Anda di halaman 1dari 19

BIO-OIL YANG DIHASILKAN DARI TANDAN

KOSONG KELAPA SAWIT

JUMARLINA
0403120613

ABSTRAK
Abdullah dan Gerhauser., (2008) telah melakukan pirolisis cepat dari
Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) limbah kelapa sawit yang dicuci dan tidak
dicuci. Komposisi dan distribusi ukuran partikel bahan baku yang dicuci dan
tidak dicuci ditentukan dan perlakuan degradasi termal dianalisa dengan
Thermogravimetric analysis (TGA). Pirolisis cepat dengan skala produksi 150
g/jam digunakan untuk mempelajari pengaruh variabel reaksi yaitu : suhu reaktor
antara 425-550 oC dan kadar abu antara 1,03–5,43 %(w/w). Produk yang berupa
cairan dianalisa dan dibandingkan dengan bio-oil yang dihasilkan dari kayu dan
bahan bakar minyak. Hasil penelitian menunjukkan kandungan abu yang kurang
dari 3 %(w/w) dari TKKS yang dicuci menghasilkan cairan homogen. TKKS yang
dicuci memiliki kandungan abu rendah dan menghasilkan bio-oil yang hampir
sama dengan bio-oil dari kayu.

Kata kunci : Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS), Pirolisis cepat, Kelapa sawit,
Bio-Oil, TGA

1
1. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pirolisis cepat merupakan proses dekomposisi termal yang terjadi pada
suhu 400-600 oC. Biomassa dipanaskan dengan cepat tanpa oksigen atau udara
untuk menghasilkan campuran cairan yang terkondensasi, gas dan arang. Ini
merupakan salah satu proses pembaharuan energi yang menjanjikan karena
menghasilkan cairan yang banyak dengan gas dan arang yang sedikit. Pada
umumnya, untuk bahan baku kayu suhu yang digunakan sekitar 500 °C dengan
waktu penguapan yang singkat, dapat diperoleh hasil 70% bio-oil, dan sekitar
15% untuk masing-masing gas dan arang. Bio-oil merupakan cairan teroksigenasi
yang memiliki kerapatan yang tinggi dan dapat digunakan sebagai pengganti
bahan bakar pada beberapa penerapannya. Bio-oil dapat terbakar dalam mesin
diesel, turbin atau boiler, walaupun penggunaannya lebih jauh masih
membutuhkan uji ketahanan jangka panjang, dan dapat juga digunakan untuk
produksi zat-zat kimia tertentu (Abdullah dan Gerhauser, 2008).
Bio-oil memiliki keunggulan dibandingkan konvesi termal lainnya seperti
bioetanol, biosol dan biodisel. Karena memiliki densitas yang relatif tinggi
1,2 kg/l. Diperkirakan dua muatan truk dari kepingan kayu dapat digantikan
dengan satu muatan tangki bio-oil dengan kandungan energi sama. Saat ini
industri kelapa sawit berkembang pesat, menghasilkan limbah biomassa yang
cukup banyak dan kurang dimanfaatkan. Dengan pemanfaatan panduan
Bioteknologi Group (BTG), penelitian pirolisis cepat dari Tandan Kosong Kelapa
Sawit (TKKS) sebagai bahan baku untuk produksi bio-oil telah banyak dilakukan,
namun penelitaian ini perlu diteliti lebih lanjut (Abdullah dan Gerhauser, 2008).
Bio-oil yang dihasilkan dari TKKS yang tidak dicuci menghasilkan cairan
terpisah ke dalam dua fasa, menunjukkan sulitnya bila diterapkan untuk bahan
bakar. Pada penelitian ini, TKKS yang dicuci dipirolisis dalam suatu wadah
reaktor fluida dengan skala produksi 150 g/jam, tujuannya untuk menentukan
pengaruh dari pengurangan abu terhadap hasil dan kandungan abu maksimum
yang menghasilkan bio-oil yang homogen. Hasil-hasilnya dibandingkan dengan
pirolisis yang dilakukan dari berbagai bahan baku dengan kandungan abu yang
berbeda (Abdullah dan Gerhauser, 2008).

2
Landasan Teori
1.2.1. Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS)
Tandan Kosong Kelapa Sawit merupakan limbah organik yang berpotensi
untuk dijadikan bioenergi penganti bahan bakar. limbah terbesar yang dihasilkan
oleh perkebunan kelapa sawit. Jumlah tandan kosong mencapai 30-35% dari berat
tandan buah segar. TKKS mengandung serat yang tinggi. Kandungan utama
TKKS adalah selulosa, dan lignin. Selulosa dalam TKKS dapat mencapai 54-60%
sedangkan kandungan lignin mencapai 22-27% (Hambali, dkk. 2007).

