Anda di halaman 1dari 12

Moch. Rum Alim.

ANALISIS KETERKAITAN DAN KESENJANGAN EKONOMI INTRA DAN


INTERREGIONAL JAWA-SUMTERA. Disertasi. IPB. 2006

I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Isu kesenjangan ekonomi interregional di Indonesia mulai mengemuka pada

dua dekade terakhir masa pemerintahan Orde Baru. Isu ini menjadi kajian menarik

karena menyangkut kepentingan negara dan bangsa, yakni: stabilitas politik,

ekonomi, dan sosial, utamanya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Saat ini isu tersebut masih relevan karena pemasalahan kesenjangan ekonomi

interregional belum terpecahkan secara memuaskan, di samping berkembangnya

dinamika spasial. Berbagai kajian terdahulu telah menawarkan beberapa alternatif

solusi dan kebijakan, serta langkah-langkah operasional telah pula ditempuh,

namun belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Studi ini bermaksud

untuk menemukan sumber utama terjadinya kesenjangan ekonomi interregional di

Indonesia yang difokuskan pada wilayah Jawa dan Sumatera, serta menemukan

alternatif kebijakan yang diharapkan lebih dapat menyelesaikan permasalahan

tersebut.

Kajian tentang kesenjangan ekonomi di Indonesia telah dilakukan oleh

berbagai pihak dengan berbagai model, yang diantaranya adalah model

Computable General Equilibrium (CGE) dan model Interregional Social

Accounting Matrix (IRSAM). Model CGE digunakan oleh Wuryanto (1996) dan

model IRSAM digunakan oleh Hadi (2001), Achjar et al. (2003), dan Rahman dan

Utama (2003). Dalam model tersebut, terdapat dua pola pembagian wilayah

Indonesia sebagai wilayah studi. Pertama, Indonesia dikelompokkan ke dalam

dua wilayah makro, yakni wilayah Jawa dan Luar Jawa, kemudian di dalam
2

wilayah makro tersebut dibagi lagi ke dalam wilayah mikro. Wilayah makro Jawa

terdiri atas tiga wilayah mikro, yakni : Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur.

Sedangkan wilayah makro Luar Jawa terdiri atas empat wilayah mikro, yakni :

Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Pulau-pulau lainnya. Kedua, Indonesia

dikelompokkan ke dalam dua wilayah, yaitu wilayah Kawasan Barat Indonesia

(meliputi Jawa dan Sumatera) dan wilayah Kawasan Timur Indonesia.

Pola pembagian yang pertama menempatkan pulau Sumatera sebagai

wilayah mikro dalam kelompok wilayah makro Luar Jawa. Ini berarti pulau

Sumatera disejajarkan dengan pulau Kalimantan, Sulawesi, serta pulau-pulau

lainnya. Dalam konteks disparitas pendapatan dan tingkat ketergantungan

ekonomi terhadap pulau Jawa, pola pembagian ini dapat diterima. Akan tetapi,

pola pembagian wilayah ini mengabaikan dua hal, yakni :

1. Peranan sektor industri dalam perekonomian pulau Sumatera relatif sudah

lebih maju dibandingkan dengan Kalimantan, Sulawesi, dan Pulau-pulau

lainnya di luar Jawa. Hal ini dapat dilihat dari sebaran industri dan struktur

kontribusi nilai tambah (added value). Antara 1985 dan 1997, lebih dari 80

persen industri manufaktur yang didirikan di Indonesia berlokasi di Jawa

dengan kontribusi nilai tambah yang kurang lebih sama, pulau Sumatera

sekitar 12 - 13 persen, sedangkan sisanya yang kurang dari 10 persen (antara

7–8 persen) dikontribusi oleh wilayah lainnya (Achjar et al., 2003).

