Anda di halaman 1dari 260

TA/TL/2008/0273

TUGAS AKHIR

IDENTIFIKASI FENOMENA BANJIR TAHUNAN


MENGGUNAKAN SIG
DAN PERENCANAAN DRAINASE
DI KECAMATAN PANJATAN KULONPROGO

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat


Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Teknik Lingkungan

Oleh :

Nama : Akhmad Zaky Asy’ari


No. Mhs : 99 513 026
Nama : Ina Nirmala
No. Mhs : 03 513 026

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2008
HALAMAN PERSEMBAHAN

Tapi...
Bersabarlah...
Sampai kau benar-benar dipaksa memasukinya oleh Sang Raja.
Dan.. menunduklah....!
(Futuhul Ghaib – Syaikh Abdul Qadir Jaelani)

Ayahanda, Guru Terkasih, Alm. H. Ali Racman Saleh.


Ibunda Hj. Anah Muawanah.
Adinda Risalah, Zakkinnisa, Nuriatu Maryam.
Dyah Arum Kusumaningtyas... penuh harap 9 bulan 'tuk selamanya...
By: Akhmad Zaky Asy’ari

Terucap syukur diantara kemegahan alam semesta..


Terucap doa diantara indahnya karuniaMu..ya Rabb..
KepadaMu Sang Maha Pengasih & Maha Penyayang, ALLAH SWT
Pemimpin umat manusia, Pembawa kebaikan & kebenaran, Rasulallah SAW
Orang tuaku terkasih,
Iskandar Mirza dan Rachmawati
Doa dan kasih sayangnya menjadi penyemangat dalam hidup ku
Kakak-kakakku & Adikku tersayang,
Oyip Wijaya, Gulam Aditya & Reza Firmansyah
By: Ina Nirmala
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji dan syukur kami panjatkan kepada ALLAH SWT, Sang
Pencipta seluruh alam, Kepunyaan-Nya nama-nama yang paling indah, Tasbih Memuji-
Nya segala yang di langit dan di bumi, atas segala rahmat dan karunia-Nya. Sholawat serta
salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW pemimpin segenap hati manusia
yang membawa kebaikan dan kebenaran.
Setelah hampir satu tahun lamanya, struggle, akhirnya inilah!, sebuah karya tulis
ilmiah yang dimulai dari keragu-raguan pada akhirnya terselesaikan juga. Dalam secarik
kertas yang terbatas ini, kami haturkan banyak terimakasih kepada orang-orang yang telah
membantu untuk selesainya tugas akhir ini :
1. Terimakasih banyak kepada dua pembimbing kami : Bapak Ir. Widodo
Brontowiyono, M.sc dan Bapak Eko Siswoyo, ST, yang telah mengarahkan ide
maupun metodelogi kami.
2. Kami juga berterimakasih kepada Bapak Luqman Hakim, ST., M.Si selaku Ketua
Jurusan Teknik Lingkungan, sekaligus dosen penguji, Bapak Andik Yulianto, ST,
MT., dan Ibu Any Juliani, ST, M.Sc., atas arahan yang di berikan pada saat
sidang hasil akhir.
3. Terimakasih sekaligus maaf juga kami haturkan kepada seluruh pengajar dan staff
Jurusan Teknik Lingkungan Bapak Ir. H. Kasam, MT., Bapak Hudori, ST.,
Bapak Agus Adi Prananto, SE., semoga keberkahan dan keberkahan selalu
terbalaskan.
4. Kami juga mengucapkan banyak terimakasih kepada sahabat yang telah membantu
selesainya tugas akhir ini, Mas Amirul Anam DiGitra, Irul & Lix Rudy Km 9,
Mas Liliek Hanung & Iwan Setiawan Blom Nusantara Bandung.
5. Untuk sahabat dekat Nikko Widityawan TL '99 dan keluarga, Meidy Prasetyadi
TL '99, Gatot Putra Anom TL '99, Khanafi TL '99 , dan 99 'ers lainya.
6. Untuk orang yang membuat saya berani bermimpi, dan mengejarnya Dyah Arum
Kusumaningtyas.
7. Sahabat sejatiku dalam suka maupun duka, pemotivasiku, penyemangatku, pemberi
inspirasiku; Sartika Wahyuni, Ade Ardian ST, Nia Darniati S.KM, Dwi
Rahmayanti SE, Indrasto Ary Widagdo ST, thanks untuk semuanya, berjuta-juta
ucapan terimakasih pun tak cukup untuk menggantikan apa yang telah kalian
berikan padaku. ’Happiness Is Having a Friend Like You’.
8. Saudara seperjuangan Envir03 : Rita, Diana, Tutik ST, Niensa ST, Dedy, Ari,
Dhanu, Achep, Astrin ST, Erpan ST, Ratih ST, Henny ST, Phita ST, Idha ST,
Tris, Chapunk, Fadly, Reni, Astri, Anna, n semua saudara”ku yang tidak dapat
kusebutkan satu persatu, thanks untuk semua yang telah kita lalui bersama.
9. Mas Wisnu ST, Abg Azri ST, Abg Dede ST, Mas Aan ST, Ka’ Lalu Iwan thanx
buat Support n selalu mengingatkan dalam segala hal.
10. The last, Keluarga Besar Teknik Lingkungan UII 99-07, Keluarga Besar
Mapala Unisi Yogyakarta, Manajemen BLOM Nusantara Bandung,
BAPPEDA Kulonprogo, Kecamatan Panjatan dan semua pihak yang telah
membantu baik moriil maupun materiil, sehingga selesainya tugas akhir ini.

Banyak sekali harapan yang tumbuh dari selesainya Tugas Akhir ini terhadap
sebuah komitmen, profesi dan pengabdian hidup. Semoga menjadi batu loncatan untuk
terus menjadi lebih baik, lebih berkarya, dan lebih bermanfaat.

Yogyakarta, Mei 2008

Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PENGESAHAN ii
HALAMAN PERSEMBAHAN iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR GAMBAR xiv
ABSTRAKSI xvi
ABSTRACT xvii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 3
1.3 Tujuan Penelitian 3
1.4 Manfaat Penelitian 3
1.5 Batasan Masalah 4

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI


2.1 Karakteristik Lingkungan Fisik 5
2.1.1. Kondisi Lingkungan Geografi 5
2.1.2. Kondisi Topografi 5
2.1.3. Iklim dan Curah Hujan 6
2.2 Kondisi Geohidrologi 6
2.2.1 Air Tanah 6
2.2.2 Sumber Daya Air 6
2.3 Kondisi Geologi 7
2.4 Kondisi Fisiografi 8
2.5 Tata Guna Lahan 9
2.6 Kondisi Ekonomi 9
BAB III KRITERIA DESAIN
3.1 Pengertian Banjir 11
3.2 Analisia Hidrologi 12
3.2.1 Penyiapan Data Curah Hujan 12
3.2.2 Tes Konsistensi 13
3.2.3 Tes Homogenitas 15
3.2.4 Analisa Curah Hujan Harian Maksimum 15
3.2.4.1 Metode Dumbel Modifikasi 15
3.2.4.2 Metode Log Pearson Type III 17
3.2.4.3 Metode Iway Kadoya 19
3.2.5 Menetukan Metode Terpilih 21
3.2.6 Analisa Intensitas Hujan 22
3.2.6.1 Metode Van Breen 23
3.2.6.2 Metode Bell Tanimoto 23
3.2.6.3 Metode Hasper – Der Weduwen 24
3.2.7 Penentuan Metode Perhitungan Intensitas Hujan 25
3.3 Sistem Informasi Geografi Untuk Identifikasi Lokasi Banjir 26
3.3.1 Input Data Geometrik 27
3.3.1.1 Fitur 27
3.3.1.2 Attribut 29
3.3.1.3 Imagery 29
3.3.1.4 Surface 30
3.3.2 Perkiraan Inflow Banjir 32
3.4 Perencanaan Drainase 33
3.4.1 Drainase 33
3.4.2 Maksud dan Kegunaan drainase 34
3.4.3 Dasar-dasar Perencanaan dan Kriteria Desai 35
3.4.4 Kriteria Hidrolis 36
3.4.4.1 Perkiraan Debit Limpasan Air Hujan 36
3.4.4.2 Koefisien Storasi 37
3.4.4.3 Waktu Konsentrasi (tc) 37
3.4.4.4 Waktu Rayapan 38
3.4.4.5 Perubahan PUH 45
3.4.4.6 Koefisien Pengaliran 46
3.4.4.7 Intensitas Hujan 48
3.4.4.8 Luas Daerah Pengaliran (A) 49
3.4.4.9 Pengaruh DPS Parsial 49
3.4.5 Kriteria Hidrolis 50
3.4.5.1 Kapasitas Saluran (Q) 50
3.4.5.2 Kecepatan Aliran (v) 53
3.4.5.3 Kemiringan Saluran dan Talud Saluran 59
3.4.5.4 Penampang Saluran 60
3.4.5.5 Ambang Bebas 62
3.4.6 Perlengkapan Saluran 62

BAB IV METODE PERENCANAAN


4.1 Metode Analisis GIS untuk Identifikasi Daerah Banjir dan
Penentuan Lokasi Kolam Penahan Hujan 69
4.2 Penjelasan dan Uraian Metodelogi Perencanaan 75
4.2.1 Tahapan Pengumpulan Data 75
4.2.1.1 Survey Lapangan 75
4.2.1.2 Pengumpulan Data Primer 75
4.2.1.3 Pengumpulan Data Sekunder 75
4.2.2 GIS Untuk Menentukan Daerah Potensial Banjir 75
4.2.2.1 Spatial Analyst – Surface Creation 75
4.2.2.2 Pembuatan Peta Penggunaan Lahan 76
4.2.2.3 Pembutan Peta Kemampuan Tanah 76
4.2.2.4 Pembuatan Peta Daerah Aliran Sungai dan
Analisis Inflow 76
4.2.2.5 Pembuatan Peta Potensi Banjir Kecamatan
Panjatan Kulonprogo 77
4.2.3 Analisa Hidrologi 79
4.2.4 Tahap Perencanaan Atau Desain 80
4.2.4.1 Dasar-dasar Perencanaan 80
4.2.4.2 Perencanaan teknis 80
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Analisis GIS Untuk Identifikasi Daerah Banjir 81
5.1.1 Mazaiking, Koreksi Geometrik dan Penggunaan
Lahan Daerah Penelitian 81
5.1.2 Bentuk Rupa Bumi Daerah Perencanaan 84
5.1.3 Kemampuan Infiltrasi Daerah Perencanaan 86
5.1.4 Identifikasi Potensi Genangan 88
5.1.5 Analisis Inflow 90
5.1.6 Identifikasi Banjir Kecamatan Panjatan 98
5.1.7 Rekomendasi Lokasi Kolam Penahan Hujan 101
5.2 Analisis Hidrologi
5.2.1 Penyiapan Data Curah Hujan 103
5.2.2 Melengkapi Data Curah Hujan 103
5.2.3 Tes Konsistensi 105
5.2.4 Tes Homogenitas 108
5.2.5 Analisis Frekuensi Curah Hujan 109
5.2.5.1 Metode Gumbel Modifikasi 109
5.2.5.1 Metode Log Pearson Type III 110
5.2.5.2 Metode Iway Kadoya 112
5.2.6 Uji Chi Kuadrat 114
5.2.7 Analisis Intensitas Hujan 116
5.2.7.1 Metode Van Breen 116
5.2.7.2 Metode Bell Tanimoto 117
5.2.7.3 Metode Hasper dan Der Weduwen 119
5.2.8 Penentuan Rumus Intensitas Hujan 121
5.2.8.1 Penggambaran Kurva Lengkung Intensitas 121
5.3 Perencanaan Teknis 122
5.3.1 Pertimbangan Usulan Perencaan 122
5.3.1.1 Kondisi Fisik Daerah Perencanaan 128
5.3.1.2 Keadaan Eksisting dan Rencana di
Daerah Perencanaan 128
5.3.2 Usulan Perencanaan Teknis 129
5.3.2.1 Prinsip Pengaliran Saluran 129
5.3.2.2 Upaya Mengurangi Beban Badan Air 130
5.3.2.3 Cara Penyaluran 130
5.3.2.4 Bentuk Dan Keadaan Saluran 130
5.3.2.5 Gorong-gorong 138
5.3.3 Evaluasi Saluran Eksisting 142
5.3.4 Rencana Anggaran Biaya 143
5.3.5 Spesifikasi Teknis 154

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN


6.1 Kesimpulan 159
6.2 Saran 160

DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL

Tabel III.1 Skew Curve Factor (k) 19


Tabel III.2 Variabel ξ yang sesuai pada W (x) Utama 21
Tabel III.3 Cara Penyaluran Air Hujan 34
Tabel III.4 Periode Ulang Hujan Desain 35
Tabel III.5 Nilai Kekesaran Permukaan 39
Tabel III.6 Nilai Koefisien Retardasi 42
Tabel III.7 Nilai Koefisien Kekasaran Retardasi 42
Tabel III.8 Nilai Keofisien Manning Overland Flow 43
Tabel III.9 Perkiraan Kecepatan Rata-rata di Dalam Saluran Alami 45
Tabel III.10 Harga Koefisien Pengaliran Untuk Berbagai Penggunaan Tanah 46
Tabel III.11 Harga Koefisien Pengaliran Untuk Berbagai Penggunaan Tanah 47
Tabel III.12 Harga n Persamaan Manning 53
Tabel III.13 Harga n Manning yang dianjurkan dalam Saluran Drainase 54
Tabel III.14 Harga n Manning untuk Saluran alami atau sungai 55
Tabel III.15 Harga τ Bazin untuk berbagai Saluran 57
Tabel III.16 Pendekatan Kecepatan Trial Berdasarkan Kemiringan 58
Tabel III.17 Pendekatan Kecepatan Setempat, vt trial berdasarkan debit puncak 58
Tabel III.18 Faktor Koreksi dari Kecepatan Maksimum yang Diperbolehkan
Untuk Berbagai Kedalaman Air 59
Tabel III.19 Faktor Koreksi untuk Kecepatan Saluran yang diijinkan untuk
Saluran Lengkung 59
Tabel III.20 Kemiringan Dinding Saluran yang Dianjurkan Sesuai Bahan yang
Digunakan 60
Tabel III.21 Besar-besaran Penampang Hidrolis Optimum 61
Tabel III.22 Hubungan Dimensi Penampang Saluran 61
Tabel III.23 Harga CF untuk Suatu Rentang Debit 62
Tabel III.24 Faktor Reduksi Dalam Penentuan Kapasitas Debit 64
Tabel IV.1 Kelas Lereng 77
Tabel IV.2 Penggunaan Lahan 78
Tabel IV.3 Kemampuan Tanah Menyerap Air 78
Tabel IV.4 Pembobotan Karakteristik Lahan Terhadap Genangan 79
Tabel IV.5 Klasifikasi Potensi Banjir 79
Tabel V.1 Rata-rata Curah Hujan Bulan Nopember 92
Tabel V.2 Rata-rata Curah Hujan Bulan Desember 92
Tabel V.3 Rata-rata Curah Hujan Bulan Januari 93
Tabel V.4 Rata-rata Curah Hujan Bulan Februari 93
Tabel V.5 Rata-rata Curah Hujan Bulan Maret 94
Tabel V.6 Rata-rata Curah Hujan Bulan Basah 94
Tabel V.7 Analisa Inflow Pada Bulan Basah 95
Tabel V.8 Koordinat Stasiun Hujan 103
Tabel V.9 Melengkapi Data Curah Hujan yang Hilang 104
Tabel V.10 Perhitungan Tes Konsistensi Untuk Stasiun Panjatan 105
Tabel V.11 Data Curah Hujan yang telah Dkoreksi 107
Tabel V.12 Data Curah Hujan Maksimum 20 Tahun Terakhir 108
Tabel V.13 Perhitungan Hujan Harian Maksimum Metode Log Pearson III 110
Tabel V.14 Curah Hujan Harian Maksimum Metode Gumbel Modifikasi 110
Tabel V.15 Perhitungan Rata-rata nilai SD, dan g 111
Tabel V.16 Perhitungan Hujan Harian Maksimum Metode Log Pearson III 112
Tabel V.17 Data Curah Hujan Harian Maksimum yang Diurutkan 112
Tabel V.18 Penentuan Harga b 113
Tabel V.19 Penentuan Harga Xo, xo dan c 113
Tabel V.20 Perhitungan Hujan Harian Maksimum Dengan Menggunakan
Iway Kadoya 114
Tabel V.21 Perhitungan Untuk Chi Kuadrat 114
Tabel V.22 Uji Chi Kuadrat Untuk Metode Gumbel 115
Tabel V.23 Uji Chi Kuadrat Untuk Metode Log Pearson Type III 115
Tabel V.24 Uji Chi Kuadrat Untuk Metode Iway Kadoya 115
Tabel V.25 Perbandingan Tiga Metode Curah Hujan Maksimum 116
Tabel V.26 CHHM yang digunakan dalam Perencanaan Drainase Panjatan 116
Tabel V.27 Perhitungan Intensitas Hujan Menggunakan Metode Van Breen 117
Tabel V.28 Perhitungan Intensitas Hujan Menggunakan Metode
Bell Tanimoto 118
Tabel V.29 Perhitungan Intensitas Hujan Menggunakan Metode Hasper –
Weduwen 120
Tabel V.30 Perbandingan Delta Terkecil 121
Tabel V.31 Perhitungan Dimensi Saluran Blok A 132
Tabel V.32 Perhitungan Dimensi Saluran Blok B 134
Tabel V.33 Perhitungan Dimensi Saluran Blok C 136
Tabel V.34 Perhitungan Dimensi Gorong-gorong Blok A 139
Tabel V.35 Perhitungan Dimensi Gorong-gorong Blok B 140
Tabel V.36 Perhitungan Dimensi Gorong-gorong Blok C 141
Tabel V.37 Perhitungan BOQ Saluran Blok A 144
Tabel V.38 Perhitungan BOQ Saluran Blok B 145
Tabel V.39 Perhitungan BOQ Saluran Blok C 147
Tabel V.40 Perhitungan BOQ Gorong-gorong Blok A 149
Tabel V.41 Perhitungan BOQ Gorong-gorong Blok B 150
Tabel V.42 Perhitungan BOQ Gorong-gorong Blok C 151
Tabel V.43 Akumulasi Volume Saluran 152
Tabel V.44 Akumulasi Volume Gorong-gorong 152
Tabel V.45 Rekapitulasi RAB Kecamatan Panjatan 153
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kabupaten Kulonprogo 5


Gambar 2.2 Peta Lokasi Administrasi Penelitian 5a
Gambar 2.3 Peta Administrasi Kecamatan Panjatan 5b
Gambar 2.4 (a) Kali Progo Bawah, (b) Kali Progo Atas 7
Gambar 3.1 Fitur Berupa Titik (points) 28
Gambar 3.2 Fitur Berupa Garis (linesi) 28
Gambar 3.3 Fitur Berupa Area (polygons) 28
Gambar 3.4 Attribut berupa baris dan kolom 29
Gambar 3.5 Konsep Imagery berupa nilai piksel 29
Gambar 3.6 Contoh jenis-jenis Imagery 30
Gambar 3.7 Garis Kontur 30
Gambar 3.8 Digital Elevation Model (DEM) 31
Gambar 3.9 Triangulated Irreguler Network 31
Gambar 3.10 Analisa Volume dengan menggunakan cut and fill 32
Gambar 3.11 Grafik Desain Untuk Memperkirakan Waktu Limpasan Awal (to) 41
Gambar 3.12 Koefisien Limpasan Untuk Daerah Rural 51
Gambar 3.13 Koefisien Limpasan Untuk Daerah Urban 52
Gambar 4.1 Diagram Alir Analisis GIS untuk Identifikasi Daerah Banjir dan
Penentuan Lokasi Kolam Penahan Hujan 71
Gambar 4.2 Diagram Alir Analisis Hidrologi Untuk Perencanaan Drainase 72
Gambar 4.3 Diagram Alir Analisis Hidrologi Untuk Perencanaan Drainase 73
Gambar 4.4 Diagram Alir Perencanaan Teknis Desain Drainase 74
Gambar 5.1 Citra Terkoreksi Geometrik 82
Gambar 5.2 Peta Penggunaan Lahan Kecamatan Panjatan 83
Gambar 5.3 Bentuk Lereng Kecamatan Panjatan 85
Gambar 5.4 Profile Lereng Panjatan (Potongan A-A’) 86
Gambar 5.5 Peta Kelas Infiltrasi Tanah 87
Gambar 5.6 Peta Potensi Genangan Kecamatan Panjatan 89
Gambar 5.7 Daerah Aliran Sungai dan Lokasi Penelitian 91
Gambar 5.8 Peta Limpasan Permukaan DAS Serang dan Progo 97
Gambar 5.9 3-D Daerah Aliran Sungai Lokasi Penelitian 98
Gambar 5.10 TIN Daerah Panjatan 99
Gambar 5.11 Peta Banjir Tahunan Kecamatan Panjatan 100
Gambar 5.12 3-D Visualisasi Banjir Daerah Panjatan 101
Gambar 5.13 Peta Rekomendasi Lokasi Kolam Penahan Air Hujan 102
Gambar 5.14a Kurva Lengkung Intensitas PUH 10 Tahunan 122
Gambar 5.14 Daerah Fokus Perencanaan Drainase 123
Gambar 5.15 Rencana Pembagian Blok Jaringan Drainase 124
Gambar 5.16 Rencana Pembagian Drainase Blok A 125
Gambar 5.17 Peta Rencana Drainase Blok B 126
Gambar 5.18 Rencana Pembagian Drainase Blok C 127
IDENTIFIKASI FENOMENA BANJIR TAHUNAN
MENGGUNAKAN SIG
DAN PERENCANAAN DRAINASE
DI KECAMATAN PANJATAN KULONPROGO

Oleh : Akhmad Zaky Asy’ari dan Ina Nirmala

Abstraksi
Kecamatan Panjatan adalah merupakan bagian dari Kabupaten Kulonprogo Propinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta. Banjir tahunan pada saat musim penghujan merupakan bagian yang rutin
terjadi pada daerah ini. Menjadi perhitungan lanjut perencanaan teknis dan keputusan-keputusan
yang diambil untuk lebih mengetahui kondisi sebenarnya terkait dengan terjadinya banjir.
Dibutuhkan Informasi yang akurat dari kondisi bentang alam, sifat dan kedalaman banjir, yang
berpengaruh untuk analisa sistem pengaliran air. Tujuan dari penelitian ini adalah 1)
mengntegrasikan SIG dengan data hidrologi untuk dapat mengidentifikasi terjadinya banjir, 2)
merencanakan sistem drainase dalam rangka mengatasi banjir. 3) memberikan masukan untuk
pembuat kebijakan alternatif cara mengatasi banjir tahunan di Kecamatan Panjatan.

Metodelogi yang digunakan adalah; 1) Pengumpulan data baik primer maupun sekunder 2)
Analisis SIG & Analisis Hidrologi untuk identifikasi banjir 3) Perencanaan teknis sistem drainase
berdasarkan hasil analisa SIG dan Hidrologi 4) Penyusunan Laporan. Pengumpulan data primer
seperti mencari lokasi stasiun curah hujan, pengumpulan data sekunder seperti mencari data
spasial yang sudah tersedia seperti Peta Rupa Bumi Indonesia, Peta Tanah, dan sebagainya.
Analisis SIG dilakukan dengan mengkombinasikan data model permukaan bumi (DEM), Peta Rupa
Bumi, Peta Jenis Tanah, Citra Satelit, Data daerah aliran sungai (DAS) dan Data Hidrologi.
Menggunakan analisa spasial volume inflow yang diperoleh, dapat menunujukan area luasan
banjir yang terjadi. Perencanaan teknis dilakukan setelah daerah fokus penelitian diperoleh,
dengan terlebih dahulu mencari persamaan intensitas hujan untuk pertimbangan desai Spesifikasi
perencanaan desain merencanakan mulai dari perhitungan debit limpasan, perhitungan saluran
drainase, perhitungan bangunanan dimensi pelengkap , spesifikasi teknis, Rencana Anggaran
Biaya, Desain dan detail gambar. Penyusunan laporan dibuat sesuai dengan hasil yang diperoleh,
baik perhitungan, analisa, sampai masukan dan saran.

Dari hasil analisa menggunakan SIG, dapat di identifikasi banjir yang terjadi di Kecamatan
Panjatan seluas 570,8631 Ha, yang meliputi Desa Gotakan, Desa Kanoman, Desa Panjatan, Desa
Cerme, Desa Kanoman, Desa Depok dan Desa Bugel. Untuk Perencanaan drainase selanjutnya
difokuskan pada daerah-daerah yang memiliki luasan banjir terbesar, dan memiliki potensi
genangan yang tinggi. Perencanaan drainase dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi fisik
daerah perencanaan dan lokasi banjir. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan upaya
mengurangi beban badan air dengan merekomendsasikan lokasi-lokasi kolam penampungan
sementara curah hujan, yang di peroleh dari analisa DAS. Bentuk keadaan saluran dibuat
bebrbentuk trapesium dengan talud 1 – 2 dengan petimbangan untuk mengatasi jika ketinggian air
kecil karena dalam suatu ketinggian muka air yang sama, kecepatan aliran dalam saluran
trapesium lebih besar daripada kecepatan aliran dalam salura. segi empat, sehingga self
cleansing velocity dapat dipertahankan, Untuk bangunan pelengkap yang Dipakai adalah
gorong-gorong karena ideal untuk mengalirkan debit yang besar, pembuatannya mudah,
dan sangat kuat.

Kata Kunci : SIG, Hidrologi, Banjir, Perencanaan Drainse.


IDENTIFICATION OF YEARLY FLOOD PHENOMENA
USING GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM
AND DRAINAGE PLANNING
IN KECAMATAN PANJATAN KULONPROGO

By : Akhmad Zaky Asy’ari and Ina Nirmala

ABSTRACT

Kecamatan Panjatan is a part of Kabupaten Kulonprogo in province of Daerah Istimewa


Yogyakarta. Yearly flood on wet season is a routinity in the area. Is a must to have further
technical planning and decision making to have better understandings related the cause of flood.
An accurate information of land topografy, the depth and flood behavior that will influence the
drainage system analysis. The objectiv of the research is 1) to integrating GIS and hydrology data
to identify flood occurrance, 2) planning an drainage system in aim to prevent flood, 3) to give an
alternative input to decision maker on how o overcoming yeraly flood i Kecamatan Panjatan.

Metodology being used was 1) primary and secondary data gathering, 2) GIS and hydrology
analysis to identify he flood, 3) drainage system technical planning based on GIS and Hydrology
analysis result, 4) Reporting. Primary data gathering is finding the location of water rate station,
secondary data gathering is finding the available spatial data such as Indonesia surface map, land
mapping, etc. GIS analysis done by combining earth surface model (DEM) data, earth surface
map, soil mapping, satellite vision, water shed data, and hydrology data. Using spatial analysis
acquired inflow volume, could show the spread of flood. Technical planing was done after research
focus area had had been acquired by firstly finding the equal rain intencity for desain
measurement. Drainage planning desain begin from run-off debit calculation, drainage flow
calculation, the calculation of complementary dimension building, technical specificatio,
budgeting, desaign and drawing detail. Reporting being made in adjust with acquired result,
whether calculation, analysid, until input and recommendation.

From GIS analysis, it could be identify the flod happens in Kecamatan Panjatan covering
570,8631Ha, including the village of Gotakan, Kanoman, Panjatan, Cerme, Depok, and Bugel. For
further drainage planning will be focused on areas that had largest flood scope and had high
potency of puddle.

Drainage planing was done by considering physical condition of planned area and flood locations.
One of effort is by declining water body burden by recommending a temporary reservoir for rain
rate pools locations that acquiredfrom water she analysis. The form of the flow is trapesium with
water dam 1- 2 in assumption to overcome if water surface is low. Because in an equal water
surface, velocity in a trapesum flow is bigger than the velocity in a square flow that in the end, self
cleansing velocity could be defended. For complementary building, desaign being used is tunnels.
Its ideal to flowing big debit, easy to assemble, and strong enough.

Keywords: GIS, Hydrology, flood, drainage planning.


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia pada umumnya dalam menghadapi sebuah permasalahan tertentu
biasanya bersifat reaktif. Begitu juga dalam menghadapi masalah bencana. Adanya
bencana dari kondisi alam khususnya cuaca dan iklim yang berawal dari tahun 1991
berlangsung hingga saat ini. Dampak kekeringan yang merusakan swasembada pangan
nasional, kemudian munculnya kebakaran lahan dan hutan, yang berlanjut dengan dampak
pencemaran asap lintas batas. Berselang dengan permasalahan diatas, muncul lagi masalah
banjir. Banjir bandang dan tanah longsor yang berlangsung sejak pertengahan 1992, awal
1993 dan 1994. Yang terbaru adalah timbulnya masalah banjir 2007 dan 2008 yang
menenggelamkan Ibukota Jakarta. Semua permasalahan ini terus berulang, tanpa ada
agenda yang jelas untuk penanggulangannya.
Banjir merupakan kata yang populer di Indonesia, khususnya pada musim hujan,
mengingat hampir semua kota di Indonesia mengalami bencana banjir. Peristiwa ini
hampir setiap tahun berulang, namun permasalahan ini belum terselesaikan, bahkan
cenderung meningkat, baik frekuensinya, luasannya, kedalamannya, maupun durasinya.
Dalam mengatasi masalah banjir ini diperlukan suatu sistem drainase yang baik, dengan
didukung berbagai aspek perencanan yang terkait didalamnya.
Air hujan yang jatuh dapat menimbulkan permasalahan tersendiri bagi lingkungan.
Dalam kondisi normal air hujan ketika jatuh ke tanah sebagian besar masuk ke dalam
tanah, sebagian lainnya dialirkan, dan sebagian lainnya menguap. Air hujan menjadi
permasalahan ketika air tersebut tidak masuk ke dalam tanah (infiltrasi), tidak dialirkan
dan mengakibatkan timbulnya genangan atau dalam kapasitas besarnya biasa di sebut
banjir. Banjir umumnya disebabkan curah hujan yang tinggi disertai dengan tidak
memadainya kapasitas sistem drainase.
Hampir semua sistem prinsip pada paradigma lama, yakni suatu model drainase
mendesain agar aliran runoff secepat mungkin dibuang ke sungai. Ironisnya, prinsip ini pun
tidak didukung oleh dimensi bangunan yang cukup. Banyak sistem drainase yang dibangun
terlalu kecil untuk debit runoff yang terus meningkat sehingga menimbulkan permasalahan
banjir (Brontowiyono, 2006).
Salah satu daerah yang bermasalah dengan banjir adalah Kecamatan Panjatan,
Kulonprogo. Daerah ini merupakan salah satu wilayah yang rentan dalam permasalahan
ini. Hampir setiap musim penghujan musibah banjir mengancam pemukiman penduduk
dan lahan pertanian. Seperti yang diberitakan Kompas Senin (26/3), Banjir rutin tahunan
tersebut merendam 62 hektar dari 73 sawah yang ditanami padi dan 20 hektar sawah
palawija, cabai, dan sayuran lainnya. Para petani juga mengalami kerugian karena
setidaknya kehilangan satu kali kesempatan panen, belum lagi biaya dan tenaga yang harus
dikeluarkan untuk membersihkan sawah dan memulai kembali penanaman benih baru.
Kerugian satu petak sawah berkisar Rp. 300.000 – Rp. 500.000.
Selain disebabkan karena morfologi wilayah yang merupakan daerah yang
terbentuk karena proses alluvial pantai serta bentukan topografi yang berbentuk cekungan,
daerah Panjatan juga memiliki sistem drainase yang kurang baik. Dengan intensisas hujan
yang tinggi, potensi bencana banjir sangatlah dimungkinkan untuk terjadi.
Dalam permasalahan ini, ada kepentingan dalam hal perencanaan untuk lebih
mempertimbangkan metode perencanaan secara lebih spesifik. Bagaimana menentukan
perencanaan efektif tentu melibatkan banyak faktor, dan membutuhkan penilaian secara
komperhensif. Dibutuhkan biaya yang tidak sedikit dalam menentukannya.
Pemodelan banjir merupakan pendekatan terintegrasi dengan menggunakan analisa
hidrologi dan perangkat lunak Sistem Informasi Geografi. Analisa hidrologi yang
terintegrasi dengan Sistem Informasi Geografi melakukan perhitungan, analisa-analisa
hidrologi, sekenario banjir, dan perspektif tiga dimensi untuk analisis dataran banjir.
Perangkat lunak Sistem Informasi Geografi juga secara lebih spesifik digunakan untuk
pengolahan data-data geografis, yaitu data yang menampilkan analisis keruangan untuk
mencari titik permasalahan.
Konsep perencanaan drainase dengan mempertimbangkan faktor-faktor hidrologi
dan fenomena fisik daerah, diharapkan dapat membantu dalam memecahkan permasalahan
banjir di daerah kecamatan panjatan secara efektif.
Perencanaan saluran drainase sebagai saluran pembuangan air hujan juga
diharapkan tidak sepenuhnya untuk mengatasi genangan dengan mempercepat waktu
pengaliran air hujan. Proses masuknya air hujan kedalam tanah (infiltrasi) secara maksimal
merupakan hal yang perlu diperhatikan, dalam hal ini berkitan dengan kesetimbangan
massa air tanah. Dibutuhkan sebuah metode dalam penentuan daerah efektif untuk
konservasi sumber daya Air.
Dalam penelitian ini juga termasuk penentuan daerah konservasi dengan
memanfaatkan aplikasi software Sistem Informasi Geografi yang menganalisa penampakan
fisik daerah penelitian, terfokus pada pemilihan lokasi efektif untuk kolam penampungan
air hujan.

1.2 Rumusan Masalah


Menurut latar belakang masalah yang ada, maka dapat disusun rumusan masalah
yaitu :
1. Bagaimana unsur hidrologi dan unsur-unsur keruangan terintegrasi dan mampu
menganalisis, memvisualisasikan fenomena banjir yang terjadi dalam pertimbangan
sistem drainase Kecamatan Panjatan.
2. Bagaimana membuat perencanaan sistem drainase dan konservasi di Kecamatan
Panjatan sekaligus memecahkan permasalahan-permasalahan banjir yang
disebabkan air hujan secara komperhensif.

1.3 Tujuan Penilitian


Tujuan dari perencanaan ini adalah :
1. Memvisualisasikan fenomena banjir dengan mengintegrasikan unsur hidrologi dan
penampakan fisik daerah penelitian.
2. Merencanakan sistem perencanaan jaringan drainase sebagai usaha
penanggulangan banjir.
3. Merencanakan Bill of Quantity (BOQ) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB).

1.4 Manfaat Penelitian


Manfaat dari tugas akhir ini adalah :
1. Memberikan alternatif metode pendekatan analisis hidrologi terutama dalam
pemecahannya terhadap permasalahan-permasalahan drainase.
2. Menghasilkan alternatif perencanaan sistem drainase yang baik dengan
pertimbangan penilaian analisa spasial dan hidrologi.
1.5 Batasan Masalah
Untuk menghindari melebarnya permasalahan, maka perlu dibuatkan batasan-
batasan terhadap masalah yang berhubungan dengan tugas akhir ini. Adapun batasan
masalah pada perencanaan ini adalah :
1. Menganalisa fenomena banjir daerah penelitian dengan memfokuskan kepada
kondisi fisik topografi wilayah dan data hidrologi, memvisualisasikannya
menggunakan software Sistem Informasi Geografi.
2. Perencanaan jaringan sistem drainase sebagai bentuk usaha penaggulangan banjir.
BAB II
GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI

2.1. Karakteristik Lingkungan Fisik.

Gambar 2.1 Kabupaten Kulonprogo (Sumber: www.kulonprogo.go.id)

2.1.1. Kondisi Lingkungan Geografi


Kecamatan Panjatan merupakan bagian wilayah dari Kabupaten Kulonprogo
Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang terletak sebelah barat berbatasan dengan
Kecamatan Wates, sebelah timur Kecamatan Galur dan Lendah, sebelah utara kecamatan
Wates, dan sebelah selatan Samudera Indonesia. Luas areanya adalah 44,59 Km2. Dalam
penelitian ini fokus penelitian pada delapan desa yang memang terkena banjir. Kedelapan
desa tersebut adalah : Desa Gotakan, Cerme, Kanoman, Depok, Bugel, Pleret, Garongan,
dan Panjatan.

2.1.2. Kondisi Topografi


Secara topografi Kecamatan Panjatan yang secara fisiografi merupakan dataran
alluvial pantai memiliki kemiringan yang sangat landai dengan kemiringan 0-2 %. Apabila
musim penghujan datang daerah ini merupakan daerah rawan bencana banjir.
Banjir hampir sering terjadi tiap tahunnya. Lebih dari 10 tahun terakhir, desa-desa
di Kecamatan Panjatan tergenang banjir (Kompas, 26 Maret 2007, Kompas 28 Maret 2008)
menggenangi Desa Gotakan, Cerme, Kanoman, Depok, Bugel, Pleret, Garongan, dan
Panjatan.

2.1.3 Iklim dan Curah Hujan


Curah hujan rata-rata/tahun di Kabupaten Kulon progo pada tahun 2003 adalah
sebesar 2664 mm. dengan hari hujan rata-rata/bulan selama 14 hari. Musim hujan tejadi
pada bulan November - April. Hari hujan terbasah terjadi pada bulan Desember sebesar
2455 mm dengan hari hujan selama 19 hari hujan. Kondisi curah hujan yang tinggi ini
telah mengakibatkan bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Kulonprogo.
Sedangkan untuk musim kemarau terjadi pada Bulan Mei s.d. Oktober, dengan bulan-bulan
terkering terjadi pada Bulan Agustus – September. Kondisi ini telah mengakibatkan
beberapa wilayah seperti di Nanggulan, Kokap kekurangan air sehinggga perlu droping air
maupun kegiatan pertanian di daerah irigasi bagian hilir terjadi kondisi kekeringan.
Curah hujan di Kulon Progo rata-rata per tahunnya mencapai 2.150 mm, dengan
rata-rata hari hujan sebanyak 106 hari per tahun atau 9 hari per bulan dengan curah hujan
tertinggi pada bulan Januari dan terendah pada bulan Agustus. Suhu terendahnya lebih
kurang 24,2°C (Juli) dan tertinggi 25,4°C (April), dengan kelembaban terendah 78,6%
(Agustus), serta tertinggi 85,9% (Januari). Intensitas penyinaran matahari rata-rata bulanan
mencapai lebih kurang 45,5%, terendah 37,5% (Maret) dan tertinggi 52,5% (Juli).

2.2. Kondisi Geohidrologi


2.2.1. Air Tanah
Kondisi geohidro sangat dipengaruhi oleh geologi kawasannya, dimana kawasan
panjatan tipologi akuifer nya adalah sistem endapan alluvim pantai yang bergeologi batuan
endapan dan sedimen berupa lempung, pasir dan krikil. Dengan demikian material
cendrung mempunyai akuifer dengan produktivitas rendah, disebabkan pelapisan batuan
pada batuan endapan berlapis-lapis dengan permeabilitas lambat. Sedangkan pada batuan
sedimen air melalui patahan dan bidang lapis sehingga air cenderung hilang meresap.
Kedalaman variasi 7 – 25 M.

2.2.2. Sumber Daya Air


Kabupaten Kulonprogo dialiri oleh 2 DAS besar yaitu Daerah Aliran Sungai Progo,
dan Daerah Aliran Sungai Serang. Sungai Progo dan anak-anak sungainya memiliki daerah
pengaliran seluas 8.894 Ha, dengan debit maksimumnya mencapai 381, 90 m3/detik dan
debit minimum sebesar 13 m3/detik. Sungai Serang dan anak-anak sungainya memiliki
daerah pengaliran seluas 3.365, 75 Ha, dengan debit maksimumnya mencapai 153, 60
m3/detik dan debit minimumnya 0,03 m3/detik. Kedua sungai tersebut telah dimanfaatkan
untuk irigasi persawahan seluas 9.351 ha. Selain air permukaan di Kabupaten Kulonprogo,

terdapat potensi air bawah tanah dangkal sebanyak 7.000.204 m3


Sumber air baku di Kabupaten Kulon Progo meliputi 7 (tujuh) buah mata air,
Waduk Sermo, dan Sungai Progo. Mata air yang sudah dikelola PDAM meliputi mata air
Clereng, Mudal, Grembul, Gua Upas, dan Sungai Progo. Di Kecamatan Kokap,
mata air dikelola secara swakelola oleh pihak Kecamatan dan Desa, yang kemudian
disalurkan secara gravitasi dengan sistem perpipaan.

(a) (b)
Gambar 2.4. (a) Kali Progo bawah, (b) Kali Progo atas. (foto: Anuriyah., 2004 dalam
Brontowiyono., 2008)

2.3. Kondisi Geologi


Kecamatan Panjatan memiliki formasi geologis dimana daerah tersebut menempati
kawasan yang sangat subur yaitu kawasan kipas alluvial dan dataran alluvial, yaitu
fisiografi yang terbentuk dari proses pengendapan oleh aktifitas sungai (fluvial) dan laut
(fluvio marine) dengan kemiringan 0 – 2 %.
Formasi Wates terbagi menjadi dua formasi, yaitu sedimentasi sungai , dan
sedimentasi pantai. Sedimentasi pantai seperti lempung (clay), pasir, kerikil dengan
ketebalan sekitar 30 M. Sedimentasi sungai seperti lempung geluh (silt), dan debu halus
dengan ketebalan 20 Meter, dan ini merupakan bagian yang memiliki aquifer yang kurang
baik.
2.4. Kondisi Fisiografi
Secara fisiografis kondisi Kabupaten Kulon Progo wilayahnya adalah daerah datar,
meskipun dikelilingi pegunungan yang sebagian besar terletak pada wilayah utara, luas
wilayahnya 17,58 % berada pada ketinggian < 7 m di atas permukaan laut, 15,20 % berada
pada ketinggian 8 - 25 m di atas permukaan laut, 22,85 % berada pada ketinggian 26 - 100
m di atas permukaan laut, 33,00 % berada pada ketinggian 101 - 500 m di atas permukaan
laut dan 11,37 % berada pada ketinggian > 500 m di atas permukaan laut. Jika dilihat letak
kemiringannya, luas wilayahnya 58,81 % kemiringannya < 15° , 18,73 % kemiringannya
antara 16° - 40° dan 22,46 % kemiringannya > 40°.

Gambar 2.5 Fisiografi Kulonprogo (Sumber: www.kulonprogo.go.id)


2.4. Tata Guna Lahan
Kondisi penggunaan lahan pada tahun 2003 tidak jauh berbeda dengan kondisi
penggunaan lahan tahun sebelumnya yang secara umum dapat dikelompokkan menjadi :
pemukiman (6,8 %), pesisir pantai (5,01 %), sawah (18,3 %), pekarangan (53,1 %), tegalan
(12,2 %), perkebunan (0,8 %) dan hutan (3,9 %), perikanan (0,2 %), industri (0,2 %), lain-
lain (4,5 %).

2.5. Kondisi Ekonomi


Laju pertumbuhan ekonomi adalah suatu indikator ekonomi makro yang
menggambarkan tingkat pertumbuhan ekonomi atau keberhasilan pembangunan ekonomi
suatu daerah dalam periode waktu tertentu.
Di Kabupaten Kulon Progo tahun 2006 tingkat perekonomiannya masih
mengandalkan sektor Tersier, hal tersebut dilihat berdasar PDRB Kabupaten Kulon Progo
tahun 2006 harga yang berlaku, bahwa sektor Primer yang terdiri dari sektor pertanian,
pertambangan dan penggalian memberikan kontribusi sebesar 25,07 persen, sedangkan
sektor Sekunder yang terdiri dari sektor industri, listrik, air bersih, dan bangunan
memberikan kontribusi sebesar 21,10 persen, sedangkan sektor Tersier yang terdiri dari
sektor perdagangan, hotel restoran angkutan, komunikasi, keuangan, dan jasa-jasa
memberikan kontribusi sebesar 53,83 persen.

Distribusi persentase terbesar pada dari Sektor tersier adalah sektor jasa-jasa
subsektor pemerintahan dan sektor perdagangan hotel restoran yaitu sebesar 37,05 persen,
hal ini karena naiknya nilai PDRB perkapita Kabupaten Kulon Progo tahun 2006. Jumlah
pendapatan pegawai baik negeri, swasta dan umum sudah barang tentu juga seiring dengan
meningkatnya pengeluaran konsumsi masyarakat Kabupaten Kulon Progo yang berdampak
pada sektor Tersier. Untuk itu sektor ini harus mendapat skala mendapat prioritas
penangannya oleh pemerintah daerah karena mampu mendongkrak nilai PDRB Kabupaten
Kulon Progo secara signifikan.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah jumlah nilai tambah bruto (gross
value added) yang diperoleh dari seluruh sektor di suatu pada periode waktu tertentu.
Komponen-komponen nilai tambah bruto terdiri dari upah dan gaji, surplus usaha (bunga,
sewa tanah dan keuntungan), penyusutan dan pajak tidak langsung neto.
PDRB berdasarkan harga yang berlaku menunjukkan keadaan perekonomian pada
tahun berjalan dan PDRB atas dasar harga konstan 2000 merupakan PDRB sebagai tahun
dasar untuk penghitungan PDRB tahun berikutnya berdasarkan harga pada tahun 2000.

PDRB per kapita merupakan kemampuan nilai tambah yang dapat diperoleh dari penduduk
akibat dari adanya aktivitas produksi, sehingga PDRB per kapita dapat dijadikan salah satu
indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran penduduk suatu .

PDRB per kapita diperoleh dengan cara membagi total nilai PDRB atas dasar harga
berlaku dengan jumlah penduduk pertengahan tahun suatu . Pertumbuhan ekonomi
Kabupaten Kulon Progo tahun 2006 sebesar 14,10 persen artinya aktivitas ekonomi pada
tahun 2006 mengalami eskalasi yang meningkat. Nilai Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB) atas dasar harga berlaku Kabupaten Kulon Progo tahun 2006 sebesar Rp. 2.414,96
miliar, dengan nilai PDRB per kapita Rp. 6,455 juta.