Tabel 1. Komposisi TKKS kering


Komponen % (Berat Kering)
Abu 6,04
Lignin 15,70
Selulosa 36,81
Hemiselulosa 27,01
Sumber : Hambali, dkk. 2007

1.2.2 Analisa Termal


Analisa termal secara umum didefinisikan sekelompok teknik yang
mengukur sifat fisis suatu bahan atau hasil-hasil reaksi yang diukur sebagai fungsi
temperatur. Alat-alat ini bisa mengukur perubahan temperatur sampai 500 oC
dengan laju pemanasan 5 oC/menit sampai 10 oC/menit. Pengukuran juga bisa
dilakukan menggunakan udara kering maupun gas nitrogen (Sardjono dkk, 2009)
Teknik analisa termal yang umum digunakan adalah :
1. Differential Thermal Analysis (DTA)
Differential Thermal Analysis (DTA) adalah suatu teknik di mana suhu
dari suatu sampel dibandingkan dengan material inert. Suhu dari sampel dan
pembanding pada awalnya sama sampai ada kejadian yang mengakibatkan
perubahan suhu seperti pelelehan, penguraian, atau perubahan struktur kristal
sehingga suhu pada sampel berbeda dengan pembanding. Bila suhu sampel lebih
tinggi daripada suhu pembanding maka perubahan yang terjadi adalah eksotermal,
dan endotermal bila sebaliknya (Onggo dan Fansuri, 1999).

3
2. Thermogravimetry Analysis (TGA)
Thermogravimetry Analysis (TGA) adalah teknik analisa yang mengukur
berat sampel yang hilang sebagai fungsi temperatur atau sebagai fungsi dari waktu
pada temperatur tertentu pada kecepatan yang tetap. Analisa seperti ini
berdasarkan pada tiga pengukuran yaitu berat, temperatur dan perubahan
temperatur (Wikipedia.com, 2008).
3. Differential Scanning Calorimetry (DSC)
Differential Scanning Calorimetry (DSC) adalah alat untuk analisa termal
yang prinsipnya adalah menghitung jumlah energi yang diserap atau dibebaskan
oleh sebuah sampel yang dipanaskan, didinginkan atau ditahan pada temperatur
konstan (isothermal). Dengan demikian sifat-sifat thermal dari suatu material
dapat dianalisa dan dikarakterisasi, antara lain untuk menentukan Cv, Cp,
Enthalpi dan perubahan fasa selama pemanasan, dan ntuk menentukan kemurnian
dari suatu bahan (Sardjono dkk, 2009).
4. Thermal Mechanical Analyzer (TMA)
Thermo Mechanical Analysis (TMA) digunakan untuk menentukan
ekspansi termal dan kesusutan dari sampel yang disertai dengan perubahan
dimensi. pengujian bisa dilakukan mulai dari suhu -150 oC (Chandra, 2008).

1.2.3. Pirolisis
Pirolisis berasal dari kata Pyro (Fire/Api) dan Lyo (Loosening/Pelepasan)
untuk dekomposisi termal dari suatu bahan organik. Jadi pirolisis adalah proses
konversi dari suatu bahan organik pada suhu tinggi dan terurai menjadi ikatan
molekul yang lebih kecil. Pirolisis merupakan suatu bentuk insinerasi yang
menguraikan bahan organik secara kimia melalui pemanasan dengan mengalirkan
nitogen sebagai gas inert. Proses ini menghasilkan uap organik, gas pirolisis dan
arang. Uap organik yang dihasilkan mengandung karbon monoksida, metana,
karbon dioksida, tar yang mudah menguap dan air. Uap organik kemudian
dikondensasikan menjadi cairan. Cairan hasil pirolisis dikenal sebagai bio-oil
(Awaluddin, 2007).

4
Proses pirolisis dikategorikan menjadi 4 tipe yaitu (Goyal dkk, 2006):
a. Pirolisis lambat (Slow Pyrolysis)
Pirolisis yang dilakukan pada pemanasan rata-rata lambat (5-7 K/menit).
Pirolisis ini menghasilkan cairan yang sedikit sedangkan gas dan arang lebih
banyak dihasilkan.
b. Pirolisis cepat (Fast Pyrolysis)
Pirolisis ini dilakukan pada lama pemanasan 0,5-2 detik, suhu 400-600 oC
dan proses pemadaman yang cepat pada akhir proses. Pemadaman yang cepat
sangat penting untuk memperoleh prduk dengan berat molekul tinggi sebelum
akhirnya terkonversi menjadi senyawa gas yang memiliki berat molekul rendah
Dengan cara ini dapat dihasilkan produk minyak pirolisis yang hingga 75 % lebih
tinggi dibandingkan dengan pirolisis konvensional.
c. Pirolisis Kilat (Flash Pyrolysis)
Proses pirolisis ini berlangsung hanya beberapa detik saja dengan
pemanasan yang sangat tinggi. Flash pyrolysis pada biomassa membutuhkan
pemanasan yang cepat dan ukuran partikel yang kecil sekitar 105 - 250 μm.
d. Pirolisis katalitik biomassa
Pirolisis katalitik biomassa untuk membuktikan kualitas minyak yang
dihasilkan. Minyak tersebut diperoleh dengan cara pirolisis katalitik biomassa
tidak memerlukan teknik pra-pengolahan sampel yang mahal yang melibatkan
kondensasi dan penguapan kembali.