2. Perekonomian Sumatera relatif lebih terintegrasi dengan perekonomian

Jawa dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya. Hal ini terjadi karena adanya

angkutan penyeberangan antara pulau Jawa dan Sumatera dengan frekuensi

pelayaran yang sangat tinggi, di samping arus barang, orang, dan kendaraan
3

roda empat yang juga tinggi. Perbedaan frekuensi dan muatan pelayaran Jawa-

Sumatera dan Jawa-Bali menunjukkan tingginya interaksi ekonomi Jawa-

Sumatera. Hal ini bisa dilihat dari sisi mobilitas barang, orang, dan kendaraan

darat (lihat Lampiran 5, 6, dan 7). Arus barang Jawa-Sumatera pada tahun

1999-2003 rata-rata berkisar 6.6 juta ton per tahun dan sedangkan Jawa-Bali

rata-rata 3.4 juta ton per tahun. Pada tahun yang sama mobilitas orang antara

Jawa-Sumatera dua kali lebih banyak daripada Jawa-Bali. Sedangkan

kendaraan darat yang menyeberang dari pulau Jawa ke pulau Sumatera

melalui pelabuhan penyeberangan Merak dan sebaliknya dari pulau Sumatera

ke pulau Jawa rata-rata lebih dari satu juta unit per tahun. Jumlah ini cukup

tinggi dibandingkan dengan Jawa-Bali, yang rata-rata berkisar 700 ribu unit

per tahun. Dilihat dari sisi pergerakan barang antarpulau seluruh Indonesia,

nampak bahwa arus barang dari pulau Sumatera ke pulau Jawa pada tahun

1988 sebesar 17.40 persen dari total perdagangan antarpulau dan pada

tahun1998 sebesar 22.06 persen. Arus sebaliknya dari Jawa ke Sumatera pada

tahun-tahun yang sama sebesar 13.30 persen dan 8.36 persen. Persentasi

bongkar/muat barang antara Jawa - Sumatera ini, jauh lebih tinggi dibanding

persentasi bongkar/muat barang antara pulau-pulau lainnya dengan pulau

Jawa, baik yang terjadi pada tahun 1988 maupun yang terjadi pada tahun 1998

(lihat Lampiran 8). Ini mengindikasikan bahwa perekonomian Sumatera dan

Jawa sudah sangat terintegrasi dibandingkan dengan integrasi ekonomi pulau-

pulau lainnya dengan Jawa.

Pola pembagian yang kedua, mengelompokkan pulau Sumatera dan Jawa ke

dalam satu wilayah, yakni Kawasan Barat Indonesia (KBI). Pengelompokan ini
4

benar bila dasar pertimbangannya adalah integrasi ekonomi antara Jawa dan

Sumatera. Namun, pengelompokan ini mengabaikan realitas lain, yaitu bahwa

antara pulau Sumatera dan pulau Jawa terdapat disparitas pendapatan yang juga

sangat eksterim. PDRB Atas Dasar Harga Konstan 1993 Menurut Penggunaan

(lihat Lampiran 2) untuk wilayah Sumatera pada tahun 2000 sebesar 56 745 766

juta rupiah dan dan untuk wilayah Jawa sebesar 234 980 667 juta rupiah. Bila

total PDRB Sumatera dan total PDRB Jawa tersebut dibagi dengan jumlah

penduduk hasil sensus tahun 2000 di masing-masing wilayah maka PDRB per

kapita pulau Sumatera sebesar Rp. 116 435 atau USD 13 per bulan, sedangkan

pulau Jawa sebesar Rp. 1 621 271 atau USD 180 per bulan (BPS, diolah). Ini

berarti bahwa antara Sumatera dan Jawa terdapat kesenjangan pendapatan yang

sangat lebar. Tahun 1999, 2000, dan 2001 total PDRB Sumatera yang terdiri atas

sembilan provinsi, masih lebih kecil dari total PDRB provinsi DKI Jakarta, dan

pada tahun 2002 total PDRB Sumatera baru setara dengan PDRB provinsi DKI

Jakarta (lihat Lampiran 1).

