Anda di halaman 1dari 10

KOMPARISI PADA AKTA NOTARIS Oleh : Arif Indra Setyadi Mahasiswa MKN UNDIP 2011 : Berasal dari bahasa

Belanda Comparatie yang berarti Verschijning partijen atau tindakan menghadap dalam hukum / dihadapan pejabat umum, seperti Notaris atau Openbaar Ambtenaar dan lainnya. Komparisi berasal dari kata Komparand yang artinya Penghadap, dalam ruang lingkup Notariat pengertian Komparisi mengandung arti yang lebih luas : Komparisi tidak hanya berupa tindakan menghadap tetapi juga mengenai IDENTITAS Penghadap

Komparisi

Menurut Pasal Pasal 38 ayat [3] huruf (a), UU No. 30 tahun 2004 Komparisi ada diBadan Akta yang memuat : . nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, kewarganegaraan, pekerjaan, jabatan, kedudukan, tempat tinggal para penghadap dan/atau orang yang mereka wakili;

Pasal 38 ayat [3] huruf a

(3) Badan akta memuat:

a. nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, kewarganegaraan, pekerjaan, jabatan, kedudukan, tempat tinggal para penghadap dan/atau orang yang mereka wakili;

Sapaan dalam komparisi TUAN : Digunakan untuk setiap laki-laki dewasa yang belum, sudah dan pernah menikah NYONYA : Digunakan untuk setiap wanita yang bersuami atau pernah

bersuami; NONA : Digunakan untuk Perempuan yang belum bersuami Untuk perempuan yang belum bersuami tetapi mempunyai anak

WANITA :

atau perempuan yang sudah berumur tetapi belum bersuami.

Tindakan menghadap dalam Komparisi, dilakukan dalam 2 (dua) hal yaitu :

1.

Komparisi untuk DIRINYA SENDIRI

Pihak yang berkepentingan hadir dan bertindak untuk dirinya sendiri, apabila : a. Ia dalam akta yang bersangkutan dengan jalan menanda tanganinya memberikan suatu keterangan atau ;

b.

Dalam akta itu dinyatakan adanya suatu perbuatan hukum yang dilakukannya untuk dirinya sendiri dan untuk mana ia menghendaki akta itu menjadi buktinya, atau;

c.

Dalam akta itu dinyatakan, bahwa ia ada untuk dibuatkan akta itu bagi kepentingan sendiri

Contoh : Tuan Arif Indra Setyadi, lahir di Banyumas, pada tanggal 17-8-1945 (tujuh belas Agustus seribu sembilan ratus empat puluh lima), Warga Negara Indonesia, Wiraswasta, bertempat tinggal di Semarang, jalan Gatot Kaca, rukun tetangga 5 (lima), rukun warga 2 (dua), kelurahan Ngaglik, kecamatan Gajahmungkur, pemegang kartu tanda penduduk nomor 0330017074500002, (yang dikeluarkan oleh Kantor

Pemerintahan Kota Semarang, yang berlaku sampai dengan 17-8-2014 (tujuh belas Agustus dua ribu empat belas)

2.

Komparisi BUKAN untuk Dirinya Sendiri

Jika Penghadap tidak bertindak untuk dirinya sendiri maka, Kewenangan bertindak harus berdasarkan : a. b. Kuasa Lisan Kuasa dibawah tangan ada dua : Yang di LEGALISASI oleh Notaris TIDAK DI LEGALISASI oleh Notaris

c.

Kuasa dengan AKTA NOTARIS

Pasal 1793 ayat [1] KUH Perdata mengatur mengenai Kuasa Lisan dan Kuasa Tertulis, ketentuan tersebut adalah :

Pasal 1793 ayat [1] Kuasa dapat diberikan dan diterima dalam suatu akta umum, dalam suatu tulisan dibawah tangan, bahkan dalam sepucuk surat atau pun dengan lisan.

Kemudian didalam UU Jabatan Notaris No. 30 tahun 2004 pada Pasal 47mengatur mengenai surat kuasa otentik dan dibawah tangan yang merupakan wewenang dari Notaris, yaitu :

Pasal 47 (1) Surat kuasa otentik atau surat lainnya yang menjadi dasar kewenangan pembuatan akta yang dikeluarkan dalam bentuk originali atau surat kuasa di bawah tangan wajib dilekatkan pada Minuta Akta. (2) Surat kuasa otentik yang dibuat dalam bentuk Minuta Akta diuraikan dalam akta. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak wajib dilakukan apabila surat kuasa telah dilekatkan pada akta yang dibuat di hadapan Notaris yang sama dan hal tersebut dinyatakan dalam akta.

Kuasa subtitusi Dalam hal Penghadap tidak bertindak untuk dirinya sendiri,

dimungkinkan terjadinya kuasa subtitusi yaitu : Apabila Penerima Kuasa dari orang yang mewakilkan (Pemberi Kuasa) tidak menghendaki menjalankan sendiri kuasanya itu, tetapi menguasakan lagi kepada orang lain (pihak ke 3). Penerima kuasa pertama berdasarkan hak

subtitusi yang diterimanya, menempatkan orang lain selaku penerima kuasa. Pihak ang menerima subtitusi ini disebut Kuasa Subtitusi, yang sekarang menggatikan tempat atau posisi penerima kuasa yang pertama yang telah mengundurkan diri dari jalur hubungan antara dia dengan pemberi kuasa. Dalam hal ini pemegang Kuasa Subtitusi tetap sebagai pihak yang mewakili langsung pemberi kuasa.

