Anda di halaman 1dari 21

BAB I Pendahuluan

Terwujudnya keadaan sehat merupakan kehendak semua pihak tidak hanya oleh orang perorang atau keluarga, tetapi juga oleh kelompok dan bahkan oleh seluruh anggota masyarakat. Untuk mewujudkan keadaan sehat tersebut banyak upaya yang harus dilaksanakan, yang satu diantaranya adalah penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Upaya penyelenggaraan pelayanan kesehatan diharapkan memenuhi faktor 3A 2C I dan Q, yaitu available, accesible, affordable, continue, comprehensive, integreted dan quality. Secara umum pelayanan kesehatan dibagi 2 yaitu pelayanan kesehatan personal atau pelayanan kedokteran dan pelayanan kesehatan masyarakat. Pelayanan kedokteran keluarga adalah termasuk dalam pelayanan kedokteran dimana pelayanan dokter keluarga ini memiliki karakteristik tertentu dengan sasaran utamanya adalah keluarga. Kesehatan merupakan hasil interaksi berbagai faktor. Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempunyai peran mempengaruhi kesehatan serta berkaitan erat dengan host (pejamu) dan agent (penyebab penularan).1 Dalam Epidemiologi pengertian penyebab timbulnya penyakit adalah suatu proses interaksi antara: Pejamu (host), Penyebab (agent), dan Lingkungan (environment). Segitiga epidemiologi (John Gordon) menggambarkan relasi tiga komponen penyebab penyakit seperti penjamu, agent dan lingkungan. Agent (A): Jumlahnya bila hidup. Konsentrasinya bila tidak hidup. Infektivitas/patogenisitas/virulensi/antigenisitas bila hidup. Patogenicity, kemampuan bibit penyakit untuk menimbulkan reaksi pada host sehingga timbul penyakit (diseases stimulus). Virulensi, ukuran keganasan atau derajat kerusakan yang ditimbulkan oleh bibit penyakit. Antigenicity, kemampuan bibit penyakit merangsang timbulnya mekanisme pertahanan tubuh (antigen) pada host. Infectivity, kemampuan bibit penyakit mengadakan invasi dan menyesuaikan diri, bertempat tinggal dan berkembang biak dalam host 1

Toksisitas/reaktivitas bila tidak.

Host (H): Derajat kepekaan. Imunitas terhadap (A) hidup, toleransi terhadap (A) mati. Status gizi, pengetahuan, pendidikan, perilaku, kebiasaan, adat istiadat dst. Lingkungan (L): Kualitas dan kuantitas kompartemen lingkungan yg berperan thd terjadinya transmisi (A) ke (H). Aspek fisik, biologis, sosial, dan ekonomi.

Segi tiga Epidemiologi John Gordon Sedangkan Hendrik L. Blum, menggambarkannya sebagai hubungan antara 4 faktor yaitu keturunan, lingkungan, perilaku dan pelayanan kesehatan.1,2

Menurut Dr.Indan Entjang lingkungan terdiri dari:2 Lingkungan biologik : bakteri, virus, jamur, nyamuk, kutu, lalat, hama, tumbuhan, hewan. Lingkungan fisik : udara, sinar matahari, tanah, air, sampah, iklim. Lingkungan ekonomi: pekerjaan, pendapatan dan kemiskinan. Lingkungan sosial : tingkah laku, kepandaian, adat istiadat, kepadatan, isolasi.

Pendekatan ekologis pemecahan masalah kesehatan lingkungan melalui pengawasan lingkungan, ada 5 prinsip yaitu:2 1) Isolasi 2) Substitusi/mengganti 3) Shielding/melindungi 4) Treatment/mengobati

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang masih menjadi masalah di seluruh dunia yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Jumlah kematian akibat penyakit tuberkulosis oleh WHO pada tahun 2008 menyebutkan jumlah kematian akibat penyakit ini mencapai 88.113 orang. Sementara jumlah kasus TB adalah 534.439 orang. Berdasarkan laporan WHO dalam Global Report 2009, pada tahun 2008 Indonesia berada pada peringkat lima dunia penderita TB terbanyak

setelah India, China, Afrika Selatan dan Nigeria. Peringkat ini turun dibandingkan tahun 2007 yang menempatkan Indonesia pada posisi ke-3 kasus TB terbanyak setelah India dan China. Dari hasil survey di Jawa Barat pada tahun 2004, angka prevalensi TB paru sebesar 960 per 100.000 penduduk, sedangkan di kabupaten Karawang pada 2009, diperkirakan angka penderita baru setiap tahun bertambah sebesar 2.295 kasus dengan prevalensi 110 per 100.000 penduduk.3,4