Distribusi persentase terbesar PDRB Kabupaten Kulon Progo tahun 2006 masih
didominasi dari sektor pertanian sebesar 23,88 persen, kemudian diikuti oleh sektor jasa-
jasa sebesar 20,81 persen dan sektor perdagangan , hotel dan restoran sebesar 16,24 persen.
BAB III
KRITERIA DESAIN

3.1. Pengertian Banjir


Banjir didefinisikan dengan kenaikan drastis dari aliran sungai, kolam, danau, dan
lainnya dimana kelebihan aliran itu menggenangi keluar dari tubuh air dan menyebabkan
kerusakan dari segi sosial ekonomi dari sebuah populasi (Smith et, al., 1998 dalam Marfai.,
2003).
Banjir adalah suatu kondisi fenomena bencana alam yang memiliki hubungan
dengan jumlah kerusakan dari sisi kehidupan dan material. Banyak faktor yang
menyebabkan terjadinya banjir. Secara umum penyebab terjadinya banjir di berbagai
belahan dunia adalah (Smith et, al., 1998 dalam Marfai., 2003):
1. Keadaan iklim; seperti masa turun hujan yang terlalu lama, dan mengakibatkan
banjir sungai. Banjir di daerah muara pantai umumnya disebabkan karena
kombinasi dari kenaikan pasang surut, tinggi muka air laut dan besarnya ombak
yang di asosiasikan dengan terjadinya gelombang badai yang hebat.
2. Perubahan tata guna lahan dan kenaikan populasi; perubahan tataguna lahan dari
pedesaan menjadi perkotaan sangat berpotensi menyebabkan banjir. Banyak lokasi
yang menjadi subjek dari banjir terutama daerah muara. Perencanaan
penaggulangan banjir merupkan usaha untuk menanggulangi banjir pada lokasi-
lokasi industri, komersial dan pemukiman. Proses urbanisasi, kepadatan bangunan,
kepadatan populasi memiliki efek pada kemampuan kapasitas drainase suatu daerah
dan kemampuan tanah menyerap air, dan akhirnya menyebabkan naiknya volume
limpasan permukaan. Meskipun luas area perkotaan lebih kecil dari 3 % dari
permukaan bumi, tapi sebaliknya efek dari urbanisasi pada proses terjadinya banjir
sangat besar.
3. Land subsidence; adalah proses penurunan level tanah dari elevasi sebelumnya.
Ketika gelombang pasang datang dari laut melebihi aliran permukaan sungai, area
land subsidence akan tergenangi.
3.2. Analisa Hidrologi
Analisis hidrologi adalah kumpulan keterangan atau fakta mengenai fenomena
hidrologi. Fenomena hidrologi sebagai mana telah dijelaskan di bagian sebelumnya adalah
kumpulan keterangan atau fakta mengenai fenomena hidrologi. Fenomena hirologi seperti
besarnya curah hujan, temperatur, penguapan, lama penyinaran matahari, kecepatan angin,
debit sungai, tinggi muka air, akan selalu berubah menurut waktu. Untuk suatu tujuan
tertentu data-data hidrologi dapat dikumpulkan, dihitung, disajikan, dan ditafsirkan dengan
menggunkan prosedur tertentu (Yuliana., 2002).
Analisa curah hujan diperlukan untuk menentukan besarnya intensitas yang
digunakan sebagai prediksi timbulnya aliran permukaan wilayah. Curah hujan yang
digunakan dalam analisis adalah curah hujan harian maksimum dalam satu tahun yang
telah dihitung oleh badan meteorologi.

3.2.1 Penyiapan Data Curah Hujan


Data curah hujan yang akan dianalisis merupakan kumpulan data atau array data
tinggi curah hujan maksimum dalam 30 tahun berturut-turut dinyatakan dalam mm/24 jam,
sampel tersebut dianggap cukup mewakili.
Apabila terdapat data yang kosong atau hilang, maka diperlukan perkiraan bagi
stasiun yang kosong. Perkiraan curah hujan yang kosong dihitung dari pengamatan
minimal tiga stasiun terdekat, dan sebisa mungkin stasiun yang berada mengelilingi stasiun
yang datanya hilang tersebut.
Cara melengkapinya yaitu terdapat dua cara, yaitu :
a) Jika selisih antara hujan tahunan normal antara stasiun pembanding dengan stasiun
yang kehiangan data kurang dari 10% maka harga perkiraan data yang kurang
lengkap dicari dengan harga aritmatika.
1⎛ n ⎞
rx = ⎜ ∑ rn ⎟ (3-1)
n ⎝ n −1 ⎠

b) Jika selisih melebihi 10% digunakan cara perbandingan normal yaitu :


rx 1 ⎛ n rn r ⎞
= ⎜⎜ ∑ − x ⎟⎟ (3-2)
R x n − 1 ⎝ n −1 Rn R x ⎠
Dimana :
rx = Harga tinggi curah hujan yang di cari.
Rx = Harga rata-rata tinggi curah hujan pada stasiun pengukur hujan
yang di cari.
n = Banyaknya stasiun pengukur hujan untuk perhitungan.
rn = Harga tinggi curah hujan pada tahun yang sama dengan rn pada
setiap stasiun pembanding.
Rn = Harga rata-rata tinggi curah hujan yang sama dengan rn pada
setiap stasiun pembanding selama kurun waktu yang sama.
X = Menunjukan stasiun pengukur hujan yang datanya sedang di cari
dan merupakan bilangan dari 1 sampai n.
Perbedaan curah hujan tahunan normal pada stasiun yang kehilangan data, dicari
dengan persamaan :
S
Δ= 100% (3-3)
R

S=
∑ (N i − R) 2
(3-4)
n −1

R=
∑N i
(3-5)
n
Dimana :
Ni = Nilai rata-rata curah hujan selama pengamatan pada suatu stasiun
pengamat.
R = Rata-rata dari n jumlah stasiun pengamat.
n = Jumlah stasiun pengamat hujan.

3.2.2 Tes Konsistensi


Data curah hujan akan memiliki kecendrungan untuk menuju suatu titik tertentu
yang biasa disebut dengan pola atau trend. Data yang menunjukan adanya perubahan pola
atau trend tidak disarankan untuk digunakan. Analisa hidrologi harus mengikuti trend, dan
jika terdapat perubahan harus dilakukan koreksi. Untuk melakukan pengecekan pola atau
trend tersebut dilakukan dengan menggunakan teknik kurva massa ganda yang berdasarkan
prinsip setiap pencatatan data yang berasal dari populasi yang sekandung akan konsisten,
sedangkan yang tidak sekandung akan tidak konsisten, dan akan menimbulkan
penyimpangan arah/trend.
Perubahan pola atau trend bisa disebabkan diantaranya oleh :
3. Perpindahan lokasi stasiun pengukur hujan.
4. Perubahan ekosistem terhadap iklim secara drastis, misal karena kebakaran.
5. Kesalahan ekosistem observasi pada sekumpulan data akibat posisi atau cara
pemasangan alat ukur yang tidak baik.
Prinsip dasar metode kurva massa ganda adalah sebagai berikut; sejumlah stasiun
tertentu dala wilayah iklim yang sama diseleksi sebagai stasiun dasar (pembanding). Rata-
rata aritmetik dari semua stasiun dasar dihitung untuk setiap metode yang sama. Rata-rata
hujan tersebut ditambahkan (diakumulasikan) mulai dari periode awal pengamatan.
Demikian pula halnya dengan data stasiun utama yang akan dicek pola atau trendnya.
Kemudian diplot titik-titik akumulasi rerata stasiun utama dan stasiun dasar sebagai kurva
massa ganda.
Pada kurva massa ganda, titik-titik yang tergambar selalu berdeviasi sekitar garis
rata-rata, dan hampir merupakan garis lurus. Kalau ada penyimpangan yang terlalu jauh
dari garis lurus tersebut maka mulai dari titik ini selanjutnya pengamatan dari stasiun yang
ditinjau akan tidak akurat dengan kata lain data hujan curah hujan telah mengalami
perubahan trend.
Koreksi yang digunakan untuk data yang mengalami perubahan trend tersebut
adalah :
tan α
Hz = (3-6)
tan α ο
Dimana :
Hz = Curah hujan yang diperkirakan.
tan α = Slope sebelum perubahan.
tan αo = Slope setelah perubahan.
Ho = Curah hujan hasil pengamatan.

tan α
fk = = faktorkoreksi (3-7)
tan α ο
3.2.3 Tes Homogenitas
Dalam analisa curah hujan yang harus dilakukan setelah uji konsistensi adalah uji
homogenitas. Ketidak homogenitasan data curah hujan dapat sisebabkan gangguan-
gangguan atmosfir karena pencemaran atau adanya hujan buatan yang sifatnya insidentil.
Tes homogenitas dengan memplot harga (N, Tr) pada grafik tes homogenitas. Suatu
kumpulan data disebut homogen bila titik (N, Tr) berada didalam batas homogenitas pada
grafik tersebut.

N merupakan banyaknya data curah hujan, sedangkan Tr dicari dengan persamaan :


R10
TR = Tr (3-8)
R
Dimana :
R10 = Curah hujan tahunan dengan PUH 10 tahun.
Ř = Curah hujan rata-rata dalam sekumpulan data.
Ťr = PUH untuk curah hujan tahunan rata-rata

3.2.4 Analisa curah hujan harian maksimum


Aplikasi distribusi peluang yang digunakan untuk dianalisis data-data ekstrim curah
hujan maksimum yaitu :
3.2.4.1. Metode Dumbel Modifikasi
Dengan persamaan sebagai berikut :
1
RT = μ + YT (3-9)
α
1
μ=R− YN (3-10)
α
1 σR
= (3-11)
α σN
1/ 2
⎡ n 2 ⎤
⎢ ∑ (R1 − R ) ⎥
TR = ⎢ n −1 ⎥ (3-12)
⎢ n −1 ⎥
⎢⎣ ⎥⎦
⎢⎣=
T
n1−
nR

⎛ Tr ⎞
YT = − ln⎜ ln ⎟ (3-13)
⎝ Tr − 1 ⎠
Dengan mengadopsi persamaan (3-10) dan (3-11) ke persamaan (3-9) diatas maka
diperoleh persamaan Gumbel:
YT − YN
RT = R + σR (3-14)
σN

atau dengan mensubsitusikan persamaan (3-13) ke persaman ( 3-14 ), di peroleh :


⎡ ⎛ Tr ⎞ ⎤
⎢ ln⎜ Tr − 1 ⎟ + YN ⎥
RT = R + ⎢ ⎝ ⎠ ⎥σ R (3-15)
⎢ σN ⎥
⎢ ⎥
⎣ ⎦
Dimana :
Ř = curah hujan rata-rata
Yn = reduced mean
YT = reduced variate
σN = reduced standar deviasi
σR = standar deviasi data hujan
Tr = periode ulang hujan

Persamaan (3-15) ini kemudian dimodifkasi, menurut Lattenmair dan Burges,


perhitungan hidrologi yang lebih tepat didapat dengan menggunakan harga limit standar
deviasi dan limit rata-rata (harga bila n = ~). Harga limit YN sama dengan konstanta euler
(YN = 0.5772) sedangkan limit σ = η / (6)0.5 = 1.2825
Maka
1 σR
= (3-16)
α 1.2825

μ = R – 0.45 σR (3-17)

Dengan mensubsitusikan persamaan (3-16) dan (3-17) ini ke persamaan


(3-18), didapat persamaan :
RT = R+ (0.78 YT - .45) σR (3-18)
selanjutnya persamaan ( 3-14) disubsitusikan ke persamaan (3-18), di perloleh persamaan :
⎡ ⎛ Tr ⎞ ⎤
RT = R − ⎢0.78 ln⎜ ln ⎟ + 0.45⎥σ R (3-19)
⎣ ⎝ Tr − 1 ⎠ ⎦

setalah hujan harian maksimum diperkirakan dari perhitungan dengan persamaan-


persamaan diatas, maka perlu dicari rentang keyakinanannya (convidence interval) yang
dirumuskan sebagai berikut
RK = ± t (a) Se (3-20)
Dimana :
RK = Rentang keyakinan
T (a) = Fungsi a
Se = Deviasi (probably error)
jika ; a = 90 %, t (a) = 1640
a = 80 %, t (a) = 1282
a = 68%, t (a) = 1000

Se dihitung dengan persamaan:


bσ R
Se = (3-21)
N
b = (1+1.3K+(1.K2 )) 0.5 (3-22)
K = (0.78 YT – 0.45) (3-23)
Dimana:
N = Jumlah data
σR = Standar deviasi

3.2.4.2. Metode Log Person Type III


Metode ini berdasarkan pada perubahan data yang ada ke dalam bentuk logaritma.
Parameter statik yang diperlukan untuk distribusi Log Pearson III adalah :
a) Rata rata (r)
b) Standar deviasi log (σR)
c) Koefisien skew log (g)
persamaan-persamaan yang digunakan adalah :

r=
∑r i
(3-24)
N

∑ (r − r )
2

σR = i
(3-25)
N −1
N ∑ (ri − r )
3

g= (3-26)
( N − 1)( N − 2)(σ R ) 3

Dimana :
r1 = Logaritma hujan harian maksimum (mm/24 jam)
ŕ = Rata-rata r1
N = Banyaknya data
σR = Standar deviasi r1
g = Koefisisen srew r1

Besarnya curah hujan harian maksimum dihitung dengan persamaan :


log RT = ŕ + K σR (3-27)
dimana :
RT = curah hujan harian maksimum dalam PUH TR (mm/24 jam)
K = Skew Curve Faktor, dihitung dengan menggunakan Tabel III.1
berdasarkan koefisien skew (g) dan periode ulang (T)
Tabel III.1 Skew Curve Factor (K) digunakan dalam distribusi peluang Log Pearson
Type III
Koefisien Periode ulang hujan (tahun)
Skew 2 5 10 25 50 100
Probabilitas
(g) 0.5 0.2 0.1 0.04 0.02 0.01
2.0 -0.307 0.069 1.302 2.219 2.912 3.605
1.8 -0.282 0.643 1.318 2.193 2.848 3.499
1.6 -0.254 0.675 1.329 2.163 2.780 3.388
1.4 -0.225 0.705 1.337 2.128 2.700 3.271
1.2 -0.195 0.732 1.340 2.087 2.626 3.149
1.0 -0.164 0.758 1.340 2.043 2.542 3.022
0.9 -0.148 0.769 1.339 2.018 2.498 2.957
0.8 -0.132 0.780 1.336 1.998 2.453 2.891
0.7 -0.116 0.790 1.333 1.967 2.407 2.824
0.6 -0.099 0.800 1.328 1.939 2.359 2.755
0.5 -0.083 0.806 1.323 1.910 2.311 2.686
0.4 -0.066 0.816 1.317 1.880 2.261 2.615
0.3 -0.050 0.824 1.309 1.849 2.211 2.544
0.2 -0.033 0.830 1.301 1.818 2.159 2.472
0.1 -0.017 0.836 1.292 1.785 2.107 2.400
0.0 0.000 0.842 1.282 1.751 2.054 2.326
-0.1 0.017 0.846 1.270 1.716 2.000 2.252
-0.2 0.033 0.850 1.258 1.680 1.945 2.178
-0.3 0.050 0.853 1.245 1.643 1.890 2.104
-0.4 0.066 0.855 1.231 1.606 1.843 2.029
-0.5 0.083 0.856 1.216 1.567 1.777 1.955
-0.6 0.099 0.857 1.200 1.528 1.720 1.880
-0.7 0.116 0.857 1.183 1.488 1.663 1.806
-0.8 0.132 0.856 1.166 1.448 1.606 1.733
-0.9 0.143 0.854 1.147 1.407 1.594 1.660
-1.0 0.164 0.852 1.128 1.366 1.492 1.588
-1.2 0.195 0.844 1.086 1.282 1.379 1.449
-1.6 0.254 0.817 0.994 1.116 1.116 1.197
-1.8 0.232 0.799 0.945 1.035 1.069 1.087
-2.0 0.307 0.777 0.895 0.959 0.980 0.990
Sumber : Soemarto, Hidrologi Teknik, 1987.

3.2.4.3. Metode Iway Kadoya.


Prinsip dasar dari metode iway kadoya adalah merupakan variabel X dari kurva
kemungkinan kerapatan dari curah hujan maksimum ke log X. Langkah perhitungan yang
dilakukan pertama kali adalah menentukan harga Xo :
1
log Xo =
n
∑ log Xi (3-28)
Memperkirakan harga b ;
1
b=
m
∑ bi (3-29)

n
m= (3-30)
10

bi =
( Xs. Xt ) − Xo 2
(3-31)
2 Xo − ( Xs + Xt )

Memperkirakan harga Xo ;
1
xo =
n
∑ log( Xi + b) (3-32)

Memperkirakan harga c
1
1 ⎡⎛ 2n ⎞ 2 2 ⎤
( )
2
= ⎢⎜ ⎟ x − xo ⎥ (3-33)
c ⎣⎝ n − 1 ⎠ ⎦

Dimana :
Xs = harga dengan no. Pengamatan m dari yang terbesar
Xt = harga dengan no. Pengamatan m dari yang terkecil
N = banyaknya data tabel III.2 variabel normal ξ yang sesuai pada W
(x) utama.
Tabel III.2 Variabel ξ (Kemungknan Terlampaui) yang sesuai pada W (x) utama

T W(x) = 1/T ξ T W(x) = 1/T ξ


500 0.00200 2.0352 30 0.03333 1.2971
400 0.00250 1.9840 25 0.04000 1.2379
300 0.00333 1.9227 20 0.05000 1.1631
250 0.00400 1.8753 15 0.06667 1.0614
200 0.00500 1.8214 10 0.10000 0.9062
150 0.00667 1.7499 8 0.12500 0.8134
100 0.01000 1.6450 5 0.20000 0.5951
80 0.01250 1.5851 4 0.25000 0.4769
60 0.01667 1.5049 3 0.33333 0.3045
50 0.02000 1.4522 2 0.50000
40 0.02500 1.3859
Sumber: Suryono S, Ir.Hidrologi Untuk Pengairan

3.2.5 Menentukan Metode Terpilih Dengan Chi Kuadrat


Perhitungan menggunakan Chi kuadrat dilakukan guna menentukan curah hujan
maksimum yang paling sesuai untuk digunakan. Untuk penentuan metode yang digunakan
dilakaukan uji kecocokan dengan metode chi kuadrat (chi square). Selanjutnya hasil uji
kecocokan ini di bandingkan diantara tiga metode yang digunakan sebagai bahan analisa
penentuan curah hujan harian maksimum.
Uji chi kuadrat dimaksudkan untuk menentukan apakah metode yang digunakn
dapat mewakili distribusi statik sampel data yang dianalisa. Pengambilan keputusan ini
menggunakan parameter X2 karena itu disebut uji chi kuadrat. Nilai dari parameter X2 itu
dihitung dengan menggunakan persamaan :
G
(Oi − Ei ) 2
X h2 = ∑ (3-34)
i =1 Ei
Dimana :
Xh2 = Parameter Chi kuadrat terhitung
G = Jumlah sub kelompok.
Oi = Jumlah nilai pengamatan pada sub kelompok ke 1.
Ei = Jumlah nilai teoritis pada sub kelomok ke 1.

Persamaan yang digunakan untuk menentukan besarnya peluang suatu data curah
hujan (X) adalah persamaan Weibull, sebagai berikut :
m
P= (3-35)
N +1
N +1
T= (3-36)
m
Dimana :
P= Peluang terjadinya kumpulan nilai yang diharapkan selama periode
pengamatan.
N= Jumlah pengamatan dari variasi X
m= Nomer urut kejadian
T= Periode ulang dari kejadian sesuai dengan sifat kumpulan nilai
yang diharapkan.

Data curah hujan yang telah dihitung besarnya peluang atau periode ulangnya,
selanjutnya apabila digambarkan pada kertas grafik peluang atau periode ulangnya,
umumnya akan membentuk persamaan garis lurus. Persamaan yang digunakan adalah :
X = Xr + k. SD (3-37)
Dimana :
X = Perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan peluang tertentu
atau perode ulang tertentu.
Xr = Nilai rata-rata hitung variate
SD = Deviasi standar nilai variate
k = Faktor frekuensi.

3.2.6 Analisa Intensitas Hujan


Intensitas curah hujan menyatakan besarnya curah hujan dalam jangka pendek yang
memberikan gambaran deras hujan perjam.
Untuk mengolah data curah hujan menjadi intensitas curah hujan digunakan cara
statistik dari data pengamatan durasi hujan yang terjadi. Dan apabila tidak dijumpai data
untuk setiap durasi hujan, maka diperlukan pendekatan secara empiris dengan berpedoman
kepada durasi 60 menit dan pada curah hujan harian maksimum yang terjadi setiap tahun.
Cara lain yang digunakan adalah dengan mengambil pola intensitas hujan untuk kota lain
yang memiliki kondisi hampir sama. Untuk merubah curah hujan menjadi intensitas hujan
dapat digunakan metode diantaranya:
3.2.6.1. Metode Van Breen
Penurunan rumus yang dilakukan oleh Van Breen didasarkan atas anggapan bahwa
lamanya durasi hujan yang ada di P. Jawa terkonsentrasi selama 4 jam, dengan hujan
efektif sebesar 90 % hujan total selam 24 jam. Persamaan tersebut adalah :
90%.R 24
I= (3-38)
4
Dimana :
I = Intensitas hujan (mm/jam)
R24 = Curah hujan harian maksimum (mm/24 jam)

Dengan persamaan di atas dapat dibuat suatu kurva intensitas durasi hujan dimana
Van Breen mengambil kota Jakarta sebagai kurva basis bentuk kurva IDF. Kurva ini dapat
memberikan kecendrungan bentuk kurva untuk daerah-daerah lain di Indonesia pada
umunya. Berdasarkan pada kurva pola Van Breen kota Jakarta, besarnya intensitas hujan
dapat didekati dengan persamaan ;
2
54 RT + 0.007 RT
IT = (3-39)
tc + 0.31RT
Dimana :
IT = Intensitas hujan (mm/jam) pada PUH T pada waktu konsentrasi tc
tc = Waktu konsentrasi (menit)
RT = Curah hujan harian maksimum PUH T (mm/24 jam)

3.2.6.2. Metode Bell Tanimoto


Analisis intensitas hujan menurut Bell didasarkan atas hubungan antara durasi
hujan dengan periode ulang 2 – 100 tahun. Hubungan ini dinyatakan dengan:
( )
RTt = (0.21ln T + 0.52 ) 0.54t 0.25 − 0.50 RTt (3-40)
X 10 ⎛ R1 + R 2 ⎞
R100 = ⎜ ⎟ (3-41)
Xt ⎝ 2 ⎠
Dimana :
R = Curah hujan
T = Periode ulang (tahun)
t = Durasi hujan (menit)
R1 = Besarnya curah hujan pada distribusi jam ke 1 menurut Tanimoto
R2 = Besarnya curah hujan pada distribusi jam ke 2 menurut Tanimoto

Intensitas hujan (mm/jam) menurut Bell dihitung dengan menggunakan persamaan


60 t
I Tt = RT (3-42)
t

3.2.6.3. Metode Hasperder – Der Weduwen


Metode ini merupakan hasil penyelidikan di Indonesia yang dilakukan oleh Hasper
dan Der Weduwen. Penurunan rumus diperoleh berdasarkan curah hujan harian yang
dikelompokkan atas dasar anggapan bahwa hujan mempunyai distribusi yang simetris
dengan durasi hujan (1) telah kecil dari 1 jam dan durasi hujan dari 1 jam sampai 24
jam.
Persamaan yang digunakan adalah :
11300.t ⎡ X 1 ⎤
1<t≤24, maka R = (3-43)
t + 3.12 ⎢⎣100 ⎥⎦

11300 ⎡ R1 ⎤
0<t≤1, maka R = (3-44)
t + 3.12 ⎢⎣100 ⎥⎦
1218.t + 54
dan, Rt = Xi (3-45)
Xt (1 − t ) + 1272.t

Dimana :
t = Durasi hujan (menit)
R,R1 = Curah hujan menurut Hasper – Weduwen
Xt = Curah hujan harian maksimum yang terpilih (mm/24 jam)

Untuk menentukan intensitas hujan menurut hasper – weduwen digunakan rumus


sebagai berikut :
R
I= (3-46)
t
Dimana :
I = Intensitas hujan
R = Curah hujan
3.2.7 Penentuan Metode Perhitungan Intensitas Hujan
Pemilihan ini daimaksudkan untuk menentukan persamaan intensitas yang paling
mendekati untuk daerah perencanaan. Metode yang digunakan adalah metode perhitungan
dengan cara kuadrat terkecil.
Cara perhitungannya adalah sebagai berikut :
3. Menentukan minimal 8 jenis lamanya curah hujan t (menit), (misal 5, 10, 20,
40, 60, 80, 120, 240)
4. Menggunakan harga-harga t tersebut untuk menentukan besarnya intensitas
hujan untuk peride ulang hujan tertentu (disesuaikan dengan perhitungan
puncak rencana)
5. Menggunakan harga-harga t yang sama untuk menentukan tetapan-tetapan
dengan cara kuadrat terkecil. Perhitungan tetapan-tetapan untuk setiap rumus
intensitas curah hujan adalah sebagai berikut :

Talbot
a
I= (3-47)
t +b
(∑ I .t ).(∑ I ) − (∑ I t ).(∑ I )
2 2
(3-48)
a=
n(∑ I ) − (∑ I )
2 2

(∑ I )(∑ I .t ) − n(I .t )2

b= (3-49)
n(∑ I ) − (∑ I )
2 2

Sherman
a
I= (3-50)
tn
(log .I ).[(Log .t ) ] − (log .t. log I )(log .t )
2
log a =
n[(log .t ) ] − (log t )
2 2
(3-51)

n=
(log .I ).[(Log.t )2 ] − 8(log .t. log I )
n[(log .t ) ] − (log t )
2 2
(3-52)

Ishiguro
a
I= (3-53)
t +b
0.5
a=
(I .t )(I ) − (I .t )(I )
0.5 2 2 0.5
(3-54)
n(I ) − (I )
2 2

b=
(I )(I .t ) − n(I .t )
0.5 2 0.5
(3-55)
n(I ) − (I )
2 2

Dimana :
( ) = Jumlah angka-angka dalam tiap suku
N = Banyaknya data

3.3 Sistem Informasi Geografi Untuk Identifikasi Lokasi Banjir


3.3.1. Sistem Informasi Geografi
Sistem Informasi Geografi (SIG) atau biasa disebut Geographical Information
System (GIS) merupakan komputer yang berbasis pada sistem informasi yang digunakan
untuk memberikan bentuk digital dan analisa terhadap permukaan geografi bumi. Defenisi
GIS selalu berubah karena GIS merupakan bidang kajian ilmu dan teknologi yang relatif
masih baru. Beberapa defenisi dari GIS adalah:
1. Definisi GIS (Rhind, 1988 dalam Husein., 2006):
GIS is a computer system for collecting, checking, integrating and
analyzing information related to the surface of the earth.
2. Definisi GIS yang dianggap lebih memadai (Marble & Peuquet., 1983) and
(Parker, 1988; Ozemoy et al., 1981; Burrough, 1986):
GIS deals with space-time data and often but not necessarily, employs computer
hardware and software.
3. Definisi GIS (Purwadhi., 1994)
a) SIG merupakan suatu sistem yang mengorganisir perangkat keras (hardware),
perangkat lunak (software), dan data, serta dapat mendayagunakan sistem
penyimpanan, pengolahan, maupun analisis data secara simultan, sehingga
dapat diperoleh informasi yang berkaitan dengan aspek keruangan.
b) SIG merupakan manajemen data spasial dan non-spasial yang berbasis
komputer dengan tiga karakteristik dasar, yaitu: (i) mempunyai fenomena
aktual (variabel data non-lokasi) yang berhubungan dengan topik
permasalahan di lokasi bersangkutan; (ii) merupakan suatu kejadian di suatu
lokasi; dan (iii) mempunyai dimensi waktu.
Dari definisi-definisi diatas, Sistem Informasi Geografi dapat disimpulkan
merupakan konfigurasi dari hardware dan software digunakan untuk compiling, storing,
managing, manipulasi, analisis, dan pemetaan (sebagai tampilan) informasi keruangan. Ini
mengkombinasikan fungsional dari program komputer grafis, peta elektronik, dan basis
data (Haestad & Durrant., 2003).
Dua keistimewaan analisa data berdasarkan SIG (Husein., 2006) yaitu :
a) Analisa Proximity
Analisa Proximity merupakan suatu geografi yang berbasis pada jarak antar layer.
Dalam analisis proximity GIS menggunakan proses yang disebut dengan buffering
(membangun lapisan pendukung sekitar layer dalam jarak tertentu untuk
menentukan dekatnya hubungan antara sifat bagian yang ada.
b) Analisa Overlay
Proses integrasi data dari lapisan-lapisan layer yang berbeda disebut dengan
overlay. Secara analisa membutuhkan lebih dari satu layer yang akan ditumpang
susun secara fisik agar bisa dianalisa secara visual.

3.3.1. Input Data Geometrik


Sistem Informasi Geografi menggunakan perangkat untuk mendigitasi atau
menggambarkan peta, menghasilkan data serta menganalisanya. Digitizing tools dapat
mengkonversi peta hard copy kedalam format soft copy atau elektronik. Format peta ini
juga dapat dikonversi ke dalam program teknik, seperti CAD atau program teknik lainnya.
Input Data Geometrik berupa :
• Fitur yaitu points (titik), lines (garis), poligon dan teks.
• Atribut
• Imagery
• Surfaces

3.3.1.1 Fitur
Fitur geografi di representasikan pendekatan serupa dari rupa bumi. Fitur geografi
berupa natural seperti vegetasi, sungai tanah dan sebagainya, berupa konstruksi atau buatan
manusia seperti bangunan, jembatan, pipa dan sebagainya, dan bagian lainnya dari objek
rupa bumi seperti batas negara, politik, dan sebagainya. Objek-objek tersebut
direpresentasikan sebagai titik (points), garis (lines) dan luasan area (polygons)
Points
Didefinisikan untuk objek-objek yang terlalu kecil dan tidak dapat direpresentasikan oleh
garis dan poligon. Points memiliki satu titik koordinat (X,Y,Z) saja. Contoh seperti lokasi
sumur, stasiun hujan, point juga merepresentasikan titik koordinat dari GPS, atau titik
ketinggian, dan sebagainya.

Gambar 3.1 Fitur berupa titik (points).,(Sumber : ArcGIS User's Guide, 2002)

Lines
Merepresentasikan objek geografi yang berupa garis yang memiliki dua koordinat (X,Y,Z)
yang dihubungkan. Contoh objek yang berupa garis (lines) adalah jalan raya, sungai,
jaringan drainse dan sebagainya

Gambar 3.2. Fitur berupa garis (lines)., (Sumber : ArcGIS User's Guide, 2002)

Poligon
Adalah area tertutup yang berupa lokasi homogen seperti administrasi, jenis tanah, jenis
penggunaan lahan, dan sebagainya.

Gambar 3.3 Fitur berupa Area (polygons)., (Sumber : ArcGIS User's Guide, 2002).
3.3.1.2. Attribut
Berupa informasi yang terkait dengan fitur, dan dihubungkan dengan simbol warna dan
label. Didalam Sistem Informasi Geografi atribut diatur didalam tabel yang terkait dengan
konsep database.

Gambar 3.4 Attribut berupa baris dan kolom

Deskripsi dari data diorganisir ke dalam tabel, tabel memiliki baris, dan semua baris pada
tabel memiliki kolom. Kolom memiliki tipe unik seperti integer, batas desimal, karakter
dan lain-lain.

3.3.1.3. Imagery
Terdiri dari struktur data raster yang terdiri dari baris dan kolom. Nilai yang di hitung
adalah nilai pixel, dimana objek akan memberikan sinyal ke sensor, kemudian
diterjemahkan dalam nilai pixel.

Gambar 3.5 Konsep imagery berupa nilai piksel


(Sumber : ArcGIS User's Guide, 2002).
Imagery juga umum digunakan untuk menetukan objek yang terlihat dan tidak terlihat
dengan menggabungkan (composite) saluran (bands) dimana tiap saluran memiliki sensor
dengan panjang gelombang yang berbeda. Ini memungkinkan untuk penelitian terapan
untuk ilmu kebumian seperti hydrologi, geologi, dan sebagainya.

Gambar 3.6. Contoh jenis-jenis imagery., (Sumber : ArcGIS User's Guide, 2002).

3.3.1.4. Surface
Surface erat kaitannya dengan data model medan, yang terdiri dari beberapa
macam, diantaranya:

Garis Kontur
Garis imajiner yang menghubungkan titik-titik ketinggian di rupa bumi yan memiliki nilai
sama.

Gambar 3.7. Garis Kontur., (Sumber : ArcGIS User's Guide, 2002).


Raster Dataset
Seperti konsep imagery namun, lebih menekan kan nilai pixel dengan ketinggian medan.
Contohnya untuk pembuatan DEM (Digital Elevation Model) untuk merepresentasikan
bentuk rupa bumi.

Gambar 3.8. Digital Elevation Model (DEM), (Sumber : ArcGIS User's Guide, 2002).

TIN Layer
Model TIN (Triangulated Irregular Network) yaitu data struktur yang terdiri dari titik
seperti elevasi muka bumi yang dihubungkan oleh jaringan segitiga. Sama halnya denga
DEM tapi TIN merupakan model dengan pendekatan interpolasi dari beberapa titik yang
memiliki nilai ketinggian.

Gambar 3.7. Triangulated Irregular Network , (Sumber : ArcGIS User's Guide, 2002).

Kemampuan dalam menerjemahkan fenomena spasial dan analisis data


menggunakan Sistem Informasi Geografi membantu juga dalam mengevaluasi model
responsibility seperti aliran permukaan, terhadap saluran drainase.
3.3.2 Perkiraan Inflow Banjir
Limpasan permukaan menggabungakan tiga parameter yaitu curah hujan, luas
daerah tangkapan, dan koefisien aliran (DPU, 2007). Persamaan umum yang digunakan
untuk memperkirakan limpasan permukaan adalah :
Vj = (0.1) Cj . Rj . A (3-56)
V = ∑ VJ (3-57)
Dimana :
Vj : Aliran bulanan dari seluruh DAS pada bulan j (M3/bulan)
Rj : Hujan bulanan pada bulan j (mm/bulan)
Cj : Koefisien pengaliran pada bulan j
A : Luas daerah efektif tadah hujan (Ha)
V : Aliran Permukaan (M3)
Sistem Informasi Geografi dan analisa hidrologi terintegrasi untuk mengidentifikasi
area banjir dimana Digital Elevation Model akan membentuk zonasi banjir ketika
mendapatkan input berupa limpasan permukaan yang berupa volume kemudian menjadi
area dengan membandingkan kepada penampang melintang menggunakan metode
perhitungan volume cut/fill.

Gambar 3.8. Analisa Volume dengan menggunakan metode cut and fill.
(Sumber : ArcGIS User's Guide, 2002).

Engineer dapat lebih menganalisa dalam hal perencanaan karena GIS membantu
memodelkan bentuk permukan bumi, engineer dapat melakukan pemilahan area untuk
perencanaan yang dibuat. Analisis data curah hujan mudah sekali digunakan ketika
dianalogikan dengan data ketinggian rupa bumi, dimana bisa dilakukan pendekatan logis
untuk menentukan curah hujan pada titik daerah tertentu. Gambaran kondisi real dari rupa
bumi diharapkan mempermudah dalam melakukan pertimbangan-pertimbangan dalam
perencanaan.
3.4. Perencanaan Drainase
Perencanaan sistem drainase suatu daerah, terlebih dahulu harus ditentukan dasar-
dasar atau kriteria-kriteria perencanaan. Hal ini berguna sebagai bahan pemikiran bagi
penetapan alternatif saluran dan perencanaan drainase modern.
Dasar-dasar perencanaan yang diterapkan merupakan rumus-rumus dan ketentuan-
ketentuan yang umunya dipakai dalam merencanakan sistem penyaluran air hujan.
Pemakaian rumus-rumus serta ketentuan-ketentuan tersebut disesuaikan dengan kondisi
lokal, berupa kondisi topografi, geologi, klimatologi, dan tata guna lahan.
Dengan mempertibangkan faktor-faktor pembatas di atas, dikembangkan beberapa
alternatif sistem yang meliputi segi teknis dan ekonomis. Alternatif terpilih merupakan
hasil paling optimum dari berbagai kriteria yang di tetapkan, engan sedikit mungkin
menghindari akibat sosial yang timbul.
Hasil yang diharapkan dari alternatif terpilih adalah tercapainya perencanaan
sisitem drainase yang berasaskan sistem drainase modern, yaitu sistem drainase yang
berwawasan lingkungan, sehingga selain masyarakat terhindar dari bahaya banjir, ataupun
genangan air yang merugikan masyarakat, juga turut serta dalam konservasi sumber daya
air.

3.4.1 Drainase
Pengertian sistem drainase dapat ditentukan berdasarkan lingkup atau batasan dari
sistem drainase itu sendiri, beberapa istilah dalam sistem drainase itu sendiri anatara lain:
2 Drainase permukaan adalah sistem drainase yang menangani semua masalah
kelebihan air diatas atau pada permukaan air tanah, terutama lintasan air
hujan.
3 Drainase bawah permukaan, adalah sistem drainase yang menangani
permasalahan kelebihan air dibawah permukaan tanah atau dibawah lapisan
tanah, misalnya menurunkan permukaan air tanah yang tinggi agar daerah
tersebut terbebas dari kelembaban yang tinggi.
4 Drainase perkotaan adalah drainase yang menangani permasalahan kelebihan
air di wilayah perkotaaan yang meliputi drainase permukaan dan drainase
bawah permukaan.
Dalam cara penyalurannya, drainase dibagi menjadi tiga sistem perbandingannya,
dapat dilihat pada tabel I berikut ini :
Tabel III.3 Cara Penyaluran Air Hujan
Terpisah Tecampur Intercepting Sewer
Pengaliran Air hujan dan air Air hujan dan air Jika debit air hujan
limbah terpisah limnah tercampur besar, tercampur.
Jika debit airhujan
kecil terpisah
Fluktuasi Debit Besar Kecil Besar dan Kecil
Keuntungan - Ekonomis dalam - Konsentrasi Bisa digunakan untuk
pemilihan dimensi pencemar meurun debit yang besar
saluran, karena karena maupun yang kecil.
hanya menampung pengenceran
debit air hujan saja dengan air hujan
- air hujan tidak - biaya
membebani BPAB konstruksinya
lebih murah
karena debit
disatukan.

Kerugian Perlu lahan Debit yang diolah Perlu lahan


tersendiri. dalam BPAB tersendiri.
besar.
Sumber : Moduto, Drainase Perkotaan, Volume I, 1998.

3.4.2. Maksud dan Kegunaan Drainase


Maksud dan perencanaan drainase perkotaan adalah untuk mencari alternatif kiat
pengendalian akumulasi limpasan air hujan yang berlebihan dan penyaluran air limbah di
DPDK (untuk sistem drainase tercampur agar dalam pembangunan nanti dapat terpadu
dengan pembangunan sektor lain yang terkait). Dengan adanya prencanaan sistem drainase
ini, maka sebelumnya dapat disiapkan cadangan lahan yang cukup, sesuai dengan penataan
lingkungan perkotaan.
Dari uraian maka kegunaan drainase adalah :
a) Mengeringkan daerah becek atau genangan air.
b) Mengendalikan akumulasi limpasan air hujan yang berlebihan dan memanfaatkan
sebesar-besarnya untuk imbuhan air tanah.
c) Mengendalikan erosi.
d) Pengelolaan kualitas air.

3.4.3 .Dasar-Dasar Perancanaan Dan Kriteria Desain


Dasar-dasar yang digunakan untuk merencanakan sistem drainase adalah rumus-
rumus, asumsi-asumsi, dan ketentuan-ketentuan yang umum dipakai pada perencanaan
sistem ini. Adapun pemakaiannya dibatasi oleh kondisi daerah perencanaan, seperti waktu
perencanaan, tatagunalahan, topografi, dan lain-lain.

Periode Ulang Hujan Desain


Periode ulang hujan adalah interval waktu rata-rata dari variabel hidrologi tertentu
yang akan disamai atau dilampaui satu kali. PUH desain sistem saluran dan bangunan
mengacu pada tabel II.4, kecuali untuk keadaan khusus dengan persamaannya
Dimana : T = PUH T (tahun)
N = Umur bangunan efektif
µ = Faktor resiko, biasanya diambil 1/3

Tabel III.4 Periode Ulang Hujan Desain


Tataguna lahan kegunaan Periode ulang T (tahun)
1. Saluran awal pada daerah
- lahan, rumah, taman, kebun, kuburan, lahan tak 2
terbangun.
- perdagangan perkantoran dan industri 5
2. Saluran Minor
- DPS ≤ 5 ha (saluran tersier)
- Resiko kecil 2
- Resiko besar 5
- DPS 5-25 ha (saluran sekunder)
- Tanpa resiko (kecil sekali) 2
- Resiko kecil 5
- Resiko besar 10
- DPS 25 – 50 ha (saluran primer)
- Tanpa resiko 5
- Resiko kecil 10
- Resiko besar 25
3. Saluran Mayor
- DPS 50 – 100 ha
- Tanpa resiko 5
- Resiko sedang 10
- Resiko besar 25
- DPS > 100
- Tanpa Resiko 10
- Resiko Kecil 25
- Resiko besar 50
- pengendalian banjir mayor /kiriman 100
4. Gorong-gorong
- Jalan biasa 5 – 10
- Jalan baypass 10 – 25
- Jalan bebas hambatan 25 – 50
5. Saluran tepian jalan
- Jalan lingkungan 2–5
- Jalan kota 5 – 10
- Jalan baypass 10 – 25
- Jalan bebas hambatan 25 - 50
Sumber Moduto, drainase perkotaan, volume I, 1998.

