Anda di halaman 1dari 20

Sebuah dongeng oleh IIn Yuliana

THE DUMB, THE OLD MAN, AND THE STAR

Pernahkah kau memohon pada bintang jatuh?

Mari menoleh, melewati masa ribuan tahun lalu, ke suatu tempat dimana
permohonan kepada sebuah bintang pertama kalinya dikabulkan…
Tempat itu hanya salah satu dari sekian banyak desa terpencil yang
tersembunyi di deretan pegunungan Jepang, sebuah desa yang sangat miskin
bernama Kira. Kemiskinan sudah menurun hingga berpuluh-puluh generasi akibat
perang yang berkepanjangan dan penduduk desa bahkan tidak mengenal kata
‘kenyang’ karena selalu kelaparan. Setiap kerat pangan yang ada dikumpulkan
dan dijaga, setiap orang makan sesuai jatah yang ditentukan bersama.
Mungkin berawal dari sanalah tradisi mengerikan itu muncul, tradisi yang
pada saat kisah ini dimulai sudah hampir setua riwayat desa itu sendiri hingga
generasi-generasi selanjutnya melaksanakannya begitu saja, seakan membuang
orang tua yang sudah tidak bisa bekerja di kedalaman hutan penuh binatang buas
adalah hal yang biasa dan bukan tindakan biadab dan tidak melanggar batas-
batas keperimanusiaan..

Di suatu malam berbadai, pondok sebuah keluarga tertimpa longsor.


Sepasang suami istri tewas tetapi anak lelaki mereka yang masih balita selamat
meski kecelakaan itu membuatnya bisu. Keluarga-keluarga dekat mereka
menolak memelihara anak laki-laki itu karena dia cacat. Di tengah keriuhan
perdebatan, seorang laki-laki tua beraut wajah ramah menyelesaikan
permasalahan dengan menggandeng tangan anak malang itu, berseru akan
merawatnya dan tanpa basa basi langsung membawanya pulang. Orang tua baik
hati itu bernama Yasashi. Istrinya yang sudah lama meninggal meninggalkannya
bersama dua orang anak, Taro dan Yuki. Yasashi kemudian memanggil anak
barunya dengan nama Tome, yang selain berarti hening, juga bisa berarti jernih
dan lurus.
Tahun-tahun berlalu dan si kecil Tome tumbuh menjadi remaja yang sehat,
sementara si tua Yasashi makin berkerut dan lemah. Rematiknya sudah begitu
parah hingga jangankan mengayunkan cangkul, berjalan pun dia sudah
kepayahan. Semua warga desa sudah lama memperhatikan keadaan ini dan pada
suatu sore di musim panas, setelah rapat singkat, kepala desa memerintahkan
membuang si tua Yasashi jauh ke dalam hutan.
Setiap anak berkewajiban memanggul usungan orangtuanya ke tempat
pembuangan. Tanpa banyak omong, Tora sebagai anak lelaki tertua langsung
menggendong ayah mereka ke atas usungan yang disiapkan Yuki, adiknya. Hanya
Tome yang bereaksi sebaliknya; dia begitu menyayangi ayah angkatnya hingga
tidak tega membuang orang tua itu, membiarkannya mati kelaparan atau
dimakan binatang buas. Si bisu Tome berusaha melawan; dia menjerit-jerit dan
berusaha menjauhkan siapapun yang berniat membawa ayahnya. Tapi
bagaimanapun kerasnya Tome berjuang, dia hanyalah seorang anak kecil.
Perlawanan kecilnya dipatahkan hanya dengan satu tamparan keras dari Tora.
Demi mencegah Tome dikeroyok, si tua Yasashi memberi isyarat agar dia cepat
dibawa pergi, tanpa sempat berpamitan dengan anak angkat kesayangannya itu.
Si bisu Tome menatap usungan ayahnya yang terlihat makin mengecil di
kejauhan dengan penuh tekad. Mengelap darah dari wajahnya, dia bergegas
menyelinap ke dalam rumahnya, mengambil tikar, selimut dan kantong air kulit
dan segera membuntuti iringan kecil yang mengantar ayahnya ke tempat
pembuangan. Ketika si tua Yasashi akhirnya digeletakkan begitu saja di bawah
sebatang pohon, kelompok kecil itu, termasuk Tora dan Yuki, langsung pergi
tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada orang tua yang malang itu. Tome
menunggu dengan geram hingga suara langkah mereka tak terdengar lagi baru
kemudian menghampiri ayahnya.
“Heghh,” panggil Tome sambil menepuk pelan bahu bungkuk ayahnya.
Si tua Yasashi menoleh, terkejut bukan main. “Anakku, apa yang kau
lakukan di sini?” seru si Tua, “Hutan ini sungguh berbahaya. Cepat, pulanglah.”
“Hagh, hagh,” Tome menggeleng dan memeluk ayahnya, merasakan tubuh
renta itu gemetaran dalam pelukannya. Tome melepaskan dekapannya dan
menggendong ayahnya di punggung. Hatinya sakit merasakan ringannya beban
di punggungnya; ayahnya praktis tinggal kulit—kering, tipis dan keriput—
membalut tulang yang keropos.
“Nak? Kau mau kemana?” tanya si tua, bingung dan cemas. “Kau tidak bisa
membawaku kembali ke desa. Mereka bisa membunuhmu.” Sekali lagi Tome
menggeleng. Tadi dia menemukan gua yang cukup lapang di sekitar situ dan
sudah memeriksanya. Kesanalah dia menuju.
“Hgh, hgh,” erang Tome, menunjuk ke arah gua.
“Apa? Ada apa di sana?” tanya si tua. Tetapi Tome tak bisa menjawab maka
si tua menemukan sendiri jawabannya ketika mereka tiba.
Gua itu cukup bersih dan sangat ideal sebagai tempat perlindungan; mulut
gua agak sempit namun bagian dalamnya cukup lebar dan tinggi untuk
menampung 7-8 orang sekaligus. Tome sudah mengalasi sebagian lantai gua
dengan dedaunan dan menggelar tikar di atasnya. Di salah satu sudut tikar
tergeletak selimut lama si tua dan kantong air.
Air mata haru meleleh di pipi keriput si tua Yasashi tatkala Tome
mendudukkannya dengan sangat hati-hati di atas tikar. Tome tersenyum dan
menyeka air mata dari pipi ayahnya. “Hugh,” Tome menepuk dadanya dan
membuat gerakan yang dipahami si tua sebagai, “Tenanglah, aku akan
menjagamu ayah.”
Si tua tersedu makin hebat. “Oh, an, anak, ku. E, entah ba, gai, mana a,
ayah haru, s be, berte, ri, ma ka, sih,” isaknya parau dan tergagap-gagap. “Se, se,
sesungguh, nya a, yah s, sanga, t ta, takut. T, tapi dulu se, kali a, yah,” dia terisak
hebat, wajahnya rentanya makin berkerut-kerut oleh tangis deritanya yang
memiriskan hati. Tome mengelus-ngelus pundak ayahnya dengan teramat
lembut, berusaha menenangkan. Setelah bisa mengendalikan diri, si tua
melanjutkan lagi. “a, ayah p, pernah melaku, kan hal yang sa, ma ter, ha, dap o,
o, orang t, tua ayah, jadi se, harus, snya kau b, biarkan saja si t, tua ini membayar
ka, karmanya.”
Tome meraih wajah ayahnya, sekali lagi menyeka air mata orang tua itu
dengan penuh sayang, dan menatap mata kelabu basah-nya dengan tatapan
lurus dan jernih. Perlahan-lahan si tua berhenti terisak. Tome tersenyum
menenangkan, menepuk pelan bahu ayahnya dan menyelimutinya. Tome
kemudian beranjak untuk mengumpulkan ranting patah di sekitar gua dan
menyalakan api unggun dengannya di mulut gua. Begitu api berkobar, Tome
meraih ke balik baju dekilnya dan mengeluarkan sekantong kecil bubuk dupa. Dia
mengambil sedikit bubuk itu dan menaburkannya di api. Udara seketika berbau
campuran bunga kering dan rempah-rempah—bau yang dibenci serigala. Tome
memberikan kantong bubuk itu kepada si tua Yasashi beserta setumpuk kecil
ranting.
“Hugh, hgh,” Tome menepuk bahu ayahnya dan membuat gerakan yang
berarti “Istirahatlah. Besok aku akan datang lagi.” Si tua Yasashi mengangguk
dengan penuh syukur.
“Terimakasih nak, dan berhati-hatilah dalam perjalanan pulang.”
Tome menepuk dadanya sekali lagi sebelum menghilang dalam kegelapan
malam yang keheningannya sesekali dipecahkan oleh lolongan pilu kawanan
serigala.
Sejak saat itu, setiap hari Tome diam-diam menyisihkan sebagian jatah
makannya. Dia hanya menengguk semangkuk kecil sup sayur encer sementara
makanan kering seperti anpan—sejenis bakpau tanpa isian—atau ubi bakar,
disembunyikan dan pada malam hari, Tome membawakan makanan itu pada si
tua Yasashi.
Mulanya semua tampak berjalan dengan lancar, sampai kemudian dampak
kurang makan, kelelahan dan kurang tidur mulai menggerogoti tubuh remaja
Tome. Hanya dalam kurun waktu 2 minggu dia terlihat jelas selalu kelelahan,
bertambah ceking, lemah dan mulai batuk-batuk. Sekali dalam perjalanan pulang
dari gua si tua yasashi, dia bahkan nyaris diterkam karena lengah menghindari
kawanan serigala dan terpaksa menghabiskan malam, tinggi di atas sebatang
pohon.
Si tua Yasashi sadar akan kondisi anak angkatnya. Jika keadaan seperti ini
terus berlanjut, si tua takkan heran kalau warga desa sampai memutuskan untuk
membuang Tome yang tidak akan berguna lagi kalau dia makin lemah dan sakit-
sakitan. Berkali-kali sudah si tua Yasashi membujuk, memarahi hingga
memerintahkan anaknya dengan geram agar jangan mengunjunginya lagi.
Namun berkali-kali pula dengan membandel Tome tetap muncul dengan
membawa sebagian jatah makannya. Sadar bahwa Tome tidak akan
menelantarkannya, si tua pun mengambil keputusan.
Pada subuh hari yang dingin, si tua Yasashi berjuang untuk berlutut di mulut
gua, berkali-kali hingga kaki tuanya yang selalu gemetaran terkilir hingga dia
tidak sanggup lagi mencoba. Akhirnya dia duduk bersandar di mulut gua dan
menengadah memandang langit kelabu yang belum terbangun. Menangkupkan
kedua tangannya, dengan khusyuk si tua menyanyikan syair lama pembukaan
pemujaan:

O Kamisama, O Kamisama, O Kamisama


Terpujilah Engkau dan kuasaMu nan mulia
O Kamisama, O Kamisama, O Kamisama
Dengarkanlah hamba memujaMu
O Kamisama, O Kamisama, O Kamisama
Perdengarkanlah suaraMu nan agung, jawablah ratapan hambaMu nan
hina

Tanpa lelah dan hanya berhenti untuk menarik nafas, si tua Yasashi terus
melagukan syairnya hingga suaranya serak, mulutnya kering kerontang, dan
lagunya tinggal rintihan pilu. Berjam-jam kemudian, tepatnya pada pukul 12
siang, akhirnya sesuatu terjadi. Awan-awan gelap tiba-tiba bergerak tak wajar,
berkumpul di arah pandang si tua dan menyisakan suatu celah yang kini bersinar
sangat terang. Dari sinar itu kemudian terdengarlah suara membahana.
“Apa gerangan yang kau inginkan, wahai pak tua?”
Si tua Yasashi terlonjak dan gemetaran hebat. Dia bisa merasakan aliran
listrik menjalar di sekujur tubuhnya rapuhnya; gairah, mengalir di nadinya yang
disangkanya sudah mengerut dan mongering untuk selamanya. Terharu dan
takjub, suara si tua menjadi lebih parau dan bergetar hebat. “Oh, oh, Kamisama
nan agung,” si tua berhenti untuk menelan ludah yang tak ada dan berusaha
melanjutkan dengan sejelas mungkin, “mohon ambillah nyawa si tua tak berharga
ini, agar anak hamba, Tome, tak perlu lagi menderita hanya untuk
mempertahankan tubuh renta tak berguna ini.”
“Jikalau memang ingin mati, mengapa tidak membunuh dirimu sendiri,
wahai pak tua?” tanya suara Dewa.
“Oh Yang Mulia Kamisama,” jawab si tua Yasashi, masih gemetar, “kalau
hamba mati karena bunuh diri, Tome anakku yang baik hati akan sangat kecewa
dan menyalahkan dirinya atas kematian hamba. Hamba tidak mau Tome
menanggung derita seperti itu, O Yang mulia Kamisama.”
“Baiklah, wahai pak tua. Permohonanmu akan terkabul karena langit
bersimpati pada ketulusanmu.”
Mendengar ini, si tua Yasashi tersenyum gembira. “Oh, oh,” gagapnya,
“terima kasih banyak, O Yang mulia Kamisama. Mohon jadikanlah hamba bintang
agar bisa selalu mengawasi Tome anak hamba.”
Sinar di langit bertambah panjang dan terang. “Ulurkanlah tanganmu pak
tua,” perintah suara Dewa.
Si tua Yasashi memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah ceria
tome dan berbisik, “selamat tinggal, anakku” sebelum mengangkat tangannya,
menunjuk ke arah langit utara. Dalam sekejap segalanya terasa membutakan
bagi si tua; sinar hangat mendekapnya erat, membuatnya merasa ringan dan
muda bagai terlahir kembali. Lalu saat membuka mata, si tua sudah berada di
langit, menjadi bintang yang sedang menanti matahari terbenam untuk
menyalakan lentera bintangnya.