Segmentasi wilayah dapat juga dilakukan berdasarkan tingkat kemajuan

industri. Beberapa ahli ekonomi mengindentikkan negara maju dengan kemajuan

industrinya. Mengikuti aliran ini, segmentasi wilayah Indonesia dapat dilakukan

berdasarkan strata kemajuan industri pengolahan. Dalam hal ini wilayah ekonomi

di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga wilayah, yakni : (1) Jawa sebagai wilayah

dengan tingkat industri yang sudah sangat maju, (2) Sumatera sebagai wilayah

dengan tingkat industri yang sedang tumbuh, dan (3) pulau-pulau lainnya (rest of

Indonesia) sebagai wilayah dengan tingkat industrinya yang masih terkebelakang.


5

Studi ini mengikuti pengelompokan wilayah Indonesia yang ketiga, yakni:

(1) wilayah Jawa, (2) wilayah Sumatera, dan (3) wilayah pulau-pulau lainnya

(rest of Indonesia). Wilayah studi yang dipilih dalam studi ini adalah pulau Jawa

dan pulau Sumatera, sedangkan rest of the Indonesia (ROI) akan dimasukkan ke

dalam neraca eksogen. Dengan demikian, fokus kajian studi ini adalah pada

wilayah Jawa dan Sumatera.

Dalam perekonomian Jawa dan Sumatera terdapat dua fenomena menarik,

yakni: (1) adanya kesenjangan ekonomi antara kedua wilayah, dan (2)

perekonomian Jawa dan Sumatera sudah lebih terintegrasi.

Disparitas pendapatan regional antara Jawa dan Sumatera telah terjadi sejak

awal pembangunan ekonomi masa orde baru. Pada tahun 1970 total PDRB

Sumatera menurut harga yang berlaku sebesar 889 645.00 juta rupiah, sedangkan

Jawa sebesar 1 800 072.00 juta rupiah. Perbandingan total PDRB kedua wilayah

pada tahun tersebut kurang lebih satu banding dua. Pada tahun 1975 terjadi

penyempitan disparitas pendapatan regional Sumatera dan Jawa, yakni 1 : 1.56,

dan tahun 1985 disparitas pendapatan regional kedua wilayah tersebut kembali

lagi ke posisi tahun 1970. Antara tahun 1970 sampai dengan 1985 perekonomian

Jawa secara agregat tidak mengalami perubahan struktural ekonomi sektoral

yakni, jasa-pertanian-industri-pertambangan (JPIT). Sekalipun secara agregat

tidak mengalami perubahan stuktur ekonomi, namun secara parsial proses

transformasi pada setiap kelompok sektor berlangsung secara sistimatis.

Kontribusi sektor jasa terhadap PDRB Jawa pada tahun 1970 sebesar 46 persen

meningkat menjadi 49 persen pada tahun 1975 dan 56 persen pada tahun 1985.

Sektor industri pada tahun 1970 memberikan kontribusi terhadap PDRB Jawa
6

sebesar 11 persen, kemudian meningkat menjadi 13 persen pada tahun 1975 dan

18 persen pada tahun 1985. Sektor pertanian pada tahun 1970 memberikan

kontribusi terhadap PDRB Jawa sebesar 43 persen, kemudian menurun menjadi

34 persen pada tahun 1975 dan 21 persen pada tahun 1985. Pada tahun 1998

perekonomian Jawa telah mengalami perubahan struktural secara menyeluruh,

dimana kontribusi sektor jasa sudah mencapai 60 persen, sektor industri 25 peren,

dan sektor pertanian tinggal 13 persen (lihat Lampiran 2).

Sementara itu, dalam kurun waktu tersebut (1970-1998), perekonomian

Sumatera mengalami perubahan struktural ekonomi berkali-kali, namun

berlangsung secara acak. Pada tahun 1970 struktur ekonomi Sumatera adalah :

pertanian-jasa-pertambangan-industri (PJTI). Tahun 1975 menjadi pertambangan-

industri-jasa-pertanian (TIJP), kemudian pertambangan-jasa-pertanian-industri

(TJPI) pada tahun 1985, dan tahun 1998 menjadi jasa-pertambangan-pertanian-

industri (JTPI).

PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku (Lampiran 2)

menunjukkan bahwa perbandinga (nisbah) PDRB antara Sumatera dan Jawa

mengalami pelebaran dari satu banding dua pada tahun 1975 menjadi satu

banding tiga pada tahun 1998. Apabila migas dan hasil-hasilnya tidak dimasukkan

ke dalam perhitungan PDRB, maka perbandingan total PDRB antara Sumatera

dan Jawa adalah satu banding empat. Selain itu, PDRB Menurut Penggunaan

Atas Dasar Harga Konstan 1993 (Lampiran 1) menunjukkan bahwa total PDRB

Sumatera tahun 2000 sebesar 56 745 766 juta rupiah dan Jawa sebesar 234 980

667 juta rupiah. Perbandingan total PDRB pada tahun tersebut kurang lebih satu

banding empat.
7

Kondisi sebagaimana diungkapkan di atas mengundang pertanyaan:

sesungguhnya struktur ekonomi sektoral yang bagaimanakah yang dapat

menyeimbangkan pendapatan regional antara kedua wilayah. Sebab ketika terjadi

perubahan struktur ekonomi sektoral di Sumatera antara tahun 1970-1975, dimana

sektor pertambangan dan sektor industri lebih dominan dari sektor jasa dan sektor

pertanian (TIJP), disparitas pendapatan regional antara kedua wilayah menjadi

mengecil. Namun ketika sektor pertambangan dan sektor jasa lebih dominan

dalam perekonomian Sumatera pada tahun 1985, disparitas pendapatan regional

kembali membesar. Sementara itu, antara tahun tersebut (1970-1985) struktur

ekonomi sektoral Jawa tidak mengalami perubahan, dimana sektor jasa dan sektor

pertanian lebih dominan. Tahun 2000 sektor jasa masih dominan dalam

perekonomian Jawa. Dengan demikian, ketika sektor jasa sudah lebih dominan

dalam perekonomian Sumatera, seharusnya disparitas pendapatan regional antara

kedua wilayah menjadi mengecil. Namun hal tersebut tidak terjadi.

Integrasi ekonomi antara Jawa dan Sumatera sesungguhnya memberikan

peluang yang besar bagi Sumatera untuk meningkatkan pendapatan regionalnya,

yang kemudian meningkatkan pendapatan per kapita internal Sumatera. Integrasi

ekonomi sesungguhnya membuka peluang pasar bagi berbagai aktivitas produksi

di kedua wilayah. Dalam perspektif teori basis, ekspor merupakan faktor penting

dalam meningkatkan pendapatan regional di atas pertumbuhan alamiah region

tersebut. Ekspor meningkat akan berakibat terhadap permintaan input, baik input

primer maupun input antara (intermediate input). Meningkatnya permintaan input

antara akan mendorong aktivitas produksi berbagai sektor ke tingkat yang lebih

tinggi. Hal yang sama juga terjadi apabila permintaan input primer meningkat.
8

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi regional akan tumbuh pada tingkat yang

lebih tinggi daripada tanpa ekspor. Persoalannya, apakah ekspor Sumatera ke

Jawa cukup signifikan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya?

Integrasi ekonomi menimbulkan interaksi perdagangan antarawilayah.

Wilayah yang memperoleh manfaat dari interaksi perdagangan tersaebut adalah

wilayah yang nilai ekspornya lebih besar nilai impor. Besar kecilnya nilai ekspor

tergantung pada harga dari jenis barang yang diekspor dan volume ekspor.

Sementara itu, besarnya volume ekspor suatu wilayah tergantung pada tingkat

kebutuhan wilayah pengimpor, baik untuk keperluan konsumsi maupun untuk

keperluan produksi. Besarnya kebutuhan impor suatu wilayah untuk tujuan

produksi, tergantung pada seberapa besar keterkaitan (linkages) antara sektor-

sektor produksi di wilayah pengimpor terhadap sektor-sektor produksi di wilayah

pengekspor.