3.4.4 Kriteria Hidrolis


3.4.4.1 Perkiraan Debit Limpasan Air Hujan
Dalam memperhitungkan debit banjir dengan luas daerah yang fleksibel (luas dan
sempit) dapat menggunakan metode rumus rasional (Sosdarsono, 1987), yaitu :

Q = (1/3,6) F.r.A (3-58)


Dimana :
Q = Debit banjir maksimum
F = koefisien limpasan
r = Intensitas hujan rata-rata selama waktu tiba banjir (mm/jam)
A= Daerah pengaliran

Modifikasi rumus tersebut menjadi :


Q = (1/360). Cs. C. I A (3-59)
Q = (1/360) . Cs. (∑Ci . Ai) (3-60)

Dimana :
Q = Debit puncak limpasan banjir (m3/detik)
Cs = Koefisien penampungan (storage)
C = Koefisien pengaliran
A = Luas daerah pengaliran (Ha)
I = Intensitas Hujan (mm/jam)

3.4.4.2 Koefisien Storasi


Storasi saluran ditandai dengan adanya kenaikan kedalaman air dalam saluran.
Debit aktual yang akan ditumpahkan di akhir saluran adalah debit total dikurangi dengan
massa air yang masih berada didalam saluran.
Untuk tc>te dipakai persamaan :
2 tc
Cs = (3-61)
2 tc + td
Untuk tc<te dipakai persamaan :
2 te
Cs = (3-62)
2 te + td

3.4.4.3 Waktu Konsentrasi (tc)


Waktu konsentrasi ialah waktu yang diperlukan air hujan untuk mengalir dari titik
terjauh dalam DPS menuju suatu titik atau profil melintang saluran tertentu yang ditinjau.
Dalam drainase perkotaan pada umumnya, tc terdiri dari penjumlahan 2 komponen, yaitu
to dan td.
Persamaan untuk menentukan waktu konsentrasi adalah:
tc = to + td (3-63)

Perhitungan waktu konsentrasi (tc) untuk pertemuan 2 saluran atau lebih dapat
menggunakan persamaan Sneider sbb:

tc =
∑ tc i .C i . Ae . L i
(3-64)
C i . Ae . L i

Dimana:
tc = Waktu konsentrasi untuk pertemuan saluran (menit)
tci = Waktu konsentrasi untuk masing-masing saluran (menit)
Ci = Angka pengaliran
Ae = Luas limpasan masing-masing saluran (Ha)
Li = Panjang masing-masing saluran (m)
Harga panjang saluran hasil pertemuan dapat digunakan dengan persamaan:

Le =
∑ L tc i i .C i . Ae .q i
(3-65)
tc i .C i . Ae .q i

Dimana:
Le = Panjang ekivalen (m)
Li = Panjang masing-masing saluran (m)
Tci = Waktu konsentrasi masing-masing saluran
Ci = Angka pengaliran
Ae = Luas limpasan masing-masing saluran (Ha)

Waktu Kesetimbangan (time to equilibrium,tc), menunjukan bahwa air hujan yang


merayap diatas permukaan tanah dan mengalir pada saluran telah tergabung secara
bersamaan, dapat dikatakan sebagai waktu durasi hujan:
te = R1,92/1.11R (3-66)
Dimana:
te = Waktu durasi hujan
R = Tinggi hujan harian maksimum
3.4.4.4 Waktu Rayapan
Waktu yang diperlukan untuk titik air yang terjauh dalam DPS mengalir pada
permukaan tanah menuju alur saluran permulaan yang terdekat (waktu rayapan).
Persamaan waktu rayapan terbagi menjadi:
Untuk daerah dengan tali air sepanjang ≤ 300m
6 . 33 ( nLo ) 0 .6
to = (3-67)
( Cole ) 0 .4 ( So ) 0 .3

Dimana:
to = Waktu merayap di permukaan tanah (menit)
n = Angka kekasaran manning
Lo = Panjang rayapan
Co = Koefisien limpasan permukaan tempat air merayap
Ie = Intensitas hujan (mm/jam), dimana tc=te
So = Kemiringan tanah rayapan (m/m)

Untuk daerah pengaliran air permukaan dengan panjang rayapan (tali air) ≥ 300m (misal di
genting, jalan raya, lapangan terbang, lapangan tenis)
108 .n . Lo 1 / 3
to = (3-68)
S 1/ 5
Dimana :
S = kemiringan rata-rata medan limpasan (%)

Tabel III.5 Nilai Kekasaran Permukaan


NO Jenis Permukaan Tanah N
1 Permukaan diperkeras 0,015
2 Permukaan tanah terbuka 0,0275
3 Permukaan berumput sedikit 0,035
4 Permukaan berumput rata-rata 0,045
5 Permukaan berumput tebal 0,066
6 Permukaan siaran semen atau beton 0,014
Sumber : Road Design Manual for Rural and Urban Roads Other Than Freeways,National
Association of Australian State Road Authorities, Reprint 1977.
Waktu mengalur tanah dapat juga didekati dengan menggunakan grafik desain to seperti
gambar 2.1 dengan memasukan harga:
Lo = Panjang limpasan (m)
So = Kemiringan medan limpasan (mm/m)
Co = Koefisien pengaliran permukaan tempat air merayap
Seiring dengan luas daerah tangkapan yang semakin kecil, maka waktu mengalur
pada permukaan tanah menjadi dominan dalam perhitungan waktu konsentrasi. Mengacu
pada kondisi tersebut, terdapat beberapa pendekatan untuk menentukan waktu
konsentrasinya (dimana tc menjadi sam dengan to)
1) Rumus Izzard
Digunakan untuk IxL < 500 n.ft/jam, dan dianggap tc = te
41 KLo 1 / 3
tc = (3-69)
I 2/3
0,0007 I + Cr
K = (3-70)
So 2 / 3
Dimana :
Lo = Panjang limpasan (ft)
I = Intensitas hujan (in/jam)
So = Kemiringan medan limpasan (ft/ft)
Cr = Koefisien retardasi
Gambar 3.8 Grafik Desain Untuk Memperkirakan Waktu Limpasan Awal (to)
Sumber : Goldman, S. J., K. Jackson, and T. A. Bursztynsky. Erosion and Sediment
Control
Handbook. New York: McGraw-Hill, 1986.
Tabel III.6 Nilai Koefisien Retardasi
NO Jenis Permukaan Tanah Cr
1 Aspal sangat halus 0,007
2 Jalan aspal dan tanah 0,0075
3 Jalan batu 0,00820
4 Beton 0,012
5 Jalan aspal dan pasir 0,017
6 Berumput jarang 0,046
7 Berumput tebal 0,060
Sumber: Martin Wanielista, Hydrology Water Quantity and Quality Control,1997

2) Persamaan Kerby
Digunakan Untuk panjang limpasan < 365 m (1000 ft)
tc = c(Ln.So-0,5)0,467 (2-71)
Dimana:
Lo = Panjang limpasan (ft)
So = Kemiringan medan (ft/ft)
c = 0.83 (untuk ft) atau 1.44 (untuk m)
n = Koefisien kekasaran retardansi

Tabel III.7 Nilai Koefisien Kekasaran Retardasi


No Jenis Permukaan Tanah N
1 Jalan aspal halus 0.02
2 Berumput jarang 0.30
3 Berumput sedang 0.40
4 Berumput rapat 0.80
Sumber: Martin Wanielista, Hydrology Water Quantity and Quality Control, 1997

3) Persamaan Kirpich
Biasa diterapkan pada daerah pedesaan yang tanahnya ditumbuhi kayu-kayuan antara 0
– 56 %, dan daerah tangkapan dengan luas antara 1.2 – 112 are.
Lo 0 .77
tc = 0 .0078 (3-72)
So 0 .385
Dimana;
Lo = Panjang Limpasan (m)
So = Kemiringan medan (ft/ft)

4) Persamaan Gelombang Kinematika


Digunakan jika terdapat gelombang kinematika dimana kecepatan tidak berubah
terhadap jarak melainkan berubah pada suatu titik. Panjang limpasan kurang dari 300
ft.
0 . 93 Lo 0 .6 No 0 .6
tc = (3-73)
I 0 .4 So 0 .3
Dimana:
Lo = Panjang limpasan (ft)
So = Kemiringan medan (ft/ft)
N = Koefisien manning overland flow

Tabel III.8 Nilai Koefisien Manning Overland Flow


No Jenis Permukaan Tanah N
1 Tanah Gundul 0.01
2 Alami 0.13
3 Berumput 0.45
4 Berumput pendek 0.15
5 Berkayu 0.45
Sumber: Martin Wanielista, Hydrology Water Quantity and Quality Control, 1997

5) Persamaan Bransby Wiliams


1
tc = 21 . 3 Lo (3-74)
A So 0 .2
0 .1

Dimana:
Lo = Panjang limpasan (ft)
So = Kemiringan mdan (ft/ft)
A = Luas daerah tangkapan (mil2)
6) Persamaan Federal Aviation Agency
1 . 8 (11 − C ) Lo 0 .5
tc = (3-75)
So 0 .33
Dimana:
Lo = Panjang limpasan (ft)
So = Kemiringan Medan (ft/ft)
C = Koefisien limpasan

Besarnya td dapat didekati dengan persamaan:


Lda
td = (3-76)
60 vd
vd = 0.0035(RLd)0,5(AC)0.1S0.2 (3-77)
4 . 762 Lda
td = (3-78)
( RLd ) 0 . 5 ( Ac ) 0 .1 S 0 . 2

Ld = 88.33A0.6 (3-79)
Dimana:
Lda = Panjang saluran aktual yang ditinjau (m)
Ld = Panjang saluran ideal (m)
= Angka konversi, 1 menit = 60 detik
vd = kecepatan rerata di dalam saluran (m/dt)
C = Koefisien limpasan rerata
R = Tinggi hujan (mm/hari)
A = Luas DPS (ha)
S = Kemiringan DPS searah alur saluran (m/m)

Untuk DPS Gabungan


Terusan saluran harus dikalikan Fg:
2
⎛ Lda 2 . A1 ⎞
Fg = ⎜⎜ ⎟⎟ (3-80)
⎝ Lda 1 . A2 ⎠
Sedangkan S dan C reratanya adalah:
2
⎛ ∑ Li Si ⎞
Sr = ⎜ ⎟
(3-81)
⎜ ∑ Li ⎟
⎝ ⎠
Cr =
∑ Ci . Ai (3-82)
Ai
Dimana:
Fg = Faktor gabungan

Untuk menghitung td pada saluran alami, karena karakter hidrolisnya tidak mudah
ditetapkan, maka digunakan kecepatan pendekatan seperti pada tabel dibawah ini:

Tabel III.9 Perkiraan Kecepatan Rata-rata di Dalam Saluran Alami


Kemiringan Rata-rata Kecepatan Rata-rata
dalam saluran (%) aliran (m/dt)
0–1 0.4
1–2 0.6
2–4 0.9
4–6 1.2
6 – 10 1.5
10 – 15 2.4
Sumber: BUDSP, Drainage Desain for Bandung, 1978

3.4.4.5 Perubahan PUH


Apabila dalam saluran yang direncanakan mengalami perubahan PUH, maka tc, td,
to, juga mengalami perubahan. Jika pada awal perhitungan menggunakan asumsi
pendekatan kecepatan berdasarkan kemiringan dan perhitungan to, dan td tidak memakai
persamaan yang ada unsur R, I, dan C, maka perubahannya dapat didekati dengan
persamaan:
1
⎛a ⎞2
to T 2 = to T 1 ⎜⎜ T 1 ⎟⎟ (3-83)
⎝ aT 1 ⎠
1
⎛a ⎞5
td T 2 = td T 1 ⎜⎜ T 1 ⎟⎟ (3-84)
⎝ aT1 ⎠

a = 54 R + 0.07 R2 (3-85)
Dimana:
tn = t pada PUH a tahun yang dicari
tm = t pada PUH m tahun (menit)
an = konstanta pada persamaan talbott untuk PUH n tahun
am = konstanta pada persamaan talbott untuk PUH m tahun
R = tinggi hujan (mm/hari)
Indeks menunjukan PUH nya

3.4.4.6 Koefisien Pengaliran, C


Koefisien pengaliran diperoleh dari hasil perbandingan antar jumlah hujan yang
jatuh dengan yang mengalir sebagai limpasan dalam permukaan tanah tertentu. Harga
koefisien pengaliran dari berbagai tata guna lahan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel III.10 Harga Koefisien Pengaliran Untuk Berbagai Penggunaan Tanah


No Untuk Daerah / Permukaan C
1 Perdagangan
- Pusat kota, terbangun penuh pertokoan 0.70 – 0.95
- Sekeliling pusat kota 0.50 – 0.70
2 Pemukiman
- Keluarga tunggal 0.30 – 0.50
- Keluarga ganda (tidak kopel)/aneka ragam 0.40 – 0.60
- Keluarga ganda (kopel)/aneka ragam 0.60 – 0.75
- Pinggiran kota (suburban) 0.25 – 0.40
- Apartemen (rumah susun) 0.50 – 0.70
3 Industri
- Ringan 0.50 – 0.78
- Berat 0.60 – 0.90
4 Taman, kuburan, hutan lindung 0.10 – 0.30
5 Lapangan bermain 0.20 – 0.35
6 Pekarangan rel kereta api 0.20 – 0.40
7 Daerah tak terbangun 0.10 – 0.30
8 Jalan
- Aspal 0.70 – 0.95
- Beton 0.80 – 0.95
- Bata 0.70 – 0.85
9 Halaman parkir dan pejalan kaki/trotoar 0.75 – 0.85
10 Atap 0.75 – 0.95
11 Pekarangan dengan tanah pasiran
- Datar 2 % 0.05 – 0.10
- Reratan (2 – 7) % 0.10 – 0.15
- Terjal 7 % 0.15 – 0.20
12 Pekarangan dengan tanah keras
- Datar 2 % 0.13 – 0.17
- Reratan (2 – 7) % 0.18 – 0.22
- Terjal 7 % 0.25 – 0.35
13 Tanah gundul 0.70 – 0.80
14 Lahan galian pasir 0.05 – 0.15
Sumber: Maduto, Darainase Perkotaan, Volume I, 1998

Persamaan pendekatan untuk mencarai harga koefisien pengaliran pada daerah


perumahan dengan kerapatan bangunan z rumah/ha adalah sebagai berikut:
C = (0.3 sampai 0.4) + 0.015z. (3-86)

Tabel III.11 Harga Kofisien Pengaliran Untuk Berbagai Penggunaan Tanah


No Tata Guna Lahan C
1 Urban 0.90 – 0.95
- Pusat perdagangan 0.80 – 0.90
- Industri
2 Permukiman
- Kepadatan rendah (20 rumah/ha) 0.25 – 0.40
- Kepadatan menengah (20-60 rumah/ha) 0.40 – 0.70
- Kepadatan tinggi (60-100 rumah/ha) 0.70 – 0.80
3 Taman dan daerah rekreasi 0.20 – 0.30
4 Rural
- Kemiringan curam (>20 %) 0.50 – 0.60
- Kemiringan gelombang (<20 %) 0.40 – 0.50
- Kemiringan bertingkat 0.25 – 0.35
- Pertanian padi 0.45 – 0.55
Sumber: Liewelyn – Davies Kinhill, 1978

Pada suatu daerah dengan tata guna lahan yang berbeda-beda, besarnya koefisien
pengaliran ditetapkan dengan mengambil rata-rata berdasarkan bobot luas, sbb:

Cr =
∑ Ci . Ai (3-87)
Ai
Dimana:
Cr = Harga rata-rata angka pengaliran
Ci = Koefisien pengaliran pada tiap-tiap daerah
Ai = luas pada masing-masing daerah (ha)

Menurut gambar, harga C berubah untuk setiap perubahan PUH. Perubahannya


dapat didekati dengan persamaan:
Untuk daerah normal :
I T1
C T 2 = 1 − (1 − C T 1 ) (3-88)
I T2

Untuk daerah pasang surut (becek) :


⎛I ⎞
C T 2 = 1 − (1 − C T 1 )⎜⎜ T 1 ⎟⎟ (3-89)
⎝ IT 2 ⎠

Dimana:
CT1, CT2 = Harga C pada PUH T1 dan T2 berturutan
IT1, IT2 = Harga 1 pada PUH T1 dan T2 Berturutan

3.4.4.7 Intensitas Hujan


Intensitas hujan di Indonesia, dapat memicu pada pola grafik IDF (Intensity
Duration Frequency) dari Van Breen, yang dapat didekati dengan persamaan:
2
54 RT + 0,07 RT
IT = (3-90)
tc + 0,3RT
Dimana:
IT = Intensitas hujan pada PUH T, dimana tc>te (mm/hr)
RT = tinggi hujan pada PUH T (mm/jam)
Jika tc>te, tc diganti dengan te

3.4.4.8 Luas Daerah Pengaliran (A)


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam suatu luas daerah pengaliran adalah:
3. Tata guna lahan eksisting dan pengembangannya dimasa mendatang
4. Karakteristik tanah dan bangunan diatasnya
5. Kemiringan tanah dan bentuk daerah pengaliran

3.4.4.9 Pengaruh DPS Parsial


Modifikasi metode rasional berdasarkan asumsi bahwa hasil debit puncak dari
suatu hujan dengan durasi dimana seluruh DPS di atas titik profil saluran yang ditinjau
telah memberikan kontribusi. Makin jauh saluran, DPS nya bertambah, waktu konsentrasi
bertambah sehingga intensitas hujannya menurun (jika tc>te).
Pengaruh itu semua dapat mengakibatkan perbedaaan pada debit puncak yang
dihitung dengan asumsi bahwa seluruh DPS sudah memberikan kontribusi. Keadaan ini
disebut pengaruh DPS parsial dan harus dicek pada tempat-tempat sebagai berikut:
4. Pertemuan dua saluran
5. Keluaran dari DPS yang besar dengan waktu konsentrasi pendek.
6. Keluaran dari DPS yang kecil dengan waktu konsentrasi panjang.
Untuk pertemuan debit puncak akibat pengaruh DPS parsial ini, dipakai pedoman
sebagai berikut:
1. Jika kedua tc saluran < te, maka debit puncak saluran sama dengan jumlah debit
dari kedua saluran.
2. Jika tidak, harus dihitung dua kali dimana seluruh luas dengan tc terkecil dan tc
terbesar, harga terkecil digunakan untuk debit desain.
Perhitungan yang dilakukan untuk pedoman kedua adalah:
• Untuk tc terbesar, semua daerah memberikan kontribusi:

Q =
1
360
(∑ C si )
. A i .C i I tcterbesar (3-91)

• Untuk tc terkecil, tidak semua DPS memberikan kontribusi:

Q =
1
360
(∑ C si )
. A i .C i I tcterkecil (3-92)

sedangkan faktor y adalah:


tdkecil
y= (3-93)
tdbesar

3.4.5 Kriteria Hidolis


3.4.5.1. Kapasitas Saluran (Q)
Untuk menghitung kapasitas saluran, dipergunakan persamaan kontinuitas dan
rumus manning:
Q = A.v (3-94)
Dimana:
Q = Debit pengaliran
v = Kecepatan rata-rata dalam saluran (m/dt)
A = Luas penampang basah (m2)
Gambar 2.2 Koefisien Limpasan untuk Daerah Rural
Sumber : Australian Rainfall and Run Off. Flood Analysis and Desaign, 1977.
Gambar 2.3 Koefisien Limpasan untuk Daerah Urban
Sumber : Australian Rainfall and Run Off. Flood Analysis and Desaign, 1977.
3.4.5.2 Kecepatan Aliran (v)
Penentuan kecepatan aliran air didalam saluran yang direncanakan didasarkan pada
kecepatan minimum yang diperbolehkan agar kontruksi saluran tetap aman. Persamaan
Manning:
2 2
1 3 3
v= R S (3-95)
n
Dimana:
v = Kecepatan aliran
n = Koefisien kekasaran manning
R = Jari-jari hidrolis
S = Kemiringan memanjang saluran

Harga n Manning tergantung hanya pada kekasaran sisi dan dasar saluran. Tabel-
tabel berikut menyajikan beberapa harga n Manning yang diperoleh dari berbagai sumber,
sebagai bahan perbandingan.
Tabel III.12 Harga n Persamaan Manning
Bagus
Jenis Saluran Bagus Cukup Jelek
Sekali
Saluran Buatan
1. Saluran tanah, lurus teratur 0.017 0.020 0.023 0.025
2. Saluran tanah, digali alat besar 0.023 0.028 0.030 0.040
3. Seperti 1, tetapi dibatuan 0.023 0.030 0.030 0.035
4. Seperti 3, tidak lurus, tak teratur 0.035 0.040 0.045 -
5. Seperti 4, dengan ledakan, sisi vegetasi 0.025 0.030 0.035 0.040
6. Dasar tanah, sisi batu belah 0.028 0.030 0.033 0.035
7. Saluran berbelok-belok, v rendah 0.020 0.025 0.028 0.030
Saluran Alami
1. Bersih, lurus, tanpa onggokan pasir dan 0.025 0.028 0.030 0.033
tanpa lubang
2. Seperti 1, sedikit vegetasi dan kerikil 0.030 0.033 0.035 0.040
3. Belok-belok, bersih, sedikit onggokan pasir 0.033 0.040 0.040 0.045
dan lubang
4. Seperti 3, dangkal, kurang teratur 0.040 0.045 0.040 0.055
5. Seperti 3, sedikit vegetasi dan batu 0.035 0.040 0.045 0.050
6. Seperti 4, sedikit ada penampang batuan 0.045 0.050 0.055 0.060
7. Lambat, banyak vegetasi dan lubang dalam 0.050 0.060 0.070 0.080
8. Banyak vegetasi tinggi dan lebat 0.075 0.100 0.125 0.150
Saluran Pasangan
1. Pasangan batu kosong 0.025 0.030 0.033 0.035
2. Seperti 1, dengan adukan 0.017 0.020 0.025 0.030
3. Beton tumbuk 0.014 0.016 0.019 0.021
4. Beton, sangat halus 0.010 0.011 0.012 0.013
5. Beton biasa, cetakan baja 0.013 0.014 0.014 0.015
6. Seperti 5, cetakan kayu 0.015 0.016 0.016 0.018
Sumber: Kinori B.Z., “Manual Of Surface Drainage Engineering”, vol I, 1970.

Tabel III.13 Harga n Manning yang dianjurkan dalam saluran drainase


No Jenis Saluran dan Keterangannya Min Normal Maks
1 Polongan aliran setengah penuh
Gorong-gorong beton, lurus, bebas sampah 0.010 0.011 0.013
Gorong-gorong beton, dengan belokan, ada 0.011 0.013 0.014
sampah
2. Saluran berlapisan
Bagian dasar pracetak, dinding sisi beton 0.013 0.015 0.017
Dasar beton, dinding sisi pasangan batu 0.017 0.020 0.024
Dasar tanah, dinding sisi batu kosong 0.020 0.023 0.026
3. Saluran alami
Bersih, lurus, tebing gebalan rumput 0.025 0.030 0.035
Sedikit rumput liar dan batu 0.030 0.035 0.040
4. Lapisan vegetasi 0.030 0.035 0.050
Sumber: Moduto, Darinase Perkotaan, Volume I, 1998.
Tabel III.14 Harga n Manning untuk saluran alami atau sungai
Jenis Peruntukan dan Keterangan Rentang harga n
A. Saluran minor (lebar muka air banjir < 30m)
1. Cukup teratur
a. Sedikit rumput/liar, sedikit/tanpa semak 0.030-0.035
b. Rumput liar lebat, dair < hrumput 0.035-0.050
2. Tak teratur, berlubang , sedikit meander
a. Sedikit rumput/liar, sedikit/tanpa semak 0.040-0.055
b. Rumput liar lebat, dair < hrumput 0.050-0.070
3. Saluran bukit, tanpa vegetasi, tebing terjal , pohon dan
semak sepanjang tebing tenggelam selama banjir besar
a. Dasar kerikil, batu dan sedikit batu besar 0.040-0.050
b. Dasar batu dengan banyak batu besar 0.050-0.070
B. Bantaran banjir (dekat saluran alami)
1. Padang rumput, tanpa semak:
a. Rumput pendek 0.030-0.035
b. Rumput Tinggi 0.035-0.050
2. Daerah Bercocok tanam 0.035-0.045
3. Rumput liar lebat, semak menyebar 0.050-0.070
4. Semak dan pepohonan kecil 0.060-0.080
5. Vegetasi medium sampai lebat 0.100-0.120
6. Lahan bersih dengantunggul pohon (250-625 bt/ha)
a. Tanpa anak-anak pohon 0.040-0.050
b. Dengan anak pohon lebat 0.060-0.080
7. Tonggak kayu lebat, sedikit tumbang /tumbuh 0.100-0.120
C. Saluran mayor (Bair banjir > 30 m), teratur, bersih 0.028-0.330
Sumber: Moduto, Drainase Perkotaan, Volume I, 1998.

Untuk mendesain dimensi saluran tanpa perkerasan, dipakai harga n Manning


normal atau maksimum, sedangkan harga n Manning minimum hanya dipakai untuk
pengecekan bagian saluran yang mudah terkea gerusan.
Jika kedalaman satu lajur saluran berubah, maka harga koefisien kekasaran
Manning reratanya, n harus dicari dengan persamaan:
5
Pr Pr 3
n=
⎛ 5
⎞ (3-96)
⎜ Pi Ri 3 ⎟
⎜⎜ n ⎟⎟
⎝ i ⎠

Dimana:
nr = Harga rerata sepanjang saluran
Pr = Harga keliling basah rerata sepanjang saluran (m)
r = Harga jari-jari hidrolis rerata sepanjang saluran (m)
Pi = Harga keliling basah setiap bagian i saluran (m)
Ni = Harga n setiap bagian i saluran

1. Persamaan Chezy
V = C (RS)1/2 (3-97)
Dimana :
v = Kecepatan Aliran (m/dt)
C = Koefisien Chezy
R = Jari-jari hidrolis (m)
S = Kemiringan saluran (m/m)
Dalam persamaan Chezy , koefisien C dipengaruhi oleh jari-jari hidrolis, kekasaran
dinding-dinding sisi dan dasar saluran. Harga C sebagai fungsi dari kekasaran dan jari-jari
hidrolis adalah:

a. Jika dibandingkan dengan persamaan Manning


1
1 6
C= R (3-98)
n
b. Persamaan Ganguilet – Kutter
23 + 1 / n + 0 .00155 / S
C= 1
(3-99)
1 + ( 23 + 0 .00155 / S ) n / R 2
Persamaan ini dinilai kurang teliti, namun dalam beberapa hal dapat memberikan hasil
yang memadai, yaitu jika dipakai dalam perhitungan saluran alami.

c. Persamaan Bazin
1
87 R 2
C= 1 (3-100)
τ +R 2

Harga-harga τ untuk berbagai jenis saluran dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel III.15 Harga τ Bazin untuk berbagai saluran
Jenis Saluran Keadaan
Baik
Baik Cukup Jelek
Sekali
Saluran Buatan
1. Saluran tanah, lurus, teratur 0.50 0.70 0.88 1.05
2. Saluran tanah ada vegetasi dan batu dll 1.05 1.38 1.75 2.10
3. Saluran kerukan dibebatuan 1.38 1.75 2.05 2.30
Saluran Alami
1. Saluran terpelihara baik 1.05 1.38 1.75 2.10
2. Saluran ada vegetasi, batu, dll 1.75 2.40 3.50 4.85
Saluran Pasangan
1.Pasangan beton, permukaan disemen halus - 0.055 0.14 0.22
2. Pasangan kayu atau pasangan batu halus 0.055 0.22 0.275 0.33
3. Pasangan batu adukan semen, potongan kasar 0.50 0.69 1.05 1.38
4. Pasangan batu kosong, potongan kasar 1.05 1.38 1.60 1.75
Sumber : Kinori B.Z, Manual of Surface Drainage Engineering, 1970

Persamaan Manning dianjurkan dipakai untuk tipe saluran buatan, baik yang
diperkeras ataupun tidak. Sebelum persamaan manning ini ditetapkan, biasanya dicari
kecepatan rerata dengan cara dicoba-coba (trial error). Pendekatan kecepatan aliran rerata
dalam saluran, vd, untuk trial dan error, dapat dilihat pada tabel II.16 dan tabel II.17
Tabel III.16 Pendekatan kecepatan trial berdasarkan kemiringan.

Kemiringan saluran rerata (%) Kecepatan rerata, vd (m/s)


1–2 0.6
2–4 0.9
4–6 1.2
6 – 10 1.5
10 – 15 2.4
Sumber : Moduto, Drainase Perkotaan, Volume I, 1998

Tabel III.17 Pendekatan kecepatan setempat, vt trial berdasarkan debit puncak.

Debit aliran, Qp (M3/dt) Kecepatan setempat, vt (m/s)


≤ 10 0.60 – 0.90
1 – 10 0.90 – 1.50
10 – 20 1.50 – 1.60
20 – 30 1.60 – 1.70
30 – 40 1.70 – 1.80
40 – 50 1.80 – 1.90
50 – 60 1.90 – 2.00
60 – 70 2.00 – 2.10
70 – 100 2.10 – 2.20
100 – 150 2.20 – 2.30
150 – 200 2.30 – 2.40
200 – 300 2.40 – 2.50
300 – 400 2.50 – 2.60
Sumber : Moduto, Drainase Perkotaan, Volume I, 1998

Kecepatan setempat pada tabel harus dikalikan dengan k (angka Kennedy), yang
besarnya tergantung kekasaran dan geometri saluran dimana :
1. saluran alami : k = 0.4 – 0.6
2. saluran lining : k = 0.8 – 1.0
Harga k tersebut juga belum terdapat karena masih ada pengaruh slope saluran.
Sedangkan batasan kecepatan yang umum dipakai suatu kota untuk perencanaandimensi
salurannya agar tercapai self cleansing velocity tetapi tidak terjadi penggerusan pada
saluran adalah diantara 0.6 – 3 m/s.
Harga kecepatan untuk kedalaman lebih besar dari 1 m dapat diperbesar dengan
faktor koreksi, sedangkan bila terjadi belokan harus diperkecil. Untuk kedalaman yang
lebih kecil dari satu meter harus diperkecil
Tabel III.18. Faktor koreksi dari kecepatan maksimum yang diperbolehkan untuk
berbagai kedalaman air.

Kedalaman Air (m) Faktor Koreksi


0.30 0.80
0.50 0.90
0.75 0.95
1.00 1.00
0.50 1.10
2.00 1.15
2.50 1.20
3.00 1.25
Sumber: BZ. Kinori, Manual of Source Drainage Ebgineering, 1970

Tabel III.19. Faktor koreksi untuk kecepatan saluran yang diizinkan untuk saluran
lengkung
Saluran Faktor Koreksi
Lurus 1
Sedikit berbelok α<22.5 ° 0.95
Berbelok sedang 22.5°<α<60° 0.87
Berbelok besar sekali 60°<α<80° 0.78
Berbelok hampir siku 80°<α<90° 0.57
Sumber : BZ. Kinori, Manual of Source Drainage Engineering, 1970

3.4.5.3 Kemiringan saluran dan talud saluran


Kemiringan saluran direncanakan sedemikian rupa sehingga dapat memberikan
pengaliran secara gravitasi dengan batas keceparan maksimum tidak boleh terjadi
penggerusan dasar saluran dan pada kecepatan minimmum tidak boleh terjadi
pengendapan.
Kemiringan dinding saluran utama tergantug pada jenis bahannya. Tetapi untuk
saluran yang peka terhadap erosi, penentuan kemiringan yang lebih teliti perlu dicocokan
dengan kecepatan maksimum yang diizinkan agar tidak terjadi penggerusan dinding
saluran. Kemiringan dinding saluran yang dapat dipakai untuk berbagai jenis bahan dapat
dilihat pada tabel III.20
Tabel III.20. Kemiringan dinding saluran yang dianjurkan sesuai bahan yang
digunakan.
Bahan Kemiringan dinding
Batu Hampir tegak lurus
Tanah gambut (peat), rawang (muck) ¼ :1
Lempung teguh atau tanah berlapis beton ¼ : 1- 1:1
Tanah berlapis batu atau tanah bagi saluran yang lebar 1:1
Lampung kaku atau parit tanah ½ :1
Tanah berpasir lepas 2:1
Lempung berpasir atau lempung berpori 3:1
Sumber : Ven Te Chow, Hidrolika Saluran Terbuka, 1970

3.4.5.4. Penampang Saluran


Faktor-faktor yang diperlu dipertimbangkan dalam pemilian bentuk saluran adalah:
a) Tatagunalahan yang akan berpengaruh tehadap ketersediaan tanah.
b) Kemampuan pengaliran dengan memperhatikan bahan saluran.
c) Kemudahan pembuatan dan pemeliharaan.
Adapun bentuk-bentuk penampang saluran yang biasa diterapkan adalah :
a) Trapesium
Fungsinya untuk menyalurkan limbah air hujan dengan debit besar yang sifat
alirannya terus menerus dengan fluktuasi kecil.
b) Segiempat
Berfungsi untuk menyalurkan limpasan air hujan dengan debit besar yang sifat
alirannya menerus dengan fluktuasi kecil.
c) Setengah lingkaran
Berfungsi untuk menyalurkan air hujan dengan debit yang kecil.
d) Segitiga
Berfungsi untuk menyalurkan air hujan dengan debit kecil juga banyak
mengandung endapan.
e) Lain-lain
Bentuk- bentuk saluran drainase yang tidak umum dipergunakan engan alasan
faktor teknis dan ekonomi yang bulat lingkaran, bulat telur, elips, tapal kuda, tapal kuda
kombinasi dengan segi empat, tapal kuda kombinasi dengan setengah lingkaran, tapal kuda
kombinasi dengan segitiga.
Bila saluran dengan kekasaran n, kemiringan S, dan luas peampang basah tertentu
mencapai debit maksimum, maka agar daya angkut aliran maksimal tercapai, penampang
basah itu harus memiliki bentuk dengan jari-jari hidrolis maksimum pula. Bentuk
penampang yang seperti ini disebut penampang/profil hidrolis umum (PHO). Pada tabel
III.21 dapat dilihat jenis-jenis penampang dengan besaran-besaran hidrolis optimumnya.

Tabel III.21. Besar-besaran penampang hidrolis optimum

No. Penampang A P R B D
1 Trapesium setengah heksagon D2√3
2d√3 (1/2)d (4/3)d√3 (3/4)d
2 Empat persegi panjang setengah bujur sangkar 2d2 4d (1/2)d 2d d
3 Segitiga setengah bujur sangkar d2 2d√3 (1/4)d√2 2d (1/2)d
4 Setengah lingkarn (1/2)πd2 Π (1/2)d 2d Π

Sumber : Ven Te Chow, Hidrolika saluran terbuka, 1970

Sedangkan untuk trapesium dan segiempat, hubungan antar parameter dapat dilihat
pada tabel berikut :
Tabel III.22. Hubungan dimensi penampang saluran

M b/d ∫d = d/√A ∫ b = b/√A ∫B = B/√A ∫a = a/√A ∫ p = p/√A ∫R = R/√A aº


0.00 2.0000 0.7071 1.4142 1.4142 0.7071 2.8284 0.35 90.00
0.50 1.2361 0.7590 0.9362 1.6972 0.8486 2.6352 0.38 63.50
0.51 1.1521 0.7598 0.8547 1.7567 0.8784 2.6321 0.38 60.00
1.00 0.8284 0.7396 0.6127 2.0919 1.0460 2.7044 0.37 45.00
1.25 0.7016 0.7158 0.5022 2.2917 1.1459 2.7939 0.36 38.60
1.50 0.6056 0.6891 0.4173 2.4846 1.2423 2.9021 0.34 33.50
1.75 0.5309 0.6621 0.3515 2.6689 1.3345 3.0206 0.33 30.00
2.00 0.4721 0.6361 0.3003 2.8444 1.4222 3.1446 0.32 26.50
2.50 0.3852 0.5887 0.2268 3.1702 1.5851 3.3971 0.29 21.80
3.00 0.3246 0.5485 0.1780 3.4690 1.7345 3.6467 0.27 18.40
4.00 0.2462 0.4853 0.1195 4.0019 2.0010 4.1213 0.24 14.00
5.00 0.1979 0.4386 0.0868 4.4728 2.2364 4.5597 0.22 11.30
6.00 0.1654 0.4027 0.0666 4.8990 2.4495 4.9961 0.20 9.50
Sumber : Kinoro BZ, Manual of Source Drainage Engineering

Dimana:
A = Luas penampang (m)
B = Lebar permukaan (m)
d = Lebar dasar saluran (m)
P = Keliling basah
R = Jari-jari hidrolis
3.4.5.5 Ambang Bebas
Ambang bebas adalah jarak vertikal dari pucak saluran ke permukaan air pada
kondisi rencana. Ambang bebas merupakan jagaan untuk mencegah meluapnya air ke tepi
saluran. Ketinggian ambang bebas (f) ini dapat dicari dengan rumus berikut:
f = √Cfd (3-101)
dimana :
d = ketinggian muka air (m)
Cf = koefisien ambang bebas (lihat tabel III.23)

Tabel III.23. Harga CF untuk suatu rentang debit


Debit, Q (m3/dt) Cf
Q ≤ 0.6 0.14
0.6<Q≤8 0.14 – 0.22
Q>8 0.23 – 0.25
Sumber : Moduto, Drainase Perkotaan, 1998

3.4.6. Perlengkapan Saluran


Perlengkapan saluran merupakan sarana pelengkap yang dapat menunjang kinerja
penyaluran air hujan. Pada umumnya perlengkapan saluran pada sistem penyaluran air
hujan terdiri dari:
1. Street inlet
Street inlet merupakan lubang/buangan disisi-sisi jalan yang berfungsi untuk
menampung dan menyalurkan limpasan air hujan yang berada disepanjang jalan menuju
kedalam saluran. Pada jenis penggunaan saluran terbuka tidak diperlukan street inlet
karena ambang saluran yang ada merupakan bukaan bebas (kecuali untuk jalan dengan
trotar jalan terbangun).
Peletakan street inlet mempunyai ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
• Diletakan pada tempat yang tidak memberikan gangguan terhadap lalulintas jalan
maupun pejalan kaki.
• Ditempatkan pada daerah yang rendah dimana limpasan air hujan menuju ke arah
tersebut.
• Air yang masuk street inlet harus secepatnya menuju ke dalam saluran.
• Jumlah street inlet harus cukup untuk menangkap limpasan air hujan pada jalan yang
bersangutan, dengan rumus:
D : (280 √S )/W (3-102)
Dimana :
D : Jarak antar street inlet (m) : D ≤ 50 m
S : Kemiringan (%)
W : Lebar jalan (m)

a. Gutter Inlet
Gutter inlet adalah bukaan horisontal dimana air jatuh ke dalamnya. Kapasitas gutter inlet
dapat dihitung dengan menggunakan modifikasi persamaan Manning untuk aliran dalam
salurn yang sangat dangkal, yaitu :
Q = 0.56 (z/n) S0.5 d8/3 (3-103)
Dimana :
Q = kapasitas gutter inlet (m3/dt)
z = kemiringan potongan melintang jalan (m/m
n = koefisien kekasaran manning = 0.016
S = kemiringan longitudinal gutter (m/m)
D = kedalam aliran didalam gutter

b. Curb Inlet
Curb inlet adalah bukaan vertikal dimana air masuk kedalamnya. Kapasitas curb inlet
dapat dihitung dengan rumus empiris sebagai berikut :
british unit
Q/L = 0.2gd 3/2 (3-104)

metric unit
Q/L =0.3 gd 3/2 (3-105)

Dimana :
Q = Kapasitas curb inlet (cfs, m3/dt)
L = Lebar buakaan curb (ft, m)
g = Gravitasi (m3/dt)
d = Kedalama total air dalam gutter (ft, m)
Tinggi air pada permukaan jalan dekat gutter/curb dapat didekati dengan rumus :
d = 0.0474 (DI)0.5/S0.2 (3-106)
dimana :
d = Kedalam air (mm) pada lebar ¼ lebar jalan
D = Jarak antara street inlet
I = Intensitas hujan (mm/jam)
S = Kemiringan jalan

Dalam perencanaan, kapasitas gutter maupun curb inlet harus diturunkan (10-30) %
untuk memperhitungkan gangguan penyumbatan, dimana penurunan ini tergantung pada
kondisi jalan serta tipe inlet seperti pada tabel berikut :

Tabel III.24. Faktor reduksi dalam penentuan kapasitas inlet


Kondisi jalan Tipe inlet Persentase dari kapasitas teoritis yang diijinkan
Sump Curb 80%
Continous grade Curb 80%
Continous grade Deflactor 75%
Sumber : BUDSP, Drainage Desaign for Bandung, 1970

2. Bangunan Terjunan
Bangunan terjunan diperlukan jika kemiringan permukaan tanah lebih curam dari
pada kemiringan maksimum saluran yang diizinkan. Selain itu bangunan ini berfungsi
untuk mencegah terjadinya penggerusan pada badan saluran akibat kecepatan dalam
saluran telah melebihi kecepatan maksimum yang diijinkan.
Bangunan ini mempuyai empat bagian fungsional yang masing-masing mempunyai
sifat perencanaan yang khas. Keempat bagian tersebut adalah:
• Bagian hulu pengontrol, yaitu bagian dimana aliran menjadi superkritis.
• Bagian dimana air dialirkan ke elevasi yang lebih rendah.
• Bagian tepat disebelah hilir potongan U, yaitu tempat energi diredam.
• Bagian peralihan saluran memerlukan lindungan untuk mencegah erosi.

a) Bagian Pengontrol
Pada bagian pertama dari bangunan ini, aliran di atas ambang dikontrol. Hubungan
tinggi energi yang memakai ambang sebagai acuan dengan debit pada pengontrol ini
bergantung pada ketinggian ambang, potongan memanjang mercu bangunan, kedalam
bagian pengontrol yang tegak lurus terhadap aliran, dan lebar bagian pengontrol ini.
Bangunan-bangunan pengontrol yang mungkin adalah alat ukur ambang lebar atau flum
leher panjang.

b) Terjunan Tegak
Pada terjunan tegak ini air akan mengalami jatuh bebas pada pelimpah terjunan
kemudian akan terbentuk suatu loncatan hidrolis pada hilir.
Untuk Q < 2.5 m3 / dt, tinggi terjun maksimum adalah 1.5 m
Untuk Q > 2.5 m3 / dt, tinggi terjun maksimum adalah 2.5 m
untuk menentukan terjunan tegak digunakan rumus :

Yc = 2/3 h (3-107)
Q = bq (3-108)
q = Yc√Yc.g (3-109)
D = Yc / h (3-110)
0.425
Y1 = 0.54 HD (3-111)
Y2 = 1.66 HD 0.27 (3-112)
Yp = HD0.22 (3-113)
4Ld = 4.3 HD0.22 (3-114)
Lj = 6.9 (Y2 – Y1) (3-115)
Lt = Ld + Lj (3-116)

Dimana :
Yc = Kedalaman air kritis (m)
h = Kedalaman air normal (m)
Q = Debit aliran (m3/dt)
b = Lebar saluran
q = Debit persatuan lebar ambang
g = Gaya gravitsi
Y1 = Kedalaman sebelum terjadi lompatan (m)
Y2 = Kedalaman setelah terjadi lompatan (m)
Yp = Kedalaman terjunan
Ld = Panjang terjunan
Lj = Panjang lompatan air (m)
Lt = Panjang total

c) Terjunan Miring
Terjunan miring dipakai untuk tinggi terjun > 2 m. Mulai dari awal terjunan
iringnya airya mendapat tambahan kecepatan sehingga sepanjang terjunan miring tersebut
berangsur-angsur terjadi penurunan muka air. Supaya perubahan kecepatan air dari
kecepatan normal ke kecapatan maksimum berjalan secara teratur dan tidak secara
mendadak, dibuat suatu bagian peralihan. Tipe yang sering digunakan adalah tipe vlughter.

H = h1 + (v2/2g) (3-117)
h2 = 2/3 h1 (3-118)
S = CH (H/z) (3-119)

dimana :
C = 0.40
untuk 1/3 < z/H < 4/3, maka D = 0.60 H +1.1 z........ (3-120)
a = 0.2 H H/z ............. (3-121)
untuk 4/3 < z/H < maka D = H + 1.1z ............... (3-122)
a = 0.15 H H/z ........... (3-123)
H = Tinggi energi (m)
h1 = Kedalaman air di hilir
h2 = Kedalaman kritis (m)
s = Ketinggian air pada bagian yang miring (m)
z = Beda tinggi air sebelum dan sesudah terjunan (m)

d) gorong-gorong
Gorong-gorong adalah bangunan yang dipakai untuk membawa aliran air melewati
bawah jalan air lainnya, bawah jalan, atau jalan kereta api.
Gorong-gorong mempunyai potongan melintang yang lebih kecil dari pada luas basah
saluran hulu maupun hilir. Sebagian dari potongan melintang mungkin berada di atas muka
air dalam hal ini gorong-gorong berfungsi sebagai saluran terbuka dengan aliran bebas.
Pada gorong-gorong aliran bebas, benda-benda yang hanyut dapat lewat dengan mudah,
tetapi biaya pembuatannya umunyan lebih mahal dibandng gorong-gorong tenggelam.
Untuk maksud pemeliharaan dimana gorong-gorong harus terbebas dari endapan lumpur,
dengan batasan kecepatan dalam gorong-gorong harus lebih besar atau sama dengan
kecepatan self cleansing. Kehilangan tekanan oleh pengaliran di dalam gorong-gorong
dapat dihitung dengan persamaan :

Δh = (V2/2g) (1+a+b (lр/4A)) (3-124)


dimana :
Δh = Perbedaan tinggi muka air di muka dan di belakang gorong-
gorong (m)
v = Kecepatan air dalam gorong-gorong (m/dt)
g = Gaya gravitasi (m/dt2)
l = Panjang gorong-gorong
p = Keliling basah gorong-gorong
A = Luas penampang basah gorong-gorong
a = Koefisien kontraksi pada perlengkapan gorong-gorong.

a = (1/μ) – 1 (3-125)

μ = 0.8 – 0.83
b = Koefisien dinding pada gorong-gorong, untuk gorong-gorong bulat.

Untuk gorong-gorong bulat :


b = 1.5 (0.01989 + (0.0005078/d))

Untuk gorong-gorong segi empat :


b = 1.5 (0.01989 + (0.0005078/4R))

e) Perubahan saluran
Apabila dalam perencanaan saluran terjadi perubahan bentuk atau luas potongan
melintang, maka diperlukan bangunan transisi yang berfungsi untuk melindungi saluran
dari kerusakan yang mungkin timbul akibat perubahan tersebut. Struktur pelindung
tersebut berupa head wall yang lurus atau setengah lingkaran dengan besar sudut
perubahan saluran 12.5° dari sisi saluran.
Akibat perubahan sudut aliran pada bangunan ini terjadi kehilangan energi yang
besarnya tergantung pada perubahan kecepatan dan bentuk dinding pada bangunan
tersebut.
Kehilangan energi dapat dihitung dengan persamaan :
ht = (1+C2 ) h2 (3-126)
Dimana :
ht = Kehilangan tekanan melalui bangunan transisi (m)
hv = Perubahan tinggi kecepatan (m)
Ck = Koefisien yang besarnya tergantung pada macam perubahan,
yaitu :

Dari saluran besar ke saluran kecil :


− untuk dinding lurus : Ck = 0.3
− untuk dinding seperempat : Ck = 0.15
Dari saluran kecil ke saluran besar :
− untuk dinding lurus : Ck = 0.5
− untuk dinding seperampat lingkaran : Ck = 0.25

f) Pertemuan Saluran
Pertemuan saluran atau junction adalah pertemuan dua saluran atau lebih dari arah
yang berbeda pada suatu titik. Pada kenyataanya pertemuan saluran ini mempunyai
ketinggian dasar saluran yang tidak selalu sama, sehingga kehilangan tekanan sulit untuk
diperhitungkan
Dalam perencanaan ini, pertemuan saluran diusahakan mempuyai ketinggian yang
sama untuk mengurangi konstruksi yang berlebihan yaitu dengan jalan optimasi kecepatan
untuk menghasilkan kemiringan saluran yang diinginkan.
Untuk mengurangi kehilangan tekanan yang teralu besar dan untuk keamanan
konstruksi, maka dinding pertemuan dibuat tidak bersudut atau lengkung serta diperhalus.
g) Belokan
Kesulitan dalam merancang belokan, seringkali ditimbulkan oleh kompleksitas
aliran sekitar belokan tersebut.
Kehilangan tekanan akibat belokan dihitung dengan persamaan

h3 = kb (v 2/2g) (3-127)
Dimana :
hb = Kehilangan tekanan akibat belokan
v = Kecepatan aliran
kb = Koefisien belokan
untuk belokan 90° : kb = 0.4
untuk belokan 45° : kb = 0.32
(ASCE dalam buku Design and Construction of sanitary )

h) Pintu air
Pintu air klep merupakan bagian penunjang sistem drainase didaerah pedataran.
Pintu air difungsikan terutama pada saat terjadi hujan dan pasang baik. Hal ini dilakukan
guna mencegah aliran balik (backwater) akibat banjir makro, sehingga tidak menggangu
kelancaran air keluar dari daerah perencanaan yang dapat menyebabkan banjir mikro. Pintu
air biasanya diletakan pada lokasi outfall di tepi sungai dan pada tepi dimana akumulasi air
dalam saluran drainasekota menuju muara tinggi.

i) Bangunanan pembuangan
Bangunan pembuangan atau outfall merupakan ujung saluran yang ditempatkan
pada sungai atau badan air penerima lainnya. Strukutur outfall ini hampir sama dengan
struktur bangunan terjunan karena biasanya titik ujung saluran terletak pada elevasi yang
lebih tinggi dari permukaan badan air penerima, sehingga dalam perencanaan outfall ini
merupakan bangunan terjunan. Untuk menghitung dimensinya digunakan persamaan
kontinuitas dan persamaan Manning. Kecepatan aliran dapat direncankan antara 6 sampai
10 m/dt. Lebar mulut peralihan dapat dihitung dengan persamaan :

Q = 0.35 b(h+(v2 /2g) ) 2g √(h+(v2/2g) (3-128)


V adalah kecepatan aliran pada saluran, sedangkan kecepatan aliran pada awal
bagian peralihan (v1) dihitung dengan persaman :
Q = A v1 (3-129)
A = b (2/3 h) (3-130)

Sedangkan panjang bagian peralihan dihitung dengan persamaan:


L = H/S (3-131)
v2 – v1 = m √2gH (3-132)

Dimana :
H = Perbedaan tinggi profil awal dan akhir dari bagian peralihan.
S = Kemiringan saluran(%)
v2 = Kecepatan aliran pada bagian normal (m/dt)
v1 = Kecepatan aliran pada bagian normal (m/dt)
BAB IV
METODE PERENCANAAN

4.1 Metode Analisis GIS untuk Identifikasi Daerah Banjir dan Penentuan Lokasi
Kolam Penahan Hujan

Peta Image DigitalGlobe


Peta RBI Data
Kemampuan GoogleEarthWinPro
(1 : 25000) Curah Hujan
Tanah
(1 : 12500)

Mozaik Rata-rata
+ Curah Hujan
Koreksi Geometrik Bulan Basah

Solum Tekstur
Tanah Tanah
Daerah Citra
Aliran Sungai Terkoreksi
Geometrik

GRID / TIN
Peta Penggunaan
Lahan
(1:12500)
Surface

Koefisisen
Aspek Kemiringan Limpasan
Lereng Permukaan

Analisi Inflow

Peta Jaringan
Drainase & Irigasi
Eksisting

1) Daerah Potensi Genangan


2) Model 3D Banjir Panjatan
3) Peta Banjir
4) Rekomendasi Lokasi Kolam
Penahan Hujan
5)

Gambar 4.1. Diagram Alir Analisis GIS untuk Identifikasi Daerah Banjir dan
Penentuan Lokasi Kolam Penahan Hujan.
4.2. Metodelogi Perencanaan Jaringan Sistem Drainase.

Pengumpulan Data
Survey Lapangan
Pengumpulan data primer
Pengumpulan data sekunder

Analisa Data
1. Analisa Hidrologi
2. Alternatif Sistem
Drainase

Perencanaan Teknis
1. Dimensi saluran
Dasar-Dasar Perencanaan
2. Dimensi Bangunan pelengkap
dan Kriteria Desain
3. Menentukan RAB
4. Desain dan detail Gambar

Diskusi

Laporan Akhir

Gambar 4.2. Diagram Alir Analisis Hidrologi Untuk Perencanaan Drainase


Data Curah Hujan
Maksimum

Tes Konsistensi

Tes Homogenitas

Metode Gumbel Metode Log Pearson Metode Iwai Kadoya

Pemilihan Metode
(chi kuadrat)

Metode Hasper
Metode Van Breen Weduwen
Metode Bell Tanimoto

Metode Talbot Metode Sherman Metode Ishiguro

Pemilihan Metode
(kuadrat terkecil)

Persamaan Intensitas
Hujan

Gambar 4.3. Diagram Alir Analisis Hidrologi Untuk Perencanaan Drainase


Daerah Fokus
Perencanaan

Luas Tiap Koefisien - Panjang Saluran (Lda) - Panjang Limpasan (Lo)


Penggunaan Lahan Limpasan - Kemiringan Saluran (Sd) - Kemiringan Limpasan (So)
(C) - Kecepatan Asumsi (Vas) - Kekasaran Manning (n)

Luas Daerah Koefisien Waktu Mengalir Waktu Limpasan


Tangkapan Limpasan Dalam Saluran Awal
(A) Gabungan (td) (to)
(C gab)

Jenis Saluran

Intensitas Hujan Waktu


Periode Ulang Terencana Konsentrasi
Hujan (Pers.I) (tc)
(PUH)

Tinggi Hujan
(R) Debit Limpasan
Banjir
(Q)

Dimensi Saluran:
Kedalaman Saluran (y)
Lebar Dasar Saluran (b)
Lebar Permukaan (T)
Keliling Basah (P)
Jari-jari Hidrolis (R)
Kecepatan Aliran (V)

Gambar 4.4. Diagram Alir Perencanaan Teknis Desain Drainase.