BAB II Kunjungan Rumah

Puskesmas

: Kecamatan Batu Jaya, Karawang

Tanggal kunjungan rumah : 26 Desember 2012

Data riwayat keluarga :

I.

Identitas pasien : : Bp. Sukriyadi : 67 tahun

Nama Umur

Jenis kelamin : Laki-laki Pekerjaan Pendidikan Alamat : Tidak bekerja : SD : teluk jambe. RT 014/007

II. Riwayat biologis keluarga : a. Keadaan kesehatan sekarang b. Kebersihan perorangan c. Penyakit yang sering diderita d. Penyakit keturunan e. Penyakit kronis/ menular f. Kecacatan anggota keluarga g. Pola makan h. Pola istirahat i. Jumlah anggota keluarga : sedang : sedang : batuk : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Sedang : Sedang : 4 orang

III.

Psikologis keluarga a. Kebiasaan buruk b. Pengambilan keputusan c. Ketergantungan obat : Merokok : Ketua keluarga : Tidak ada

d. Tempat mencari pelayanan kesehatan: Puskesmas 4

e. Pola rekreasi

: Kurang

IV.

Keadaan rumah/ lingkungan a. Jenis bangunan b. Lantai rumah c. Luas rumah d. Penerangan e. Kebersihan f. Ventilasi g. Dapur h. Jamban keluarga i. Sumber air minum j. Sumber pencemaran air k. Pemanfaatan pekarangan l. Sistem pembuangan air limbah m. Tempat pembuangan sampah n. Sanitasi lingkungan : Permanen : Semen : 28 m2 (7m x 4m) : Kurang : Cukup : Kurang : Ada : Tidak Ada : Air Perigi : Ada : Ada : Tidak Ada : Tidak Ada : Sedang

V.

Spiritual keluarga a. Ketaatan beribadah b. Keyakinan tentang kesehatan : Cukup : Cukup

VI.

Keadaan sosial keluarga a. Tingkat pendidikan b. Hubungan antar anggota keluarga c. Hubungan dengan orang lain d. Kegiatan organisasi sosial e. Keadaan ekonomi : Rendah : Baik : Baik : Kurang : Kurang

VII.

Kultural keluarga a. Adat yang berpengaruh : Sunda 5

b. Lain-lain

: Tidak ada

VIII. Anggota keluarga :

3 Keterangan 1. Os 2. Isteri Os 3. Anak Os 4. Anak Os 5. Anak Os

: Usia 67 tahun, mempunyai riwayat TBC : Usia 60 tahun, tidak mempunyai riwayat TBC : Laki-laki, 37 tahun, tidak mempunyai riwayat TBC : Perempuan, 33 tahun, tidak mempunyai riwayat TBC : Laki-laki, 30 tahun, tidak mempunyai riwayat TBC

IX.

Keluhan utama : Batuk darah selama 3 minggu

X.

Keluhan tambahan : Batuk-batuk sejak 2 bulan, demam, lemas dan berat badan menurun

XI.

Riwayat penyakit sekarang : Pasien datang berobat ke Puskesmas Kecamatan Batu Jaya dengan keluhan batuk darah selama 3 minggu. OS mengaku batuk sejak 2 bulan yang lalu disertai dahak berwarna kuning kehijauan dan sejak 3 minggu ini dahak disertai darah. OS juga mengeluh sering demam meriang, badan sering lemas dan berat badan dirasakan semakin menurun. OS mengatakan tidak ada riwayat TBC atau penyakit lain pada OS dan keluarga. Riwayat alergi terhadap obat-obat tertentu ataupun makanan disangkal oleh OS.

XII.