= Sebagai PRINSIPAL nya atau Pihak yang memberi kuasa untuk menghadap ke Notaris

= Sebagai Penghadap Notaris yang mewakili Pemberi kuasa A tetapi D menerima Kuasa Subtitusi dari C yang telah mengundurkan diri dari

hubungan kuasa ini, sedangkan C menerima Kuasa Subtitusi dari B, B menerima Kuasa dari A

Contoh : Komparisi berdasarkan KUASA LISAN

Tuan Mudita Kentakasati,sarjana hukum, lahir di Banyumas, pada tanggal 5-10-1972 (lima Oktober seribu sembilan ratus tujuh puluh dua), Warga Negara Indonesia, Pegawai Negeri Sipil, bertempat tinggal di Semarang, jalan Pendawa Lima, rukun tetangga 2 (dua), rukun warga 2 (dua), kelurahan Ngaglik Baru, kecamatan Gajahmungkur, pemegang kartu tanda penduduk nomor 0330005107200001, (yang dikeluarkan oleh Kantor Pemerintahan Kota Semarang, yang berlaku sampai dengan 17-8-2014 (tujuh belas Agustus dua ribu empat belas)

Menurut keterangannya dalam hal ini bertindak berdasarkan kuasa lisan dari-dan sebagai demikian untuk atau-atas nama serta seberapa perlu menguatkan dirinya guna menanggung atau menjamin Tuan Arif Indra Setyadi, lahir di Banyumas, pada tanggal 17-8-1945 (tujuh belas Agustus seribu sembilan ratus empat puluh lima), Warga Negara Indonesia, Wiraswasta, bertempat tinggal di Semarang, jalan Gatot Kaca, rukun tetangga 5 (lima), rukun warga 2 (dua), kelurahan Ngaglik, kecamatan Gajahmungkur, pemegang kartu tanda penduduk nomor 0330017074500002, (yang dikeluarkan oleh Kantor Pemerintahan Kota

Semarang, yang berlaku sampai dengan 17-8-2014 (tujuh belas Agustus dua ribu empat belas)

Yang terpenting dalam membuat Komparisi untuk KUASA adalah katakata : dari ----untuk dan atas nama----

Di dalam KUHPerdata ketentuan mengenai akta diatur dalam Pasal 1867 sampai Pasal 1880.

Surat sebagai alat pembuktian tertulis dapat dibedakan dalam Akta dan Surat bukan akta, dan Akta dapat dibedakan dalam Akta Otentik dan Akta Di bawah tangan. Sesuatu surat untuk dapat dikatakan sebagai akta harus ditandatangani, harus dibuat dengan sengaja dan harus untuk dipergunakan oleh orang untuk keperluan siapa surat itu dibuat.

Perbedaan pokok antara akta otentik dengan akta di bawah tangan adalah cara pembuatan atau terjadinya akta tersebut. Apabila akta otentik cara pembuatan atau terjadinya akta tersebut dilakukan oleh dan

atau dihadapan pejabat pegawai umum (seperti Notaris, Pegawai Pencatat Sipil), maka untuk akta di bawah tangan cara pembuatan atau terjadinya tidak dilakukan oleh dan atau dihadapan pejabat pegawai umum, tetapi cukup oleh pihak yang berkepentingan saja. Contoh dari akta otentik adalah akta notaris, putusan hakim (vonis), berita acara sidang, surat perkawinan, akta kelahiran, akta kematian, dan sebagainya; sedangkan akta di bawah tangan contohnya adalah surat perjanjian sewa menyewa rumah, dan surat perjanjian jual beli.

Salah satu fungsi akta yang penting adalah sebagai alat pembuktian. Akta otentik merupakan alat pembuktian yang sempurna bagi kedua belah pihak dan ahli warisnya serta sekalian orang yang mendapat hak darinya tentang apa yang dimuat dalam akta tersebut. Akta Otentik merupakan bukti yang mengikat yang berarti kebenaran dari hal-hal yang tertulis dalam akta tersebut harus diakui oleh hakim, yaitu akta tersebut dianggap sebagai benar selama kebenarannya itu tidak ada pihak lain yang dapat membuktikan sebaliknya.

Menurut Pasal 1857 KUHPerdata, jika akta dibawah tangan tanda tangan diakui oleh orang terhadap siapa tulisan itu hendak dipakai, maka akta tersebut dapat merupakan alat pembuktian yang sempurna terhadap orang yang menandatangani serta para ahli warisnya dan orang-orang yang mendapatkan hak darinya.

Berkaitan dengan meterai atau bea meterai menurut Pasal 2 Undangundang No. 13 Tahun 1985 tentang Bea Meterai disebutkan bahwa terhadap surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan tujuan untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan atau keadaan yang bersifat perdata maka dikenakan atas dokumen tersebut bea meterai.

Dengan demikian maka tiadanya meterai dalam suatu surat perjanjian (misalnya perjanjian jual beli, perjanjian sewa menyewa) maka tidak berarti perbuatan hukumnya (perjanjian tersebut) tidak sah, melainkan hanya tidak memenuhi persyaratan sebagai alat pembuktian. Sedangkan perbuatan hukumnya sendiri tetap sah karena tidak adanya perjanjian itu bukan ada tidaknya meterai, tetapi ditentukan oleh Pasal 1320 KUHPerdata, yaitu:

Syarat-syarat

Terjadinya

Suatu

Persetujuan

yang

Sah

Pasal

1320

Supaya terjadi persetujuan yang sah, perlu dipenuhi empat syarat;

1.

kesepakatan

mereka

yang

mengikatkan

dirinya;

2.

kecakapan

untuk

membuat

suatu

perikatan;

3.

suatu

pokok

persoalan

tertentu;

4. suatu sebab yang tidak terlarang.

4 tahun lalu