Anda di halaman 1dari 29

Selasa, 06 Maret 2012

Proposal Penelitian S1-Keperawatan STIKes Sumut Medean

PROPOSAL PENELITIAN
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG KEBERSIHAN LINGKUNGAN DENGAN UPAYA PENCEGAHAN DBD DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SIMALINGKAR KEC. MEDAN TUNTUNGAN MEDAN TAHUN 2012

OLEH : SOPIRMAN JUNIAMAN GULO NIM : 0801061

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWA SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SUMATERA UTARA MEDAN 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Data statistik dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa dari 2,5 milyar manusia di dunia, dua dari lima orang diantaranya beresiko terjangkit demam berdarah. Dimana setiap tahunnya terdapat 50 juta manusia terinfeksi demam berdarah dan lebih dari 500 ribu manusia terjangkit demam berdarah serius serta diperkirakan 21 ribu manusia meninggal dunia. Seriusnya ancaman penyakit ini ditunjukkan dengan semakin meluasnya wilayah-wilayah di dunia yang terjangkit penyakit demam berdarah yang sebelumnya terbebas dari penyakit ini, termasuk di wilayah yang beriklim sub tropik. Menghadapi situasi tersebut, WHO melakukan penelitian demam berdarah di lima negara di Asia yaitu India , Indonesia, Myanmar, Philipina, Sri Lanka dan Thailand. Dan Pusat Studi Kebijakan Kesehatan dan sosial menjadi lembaga penelitian dari Indonesia yang terlibat dalam penelitian tersebut. (WHO, 2007) Penyakit DBD di Indonesia sampai saat ini masih merupakan salah satu penyakit endemik dan masih sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) di musim-musim tertentu yaitu dimusim penghujan, semenjak Januari sampai dengan 5 Maret tahun 2004 total kasus DBD diseluruh Propinsi Indonesia sudah mencapai 26.015, dengan jumlah kematian sebanyak 389 orang (CFR: 1,53%). Kasus tertinggi terdapat di Propinsi Jawa Timur (11.534 orang) sedangkan CFR (Case Fatality Rate) tertinggi terdapat di Propinsi Nusa Tenggara Timur (3,96%), (Depkes RI, 2004). Mantan Kepala Subdirektorat Arborvirus Departemen Kesehatan, Rita Kusriastuti (2007) memperkirakan jumlah penderita DBD akan mencapai 125 ribu orang, sejak Juni 2007 hingga maret 2008, trend penderita diperkirakan akan meningkat. Khusus di Propinsi

Sumatera Utara berdasarkan data yang diperoleh dari salah satu surat kabar bahwa jumlah penderita DBD mulai dari Januari lalu mencapai 1.400 orang, dan 10 orang diantaranya meninggal (Tempointeraktif, 2007). Sedangkan di kota Medan sendiri mulai bulan Januari sampai awal Juli 2007 tercatat jumlah kasus DBD 655 kasus (Global, 2007). Menurut Penjelasan dari pihak Dinas Kesehatan, berbaga macam program atau usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah seperti memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pencegahan DBD dan bahayanya baik secara langsung maupun tidak langsung, melalui berbagai media, serta menjalin kerja sama dengan lintas sektoral serta penyadaran peningkatan pengetahuan tentang kebersihan lingkungan dengan pencegahan DBD dan bahayanya untuk mengurangi wabah DBD yang menyebabkan banyak korban. Walaupun demikian namun DBD tetap belum teratasi dengan baik dan mencapai target. (Depkes RI, 2007). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Medan (DKKM) 2010, terdapat 10 daerah Medan yang angka kejadian DBD paling tinggi diantaranya : Medan Helvetia 272 kasus, 3 orang meningagal, Medan Sunggal 204 kasus, 2 orang meninggal, Terjun 179 kasus, Medan Baru 145 kasus, Medan Tuntungan (Puskesmas Simalingkar) 140 kasus, Medan Tembung 134 kasus 4 orang meninggal (DKKM, 2010). Berdasarkan pencatatan yang tersedia di Puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan terdapat peningkatan penderita penyakit DBD dari tahun 2009 2011 secara berturut-turut adalah sebagai berikut : tahun 2009 terdapat 125 penderita, 2010 terdapat 140 penderita dan 2011 terdapat 145 penderita. Faktor penyebab dari tingginya angka kejadian DBD antara lain: kepadatan penduduk, perilaku hidup bersih dan sehat yang kurang, pendidikan dan pengetahuan masyarakat yang rendah, sarana pelayanan kesehatan yang tidak memadai dan jumlah petugas yang kurang. Lingkungan yang padat penduduk di wilayah kerja Puskesmas Simalingkar kecaman Medan Tuntungan ditambah perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat yang kurang, diduga menjadi salah satu penyebab meningkatnya kejadian DBD pada dekade tiga tahun ini, diperkirakan tingkat pengetahuan masyarakat yang rendah membuat masyarakat berprilaku apatis terhadap kebersihan lingkungannya, seperti halnya tempat penampungan air yang tidak terawat dan sampah-sampah seperti kaleng dan botol kosong bekas yang dibuang disembarang tempat. Berbagai cara juga telah diupayakan oleh pelayanan tenaga kesehatan khusus di wilayah kerja Puskesmas Simalingkar , baik dengan cara pemberian penyuluhan kepada masyarakat, pemberian abate pada tempat-tempat penampungan air dan penyemprotan pada daerah-daerah yang diduga tempat sarang nyamuk DBD. Namun karena sarana pelayanan

yang kurang memadai dan jumlah petugas yang kurang membuat upaya terhadap pencegahan DBD ini tidak merata disemua tempat di wilayah kerja Puskesmas Simalingkar kecaman Medan Tuntungan. Jadi dalam upaya pencegahan terhadap timbulnya penyakit DBD di wilayah kerja Puskesmas Simalingkar kecamatan Medan Tuntungan, tingkat pengetahuan masyarakat tentang kebersihan lingkungan itulah yang mengambil peranan penting. Karena dengan pengetahuan yang baik tentang kebersihan lingkungan itu, akan meminimalisir tempat bersarangnya nyamuk DBD. Dari data di atas Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Hubungan tingkat pengetahuan masyarakat tentang kebersihan Linkungan dengan Upaya pencegahan DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Simalingkar. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan dalam latar belakang di atas, maka rumusan penilitian adalah bagaimana hubungan tingkat pengetahuan masyarakat tentang kebersihan lingkungan dengan upaya pencegahan DBD di wilayah kerja Puskesmas Simalingkar kecamatan Medan Tuntungan Tahun 2012. 1.3 Tujuan 1.3.1 Tujuan umum Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan masyarakat tentang kebersihan lingkungan dengan upaya pencegahan DBD di wilayah kerja Puskesmas Simalingkar kecamatan Medan Tuntungan Tahun 2012. 1.3.2. Tujuan Khusus 1. Mengetahui bagaimana tingkat pengetahuan masyarakat tentang kebersihan lingkungan dalam upaya pencegahan DBD di wilayah kerja Puskesmas Simalingkar kecamatan Medan Tuntungan. 2. Megetahui hubungan tingkat pengetahuan masyarakat tentang upaya pencegahan DBD di wilayah kerja Puskesmas Simalingkar kecamatan Medan Tuntungan. 1.4. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan pemahaman peneliti tentang Hubungan Tingkat Pengetahuan Masyarakat tentang Kebersihan Lingkungan dengan

Upaya Pencegahan DBD Di Wilayah Kerja Puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan. 2. Bagi lahan atau tempat penelitian. Sebagai bahan dan data tentang hubungan tingkat pengetahuan masyarakat tentang kebersihan lingkungan dalam upaya pencegahan DBD. 3. Bagi institusi pendidikan Sebagai bahan informasi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya masalah pencegahan DBD. 4. Bagi peneliti seterusnya Sebagai dasar atau kajian awal bagi peneliti lain yang ingin meneliti permasalahan yang sama sehingga mereka memiliki landasan dan alur yang jelas. BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengetian Pengetahuan 2.1.1. Defenisi Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu : indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam pembentukan tindakan seseorang (Notoadmojo, 2003). 2.1.2. Tingkat Pengetahuan Menurut Notoadmojo (2003) Tingkat pengetahuan terdiri dari 6 tingkatan yaitu : 1. Tahu (Know) Tahu artinya sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan, tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. 2. Memenuhi (Comprehension) Memenuhi artinya sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. 3. Aplikasi (Aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. 4. Analisa(Analysis)

Analisa diartikan sebagai kemampuan untuk menjabarkan materi yang objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu dengan yang lain. 5. Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. 6. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi ataupenelitian terhadap suatu materi. 2.1.3. Cara Mengukur Pengetahuan Menurut Notoadmojo dan Danin (2005) cara mengukur pengetahuan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu : 1. Wawancara (Interview) Wawancara adalah suatu metode yang digunakan untuk mengumpulkan data oleh peneliti. Untuk mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seseorang. Sasaran penelitian (responden) atau bercakap-cakap berhadapan muka orang tersebut (face to face).