Sementara itu, si bisu Tome, tanpa firasat apapun, tetap mengunjungi si tua
Yasashi seperti biasanya. Namun malam itu dia jauh lebih bersemangat
dibandingkan malam-malam sebelumnya; malam itu dia membawakan sekerat
daging kelinci asap kesukaan ayahnya! Kepingan—sepanjang dan selebar jempol
anak-anak dan setipis daun—berharga itu hanya dibagikan sekali dalam beberapa
bulan. Tadi tome hanya mengendus baunya yang harum untuk menemani makan
malamnya; semangkuk kecil sup kentang yang tak berasa.
Tome menemukan ayahnya duduk di mulut gua, keheranan melihatnya
menunjuk ke langit dengan mata terpejam. “Hugh? hgh?” Tome buru-buru
menjepit obornya di dinding gua kemudian segera berlutut di samping tubuh
ayahnya.
Mendadak tubuh Tome mengejang, nafasnya putus-putus seperti habis
dihantam palu godam. Tangannya gemetaran, tersentak oleh sensasi dingin dan
kaku dari wajah keriput ayahnya yang nampak damai. Dia menyambar kepingan
daging asap dari bungkusan kecilnya dan setengah paksa menyelipkannya ke
celah diantara bibir ayahnya yang kaku, kemudian mengguncang-guncang tubuh
renta itu, seakan berharap ayahnya bisa tiba-tiba terbangun setelah mencicipi
daging asap kesukaannya.
“Haughh, aughh, augh,” jerit Tome dalam kepanikan. Tapi bagaimana pun
dia memanggil, daging itu tetap tergantung bisu; si tua Yasashi takkan bisa
mencicipi rasanya lagi. Si tua takkan pernah bangun lagi. Tome menarik kembali
kepingan daging itu. Pandangannya kabur; dia memeluk ayahnya dan tersedu ke
udara malam yang membisu.
Lelah menangis, Tome akhirnya bisa menenangkan diri dan menyadari
sepenuhnya keanehan pada posisi tubuh ayahnya. Tome mengikuti arah yang
dituju ayahnya dan melihat bahwa di ujung sana, sebuah bintang bersinar terang,
nyalanya yang sesekali berpendar lembut seakan menyapanya. Dan tahulah
Tome bahwa ayahnya tidak meninggalkannya; beliau akan selalu ada di atas
sana, memperhatikan dirinya. Tome baru pulang ke desa saat fajar merekah,
setelah menguburkan ayahnya di mulut gua dan mempersembahkan sebongkah
anpan, sekeping kecil daging asap dan seikat akar wangi segar sebagai sesajen.

Musim gugur datang dan pergi. Pada musim dingin, 3 orang nenek dan
seorang kakek sangat renta dibuang di hutan yang membeku. Sekali itu Tome
tidak berhasil menyelamatkan mereka; hanya dalam satu malam para manula
malang itu sudah membeku dalam keganasan badai salju.
Kemudian perlahan es mencair dan angin hangat mulai menyapa; pertanda
datangnya musim semi. Minggu-minggu selanjutnya berlalu dalam kegembiraan,
bahkan bagi Tome, yang diam-diam menyimpan kemarahan terhadap desa dan
tradisinya yang kejam. Namun pada awal musim gugur, eksekusi terhadap
manula tampaknya akan terjadi lagi, kali ini menimpa sepasang kakek nenek
tetangga Tome. Keduanya sudah lama tinggal berdua; sang kakek mengidap
penyakit lambung parah dan hanya sang neneklah yang masih setia menjaganya.
Meski jarang keluar dari pemondokan, mereka masih membantu menganyam
keranjang bambu, memintal kain, atau mengasah batu api untuk dijadikan mata
panah.
Penduduk desa tidak tahu kalau sang nenek juga sudah lama berpenyakitan,
tidak tahu bahwa selama ini si bisu Tomelah yang diam-diam mengerjakan segala
pekerjaan itu untuk mereka. Tome jugalah yang membawakan jatah makanan
kakek nenek jika mereka tidak sanggup berjalan keluar. Namun persengkokolan
kecil ini tidak bisa berlangsung lama. Tora, kakak angkat Tome, menjadi curiga
setelah sering mendapati adik angkatnya berkeliaran di sekitar pondok kakek
nenek. Suatu malam, Tora membuntuti Tome ke pondok kakek nenek dan
menangkap basah dia sedang membantu mereka menganyam keranjang bambu.
Para pemuka desa segera dipanggil berkumpul di pondok.
“Jadi,” kata kepala desa, menatap marah dan jijik pada kakek nenek yang
gemetaran di atas dipan, “selama ini si bisu Tomelah yang diam-diam membantu
mereka?”
Taro yang sedang memelintir Tome, menjawab dengan pongah. “Ya. Dan
akulah menangkap basah si bisu lancang ini.”
Kerumunan orang kini mulai rusuh. Beberapa orang mulai memaki-maki
Tome, beberapa yang terdekat dengannya meludahinya, yang lain menimpuknya
dengan batu. (“Oi, hati-hati! Batumu kena kepalaku, sialan!” maki Taro yang
kepalanya baru saja benjol.)
“Tenang!!” bentak kepala desa, memberi isyarat agar mereka diam. “Saat
ini sudah terlalu larut, karena itu besok pagi baru kita akan membawa mereka ke
hutan. Dan dia,” kepala desa mengernyit jijik pada wajah Tome yang berlumur
ludah bercampur tanah, “ikat dia di lapangan desa. Jangan beri dia makan malam
ini.”

