Anda di halaman 1dari 25

P age |1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Selama bertahun-tahun terdapat anggapan bahwa sangatlah sulit untuk mendapat kemoterapi antivirus dengan selektifitas yang tinggi. Siklus replikasi virus yang dianggap sangat mirip dengan metabolisme normal manusia menyebabkan setiap usaha untuk menekan reproduksi virus juga dapat membahayakan sel yang terinfeksi. Bersamaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan pengertian yang lebih dalam mengenai tahap-tahap spesifik dalam replikasi virus sebagai target kemoterapi anti virus, semakin jelas bahwa kemoterapi pada infeksi virus dapat dicapai dan reproduksi virus dapat ditekan dengan efek yang minimal pada sel horpes. Perkembangan obat anti virus baik sebagai profilaksis ataupun terapi belum mencapai hasil seperti apa yang diinginkan oleh umat manusia. Berbeda dengan anti mikroba lainya, antiviral yang dapat menghambat atau membunuh virus juga akan dapat merusak sel hospes dimana virus itu berada. Ini karena replikasi virus RNA maupun DNA berlangsung didalam sel hospes dan membutuhkan enzim dan bahan lain dari hospes. Tantangan bagi penelitian ialah bagaimana menemukan suatu obat yang dapat menghambat secara spesifik salah satu proses replikasi virus seperti : peletakan, uncoanting dan replikasi. Analisis biokimiawi dari proses sintesis virus telah membuka tabir bagi terapi yang efektif untuk beberapa infeksi seperti : virus hespes, beberapa virus saluran napas dan human immunodeficiency virus (HIV). Dengan mencuatnya masalah penyakit acquired-immuno-deficiency-syndrom (AIDS) maupun virus lainnya, maka kegiatan penelitian mencari obat anti viral telah mendapat dukungan yang lebih luas dari berbagai pihak baik swasta maupun pemerintah, terutama di Negara maju. Sejumlah obat anti virus dapat dikembangkan didekade 50 dan 60 saat ini memiliki pemamfaatan terbatas. Obat ini adalah idoksuridin, vidarabin dan sitarabin.

P age |2

Obat ini bersifat tidak selektif dalam menghambat replikasi virus sehingga banyak fungsi sel hospes juga dihambat. Toksisitas misalnya supresi sumsum tulang telah menghalangi obat di atas digunakan secara parental kecuali vidarabin. Hanya idoksuridin dan vidarabin yang saat ini masih dapat digunakan secara topikal sebagai obat pilihan kedua dan ketiga pada herpes simplex keratin konjunctifitis. Obat anti virus generasi baru pada umumnya bekerja lebih selektif terutama asiklovir sehingga toksisitasnya lebih rendah. Berdasarkan pemaparan materi diatas maka penulis tertarik untuk membuat makalah yang berjudul Anti Virus.

B. Tujuan

1. Tujuan umum Tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah untuk mengerti dan memahami jenis penyakit anti virus, jenis obat anti virus, hubungan penyakit dan obat anti virus dan proses keperawatannya.

2. Tujuan khusus Tujuan khusus dari penulisan makalah ini adalah : 1. Untuk mengetahui jenis penyakit anti virus 2. Untuk mengetahui jenis obat anti virus 3. Untuk mengetahui hubungan penyakit dan obat anti virus 4. Untuk mengetahui proses keperawatan dari obat-obat anti virus

P age |3

C. Metode penulisan

Metode penulisan makalah ini menggunakan metode deskriftif dengan berbagai sumber buku, buku-buku yang berkaitan dengan materi yang diberikan dan diakses dari internet. Makalah ini terdiri dari beberapa pokok bahasan yang merupakan tugas yang diberikan dosen kepada penulis.

D. Sistematika penulisan

Sistematika penulisan makalah ini yaitu : 1. BAB I PENDAHULUAN Bab I pendahuluan memuat tentang latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.

2. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bab II tinjauan pustaka terdiri atas jenis penyakit anti virus, jenis obat dan hubungan penyakit dan obat-obat anti virus dan proses keperawatan obat-obat anti virus.

3. BAB II PENUTUP Bab II penutup terdiri atas kesimpulan dan saran

4. DAFTAR PUSTAKA Daftar pustaka merupakan kumpulan referensi yang digunakan untuk membuat makalah ini dan merupakan bagian akhir dari makalah.

