Anda di halaman 1dari 6

JUR

sistem pertanian berkelanjutan


ASPEK LaHaN DaN M PERTaNIaN ORGaNIK
K Mugi Bentang Faatihah @ 150610120145 @ mugibentang@gmail.com
a N a J E m E N

N al

T U G a S

U T R I S I

D alam

1 prinsip dasar hubungan tanah dan tanaman pada pertanian organik

ecara prinsip dasar, tanah dan tanaman merupakan elemen penting yang terkandung dalam konsep "Pertani-

subur, hewan membutuhkan ekosistem peternakan, ikan dan organisme laut membutuhkan lingkungan perairan. Budidaya pertanian, peternakan p ro d u k gandan pemanenan liar orik ha-

kan dengan kondisi, ekologi, budaya dan skala lokal. Bahan-bahan asupan sebaiknya dikurangi dengan cara dipakai kembali, didaur ulang dan dengan pengelolaan bahan-bahan dan energi secara efisien guna memelihara, meningkatkan kualitas dan melindungi sumber daya alam. Pertanian organik dapat menca-

an Organik". Seperti yang ditegaskan oleh Biocert dalam "Prinsip-prinsip Pertanian Organik": Pertanian organik harus didasarkan pada sistem dan siklus ekologi kehidupan. Bekerja, meniru dan berusaha memelihara sistem dan siklus ekologi kehidupan. Prinsip ekologi meletakkan pertanian organik dalam sistem ekologi kehidupan. Prinsip ini menyatakan bahwa produksi didasarkan pada proses dan daur ulang ekologis. Makanan dan kesejahteraan diperoleh melalui ekologi suatu lingkungan produksi yang khusus; sebagai contoh, tanaman membutuhkan tanah yang

pai keseimbangan ekologis melalui pola sistem pertanian, membangun russesdengan lah u a i siklus dan habitat, pemeliharaan keragaman genetika dan pertanian. Mereka yang menghasilkan, memproses, memasarkan atau mengkonsumsi produkproduk organik harus melindungi dan memberikan keuntungan bagi lingkungan secara umum, termasuk di dalamnya tanah, iklim, habitat, kerPengelolaan organik harus disesuaiagaman hayati, udara dan air.

keseimbangan ekologi di alam. Siklus-siklus ini bersifat universal tetapi pengoperasiannya bersifat spesifiklokal.

sistem pertanian berkelanjutan

U R N al

T U G a S

2 langkah-langkah konversi tanah pertanian konvensional menjadi pertanian organik

Tim Tanah Faperta Unpad (2014)

erdapat fase-fase yang terjadi kala pertanian konvensional dialihkan menjadi pertanian organik. Dari tabel

a. Untuk tanaman semusim diperlukan masa konversi minimal 2 (dua) tahun, sedangkan untuk tanaman tahunan (tidak termasuk padang rumput) diperlukan masa konversi minimal 3 (tiga) tahun. Bergantung pada situasi dan kondisi yang ada, masa konversi bisa diperpanjang atau diperpendek, namun tidak boleh kurang dari 12 bulan. Keputusan penambahan atau pengurangan masa konversi tersebut dibuat oleh Lembaga Sertifikasi dengan mengacu pada ketetapan Otoritas Kompeten Pangan Organik (OKPO) berdasar masukan dari pakar yang kompeten. b. Prinsip-prinsip budidaya pertanian organik seperti tercantum dalam SNI Sistem Pangan Organik harus telah diterapkan pada lahan yang sedang dalam periode konversi. Selama masa konversi tersebut dianjurkan tanah tetap diusahakan untuk budidaya tanaman.

c. Lahan yang telah atau sedang dikonversi ke lahan untuk produksi pertanian organik tidak diperbolehkan untuk diubah bolak-balik antara lahan pertanian organik dan non organik (konvensional) d. Jika lahan pertanian tidak dapat dikonversi secara bersamaan, maka perlu adanya batas yang tegas dan cukup antara lahan yang dalam konversi dengan lahan lainnya sehingga terhindar dari kontaminasi, seperti yang dapat terjadi pada saat penyemprotan pestisida yang dilakukan pada lahan non organik atau rembesan air pada lahan organik dari lahan non organik. Terutama juga pada lahan budidaya non organik yang lokasinya berada di atas budidaya pertanian organik. e. Perlu adanya batasan yang jelas mengenai lahan yang diusahakan secara organik dan lahan non organik (konvensional).