Tinggi di atas langit, si tua Yasashi mengawasi Tome dengan pilu. Sungguh
sedih menyaksikan anak kesayangannya diperlakukan dengan kejam oleh anak
kandungnya sendiri. “Tome, anakku…. Andai ada yang bisa ayah perbuat
untukmu…” kata si tua, menatap penuh pertimbangan pada lentera bintang yang
berpijar kuat dalam rumah bintangnya.
“Apa yang kau pikirkan?” tegur salah satu rekan se-rasi-nya yang sedang
berkunjung.
“Lentera bintang adalah jiwa kita. Dia bisa berpijar selama milyaran tahun
dan karena itu akan selama itu pulalah kita hidup,” kata bintang lain
mengingatkan.
“Aku tahu,” kata si tua Yasashi.
“Dan,” lanjut bintang pertama,”meski punya kekuatan besar, kau hanya
bisa melepas kekuatan lentera jika dan hanya jika ada permohonan yang bisa
menggetarkan jiwamu.”
“Aku tahu,” sahut si tua Yasashi.
“Hihi,” kikik bintang kedua, “jutaan manusia bodoh mengajukan permintaan
padaku setiap tahunnya. Tapi jangankan menggetarkan jiwa, mendengarkan
mereka saja, aku tak mau.”
“Aku selalu mendengarkan anakku,” gumam si tua, mengabaikan tawa
kedua bintang di dekatnya.

Tome menatap bintang ayahnya dengan pandangan nanar, seluruh


tubuhnya penuh memar dan tangannya yang terikat erat ke tiang kayu
membuatnya kesakitan. Mengapa, ayah? Pikirnya perih. Sungguhkah manusia
cuma bisa hidup hanya jika dia masih sanggup bekerja dan menjadi tidak layak
hidup, tidak pantas dihargai, dikasihi dan disokong jika dia sudah tua dan tidak
berdaya? Siapa yang menentukan hal itu?
Untuk bertahan hidup manusia butuh makan. Untuk mendapat makanan,
setiap orang harus bekerja. Untuk bisa bekerja setiap orang butuh makan. Jika
sudah tidak sanggup bekerja, orang diharuskan untuk mati, tidak perlu lagi diberi
makan. Alis Tome berkerut makin dalam. Apa artinya itu? Jadi apa makna hidup
ini kalau kehidupan hanya seputar makan untuk bekerja-bekerja untuk makan?
Dan bukankah, seharusnya, setelah bekerja nyaris seumur hidup, maka ketika
kita menjadi renta dan lemah, kita layak mendapat istirahat, hidup disokong
orang-orang muda yang selama ini sudah dipelihara oleh kita?
Tome menjerit kesal. Tangisan amarahnya menyayat udara malam, lebih
tajam dibandingkan dingin yang menusuk. Mengapa hal sederhana seperti itu
saja tidak bisa dipahami penduduk desa ini? Tidakkah mereka takut jika mereka
menjadi tua, maka pada gilirannya merekalah yang akan diangkat diatas
usungan, diantar pada kematian yang mengenaskan oleh anak cucu mereka
sendiri?
Seandainya aku dapat berbicara, ayah, maukah mereka mendengarkan
aku? Dan seandainya mereka mau mendengarkan aku, dapatkah kata-kataku
menggapai hati mereka, membuat mereka memahami perasaanku, memahami
kengerian para manula yang dibuang? Mampukah aku menyadarkan mereka
akan kekejaman dan ketidakadilan tradisi jahat ini?
Bantulah aku ayah, air mata frustasi bergulir di pipi Tome, kumohon,
bantulah aku…
“Kau sadar kau akan mati kalau melakukan itu?” tanya rekan bintang si tua.
“Kau baru saja hidup sebagai bintang,” kata yang lain mengingatkan.
Si tua hanya tersenyum. “Apa artinya hidup, jika aku membiarkan begitu
saja anakku Tome menderita? Dan apalah artinya kematian, jika aku bisa
membahagiakan anakku tersayang?”
“Tapi—“
“Langit takkan kehilangan aku; ada milyaran bintang yang berpijar,
menerangi langit malam. Namun bagi anakku Tome, hanya ada satu bintang yang
menjadi harapannya.”

Nyaris sesaat kemudian, Tome menyaksikan sebuah sinar jatuh, tampaknya


dari balik bintang ayahnya. Sinar ini sangat indah, membelah langit hitam dengan
anggun, meluncur ke arahnya.
Baru sekali ini aku menyaksikan bintang jatuh, pikir Toma tertegun, dan
detik selanjutnya medadak jatuh tertidur. Sementara itu, tinggi di atas langit,
sebuah bintang meledak, kehilangan cahayanya, untuk selamanya.