4.2. Penjelasan dan Uraian Metodelogi Perencanaan
4.2.1 Tahapan Pengumpulan Data
4.2.1.1. Survey Lapangan
Peninjauan langsung ke lapangan dengan tujuan mengetahui kondisi
terkini dari daerah penelitian.

4.2.1.2. Pengumpulan Data Primer


Data primer merupakan data yang diperoleh langsung di lapangan, data tersebut
antara lain adalah :
d) Melakukan pendataan langsung lokasi koordinat stasiun curah hujan, untuk
selanjutnya diketahui pada stasiun mana yang berpengaruh terhadap daerah
perencanaan.
e) Mengetahui kondisi daerah perencanaan.
f) Mengetahui kondisi badan air penerima.

4.2.1.3. Pengumpulan Data Sekunder


Pengumpulan data sekunder diperoleh dari instansi setempat dan jaringan internet
yang berkenaan langsung dengan tugas akhir seperti :
6. Data curah hujan dari BMG dan Dinas Pengairan Kulonprogo.
7. Peta Kemampuan Tanah, Peta Jaringan Drainase dan Irigasi, Peta Geologi.
8. Citra satelit yang memvisualisasikan daerah penelitian.
9. Data penunjang lainnya seperti jaringan jalan dari dinas PU setempat.

4.2.2. GIS Untuk Menentukan Daerah Potensi Banjir.


4.2.2.1. Spatial Analyst – Surface creation
6. Melakukan ekstraksi informasi ketinggian dari Peta RBI Skala 1 : 25.000, yaitu garis
kontur dan titik ketinggian (titik elevasi). Menggunakan teknik digitizing on screen,
garis kontur dan titik tinggi diubah formatnya dari analog menjadi digital.
7. Garis kontur dan titik tinggi yang sudah memiliki nilai attribut tinggi yang
mempresentasikan daerah penelitian di konfersikan dan di interpolasikan kedalam
bentuk raster (raster calculation) atau di sebut GRID. Selain itu juga untuk garis
kontur dan titik ketinggian di konversikan dan di interpolasikan menjadi TIN
(Triangulated Irregular Network) untuk alternatif metode pembuatan rupa bumi.
8. Pembuatan garis kontur yang lebih rapat. Menggunakan bantuan titik tinggi yang juga
terdapat dalam peta RBI skala 1 : 25000 yang sudah brupa GRID / TIN nilai-nilai
ketinggian di interpolasikan kembali untuk mendapatkan garis kontur yang lebih rapat.
Untuk penelitian ini kontur interval digunakan sebesar 1 M.
9. Untuk mendapatkan aspek kelerengan yang berkaitan dengan arah lereng, kembali di
ekstraksi dari teknik 3D analyst TIN daerah penelitian, begitu juga untuk
mendapatkan besarnya kemiringan lereng daerah penelitian.

4.2.2.2. Pembuatan Peta Penggunaan Lahan.


7. Sumber data yang digunakan adalah image Digital Globe-GoogleEathWinPro 2007
dengan harapan dapat lebih up to date dalam manghasilkan informasi tata ruang.
8. Mengunakan Screen Capture yang terdapat dalam perangkat lunak
GoogleEarthWinPro, diperoleh bentuk citra dari daerah penelitian.
9. Mozaiking dilakukan dengan bantuan perangkat lunak Gimp portable .2.2.17.
10. Koreksi Geometri dilakukan dengan menggunakan Georefrencing pada Arc Map 9.2.
11. Pembuatan Peta Penggunaan Lahan menggunakan digitizing on screen dilingkungan
ArcMap 9.2

4.2.2.3. Pembuatan Peta Kemampuan Tanah


Pembuatan Peta Kemampuan Tanah menggunakan digitizing on screen, raster to
vektor dilingkungan ArcMap 9.2 dengan sumber peta kemampuan tanah Skala 1 : 12.500
Bappeda Kulonprogo.

4.2.2.4. Pembuatan Peta Daerah Aliran Sungai dan Analisis Inflow


6. Bersumber dari Peta Jaringan Drainase dan Irigasi Kab. Kulonprogo dan Peta Rupa
Bumi Indonesia skala 1 : 25000 untuk mengetahui sungai dan penggunaan lahan
(pengunaan lahan untuk mencari koefisien pengaliran gabungan).
7. Mengunakan Spatial Analyst untuk mendapatkan daerah sub DAS dengan
mendeliniasi igir dari bukit atau daerah tertinggi.
8. Menghitung laju inflow di tiap subDAS pada bulan basah menggunakan persamaan
rasional.

4.2.2.5. Pembuatan Peta Potensi Banjir Kecamatan Panjatan Kulonprogo.


c) Penyusunan tingkat potensi banjir dilakukan setelah menginventaris permasalahan
banjir pada daerah penelitian yang semata-mata oleh kondisi fisik daerah. Oleh karena
itu parameter yang digunakan adalah parameter tanah (tekstur dan kedalam tanah),
kemiringan lereng dan aspek, penggunaan lahan (koefisien limpasan)
d) Peta ini diperoleh menggunakan metode skoring parameter yang disesuaikan dengan
bobotnya yang didasarkan pada proporsi pengaruh tiap parameter terhadap kejadian
banjir. (KKN – Tematik UGM, 2005., dalam Digi Tritama, 2007)
e) Nilai rupa bumi memiliki bobot tertinggi, dengan parameternya slope dan aspek.
Kelas Kemiringan Lereng
0 – 0.57 harkat 1
0.58 – 1.43 harkat 2
1.44 – 2.66 harkat 3
2.67 – 5.71 harkat 4
5.72 – 12.13 harkat 5

Aspek
Kosong harkat 1
Nila harkat 2

Permukaan bumi diperoleh dengan mengkalikan nilai kemiringan lereng dan aspek
lereng, nilai tertinggi 10 dan nilai terendah 1
Tabel IV.1. Kelas Lereng
Deskripsi Lereng Nilai lereng (Slope*Aspek) Harkat
Agak cekung 1-2 1
Sangat Landai 3-4 2
Landai 5-6 3
Agak miring 7-8 4
Miring 9-10 5
Sumber : KKN ,Tematik, FGE UGM., 2005 dalam Digi Tritama 2007.
d) Nilai penggunaan lahan dilihat dari nilai koefisien limpasan yang dihasilkan, semakin
tinggi nilai koefisien semakin besar kemungkinan teregnang.
Tabel IV.2. Penggunaan Lahan
Penggunaan Lahan C Harkat
Belukar 0.30 1
Pemukiman Kepadatan Rendah 0.40 2
Sawah 0.55 3
Tanah Kosong 0.80 4
Pusat Perdagangan 0.90 5
Sumber : KKN ,Tematik, FGE UGM., 2005 dalam Digi Tritama 2007.

c) Nilai kemampuan tanah dilihat dari parameter tekstur dan ketebalan tanah
Tekstur Tanah
Geluh harkat 1
Geluh Lempungan harkat 2
Geluh Pasiran harkat 3
Lempung Pasiran harkat 4
Pasiran harkat 5

Solum Tanah
0 cm -30 cm harkat 1
30 cm – 60 cm harkat 2
60 cm – 90 cm harkat 3
90 cm – 150 cm harkat 4
>150 cm harkat 5

Kemampuan tanah diperoleh dengan mengkalikan harkat tekstur dengan ketebalan


tanah, dengan nilai tertinggi 25 dan nilai terendah 1.
Tabel IV.3. Kemampuan Tanah Menyerap Air
Kelas Infiltrasi Tanah Nilai Infiltrasi (Tekstur * Solum) Harkat
Sangat buruk 1-5 1
Buruk 6-10 2
Sedang 11-15 3
Baik 16-20 4
Sangat Baik 21-25 5
Sumber : KKN ,Tematik, FGE UGM., 2005 dalam Digi Tritama 2007.
Tabel IV.4 Pembobotan Karakteristik Lahan Terhadap Genangan

No Komponen Lahan Bobot Harkat


Maximum Minimum
1 Topografi 3 15 3
2 Penggunaan Lahan 1 5 1
3 Tanah 2 10 2
Jumlah 40 8

Sumber : KKN ,Tematik, FGE UGM., 2005 dalam Digi Tritama 2007.

Untuk menentukan kelas lahan terhadap genangan, digunakan teknik penjumlahan


berdasarkan metode Sturges sebagai berikut :
Interval Harkat = (Harkat Maksimal – Harkat Minimal) / n
maka = (30 – 6)/ 5 = 4.8
Berdasarkan hasil perhitungan kelas maka ditentukan rentang harkat pada masing-masing
kelas genangan sebagai berikut :
Tabel IV.5 Klasifikasi Potensi Banjir

No. Interval Kelas Deskripsi Kelas potensi Banjir


1 6 – 10 Sangat Tinggi
2 10.1 – 15 Tinggi
3 15.1 -20 Sedang
4 20.1-25 Rendah
5 25.1 – 30 Sangat Rendah
Sumber : KKN ,Tematik, FGE UGM., 2005 dalam Digi Tritama 2007.

Tabel diatas akan ditambahkan dengan jumlah inflow dari keseluruhan DAS untuk
mendapatkan luasan area genangan (Ha).

4.2.3. Analisa Hidrologi


4. Melakukan analisa frekuensi curah hujan dengan metode gumbel modifikasi, log
pearson type III, dan iway kadoya. Dari ketigaa metode tersebut dipilih metode yang
paling sesuai dengan metode chi kuadrat (chi square)
d) Mengubah data curah hujan menjadi intensitas hujan dengan menggunakan metode
van breen, bell tanimoto, dan hasper der weduwen.
e) Menetapkan persamaan intensitas hujan.
4.2.4. Tahap Perencanaan atau Desain
4.2.4.1. Dasar-dasar Perencanaan
5 Teori yang mendukung perencanaan sistem drainase.
6 Kriteria desain ideal jaringan drainase yang digunakan.

4.2.4.2. Perencanaan Teknis


f) Perhitungan debit limpasan (Q)
g) Perhitungan dimensi saluran (dimensionering)
h) Perhitungan dimensi bangunan pelengkap (gorong-gorong, street inlet, terjunan, dan
outfall).
i) Usaha konservasi air, dan dimensi bidang resapan.
j) Spesifikasi teknis dan rencana anggaran biaya.
k) Desain dan detail gambar.
l) Pembuatan laporan akhir.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Analisis GIS Untuk Identifikasi Daerah Banjir


5.1.1. Mozaiking, Koreksi Geometrik dan Penggunan Lahan Daerah Penelitian.
Untuk mengetahui kondisi daerah perencanaan terkini digunakan citra satelit
Image digital Globe-GoogleEathWinPro. Dengan terlebih dahulu melakukan koreksi
radiometrik, mozaiking dan koreksi geometrik.
Koreksi radiometrik dilakukan agar distorsi yang terjadi pada saat pengambilan
objek dapat diminimalisir, dan memperjelas penampakan objek di citra. Karena
menggunakan citra satelit dengan panjang gelombang pankromatik dengan skala sedang,
maka tidak terlalu sulit untuk mengenali sebuah bentuk objek.
Proses mozaiking dilakukan untuk mendapatkan luasan daerah yang
dibutuhkan, dan bisa dibandingkan dengan peta dasar sebagai sesama bahan dasar untuk
pembuatan model wilayah banjir.
Proses geometrik yang dilakukan mengambil 20 titik sampling yang terdapat
dicitra dengan mencocokan dan meregister skala di lapangan dari peta RBI skala 1
:12.5000. dari proses ini di peroleh peta foto daerah perencanaan, dimana setiap titik pada
daerah tersebut memiliki nilai koordinat. Dari citra yang telah terkoreksi dapat digunakan
menjadi acuan untuk pembuatan peta penggunaan lahan daerah perencanaan. Klasifikasi
bentuk penggunaan lahan disesuaikan dengan Tabel III.10 dan III.11 yang secara spesifik
terhubung dengan koefisisen limpasan permukaan, adapun dari hasil interpretasi didapat
bentuk penggunaan lahan berupa sawah/pertanian padi luasan sebesar 50 %, pemukiman
dengan kepadatan rendah dengan luasan sebesar 30 %, tanah kosong dengan luasan sebesar
7 %, dan semak belukar denagn luasan sebesar 13 %. untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada Gambar 5.1 dan 5.2.
5.1.2. Bentuk Rupa Bumi Daerah Perencanaan
Untuk bentuk rupa bumi daerah perencanaan beberapa informasi awal yang
ditemukan, banjir pada daerah Kab. Panjatan selain karena jaringan sistem drainasenya
yang kurang baik juga memang di sebabkan bentuk rupa bumi panjatan yang berupa
cakungan.
Dari hasil pembuatan bentuk permukaan bumi dari daerah perencanaan yang
mengambil penampang melintang dari titik ekstrem, nilai kemiringan lereng dan nilai
aspek kelerengan ditemukan zona cekungan meliputi Desa Panjatan, Desa Tayuban, Desa
Depok dan Desa Kanoman. Bentuk permukaan bumi memiliki faktor yang signifikan untuk
menentukan arah aliran, bentuk aliran selain bentuk pengunan lahan. Arah lereng yang
akan menentukan kemana arah aliran bisa diperoleh dari nilai aspek kelerengan dari daerah
perencanaan. Nilai aspek didapat dengan menggunakan analisa 3D dengan menurunkan
nilai ketinggian yang telah membentuk interpolasi permukaan bumi. .
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 5.3 Peta lereng daerah
penelitian dan Gambar 5.4 Penampang melintang daerah penelitian.
Gambar 5.4 Profile Lereng Panjatan (potongan A - A')

5.1.3. Kemampuan Infiltrasi Daerah Perencanaan


Dari Peta Kelas Infiltrasi yang dibuat berdasarkan dengan keadaan ketebalan
tanah (solum), lereng dan tekstur tanah, pada daerah utara memiliki kemampuan infiltrasi
yang lebih kecil dengan wilayah tengah. Selain karena ketebalan tanh yang relatif sedang,
(60 – 90 cm) daerah tersebut juga memiliki kemiringan lereng yang lebih tinggi dari daerah
lainnya. Sebaliknya pada daerah selatan kemampuan infiltrasi relatif baik, karena tekstur
tanah yang berupa pasiran, juga memiliki kemiringan lereng yang landai. Dari perpaduan
tersebut antara lereng, solum tanah, dan infiltrasi tanah, pada daerah perencanaan terbagi
menjadi 4 kelas, sebagaimana bisa dilihat pada gambar 5.5. Peta kelas infiltrasi tanah.
5.1.4. Identifikasi Potensi Genangan.
Dari empat parameter diatas yaitu tanah (ketebalan tanah, dan solum tanah),
rupabumi (aspek, dan kemiringan lereng) dan penggunaan lahan daerah penelitian maka
dapat diidentifiksi daerah lokal yang berpotensi untuk tergenang. Metode yang digunakan
sebagaimana diuraikan pada BAB IV mengunakan skoring dan pembobotan maka
diperoleh Peta Daerah Potensial Genangan. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada Gambar
5.6 berikut ini :
5.1.5. Analisi Inflow
Analisis Inflow dilakukan untuk mencari hubungan antara area potensi
genangan dan debit yang masuk pada saat bulan basah (Nopember, Desember, Januari,
Februari, dan Maret). Banjir tahunan terjadi di daerah kecamatan panjatan memang hanya
terjadi pada saat musim penghujan saja dimana curah hujan begitu tinggi dan melewati
kemampuan infiltrasi dari area tangkapan.
Secara general dilakukan perhitungan pada dua Daerah Aliran Sungai, yaitu
Sungai Progo dan Sungai Serang. Untuk perhitungan curah hujannya mengunakan Curah
Hujan Rata-Rata selama 5 bulan yang diambil dari stasiun pengamatan hujan Galur,
Sentolo, Kokap, Girimulyo, Samigaluh, Kalibawang, Lendah, Panjatan, Temon, Pengasih
dan Nanggulan dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Untuk melihat lokasi penelitian,
posisi Sta. Pengamat hujan, dan poligon thiessen lebih jelasnya bisa dilihat di gambar 5.7
Tabel V.1 Rata-rata Curah Hujan Bulan Nopember

NOPEMBER
Stasiun Tahun Jumlah Rata-rata
2001 2002 2003 2004 2005 mm/bulan
Galur 271 175 345 210 237 1238 248
Sentolo 140 124 240 156 220 880 176
Kokap 443 184 219 229 399 1474 295
Girimulyo 244 194 257 198 334 1226 245
Samigaluh 155 380 205 181 575 1496 299
Kalibawang 146 254 261 - 366 1027 257
Lendah 271 175 345 853 237 1881 376
Panjatan 268 130 215 85 - 698 174
Temon 499 327 379 128 300 1633 327
Pengasih 141 124 240 74 275 854 171
Nanggulang 102 130 118 137 535 1022 204
Sumber : Hasil Perhitungan

Tabel V.2 Rata-rata Curah Hujan Bulan Desember

DESEMBER
Stasiun Tahun Rata-rata
Jumlah
2001 2002 2003 2004 2005 mm/bulan
Galur 494 639 595 271 211 2210 442
Sentolo 407 284 476 183 160 1510 302
Kokap 532 506 517 389 360 2303.5 460.7
Girimulyo 454 490 419 262 206 1831.6 366.324
Samigaluh 497 631 403 470 75 2075.5 415.1
Kalibawang 317 494 272 397 166 1646 329.2
Lendah 494 634 595 208 113 2043.6 408.72
Panjatan 401 270 150 109 - 929 232.25
Temon 667 625 546 232 288 2357.7 471.54
Pengasih 407 284 476 114 141 1422 284.4
Nanggulang 320 411 166 276 131 1304 260.8
Sumber : Hasil Perhitungan
Tabel V.3 Rata-rata Curah Hujan Bulan Januari

JANUARI
Stasiun Tahun Rata-rata
Jumlah
2005 2004 2003 2002 2001 mm/bulan
Galur 453 278 305 457 695 2188 365
Sentolo 287 279 216 335 347 1906 318
Kokap 296 273 405 689 567 2532 422
Girimulyo 359 648 301 383 466 2618 436
Samigaluh 356 348 303 384 269 2026 338
Kalibawang 272 353 526 338 219 2123 354
Lendah 449 301 299 414 581 2373 396
Panjatan 197 102.7 226 127 215 1275 213
Temon 678 416.5 382 454 419 2582 430
Pengasih 287 279 216 261 417 1932 322
Nanggulang 318 3337 132 181 791 4759 793
Sumber : Hasil Perhitungan

Tabel V.4 Rata-rata Curah Hujan Bulan Februari

FEBRUARI
Stasiun Tahun Rata-rata
Jumlah
2005 2004 2003 2002 2001 mm/bulan
Galur 275 289 38 334 396 1332 266
Sentolo 183 187 501 323 274 1468 294
Kokap 241 282.5 275 210 522 1531 306
Girimulyo 266 343 352 347 328 1635 327
Samigaluh 487.5 422 406 555 248 2119 424
Kalibawang 197 243 537 470 298 1745 349
Lendah 275 359 382 278 396 1690 338
Panjatan 255 179.5 268 117 130 950 190
Temon 336 389.5 376 201 262 1565 313
Pengasih 183 191 501 205 213 1293 259
Nanggulang 230 296 231 442 570 1769 354
Sumber : Hasil Perhitungan
Tabel V.5 Rata-rata Curah Hujan Bulan Maret
Rata – Rata Curah Hujan
Stasiun Nopember Desember Januari Februari Maret
mm/bulan mm/bulan mm/bulan mm/bulan mm/bulan
Galur 248 442 365 266 341
Sentolo 176 302 318 294 208
Kokap 295 460.7 422 306 275
Girimulyo 245 366.324 436 327 283
Samigaluh 299 415.1 338 424 373
Kalibawang 257 329.2 354 349 340
Lendah 376 408.72 396 338 352
Panjatan 174 232.25 213 190 136
Temon 327 471.54 430 313 247
Pengasih 171 284.4 322 259 208
Nanggulang 204 260.8 793 354 405
Sumber : Hasil Perhitungan

Tabel V.6 Rata-rata Curah Hujan Bulan Basah


MARET
Stasiun Tahun Rata-rata
Jumlah
2005 2004 2003 2002 2001 mm/bulan
Galur 311 531 261 212 388 1703 341
Sentolo 109 267 174 245 247 1042 208
Kokap 156 278 219 314 406 1373 275
Girimulyo 192 360 253 191 419 1415 283
Samigaluh 225.5 575.5 543 79 441 1864 373
Kalibawang 154 306 508 230 501 1699 340
Lendah 362 560 261 220 357 1760 352
Panjatan 103 202 159 75 141 680 136
Temon 249 429 - 104 206 988 247
Pengasih 109 246 174 249 260 1038 208
Nanggulan 141 320 232 241 1092 2026 405
Sumber : Hasil Perhitungan

Untuk mencari koefisien alimpasan permukaan rata-rata menggunakan Peta


Rupa Bumi Indonesia skala 1 : 25000. Untuk lebih jelas lokasi stasiun, DAS, dan Sub Das
terhadap lokasi penelitian bisa dilihat pada gambar berikut.
Untuk menghitung debit inflow selama bulan basah yang masuk kedalam lokasi
penelitiandan menyebabkan banjir menggunakan persamaan (3-56) dan (3-57).
Tabel V.7 Analisis Inflow Pada Bulan Basah
Luas Luas CURAH HUJAN RATA-RATA I NF L OW Total Keterangan
Koefisien
No Stasiun ID Ha Ha Nopember Desember Januari Februari Maret Nopember Desember Januari Februari Maret Progo SERANG
Progo Serang Aliran mm/bln mm/bln mm/bln mm/bln mm/bln m 3/bulan m /bulan m 3/bulan
3
m 3/bulan m 3/bulan M3 M3
1 SAMIGALUH 1 6810.8 0.58 299 415.1 338 424 373 118113.41 163976.18 133409.2 167373.42 147266 730138.7
2 SAMIGALUH 5 3.02 0.58 299 415.1 338 424 373 52.37284 72.708916 59.15515 74.215292 65.2996 323.7518
3 SAMIGALUH 7 2305.7 0.58 299 415.1 338 424 373 39984.929 55510.85 45163 56660.918 49854.1 247173.8
4 SENTOLO 6 2745.1 0.61 176 302 318 294 208 29471.286 50570.048 53193.44 49163.464 34896.7 217294.9
5 SENTOLO 7 563.17 0.61 176 302 318 294 208 6046.1931 10374.718 10912.92 10086.149 7159.24 44579.22
6 SENTOLO 9 3075.1 0.61 176 302 318 294 208 33014.703 56650.229 59589.04 55074.527 39092.4 243420.9
7 SENTOLO 10 2487.2 0.61 176 302 318 294 208 26702.472 45819.014 48195.94 44544.578 31618.2 196880.2
8 SENTOLO 11 1671.9 0.61 176 302 318 294 208 17949.089 30799.005 32396.75 29942.344 21253.4 132340.5
9 SENTOLO 12 8.16 0.61 176 302 318 294 208 87.60576 150.32352 158.1218 146.14234 103.733 645.9266
10 SENTOLO 13 1791.2 0.61 176 302 318 294 208 19230.323 32997.486 34709.28 32079.676 22770.5 141787.2
11 SENTOLO 15 371.76 0.61 176 302 318 294 208 3991.2154 6848.5627 7203.841 6658.0729 4725.96 29427.65
12 TEMON 14 505.74 0.55 327 471.54 430 313 247 9095.7339 13116.215 11968.86 8703.5325 6870.48 49754.82
13 KOKAP 12 2223.3 0.57 295 460.7 422 306 275 37384.285 58382.848 53478.54 38790.948 34799.1 222835.7
14 KOKAP 14 220.65 0.57 295 460.7 422 306 275 3710.2298 5794.2469 5307.515 3849.835 3453.66 22115.48
15 LENDAH 9 674.3 0.54 376 408.72 396 338 352 13698.27 14882.394 14401.63 12308.052 12820 68110.36
16 LENDAH 11 4519.9 0.54 376 408.72 396 338 352 91820.052 99757.288 96534.72 82501.366 85933 456546.4
17 LENDAH 15 1855.7 0.54 376 408.72 396 338 352 37697.159 40955.828 39632.79 33871.328 35280.2 187437.3
18 PANJATAN 13 40.27 0.55 174 232.25 213 190 136 386.21447 514.39891 470.8107 420.8658 301.175 2093.465
19 PANJATAN 14 4840.1 0.55 174 232.25 213 190 136 46419.392 61825.972 56587.07 50584.16 36198.5 251615.1
20 PANJATAN 15 3001.5 0.55 174 232.25 213 190 136 28786.069 38340.155 35091.35 31368.768 22447.8 156034.1
21 PENGASIH 12 1631.9 0.49 171 284.4 322 259 208 13673.355 22740.948 25741.36 20677.951 16599.9 99433.54
22 PENGASIH 13 2300.5 0.49 171 284.4 322 259 208 19275.89 32058.848 36288.65 29150.556 23401.6 140175.5
23 PENGASIH 14 1045.3 0.49 171 284.4 322 259 208 8758.2335 14566.325 16488.19 13244.908 10632.8 63690.45
24 GALUR 15 6699.7 0.55 248 442 365 266 341 91383.635 162869.22 134373.2 98163.711 125505 612294.9
25 GIRIMULYO 5 67.51 0.59 245 366.324 436 327 283 975.85705 1459.1015 1737.943 1302.7927 1127.11 6602.8
26 GIRIMULYO 7 1658.9 0.59 245 366.324 436 327 283 23978.821 35853.134 42704.84 32012.305 27695.3 162244.4
27 GIRIMULYO 12 4629 0.59 245 366.324 436 327 283 66912.629 100047.76 119167.4 89329.973 77283.5 452741.2
28 KALIBAWANG 1 2877.2 0.52 257 329.2 354 349 340 38451.435 49253.745 52929.32 52216.152 50839.7 243690.3
29 KALIBAWANG 2 4772.5 0.52 257 329.2 354 349 340 63779.289 81697.05 87793.72 86610.786 84327.6 404208.5
30 KALIBAWANG 3 2290 0.52 257 329.2 354 349 340 30603.961 39201.65 42127.09 41559.464 40463.9 193956.1
31 KALIBAWANG 4 2520.1 0.52 257 329.2 354 349 340 33678.616 43140.08 46359.42 45734.775 44529.2 213442.1
32 KALIBAWANG 5 1393.2 0.52 257 329.2 354 349 340 18618.324 23848.841 25628.57 25283.249 24616.8 117995.7
33 KALIBAWANG 6 1607.5 0.52 257 329.2 354 349 340 21483.031 27518.342 29571.91 29173.454 28404.4 136151.1
34 KALIBAWANG 8 2618.8 0.52 257 329.2 354 349 340 34998.178 44830.351 48175.83 47526.708 46273.9 221804.9
35 NANGGULAN 5 2364.8 0.6 204 260.8 793 354 405 28945.642 37005.016 112542.7 50200.824 57494 286188.2
36 NANGGULAN 6 4627.9 0.6 204 260.8 793 354 405 56645.986 72418.005 220243.7 98241.91 112514 560064
37 NANGGULAN 7 1431.9 0.6 204 260.8 793 354 405 17526.211 22406.058 68143.17 30395.949 34811.9 173283.3
38 NANGGULAN 8 1240.3 0.6 204 260.8 793 354 405 15181.027 19407.901 59024.93 26328.664 30153.7 150096.2
39 NANGGULAN 9 675.64 0.6 204 260.8 793 354 405 8269.8336 10572.415 32153.71 14342.486 16426.2 81764.6
40 NANGGULAN 12 155.86 0.6 204 260.8 793 354 405 1907.7264 2438.8973 7417.377 3308.5961 3789.27 18861.87
Luas Total 66559 19764 Total Inflow 6244067 1495178

Sumber : Hasil Perhitungan


Contoh Perhitungan ID 1 Stasiun Samigaluh :
Luas = 6810.83 Ha
Koefisien aliran gabungan = 0.58
Curah Hujan Rata-rata bulan Nopember = 299 mm/bulan
Q Nopember = 0,1 * 6810.83 Ha * 0.58 * 299 mm/bulan
= 118113,41 M3/bulan
Total Volume = 118113.41+ 163976.18 + 133409.17 + 167373.42+ ....
= 730.138.68 M3

Berdasarkan tabel V.7 diperoleh laju inflow untuk DAS Progo dengan luas
wilayah 66.529, 27 Ha sebesar 6.244.067,42 M3 .dan DAS Serang dengan luas 19. 763 Ha
sebesar 1.495.177.94 M3, sebagaimana bisa dilihat pada gambar 5.8.
Untuk menghitung laju Inflow yang masuk kedalam daerah panjatan perlu
melihat dulu kenampakan 3D antar Sub DAS dan area penelitian, juga bentuk aliran
sungainya, sebagaimana gambar berikut.

Gambar 5.9. 3-D Daerah Aliran Sungai Lokasi Penelitian

Keterangan :
Sungai
DAS Progo
DAS Serang

Maka Inflow Total adalah Inflow DAS Progo ditambah Inflow DAS Serang
= 6.244.067.42 M3 + 1.495.177.94 M3
= 7.739.245 M3

5.1.6 Identifikasi Banjir Kecamatan Panjatan


Dengan diperolehnya debit limpasan, menggunakan metode perhitungan
volume surfaces dimana surfacesnya berupa TIN yang telah digenerate dari Peta RBI
sebagai perwakilan rupa bumi, dapat dihitung volume area.
Gambar 5.10 TIN Daerah Panjatan

TIN yang mewakili surfaces, Peta Potensi Genangan, dan debit limpasan
sebesar 7.739.245 M3 maka diperoleh nilai luasan (Ha) daerah banjir di Kecamatan
Panjatan. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar 5.11 dan 5.12, lokasi banjir dan
model 3 D banjir Kecamatan Panjatan sebagai berikut :
Gambar 5.12. 3-D Visualisasi Banjir Daerah Panjatan

Dari Peta Banjir Tahunan yang dibuat maka di identifkasi luas area banjir
tahunan di Kecamatan Panjatan adalah sebesar 570,8631 Ha, yang meliputi Desa Gotakan,
Desa Kanoman, Desa Panjatan, Desa Cerme, Desa Kanoman, Desa Depok dan Desa
Bugel. Dari tujuh desa tersebut yang terparah adalah Desa Gotakan, Desa Cerme, Desa
Panjatan, Dan Desa Kanoman.
Dilihat dari seluruh metode yang digunakan banjir di Kecamatan Panjatan
sangat basar di pengaruhi oleh topografi daerah tersebut yang terdapat cekungan.
Sedangakan bila musim kemarau sangat dimungkinkan pada daerah tersebut terjadi
kesulitan air bersih. Atas dasar itu salah satu cara alternatif yang mungkin dilakukan adalah
membangun lokasi kolam penahan air hujan sehingga banjir bisa dihindari pada saat
musim hujan dan pada saat musim kemarau daerah tersebut tidak dilanda kekeringan.

5.1.7. Rekomendasi Lokasi Kolam Penahan Hujan.


Untuk mengurangi besarnya inflow yang masuk kedalam lokasi penelitian maka
diperlukan kolam penahan air hujan. Berdasarkan kemiringan lereng, penggunaaan lahan
dan kerapatan aliran maka direkomendasikan untuk membangun tiga kolam penahan air
hujan. Adapun lokasi nya dapat dilihat pada gambar 5.13.
5.2 Analisis Hidrologi
5.2.1. Penyiapan Data Curah Hujan
Penentuan stasiun utama menggunakan metode polygon thiessen, dengan terlebih
dahulu mensurvey titik stasiun curah hujan menggunakan GPS (global positioning system)
untuk diplotkan pada koordinat peta. Dari hasil yang diperoleh dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel V.8 Koordinat Stasiun Hujan
No. Nama Stasiun Koordinat

1 Panjatan 110.1617 , -7.8964

2 Temon 110.0819 , -7.8865

3 Pengasih 110.1693 , -7.8391

4 Sentolo 110.2205 , -7.8319

5 Galur 110.2330 , -7.9402


Sumber : Pengukuran Lapangan
Dari data diatas setelah diplot kedalam peta dasar, daerah perencanaan tepat
berada pada stasiun panjatan, dan sepenuhnya dipengaruhi oleh stasiun tersebut, sehingga
dengan ini maka ni maka stasiun Panjatan terpilih sebagai stasiun utama (Gambar 5.7
Daerah Aliran Sungai dan Lokasi Penelitian)

5.2.2. Melengkapi Data Curah Hujan


Dari data curah hujan yang ada perhitungan dilakukan dengan menggunakan
persamaan (3-1) sebagai berikut :
Dikarenakan tidak terdapatnya data pada stasiun Panjatan, stasiun Pengasih dan stasiun
Temon dari tahun 1985 -1996 di karenakan stasiun-stasiun tersebut baru berdiri tahun
1996, maka pencarian data curah hujan di pisah dengan menggunakan 2 stasiun yang
lengkap data curah hujannya yaitu stasiun Galur dan stasiun Sentolo.
R = (163.91+193.27+135. 2+208.4+242) / 5
= 188.56
S = (((163.91-188.56)2+(193.27-188.56)2+(135.2-188.56)2+(208.4-188.56)2 + (242-
188.56)2/4)0.5
= 41.01
Perbedaan curah hujan harian normal, Δ = (41.01/188.56)*100 % = 21 %
Karena lebih dari 10 % maka mencari data curah hujan yang hujan menggunakan
persamaan (3-2)
Contoh perhitungan : Tahun 1985, Stasiun B:
Tahun 1985 1 160 393
=
132 3− 1 193 164
Tahun 1985
= 1,613
132
Tahun 1985 = 212 , 916 = 213

Tabel V.9 Melengkapi Data Curah Hujan Yang Hilang


Satsiun A Stasiun B Stasiun C Stasiun D Stasiun E
No Tahun
Galur Panjatan Pengasih Sentolo TeMon
1 1985 160 213 336 393 384
2 1986 181 166 261 258 299
3 1987 153 128 201 187 230
4 1988 183 148 233 212 267
5 1989 190 132 208 167 238
6 1990 151 117 184 162 211
7 1991 106 97 154 152 176
8 1992 170 130 205 178 234
9 1993 145 110 173 150 198
10 1994 192 112 176 114 201
11 1995 234 161 254 202 291
12 1996 183 114 180 129 206
13 1997 94 22 78 71 85
14 1998 282 115 258 177 419
15 1999 252 295 73 118 309
16 2000 310 158 234 173 333
17 2001 253 79 866 175 228
18 2002 193 87 92 115 114
19 2003 173 163 165 165 132
20 2004 229 138 113 99 225
21 2005 258 184 107 109 380
22 2006 160 111 98 100 195
Jumlah 4252 2980 4649 3606 5355
R Rata 193.27 135.45 211.32 163.91 243.41
Sumber : Hasil Perhitungan
5.2.3 Tes Konsistensi
Untuk setiap stasiun pembanding akan dicari harga rata-rata dari stasiun dasar.
Kemudian di cari akumulasi rata-rata dari bawah baik untuk stasiun utama maupun stasiun
dasar.
Contoh perhitungan:
Untuk tahun 2004, maka :
Rerata stasiun dasar dari bawah = (229+113+99+225) / 4 = 166.5
Akumulasi rerata untuk stasiun dasar dari bawah :
10. Stasiun dasar = 138.25+213.5 +166.5 = 518.25
11. Stasiun utama = 111+184+138 = 433

Data akumulasi tersebut diplot sebagai grafik dengan akumulasi rerata stasiun dasar
pada sumbu X, dan akumulasi stasiun utama sebagai sumbu Y, sehingga di peroleh
pola/tren garis lurus.
Tabel V.10. Perhitungan Tes Konsistensi Untuk Stasiun Panjatan
CURAH HUJAN HARIAN MAKSIMUM Akumulasi Rerata
Rerata
(mm/hari) Dari Bawah
No. Tahun
Stasiun Stasiun Dasar Stasiun Stasiun Stasiun
Utama Galur Pengasih Sentolo Temon Dasar Dasar Utama
1 1985 213 160 336 393 384 318.25 4465.5 2980
2 1986 166 181 261 258 299 249.75 4147.25 2767
3 1987 128 153 201 187 230 192.75 3897.5 2601
4 1988 148 183 233 212 267 223.75 3704.75 2473
5 1989 132 190 208 167 238 200.75 3481 2325
6 1990 117 151 184 162 211 177 3280.25 2193
7 1991 97 106 154 152 176 147 3103.25 2076
8 1992 130 170 205 178 234 196.75 2956.25 1979
9 1993 110 145 173 150 198 166.5 2759.5 1849
10 1994 112 192 176 114 201 170.75 2593 1739
11 1995 161 234 254 202 291 245.25 2422.25 1627
12 1996 114 183 180 129 206 174.5 2177 1466
13 1997 22 94 78 71 85 82 2002.5 1352
14 1998 115 282 258 177 419 284 1920.5 1330
15 1999 295 252 73 118 309 188 1636.5 1215
16 2000 158 310 234 173 333 262.5 1448.5 920
17 2001 79 253 866 175 228 380.5 1186 762
18 2002 87 193 92 115 114 128.5 805.5 683
19 2003 163 173 165 165 132 158.75 677 596
20 2004 138 229 113 99 225 166.5 518.25 433
21 2005 184 258 107 109 380 213.5 351.75 295
22 2006 111 160 98 100 195 138.25 138.25 111
Σ=2980 Σ=4465.5
Kurva Massa Ganda Stasiun Panjatan

4500
4250
4000

Kumulatif Rerata Stasiun Dasar (mm/hari)


3750
3500
3250
3000
2750
2500
2250
2000
1750
1500
1250
1000
750
500
250
0
0 500 1000 1500 2000 2500 3000
Kumulatif Rerata Stasiun Utama (mm/hari)

Gambar 5.13 Kurva Massa Ganda Stasiun Panjatan


Dari grafik kurva massa ganda (gambar 4.1), perubahan pola terjadi pada tahun 2002
(2001-2002), 2001(2000-2001), 2000 (1999-2000), 1999 (1997-1999), dan tahun 1997
(1985-1997).
tan α0 = 0.45
Pada perubahan pola/tren pertama tan α1 = 1.8
Pada perubahan pola/tren kedua tan α2 = 0.625
Pada perubahan pola/tren ketiga tan α3 = 0.571
Pada perubahan pola/tren keempat tan α4 = 1.125
Pada perubahan pola/tren kelima tan α5 = 0.53
Dengan persaman (2-6), diperoleh faktor koreksi
fk1 = 0.45/1.8 = 0.25
fk2 = 0.45/0.625 = 0.72
fk3 = 0.45/0.571 = 0.78
fk4 = 0.45/1.125 = 0.4
fk5 = 0.45/0.53 = 0.85

Selanjutnya pada tahun 2002 (2001-2002), 2001(2000-2001), 2000 (1999-2000), 1999


(1997-1999), dan tahun 1997 (1985-1997) harus dikoreksi dengan fk.

Tabel V.11 Data Curah Hujan Yang Telah Dikoreksi


No. Tahun Xi Faktor Koreksi Xi*FK R (mm/hari)
1 1985 213 0.85 181.05 181
2 1986 166 0.85 141.10 141
3 1987 128 0.85 108.80 109
4 1988 148 0.85 125.80 126
5 1989 132 0.85 112.20 112
6 1990 117 0.85 99.45 99
7 1991 97 0.85 82.45 82
8 1992 130 0.85 110.50 111
9 1993 110 0.85 93.50 94
10 1994 112 0.85 95.20 95
11 1995 161 0.85 136.85 137
12 1996 114 0.85 96.90 97
13 1997 22 0.85 18.70 19
14 1998 115 0.4 46.00 46
15 1999 295 0.4 118.00 118
16 2000 158 0.78 123.24 123
17 2001 79 0.72 56.88 57
18 2002 87 0.25 21.75 22
19 2003 163 1 163 163
20 2004 138 1 138 138
21 2005 184 1 184 184
22 2006 111 1 111 111
Sumber : Hasil Perhitungan
Data curah hujan yang telah terkoreksi akan dipakai untuk analisis selanjutnya

5.2.4. Tes Homogenitas


Dalam pengukuran data curah hujan bisa terjadi gangguan-gangguan yang
disebabkan keadaan atmosfer, maupun adanya keadaan penting yang menyebabkan
terjadinya hujan buatan, untuk itu dilakukan tes homogenitas untuk suatu kumpulan data.

Uji coba pertama dilakukan pada data curah hujan 20 tahun terakhir.
Tabel V.12 Data Curah Hujan Maksimum 20 Tahun Terakhir
No. Tahun R (mm/hari)
1 1987 109
2 1988 126
3 1989 112
4 1990 99
5 1991 82
6 1992 111
7 1993 94
8 1994 95
9 1995 137
10 1996 97
11 1997 19
12 1998 46
13 1999 118
14 2000 123
15 2001 57
16 2002 22
17 2003 163
18 2004 138
19 2005 184
20 2006 111
Jumlah 2043
Rata-rata 102.15
SD 42.2
Sumber : Hasil Perhitungan

Dengan persamaan (3-18) maka persamaan Gumbel modifikasinya adalah :


Rt = R + (0.78 Yt -0.45) σR
=102.15 + (0.78 Yt -0.45) 42.2
= 83.16 + 32.91Yt
Untuk T = 10 tahun dan dari persamaan (3-13), maka
Y10 = -ln(ln(Tr/(Tr-1)))
= -ln(ln(10/(10-1)))
= 2.2504
R10 = 83.16+32.91 (2.2504) = 157.22

Untuk Rt = 102.15
Yt = (102.15 – 83.16) / 32.91 = 0.5770
0.5770= -ln(ln(Tr/(Tr-1))) ; Tr = 2.33
Dengan persamaan (3-12), maka
TR = (R10 / R) Tr
= (157.22/102.51)2.33
= 3.57
Titik (20, 3.57) homogen

5.2.5 Analisis Frekuensi Curah Hujan


5.2.5.1. Metode Gumbel Modifikasi
7 Jumlah data = (N) = 20
8 Rata-rata =R = 102.15
9 Standar deviasi = SD = 42.2
10 Keyakinan =a = 90 %
11 Fungsi a = t(a) = 1.640

Contoh perhitungan (untuk PUH 2 Tahun)


Dengan mengunakan persamaan (3-12), maka :
Yt = -ln (ln(2/(2-1))) = 0.37
Dengan persamaan (3-21), (3-22), dan (3-23) maka diperoleh harga K, b, dan Se, sebagai
berikut :
K = (0.78*0.37)-0.45 = -0.16
b = ((1+(1.3*(-0.16))+(1.1*(-0.162)))0.5 =0.90
Se = 0.90 *42.2/( 200.5 ) = 8.53
Dengan persamaan Gumbel modifikasi (3-18), diperoleh :
R = 102.15 + ((0.78*0.37)-0.45)*42.2 = 95.22
Keyakinan 90 % = 1.64 *8.53 = 13.98
Sehingga diperoleh rentang Hujan Harian Makimum = 95.22 ± 13.98

Tabel V.13 Perhitungan Hujan Harian Maksimum Metode Log Pearson III

PUH YT K b SD Se t(a)Seujan Harian Maksimum


2 0.37 -0.16 0.90 42.2 8.53 13.98 95.22
5 1.50 0.72 1.58 42.2 14.94 24.5 132.53
10 2.25 1.31 2.14 42.2 20.17 33.09 157.23
25 3.20 2.04 2.87 42.2 27.12 44.47 188.44
50 3.90 2.59 3.43 42.2 32.37 53.09 211.6
100 4.60 3.14 3.99 42.2 37.64 61.73 234.58
Sumber : Hasil Perhitungan
Setelah dilakukan perhitungan dengan menggunakan Metode Gumbel Modifikasi diatas
maka diperoleh hari hujan maksimum pada tabel 4.7

Tabel V.14 Curah Hujan Harian Maksimum Metode Gumbel Modifikasi


PUH Rentang Hujan Harian Maksimum Keyak
2 95.22 ± 13.98
5 132.53 ± 24.5
10 157.23 ± 33.09
25 188.44 ± 44.47
50 211.6 ± 53.09
100 234.58 ± 61.73
Sumber : Hasil Perhitungan

5.2.5.1. Metode Log Pearson Tipe III


Perhitungan rata-rata nilai standar deviasi dan koefisien skew log dapat dilihat pada tabel
berikut
Tabel V.15 Perhitungan Rata-rata nilai SD, dan g
No. Tahun R (mm/hari ri Ri2 Ri3
1 1987 109 2.0374 0.0070 0.0006
2 1988 126 2.1004 0.0214 0.0031
3 1989 112 2.0492 0.0091 0.0009
4 1990 99 1.9956 0.0017 0.0001
5 1991 82 1.9138 0.0016 -0.0001
6 1992 111 2.0453 0.0083 0.0008
7 1993 94 1.9731 0.0004 0.0000
8 1994 95 1.9777 0.0006 0.0000
9 1995 137 2.1367 0.0334 0.0061
10 1996 97 1.9868 0.0011 0.0000
11 1997 19 1.2788 0.4560 -0.3079
12 1998 46 1.6628 0.0848 -0.0247
13 1999 118 2.0719 0.0139 0.0016
14 2000 123 2.0899 0.0185 0.0025
15 2001 57 1.7559 0.0393 -0.0078
16 2002 22 1.3424 0.3740 -0.2287
17 2003 163 2.2122 0.0667 0.0172
18 2004 138 2.1399 0.0346 0.0064
19 2005 184 2.2648 0.0966 0.0300
20 2006 111 2.0453 0.0083 0.0008
Jumlah 2043 39.0799 1.2771 -0.4990
Rata-rata 102.15 1.9540
SD 42.2 0.2593
G -1.675
Sumber : Hasil Perhitungan

Keterangan :
ri = Log R
Ri 2 = (ri – Rata-rata ri)2
Ri 3 = (ri – Rata-rata ri)3

Contoh Perhitungan untuk PUH 2 Tahun


untuk g = -1.675 ≈ -1.6, dari tabel 4.8 diperoleh harga K = 0.254
Dengan persamaan (3-27), didapat ;
Log RT = 1.9540+((0.254)*(0.2593)) = 2.0199
RT = anti Log 2.0199 = 104.69
Tabel V.16 Perhitungan Hujan Harian Maksimal Metode Log Pearson Type III

PUH K K.SD Log RT RT


2 0.254 0.0659 2.0199 104.69
5 0.817 0.2118 2.1658 146.49
10 0.994 0.2577 2.2117 162.82
25 1.116 0.2894 2.2434 175.15
50 1.166 0.3023 2.2563 180.43
100 1.197 0.3104 2.2644 183.82
Sumber : Hasil Perhitungan

5.2.5.2. Menggunakan Metode Iway Kadoya


Untuk mencari nilai b, data HHM diurutkan mulai paling besar sampai paling kecil
sebagaimana tabel berikut ini:

Tabel V.17 Data Hujan Harian Maksimum Yang Diurutkan

No. Tahun R (mm/hari) Tahun R (mm/hari)


1 1987 109 2005 184
2 1988 126 2003 163
3 1989 112 2004 138
4 1990 99 1995 137
5 1991 82 1988 126
6 1992 111 2000 123
7 1993 94 1987 118
8 1994 95 1999 112
9 1995 137 1989 111
10 1996 97 1992 111
11 1997 19 2006 109
12 1998 46 1990 99
13 1999 118 1996 97
14 2000 123 1994 95
15 2001 57 1993 94
16 2002 22 1991 82
17 2003 163 2001 57
18 2004 138 1998 46
19 2005 184 2002 22
20 2006 111 1997 19
Sumber : Hasil Perhitungan

Dengan menggunakan persamaan (3-28), (3-29) dan (3-30), maka harga b dapat
ditentukan.
Langkah perhitungan dan hasilnya dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel V.18. Penentuan Harga b

No Xs Xt Xs*Xt Xs+Xt (Xs*Xt)-(Xo2) 2Xo – (Xs+Xt) bi


1 184 19 3496 203 -4594.85 -23.1 198.911255
2 163 22 3586 185 -4504.85 -5.1 883.303922
Jumlah 1082.21518
b 541.11
Sumber : Hasil Perhitungan

Tabel V.19. Penentuan Harga Xo, xo, dan c


No. Tahun R (mm/hari) Log( R) (R+b) Log (R+b) Log (R+b)2
1 2005 184 2.265 725.11 2.860 8.182
2 2003 163 2.212 704.11 2.848 8.109
3 2004 138 2.140 679.11 2.832 8.020
4 1995 137 2.137 678.11 2.831 8.016
5 1988 126 2.100 667.11 2.824 7.976
6 2000 123 2.090 664.11 2.822 7.965
7 1987 118 2.072 659.11 2.819 7.947
8 1999 112 2.049 653.11 2.815 7.924
9 1989 111 2.045 652.11 2.814 7.920
10 1992 111 2.045 652.11 2.814 7.920
11 2006 109 2.037 650.11 2.813 7.913
12 1990 99 1.996 640.11 2.806 7.875
13 1996 97 1.987 638.11 2.805 7.867
14 1994 95 1.978 636.11 2.804 7.860
15 1993 94 1.973 635.11 2.803 7.856
16 1991 82 1.914 623.11 2.795 7.810
17 2001 57 1.756 598.11 2.777 7.711
18 1998 46 1.663 587.11 2.769 7.666
19 2002 22 1.342 563.11 2.751 7.566
20 1997 19 1.279 560.11 2.748 7.553
Jumlah 39.080 56.150 157.656
Log Xo 1.954
Xo 89.949
xo 2.808
'xo2 7.882
'x 2 7.883
1/c 0.030
Sumber : Hasil Perhitungan

Harga Xo dapat dicari menggunakan persamaan (3-28)


Log Xo = 39.079934/20 = 1.953997
Xo = antilog 1.953997
Harga xo dapat dicari menggunakan persamaan (3-32)
xo = 56.15/20 = 2.8075
xo2 = 2.80752 = 7.8820
Harga 1/c dapat dicari menggunakan persamaan (3-33) dan (3-34)
x2 = 157.66/20 = 7.8828
1/c = (((2.20)/(20-1))*(x2 – xo2)))0.5 = 0.04

Tabel V.20. Perhitungan Hujan Harian Maksimum Dengan Menggunakan Iwai


Kadoya

ξ (1/c)ξ Log (X+b) X+b HHM (mm/hari)


PUH (1/c)*1 Xo+(2) Antilog (3) (4)-b
1 2 3 4 5
2 2.8075 641.95 100.84
5 0.5951 0.023804 2.8313 678.11 137.00
10 0.9062 0.036248 2.8437 697.7502 156.64
25 1.2379 0.049516 2.8570 719.45 178.34
50 1.4522 0.058088 2.8656 733.84 192.73
100 1.6450 0.065800 2.8733 746.96 205.85
Sumber : Hasil Perhitungan

5.2.6. Uji Chi Kuadrat


Tabel V.21. Perhitungan Untuk Uji Chi Kuadrat
No. Tahun R (mm/hari) Log( R) Log (R+b)
1 2005 184 2.264818 2.86
2 2003 163 2.212188 2.85
3 2004 138 2.139879 2.83
4 1995 137 2.136721 2.83
5 1988 126 2.100371 2.82
6 2000 123 2.089905 2.82
7 1987 118 2.071882 2.82
8 1999 112 2.049218 2.81
9 1989 111 2.045323 2.81
10 1992 111 2.045323 2.81
11 2006 109 2.037426 2.81
12 1990 99 1.995635 2.81
13 1996 97 1.986772 2.8
14 1994 95 1.977724 2.8
15 1993 94 1.973128 2.8
16 1991 82 1.913814 2.79
17 2001 57 1.755875 2.78
18 1998 46 1.662758 2.77
19 2002 22 1.342423 2.75
20 1997 19 1.278754 2.75
Jumlah 2043 39.08 56.15
Rata-rata 102.15 1.95 2.81
Sd 42.02 0.26 0.0288
X 102.15+42.02k1.95+0.26k2.81+0.0288k
Peluang 0.2 0.2 0.2
K1 = -0.84 67 1.73 2.79
K2 = -0.25 92 1.89 2.8
K3 = 0.25 113 2.02 2.82
K4 =0.84 137 2.17 2.83
Sumber : Hasil Perhitungan

Data pengamatan yang dipakai :


12. Metode Gumbel : Xi
13. Metode Log Pearson Type III : Log Xi
14. Metode Iwai Kadoya : Log (Xi + b)

Ketiga metode dicari persamaan umumnya seperti pada persamaan (3-37)


dengan mengambil interval peluang = 0.2, dari Tabel IV.7 maka dapat dicari harga k untuk
menentukan range masing-masing sub group.

