Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Berbicara tentang bagaimana suatu golongan batubara dapat terbentuk tidak akan lepas dari 2 teori. Tersebut berkaitan dengan tempat terbentuknya batubara, lantas seperti apa bunyi dari kedua teori di atas? Berikut jawabannya.. a. Teori Insitu, mengatakan bahwa tempat terbentuknya batubara berada pada tempat yang sama dengan tempat tumbuhnya tumbuhan yang menjadi cikal bakal pembentukan batubara itu sendiri. Jadi, ketika ada suatu kelompok tumbuhan tumbuh dan membusuk disuatu tempat, maka kelak tumbuhan yang membusuk ini akan tertimbun oleh suatu endapan dan setelah melalui proses panjang bertahun-tahun lamanya maka jika prosesnya berlangsung normal, di tempat tersebut akan terbentuk batubara muda yang disebut lignite. b. Teori Drift, mengatakan bahwa tempat terbentuknya batubara berbeda dengan tempat asal tumbuhan berada. Jadi, ada media yang menyebabkan tumbuhan yang membusuk itu dapat berpindah ke tempat lain, nah di tempat yang baru itulah tumbuhan tadi mengalami proses coalification (pembatubaraan), dimana di awal pembentukannya akan terbentuk batubara muda atau lignite.

Dalam proses pembentukan batu bara ada dua tahapan yang akan dilalui oleh tumbuhan yang menjadi bahan pembentuk batubara. Tahap pertama yaitu Proses Biokimia, disini material pembentuk batubara akan mengalami pembusukan yang dibantu oleh bakteri anaerob, nantinya tumbuhan tersebut akan menjadi gambut. Tahap kedua yaitu Proses Geokimia atau disebut juga Malihan, disini tumbuhan yang telah menggambut akan berubah menjadi batubara muda (lignite), tekanan serta suhu yang ada di bawah permukaan tanah akan membantu proses perubahan lignite menjadi sub-bituminous lalu kemudian menjadi bituminous hingga terakhir menjadi anthracite.

Pada proses pembentukan batu bara ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses tersebut, khusus untuk pembentukan tumbuhan menjadi gambut (tahap penggambutan) faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain evolusi tumbuhan, iklim, struktur geologi suatu daerah, pH serta aktivitas bakteri (bakteri anaerob), dan lingkungan pengendapan seperti yang kami bahas pada makalah ini. B. Tujuan Dalam menyusun makalah ini penulis mempunyai beberapa tujuan, yaitu: Mengetahui proses pembentukan gambut Mengetahui faktor faktor pembentukan gambut Berdasarkan latar belakang tersebut, masalah masalah yang di bahas dapat dirumuskan sebagai berikut : Bagaimana proses pembentukan gambut ? Apa saja faktor faktor yang mempengaruhi pembentukan gambut ?