P age |4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Jenis Penyakit Antivirus a. INFLUENZA Influensa, biasanya dikenali sebagai flu di masyarakat, adalah penyakit menular burung dan mamalia yang disebabkan oleh virus RNA dari famili Orthomyxoviridae (virus influensa). Penyakit ini ditularkan dengan medium udara melalui bersin dari sipenderita. Pada manusia, gejala umum yang terjadi adalah demam, sakit tenggorokan, sakit kepala, hidung tersumbat dan mengeluarkan cairan, batuk, lesu serta rasa tidak enak badan. Dalam kasus yang lebih buruk, influensa juga dapat menyebabkan terjadinya pneumonia, yang dapat mengakibatkan kematian terutama pada anak-anak dan orang berusia lanjut. Masa penularan hingga terserang penyakit ini biasanya adalah 1 sampai 3 hari sejak kontak dengan hewan atau orang yang influensa. Virus influensa cepat sekali bermutasi, sehingga setiap kali para ahli virus harus berusaha menemukan penangkal yang baru. Wabah flu terbesar pertama adalah pandemi flu spanyol (1918). Beberapa tahun yang lalu kita mengenal flu Hong Kong dan pada tahun 2005 merebak flu burung. Semua ini menunjukkan betapa sulitnya usaha penangkalan terhadap penyakit ini.

b. HERPES Herpes zoster (Shingles) adalah suatu penyakit yang membuat sangat nyeri (rasa sakit yang amat sangat). Penyakit ini juga disebabkan oleh virus herpes yang juga mengakibatkan cacar air (virus varisela zoster). Seperti virus herpes yang lain, virus varisela zoster mempunyai tahapan penularan awal (cacar air) yang diikuti oleh suatu tahapan tidak aktif. Kemudian, tanpa alasan virus ini jadi aktif kembali, menjadikan penyakit yang disebut sebagai herpes zoster. Kurang lebih 20% orang yang pernah cacar air lambat laun akan mengembangkan herpes zoster. Keaktifan kembali virus ini kemungkinan akan terjadi pada orang dengan sistem kekebalan

P age |5

yang lemah. Ini termasuk orang dengan penyakit HIV, dan orang di atas usia 50 tahun. Herpes zoster hidup dalam jaringan saraf. Kejangkitan herpes zoster dimulai dengan gatal, mati rasa, kesemutan atau rasa nyeri yang berat pada daerah bentuk tali lebar di dada, punggung, atau hidung dan mata. Walaupun jarang, herpes zoster dapat menular pada saraf wajah dan mata. Ini dapat menyebabkan jangkitan di sekitar mulut, pada wajah, leher dan kulit kepala, dalam dan sekitar telinga, atau pada ujung hidung. Jangkitan herpes zoster hampir selalu terjadi hanya pada satu sisi tubuh. Setelah beberapa hari, ruam muncul pada daerah kulit yang berhubungan dengan saraf yang meradang. Lepuh kecil terbentuk, dan berisi cairan. Kemudian lepuh pecah dan berkeropang. Jika lepuh digaruk, infeksi kulit dapat terjadi. Ini membutuhkan pengobatan dengan antibiotik dan mungkin menimbulkan bekas. Biasanya, ruam hilang dalam beberapa minggu, tetapi kadang-kadang rasa nyeri yang berat dapat bertahan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Kondisi ini disebut neuralgia pascaherpes.

c. HIV HIV (human immunodeficiency virus) adalah sebuah retrovirus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia terutama Sel T CD4+ dan makrofaga, komponen vital dari sistem sistem kekebalan tubuh "tuan rumah" dan menghancurkan atau merusak fungsi mereka. Infeksi dari HIV menyebabkan pengurangan cepat dari sistem kekebalan tubuh, yang menyebabkan kekurangan imun. HIV merupakan penyebab dasar AIDS. HIV berbeda dalam struktur dengan retrovirus yang dijelaskan sebelumnya. Besarnya sekitar 120 nm dalam diameter (seper 120 milyar meter, kira-kira 60 kali lebih kecil dari sel darah merah) dan kasarnya "spherical". HIV menular melalui hubungan kelamin dan hubungan seks oral, atau melalui anus, transfusi darah, penggunaan bersama jarum terkontaminasi melalui injeksi obat dan dalam perawatan kesehatan, dan antara ibu dan bayinya selama masa hamil,