Tabel V.22. Uji Chi Kuadrat Untuk Metode Gumbel

No Batas Sub GroupJumlah Data (Oi) Ei Oi – Ei (Oi – Ei)2 (Oi – Ei)2/(Oi – Ei)
1 < 67 4 4 0 0 0
2 67-92 1 4 -3 9 2.25
3 92-113 8 4 4 16 4
4 113-137 4 4 0 0 0
5 >137 3 4 -1 1 0.25
Jumlah 20 6.5

Tabel V.23. Uji Chi Kuadrat Untuk Metode Log Pearson Type III

No Batas Sub GroupJumlah Data (Oi) Ei Oi – Ei (Oi – Ei)2 (Oi – Ei)2/(Oi – Ei)
1 <1.73 3 4 -1 1 0.25
2 1.73-1.89 1 4 -3 9 2.25
3 1.89-2.02 6 4 2 4 1
4 2.02-2.17 8 4 4 16 4
5 >2.17 2 4 -2 4 1
Jumlah 8.5
Sumber : Hasil Perhitungan

Tabel V.24. Uji Chi Kuadrat Untuk Metode Iwai Kadoya

NoBatas Sub GroupJumlah Data (Oi Ei Oi – Ei (Oi – Ei)2 (Oi – Ei)2/(Oi – Ei)
1 <2.79 4 4 0 0 0
2 2.79-2.8 1 4 -3 9 2.25
3 2.8-2.82 8 4 4 16 4
4 2.82-2.83 5 4 1 1 0.25
5 >2.83 2 4 -2 4 1
Jumlah 7.5
Sumber : Hasil Perhitungan
Dari Tabel V.18, V.19, dan V.20, χ2 hitung = 6.5, 8.5, dan 7.5, pada derjat kebebasan (dk)
5–2–1=2
Berdasarkan Tabel V.21, maka besarnya peluang untuk mencapai χ2 lebih dari 6.5, 8.5
dan 7.5 adalah lebih besar dari pada 5 %, berati semua metode yang dipakai dapat diterima,
oleh karena itu di gunakan cara lain untuk menentukan distribusi frekuensi curah hujan
maksimum (CHHM), yaitu dengan cara membandingkan ketiga metode dan di lihat
metode mana yang menghasilkan CHHM paling besar.

Tabel V.25 Perbandingan Tiga Metode Curah Hujan Maksimum


Curah Hujan Harian Maksimum
PUH Gumbel Log Pearson Iwai Kadoya
2 95.22 ± 13.98 104.69 100.84
5 132.53 ± 24.5 146.49 137.00
10 157.23 ± 33.09 162.82 156.64
25 188.44 ± 44.47 175.15 178.34
50 211.6 ± 53.09 180.43 192.73
100 234.58 ± 61.73 183.82 205.85
Sumber : Hasil Perhitungan

Dari Tabel IV.22 terlihat bahwa CHMM paling besar dihasilkan oleh Metode Gumbel,
maka atas dasar ini CHMM dari metode gumbel akan digunakan pada prencanaan
selanjutnya.

Tabel V.26. CHHM Yang Digunakan Dalam Perencanaan Drainase Panjatan

Curah Hujan Harian Maksimum


PUH (mm/hari)
2 95.22
5 132.53
10 157.23
25 188.44
50 211.6
100 234.58
Sumber : Hasil Perhitungan

5.2.7. Analisis Intensitas Hujan


5.2.7.1. Metode Van Breen
Dari persamaan (3-38), maka dapat di hitung intensitas hujan menurut metode Van Breen
Tabel V.27. Perhitungan Intensitas Hujan Menggunakan Metode Van Breen
Durasi Intensitas Hujan Menurut Metode Van Breen
(Menit) 2 5 10 25 50 100
95.22 132.53 157.23 188.44 211.6 234.58
5 148.97 155.31 158.01 160.49 161.89 163.02
10 130.13 140.11 144.56 148.76 151.18 174.23
20 103.85 117.17 123.53 129.79 133.52 136.65
40 73.97 88.27 95.69 103.41 108.23 112.4
60 57.44 70.81 78.09 85.95 90.99 95.46
80 46.95 59.11 65.96 73.53 78.5 82.96
120 34.39 44.43 50.32 57.04 61.58 65.74
240 19.08 25.46 29.41 34.11 37.4 40.52
Sumber : Hasil Perhitungan

Berikut contoh perhitungan untuk PUH 2 tahun dengan durasi 60 menit


IT = ((54 RT + (0.007 RT )2)) / ((tc+(0.31* RT ))
= ((54*95.22+ ((0.007*95.22)2) / ((60+(0.31*95.22))
= 57.44

5.2.7.2. MetodeBell Tanimoto


Karena akan di perbandingkan dengan metode Van Breen, yang menyatakan besar dan
lamanya durasi hujan harian di Indonesia (khususnya Pulau Jawa) terpusat selama 4 jam
dengan hujan efektif 90 % dari hujan selama 24 jam, maka pada metode Bell dan Tanimoto
ini juga hanya dihitung selama 4 jam pertama saja.
Tabel V.28 Perhitungan Intensitas Hujan Menggunakan Metode Bell Tanimoto
PUH Durasi (t) X R (60,10) R (t,T) I (t,T)
Tahun Menit (mm/hari) (mm/jam)
5 6.59 79.04
10 9.86 59.15
20 13.75 41.25
2 40 95.22 32.21 18.38 27.57
60 21.48 21.48
80 23.88 17.91
120 27.57 13.79
240 34.82 8.7
5 11.83 141.91
10 17.7 106.21
20 24.69 74.07
5 40 132.53 44.83 33 49.5
60 38.57 38.57
80 42.88 32.16
120 49.51 24.75
240 62.51 15.63
5 16.35 196.23
10 24.48 146.86
20 34.14 102.42
10 40 157.23 53.18 45.63 68.44
60 53.33 53.33
80 59.29 44.47
120 68.46 34.23
240 86.44 21.61
5 23.32 279.88
10 34.91 209.47
20 48.69 146.08
25 40 188.44 63.74 65.08 97.62
60 76.07 76.07
80 84.57 63.43
120 97.64 48.82
240 123.29 30.82
5 29.49 353.87
10 44.14 264.85
20 61.57 184.7
50 40 211.6 71.57 82.29 123.43
60 96.18 96.18
80 106.93 80.2
120 123.45 61.73
240 155.88 38.97
5 36.11 433.28
10 54.05 324.28
20 75.38 226.14
100 40 234.58 79.34 100.75 151.13
60 117.76 117.76
80 130.92 98.19
120 151.15 75.58
240 190.86 47.72

Sumber: Hasil Hitungan

Contoh Perhitungan
Dari persamaan (3.40), (3.41) dan (3.42), maka dapat dicari intensitas hujan menurut
meode Bell-Tanimoto untuk PUH 50
R6010 = (211.6/170)*((87+28)/2) = 71.57
Untuk durasi hujan 40 menit
R4050 = ((0.21(ln50))+0.52)*(0.54(400.25 )-0.50)*(71.57) = 82.29
I4050 = (60/40)*82.29 = 123.43

5.2.7.3. Metode Hasper dan Der Weduwen


Dengan menggunakan persamaan (3-43) sampai (3-45), maka dapat dihitung intensitas
hujan menurut Hasper dan Der Weduwen.
Tabel V.29 Perhitungan Intensitas Hujan Menggunakan Metode Hasper-
Weduwen
PUH Durasi (t) Durasi (t) X Ri R I
Tahun Menit Jam (mm/hari) mm/jam
5 0.08 76.61 45.50 545.98
10 0.17 83.99 49.25 295.50
20 0.33 89.85 51.40 154.20
2 40 0.67 95.22 93.73 51.20 76.81
60 1 95.22 49.87 49.87
80 1.33 96.01 55.39 41.54
120 2 96.82 63.26 31.63
240 4 97.67 75.87 18.97
5 0.08 90.59 53.81 645.67
10 0.17 105.63 61.94 371.63
20 0.33 118.99 68.06 204.19
5 40 0.67 132.53 128.64 70.27 105.41
60 1.00 132.53 69.41 69.41
80 1.33 134.63 77.09 57.82
120 2.00 136.85 88.05 44.03
240 4.00 139.19 105.60 26.40
5 0.08 97.75 58.06 696.66
10 0.17 117.8 69.07 414.43
20 0.33 136.77 78.24 234.71
10 40 0.67 157.23 151.22 82.61 123.91
60 1.00 157.23 82.34 82.34
80 1.33 160.52 91.45 68.59
120 2.00 164.03 104.46 52.23
240 4.00 167.78 125.28 31.32
5 0.08 105.13 62.44 749.25
10 0.17 131.23 76.95 461.69
20 0.33 157.71 90.22 270.65
25 40 0.67 188.44 179.17 97.88 146.81
60 1.00 188.44 98.69 98.69
80 1.33 193.61 109.61 82.21
120 2.00 199.19 125.20 62.60
240 4.00 205.24 150.14 37.54
5 0.08 109.69 65.15 781.79
10 0.17 140.04 82.11 492.67
20 0.33 172.26 98.54 295.61
50 40 0.67 211.6 199.5 108.98 163.47
60 1.00 211.6 110.82 110.82
80 1.33 218.44 123.08 92.31
120 2.00 225.9 140.58 70.29
240 4.00 234.07 168.60 42.15
5 0.08 113.62 67.49 809.83
10 0.17 147.95 86.75 520.51
20 0.33 185.92 106.35 319.06
100 40 0.67 234.58 219.33 119.82 179.73
60 1.00 234.58 122.85 122.85
80 1.33 243.31 136.44 102.33
120 2.00 252.92 155.85 77.93
240 4.00 263.57 186.90 46.73

Sumber : Hasil Perhitungan


Contoh Perhitungan
Untuk PUH 100 tahun dengan durasi selama 40 menit (0.67 jam), maka digunakan
persamaan (3-46) untuk mendapatkan curah hujan menurut Hasper-Weduwen.
Rt = 234.58*(((1218*0.67)+54)/(((234.58+(1-0.67))+(1272*0.67))))=219.33
R = ((11300/(0.67+3.12))^0.5)*(219.33/100) = 119.82
I = 119.82/0.67 = 179.73

5.2.8. Penentuan Rumus Intensitas Hujan


Untuk menentukan rumus intensitas hujan yang dipakai, maka ketiga metode
penentuan intensitas hujan (Metode Van Breen, Bell, dan Hasper-Weduwen)
disubsitusikan pada persamaan-pesamaan Talbot, Sherman dan Ishiguro.
Kemudian dicari selisih kuadrat terkecil antara intensitas hujan masing-masing metode,
dengan intensitas hujan hasil subsitusi pada persamaan-persamaan talbot, sherman, dan
ishiguro. Semuanya diperbandingkan, dan dipilih yang mempunyai delta terkecil
Tabel V.30. Perbandingan Delta Tekecil
No. PUH Hasper – Weduwen Van Breen Bell Tanimoto
Talbot Sherman Ishiguro Talbot Sherman Ishiguro Talbot Sherman Ishiguro
1 2 8.55 7.23 34.74 0 10.23 9.97 42.98 42.92 43.03
2 5 11.72 6.16 38.89 0.01 11.10 10.40 26.78 26.67 27.40
3 10 13.61 6.34 40.61 0 11.57 10.31 15.35 23.09 24.17
4 25 15.82 8.39 41.5 6.51 10.13 7.16 31.31 38.96 39.30
5 50 17.32 9.81 41.77 9.89 8.32 5.48 41.79 47.00 46.11
6 100 18.71 11.39 41.8 12.89 10.28 8.52 61.44 59.29 56.24
Jumlah 85.72 49.33 239.3 29.3 61.63 51.84 219.65 237.93 236.24
Sumber : Hasil Perhitungan

Dari Tabel di atas, delta terkecil diperoleh dari data intensitas hujan menurut metode Van
Breen dengan menggunakan persamaan Talbot.

5.2.8.1 Penggambaran Kurva Lengkung Intensitas


Kurva frekuensi intensitas - lamanya menggambarkan persamaan-persamaan
intensitas hujan wilayah perencanaan yang dapat digunakan untuk perhitungan limpasan
(run off) dengan rumus rasional dan besarnya kemungkinan terjadinya intensitas curah
hujan yang berlaku untuk lamanya curah hujan sembarang. Kurava lengkung intensitas
kecamatan panjatan pada PUH 10 tahunan dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Lengkung Intensitas Van Breen
PUH 10 Tahunan

Intensitas (mm/jam)
250.00
200.00
Lengkung

150.00
100.00
50.00
0.00
0.083 0.167 0.333 0.667 1.000 1.333 2.000 4.000
Waktu Distribusi (jam)

Talbot Sherman Ishiguro

Gambar 5.14a Kurva Lengkung Intensitas PUH 10 Tahunan

5.3. Perencanan Teknis


5.3.1 Pertimbangan Usulan Perencanaan
Lokasi Perencanaan difokuskan pada empat desa yaitu Desa Gotakan, Desa
Panjatan, Desa Cereme, dan Desa Kanoman. Mengingat pada daerah tersebut merupakan
daerah yang sangat potensial untuk banjir. Untuk pembagian blok perencanaan di bagi
menjadi tiga blok, untuk jelasanya dapat dilihat pada gambar 5.14 dan 5.15. Sedangkan
untuk peta jaringannya dapat dilihat pada gambar 5.16, 5.17 dan 5.18.
5.3.1.1 Kondisi Fisik Daerah Perencanaan
Curah Hujan
Secara iklim curah hujan di kecamatan panjatan bervariasi antara ±2000 mm/tahun hingga
±3000 mm/tahun. Oleh sebab itu potensial runoff yang ditimbulkan akan besar apabila di
daerah tersebut banyak pengunaan lahan yang menyebabkan permukaan tanah kedap air.

Geologi dan geohidrologi


Kondisi geohidro sangat dipengaruhi oleh geologi kawasannya, dimana kawasan panjatan
tipologi akuifer nya adalah sistem endapan alluvial pantai yang bergeologi batuan endapan
dan sedimen berupa lempung, pasir dan krikil. Dengan demikian material cendrung
mempunyai akuifer dengan produktivitas rendah, disebabkan pelapisan batuan pada batuan
endapan berlapis-lapis dengan permeabilitas lambat. Sedangkan pada batuan sedimen air
melalui patahan dan bidang lapis sehingga air cenderung hilang meresap. Kedalaman
variasi 7 – 25 M. Kemiringan lereng ke arah selatan menyebabkan air secara umum
mengalir kearah selatan, termasuk air tanah. Kecamatan Panjatan memiliki formasi
geologis dimana daerah tersebut menempati kawasan yang sangat subur yaitu kawasan
kipas alluvial dan dataran alluvial, yaitu fisiografi yang terbentuk dari proses pengendapan
oleh aktifitas sungai (fluvial) dan laut (fluvio marine) dengan kemiringan 0 – 2 %.

Penggunaan lahan
Dalam perencanaan ini kawasan panjatan dibagi menjadi 2 kawasan berdasarkan
penggunaan lahannya, yaitu kawasan pemukiman dan kawasan pertanian.

5.3.1.2 Keadaan Eksisting dan Rencana di Daerah Perencanaan


Saluran Alami Eksisting
Daerah daerah perencanaan dilalui oleh saluran-saluran alami yang dapat dimanfaatkan
sebagai badan air penerima dan penyalur debit limpasan. Saluran alami yang dijadikan
sebagai penerima debit limpasan adalah anak sungai progo. Saluran irigasi non teknis yang
terdapat di daerah perencanaan. Dengan memanfaatkan saluran alami ini sebagai penyalur
debit limpasan, maka akan memberi keuntungan baik dari segi teknis maupun ekonomi.
9. Dari segi teknis akan menghemat pekerjaan penggalian atau pengerukan untuk
pembuatan saluran.
10. Dari segi ekonomis, akan menghemat biaya pembebasan lahan.
Kemiringan Wilayah Menuju ke Badan Air Penerima
Peta kontur secara garis besar menunjukan bahwa kemiringan lahan pemukiman dan
pertanian mengarah ke selatan. Dari kemiringan lahan ini, maka anak sungai progo akan
menerima debit limpasan dari lahan pemukiman dan pertanian sebelah utara.
Arah pengaliran mengikuti garis ketinggian/kemiringan lahan yang ada, sehingga
pengaliran dapat terjadi secara gravitasi. Pengaliran secara gravitasi ini adalah paling baik
karena dapat mengurangi perlengkapan-perlengkapan ataupun bangunan-bangunan
tambahan, sehingga baik dari segi ekonomis.

5.3.2. Usulan Perencanaan Sistem Drainase


5.3.2.1 Prinsip Pengaliran Saluran
Pengaliran pada saluran drainase pada dasarnya secara alamiah mengikuti kondisi
topografi yang ada, yaitu mengikuti kontur alami dari tanah. Pengaliran secara gravitasi
tersebut dinilai sangat menguntungkan karena tidak adanya upaya penambahan lahan
urugan atau pemotongan pada jalur tanah (cut and fill). Adapun beberapa faktor yang perlu
diperhatikan dalam prinsip pengaliran saluran drainase adalah sebagai berikut:
1. Arah pengaliran sebisa mungkin mengikuti garis ketinggian permukaan tanah
sehingga pengaliran yang terjadi adalah secara alami menuju pada badan air
penerima terdekat.
2. Dasar permukaan saluran yang mempunyai kemiringan (slope) sangat kecil
diperlukan penanganan dengan mempertimbangkan kecepatan minimum yang
diijinkan. Diusahakan kemiringan dasar saluran tetap mengikuti kemiringan
permukaan tanah sejauh kemiringan tanah tidak memberikan aliran balik (back
water) menuju awal dimulai saluran.
3. Agar tidak terjadi penggerusan terhadap dinding saluran drainase maka perlu
memperhatikan kecepatan saluran agar tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu
rendah sehingga tidak terjadi pendangkalan pada dasar saluran sehingga
penampang efektif saluran untuk mengalirkan air hujan semakin keci dan
kemungkinan besar akan meluap. Dengan perkecualian pendangkalan bisa
diantisipasi dengan salah satu alternatifnya menangani permukaan tanah dengan
menanam tumbuhan, sehingga koefisien limpasan kecil dan waktu konsentrasi
semakin lama dan kecepatan penggerusan air di permukaan tanah semakin
kecil. Sehingga tanah tidak ikut mengalir masuk ke dalam saluran drainase.
5.3.2.2 Upaya Mengurangi Beban Badan Air
Upaya mengurangi beban badan air penerima merupakan bagian dari alternatif
cara prncegahan banjir. Upaya tersebut ditujukan agar badan air penerima tidak kelebihan
muatan sehingga luapan banjir yang ada dapat dihindari. Dari Perta Daerah Aliran Sungai
yang dibuat dan terbagi menjadi beberapa sub DAS dan masing-masing inflow. Melihat
bentuk fisik model dari DAS dan laju inflow, maka di peroleh Peta Lokasi untuk kolam
penampungan. Penampungan sementara yang dapat dilakukan adalah pembangunan kolam
penampungan hujan. Pembangunan kolam juga bertujuan untuk konservasi air, karena air
mendapat kesempatan untuk meresap kedalam tanah. Fasilitas kolam retensi akan
mengurangi debit limpasan ke badan air penerima sehingga memperkecil base flow.

5.3.2.3 Cara Penyaluran


Sistem penyaluran yang digunakan adalah sistem terpisah dengan saluran air
buangan, dengan pertimbangan sebagai berikut:
g) Untuk menjaga kualitas air, yang dikaitkan dengan usaha konservasi air tanah, dimana
air yang diresapkan adalah air yang belum mengalami pencemaran.
h) Ketersediaan lahan memungkinkan untuk diterapkan sitem ini.
Sedangkan sasaran pemilihan sistem ini adalah:
10. Segi keamanan bagi kesehatan masyarakat karena air buangan ditangani secara lebih
khusus.
11. Kemudahan dalam konstruksi, operasi dan pemeliharaan.
12. Segi ekonomis dari dimensi saluran dan bangunan pengolahan air buangannya.

5.3.2.4 Bentuk dan Keadaan Saluran


Saluran drainase direncanakan berbentuk trapesium dengan talud 1:2
Pemilihan bentuk trapesium ini dengan pertimbangan:
m) Untuk mengatasi jika aliran kecil atau ketinggian air kecil, saluran berbentuk
trapesium ini relatif lebih baik dibandingkan dengan saluran berbentuk segi empat. Hal
ini karena dalam suatu ketinggian muka air yang sama, kecepatan aliran dalam saluran
trapesium lebih besar daripada kecepatan aliran dalam salura. segi empat. Dengan
keadaan tersebut dan dengan ditunjang oleh kemiringan saluran yang memadai, self
cleansing velocity dapat lebih mudah dipertahankan.
n) Terdapat 3 jenis saluran, yaitu
a. Berupa saluran tersier, saluran ini terdapat pada Daerah Pengaliran Sungai ≤ 5 Ha
ataupun jalan-jalan kecil, dimana saluran tersebut menyalurkan air hujan menuju
saluran yang lebih besar. Serta
b. Saluran Sekunder, saluran ini terdapat pada Daerah Pengaliran Sungai 5 – 25 Ha.
Atau saluran ini merupakan saluran lanjutan dari saluran tersier, dimana kuantitas
air merupakan kumulatif dari saluran yang kecil, lalu disalurkan menuju saluran
primer.
c. Saluran Primer, saluran ini terdapat pada Daerah Pengaliran Sungai 25 - 50 Ha
atau saluran ini yang menampung asir hujan dari beberapa daerah pengaliran lewat
saluran sekunder.
Saluran dirancang sesuai dengan pola penampang saluran hidrolis optimum dengan
menggunakan pasangan batu kali pecah disetiap dinding dan dasar saluran dengan tujuan
agar tidak terjadi longsor. Dimensi saluran yang direncanakan dapat dilihat pada tabel
(V.31) s/d (V.33).
5.3.2.5 Bangunan Pelengkap yang Digunakan
o) Gorong-gorong
c Penampang gorong-gorong dibuat segi empat dari pasangan batu dengan pelat
beton bertulang sebagai penutup.
c Alasan pemilihan adalah karena ideal untuk mengalirkan debit yang besar,
pembuatannya mudah, dan sangat kuat.
c Penempatan gorong-gorong pada perlintasan saluran dengan jalan, sehingga
panjang gorong-gorong kurang lebih sama dengan lebar jalan.
c Kecepatan yang dipakai dalam perencanaan gorong-gorong adalah 1.5m/dt.
Perhitungan dimensi gorong-gorong dapat dilihat pada tabel (V.34) s/d (V.36):.
5.3.3 Evaluasi Saluran Eksisting

Saluran yang sudah ada di kecamatan panjatan ini merupakan saluran sekunder dimana
kuantitas air merupakan kumulatif dari saluran yang kecil, lalu disalurkan menuju saluran
utama atau saluran primer.

Diketahui : b = 50 cm
h = 70 cm
A=bxh
= 50 cm x 70 cm
= 3500 cm2 = 0.35 m2
misal : v = 1 m/s
hingga didapat Q = V / A
= 1 m/s / 0.35 m2
= 2.85 m3/s

bila dibandingkan dengan saluran yang akan direncanakan. Saluran eksisting ini masih
layak untuk menyalurkan air hujan karena pada saluran ini dapat menampung debit air
hingga 2.85 m3/s. Sementara pada saluran E-G4, debit air yang melalui saluran ini sebesar
0.421 m3/s. Apabila debit yang melalui saluran ini melebihi debit tampungannya (2.85
m3/s), sebaiknya ada perbesaran saluran agar dapat menyalurkan air hujan secara baik.
5.3.4 Rencana Anggaran Biaya
Rencana Anggaran biaya dibuat untuk mengetahui besarnya biaya investasi
(capital avestment) pembangunan sistem penyaluran air hujan kecamatan panjatan. Biaya
inventasi tersebut dapat digunakan sebagai konsep dasar penyusunan anggaran
pembangunan bagi pihak pengembang/developer.
Perhitungan rencana anggaran biaya jalur terpilih didasarkan pada besarnya satuan jenis
pekerjaan dan bahan yang digunakan. Dalam perhitungan biaya ini, pertama-tama dicari
volume pekerjaan masing-masing jenis pekerjaan untuk saluran dan bangunan pelangkap,
serta kolam retensi. Perhitungan volume pekerjaan dapat dilihat pada tabel (V.37) s/d
(V.42).
Tabel Perhitungan Saluran BOQ Blok A
Jalur Lda y b Fb Volume (m3)
No Jalur
ID (m) (m) (m) Batu Kali Galian Semen Pasir
1 53 B-G61 470 0.636 0.735 0.383 69.641 597.242 4.353 13.058
2 2 B-B' 530 0.378 0.437 0.295 46.750 280.604 2.922 8.766
3 4 B'A' 840 0.617 0.713 0.377 120.273 1012.189 7.517 22.551
4 A'
5 5 C-G5 820 0.359 0.415 0.287 68.459 398.341 4.279 12.836
6 G5
7 6 G5-G3 360 0.760 0.878 0.418 63.830 622.049 3.989 11.968
8 7 D-G3 280 0.702 0.811 0.402 46.037 422.276 2.877 8.632
9 G3
10 8 G3-G4 510 0.609 0.703 0.374 72.291 601.109 4.518 13.555
11 12 E-G4 360 0.481 0.555 0.332 40.459 284.179 2.529 7.586
12 G4
13 10 G4-C' 410 0.944 1.091 0.466 90.151 1035.732 5.634 16.903
14 17 H-G60 300 0.608 0.703 0.374 42.711 353.239 2.669 8.008
15 G60
16 9 G60-G2 350 0.763 0.881 0.419 62.282 608.316 3.893 11.678
17 1 A-G1 270 0.359 0.415 0.287 22.815 131.370 1.426 4.278
18 G1
19 26 G1-G2 350 0.359 0.415 0.287 29.473 170.390 1.842 5.526
20 G2
21 C'
22 11 G2-Out 800 0.858 0.991 0.444 159.272 1708.004 9.955 29.864
23 Out
24 13 F-G6 250 0.837 0.966 0.439 48.987 511.005 3.062 9.185
25 G6
26 14 G6-D' 340 0.392 0.452 0.300 31.205 190.833 1.950 5.851
27 15 G-G7 80 0.267 0.309 0.248 5.306 24.387 0.332 0.995
28 G7
29 D'
30 16 D'-Out 530 0.494 0.571 0.337 61.014 438.341 3.813 11.440
31 Out
32 18 J-G9 300 0.317 0.366 0.270 22.335 118.813 1.396 4.188
33 19 K-G9 250 0.373 0.431 0.293 21.995 129.785 1.375 4.124
34 G9
35 20 G9-G8 810 0.570 0.658 0.362 107.167 852.279 6.698 20.094
36 G8
37 21 L-E' 370 0.330 0.381 0.275 28.588 156.485 1.787 5.360
38 E'
39 22 E'-G10 380 0.422 0.488 0.312 37.509 241.368 2.344 7.033
40 G10
41 27 G10-G11 410 0.371 0.429 0.292 35.588 210.510 2.224 6.673
42 24 M-G11 240 0.602 0.695 0.372 33.910 277.486 2.119 6.358
43 G11
44 25 G11-Out 220 0.573 0.662 0.363 29.666 234.180 1.854 5.562
45 Out
46 28 N-Out 870 0.595 0.687 0.370 120.070 984.511 7.504 22.513
47 Out
Jumlah 1517.783 12595.024 94.861 284.584
Tabel Perhitungan BOQ Saluran Blok B
Lda y b Fb Volume (m3)
No Jalur ID Jalur
(m) (m) (m) Batu Kali Galian Semen Pasir
1 30 B-G16 637.5 0.528 0.610 0.348 78.247 589.010 4.890 14.671
2 G16
3 31 G16-G15 162.5 0.289 0.334 0.258 11.237 55.786 0.702 2.107
4 29 A-G15 812.5 0.494 0.570 0.337 93.165 670.406 5.823 17.468
5 G15
6 32 G15-G63 312.5 0.588 0.680 0.368 43.023 347.632 2.689 8.067
7 34 C-G63 262.5 0.317 0.366 0.270 19.595 104.029 1.225 3.674
8 G63
9 35 G63-B' 625 0.388 0.448 0.299 56.429 344.655 3.527 10.581
10 36 D-G20 975 0.811 0.937 0.432 183.331 1885.791 11.458 34.375
11 G20
12 B'
13 G20-G18 35 0.062 0.071 0.119 0.733 1.413 0.046 0.137
14 37 S'-G18 237.5 0.282 0.325 0.254 15.820 77.897 0.989 2.966
15 G18
16 48 G18-G68 925 0.507 0.586 0.342 108.863 798.405 6.804 20.412
17 33 G17-A' 312.5 0.690 0.797 0.398 50.394 456.704 3.150 9.449
18 38 A'-G19 337.5 0.528 0.609 0.348 41.646 311.828 2.603 7.809
19 39 F-G21 375 0.361 0.416 0.288 31.653 183.525 1.978 5.935
20 G21
21 40 E-E' 250 0.483 0.558 0.333 28.397 199.302 1.775 5.324
22 E'
23 41 E'-G19 150 0.186 0.214 0.207 6.749 25.666 0.422 1.265
24 G19
25 42 G19-C' 725 0.521 0.602 0.346 87.731 654.696 5.483 16.450
26 43 G-G22 400 0.323 0.373 0.273 30.230 163.398 1.889 5.668
27 G22
28 110 Y-D' 237.5 0.295 0.340 0.260 16.539 83.748 1.034 3.101
29 D'
30 45 D'-G23 775 0.463 0.535 0.326 83.376 574.056 5.211 15.633
31 G23
32 C'
33 46 C'-G25 275 0.288 0.333 0.258 18.704 93.732 1.169 3.507
34 G25
35 47 J-F' 837.5 0.397 0.459 0.302 77.271 480.150 4.829 14.488
36 F'
37 49 F'-G68 125 0.147 0.169 0.184 4.530 15.029 0.283 0.849
38 G68
39 50 G68-H' 162.5 0.310 0.358 0.267 12.015 62.264 0.751 2.253
40 51 K-G27 262.5 0.249 0.288 0.239 15.454 70.735 0.966 2.898
41 G27
42 52 G27-G31 312.5 0.434 0.501 0.316 31.761 207.641 1.985 5.955
43 G31
44 H'
45 54 H'-G26 62.5 0.194 0.225 0.211 3.130 11.675 0.196 0.587
46 G26
47 66 G26-J' 137.5 0.309 0.357 0.267 10.218 52.678 0.639 1.916
48 67 R-G29 625 0.634 0.732 0.382 92.096 789.225 5.756 17.268
49 G29
50 J'
51 68 J'-G30 162.5 0.408 0.472 0.306 15.774 97.925 0.986 2.958
52 G30
53 77 G30-G28 225 0.754 0.871 0.416 39.802 383.473 2.488 7.463
54 69 S-G28 325 0.688 0.794 0.398 52.221 472.363 3.264 9.792
55 G28
56 70 G28-G32 150 0.606 0.701 0.373 21.567 175.982 1.348 4.044
57 G32
58 71 G32-G33 187.5 0.582 0.672 1.139 26.053 351.312 1.628 4.885
59 72 T-G33 225 0.770 0.889 0.421 40.659 398.016 2.541 7.624
60 G33
61 75 G33-K' 287.5 0.939 1.084 0.465 63.059 718.951 3.941 11.824
62 74 V-G34 737.5 0.879 1.015 0.450 150.412 1641.677 9.401 28.202
63 G34
64 K'
65 76 K'-G35 500 0.942 1.088 0.465 109.537 1257.969 6.846 20.538
66 G35
67 Out
68 57 L-G24 275 0.325 0.376 0.273 21.059 113.799 1.316 3.949
69 G24
70 58 M-L' 187.5 0.287 0.331 0.257 12.798 63.423 0.800 2.400
71 L'
72 59 L'-G13 700 0.390 0.450 0.299 63.480 389.329 3.968 11.903
73 60 N-G13 412.5 0.453 0.523 0.323 43.605 294.372 2.725 8.176
74 G13
75 3 G13-M' 100 0.411 0.475 0.308 9.945 61.125 0.622 1.865
76 27 Z-G62 625 1.160 1.340 0.517 168.311 2273.646 10.519 31.558
77 G62
78 M'
79 64 M'-G14 50 0.230 0.266 0.230 3.000 12.157 0.187 0.562
80 100 X-G14 325 0.680 0.785 0.395 51.630 463.125 3.227 9.681
81 G14
82 65 G14-G12 325 0.536 0.620 0.351 40.791 308.872 2.549 7.648
83 G12
84 Out
85 73 U-G37 487.5 1.137 1.314 0.511 128.898 1712.247 8.056 24.168
86 Out
87 56 K-G69 312.5 0.472 0.545 0.329 34.524 238.968 2.158 6.473
88 G69
89 55 G69-G36 225 0.528 0.609 1.085 28.231 359.811 1.764 5.293
90 61 P-G36 850 0.482 0.557 0.333 95.092 673.012 5.943 17.830
91 G36
92 62 Q-N' 437.5 0.326 0.377 0.274 33.382 181.837 2.086 6.259
93 N'
94 63 N'-G38 1200 0.775 0.895 0.422 215.471 2143.902 13.467 40.401
96 Out
Jumlah 2721.639 24098.372 170.102 510.307
Tabel Perhitungan BOQ Saluran Blok C
Jalur Lda y b Fb Volume (m3)
No Jalur
ID (m) (m) (m) Batu Kali Galian Semen Pasir
1 81 C-G39 483.75 2.093 2.417 0.694 235.142 5121.499 14.696 44.089
2 G39
3 80 A-A' 562.5 1.565 1.808 0.600 204.405 3506.134 12.775 38.326
4 A'
5 82 A'-B 562.5 1.418 1.638 0.571 185.179 2932.294 11.574 34.721
6 B(out)
7 83 E-G40 90 1.382 1.596 0.564 29.672 448.890 1.854 5.563
8 G40
9 84 G40-G41 360 1.849 2.136 0.652 154.948 3039.348 9.684 29.053
10 85 F-G41 416.25 1.348 1.558 0.557 130.585 1983.013 8.162 24.485
11 G41
12 78 G41-G42 360 2.056 2.374 0.688 172.197 3688.019 10.762 32.287
13 G42
14 86 G42-G43 146.25 0.837 0.967 0.439 28.957 299.598 1.810 5.429
15 G43
16 87 G43-G44 438.75 3.462 3.999 0.892 352.815 11810.485 22.051 66.153
17 90 G-G44 562.5 2.198 2.539 0.711 286.979 6518.488 17.936 53.809
18 G44
19 88 G44-G45 78.75 0.704 0.813 0.402 13.415 119.737 0.838 2.515
20 G45
21 89 H-H' 573.75 3.468 4.005 0.893 461.510 15489.226 28.844 86.533
22 H'
23 91 H'-G46 450 1.942 2.243 0.668 203.114 4155.508 12.695 38.084
24 G46
25 92 G46-G64 337.5 1.288 1.488 0.544 101.344 1481.773 6.334 19.002
26 G64 (Out)
27 111 N-G66 945 1.659 1.916 0.618 363.146 6542.803 22.697 68.090
28 113 0-G66 393.75 2.340 2.702 0.734 214.188 5117.457 13.387 40.160
29 G66
30 112 G66-G47 213.75 1.139 1.316 0.512 57.071 753.444 3.567 10.701
31 114 P – G47 405 0.837 0.967 0.439 78.970 827.901 4.936 14.807
32 G47 (Out)
33 115 Q-G48 202.5 1.139 1.315 0.512 54.094 713.448 3.381 10.143
34 G48
35 116 G48-G67 123.75 1.000 1.155 0.480 29.343 346.563 1.834 5.502
36 79 D-G57
37 G67 (Out)
38 95 J-G50 168.75 1.330 1.536 0.553 52.757 784.717 3.297 9.892
39 G50
40 94 G50-G49 222.75 1.278 1.476 0.542 66.625 963.490 4.164 12.492
41 G49
42 98 G49-G65 78.75 0.662 0.765 0.390 12.632 107.760 0.790 2.369
43 99 K-G65 337.5 2.023 2.337 0.682 158.959 3357.857 9.935 29.805
44 G65
45 100 G65-G51 348.75 2.048 2.366 0.686 166.267 3549.725 10.392 31.175
46 G51
47 44 G51-G52 168.75 1.307 1.509 0.548 51.846 760.449 3.240 9.721
48 102 L-G52 798.75 3.244 3.746 0.864 600.278 19030.788 37.517 112.552
49 G52
50 104 G52-G53 315 1.541 1.780 0.595 113.164 1909.830 7.073 21.218
51 G53
52 110 G53-D' 551.25 1.539 1.777 0.595 196.957 3331.636 12.310 36.929
53 96 L-G57 168.75 1.371 1.583 0.561 54.367 828.519 3.398 10.194
54 G57
55 97 G57-G56 270 2.286 2.640 0.725 143.919 3361.908 8.995 26.985
56 106 M-G56 427.5 1.226 1.417 0.531 121.982 1718.116 7.624 22.872
57 G56
58 105 G56-G58 483.75 2.699 3.118 0.788 303.185 8189.672 18.949 56.847
59 G58
60 93 G58-G59 315 1.542 1.781 0.596 113.228 1911.764 7.077 21.230
61 G59
62 D'
63 107 G59-G55 258.75 1.548 1.788 0.597 93.554 1581.735 5.847 17.541
64 G55
65 108 G55-G54 281.25 2.356 2.721 0.736 154.446 3702.436 9.653 28.959
66 109 S-G54 393.75 2.053 2.371 0.687 187.956 4023.168 11.747 35.242
67 101 R-G54 562.5 2.742 3.167 0.794 357.808 9801.469 22.363 67.089
Jumlah 6307.005 143810.667 394.188 1182.564
Tabel Perhitungan BOQ Gorong-gorong Blok A
Lda Lebar h b Volume (m3)
No Jalur ID ID Batu
(m) Jalan (m) (m) (m) Galian Beton Semen Kerikil Pasir
Kali
1 B-G61 G61 470 8 0.579 1.157 12.982 14.287 5.623 1.890 4.732 7.574
2 C-G5 G5 820 8 0.553 1.106 12.113 13.959 5.459 1.841 4.612 7.383
G5
3 G5-G3 G3 280 8 1.282 2.564 47.509 23.288 10.124 3.240 8.032 12.825
D-G3
G3
4 G3-G4 G4 360 8 1.416 2.832 56.430 25.005 10.982 3.497 8.662 13.826
E-G4
5 H-G60 G60 300 8 0.577 1.154 12.917 14.262 5.611 1.886 4.723 7.560
G60
6 G62 350 8 0.927 1.853 27.501 18.742 7.851 2.558 6.365 10.173
G60-G2
7 A-G1 G61 270 8 0.349 0.697 6.155 11.343 4.152 1.448 3.652 5.857
G1
8 G62 350 8 0.459 0.917 9.143 12.750 4.855 1.659 4.168 6.677
G1-G2
9 F-G6 G6 250 8 0.653 1.306 15.655 15.236 6.098 2.032 5.080 8.128
10 G-G7 G7 80 8 0.210 0.420 3.097 9.565 3.263 1.181 3.001 4.820
J-G9
11 G9 250 8 0.519 1.039 11.012 13.528 5.244 1.776 4.454 7.131
K-G9
G9
12 G8 810 8 1.113 2.227 37.360 21.131 9.045 2.916 7.241 11.566
G9-G8
L-E'
13 G10 380 8 0.907 1.813 26.520 18.483 7.722 2.519 6.271 10.022
E'-G10
G10
14 G10-G11 G11 240 8 1.126 2.253 38.099 21.297 9.128 2.941 7.302 11.663
M-G11
Jumlah 316.495 232.875 95.158 31.385 78.294 125.204
Tabel Perhitungan BOQ Gorong-gorong Blok B
No Jalur ID ID Lda Lebar h b Volume (m3)
(m) Jalan (m) (m) (m) Galian Batu Kali Beton Semen Kerikil Pasir
1 B-G16 G16 637.5 8 0.743 1.487 19.227 16.396 6.678 2.206 5.505 8.804
2 G16 G15 812.5 8 1.030 2.060 32.774 20.063 8.511 2.756 6.850 10.943
G16-G15
A-G15
3 G15 G63 262.5 8 1.339 2.679 51.251 24.026 10.493 3.350 8.303 13.255
G15-G63
C-G63
4 D-G20 G20 975 8 0.667 1.333 16.171 15.411 6.186 2.058 5.144 8.230
5 G20 G18 237.5 8 0.779 1.559 20.739 16.856 6.908 2.275 5.674 9.072
G20-G18
S'-G18
6 G18-G68 G68 925 8 0.884 1.769 25.470 18.201 7.581 2.477 6.167 9.857
7 G17-A' G19 150 8 0.810 1.620 22.064 17.246 7.103 2.334 5.817 9.300
A'-G19
E-E'
E'-G19
8 F-G21 G21 375 8 0.318 0.636 5.405 10.948 3.954 1.389 3.507 5.626
9 G-G22 G22 400 8 0.472 0.943 9.534 12.918 4.939 1.684 4.230 6.775
10 Y-D' G23 775 8 0.752 1.504 19.582 16.505 6.733 2.222 5.545 8.868
D'-G23
11 G19 G25 275 8 1.190 2.379 41.814 22.108 9.534 3.063 7.600 12.137
G19-C'
C'-G25
12 J-F' G68 125 8 0.690 1.380 17.078 15.712 6.336 2.103 5.254 8.405
F'-G68
13 K-G27 G27 262.5 8 0.300 0.600 4.990 10.719 3.839 1.355 3.424 5.493
14 G27 G31 312.5 8 0.588 1.176 13.309 14.407 5.684 1.908 4.776 7.644
G27-G31
15 G68 G26 62.5 8 0.714 1.428 18.029 16.019 6.490 2.150 5.367 8.584
H'-G26
16 R-G29 G29 625 8 0.994 1.988 30.890 19.604 8.282 2.687 6.681 10.675
17 G26 G30 162.5 8 0.943 1.886 28.313 18.953 7.956 2.590 6.443 10.296
G26-J'
J'-G30
18 G30 G28 325 8 1.333 2.667 50.842 23.946 10.453 3.339 8.274 13.209
G30-G28
S-G28
19 G28-G32 G32 150 8 0.483 0.966 9.877 13.063 5.011 1.706 4.283 6.860
20 G32 G33 225 8 0.907 1.814 26.535 18.487 7.724 2.520 6.272 10.024
G32-G33
T-G33
21 V-G34 G34 737.5 8 0.775 1.549 20.540 16.796 6.878 2.266 5.652 9.038
22 G33 G35 500 8 1.527 3.054 64.397 26.428 11.694 3.711 9.184 14.657
G33-K'
K'-G35
23 L-G24 G24 275 8 0.481 0.962 9.811 13.035 4.998 1.702 4.273 6.844
24 M-L' G13 412.5 8 0.998 1.995 31.075 19.649 8.305 2.694 6.698 10.702
L'-G13
N-G13
25 Z-G62 G62 625 8 1.200 2.401 42.451 22.244 9.602 3.083 7.650 12.216
26 G13 G14 325 8 1.288 2.575 47.874 23.361 10.160 3.251 8.059 12.867
G13-M'
M'-G14
X-G14
27 G14 G12 325 8 1.421 2.842 56.778 25.069 11.014 3.507 8.685 13.863
G14-G12
28 U-G37 G37 487.5 8 1.138 2.276 38.766 21.445 9.203 2.963 7.357 11.750
29 K-G69 G69 312.5 8 0.566 1.132 12.542 14.122 5.541 1.865 4.671 7.478
30 G69-G36 G36 850 8 0.944 1.889 28.366 18.966 7.963 2.592 6.448 10.304
P-G36
31 Q-N' G38 1200 8 1.217 2.435 43.484 22.462 9.711 3.116 7.729 12.343
N'-G38
Jumlah 859.980 565.165 235.462 76.921 191.520 306.120
Tabel Perhitungan BOQ Gorong-gorong Blok C
Lda Lebar h b Volume (m3)
No Jalur ID ID Batu
(m) Jalan (m) (m) (m) Galian Beton Semen Kerikil Pasir
Kali
1 C-G39 G39 483.75 8 1.581 3.161 68.396 27.111 12.035 3.813 9.434 15.055
2 E-G40 G40 90 8 1.384 2.768 54.232 24.595 10.777 3.436 8.511 13.587
G40
3 G40-G41 G41 416.25 8 2.458 4.915 151.200 38.339 17.649 5.497 13.551 21.604
F-G41
G41
4 G42 360 8 2.967 5.933 213.904 44.852 20.906 6.474 15.939 25.404
G41-G42
5 G42-G43 G43 146.25 8 0.528 1.057 11.302 13.643 5.301 1.793 4.496 7.198
G43
6 G43-G44 G44 562.5 8 3.334 6.668 265.877 49.555 23.258 7.180 17.664 28.147
G-G44
G44
7 G45 78.75 8 3.384 6.769 273.458 50.201 23.581 7.277 17.901 28.524
G44-G45
H-H'
8 G46 450 8 3.039 6.079 223.749 45.783 21.372 6.614 16.281 25.947
H'-G46
G46
9 G64 337.5 8 3.458 6.916 284.695 51.143 24.052 7.418 18.246 29.074
G46-G64
N-G66
10 G66 393.75 8 2.466 4.932 152.155 38.447 17.704 5.514 13.591 21.667
0-G66
G66
11 G66-G47 G47 405 8 2.845 5.691 198.005 43.302 20.131 6.242 15.371 24.500
P – G47
12 Q-G48 G48 202.5 8 1.038 2.076 33.215 20.168 8.564 2.772 6.888 11.005
G48
13 G67 123.75 8 1.507 3.015 62.934 26.174 11.567 3.673 9.090 14.508
G48-G67
14 J-G50 G50 168.75 8 1.124 2.247 37.945 21.262 9.111 2.936 7.289 11.643
G50
15 G49 222.75 8 1.500 3.000 62.391 26.078 11.519 3.658 9.055 14.452
G50-G49
G49
16 G49-G65 G65 337.5 8 2.829 5.657 195.849 43.087 20.024 6.210 15.292 24.374
K-G65
G65
17 G51 348.75 8 3.283 6.566 258.359 48.905 22.933 7.082 17.425 27.768
G65-G51
G51
18 G51-G52 G52 168.75 8 4.271 8.541 423.766 61.544 29.252 8.978 22.059 35.141
L-G52
G52
19 G53 315 8 4.540 9.080 475.893 64.989 30.975 9.495 23.323 37.150
G52-G53
20 L-G57 G57 168.75 8 1.391 2.782 54.722 24.687 10.823 3.450 8.545 13.641
G57
21 G57-G56 G56 427.5 8 2.843 5.686 197.674 43.269 20.115 6.237 15.359 24.480
M-G56
G56
22 G58 483.75 8 3.401 6.801 275.888 50.407 23.683 7.308 17.976 28.644
G56-G58
G58
23 G59 315 8 3.540 7.080 297.508 52.195 24.577 7.576 18.631 29.687
G58-G59
G59
24 G55 258.75 8 3.750 7.500 331.489 54.879 25.920 7.979 19.616 31.253
G59-G55
G55
G55-G54
25 G54 562.5 8 5.955 11.910 799.522 83.103 40.031 12.212 29.964 47.717
S-G54
R-G54
Jumlah 5404.127 1047.719 485.860 150.825 371.497 592.169
Sedangkan untuk perhitungan akumulasi volume saluran dan akumulasi volume gorong-
gorong dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel V.43 Akumulasi Volume Saluran