2. Angket Angket adalah suatu cara pengumpulan data atau suatu penelitian mengenai suatu masalah yang umumnya banyak menyangkut kepentingan umum (orang banyak). Angket dilakukan dengan cara mengedarkan suatu daftar pertanyaan yang berupa formulirformulir, diajukan secara tertulis kepada sejumlah subjek untuk mendapatkan tanggapan, informasi, jawaban dan lainnya. 2.1.4. Sumber Informasi Pengetahuan Menurut Notoadmojo (2005), sumber informasi pengetahuan terdiri dari : 1. Sumber Informasi Dokumenter Sumber informasi dokumenter adalah semua bentuk informasi yang berhubungan dengan dokumen baik dokumen-dokumen resmi maupun tidak resmi. Dokumen resmi adalah semua bentuk dokumen baik yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan yang ada dibawah tanggung jawab instansi resmi, misalnya laporan, statistik, catatan-catatan didalam kartu klinik dan lain-lain. Dokumen tidak resmi adalah segala bentuk dokumen yang berada atau menjadi tanggung jawab dan wewenang badan atau instansi tidak resmi atau perorangan, seperti biografi, catatan harian dan semacamnya.

Sumber informasi dokumen dapat digolongkan menjadi 4 (empat) yaitu: a. Sumber Primer (Primary Resources) Sumber primer adalah sumber informasi yang langsung berasal dari yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab terhadap data tersebut. b. Sumber Sekunder (Sekundery Resoruces) Sumber sekunder adalah sumber informasi yang bukan dari tangan pertama, dan yang bukan mempunyai wewenang dan tanggung jawab terhadap informasi atau data tersebut. c. Sumber Kepustakaan Sumber kepustakaan adalah sumber informasi yang sangat penting yang terdapatdalam perpustakaan dan tersimpan berbagai bahan bacaan dan informasi dari berbagai disiplin ilmu. d. Sumber Informasi Lapangan Sumber informasi lapangan adalah sumber informasi yang diperoleh langsung dari objek di lapangan dapat diperoleh melalui tehnik observasi, wawancara, angket maupun eksperimen pendahuluan. 2.2. Pengertian Kebersihan Lingkungan/Sanitasi Lingkungan 2.2.1. Defenisi Sanitasi lingkungan adalah Status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup perumahan, pembuangan kotoran, penyediaan air bersih dan sebaginya (Notoadmojo, 2003). 2.2.2 Rumah Rumah adalah salah satu persyaratan pokok bagi kehidupan manusia.Rumah atau tempat tinggal manusia, dari zaman ke zaman mengalami perubahan.Pada zaman purba manusia bertempat tinggal digua-gua, kemudian berkembang,dengan mendirikan rumah tempat tinggal di hutan-hutan dan dibawah pohon.Sampai pada abad modern ini manusia sudah membangun rumah (tempattinggalnya) bertingkat dan diperlengkapi dengan peralatan yang serbamodern.sejak zaman dahulu pula manusia telah mencoba mendesain rumahnya,dengan ide mereka masing-masing yang dengan sendirinya berdasarkan kebudayaan masyarakat setempat dan membangun rumah mereka dengan bahan yang ada setempat (lokal material) pula. Setelah manusia memasuki abad modern ini meskipun rumah mereka dibangun dengan bukan bahan-bahan setempat tetapi kadang-kadang desainya masih mewarisi kebudayaan generasi sebelumnya (Notoadmojo, 2003). Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam membangun suatu rumah : 1. Faktor lingkungan, baik lingkungan fisik, biologis maupun lingkungan sosial.

Maksudnya membangun suatu rumah harus memperhatikan tempat dimana rumah itu didirikan. Di pegunungan ataukah di tepi pantai, di desa ataukah di kota, di daerah dingin ataukah di daerah panas, di daerah pegunungan dekat gunung berapi (daerah gempa) atau di daerah bebas gempa dan sebagainya. Rumah didaerah pedesaan, sudah barang tentu disesuaikan kondisi social budaya pedesaaan, misalnya bahanya, bentuknya, menghadapnya, danlain sebagainya. Rumah didaerah gempa harus dibuat dengan bahan-bahan yang ringan namun harus kokoh, rumah didekat hutan harus dibuat sedemikian rupa sehingga aman terhadap serangan-serangan binatang buas.

2. Tingkat kemampuan ekonomi masyarakat Hal ini dimaksudkan rumah dibangun berdasarkan kemampuan keuangan penghuninya, untuk itu maka bahan-bahan setempat yang murah misal bambu, kayu atap rumbia dan sebagainya adalah merupakan bahan-bahan pokok pembuatan rumah. Perlu dicatat bahwa mendirikan rumah adalah bukan sekadar berdiripada saat itu saja, namun diperlukan pemeliharaan seterusnya (Notoadmojo, 2003). Syarat-syarat rumah yang sehat : 1. Bahan bangunan a. Lantai : Ubin atau semen adalah baik, namun tidak cocok untuk kondisi ekonomi pedesaan. Lantai kayu sering terdapat pada rumah-rumah orang yang mampu di pedesaan, dan inipun mahal. Oleh karena itu,untuk lantai rumah pedesaan cukuplah tanah biasa yang dipadatkan. Syarat yang penting disini adalah tdak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim hujan. Untuk memperoleh lantai tanah yang padat (tidak berdebu) dapat ditempuh dengan menyiram air kemudian dipadatkan dengan benda-benda yang berat, dan dilakukan berkali-kali. Lantai yang basah dan berdebu merupakan sarang penyakit. b. Dinding : Tembok adalah baik, namun disamping mahal tembok sebenarnya kurang cocok untuk daerah tropis, lebih-lebih bila ventilasinya tidak cukup. Dinding rumah di daerah tropis khususnya di pedesaan lebih baik dinding atau papan. Sebab meskipun jendela tidak cukup, maka lubang-lubang pada dinding atau papan tersebut dapat merupakan ventilasi, dan dapat menambah penerangan alamiah. c. Atap Genteng : Atap genteng adalah umum dipakai baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Disamping atap genteng cocok untuk daerah tropis, juga dapat terjangkau oleh masyarakat dan bahkan masyarakat dapat membuatnya sendiri. Namun demikian, banyak masyarakat pedesaan yang tidak mampu untuk itu, maka atap daun rumbai atau daun kelapa