P age |6

kelahiran dan masa menyusui. UNAIDS transmission. Penggunaan pelindung fisik seperti kondom latex dianjurkan untuk mengurangi penularan HIV melalui seks. Belakangan ini, diusulkan bahwa penyunatan dapat mengurangi risiko penyebaran virus HIV, tetapi banyak ahli percaya bahwa hal ini masih terlalu awal untuk merekomendasikan penyunatan lelaki dalam rangka mencegah HIV. Pada akhir tahun 2004 diperkirakan antara 36 hingga 44 juta orang yang hidup dengan HIV, 25 juta di antaranya adalah penduduk sub-Sahara Afrika. Perkiraan jumlah orang yang terinfeksi HIV di seluruh dunia pada tahun 2004 adalah antara 4,3 juta hingga 6,4 juta orang. (AIDS epidemic update December 2004). Di Asia, wabah HIV terutama disebabkan oleh para pengguna obat bius lewat jarum suntik, hubungan seks baik antarpria maupun dengan pekerja seks komersial, dan pelanggannya, serta pasangan seks mereka. Pencegahannya masih kurang memadai.

2. Jenis Obat Antivirus Dan Hubungan Obat Dengan Penyakit

Obat antivirus terdapat dalam empat golongan besar tapi obat anti virus yang akan dibahas dalam dua bagian besar yaitu pembahasan mengenai antinonretrovirus dan antiretrovirus. Klasifikasi pembahasan obat antivirus adalah sebagai berikut: 1. Antinonretrovirus - Antivirus untuk herpes - Antivirus untuk influenza - Antivirus untuk HBV dan HCV 2. Antiretrovirus - Nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NRTI) - Nucleotide reverse transcriptase inhibitor (NtRTI) - Non- Nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI) - Protease inhibitor (PI) - Viral entry inhibitor

P age |7

SENYAWA Asiklovir

MEKANISME KERJA Dimetabolisme menjadi asiklovr menghambat DNA polimerase virus Sama dengan asiklovir Dimetabolisme menjadi gansiklovir menghambat DNA polimerase virus Dimetabolisme menjadi pensiklovir menghambat DNA polimerase virus Sama dengan pensiklovir Menghambat DNA polimerase dan reverse transcriptase pada tempat ikata pirofosfat Mengganggu mRNA virus Hambatan DNA polimerase dan reverse transciptase virus Hambatan kenal ion protein M2 dan modulasi pH intrasel Hambatan kenal ion protein M2 dan modulasi pH intrasel Induksi enzim seluler yang mengganggu sintesis protein virus Induksi enzim seluler yang mengganggu sintesis protein virus Menghentikan perpanjangan rantai DNA virus, dengan cara bergabung pada ujung 3 rantai DNA virus trifosfat, yang trifosfat, yang

Valasiklovir Gansikovir

Pensiklovir

trifosfat

yang

Famsiklovir Foskarnet

Ribavirin Lamivudin Amantadin Rimantadin

Interferon alfa

NRTI

NNRTI

Menghambat HIV-1 reverse transriptase melalui interaksi dengan allosteric pocket site.

Gambar 1. Beberapa contoh antivirus dan mekanisme kerja

P age |8

1. Antinonretrovirus Obat antivirus untuk herpes Obat-obat yang aktif terhadap virus herpes umumnya merupakan antimetabolit yang mengalami bioaktivasi melalui enzim kinase sel hospes atau virus untuk membentuk senyawa yang dapat menghambat DNA polimerase virus. Gambaran mekanisme kerja obat-obat antimetabolit (analog purin dan pirimidin) sebagai anti virus. Asiklovir q Enzim kinase virus q Idoksuridin Sitarabin Vidarabin Zidovudin n Enzim kinase sel hospes p Analog nukleotida q Hambatan terhadap DNA polimerase virus

Gambar 2. Mekanisme kerja analog purin dan pirimidin

P age |9

Gambar 3. Profil farmakokinetik antivirus Herpes Parameter


Bioavailabilitas oral Efek makanan pada AUC t eliminasi (jam) t eliminasi trifosfat (jam) Rasio CSF/plasma (rata-rata) Ikatan protein Metabolisme Ekskresi renal (parent drug) Penyesuaian dosis