di atas, disajikan perubahan-perubahan yang terjadi ditilik dari "tanaman sehat" kala dilakukan konversi tanah konvensional menjadi tanah pertanian organik. Bila merujuk dari metode Kementan, dalam Panduan Penyusunan Cara Budidaya yang Baik (Good Agriculture Practices/GAP) Pertanian Organik yang diliris pada tahun 2007, kiat-kiat tersebut didasari pada: 1. Lahan yang digunakan untuk produksi pertanian organik harus bebas dari bahan kimia sintetis. 2. Jika lahan yang akan digunakan untuk pertanian organik berasal dari lahan yang sebelumnya digunakan untuk produksi pertanian non organik, maka lahan tersebut harus dilakukan konversi dengan ketentuan sebagai berikut:

sistem pertanian berkelanjutan

U R N al

T U G a S

ORGANIK

MANAJEMEN

KESU B UR A N T A N A H

P
digunakan. Selain itu,

engelolaan

kesuburan

Kesuburan dan aktivitas biologis tanah harus dipelihara atau ditingkatkan dengan cara: a. Penanaman kacang-kacangan (leguminoceae), pupuk hijau atau tanaman berperakaran dalam melalui rotasi tanaman yang sesuai.

e. Bahan-bahan biodinamik dari stone meal, kotoran hewan atau tanaman dapat digunakan untuk tujuan penyuburan dan aktivitas biologis tanah. Pengelolaan air dilakukan dengan prinsip sebagai berikut: a. Air irigasi yang digunakan tidak bo-

tanah bertujuan untuk meningkatkan dan menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang, dengan prinsip mem-

berikan masukan berbagai bahan alami dan meningkatkan serta menjaga aktivitas biologis tanah, jika perlu dengan melakukan pengolahan tanah serta pengelolaan air dalam rangka memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Pada aplikasi pemupukan misalnya, harus menggunakan pupuk kandang atau pupuk organik lainnya harus pada tingkat yang tidak menyumbang terhadap kontaminasi air permukaan/air tanah. Saat dan cara aplikasi harus tidak meningkatkan potensi untuk limpasan permukaan ke dalam situ, sungai dan parit. Lalu untuk aktivasi kompos, penambahan mikroorganisme atau bahan-bahan lain yang berbasis tanaman yang sesuai dapat

b. Mencampur bahan organik ke dalam tanah baik dalam bentuk kompos maupun lainnya, dari unit produksi yang sesuai dengan ketentuan SNI Sistem Pangan Organik.

leh yang terkontaminasi bahan kimia sintetis seperti pupuk, pestisida dan bahan cemaran pemukiman maupun industri. b. Penggunaan air irigasi dibatasi sam-

c. Produk limbah peternakan, seperti kotoran hewan, dapat digunakan apabila berasal dari peternakan yang dilakukan sesuai dengan persyaratan dalam SNI Sistem Pangan Organik. d. Bahan-bahan sebagaimana tercantum dalam Lampiran 3 Tabel 1 dapat digunakan hanya sepanjang upaya mencukupi nutrisi tanah tidak mungkin dilakukan dengan menggunakan cara-cara sebagaimana ditetapkan dalam paragraf 2.a dan 2.b di atas,

pai pada batas optimal yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. c. Kelebihan air pada lahan harus didrainasi dengan upaya meminimalkan dampak negatif terhadap daerah aliran air yang bersangkutan. d. Pada sistem budidaya pertanian lahan basah (sawah) dianjurkan menggunakan tata guna air selang-seling (intermitten) dan menghindari masa penggenangan yang berlebihan. Hal ini dimaksudkan dalam rangka mengurangi emisi gas rumah kaca ke udara.

Teknologi

pengolahan

atau dalam hal pupuk kandang/kotoran hewan tidak tersedia dari peternakan secara organik.

tanah minimum diterapkan dalam rangka memperoleh kondisi fisik tanah yang baik bagi aktivitas biologi tanah dan pertumbuhan tanaman.

rekayasa
K E S U b U R a N P E R Ta N I a N D a N K E S E H aTa N Ta N a H o R G a N I K

rekayasa tanah pertanian organik


Rekayasa tanah pada pertanian organik umumnya berprinsip sama: menambahkan unsur hara pada tanah yang bersifat "menyuburkan dan menyehatkan" kondisi tanah. Namun apa yang berbeda dalam pertanian organik, ialah asal-usul "hara" tersebut. Dalam pertanian organik, pemberian hara pada tanah dilarang berasal dari bahan sintetis, seperti urea. Semuanya harus murni dari hasil hayati, seperti kompos kohe.

Contoh Bahan penyubur tanah pada pertanian organik


Terdapat 3 kategori penyubur tanah pada pertanian organik: 1. Diperbolehkan, seperti: kotoran ternak, kompos daun, guano, sisa tanaman, serbuk gergaji, dan tatal. 2. Dibatasi, seperti: natrium klorida, alumunium kalsium fosfat, trace elements, boron, dan sulfur. 3. Dilarang, seperti: pupuk urea, NPK, magnesium batu.