C. Rumusan Masalah

BAB II PEMBAHASAN
A. Gambut Gambut adalah batuan sedimen organik yang dapat terbakar berasal dari tumpukan dan hancuran bagian dari tumbuhan yang terhumifikasi dan dalam keadaan tertutup udara (dibawah air) tidak padat, kandungan air > 75% dan kandungan mineral < 50% (dalam persen berat). Tahap penggambutan (peatification) adalah tahap dimana sisa-sisa tumbuhan yang terakumulasi tersimpan dalam kondisi reduksi di daerah rawa dengan sistem pengeringan yang buruk dan selalu tergenang air pada kedalaman 0,5 10 meter. Material tumbuhan yang busuk ini melepaskan H, N, O, dan C dalam bentuk senyawa CO2, H2O, dan NH3 untuk menjadi humus. Selanjutnya oleh bakteri anaerobik dan fungi diubah menjadi gambut. Pembusukan tumbuhan adalah proses peruraian unsur yang merupakan bagian transformasi biokimia dari bahan organik tumbuhan. Setelah tumbuhan mati, maka yang berperan adalah proses degradasi biokimia. Prosesnya adalah pembusukan oleh kerja bakteri dan jamur, terutama di daerah yang bertemperatur hangat dan lembab daripada di daerah kering dan bertemperatur dingin. Bakteri bekerja pada lingkungan tanpa oksigen, mula-mula menghancurkan bagian yang lunak dari tumbuhan seperti cellulose, protoplasma, dan pati. Dalam suasana kekurangan oksigen akan berakibat keluarnya air dan sebagian unsur karbon dalam bentuk karbondioksida, karbonmonoksida, dan metan. Akibat pelepasan unsur atau senyawa tersebut, maka jumlah relatif unsur karbon akan bertambah. Dari proses ini akan terjadi perubahan dari kayu menjadi gambut. Kecepatan pembentukan gambut bergantung pada kecepatan pertumbuhan tumbuhan dan proses pembusukan. Bila tumbuhan yang mati tertutup oleh air dengan cepat, maka akan terjadi proses penguraian oleh bakteri. Sebaliknya apabila tumbuhan yang telah mati terlalu lama berada di udara terbuka, maka kecepatan pembentukan gambut akan berkurang, karena hanya bagian yang keras saja yang tertinggal, sehingga menyulitkan penguraian oleh bakteri. Pembusukan umumnya berjalan lebih cepat pada kondisi lingkungan yang selalu berganti, yaitu

dari reduksi ke oksidasi dan seterusnya. Kadar pembusukan akan berpengaruh terhadap batubara yang akan terbentuk.

B. Pembentukan Gambut Tahap diagenesa gambut merupakan tahap awal pembentukan batubara, yaitu mencakup perubahan oleh mikroba dan proses kimia. Dimulai dari pembusukan tumbuhan sampai terbentuk gambut (peat). Pada tahap ini dicirikan oleh aktivitas bakteri aerob (membutuhkan oksigen) dan anaerob (tidak membutuhkan oksigen). Jika tumbuhan tumbang di suatu rawa, maka dapat terjadi proses biokimia yang secara vertikal dapat dibagi menjadi dua zone, yaitu zone permukaan yang umumnya perubahan berlangsung dengan bantuan oksigen dan zone tengah sampai kedalaman 0,5 m yang disebut dengan peatigenic layer (Teichmuller, 1982). Pada zone peatigenic terdapat bakteri aerob, lumut, dan actinomyces yang aktif. Bakteri aerob akan menyebabkan oksidasi biologi pada komponenkomponen tumbuhan yang material utamanya adalah cellulose. Senyawa-senyawa protein dan gula cenderung terhidrolisa. Cellulose akan diubah menjadi glikose dengan cara hidrolisis:

C6H10O5 + H2O C6H12O6 (cellulose)

(glikose)

Jika suplai oksigen berlangsung terus, maka proses ini akan menuju pada penguraian lengkap dari senyawa organik, yaitu: C6H10O5 + 6 O2 6 CO2 + 5 H2O Bagian-bagian dari material tumbuhan tersebut cenderung membentuk koloid dan umumnya disebut dengan asam humus (humic acid). Lemak dan material resin umumnya hanya mengalami perubahan sedikit.