Asiklovir
10-30% q(18 % degn. Makanan berat ) 2,5-3 -1

Gansiklovir
<10% o(20%) 2-4 >24

Famsiklovir (Pensiklovir)
65-77% Dapat diabaikan

Foskarnet
9-17% Tidak pasti

Sidofovir
<5% Tidak diketahui

2 7-20

4-8 Tidak diketahui

2-3 17-65

0,5

0,2-0,7

Tidak dapat dipastikan <20% -5% 70%

0,7

Tidak dapat dipastikan

9-33% -15% 60-90%

1-2% Dapat diabaikan > 90%

15% Dapat diabaikan >80%

<6% Dapat diabaikan >80%

CLcr < 50 (IV) CLcr < 25 (PO)

CLcr < 80

CLcr <60

CLcr <58-67

Scr >1,5 mg/dl* CLcr <55*

AUC = area under plasma concentration-time curve; CLcr = klirens kreatinin dalam mL/menit ; Scr = kadar kreatinin serum; q, menurun; o, meningkat; CFS = cerebrospinal fluid. * dikontraindikasi pada gagal ginjal.

P a g e | 10

 ASIKLOVIR Asiklovir [9-(2-hidroksietoksimetilguanin)] merupakan obat sintetik jenis analog nukleosida purin. Sifat antivirus asiklovir terbatas pada kelompok virus herpes. 1. Farmakokinetik Asiklovir bersifat konsisten mengikuti model dua-kompartemen; volume distribusi taraf mantap kira-kira sama dengan volume cairan tubuh. Kadar plasma taraf mantap setelah dosis oral ialah 0,5 ug/ml setelah dosis 200 mg dan 1,3 ug/ml setelah dosis 600 mg. pada pasien dengan fungsi ginjal normal, waktu paruh eliminasi kira-kira 2 jam pada orang dewasa dan 4 jam pada neonatus serta 20 jam pada pasien anuria. Kadar obat juga dapat diukur di saliva, cairan lesi dan secret vagina. Kadar cairan serebrospinal mencapai setengah kadar plasma. Di ASI kadarnya lebih tinggi. Lebih dari 80% dosis obat dieliminasi melalui filtasi glomerulus ginjal dan sebagian kecil melalui sekresi tubuli. Hanya sekitar 15% dosis obat yang diberikan dapat ditemukan kembali di urine sebagai metabolit inaktif.

2. Mekanisme kerja Asiklovir merupakan analog 2-deoksiguanosin. Asiklovir adalah suatu prodrug yang beru memiliki efek antivirus setelah dimetabolisme menjadi asiklovir trifosfat. Langkah yang penting dari proses ini adalah pembentukan asiklovir monofosfat yang dikatalisis oleh timidin kinase pada sel hospes yang terinfeksi oleh virus herpes atau varicella zoster atau oleh fosfotransferase yang dihasilkan oleh sitomegalo virus, kemudian enzim seluler

menambahkan gugus fosfat untuk membentuk asiklovir difosfat dan asiklovir trifosfat. Asiklovir trifosfat menghambat sintesis DNA virus dengan cara kompetisi dengan 2-deoksiguanosin trifosfat dengan substrat DNA polimerase virus. Jika asiklovir (dan bukan 2-deosiguanosin) yang masuk ketahap replikasi DNA virus, sintesis berhenti. Inkorporasi asiklovir

P a g e | 11

monofosfat ke DNA virus bersifat ireversibel karena enzim eksonuklease tidak dapat memperbaikinya. Pada proses ini, DNA polimerase virus menjadi inaktif.

3. Resistensi Resistensi terhadap asiklovir disebabkan oleh mutasi pada gen timidin kinase virus atau pada gen DNA polimerase.

4. Indikasi Infeksi HSV-1 dan HSV-2 baik lokal maupun sistemik (termasuk keratitis herpetik, herpetik ensefalitis, herpes genitalia, herpes neonatal dan herpes labialis) dan infeksi VZV (varisela dan herpes zoster). Karena kepekaan asiklovir terhadap VZV kurang dibandingkan dengan HSV, dosis yang diperlukan untuk terapi kasus varicella dan zoster jauh lebih tinggi dari pada terapi infeksi HSV.
virus RSV Antivirus Asiklovir Pensiklovir Foskanet Vidarabin Gansiklovir Foskarnet VZV Influenza A Asikovir Amantadin Rimantadin NRTI, NtRTI, NNRTI PI Protein virus yang mengalami mutasi, penyebab resistensi Timidin kinase virus; DNA polimerase virus Timidin kinase virus; DNA polimerase virus DNA polimerase virus DNA polimerase virus UL 97 fosfotransferase virus; DNA polimerase virus DNA polimerase virus Timidin kinase virus; DNA polimerase virus Protein M2 (kanal ion) virus Protein M2 (kanal ion) virus Reverse transcriptase virus Reverse transcriptase virus Protease virus

C MV

HIV-1

Gambar 4. Protein virus yang mengalami mutasi, penyebab resistensi terhadap antivirus

P a g e | 12

5. Dosis Untuk herpes genital ialah 5 kali sehari 200 mg tablet, sedangkan untuk herpes zoster ialah 4 kali sehari 400 mg. Penggunaan topikal untuk keratitis herpetik adalah dalam bentuk krim ophthalmic 30 % dank rim 5 % untuk herpes labialis. Untuk herpes ensefalitis, HSV berat lainnya dan infeksi VZV digunakan asiklovir intravena 30 mg/kg BB perhari.

6. Efek samping Asiklovir pada umumnya dapat ditoleransi dengan baik. Asiklovir topikal dalam pembawa polietilen glikol dapat menyebabkan iritasi mukosa dan rasa terbakar dan sifatnya sementara jika dipakai pada luka genitalia. Asiklovir oral, walaupun jarang dapat menyebabkan mual, diare, ruam dan sakit kepala; dan sangat jarang dapat menyebabkan insufiensi renal dan neurotoksitas.

 VALASIKLOVIR Valaksiklovir merupakan ester L-valil dari asiklovir dan hanya terdapat dalam formulasi oral. Setelah ditelan, vasiklovir dengan cepat diubah menjadi asiklovir melalui enzim valasiklovir hidrolase di saluran cerna dan di hati.

1. Farmakokinetik Bioavailabilitas oralnya 3 hingga 5 kali asiklovir (54%) dan waktu paruh eliminasinya 2-3 jam, waktu paruh intraselnya 1-2 jam. Kurang dari 1% dari dosis valasiklovir ditemukan di urine selebihnya dieliminasi sebagai asiklovir.

2. Mekanisme kerja dan resistensi Sama dengan asiklovir

P a g e | 13

3. Indikasi Valasiklovir terbukti efektif dalam terapi infeksi yang disebabkan oleh virus herpes simpleks, virus varicella-zoster dan sebagai profilaksis terhadap penyakit yang disebabkan sitomegalovirus.

4. Sediaan dan dosis Untuk herpes genital per oral 2 kali sehari 500 mg tablet selama 10 hari. Untuk herpes zoster 3 kali sehari 2 tablet 500 mg selama 7 hari.

5. Efek samping Sama dengan asiklovir. Pernah terdapat laporan valasiklovir

menyebabkan mikroangiopati trombolik pada pasien imunosupresi yang menerima beberapa macam obat.

 GANSIKLOVIR Gansiklovir berbeda dari asiklovir dengan adanya penambahan gugus hidroksimetil pada posisi 3 rantai samping asikliknya. Metabolisme dan dan mekanisme kerjanya sama denga asiklovir. Yang sedikit berbeda adalah pada gansiklovir terdapat karbon 3 dengan gugus hidroksil, sehingga masih memungkinkan adanya perpanjangan primer dengan template, jadi gansiklovir bukanlah DNA chain terminator yang absolute seperti asiklovir.

1. Farmakokinetik Bioavailabilitas oral sangat rendah sehingga gansiklovir diberikan melalui infus intravena. Obat ini tersebar luas keberbagai jaringan termasuk otak. Kadar di plasma mencapai diatas kadar hambat minimum (KHM) untuk isolat CMV yakni 0,02-3,0 ug/ml. Waktu paruh berkisar antara 3-4 jam tetapi menjadi sekitar 30 jam pada penderita gagal ginjal yang hebat.

P a g e | 14

Penelitian pada hewan memperlihatkan bahwa gansiklovir dieksresi melalui ginjal dalam bentuk utuh.

2. Mekanisme kerja Gansiklovir diubah menjadi gansiklovir monofosfat oleh enzim

fosfotransferase yang dihasilkan sel yang terinfeksi sitomegalovirus. Gansiklovir monofosfat merupakan fosfotransferase yang lebih baik dibandingkan dengan asiklovir. Waktu paruh eliminasi gansiklovir trifosfat sedikitnya 12 jam, sedangkan asiklovir hanya 1-2 jam. Perbedaan inilah yang menjelaskan mengapa asiklovir lebih superior dibandingkan dengan asiklovir untuk terapi penyakit yang disebabkan oleh sitomegalovirus.

3. Resistensi Sitomegalovirus dapat menjadi resisten terhadap gansiklovir oleh salah satu dari dua mekanisme. Penurunan fosforilasi gansiklovir karena mutasi pada fosfotransferase virus yang dikode oleh gen UL97 atau karena mutasi pada DNA polimerase virus. Varian virus yang sangat resisten pada gansiklovir disebabkan karena mutasi pada keduanya (gen UL97 dan DNA polimerase) dan dapat terjadi resistensi silang terhadap sidofovir atau foskarnet.

4. Indikasi Infeksi CMV, terutama CMV retinitis pada pasien immunocompromised (misalnya : AIDS), baik untuk terapi dan pencegahan.

5. Sediaan dan dosis Untuk induksi diberikan IV10 mg/kg per hari (2x5 mg/kg, setiap 12 jam) selama 14-21 hari, dilanjutkan dengan pemberian maintenance per oral 3000 mg per hari (3 kali sehari 4 kapsul @ 250 mg). implantasi intraocular (intravitreal) 4,5 mg gansiklovir sebagai terapi lokal CMV retinitis.

P a g e | 15

6. Efek samping Mielosupresi dapat terjadi pada terapi dengan gansiklovir. Neutropenia terjadi pada 15-40% pasien dan trombositopenia terjadi pada 5-20%. Zidovudin dan obat sitotoksik lain dapat meningkatkan resiko

mielotoksisitas gansiklovir. Obat-obat nefrotoksik dapat mengganggu ekskresi gansiklovir. Probenesid dan asiklovir dapat mengurangi klirens renal gansiklovir. Recombinant colonystimulating factor (G-CSF; filgastrim, lenogastrim) dapat menolong dalam penanganan neutropenia yang

disebabkan oleh gansiklovir.

 VALGANSIKLOVIR Valgansiklovir merupakan ester L-valine dari gansiklovir

1. Mekanisme kerja dan resistensi Sama dengan gansiklovir

2. Indikasi Infeksi CMV, valgansiklovir oral merupakan sediaan yang diharapkan dapat menggantikan gansiklovir IV dalam terapi dan pencegahan infeksi dan CMV.

3. Dosis Untuk induksi diberikan per oral 2 x 900 mg per hari (2 tablet 450 mg per hari) selama 21 hari, dilanjutkan dengan terapi maintenance 1 x 900 mg/hari. Dosis harus dikurangi pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal.

4. Efek samping Sama dengan gansiklovir. Laporan Efek samping lain yang terjadi dengan terapi valgansiklovir adalah sakit kepala dan gangguan gastrointestinal.

P a g e | 16

 PENSIKLOVIR Struktur kimia pensiklovir mirip dengan gansiklovir. Metabolism dan mekanisme kerjanya sama dengan asiklovir, namum perbedaannya pensiklovir bukan DNA chain terminator obligat.

1. Mekanisme kerja Pada prinsipnya sama dengan asiklovir.

2. Resistensi Resistensi terhadap pensiklovir disebabkan oleh mutasi pada timidin kinase atau DNA polimerase virus. Kejadian resistensi selama pemakaian klinis sangat jarang. Virus herpes yang resisten terhadap asiklovir juga resisten terhadap pensiklovir.

3. Indikasi Infeksi herpes simpleks mokokutan, khususnya herpes labialis rekuren (cold sores).

4. Dosis Diberikan secara topikal dalam bentuk 1% krim.

5. Efek samping Reaksi lokal pada tempat aplikasi, namun jarang terjadi.

P a g e | 17

2. Antiretrovirus

NUCLEOSIDE REVERSE TRANSCRIPTASE INHIBITOR ( NRTI ) Reverse transkripstase (RT ) mengubah RNA virus menjadi DNA proviral sebelum bergabung dengan kromosom hospes. Karena antivirus golongan ini bekerja pada tahap awal replikasi HIV, obat obat golongan ini menghambat terjadinya infeksi akut sel yang rentan, tapi hanya sedikit berefek pada sel yang telah terinfeksi HIV. Untuk dapat bekerja, semua obat golongan NRTI harus mengalami fosforilasi oleh enzim sel hospes di sitoplasma. Yang termasuk komplikasi oleh obat obat ini adalah asidosilaktat dan hepatomegali berat dengan steatosis.

 ZIDOVUDIN 1. Farmakokinetik Obat mudah diabsorpsi setelah pemasukan oral dan jika diminum bersama makanan, kadar puncak lebih lambat, tetapi jumlah total obat yang diabsorpsi tidak terpengaruh. Penetrasi melewati sawar otak darah sangat baik dan obat mempunyai waktu paruh 1jam. Sebagian besar AZT mengalami glukuronidasi dalam hati dan kemudian dikeluarkan dalam urine.

2. Mekanisme kerja Target zidovudin adalah enzim reverse transcriptase (RT) HIV. Zidovudin bekerja dengan cara menghambat enzim reverse transcriptase virus, setelah gugus asidotimidin (AZT) pada zidovudin mengalami fosforilasi. Gugus AZT 5- mono fosfat akan bergabung pada ujung 3 rantai DNA virus dan menghambat reaksi reverse transcriptase. 3. Resistensi Resistensi terhadap zidovudin disebabkan oleh mutasi pada enzim reverse transcriptase. Terdapat laporan resisitensi silang dengan analog nukleosida lainnya. Resistensi : 3. Spektrum aktivitas : HIV(1&2)

P a g e | 18

4. Indikasi Infeksi HIV, dalam kombinasi dengan anti HIV lainnya(seperti lamivudin dan abakafir).

5. Dosis Zidovudin tersedia dalam bentuk kapsul 100 mg, tablet 300 mg dan sirup 5 mg /5ml disi peroral 600 mg / hari.

6. Efek samping Anemia, neotropenia, sakit kepala, mual.

 DIDANOSIN 1. farmakokinetik Karena sifat asamnya, didanosin diberikan sebagai tablet kunyah, buffer atau dalam larutan buffer. Absorpsi cukup baik jika diminum dalam keadaan puasa; makanan menyebabkan absorpsi kurang. Obat masuk system saraf pusat tetapi kurang dari AZT. Sekitar 55% obat diekskresi dalam urin.

2. Mekanisme kerja Obat ini bekerja pada HIV RT dengan cara menghentikan pembentukan rantai DNA virus. 3. Resistensi Resistensi terhadap didanosin disebabkan oleh mutasi pada reverse transcriptase. Spektrum aktivitas : HIV (1 & 2)

4. Indikasi Infeksi HIV, terutama infeksi HIV tingkat lanjut, dalam kombinasi anti HIV lainnya.

P a g e | 19

5. Dosis Tablet & kapsul salut enteric peroral 400 mg / hari dalam dosis tunngal atau terbagi.

6. Efek samping Diare, pancreatitis, neuripati perifer.

 ZALSITABIN 1. Farmakokinetik Zalsitabin mudah diabsorpsi oral, tetapi makanan atau MALOX TC akan menghambat absorpsi didistribusi obat ke seluruh tubuh tetapi penetrasi ke SSP lebih rendah dari yang diperoleh dari AZT. Sebagai obat dimetabolisme menjadi DITEOKSIURIDIN yang inaktif. Urin adalah jalan ekskresi utama meskipun eliminasi pekal bersama metabolitnya. 2. Mekanisme kerja Obat ini bekerja pada HIV RT dengan cara menghentikan pembentukan rantai DNA virus. 3. Resistensi Resistensi terhadap zalsitabin disebakan oleh mutasi pada reverse transcriptase. Dilaporkan ada resisitensi silang dengan lamivudin. Spektrum aktivitas : HIV (1 & 2).

4. Indikasi Infeksi HIV, terutama pada pasien HIV dewasa tingkat lanjut yang tidak responsive terhadap zidovudin dalam kombinasi dengan anti HIV lainnya (bukan zidanudin).

P a g e | 20

5. Dosis Diberikan peroral 2,25 mg / hari(1 tablet 0,75 mg tiap 8 jam).

6. Efek samping Neuropati perifer, stomatitis, ruam dan pancreatitis.

 STAVUDIN

1. Farmakokinetik Stavudin adalah analog timidin dengan ikatan rangkap antara karbon 2 dan 3 dari gula.Stavudin harus diubah oleh kinase intraselular menjadi triposfat yang menghambat transcriptase reverse dan menghentikan rantai DNA.

2. Mekanisme kerja Obat ini bekerja pada HIV RT dengan cara menghentikan pembentukkan rantai DNA virus.

3. Resistensi Disebabkan oleh mutasi pada RT kodon 75 dan kodon 50. Spektrum aktivitas : HIV tipe 1 dan 2.

4. Indikasi Infeksi HIV terutama HIV tingkat lanjut, dikombinasikan dengan antiHIV lainnya. 5. Dosis Per oral 80 mg/hari (1 kapsul 40 mg, setiap 12 jam).