pun dapat dipertahankan. Atap seng ataupun asbes tidak cocok untuk rumah pedesaan, di samping mahal juga menimbulkan suhu panas didalam rumah. d. Lain-lain (tiang, kaso dan reng) Katu untuk tiang, bambu untuk kaso dan reng adalah umum di pedesaan. Menurut pengalaman bahan-bahan ini tahan lama. Tapi perlu diperhatikan bahwa lubang-lubang bambu merupakan sarang tikus yang baik. Untuk menghindari ini cara memotongnya barus menurut ruas-ruas bambu tersebut, maka lubang pada ujung-ujung bambu yang digunakan untuk kaso tersebut ditutup dengan kayu. 2. Ventilasi Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah untuk menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan O2 didalam rumah yang berarti kadar CO2 yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat.disamping itu tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara didalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini akan merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri, patogen (bakteri-bakteri penyebab penyakit.) Funsi kedua daripada ventilasi adalah untuk membebaskan udara ruanganruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen, karena disitu selalu terjadi aliran udara yang terus-menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir. Fungsi lainya adalah untuk menjaga agar ruangan selalu tetap didalam kelembaban (humuduty) yang optium. Ada 2 macam ventilasi, yakni : a) Fungsi kedua dari pada ventaliasi adalah untuk membebaskan udara ruangan dari bakteribakteri, terutama bakteri patogen, karena disitu selalu terjadi aliran udara dan sebagainya. Di pihak lain ventilasi alamiah ini tidak menguntungkan, karena merupakan jalan masuknya nyamuk dan serangga lainya ke dalam rumah. Untuk itu harus ada usaha-usaha lain untuk melindung kita dari gigitan-gigitan nyamuk tersebut. b) Ventilasi buatan, yaitu dengan mempergunakan alat-alat khusus untuk mengalirkan udara tersebut, misalnya kipas angin, dan mesin penghisap udara. Tetapi jelas alat ini tidak cocok dengan kondisi rumah di pedesaan. Perlu diperhatika disinni bahwa sistem pembuatan ventilasi harus dijaga agar udara tidak berhenti atau membalik lagi, harus mengalir. Artinya di dalam ruangan rumah harus ada jalan masuk dan keluarnya udara.

3. Cahaya Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak kurang dan tidak terlalu banyak. Kurangnya cahaya yang masuk kedalam ruangan rumah, terutama cahaya matahari di samping kurang nyaman, juga merupakan media atau tempat yang baik untuk hidup dan berkembangnya bibit-bibit penyakit. Sebaliknya terlalu banyak cahaya didalam rumah akan menyebabkan silau, dam akhirnya dapat merusakan mata. Cahaya dapat dibedakan menjadi 2, yakni : a) Cahaya alamiah, yakni matahari. Cahaya matahari ini sangat penting, karena dapat membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam rumah, misalnya baksil TBC. Oleh karena itu, rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk cahaya yang cukup. Seyogyanya jalan masuk cahaya (jendela) luasnya sekurangkurangnya 15% sampai 20% dari luas lantai yang terdapat didalam ruangan rumah. Perlu diperhatikan di dalam membuat jendela diusahakan agar sinar matahari dapat langsung masuk ke dalam ruangan, tidak terhalang oleh bangunan lain. Fungsi jendela disini, disamping sebagai ventilasi, juga sebagai jalan masuk cahaya. Lokasi penempatan jendela pun harus diperhatikan dan dusahakan agar sinar matahari lama menyinari lantai (bukan menyinari dinding). Maka sebaiknya jendela itu harus di tengahtenan tinggi dinding (tembok). Jalan masuknya cahaya ilmiah juga diusahakan dengan geneng kaca. Genteng kaca pun dapat dibuat secra sederhana, yakni dengan melubangi genteng biasa waktu pembuatanya kemudian menutupnya dengan pecahan kaca. b) Cahaya buatan, yaitu menggunakan sumber cahaya yang bukan alamiah, seperti lampu minyak tanah, listrik, api dan sebagainya. 4. Luas bangunan rumah Luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di dalamnya, artinya luas lanai bangunan tersebut harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya. Luas bangunan yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya akan menyebabkan perjubelan (overcrowded). Hal ini tidaksehat, sebab di samping menyebabkan kurangnya konsumsi O2 juga bila salah satu anggota keluarga terkene penyakit infeksi, akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain. Luas bangunan yang optimum adalah apabila dapat menyediakan 2,5 3 m2 untuk tiap orang (tiap anggota keluarga). 5. Fasilitas-fasilitas didalam rumah sehat. Rumah yang sehat harus mempunyai fasilitas-fasilitas sebagai berikut: a. Penyediaan air bersih yang cukup

b. Pembuangan Tinja c. Pembuangan air limbah (air bekas) d. Pembuangan sampah e. Fasilitas dapur ruang berkumpul keluarga Untuk rumah di pedesaan lebih cocok adanya serambi (serambi muka atau belakang). Disamping fasilitas-fasilitas tersebut, ada fasilitas lain yang perlu diadakan tersendiri untuk rumah pedesaan, yakni: a) Gudang, tempat menyimpan hasil panen. Gudang ini dapat merupakan bagian dari rumah tempat tinggal tersebut, atau bangunan tersendiri. b) Kandang ternak. Oleh karena kandang ternak adalah merupakan bagian hidup dari petani, maka kadang-kadang ternak tersebut ditaruh di dalam rumah. Hal ini tidak sehat, karena ternak kadang-kadang merupakan sumber penyakit pula. Maka sebaiknya demi kesehatan, ternak harus terpisah dari rumah tinggal, atau dibikinkan kandang sendiri (Notoadmojo, 2003). 2.2.3. Pembuangan Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainya, dan pada umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta mengganggu lingkungan hidup. Batasan lain mengatakan bahwa air limbah adalah kombinasi dari cairan dan sampah cair yang berasal dari daerah pemukiman, perdagangan, perkantoran dan industri, bersama-sama dengan air tanah, air permukaan dan air hujan yang mungkin ada (Haryoto Kusnoputranto,2003). Dari batasan tersebut dapat disimpulkan bahwa air buangan adalah air yang tersisa dari kegiatan manusia, baik kegiatan rumah tangga maupun kegiatan lain seperti industri, perhotelan, dan sebagainya. Meskipun merupakan air sisa, namun volumenya besar, karena lebih kurang 80% dari air yang digunakan bagi kegiatan-kegiatan manusia sehari-hari tersebut dibuang lagi dalam bentuk yang sudah kotor (tercemar). Selanjutnya air limbah ini akhirnya akan mengalir ke sungai dan laut dan akan digunakan oleh manusia lagi. Oleh sebab itu, air buangan ini harus dikelola atau diolah secara baik. Air limbah ini berasal dari berbagai sumber, secara garis besar dapat dikelompokan sebagai berikut : 1. Air buangan yang bersumber dari rumah tangga (domestic wastes water), yaitu air limbah yang berasal dari pemukiman penduduk. Pada umumnya air limbah ini terdiri dari ekskreta (tinja dan air seni), air bekas cucian dapur dan kamar mandi, dan umumnya terdiri dari bahan-bahan organic.

2. Air buangan industri (industrial wastes water), yang berasal dari berbagai jenis industri akibat proses produksi. Zat-zat yang tergantung di dalamnya sangat bervariasi sesuai dengan bahan baku yang dipakai oleh masing-masing industri, antara lain : nitrogen, logam berat, zat pelarut dan sebagainya. Oleh sebab itu pengolahan jenis air limbah ini, agar tidak menimbulkan polusi lingkungan memnjadi rumit. 3. Air buangan kotapraja (municipal wastes water), yaitu air buangan yang berasal dari daerah : perkantoran, perdagangan, hotel, restoran, tempat-tempat ibadah, dan sebagainya. Pada umumnya zat-zat yang terkandung dalam jenisair limbah ini sama dengan air limbah rumah tangga. Karakteristik air limbah perlu dikenal, karena hal ini akan menentukan cara pengolahan yang tepat, sehingga tidak mencemari lingkungan hidup. Secara garis besar karakteristik air limbah ini digolongkan menjadi sebagai berikut: a). Karakteristik fisik Sebagian besar terdiri dari air dan sebagian kecil terdiri dari bahan-bahan padat dan suspensi. Terutama air limbah rumah tangga, biasanya berwarna suram seperti larutan sabun, sedikit berbau. Kadang-kadang mengandung sisa-sisa kertas, berwarna bekas cucian beras dan sayur, bagian-bagian tinja, dan sebagainya. b). Karakter kimiawi Biasanya air buangan ini mengandung campuran zat-zat kimia anorganik yang berasal dari air bersih serta bermacam-macam zat organik berasal dari penguraian tinja, urine dan sampahsampah lainya. Oleh sebab itu, pada umumnya bersifat basah pada waktu masih baru, dan cenderung ke asam apabila sudah memulai membusuk. Substansi organic dalam air buangan terdiri dari dua gabungan, yakni : 1. Gabungan yang mengandung nitrogen, misalnya: urea, protein, amine, dan asam amino. 2. Gabungan yang tak mengandung nitrogen, misalnya: lemak, sabun, dan karbuhidrat, termasuk selulosa. c). Karakteristik bakteriologis Kandungan bakteri pathogen serta organisme golongan coli terdapat juga dalam air limbah tergantung darimana sumbernya, namun keduanya tidak berperan dalam proses pengolahan air buangan. Sesuai dengan zat-zat yang terkandung di dalam air limbah ini, maka air limbah yang tidak diolah terlebih dahulu akan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup antara lain :