1.2.4. Bio-oil
Bio-oil adalah cairan yang dapat larut dalam air, bahan bakar yang dapat
dioksigenasi, mengandung karbon, hidrogen dan oksigen. Dengan kandungan
nitrogen dan sulfur yang sangat sedikit, bahkan kandungan sulfur didalamnya
dapat diabaikan. Kandungan asam organik dalam bio-oil memberikan sifat asam
pada bio-oil. Kandungan lainnya dalam bio-oil adalah air, tetapi air tidak bersifat
kontaminan seperti pada petroleum, karena air bercampur dengan bio-oil.
Kandungan air dalam bio-oil 15-30 wt% dan pH 2,8-3,8. Bio-oil berwarna
gelap dengan penampilan yang mirip seperti kopi dan beraroma asap
(Ensyn Group INC, 2001).

5
1.2.4.1 Komposisi Kimia Bio-oil
Bio-oil yang dihasilkan dari proses pirolisis mengandung air 15-30%,
lignin pirolitik 20-30%, asam karboksilat 10-20% (terdiri dari asetat, formik,
propionik dan glikol sebagai asam karboksilat terbanyak dan butirat, pentanoik
serta heksanoik yang merupakan asam karboksilat yang dihasilkan sedikit),
aldehid 14-25% (glikodehid, glyoxal, hidroksipropinol, metik glyoxal dan sedikit
formaldehid, asetaldehid 2-furaldehid dan syringaldehid), gula 5-15%
(levoglukosan, fruktosa, cellobiosan, glukosa dan sedikit mengandung
oligosakarida, danydroglukofuranosa, keton 4-10% (hidroksipropana,
siklopentanon, siklopentana, furanon, hidroksimetilpiron dan sedikit butirolakton,
asetiloksipropanon), alkohol 2-10% (asetol, metanol, etilen glikol) dan padatan
2-8% (Freel dan Graham, 2002).

1.2.4.2 Kegunaan Bio-oil


Bio-oil dapat digunakan pada aplikasi sebagai berikut (Goyal dkk, 2006):
Digunakan sebagai pembangkit generator
Produksi bahan-bahan kimia dan resin
Dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk transportasi dan sebagai
pengganti bahan bakar yang sangat baik
Digunakan sebagai bahan bakar pengikat untuk pelatisasi (membuat jadi
pelat tipis) dan menjadikan batu dari bahan sisa organik yang dapat
dibakar
Dapat digunakan sebagai asap cair
Produksi gula anhidrous seperti levoglukosan
Bio-oil dapat digunakan sebagai bahan pengawet seperti pengawet kayu
Campuran yang sesuai pirolisis cair dengan minyak diesel dapat
digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel
Digunakan sebagai bahan perekat.

1.2.5. Kromatografi gas (GC)


Dalam kromatografi gas, fase bergeraknya adalah gas dan zat terlarut
terpisah sebagai uap. Pemisahan tercapai dengan partisi sampel antara fase gas

6
bergerak dan fase diam berupa cairan dengan titik didih tinggi (tidak mudah
menguap) yang terikat pada zat padat penunjangnya (Khopkar, 2003).
Kromatografi gas ini digunakan untuk analisa kualitatif dan kuntitatif.
Keuntungan utama kromatigrafi gas adalah waktu analisis yang singkat dan
ketajaman pemisahan yang tinggi (Gritter dkk, 1991)

Pengontrol Tempat
Aliran Injeksi

Rekorder

Detektor

Kolom
Gas Pembawa Oven Kolom

Gambar 1. Skema Kromatografi Gas

Sampel diinjeksikan melalui tempat injeksi yang temperaturnya dapat


diatur, senyawa-senyawa dalam sampel akan menguap dan akan dibawa oleh gas
pembawa menuju kolom. Zat terlarut akan teradsorpsi pada bagian atas kolom
oleh fase diam, kemudian akan merambat dengan laju rambatan masing-masing
komponen. Komponen-komponen tersebut terelusi sesuai dengan urutan makin
besarnya nilai koefisien partisi menuju detektor. Detektor mencatat sederetan
sinyal yang timbul akibat perubahan konsentrasi dan perbedaab laju elusi. Pada
detector akan tampak sebagai kurva antara waktu terhadap komposisi aliran gas
pembawa (Khopkar, 2003).