No Blok Batu Kali (m3) Galian (m3) Semen (m3) Pasir (m3)
1 A 1517.783 12595.024 94.861 284.584
2 B 2721.639 24098.372 170.102 510.307
3 C 6307.005 143810.667 394.188 1182.564
Jumlah 10546.427 180504.064 659.152 1977.455

Tabel V.44 Akumulasi Volume Gorong-gorong


Galian Batu Kali Beton Semen Kerikil Pasir
No Blok
(m3) (m3) (m3) (m3) (m3) (m3)
1 A 316.495 232.875 95.158 31.385 78.294 125.204
2 B 859.980 565.165 235.462 76.921 191.520 306.120
3 C 5404.127 1047.719 485.860 150.825 371.497 592.169
Jumlah 6580.602 1845.759 816.480 259.131 641.312 1023.493

Volume pekerjaan dikalikan dengan harga satuannya, yang diperoleh dari Daftar SNI
Harga Satuan Pekerjaan, Tahun Anggaran 2007
Rekapitulasi biaya pekerjaannya dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel V.45 Rekapitulasi RAB Kecamatan Panjatan
Harga Satuan Jumlah
No Jenis Pekerjaan Analisa Volume Satuan
RP. Rp.
I PEKERJAAN PERSIAPAN
1 Uitzet dan Pasang Bouwplank Taksir 1.00 LS 500,000.00 500,000.00
2 Pembersihan Lokasi Taksir 1.00 LS 495,000.00 495,000.00
3 Administrasi dan Dokumentasi Taksir 1.00 LS 490,000.00 490,000.00
SUB JUMLAH 1,485,000.00
II PEKERJAAN SALURAN
1 Galian Tanah biasa A.004 180504.064 m3 19,821.00 3,577,771,049.48
2 Urugan Pasir A.012 1977.455 m3 11,925.00 23,581,151.77
3 Pasangan Batu Kali 1:3:10 C.009 10546.427 m3 269,290.00 2,840,047,345.45
4 Plesteran 1:3 D.015 92435.50 m2 17,327.00 1,601,629,908.50
5 Lis Sponengan D.014 92435.50 m' 2,859.50 264,319,312.25
SUB JUMLAH 8,307,348,767.46
III PEKERJAAN GORONG-GORONG
1 Galian Tanah Biasa A.005 6580.602 m3 19,821.00 130,434,112
2 Urugan Pasir A.013 1023.493 m3 11,925.00 12,205,154
3 Cor Beton Bertulang B.002 816.480 m3 445,070.00 363,390,622
4 Pasangan Batu Kali 1:3:10 C.009 1845.759 m3 521,615.00 269,290
SUB JUMLAH 506,299,177.54

REKAPITULASI
I. PEKERJAAN PERSIAPAN 1,485,000.00
II. PEKERJAAN SALURAN 8,307,348,767.46
III. PEKERJAAN GORONG-GORONG 506,299,177.54
JUMLAH 8,815,132,945.00
PPN 10 % 881,513,294.50
JUMLAH TOTAL 9,696,646,239.50
DIBULATKAN 9,696,646,000.00

Terbilang :Sembilan Milyar Enam Ratus Sembilan Puluh Enam Juta Seratus Dua Ribu Rupiah
5.3.5 Spesifikasi teknis
Umum
Spesifikasi Teknik merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh pemborong untuk
mengerjakan bangunan saluran air hujan kecamatan panjatan sektor perencanaan. Pada
dasarnya pelaksanaan pekerjaan lapangan akan selalu dikondisikan dengan keadaan
setempat sehingga ada kemungkinan adanya perubahan spesifikasi yang telah ditentukan.
Tetapi spesifikasi harus dilaksanakan untuk menunjang fungsi bangunandan umur
bangunan. Apabila menyimpng dari spesifikasi yang ditentukan kemungkinan besar
bangunan tidak akan bertahan lama karena pengaruh kesalahan pembangunan. Adapun
spesifikasi pelaksanaan pekerjaan meliputi uraian pekerjaan, material/bahan yang
digunakan, dan jenis pekerjaan yang dilakukan.

Uraian Pekerjaan
Uraian pekerjaan yang dilaksanakan di kecamatan Panjatan meliputi pembangunan saluran
drainase untuk air hujan dan gorong-gorong.

Material/bahan yang digunakan


Bahan untuk Pekerjaan Beton
Bahan-bahan yang harus dipersiapkan dan dipergunakanpada pekerjaan beton adalah
sebagai berikut:
1. Semen
Semen yang dipakai adalah jenis pozzoland yang diproduksi sesuai dengan SNI 15-
0302-1994 untuk tipe A
2. Agregat
a. Agregat Halus (pasir)
• Butir-butir pasir yang digunakan tidak mengandung tanah, kadar
lumpur tidak boleh melebihi 5%.
• Butir-butir harus dapat melalui ayakan berlubang 3mm.
b. Agregat Kasar ( kerikil dan Batu Pecah)
• Harus terdiri dari butir-butir yang jeras, tidak berpori, bersifat kekal
sebagai hasil desintegrasi alami dari batuan atau berupa batu pecah
yang diperoleh dari pemecahan batu.
• Yang mengandung butir-butir pipih tidak melampaui 20% dari berat
agregat seluruhnya, dapat digunakan.
• Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% (ditentukan terhadap
berat kering), harus dicuci jia mengandung lumpur lebih dari 1.
• Tidak boleh mengandung sesuatu yang dapat merusak batu dan baja.
• Susunan butirnya harus memenuhu syarat-syarat yang ditetapkan.
• Besar butir maksimum tidak boleh lebih dari 1/5 jarak terkecil antara
bidang-bidang samping dari cetakan, 1/3 dari tebal pelat atau ¾ dari
jarak bersih minimum antara batang-batang atau berkas-berkas
tulangan.
• Penyimpangan dari batuan tersebut dapat dilakukan dengan seijin
tenaga ahli.
3. Batu kali
• Batu yang dipakai untuk pasangan tidak boleh berbentuk blondos melainkan
harus pecah.
• Batu harus cukup keras tidak mudah retak bahkan pecah.
4. Kapur
Kapur yang digunakan adalah kapur yang tidak berbentuk bongkahan tetapi
berbentuk serbuk dengan mutu tinggi.
5. Air
Air yang digunakan tidak boleh mengandung minyak, asam alkali, garam, dan
bahan organis lainnya yang dapat merusak beton atau baja tulangan.

Pekerjaan
Pekerjaan yang dimaksud dalam sub bab ini meliputi semua pekerjaan yang dilakukan
pada seluruh pembangunan sistem penyaluran air hujan.

Pekerjaan Tanah
1. Galian Tanah
• Patok-patok profil harus dipasang sebelum penggalian dimulai
• Dalam dan lebar galian tidak boleh melebihi/kurang dari ukuran yang telah
ditentukan.
• Galian yang melebihi profil yang telah ditentukan maka perbaikannya
dilakukan mengikuti ketentuan-ketentuan cara pemadatan.
• Dalam pekerjaan menggali termasuk juga membersihkan segala kotoran-
kotoran sperti sampah dan sisa bangunan lainnya.
• Penggalian dilakukan sedemikin rupa sehingga tidak merusak bangunan dan
konstruksi lainya.
• Galian tanah untuk tempat dudukan pondasi harus diatur sedemikian rupa
sehingga tidak mudah longsor dan diusahakan agar lubang galian tersebut
dalam keadaan kering.
2. Timbunan Tanah.
• Pada tanah yang baik, dasar tanah yang akan ditimbun harus terlebih dahulu
digali/dicacah sedalam 10 cm sampai dengan 15 cm sesuai dengan luas
penampang timbunan yang akan dibuat, agar tercapai homogenitas yang
baik antar tanah dasar dengan timbunan yang baru.
• Berhubung timbunan mengalami penyusutan, maka timbunan harsu dibuat
lebih tinggi 1/10 T (dimana T = tinggi timbunan) dan lebih lebar 1/10 B
(dimana B = lebar timbunan) dari ukura-ukuran yang sebenarnya sehingga
bila terjadi penyusutan akan diperoleh ukuran yang sebenarnya.
• Sebelum mulai pemasangan batu kali untuk dasar saluran terlebih dahulu
ditimbun pasir dengan ketebalan 5 cm – 10 cm.
3. Pemadatan Tanah
• Untuk mendapatkan hasil yang baik timbunan dan pemdatanny dailakukan
lapisan demi lapisan dimana tiap lapisan mempunyai tebal 10 cm – 15 cm.
• Pemadatan dilakukan dengan menggunakan alat timbris yang terbuat dari
besi/kayu yang beratnya 20 kg – 25 kg dengan tinggi jatuh antara 30 cm –
40 cm.

Pekerjaan Pasangan Batu


• Pekerjaan batu disusun rapi, seluruhnya terselimuti dengan mortel dan tidak adanya
rongga-rongga.
• Rule of thumb ketebalan pasangan batu kali bagian atas adalah 0.2 – 0.25 Hair dan
bagian dasar adalah 0.4-0.5 Hair
• Semua pasangan batu tampak dari luar terutama pada dinding saluran harus rata
dan menggunakan batu muka. Ukuran batu ditetapkan lebar sisinya 12 – 15 cm dan
tabalnya minimal 10 cm.
• Campurkan spesi pasangan batu muka ditetapkan 1 pc: 4ps. Sedangkan untuk
pekerjaan outfall adalah 1 pc: 3ps.
• Bidang atas dari pasangan dengan lebar sesuai dalam gambar ditambah masuk
kesamping yang akan terurug tanah sedalam minimum 5 cm.
• Pertemuan pasangan (plesteran sudut) selebar 8-10 cm untuk bangunan kecil dan
15 cm untuk bangunan yang besar.
• Dasar saluran dengan kemiringan menurun bertemu pada pertengahan saluran
dengan tebal maksimum 2 cm.

Pekerjaan Plesteran
• Sebelum pekerjaan plesteran dilakukan maka bidang dasar harus dibuat kasar dan
bersih.
• Plesteran dibuat setebal 1.5 cm dan campuran spesinya adalah 1 pc:3 ps.

Pekerjaan Beton
Sebagai pedoman pekerjaan untuk pelaksanaan pekerjaan ini adalah ‘Peraturan Beton
Indonesia tahun 1971 (SNI PBI 1971)
Mutu:
• Semua pekerjaan beton tidak bertulang ditetapkan dengan kualitas beton
BOW dengan campuran 1pc : 2 ps : 3 kricak.
• Semua pekerjaan beton bertulang harus ditetapkan dengan mutu K.125
ndengan campuran 1pc : 2 ps : 3 kricak.
• Tulangan beton dipasang dengan baik dan benar sehingga sebelum dan
selama pengecoran tidak berubah bentuknya.
• Sesudah pengecoran beton selesai maka selama 2 minggu beton harus selalu
dibasahi terus menerus.

Pekerjaan Bekisting/Cetakan
Bekisting harus cukup kokoh dan cukup rapat sehingga dapat menghasilkan bentuk
cetakan beton sesuai dengan gambar rencana.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut :
6.1 Kesimpulan
1. Luas wilayah potensi banjir di Kecamatan Panjatan Sebesar 570, 8631 Ha
meliputi Desa Gotakan, Desa Kanoman, Desa Panjatan, Desa Cerme, Desa
Kanoman, Desa Depok dan Desa Buge.
2. Dari tujuh desa tersebut yang terparah dilihat dari visualisasi model adalah
Desa Gotakan, Desa Cerme, Desa Panjatan, Dan Desa Kanoman.
3. Dari Peta Rekomendasi Lokasi Kolam Penahan Air Hujan diperoleh tiga lokasi
penahan air hujan, yang bertujuan untuk mengurangi debit limpasan sehingga
memperkecil Volume sebesar 1571993,57 M3; 2362223.53 M3; dan
794518.23 M3.
4. Stasiun utama daerah perencanaan adalah stasiun Panjatan
5. Pada uji Chi Kuadrat dalam analisis frekuensi curah hujan, semua metoda dapat
diterima. Dengan mempertimbangkan faktor keamanan, akhirnya dipilih curah
hujan tertinggi, yaitu curah hujan dari metode Gumbel.
6. dari hasil analisis terhadap badan air penerima dari ruang lingkup mikro,
perencanaan sistem drainase Kecamatan Panjatan ini dapat menangani seluruh
limpasan permukaaan dengan baik.
7. Dana yang diperlukan untuk pembangunan sistem ini standar, tapi inilah
perencanaan yang optimal untuk menghindari biaya dan bahaya yang lebih
besar.

6.1 Saran
1. Diperlukan kajian yang optimum mendalam terkait masalah perencanaan, dan
GIS merupakan metode optimum yang bisa digunakan sebagai alternatif kajian.
2. Perlunya data pendukung awal yang lebih baik sebagai input untuk hal-hal terkait
masalah keruangan, terkait masalah ketelitian, kevalidan, dan akurasi dari output.
3. Adanya penelitian lanjutan yang terfokus terkait struktur dari kolam penahan air
hujan.
DAFTAR PUSTAKA

Andrysiak, Peter B and Maidment, David, 2000, Visual Floodplain Modeling


with Geographic Information Systems (GIS), Center for Research in Water
Resources, Bureau of Engineering Research, The University of Texas at
Austin, USA.
www.crwr.utexas.edu/reports/pdf/2000/rpt00-4.pdf diambil 23 Januari 2007,
pukul 21.00.
Brontowiyono, W.,14 Desember 2006, Mengelola Air Jalanan, Kedaulatan
Rakyat Newspaper, Yogyakarta.
Chow, Ven Te, Nensi Rosalina, 1992, Hidrolika Saluran Terbuka. Erlangga.
Jakarta.
Hastad and Dustan, 2003, Stormwater Conveyance Modeling And Desaign, 37
Brookside Rd, Waterbury, USA.
Kompas, 26 Maret 2007, Puluhan Hektar Sawah Terendam – Banjir Kulonprogo
Belum Ditangani Pemerintah, Kompas,The Indonesiannewspaper
Gramedia, Indonesia.
Husein, R., 2006, Konsep Dasar Sistem Informasi Geografis (Geographic
Information System), Komunitas eLearning Ilmu Komputer.com
http://ilmukomputer.com/2006/12/22/konsep-dasar-sig diambil 24 Juni 2007
pukul 19.40.
Marfai, Muh. Aris, 2003, GIS Modelling of River and Tidal Flood Hazards in a
Waterfront City, M.Sc Thesis, ITC Enschede, The Netherland.
www.itc.nl/library/papers_2003/msc/ereg/marfai.pdf diambil 14 Januari 2007,
pukul : 09.30
Suripin, 2004, Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan, Penerbit Andi,
Yogyakarta.
Usage (US Army Corps of Engineer), 2006, HEC-HMS, Hydrologic Modeling
System, User Manual's Version 3.1.0, Hydrologic Engineering Center,
Davis, CA, USA.
http://www.hec.usace.army.mil/software/hec-hms/documentation/HEC-
HMS_Users_Manual_3.1.0.pdf, diambil 14 Januari 2006, pukul 10.00
Usage (US Army Corps of Engineer), 2006, HEC-RAS, River Analysis System,
User Manual's Version 4.0 Beta, Hydrologic Engineering Center,
Davis, CA, USA.
ftp://ftp.usace.army.mil/pub/iwr-hec-web/software/ras/documentation/
HEC-RAS_v4.0_Users_Manual.pdf, diambil 14 Januari 2006,
pukul 10.00
Yuliana, Ade., 2002, Perencanaan Sisitem Drainase Dengan Sumur Resapan dan
Kolam Retensi Dalam Rangka Konservasi Air Di Perumahan Katumiri
Cihanjun, Laporan Tugas Akhir, Fakuktas Teknik Sipil dan Perencanaan,
Institut Teknologi Bandung.
LAMPIRAN
1. Penentuan Stasiun Utama
Penentuan stasiun utama menggunakan poligon thiessen dengan terlebih dahulu mencari
titik lokasi stasiun. Dari hasil pencarian data menggunakan GPS di peroleh 5 stasiun untuk
menghitung besarnya curah hujan daerah penelitian yaitu :
12. Stasiun Panjatan (110.1617 , -7.8964)
13. Stasiun Temon (110.0819 , -7.8865)
14. Stsiun Pengasih (110.1693 , -7.8391)
15. Stasiun Sentolo (110.2205 , -7.8319 )
16. Stasiun Galur (110.2330 , -7.9402 )
Dari data diatas lokasi daerah penelitian berada tepat di dalam poligon yang di pengaruhi
stasiun Panjatan, sehingga dengan ini maka stasiun Panjatan terpilih sebagai stasiun utama.

2. Melengkapi Data Curah Hujan


Dari data curah hujan yang ada perhitungan dilakukan dengan menggunakan persamaan
(3-3), (3-4), (3-5) sebagai berikut :
Dikarenakan tidak terdapatnya data pada stasiun Panjatan, stasiun Pengasih dan stasiun
Temon dari tahun 1985 -1996 di karenakan stasiun-stasiun tersebut baru berdiri tahun
1996, maka pencarian data curah hujan di pisah dengan menggunakan 2 stasiun yang
lengkap data curah hujannya yaitu stasiun Galur dan stasiun Sentolo.

R = (163.91+193.27+135. 2+208.4+242) / 5
= 188.56

S =(((163.91-188.56)2+(193.27-188.56)2+(135.2-188.56)2+(208.4-188.56)2 (242-
188.56)2/4)0.5
= 41.01

Perbedaan curah hujan harian normal, Δ = (41.01/188.56)*100 % = 21 %


Karena lebih dari 10 % maka mencari data curah hujan yang hilang menggunakan
persamaan (3-2)
Contoh perhitungan :
Tahun 1985
12 Stasiun B
Tahun 1985 1 ⎛ 160 393 ⎞
= ⎜ + ⎟
132 3 − 1 ⎝ 193 164 ⎠
Tahun 1985
= 1,613
132
Tahun 1985 = 212,916 = 213

Melengkapi Data Curah Hujan Yang Hilang


Satsiun A Stasiun B Stasiun C Stasiun D Stasiun E
No Tahun
Galur Panjatan Pengasih Sentolo TeMon
1 1985 160 213 336 393 384
2 1986 181 166 261 258 299
3 1987 153 128 201 187 230
4 1988 183 148 233 212 267
5 1989 190 132 208 167 238
6 1990 151 117 184 162 211
7 1991 106 97 154 152 176
8 1992 170 130 205 178 234
9 1993 145 110 173 150 198
10 1994 192 112 176 114 201
11 1995 234 161 254 202 291
12 1996 183 114 180 129 206
13 1997 94 22 78 71 85
14 1998 282 115 258 177 419
15 1999 252 295 73 118 309
16 2000 310 158 234 173 333
17 2001 253 79 866 175 228
18 2002 193 87 92 115 114
19 2003 173 163 165 165 132
20 2004 229 138 113 99 225
21 2005 258 184 107 109 380
22 2006 160 111 98 100 195
Jumlah 4252 2980 4649 3606 5355
R Rata 193.27 135.45 211.32 163.91 243.41
3. Tes Konsistensi
Untuk setiap stasiun pembanding akan dicari harga rata-rata dari stasiun dasar. Kemudian
di cari akumulasi rata-rata dari bawah baik untuk stasiun utam maupun stasiun dasar.
Contoh perhitungan :
Untuk tahun 2004, maka :
Rerata stasiun dasar dari bawah = (229+113+99+225)/4 = 166.5
Akumulasi rerata untuk stasiun dasar dari bawah :
15. Stasiun dasar = 138.25+213.5 +166.5 = 518.25
16. Stasiun utama = 111+184+138 = 433
Data akumulasi tersebut diplot sebagai grafik dengan akumulasi rerata stasiun dasar pada
sumbu Y, dan akumulasi stasiun utama sebagai sumbu X, sehingga di peroleh pola/tren
garis lurus.
Tabel Perhitungan Tes Konsistensi
CURAH HUJAN HARIAN MAKSIMUM Akumulasi Rerata
(mm/hari) Rerata Dari Bawah
No. Tahun
Stasiun Stasiun Dasar Stasiun Stasiun Stasiun
Utama Galur Pengasih Sentolo Temon Dasar Dasar Utama
1 1985 213 160 336 393 384 318.25 4465.5 2980
2 1986 166 181 261 258 299 249.75 4147.25 2767
3 1987 128 153 201 187 230 192.75 3897.5 2601
4 1988 148 183 233 212 267 223.75 3704.75 2473
5 1989 132 190 208 167 238 200.75 3481 2325
6 1990 117 151 184 162 211 177 3280.25 2193
7 1991 97 106 154 152 176 147 3103.25 2076
8 1992 130 170 205 178 234 196.75 2956.25 1979
9 1993 110 145 173 150 198 166.5 2759.5 1849
10 1994 112 192 176 114 201 170.75 2593 1739
11 1995 161 234 254 202 291 245.25 2422.25 1627
12 1996 114 183 180 129 206 174.5 2177 1466
13 1997 22 94 78 71 85 82 2002.5 1352
14 1998 115 282 258 177 419 284 1920.5 1330
15 1999 295 252 73 118 309 188 1636.5 1215
16 2000 158 310 234 173 333 262.5 1448.5 920
17 2001 79 253 866 175 228 380.5 1186 762
18 2002 87 193 92 115 114 128.5 805.5 683
19 2003 163 173 165 165 132 158.75 677 596
20 2004 138 229 113 99 225 166.5 518.25 433
21 2005 184 258 107 109 380 213.5 351.75 295
22 2006 111 160 98 100 195 138.25 138.25 111
Σ=2980 Σ=4465.5
Dari grafik kurva massa ganda (gambar 5.13), perubahan pola terjadi pada tahun 2002
(2001-2002), 2001(2000-2001), 2000 (1999-2000), 1999 (1997-1999), dan tahun 1997
(1985-1997).
tan α0 = 0.45
Pada perubahan pola/tren pertama tan α = 1.8
Pada perubahan pola/tren kedua tan α2 = 0.625
Pada perubahan pola/tren ketiga tan α3 = 0.571
Pada perubahan pola/tren keempat tan α4 = 1.125
Pada perubahan pola/tren kelima tan α5 = 0.53
tan α
Dengan persaman (3-7), fk =
tan α ο
Dimana :
Fk = faktor koreksi
tan α = slope sebelum perubahan
tan α0 = slope setelah perubahan

diperoleh faktor koreksi


fk1 = 0.45/1.8 = 0.25
fk2 = 0.45/0.625 = 0.72
fk3 = 0.45/0.571 = 0.78
fk4 = 0.45/1.125 = 0.4
fk5 = 0.45/0.53 = 0.85
Kurva Massa Ganda Stasiun Panjatan

4500
4250
Kumulatif Rerata Stasiun Dasar (mm/hari) 4000
3750
3500
3250
3000
2750
2500
2250
2000
1750
1500
1250
1000
750
500
250
0
0 500 1000 1500 2000 2500 3000
Kumulatif Rerata Stasiun Utama (mm/hari)
Selanjutnya pada tahun 2002 (2001-2002), 2001(2000-2001), 2000 (1999-2000), 1999
(1997-1999), dan tahun 1997 (1985-1997) harus dikoreksi dengan fk.

No. Tahun Xi Faktor Koreksi Xi*FK R (mm/hari)


1 1985 213 0.85 181.05 181
2 1986 166 0.85 141.10 141
3 1987 128 0.85 108.80 109
4 1988 148 0.85 125.80 126
5 1989 132 0.85 112.20 112
6 1990 117 0.85 99.45 99
7 1991 97 0.85 82.45 82
8 1992 130 0.85 110.50 111
9 1993 110 0.85 93.50 94
10 1994 112 0.85 95.20 95
11 1995 161 0.85 136.85 137
12 1996 114 0.85 96.90 97
13 1997 22 0.85 18.70 19
14 1998 115 0.4 46.00 46
15 1999 295 0.4 118.00 118
16 2000 158 0.78 123.24 123
17 2001 79 0.72 56.88 57
18 2002 87 0.25 21.75 22
19 2003 163 1 163 163
20 2004 138 1 138 138
21 2005 184 1 184 184
22 2006 111 1 111 111
4. Tes Homogenitas
Trial 1
Tabel Data Curah HHM 20 Tahun Terakhir
No. Tahun R (mm/hari)
1 1987 109
2 1988 126
3 1989 112
4 1990 99
5 1991 82
6 1992 111
7 1993 94
8 1994 95
9 1995 137
10 1996 97
11 1997 19
12 1998 46
13 1999 118
14 2000 123
15 2001 57
16 2002 22
17 2003 163
18 2004 138
19 2005 184
20 2006 111
Jumlah 2043
Rata-rata 102.15
SD 42.2

Dengan persamaan (3-18) Rt = R + (0.78Yt − 0.45)σ R


Dimana : Yt = Reduce variate
σR = Standar deviasi data hujan
Rt = Curah hujan tahunan
maka persamaan Gumbel modifikasinya adalah :
Rt = R + (0.78 Yt -0.45) σR
=102.15 + (0.78 Yt -0.45) 42.2
= 83.16 + 32.91Yt
⎛ Tr ⎞
Untuk T = 10 tahun dan dari persamaan (3.13) Yt = − ln⎜ ln ⎟
⎝ Tr − 1 ⎠
Dimana: Tr = Periode ulang hujan
Yt = Reduce variate
maka :
Y10 = -ln(ln(Tr/(Tr-1)))
= -ln(ln(10/(10-1)))
= 2.2504
R10 = 83.16+32.91 (2.2504) = 157.22

Untuk Rt = 102.15
Yt = (102.15 – 83.16) / 32.91 = 0.5770
0.5770= -ln(ln(Tr/(Tr-1))) ; Tr = 2.33

Rt
Dengan persamaan (3-8), Tr = Tr
R
Dimana: Tr = Periode ulang hujan
Rt = Curah hujan tahunan
maka :
TR = (R10 / R) Tr
= (157.22/102.51)2.33
= 3.57
Titik (20, 3.57) homogen

5. Analisis Frekuensi Curah Hujan


A. Dengan Menggunakan Metode Gumbel Modifikasi
13. Jumlah data = (N) = 20
14. Rata-rata =R = 102.15
15. Standar deviasi = SD = 42.2
16. Keyakinan =a = 90 %
17. Fungsi a = t(a) = 1.640
Contoh perhitungan (untuk PUH 2 Tahun)
⎛ Tr ⎞
Dengan mengunakan persamaan (3-13), Yt = − ln⎜ ln ⎟,
⎝ Tr − 1 ⎠
Dimana: Tr = Periode ulang hujan
Yt = Reduce variate
maka :
Tr = -ln (ln(2/(2-1))) = 0.37

Dengan persamaan : (3-23) K = (0.78Yt − 0.45) ,

(3-22) b = (1 + 1.3K + 1.1K ) ,dan


2

b.σ R
(3-21) Se =
N
Dimana : K = Skew curve factor, dihitung dengan menggunakan tabel (III.1)
berdasarkan koefisien skew (g) dan periode ulang hujan (T)
Yt = Reduce variate
Se = Probability error (deviasi)

maka diperoleh harga K, b, dan Se, sebagai berikut :


K = (0.78*0.37)-0.45 = -0.16
b = ((1+(1.3*(-0.16))+(1.1*(-0.162)))0.5 =0.90
Se = 0.90 *42.2/( 200.5 ) = 8.53

Dengan persamaan Gumbel modifikasi (3-18), Rt = R + (0.78Yt − 0.45)σ R , diperoleh :


R = 102.15 + ((0.78*0.37)-0.45)*42.2 = 95.22
Keyakinan 90 % = 1.64 *8.53 = 13.98
Sehingga diperoleh rentang Hujan Harian Makimum = 95.22 ± 13.98

Tabel Perhitungan HHM Metode Gumbel Modifikasi


PUH YT K b SD Se t(a)Se Hujan Harian Maksimum
2 0.37 -0.16 0.90 42.2 8.53 13.98 95.22
5 1.50 0.72 1.58 42.2 14.94 24.50 132.53
10 2.25 1.31 2.14 42.2 20.17 33.09 157.23
25 3.20 2.04 2.87 42.2 27.12 44.47 188.44
50 3.90 2.59 3.43 42.2 32.37 53.09 211.60
100 4.60 3.14 3.99 42.2 37.64 61.73 234.58
Tabel CHHM Menurut Metoda Gumbel Modifikasi
PUH Rentang Keyakinan 90 %
2 95.22± 13.98
5 132.53 ± 24.5
10 157.23 ± 33.09
25 188.44 ± 44.47
50 211.6 ± 53.09
100 234.58 ± 61.73

B. Dengan Menggunakan Log Pearson Type III


Tabel Perhitungan Jumlah Rata-rata, SD, g
No. Tahun R (mm/hari) Ri Ri2 Ri3
1 1987 109 2.0374 0.0070 0.0006
2 1988 126 2.1004 0.0214 0.0031
3 1989 112 2.0492 0.0091 0.0009
4 1990 99 1.9956 0.0017 0.0001
5 1991 82 1.9138 0.0016 -0.0001
6 1992 111 2.0453 0.0083 0.0008
7 1993 94 1.9731 0.0004 0.0000
8 1994 95 1.9777 0.0006 0.0000
‘9 1995 137 2.1367 0.0334 0.0061
10 1996 97 1.9868 0.0011 0.0000
11 1997 19 1.2788 0.4560 -0.3079
12 1998 46 1.6628 0.0848 -0.0247
13 1999 118 2.0719 0.0139 0.0016
14 2000 123 2.0899 0.0185 0.0025
15 2001 57 1.7559 0.0393 -0.0078
16 2002 22 1.3424 0.3740 -0.2287
17 2003 163 2.2122 0.0667 0.0172
18 2004 138 2.1399 0.0346 0.0064
19 2005 184 2.2648 0.0966 0.0300
20 2006 111 2.0453 0.0083 0.0008
Jumlah 2043 39.0799 1.2771 -0.4990
Rata-rata 102.15 1.9540
SD 42.2 0.2593
G -1.675

Keterangan :
ri = Log R
2
Ri = (ri – Rata-rata ri)2
Ri 3 = (ri – Rata-rata ri)3
Contoh Perhitungan untuk PUH 2 Tahun
untuk g = -1.675 ≈ -1.6, dari tabel (III.1) diperoleh harga K = 0.254
Dengan persamaan (3-27) log Rt = r + K .σ R
Dimana: Rt = Curah hujan tahunan
r = rata – rata
σR = Standar deviasi log
K = Skew curve factor, dihitung dengan menggunakan tabel (III.1)
berdasarkan koefisien skew (g) dan periode ulang hujan (T)
didapat ;
Log RT = 1.9540+((0.254)*(0.2593)) = 2.0199
RT = anti Log 2.0199 = 104.69

Tabel Perhitungan HHM Metoda Log Pearson Type III


PUH K K.SD Log RT RT
2 0.254 0.0659 2.0199 104.69
5 0.817 0.2118 2.1658 146.49
10 0.994 0.2577 2.2117 162.82
25 1.116 0.2894 2.2434 175.15
50 1.166 0.3023 2.2563 180.43
100 1.197 0.3104 2.2644 183.82
C. Dengan Metode Iwai Kadoya
Untuk mencari nilai b, data HHM diurutkan mulai paling besar sampai paling kecil

Tabel Data HHM yang diurutkan


No. Tahun R (mm/hari) Tahun R (mm/hari)
1 1987 109 2005 184
2 1988 126 2003 163
3 1989 112 2004 138
4 1990 99 1995 137
5 1991 82 1988 126
6 1992 111 2000 123
7 1993 94 1987 118
8 1994 95 1999 112
9 1995 137 1989 111
10 1996 97 1992 111
11 1997 19 2006 109
12 1998 46 1990 99
13 1999 118 1996 97
14 2000 123 1994 95
15 2001 57 1993 94
16 2002 22 1991 82
17 2003 163 2001 57
18 2004 138 1998 46
19 2005 184 2002 22
20 2006 111 1997 19

1
Dengan menggunakan persamaan; (3-29) b =
m
∑ bi
n
(3-30) m = dan
10

(3-31) bi =
( Xs. Xt ) − Xo 2
2 Xo − ( Xs + Xt )
Dimana : Xs = harga dengan no. pengamatan m dari yang terbesar
Xt = harga dengan no. pengamatan m dari yang teerkecil
n = banyaknya data
maka harga b dapat ditentukan. Langkah perhitungan dan hasilnya dapat dilihat pada tabel
berikut
Tabel Penentuan Harga b
No Xs Xt Xs*Xt Xs+Xt (Xs*Xt)-(Xo2) 2Xo – (Xs+Xt) bi
1 184 19 3496 203 -4594.85 -23.1 198.911255
2 163 22 3586 185 -4504.85 -5.1 883.303922
Jumlah 1082.21518
B 541.11
Tabel Penentuan harga Xo, xo dan c
No. Tahun R (mm/hari) Log( R) (R+b) Log (R+b) Log (R+b)2
1 2005 184 2.26 725.11 2.86 8.18
2 2003 163 2.21 704.11 2.85 8.11
3 2004 138 2.14 679.11 2.83 8.02
4 1995 137 2.14 678.11 2.83 8.02
5 1988 126 2.10 667.11 2.82 7.98
6 2000 123 2.09 664.11 2.82 7.97
7 1987 118 2.07 659.11 2.82 7.95
8 1999 112 2.05 653.11 2.81 7.92
9 1989 111 2.05 652.11 2.81 7.92
10 1992 111 2.05 652.11 2.81 7.92
11 2006 109 2.04 650.11 2.81 7.91
12 1990 99 2.00 640.11 2.81 7.88
13 1996 97 1.99 638.11 2.80 7.87
14 1994 95 1.98 636.11 2.80 7.86
15 1993 94 1.97 635.11 2.80 7.86
16 1991 82 1.91 623.11 2.79 7.81
17 2001 57 1.76 598.11 2.78 7.71
18 1998 46 1.66 587.11 2.77 7.67
19 2002 22 1.34 563.11 2.75 7.57
20 1997 19 1.28 560.11 2.75 7.55
Jumlah 39.0799 56.1498 157.6556
Log Xo 1.9540
Xo 89.9491
xo 2.8075
'xo2 7.8820
'x2 7.8828
1/c 0.0300

1
Harga Xo dapat dicari menggunakan persamaan (3-28) log Xo =
n
∑ log Xi
Log X = 39.079934/20 = 1.953997
Xo = antilog 1.953997 = 89.9491

1
Harga xo dapat dicari menggunakan persamaan (3-32) xo =
n
∑ log( Xi + b)
xo = 56.15/20 = 2.8075
xo2 = 2.80752 = 7.8820
1
1 ⎡⎛ 2n ⎞ 2 2 ⎤
( )
2
Harga 1/c dapat dicari menggunakan persamaan (3-33) = ⎢⎜ ⎟ x − xo ⎥
c ⎣⎝ n − 1 ⎠ ⎦
x2 = 157.66/20 = 7.8828
1/c = (((2.20)/(20-1))*(x2 – xo2)))0.5 = 0.04

Perhitungan Hujan Harian Maksimum Dengan Menggunakan Iwai Kadoya

Tabel Perhitungan HHM Dengan Metode Iway Kadoya


(1/c)ξ Log (X+b) X+b HHM (mm/hari)
ξ
PUH 1/c*(1) Xo+(2) Antilog (3) (4)-b
1 2 3 4 5
2 2.8075 641.95 100.84
5 0.5951 0.023804 2.8313 678.11 137.00
10 0.9062 0.036248 2.8437 697.75 156.64
25 1.2379 0.049516 2.8570 719.45 178.34
50 1.4522 0.058088 2.8656 733.84 192.73
100 1.6450 0.065800 2.8733 746.96 205.85
6. Uji Chi Kuadrat
Tabel Perhitungan Untuk Uji Chi Kuadrat
No. Tahun R (mm/hari) Log( R) Log (R+b)
1 2005 184 2.2648 2.8604
2 2003 163 2.2122 2.8476
3 2004 138 2.1399 2.8319
4 1995 137 2.1367 2.8313
5 1988 126 2.1004 2.8242
6 2000 123 2.0899 2.8222
7 1987 118 2.0719 2.8190
8 1999 112 2.0492 2.8150
9 1989 111 2.0453 2.8143
10 1992 111 2.0453 2.8143
11 2006 109 2.0374 2.8130
12 1990 99 1.9956 2.8063
13 1996 97 1.9868 2.8049
14 1994 95 1.9777 2.8035
15 1993 94 1.9731 2.8028
16 1991 82 1.9138 2.7946
17 2001 57 1.7559 2.7768
18 1998 46 1.6628 2.7687
19 2002 22 1.3424 2.7506
20 1997 19 1.2788 2.7483
Jumlah 2043.00 39.08 56.15
Rata-rata 102.15 1.95 2.81
Sd 42.02 0.26 0.03
X 102.15+42.02k 1.95+0.26k 2.81+0.0288k
Peluang 0.2 0.2 0.2
K1 = -0.84 67 1.73 2.79
K2 = -0.25 92 1.89 2.8
K3 = 0.25 113 2.02 2.82
K4 =0.84 137 2.17 2.83

Data pengamatan yang dipakai :


11. Metode Gumbel : Xi
12. Metode Log Pearson Type III : Log Xi
13. Metode Iwai Kadoya : Log (Xi + b)
N +1
Ketiga metode dicari persamaan umumnya seperti pada persamaan (3-36) T =
m
Dimana : T = Periode ulang dari kejadian sesuai dengan sifat kumpulan nilai
yang diharapkan
N = Jumlah pengamatan dari variat X
m = Nomor urut kejadian
dengan mengambil interval peluang = 0.2, dari Tabel, maka dapat dicari harga k untuk
menentukan range masing-masing sub group.
Tabel Uji Chi Kuadrat Untuk Metode Gumbel
Batas Sub Jumlah Data
No Group (Oi) Ei Oi – Ei (Oi – Ei)2 (Oi – Ei)2/(Oi – Ei)
1 < 67 4 4 0 0 0
2 67-92 1 4 -3 9 2.25
3 92-113 8 4 4 16 4
4 113-137 4 4 0 0 0
5 >137 3 4 -1 1 0.25
Jumlah 20 6.5

Tabel Uji Chi Kuadrat Untuk Metode Log Pearson Type III
Batas Sub Jumlah Data
No Group (Oi) Ei Oi – Ei (Oi – Ei)2 (Oi – Ei)2/(Oi – Ei)
1 <1.73 3 4 -1 1 0.25
2 1.73-1.89 1 4 -3 9 2.25
3 1.89-2.02 6 4 2 4 1
4 2.02-2.17 8 4 4 16 4
5 >2.17 2 4 -2 4 1
Jumlah 20 8.5

Tabel Uji Chi Kuadrast Untuk Metode Iway Kadoya


Batas Sub Jumlah Data
No Group (Oi) Ei Oi – Ei (Oi – Ei)2 (Oi – Ei)2/(Oi – Ei)
1 <2.79 4 4 0 0 0
2 2.79-2.8 1 4 -3 9 2.25
3 2.8-2.82 8 4 4 16 4
4 2.82-2.83 5 4 1 1 0.25
5 >2.83 2 4 -2 4 1
Jumlah 20 7.5
Dari Tabel tersebut , χ2 hitung = 6.5, 8.5, dan 7.5, pada derjat kebebasan (dk) 5 – 2 – 1 = 2
Berdasarkan Tabel , maka besarnya peluang untuk mencapai χ2 lebih dari 6.5, 8.5 dan 7.5
adalah lebh besar dari pada 5 %, berati semua metode yang dipakai dapat diterima, oleh
karena itu d gunakan cara lain untuk menentukan distribusi frekuensi curah hujan
maksimum (CHHM), yaitu dengan cara membandingkan ketiga metode dan di lihat
metode mana yang menghasilkan CHHM paling besar

Tabel Curah HHM 3 Metode


Curah Hujan Harian Maksimum
PUH Gumbel Log Pearson Iwai Kadoya
2 95.22 ± 13.98 104.69 100.84
5 132.53 ± 24.5 146.49 137.00
10 157.23 ± 33.09 162.82 156.64
25 188.44 ± 44.47 175.15 178.34
50 211.6 ± 53.09 180.43 192.73
100 234.58 ± 61.73 183.82 205.85

Dari Tabel tersebut terlihat bahwa CHMM paling besar dihasilkan oleh Metode Gumbel,
maka atas dasar ini CHMM dari metode gumbel akan digunakan pada perencanaan
selanjutnya.