1. Menjadi transmisi atau media penyebaran berbagai penyakit, terutama: kholera, typhus abdominalis, desentri baciler. 2. Menjadi media berkembang biaknya mikroorganisme pathogen. 3. Menjadi temoat-tempat berkembang biaknya nyamuk atau tempat hidup larva nyamuk. 4. Menimbulkan bau yang tidak enak serta pandangan yang tidak sedap. 5. Merupakan sumber pencemaran air permukaan, tanah, dan lingkungan hidup lainya. 6. Mengurangi produktivitas manusia, karena orang bekerja dengan tidak nyaman, dan sebagainya. Pegolahan air limbah dimaksudkan untuk melindungi lingkungan hidup terhadap pencemaran air limbah tersebut. Secara ilmiah sebenarnya lingkungan mempunyai daya dukung yang cukup besar terhadap gangguan yang timbul karena pencemaraan air limbah tersebut. Namun demikian, alam tersebut mempunyai kemampuan yang terbatas dalam daya dukungnya, sehingga air limbah perlu dibuang. Beberapa cara sederhana pengolahan air buangan antara lain sebagai berikut : 1). Pengeceran (dilution) Air limbah diencerkan sampai mencapai konsentrasi yang cukup rendah, kemudian baru dibuang ke badan-badan air. Tetapi, dengan makin bertambahnya penduduk, yang berarti makin meningkatnya kegiatan manusia, maka jumlah air limbah yang harus dibuang terlalu banyak, dan diperluka air pengenceran terlalu banyak pula, maka cara ini tidak dapat dipertahankan lagi. Disamping itu, cara ini menimbulkan kerugian lain, diantaranya : bahaya kontaminasi terhadap badan-badan air masih tetap ada, pengendapan yang akhirnya menimbulkan pendangkalan terhadap badan-badan air, seperti selokan, sungai, danau, dan sebagainya. Selanjutnnya dapat menimbulkan banjir. 2). Kolam Oksidasi (Oxidation ponds) Pada prinsipnya cara pengolahan ini adalah pemanfaatan sinar matahari, ganggang (algae), bakteri dan oksigen dalam proses pembersihan alamiah. Air limbah dialirkan kedalam kolam berbentuk segi empat dengan kedalaman antara 1-2 meter. Dinding dan dasar kolam tidak perlu diberi lapisan apapun. Lokasi kolam harus jauh dari daerah pemukiman, dan didaerah yang terbuka, sehingga memungkinkan memungkinkan sirkulasi angin dengan baik. 3). Irigasi Air limbah dialirkan ke parit-parit terbuka yang digali, dan air akan merembes masuk kedalam tanah melalui dasar dan dindindg parit tersebut. Dalam keadaan tertentu air buangan dapat digunakan untuk pengairan ladang pertanian atau perkebunan dan sekaligus berfungsi untuk pemupukan. Hal ini terutama dapat dilakukan untuk air limbah dari rumah

tangga, perusahaan susu sapi, rumah potong hewan, dan lain-lainya dimana kandungan zatzat organik dan protein cukup tinggi yang diperlukan oleh tanam-tanaman. 2.3. Pengertian Demam Berdarah Dengue 2.3.1. Defenisi DBD Menurut Misnadiarly seorang ahli peneliti utama bidang penyakit menular langsung Tuberkulosis, Mycobacteria, menuliskan dalam bukunya tentang Demam Berdarah Dengue (DBD) yakni, demam berdarah adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus. Virus dengue sebagai penyebab penyakit DBD merupakan mikroorganisme sangat kecil dan hanya dapat dilihat dengan jenis mikroskop tertentu (elektron). Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vektor nyamuk genus Aedes (terutama Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus). Virus dengue yang berukuran 45-50 nanometer tersebut berasal dari famili Flaviviridae, yang dibedakan atasempat macam, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4 yang meski mirip tetapi berbeda satu sama lain. Seseorang yang sudah terkena satu jenis DEN, bisa terkena demamberdarah lagi dari DEN yang lainnya dan bahkan bisa menjadi lebih fatal. Jika seseorang terkena DEN-1 misalnya, biasanya pasien akan membaikdan tubuh akan membentuk antibodi yang mengenali DEN-1 tersebut. Jikaterkena DEN-2 misalnya, maka sistem kekebalan tubuh dapat salah mengenali virus tersebut adalah DEN-1. Akibatnya, meski antibodi tubuh berkumpul menghadang virus, mereka gagal menghentikan infeksi dari DEN-2 tersebut dan malah memicu terjadinya suatu reaksi tubuh yang dikenal dengan namaAntibody Dependent Enhancement. (ADE). Virus dengue yang tidak mati tersebut memanfaatkan antibodi tubuh untuk memperbanyak diri yang mengakibatkan infeksi kedua tersebut bias menjadi lebih parah dari infeksi pertama, dan berakibat fatal. Saat virus dengue berkembang di tubuh nyamuk, virus tersebut memperbanyak diri, lalu berkumpul di saliva (air liur) nyamuk. Setelah itu, saliva bervirus tersebut dikeluarkan nyamuk saat menggigit manusia. Sebagian besar virus tersebut berada pada kelenjar liur yang terdapat pada alat tusuk nyamuk. Sehingga pada saat nyamuk tersebut menggigit manusia, maka bersamaan dengan air liur nyamuk tersebut masuk kedalam darah manusia. Virus hanya dapat hidup di dalam sel hidup. Maka demi kelangsungan hidupnya, virus harus bersaing dengan sel manusia yang ditempati terutama untuk kebutuhan protein. Apabila daya tahan tubuh seseorang yang terkena infeksi virus tersebut rendah sebagai akibatnya sel jaringan akan semakin rusak. Apabila virus tersebut berkembang banyak, fungsi organ tubuh tersebut baik, maka akan sembuh dan timbul kekebalan terhadap virus dengue yang pernah masuk ke dalam tubuhnya.