Tujuan Penelitian
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memahami penelitian
yang dilakukan oleh Abdullah dan Gerhauser., (2008) tentang bio-oil yang
dihasilkan dari tandan kosong kelapa sawit

7
II. TATA KERJA
2.1. Alat-alat yang digunakan
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah Itu terdiri gilingan
Fritsch, computerized Perkin–Elmer computer Pyris 1, reactor fluida skala
produksi 150 g/jam dan 1 kg/jam, dan Varian Micro GC .

2.2. Bahan-bahan yang digunakan


Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah Tandan Kosong
Kelapa Sawit (TKKS) yang dicuci dan tidak dicuci, gas nitrogen, gas helium,
pasir dan akuades.

2.3. Prosedur Kerja


2.3.1. Sampel Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS)
TKKS yang digunakan pada penelitian ini diperoleh dari Malaysian Palm
Oil Board (MPOB) dalam keadaan yang masih utuh, relatif kering dan
mempunyai kelembaban kurang dari 10 %(w/w). Ukuran serat TKKS diperkecil
untuk memudahkan pirolisis cepat dari TKKS pada reaktor dengan skala
produksi 150 g/jam. TKKS dipotong-potong dalam ukuran yang kecil. Kemudian
digiling dengan menggunakan gilingan Fritsch dengan ukuran screen 500 µm.
Distribusi ukuran partikel setelah penggilingan dilihat pada Table 2. Kadar abu
dari tiap ukuran partikel dianalisa dengan Metode analisis Standar LAP005, di
National Renewable Energy Laboratorium (NREL). Rata-rata kadar abu yang
diukur 5,39%. Ini tidak jauh berbeda dengan sampel asli yang dikirim oleh
MPOB, yang mempunyai kadar abu 5,36%.
Untuk bahan baku yang tidak dicuci, ukuran partikel 250 µm dan 355 µm
sangat mudah diolah. Tetapi ukuran partikel bawah 250 µm atau di atas 355 µm
terjadi hambatan pada pengolah yang dilakukan. Seperti yang ditunjukkan pada
Tabel 2, ukuran partikel ini memiliki kandungan abu agak sedikit di bawah berat
rata-rata dari seluruh sampel TKKS.

8
Tabel 2. Distribusi ukuran partikel TKKS
Ukuran partikel (µm) Fraksi massa Rata-rata kadar %(w/w)
< 250 22 7,44
250-355 30 5,59
355-500 42 4,82
> 500 6 4,72
Rata-rata massa - 5,39

Kandungan abu yang tinggi dan potasium perlu diperhatikan. Karena bisa
menyebabkan pengurangan cairan dalam pirolisis cepat. Sedangkan kandungan
karbon dan hidrogen dibandingkan dengan biomassa dari kayu, dan diukur dengan
nilai pemanasan. Untuk mengurangi kadar abu dari TKKS digunakan teknik
pencucian air sedehana. Perlu diperhatikan TKKS yang baru diseterilkan pada
umumnya mempunyai kadar air 60%. Perlu dilakukan pengeringan untuk
mengurangi kadar air dari TKKS yang dicuci.

Tabel 3. Kadar abu dari TBK yang dicuci berdasarkan metoda pencucian
Kadar abu %(w/w) Metoda cucian air
1,03 Rendam 100 g TKKS dengan ukuran 250–355 µm
dalam 7 l air suling, 24 jam pada temperatur kamar
2,14 Rendam 100 g TKKS dari ukuran 2–3 cm dalam 5 l air
suling, 20 menit pada temperatur kamar
3,05 Rendam 100 g TKKS dari ukuran 2–3 cm dalam 5 l air
suling, 10 menit pada temperatur kamar
3,68 secara manual 100 g TKKS dengan ukuran 2–3 cm
dalam 5 l dari air suling, 1 menit pada temperatur kamar
5,43 Bahan baku yang tidak dicuci

2.3.2. Analisis termogravimetri dari TBK yang dicuci dan tidak dicuci
Karakteristik termal untuk TKKS yang tidak dicuci dan yang dicuci
dianalisa dengan computerized Perkin–Elmer computer pyris 1.
Thermogravimetry analysis (TGA) dilakukan di bawah 100 ml/menit nitrogen
dengan laju pemanasan 10 °C/menit. Penurunan karakteristik termal dari bahan
baku yang dicuci dan yang tidak dicuci ditunjukkan pada Gambar 2 dan 3, dengan
Thermogravimetry Analysis (TGA) dan Diferensial Thermogravimetry (DTG).
Prosedur pencucian dilakukan karena sampel yang dicuci menghasilkan kadar abu
menjadi 1,15 %(w/w) untuk 100 g TKKS dalam 7 l air suling pada 90 °C selama 2
jam. Kandungan abu dari sampel yang tidak dicuci adalah 5,43 %(w/w). Perlakuan

9
termal dari TKKS yang tidak dicuci dan dicuci dibedakan. Sampel yang tidak
dicuci menunjukkan kurva DTG yang kecil mencapai puncak sekitar 200 °C, yang
bisa memperlihatkan ekstrak. Tidak ada puncak yang muncul pada sampel yang
dicuci. Ini disebabkan karena temperatur pencucian terlalu tinggi bisa
menyebabkan hilangnya ekstrak selama cucian.

