Anda di halaman 1dari 4

AR 4142

Permukiman Masyarakat Berpendapatan Rendah

Kuliah ke-3 11 Februari 2014

Dimensi Sosial dan Dinamika Ekonomi Permukiman Kota Permasalahan perumahan dan permukiman telah memberikan warna dalam kehidupan perkotaan pada konteks pembangunan. Pada permukiman masyarakat berpenghasilan rendah terutama pada kawasan para migran, dinamika kegiatan kota memberikan warna yang sangat bervariasi akibat lemahnya peran dunia usaha menyediakan rumah tinggal yang layak bagi para pekerja. Sehingga, dalam dinamika perkotaan, antara kumuh, kemiskinan, dan sektor informal menjadi bagian yang saling berkorelasi. Kompleksitas hubungan tersebut sering berdampak pada kurangnya kemampuan pemerintah kota mengidentifikasi kondisi permukiman kumuh dan perdagangan informal perkotaan.

Lingkungan permukiman kumuh erat kaitannya dengan berbagai permasalahan baik sosial, ekonomi, maupun infrastruktur. Kondisi rumah yang tidak layak huni, air bersih dan sanitasi yang buruk sering berdampak pada tingkat kesehatan masyarakat yang tinggal di permukiman kumuh. Keterbatasan terhadap akses sosial dan ekonomi merupakan warna yang tak terpisahkan dengan permukiman kumuh. Namun demikian, kawasan kumuh menjadi alternatif bagi para migran yang ingin mendapatkan tempat tinggal yang murah. Oleh karena itu, saat ini tampak berbagai variasi tipe

AR 4142

Permukiman Masyarakat Berpendapatan Rendah

kepemilikan, rumah, dan menempati kawasan kumuh.

pekerjaan

yang

Kota merupakan sistem yang kompleks, dimana pertumbuhan kota akan berdampak pada kondisi perkonomian masyarakat kota. !ingkat kompleksitas kota mun"ul akibat keragaman berbagai dimensi baik ekonomi, sosial, politik, budaya, etnik dan spasial kota. Perlahan tingkat stratifikasi sosial dan ekonomi masyarakat kota dapat dilihat dengan jelas pada kondisi spasialnya, dimana kawasan perkotaan dapat dibedakan antara hunian elit dan hunian kumuh. #un"ulnya kampung berbasis etnik juga memberikan warna terhadap segregasi se"ara spasial. #un"ul wa"ana yang disebut sebagai gated "ommunity.

$ekerja pada sektor informal dengan tingkat pendapatan yang rendah, membuat pilihan hidup di tengah kota menjadi hal yang tidak terhindarkan. #inimnya transportasi publik yang murah menyebabkan orang enggan hidup di wilayah pinggiran. #asyarakat rela hidup berdesakan di permukiman kumuh asalkan masih mampu bertahan

AR 4142

Permukiman Masyarakat Berpendapatan Rendah hidup. $esar dan pola pendapatan masyarakat di kawasan kumuh juga dapat menjadi pertimbangan dalam proses penanganan permukiman kumuh kota. &ndikator sosial lain yang penting untuk diperhatikan antara lain besar pengangguran, jumlah masyarakat berpenghasilan di bawah standar upah minimum, jumlah tenaga kerja wanita, dan jumlah tenaga kerja anak'anak. (aktor lain yang perlu diperhatikan kembali dalam melihat dinamika ekonomi yang mempengaruhi kondisi perumahan adalah karakter sektor informal. )ntuk kasus &ndonesia pada kondisi tertentu sektor informal mempunyai daya tahan tinggi terhadap kondisi krisis ekonomi global. #un"ulnya sektor informal perkotaan inilah yang menyebabkan tumbuhnya permukiman informal perkotaan yang menempati ruang yang tidak sesuai dengan peruntukan *!*+. Penyediaan rumah murah bagi masyarakat miskin merupakan hal yang penting dalam fungsi sosial ekonomi di kawasan kumuh. Para pekerja biasanya membutuhkan tempat tinggal yang murah dan akses yang mudah ke tempat kerja, yang berakibat pada pemilihan rumah di permukiman kumuh. ,al ini dapat diatasi apabila penyediaan infrastruktur transportasi tersedia dengan baik agar akses ke tempat kerja dapat terjangkau oleh masyarakat. Permukiman kumuh dan proses urbanisasi merupakan dua hal yang saling terkait. $ahkan banyak pihak yang berpandangan bahwa fenomena kumuh diakibatkan oleh urbanisasi. Pandangan tidak sepenuhnya benar karena faktor pendorong dan penarik tampaknya sampai saat ini masih "ukup signifikan terlihat. !erutama akibat kesempatan kerja

AR 4142

Permukiman Masyarakat Berpendapatan Rendah yang banyak tumbuh di kota masyarakat lebih tergerak melakukan migrasi ke kota. .khirnya, fenomena tersebut menjadi budaya masyarakat. Sementara menurut pandangan lain bahwa mun"ulnya permukiman kumuh merupakan akibat dari pengelolaan urbanisasi yang belum efektif dan berkelanjutan. Kapasitas pengelolaan urbanisasi menjadi isu strategis dengan menurunnya kualitas ruang kota. Permasalahan sosial budaya yang timbul pada permukiman kumuh mempunyai korelasi yang "ukup kuat. $ila dilihat se"ara umum bahwa permasalahan kesejahteraan masyarakat merupakan akar utama dari timbulnya permukiman kumuh. Oleh karena itu, penanganan kumuh tidak dapat dipisahkan dengan proses pengentasan kemiskinan dan harus menjadi kebijakan yang terintegrasi dalam proses pembangunan kota. #elihat permasalahan di atas, tampak bahwa permasalahan kumuh merupakan permasalahan hak dasar masyarakat. Pandangan ini berargumentasi bahwa kemiskinan bukan hanya berarti tingkat penghasilan yang rendah, melainkan juga diakibatkan belum terpenuhinya hak'hak dasar masyarakat. /ari pandangan ini mun"ullah pendekatan penanganan kumuh berbasis hak'dasar 0right-based approach1. ,al yang tidak dapat dipisahkan dalam pemenuhan hak dasar pada sektor permukiman adalah adanya jaminan bermukim 0secure tenure1.

***