Penyakit yang disebabkan oleh virus dengue disebarkan oleh nyamuk betina Aedes Aegypti, sedangkan Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorhaege Fever (DHF) juga penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan disebarkan oleh nyamuk Aedes Aegypti dimana suhu tubuh menjadi meningkat diatas normal yang cenderung dapat menimbulkan kematian. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Demam Berdarah Dengue atau yang lebih dikenal dengan DBD ini merupakan penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh jenis nyamuk betina Aedes Aegypti kepada manusia melalui gigitan nyamuk kepada manusia yang dapat menimbulkan beberapa gejala, seperti gejala demam yang sangat tinggi dan dapat menimbulkan kematian. 2.3.2. Faktor Penyebab Demam Berdarah Dengue Menurut Dinas Kesehatan DKI dalam buku yang berjudul Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditulis oleh Misnadiarly, disebutkan mengenai faktor penyebab DBD tersebut, yakni virus dengue tersebut ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang merupakan faktor epidemi paling utama yang membawa dan menularkan virus dengue tersebut kepada manusia. Faktor penyebab lain yang dapat memungkinkan seseorang dapat terkena DBD dapat disebabkan antara lain: a) Dilihat dari habitat nyamuk tersebut, misalnya untuk nyamuk betina Aedes Aegypti hidup di tempat yang padat, sehingga tempat umum untuk orang-orang yang sedang melakukan aktifitas seperti di tempat kerja, sekolah, dan tempat umum lainnya yang memungkinkan nyamuk tersebut dapat berhubungan langsung dengan manusia. Atau juga di kompleks perumahan yang jarak satu rumah dengan rumah yang lain tersebut tidak terlalu jauh, seperti di wilayah rumah padat penduduk, kostan, dan lain-lain. Sehingga kondisi lingkungan dan tempat tinggal tersebut dapat memberikan kesempatan untuk nyamuk menularkan virus dengue kepada manusia menjadi semakin besar. b) Perilaku masyarakat terhadap pola hidup bersih dan sehat. Nyamuk senang bersarang di tempat-tempat yang dapat memberikannya ruang untuk berkembang biak, misalnya di kaleng bekas yang tergenang air apabila hujan, di bak mandi yang jarang dikuras dan terbuka. Dan juga apabila kondisi tubuh seseorang kurang sehat, berarti kemungkinan untuk dapat tertular virus dengue dari nyamuk akan semakin besar karena ketahanan tubuh seseorang yang lemah. 2.3.3. Penyebab/ Etiologi Penyebab utama dalam penularan penyakit DBD kepada manusia memang disebabkan oleh nyamuk. Namun tidak semua nyamuk dapat menularkan penyakit DBD tersebut kepada manusia. Karena berdasarkan informasi dari data-data yang ditemukan, terdapat beberapa jenis nyamuk yang berpotensi menularkan penyakit DBD tersebut kepada

manusia selain jenis nyamuk betina Aedes Aegypti sebagai faktor utama dalam menularkan penyakit DBD kepada manusia. Beberapa spesies nyamuk tersebut ialah jenis nyamuk lain seperti nyamuk Aedes Albopictus, Aedes Polynesiensis, anggota dari Aedes Scutellaris Complex, dan Aedes (Finlaya) Niveus. Jenis nyamuk tersebut memiliki ciri khas berwarna belang putih di kakinya. Demam berdarah tidak menular langsung dari manusia ke manusia, melainkan melalui nyamuk sebagai perantaranya. Beberapa jenis spesies nyamuk tersebut selain Aedes Aegypti dianggap sebagai faktor sekunder bagi nyamuk yang menularkan virus dengue kepada manusia yang menyebabkan DBD. Karena habitat nyamuk tersebut berbeda-beda, seperti contohnya nyamuk Aedes Aegypti merupakan nyamuk yang paling berpotensi dalam menularkan penyakit DBD kepada manusia dan lebih banyak dikenal sebagai nyamuk yang menularkan DBD, karena nyamuk Aedes Aegypti hidup dan berkembang biak di lingkungan yang padat, oleh karena itu nyamuk tersebut sangat dekat dengan manusia karena hidup dan berkembang biak di lingkungan yang sama. Sedangkan untuk jenis nyamuk lain seperti Aedes Albopictus, nyamuk tersebut hidup di lingkungan seperti di kebun-kebun, sehingga jarang melakukan kontak dengan manusia. Jenis nyamuk yang menularkan virus dengue pun hanya nyamuk betina saja, karena nyamuk jantan menghisap cairan tumbuhan dan sari bunga untuk keperluan hidupnya, sedangkan untuk nyamuk betina ialah dengan menghisap darah untuk keperluan hidupnya. Serta nyamuk-nyamuk tersebut lebih cenderung untuk menghisap darah manusia dari pada menghisap darah hewan atau binatang. Dan dilihat dari lingkungan tempat tinggalnya, nyamuk Aedes Aegypti tersebut lebih senang bersarang dan berkembang biak di tempat yang bersih, seperti di genangan air dalam bak mandi dan di sudut-sudut dalam rumah seperti tempat gantungan baju. Wilayah Indonesia merupakan wilayah dengan iklim tropis, sehingga sering terjadi musim penghujan. Menurut Sri Rezeki Hadi Negoro, dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, demam berdarah dengue memang mencapai puncaknya pada musim hujan, tetapi bukan tidak mungkin penyakit tersebut dapat muncul di bulan lain seperti pada musim kemarau. Karena pada musim penghujan perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti menjadi meningkat, dimana pada saat itu terjadi banyak genangan air yang menjadi tempat bersarangnya nyamuk. Akan tetapi apabila pada musim kemarau, sepanjang nyamuk Aedes Aegypti masih ada dan tersedianya air sebagai sarana siklus perkembang biakannya, maka kasus demam berdarah tetap rawan. 2.3.4. Mekanisme Penularan Virus Dengue Kepada Manusia

Menurut Fatkhur Rohman Masyhudi, menuliskan dalam sebuah situs online mengenai Awas Demam Berdarah Dengue yakni, saat seseorang tergigit nyamuk Aedes Aegypti yang sudah terinfeksi. virus dengue di dalam tubuh nyamuk tersebut, maka virus dengue tersebut akan masuk bersama air liur nyamuk kedalam tubuh manusia. Dalam tubuh manusia, terutama jika daya tahan tubuh sedang menurun atau tidak mempunyai kekebalan terhadap virus dengue tersebut, virus dengan cepat akan memperbanyak diri dan menginfeksi sel-sel darah putih serta kelenjar getah bening yang kemudian masuk kedalam sirkulasi darah. Pada satu hingga dua hari akan terjadi reaksi penolakan antara antibodi dengan virus dengue yang terdeteksi sebagai benda asing oleh tubuh. Badan biasanya mengalami gejala demam dengan suhu antara 38 hingga 40 C, sebagai akibat reaksi antibodi dengan virus tersebut akan diikuti juga dengan penurunan trombosit. Penurunan trombosit ini mulai dapat terdeteksi pada hari ketiga. Masa kritis penderita demam berlangsung sesudahnya, yakni mulai pada hari keempat dan kelima. Pada fase ini, suhu badan akan turun, diikuti dengan melemahnya tubuh hingga bisa terjadi penurunan kesadaran hingga hilang kesadaran yang disebut Dengue Shock Syndrome (DSS). 2.3.5. Ciri Umum Gejala Seseorang Terkena DBD Menurut Fatkhur Rohman Masyhudi, gejala DBD tidak begitu jelas dan sering tertukar atau menyerupai gejala demam lain seperti demam tifoid, infeksi tenggorok, infeksi otak, campak, flu atau infeksi saluran nafas lainnya yang disebabkan oleh virus. Masyarakat awam, bahkan seorang dokter ahli pun kadang sulit mendeteksi lebih awal diagnosis DBD. Gejala awal DBD tidak khas, hampir semua infeksi akut pada awal penyakitnya menyerupai DBD. Gejala khas seperti pendarahan pada kulit atau tanda pendarahan lainnya kadang terjadi hanya di akhir periode penyakit. Tragisnya bila penyakit ini terlambat didiagnosis, maka kondisi penderita sulit diselamatkan. Perjalanan penyakitnya sangat cepat, dalam beberapa hari bahkan dalam hitungan jam penderita bisa masuk dalam keadaan kritis. Untuk menghindari keterlambatan diagnosis DBD, maka perlu diketahui deteksi dini dan tanda bahaya DBD. Jika terdapat gejala klinis seperti dibawah ini, sebaiknya diwaspadai kemungkinan demam berdarah. Berikut ciri-ciri dan gejala seseorang terkena DBD : a) Mendadak panas tinggi selama 2 -7 hari, tampak lemah lesu, suhu badan antara 38-40C. Pada demam berdarah, dikenal pola demam pelana kuda (demam beberapa hari naik lalu turun, dan naik kembali sehingga menyerupai bentuk pelana kuda). Selain itu apabila panas tersebut tidak disertai batuk, pilek dan sakit tenggorokan, atau di lingkungan rumah tidak ada yang menderita penyakit flu, maka perlu dicurigai kemungkinan terkena DBD.

