Anda di halaman 1dari 24

Mata Kuliah : Pelaporan Dan Akuntansi Keuangan

PENGUNGKAPAN : LAPORAN KEUANGAN INTERIM, PELAPORAN EMITEN BEPROSES IPO, DAN RIGHT ISSUES

KELOMPOK 2 :
NURHIKMAH MUKHTAR SYAHID JAFAR MUH. RIAZ PANGERANG SYUHADA MANSUR

UNIVERSITAS HASANUDDIN PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI MAKASSAR 2013

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG Dengan semakin dinamisnya perubahaan keadaan ekonomi dan bisnis, para pemangkukepentingan ( stakeholder ), khususnya para pelaku di pasar modal memerlukan informasikeuangan yang semutakhir mungkin. Sehubungan dengan itu disamping dengan laporankeuangan tahunan, untuk entitas yang terdaftar di bursa efek diwajibkanuntuk menyusun laporan keuangan interim. Umumnya, laporan keuangan yang dikeluarkan perusahaan bisnis adalah tahun fiskal penuh. Beberapa perusahaan mengeluarkan laporan keuangan untuk periode akuntansi interim sebagai bagian dari tahun fiskal. Laporan keuangan interim dikembangkan berdasarkan pandangan yang menganggap laporan keuangan interim sebagai bagian integral dengan periode tahunan. Pada dasarnya, laporan keuangan interim menyediakan informasi mengenai kondisi perusahaan kurang dari satu tahun. Laporan tersebut biasanya diterbitkan setiap tiga bulan dan biasanya berisi informasi kumulatif dari awal tahun sampai dibuatnya laporan tersebut. Pengungkapan informasi segmen sebagaimana diatur dalam Statement of Financial Accounting Standards (SFAS) Nomor 14 tentang Financial Reporting for Segments of Business Enterprise tidak berlaku untuk pelaporan interim, kecuali jika laporan interim tersebut berupa laporan keuangan yang dimaksudkan untuk menyajikan posisi keuangan, hasil operasi, dan perubahan posisi keuangan sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang Berterima Umum (PABU) atau Generally Accepted Accounting Principles (GAAP). Sebuah perusahaan yang akango public dimana perusahaan tersebut melakukan initial public offering (IPO) sahamnya melalui perusahaan sekuritas yang menjadi penjamin emisi dan melalui agen-agen penjual yang ditunjuk. IPO adalah kegiatan penawaran efek yang dilakukan oleh emiten untuk menjual efek kepada masyarakat (publik) melalui pasar modal.Investor bisa melakukan pembelian dengan memesan melalui penjamin emisi ataupun agen penjual. Pada umumnya, jumlah saham yang didapatkan biasanya cenderung lebih sedikit dari pesanan. Hal ini karena minat investor untuk membeli saham saat IPO biasanya sangat besar sehingga dilakukan penjatahan.

BAB II PEMBAHASAN
A. PENGUNGKAPAN LAPORAN KEUANGAN INTERIM 1. Laporan Keuangan Interim Di Indonesia, laporan keuangan interim dimuat dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 03 tentang Laporan Keuangan Interim yang terdapat dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Laporan keuangan interim adalah laporan keuangan yang diterbitkan di antara dua laporan keuangan tahunan. Laporan keuangan interim: (1) harus dipandang sebagai bagian yang integral dari periode tahuan; dan (2) dapat disusun secara bulanan, triwulanan, atau periode lain yang kurang dari setahun dan mencakupi seluruh komponen laporan keuangan sesuai standar akuntansi keuangan. Selain itu, Laporan Keuangan Interim adalah interim statement yaitu laporan keuangan bersifat antar waktu untuk kepentingan masyarakat pengguna jasa bank dan pihak lain yang terkait, yang meliputi periode bulanan atau triwulanan yang merupakan bagian integral dari laporan tahunan, laporan keuangan interim wajib disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang sama dengan laporan keuangan tahunan yang sekurang-kurangnya terdiri atas neraca, perhitungan laba rugi, laporan ikat

janji/komitmen dan kontingensi, jika terjadi perubahan dalam prinsip akuntansi, pelaporan pada periode interim harus didasarkan pada prinsip akuntansi yang digunakan dalam menyusun laporan keuangan terakhir. Menurut IAI, laporan keuangan interim harus dipandang sebagai bagian yang integral dari periode tahunan yang dapat disusun baik secara bulanan, kwartalan atau semesteran dan didalamnya harus mencakup semua komponen laporan keuangan sesuai standar akuntansi keuangan. Periode interim adalah suatu periode laporan keuangan yang lebih pendek dari satu tahun buku penuh. PSAK 1 (revisi 2009): Penyajian Laporan Keuanganmenetapkan laporan keuangan lengkap meliputi: Laporan posisi keuangan pada akhir periode Laporan laba rugi komprehensif selama periode

Laporan perubahan ekuitas selama periode Laporan arus kas selama periode Catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakanakuntansi penting dan informasi penjelasan lain, dan Laporan posisi keuangan pada awal periode komparatifyang disajikan ketika entitas menerapkan suatu kebijakanakuntansi secara retrospektif atau membuat

penyajiankembali secara retrospektif dari pos-pos dalam laporankeuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-posdalam laporan keuangannya. Komponen Minimal Laporan Keuangan Interim Laporan keuangan interim minimal mencakup komponen berikut: Laporan posisi keuangan ringkas Laporan laba rugi komprehensif ringkas, yang disajikan: a) Dalam satu laporan laba rugi komprehensif ringkas,atau b) Dalam satu laporan laba rugi ringkas terpisah dan satu laporan laba rugi komprehensif ringkas. Pandangan tentang Laporan Interim Terdapat dua pandangan mengenai laporan keuangan interim: Pandangan yang menganggap periode interim sebagai dasar periode akuntansi dan menyimpulkan bahwa hasil operasi tiap priode ditentukan dengan cara yang sama sperti pada priode tahunan. Pandangan yang menganggap priode interim sebagai bagian yang intergral dengan priode tahunan.

2. Sifat Laporan Keuangan Interim Secara konseptual, laporan keuangan interim (interim report) menyediakan informasi yang lebih tepat waktu, tetapi kurang lengkap dibandingkan dengan laporan keuangan tahunan (annual report). Laporan keuangan interim menunjukkan adanya trade-off antara ketepatan waktu dan kehandalan data-data keuangan, karena memerlukan adanya estimasi untuk melakukan review piutang, utang dagang/usaha, persediaan, dan informasi lainnya yang mendukung pengukuran yang disajikan dalam laporan keuangan tahunan.

Kebutuhan minimum pengungkapan sebagaimana diatur dalam APB Opinion Nomor 28 tidak mewajibkan penyajian keuangan yang wajar hasil operasi dan posisi keuangan sesuai dengan PABU. Berdasarkan APB Opinion Nomor 28, masing-masing periode interim merupakan bagian integral dari laporan tahunan (annual report). Hasil perhitungan periode interim harus didasarkan pada prinsip akuntansi dan praktik yang digunakan dalam tahun terakhir penyusunan laporan keuangan. Meskipun demikian, modifikasi tetap diperbolehkan untuk menyesuaikan periode interim dengan periode tahunan supaya memiliki informasi yang berarti. Sebagai contoh, laporan interim memodifikasi prosedur yang digunakan untuk penghitungan biaya produksi dan biaya-biaya yang lain yang biasanya digunakan dalam laporan tahunan.

3. PSAK Yang Mengatur Laporan Keuangan Interim PSAK 3 mengatur mengenai standar penyusunan laporan keuangan interim untuk entitasyang diwajibkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, misalnya pasar modal dan bursa efek. Sedangkan untuk jenis usaha tertentu, seringkali diatur cara penyusunandan pelaporan laporan interim tersendiri oleh regulator dibidang usaha tertentu, misalnya perbankan yang harus tunduk pada peraturan yang ditentukan oleh Bank Indonesia selaku bank sentral di Indonesia

4. Penyajian Laporan Keuangan Interim Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 03 tentang Laporan Keuangan Interim berlaku untuk perusahaan yang diwajibkan untuk menyajikan laporan keuangan interim oleh peraturan perundangan yang berlaku, misalnya: pasar modal, dan lain-lain.Untuk industri yang telah diatur dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) industri yang bersangkutan secara khusus, misalnya perbankan, maka harus mengikuti standar khusus tersebut. Laporan keuangan interim meliputi: (1) neraca; (2) laporan laba/rugi; (3) saldo laba interim; (4) laporan arus kas; dan (5) catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan interim harus menyajikan secara komparatif dengan periode yang sama tahun

sebelumnya. Perhitungan laba/rugi interim harus mencakup periode sejak awal tahun buku sampai dengan periode interim terakhir yang dilaporkan (year-to-date). Laporan keuangan interim harus menggolongkan aktiva sebagai kelompok lancar dan tidak lancar, dan kewajiban sebagai kelompok jangka pendek dan jangka panjang sesuai laporan keuangan tahunan. Kalau suatu aktiva dan kewajiban dapat atau harus direalisasikan dalam jangka waktu 12 bulan dari tanggal neraca interim, maka aktiva tersebut digolongkan sebagai lancar; atau kewajiban tersebut digolongkan sebagai jangka pendek; kalau tidak aktiva tersebut digolongkan sebagai tidak lancar atau kewajiban tersebut digolongkan sebagai jangka panjang. Khusus untuk perusahan tertentu, antara lain bank dan asuransi, yang mempunyai metode khusus dalam penggolongan aktiva, maka penggolongan aktiva harus dilakukan sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku.

5. Pelaporan Keuangan Interim Dengan Pelaporan Keuangan Tahunan Unsur yang sama antara pelaporan keuangan intrim dengan pelaporan keuangan tahunan adalah : Dasar pengakuan pendapatan Kebijakan akuntansi dasar pelaporan pada periode interim, kecuali jika ada perubahan dalam standar akuntansi. Penyajian penggolongan aktiva sebagai lancar dan tidak lancar, dan kewajiban sebagai jangka pendek dan jangka panjang.

6. Pengakuan Dan Pengukuran PSAK 3 mensyaratkan suatu perusahaan untuk menerapkan kebijakan akuntansi yang sama dalam laporan keuangan interimnya sebagaimana kebijakan yang diterapkan dalam laporan keuangan tahunannya. Namun, untuk perubahan kebijakan akuntansi yang dilakukan setelah tanggal laporan keuangan terkini yang akan tercemin dalam laporan keuangan tahunan berikutnya, maka kebijakan akuntansi yang baru tersebut harus diterapkan untuk laporan interim di tahun berjalan. Hal ini demi untuk menjaga konsistensi antara laporan keuangan interim tahun berjalan dengan laporan keuangan tahun berikutnya.

PSAK 3 mensyaratkan bahwa pengukuran untuk tujuan laporan keuangan interim harus dilakukan dengan dasar periode awal tahun buku sampai dengan periode interim terakhir yang dilaporkan, karena laporan keuangan interim adalah bagian dari laporan keuangan tahunannya yang lebih luas dan juga agar frekuensi pelaporan interim suatu perusahaan (semesteran atau triwulanan) tidak memengaruhi pengukuran hasil tahunannya. Selanjutnya menetapkan bahwa pendapatan yang diterima secara musiman, berulang, atau berkala dalam satu tahun buku tidak diantisipasi atau ditangguhkan pada tanggal interim jika antisipasi atau penangguhan tidak akan sesuai pada akhir tahun buku perusahaan tersebut, sedangkan beban yang terjadi secara tidak beraturan selama tahun buku harus diantisipasi atau ditangguhkan untuk tujuan pelaporan interim, jika hanya jika, hal tersebut adalah tepat untuk mengantisipasi atau menangguhkan jenis beban tersebut pada akhir tahun buku. Dalam laporan interim harus mengakui perubahan estimasi year to date dan bisa saja estimasi itu berbeda dengan laporan keuangan interim sebelumnya tahun tersebut.Namun prinsip pengakuan asset, liabilities, pendapatan, beban harus sesuai dengan laporan keuangan tahunan. Contoh: PT. A dengan tahun buku yang berakhir pada 31 Desember, menyusun laporan keuangan interim triwulanan.Kontrak kerja antara perusahaan dan karyawan mendapatkan gaji ke13, dan bonus tambahan diskresioner yang bergantung pada laba perusahaan untuk tahun tertentu.Dalam contoh ini, perusahaan harus mengakui (accured) jumlah proposional gaji ke-13, tetapi tidak bonus diskresionernya dalam setiap laporan keuangan triwulan. PSAK 3 menyarankan berkenaan dengan valuasi persediaan dan biaya litbang agar pengukuran periode interim dilakukan seolah-olah setiap periode interim berdiri sendiri sebagai periode pelaporan independen. Contoh:PT. B dengan tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember, menyajikan laporan keuangan interim triwulanan. Pada tanggal 30 September 2012, perusahaan mengestimasi bahwa nilai realisasi neto dari sejumlah persediaan adalah lebih rendah dari harga perolehannya.Dalam contoh ini, bahkan jika perusahaan tersebut mengestimasi realisasi neto persediaaan diatas biaya perolehan pada akhir tahun,

perusahaan ini diwajibkan untuk melakukan penurunan nilai persediaan tersebut ke nilai realisasi bersihnya dan mengakui kerugian pada laporan interim triwulan ke tiganya.Namun yang perlu diperhatikan bahwa perlakuan diatas tidak sejalan dengan teori integral.Diasumsikan bahwa persediaan itu masih dimiliki sampai 31 Desember 2012, dan hingga pada tanggal tersebut, nilai realisasi neto persediaan diestimasi lebih tinggi dari biaya perolehannya.Dalam contoh ini, kerugian yang dihapus bukukan dalam laporan keuangan interim triwulan ketiga harus dibalikkan dan persediaan tersebut disajikan pada harga aslinya dalam laporan keuangan tahunan ditahun 2012. PSAK 3 menetapkan bahwa prosedur pengukuran yang digunakan dalan laporan keuangan interim harus dibuat untuk menjamin bahwa informasi yang dihasilkan adalah andal serta pengungkapan yang sesuai untuk informasi keuangan material yang relevan untuk memahami posisi atau kinerja keuangan perusahaan diungkapkan secara memadai. Contoh: guna menyusun laporan keuangan interim, tidaklah perlu untuk melakuakan perhitungan fisik perseediaan secara keseluruhan, jika nilai persediaan dapat diestimasikan secara andal dengan menggunakan teknik (metode) estimasi. PSAK 3 juga menetapkan bahwa jika estimasi jumlah yang dilaporkan dalam satu periode interim diubah secara signifikan selama periode interim terakhir, sifat dan jumlah perubahan tersebut harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan tahunan untuk tahun buku tersebut. PSAK 3 menetapkan perubahan dalam kebijakan akuntansi harus dijelaskan dengan menyatakan kembali laporan keuangan periode interim sebelumnya dari tahun buku berjalan dan periode interim komparatif dari tahun buku sebelumnya.Hal ini untuk menjamin bahwa kebijakan akuntansi tertentu diterapkan pada kelompok transaksi tertentu untuk keseluruh tahun buku yang bersangkutan.Dalam permasalahan materialitas PSAK 3 menetapkan bahwa dalam memutuskan bagaimana cara mengakui, mengukur, mengklasifikasi, atau mengungkapkan unsur untuk tujuan pelaporan keuangan interim, maka materialitas harus dinilai terkait dengan data keuangan periode interim.

7. Pengungkapan Ringkasan Data Keuangan Interim Apabila perusahaan melaporkan ringkasan informasi keuangan pada tanggal laporan keuangan interim, maka data berikut merupakan data minimum yang harus dilaporkan: Pendapatan atau penjualan kotor, beban, estimasi pajak penghasilan, pos luar biasa (termasuk pengaruh terhadap pajak penghasilan yang terkait), pengaruh kumulatif perubahan akuntansi, perubahan akuntansi, dan laba bersih. Data laba bersih per saham untuk setiap periode interim yang disajikan. Pendapatan dan beban musiman. Perubahan yang penting dalam taksiran pajak penghasilan. Pelepasan suatu segmen usaha, pos luar biasa, transaksi tidak biasa, dan tidak sering terjadi. Kewajiban kontinjen. Perubahan akuntansi. Perubahan yang material pada unsur laporan arus kas. Laporan keuangan interim terakhir, misalnya laporan keuangan interim triwulan keempat, tidak perlu disusun karena pada dasarnya laporan keuangan tersebut dapat digantikan dengan laporan keuangan tahunan. Dalam hal laporan keuangan interim triwulan keempat hendak diterbitkan, maka penerbitannya dilakukan bersamaan dengan penerbitan laporan keuangan tahunan. Di samping itu, isi dari laporan keuangan interim triwulan keempat harus merupakan selisih dari laporan keuangan tahunan dan laporan keuangan interim sebelumnya tahun yang bersangkutan.

8. Format Dan Isi Laporan Keuangan Interim Terdapat dua pilihan bagi entitas dalam menyajikan laporan keuangan interim yaitu Laporan Keuangan Interim Lengkap Jika entitas menerbitkan laporan keuangan interim lengkap, maka format dan isi laporan keuangan interim harus disusun sesuai dengan ketentuan dalam PSAK 1.Peraturan Bapepam dan LK X.K.2 menetapkan bahwa dalam menyajikan LKTT emiten wajib menyajikan laporan keuangan interim secara lengkap.Dengan demikian format dan isi laporan keuangan interim tersebut harus sesuai dengan pengaturan

dalam dalam PSAK 1, kecuali terkait dengan periode perbandingan mengikuti pengaturan dalam PSAK 3. Laporan keuangan interim ringkas Jika entitas memilih menerbitkan laporan keuangan interim ringkas, maka PSAK 3 mengatur komponen minimum laporan keuangan interim sebagai berikut: a) Laporan posisi keuangan (neraca) ringkas b) Laporan laba rugi komprehensif ringkas c) Laporan perubahan ekuitas ringkas d) Laporan arus kas ringkas e) Catatan atas laporan keuangan pilihan atau tertentu.

B. PELAPORAN EMITEN BEproses IPO 1. Pengertian Initial Public Offering (IPO) Penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO) merupakan salah satu tahapan terpenting dalam proses perusahaan untuk menuju pasar modal atau go public. IPO merupakan Pasar Perdana bagi suatu perusahaan untuk menawarkan efeknya (saham, obligasi, dan surat-surat berharga lainnya) kepada publik.Bagi suatu perusahaan (Emiten) IPO secara financial merupakan saran untuk memproleh modal untuk pengembangan bisnis perusahaan dan sarana lainnya sebagai parameter bahwa perusahaan tersebut telah menjalankan keterbukaan dalam pengelolaan perusahaan perusahaan yang dampaknya dapat memperoleh citra perusahaan. Pengaturan IPO sendiri diatur dalam UndangUndang No. 25 tahun 2007 mengenai Penanaman Modal yang ditetapkan pada tanggal 26 April 2007 (Sebagai pengganti Undang-Undang No. 8 tahun 1985 tentang Pasar Modal) dan Keputusan Menteri Keuangan serta peraturan-peraturan yang di keluarkan oleh BAPEPAM dan Bursa Efek. Keutungan dalam melakukan IPO antara lain adalah signifikan akses untuk mendapatkan modal investasi yang lebih besar; kredibilitas sebagai hasil dari dukungan dan sponsor dari sebuah perusahaan investasi perbankan; beberapa harga saham yang mendukung setelah perusahaan private terdaftar secara publik; serta cakupan analisis dan laporan penelitian membantu masyarakat tetap dapat mendapatkan informasi.

Sementara kerugian dari Penawaran Umum Perdana antara lain mencakup kesuksesan IPO yang bergantung pada bankir investasi dan kondisi pasar; IPO membutuhkan biaya yang lebih besar dari penawaran umum langsung dan seringkali juga lebih besar dari penggabungan reverse, tidak termasuk biaya komisi; serta signifikan persyaratan dari manajemen untuk mengadakan rapat, panggilan konferensi dan roadshow.

2. Proses IPO (Penawaran Umum Perdana) Dalam proses IPO (Proses Emisi), Emiten harus menempuj serangkaian tahap yang cukup panjang. Secara garis bedar peruses IPO dapat dibagi menjadi 3 tahapan yaitu: sebelum emisi, selama emisi dan sesudah emisi Sebelum Emisi a) Persiapan emisi efek Sebelum emisi, rencana manajemen perusahaan mencari dana melalui go public mesti dibawa ke rapat umum pemegang saham (RUPS) atau rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPS-LB) untuk dimintakan persetujuan. Setelah persetujuan diperoleh, emiten kemudian harus mencari dan menunjuk pihak-pihak tertentu untuk menjamin emisi dan membantu menyiapkan kelengkapan dokumen emisi. Pihak-pihak yang terlibat tersebut meliputi perusahaan efek, profesi penunjang dan lembaga penunjang.Perusahaan efek dapat pula berfungsi sebagai penjamin pelaksana emisi, penjamin emisi, sekaligus agen penjual. Profesi penunjang yang diperlukan mencakup : 1) Akuntan publik (Auditor Independen) untuk melakukan audit atas laporan keuangan 2 tahun terakhir. 2) Notaris untuk melakukan perubahan atas Anggaran Dasar, membuat akta-akta perjanjian dalam rangka penawaran umum dan juga notulen-notulen rapat. 3) Konsultan hukum untuk memberikan pendapat dari segi hukum. 4) Lembaga-lembaga penunjang yang berperan antara lain. 5) Wali amanat sebagai wali dari kepentingan investor (untuk emisi obligasi). 6) Penanggung (Guarator). 7) Biro Administrasi efek. 8) Kustodian untuk tempat penitipan harta.

Persiapan dokumen emisi sendiri teridiri dari surat pengantar pernyataan terdaftar; prospektus lengkap, iklan, brosur, edaran; dokumen lain yang diwajibkan; rencana jadwal emisi; konsep surat efek; laporan keuangan; rencana penggunaan dana yang dirinci per tahun; proyeksi jika dicantumkan dalam prospektus; legal audit; legal opinion; riwayat hidup komisaris dan direksi; perjanjian penjamin emisi; perjanjian agen penjualan; perjanjian penanggungan (untuk emisi obligasi); perjanjian perwaliamanatan (untuk emisi obligasi); perjanjian dengan bursa efek; kontrak pengelolaan saham; kesanggupan emiten untuk menyerahkan semua laporan yang diwajibkan perundang-undangan pasar modal, dan informasi lainnya yang bukan bagian dari pernyataan pendaftaran yang diminta BAPEPAM.

b) Pendaftaran Pernyataan Emisi Setelah semua dokumen yang diperlukan untuk emisi telah lengkap, emiten mengadakan kontrak pendahuluan dengan bursa efek dan menandatangani perjanjianperjanjian emisi.Khusus penawaran obligasi atau efek hutang lainnya emiten harus mendapatkan terlebih dahulu peringkat dari lembaga pemeringkat efek.Barulah kemudian emiten bersama penjamin emisi menyampaikan pernyataan pendaftaran beserta dokumen-dokumen kepada Bapepam, sekaligus melakukan ekspose terbatas di Bapepam. Di Bapepam semua dokumen emisi yang telah diterima diperiksa kelengkapannya dan juga dievaluasi, baik dari segi kelengkapannya, kecukupan, kejelasan informasi, keterbukaan, maupun aspek hukum, akuntansi, keuangan dan manajemen. Dalam waktu maksimum 45 hari kerja jika Bapepam tidak menyampaikan komentar, permintaan perubahan/tambahan informasi maka pernyataan pendaftaran emiten dianggap efektif Selama Emisi a) Selama masa penawaran efek Pada tahap ini, emiten melakukan aktivitas penawaran efek pada pasar perdana yang sering disebut IPO (Initial Public Offering), melaksanakan penjualan saham perdana, sampai mencatat efek yang di lepas ke public ke Bursa Efek sehingga Investor dapat memperjualbelikan efek yang dimilikinya. Selama masa periode emisi dibedakan menjadi periode pasar perdana dan pasar sekunder

b) Penawaran umum efek Periode pasar perdana, mencakup periode mulai dari efek ditawarkan kepada pemodal oleh sindikasi penjamin emisi melalui para agen penjual yang ditunjuk, penjatahan oleh sindikasi penjamin emisi dan emiten, hingga penyerahan efek kepada investor. Jadi sesudah Bapepam menyatakan pernyataan pendaftaran efektif, emiten mulai

menyediakan prospectus lengkap untuk publik dan calon pembeli dan memuat prospectus ringkas tersebut dalam sebuah surat kabar harian atau lebih yang berbahasa Indonesia dan tersebar secara nasional. Pemasangan prospectus ringkas tersebut dilakukan tiga hari kerja sebelum masa penawaran umum agar calon pembeli dapat mempelajari terlebih dahulu penawaran emiten. Pada masa penawaran umum, calon investor yang tertarik dapat mulai mengajukan pesanan kepada penjamin emisi melalui agen penjualan yang ditunjuknya.Masa ini berlangsung tiga hari kerja dan selesai 60 hari setelah efektifnya pernyataan pendaftaran.Berakhirnya masa penawaran disusul dengan penjatahan efek.Penjatahan efek adalah pengalokasian efek para investor sesuai dengan jumlah yang tersedia.Jika kemudian ternyata jumlah permintaan efek selama masa penawaran umum melebihi jumlah efek yang ditawarkan, diadakan penjatahan khusus oleh manajer penjatahan. Masa penjatahan berjalan hingga 6 hari kerja setelah berakhirnya masa penawaran. Efek yang sudah dialokasikan kemudian diserahkan kepada investor dala bentuk surat saham kolektif. Dimana sertifikat tersebut sudah harus tersedia paling lambat 3 hari kerja sebelum pencatatan.

c) Pencatatan efek di bursa Periode pasar sekunder yaitu periode pencatatan efek di bursa sampai perdagangan sekunder dimulai. Bapepam mensyaratkan bahwa pencatatan harus dilaksanakan selambat-lambatnya 90 hari sesudah dimulainya masa penawaran umum atau 30 hari sesudah ditutupnya masa penawaran umum tersebut, tergantung mana yang lebih dahulu. Persyaratan pencatatan saham 1) Laporan keuangan diaudit akuntan terdaftar di Bapepam dengan pendapat Wajar Tanpa Kualifikasi (WTK) untuk tahun buku terakhir. 2) Minimal jumlah saham yang dicatatkan sebanyak 1 juta saham

3) Jumlah pemegang saham minimal 200 pemodal 4) Emiten wajib mencatatkan seluruh sahamnya yang telah ditempatkan dan distor penuh sepanjang tidak bertentangan dengan kepemilikan asing (maksimal 49% dari jumlah saham yang tercatat di bursa)

Sesudah Emisi a) Pelaporan emisi efek Sesudah efek diperdagangkan di pasar sekunder, emiten diwajibkan memberikan pelaporan kepada BEI dan BAPEPAM. Pelaporan kepada kedua Institusi ini terdiri dari tiga jenis, yaitu: 1) Laporan rutin yaitu berupa laporan keuangan tahunan, laporan keuangan tengah tahunan atau laporan triwulanan (laporan keuangan interim). Laporan rutin kepda BAPEPAM tidak hanya meliputi laporan keuangan saja tetapi juga mencakup beberapa laporan lainnya, seperti laporan penggunaan dana hasil emisi. 2) Laporan berkala yaitu laporan mengenai terjadinya setiap kejadian penting dan relevan. 3) Laporan lainnya, yaitu mencakup laporan mengenai perubahan anggaran dasar, rencana RUPS/RUPSLB, perubahan susunan direksi dan komisaris, dan mengenai penyimpangan proyeksi yang dipublikasikan lebih dari 10%. Seluruh laporan yang disampaikan emiten kepada bursa akan dipublikasikan kepada para investor melalui pengumuman di lantai bursa maupun melalui papan informasi. Dengan demikian investor, terutama investor publik, sebagai pihak yang tidak memiliki akses langsung kepada emiten, dapat mengetahui perkembangan performa emiten sehingga dapat mengambil tindakan yang menguntungkan bagi kegiata investasinya.

3. Peraturan BAPEPAM LK untuk IPO Peraturan-Peraturan Bapepam LK yang Mengatur Mengenai IPO yaitu IX. A. 1-14 dan IX.C.1-11 yaitu: a) Peraturan Nomor IX.A.1 mengenai ketentuan umum pengajuan pernyataan pendaftaran persyaratan penyampaian pendaftaran dalam rangka Penawaran Umum (IPO) oleh Emiten atau Perusahaan Publik. b) Peraturan Nomor IX.A.2 mengenai tata cara pendaftaran dalam rangka penawaran umum (IPO). c) Peraturan Nomor IX.A.3 mengenai Tata cara untuk meminta perubahan dan atau tambahan informasi atas pernyataan pendaftaran (IPO). d) Peraturan Nomor IX.A.4 mengenai Prosedur penangguhan penawaran umum. e) Peraturan Nomor IX.A.5 mengenai Penawaran yang bukan merupakan penawaran umum. f) Peraturan Nomor IX.A.6 mengenai Pembatasan atas saham yang diterbitkan sebelum penawaran umum. g) Peraturan Nomor IX.A.7 mengenai Tanggung jawab manajer penjatahan dalam rangka pemesanan dan penjatahan efek dalam penawaran umum. h) Peraturan Nomor IX. A.8 mengenai Prospektus awal dan info memo. i) Peraturan Nomor IX.A.9 mengenai Promosi pemasaran efek termasuk iklan, brosur, atau komunikasi lainnya kepada publik. j) Peraturan Nomor IX. A.10 mengenai Penawaran umum sertifikat penitipan efek Indonesia (Indonesian Depositary Receipt). k) Peraturan Nomor IX. A. 11 mengenai Penawaran umum efek bersifat utang dalam denominasi mata uang selain rupiah. l) Peraturan Nomor IX.A.12 mengenai penawaran umum oleh pemegang saham. m) Peraturan Nomor IX.A.13 mengenai penerbitan efek syariah. n) Peraturan Nomor IX.A.14 mengenai akad-akad yang digunakan dalam penerbitan efek syariah di pasar modal. o) Peraturan Nomor IX.C.1 merupakan pedoman mengenai bentuk dan isi pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum.

p) Peraturan Nomor IX.C. 2 merupakan pedoman mengenai bentuk dan isi prospectus ringkas dalam penawaran umum. q) Peraturan Nomor IX.C. 3 merupakan pedoman mengenai bentuk dan isi prospectus ringkas dalam penawaran umum (peraturan revisi tahun 2000). r) Peraturan Nomor IX.C. 4 mengenai pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum reksa dana berbentuk persero. s) Peraturan Nomor IX.C. 5 mengenai pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum reksa dana berbentuk kontrak investasi kolektif. t) Peraturan Nomor IX.C. 6 merupakan pedoman bentuk dan isi prospektus dalam rangka penawaran umum reksa dana. u) Peraturan Nomor IX.C. 7 merupakan pedoman mengenai bentuk dan isi pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum oleh perusahaan menengah atau kecil. v) Peraturan Nomor IX.C. 8 merupakan pedoman bentuk dan isi prospektus dalam rangka penawaran umum oleh perusahaan menengah atau kecil. w) Peraturan Nomor IX.C. 9 merupakan pedoman mengenai bentuk dan isi pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum efek beragun asset (Asset Backed Securities). x) Peraturan Nomor IX.C. 10 merupakan pedoman bentuk dan isi prospektus dalam rangka penawaran umum efek beragun asset (Asset Backed Securities). y) Peraturan Nomor IX.C. 11 mengenai pemeringkatan efek bersifat utang dan/atau sukuk

C. LAPORAN YANG HARUS DISIAPKAN UNTUKRIGHT ISSUES Right issue merupakan hak pembeli saham tambahan yang dilakukan oleh perusahaan dengan cara memesan terlebih dahulu dengan harga yang telah ditentukan sebelumnya untuk tanggal tertentu. Istilah right issue di Indonesia dikenal pula dengan istilah Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD), karena emiten mengeluarkan saham baru dalam rangka penambahan modal perusahaan dengan terlebih dahulu ditawarkan kepada pemegang saham saat ini.Dengan demikian, pemegang saham memiliki preemptive right atau hak memesan efek terlebih dahulu atas saham-saham baru tersebut.

a) Bapepam LK menerbitkan lima peraturan untuk right issues yaitu peraturan nomor IX.D.1-IXD5 Peraturan Bapepam LK No. IX.D.1 Dalam peraturan ini dijelaskan pengertian Right Issues (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu) yaitu hak yang melekat pada saham yang memungkinkan para pemegang saham yang ada untuk membeli Efek baru, termasuk saham, Efek yang dapat dikonversikan menjadi saham dan waran, sebelum ditawarkan kepada Pihak lain. Hak tersebut wajib dapat dialihkan. Selain itu pengertian Waran yaitu Efek yang diterbitkan oleh suatu perusahaan yang memberi hak kepada pemegang Efek untuk memesan saham dari perusahaan tersebut pada harga tertentu untuk jangka waktu 6 (enam) bulan atau lebih sejak diterbitkannya Waran tersebut Apabila suatu perusahaan yang telah melakukan Penawaran Umum saham atau Perusahaan Publik bermaksud untuk menambah modal sahamnya, termasuk melalui penerbitan Waran atau Efek konversi, maka setiap pemegang saham wajib diberi Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atas Efek baru dimaksud sebanding dengan persentase pemilikan mereka. Jika perusahaan tersebut mempunyai lebih dari satu jenis saham, dan jika jumlah saham dalam setiap jenis ditambah secara proporsional, maka para pemegang saham yang ada wajib mempunyai Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu sebanding dengan persentase pemilikan mereka dalam masing-masing jenis saham. Persyaratan untuk memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu ini tidak berlaku jika perusahaan mengeluarkan saham sebagai hasil kapitalisasi dari laba yang ditahan dan atau modal disetor lainnya seperti dividen saham atau saham bonus.

Peraturan Bapepam LK No. IX.D.2 Peraturan ini berisi pedoman mengenai bentuk dan isi pernyataan pendaftaran dalam rangka penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu (Right Issues). Dokumen-dokumen yang harus disiapkan untuk Right Issues sekurang-kurangnya terdiri dari: a) Surat pengantar Pernyataan Pendaftaran b) Prospektus; dan

c) Dokumen lain yang diperlukan sebagai bagian dari Pernyataan Pendaftaran dalam rangka penerbitan hak memesan saham terlebih dahulu. d) Surat dari Akuntan (comfort letter) sehubungan dengan perubahan keadaan keuangan Emiten atau Perusahaan Publik yang terjadi setelah tanggal laporan keuangan yang diaudit oleh Akuntan e) Surat pernyataan dari Emiten atau Perusahaan Publik di bidang akuntansi f) Keterangan lebih lanjut tentang prakiraan dan atau proyeksi, jika dicantumkan dalam Prospektus g) Kebijakan dividen serta riwayat pembayaran dividen h) Laporan pemeriksaan dan pendapat dari segi hukum (sehubungan dengan perubahan yang terjadi setelah tanggal dikeluarkannya pendapat hukum sebelumnya dan hal yang berkaitan dengan penggunaan dana hasil Penawaran Umum) i) Surat pencabutan pembatasan-pembatasan (negative covenant) yang dapat merugikan kepentingan pemegang saham publik dari kreditur. Dll

Peraturan Bapepam LK No. IX.D.3 Peraturan ini berisi pedoman mengenai bentuk dan isi prospectus dalam rangka penerbitan hak memesan efek terlebih : a) Suatu Prospektus harus mencakup semua rincian dan Informasi atau Fakta Material mengenai Penawaran Umum dari Emiten atau Perusahaan Publik, yang dapat mempengaruhi keputusan pemodal, yang diketahui atau layak diketahui oleh Emiten atau Perusahaan Publik. b) Emiten atau Perusahaan Publik harus berhati-hati apabila menggunakan foto, diagram, atau tabel pada Prospektus, karena bahan-bahan tersebut dapat memberikan kesan yang menyesatkan kepada masyarakat. c) Emiten atau Perusahaan Publik dapat melakukan penyesuaian atas pengungkapan Informasi atau Fakta Material tidak terbatas hanya pada Informasi atau Fakta Material yang telah diatur dalam ketentuan ini.

Peraturan Bapepam LK No. IX.D.4 Peraturan ini mengatur mengenai penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih Emiten atau Perusahaan Publik dapat menambah modal tanpa memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu kepada pemegang saham, sepanjang ditentukan dalam anggaran dasar.

Peraturan Bapepam LK No. IX.D.5 Peraturan ini memuat mengenai saham bonus.Saham Bonus adalah saham yang dibagikan secara cuma-cuma kepada pemegang saham berdasarkan jumlah saham yang dimiliki, pembagian Saham Bonus harus proporsional dengan kepemilikan saham dari setiap pemegang saham.Pelaksanaan pembagian Saham Bonus harus telah selesai dilakukan selambat-lambatnya 45 (empat puluh lima) hari setelah pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham yang menyetujui pembagian Saham Bonus tersebut.

b) Peraturan PSAK 56 Laba Per Saham (LPS) Saham Bonus. Ketika suatu entitas menerbitkan saham tambahan selam tahun bersangkutan dalam bentuk saham bonus, jumlah saham beredar untuk perhitungan laba per saham disesuaikan secara retroaktif untuk penerbitan saham bonus tersebut, jika LPS (Laba Per Saham) tahun sebelumnya ditunjukkan sebagai angka perbandingan jumlah saham yang beredar juga disesuaikan seolah-olah penerbitan bonus dilakukan di hari pertama tahun sebelumnya. Hak Beli Saham (Right Issues).Ketika suatu entitas menerbitkan hak untuk mebeli saham pada angka yang kurang dari harga pasar penuh, hak beli saham ini setara dengan penawaran publik pada harga pasar plus terbitan bonus. Unsur bonus dalam hak beli saham dapat dihitung setara dengan selisih antara harga pasar dengan hak dan harga pasar tanpa hak. Harga dengan hak adalah harga pasar dari saham pada hari terakhir saham tersebut diperjual belikan dengan hak. Harga tanpa hak adalah harga teoritis yang dapat ditentukan dengan (Jumlah saham sebelum hak beli saham x harga dengan hak) + (jumlah saham yang diterbitkan berdasarkan hak beli saham x harga pelaksana): jumlah saham setelah hak beli saham

Jika LPS tahun-tahun sebelumnya disajikan sebagai angka pebanding dalam laporan keuangan tahun berjalan, LPS-LPS tersebut juga harus disesuaikan untuk unsure bonus dalam hak beli saham tahun berjalan.LPS-LPS tahun sebelumnya dapat disesuaikan dengan menghitung kembali jumlah rata-rata tertimbang saham yang beredar. D. Kasus Pengungkapan Informasi Material-Perusahaan Gas Negara (PT. PGN) Kasus yang dialami oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk di indikasi bermula dari jatuhnya penjualan saham perusahaan tersebut dibursa efek dimana terjadi penurunan secara signifikan harga saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk di Bursa Efek Jakarta, yaitu dari Rp 9.650,00 (harga penutupan pada tanggal 11 januari 2006) menjadi Rp 7.400,00 per lembar saham pada tanggal 12 januari 2007. Adanya dugaan insider trading pada kasus ini karena Jatuhnya harga saham tersebut dilihat tidak wajar, karena merujuk pada harga sebelumnya Rp 9.650,00 berarti telah jatuh sebanyak 23,36%. Melihat dengan jatuhnya harga saham dalam penjualan dibursa efek, patut diduga bahwa adanya kesalahan atau pun kesengajaan dalam hal transaksi yang dilakukan oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk. Kala itu, saham PGN merosot hingga 23,36% atau Rp 2.250 menjadi Rp 7.400 dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 9.650. sebanyak 186,2 juta saham ditransaksikan. Selain itu pada masa periode tersebut, yaitu 12 September 2006 sampai dengan 11 Januari 2007 terdapat adanya perdagangan saham yang dilakukan oleh para pihak orang dalam perusahaan. Selain dugaan terjadinya praktek haram insider trading pada transaksi saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk, terdapat juga indikasi terjadinya pelanggaran prinsip keterbukaan informasi.PT. Gas Negara Tbk pada saat penjualan dibursa efek.Penurunan harga saham yang signifikan tersebut sangat erat hubungannya dengan siaran pers yang dilakukan manajemen PT Perusahaan Gas Negara Tbk sehari sebelum (11 januari 2007). Dalam siaran pers tersebut dinyatakan bahwa terjadi koreksi atas rencana besarnya volume gas yang akan dialirkan, yaitu mulai dari (paling sedikit) 150 MMSCFD menjadi 30 MMSCFD. Dan terdapat Pernyataan bahwa tertundanya gas in yang semula akan dilakukan pada akhir Desember 2006 tertunda menjadi Maret 2007. Penundaan proyek komersialisasi pemipaan gas PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dari Sumatra Selatan sampai Jawa Barat dan yang membuat informasi ini berhubungan erat dengan kasus anjloknya harga saham PGN, yaitu manajemen PT Perusahaan Gas Negara Tbk baru menjelaskan penundaan komersialisasi gas pada 11 Januari 2007, padahal informasi

tentang adanya penundaan tersebut sebenarnya sudah diketahui oleh manajemen PT Perusahaan Gas Negara Tbk sejak tanggal 12 September 2006 (informasi tentang penurunan volume gas) dan sejak tanggal 18 Desember 2006 (informasi tentang tertundanya gas in). Ada dugaan bahwa beberapa pelaku pasar telah mengetahui informasi penting mengenai penundaan komersialisasi gas tersebut sebelum diumumkan secara resmi oleh manajemen PT Perusahaan Gas negara Tbk. Dalam arti lain, tidak semua pelaku pasar mengetahui informasi penting tersebut. Sehingga bagi mereka yang mengetahui informasi penting tersebut, langsung mengambil langkah yang dapat menguntungkan mereka sendiri, dengan menjual saham PGN lebih dulu dibanding investor lainnya. Puncaknya pada tanggal 12 Januari 2007, para investor lainnya ikut-ikutan menjual saham PGN secara besar-besaran, yang mengakibatkan jatuhnya harga saham PGN 23,36% dari harga Rp 9.650,00 menjadi Rp 7.400,00. Badan Pengawas Pasar Modal dan lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mengumumkan hasil pemeriksaan terhadap pelanggaran peraturan perundangundangan di bidang Pasar Modal yang di lakukan oleh PT Perusahaan Gas Negara (persero) Tbk. (PT PGN), sebagai berikut: 1. Bapepam-LK telah melakukan pemeriksaan terhadap dokumen dan pihakpihak terkait dengan pelanggaran pasal 86 undang-undang pasar modal dan Peraturan Nomor X.K.1 tentang Keterbukaan Informasi yang harus segera diumumkan kepada publik yang dilakukan oleh PT PGN dan tentang pemberian keterangan yang secara material tidak benar sebagaimana dimaksud dalam pasal 93 Undang-undang Pasar Modal. 2. Atas pelanggaran Pasal 86 Undang-undang Pasar Modal dan Peraturan Nomor X.K.1 dan pelanggaran Pasal 93 Undang-undang Pasar Modal yang dilakukan oleh PT PGN ditemukan bukti-bukti sebagai berikut : a. Terdapat keterlambatan pelaporan keterbukaan informasi atas penundaan proyek pipanisasi yang dilakukan oleh PT PGN sebanyak 35 hari b. Terdapat pemberian keterangan yang secara material tidak benar, yakni memberikan keterangan tentang rencana volume gas yang dapat dialirkan melalui proyek SSWJ yang tidak sesuai dengan fakta bahwa telah terjadi perubahan awal tersebut. Fakta tersebut telah diketahui atau sepatutnya diketahui oleh direksi yang seharusnya disampaikan saat keterangan itu diberikan kepada publik

3. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, maka Bapepam-LK menetapkan: Sanksi denda sebesar Rp 35.000.000,00 kepada PT Perusahaan Gas Negara Tbk atas pelanggaran Pasal 86 Undang-undang Pasar Modal dan Peraturan Nomor X.K.1 ; Sanksi denda sebesar Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) kepada Direksi PT PGN yang menjabat pada periode bulan juli 2006 atas pelanggaran pemberian keterangan yang secara material tidak benar sebagaimana dimaksud dalam pasal 93 Undang-undang Pasar Modal.

KESIMPULAN
Dengan meningkatnya jumlah perusahaan yang menjual surat berharga di pasar modal, laporan keuangan interim menjadi semakin diperlukan pemakai laporan keuangan membutuhkan laporan keuangan perusahaan secepat mungkin untuk memberikan gambaran tentang kegiatan perusahaan. Laporan keuangan interim adalah laporan keuangan yang diterbitkan di antara dua laporan keuangan tahunan. Tuntutan pengungkapan untuk laporan interim ditemukan dalam APB Opinion Nomor 28 dan diamandemen dalam FASB Statement Nomor 3 dan FASB Interpretation Nomor 18. Laporan interim menyediakan informasi yang tepat waktu. Meskipun demikian, sebagian besar informasinya didasarkan pada estimasi dan laporan yang tidak diaudit. Setiap laporan interim merupakan bagian integral dari laporan tahunan. Laporan interim ditentukan berdasarkan prinsip akuntansi yang digunakan dalam laporan tahunan tahun sebelumnya. Meskipun demikian, beberapa modifikasi mungkin diperlukan untuk menyusun laporan interim sebagai pelengkap laporan tahunan.

DAFTAR PUSTAKA

http://kuliahnurinfo.wordpress.com/2010/10/01/laporan-interim/

http://www.scribd.com/doc/138657268/Pengungkapan-Laporan-Keuangan-Interim

http://nanangbudianas.blogspot.com/2013/02/pengertian-right-issue.html