Apabila kandungan oksigen air rawa sangat rendah dan dengan bertambahnya kedalaman, sehingga tidak memungkinkan bakteri-bakteri aerob hidup, maka sisa tumbuhan tersebut tidak mengalami proses pembusukan dan penghancuran yang sempurna, dengan kata lain tidak terjadi proses oksidasi yang sempurna. Pada kondisi tersebut hanya bakteri-bakteri anaerob saja yang berfungsi melakukan proses pembusukan yang kemudian membentuk gambut (peat). Prosesnya adalah dengan bertambahnya kedalaman, maka bakteri aerob akan berkurang (mati) dan diganti dengan bakteri anaerob sampai kedalaman 10 m, dimana kehidupan bakteri makin berkurang dan hanya terjadi perubahan kimia, terutama kondensasi primer, polymerisasi, dan reaksi reduksi. Pada bakteri anaerob akan mengkonsumsi oksigen dari substansi organik dan mengubahnya menjadi produk bituminous yang kaya hidrogen, selanjutnya dengan tidak tersedianya oksigen, maka hidrogen dan karbon akan menjadi H2O, CH4, CO, dan CO2. Apabila ditinjau secara vertikal, maka lapisan gambut paling atas mempunyai pertambahan kandungan karbon relatif cepat sesuai kedalamannya sampai peatigenic layer, yakni 45-50% sampai 55-60%. Lebih dalam lagi, pertambahan kandungan karbon mencapai 64%. Kandungan karbon yang tinggi pada peatigenic layer disebabkan karena pada lapisan tersebut kaya substansi yang mengandung oksigen, terutama cellulose dan humicellulose yang diubah secara mikrobiologi. Dari keseluruhan proses, maka pembentukan substansi humus merupakan proses penting yang tidak tergantung pada fasies dan tidak semata-mata pada kedalaman. Oleh karena itu, faktor yang mempengaruhi proses humifikasi dimana bakteri dapat beraktivitas dengan baik adalah kondisi lingkungan berikut ini: 1. 2. Keasaman air, yaitu pada pH 7,0-7,5. Kedalaman, yaitu pada kedalaman sekitar 0,5 m untuk bakteri aerob, sedangkan untuk bakteri anaerob bisa sampai kedalaman 10 m. 3. 4. Suplai oksigen, akan menurun mengikuti kedalaman. Temperatur lingkungan, pada suhu yang hangat akan mendukung kehidupan bakteri.

Potonie (1920 dalam Teichmuller, 1982 dan Diessel, 1984) menyebutkan bahwa pada rumpun tumbuhan yang sama, iklim dan kondisi lingkungan yang sama, maka potensial redox (Eh) memegang peranan penting untuk aktifitas bakteri dan penggambutan. Ketersediaan oksigen menentukan apakah proses penggambutan berjalan atau tidak. Berikut ini transformasi organik dalam kaitannya dengan ketersediaan oksigen (Tabel 3.1), dimana salah satu dari empat proses biokimia di bawah ini akan terjadi pada tumbuhan yang telah mati, yaitu: 1. Bahan tumbuhan bereaksi dengan oksigen dan merapuh (desintegration), menghasilkan zat terbang, terutama CO2, metan, dan air. Umumnya menghasilkan sisa yang tidak padat. Beberapa unsur utama tumbuhan akan lebih tahan pada tipe ubahan ini, misal resin dan lilin. 2. Proses humifikasi atau pembusukan, yaitu bahan tumbuhan akan berubah menjadi humus akibat oleh terbatasnya oksigen dari atmosfir dan tingginya kandungan air lembab. Batubara yang dihasilkan berupa humic coal. 3. Proses penggambutan (peatification), yaitu keadaan muka air tinggi di atas lapisan yang terakmulasi dapat mencegah terjadinya oksidasi, akibatnya pada lingkungan yang reduksi dan adanya bakteri anaerob, jaringan-jaringan tumbuhan menjadi hancur, kemudian terakumulasi dan menjadi gambut, selanjutnya akan menghasilkan humic coal. 4. Putrefaction (permentasi) yaitu peruraian hancuran tanaman akuatik (terutama algae), bahan hanyutan, dan plankton dalam lingkungan reduksi pada kondisi air diam (stagnant), hasilnya membentuk sapropel, sedangkan batubara yang dihasilkan adalah batubara sapropelik. Secara umum tahapan biokimia dapat dikelompokan menjadi dua jenis (Diessel, 1992), yaitu: 1. Vitrinisasi (vitrinisation path) Hasil humifikasi pada dekomposisi hidrolik terhadap tumbuhan yang telah mati akan mengalami suatu deret kestabilan dari kandungan selsel yang lunak menjadi celulose, hemicelulose, dan beberapa komponen yang lebih tahan seperti lignin (Waksman dan Stevens, 1929). Fluida humik akan berubah sepanjang tahapan humifikasi. Kompaksi dan dehidrasi gambut akibat penambahan beban oleh lapisan penutup mengakibatkan