Riwayat penyakit dahulu : Tidak ada 6

XIII. Pemeriksaan fisik : Tanda-tanda vital Tekanan darah : 120/70 mmHg Frekuensi nadi : 86 x/menit Frekuensi napas: 20 x/menit Suhu BB Pemeriksaan umum Kepala Mata Hidung Telinga Leher : Normosefali : Konjungtiva anemis (-), Sklera ikterik (-) : Septum deviasi (-) : Normotia, Tidak tampak kelainan : Tidak teraba pembesaran KGB regional, kelenjar tiroid tidak tampak membesar. Paru Jantung Abdomen : Suara napas Rhonki (+/+), Wheezing (-/-) : Bunyi jantung I dan II reguler, Gallop (-), Murmur (-) : Tampak datar, teraba supel, Bising usus (+) N, Nyeri tekan (-) Ekstremitas : Bentuk normal, varises (-), Edema (-) : 37,2oC : 48 kg

XIV. Diagnosis penyakit : Sistemik : Tuberkulosis paru Jiwa : Tidak ada

XV.

Diagnosis keluarga : tidak ada

XVI. Anjuran penatalaksanaan penyakit

a. Promotif : pengobatan TBC di Puskesmas secara rutin selama 6 bulan b. Preventif : mengajarkan cara batuk dan meludah yang benar, mengkonsumsi makanan bergizi yaitu empat sehat lima sempurna, 7

menghindari rokok, berolahraga dan istirahat yang teratur dan menghindari stres. c. Kuratif : terapi medikamentosa : Obat Anti Tuberculosis (OAT) :

1. Fase awal : 2 bulan setiap hari a. Rifampicin 3 x 150mg b. INH 3 x 75mg c. Pyrazinamid 3 x 400mg d. Ethambutol 3 x 275mg 2. Fase lanjutan : 4 bulan setiap 3 kali/minggu a. Rifampicin 3 x 150mg b. INH 3 x 150mg d. Rehabilitatif : hindari kontak dengan penderita TBC

XVII. Prognosis Penyakit Keluarga Masyarakat : dubia ad bonam : dubia : dubia

XVII. Resume

Telah diperiksa seorang pasien laki-laki berinisial Bp.S berusia 67 tahun dengan keluhan utama batuk darah selama 3 minggu. OS mengaku batuk sejak 2 bulan yang lalu disertai dahak berwarna kuning kehijauan dan sejak 3 minggu ini dahak disertai darah. OS juga mengeluh sering demam meriang, badan sering lemas dan berat badan dirasakan semakin menurun. Suara nafas rhonki (+/+). Riwayat TBC, penyakit lain, alergi obat dan makanan disangkal oleh OS. Pemeriksaan Fisik : BB = 48 kg Diagnosis : Sistemik Jiwa : Tuberkulosis paru : Tidak ada

Analisa Kasus

Berikut adalah pembahasan Tuberkulosis dengan pendekatan Kedokteran Keluarga Dari hasil pemeriksaan saat kunjungan rumah pada tanggal 20 Oktober 2012, didapatkan bahwa pasien menderita tuberkulosis (TB). Pasien laki-laki berusia 67 tahun. Pasien memberi perhatian yang cukup baik akan keadaan kesehatan dirinya dan anggota keluarganya. Pasien tidak bekerja karena sakit. Pasien memiliki 3 orang anak, 2 laki-laki dan 1 perempuan. 2 anaknya sudah berumah tangga dan 1 anak lakilakinya tinggal bersama pasien. Rumah pasien tergolong rumah yang kurang sehat dilihat dari bahan binaan rumah hanyalah mengkuang, lantai semen dengan luas 28m2 dan lingkungan