Gambar 2. Analisis termogravimetri (TGA) dari TKKS tidak dicuci


dan yang dicuci.

Gambar 3. Analisis diferensial termogravimetri (DTG) dari TKKS


tidak dicuci dan yang dicuci

Sampel yang tidak dicuci menunjukkan suatu puncak tunggal pada suhu
355 °C, sedangkan sampel yang dicuci terjadi kehilangan berat yang besar pada
suhu 383 °C. Pada suhu sekitar 320 °C terdapat gundukan untuk sampel yang
dicuci, tidak terlihat dalam kurva DTG untuk sampel yang tidak dicuci. Ini terjadi
karena pergeseran temperatur akibat pengaruh katalitis dari abu yang
menyebabkan terjadinya puncak DTG untuk selulosa, hemiselulosa dan abu,
sedangkan gundukan yang terlihat didalam kurva DTG untuk biomassa abu
rendah menandakan adanya hemiselulosa dan puncak yang terlihat karena
dekomposisi dari selulosa.

10
Berat total yang hilang antara 100 °C dan 450 °C adalah 77.4% untuk
sampel yang dicuci dan hanya 65,8% untuk sampel yang tidak dicuci. Ini
disebabkan karena abu itu sendiri tidak akan menguap banyak dan karenanya
menghasilkan arang. Pada Tabel 4 memperlihatkan berat yang hilang antara
100 °C dan 450 °C dan temperatur dari kehilangan berat maksimal.

Tabel 4. Data analisis termogravimetri untuk kadar abu


Kadar abu Temperatur dari kehilangan berat yang hilang
%(w/w) berat maksimal °C 100°C dan 450°C (%)
5,43 355 65,8
3,68 358 69,4
3,05 361 70,6
2,14 366 74,4
1,15 383 77,4

2.3.3 Reaktor dengan skala produksi 150 g/jam


Pirolisis cepat pada reaktor skala produksi 150 g/jam dilakukan pada
tekanan atmosfer. Gambar 4 menunjukkan suatu diagram yang terdiri dari tiga
bagian utama, yakni pengolah, reaktor dan sistem pengumpulan hasil. Reaktor ini
silinder tidak berkarat (jenis 316) dengan panjangnya 260 mm dan garis tengah 40
mm. Medium pemanasan di dalam reaktor adalah pasir yang inert dengan ukuran
antara 355 µm dan 500 µm. Pasir mengisi reaktor dengan kedalaman sekitar 8 cm
dan diperbanyak selama fluidisasi sampai 12 cm. Gas fluida adalah nitrogen yang
bisa panas lebih dulu bila memasuki dasar reaktor.

Gambar 4. Diagram arus sistim pirolisis reaktor fluida skala produksi 150 g/jam

11
Pengarangan dilakukan di badan reaktor oleh arus gas fluida, yang dikenal
sebagai mode 'blow-through'. Pengarangan kemudian dipisah dari produk dalam
cyclone. Uap-uap yang berkondensasi dikumpulkan dalam sistem pengumpulan
produk cairan, yang terdiri dari dua kondensor dingin, pengendap elektrostatik
dan penyaring kapas. Gas-gas yang tidak terkondensasi meninggalkan sistim
melalui suatu meteran gas dan kemudian langsung diukur dengan kromatografi
gas (GC) untuk menentukan kuantitas dan jenis dari gas yang dihasilkan. GC yang
digunakan adalah Varian Micro GC dengan helium sebagai gas pembawa dan dua
kolom (molar sieve dan poropak). Karena pelarutan dilakukan dengan gas
nitrogen fluida, dihasilkan karbon monoksida dan gas karbon dioksida umumnya
antara 0,5 %(v/v) dan 1,5 %(v/v), sedangkan hidrogen dan hidrokarbon molekular
rendah di bawah 0,5 %(v/v). Gas-gas terakhir ini tidak terlalu berpengaruh
terhadap keseimbangan berat akhir, oleh karena itu tidak perlu diukur dengan
ketelitian yang sama. Karena pemakaian helium sebagai gas pembawa,
konsentrasi hidrogen yang rendah sulit diukur dengan teliti dengan GC.

2.3.4 Reaktor dengan skala produksi 1 kg/jam


Gambar 5 menunjukkan reaktor dengan skala produksi 1 kg/jam sistem
pirolisis bed fluida. Reaktor dengan skala produksi 1 kg/jam sama dengan Reaktor
dengan skala produksi 150 g/jam yang juga menggunakan nitrogen sebagai gas
fluida dan pasir sebagai bahan dasar.
Pasir dipanaskan sampai temperatur sekitar 500 °C. TKKS yang dicuci
berukuran 355–600 µm diolah ke dalam pasir panas mendidih dalam reaktor.
Hasil reaksi melewati dua cyclone di mana arang dihilangkan. Uap-uap sisa diolah
dengan daur ulang isopar dingin. Untuk menghilangkan aerosol yang tidak
tertangkap oleh kolom pemadam, gas melewati pengendap elektrostatik yang
sangat efektif menangkap aerosol. Cairan dikumpulkan pada kolom pemadam dan
saluran ESP ke dalam tank pengumpulan biasa, yang juga berisi isopar. Isopar
lebih ringan daripada bio-oil, karenanya bio-oil mengalir ke dasar tank, sedangkan
isopar menggumpal di atas, di tempat ceruk pompa untuk daur ulang kolom.
Setelah dilakukan, ditemukan massa zat menempel pada dinding ESP 22,8% dan
74% dari cairan pirolisis total yang terkumpul pada dinding ESP dan dalam Tank,

12
secara berurutan. Tidak ada perlakuan lebih lanjut pada reaktor untuk skala
produksi 1 kg/jam.

Keterangan :
1. tempat biomassa 7. air pendingin keluar 13. tangki/tank
2. pengumpan ulir 8. air pendingin masuk 14. pompa
3. reaktor Fluida 9. kolom pemadam 15. Penyaring kapas
4. gas pemanas 10. Pembakar 1 16. kondensor es kering
5. cyclone 1 11. pembakar 2
6. cyclone 2 12. Pengendap elektrostatik (ESP)
Gambar 5. Gambar arus dari sistim pirolisis untuk skala produksi 1 kg/jam

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1. Pengaruh temperatur bed reactor pada produk yang dihasilkan
Gambar 6 - 8 memperlihatkan kadar dari bermacam-macam suhu reaktor
untuk TKKS yang dicuci. Hasil gas meningkat bersamaan dengan suhu,
sedangkan hasil arang menurun. Air yang dihasilkan rata-rata konstan melewati
range suhu yang dipakai, maksimumnya untuk hasil cairan organik 61,3% dan
72,4%, berlangsung pada suhu 500 °C. Hasil metana dan karbon monoksida
meningkat lebih cepat bersamaan dengan suhu dari pada karbon dioksida.

13
Gambar 6. Kadar arang, reaksi air dan gas sebagai suatu fungsi temperatur
untuk bahan baku yang dicuci.

Gambar 7. Kadar dari senyawa organik dan semua cairan sebagai suatu
fungsi temperatur untuk bahan baku yang dicuci

Gambar 8. Kadar dari metana, karbon monoksida dan dan karbon dioksida
sebagai suatu fungsi temperatur untuk bahan baku yang dicuci.

3.2 Pengaruh kandungan abu bahan baku pada produk yang dihasilkan
Gambar 9 memperlihatkan Pengaruh dari berbagai kadar abu TKKS yang
dicuci. dimana kandungan abu rendah menyebabkan peningkatan pada hasil

14
organik, sedangkan reaksi air, arang, dan semua hasil gas menurun. TKKS yang
memiliki kadar abu kurang dari 3 %(w/w) menghasilkan cairan yang homogen.
Kadar abu dari 2,04 %(w/w) ke 1,03 %(w/w) memberi peningkatan hasil organik
pada TKKS yang dicuci dari 44,32% menjadi 61,34%, sedangkan hasil TKKS
yang tidak dicuci adalah 34,71%. Ini disebabkan kandungan abu pada TKKS dan
potassium tertentu merupakan katalis aktif dan membantu reaksi sekunder uap,
gas, dan arang.

Gambar 9. Pengaruh kadar abu terhadap konsentrasi hasil.

Hasil dari peningkatan karbon dioksida pada dasarnya bersamaan dengan


meningkatnya kadar abu. Pada suhu 500 °C untuk TKKS yang tidak dicuci
karbondioksida meningkat 15%, tiga kali sama tingginya dengan hasil karbon
monoksida. Untuk kondisi yang sama, TKKS yang dicuci untuk kadar abu
1,03 %(w/w) memberikan hasil karbon dioksida hanya 8%. Kira-kira satu atau
setengah kali tinggi hasil karbon monoksida.

3.3. Perbandingan bahan baku


Perbandingan TKKS dengan hasil literatur untuk bahan baku biomassa
dilihatkan pada Gambar 10. Hasil untuk TKKS yang dicuci mirip dengan hasil
untuk kayu abu rendah, seperti pohon. Sedangkan hasil TKKS yang tidak dicuci
lebih mirip dengan bahan baku abu lebih tinggi, seperti jerami gandum

15
Gambar 10. Kadar organik sebagai suatu fungsi temperatur pada biomassa

Tabel 5. Perbandingan dari TKKS dengan bahan baku biomassa yang lain
Bahan baku TKKS yang TKKS yang Kayu abu Tongkol Jerami
tidak dicuci dicuci Rendah jagung gandum
Selulosa 59,7 - 42,3 31,0 32,4
%(w/w)
Hemiselulosa 22,1 - 31,0 43,0 41,8
%(w/w)
Lignin 18,1 - 16,2 13,0 16,7
%(w/w)
Kandungan 7,48-8,96 6,04-6,54 5,0 6,5 9,0
air %(w/w)
Abu %(w/w) 5,36 1,03 0,39 11,0 4,6
Kadar %(w/w)
Terbakar 24,52 10,76 11 42,2 22
Gas 23,31 14,70 14 13,7 19
Organic 34,71 61,34 58,9 22,3 32
Total cairan 49,8 72,36 74,1 43,1 54

3.4. Perbandingan reaktor skala produksi 150 g/jam dan 1 kg/jam


Table 6, terlihat perbandingan antara reaktor dengan skala produksi 150
g/jam dan 1 kg/jam. Perbandingan gas karbon monoksida, gas karbondioksida
dan kadar arang hampir sama antara kedua perlakuan. Sedangkan pada reaktor
1 kg/jam kadar air dan organik lebih rendah, gas yang dihasilkan lebih tinggi. Ini
disebabkan karena, pertama, didalam reaktor untuk 1 kg/jam penggunaan
kondensor es kering tidak selalu terlalu efisien, karena tidak terlihat perbedaan
antara hasil air dan hasil organik. Kedua, hanya ada empat pengukuran GC yang
cocok dari komposisi gas dan ini menunjukkan variabilitas kuat antara mereka.
terjadi fluktuasi dalam tingkat pengolahan, yang rata-rata lebih tinggi dibanding

16
yang dikalibrasi ini dipengaruhi oleh fluktuasi tekanan yang berasal dari reaktor.
Gas yang muncul pada corong pengolah secara berurutan membuat pengolahan
berhenti selama satu atau dua detik, menyebabkan bahan TKKS ringan yang
terambil lebih dulu. Ketiga, asumsi bahwa isopar dan bio-oil terpisah semuanya
diragukan, karena untuk setiap pecahan minyak nabati yang terdapat dalam TKKS
yang dihasilkan bio-oil, yang secara logis bisa diekstrak oleh isopar.

Tabel 6. Perbandingan dari hasil-hasil skala produksi 150 g/jam dan 1 kg/jam
Reaktor 150 g/jam 1 kg/jam
Temperature reactor (°C) 500 4,99
Waktu kontak uap air panas(s) 1,02 1,10
Uap air (%(w/w)) 6,04 7,25
Abu (%(w/w)) 1,03 1,06
Ukuran partikel (µm) 355-500 355-600
Waktu pembakaran (menit) 64,33 52,23
Input
TKKS basah (g) 75,23 1085,61
TKKS kering (g) 70,95 1012,25
Kandungan air dalam TKKS (g) 4,28 73,36
Kadar (%(w/w))
Arang 10,76 11,19
Organic 61,34 57,25
Gas 14,70 23,07
Air 11,01 6,96
Total cairan 72,36 64,21
Penutup 97,8 98,47
Gas (%(w/w))
Metana 0,58 0,63
Karbon dioksida 8,17 13,17
Karbon monoksida 5,59 8,77
Hydrogen 0,07 0,03
Etilena 0,17 0,27
Etana 0,10 0,12
propana 0,02 0,04
Propilena 0,01 0,01

3.5 Sifat fisika dan kimia produk


Tabel 7 memperlihatkan hasil bio-oil dengan menggunakan reaktor fluida
skala produksi 1 kg/jam untuk TKKS yang tidak dicuci dan dicuci, dibandingan
dengan bio-oil yang diperoleh dari kayu, bahan bakar ringan dan bahan bakar
berat. Fase organik dari pirolisis cepat dari TKKS yang tidak dicuci memiliki
harga pemanasan yang lebih tinggi dan sangat besar, yang melebihi 36 MJ/kg