b) Sakit kepala, badan dan sendi terasa pegal dan linu. Tampak bintik-bintik merah pada kulit, dan jika kulit direnggangkan bintik merah itu tidak hilang. c) Kadang-kadang pendarahan di hidung (mimisan). Perut tidak enak, ada rasa mual dan muntah. Jika sudah berat, buang air besar dan muntah bercampur darah. d) Kadang-kadang nyeri pada ulu hati karena terjadi pendarahan di lambung. e) Bila sudah parah, penderita gelisah, ujung tangan dan kaki dingin, dan berkeringat. Pemeriksaan laboratorium yang menunjang dugaan demam berdarah seperti turunnya trombosit (sel darah yang berperan untuk pembekuan darah), naiknya hematokrit (penunjuk kekentalan darah). Ada juga pemeriksaan jenis virus yang menyerang. Infeksi virus dengue dalam tubuh dapat menyebabkan naiknya pembuluh darah yang menyebabkan cairan plasma tubuh merembes keluar pembuluh darah. Inilah yang menyebabkan kekentalan darah (yang ditunjukan oleh kadar hematokrit dan kadar hemoglobin) meningkat dan penderita akan mengalami dehidrasi. Selain itu, pembuluh darah juga menjadi rapuh dan rusak, sehingga mudah terjadi pendarahan. Virus tersebut juga dapat memicu mekanisme dalam tubuh yang dapat menyebabkan faktor pembekuan darah, dan juga penurunan trombosit yang kurang dari 150.000. Perubahan tersebut biasanya terjadi pada hari ke-3 hingga ke-5. Karena masa paling kritis yang dapat menyebabkan kematian adalah pada saat penderita mengalami syok. Bisa dari akibat pendarahan yang banyak atau akibat kebocoran cairan tubuh yang tidak terlihat dari luar. Waktu yang paling kritis adalah hari-hari pertama setelah panas turun, bukan pada saat panas sedang tinggi-tingginya. Oleh karenanya pasien DBD yang dirawat di Rumah Sakit biasanya tidak diperbolehkan pulang dahulu walaupun suhu panas badannya sudah turun. 2.3.6. Profil Seseorang yang Dapat Terkena DBD Menurut Misnadiarly, demam berdarah dengue merupakan penyakit yang senantiasa ada sepanjang tahun di Indonesia. Oleh karena itu disebut penyakit epidemis. Penyakit ini menunjukan peningkatan jumlah orang yang terserang setiap 4-5 tahun. Kelompok yang sering terkena adalah anak-anak umur 4-10 tahun, walaupun dapat pula mengenai bayi di bawah umur 1 tahun. Akhir akhir ini banyak juga megenai orang dewasa muda umur 18-25 tahun. Laki-laki dan perempuan sama-sama dapat terkena tanpa terkecuali. Cara hidup nyamuk terutama nyamuk betina yang mengigit pada pagi dan siang hari, kiranya menjadi penyebab seseorang untuk terkena demam berdarah. Nyamuk Aedes Aegypti yang menyukai tempat teduh, terlindung matahari, dan berbau manusia, oleh karena itu anak-anak atau balita yang masih membutuhkan tidur pagi dan siang hari sering kali dengan mudah menjadi

sasaran gigitan nyamuk. Sarang nyamuk selain di dalam rumah, juga banyak dijumpai di sekolah, apalagi apabila keadaan kelas gelap dan lembab. Menurut Aman B. Pulungan, dari RSIA Hermina Jati Negara, awalnya demam berdarah memang lebih banyak menyerang anak-anak, tapi sekarang telah terjadi pergeseran, orang dewasa yang terkena pun cukup banyak. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor daya tahan tubuh, seperti jika orang dewasa tersebut kurang menjaga kondisi tubuhnya seperti berolah raga dan pola makan yang tidak baik dan sehat dapat menyebabkan ketahanan tubuh seseorang menjadi berkurang, jenis makanan yang dikonsumsi sangat mempengaruhi kesehatan. Apalagi pada zaman sekarang ini orang-orang cenderung menyukai hal-hal yang instan, termasuk dalam mengkonsumsi makanan seperti makanan cepat saji yang tidak terlalu baik dikonsumsi tubuh, apalagi jika dalam jumlah yang banyak. Hal lain yang bisa mempengaruhi kondisi tubuh ialah karena orang dewasa cenderung mudah didera stress, sehingga perhatian terdahap kondisi tubuh bisa jadi berkurang, seperti berkurangnya nafsu makan, kestabilan kondisi tubuh menjadi berkurang, dan lain-lain. Pengaruh kondisi lingkungan juga dapat mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang, seperti di daerah perkotaan yang kadar polusinya sangat tinggi, sehingga orang dapat menghirup udara kotor yang sudah tercemar. Di samping nyamuk Aedes Aegypti yang senang hidup di dalam rumah, juga terdapat nyamuk Albopictus yang dapat menularkan penyakit DBD. Nyamuk Aedes Albopictus hidup di luar rumah, di kebun yang rindang, sehingga anak usia sekolah dapat terkena gigitan nyamuk ketika sedang bermain, atau pada orang dewasa jika melakukan aktivitas seperti bekerja atau berkebun. Faktor daya tahan anak yang masih belum sempurna seperti halnya orang dewasa, agaknya juga merupakan faktor mengapa anak lebih banyak terkena penyakit DBD dibandingkan orang dewasa. Di perkotaan, nyamuk sangat mudah terbang dari satu rumah ke rumah lainnya dari rumah ke kantor, atau tempat umum seperti tempat ibadah, dan lain-lain. Oleh karena itu, orang dewasa pun menjadi sasaran berikutnya setelah anak-anak, terutama dewasa muda (18-25 tahun) sesuai dengan kegiatan kelompok ini pada siang hari di luar rumah. Walaupun demikian, pada umumnya penyakit DBD dewasa lebih ringan dari pada anak-anak. 2.4. Upaya Pencegahan DBD Sampai sekarang ini obat untuk membunuh virus dengue masih belum ada, menurut data yang diperoleh dari buku dengan judul Demam Berdarah Dengue (DBD) oleh Misnadiarly. Karena obat untuk virus dengue belum ada maka harapan lainnya adalah dibuatnya vaksin dengue, yang sampai saat ini masih dalam taraf penelitian dan belum