Pembuatan Kompos
SEC PER
a R a

E R ob

Ta N I a N

Pa D a

R G a N I K

Disadur dari artikel milik Alam Tani berjudul Cara Membuat Kompos Metode Anaerob dan Aerob

dengan kotoran ternak. Cacah bahan organik tersebut hingga menjadi potongan-potongan kecil. Semakin kecil potongan bahan organik semakin baik. Namun jangan sampai terlalu halus, agar aerasi bisa berlangsung sempurna saat pengomposan berlangsung. 4. Masukan bahan organik yang sudah dicacah ke dalam bak kayu, kemudidan padatkan. Isi seluruh bak kayu hingga penuh. 5. Siram bahan baku kompos yang sudah tersusun dalam kotak kayu untuk memberikan kelembaban. Untuk mempercepat proses pengomposan bisa ditambahkan starter mikroorganisme pembusuk ke dalam tumpukan kompos tersebut. Setelah itu, naikkan bak papan ke atas kemudian tambahkan lagi bahan-bahan lain. Lakukan terus hingga ketinggian kompos sekitar 1,5 meter. 6. Setelah 24 jam, suhu tumpukan kompos akan naik hingga 65oC, biarkan keadaan yang panas ini hingga 2-4 hari. Fungsinya untuk membunuh bakteri patogen, jamur dan gulma. Perlu diperhatikan, proses pembiaran jangan sampai lebih dari 4 hari. Karena berpotensi membunuh mikroorganisme pengurai kompos. Apabila mikroorganisme dekomposer

dengan

membolak-balik

kompos,

sedangkan untuk menjaga kelembaban siram kompos dengan air. Pada kondisi ini penguapan relatif tinggi, untuk mencegahnya kita bisa menutup tumpukan kompos dengan terpal plastik, sekaligus juga melindungi kompos dari siraman air hujan. 8. Cara membalik kompos sebaiknya dilakukan dengan metode berikut. Angkat bak kayu, lepaskan dari tumpukan kompos. Lalu letakan persis disamping tumpukan kompos. Kemudian pindahkan bagian kompos yang paling atas kedalam bak kayu tersebut sambil diaduk. Lakukan seperti mengisi kompos di tahap awal. Lakukan terus hingga seluruh tumpuka kompos berpindah kesampingnya. Dengan begitu, semua kompos dipastikan sudah terbalik semua. Proses pembalikan sebaiknya dilakukan setiap 3 hari sekali sampai proses pengomposan selesai. Atau balik apabila suhu dan kelembaban melebihi batas yang ditentukan. 9. Apabila suhu sudah stabil dibawah 45oC, warna kompos hitam kecoklatan dan volume menyusut hingga 50% hentikan proses pembalikan. Selanjutnya adalah proses pematangan selama 14 hari. 10.Secara teoritis, proses pengomposan selesai setelah 40-50 hari. Namun kenyataannya bisa lebih cepat atau lebih lambat tergantung dari keadaan dekomposer dan bahan baku kompos. Pupuk kompos yang telah matang dicirikan dengan warnanya yang hitam kecoklatan, teksturnya gembur, tidak berbau.

Proses pembuatan kompos aerob sebaiknya dilakukan di tempat terbuka dengan sirkulasi udara yang baik. Karakter dan jenis bahan baku yang cocok untuk pengomposan aerob adalah material organik yang mempunyai perbandingan unsur karbon (C) dan nitrogen (N) kecil (dibawah 30:1), kadar air 40-50% dan pH sekitar 6-8. Contohnya adalah hijauan leguminosa, jerami, gedebog pisang dan kotoran unggas. Apabila kekurangan bahan yang megandung karbon, bisa ditambahkan arang sekam padi ke dalam adonan pupuk. Cara membuat kompos aerob memakan waktu 40-50 hari. Perlu ketelatenan lebih untuk membuat kompos dengan metode ini. Kita harus mengontrol dengan seksama suhu dan kelembaban kompos saat proses pengomposan berlangsung. Secara berkala, tumpukan kompos harus dibalik untuk menyetabilkan suhu dan kelembabannya. Berikut ini cara membuat kompos aerob: 1. Siapkan lahan seluas 10 meter persegi untuk tempat pengomposan. Lebih baik apabila tempat pengomposan diberi peneduh untuk menghindari hujan. 2. Buat bak atau kotak persegi empat dari papan kayu dengan lebar 1 meter dan panjang 1,5 meter. Pilih papan kayu yang memiliki lebar 30-40 cm. 3. Siapkan material organik dari sisasisa tanaman, bisa juga dicampur

ikut mati, kompos akan lebih lama matangnya. 7. Setelah hari ke-4, turunkan suhu untuk mencegah kematian mikroorganisme dekomposer. Jaga suhu optimum pengomposan pada kisaran 45-60oC dan kelembaban pada 40-50%. Cara menjaga suhu adalah

Referensi Utama:

Departemen Pertanian. 2007. Panduan Penyusunan Cara Budidaya yang Baik (Good Agriculture Practices/GAP) Pertanian Organik: Tanaman Semusim Lahan Kering, Tanaman Pangan Lahan Basah, dan Tanaman Tahunan. Jakarta.

mugi bentang
a G R I b U S I N E S S
K www.mugibentang.tk

R E S E a R C H E R
t @mugibentang l / mugib

jurnal

@ mugibentang@gmail.com

Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran


? JATINANGOR, JAWA BARAT @ http://faperta.unpad.ac.id/