Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah WHO pada tahun 1999 memperkirakan, 340 juta kasus baru Infeksi Menular Seksual (PMS) dapat disembuhkan (sifilis, gonore, klamidia dan trikomoniasis) terjadi setiap tahun di seluruh dunia pada orang dewasa berusia 1549 tahun (Anonim, 2000). Awalnya PMS dikenal dengan nama Penyakit kelamin (veneral disease) yang telah lama dikenal di berbagai negara maju dan berkembang. Beberapa di antaranya sangat populer di Indonesia, yaitu sifilis, gonore, AIDS, dan herpes genitalis. Di negara-negara berkembang, kelompok penyakit ini menempati peringkat lima teratas kategori penyakit di mana pasien aktif mencari perawatan kesehatan. Seiring berkembangnya ilmu kedokteran dan berkembangnya peradaban masyarakat, istilah veneral disease tidak sesuai lagi dan diubah menjadi sexually transmitted diseases (STD) atau Penyakit Menular Seksual (PMS). Kemudian sejak tahun 1998, istilah STD pun kembali diubah dan disempurnakan menjadi Sexually Transmitted Infections (STI) atau Infeksi Menular Seksual (IMS). Tujuan dari pengubahan istilah ini agar dapat menjangkau penderita yang asimtomatik (Hakim, 2009). PMS secara khusus berkaitan erat dengan infeksi yang terjadi pada saluran genital. Terdapat lebih dari 25 organisme menular yang menyerang saluran genital dan sebagian besar kasus disebarkan melalui aktivitas seksual. Dengan demikian, PMS meliputi infeksi yang disebabkan oleh bakteri, seperti gonore, sifilis, vaginosis bakterial; infeksi yang disebabkan oleh virus, misalnya herpes genitalis, kondiloma akuminata, HIV/AIDS; infeksi yang disebabkan oleh jamur dan parasit lain, seperti kandidiasis genitalis dan trikomoniasis (Price dan Wilson, 2005). Peningkatan insidensi PMS dan penyebarannya di seluruh dunia tidak dapat diperkirakan secara tepat. Adapun penyebab utama meningkatnya insidensi PMS di negara-negara berkembang, antara lain: 1. kemiskinan dan kebodohan,

2. belum tumbuhnya kesadaran pentingnya kesehatan reproduksi di kalangan anak remaja, 3. masih dianggap tabunya pendidikan seksualitas sejak dini, 4. perubahan gaya hidup global dan desakan jumlah penduduk dan perubahan struktur penduduk (Tim Field Lab FK UNS, 2013). Di beberapa negara disebutkan bahwa pelaksanaan program penyuluhan yang intensif akan menurunkan insidensi PMS atau minimal insidensinya relatif tetap. Namun, di sebagian besar negara misalnya di kawasan Amerika, insidensi PMS relatif masih tinggi dan setiap tahun beberapa juta kasus baru terjadi beserta komplikasi medisnya seperti kemandulan, kecacatan, gangguan kehamilan, gangguan pertumbuhan, kanker, hingga kematian (CDC, 2000). Oleh karena itu, pengendalian PMS beserta akibat-akibatnya

membutuhkan program pengobatan yang menyeluruh, edukasi mengenai penularan dan pencegahannya, dan penyuluhan tentang perilaku seksual yang sehat dan bertanggung jawab. Pemberian dana dan dukungan bagi riset-riset kesehatan, terutama dari pemerintah atau pihak-pihak yang berwenang, dimungkinkan akan sangat membantu dalam mencari strategi pengobatan dan pencegahan yang lebih efektif, yang merupakan hal yang penting untuk mengendalikan epidemi PMS (Price dan Wilson, 2005).

B. Tujuan Pembelajaran Setelah melakukan kegiatan laboratorium lapangan, diharapkan mahasiswa mampu : 1. Melakukan penyuluhan kesehatan komunitas tentang PMS khususnya HIV/AIDS. 2. Memahami program pencegahan dan pengobatan PMS khususnya HIV/AIDS 3. Memahami tatalaksana HIV/AIDS 4. Memahami proses rujukan kasus PMS terutama yang berisiko tertular HIV/AIDS.

BAB II KEGIATAN YANG DILAKUKAN Kegiatan field lab kelompok 20 dengan tema Penyuluhan Kesehataan: Penyakit Menular Seksual dilakukan di areal kerja Puskesmas Karanganyar. Pertemuan dilakukan sebanyak tiga kali, pertemuan pertama adalah bimbingan dan persiapan penyuluhan sedangkan pertemuan kedua dan ketiga adalah kegiatan penyuluhan pada siswa sekolah di areal kerja Puskesmas Karanganyar . Pertemuan pertama Hari, Tanggal Jam Tempat Kegiatan : Rabu, 27 Maret 2013 : 17.00 - selesai : Rumah Kepala Puskesmas Karanganyar, dr. Ibnu Ridwan : a. bimbingan oleh kepala Puskesmas, dr.Ibnu Ridwan b. perencanaan penyuluhan c. simulasi penyuluhan Pertemuan kedua Hari, Tanggal Jam Tempat Kegiatan : Senin, 1 April 2013 : 08.00 10.00 : SMK Negeri 2 Karanganyar : a. penyuluhan penyakit menular seksual HIV/AIDS. b. diskusi dan tanya jawab dengan siswa mengenai penyakit menular seksual Pertemuan ketiga Hari, Tanggal Jam Tempat Kegiatan : Senin, 1 April 2013 : 19.00 22.00 : Pondok Pesantren Muhammadiyah, Karanganyar : a. penyuluhan penyakit menular seksual HIV/AIDS. b. diskusi dan tanya jawab dengan siswa mengenai penyakit menular seksual c. evaluasi kegiatan penyuluhan oleh kepala puskesmas