fluida humik mengental. Dalam batubara muda fluida humik muncul sebagai humocollinit (jika berupa koloid) dan humodetrinit (jika bercampur dengan fragmen-fragmen sisa sel). Koloid humik dapat mengisi ruang-ruang sel jaringan tumbuhan dan setelah pembatubaraan pada tingkat batubara bitumen akan muncul sebagai gelocollinit. Setelah presipitasi, koloid humik dapat berupa granular (sebagai porigelinit) dan kemudian lumer (gelify) berbentuk larutan atau zat yang jernih (sebagai eugellinit).

2.

Fusinitisasi (fusinitisation path) Pada lapisan batubara juga ditemukan maseral-maseral inertinit yang mempunyai kandungan karbon tinggi, artinya menunjukan bahwa bahan-bahan tumbuhan ini sebelum sedimentasi berakhir telah mengalami dehidrasi pada suatu periode kering dan oksidasi yang intensif (fusinitisasi). Ada tiga model proses fusinitisasi, yaitu: Pengawetan akibat pengeringan dinding sel dan dehidrasi pada koloid koloid humik yang kemudian terubah sehingga tidak dapat mengalami rehidrasi dan melanjutkan hidrolisa. Hasilnya disebut oxi-semifusinite yang memperlihatkan efek humifikasi akibat mikroba dengan baik. Pembentukan semifusinit sebagai akibat dekomposisi selektif oleh organisme terhadap jaringan kayu, terutama jaringan

yang lunak (degrado semifusinit). Akibat pembakaran pada gambut (pyrofusinite) yang tidak sempurna, maka akan menyebabkan perbedaan reflektansi dari jaringan-jaringan sel tumbuhan dengan berbedanya kedalaman. Ciri umum gambut adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. Berwarna kecoklatan sampai hitam. Kandungan air > 75% (pada brown coal < 75%) Kandungan karbon umumnya < 60% (pada brown coal > 60%). Masih memperlihatkan struktur tumbuhan asal, terdapat sellulose (pada brown coal cellulose tidak hadir). 5. Dapat dipotong dengan pisau (pada brown coal tidak dapat dipotong).

6.

Bersifat porous, bila diperas dengan tangan, keluar airnya.

Berdasarkan ciri di atas adalah tidak mudah secara pasti membedakan antara peat dan brown coal, apalagi proses perubahannya berlangsung secara bertahap. C. Faktor Faktor Pembentukan Batubara Lapisan batubara umumnya berasal dari peat(gambut) deposit di suatu rawa. Faktor-faktor penting dalam pembentukkan peat: Evolusi tumbuhan Iklim Paleografi dan Tektonik a. Evolusi Tumbuhan Batubara tertua yang berumur Hurorian Tengah dari Michigan berasal dari alga dan fungi. Sedangkan pada jaman Devon Bawah dan Atas, batubara kebanyakan berasal dari Psilophites (spt: Taeniocrada decheniana (lower devon)). Kebanyakan batubara dari jaman ini memiliki rata-rata lapisan yang tipis(3-4m) dan tidak punya nilai ekonomis. Pada Carbon Atas, tumbuhan mulai tinggi-tinggi hingga mencapai ketinggian lebih dari 30m namun belum seberagam sekarang. Pada jaman ini didominasi oleh: Lepidodendron, Sigillaria, Leginopteris oldhamia, Calamitea. Jaman Upper Carboniferous dikenal sebagai perioda bituminous coal. Lapisan penting batubara berumur Perm terdapat di USSR, dominan terbentuk dari Gymnosperm cordaites. Pada jaman Mesozoic terutama Jura dan Cretaceous Bawah, Gymnosperm(Ginkcophyta, Cycadophyta dan Cornifers) merupakan tumbuhan penting pembentuk batubara, terutama di Siberia dan Asia Tengah. Pada rawa-rawa berumur Cretaceous Atas dan Tersier tumbuhan Angiosperm tumbuh dengan pesat di N. America, Europe, Japan dan Australia. Jika dibandingkan dengan tumbuhan pada masa Carbon, tumbuhan pada jaman Mesozoic terutama jaman Tersier lebih beragam dan spesifik serta menghasilkan deposit peat yang tebal dan beragam