17
hampir mendekati range dari bahan bakar minyak tanah. Tar yang terkumpul pada
ESP dari reaktor skala produksi 1 kg/h sangat rendah, hanya melewati 25 MJ/kg,
dan cairan yang dterkumpul pada tangki pengumpul dibawah 19 MJ/kg. Bila
diperhitungkan, rata-rata cairan pirolisis yang dihasilkan pada reaktor skala
produksi 1 kg/h dengan perkiraan 20 MJ/kg. Tingginya rendemen dari reaksi air
dan gas karbon dioksida untuk bahan baku yang tidak dicuci menunjukkan bahwa
produk-produk sisa harus mempunyai nilai HHV yang lebih besar dibanding
biomassa aslinya. Banyaknya hasil bio-oil yang berlawanan menandakan bahwa
HHV dari cairan pirolisis akan mendekati biomassa yang asli.

Tabel 7. Karakteristik dari cairan hasil pirolisis dan bahan bakar minyak tanah
TKKS yang TKKS yang Bio-oil Bahan Bahan
tidak dicuci Dicuci dari bakar bakar
Fasa Fasa Dari Dari kayu ringan berat
organik air ESP tangki
C 69,35 13,83 56,47 41,86 32-48 86,0 85,6
H 9,61 11,47 7,85 7,82 7-8.5 13,6 10,3
N 0,74 0,14 0,22 0,1 <0,4 0,2 0,6
O 20,02 78,56 35,46 50,22 44-60 0 0,6
S - - - - <0,05 <0,18 2,5
Air%(w/w) 7,9 64,01 6,66 21,68 20-30 0,025 0,1
HHV(MJ/kg) 36,06 - 25,29 18,63 - - -
LHV(MJ/kg) - - - - 13-8 40,3 40,7

IV. KESIMPULAN
Pirolisis cepat pada TKKS yang dicuci telah berhasil dilakukan dengan
menggunakan reaktor fluida dengan skala produksi 150 g/jam yang beroperasi
pada tekanan atmosfer. Hasil maksimum untuk cairan yang dihasilkan dari TKKS
yang dicuci meningkat menjadi 72% dibandingkan dengan TKKS yang tidak
dicuci yang hanya dibawah 50%. Kadar abu dari bahan baku sangat
mempengaruhi terhadap hasil bio-oil. Konsentrasi abu yang lebih tinggi dalam
bahan baku menurunkan hasil cairan pirolisis. Kadar abu yang kurang dari
3 %(w/w) menghasilkan cairan yang homogen. Sehingga tidak perlu dilakukan fasa
pemisahan cairan. Produk yang dihasilkan secara keseluruhan untuk TKKS yang
dicuci sebanding dengan produk dari bahan baku kayu abu rendah.

18
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, N., dan Gerhauser, H. 2008. Bio-oil derived from empty fruit bunches.
Fuel 87 (2008) 2606-2613.

Awaluddin, A. 2007. Proses Pencairan Langsung Biomassa menjadi Bio-oil


dengan menggunakan Thermo-Oil. Proposal I-MHERE Project. HEI-IU
Universitas Riau.

Chandra, L. 2008. Teknik Analisa Kerusakan (Failure Analysis) pada Komponen


Plastik. http://en. Sentrapolimer.com. Tanggal Akses 5 Maret 2009.

Ensyn Group INC. 2001. Bio-Oil Combustion Due Diligence : The Conversion of
Wood and Another Biomass. Cole Hill Associates.
.
Freel, B., Graham, R.G., 2002. Bio-oil Preservatives. US Patent No.6485841B1.

Goyal, H.B., Seal, D., Saxena, R.C. 2006. Bio-fuels from Thermochemical
Conversion of Renewable Resources: A Review. India Institute of
SPetroleum. India.

Gritter, R.J., Bobbitt, J.M., dan Schwarting,A.E. 1991. Pengantar Kromatografi.


Terjemahan Kosasih Padmawinata. Edisi ke-2. ITB, Bandung.

Hambali, E., Mujdalipah, S., Tambunan, A.H., Pattiwiri, A.W., Hendroko, R.


2007. Teknologi Bioenergi. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Khopkar, S.M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI-Press. Jakarta.

Onggo, D., dan Fansuri, H. 1999. Penggunaan Diferensial Thermal Analysis


(DTA) pada penentuan aktivitas dan reaktivitas katalis untuk oksidasi CO
menjadi CO2. JMS Vol. 4 No. 1, hal. 13 - 19.

Sardjono, P., Karina, M., Onggo, H. 2009. Analisa Termal.


http://en.labujipolimer.com. Tanggal Akses 5 maret 2009.

Wikipedia.com. 2008. hermogravimetric analysis. http://en.wikipedia.org/wiki/


hermogravimetric_anaysis . Tanggal Akses 12 maret 2009.

19