BAB III PEMBAHASAN

Pada pertemuan pertama kami melakukan simulasi penyuluhan dihadapan dr. Ibnu dan mendapat masukan mengenai hal-hal apa saja yang perlu ditambahkan dan dikurangai mengenai materi penyuluhan dan teknis

penyampainnya. Adapun materi yang kira-kira diberikan adalah sebagai berikut : Inti terpenting dari penyuluhan adalah prevention and promotion Penggunaan bahasa yang dapatdimengerti oleh penerima pesan Perbaikan materi penyuluhan untuk lebih ditekankan pada norma agama dan kesusuilaan Selanjutnya, pada pertemuan kedua kami melakukan penyuluhan di SMK Negeri 2 Karanganyar. Pada kegiatan ini, kelompok kami dibagi menjadi 2 tim yang akan memberi penyuluhan pada 2 kelompok siswa, yaitu putra dan putri. Masing-masing kelompok diikuti kira-kira 30 orang. Materi penyuluhan berkisar tentang peyakit menular seks seperti gonorrhoea, sifilis, dan HIV/AIDS. Penyampaian materi dilaksanakan selama kurang lebih 45 menit. Penyuluhan PMS yang dilakukan mendapat respon positif dari audience, yakni banyak siswi yang bertanya mengenai kesehatan reproduksi. Namun meskipun demikian, kami mengalami beberapa kendala saat pelaksanaan kegiatan penyuluhan, diantaranya adalah : 1. Mengalami penyuluhan. 2. Masih terbatasnya pengetahuan kami menegenai pertanyaan yang berkaitan dengan masalah kesehatan reproduksi. Pada pertemuan ketiga kami melakukan penyuluhan di Pondok Pesantren Muhammadiyah di Desa Sroyo, Karanganyar. Pada kegiatan ini, kelompok kami dibagi menjadi 2 tim yang akan memberi penyuluhan pada 2 kelompok santri, kesulitan teknis dalam instalasi peralatan penunjang

yaitu putra dan putri. Masing-masing kelompok diikuti kira-kira 50 orang. Materi penyuluhan yang diberikan pun sama, yakni berkisar tentang peyakit menular seks seperti gonorrhoea, sifilis, dan HIV/AIDS. Penyampaian materi dilaksanakan selama kurang lebih 2 jam. Seperti kegiatan sebelumnya, kami juga mengalami beberapa kendala saat pelaksanaan penyuluhan, diantaranya : 1. Beberapa santri mengantuk karena sudah memasuki jam istirahat. 2. Adanya kekhawatiran kalau materi yang disampaikan masih dianggap tabu oleh santriwan-santriwati.

BAB IV PENUTUP

A. Simpulan 1. Penyuluhan mengenai Infeksi Menular Seksual penting dilakukan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. 2. Penyuluhan dapat dilakukan di berbagai kalangan dan usia dengan menyesuaikan kondisi target sasaran penyuluhan. 3. Edukasi mengenai penyakit menular seksual dapat dilakukan dengan berbagai macam media.

B. Saran 1. Sebaiknya penyuluhan dilaksanakan secara rutin dan berkala sehingga masyarakat pada semua kalangan dapat mengetahui masalah PMS. 2. Penyuluhan mengenai penyakit baik PMS maupun yang lain sangat penting dalam rangka memberikan informasi yang memadai untuk masyarakat, sehingga diharapkan dapat dilakukan pencegahan lebih dini terhadap penyakit-penyakit tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Centers for Disease Control and Prevention. 2000. Tracking the hidden epidemics; trends in STDs in the United States 2000. Atlanta: National Prevention Information Network (NPIN). Hakim, Lukman. 2009. Epidemiologi Infeksi Menular Seksual. Dalam: Daili, Sjaiful Fahmi, et al (ed.): Infeksi Menular Seksual. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Price, Sylvia A. dan Wilson, Lorraine M. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Volume Kedua, Edisi Keenam. Jakarta: EGC. Tim Field Lab FK UNS. 2013. Penyuluhan Kesehatan: Penyakit Menular Seksual (PMS). Surakarta: Field Lab FK UNS. Anonim. 2000. Infeksi Menular Seksual (IMS) sebagai Masalah Kesehatan Masyarakat. URL: http://www.k4health.org/toolkits/indonesia/infeksi-

menular-seksual-PMS-sebagai-masalah-kesehatan-masyarakat. Diakses 27 April 2011.

Lampiran 1