Anda di halaman 1dari 9

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Merokok 2.1.1.

Kandungan rokok Merokok adalah membakar tembakau yang kemudian diisap asapnya, baik menggunakan rokok maupun menggunakan pipa. Temperatur pada sebatang rokok yang tengah dibakar adalah 900 0 C untuk ujung rokok yang dibakar dan 30 0C untuk ujung rokok yang terselip di antara bibir perokok. Asap rokok yang diisap atau asap rokok yang dihirup melalui dua komponen yang lekas menguap berbentuk gas dan komponen yang yang bersama gas terkondensasi menjadi partikel. Dengan demikian, asap rokok yang diisap dapat berupa gas sejumlah 85% dan sisanya berupa partikel (Sitepoe, 2000). Asap rokok yang diisap melalui mulut disebut mainstream smoke, sedangkan asap rokok yang terbentuk pada hujung rokok yang terbakar serta asap rokok yang dihembuskan ke udara oleh perokok disebut sidestream smoke. Sidestream smoke menyebabkan seseorang menjadi perokok pasif. Asap rokok mainstream mengandung 4000 jenis bahan kimia berbahaya dalam rokok dengan berbagai mekanisme kerja terhadap tubuh. Dibedakan atas fase partikel dan fase gas. Fase partikel terdiri daripada nikotin, nitrosamine, N nitrosonorktokin, poliskiklik hidrokarbon, logam berat dan karsinogenik amin. Sedangkan fase yang dapat menguap atau seperti gas adalah karbonmonoksid, karbondioksid, benzene, amonia,

formaldehid,hidrosianida dan lain-lain (Sitepoe, 2000). Beberapa bahan kimia yang terdapat di dalam rokok dan mampu memberikan efek yang mengganggu kesehatan antara lain nikotin, tar, gas karbon monoksida dan berbagai logam berat seseorang akan terganggu kesehatan bila merokok secara terus menerus. Hal ini disebabkan adanya nikotin di dalam asap rokok yang diisap. Nikotin bersifat adiktif sehingga bisa

Universitas Sumatera Utara

menyebabkan seseorang menghisap rokok secara terus-menerus. sebagai contoh, seseorang yang menghisap rokok sebanyak sepuluh kali isapan dan menghabiskan 20 batang rokok sehari, berarti jumlah isapan rokok per tahun mencapai 70.000 kali. Nikotin bersifat toksis terhadap jaringan syaraf juga menyebabkan tekanan darah sistolik dan diastolik. Denyut jantung bertambah, kontraksi otot jantung seperti dipaksa, pemakaian oksigen bertambah, aliran darah pada pembuluh darah koroner bertambah dan vasokontriksi pembuluh darah perifer. Nikotin meningkatkan kadar gula darah, kadar asam lemak bebas, kolestrol LDL dan meningkatkan agresi sel pembekuan darah (Sitepoe, 2000). Tar mempunyai bahan kimia yang beracun yang bisa menyebabkan kerusakan pada sel paru-paru dan menyebabkan kanker. Rokok juga mengandung gas karbon monoksida (CO) yang bisa membuat berkurangnya kemampuan darah untuk membawa oksigen. Gas ini bersifat toksis yang bertentangan dengan gas oksigen dalam transport hemoglobin (Sitepoe, 2000).

2.1.2. Efek merokok Merokok bukanlah penyebab suatu penyakit, tetapi dapat memicu suatu jenis penyakit sehingga boleh dikatakan merokok tidak menyebabkan kematian secara langsung, tetapi dapat mendorong munculnya jenis penyakit yang dapat mengakibatkan kematian. Berbagai jenis penyakit dapat dipicu karena merokok mulai dari penyakit di kepala sampai dengan penyakit di kaki. Penyakit yang bisa disebabkan oleh merokok adalah seperti sakit kardiovaskuler, penyakit jantung koroner dan kanker seperti kanker paru-paru, kanker mulut, kanker esophagus dan lain-lain lagi (Sitepoe, 2000). Faktor yang mempengaruhi tinggi risiko terkena kanker paru adalah usia perokok, usia perokok itu mulai merokok dan jumlah rokok yang diisap dalam satu hari. Risiko terkena kanker paru meningkat 3.62 kali lipat dengan