dalam tipe fasiesnya. Perkembangan dan evolusi flora akan berpengaruh pada keragaman jenis dan tipe batubara yang dihasilkan. Ragam tumbuh tumbuhan seperti yang dikenal pada saat ini telah mengalami proses evolusi yang sangat panjang mulai dari zaman Devon. Perkembangan jenis tumbuhan untuk setiap waktu geologi mulai dari satu jenis tumbuhan (alga/ganggang) pada zaman sebelum Devon menjadi sekian banyak pada waktu waktu berikutnya. Perkembangan ini perlu diketahui karena ada beberapa tumbuhan yang hanya tumbuh pada zaman tertentu saja sehingga dengan mengenal perkembangan ini akan memudahkan untuk mengintrepentasikan genesanya. Sisa tumbuhan pembentuk batubara kadang kadang mudah dikenal dibawah mikroskop. Sisa tumbuhan seperti spora, tepung sari, serat, sel, dan sebagainya sering dipakai untuk mengenal jenis tumbuhan pembentuk batubara (paleobotani atau maseral). Disamping itu ada beberapa metoda yang lain ( seperti geokimia organik) yang sering dipakai untuk mengenal jenis tumbuhan pembentuk batubara. Pada zaman Devon bawah tumbuhan bawah air tumbuh oada lagun yang dangkal (terendam). Dari sini terjadi lapisan batubara yang tipis, yang diketemukan di Haliseriten- Schichten dari Renish-Schiefergebirge (Jerman). Pada batuan ini ada lapisan Vitrinit yang terbentuk dari Taeniocrada decheniana. Tumbuhan darat pertama yang mendukung terbentuknya batusabak dengan karbon yang banyak yang juga hanya menghasilkan lapisan vitrinit yang tipis. Penyebaran tumbuhan darat di seluruh benua mengakibatkan pembentukan lapisan batubara yang berkemungkinan lebih potensial. Pada Devon Tengah di Kuznetsk basin masih ada Psiliphytes, ditemukan di lapisan batubara. Cepatnya berkembang tumbuhan pada Lower dan Upper Cretaceus mengarah pada perkembangan angiosperm. Dibandingkan dengan flora pada zaman Mezosoikum (khususnya tersier ) mempunyai ragam yang lebih banyak dan terspesialisasi, sehingga banyak tipe fasies ditemiukan pada lapisan gambut ynag tebal.

b.