tergolong padat. Penerangan tergolong cukup dari listrik dan cahaya matahari. Kebersihan cukup, kondisi di dalam rumah cukup teratur. Rumah pasien mempunyai dapur di dalam rumah dan diluar rumah mempunyai dapur kayu untuk memasak air. Jamban tidak ada, sumber air minum berasal dari perigi. Rumah pasien dekat dengan kandang kambing dan bebek (kutang 10 meter) yang bisa menjadi sumber pencemaran air. Perkarangan rumah cukup dimanfaatkan dengan menanam pohon pisang. Sistem pembuangan air limbah tidak ada, tempat pembuangan sampah tidak ada. Pola makan pasien dan keluarga kurang bervariasi. Menu nasi dan sayur yang paling sering, lauk sangat jarang. Pasien juga kurang aktif mengikuti kegiatan sosial di lingkungannya, seperti kegiatan keagamaan, kebersihan lingkungan, dan acaraacara yang diselenggarakan di lingkungannya. Ditinjau dari spiritual keluarga keluarga pasien merupakan keluarga yang cukup taat beribadah beragama Islam. Keluarga pasien yang lain sehat dan tidak mengidap penyakit apapun baik yang diderita secara per orangan maupun yang memungkinkan untuk diturunkan. Saat ini kondisi pasien sakit sedang. Pasien mengeluh batuk-batuk disertai darah, badan terasa lemas dan berat badan menurun. Pasien sedang menjalani pengobatan regien tuberkulosis enam bulan dari puskesmas. Setakat ini, pasien patuh terhadap pengobatannya karena dia mempunyao keinginan untuk sembuh. Selain itu, untuk mencapai tingkat kesehatan yang lebih optimal hendaknya didukung pula oleh kondisi rumah yang lebih sehat, kebersihan diri yang lebih baik, cukupnya asupan 9

gizi, serta mengontrol pola makan dan berolah raga secara teratur. Pasien juga harus membiasakan cara batuk dan meludah yang benar, menghindari rokok, berolahraga dan istirahat yang teratur dan menghindari stres.

BAB III Tinjauan Pustaka 10

Tuberculosis

Pendahuluan Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang masih menjadi perhatian dun ia. Penyakit Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan merupakan penyebab utama kecacatan dan kematian hampir di sebagian besar negara diseluruh dunia. Hingga saat ini, belum ada satu negara pun yang bebas TB. Sepertiga dari populasi dunia sudah tertular dengan TB dimana sebagian besar penderita TB adalah usia produktif (15-55tahun).

Hal ini secara langsung juga berkaitan dengan economic lost yaitu kehilangan pendapatan rumah tangga. Menurut WHO, seseorang yang menderita TB diperkirakan akan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar 3 4 bulan. Bila meninggal akan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar 15 tahun. Berdasarkan laporan WHO dalam Global Report 2009, pada tahun 2008 Indonesia berada pada peringkat lima dunia penderita TB terbanyak setelah India, China, Afrika Selatan dan Nigeria. Peringkat ini turun dibandingkan tahun 2007 yang menempatkan Indonesia pada posisi ke-3 kasus TB terbanyak setelah India dan China. Dunia telah menempatkan TB sebagai salah satu indikator keberhasilan pencapaian MDGs. Secara umum ada empat indikator yang diukur, yaitu prevalensi, mortalitas, penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan. Dari keempat indikator tersebut tiga indikator sudah dicapai oleh Indonesia, angka kematian yang harus turun separuhnya pada tahun 2015 dibandingkan dengan data dasar (baseline data) tahun 1990, dari 92/100.000 penduduk menjadi 46/100.000 penduduk. Indonesia telah mencapai angka 39/100.000 penduduk pada tahun 2009. Angka penemuan kasus (case detection rate) kasus TB BTA positif mencapai lebih 70%. Indonesia telah mencapai angka 73,1% pada tahun 2009 dan mencapai 77,3% pada tahun 2010. Angka ini akan terus ditingkatkan agar mencapai 90% pada tahun 2015 sesuai target RJPMN. Angka keberhasilan pengobatan (success rate) telah mencapai lebih dari 85%, yaitu 91% pada tahun2009. Menurut Prof. Tjandra Yoga, sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan tingginya kasus TB di Indonesia. Waktu pengobatan TB yang relatif lama (6 8 11

bulan) menjadi penyebab penderita TB sulit sembuh karena pasien TB berhenti berobat (drop out ) setelah merasa sehat meski proses pengobatan belum selesai. Selain itu, masalah TB diperberat dengan adanya peningkatan infeksi HIV/AIDS yang berkembang cepat dan munculnya permasalahan TB MDR (Multi Drugs Resistant). Masalah lain adalah adanya penderita TB laten, dimana penderita tidak sakit namun akibat daya tahan tubuh menurun, penyakit TB akan muncul. Berdasarkan hasil survey tahun 2004, di Jawa Barat angka prevalensi TB paru sebesar 960 per 100.000 penduduk, sedangkan di kabupaten Karawang, diperkirakan angka penderita baru setiap tahun