Tome dilepaskan pada dini hari dan diperintahkan untuk memperbaiki atap
sebuah lumbung. Mendekati siang hari, beberapa orang berkumpul di pondok
kakek nenek. Diam-diam Toma bergabung dalam keramaian. Anak kakek nenek,
seorang pria paro baya amat kurus namun berperut buncit, membawa sebuah
usungan besar ke hadapan orangtuanya. Dia kemudian dengan teganya
memerintahkan ibu dan ayahnya—yang sedang meringkuk kesakitan di atas
dipan—untuk naik ke atas usungan.
Nenek menangis mengiba. “Kumohon, nak,” pintanya, “Lambung ayahmu
sedang kumat. Biarkan aku merawatnya dulu. Setelah itu kau boleh membawa
kami.”
Sang anak tampak tak terpengaruh tangisan ibunya ataupun rintihan
kesakitan ayahnya. “Jangan bawel, wanita tua,” ujarnya dengan nada bosan.
Kerumunan orang tertawa sementara nenek terisak makin hebat.
Tome naik pitam. Bagaimana mungkin seorang anak tega memperlakukan
orangtuanya sendiri dengan sekeji itu? “Hentikan!!” raungnya murka.
Semua tawa langsung terhenti mendadak. Setiap kepala berputar ke arah
teriakan tadi dan menemukan Tome di titik asal suara. Mereka melongo sejenak,
dan sama mendadaknya, suara-suara percakapan kembali ramai. Semua
berpaling kembali dari Tome, tertawa kepada orang-orang di sebelahnya dan
saling menyakinkan kalau tadi mereka salah dengar.
Pemindahan kakek nenek selanjutnya berjalan lancar. Ketika pria-pria
dewasa terdekat bersiap untuk mengangkat usungan, Tora tiba-tiba berseru,
“Tunggu!” Setiap alis berkerut memandangnya. Tora menarik Tome dari
kerumunan orang. “Biarkan bisu ini membantu mengangkat usungan,” katanya
licik.
Terdengar gumaman setuju. Tora menyeringai senang; dia mengira Tome
akan menolak, mengamuk dan melawan sehingga dia akan punya alasan untuk
menyiksa anak bisu itu lagi. Tapi betawa kecewanya dia ketika Tome—meski
nampak sedikit linglung—dengan patuh mengambil tempat di salah satu sisi
pegangan usungan.
Tora tidak mengetahui Tome masih dikuasai keterkejutan. Tadi itu suaranya!
Yang teriak itu dia! Hatinya menjerit ‘hentikan!’ dan tak terduga mulutnya
mampu menyuarakannya. Bukan sekadar ‘Hagh, Hgh’ yang biasanya. Dan suara
itu, kata-kata yang menyembur dari mulutnya, dari tenggorokannya, bukan
sekadar khayalannya; semua orang bisa mendengarnya tadi! Ini keajaiban!
Tome masih sibuk dengan pikirannya sendiri hingga tak sadar iring-iringan
kecil itu sudah berhenti bergerak. Mereka menurunkan usungan tanpa peduli
bahwa sang kakek pingsan karena kesakitan, atau bahwa sang nenek begitu
takutnya hingga gemetar tak terkendali. Ketika para pria tak punya hati itu
beranjak pergi, Tome mencoba.
“Jangan tinggalkan usungan itu” katanya.
Anak, mantu dan cucu sang kakek nenek, kepala desa beserta 2 orang
walinya, termasuk Tora, semuanya terlonjak kaget
“Ap…” kata Tora tak jelas, menoleh dengan bingung.
“Jangan tinggalkan usungan itu,” ulang Tome, kali ini memastikan semua
orang menyaksikannya berbicara. Dan efeknya memuaskan. Semua langsung
mematung; menatap Tome seakan dia seekor kera yang baru saja berbicara pada
mereka.
Tora membuka dan menutup mulutnya dan membukanya lagi dan akhirnya
berhasil menyemburkan kata-kata, “Tapi kau bisu!” yang terdengar sangat
konyol.
“Si bisu Tome berbicara,” celetuk sang mantu, terpana.
“Tidak mungkin!” seru yang lain.
“Bagaimana mungkin?” geram Tora, akhirnya bisa menguasai diri.
Sementara itu, Tome dengan hati-hati memindahkan sang kakek dan nenek
ke atas rerumputan dan mengangkat usungannya. “Aku memohon,” katanya
akhirnya, menjawab wajah-wajah penuh tanya, gelisah dan geram, di
hadapannya, “kepada sebuah bintang. Dan tampaknya dikabulkan.”
“Kau apa…?”
“Memohon pada bintang, ya,” kata Tome menjawab tatapan tak percaya
mereka. “Tapi itu tidak penting saat ini. Yang tadi kukatakan adalah,” Tome
mengulurkan usungan ke hadapan anak sang kakek nenek, “bawalah pulang
usungan ini.”
Anak kakek menatapnya dengan bingung, masih gamang dengan
perkembangan tak terduga ini. “Apa, untuk apa itu? Untuk apa aku membawa
barang itu pulang?”
Tome menatapnya tak percaya. “Kita harus hidup sehemat mungkin bukan?
Usungan ini baru, masih bagus dan kuat. Masih bisa digunakan untuk membuang
anda atau istri anda kelak.”
Kata-kata sederhana Tome menyambar sang anak dan semua orang dewasa
itu sedasyat petir di malam berbadai.
Tome mendengus geli. “Ya ampun. Jangan katakan kalian belum pernah
memikirkan hal ini? Bukannya kita semua pasti akan menjadi tua, renta, keropos,
lemah dan tak berdaya sehingga akhirnya akan dibuang oleh anak cucu kita
sendiri, dipaksa untuk mati kelaparan atau dimangsa binatang buas, karena
bukankah kehadiran kita sebagai kakek-kakek hanya akan memboroskan bahan
makanan yang berharga bagi kaum muda? Ayo, ambillah ini,” Tome
menyandarkan usungan itu ke perut buncit sang anak, “sepertinya tidak lama lagi
anda akan membutuhkannya. Siapa tahu suatu hari anda mengalami kecelakaan,
tidak dapat berjalan lagi sehingga istri dan anak anda memutuskan anda tidak
berharga lagi untuk hidup, maka mereka dapat meggunakan usungan ini
membuang anda ke hutan.”
Sang anak memandang usungan dengan ketakutan dan tanpa sadar
menepis barang itu dengan kasar. Sang mantu, cucu dan para wali desa
menatapnya dengan aneh, meski masing-masing menyiratkan ketakutan juga.
“Tidak, aku tidak mau,” desisnya, mewakili suara hari semua orang disana.
Tome mengangguk bijak, “Ya, tentu saja tak seorang pun mau mati dengan
cara mengenaskan seperti ini.”
“Lalu…?” kata kepala desa, “ lantas kami harus bagaimana?”
“Bukankah sudah jelas?” kata Tome tajam, “Hentikan tradisi tak bermoral
ini! Hentikan bertindak hanya demi isi perut. Hentikan mencekik leher sendiri
dengan aturan kejam dan tak masuk akal! Hiduplah menggunakan perasaan,
cinta, hati nurani. Setelah sedari sangat muda kita bekerja untuk kepentingan
seluruh desa, maka ketika kita tua dan lemah, sudah sepantasnya kita menikmati
hari tua yang tenang, dijaga, dihormati dan disokong oleh orang-orang muda,
yang sewaktu mereka kecil dan tak berdaya, telah dilindungi dan dirawat oleh
kita. Inilah lingkaran yang seharusnya terjadi. Merawat dan dirawat. Melindungi
dan dilindungi. Bukannya merawat kemudian ditelantarkan. Melindungi kemudian
dibiarkan menjadi mangsa taring hewan buas. Atau bahkan ketika seseorang
tidak berbuat banyak untukmu, pun tidak sepantasnya kau membiarkan dia mati
dengan kejam; sebagai sesama manusia bukankah kita harus saling tolong
menolong?”
Ajaib. Kata-kata dari seorang remaja yang sampai beberapa menit
sebelumnya masih bisu, sekarang bisa menyentuh hati orang-orang dewasa yang
sebelumnya membencinya. Dengan mudah Tome membangunkan mereka dari
kebutaan; menyadarkan betapa kejam dan mengerikannya tradisi yang menjerat
mereka selama ini.
“Ya, tentu saja, Tome, nak,” sahut kepala desa dengan suara sarat emosi.
“Rasanya tak percaya selama ini kami bisa melakukan hal sekejam itu tanpa
pernah memikirkan perasaan orang tua yang kami buang, atau bahwa suatu saat
kengerian itu akan berbalik pada kami sendiri. Terimakasih sudah menyadarkan
kami.” Dia menepuk bahu Tome yang dikuti oleh Tora, yang mendadak nampak
sangat sayang pada adik angkatnya itu.
Tome berseri-seri. Keluarga kekek nenek berjanji akan merawat para
manula itu dengan baik dan bersama-sama mereka membawanya pulang.
Kehebohan terjadi setibanya mereka di desa dan butuh waktu beberapa saat
untuk membuat semuanya mengerti. Mereka kemudian bahkan merencanakan
upacara sembahyang arwah untuk meminta maaf dan menenangkan roh-roh
orang tua yang selama berpuluh-puluh generasi mati mengenaskan di hutan.
Malam harinya, seisi desa Kira mendengar seruan penuh kerinduan
memecah keheningan malam. Seruan indah sarat kesedihan itu berasal dari
puncak pohon tertinggi di desa, mengirimkan kalimat “Terima kasih, Ayah” ke
titik hitam di langit, tempat sebelumnya sebuah bintang pernah bersinar penuh
cinta kebapakan.