Iklim Gambut berasal dari tumbuhan, sedangkan perkembangan tumbuhan dipengaruhi oleh iklim, lebih khusus lagi adalah kelembaban. Pada daerah beriklim tropik dan subtropik yang bertemperatur tinggi, umumnya sesuai untuk pertumbuhan tumbuhan dibandingkan daerah beriklim dingin. Di samping itu, suhu yang lebih panas tidak hanya mempercepat pertumbuhan tumbuhan, tetapi juga mempercepat pembusukan. Hasil penelitian menyebutkan bahwa hutan rawa tropis mempunyai siklus pertumbuhan setiap 7-9 tahun dan tumbuhan mencapai tinggi sekitar 30 m, sementara di iklim dingin atau sedang untuk waktu yang sama pertumbuhannya hanya mencapai ketinggian 5-6 m. Daerah iklim sedang miskin bahan makanan, sehingga didominasi oleh lumut, sedangkan daerah tropik didominasi pohon. Pada Karbon Akhir atau Tersier Awal, umumnya gambut terbentuk di iklim tropis dan basah. Meskipun demikian, di belahan bumi selatan dan Siberia dijumpai batubara yang terbentuk di iklim sedang dan basah, bahkan di iklim dingin seperti batubara Gondwana (Permo-Karbon) dengan tumbuhan utama Gangamopteris, Glossopteris, Cycadophyta, dan Conifers. Lapisan batubara yang terbentuk di lingkungan iklim tropis basah umumnya tebal dan cemerlang (bright coal), sebaliknya di iklim sedang atau dingin terdiri dari sedikit batubara cemerlang. Meskipun demikian, selama pembentukan batubara tidak selalu iklimnya tetap, seperti di belahan bumi selatan terdapat batubara tebal diselingi lapisan yang tidak mengandung batubara. Kondisi ini ditafsirkan sebagai masa yang kering dengan ciri sedimen berkadar garam tinggi dan diperkirakan suhunya lebih dingin dibanding suhu sekarang. Pada iklim yang lebih hangat dan basah tumbuhan tumbuh lebih cepat dan beragam. Lapisan-lapisan kaya batubara berumur Carbon Atas, Cretaceous Atas dan Tersier Awal diendapkan pada iklim seperti ini. Namun pada hemisphere selatan dan Siberia juga terdapat endapan batubara yang kaya yang diendapakan pada iklim yang sedang hingga dingin, contohnya batubara inter-post glacial PermoCarbon Gondwana (dari

10

Ganganopteris glossopteris) dan batubara umur Perm dan Jura Bawah dari Angara konitnen. Lapisan batubara yang diendapkan pada iklim hangat dan basah biasanya lebih terang dan tebal dibandingkan dengan yang diendapkan pada iklim basah. Iklim suatu daerah secara tidak langsung bisa

mengendalikan faktor yanglain. Iklim tropis menawarkan terbentuknya gambut yang lebih cepat karenakecepatan tumbuh dari tumbuhtumbuhan lebih besar dengan ragam yangsangat bervariasi. Temperatur yang tinggi dengan kelembaban yang tinggi juga berpengaruh pada proses pembentukan gambut.Rawa di daerah tropis bisa menghasilkan kayu yang mencapai ketin ggian3 0 m e t e r dalam waktu 7 - 9 tahun sementara tumbuhan di daerah r a w a dengan iklim sedang hanya mencapai ketinggian 5 - 6 meter dalam jangkawaktu yang sama. Daerah dengan iklim sedang miskin akan bahan makanansehingga hanya didominasi oleh lumut, sedangkan daerah tropis didominasioleh pohon.Pembentukan gambut terjadi kebanyakan di daerah yang beriklim panas,banyak air (khususnya Karbon Atas). Formasi yang terkaya akan lapisanbatubara terendapkan pada daerah beriklim panas (termasuk juga untuk batubara yang penting pada Jaman Upper Cretaceous dan Tersier Bawah diAmerika Utara dan di belahan bumi bagian Selatan yang beriklim kadangd i n g i n d a n b a s a h ) , c o n t o h n y a : S i b e r i a , I n t e r dan Post Glacial P e r m o Karbon, Gondwana Coal dengan

Gangamopteris Glossopteris dan Perm danJura-Cretasius Bawah dari Angara Continent (Tunguska dan Lena Regions).Lapisan batubara yang terendapkan di daerah yang banyak air dan hangatakan

menghasilkan banyak lapisan dan tebal yang terjadi dari batang kayuyang besar/tebal (bright coal), dan sebaliknya untuk iklim dingin. Dengan naiknya suhu tidak hanya pertumbuhan pohon menjadi cepat tapi juga proses dekomposisi juda menjadi lebih cepat. c. Paleogarfi dan Tektonik 1. Paleografi