Curah Hujan Harian Maksimum


PUH (mm/hari)
2 95.22
5 132.53
10 157.23
25 188.44
50 211.6
100 234.58
7. Analisis Intensitas Hujan
A. Metode Van Breen
N +1
Dari persamaan T = , maka dapat di hitung intensitas hujan menurut metode Van
m
Breen

Tabel Perhitungan Intensitas Hujan Menurut Metode Van Breen


Durasi Intensitas Hujan Menurut Metode Van Breen
2 5 10 25 50 100
(Menit)
95.22 132.53 157.23 188.44 211.6 234.58
5 148.97 155.31 158.01 160.49 161.89 163.02
10 130.13 140.11 144.56 148.76 151.18 174.23
20 103.85 117.17 123.53 129.79 133.52 136.65
40 73.97 88.27 95.69 103.41 108.23 112.40
60 57.44 70.81 78.09 85.95 90.99 95.46
80 46.95 59.11 65.96 73.53 78.50 82.96
120 34.39 44.43 50.32 57.04 61.58 65.74
240 19.08 25.46 29.41 34.11 37.40 40.52

Berikut contoh perhitungan untuk PUH 5 tahun dengan durasi 60 menit


2
54 RT + 0.007 RT
Dengan persamaan I T =
tc + 0.31RT
Dimana: IT = Intensitas hujan (mm/jam) pada PUH T pada waktu konsentrasi tc
tc = Waktu konsentrasi (menit)
RT = Curah hujan harian maksimum PUH T (mm/24jam)
maka :
I5 = ((54 RT + (0.007 RT )2)) / ((tc+(0.31* RT ))
= ((54*95.22+ ((0.007*95.22)2) / ((60+(0.31*95.22))
= 57.44

A. MetodeBell Tanimoto
Karena akan di perbandingkan dengan metode Van Breen, yang menyatakan besar dan
lamanya durasi hujan harian di Indonesia (khususnya Pulau Jawa) terpusat selama 4 jam
dengan hujan efektif 90 % dari hujan selama 24 jam, maka pada metode Bell dan Tanimoto
ini juga hanya dihitung selama 4 jam pertama saja.
Tabel Pehitungan Intensitas Hujan Menurut Metode Bell Tanomoto
PUH Durasi (t) X R (60,10) R (t,T) I (t,T)
Tahun Menit (mm/hari) (mm/jam)
5 6.59 79.04
10 9.86 59.15
20 13.75 41.25
40 18.38 27.57
2 95.22 32.21
60 21.48 21.48
80 23.88 17.91
120 27.57 13.79
240 34.82 8.70
5 11.83 141.91
10 17.70 106.21
20 24.69 74.07
40 33.00 49.50
5 132.53 44.83
60 38.57 38.57
80 42.88 32.16
120 49.51 24.75
240 62.51 15.63
5 16.35 196.23
10 24.48 146.86
20 34.14 102.42
40 45.63 68.44
10 157.23 53.18
60 53.33 53.33
80 59.29 44.47
120 68.46 34.23
240 86.44 21.61
5 23.32 279.88
10 34.91 209.47
20 48.69 146.08
40 65.08 97.62
25 188.44 63.74
60 76.07 76.07
80 84.57 63.43
120 97.64 48.82
240 123.29 30.82
5 29.49 353.87
10 44.14 264.85
20 61.57 184.70
40 82.29 123.43
50 211.6 71.57
60 96.18 96.18
80 106.93 80.20
120 123.45 61.73
240 155.88 38.97
5 36.11 433.28
10 54.05 324.28
20 75.38 226.14
40 100.75 151.13
100 234.58 79.34
60 117.76 117.76
80 130.92 98.19
120 151.15 75.58
240 190.86 47.72
Contoh Perhitungan
Dari persamaan (3-37) X = Xr + k .SD ,
90%.R 24
(3-38) I = dan
4
2
54 RT + 0.007 RT
(3-39) I T = ,
tc + 0.31RT
maka dapat dicari intensitas hujan menurut meode Bell-Tanimoto untuk PUH 50
X T ⎛ R1 + R 2 ⎞
Dengan persamaan (3-41) RTt = ⎜ ⎟
Xt ⎝ 2 ⎠
Dimana : R = Curah hujan (mm)
T = Periode ulang (tahun)
t = durasi hujan (menit)
R1 = besarnya curah hujan pada distribusi jam ke 1 menurut tanimoto
R2 = besarnya curah hujan pada distribusi jam ke 2 menurut tanimoto

R6010 = (211.6/170)*((87+28)/2) = 71.57

Untuk durasi hujan 40 menit menggunakan persamaan


( )
RTt = (0.21ln T + 0.52 ) 0.54t 0.25 − 0.50 RTt dan
60 t
I Tt = RT
t
maka :
R4050 = ((0.21(ln50))+0.52)*(0.54(400.25 )-0.50)*(71.57) = 82.29
I4050 = (60/40)*82.29 = 123.43

C. Metode Hasper dan Der Weduwen


Dengan menggunakan persamaan (5-41) sampai (5-44), maka dapat dihitung intensitas
hujan menurut Hasper dan Der Weduwen
Tabel Perhitungan Intensitas Hujan Metode Hasper dan Der Weduwen
Durasi
PUH Durasi (t) (t) X Ri R I
Tahun Menit Jam (mm/hari) mm/jam
5 0.08 76.61 45.50 545.98
10 0.17 83.99 49.25 295.50
20 0.33 89.85 51.40 154.20
40 0.67 93.73 51.20 76.81
2 95.22
60 1 95.22 49.87 49.87
80 1.33 96.01 55.39 41.54
120 2 96.82 63.26 31.63
240 4 97.67 75.87 18.97
5 0.08 90.59 53.81 645.67
10 0.17 105.63 61.94 371.63
20 0.33 118.99 68.06 204.19
40 0.67 128.64 70.27 105.41
5 132.53
60 1 132.53 69.41 69.41
80 1.33 134.63 77.09 57.82
120 2 136.85 88.05 44.03
240 4 139.19 105.60 26.40
5 0.08 97.75 58.06 696.66
10 0.17 117.80 69.07 414.43
20 0.33 136.77 78.24 234.71
40 0.67 151.22 82.61 123.91
10 157.23
60 1 157.23 82.34 82.34
80 1.33 160.52 91.45 68.59
120 2 164.03 104.46 52.23
240 4 167.78 125.28 31.32
5 0.08 105.13 62.44 749.25
10 0.17 131.23 76.95 461.69
20 0.33 157.71 90.22 270.65
40 0.67 179.17 97.88 146.81
25 188.44
60 1 188.44 98.69 98.69
80 1.33 193.61 109.61 82.21
120 2 199.19 125.20 62.60
240 4 205.24 150.14 37.54
5 0.08 109.69 65.15 781.79
10 0.17 140.04 82.11 492.67
20 0.33 172.26 98.54 295.61
40 0.67 199.50 108.98 163.47
50 211.6
60 1 211.60 110.82 110.82
80 1.33 218.44 123.08 92.31
120 2 225.90 140.58 70.29
240 4 234.07 168.60 42.15
5 0.08 113.62 67.49 809.83
10 0.17 147.95 86.75 520.51
20 0.33 185.92 106.35 319.06
40 0.67 219.33 119.82 179.73
100 234.58
60 1 234.58 122.85 122.85
80 1.33 243.31 136.44 102.33
120 2 252.92 155.85 77.93
240 4 263.57 186.90 46.73
Contoh Perhitungan
Untuk PUH 100 tahun dengan durasi selama 40 menit (0.67 jam), maka digunakan
1218.t + 54
persamaan (3-45) Rt = Xi
Xt (1 − t ) + 1272.t

11300.t ⎡ X 1 ⎤
(3-43) R = → 1< t ≤ 24
t + 3.12 ⎢⎣100 ⎥⎦

11300 ⎡ R1 ⎤
(3-44) R = → 0< t ≤ 1
t + 3.12 ⎢⎣100 ⎥⎦
R
(3-46) I =
t
Dimana : t = durasi hujan (menit)
R, R1 = Curah hujan menurut Hasper-Weduwen
X1 = CHHM yang terpilih (mm/24jam)
I = Intensitas hujan (mm/jam)
R = Curah hujan
untuk mendapatkan curah hujan menurut Hasper-Weduwen.
Rt =234.58*(((1218*0.67)+54)/(((234.58+(1-0.67))+(1272*0.67))))=219.33
R =((11300/(0.67+3.12))^0.5)*(219.33/100) = 119.82
I = 119.82/0.67 = 179.73

8. Penentuan Rumus Intensitas Hujan


Untuk menentukan rumus intensitas hujan yang dipakai, maka ketiga metode penentuan
intensitas hujan (Metode Van Breen, Bell, dan Hasper-Weduwen) disubsitusikan pada
persamaan-pesamaan Talbot, Sherman dan Ishiguro.
Kemudian dicari selisih kuadrat terkecil antara intensitas hujan masing-masing metode,
dengan intensitas hujan hasil subsitusi pada persamaan-persamaan talbot, sherman, dan
ishiguro. Semuanya diperbandingkan, dan dipilih yang mempunyai delta
Uji kecocokan intensitas hujan metode Hasper – Weduwen dengan rumus Talbot, Sherman dan Ishiguro dengan PUH 2 tahun

Tabel Perhitungan Harga Tetapan Untuk Metode Hasper dengan PUH 2 Tahun
2
No t l Lt I I2 t Log t Log l Log t * Log l (log t)2 (t)0.5 (l)*(t0.5) (I2)*(t0.5)
1 5 545.98 2729.92 298098.40 1490491.98 0.70 2.74 1.91 0.48856 2.24 1220.86 666568.28
2 10 295.50 2955.01 87320.83 873208.27 1.00 2.47 2.47 1 3.16 934.46 276132.70
3 20 154.20 3083.90 23776.11 475522.27 1.30 2.19 2.85 1.69268 4.47 689.58 106330.01
4 40 76.81 3072.23 5899.12 235964.86 1.60 1.89 3.02 2.5666 6.32 485.76 37309.32
5 60 49.87 2992.06 2486.78 149206.87 1.78 1.70 3.02 3.16182 7.75 386.27 19262.52
6 80 41.54 3323.12 1725.48 138038.69 1.90 1.62 3.08 3.62175 8.94 371.54 15433.20
7 120 31.63 3795.76 1000.54 120064.91 2.08 1.50 3.12 4.32299 10.95 346.50 10960.38
8 240 18.97 4552.07 359.75 86338.81 2.38 1.28 3.04 5.66541 15.49 293.83 5573.15
Jumlah 1214.49 26504.06 420667.01 3568836.67 12.74 15.38 22.51 22.5198 59.33 4728.80 1137569.55

Persamaan Intensitas Hujan untuk PUH 2 tahun.


Variabel Talbot Sherman Ishiguro
a 3605.189106 2187.76 321.4667429
b 1.924636878 -1.776110874
n 0.89
Persamaan I = 3605.19/(t+1.92) I =2187.76/(t0.89) I = 321.47/(t0.5-1.78)

Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Hasper – Weduwen PUH 2 Tahun dengan Tetapan Talbot, Sherman, dan Ishiguro.
Tabel Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Hasper PUH 2 Tahun Dengan Tetapan Talbot, Sherman dan Ishiguro
No t l Talbot Selisih 1 Sherman Selisih 2 Ishiguro Selisih 3
1 5 545.98 520.98 25.00 522.30 23.69 704.87 158.89
2 10 295.50 302.45 6.95 281.84 13.66 232.57 62.94
3 20 154.20 164.47 10.28 152.08 2.11 119.41 34.78
4 40 76.81 86.00 9.20 82.07 5.26 70.74 6.07
5 60 49.87 58.22 8.36 57.21 7.34 53.88 4.02
6 80 41.54 44.01 2.47 44.28 2.75 44.87 3.33
7 120 31.63 29.57 2.06 30.87 0.76 35.04 3.41
8 240 18.97 14.90 4.06 16.66 2.31 23.44 4.48
Jumlah 1214.49 1220.61 68.37 1187.30 57.88 1284.83 277.91
Rata-rata 151.81 152.58 8.55 148.41 7.23 160.60 34.74
Contoh Perhitungan menggunakan Metode Hasper-Weduwen, PUH 2 Tahun
Tetapan dengan mengunakan PUH 2 Tahun
Tetapan jenis I (Talbot) dengan persamaan I = a/(t+b)

(∑ I .t ).(∑ I ) − (∑ I t ).(∑ I )
2 2

a =
n(∑ I ) − (∑ I )
2 2

= (26504.06 × 420667.01) − (3568836.267 × 1214.49)


(
8(420667.01) − 1214.49 )
= 3605.189106
(∑ I )(∑ I .t ) − n(I .t )
2

b =
n(∑ I ) − (∑ I )
2 2

= (1214.49 × 26504.06) − n(3568836 .67 )


(
8(420667.01) − 1214.492
)
= 1.924636878
Sehingga persamaannya adalah; I = 3605.19/(t+1.92)

Tetapan jenis Sherman, dengan persamaannya I = a/tn


(log .I ).[(Log.t )2 ] − (log .t. log I )(log .t )
n[(log .t ) ] − (log t )
Log a = 2 2

=
(15.38 × 22.52) − (22.51 × 12.74)
8[22.52] − (12.74)
2

= 3.3406815
a = anti log 3.3406815
= 2187.76

(log .I ).[(Log.t )2 ] − 8(log .t. log I )


n[(log .t ) ] − (log t )
n = 2 2

=
(15.38 × 22.52) − 8(22.51)
8[22.52] − (12.74)
2

= 0.89
Sehingga persamaannya adalah; I = 2187.76/(t0.89)
Tetapan jenis Ishiguro, dengan persamaannya I = a/(t0.5+b)

a =
(I .t )(I ) − (I .t )(I )
0.5 2 2 0.5

n(I ) − (I )
2 2

=
(4728.80 × 420667.01) − (1137569.55 × 1214.49)
8(420667.01) − (1214.49)
2

= 321.4667429

b =
(I )(I .t 0.5 ) − n(I 2 .t 0.5 )
n(I 2 ) − (I )
2

=
(1214.49 × 4728.80) − b(1137569.55)
8(420667.01) − (1214.49)
2

= -1.776110874
Sehingga persamaannya adalah; I = 321.47/(t0.5-1.78)
Uji kecocokan intensitas hujan metode Hasper – Weduwen dengan rumus Talbot, Sherman dan Ishiguro dengan PUH 5 tahun

Tabel Perhitungan Harga Tetapan Untuk Metode Hasper dengan PUH 5 Tahun
No t l Lt I2 I2t Log t Log l Log t * Log l (log t)2 (t)0.5 (l)*(t0.5) (I2)*(t0.5)
1 5 645.67 3228.34 416887.88 2084439.42 0.70 2.81 1.96 0.48856 2.24 1443.76 932189.65
2 10 371.63 3716.28 138107.61 1381076.11 1.00 2.57 2.57 1 3.16 1175.19 436734.61
3 20 204.19 4083.89 41695.33 833906.53 1.30 2.31 3.01 1.69268 4.47 913.18 186467.17
4 40 105.41 4216.41 11111.34 444453.50 1.60 2.02 3.24 2.5666 6.32 666.67 70274.27
5 60 69.41 4164.43 4817.37 289041.95 1.78 1.84 3.27 3.16182 7.75 537.63 37315.15
6 80 57.82 4625.21 3342.59 267407.07 1.90 1.76 3.35 3.62175 8.94 517.11 29897.02
7 120 44.03 5283.05 1938.24 232588.44 2.08 1.64 3.42 4.32299 10.95 482.27 21232.32
8 240 26.40 6335.70 696.89 167254.61 2.38 1.42 3.38 5.66541 15.49 408.97 10796.24
Jumlah 1524.55 35653.32 618597.24 5700167.63 12.74 16.38 24.21 22.5198 59.33 6144.79 1724906.43

Persamaan Intensitas Hujan untuk PUH 5 tahun.


Variabel Talbot Sherman Ishiguro
a 5092.287326 2499.769702 446.3457194
b 3.335399977 -1.688385996
n 0.8477
Persamaan I = 5092.29/(t+3.34) I = 2499.77/(t0.8477) I = 446.35/(t0.5-1.69)

Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Hasper – Weduwen PUH 5 Tahun dengan Tetapan Talbot, Sherman, dan Ishiguro.
Tabel Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Hasper PUH 5 Tahun Dengan Tetapan Talbot, Sherman dan Ishiguro
No t l Talbot Selisih 1 Sherman Selisih 2 Ishiguro Selisih 3
1 5 645.67 610.59 35.08 638.83 6.84 817.39 171.72
2 10 371.63 381.73 10.10 354.98 16.65 303.17 68.46
3 20 204.19 218.18 13.98 197.25 6.94 160.43 43.76
4 40 105.41 117.50 12.09 109.61 4.20 96.31 9.10
5 60 69.41 80.40 10.99 77.73 8.32 73.70 4.30
6 80 57.82 61.10 3.29 60.90 3.09 61.53 3.71
7 120 44.03 41.29 2.74 43.19 0.84 48.18 4.15
8 240 26.40 20.93 5.47 24.00 2.40 32.34 5.94
Jumlah 1524.55 1531.70 93.74 1506.48 49.28 1593.05 311.15
Rata-rata 190.57 191.46 11.72 188.31 6.16 199.13 38.89
Uji kecocokan intensitas hujan metode Hasper – Weduwen dengan rumus Talbot, Sherman dan Ishiguro dengan PUH 10 tahun.

Tabel Perhitungan Harga Tetapan Untuk Metode Hasper dengan PUH 10 Tahun
No t l lt I2 I2t Log t Log l Log t * Log l (log t)2 (t)0.5 (l)*(t0.5) (I2)*(t0.5)
1 5 696.66 3483.32 485341.62 2426708.09 0.70 2.84 1.99 0.48856 2.24 1557.79 1085256.85
2 10 414.43 4144.34 171755.56 1717555.63 1.00 2.62 2.62 1 3.16 1310.56 543138.78
3 20 234.71 4694.15 55087.52 1101750.35 1.30 2.37 3.08 1.69268 4.47 1049.64 246358.87
4 40 123.91 4956.50 15354.29 614171.80 1.60 2.09 3.35 2.5666 6.32 783.69 97109.09
5 60 82.34 4940.57 6780.35 406820.95 1.78 1.92 3.41 3.16182 7.75 637.83 52520.36
6 80 68.59 5487.22 4704.63 376370.28 1.90 1.84 3.49 3.62175 8.94 613.49 42079.48
7 120 52.23 6267.67 2728.03 327363.73 2.08 1.72 3.57 4.32299 10.95 572.16 29884.08
8 240 31.32 7516.50 980.87 235407.63 2.38 1.50 3.56 5.66541 15.49 485.19 15195.50
Jumlah 1704.20 41490.27 742732.87 7206148.45 12.74 16.89 25.08 22.5198 59.33 7010.34 2111543.00

Persamaan Intensitas Hujan untuk PUH 10 tahun.


Variabel Talbot Sherman Ishiguro
a 6102.085942 2635.11759 529.4759964
b 4.299031451 -1.628054419
n 0.8222
Persamaan I = 6102.09/(t+4.3) I = 2635.12/(t^0.8222) I = 529.48/(t0.5-1.63)

Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Hasper – Weduwen PUH 10 Tahun dengan Tetapan Talbot, Sherman, dan Ishiguro.
Tabel Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Hasper PUH 10 Tahun Dengan Tetapan Talbot, Sherman dan Ishiguro
No t l Talbot Selisih 1 Sherman Selisih 2 Ishiguro Selisih 3
1 5 696.66 656.14 40.53 701.63 4.96 873.63 176.97
2 10 414.43 426.72 12.29 396.83 17.61 345.55 68.88
3 20 234.71 251.11 16.41 224.44 10.27 186.30 48.41
4 40 123.91 137.74 13.83 126.94 3.02 112.79 11.13
5 60 82.34 94.90 12.56 90.95 8.61 86.57 4.23
6 80 68.59 72.39 3.80 71.79 3.20 72.39 3.80
7 120 52.23 49.09 3.14 51.44 0.79 56.78 4.55
8 240 31.32 24.98 6.34 29.09 2.23 38.20 6.88
Jumlah 1704.20 1713.07 108.88 1693.10 50.69 1772.21 324.85
Rata-rata 213.03 214.13 13.61 211.64 6.34 221.53 40.61
Uji kecocokan intensitas hujan metode Hasper – Weduwen dengan rumus Talbot, Sherman dan Ishiguro dengan PUH 25 tahun.

Tabel Perhitungan Harga Tetapan Untuk Metode Hasper dengan PUH 25 Tahun
No t L lt I2 I2t Log t Log l Log t * Log l (log t)2 (t)0.5 (l)*(t0.5) (I2)*(t0.5)
1 5 749.25 3746.27 561380.83 2806904.14 0.70 2.87 2.01 0.48856 2.24 1675.38 1255285.69
2 10 461.69 4616.93 213160.40 2131604.02 1.00 2.66 2.66 1 3.16 1460.00 674072.38
3 20 270.65 5412.95 73250.18 1465003.67 1.30 2.43 3.16 1.69268 4.47 1210.37 327584.78
4 40 146.81 5872.51 21553.96 862158.46 1.60 2.17 3.47 2.5666 6.32 928.52 136319.22
5 60 98.69 5921.27 9739.29 584357.56 1.78 1.99 3.55 3.16182 7.75 764.43 75440.24
6 80 82.21 6576.43 6757.73 540618.22 1.90 1.91 3.64 3.62175 8.94 735.27 60442.95
7 120 62.60 7511.79 3918.54 470225.23 2.08 1.80 3.74 4.32299 10.95 685.73 42925.49
8 240 37.54 9008.52 1408.91 338139.49 2.38 1.57 3.75 5.66541 15.49 581.50 21826.81
Jumlah 1909.43 48666.68 891169.85 9199010.78 12.74 17.42 25.98 22.5198 59.33 8041.21 2593897.56

Persamaan Intensitas Hujan untuk PUH 25 tahun.


Variabel Talbot Sherman Ishiguro
a 7408.054417 2752.960626 635.3544731
b 5.550209662 -1.549345711
n 0.7926
Persamaan I = 7408.05/(t+5.55) I =2752.96/(t0.7926) I = 635.35/(t0.5-1.55)

Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Hasper – Weduwen PUH 25 Tahun dengan Tetapan Talbot, Sherman, dan Ishiguro.
Tabel Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Hasper PUH 25 Tahun Dengan Tetapan Talbot, Sherman dan Ishiguro
No t l Talbot Selisih 1 Sherman Selisih 2 Ishiguro Selisih 3
1 5 749.25 702.18 47.07 768.77 19.52 926.07 176.82
2 10 461.69 476.40 14.71 443.81 17.88 394.07 67.62
3 20 270.65 289.94 19.30 256.21 14.43 217.43 53.22
4 40 146.81 162.64 15.82 147.91 1.10 133.07 13.74
5 60 98.69 113.01 14.33 107.26 8.57 102.54 3.85
6 80 82.21 86.59 4.39 85.39 3.19 85.92 3.72
7 120 62.60 59.00 3.59 61.92 0.68 67.56 4.96
8 240 37.54 30.17 7.37 35.75 1.79 45.57 8.04
Jumlah 1909.43 1919.95 126.57 1907.03 67.15 1972.24 331.98
Rata-rata 238.68 239.99 15.82 238.38 8.39 246.53 41.50
Uji kecocokan intensitas hujan metode Hasper – Weduwen dengan rumus Talbot, Sherman dan Ishiguro dengan PUH 50 tahun.

Tabel Perhitungan Harga Tetapan Untuk Metode Hasper dengan PUH 50 Tahun
No t L lt I2 I2t Log t Log l Log t * Log l (log t)2 (t)0.5 (l)*(t0.5) (I2)*(t0.5)
1 5 781.79 3908.97 611202.22 3056011.09 0.70 2.89 2.02 0.48856 2.24 1748.15 1366689.71
2 10 492.67 4926.71 242724.44 2427244.45 1.00 2.69 2.69 1 3.16 1557.96 767562.09
3 20 295.61 5912.14 87383.63 1747672.53 1.30 2.47 3.21 1.69268 4.47 1322.00 390791.46
4 40 163.47 6538.84 26722.75 1068910.01 1.60 2.21 3.55 2.5666 6.32 1033.88 169009.51
5 60 110.82 6649.02 12280.40 736824.07 1.78 2.04 3.64 3.16182 7.75 858.38 95123.58
6 80 92.31 7384.70 8520.91 681672.57 1.90 1.97 3.74 3.62175 8.94 825.63 76213.31
7 120 70.29 8435.02 4940.94 592913.12 2.08 1.85 3.84 4.32299 10.95 770.01 54125.31
8 240 42.15 10115.70 1776.52 426364.49 2.38 1.62 3.87 5.66541 15.49 652.97 27521.71
Jumlah 2049.11 53871.10 995551.81 10737612.33 12.74 17.75 26.56 22.5198 59.33 8768.98 2947036.68

Persamaan Intensitas Hujan untuk PUH 50 tahun.


Variabel Talbot Sherman Ishiguro
a 8399.518732 2812.418849 714.6790147
b 6.502846857 -1.489205421
n 0.7723
Persamaan I = 8399.52/(t+6.5) I =2812.42/(t0.7723) I = 714.68/(t0.5-1.49)

Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Hasper – Weduwen PUH 50 Tahun dengan Tetapan Talbot, Sherman, dan Ishiguro.
Tabel Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Hasper PUH 50 Tahun Dengan Tetapan Talbot, Sherman dan Ishiguro
No t l Talbot Selisih 1 Sherman Selisih 2 Ishiguro Selisih 3
1 5 781.79 730.39 51.40 811.46 29.66 957.93 176.13
2 10 492.67 509.06 16.39 475.09 17.58 427.37 65.30
3 20 295.61 316.96 21.36 278.16 17.45 239.65 55.95
4 40 163.47 180.63 17.16 162.86 0.61 147.83 15.64
5 60 110.82 126.31 15.49 119.07 8.26 114.24 3.42
6 80 92.31 97.10 4.80 95.35 3.04 95.88 3.57
7 120 70.29 66.40 3.89 69.72 0.58 75.51 5.22
8 240 42.15 34.08 8.07 40.82 1.33 51.04 8.89
Jumlah 2049.11 2060.94 138.57 2052.53 78.51 2109.45 334.14
Rata-rata 256.14 257.62 17.32 256.57 9.81 263.68 41.77
Uji kecocokan intensitas hujan metode Hasper – Weduwen dengan rumus Talbot, Sherman dan Ishiguro dengan PUH 100 tahun

Tabel Perhitungan Harga Tetapan Untuk Metode Hasper dengan PUH 100 Tahun
No t L lt I2 I 2t Log t Log l Log t * Log l (log t)2 (t)0.5 (l)*(t0.5) (I2)*(t0.5)
1 5 809.83 4049.14 655821.74 3279108.68 0.70 2.91 2.03 0.48856 2.24 1810.83 1466461.98
2 10 520.51 5205.07 270927.94 2709279.40 1.00 2.72 2.72 1 3.16 1645.99 856749.37
3 20 319.06 6381.20 101799.40 2035988.04 1.30 2.50 3.26 1.69268 4.47 1426.88 455260.77
4 40 179.73 7189.01 32301.18 1292047.03 1.60 2.25 3.61 2.5666 6.32 1136.68 204290.57
5 60 122.85 7371.11 15092.57 905554.18 1.78 2.09 3.72 3.16182 7.75 951.61 116906.54
6 80 102.33 8186.69 10472.16 837773.18 1.90 2.01 3.83 3.62175 8.94 915.30 93665.89
7 120 77.93 9351.07 6072.40 728688.13 2.08 1.89 3.93 4.32299 10.95 853.63 66519.82
8 240 46.73 11214.28 2183.34 524000.46 2.38 1.67 3.97 5.66541 15.49 723.88 33824.08
Jumlah 2178.96 58947.58 1094670.72 12312439.10 12.74 18.04 27.07 22.5198 59.33 9464.80 3293679.03

Persamaan Intensitas Hujan untuk PUH 100 tahun.


Variabel Talbot Sherman Ishiguro
a 9402.628319 2884.031503 794.1250725
b 7.468451853 -1.428113134
n 0.7534
Persamaan I = 9402.63/(t+7.47) I =2884.03/(t0.7534) I = 794.13/(t0.5-1.43)

Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Hasper – Weduwen PUH 100 Tahun dengan Tetapan Talbot, Sherman, dan Ishiguro.
Tabel Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Hasper PUH 50 Tahun Dengan Tetapan Talbot, Sherman dan Ishiguro
No t l Talbot Selisih 1 Sherman Selisih 2 Ishiguro Selisih 3
1 5 809.83 754.02 55.81 857.82 47.99 985.19 175.36
2 10 520.51 538.22 17.71 508.86 11.65 458.43 62.08
3 20 319.06 342.29 23.23 301.86 17.20 261.04 58.02
4 40 179.73 198.08 18.35 179.06 0.66 162.25 17.48
5 60 122.85 139.36 16.51 131.93 9.08 125.73 2.88
6 80 102.33 107.50 5.16 106.22 3.89 105.68 3.35
7 120 77.93 73.76 4.16 78.26 0.34 83.38 5.45
8 240 46.73 38.00 8.73 46.42 0.30 56.47 9.75
Jumlah 2178.96 2191.21 149.66 2210.44 91.10 2238.18 334.36
Rata-rata 272.37 273.90 18.71 276.30 11.39 279.77 41.80
Uji kecocokan intensitas hujan metode Van Breen dengan rumus Talbot, Sherman dan Ishiguro dengan PUH 2 tahun

Tabel Perhitungan Harga Tetapan Metode Van Breen dengan Rumus Talbot, Sherman, dan Ishiguro dengan PUH 2 Tahun
No t L lt I2 I 2t Log t Log l Log t * Log l (log t)2 (t)0.5 (l)*(t0.5) (I2)*(t0.5)
1 5 148.97 744.87 22193.34 110966.69 0.70 2.17 1.52 0.49 2.24 333.12 49625.81
2 10 130.13 1301.25 16932.64 169326.37 1.00 2.11 2.11 1.00 3.16 411.49 53545.70
3 20 103.85 2076.94 10784.23 215684.64 1.30 2.02 2.62 1.69 4.47 464.42 48228.55
4 40 73.97 2958.84 5471.70 218867.80 1.60 1.87 2.99 2.57 6.32 467.83 34606.04
5 60 57.44 3446.67 3299.87 197991.93 1.78 1.76 3.13 3.16 7.75 444.96 25560.65
6 80 46.95 3756.32 2204.68 176374.71 1.90 1.67 3.18 3.62 8.94 419.97 19719.29
7 120 34.39 4127.12 1182.85 141942.37 2.08 1.54 3.19 4.32 10.95 376.75 12957.51
8 240 19.08 4579.13 364.03 87368.32 2.38 1.28 3.05 5.67 15.49 295.58 5639.60
Jumlah 614.79 22991.14 62433.34 1318522.83 12.74 14.42 21.80 22.52 59.33 3214.13 249883.15

Persamaan Intensitas Hujan untuk PUH 2 tahun.


Variabel Talbot Sherman Ishiguro
A 5142.324276 426.58 387.1832704
B 29.5182 -0.189758663
N 0.52498
Persamaan I =5142.32/(t+29.52) I =426.58/(t0.52) I = 387.18/(t0.5+0.19)

Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Van Breen PUH 2 Tahun dengan Tetapan Talbot, Sherman, dan Ishiguro
Tabel Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Van Breen PUH 2 Tahun dengan Pola Talbot, Sherman dan Ishiguro
No t l Talbot Selisih 1 Sherman Selisih 2 Ishiguro Selisih 3
1 5 148.97 148.97 0.01 183.25 34.28 159.59 10.62
2 10 130.13 130.12 0.01 127.36 2.77 115.50 14.63
3 20 103.85 103.84 0.00 88.51 15.34 83.05 20.80
4 40 73.97 73.97 0.00 61.51 12.46 59.43 14.54
5 60 57.44 57.44 0.00 49.72 7.73 48.79 8.66
6 80 46.95 46.95 0.00 42.75 4.21 42.39 4.57
7 120 34.39 34.39 0.00 34.55 0.16 34.74 0.35
8 240 19.08 19.08 0.00 24.01 4.93 24.69 5.61
Jumlah 614.79 614.77 0.02 611.66 81.87 568.18 79.76
Rata-rata 76.85 76.85 0.00 76.46 10.23 71.02 9.97
Uji kecocokan ntensitas hujan metode Van Breen dengan rumus Talbot, Sherman dan Ishiguro dengan PUH 5 tahun

Tabel Perhitungan Harga Tetapan Metode Van Breen dengan Rumus Talbot, Sherman, dan Ishiguro dengan PUH 5 Tahun
No t L lt I2 I2t Log t Log l Log t * Log l (log t)2 (t)0.5 (l)*(t0.5) (I2)*(t0.5)
1 5 155.3128 776.56 24122.06 120610.29 0.70 2.19 1.53 0.48856 2.24 347.29 53938.56
2 10 140.1112 1401.11 19631.14 196311.38 1.00 2.15 2.15 1 3.16 443.07 62079.11
3 20 117.1738 2343.48 13729.70 274594.07 1.30 2.07 2.69 1.69268 4.47 524.02 61401.10
4 40 88.27209 3530.88 7791.96 311678.48 1.60 1.95 3.12 2.5666 6.32 558.28 49280.69
5 60 70.80705 4248.42 5013.64 300818.26 1.78 1.85 3.29 3.16182 7.75 548.47 38835.47
6 80 59.11155 4728.92 3494.18 279534.03 1.90 1.77 3.37 3.62175 8.94 528.71 31252.85
7 120 44.43314 5331.98 1974.30 236916.43 2.08 1.65 3.43 4.32299 10.95 486.74 21627.41
8 240 25.46382 6111.32 648.41 155617.50 2.38 1.41 3.35 5.66541 15.49 394.48 10045.07
Jumlah 700.69 28472.68 76405.39 1876080.44 12.74 15.03 22.92 22.5198 59.33 3831.06 328460.27

Persamaan Intensitas Hujan untuk PUH 5 tahun.


Variabel Talbot Sherman Ishiguro
a 7157.480646 404.2034 520.1605105
b 41.0843 0.471283607
n 0.4571
Persamaan I =7157.48/(t+41.08) I =404.2034/(t0.4571) I =520.16/(t0.5-0.47)

Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Van Breen PUH 5 Tahun dengan Tetapan Talbot, Sherman, dan Ishiguro.
Tabel Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Van Breen PUH 5 Tahun dengan Pola Talbot, Sherman dan Ishiguro
No t l Talbot Selisih 1 Sherman Selisih 2 Ishiguro Selisih 3
1 5 155.31 155.33 0.01 193.70 38.39 192.22 36.91
2 10 140.11 140.12 0.01 141.10 0.99 143.20 3.09
3 20 117.17 117.18 0.01 102.78 14.39 105.25 11.92
4 40 88.27 88.28 0.00 74.87 13.40 76.56 11.72
5 60 70.81 70.81 0.00 62.21 8.60 63.31 7.50
6 80 59.11 59.11 0.00 54.54 4.57 55.25 3.86
7 120 44.43 44.43 0.00 45.31 0.88 45.53 1.10
8 240 25.46 25.46 0.00 33.01 7.55 32.59 7.12
Jumlah 700.69 700.73 0.05 707.53 88.76 713.91 83.22
Rata-rata 87.59 87.59 0.01 88.44 11.10 89.24 10.40
Uji kecocokan intensitas hujan metode Van Breen dengan rumus Talbot, Sherman dan Ishiguro dengan PUH 10 tahun

Tabel Perhitungan Harga Tetapan Metode Van Breen dengan Rumus Talbot, Sherman, dan Ishiguro dengan PUH 10 Tahun
No t L lt I2 I2t Log t Log l Log t * Log l (log t)2 (t)0.5 (l)*(t0.5) (I2)*(t0.5)
1 5 158.0094 790.05 24966.98 124834.88 0.70 2.20 1.54 0.48856 2.24 353.32 55827.85
2 10 144.5598 1445.60 20897.54 208975.40 1.00 2.16 2.16 1 3.16 457.14 66083.82
3 20 123.5303 2470.61 15259.73 305194.55 1.30 2.09 2.72 1.69268 4.47 552.44 68243.58
4 40 95.68973 3827.59 9156.53 366261.00 1.60 1.98 3.17 2.5666 6.32 605.20 57910.95
5 60 78.09021 4685.41 6098.08 365884.89 1.78 1.89 3.37 3.16182 7.75 604.88 47235.54
6 80 65.95888 5276.71 4350.57 348045.86 1.90 1.82 3.46 3.62175 8.94 589.95 38912.71
7 120 50.32337 6038.80 2532.44 303893.02 2.08 1.70 3.54 4.32299 10.95 551.26 27741.51
8 240 29.40913 7058.19 864.90 207575.31 2.38 1.47 3.50 5.66541 15.49 455.60 13398.93
Jumlah 745.57 31592.96 84126.76 2230664.90 12.74 15.31 23.45 22.5198 59.33 4169.80 375354.89

Persamaan Intensitas Hujan untuk PUH 10 tahun.


Variabel Talbot Sherman Ishiguro
a 8491.631342 386.3670 605.5966385
b 48.7413 0.905304074
n 0.4224
Persamaan I =8491.63/(t+48.74) I = 386.3670/(t^0.4224) I =605.6/(t0.5+0.91)

Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Van Breen PUH 10 Tahun dengan Tetapan Talbot, Sherman, dan Ishiguro.
Tabel Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Van Breen PUH 10 Tahun dengan Pola Talbot, Sherman dan Ishiguro
No t l Talbot Selisih 1 Sherman Selisih 2 Ishiguro Selisih 3
1 5 158.009414 158.01 0.00 195.77 37.76 192.49 34.48
2 10 144.559813 144.56 0.00 146.08 1.52 148.71 4.15
3 20 123.53027 123.53 0.00 109.00 14.53 112.52 11.01
4 40 95.6897334 95.69 0.00 81.34 14.35 83.71 11.98
5 60 78.0902136 78.09 0.00 68.53 9.56 69.96 8.13
6 80 65.9588752 65.96 0.00 60.69 5.27 61.46 4.50
7 120 50.3233728 50.32 0.00 51.14 0.82 51.04 0.72
8 240 29.4091332 29.41 0.00 38.16 8.75 36.92 7.51
Jumlah 745.57 745.58 0.01 750.72 92.55 756.82 82.49
Rata-rata 93.20 93.20 0.00 93.84 11.57 94.60 10.31
Uji kecocokan intensitas hujan metode Van Breen dengan rumus Talbot, Sherman dan Ishiguro dengan PUH 25 tahun

Tabel Perhitungan Harga Tetapan Metode Van Breen dengan Rumus Talbot, Sherman, dan Ishiguro dengan PUH 25 Tahun
No t L lt I2 I2t Log t Log l Log t * Log l (log t)2 (t)0.5 (l)*(t0.5) (I2)*(t0.5)
1 5 188.44 942.20 35509.63 177548.17 0.70 2.28 1.59 0.48856 2.24 421.36 79401.95
2 10 160.4869 1604.87 25756.04 257560.38 1.00 2.21 2.21 1 3.16 507.50 81447.74
3 20 148.7582 2975.16 22129.00 442579.99 1.30 2.17 2.83 1.69268 4.47 665.27 98963.90
4 40 129.7879 5191.52 16844.90 673795.97 1.60 2.11 3.39 2.5666 6.32 820.85 106536.50
5 60 103.4126 6204.76 10694.17 641650.48 1.78 2.01 3.58 3.16182 7.75 801.03 82836.72
6 80 85.94671 6875.74 7386.84 590946.95 1.90 1.93 3.68 3.62175 8.94 768.73 66069.88
7 120 73.52814 8823.38 5406.39 648766.43 2.08 1.87 3.88 4.32299 10.95 805.46 59224.00
8 240 57.04352 13690.45 3253.96 780951.24 2.38 1.76 4.18 5.66541 15.49 883.71 50410.19
Jumlah 947.404 46308.07 126980.93 4213799.60 12.74 16.34 25.33 22.5198 59.33 5673.92 624890.87

Persamaan Intensitas Hujan untuk PUH 25 tahun.


Variabel Talbot Sherman Ishiguro
a 15963.64689 345.0640 1086.095197
b 85.92016799 3.182210371
n 0.3112
Persamaan I =15963.65/(t-85.92) I =345.060/(t0.3112) I =1086.1/(t0.5+3.18)

Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Van Breen PUH 25 Tahun dengan Tetapan Talbot, Sherman, dan Ishiguro.
Tabel Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Van Breen PUH 25 Tahun dengan Pola Talbot, Sherman dan Ishiguro
No t l Talbot Selisih 1 Sherman Selisih 2 Ishiguro Selisih 3
1 5 188.44 175.58 12.86 209.11 20.67 200.53 12.09
2 10 160.49 166.43 5.94 168.54 8.05 171.25 10.76
3 20 148.76 150.71 1.96 135.84 12.92 141.93 6.82
4 40 129.79 126.78 3.01 109.48 20.31 114.27 15.52
5 60 103.41 109.40 5.99 96.50 6.91 99.41 4.01
6 80 85.95 96.21 10.27 88.24 2.29 89.58 3.63
7 120 73.53 77.52 4.00 77.78 4.25 76.84 3.31
8 240 57.04 48.98 8.06 62.69 5.64 58.17 1.12
Jumlah 947.40 951.61 52.08 948.18 81.05 951.98 57.27
Rata-rata 118.43 118.95 6.51 118.52 10.13 119.00 7.16
Uji kecocokan intensitas hujan metode Van Breen dengan rumus Talbot, Sherman dan Ishiguro dengan PUH 50 tahun

Tabel Perhitungan Harga Tetapan Metode Van Breen dengan Rumus Talbot, Sherman, dan Ishiguro dengan PUH 50 Tahun
No t L lt I2 I2t Log t Log l Log t * Log l (log t)2 (t)0.5 (l)*(t0.5) (I2)*(t0.5)
1 5 211.6 1058.00 44774.56 223872.80 0.70 2.33 1.63 0.48856 2.24 473.15 100118.96
2 10 161.8873 1618.87 26207.49 262074.89 1.00 2.21 2.21 1 3.16 511.93 82875.36
3 20 151.1799 3023.60 22855.36 457107.10 1.30 2.18 2.84 1.69268 4.47 676.10 102212.26
4 40 133.5179 5340.71 17827.02 713080.66 1.60 2.13 3.41 2.5666 6.32 844.44 112747.95
5 60 108.2294 6493.77 11713.61 702816.46 1.78 2.03 3.62 3.16182 7.75 838.34 90733.21
6 80 90.99489 7279.59 8280.07 662405.57 1.90 1.96 3.73 3.62175 8.94 813.88 74059.19
7 120 78.49525 9419.43 6161.50 739380.45 2.08 1.89 3.94 4.32299 10.95 859.87 67495.89
8 240 61.5778 14778.67 3791.83 910038.20 2.38 1.79 4.26 5.66541 15.49 953.96 58742.71
Jumlah 997.4824 49012.64 141611.43 4670776.14 12.74 16.52 25.62 22.5198 59.33 5971.68 688985.54

Persamaan Intensitas Hujan untuk PUH 50 tahun.


Variabel Talbot Sherman Ishiguro
a 16543.84813 361.99 1148.539657
b 83.54848706 3.224757465
n 0.3102
Persamaan I =16543.85/(t+83.55) I =361.99/(t0.3102) I =1148.54/(t0.5+3.22)

Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Van Breen PUH 50 Tahun dengan Tetapan Talbot, Sherman, dan Ishiguro
Tabel Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Van Breen PUH 50 Tahun dengan Pola Talbot, Sherman dan Ishiguro
No t l Talbot Selisih 1 Sherman Selisih 2 Ishiguro Selisih 3
1 5 211.60 186.83 24.77 219.72 8.12 210.51 1.09
2 10 161.89 176.85 14.96 177.21 15.33 179.96 18.07
3 20 151.18 159.77 8.59 142.93 8.25 149.31 1.87
4 40 133.52 133.90 0.39 115.28 18.24 120.33 13.18
5 60 108.23 115.25 7.02 101.65 6.58 104.74 3.49
6 80 90.99 101.15 10.16 92.97 1.98 94.42 3.42
7 120 78.50 81.28 2.78 81.99 3.49 81.03 2.53
8 240 61.58 51.13 10.45 66.12 4.55 61.38 0.20
Jumlah 997.48 1006.16 79.11 997.87 66.54 1001.68 43.86
Rata-rata 124.69 125.77 9.89 124.73 8.32 125.21 5.48
Uji kecocokan intensitas hujan metode Van Breen dengan rumus Talbot, Sherman dan Ishiguro dengan PUH 100 tahun

Tabel Perhitungan Harga Tetapan Metode Van Breen dengan Rumus Talbot, Sherman, dan Ishiguro dengan PUH 100 Tahun
No t l lt I2 I2t Log t Log l Log t * Log l (log t)2 (t)0.5 (l)*(t0.5) (I2)*(t0.5)
1 5 234.58 1172.90 55027.78 275138.88 0.70 2.37 1.66 0.48856 2.24 524.54 123045.85
2 10 163.0217 1630.22 26576.08 265760.85 1.00 2.21 2.21 1 3.16 515.52 84040.96
3 20 174.2306 3484.61 30356.31 607126.23 1.30 2.24 2.92 1.69268 4.47 779.18 135757.55
4 40 136.6484 5465.94 18672.80 746911.89 1.60 2.14 3.42 2.5666 6.32 864.24 118097.14
5 60 112.4028 6744.17 12634.38 758062.80 1.78 2.05 3.65 3.16182 7.75 870.67 97865.49
6 80 95.4644 7637.15 9113.45 729076.17 1.90 1.98 3.77 3.62175 8.94 853.86 81513.19
7 120 82.9625 9955.50 6882.78 825933.16 2.08 1.92 3.99 4.32299 10.95 908.81 75397.04
8 240 65.7432 15778.37 4322.17 1037320.40 2.38 1.82 4.33 5.66541 15.49 1018.49 66958.74
Jumlah 1065.054 51868.85 163585.75 5245330.37 12.74 16.73 25.94 22.5198 59.33 6335.31 782675.96

Persamaan Intensitas Hujan untuk PUH 100 tahun.


Variabel Talbot Sherman Ishiguro
a 16624.61776 398.1 1163.049839
b 76.17277118 2.787740006
n 0.3175
Persamaan I =16624.62/(t-76.17) I =398.1/(t0.3175) I =1163.05/(t0.5+2.79)

Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Van Breen PUH 100 Tahun dengan Tetapan Talbot, Sherman, dan Ishiguro
Tabel Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Van Breen PUH 100 Tahun dengan Pola Talbot, Sherman dan Ishiguro
No t l Talbot Selisih 1 Sherman Selisih 2 Ishiguro Selisih 3
1 5 234.58 204.81 29.77 238.82 4.24 231.40 3.18
2 10 163.021731 192.93 29.91 191.64 28.62 195.40 32.37
3 20 174.230627 172.87 1.36 153.79 20.45 160.15 14.08
4 40 136.648444 143.11 6.46 123.41 13.24 127.60 9.04
5 60 112.402758 122.09 9.68 108.50 3.90 110.39 2.01
6 80 95.4644022 106.45 10.99 99.03 3.56 99.12 3.65
7 120 82.9624997 84.75 1.78 87.07 4.10 84.62 1.66
8 240 65.7432 52.58 13.16 69.87 4.12 63.62 2.13
Jumlah 1065.05 1079.58 103.11 1072.12 82.24 1072.30 68.12
Rata-rata 133.131708 134.94751 12.8890974 134.014567 10.2803664 134.037099 8.51521167
Uji kecocokan intensitas hujan metode Bell Tanimoto dengan rumus Talbot, Sherman dan Ishiguro dengan PUH 2 tahun

Tabel Perhitungan Harga Tetapan Untuk Metode Bell Tanimoto dengan PUH 2 Tahun
No t l lt I2 I2t Log t Log l Log t * Log l (log t)2 (t)0.5 (l)*(t0.5) (I2)*(t0.5)
1 5 79.03551 395.18 6246.61 31233.06 0.70 1.90 1.33 0.48856 2.24 176.73 13967.85
2 10 59.15305 591.53 3499.08 34990.83 1.00 1.77 1.77 1 3.16 187.06 11065.07
3 20 41.25174 825.03 1701.71 34034.12 1.30 1.62 2.10 1.69268 4.47 184.48 7610.26
4 40 27.56799 1102.72 759.99 30399.77 1.60 1.44 2.31 2.5666 6.32 174.36 4806.63
5 60 21.48188 1288.91 461.47 27688.26 1.78 1.33 2.37 3.16182 7.75 166.40 3574.54
6 80 17.91181 1432.94 320.83 25666.63 1.90 1.25 2.38 3.62175 8.94 160.21 2869.62
7 120 13.78639 1654.37 190.06 22807.74 2.08 1.14 2.37 4.32299 10.95 151.02 2082.05
8 240 8.704029 2088.97 75.76 18182.43 2.38 0.94 2.24 5.66541 15.49 134.84 1173.67
Jumlah 268.89 9379.65 13255.52 225002.84 12.74 11.39 16.87 22.5198 59.33 1335.10 47149.69

Persamaan Intensitas Hujan untuk PUH 2 tahun.