Sejak itu kisah Tome dan permohonannya pada bintang diceritakan turun
temurun, dan seperti banyak yang lazim terjadi pada kisah-kisah yang diceritakan
lintas generasi, mengalami sedikit perubahan namun (mungkin) sangat fatal, bagi
yang percaya.

***

Jadi, pernahkah kau memohon pada sebuah bintang dan tepat setelahnya
menyaksikan sebuah bintang jatuh? Jika iya, maka selamat untukmu. Karena itu
berarti permohonanmu terkabul.
Sebuah kisah oleh Theresia M. R.

DUNIA HITAM PUTIH

Kata mereka, Indonesia negeri yang elok nan subur. Kata mereka, Indonesia kaya
akan keanekaragaman suku dan bangga akan hal itu karena memberikan ciri budaya
yang unik dan memesona di mata dunia. Dengan menggembor-gemborkan ‘Bhinneka
Tunggal Ika’, Indonesia mengaku sebagai bangsa yang menghargai perbedaan suku,
agama, ras dan budaya. Indonesia sebagai negeri yang berKetuhanan Yang Maha Esa
menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Singkatnya, hak asasi manusia.
Katanya.

Kataku, Indonesia tak ubahnya seorang munafik yang dengan santai menutupi
setiap inchi karat dan keropos pada batang tubuhnya dengan cat yang keruh oleh
lumpur aib. Indonesia mengingatkanku pada patung konyol yang digambarkan dalam
sebuah komik; patung lelaki setengah telanjang yang pada puncak kepalanya tertulis
peringatan besar-besar ‘Dilarang Membunuh’ namun lelaki dalam patung sendiri sedang
memeragakan cara menggorok leher seekor kambing. Itukan membunuh juga, biarpun
korbannya hanya seekor kambing.

Bukannya aku ingin menjelek-jelekkan Indonesia; aku ini berkebangsaan


Indonesia. Tetapi aku hanya sekadar mengekspresikan kenyataan yang kuserap dari
sekelilingku. Kata-kata tajamku hanya reaksi atas kekejaman, kebiadaban dan
ketakmanusiawian yang kudengar pernah terjadi. Ada konflik agama di Ambon dan Poso
yang mengakibatkan ratusan (bahkan mungkin ribuan?) nyawa melayang. Kudengar
kisruh di Aceh dan di Irian. Namun konflik-konflik itu dan konflik-konflik lainnya yang
mungkin pernah terjadi tetapi tidak kuiikuti beritanya, hanya kuketahui dari balik layar
kaca; terasa jauh dan tidak nyata karena bagaimanapun aku masih kecil dan anak kecil
pada umumnya tidak tertarik pada hal rumit dan gelap semacam itu.

Namun ada satu ‘ketimpangan moral’ yang kurasakan sendiri karena aku dan
keluargaku termasuk apa yang mereka sebut sebagai ‘warga keturunan’. Entah sejak
kapan sebuah kata yang menunjukkan nama sebuah negara, berhasil mereka lontarkan
sebagai sebuah hinaan. Nada meremehkan, merendahkan, penuh ancaman dan hinaan
yang mengiringi pengucapan kata itu membuatku merasa tertohok setiap kali
mendengarnya. Kurasakan sendiri kerusuhan yang pernah terjadi akibat kentalnya
diskriminasi terhadap nama itu. Kusaksikan sendiri lewat layar kaca sebagian kecil dari
kerusuhan maha dasyat dan terbiadab yang pernah terjadi akibat diskriminasi yang
sama. Lebih memiriskan lagi, katanya kerusuhan itu diatur oleh orang-orang yang
berkuasa. Sungguh contoh hebat dari sikap bangsa yang menjunjung tinggi harkat dan
martabat manusia. Atau mungkinkah kebencian tanpa dasar telah sedemikian
membutakan hingga mereka tak sanggup melihat para ‘penyandang nama’ sebagai
sesamanya manusia?

Sudah kukatakan, aku hanya seorang anak kecil. Di satu sisi, anak kecil dianggap
bisa melihat suatu masalah dengan objektif karena kepolosannya. Namun di sisi lain,
akibat kepolosan jugalah terkadang anak kecil hanya bisa melihat secara lurus, menilai
suatu keadaan dari sisi yang paling mengusik perasaan dan tidak berhasil melihat sisi
lainnya karena kesederhanaan pikiran mereka. Mungkin seperti itu. Hingga sesaat aku
melupakan bahwa diluar diskriminasi dan kerusuhan-kerusuhan, sejauh ini aku dan
seluruh keluargaku hidup cukup nyaman dan bahagia.

