2
W
&imana ; D @ Dolume keausan (m
6
)
) @ 4arak lintas meluncur

d
k
@

.1,* @ %0/,>0 mm
@ /,%0/>3 m
7 @ $eban @ P K

r
1
sawit
(dgn &
biji sawit
1/ mm)
(
permukaan ulir
@ (
1
r )
ulir
- (
1
r )
poros
(
permukaan ulir
@ (

. /,*300
1
) O (

. /,/03
1
)

@ /,/0,6*% m
1
)uas buah sawit @
1
r @ W . /,//,0
1
@ /,///6*3 m
1
4umlah sawit di permukaan ulir @
/,///6*3
/,/0,6*%
@ *%1 buah
9aka total tekanan dari konus yang diterima oleh * buah sawit
@
*%1
K*/ 1
.
@ */>%>,/*/* Pa
7 @ */>%>,/*/* K /,///6*3 @ 6,30/00 !
K @ Koe'isien keausan diambil */
-1
untuk abrasi#e wear . bod"
H @ Kekerasan material @ 1*/, 9pa @
>
1,*/,K*/ Pascal
9aka, <olome keausan yang terjadi adalah ;
D @ K )
2
W
@ */
-1
K /,%0/>3
>
1,*/,K*/
6,30/00
@ *,6>600 K*/
-**
m
6
Keausan yang terjadi sebesar *,6>600 K*/
-**
m
6
untuk setiap satu buah sawit
terhadap permukaan worm screw pada setiap siklus jalan worm screw press
sepanjang /,%0/>3 m. $erdasarkan tabel 6.* worm screw press berputar >-** rpm
(diambil */ rpm). Karena * putaran worm screw press sama dengan keliling worm
screw press itu sendiri, maka ;
*,6>600 K*/
-**
m
6
@ * putaran worm screw press (* keliling screw)
36
=ntuk masa waktu pemakaian * hari kerja mesin screw press, dapat dihitung
laju keausan yang terjadi pada worm screw press, yaitu sebesar ;
* hari @ 13 jam @ *33/ menit
&alam * menit, worm screw press berputar */ kali (*/ rpm), maka;
*33/ menit K */ rotasi @ *33// siklus rotasi2hari.
9aka jumlah prediksi keausan yang terjadi dalam * hari sebesar ;
*33// siklus2hari K *,6>600 K*/
-**
m
6
@ 1,//.,*1 K*/
-,
m
6
2hari.
3.3.2. Pengurangan Dimensi .a$a Worm Screw Press
)aju keausan atau kedalaman keausan yang terjadi pada permukaan worm
screw press dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut (#obert. ).
!orton, 1//.) ;
k
a
@ K
ks
2,
W$
....................................................(6.*,)
&imana; k
a
@ Kedalaman keausan yang terjadi (m)
(
ks
@ (rea kontak sebenarnya (m
1
)
=ntuk menghitung laju pengurangan dimensi karena keausan maka terlebih
dahulu dihitung luas area kontak sebenarnya ((
ks
) dari pergesekan kedua material
tersebut. $entuk permukaan ulir screw press berbentuk lingkaran, dengan diambil
daerah kritis 6/ mm dari sisi terluar ulir. 9aka untuk menghitung luasnya
permukaan kritis ulir yang bergesek, luas permukaan seluruhnya dikurang luas
permukaan daerah keausan non kritis (&
non kritis
@ 1>* mm O ./ mm @ 16* mm)
(
ks
@ (
1
r )
ulir
- (
1
r )
non kritis
.......................................(6.*%)
(
ks
@ (

. /,*300
1
) O (

. /,**00
1
)
(
ks
@ /,/130%.1 m
1
4umlah buah sawit yang terdapat pada daerah kritis ulir;
4umlah buah @
/,///6*3
/,/130%.1
@ ,% buah sawit.
$eban yang dialami oleh seluruh buah sawit dan ulir screw press adalah ;
33
7 @ ,% sawit K 6,30/00 ! @ 1.>,*31> !
9aka prediksi kedalaman keausan yang terjadi pada permukaan worm
screw press dapat dihitung dengan rumus (6.*,);
k
a
@ K
ks
2,
7)
@ */
-1
K
/,/130%.1 K ) (1,*/,K*/
/,%0/>3 K 1.>,*31>
>
@ 3,31*/00 K */
-%
m
Prediksi kedalaman keausan yang dihitung diatas merupakan prediksi
kedalaman keausan yang terjadi pada daerah kritis worm screw dalam satu siklus
putaran ulir. &alam satu hari kerja mesin screw press, terdapat *33// siklus
putaran, sama seperti perhitungan sebelumnya. 9aka didapat harga prediksi
kedalaman keausan dalam * hari sebesar ;
k
a
@ *33// siklus2hari K 3,31*/00 K */
-%
m
@ .,6..6*>1 K*/
-3
m2hari
BAB 4
ANAL%'A DAN PEMBAHA'AN
30
4.1. Masalah ,ang Terja$i
(us dapat terjadi karena adanya gesekan antara dua permukaan benda dan
menyebabkan adanya perpindahan material serta pengurangan dimensi pada
benda tersebut. &e'enisi keausan dan mekanisme keausan telah dijelaskan pada
bab 1 dan keausan yang terjadi pada worm screw press telah dijelaskan pada bab
6. )aju pengurangan material yang terjadi pada ulir worm screw press terletak
pada bagian sisi screw yang langsung mendapat gaya tekan dari konus (gambar
6.,). (dapun yang menjadi penyebab utama terjadinya keausan pada worm screw
press adalah akibat dari tekanan yang terjadi pada permukaan ulir screw tersebut.
)aju kenaikan ulir screw (pitch) karena putaran screw menyebabkan buah sawit
yang ada di dalam sisi screw terdorong dan dari sisi lainnya tekanan hidrolik dari
konus menekan buah sawit yang telah di hacurkan tersebut. Hal ini tentu membuat
buah sawit mengalami tekanan yang begitu besar dari dua sisi, sehingga
menyebabkan sisi terluar screw dimana buah sawit berada mengalami gaya tekan
seperti yang dialami buah sawit akibat tekanan konus. Hal inilah yang
menyebabkan terjadinya gesekan antara buah sawit dengan sisi ulir screw (gambar
6.*1). Keausan yang terjadi sebesar .,1, K*/
-,
m
6
2hari. Sehingga dalam waktu
tertentu maka permukaan2ujung ulir screw press akan habis karena aus.
Keausan yang terjadi ini mendapat perhatian khusus oleh bagian teknik pada
pusat bengkel PP! 6 Kebun #ambutan, karena seperti yang telah dijelaskan
pada bab * point *.1 bahwa life time yang direkomendasikan oleh pabrik
manu'aktur screw press terkadang tidak tercapai karena keausan yang terjadi
sudah besar, sehingga waktu saat penggantian worm screw press belum tercapai,
tetapi worm screw press harus diganti. Saat sur<ei dilapangan, penulis
mendapatkan bahwa worm screw press yang dipakai oleh PP! 6 kebun
rambutan memiliki life time yang direkomendasi pabrik selama */// jam
pemakaian. !amun dari wawancara dengan mekanik di bengkel reparasi, penulis
mendapatkan waktu yang terjadi dilapangan hanya mencapai %// jam pemakaian,
bahkan kurang dari itu. "ni tentu saja dapat menjadi pembahasan masalah yang
menarik untuk dikaji lebih lanjut.
3.
4.2. Pemeliharaan Per*aikan /Repair Maintenance0 .a$a Worm Screw
Press ,ang $ikejakan #leh Bagian Teknik /Bengkel0
Karena keausan yang terjadi pada worm screw press di pabrik PP! 6
Kebun #ambutan tidak sesuai dengan rekomendasi waktu pemakaian dari pabrik
pembuatannya membuat jadwal pembelian spare part atau worm screw press baru
menjadi tidak stabil. Hal ini dapat membuat terganggunya proses produksi pabrik
karena kerusakan atau keausan pada worm screw press tidak dapat diperkirakan.
Hal ini membuat bagian teknik, terkhusus bengkel reparasi mengerjakan
perbaikan sementara terhadap worm screw press yang sudah aus tersebut,
menunggu kedatangan worm screw press yang baru. (dapun perbaikan yang
dikerjakan oleh karyawan bengkel adalah mengelas (menambah ketebalan2
%ebuild) yang dikerjakan pada permukaan worm screw press yang mengalami
keausan paling besar, yaitu pada ulir terluar dengan menggunakan las listrik.
Perbaikan tersebut dapat dilihat pada gambar 3.* berikut.

+am*ar 4.1. Perbaikan yang dikerjakan oleh 9ekanik $engkel #eparasi
Penambahan ketebalan worm screw press dengan metode pengelasan listrik
ini hanya dikerjakan pada bagian ulir terdepan saja. Karena ulir ini yang
mengalami keausan terbesar, tidak pada keseluruhan ulir. Hasil worm screw press
3,
setelah mengalami perbaikan penambahan ketebalan oleh bengkel reparasi dapat
dilihat pada gambar 3.1 berikut.
+am*ar 4.2. Hasil perbaikan worm screw press yang telah dikerjakan oleh
$engkel #eparasi
Penambahan ketebalan worm screw press berkisar *0 mm. Setelah
perbaikan penambahan ketebalan dengan pengelasan listrik ini worm screw press
sudah dapat digunakan di stasiun pengepressan. $erdasarkan hasil wawancara
dengan mekanik bengkel, bahwa worm screw press setelah perbaikan ini dapat
bertahan untuk jangka waktu hampir setengah dari masa pakai worm screw press
baru dari pabrikan pembuatan screw press atau sekitar 6//-3// jam pemakaian.
4.3. Corrective Maintenance untuk Masalah (eausan.
Setelah diketahui masalah yang terjadi dan penyebab permasalahannya serta
perbaikan sementara yang telah dikerjakan pada worm screw press, tentu
diharapkan adanya solusi permasalahan atau pemecahan masalah supaya
kedepannya masalah tersebut dapat diminimalkan. $aik itu meminimalkan
sumber daya bengkelnya dan juga biaya pemeliharaan kedepan. &emi tercapainya
kemaksimalan proses produksi pabrik. Hal ini sesuai dengan sistem Correcti#e
*aintenance yang telah dijelaskan pada $ab 1, poin 1.3.
3%
(da banyak studi literatur dari buku teknik metalurgi dan juga penelitian
yang telah dikerjakan oleh para ahli untuk dapat mengurangi terjadinya keausan
pada permesinan. Penelitian ini dikerjakan karena keausan ini dianggap penting
untuk diatasi atau dikurangi, demi kelancaran kerja mesin. (da banyak cara yang
dapat dikerjakan untuk mengurangi terjadinya keausan pada permesinan, seperti
merubah si'at permukaan material yang bergesek untuk menambah kekerasan dan
ketangguhannya, sehingga dapat mereduksi keausan.
4.3.1. Pengerasan Permukaan L#gam /Surace !ardening0
Pengerasan permukaan atau dikenal dengan surface hardening, umumnya
dilakukan pada material baja karbon rendah. (da dua cara yang biasanya
dilakukan untuk pengerasan pada bagian permukaannya saja, yaitu dengan;
*. 9erubah mikro struktur permukaan logam.
1. 9erubah mikro struktur permukaan logam dan komposisinya.
$iasanya pengerasan permukaan dengan merubah mikro strukturnya
diterapkan pada material baja dengan kandungan karbonnya medium atau tinggi,
sedangkan pengerasan yang melibatkan perubahan mikrio struktur dan komposisi
kimianya diterapkan pada material baja karbon rendah. Kedua cara tersebut
prosesnya tentu berbeda. =ntuk merubah struktur mikro baja karbon, cukup
dilakukan dengan pemanasan dan pendinginan. Sedangkan untuk merubah
struktur mikro dan komposisi kimianya tidak cukup dengan dilakukan pemanasan
dan pendinginan saja, melainkan dengan penambahan unsur lain pada permukaan
logam yang akan dikeraskan ($intang (djiantoro, 1///).
Proses pengerasan permukaan logam merupakan cara untuk dapat mereduksi
keausan. &engan meningkatkan kekerasan permukaan suatu logam, maka laju
keausan yang terjadi dapat berkurang karena permukaan logam yang bergesekan
menjadi semakin keras dan permukaan tersebut tidak mudah melepaskan material
aus. (da banyak cara yang dapat dilakukan untuk dapat membuat suau permukaan
logam menjadi lebih keras, diantaranya adalah dengan metode kromisasi,
karburasi, nitridasi, karbunitridasi, nitrokarburasi dan lain-lain.
Kekerasan suatu logam sangat bergantung pada temperatur pemanasan, lama
penahanan pada temperatur tertentu (holding time), laju pendinginan, komposisi
3>
kimia logamnya, kondisi permukaan, ukuran dan berat benda kerja. Kemampuan
baja untuk dapat dikeraskan sering disebut dengan hardenabilit". Kekerasan
maksimum baja didapatkan dari pembentukan 'ase martensit atau 'ase karbida
pada struktur mikro baja tersebut (Jahmi 9ubarok, 1//%).
4.3.1.1. Penelitian (r#misasi
Kromisasi adalah proses penjenuhan lapisan permukaan baja dengan
menggunakan Ar (Chromium saturated cases). ujuan utamanya adalah untuk
mendapatkan permukaan yang keras, tahan aus dan tahan terhadap korosi. Proses
kromisasi terdiri dari tiga tahap, yaitu;
*. &issosiasi gas dengan pelepasan Ar atomik.
1. (dsorbsi atom-atom Ar pada permukaan baja.
6. &i'usi atom Ar kedalam baja.
Kecepatan di'usi sangat dipengaruhi oleh temperatur. 4ika temperatur
dinaikkan, kecepatan di'usi Ar meningkat pula. etapi bila temperatur terlalu
tinggi akan berpengaruh terhadap struktur mikro baja yang dapat mempunyai si'at
kurang baik.
&alam penelitian yang dikerjakan oleh $intang (djiantoro tentang proses
kromisasi terhadap pelat baja karbon rendah (("S" */*/) didapatkan bahwa suhu
pemanasan sebagai 'ungsi kecepatan reaksi di'usi berpengaruh terhadap
peningkatan kedalaman lapisan krom dan kekerasannya. !amun pengaruh waktu
penahanan terhadap kedalaman lapisan krom relati' kecil bila dibandingkan
dengan pengaruh suhu pemanasan.
Penelitian proses kromisasi ini dilakukan dengan menggunakan media
campuran dari serbuk Je-Ar, (l
1
8
6
dan !H
3
Al dengan perbandingan berat ./ ;
6, ; 6 yang dipanaskan pada suhu %//
o
A, %0/
o
A dan >//
o
A serta waktu penahanan
selama 0, . dan % jam. Kegunaan bahan-bahan tersebut adalah ;
*. ()
1
8
6
ber'ungsi sebagai penghalus butir dan pencegah
pertumbuhan butir pada saat pemanasan.
1. !H
3
Al ber'ungsi sebagai akti<ator pembentuk gas Ar-Al
1
dan
mengantarkan atom-atom Ar larut padat dipermukaan baja.
#eaksi yang terjadi selama proses kromisasi adalah sebagai berikut;
0/
!H
3
Al dipanaskan, dan ketika dipanaskan akan terurai menjadi gas amonia
dan gas asam Hidroklorid. ?as ini akan menggantikan udara yang ada selama
proses kromisasi dalam kotak reaksi dan bereaksi dengan Ar, membentuk
Hidrogen dan Kromium Klorida, sehingga pada permukaan $aja tersebut akan
terjadi pertukaran reaksi.
&ari pengamatan <isual, permukaan benda kerja berubah warna menjadi
putih keabu-abuan, hal ini menunjukkan bahwa telah terbentuk lapisan krom.
Kedalaman lapisan dan kekerasan permukaan (ketahanan aus) terbesar diperoleh
dari waktu pemanasan % jam dengan suhu pemanasan >0/
o
A dan didapat
kedalaman lapisan pengerasan krom sebesar *,36 mm dari permukaan spesimen
dengan kekerasan telah meningkat menjadi 1,/ DH! dari spesimen standar tanpa
kromisasi sebesar **> DH! ((ickers 2ardness Number). =ntuk ketahanan
terhadap keausan diuji dengan mengukur kehilangan berat spesimen setelah
pengujian. Pengujian keausan menggunakan abrasi#e paper (ampelas) dengan
kekasaran 13/ mesh, putaran 3,/ rpm dan beban 1 kg. &ari pengujian tersebut
didapatkan ketahanan aus (kehilangan berat) meningkat menjadi /,/3 gram (untuk
spesimen dengan waktu penahanan 0 jam dan suhu pengerjaan >0/
o
A) dari
kondisi spesimen standarnya yang memiliki ketahanan aus (kehilangan berat)
sebesar 0,1/ gram.
$erdasarkan 'oto mikro struktur penampang melintang dari penelitian proses
kromisasi pada baja karbon rendah ini didapatkan bahwa kenaikan kekerasan yang
terjadi bukan diakibatkan oleh terans'ormasi 'asa, melainkan oleh terbentuknya
senyawa Je
1
Ar
6
dibagian yang dekat dengan permukaan dan terbentuknya
senyawa [-Je
1
Ar
0
diantara lapisan permukaan dengan logam induknya ($intang
(djiantoro, 1///).
4.3.1.2. Penelitian (ar*urasi
Karburasi adalah cara pengerasan permukaan dengan memanaskan logam
(baja) diatas suhu kritis dalam lingkungan yang mengandung karbon. (tau bisa
juga dikatakan dengan penambahan unsur karbon kedalam permukaan logam
(baja) yang dikerjakan diatas suhu kritis. Karbon diabsorbsi kedalam logam
membentuk larutan padat karbon-besi dan pada lapisan luar jadi memiliki kadar
karbon yang tinggi. $ila cukup waktu, atom karbon akan berdi'usi ke bagian-
0*
bagian sebelah dalam. ebal lapisan tergantung dari waktu dan suhu yang
digunakan.
$erdasarkan media yang memberikan karbon, secara umum ada tiga macam
metode dalam proses karburasi, yaitu;
6. Karburasi padat (solid carburizing), adalah suatu cara karburasi
yang menggunakan bahan karbon berbentuk padat.
3. Karburisasi cair (li3uid carburizing), adalah suatu cara
karburisasi dengan menggunakan bahan karbon berbentuk cair.
0. Karburisasi gas (gas carburizing), adalah suatu cara karburisasi
dengan menggunakan bahan karbon berbentuk gas.
&engan masuknya atom-atom karbon ke permukaan material maka akan
terbentuk larutan padat. Karena atom-atom karbon yang larut mempunyai ukuran
(jari-jari) atom yang jauh lebih kecil dari pada ukuran atom besi, maka atom-atom
karbon akan masuk ke permukaan baja dan mengisi ruang-ruang kosong di antara
atom-atom besi secara interstisi (sisipan), sehingga akan terbentuk larutan padat
interstisi karbon dalam besi2baja. erbentuknya larutan padat interstisi ini akan
menyebabkan peningkatan kekerasan dari baja. Selain terbentuknya larutan padat
interstisi, atom-atom karbon yang masuk ke permukaan akan berikatan kuat
dengan atom-atom permukaan (atom-atom Je) membentuk 'ase baru yang disebut
'asa karbida besi yang mempunyai si'at yang keras.
&alam penelitian yang dikerjakan oleh $angun Pribadi dkk tentang proses
pengerasan permukaan baja St 3/ dengan metode carburizing plasma lucutan
pijar, didapatkan bahwa lamanya waktu pendeposisian mempengaruhi kualitas
kekerasan yang dihasilkan, karena menambah jumlah atom karbon yang tersisip
ke dalam permukaan atom Je. Pengujian karburasi ini dikerjakan dengan <ariasi
suhu *0/
o
A, 1//
o
A, 10/
o
A dan 6//
o
A serta <ariasi waktu penahanan 6/, ./, >/,
*1/, dan *0/ menit. Hasil dari proses karburisasi diperoleh peningkatan kekerasan
permukaan sebesar *>3,0* - yaitu dari *>,,03 KH! menjadi 0%*,,% KH! pada
suhu 6//
o
A dan waktu *1/ menit. 4ika suhu semakin tinggi maka getaran atom-
atom subtrat (atom-atom Je) akan tinggi pula dan membuat jarak atom semakin
besar, sehingga atom-atom karbon akan lebih mudah berdi'usi di antara celah-
01
celah atom Je. $anyaknya atom-atom karbon yang terdi'usi ke permukaan
spesimen menjadikan kerapatan permukaan subtrat meningkat, sehingga
kekerasan permukaan spesimen pun meningkat.
Pada saat proses carburizing dengan waktu pendeposisian kurang dari *1/
menit, atom-atom karbon belum secara maksimal mengisi ruang di antara atom-
atom Je, sehingga pada permukaan subtrat masih banyak terdapat ruang sisipan
yang belum terisi oleh atom-atom karbon, akibatnya kekerasan belum maksimal.
Pada saat proses carburizing dengan waktu pendeposisian lebih dari *1/ menit,
atom-atom karbon yang terdeposisi ke dalam permukaan subtrat akan semakin
banyak seiring dengan lamanya waktu pendeposisian. Hal ini akan menyebabkan
terjadinya penumpukan atom-atom karbon pada permukaan subtrat sehingga yang
terbentuk bukan lagi sebagai ikatan karbida besi, melainkan hanya merupakan
tumpukan atom-atom karbon. 4ika waktu yang diberikan untuk proses carburizing
plasma lucutan pijar semakin lama, maka kekerasan subtrat akan semakin turun.
Hal ini berarti bahwa penambahan waktu hanya akan menyebabkan pemborosan
waktu dan biaya ($angun Pribadi dkk, 1//%).
4.3.1.3. Penelitian Ni(aNa
Sejak tahun 1//* telah ditemukan metode baru untuk mengeraskan
permukaan baja, yakni metode !iKa!a. 9etode !iKa!a ini terdiri atas gabungan
tiga proses metalurgi yaitu !itridasi, Karbonasi, dan :uenching !aAl
(pendinginan mendadak dalam larutan garam dapur), tiga proses yang semula
dilakukan secara terpisah. &engan metode gabungan ini didapatkan baja dengan
tingkat kekerasan yang lebih besar. Proses pengerasan ini terjadi karena adanya
perubahan 'asa atau struktur penyusun atom dari besi baja tersebut. Perubahan
'ase dilakukan dengan cara memanaskan baja dengan suhu tertentu dan
pendinginan dengan kecepatan tertentu pula dengan menambahkan material baru
ke dalam baja tersebut.
eknik !itridasi dilakukan dengan menggunakan gas nitrogen yang
disemprotkan langsung pada baja yang sedang membara. &engan metode tersebut
kekosongan pada material akan terisi oleh atom-atom yang bergeser karena
penumbukan oleh atom nitrogen maupun oleh atom nitrogen yang menempati
06
letak interstisi. Proses tersebut akan membentuk struktur baru yang mempunyai
kekerasan yang lebih baik dibanding material aslinya. &engan menembakkan
atom nitrogen pada material, maka kekosongan yang terdapat pada material akan
terisi oleh atom-atom yang bergeser karena penumbukan oleh ion nitrogen
maupun oleh ion nitrogen yang menempati letak interstisi. Sehingga akan
terbentuk struktur baja baru yang mempunyai kekerasan lebih baik dibandingkan
material aslinya. $ila ion-ion nitrogen ditembakkan pada besi (Je) pada kondisi
tertentu ion-ion nitrogen tersebut akan membentuk 'ase baru yaitu 'ase Je-!.
Karbonasi adalah proses pendeposisian unsur karbon ke dalam permukaan
logam. Pada pendeposisian ini dimaksudkan agar terjadi peningkatkan kekerasan
lebih besar dibandingkan sebelum dilakukan proses karbonasi. Pada karbonasi
baja karbon rendah ( + /,6 - A ) akan terjadi peningkatan kekerasan lebih besar
dibandingkan dengan karbon medium ( /,6 -A O /,, -A ) atau tinggi ( /,, -A O
*,, -A ).
Kekerasan maksimum suatu logam besi dapat terjadi dengan mendinginkan
secara mendadak (:uenching) material yang telah dipanaskan sehingga
mengakibatkan perubahan struktur mikro. Kenaikan kekerasan berbeda-beda pada
beberapa kandungan karbon. 9edium 3uenching yang digunakan secara umum
adalah hidrokarbon (oli bekas). )aju 3uenching tergantung pada beberapa 'aktor
di antaranya temperatur medium, panas spesi'ik, panas pada penguapan,
kondukti<itas termal medium dan <iskositas serta agitasi (pergolakan) adalah laju
pergerakan atau aliran media pendingin. Kecepatan pendinginan dengan air lebih
besar dibandingkan pendinginan dengan oli. &an pendinginan oleh udara
mempunyai kecepatan yang paling kecil.
&alam penelitian yang dikerjakan oleh Susanto dkk tentang proses
pengerasan permukaan pada baja karbon rendah (A /,*% - dan Silikon 6 -)
dengan metode !iKa!a didapatkan bahwa metode !iKa!a menyebabkan
terjadinya penambahan gugus !-H (yang merupakan kontribusi dari proses
nitridasi) sehingga hal ini menjadikan susunan atom pada baja karbon rendah
menjadi rapat dan padat. Pengujian metode !iKa!a ini dikerjakan dengan <ariasi
suhu 6//
o
A, .//
o
A dan >//
o
A serta <ariasi waktu pemanasan *0, 6/ dan 30 menit.
Hasil dari metode !iKa!a diperoleh peningkatan kekerasan permukaan tertinggi
03
sebesar 001 -, yaitu dari %,, H#A menjadi 3%,/ H#A pada suhu >//
o
A dan waktu
pemanasan *0 menit. =ntuk waktu pemanasan 6/ menit dan 30 menit pada suhu
>//
o
A ternyata angka kekerasannya jauh menurun bila dibandingkan dengan
waktu pemanasan *0 menit, yaitu sebesar 33,6 H#A untuk waktu pemanasan 6/
menit dan 11,6 H#A untuk waktu pemanasan 30 menit.
Penelitian ini dilakukan dalam 6 tahap, yaitu tahap treatment awal, tahap
treatment !iKa!a dan tahap pengujian sampel. ahap treatment awal adalah
pengampelasan dan pemanasan. Sampel baja dipanaskan dalam Furnace dengan
melakukan <ariasi suhu dan waktu pemanasan. ahap treatment !iKa!a memiliki
6 bagian secara berurutan yaitu nitridasi, karburasi dan 3uenching !aAl. ?as
nitrogen disemprotkan langsung (nitridasi) pada sampel baja yang telah
dipanaskan dengan suhu dan waktu pemanasan yang telah ditentukan, lalu sampel
dipanaskan kembali dengan suhu dan waktu pemanasan yang sama dengan awal
dan dicelupkan secara cepat ke dalam cairan oli bekas konsentrasi jenuh
(karburasi), lalu sampel baja dipanaskan kembali pada suhu dan waktu pemanasan
yang sama dengan awal dan dicelupkan mendadak ke dalam larutan garam dapur
(!aAl) jenuh (:uenching).
Pada proses nitridasi dilakukan pendeposisian atom-atom nitrogen pada baja
yang telah mendapat perlakuan panas, yang mengakibatkan peregangan atom-
atom material dan mengalami kekosongan, sehingga diisi oleh atom nitrogen
tersebut sehingga memunculkan ikatan atom baru yaitu Je-!. (tom nitrogen yang
menyusup menempati letak interstisi (sisipan) maupun secara subtitusi
(perpindahan). &engan masuknya atom nitrogen kedalam substrat mengakibatkan
terjadinya perubahan struktur mikro atom yaitu atom-atom penyusun baja menjadi
lebih rapat dan padat. Pada proses karbonasi atom-atom karbon mampu berdi'usi
kedalam material baja, atom karbon sangat mudah menyusup kedalam substrat
karena ukuran atom karbon lebih kecil dibandingkan dengan atom Je. &engan
kadar karbon bertambah maka kekerasannya meningkat. Proses 3uenching adalah
sangat baik pada pengerasan bahan logam. Pada proses pencelupan cepat, suatu
bahan logam tidak sempat mengalami di'usi dengan atom tetangga sehingga
seluruh kekosongan langsung akan terisi oleh media 3uenching tersebut secara
mendadak. Proses ini tentunya menyebabkan kerapatan atom pada permukaan
00
bahan menjadi lebih besar dan tentunya bahan logam menjadi lebih keras. Hal ini
terjadi karena proses 3uenching membuat mikro sturktur permukaan bahan logam
jadi memiliki batas butir yang lebih kecil, sehingga mikro sturktur permukaan
bahan logam menjadi lebih halus dan padat (Susanto dkk, 1//0)
4.3.2. Met#$e Pela.isan Permukaan
Proses metal spra"ing merupakan salah satu cara alternati' proses
perlindungan permukaan logam dari kerusakan. Proses metal spra"ing dapat juga
digunakan untuk proses perbaikan (repair), misalnya membuat lapisan keras pada
permukaan untuk perkakas, mempertebal bagian-bagian permukaan yang telah
mengalami keausan dan lain-lain. Si'at-si'at yang diinginkan dari proses metal
spra"ing antara lain adalah ketahanan terhadap keausan, ketahanan terhadap
korosi, ketahanan terhadap temperatur tinggi dan lain-lain.
Penelitian yang dikerjakan oleh 9ochamad "chwan dan &ikdik "skandar
tentang karateristik keausan abrasi' dari lapisan (luminium-$ronIe pada baja St
6, didapatkan bahwa nilai ketahanan keausan abrasi' material hasil proses metal
spra"ing kawat (luminium-$ronIe yang mengalami perlakuan panas lebih tinggi
bila dibandingkan dengan material tanpa perlakuan panas (2eat Treatment).
Perlakuan panas dikerjakan dengan <ariasi temperatur 00/
o
A, .//
o
A dan .0/
o
A
dan waktu penahanan (2olding Time) selama * jam, 1 jam dan 6 jam. Sebelum
proses metal spra"ing dilakukan, terlebih dahulu dilakukan proses sand blasting
pada permukaan baja St 6,. Selanjutnya dilakukan pemanasan awal (umumnya
>/
o
A-*0/
o
A) pada material dasar tersebut dengan menggunakan alat Flame 4un.
9aksud dari pemanasan awal tersebut adalah untuk menghilangkan air dan
menjamin permukaan bebas dari kelembaban dan untuk menghilangkan tegangan
sisa dan meminimalkan e'ek pemuaian material pada saat proses metal spraing
dilakukan.
Setelah dilakukan proses metal spra"ing dengan kawat (luminium-$ronIe,
selanjutnya dilakukan proses perlakuan panas pada 6 kondisi temperatur
pemanasan dan 6 kondisi waktu penahanan yang berbeda. &alam proses metal
spra"ing ikatan yang terjadi antara logam pelapis dengan permukaan logam dasar
adalah karena adanya ikatan adhesi dan kohesi yang menyebabkan ikatan saling
mengunci secara mekanik dari pertikel yang disemprotkan dengan permukaan
0.
logam dasar yang dikasarkan. Semakin tinggi temperatur pemanasan dan semakin
lama waktu penahanaanya akan meningkatkan harga kekerasan lapisan
(luminium-$ronIe. Kekerasan tertinggi terjadi pada daerah antar permukaan
(interface) antara (luminium-$ronIe dengan logam dasar baja St 6,, yaitu
sebesar 13, DH! dengan temperatur kerja .0/
o
A dengan penahanan waktu
selama 6 jam. Hal ini disebabkan karena terjadinya peningkatan konsentrasi atom,
baik pada material dasar maupun pada logam pelapis akibat terjadinya proses
di'usi yang semakin jauh, sehingga ikatan antar atomnya akan terbentuk dengan
mudah.
=ntuk ketahanan terhadap keausan abrasi' diuji dengan mengikuti standar
pengujian (S9 & 66%> ,brasi#e %esistance. Pengujian keausan menggunakan
Test &3uipment tipe Taber, ,braden tipe H */ Calibrade, beban 0// gr, lama
pengujian 6/ menit dan putaran 0/// rpm. &ari pengujian tersebut didapatkan
ketahanan aus tertinggi pada spesimen percobaan meningkat menjadi /,63 - berat
awal (untuk spesimen dengan waktu penahanan 6 jam dan suhu pengerjaan
.0/
o
A) dari kondisi spesimen standarnya yang memiliki ketahanan aus sebesar
/,0, - berat awal. Peningkatan ketahanan abrasi' juga dikarenakan oleh semakin
sedikitnya jumlah rongga (porous) pada lapisan hasil proses metal spra"ing.
#ongga (porous) tersebut terbentuk karena adanya gas yang terjebak pada saat
proses metal spra"ing dilakukan. 9elalui proses perlakuan panas dengan
temperatur pemanasan yang tinggi dan waktu penahanan yang lama, presentase
terjadinya porositas mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena terjadinya
di'usi <olume dari atom-atom yang menuju permukaan rongga gas yang terjebak
tersebut dan berdi'usi keluar. Sehingga dengan semakin tinggi temperatur
pemanasan, maka kecenderungan gas untuk keluar semakin mudah (9ochamad
"chwan dan &ikdik "skandar, 1///).
Proses metal spra"ing ini dapat dikerjakan dengan dua cara berbeda, yaitu
dengan material dalam bentuk serbuk atau kawat. Kedua cara ini memiliki
perbedaan prinsip pada model Flame Spra" 4unnya. !amun untuk gas
pembakarannya sama. Hal ini dijelaskan pada gambar 3.6 berikut.
0,

+am*ar 4.3. Aontoh Flame Spra" 4un model serbuk dan kawat
Sedangkan gambar 3.3 berikut menerangkan pengerjaan proses metal
spra"ing pada sebuah benda kerja.

+am*ar 4.4. Proses *etal Spra"ing.
0%
4.4. Redesign atau M#$iikasi
$eberapa penjelasan tentang proses pengerasan permukaan (Surface
2ardening) diatas dapat dijadikan solusi untuk mengurangi keausan yang terjadi
pada permukaan worm screw press, sebab proses pengerasan permukaan
dikhususkan untuk baja karbon rendah. $ahan worm screw press adalah cast steel
dan termasuk baja karbon rendah, karena tergolong carbon steel yang memiliki
kandungan karbon sebesar /,1 - (lihat tabrl 3.*).
Ta*el 4.1. (a$ar (ar*#n Cast Steel
Sumber 5 *achine Design Databook
!amun selain metode pengerasan permukaan worm screw press- dapat juga
diterapkan metode lain yaitu dengan mendesain ulang (redesign) atau modi'ikasi.
&engan memodi'ikasi ketebalan ulir yang mangalami keausan paling besar.
9odi'ikasi yang dikerjakan dengan menambahkan pelat baja karbon rendah yang
telah mengalami proses pengerasan permukaan pada sisi ulir tersebut dengan
pembautan. &engan demikian, saat mesin screw press bekerja, pelat yang pelapis
ulir yang akan mengalami keausan. &an apabila keausan pelat sudah besar, maka
perbaikan hanya dengan mengganti pelat dengan yang baru, sehingga dapat
memperkecil biaya perawatan dan pembelian worm screw press yang baru.
0>