Variabel Talbot Sherman Ishiguro
a 1891.779464 217.58 148.7566766
b 21.40106063 -0.539408861
n 0.57373
Persamaan I =1891.78/(t+21.4) I =217.58/(t0.57373) I =148.76/(t0.5-0.54)

Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Bell Tanimoto PUH 2 Tahun dengan Tetapan Talbot, Sherman, dan Ishiguro
Tabel Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Bell Tanimoto PUH 2 Tahun dengan Pola Talbot, Sherman dan Ishiguro
No t l Talbot Selisih 1 Sherman Selisih 2 Ishiguro Selisih 3
1 5 148.97 71.66 77.32 86.42 62.55 87.71 61.27
2 10 130.13 60.25 69.88 58.07 72.06 56.73 73.40
3 20 103.85 45.70 58.15 39.01 64.83 37.83 66.02
4 40 73.97 30.81 43.16 26.21 47.76 25.72 48.25
5 60 57.44 23.24 34.20 20.77 36.67 20.64 36.80
6 80 46.95 18.66 28.30 17.61 29.34 17.70 29.25
7 120 34.39 13.38 21.01 13.96 20.44 14.28 20.11
8 240 19.08 7.24 11.84 9.38 9.70 9.95 9.13
Jumlah 614.78866 270.925203 343.863456 271.433194 343.355466 270.564408 344.224251
Rata-rata 76.8485825 33.8656504 42.9829321 33.9291492 42.9194332 33.820551 43.0280314
Uji kecocokan ntensitas hujan metode Bell Tanimoto dengan rumus Talbot, Sherman dan Ishiguro dengan PUH 5 tahun

Tabel Perhitungan Harga Tetapan Untuk Metode Bell Tanimoto dengan PUH 5 Tahun
No t l lt I2 I2t Log t Log l Log t * Log l (log t)2 (t)0.5 (l)*(t0.5) (I2)*(t0.5)
1 5 141.9108 709.55 20138.66 100693.31 0.70 2.15 1.50 0.48856 2.24 317.32 45031.42
2 10 106.2112 1062.11 11280.81 112808.11 1.00 2.03 2.03 1 3.16 335.87 35673.06
3 20 74.0688 1481.38 5486.19 109723.73 1.30 1.87 2.43 1.69268 4.47 331.25 24534.97
4 40 49.4992 1979.97 2450.17 98006.83 1.60 1.69 2.71 2.5666 6.32 313.06 15496.24
5 60 38.57139 2314.28 1487.75 89265.12 1.78 1.59 2.82 3.16182 7.75 298.77 11524.08
6 80 32.16122 2572.90 1034.34 82747.50 1.90 1.51 2.87 3.62175 8.94 287.66 9251.45
7 120 24.75389 2970.47 612.76 73530.64 2.08 1.39 2.90 4.32299 10.95 271.17 6712.40
8 240 15.62836 3750.81 244.25 58618.94 2.38 1.19 2.84 5.66541 15.49 242.11 3783.84
Jumlah 482.80 16841.46 42734.93 725394.18 12.74 13.42 20.11 22.5198 59.33 2397.21 152007.45

Persamaan Intensitas Hujan untuk PUH 5 tahun.


Variabel Talbot Sherman Ishiguro
a 3396.749681 390.6609 267.0973035
b 21.40106063 -0.539408861
n 0.5737
Persamaan I = 3396.75/(t+21.4) I =390.6609/(t0.5737) I =267.1/(t0.5-0.54)

Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Bell Tanimoto PUH 5 Tahun dengan Tetapan Talbot, Sherman, dan Ishiguro.
Tabel Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Bell Tanimoto PUH 5 Tahun dengan Pola Talbot, Sherman dan Ishiguro
No t l Talbot Selisih 1 Sherman Selisih 2 Ishiguro Selisih 3
1 5 155.31 128.66 26.65 155.17 0.15 157.48 2.17
2 10 140.11 108.18 31.93 104.26 35.86 101.86 38.25
3 20 117.17 82.05 35.13 70.05 47.13 67.93 49.25
4 40 88.27 55.32 32.95 47.07 41.21 46.17 42.10
5 60 70.81 41.73 29.08 37.30 33.51 37.07 33.74
6 80 59.11 33.50 25.61 31.62 27.49 31.78 27.33
7 120 44.43 24.02 20.41 25.06 19.37 25.65 18.79
8 240 25.46 12.99 12.47 16.84 8.63 17.86 7.60
Jumlah 700.69 486.45 214.23 487.35 213.33 485.80 219.22
Rata-rata 87.59 60.81 26.78 60.92 26.67 60.73 27.40
Uji kecocokan intensitas hujan metode Bell Tanimoto dengan rumus Talbot, Sherman dan Ishiguro dengan PUH 10 tahun.

Tabel Perhitungan Harga Tetapan Untuk Metode Bell Tanimoto dengan PUH 10 Tahun
No t l lt I2 I 2t Log t Log l Log t * Log l (log t)2 (t)0.5 (l)*(t0.5) (I2)*(t0.5)
1 5 196.2268 981.13 38504.94 192524.71 0.70 2.29 1.60 0.48856 2.24 438.78 86099.67
2 10 146.8632 1468.63 21568.81 215688.09 1.00 2.17 2.17 1 3.16 464.42 68206.56
3 20 102.4185 2048.37 10489.54 209790.79 1.30 2.01 2.62 1.69268 4.47 458.03 46910.65
4 40 68.4449 2737.80 4684.70 187388.18 1.60 1.84 2.94 2.5666 6.32 432.88 29628.67
5 60 53.3345 3200.07 2844.57 170674.11 1.78 1.73 3.07 3.16182 7.75 413.13 22033.93
6 80 44.47085 3557.67 1977.66 158212.48 1.90 1.65 3.14 3.62175 8.94 397.76 17688.69
7 120 34.22839 4107.41 1171.58 140589.92 2.08 1.53 3.19 4.32299 10.95 374.95 12834.04
8 240 21.61008 5186.42 467.00 112078.90 2.38 1.33 3.18 5.66541 15.49 334.78 7234.66
Jumlah 667.60 23287.49 81708.80 1386947.18 12.74 14.55 21.90 22.5198 59.33 3314.73 290636.88

Persamaan Intensitas Hujan untuk PUH 10 tahun.


Variabel Talbot Sherman Ishiguro
a 4696.84761 540.2565 369.3281664
b 21.40106063 -0.539408861
n 0.5737
Persamaan I =4696.85/(t+21.4) I =540.2565/(t^0.5737) I =369.33/(t0.5-0.54)

Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Bell Tanimoto PUH 10 Tahun dengan Tetapan Talbot, Sherman, dan Ishiguro.
Tabel Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Bell Tanimoto PUH 10 Tahun dengan Pola Talbot, Sherman dan Ishiguro
No t l Talbot Selisih 1 Sherman Selisih 2 Ishiguro Selisih 3
1 5 158.009414 177.91 19.90 214.59 56.58 217.76 59.75
2 10 144.559813 149.58 5.02 144.18 0.38 140.84 3.72
3 20 123.53027 113.45 10.08 96.87 26.66 93.93 29.60
4 40 95.6897334 76.50 19.19 65.09 30.60 63.85 31.84
5 60 78.0902136 57.70 20.39 51.58 26.51 51.25 26.84
6 80 65.9588752 46.32 19.64 43.73 22.23 43.95 22.01
7 120 50.3233728 33.22 17.11 34.66 15.67 35.46 14.86
8 240 29.4091332 17.97 11.44 23.28 6.12 24.70 4.71
Jumlah 745.57 672.64 122.77 673.98 184.75 671.74 193.33
Rata-rata 93.1963532 84.080538 15.3465571 84.2469133 23.0935276 83.9670887 24.1660615
Uji kecocokan ntensitas hujan metode Bell Tanimoto dengan rumus Talbot, Sherman dan Ishiguro dengan PUH 25 tahun.

Tabel Perhitungan Harga Tetapan Untuk Metode Bell Tanimoto dengan PUH 25 Tahun
No t l lt I2 I2t Log t Log l Log t * Log l (log t)2 (t)0.5 (l)*(t0.5) (I2)*(t0.5)
1 5 279.8781 1399.39 78331.75 391658.76 0.70 2.45 1.71 0.48856 2.24 625.83 175155.12
2 10 209.4709 2094.71 43878.07 438780.73 1.00 2.32 2.32 1 3.16 662.41 138754.65
3 20 146.0794 2921.59 21339.18 426783.66 1.30 2.16 2.82 1.69268 4.47 653.29 95431.73
4 40 97.62292 3904.92 9530.23 381209.38 1.60 1.99 3.19 2.5666 6.32 617.42 60274.50
5 60 76.07096 4564.26 5786.79 347207.43 1.78 1.88 3.35 3.16182 7.75 589.24 44824.29
6 80 63.42874 5074.30 4023.20 321856.38 1.90 1.80 3.43 3.62175 8.94 567.32 35984.64
7 120 48.81993 5858.39 2383.39 286006.27 2.08 1.69 3.51 4.32299 10.95 534.80 26108.68
8 240 30.82244 7397.39 950.02 228005.45 2.38 1.49 3.54 5.66541 15.49 477.50 14717.69
Jumlah 952.1934 33214.94 166222.65 2821508.06 12.74 15.78 23.86 22.5198 59.33 4727.80 591251.29

Persamaan Intensitas Hujan untuk PUH 25 tahun.


Variabel Talbot Sherman Ishiguro
a 6699.110743 770.5485 526.7725276
b 21.40106063 -0.539408861
n 0.5737
Persamaan I =6699.11/(t-21.4) I =770.5485/(t0.5737) I =526.77/(t0.5-0.54)

Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Bell Tanimoto PUH 25 Tahun dengan Tetapan Talbot, Sherman, dan Ishiguro.
Tabel Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Bell Tanimoto PUH 25 Tahun dengan Pola Talbot, Sherman dan Ishiguro
No t l Talbot Selisih 1 Sherman Selisih 2 Ishiguro Selisih 3
1 5 188.44 253.75 65.31 306.06 117.62 310.58 122.14
2 10 160.486877 213.35 52.86 205.64 45.15 200.88 40.40
3 20 148.758192 161.81 13.06 138.17 10.59 133.97 14.79
4 40 129.787901 109.11 20.68 92.83 36.96 91.06 38.72
5 60 103.412642 82.30 21.11 73.57 29.85 73.10 30.31
6 80 85.9467098 66.07 19.88 62.37 23.57 62.68 23.27
7 120 73.5281366 47.38 26.15 49.43 24.10 50.58 22.95
8 240 57.0435227 25.63 31.42 33.21 23.83 35.23 21.81
Jumlah 947.40 959.39 250.47 961.27 311.67 958.09 314.39
Rata-rata 118.43 119.92 31.31 120.16 38.96 119.76 39.30
Uji kecocokan ntensitas hujan metode Bell Tanimoto dengan rumus Talbot, Sherman dan Ishiguro dengan PUH 50 tahun.

Tabel Perhitungan Harga Tetapan Untuk Metode Bell Tanimoto dengan PUH 50 Tahun
No t l lt I2 I2t Log t Log l Log t * Log l (log t)2 (t)0.5 (l)*(t0.5) (I2)*(t0.5)
1 5 353.8716 1769.36 125225.11 626125.57 0.70 2.55 1.78 0.48856 2.24 791.28 280011.87
2 10 264.8504 2648.50 70145.71 701457.13 1.00 2.42 2.42 1 3.16 837.53 221820.22
3 20 184.6995 3693.99 34113.90 682278.02 1.30 2.27 2.95 1.69268 4.47 826.00 152562.00
4 40 123.4322 4937.29 15235.52 609420.65 1.60 2.09 3.35 2.5666 6.32 780.65 96357.87
5 60 96.18241 5770.94 9251.06 555063.42 1.78 1.98 3.53 3.16182 7.75 745.03 71658.38
6 80 80.19788 6415.83 6431.70 514535.94 1.90 1.90 3.62 3.62175 8.94 717.31 57526.87
7 120 61.72683 7407.22 3810.20 457224.13 2.08 1.79 3.72 4.32299 10.95 676.18 41738.66
8 240 38.9712 9353.09 1518.75 364501.08 2.38 1.59 3.79 5.66541 15.49 603.74 23528.44
Jumlah 1203.932 41996.22 265731.95 4510605.92 12.74 16.60 25.16 22.5198 59.33 5977.73 945204.30

Persamaan Intensitas Hujan untuk PUH 50 tahun.


Variabel Talbot Sherman Ishiguro
a 8470.2056 974.18 666.039387
b 21.40106063 -0.539408861
n 0.5737
Persamaan I =8470.21/(t+21.4) I =974.18/(t0.5737) I =666.04/(t0.5-0.54)

Perhitungan Selisih Terkecil Perbandngan Metode Bell Tanimoto PUH 50 Tahun dengan Tetapan Talbot, Sherman, dan Ishiguro.
Tabel Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Bell Tanimoto PUH 50 Tahun dengan Pola Talbot, Sherman dan Ishiguro
No t l Talbot Selisih 1 Sherman Selisih 2 Ishiguro Selisih 3
1 5 211.6 320.84 109.24 386.94 175.34 392.70 181.10
2 10 161.887273 269.75 107.86 259.98 98.09 253.99 92.11
3 20 151.179877 204.59 53.41 174.68 23.50 169.38 18.20
4 40 133.517851 137.95 4.43 117.36 16.15 115.14 18.38
5 60 108.229421 104.06 4.17 93.01 15.22 92.43 15.80
6 80 90.994888 83.53 7.46 78.86 12.14 79.25 11.74
7 120 78.4952468 59.90 18.59 62.49 16.00 63.95 14.54
8 240 61.5778032 32.40 29.17 41.99 19.59 44.55 17.03
Jumlah 997.48 1213.03 334.36 1215.30 376.04 1211.39 368.90
Rata-rata 124.69 151.63 41.79 151.91 47.00 151.42 46.11
Uji kecocokan ntensitas hujan metode Bell Tanimoto dengan rumus Talbot, Sherman dan Ishiguro dengan PUH 100 tahun.

Tabel Perhitungan Harga Tetapan Untuk Metode Bell Tanimoto dengan PUH 100 Tahun
No t l lt I2 I2t Log t Log l Log t * Log l (log t)2 (t)0.5 (l)*(t0.5) (I2)*(t0.5)
1 5 433.2752 2166.38 187727.38 938636.91 0.70 2.64 1.84 0.48856 2.24 968.83 419771.19
2 10 324.2789 3242.79 105156.79 1051567.91 1.00 2.51 2.51 1 3.16 1025.46 332534.97
3 20 226.1433 4522.87 51140.81 1022816.13 1.30 2.35 3.06 1.69268 4.47 1011.34 228708.64
4 40 151.1286 6045.14 22839.86 913594.25 1.60 2.18 3.49 2.5666 6.32 955.82 144451.93
5 60 117.7643 7065.86 13868.44 832106.27 1.78 2.07 3.68 3.16182 7.75 912.20 107424.46
6 80 98.1931 7855.45 9641.88 771350.75 1.90 1.99 3.79 3.62175 8.94 878.27 86239.64
7 120 75.57742 9069.29 5711.95 685433.51 2.08 1.88 3.91 4.32299 10.95 827.91 62571.23
8 240 47.71576 11451.78 2276.79 546430.59 2.38 1.68 4.00 5.66541 15.49 739.21 35271.94
Jumlah 1474.077 51419.56 398363.90 6761936.34 12.74 17.30 26.28 22.5198 59.33 7319.04 1416974.00

Persamaan Intensitas Hujan untuk PUH 100 tahun.


Variabel Talbot Sherman Ishiguro
a 10370.79497 1202.264435 815.4888143
b 21.40106063 -0.54
n 0.5737
Persamaan I =10370.79/(t+21.4) I =398.1/(t0.5737) I =1163.05/(t0.5+2.79)

Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Bell Tanimoto PUH 100 Tahun dengan Tetapan Talbot, Sherman, dan Ishiguro.
Tabel Perhitungan Selisih Terkecil Perbandingan Metode Bell Tanimoto PUH 100 Tahun dengan Pola Talbot, Sherman dan Ishiguro
No t l Talbot Selisih 1 Sherman Selisih 2 Ishiguro Selisih 3
1 5 234.58 392.83 158.25 477.53 242.95 480.81 246.23
2 10 163.021731 330.28 167.26 320.85 157.83 310.99 147.96
3 20 174.230627 250.50 76.27 215.57 41.34 207.39 33.16
4 40 136.648444 168.91 32.26 144.84 8.19 140.98 4.33
5 60 112.402758 127.41 15.00 114.78 2.38 113.17 0.77
6 80 95.4644022 102.28 6.81 97.32 1.85 97.03 1.57
7 120 82.9624997 73.34 9.62 77.12 5.84 78.30 4.66
8 240 65.7432 39.67 26.07 51.82 13.93 54.54 11.20
Jumlah 1065.05 1485.22 491.54 1499.83 474.31 1483.21 449.88
Rata-rata 133.131708 185.652427 61.4427295 187.478899 59.2891719 185.40146 4
Mencari Delta Terkecil

Hasper – Weduwen Van Breen Bell Tanimoto


No. PUH
Talbot Sherman Ishiguro Talbot Sherman Ishiguro Talbot Sherman Ishiguro
1 2 8.55 7.23 34.74 0.00 10.23 9.97 42.98 42.92 43.03
2 5 11.72 6.16 38.89 0.01 11.10 10.40 26.78 26.67 27.40
3 10 13.61 6.34 40.61 0.00 11.57 10.31 15.35 23.09 24.17
4 25 15.82 8.39 41.50 6.51 10.13 7.16 31.31 38.96 39.30
5 50 17.32 9.81 41.77 9.89 8.32 5.48 41.79 47.00 46.11
6 100 18.71 11.39 41.80 12.89 10.28 8.52 61.44 59.29 56.24
Jumlah 85.72 49.33 239.30 29.30 61.63 51.84 219.65 237.93 236.24

Dari Tabel di atas, delta terkecil diperoleh dari data intensitas hujan menurut metode Van Breen dengan menggunakan persamaan talbot.
Contoh Perhitungan menggunakan Metode Van Breen dengan PUH 2 Tahun
Tetapan dengan mengunakan PUH 2 Tahun
Tetapan jenis I (Talbot) dengan persamaan I = a/(t+b)

(∑ I .t ).(∑ I ) − (∑ I t ).(∑ I )
2 2

a =
n(∑ I ) − (∑ I )
2 2

= (22991.14 × 62433.34) − (13185222.83 × 614.79)


(
8(62433.34) − 614.79 )
= 5142.324276
(∑ I )(∑ I .t ) − n(I .t ) 2

b =
n(∑ I ) − (∑ I )
2 2

= (614.79 × 22991.14) − 8(1318522 .83)


(
8(62433.34 ) − 614.79
2
)
= 29.5182
Sehingga persamaannya adalah; I = 5142.32/(t+29.52)

Tetapan jenis Sherman, dengan persamaannya I = a/tn


(log .I ).[(Log.t )2 ] − (log .t. log I )(log .t )
n[(log .t ) ] − (log t )
Log a = 2 2

=
(14.42 × 22.52) − (21.80 × 12.74)
8[22.52] − (12.74)
2

= 2.6388120
a = anti log 2.6388120
= 426.58
(log .I ).[(Log.t )2 ] − n(log .t. log I )
n[(log .t ) ] − (log t )
n = 2 2

=
(14.42 × 22.52) − 821.80
8[22.52] − (12.74)
2

= 0.52498
Sehingga persamaannya adalah; I = 426.58/(t0.52)
Tetapan jenis Ishiguro, dengan persamaannya I = a/(t0.5+b)

a =
(I .t )(I ) − (I .t )(I )
0.5 2 2 0.5

n(I ) − (I )
2 2

=
(3214.13 × 62433.34) − (249883.15 × 614.79)
8(62433.34) − (614.79)
2

= 387.1832704

b =
(I )(I .t 0.5 ) − n(I 2 .t 0.5 )
n(I 2 ) − (I )
2

=
(614.79 × 62433.34) − 8(249883.15)
8(62433.34) − (614.79)
2

= -1.776110874
Sehingga persamaannya adalah; I = 387.18/(t0.5-1.78)
Contoh Perhitungan menggunakan Metode Bell Tanimoto dengan PUH 2 Tahun
Tetapan dengan mengunakan PUH 2 Tahun
Tetapan jenis I (Talbot) dengan persamaan I = a/(t+b)

(∑ I .t ).(∑ I ) − (∑ I t ).(∑ I )
2 2

a =
n(∑ I ) − (∑ I )
2 2

= (9379.65 ×13255.52) − (225002.84 × 268.89 )


(
8(13255.52 ) − 268.89
2
)
= 1891.779464
(∑ I )(∑ I .t ) − n(I .t )2

b =
n(∑ I ) − (∑ I )
2 2

= (268.89 ×13255.52) − 8(225002 .84 )


(
8(13255.52 ) − 268.89
2
)
= 21.40106063
Sehingga persamaannya adalah; I = 1891.78/(t+21.40)

Tetapan jenis Sherman, dengan persamaannya I = a/tn


(log .I ).[(Log.t )2 ] − (log .t. log I )(log .t )
n[(log .t ) ] − (log t )
Log a = 2 2

=
(11.39 × 22.52) − (16.87 × 12.74)
8[22.52] − (12.74)
2

= 2.3376193
a = anti log 2.3376193
= 217.58
(log .I ).[(Log.t )2 ] − n(log .t. log I )
n[(log .t ) ] − (log t )
n = 2 2

=
(11.39 × 22.52) − 8(16.87 )
8[22.52] − (12.74)
2

= 0.57373
Sehingga persamaannya adalah; I = 217.58/(t0.57)
Tetapan jenis Ishiguro, dengan persamaannya I = a/(t0.5+b)

a =
(I .t )(I ) − (I .t )(I )
0.5 2 2 0.5

n(I ) − (I )
2 2

=
(1335.10 × 13255.52) − (47149.69 × 268.89)
8(13255.52) − (268.89)
2

= 148.7566766

b =
(I )(I .t 0.5 ) − n(I 2 .t 0.5 )
n(I 2 ) − (I )
2

=
(268.89 × 13255.52) − 8(47149.69)
8(13255.52 ) − (268.89)
2

= -0.539408861
Sehingga persamaannya adalah; I = 148.76/(t0.5-0.54)
Contoh Perhitungan Blok A - ID 53, Jalur B-G61
• Tipe Daerah Aliran :
Pemukiman dengan Luas = 8.4712 Ha
Sehingga Luas Total = 8.4712 Ha

• Menghitung C Gabungan dengan menggunakan persamaan (.....),


C1 . A1 + C 2 . A2 + .... + Cn. An
C=
A1 + A2 + .... + An
Dimana : C = Koefisien Pengaliran → C = 0.40 Daerah Pemukiman
→ C = 0.55 Daerah Persawahan
A = Luas DPS (Ha)
Maka didapat ;
(0.40 × 8.4712) + (0.55 × 0)
C=
8.4712 + 0
= 0.40

• Jenis Saluran dan PUH


Didapat dari tabel (....) periode ulang hujan desain, dengan mencocokkan luas DPS.
Didapat ; jalur B-G61 dengan luas DPS 8.4712 Ha, sehingga mempunyai jenis saluran
sekunder, dengan PUH 10 tahun, dan R = 157.23

• R = Tinggi hujan (mm/hari)


Yang digunakan adalah R Metode Gumbel, dimana CHHM terbesar dihasilkan dari
perhitungan dengan metode tersebut.
Digunakan ; R = 157.23

• Lda, Sd, Lo & So didapat dari pengukuran di Peta


Dimana : Lda = Panjang saluran yang ditinjau (m) → Lda = 470 m
Sd = Slope saluran (m/m) → Sd = 0.0021 m/m
Lo = Panjang limpasan (m) → Lo = 300 m
So = Slope limpasan (m/m) → So = 0.0233

• n = kekasaran permukaan, didapat dari tabel (....)


n = 0.015 (permukaan diperkeras)
• to = Waktu yang diperlukan oleh air untuk mengalir pada permukaan tanah menuju
saluran (menit)
6.33(n.Lo) 0.6
to = → untuk panjang aliran ± 300 m
(C.Ie) 0.4 .So 0.3
1

108.n.Lo 3
to = 1
→ untuk panjang aliran ± 1000 m
5
So
1

108 × 0.015 × 300 3


to =
didapat ; 1

0.0233 5

= 22.995 menit

• V asumsi
Mengasumsikan kecepatan sebesar 1 m/s

• td = Waktu pengaliran dalam saluran menuju titik tinjauan (menit)


Lda
td =
60.V
470
=
60 × 1
= 7.833 menit

• tc = Waktu konsentrasi (dari titik terjauh dalam DPS menuju suatu titik tinjauan)
(menit)
tc = to + td
= 22.995 + 7.833
= 30.828menit

• I = Intensitas Hujan
I yang digunakan adalah Hasil perhitungan dengan metode Van Breen persamaan
talbot PUH 10.
a
I=
t +b
8491.631342
= = 106.720 mm / jam
30.828 + 48.7413
• Q = Debit puncak limpasan banjir (m3/det)
100
Q= × C .I . A → untuk daerah dengan luas ≤ 80 Ha
36
100
Q= × Cs.C.I . A → untuk daerah dengan luas ≥ 80 Ha
36
⎛ 100 ⎞
⎜ × 0.4 × 106.720 × 8.4712 ⎟
36
Luas daerah 8.4712 Ha ≤ 80 Ha → Q=⎝ ⎠
1000
= 1.004 m3 / det
• Bentuk Saluran Trapesium
y 1
Mencari nilai b, dimana: R = ,Z =
2 3
A
R=
P
y (b + zy ) y
=
2 b + (2 y 1 + z 2 )
1
(b + y) y
y
= 3
2 ⎛ 1 ⎞⎟
2

b + 2 y 1+

⎝ 3 ⎟⎠
y by + 0.577 y 2
=
2 b + 2.309 y
by + 2.309 y 2 = 2by + (2 × 0.577 y 2 )
by + 2.309 y 2 = 2by + 1.154 y 2
by − 2by = 1.154 y 2 − 2.309 y 2
− by = − 1.155 y 2
b = 1.155 y

Mencari nilai luas penampang:


A = (b + zy ) y
1
= (1.155 y + y) y
3
= 1.155 y 2 + 0.577 y 2
= 1.732 y 2
Mencari nilai y atau h (kedalaman saluran):
2
1 ⎛ by + 0.577 y 2 ⎞ 3 2
1
Q = ⎜⎜ ⎟⎟ .S .1.732 y 2
n ⎝ b + 2.309 y ⎠
2
1 ⎛ 1.155 y + 0.577 y
2 2
⎞ 12
3
= ⎜⎜ ⎟⎟ .S .1.732 y 2
n ⎝ 1.155 y + 2.309 y ⎠
2
1 ⎛ 1.732 y 2 ⎞ 3 12
= ⎜⎜ ⎟ .S .1.732 y 2
n ⎝ 3.464 y 2 ⎟⎠
2 1
1
= 0.5 y 3 .S 2 .1.732 y 2
n
2 2 1
1
= 0.5 3 y 3 .S 2 .1.732 y 2
n
8 1
1
= 0.630. y .S 2 .1.732
3
n
2
1 3 12
= y S .1.091
n

3
⎛ ⎞8
⎜ ⎟
y= ⎜ Q ⎟
⎜1 1 ⎟
⎜ × S 2 × 1.091 ⎟
⎝n ⎠
3
⎛ ⎞8
⎜ ⎟
⎜ 1.141 ⎟
=
⎜1 1 ⎟
⎜ × 0.0021 2 × 1.091 ⎟
⎝n ⎠
= 0.636 m

Mencari nilai b, T (lebar permukaan), P (keliling penampang basah), R (jari-jari


hidrolis):
b = 1.155 y
= 1.155 × 0.636
= 0.735m
T = 2y 1+ z2
2
⎛ 1 ⎞
= 2 × 0.636 1 + ⎜⎜ ⎟⎟
⎝ 3⎠
= 1.469m
P = b + 2y 1+ z2
= b +T
= 0.735 + 1.469
= 2.204 m
A = (b + zy ) y
1
= (0.735 + × 0.636)0.636
3
= 0.701m 2
y 0.701
R= = = 0.318
2 2

Kecepatan Saluran:
2 1
1 3 2
Vkontrol =.R .S
n
2 1
1
= × 0.318 × 0.0021 2
3
0.015
= 1.433m 2 / det
V = Q/ A
= 1.004 / 0.701
= 1.433m 2 / det

• Koefisien Ambang Bebas


C = 0.14 → (Q ≤ 0.6 m3/det)
C = 0.23 → (0.6 < Q ≤ 8 m3/det)

• Fb = Ambang bebas
fb = c. y
= 0.23 × 0.636
= 0.383
• Hf
Hf = Lda × Sd
= 470 × 0.0021
= 1.9

• Elevasi Dasar Saluran awal


= E.muka tnh awal − h − fb
= 53 − 0.636 − 0.383
= 51.981
Elevasi Dasar Saluran akhir
= E.muka tnh akhir − h − fb
= 52 − 0.636 − 0.383
= 50.981

• Kedalaman awal
= E.tnh awal − E.dasar sal awal
= 53 − 51.981
= 1.019
Kedalaman akhir
= E.tnh akhir − E.dasar sal akhir
= 52 − 50.981
= 1.019

• Elevasi Muka Air awal


= E.dasar sal awal − h
= 51.981 − 0.636
= 51.345
Elevasi Muka Air awal
= E.dasar sal akhir − h
= 50.981 − 0.636
= 50.345
Contoh Perhitungan :
Untuk Gorong –gorong ID G61, Jalur ID B-G61
V sal = 1.433 m/s
Slope Sal = 0.0021 m
Q Sal = 1.004 m3/s
V gor = 1.5 m/s
Panjang Gor =8 m

• Menghitung Dimensi Gorong – gorong


Q
A =
Vgorong 2
1.004m3 / s
=
1.5m / s
= 0.670 m 2
A = 2 h2
A
h2 =
2

A 0.670m 2
= = = 0.579 m
2 2
b = 2 h = 2 * 0.579 m
= 1.157m

• Menghitung Kehilangan Energi


Kehilangan Energi terdiri dari :
(Vsal − Vgrg ) 2
Hf in = 0.25 *
2* g

(1.433m / s − 1.5m / s) 2
= 0.25 *
2 * 9.81
= 0.0001 m

(Vsal − Vgrg ) 2
Hf out = 0.5 *
2* g

(1.433m / s − 1.5m / s) 2
= 0.5 *
2 * 9.81
= 0.0203 m
Hf gesek = Slope * Pjg gorong2

= 0.0021 * 8
= 0.0170 m

Hf Total = Hf in + Hf out + Hf gesek

= 0.0001 m + 0.0203 m + 0.0170 m


= 0.0374 m
Contoh Perhitungan BOQ Saluran Blok A Jalur ID 53, Jalur B-G61
• Dasar-dasar perencanan
Bill of quantity (BOQ) pada perencanaan ini meliputi pekerjaan penggalian dan
pembangunan saluran (konstruksi), perhitungan volume penggalian, volume bahan
pembangunan baik saluran maupun bangunan pelengkap.

SALURAN (Trapesium)
Diketahui:
Lda = 470 m
Y = 0.636 m
b = 0.735 m
fb = 0.383 m

• Volume Galian
Rumusan yang digunakan :
- Volume saluran trapesium :
= (0.5(b + B)).( y + fb).Lda
= (0.5(b + b + 2 zy )).( y + fb).Lda
= (0.5(2b + 2 Zy )).( y + fb).Lda
= (0.5(2.1,155 y + 2.0.577 y )).( y + fb).Lda
= (1.732 y ).( y + fb).Lda
- Volume Galian Saluran
= V .batu kali + ((1.732 y ).( y + fb).Lda )
= 69.641m3 + ((1,732 × 0,636).(0,636 + 0,383).470)
= 597,242 m3

• Volume Batu Kali


= 0,16 + (0,4.( y + fb)) + ((0,2.b).Lda )
= 0,16 + (0,4.(0,636 + 0,383)) + ((0,2.0,735).470)
= 69.641 m3

• Volume Semen
= (0,25.(0,25.V .batu kali)
= (0,25.(0,25 × 69,641)
= 4,353 m3
• Volume Pasir
⎛3 ⎞
= ⎜ .25%.V .batu kali ⎟
⎝4 ⎠
⎛3 ⎞
= ⎜ .25% × 69,641⎟
⎝4 ⎠
= 13,058 m3
Contoh Perhitungan BOQ Gorong-gorong Blok A Jalur B-G61, ID G61

GORONG – GORONG (Persegi)


Pada perencanaan ini digunakan gorong-gorong yang terdiri dari campuran semen
dan beton dikarenakan beban lalu lintas yang padat sehingga akan memberikan daya tekan
yang besar kepada saluran drainase yang terletak dibawah jalan raya konstruksi.

Diketahui :
Lebar jalan =8m
h gorong = 0.579 m
b gorong = 1.157 m

• Volume Galian Gorong-gorong


- Volume Galian Gorong-gorong
= ((0.3 + 0.5 + b).(0.4 + h + 0.2 + 0.4 + 0.3).lebar jalan
= (1 + b).(1,3.h).lebar jalan
= (1 + 1,157).(1,3 × 0,579).8
= 12,982 m3

• Volume Pasangan Batu Kali


= (2.( A1 + A3 ). A3 ).lebar jalan
⎧ ⎛ ⎛ 0.3 + 0.5 ⎞ ⎞ ⎫
= ⎨2.⎜⎜ ⎜ ⎟.(h + 0,2) ⎟⎟ + (0,5 + 0,7) + (0,4 + h)⎬.lebar jalan
⎩ ⎝⎝ 2 ⎠ ⎠ ⎭
= ((0,8.h) + 0,86 + (0,4.b)).lebar jalan
= ((0,8 × 0,579) + 0,86 + (0,4 × 1,157)).8
= 14,287 m3

• Volume Beton
= (0,3 + 0,3 + b).0,4.lebar jalan
= (0,6 + b).0,4.lebar jalan
= (0,6 + 1,157).0,4 × 8
= 5,623 m3
• Perbandingan Volume Bahan Yang Digunakan
- Rumusan untuk menghitung perbandingan spasi
Semen : kerikil : pasir
1 : 2 : 3
- Rumusan untuk menghitung Pasangan Batu
Batu : Spesi Pasangan
6 : 4
- Rumusan untuk menghitung perbandingan spasi pasangan
Semen : kerikil : pasir
1 : 2 : 3

• Volume Semen
⎛ 1⎞ ⎛1 ⎞
= ⎜ 0,6.V . pasangan batu kali. ⎟ + ⎜ .V .beton ⎟
⎝ 9⎠ ⎝6 ⎠
⎛ 1⎞ ⎛1 ⎞
= ⎜ 0,6 × 14,287 × ⎟ + ⎜ . × 5,623 ⎟
⎝ 9⎠ ⎝6 ⎠
= 1,890 m3

• Volume Kerikil
⎛ 3⎞ ⎛ 2 ⎞
= ⎜ ker ikil pasangan batu. ⎟ + ⎜ .V .beton ⎟
⎝ 9⎠ ⎝6 ⎠
⎛ 3⎞ ⎛ 2 ⎞
= ⎜ 0,6.V . pasangan batu . ⎟ + ⎜ .V .beton ⎟
⎝ 9⎠ ⎝6 ⎠
⎛ 3⎞ ⎛ 2 ⎞
= ⎜ 0,6 × 14,287 × ⎟ + ⎜ × 5,623 ⎟
⎝ 9⎠ ⎝6 ⎠
= 4.732 m3

• Volume Pasir
= pasir pasangan batu-pasir beton
⎛ 5⎞ ⎛ 3 ⎞
= ⎜ 0,6.V . pasangan batu ⎟ + ⎜ .V .beton ⎟
⎝ 9⎠ ⎝6 ⎠
⎛ 5⎞ ⎛ 3 ⎞
= ⎜ 0,6. × 14,287 × ⎟ + ⎜ × 5,623 ⎟
⎝ 9⎠ ⎝6 ⎠
= 7,574 m3
Contoh Rekapitulasi RAB

I. PEKERJAAN PERSIAPAN
1. Uitzet dan Pasang Bouwplank
Diketahui : Analisa = Taksir
Volume =1 LS
Harga Satuan = Rp. 500.000
Jumlah = Volume x Harga Satuan
= 1 x 500.000 = Rp. 500.000,00
2. Pembersihan Lokasi
Diketahui : Analisa = Taksir
Volume =1 LS
Harga Satuan = Rp. 495.000
Jumlah = Volume x Harga Satuan
= 1 x 495.000 = Rp. 495.000,00
3. Administrasi dan Dokumentasi
Diketahui : Analisa = Taksir
Volume =1 LS
Harga Satuan = Rp. 490.000
Jumlah = Volume x Harga Satuan
= 1 x 490.000 = Rp. 490.000,00 +
SUB JUMLAH = Rp. 1.485.000,00

II. PEKERJAAN SALURAN


1. Galian Tanah biasa
Diketahui : Analisa = A.004
Volume =180504.064 m3
Harga Satuan = Rp. 19.821,00
Jumlah = Volume x Harga Satuan
= 180504.064 x 19.821,00 = Rp. 3.577.771.049,48

2. Urugan Pasir
Diketahui : Analisa = A.012
Volume =1977.455 m3
Harga Satuan = Rp. 11.925,00
Jumlah = Volume x Harga Satuan
= 1977.455 x 11,925.00 = Rp. 23.581.151,77

3. Pasangan Batu Kali 1:3:10


Diketahui : Analisa = C.009
Volume =10546.427 m3
Harga Satuan = Rp. 269,290.00
Jumlah = Volume x Harga Satuan
= 10546.427 x 269,290.00 = Rp. 2.840.047.345,45
4. Plesteran 1:3
Diketahui : Analisa = D.015
Volume = 92435.50m3
Harga Satuan = Rp. 17,327.00
Jumlah = Volume x Harga Satuan
= 92435.50 x 17,327.00 = Rp. 1.601.629.908,50

5. Lis Sponengan
Diketahui : Analisa = D.014
Volume = 92435.50m3
Harga Satuan = Rp. 2,859.50
Jumlah = Volume x Harga Satuan
= 92435.50 x 2,859.50 = Rp. 264.319.312,25 +
SUB JUMLAH = Rp. 8.307.348.767,46

III. PEKERJAAN GORONG-GORONG


1. Galian Tanah Biasa
Diketahui : Analisa = A.005
Volume = 6580.602 m3
Harga Satuan = Rp. 19,821.00
Jumlah = Volume x Harga Satuan
= 6580.602 x 19,821.00 = Rp. 130.434.112,00

2. Urugan Pasir
Diketahui : Analisa = D.015
Volume = 1023.493m3
Harga Satuan = Rp. 11,925.00
Jumlah = Volume x Harga Satuan
= 1023.493 x 11,925.00 = Rp. 12.205.154,00

3. Cor Beton Bertulang


Diketahui : Analisa = B.002
Volume = 816.480 m3
Harga Satuan = Rp. 445,070.00
Jumlah = Volume x Harga Satuan
= 816.480 x 445,070.00 = Rp. 363.390.622,00

4. Pasangan Batu Kali 1:3:10


Diketahui : Analisa = C.009
Volume = 1845.759m3
Harga Satuan = Rp. 521,615.00
Jumlah = Volume x Harga Satuan
= 1845.759 x 521,615.00 = Rp. 269.290,00 +
SUB JUMLAH = Rp. 506.299.177,54
REKAPITULASI
I. Pekerjaan Persiapan = 1,485,000.00
II. Pekerjaan Saluran = 8,307,348,767.46
III. Pekerjaaan Gorong-Gorong = 506,299,177.54 +
Jumlah = 8,815,132,945.00
PPN 10% = 881,513,294.50
Jumlah Total = 9,696,646,239.50
Dibulatkan = 9,696,646,000.00

Terbilang : Sembilan Milyar Enam Ratus Sembilan Puluh Enam Juta Seratus Dua
Ribu Rupiah
Lengkung Intensitas Metode Hasper Weduwen

Lengkung Intensitas Hasper Weduwen


PUH 2 Tahunan

750.00
Intensitas Hujan

600.00
(mm/jam)

450.00
300.00
150.00
0.00
0.083 0.167 0.333 0.667 1.000 1.333 2.000 4.000
Waktu Distribusi (jam)

Talbot Sherman Ishiguro

Lengkung Intensitas Hasper Weduwen


PUH 5 Tahunan

900.00
Intensitas Hujan

750.00
(mm/jam)

600.00
450.00
300.00
150.00
0.00
0.083 0.167 0.333 0.667 1.000 1.333 2.000 4.000
Waktu Distribusi (jam)

Talbot Sherman Ishiguro


Lengkung Intensitas Hasper Weduwen
PUH 10 Tahunan

900.00
Intensitas Hujan

750.00
(mm/jam)

600.00
450.00
300.00
150.00
0.00
0.083 0.167 0.333 0.667 1.000 1.333 2.000 4.000
Waktu Distribusi (jam)

Talbot Sherman Ishiguro

Lengkung Intensitas Hasper Weduwen


PUH 25 Tahunan

900.00
Intensitas Hujan

750.00
(mm/jam)

600.00
450.00
300.00
150.00
0.00
0.083 0.167 0.333 0.667 1.000 1.333 2.000 4.000
Waktu Distribusi (jam)

Talbot Sherman Ishiguro


Lengkung Intensitas Hasper Weduwen
PUH 50 Tahunan

1000.00
Intensitas Hujan

800.00
(mm/jam)

600.00
400.00
200.00
0.00
0.083 0.167 0.333 0.667 1.000 1.333 2.000 4.000
Waktu Distribusi (jam)

Talbot Sherman Ishiguro

Lengkung Intensitas Hasper Weduwen


PUH 100 Tahunan

1200.00
Intensitas Hujan

1000.00
(mm/jam)

800.00
600.00
400.00
200.00
0.00
0.083 0.167 0.333 0.667 1.000 1.333 2.000 4.000
Waktu Distribusi (jam)

Talbot Sherman Ishiguro


Lengkung Intensitas Metode Van Breen

Lengkung Intensitas Van Breen


Intensitas (mm/jam)
PUH 2 Tahunan

250.00
200.00
Lengkung

150.00
100.00
50.00
0.00
0.083 0.167 0.333 0.667 1.000 1.333 2.000 4.000
Waktu Distribusi (jam)

Talbot Sherman Ishiguro

Lengkung Intensitas Van Breen


PUH 5 Tahunan
Intensitas (mm/jam)

250.00
200.00
Lengkung

150.00
100.00
50.00
0.00
0.083 0.167 0.333 0.667 1.000 1.333 2.000 4.000
Waktu Distribusi (jam)

Talbot Sherman Ishiguro


Lengkung Intensitas Van Breen
Intensitas (mm/jam)
PUH 10 Tahunan

250.00
200.00
Lengkung

150.00
100.00
50.00
0.00
0.083 0.167 0.333 0.667 1.000 1.333 2.000 4.000
Waktu Distribusi (jam)

Talbot Sherman Ishiguro

Lengkung Intensitas Van Breen


PUH 25 Tahunan
Intensitas (mm/jam)

250.00
200.00
Lengkung

150.00
100.00
50.00
0.00
0.083 0.167 0.333 0.667 1.000 1.333 2.000 4.000
Waktu Distribusi (jam)

Talbot Sherman Ishiguro


Lengkung Intensitas Van Breen
Intensitas (mm/jam)
PUH 50 Tahunan

250.00
200.00
Lengkung

150.00
100.00
50.00
0.00
0.083 0.167 0.333 0.667 1.000 1.333 2.000 4.000
Distribusi Hujan (jam)

Talbot Sherman Ishiguro

Lengkung Intensitas Van Breen


PUH 100 Tahunan
Intensitas (mm/jam)

250.00
200.00
Lengkung

150.00
100.00
50.00
0.00
0.083 0.167 0.333 0.667 1.000 1.333 2.000 4.000
Distribusi Hujan (jam)

Talbot Sherman Ishiguro


Lengkung Intensitas Metode Bell Tanimoto

Lengkung Intensitas Bell Tanimoto


PUH 2 Tahunan

100.00
Intensitas Hujan

80.00
(mm/jam)

60.00
40.00
20.00
0.00
1 2 3 4 5 6 7 8
Waktu Distribusi (jam)

Talbot Sherman Ishiguro

Lengkung Intensitas Bell Tanimoto


PUH 5 Tahunan

200.00
Intensitas Hujan

150.00
(mm/jam)

100.00

50.00

0.00
1 2 3 4 5 6 7 8
Waktu Distribusi (jam)

Talbot Sherman Ishiguro


Lengkung Intensitas Bell Tanimoto
PUH 10 Tahunan

250.00
Intensitas Hujan

200.00
(mm/jam)

150.00
100.00
50.00
0.00
1 2 3 4 5 6 7 8
Waktu Distribusi (jam)

Talbot Sherman Ishiguro

Lengkung Intensitas Bell Tanimoto


PUH 25 Tahunan

400.00
Intensitas Hujan

300.00
(mm/jam)

200.00

100.00

0.00
1 2 3 4 5 6 7 8
Waktu Distribusi (jam)

Talbot Sherman Ishiguro


Lengkung Intensitas Bell Tanimoto
PUH 50 Tahunan

500.00
Intensitas Hujan

400.00
(mm/jam)

300.00
200.00
100.00
0.00
1 2 3 4 5 6 7 8
Waktu Distribusi (jam)

Talbot Sherman Ishiguro

Lengkung Intensitas Bell Tanimoto


PUH 100 Tahunan

600.00
Intensitas Hujan

500.00
(mm/jam)

400.00
300.00
200.00
100.00
0.00
1 2 3 4 5 6 7 8
Waktu Distribusi (jam)

Talbot Sherman Ishiguro


Saluran Eksisting