Interlinkages, keterkaitan antarsektor interregional, menentukan pola

ketergantungan ekonomi interregional. Ketergantungan ekonomi interregional

dapat dikelompokkan ke dalam tiga pola. Pertama, pola “dominan-tergantung”

(dependence). Pola ini mempunyai ciri interaksi antara wilayah dominan dan

wilayah yang tergantung, di mana wilayah dominan memperoleh keuntungan

yang lebih besar dalam interaksi ekonomi, bahkan cenderung mengeksploitasi

wilayah yang tergantung untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar lagi.

Dengan demikian, pola ini akan menimbulkan ketimpangan ekonomi interregional

yang semakin besar. Kedua, pola “centre-periphery” (konsep interdependence), di

mana sektor industri (moderen) umumnya berada di wilayah perkotaan sebagai

wilayah centre dan sektor primer (tradisional) yang umumnya berada di wilayah
9

pedesaan atau pinggiran kota sebagai wilayah periphery. Pola ini menunjukkan

bahwa wilayah periphery menghasilkan dan memasok bahan baku (input) ke

wilayah centre, sehingga kemajuan ekonomi wilayah centre akan menarik

kemajuan ekonomi wilayah periphery ke tingkat yang lebih maju. Hal yang

serupa juga terjadi apabila ekonomi wilayah periphery mengalami pertumbuhan

maka permintaan akan hasil produksi wilayah centre akan meningkatkan, yang

kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah centre. Pola interaksi

semacam ini pun tidak luput dari kemungkinan terjadinya kesenjangan ekonomi

interregional, manakala nilai tukar (term of trade) sektor primer semakin rendah.

Ketiga, pola yang serupa dengan pola interaksi ekonomi antara sesama negara

industri maju. Pola ini menunjukkan interaksi ekonomi interregional yang saling

menguntungkan secara berimbang.

Wilayah periphery sebagai wilayah pemasok bahan baku (input) bagi

wilayah centre. Dalam konteks ini, sesungguhnya Sumatera merupakan wilayah

periphery dan Jawa sebagai wilayah centre, karena industri di Indonesia lebih

banyak berlokasi di Jawa dan pusat pemerintahan pun berada di Jawa. Dalam

konteks Jawa sebagai wilayah centre, patut dipertanyakan: kemampuan

perekonomian Jawa menyebarkan pertumbuhan ekonominya ke wilayah

periphery, terutama ke Sumatera.

Studi ini akan menganalisis sumber terjadinya kesenjangan ekonomi antara

Jawa dan Sumatera serta menemukan alternatif kebijakan pemerataan

pembangunan ekonomi antara Jawa dan Sumatera. Untuk itu akan dikaji semua

aspek yang berkaitan dengan interaksi ekonomi antara Jawa dan Sumatera.

1.2. Hipotesis
10

Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan hipotesis penelitian

sebagai berikut :

1. Menurunnya peranan sektor pertambangan dan penggalian dalam

perekonomian Sumatera yang tidak ditopang oleh meningkatnya peranan

sektor industri, merupakan salah satu faktor yang menyebab kesenjangan

ekonomi antara Jawa dan Sumatera tidak menyempit.

2. Sektor-sektor produksi di Jawa tidak terkait secara memadai dengan sektor-

sektor produksi di Sumatera merupakan salah satu hambatan utama untuk

mengurangi kesenjangan ekonomi antara Jawa dan Sumatera.