Universitas Sumatera Utara

peningkatan usia perokok sebanyak 10 tahun. Risiko terkena kanker paru meningkat 2.82 kali lipat dengan peningkatan jumlah rokok yang diisap dalam sehari. Risiko terkena kanker paru menurun 0.332 kali lipat dengan peningkatan usia sebanyak 10 tahun perokok mulai merokok (Situmeang, 2001). Sekitar 85% penderita penyakit paru-paru yang bersifat kronis dan obstruktif misalnya bronchitis dan emfisema ini adalah perokok. Gejala yang ditimbulkan pada penyakit paru dan obstruktif berupa batuk kronis, berdahak dan gangguan pernafasan. Apabila diadakan uji fungsi paru maka pada perokok, fungsi parunya jauh lebih jelek dibandingkan dengan bukan perokok (Sitepoe, 2000). Rokok merupakan faktor risiko penyakit paru obstruktif menahun yang utama. Asap rokok dapat menganggu aktifitas saluran pernapasan dan mengakibatkan hipertrofi kelenjar mukosa. Mekanisme kerusakan paru akibat merokok melalui dua tahap yaitu peradangan yang disertai kerusakan pada matriks ekstrasel dan menghambat proses perbaikan matriks ekstrasel. Mekanisme kerusakan paru akibat rokok adalah melalui radikal bebas yang dikeluarkan oleh asap rokok (Muhammad Amin, 1996). Pada wanita hamil yang perokok, akan terjadi efek pada janin dalam kandungannya. Merokok pada wanita hamil memberi risiko yang tinggi untuk terjadinya keguguran, kematian janin, kematian bayi sesudah lahir dan kematian mendadak pada bayi (Sitepoe, 2000). Chanoine J.P (dalam Sitepoe, 2000) mengatakan wanita hamil perokok juga akan mengganggu

perkembangan kesehatan fisik maupun intelektual anak-anak yang akan bertumbuh. Chainoine J.P (dalam Sitepoe, 2000) juga mengatakan merokok bisa mengurangi peluang seseorang untuk memiliki anak. Fertilitas pria ataupun wanita perokok akan mengalami penurunan dibandingkan dengan bukan

Universitas Sumatera Utara

perokok. Wanita perokok akan mengalami masa menopause lebih cepat dibandingkan wanita yang tidak merokok. Rokok bisa mengakibatkan kulit menjadi mengerut, kering, pucat dan mengeriput terutama di daerah wajah. Mekanisme ini terjadi akibat bahan kimia yang dijumpai didalam rokok yang mengakibatkan vasokontriksi pembuluh darah tepi dan di daerah terbuka misalnya pada wajah. Bagi mereka yang berkulit putih, kulit menjadi pucat, kecoklatan, mengeriput terutama di bagian pipi dengan adanya penebalan di antara bagian yang mengeriput (Sitepoe, 2000). Selain itu, rokok juga bisa menjadi penyebab polusi udara dalam ruangan. Asap rokok menjadi penyebab paling dominan dalam polusi ruangan tertutup. Rokok memberikan polutan berupa gas dan logam-logam berat. Gangguan akut dari polusi ruangan dengan rokok adalah bau yang kurang menyenangkan serta menyebabkan iritasi mata, hidung dan tenggorokan. Bau polusi rokok akan mempengaruhi rasa tidak enak badan. Bagi penderita asma, polusi ruangan akan memicu terjadinya asma (Sitepoe, 2000). Asap rokok juga bisa menyebabkan gangguan kesehatan terhadap perokok pasif yaitu orang yang berada berdekatan dengan perokok yang turut mengisap asap rokok (Sidestream smoke). Seorang perempuan yang mempunyai suami yang mengisap rokok mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk mengidap kanker paru berbanding dengan perempuan yang tidak mempunyai suami yang merokok (Taufik, 2000).

2.2.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok pada remaja Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi perilaku merokok pada remaja. Nawi et. al. (2006) mengatakan remaja di Indonesia berpendapat merokok telah menjadi kebiasaan budaya. Kebanyakan lelaki pada masa sekarang menghisap rokok. Di rumah terdapat paling kurang satu anggota

Universitas Sumatera Utara

keluarga yang mengisap rokok. Di kalangan teman-teman, akan ada seorang yang merokok. Begitu juga di sekolah. Remaja akan melihat guru-guru merokok di kawasan sekolah. Budaya merokok ini menyebabkan remaja merasakan mereka harus merokok, kalau tidak mereka akan rasa terpinggir. Merokok telah menjadi suatu kegiatan sosial. Lebih parah lagi, rokok mudah didapati pada masa kini. Hal ini disokong oleh Mariani, S.R., (2004) yang mengatakan salah satu faktor remaja merokok adalah karena rokok mudah didapati. Mariani, S.R., (2004) mengatakan salah satu faktor remaja merokok adalah karena terdapat anggota keluarga remaja yang merokok. Sebagai contoh, bapak atau abang remaja tersebut menghisap rokok. Oleh karena itu mereka berpendapat tidak salah bagi mereka untuk merokok. Remaja juga merokok karena banyak orang di dalam komunitas mereka merokok. Selain itu, pengaruh teman merupakan salah satu faktor kenapa remaja merokok. Smet (1999) mempunyai pendapat yang sama dalam hal ini; yaitu remaja selalu merokok ketika bersama teman-teman mereka. Menurut penelitian Jusuf (1994) di Jakarta Timur, perilaku merokok sering disebabkan oleh anggota keluarga seperti abang, teman dan kurangnya pengetahuan tentang bahaya merokok. Nawi et al. (2006) juga mengatakan di Indonesia, merokok merupakan aspek yang penting pada masyarakat. Apabila ditawarkan rokok pada seorang lelaki, ini adalah tanda bahwa remaja itu sudah bersedia untuk menjadi dewasa. Mariani, S.R., (2004) turut mengatakan remaja berpendapat bahwa merokok itu satu kebiasaan pada masyarakat. Awalnya dalam budaya Indonesia, merokok tidak sesuai untuk perempuan, hanya untuk lelaki. Pada masa kini, anggapan itu sudah tidak bisa dipakai lagi karena ternyata perempuan juga digalakkan untuk merokok oleh iklan rokok yang ada di

Universitas Sumatera Utara

mana-mana; sehingga sekarang ini perokok perempuan juga semakin bertambah (Nawi et al, 2006). Pendapat lain mengatakan bahwa, faktor-faktor utama remaja merokok adalah faktor psikologi. Menurut Mariani, S.R., (2004), remaja merokok karena ingin menghilangkan kebosanan dan mengurangi stress. Aktivitas harian remaja yang sibuk dengan urusan sekolah seperti harus terlibat dalam kegiatan sekolah, menyiapkan tugas-tugas sekolah dan lain-lain lagi bisa membuatkan remaja merasa bosan. Hal ini menggalakkan remaja untuk merokok. Tekanan atau stress yang dihadapi remaja seperti kurang mendapat perhatian daripada ibu bapa karena kesibukan mereka bekerja, masalah keluarga seperti penceraian dan ujian yang harus dihadapi menyebabkan remaja melibatkan diri dalam kegiatan tidak berfaedah seperti merokok. Terdapat salah anggapan mengenai efek merokok oleh remaja. Mereka menganggap merokok itu tidak berbahaya bagi lelaki karena lelaki mempunyai daya tahan tubuh yang lebih kuat dibandingkan perempuan. Remaja juga memandang rendah efek yang bisa disebabkan oleh rokok terhadap kesehatan tubuh. Mereka tidak tahu efek yang bisa disebabkan oleh merokok (Nawi et al, 2006). Hal ini juga diakui oleh Mariani, S.R., (2004) yang mengatakan remaja merokok karena tidak tahu tentang efek merokok. Menurut Mariani, S.R., (2004), terdapat beberapa faktor lain yang menjadi penyebab kenapa remaja ingin merokok. Pada mulanya mereka merokok karena untuk suka-suka dan rasa ingin tahu yang seterusnya berlanjutan kepada ketagihan merokok. Ada remaja yang berpendapat bahwa merokok dapat membuat mereka menjadi keren dan unik. Faktor-faktor lain adalah karena mereka ingin menjadi dewasa, merokok merupakan trend atau ikutan budaya pada masa kini, supaya remaja diterima teman-teman, ibu bapa tidak peduli jika remaja merokok, remaja berpendapat merokok sebagai suatu tanda kebebasan dan perilaku merokok tidak salah dari segi moral.

Universitas Sumatera Utara

Di negara berkembang seperti di Indonesia, peningkatan perilaku merokok adalah disebabkan kurangnya kesadaran mengenai bahaya merokok. Kurangnya tindakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk melaksanakan program berhenti merokok juga menyumbang kepada peningkatan perilaku merokok. Syarikat rokok di Indonesia bisa mempromosi jenama rokok mereka dengan hebat sekali (Hudoyo A. 2000).

2.3.

Perilaku merokok 2.3.1. Pengetahuan (Knowledge) Menurut Notoadmodjo ( 2007 ), perilaku dikembangkan menjadi tiga tingkat yaitu pengetahuan, sikap, dan tindakan. Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya. Secara garis besar pengetahuan dibagi menjadi enam tingkat, yaitu : 1) Tahu (Know) yang diartikan seseorang itu hanya menggunakan memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu. 2) Memahami (Comprehension) diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat mengintrepretasi materi tersebut yang benar. 3) Aplikasi (Application) yang bermaksud sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya. 4) Analisis (Analysis) adalah suatu kemampuan untuk mennjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

Universitas Sumatera Utara

5)

Sintesis (Synthesis) menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

6)

Evaluasi (Evaluation) berkaitan dengan kemapuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.

2.3.2. Sikap (Attitude) Sikap adalah merupakan reaksi atau respons sesorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Menurut Notoadmodjo (2007), sikap terdiri dari berbagai tingkatan yakni 1. Menerima (Receiving) diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). 2. Merespon (Responding) adalah memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. 3. Menghargai (Valuing), mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. 4. Bertanggung jawab (Responsible), bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resikop adalah merupakan sikap yang paling tinggi.

2.3.3. Tindakan (Practise) Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk terwujudnya sikap menajdi perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, anatara lain adalah fasilitas. Adapun tingkat tingkat praktek / tindakan yaitu :

Universitas Sumatera Utara

1) Persepsi (Perception) yaitu mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil. 2) Respon terpimpin (Guided Respons) yaitu dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh. 3) Mekanisme (Mechanism) menunjukkan apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara ototmatis ataupun sesuatu itu sudah menjadi kebiasaan. Adaptasi (Adaptation) yaitu merupakan suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya sendiri tanpa mengurangi tindkaan tersebut (Notoadmodjo, 2007).

Universitas Sumatera Utara