beredar. Oleh karena itu satu-satunya cara sementara yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menghindari terjangkitnya penyakit Demam Berdarah Dengue kepada manusia ialah dengan melakukan pencegahan semaksimal dan seefektif mungkin di lingkungan masyarakat. Berbagai penyuluhan tentang pencegahan DBD rutin diadakan setiap tahunnya. Menurut Udeg Daman P, ketua Perhimpunan Ahli Epidemologi Indonesia Jabar, penyakit selalu berkaitan dengan perilaku manusia. Kampanye perilaku hidup sehat agar terhindar dari DBD sudah sejak lama di dengungkan, seperti langkah 3M yang sering digalakan saat diadakan penyuluhan pencegahan DBD kepada masyarakat, yakni: a) Mengubur / menyingkirkan barang bekas b) Menutup tempat penampungan air c) Menguras / membersihkan tempat penyimpanan air Selain itu, pengasapan / fogging atau yang biasa disebut dengan penyemprotan DBD pun sering dilakukan dan diandalkan sebagai upaya dalam pemberantasan nyamuk DBD. Namun sistem pengasapan tersebut ternyata hanya membunuh nyamuk dewasanya saja, sedangkan jentik dan telur nyamuk sebagai bakal nyamuk lainnya tidak tersentuh oleh pengasapan. Selain itu upaya lain yang dapat dilakukan ialah dengan menggunakan bubuk abate, juga dengan memelihara jenis ikan tertentu di dalam tempat penampungan air, sehingga jentik dan telur bakal nyamuk DBD tersebut bisa habis dimakan oleh ikan yang ditempatkan dalam tempat penampungan air tersebut. Namun penyuluhan pencegahan saja belum tentu dapat mengatasi masalah tersebut, peran aktif, nyata serta kontinyu oleh masyarakat merupakan usaha yang paling penting dalam menanggulangi masalah DBD ini. 2.4.1. Penanganan Demam Berdarah Dengue Menurut Fatkhur Rohman Masyhudi, penanganan awal DBD, dimulai pada saat munculnya gejala demam, penderita dianjurkan untuk beristirahat kemudian memberikan asupan cairan sebagai pengganti plasma darah yang mulai keluar dari pembuluh darah. Saat ini, cairan yang dianjurkan adalah larutan gula dan garam atau oralit yang komposisinya dinilai setara dengan plasma darah. Pemakaian jus jambu, susu manis atau teh manis bisa saja digunakan sebagai penyerta, bergantian antara asupan larutan gula-garam. Jika pada hari ketiga, demam masih juga belum turun, diajurkan untuk segera dibawa ke dokter untuk pemeriksaan trombosit. Setelah seseorang mengetahui gejala awal seseorang terkena penyakit DBD, maka diperlukan penanganan dan perawatan yang cepat dan tepat agar penyakit tersebut tidak semakin parah. Karena ternyata penyembuhan DBD sangat tergantung pada perawatan dan penanganan yang cepat. Berikut pertolongan pertama yang dapat dilakukan kepada penderita DBD:

a) Memberikan minum sebanyak-banyaknya kira-kira 2 liter (8 gelas) dalam satu hari atau 3 sendok makan setiap 15 menit. Dengan memberikan minum yang banyak diharapkan cairan dalam tubuh tetap stabil. b) Demam yang tinggi demikian juga mengurangi cairan tubuh dan dapat menyebabkan kejang pada penderita yang mempunyai riwayat kejang bila demam tinggi. Untuk menurunkan demam, beri obat penurun panas yang berasal dari golongan parasetamol atau asetaminophen. Tidak disarankan untuk diberikan jenis asetosal atau aspirin karena dapat merangsang lambung sehingga akan memperberat bila terdapat pendarahan lambung. c) Apabila penderita demamnya terlalu tinggi sebaiknya diberikan kompres hangat dan bukan kompres dingin, karena kompres dingin dapat menyebabkan penderita menggigil. d) Sebagai tambahan, untuk penderita yang mempunyai riwayat kejang demam di samping obat penurun panas dapat diberikan obat anti kejang. e) Pada awal sakit yaitu demam 1-3 hari, sering kali gejala menyerupai penyakit lain seperti radang tenggorok, campak, atau demam tifoid (tifus). Oleh sebab itu diperlukan kontrol ulang ke dokter apabila demam tetap tinggi 3 hari terus menerus apalagi jika penderita bertambah lemah dan lesu. f) Untuk membedakan dengan penyakit lainnya seperti tersebut di atas, pada saat ini diperlukan pemeriksaan darah untuk mengetahui apakah darah g) keadaan penderita cenderung menjadi kental atau lebih. h) Apabila masih baik, artinya tidak ada tanda kegawatan dan hasil laboratorium darah masih normal, maka penderita dapat berobat jalan. Kegawatan masih dapat terjadi selama penderita masih demam sehingga pemeriksaan darah sering kali perlu diulang kembali. Menurut Widodo Judarwanto menuliskan dalam website nya mengenai Demam Berdarah Dengue atau Bukan? yakni, secara medis sebenarnya tidak ada pengobatan secara khusus pada penderita DBD. Penyakit ini adalah self limiting desease atau penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya. Prinsip pengobatan secara umum adalah pemberian cairan berupa elektrolit (khususnya natrium) dan glukosa. Pemberian minum yang mengandung elektrolit dan glukosa, seperti air buah atau minuman yang manis, dapat membantu mengatasi kekurangan cairan pada penderita DBD. Hal penting dalam kasus DBD ini bukan mengobati tetapi melakukan pencegahan sejak dini. Tetapi tidak ada jaminan seseorang akan luput sepenuhnya hanya dengan melakukan pencegahan saja. Paling tidak adalah kemampuan dan ketanggapan dalam mendeteksi dini penyakit DBD tersebut secara cermat dan benar, serta melakukan penanganannya secara cepat dan tepat apabila sudah terlanjur terkena penyakit DBD tersebut. Sehingga setidaknya dapat

mengurangi kemungkinan untuk tidak sampai pada keadaan yang lebih parah yang tidak diinginkan seperti kematian. 2.4.2. Kapan Penderita Dibawa ke Rumah Sakit Seorang yang diduga menderita demam berdarah akan mengalami bahaya apabila mendapat syok dan pendarahan hebat. Untuk mencegah hal-hal tersebut, penderita dianjurkan dirawat di rumah sakit. Seseorang harus dirawat di rumah sakit apabila dianjurkan dirawat di rumah sakit dan menderita gejala-gejala di bawah ini: a. Demam terlalu tinggi (lebih dari 39 C atau lebih) b. Muntah terus-menerus c. Tidak dapat atau tidak mau minum sesuai dengan anjuran d. Kejang e. Pendarahan hebat, muntah atau berak darah. f. Nyeri perut hebat. g. Timbul gejala syok, gelisah atau tidak sadarkan diri, napas cepat, seluruh badan teraba dan lembab, bibir dan kuku kebiruan, merasa haus, kencing berkurang atau tidak sama sekali. h. Hasil laboratorium menunjukan peningkatan kekentalan darah dan atau penurunan jumlah trombosit. Perlu diingatkan, pada saat mengantar penderita untuk dirawat, sesaat setelah tiba di rumah sakit segera diberitahukan kepada perawat bahwa penderita kemungkinan menderita demam berdarah. Pemberitahuan ini perlu disampaikan kepada perawat atau dokter yang menerima pertama kali untuk mendapat pertolongan lebih cepat. Penderita dalam keadaan gawat memerlukan pertolongan segera dan makin cepat ditolong akan memperbesar kemungkinan untuk sembuh kembali. Apabila salah satu anggota keluarga menderita sakit demam berdarah, karena mudah menular melalui gigitan nyamuk, sebaiknya segera berobat untuk memastikan apakah tertular demam berdarah atau tidak. 2.4.3 Kasus Kematian yang Disebabkan oleh DBD Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Medan dalam salah satu situs jurnal, penyakit DBD selalu ada sepanjang tahunnya. Dan kematian merupakan akibat yang dapat ditimbulkan dari penyakit DBD tersebut apabila penderita yang menunjukan gejala DBD tersebut terlambat untuk ditangani. Tidak hanya itu saja, beberapa kasus penyebab kematian berdasarkan data yang diperoleh ternyata juga dapat disebabkan karena salah persepsi bagi penderita gejala DBD tersebut. Demam tinggi merupakan salah satu gejala yang umum dirasakan seseorang terserang penyakit DBD, namun yang menyebabkan pada akhirnya

penderita terlambat untuk ditangani sehingga dapat menimbulkan kematian dalam hal ini penderita kurang tanggap akan apa sebenarnya penyakit yang dialaminya tersebut dan dapat pula disebabkan kurang cepat dalam melakukan penanganan. Biasanya penderita mengira bahwa demam yang dialami merupakan demam tinggi biasa atau pun gejala penyakit lain seperti misalnya tifus. Apabila penderita memiliki daya tahan yang kurang dan lambatnya dalam melakukan penanganan maka hal tersebut dapat menimbulkan kematian bagi penderita. Namun jika seseorang memiliki daya tahan tubuh yang kuat, maka dapat memperkecil kemungkinan untuk tertular penyakit DBD tersebut. Menurut beberapa informasi data yang diperoleh di atas dapat disimpulkan bahwa, kematian yang disebabkan oleh DBD ialah karena keterlambatan seseorang dalam menangani penyakit DBD tersebut sehingga membawa penderita pada keadaan yang lebih parah dan menimbulkan kematian apabila didukung dengan ketahanan tubuh yang rendah. Sehingga kemungkinan kematian apabila seseorang terlanjur terjangkiti penyakit DBD tersebut akan dapat dihindari dengan perawatan dan penanganan yang cepat dan tepat.
2.5. Kerangka Konsep Penelitian Dari tujuan khusus yang telah diuraikan sebelumnya, maka kerangka konsep penelitian adalah:

Skema 2.1 Kerangka Konsep Penelitian Hubungan Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Kebersihan Lingkungan dengan Upaya Pencegahan DBD di Wilayah Kerja Puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan

2.5 Hipotesa Penelitian Dari kerangka konsep di atas, maka hipotesa penelitian adalah: 1. Ada hubungan tingkat pengetahuan masyarakat tentang kebersihan lingkungan dengan upaya pencegahan DBD di wilayah kerja Puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode analitik korelasional dengan pendekatancrosssectional (sekat silang) yang bertujuan untuk menggambarkan hubungan variabel yaitu pengetahuan masyarakat tentang kebersihan lingkungan dengan upaya pencegahan DBD di wilayah kerja Puskesmas Simalingkar. 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini direncanakan akan dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Simalingkar, Kecamatan Medan Tuntungan. Alasan memilih tempat penelitian ini yaitu: di wilayah kerja Puskesmas Simalingkar ini terdapat banyak penderita DBD dan belum pernah dilakukannya penelitian tentang hubungan tingkat pengetahuan masyarakat tentang kebersihan lingkungan dengan upaya pencegahan DBD. 3.2.2 Waktu Penelitian Penelitian ini direncanakan akan dilakukan bulan April tahun 2012. 3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah penderita DBD sebanyak 140 orang di wilayah kerja Puskemas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan. 3.3.2 Sampel Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 35 orang. Menurut Arikunto (2006) apabila subjeknya < 100 orang, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10 %- 15 % atau 20%25% atau lebih. Adapun criteria sampel pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Penderita DBD di Wilayah kerja Puskesmas Simalingkar 2. Memiliki kesadaran penuh dan tidak mengalalami disorientasi tempat, waktu. 3. Mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik. 4. Bersedia menjadi subjek penelitian dan mengikuti prosedur penelitian sampai dengan tahap akhir.

3.4 Teknik Pengumpulan Data Data yang diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan komputer dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Editing Memeriksa kelengkapan jawaban responden dalam kuesioner dengan yujuan agar data yang dimaksud dapat diolah secara benar. 2. Coding Dalam langkah ini peneliti merubah jawaban responden menjadi bentuk angka-angka yang berhubungan dengan variabel peneliti untuk memudahkan dalam pengelolaan data. 3. Skoring Dalam langkah ini peneliti menghitung skor yang diperoleh setiap responden berdasarkan jawaban atas pernyataan yang diajukan. 4. Tabulating Memasukkan hasil penghitungan kedalam bentuk tabel, untuk melihat persentase dari jawaban yang telah ditemukan. 3.5 Etika Penelitian Peneliti menjelaskan kuesioner ini tidak untuk penilaian tetapi hanya untuk mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan masyarakat dengan upaya pencegahan DBD. Untuk menjaga kerahasiaan data, responden tidak mencantumkan nama, tetapi mengunakan inisial. Calon responden dipersilahkan untuk menanda tangani informed consent, tetapi jika calon responden tidak bersedia maka calon responden berhak untuk menolak dan mengundurkan diri selama proses pengumpulan data berlangsung. 3.6 Defenisi Operasional Variabel-variabel yang diteliti meliputi variabel bebas dan variabel terikat yaitu: 1. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui oleh responden tentang kebersihan lingkungan dan. 2. DBD adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus 3. Upaya pencegahan DBD adalah segala upaya yang dilakukan responden untuk mencegah dan menghindari terjangkitnya penyakit Demam Berdarah Dengue kepada manusia semaksimal dan seefektif mungkin di lingkungan masyarakat. 3.7 Aspek Pengukuran 3.7.1 Aspek Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran tingkat pengetahuan responden, menggunakan kuesioner dan memberi skor tiap jawaban yang disediakan. Kuesioner terdiri dari 10 pertanyaan. Bila jawaban benar skornya 1, dan bila jawaban salah skornya 0. Skor terendah yang dicapai adalah 0 dan yang tertinggi adalah 10. Semakin tinggi skor semakin baik pengetahuan responden. Untuk menghitung total skor dari tiap pengetahuan responden dengan menggunakan skala interval.

P=

= 3,3

Berdasarkan hasil skala interval di atas maka didapatkan rentang kelas yaitu 3, sehingga skor untuk tiap kategori pengetahuan adalah: Pengetahuan baik Pengetahuan cukup Pengetahuan kurang : : : 7 - 10 4-6 0-3

3.7.2 Aspek Pengukuran Tindakan/Pencegahan Tindakan pencegahan diukur dengan menggunakan mean. Disediakan 10 (sepuluh) pertanyaan dengan memilih satu jawaban yang benar. Disediakan dengan 4 (empat) pilihan tidak pernah, kadang-kadang, sering, dan selalu. Untuk jawaban yang paling tepat di beri nilai 4 (empat), dan jawaban yang salah diberi nilai 0 (nol). Maka total skor jawaban tertinggi adalah 40 (empat puluh), dan skor terendah adalah 0 (nol). Setelah skor dijumlahkan, total skor dibandingkan dengan menggunakan mean, yaitu:

Keterangan: : Rata-rata : Jumlah skor semua responden : Jumlah reponden Berdasarkan rumus mean diatas, maka skor untuk kategori sikap adalah: Sikap positif Sikap negatif : : skor > skor < rata-rata (Mean) rata-rata (Mean)

3.8 Pengolahan dan Teknik Analisa Data

3.8.1 Pengolahan Data Data yang diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan komputer dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Editing Memeriksa kelengkapan jawaban responden dalam kuesioner dengan yujuan agar data yang dimaksud dapat diolah secara benar. 2. Coding Dalam langkah ini peneliti merubah jawaban responden menjadi bentuk angka-angka yang berhubungan dengan variabel peneliti untuk memudahkan dalam pengelolaan data. 3. Skoring Dalam langkah ini peneliti menghitung skor yang diperoleh setiap responden berdasarkan jawaban atas pernyataan yang diajukan. 4. Tabulating Memasukkan hasil penghitungan kedalam bentuk tabel, untuk melihat persentase dari jawaban yang telah ditemukan. 3.8.2 Teknik Analisa Data Analisis data kemudian dilanjutkan menggunakan uji statistik Chi-Square dengan tingkat kemaknaan = 0,05 dengan rumus sebagai berikut : (Arikunto,2006)

= (b 1) (k 1) Keterangan : X2 = Chi-Square Fo = Frekuensi yang diperoleh dari sampel Fh = Frekuensi yang diharapkan dalam sampel sebagai pencerminan dari frekuensi yang diharapkan dalam tabel. = Derajat kebebasan b1 k = Baris = Kolom Menguji penerimaan atau penolakan hipotesis penelitian ini maka dapat dilihat dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa : 1. Ho ditolak dan Ha diterima, yaitu nilai X2 hitung > X2 tabel atau nilai probabilitas (p) < 0,05, maka ada hubungan tingkat pengetahuan masyarakat dengan upaya pencegahan DBD di wilayah kerja Puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan.

2. Ho diterima dan Ha ditolak, yaitu nilai X2 hitung < X2 tabel atau nilai probabilitas (p) > 0,05, maka tidak ada hubungan tingkat pengetahuan masyarakat tengang kebersihan lingkungan dengan upaya pencegahan DBD di wilayah kerja Puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan.