Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS OBAT, KOSMETIK, DAN MAKANAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DALAM SEDIAAN SUNBLOCK DENGAN METODE

DPPH

I.

TUJUAN Menganalisis secara kualitatif dan kuantitatif kandungan antioksidan dalam sediaan sunblock Nivea Sun Whitening SPF 50

II.

DASAR TEORI 1. Antioksidan Antioksidan merupakan didefinisikan sebagai senyawa yang mampu menunda, memperlambat atau menghambat proses oksidasi (Pokorny,dkk, 2001). Zat ini secara nyata mampu memperlambat atau menghambat oksidasi zat yang mudah teroksidasi meskipun dalam konsentrasi rendah. Antioksidan juga sesuai didefinisikan sebagai senyawa-senyawa yang melindungi sel dari efek berbahaya radikal bebas oksigen reaktif jika berkaitan dengan penyakit, radikal bebas ini dapat berasal dari metabolisme tubuh maupun faktor eksternal lainnya. Senyawa antioksidan memegang peranan penting dalam pertahanan tubuh terhadap pengaruh buruk yang diakibatkan radikal bebas. Radikal bebas diketahui dapat menginduksi penyakit kanker, arteriosklerosis, dan penuaan, disebabkan oleh kerusakan jaringan karena oksidasi ( Kikuzaki, dan Nakatani, 1993). Radikal bebas adalah spesies yang tidak stabil karena memiliki elektron yang tidak berpasangan dan mencari pasangan elektron dalam makromolekul biologi. Protein lipida dan DNA dari sel manusia yang sehat merupakan sumber pasangan elektron yang baik. Kondisi oksidasi dapat menyebabkan kerusakan protein dan DNA, kanker, penuaan, dan penyakit lainnya. Contoh komponen kimia yang berperan sebagai antioksidan adalah senyawa golongan fenolik dan polifenolik. Senyawa-senyawa golongan tersebut banyak terdapat di alam, terutama pada tumbuhtumbuhan, dan memiliki kemampuan untuk menangkap radikal bebas. Antioksidan yang banyak ditemukan pada bahan pangan, antara lain vitamin E, vitamin C, dan karotenoid (Anonim, 2011) Secara sederhana antioksidan dinyatakan sebagai senyawa yang mampu menghambat atau mencegah terjadinya oksidasi. Antioksidan memiliki kemampuan dalam memberikan elektron, mengikat dan mengakhiri reaksi berantai radikal bebas yang mematikan. Antioksidan yang dipakai kemudian didaur ulang oleh antioksidan

lain untuk mencegahnya menjadi radikal bebas (bagi dirinya sendiri) atau tetap dalam bentuk tersebut tetapi dengan strukturm (Rohdiana, 2008) Antioksidan yang ada di alam dibagi atas tiga macam yaitu : a. Antioksidan yang dibuat oleh tubuh kita sendiri berupa enzim antara lain superoksidadismutase, peroxidase, dan katalase. b. Antioksidan alami yang dapat diperoleh dari tanaman atau hewan, yaitu tokoferol, vitamin C, betakaroten, flavonoid, dan senyawa fenolik. c. Antioksidan sintetik dibuat dari bahan-bahan kimia yaitu BHA ( Butylated HidroxyAnisole) , BHT ( Butylated Hydroxy-Toluene ), dan PG ( PropylGallate ) ( Sinaga, 2009 ). Antioksidan sintetik memiliki efektivitas yang tinggi namun kurang aman bagi kesehatan sehingga penggunaannya diawasi secara ketat di berbagai negara(Pujimulyani, 2003). Antioksidan di dalam tubuh dibedakan atas tiga kelompok, yaitu : a. Antioksidan primer yang bekerja dengan cara mencegah terbentuknya radikal bebas yang baru dan mengubah radikal bebas menjadi molekul yang tidak merugikan, misalnya glutationperoksidase. b. Antioksidan sekunder yang berfungsi untuk menangkap radikal bebas dan menghalangi terjadinya reaksi berantai, misalnya vitamin C, vitamin E. dan betakaroten. c. Antioksidan tersier yang bermanfaat untuk memperbaiki kerusakan biomolekular yang disebabkan oleh radikal bebas, misalnya DNA repair enzyme ( Sinaga, 2009). Menurut Ariyanto cit. Armala (2009), tingkat kekuatan antioksidan senyawa uji menggunakan metode DPPH dapat digolongkan menurut nilai IC50 (Tabel I).

Tabel I. Tingkat kekuatan antioksidan dengan metode DPPH Intensitas Sangat kuat Kuat Sedang Nilai IC50 < 50 g/mL 50-100 g/mL 101-150 g/mL

Lemah

> 150 g/mL

2.

Radikal Bebas Radikal bebas adalah molekul yang kehilangan electron, sehingga molekul tersebut

menjadi tidak stabil dan selalu berusaha mengambil electron dari molekul atau sel lain. Radikal bebas diproduksi secara alami oleh tubuh dalam jumlah kecil, namun akan timbul masalah bila diproduksi terlalu banyak . Radikal bebas sangat reaktif dan dengan mudah menjurus ke reaksi yang tidak terkontrol, menghasilkan ikatan silang (cross-link) pada DNA, protein, lipida, atau kerusakan oksidatif pada gugus fungsional yang penting pada biomolekul ini. Perubahan ini akan menyebabkan proses penuaan. Radikal bebas juga terlibat dan berperan dalam patologi dari berbagai penyakit degeneratif, yakni kanker, aterosklerosis, rematik, jantung koroner, dan katarak ( Silalahi, 2010 ). Target utama radikal bebas adalah protein, asam lemak tak jenuh dan lipoprotein, serta unsur DNA termasuk karbohidrat. Dari molekul-molekul target tersebut, yang paling rentan terhadap serangan radikal bebas adalah asam lemak tak jenuh. Senyawa radikal bebas di dalam tubuh dapat merusak asam lemak tak jenuh ganda pada membran sel sehingga dinding sel menjadi rapuh, merusak basa DNA sehingga mengacaukan sistem genetika, dan berlanjut pada pembentukan sel kanker (Winarsi, 2007). 3. Spektrofotometri UV-Vis Spektrofometri serapan adalah pengukuran serapan radiasi electromagnet panjang gelombang tertentu yang sempit, mendekati monokromatik, yang diserap zat. Pengukuran serapan dapat dilakukan pada daerah UV ( panjang gelombang 190-380 nm ) atau pada daerah cahaya tampak ( panjang gelombang 380-780 nm ) ( Sinaga, 2009 ).

4.

Metode Uji Aktivitas Antioksidan Beberapa metode uji dapat digunakan untuk melihat aktivitas antioksidan. Terdapat

2 macam metode yang dapat diaplikasikan yaitu metode DPPH dan metode CR. Metode DPPH merupakan suatu metode yang cepat, sederhana, dan murah untuk mengukur kapasitas antioksidan melibatkan makanan penggunaan radikal bebas. Metode ini menggunakan kontrol positif sebagai pembanding untuk mengetahui aktivitas antioksidan sampel. Kontrol positif ini dapat berupa tokoferol, BHT, dan vitamin C ( Anonimb, 2011 ).

Metode ini didasarkan pada kemampuan antioksidan untuk menghambat radikal bebas dengan mendonorkan atom hydrogen. DPPH (1,1-Diphenyl-2-Picrylhydrazyl ) merupakan suatu radikal bebas yang digunakan secara luas untuk menguji kemampuan dari suatu senyawa atau komponen untuk bereaksi sebagai penangkap radikal bebas atau donor hydrogen dan untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan dari makanan.

Gambar 1. Struktur senyawa DPPH

(Anonima, 2011)

Gambar 2. Perubahan warna larutan pada reaksi radikal DPPH dengan antioksidan (Witt, Lalk, Hager, dan Voigt, 2010) Dikarenakan pita serapan yang kuat terjadi di panjang gelombang sekitar 520 nm, radikal DPPH memiliki warna ungu gelap dalam bentuk larutan dan berubah warna menjadi kuning pucat

jika terjadi netralisasi ( Anonima, 2011 ). Perubahan warna ungu DPPH menjadi pucat dimanfaatkan untuk mengetahui aktivitas senyawa antioksidan. DPPH menerima elektron atau radikal hidrogen akan membentuk molekul diamagnetik yang stabil. Interaksi antioksidan dengan DPPH baik secara transfer elektron atau radikal hidrogen pada DPPH, akan menetralkan karakter radikal bebas dari DPPH dan membentuk DPPH tereduksi. Jika semua elektron pada radikal bebas DPPH menjadi berpasangan, maka warna larutan berubah dari ungu tua menjadi kuning terang dan absorbansi pada panjang gelombang 517 nm akan hilang. Perubahan ini dapat diukur secara stoikiometri sesuai dengan jumlah elektron atau atom hidrogen yang ditangkap oleh molekul DPPH akibat adanya zat antioksidan ( Silalahi, 2010 ). Metode CR menggunakan larutan Ce (IV) sulfat yang diberikan pada sampel. Larutan ini akan menyerang senyawa antioksidan. Metode ini berdasarkan spektrofotometri yang

pengukurannya dilakukan pada panjang gelombang 320 nm ( Anonim, 2011 ). III. Alat : Bahan: Vitamin C baku murni Larutan DPPH 0.4 mM Etanol 97% Gelas Beaker 250 ml Pengaduk kaca Corong kaca Kertas saring Spektrofotometer UV/VIS Kuvet Labu Erlenmeyer 250 ml Labu takar 10 ml, 25 ml, dan 100 ml Propipet dan pipet volume 5 mikropipet Yellow dan Blue tip Timbangan elektrik Kertas timbang Sendok sungu ALAT DAN BAHAN

IV.

Sampel Uji Sampel Komposisi : Nivea Sun Whitening SPF 50 : Air, homosalate, ethylhexylmetoksi sinamat, BHT, ethylhexyl salisilat, titanium dioxide, trimetoksi caprylylsilane, alkohol, distarchfosfat, stearyl alkohol, PEG 40 castor oil, sodium cetearylsulfate, benzopenone-3(oxybenzone), butylmetoksidibenzoilmethane, phenylbenzimidazolidesulfonic acid, dimethicone, gliserin, trisodium EDTA, glycyrhiza glabra, gliseril stearat SE, cetyl alkohol, ethylhexyl gliserin, hydrogenated cocogliserida, tocopheryl asetat, xanthan gum, phenoxyetanol, natrium hidroksida, methylparaben, propil paraben, etil paraben, parfum Manufactured Date: 8/2011 Kode Produksi Warna : 13240348 : Putih kekuningan

V.

Cara Kerja A. Uji Kualitatif Preparasi Sampel Timbang 1 gram sampel Larutkan dalam 100 ml etanol Lakukan penyaringan jika larutan sampel keruh atau ada pengendapan

Analisis Kualitatif Kromatografi Fase gerak Fase diam Deteksi Pembanding Langkah Kerja : Kromatografi lapis tipis : methanol-etilasetat (40:60 v/v) : Silika gel F254 : pereaksi semprot DPPH 0.2 % dalam methanol : vitamin C 10 mg/mL hidrokuinon

Totolkan sampel 2 totolan dan pembanding 1 totolan ke dalam plat KLT Elusi dengan fase gerak campuran methanol-etilasetat (4:6) Semprot dengan reagen DPPH Amati perubahan warna Hasil positif apabila warna bercak kuning

B. Uji Kuantitatif Pembuatan Larutan Baku Sampel dan Pembanding Sampel dilarutkan dalam ethanol 97% konsentrasi 1% b/v Dilakukan seri pengenceran hingga diperoleh konsentrasi 100; 200; 400; 800; dan 1600 g/mL Vitamin C 5% b/v dalam ethanol diencerkan hingga diperoleh konsentrasi 400; 800; 1600; 3200; dan 6400 g/mL Pembuatan Larutan Baku DPPH Larutkan 15.8 mg serbuk DPPH dalam ethanol pada labu takar 100 mL Divorteks Ambil supernatannya. Dari cara kerja ini diperoleh larutan DPPH 0.4 mM Pengukuran Absorbsi Peredaman Radikal Bebas DPPH Sebanyak 1.0 mL DPPH 0.4 mM dimasukkan ke dalam labu takar Tambahkan 1,0 mL sampel . encerkan dengan ethanol ad. 5 mL Divorteks selama 1 menit hingga campuran homogen, diamkan selama 30 menit

Diukur absorbansinya pada panjang gelombang maksimal Lakukan juga pengukuran absorbansi kontrol negatif (tanpa penambahan sampel) Besarnya aktivitas antioksidan dihitung dengan rumus

Hitung harda IC50 (konsentrasi bahan uji yang diperlukan untuk menangkap 50% radikal DPPH

VI.

Data Percobaan A. Penimbangan Sampel Botol timbang + tutup Botol timbang + tutup + sunblock Botol timbang + tutup + sisa Bobot sampel = 20,73 gram = 21,89 gram = 20,76 gram = 1.13 gram

B. Kromatografi Lapis Tipis Fase gerak : Metanol etil asetat (40 : 60) Metanol Etil asetat Pembanding = 4 ml = 6 ml

: Vitamin C 1% Larutan stok Vitamin C M1. V1 = M2. V2 = 5%

5% . V = 1% . 10 ml V = 2 ml diencerkan ad 10 ml

C. Kurva Baku Pembanding (Vitamin C) Bobot kertas timbang Bobot kertas timbang + vit C Bobot kertas timbang + sisa Bobot vitamin C = 0.2568 gram = 5.2582 gram = 0.2571 gram = 5.0011 gram

Stok = 5 gr/100 ml = 5% b/v 400 g/ml 5% . V = 0,04% . 10 V= V = 0,08 ml dilarutkan dalam etanol ad 10 ml 600 g/ml 5% . V = 0,06% . 10 V= V = 0,12 ml dilarutkan dalam etanol ad 10 ml 800 g/ml 5% . V = 0,08% . 10 V= V = 0,16 ml dilarutkan dalam etanol ad 10 ml 1600 g/ml 5% . V = 0,16% . 10 V= V = 0, 32 ml dilarutkan dalam etanol ad 10 ml 3200 g/ml 5% . V = 0,32% . 10 V= V = 0,64 ml dilarutkan dalam etanol 10 ml 6400 g/ml 5% . V = 0,64% . 10 V= V = 1,25 ml dilarutkan dalam etanol 10 ml

D. Pengenceran Sampel Stok = 1 gr/100 ml = 1% b/v 100 g/ml 1% . V = 0,01% . 10 V = 0,1 ml

200 g/ml 1% . V = 0,02% . 10 V = 0,2 ml 400 g/ml 1% . V = 0,04% . 10 V = 0,4 ml 800 g/ml 1% . V = 0,08% . 10 V = 0,8 ml 1600 g/ml 1% . V = 0,16% . 10 V = 1,6 ml

E. Data Absorbansi Kurva Baku Vitamin C Operating time = 30 menit Kadar (g/ml) 400 600 800 1600 3200 6400 Absorbansi 0,129 0,163 0,079 0,075 0,077 0,079

F. Data Absorbansi Sampel Operating time = 30 menit Absorbansi kontrol negatif = 0,737 Kadar (g/ml) 100 200 400 800 1600 Absorbansi 0,681 0,731 0,661 0,652 0,695

G. Data Kromatografi Fase diam Fase gerak Sampel Jumlah sampel Jarak pengembangan Deteksi Standar Silica Gel F 254 penyangga kaca Metanol - etil asetat (40:60 v/v) Sampel 10mg/ml 5 totolan 8,5 cm Pereaksi semprot DPPH Vitamin C

No. Sampel

Rf 8,5/8,5 = 1

Sebelum disemprot UV 254 Pemadaman Tampak UV 366 Abu-abu Abu-abu

Setelah disemprot UV 366 Tampak kuning kuning

Pembanding 4,5/8,5 = 0,5294

Sebelum dielusi:

8,5 cm

S S

Setelah dielusi: UV 254 UV 366

8,5 cm

8,5 cm

4,5 cm

S S

S S

setelah disemprot:

UV 254

8,5 cm

4,5 cm

S S

UV 366

H. Perhitungan Aktivitas Antioksidan


Aktivitas antioksidan (%) =

Aktivitas Antioksidan Vitamin C 400 g/ml Aktivitas antioksidan (%) = 600g/ml Aktivitas antioksidan (%) = 800 g/ml Aktivitas antioksidan (%) = 1600g/ml Aktivitas antioksidan (%) = = 82,4966% = 77,8833% = 89,2809% = 89,8236%

3200g/ml Aktivitas antioksidan (%) = 6400g/ml Aktivitas antioksidan (%) =

= 89,5522% = 89,2809%

Aktivitas Antioksidan Sampel 100g/ml Aktivitas antioksidan (%) = 200g/ml Aktivitas antioksidan (%) = 400g/ml Aktivitas antioksidan (%) = 800g/ml Aktivitas antioksidan (%) = 1600g/ml Aktivitas antioksidan (%) = = 7,5984% = 0,8141% = 10,3121% = 8,5% = 5,6988%

Persamaan kurva baku Vitamin C: Y = BX + A B = -8,2133 x 10-6 A = 0,1181 r = -0,5135 Y = -8,2133 x 10-6x + 0,1181 Penentuan IC50 Vitamin C: Y Y 50 X IC50 = 50 = -8,2133.10-6x + 0,1181 = -8,2133.10-6x + 0,1181 = = 6,0733.106 mg/ml

Persamaan kurva baku larutan sampel: Y = BX + A B = -5,4435.10-6 A = 0,6874 r = -0,1064 Y = -5,4435.10-6x + 0,6874

Absorbansi Vitamin C
0.18 0.16 0.14 0.12 0.1 0.08 0.06 0.04 0.02 0 1 2 3 4 5 6 Absorbansi Vitamin C

VII.

PEMBAHASAN

Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk menentukan aktivitas antioksidan yang terkandung dalam suatu sediaan berupa hand body lotion. Suatu sediaan topikal hand body lotion biasanya mengandung suatu senyawa yang berfungsi sebagai antioksidan untuk mempertahankan kualitas dari produk tersebut mulai dari pengemasan hingga penggunaannya oleh konsumen. Sediaan hand body lotion yang dianalisis memiliki spesifikasi berikut ini : Sampel Komposisi : Nivea Sun Whitening SPF 50 : Air, homosalate, ethylhexylmetoksi sinamat, BHT, ethylhexyl salisilat, titanium

dioxide, trimetoksi caprylylsilane, alkohol, distarchfosfat, stearyl alkohol, PEG 40 castor oil, sodiumcetearylsulfate,benzopenone3(oxybenzone),butylmetoksidibenzoilmethane,phenylbenzimida zolidesulfonic acid, dimethicone, gliserin, trisodium EDTA, glycyrhiza glabra, gliseril stearat SE, cetyl alkohol, ethylhexyl gliserin, hydrogenated cocogliserida, tocopheryl asetat, xanthan gum, phenoxyetanol, natrium hidroksida, methylparaben, propil paraben, etil paraben, parfum Manufactured Date: 8/2011 Kode Produksi : 13240348 Warna : Putih kekuningan Dalam praktikum ini, dilakukan analisis kualitatif untuk mengetahui senyawa yang terkandung dalam sampel yang memiliki aktivitas antioksidan. Uji tersebut dilakukan dengan KLT

dimana larutan sampel dalam etanol 97% ditotolkan sebanyak 5 totolan dengan pipa kapiler. Sebagai pembanding digunakan vitamin C. Plat KLT selanjutnya dielusi dengan fase gerak campuran metanol-etilasetat 40:60 v/v. Jarak elusi yang dihasilkan sejauh 8,5 cm dan terdapat 4 bercak , 2 bercak dari pembanding dengan Rf 0,53 dan 2 bercak kecil berbentuk lingkaran dari sampel dengan Rf 1. Keempat bercak ini, sebelum disemprot, di bawah UV 254 menunjukkan peredaman sedangkan di bawah UV 366 memberikan warna abu-abu. Setelah dilakukan penyemprotan dengan larutan DPPH dalam metanol, keempat bercak tampak berwarna kuning muda. Larutan DPPH dalm metanol merupakan pereaksi semprot untuk deteksi senyawa yang memiliki kemampuan menangkap radikal bebas. Senyawa tersebut akan memberikan warna kuning dengan latar belakang ungu pada plat silika pada sinar tampak ( Masoko, dan Eloff, 2007). Dari hasil uji kualitatif diketahui bahwa sampel mengandung senyawa antioksidan karena memberikan warna kuning setelah disemprot dengan DPPH yang berwarna ungu. Analisis kuantitatif daya antioksidan pada praktikum ini dilakukan dengan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil) secara spektrofotometri-Vis. Metode ini didasarkan pada perubahan warna radikal DPPH. Perubahan tersebut disebabkan oleh reaksi antara radikal bebas DPPH dengan satu atom hidrogen yang dilepaskan senyawa dalam bahan uji untuk membentuk senyawa 1,1difenil-2-pikrilhidrazin yang berwarna kuning. Pada metode ini, absorbansi yang diukur adalah absorbansi larutan DPPH sisa yang tidak bereaksi dengan senyawa antioksidan(Josephy, 1997). Larutan pembanding yang digunakan berupa larutan vitamin C. Vitamin C merupakan salah satu vitamin yang mempunyai fungsi sebagai antioksidan. Vitamin C mencegah oksidasi pada molekul yang berbasis cairan, misalnya plasma darah dan mata. Untuk pembuatan kurva baku, pertama dibuat larutan stok vitamin C dengan cara menimbang secara seksama 5,0 g serbuk vitamin C kemudian dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL, dan ditambah etanol 97% hingga tanda tera. Etanol digunakan untuk melarutkan vitamin C dan konsentrasi akhir yang didapatkan sebesar 5%. Dari larutan stok yang ada, dibuat seri kadar pengenceran untuk selanjutnya dianalisis menggunakan spektrofotometer UV Vis. Seri kadar awal yang dibuat dengan konsentrasi 400; 800; 1600; 3200; dan 6400 g/mL. Sebanyak 1 mL DPPH ( 2,2-diphenyl-1-picrylhidrazil) lalu ditambahkan. Senyawa ini berupa serbuk ungu yang mengandung molekul radikal bebas. Di laboratorium, larutan DPPH sudah dibuatkan oleh laboran dengan konsentrasi sebesar 0,04 mM. Setelah ditambahkan DPPH, larutan didiamkan sejenak kurang lebih 20 menit (operating time) untuk mernyempurnakan reaksi penangkapan radikal bebas oleh vitamin C. Pembacaan absorbansi dilakukan pada panjang gelombang maksimum 515 nm (panjang gelombang ini didapatkan dari literature).

Untuk larutan sampel, dilakukan prosedur yang sama dengan larutan vitamin C, namun sampel yang digunakan sebanyak 1,13 gram pertama kali dilarutkan dengan etanol 97% dalam Erlenmeyer 250 ml dengan bantuan sonikator. Hasil pelarutan tidak lagi memperlihatkan gumpalan sampel namun warna sampel menjadi putih keruh. Larutan keruh tersebut kemudian disaring dengan menggunakan kertas saring dan filtrat dimasukkan ke dalam labu takar 100 mL, kemudian ditambah etanol hingga tanda tera, sehingga didapatkan konsentrasi stok sampel sebesar 1 g/100 mL atau 100 ppm. Dari larutan stok ini kemudian dibuat seri kadar dengan konsentrasi 100; 200; 400; 800; dan 1600 ppm. Dari hasil pembacaan absorbansi,, didapatkan nilai absorban secara berturut-turut adalah 0,681 ; 0,731 ; 0,661; 0,652 ; dan 0,695. Sebagai kontrol negatif yaitu larutan DPPH 0,04 mM yang dilarutkan dalam etanol. Kontrol negatif ini bermakna bahwa dalam sistem tersebut tidak ada padanya senyawa antioksidan Dari hasil pembacaan absorbansi didapatkan nilai absorbansi sebesar 0,737. Nilai ini selanjutnya disebut dengan nilai absorbansi kontrol ( Akontrol ). Aktivitas antioksidan ditunjukkan dengan penurunan absorbansi DPPH ( pemudaran warna ungu DPPH ) akibat adanya penambahan larutan uji yang mengandung antioksidan. Besarnya aktivitas antioksidan dihitung dengan rumus =

Aktivitas antioksidan (%) =

( Akontrol Asampel ) Akontrol

100%

Dari hasil percobaan, nilai aktivitas antioksidan sampel dengan konsentrasi sebesar 100 ppm adalah 7,60 % , untuk konsentrasi 200 ppm adalah 0,81 %, untuk konsentrasi 400 ppm adalah 10,31 %, untuk konsentrasi 800 ppm sebesar 8,5%, dan untuk konsentrasi 1600 ppm sebesar 5,70%.. Secara teoritis, semakin besar konsentrasi sampel yang digunakan, seharusnya semakin besar pula konsentrasi antioksidan yang ada di dalam sampel sehingga terjadi kenaikan nilai aktivitas antioksidan ditandai dengan menurunnya intensitas warna ungu yang terbentuk dan nilai absorbansi DPPH yang berkurang tiap kenaikan konsentrasi sampel. Dari hasil perhitungan dapat diketahui bahwa sampel mengandung antioksidan yang ditandai adanya penurunan absorbansi dari DPPH meskipun % aktivitasnya kecil dan nilainya fluktuatif. Nilai IC50 ditentukan dengan melakukan regresi linear dengan konsentrasi vitamin C ( sebagai absis ) dan nilai % aktivitas antioksidan ( sebagai ordinat ). Didapatkan persamaan kurva baku larutan stock Vit. C: Y = BX + A

B = -8,2133 x 10-6 A = 0,1181 r = -0,5135 Y = -8,2133 x 10-6x + 0,1181 dengan memasukkan nilai y = 50 , maka dapat dihitung besarnya konsentrasi yang memberikan aktivitas antioksidan sebesar 50 % ( IC50 ) yaitu 6,0733.106 mg/ml. Hasil perhitungan ini jelas tidak valid karena konsentrasi vitamin C yang dibutuhkan sangat besar dan tidak logis. Hasil tersebut disebabkan preparasi yang tidak cermat dan tidak teliti serta terjadi kesalahan dalam perhitungan. Nilai IC50 sampel juga ditentukan dengan cara yang sama. Persentase aktivitas antioksidan dari sampel yang terbesar hanya 10% untuk konsentrasi 400 ppm sedangkan pada konsentrasi 800 dan 1600 ppm, persentase aktivitasnya menjadi lebih kecil/turun. Oleh karena itu, nilai IC50 dari sampel tidak dapat ditentukan. Dari nilai aktivitas antioksidan yang didapatkan, dapat diambil kesimpulan bahwa vitamin C memiliki kemampuan untuk menangkap radikal bebas jauh lebih besar daripada senyawa antioksidan yang terkandung dalam sampel lotion yang digunakan. Hal ini disebabkan karena kandungan senyawa antioksidan dalam sampel sangat kecil. VIII. DAFTAR PUSTAKA Anonima. 2011. DPPH. http://en.wikipedia.org/wiki/DPPH. Diakses 24 Mei 2012. Anonimb. 2011. Antioksidan. http://id.wikipedia.org/wiki/Antioksidan. Diakses 24 Mei 2012. Anonimc. 2011. Arbutin. http://en.wikipedia.org/wiki/Arbutin. Diakses 24 Mei 2012 Armala, M. M., 2009, Daya Antioksidan Fraksi Air Ekstrak Herba Kenikir (Cosmos caudatus H. B. K.) dan Profil KLT, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Josephy, P.D., 1997, Molecular Toxicology, Oxford University Press, New York, 44-103. Kikuzaki, K., and Nakatani, N., 1993, Antioxidant Effect of Some Ginger Constituents, Journal of Food Sci., 58(6), 1407-1410. Masoko, P., and Eloff, J.N., 2007, Screening of twenty-four South African Combretum and six Terminalia Specieses (Combretaceae) for Antioxidant Activities, African Journal of Traditional, Complementary and Alternative Medicines, 4(2), 231-239.

Naik, G.H., Priyadarsini, K.I, Satav, J.G., Banavalikar, M.M., Sohoni, D.P., Biyani, M.K., and Mohan, H., 2003, Comparative antioxidant activity of indivudual herbal components used in Ajurvedic medicine, Phytochemistry, 63 (1): 97-104 Nihlati, I, Rohman, A, dan Hertiani, T., 2008, Daya Antioksidan Ekstrak Etanol Rimpang Temu Kunci (Boesenbergia pandurata (Roxb) Schletch) dengan Metode Penangkapan Radikal DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil), Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pokorny, J., Yanishlieva, N., and Gordon, M., 2001, Antioxidant in Food: Practical Application, CRC Press Cambridge, New York. Pujimulyani, D., 2003, Pengaruh bleanching terhadap sifat antioksidan sirup kunir putih (Curcuma mangga Val.), Agritech., 23 (3), 137-141. Rohdiana D. 2008. Teh Hitam dan Antioksidan. Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung.. Silalahi, Ruth, M. 2010. Karakterisasi Simplisia, Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol dan Fraksi Bunga Tumbuhan Brokoli ( Brassica oleracea L. var.botrytis L. ). Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Medan. Sinaga, Irma, L.H. 2009. Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas Antioksidan Dari Ekstrak Etanol Buah Terong Belanda ( Solanum betaceum Cav. ). Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Medan. Winarsi, W., 2007, Antioksidan Alami dan Radikal Bebas, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, pp. 1315, 77-81. Witt, S., Lalk, M., Hager, C., dan Voigt, B., 2010, DPPH-Test: Determination of Scavenger Properties, http://www.baltic-analytics.de/index. php?id=7&L=1, diakses tanggal 4 Juni 2012.