2.1. Rumusan Masalah

Kesenjangan ekonomi interregional dalam jangka panjang akan

menimbulkan konflik vertikal dan horisontal yang dapat mengancam keutuhan

Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk menghindari hal tersebut diperlukan

suatu kebijakan pembangunan ekonomi nasional yang berorientasi pada

pemerataan ekonomi antarawilayah. Berkaitan dengan upaya mengatasi

kesenjangan ekonomi antara Jawa dan Sumatera, studi ini akan mengkaji

beberapa permasalahan sebagai berikut:

1. Mengapa kesenjangan ekonomi antara Jawa dan Sumatera menjadi semakin

melebar dibandingkan dengan kondisi pada awal pembangunan ekonomi

masa orde baru,

2. Sejauhmana keterkaitan antara sektor-sektor produksi di Jawa dengan sektor-

sektor produksi di Sumatera

3. Upaya apa yang seharusnya dilakukan untuk mengurangi tingkat

kesenjangan ekonomi antara Jawa dan Sumatera.


11

1.4. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk: menemukan sumber terjadinya

kesenjangan ekonomi antara Jawa dan Sumatera, dan menemukan alternatif

kebijakan pemerataan pembangunan ekonomi antara Jawa dan Sumatera.

Secara spesifik penelitian ini bertujuan untuk:

1. Memperoleh gambaran tentang struktur ekonomi, struktur neraca

perdagangan, dan struktur pengeluaran rumahtangga baik intra maupun

interregional Jawa dan Sumatera,

2. Menganalisis efek multiplier output, nilai tambah, dan pendapatan

rumahtangga baik intra maupun interregional Jawa dan Sumatera.

3. Menganalisis tingkat keterkaitan (ke depan dan ke belakang) sektor ekonomi

baik intra maupun interregional Jawa dan Sumatera,

4. Menganalisis dampak perubahan stimulus ekonomi terhadap output dan

pendapatan rumahtangga baik intra maupun interregional Jawa dan

Sumatera.

5. Menganalisis dampak kebijakan pemerataan pendapatan antargolongan

rumahtangga baik baik intra maupun interregional Jawa dan Sumatera.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada: (1)

pemerintah pusat dan daerah sebagai masukan dalam perencanaan pembangunan

ekonomi wilayah yang berorientasi pada pertumbuhan dan pemerataan, dan (2)

akademisi dan peneliti sebagai acuan untuk penelitian lebih lanjut, terutama untuk

memperluas wawasan dan memperkaya pengetahuan tentang ekonomi

interregional di Indonesia.

1.5. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian


12

Paling sedikit ada empat faktor yang menyebabkan terjadinya kesenjangan

ekonomi interregional, yakni: (1) sebaran sumberdaya alam yang tidak merata, (2)

sebaran penduduk yang tidak merata, baik kuantitas maupun kualitas, (3)

lingkungan usaha yang tidak sama, dan (4) perbedaan aktivitas ekonomi. Keempat

faktor tersebut sesungguhnya saling berkait, namun dalam studi ini yang menjadi

fokus telaahan adalah faktor keempat.

Aktivitas ekonomi dapat dikelompokkan menjadi aktivitas produksi dan

aktivitas konsumsi. Aktivitas produksi dapat diurai menurut lapangan usaha.

Dalam kaitan ini, yang akan ditelaah adalah struktur ekonomi, keterkaitan

antarsektor, dan dampak perubahan suatu sektor terhadap output dan pendapatan,

baik intra region maupun interregional. Aktivitas konsumsi menyangkut

pengeluaran dan pendapatan rumahtangga dan pemerintah. Yang akan dikaji

dalam aspek ini adalah struktur pengeluaran dan sumber pendapatan rumahtangga,

baik intra region maupun interregional. Selain itu, studi ini juga melakukan

evaluasi terhadap kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pemerataan

pendapatan antara golongan rumahtangga yang berpendapatan rendah dengan

golongan rumahtangga berpendapatan tinggi.

Studi ini menggunakan data pada satu titik waktu, sehingga hasil yang

diperoleh hanya bisa menggambarkan kesenjangan ekonomi dan distribusi

pandapatan interregional pada waktu tertentu dan tidak dapat menggambarkan

perubahan kesenjangan ekonomi dan distribusi pendapatan interregional.