bertambah sebesar 2.295 kasus dengan prevalensi 110 per 100.000 penduduk (Program P2PM, P2 TB Paru Dinkes Kabupaten Karawang 2009). Strategi ini telah diimplementasikan keseluruh dan unit diekspansi di Indonesia Berbagai secara bertahap kemajuan

pelayanan. strategi

telah dicapai,sampai di tahun 2005

DOTS telah menjangkau 98%

puskesmas, akan tetapi strategi ini belum berjalan dengan baik di rumah sakit.3-5

Epidemiologi Jumlah kematian akibat penyakit tuberkulosis (TB) masih tinggi. Laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) 2008 menyebutkan jumlah kematian akibat penyakit ini mencapai 88.113 orang. Sementara jumlah kasus TB adalah 534.439 orang. Sejak penerapan strategi DOTS pada tahun 1995, Indonesia telah mencapai kemajuan yang cepat. Angka penemuan kasus 71% dan angka keberhasilan pengobatan sebesar 88,44%. Angka tersebut telah memenuhi target global yaitu angka penemuan kasus 70% dan keberhasilan pengobatan 85% (Depkes RI 2010) Sementara data TB dunia, tahun 2008 ini tercatat 9,2 juta kasus Dari jumlah itu, 1,7 juta meninggal. Meski demikian jumlah tersebut memperlihatkan jumlah kasus TB menurun sejak 2003 (WHO, 2008).6

Etiologi 12

Bakteri Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang/basil dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Jenis bakteri ini pertama kali ditemukan oleh Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882. TB disebut juga Koch Pulmonum (KP).6

Patofisiologi

Pada tuberculosis, basil tuberculosis menyebabkan suatu reaksi jaringan yang aneh di dalam paru-paru meliputi: penyerbuan daerah terinfeksi oleh makrofag, pembentukan dinding di sekitar lesi oleh jaringan fibrosa untuk membentuk apa yang disebut dengan tuberkel. Banyaknya area fibrosis menyebabkan meningkatnya usaha otot pernafasan untuk ventilasi paru dan oleh karena itu menurunkan kapasitas vital, berkurangnya luas total permukaan membrane respirasi yang menyebabkan penurunan kapasitas difusi paru secara progresif, dan rasio ventilasi-perfusi yang abnormal di dalam paru-paru dapat mengurangi oksigenasi darah.7

Manifestasi Klinis

a) Tuberkulosis paru

Pada awalnya penderita hanya merasakan tidak sehat atau batuk yang lebih dari dua minggu. Pada pagi hari batuk bisa disertai sedikit dahak bewarna hijau atau kuning. Jumlah dahak biasanya akan bertambah banyak sejalan dengan perkembangan penyakit. Pada akhirnya, dahak akan bewarna kemerahan karena mengandung darah. Salah satu gejala yang paling sering ditemukan adalah berkeringat di malam hari. Penderita sering terbangun di malam hari karena tubuhnya basah kuyup oleh keringat sehingga pakaian atau bahkan sepreinya harus diganti. Sesak nafas merupakan pertanda adanya udara (pneumotoraks atau cairan (efusi pleura) di dalam rongga pleura. Sekitar sepertiga infeksi ditemukan dalam bentuk efusi pleura. Pada infeksi tuberkulosis yang baru, bakteri pindah dari luka di paru-paru ke dalam kelenjar getah bening yang berasal dari paru-paru. Jika sistem pertahanan tubuh 13

alami bisa mengendalikan infeksi, maka infeksi tidak akan berlanjut dan bakteri menjadi dorman. Pada anak-anak, kelenjar getah bening menjadi besar dan menekan tabung bronkial dan menyebabkan batuk atau bahkan mungkin menyebabkan penciutan paru-paru. Kadang bakteri naik ke saluran getah bening dan membentuk sekelompok kelenjar getah bening di leher. Infeksi pada kelenjar getah bening ini bisa menembus kulit dan menghasilkan nanah.7

b) Tuberkulosis ekstrapulmonal

Tabel 1. Tuberkulosis pada berbagai organ

Bagian yang terinfeksi

Gejala atau komplikasi

Rongga perut

Lelah, nyeri tekan ringan, nyeri seperti apendisitis

Kandung kemih Otak

Nyeri ketika berkemih Demam, sakit kepala, mual, penurunan kesadaran, kerusakan otak yg

menyebabkan terjadinya koma Perikardium Demam, pelebaran vena leher, sesak nafas Persendian Ginjal Organ reproduksi pria Organ reproduksi wanita Tulang belakang Gejala yang menyerupai Arthritis Kerusakan gijal, infeksi di sekitar ginjal Benjolan di dalam kantung zakar Kemandulan Nyeri, kollaps tulang belakang &

kelumpuhan tungkai

Diagnosis

14

Diagnosis TBC Paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga spesimen SPS BAT hasilnya positif. Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan dahak SPS diulang. Kalau hasil rontgen mendukung TBC, maka penderita didiagnosis sebagai penderita TBC positif. Kalau hasil rontgen tidak mendukung TBC maka pemeriksaan dahak SPS diulangi. Apabila fasilitas memungkinkan maka dilakukan pemeriksaan lain misalnya biakan. Bila ketiga spesimen dahak hasilnya negatif diberikan antibiotik spektrum luas ( misalnya kotrimoksasol atau Amoksisilin) selama 1-2 minggu bila tida ada perubahan namun gejala klinis tetap mencurigakan TBC ulangi pemeriksaan dahak SPS. Kalau hasil SPS positif diagnosis sebagai penderita TBC BTA positif. Kalau hasil SPS tetap negatif lakukan pemeriksaan foto rontgen dada untuk mendukung diagnosis TBC. Bila hasil rontgen mendukung TBC didiagnosis sebagai penderita TBC BTA negatif rontgen positif. Bila hasil rantgen tidak di dukung TBC penderita tersebut bukan TBC. UPK yang tidak memiliki fasilitas rontgen penderita dapat dirujuk untuk foto rontgen dada.6,8,9 Gambaran radiologis yang dicurigai TB adalah pembesaran kelenjar nilus, paratrakeal, dan mediastinum, atelektasis, konsolidasi, efusipieura, kavitas dan gambaran milier. Bakteriologis, bahan biakan kuman TB diambil dari bilasan lambung, namun memerlukan waktu cukup lama. Serodiagnosis, beberapa diantaranya dengan cara ELISA (Enzyime Linked Immunoabserben Assay) untuk mendeteksi antibody atau uji peroxidase anti peroxidase (PAP) untuk menentukan IgG spesifik. Teknik bromolekuler, merupakan pemeriksaan sensitif dengan mendeteksi DNA spesifik yang dilakukan dengan metode PCR (Polymerase Chain Reaction). Uji serodiagnosis maupun biomolekular belum dapat membedakan TB aktif atau tidak.

Tes tuberkulin positif, mempunyai arti : Pernah mendapat infeksi basil tuberkulosis yang tidak berkembang menjadi penyakit. Menderita tuberkulosis yang masih aktif 15

Menderita TBC yang sudah sembuh Pernah mendapatkan vaksinasi BCG Adanya reaksi silang (cross reaction) karena infeksi mikobakterium atipik.8

Terapi a. Promotif i. ii. Penyuluhan kepada masyarakat apa itu TBC Pemberitahuan baik melalui spanduk/iklan tentang bahaya TBC, cara penularan, cara pencegahan, faktor resiko iii. b. Mensosialisasiklan imunisasi BCG di masyarakat.

Preventif i. ii. iii. iv. Vaksinasi BCG Menggunakan isoniazid (INH) Membersihkan lingkungan dari tempat yang kotor dan lembab. Bila ada gejala-gejala TBC segera ke Puskesmas/RS, agar dapat diketahui secara dini.

c.

Kuratif Pengobatan Penyakit TBC.

Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen, yaitu : i. Adanya komitmen politis dari pemerintah untuk bersungguhsungguh menanggulangi TBC. ii. Diagnosis penyakit TBC melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopis 16

iii.

Pengobatan TBC dengan paduan obat anti-TBC jangka pendek, diawasi secara langsung oleh PMO (Pengawas Menelan Obat)

iv. v. Komplikasi

Tersedianya paduan obat anti-TBC jangka pendek secara konsisten. Pencatatan dan pelaporan mengenai penderita TBC sesuai standar.8

Komplikasi Penyakit TB paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi seperti: pleuritis, efusi pleura, empiema, laringitis,TB usus. Menurut Dep.Kes (2003) komplikasi yang sering terjadi pada penderita TB Paru stadium lanjut: 1) Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas. 2) Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial. 3) Bronkiectasis dan fribosis pada Paru. 4) Pneumotorak spontan: kolaps spontan karena kerusakan jaringan Paru. 5) Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya. 6) Insufisiensi Kardio Pulmoner.8

BAB IV Kesimpulan dan Saran 17

4.1. Kesimpulan Dalam Epidemiologi pengertian penyebab timbulnya penyakit adalah suatu proses interaksi antara: Pejamu (host), Penyebab (agent), dan Lingkungan (environment). Segitiga epidemiologi (John Gordon) menggambarkan relasi tiga komponen penyebab penyakit seperti penjamu, agent dan lingkungan. Sedangkan Hendrik L. Blum, menggambarkannya sebagai hubungan antara 4 faktor yaitu keturunan, lingkungan, perilaku dan pelayanan kesehatan.1,2 Penyakit Tuberkulosis merupakan penyakit yang mempunyai dampak yang serius ke masyarakat. Ia perlu didiagnosis secara tepat dan diberikan pengobatan secara benar dan lengkap. Setiap pasien harus dimonitor setiap perkembangannya dan dipastikan menjalani pengobatan secara teratur guna untuk menurunkan angka prevalensi peyakit tuberculosis itu sendiri. Dengan itu, penatalaksanaan dan pemberantasan kasus tuberkulosis memerlukan peran serta dari semua pihak, yaitu peran serta masyarakat, dokter, para ahli medis dan tokoh masyarakat untuk menunjang keberhasilan menurunkan angka kesakitan.

4.2. Saran Melihat banyaknya pasien yang menderita penyakit tuberkulosis, setiap ahli medis perlulah mendiagnosisnya secara tepat dan memastikan mereka patuh pengobatan rutin tuberkulosis. Dengan itu sangatlah perlu untuk memonitor secara ketat setiap pasien yang dinyatakan menderita tuberkulosis. Dengan ini, penularan secara berterusan dapat dikurangkan.

Daftar Pustaka

18

1. Suyatno, MKes. 2009. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesehatan. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Diunduh dari: Diakses

http://suyatno.blog.undip.ac.id/files/2009/12/ikms-faktor-kesehatan.pdf. tanggal 26 Februari 2011.

2. Kuswandari, Novita. 2007. Konsep Kesehatan Lingkungan. Diunduh dari: http://www.pdf.com. Diakses tanggal 26 Februari 2011. 3. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan DepartemenKesehatan RI. Info Penyakit : Simposium TB Update 2011. Diunduh dari :http://www.penyakitmenular.info. 2012. 4. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.TBC Masalah Kesehatan Dunia. Diunduh dari

:http://www.bppsdmk.depkes.go.id. 2012. 5. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI. Info Penyakit : Pengendalian TB di Indonesia mendekati MDG. Diunduh dari:http://www.penyakitmenular.info. 2012. 6. Penyakit Tuberkulosis. Diunduh dari http://www.infopenyakit.com tahun 2007, pada November 2011. 7. Surveilans TB Paru. Diunduh dari : www.undip.ac.id/files/2009/10/surveilanstb_paru.pdf 8. Departeman Kesehatan Republik Indonesia. Standar Penanggulangan Penyakit Tuberkulosis. Volume 5 ed. I. Jakarta, 2002. 9. Penyakit TBC. Diunduh dari http://www.medicastore.com, diakses pada November 2011.

LAMPIRAN

19

20

Gambar 2: Kami bersama pasien kunjungan rumah , Bp. S di rumahnya.

21