Kakek-nenek buyutku datang merantau ke Indonesia, meninggalkan kemelaratan


di tempat asal mereka dan berjuang memperbaiki kehidupan di tempat rantauan.
Indonesia memberi mereka kesempatan dan berhasil mereka raih. Meski tidak
berkemewahan, hidup anak cucu cicitnya sekarang nyaman dan berkecukupan. Aku
gagal menyadari kebaikan lembut dari lingkunganku, tempat beragam suku hidup
bersama dalam damai. Aku lupa bahwa daeng becak langgananku dan tukang parkir
dengan setia melindungi rumahku dari pemabuk-pemabuk yang setiap malam
bermunculan dari pub di depan rumah. Aku lupa bahwa seorang pejalan kaki yang
kulitnya lebih gelap dari diriku pernah menyelamatkan rumahku dari kebakaran yang
mungkin akan terjadi jika dia tidak melaporkan api yang membakar tanamanku di
pekarangan. Aku lupa bahwa pencapaian akademikku hingga detik ini adalah berkat jasa
guru-guruku yang bukan ‘penyandang nama’, yang telah mengajar dan mendidik aku
dengan penuh keikhlasan dan kegigihan yang sama dengan semua murid lainnya, tanpa
membeda-bedakan.

Aku hampir saja menilai hanya dari sisi gelap, melupakan sisi sebaliknya, atau
melupakan bahwa dunia ini merupakan perpaduan dari kedua sisi tersebut. Untunglah
aku disadarkan oleh kebaikan hati dan keberanian pegawai satu-satunya pamanku.
Pamanku seorang pedagang kecil yang menjual barang-barang dagangannya ke daerah-
daerah kecil di luar kota. Berdua dengan supirnya, setiap hari mereka menempuh jarak
berkilo-kilo, dibawah terik matahari atau terpaan hujan, demi menghidupi keluarga
masing-masing. Suatu ketika mereka mengalami kecelakaan. Mobil mereka terbalik
dengan posisi nyaris menggantung di bibir jurang. Sang supir berhasil keluar pada detik-
detik terakhir, tetapi pamanku terjepit di dalam mobil. Meski posisi mobil sangat
berbahaya, supir pamanku itu nekat mempertaruhkan nyawa menolong paman,
mengabaikan rasa sakit pada luka parah di kaki dan perutnya sendiri. Meski keadaan
tidak menguntungkan, ajaib supir itu berhasil mengeluarkan paman dan hidup mereka
berdua selamat. Kini hubungan mereka bukan lagi majikan dan supir, melainkan mitra
bisnis.
Ketika mendengar kisah ini, rasa terharu entah mengapa tiba-tiba membuncah
dalam dadaku. Mendadak aku tersadarkan bahwa pandanganku yang tajam telah keliru
sepenuhnya. Aku seperti diingatkan bahwa ketika ada yang menorehkan luka, pasti akan
ada yang mengobati luka tersebut. Sama halnya tiap manusia ada yang baik dan jahat;
begitu pula bangsa Indonesia. Diskriminasi hanya dilakukan orang-orang tertentu yang
berpikiran dangkal, sempit, bodoh. Lebih banyak orang yang menentang diskriminasi
dan menginginkan kehidupan bersama yang aman dan damai. Dan aku sadar, untuk
mengubah lingkungan dan perlakuan terhadap diriku, harus aku sendiri yang memulai.
Kurasa menebar senyum dan bersikap tulus dan sopan terhadap semua orang bisa
menjadi langkah awal yang baik.

Aku belajar mencintai dan menerima; maka kini aku bisa dengan bangga mengaku
sebagai warga negara Indonesia. Terlepas dari asal usul nenek moyangku; di sinilah
rumahku saat ini. Di sinilah aku dilahirkan, maka di sini pula aku akan membaktikan
hidupku. Aku akan belajar dengan giat agar bisa mempersembahkan prestasi yang
membanggakan, bukan hanya untuk orangtuaku, tetapi juga untuk bangsa dan
negaraku. Mungkin kelak aku ingin menjadi guru. Aku ingin membimbing bibit-bibit
muda, menyingkirkan kabut kebodohan yang selama ini membelenggu banyak
masyarakat kelas bawah sehingga diskriminsi dan tindakan tak bermoral yang
menyertainya bisa perlahan menghilang dari bumi Indonesia. Aku ingin setiap anak tahu
bahwa keanekaragaman akan melebur menjadi satu hanya jika kita belajar menerima
dan menghargai setiap perbedaan itu. Mungkin mengucapkan sumpah pemuda bisa
penjadi pengukuh awal yang bagus.

***
PANTUN NASIHAT
Wahai ananda bunda beramanat
Bertanggung jawab memanglah berat
Tetapi sudah menjadi adat
Berani berbuat berani dikerat

Supaya tangan tidak terluka


Jangan dikepit hulunya kapak
Supaya Tuhan tiada murka
Jangan sakiti ibu dan bapak

Yang merah hanya saga


Yang kurik hanya kundi
Yang indah hanya bahasa
Yang baik hanya budi

Jangan memalu-malu arang


Arang dipalu pecah berbelah
Jangan memalu-malukan orang
Orang malu kita pun susah

Sebelum menggali buah bengkuang


Galilah dahulu buah ketari
Sebelum mencari kesalahan orang
Carilah dahulu kesalahan sendiri

Kalau berkitab membaca syair


Banyaklah orang datang mendengar
Kalau cakap tiada berpikir
Banyaklah orang yang bertengkar

Berkait-kait akan beluru


Berkelok-kelok lilit rotan
Berpahit-pahit kita dahulu
Barulah elok di hari kemudian

Ingat-ingat merendam kain


Kain itu ada kapasnya
Ingat-ingat dalam bermain
Bermain itu ada batasnya

Kalau bergalah jangan mengayuh


Kalau berkayuh bertambah basah
Kalau bersusah jangan mengeluh
Kalau mengeluh bertambah susah

Anak ular mati terpukul


Anak tapah selam menyelam
Yang benar pastilah timbul
Yang salah pastilah tenggelam
PANTUN NASIHAT
Wahai ananda bunda beramanat
Bertanggung jawab memanglah berat
Tetapi sudah menjadi adat
Berani berbuat berani dikerat

Supaya tangan tidak terluka


Jangan dikepit hulunya kapak
Supaya Tuhan tiada murka
Jangan sakiti ibu dan bapak

Jangan memalu-malu arang


Arang dipalu pecah berbelah
Jangan memalu-malukan orang
Orang malu kita pun susah

Sebelum menggali buah bengkuang


Galilah dahulu buah ketari
Sebelum mencari kesalahan orang
Carilah dahulu kesalahan sendiri
Gaulali

Kisah ini berawal dari sebuah sekolah dasar bernama SD Gardu Rasul—disingkat SD GaUl—yang
konon kabarnya hanya menerima murid-murid yang gagah, andal, ulet dan lincah. Singkatnya, GAUL.