11

Formasi lapisan tergantung pada hubungan paleogeografi dan struktur pada daerah sedimentasi. Pembentukan peat (gambut) terjadi pada daerah yang depresi permukaan dan memerlukan muka air yang relatif tetap

sepanjang tahun diatas atau minimal sama dengan permukaan tanah. Kondisi ini banyak muncul pada flat coastal area dimana banyak rawa yang berasosiasi dengan persisir pantai. Morfologi cekungan mempunyai arti penting di dalam menentukan penyebaran rawa-rawa tempat batubara terbentuk. Pada daerah pantai datar dan tidak berbukit merupakan lingkungan yang baik untuk pembentukan batubara, demikian juga di daerah cekungan benua, tetapi jumlahnya terbatas. Pada dataran stabil, erosi akan mempengaruhi ukuran dan bentuk lakustrin, asal dan luas pengaliran, aliran air, dan permukaan airtanah. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi pembentukan batubara. Jika air tanah cukup tingginya dan berlangsung lama maka kadang kadang iklim padang rumput tanpa adnya pohon pun bisa jadi gambut. Ini hanya tergantung pada penurunan permukaan. Rawa bisa juga terjadi pada bekas kawah gunung api. Rawa bisa tawar atau sudah tercampur dengan air asin di tepi pantai atau di tepi danau besar. 2. Tektonik Di dalam genesa cekungan batubara, posisi geotektonik merupakan faktor yang umum, dominan, dan memegang peranan penting. Posisi geotektonik mempengaruhi iklim, morfologi cekungan, kecepatan

sedimentasi, kecepatan penurunan dasar cekungan, jenis flora, dan pada akhirnya akan berpengaruh terhadap jenis batubara (coal type), derajat batubara (coal rank), dan geometri lapisan batubara yang terbentuk (Gambar 3.2). Pada daerah bertektonik kuat, penurunan cekungan akan berjalan cepat selama pengendapan berlangsung. Akibatnya akan berpengaruh terhadap perbedaan petrografi dan geometri lapisan batubara serta menambah kontaminasi mineral, seperti sulfida, klorit, dan karbonat. Cekungan batubara dapat terbentuk diberbagai posisi dari suatu tatanan tektonik (lihat cekungan batubara, R.P. Koesoemadinata, Bab 2).

12

Batubara di Sumatera Selatan terjadi di cekungan belakang busur pada lingkungan yang sebagian besar berair payau, sedangkan batubara Ombilin terjadi di cekungan intra-montane pada lingkungan air tawar. Batubara di Bengkulu terjadi cekungan muka busur pada lingkungan delta. Batubara di Kalimantan Timur pada delta yang progradasi, seperti di Delta Mahakam.

13

BAB III PENUTUP

A.

Kesimpulan Gambut adalah batuan sedimen organik yang dapat terbakar berasal dari tumpukan dan hancuran bagian dari tumbuhan yang terhumifikasi dan dalam keadaan tertutup udara (dibawah air) tidak padat, kandungan air > 75% dan kandungan mineral < 50% (dalam persen berat). Tahap diagenesa gambut merupakan tahap awal pembentukan batubara, yaitu mencakup perubahan oleh mikroba dan proses kimia. Dimulai dari pembusukan tumbuhan sampai terbentuk gambut (peat). Pada tahap ini dicirikan oleh aktivitas bakteri aerob (membutuhkan oksigen) dan anaerob (tidak membutuhkan oksigen). Faktor faktor yang mempengaruhi pembentukan lumut yaitu evolusi tumbuhan, iklim, paleografi dan tektonik.

B.

Saran Gambut adalah proses awal dari pembentukan batubara. Dalam

pembentukan ini diperlukan waktu yang sangat lama. Dari proses gambut untuk mencapai batubara memerlukan waktu yang sangat lama. Sehingga dalam penggunaannya harus seefisien mungkin. Karena untuk proses pembentukan gambut, dan dari gambut ke batubara memerlukan waktu yang lama. Dan untuk saat ini batubara sangat membantu proses kerja dalam berbagai bidang industri.

14