Suatu pagi di ruang kelas 1 masuklah seorang guru bahasa Indonesia yang bernama Bu Ika Tatik alias
Ingat Pakai Tanda Titik (oleh murid-murid kelas 5).
“Baik anak-anak, mari mulai dengan menghapal abjad,” kata Bu Guru.
“Huuhhhhhh,” seru anak-anak rame-rame.
Ibu guru mencoba lagi dengan sabar. “Ayo anak-anak. Kalian kan anak pandai, ayo hapalkan abjad
mulai dari A.” Kali ini anak-anak nurut, kelas mulai riuh dengan teriakan tak kompak ABCDEFG…
“Loh, mengapa tidak dilanjut? Kalian lupa ya?” tanya Bu Guru ketika anak-anak agak lama terhenti di
G.
“Aduh Bo Cape Deh Eike Fusing Gila….” Keluh anak-anak, kali ini dengan sangat kompak. Bu Guru
Ika Tatik hanya bisa geleng-geleng kepala.

Apakah aku sudah gagal jadi guru? Batin Bu Guru Ika Tatik ketika berjalan sendiri di lorong sekolah.
Ujian semester satu sudah di ambang pintu dan anak-anak kelas satu baru bisa menghapal abjad sampai G.
Tidak, tidak, Bu Guru menggeleng keras untuk mengenyahkan pikiran negatifnya. Dia tiba di depan sepetak
Mading Kami alias Maaf-Dindingnya-Kami-Kotori. Sepetak dinding yang penuh coretan tak jelas dan
tempelan-tempelan poster ini adalah majalah dinding versi anak-anak GAUL dari SD GaUl.
Diantara coretan carut marut dan tempelan keras yang saling tumpah tindih, ada selembar kertas
bertuliskan puisi karangan murid kelas enam-nya yang berhasil memenangkan penghargaan tulis menulis
tingkat nasional dalam kategori puisi persahabatan. Betapa indah puisi yang ditulis AkanG, alias Aku Tukang
Gombal :

Setia Setiap Saat


Oleh AkanG

Pertemanan kita nggak seperti Esia yang setia 1 jam


Juga
Nggak seperti Baygon yang setia 8 jam
Dan
Nggak seperti Pepsodent yang setia 12 jam
Pertemanan kita harus seperti…?
Rexona…
Yang setia setiap saat…..

Betapa Bu Guru selalu terharu membaca puisi dari AkanG anak didiknya ini. Baiklah, aku tidak akan
putus asa, putus Bu Guru. Aku juga akan seperti Rexona. Aku akan selalu setia mengajar anak-anak sampai
mereka bisa mencapai Z.

Tiba di ruang guru, Bu Guru Ika Tatik melihat beberapa guru sudah berkerumun dan bergosip. Menjadi
pusat kerumunan adalah seorang guru setengah baya yang sedang duduk murung di depan meja tulisnya.
Banyak kertas berhamburan di atas meja itu.
“Ada apa?” tanya Bu Guru Ika Tatik.
“Begini. Pak Jusuf K. (alias Just Kidding-oleh anak-anak kelas 6) agak frustasi setelah mendapati
berlembar-lembar kertas jawaban seperti ini,” jawab seseorang sambil menyodorkan selembar kertas ke bawah
hidung Bu Guru Ika Tatik, yang segera meraih dan membacanya.

Nama : Emerin alias Emang Gue Pikirin………..


Kelas : 6

Soal : terjemahkanlah kata-kata berikut ke dalam bahasa Indonesia

1. Selfish = jual ikan


2. Alright = semua ke kanan
3. Misunderstanding = nona pengertian
4. Long time no see = sudah lama buta
5. Miscall = cewek bokek pengen ngobrol di hp

soal bonus : bahasa Inggris dari kata ‘bentuk’ adalah?


Jawab : Shape, dieja Sha Pe De………………………
“Yah,” kata Bu Guru Ika Tatik dengan prihatin, “Aku juga punya masalah dengan anak-anak kelas
satu.”
“Ya, aku juga,” timpal Guru Matematika, Pak Aber, alias Ayo Berhitung (oleh murid-murid kelas 3).
“Misalnya saja, aku harus berhati-hati agar jangan sampai soal 50+50 kuberikan pada anak-anak.”
“Karena terlalu mudah ya?” tebak seseorang.
Pak Aber menggeleng. “Bukan, karena jawaban anak-anak pasti Ce Pe De…….”
Semua mengeluarkan seruan Oooooo…..
“Ah, aku juga punya pengalaman yang mirip,” celetuk Guru IPA, Bu Sadako alias Suka Bedah Kodok
(oleh murid-murid kelas 3 sampai 6). “Kemarin,” ceritanya, “saat mengajar di kelas 4, aku bertanya singkong
difermentasi jadi apa, eh mereka teriak rame-rame, Tape de……”
Semua guru menggeleng rame-rame. “Anak-anak GAUL ini memang menyusahkan ya…” kata Pak
Aber. Tepat pada saat itu, masuklah Kepala Sekolah SD GaUl, Bapak Gimali alias Gila Hormat Sekali (oleh
para guru). Bapak Gimali yang buncit perutnya menyaingi perut hamil 7 bulan Bu Sadako berdeham sebelum
berkata, “Guru-guruku, setelah jam pulang sekolah kita adakan rapat di McD ya….”
Setelah Bapak Gimali keluar ruangan, para guru saling berpandangan dan mengeluh rame-rame, “Makin
Cape De………………………..”

#@$%^&*