P a g e | 21

6. Efek samping Neuropati periver, sakit kepala, mual, ruam.

 LAMIVUDIN 1. Farmakoinetik Ketersediaan hayati lamivudin per oral cukup baik dan bergantung pada ekskresi ginjal.

2. Mekanisme kerja Obat ini bekerja pada HIV RT dan HBV RT dengan cara menghentikan pembentukan rantai DNA virus.

3. Resistensi Disebabkan pada RT kodon 184. Terdapat laporan adanya resistensi silang dengan didanosin dan zalsitabin.

4. Indikasi Infeksi HIV dan HBV, untuk infeksi HIV, dalam kombinasi dengan anti HIV lainnya (seperti zidovudin,abakavir).

5. Dosis Per oral 300 mg/ hari ( 1 tablet 150 mg, 2x sehari atau 1 tablet 300 mg 1x sehari ). Untuk terapi HIV lamivudin, dapat dikombinasikan dengan zidovudin atau abakavir.

6. Efek samping Sakit kepala dan mual.

P a g e | 22

3. Proses Keperawatan Dari Obat-Obat Anti Virus

1. Pengakajian y Dapatkan tanda-tanda vital dasar dan hitung sel darah lengkap dari klien. Pergunakan ini untuk perbandingan dengan hasil yang akan datang. y Kaji klien akan adanya tanda-tanda dan gejala-gejala dari reaksi terhadap obat-obat antivirus tertentu.

2.

Perencanaan y Gejala-gejala infeksi virus akan hilang atau mereda, tergantung dari virusnya.

3. Intervensi keperawatan y Pantau hitung sel darah lengkap klien. Laporkan hasil yang abnormal, seperti lekopenia, trombositopenia dan hemoglobin yang rendah. y Pantau keluaran urine klien. Asiklovir dapat mempengaruhi fungsi ginjal. y Pantau tekanan darah klien. Asiklovir dan amantadin dapat mengakibatkan hipotensi ortostatik.

4. Penyuluhan kepada klien y Beritahu klien untuk melaporkan reaksi yang merugikan kepada dokter, termasuk berkurangnya keluaran urinee dan perubahan-perubahan pada system saraf pusat, seperti pusing, cemas atau bingung. y Beritahu klien yang mengalami rasa pusing akibat hipotensi ostostatik untuk bangkit dengan perlahan-lahan dari posisi duduk ke posisi berdiri. y Nasehatkan klien untuk menjaga masukan cairan yang memadai untuk memastikan hidrasi yang memadai untuk terapi obat dan untuk mengingkatkan keluaran urine.

P a g e | 23

y Beritahu klien yang menderita herpes genital untuk menghidari penyebaran infeksi dengan berpuasa seksual atau dengan menggunakan kondom. Nasehatkan wanita yang menderita herpes untuk melakukan tes Pap setiap 6 bulan atau sesuai petunjuk dokter. Kanker serviks lebih sering terjadi pada wanita penderita herpes simpleks. y Beritahu klien yang memakai zidovudin untuk memantau jumlah sel darahnya.

5. Evaluasi y Tentukan efektifitas obat antivirus dalam menghilangkan atau dalam mengurangi gejala-gejala.

P a g e | 24

BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan Kesimpulan dari makalah ini adalah obat-obat antivirus dipakai untuk membasmi, mencegah atau menghambat penyebaran infeksi virus. Virus bereplikasi sendiri dalam beberapa tahap. Tujuan dari obat-obat antivirus adalah untuk mencegah replikasi virus dengan menghambat salah satu dari tahap-tahap tersebut, sehingga dengan demikian menghambat virus untuk bereproduksi. Kelompok obat-obat ini efektif untuk melawan influenza, spesien herpes, human immunodeficiency virus (HIV).

2. Saran Dengan selesainya makalah ini maka saya selaku penulis akan memberikan saran berupa : 1. Bagi perawat dalam melakukan proses keperawatan pada obat antivirus harus lebih teliti dan memahami setiap jenis obat antivirus agar tidak terjadi kesalahan atau maalpraktek. 2. Bagi pembaca semoga makalah ini berguna untuk mempelajari dan mendalami materi antivirus.

P a g e | 25

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2009. Obat-Obatan Antivirus. http://blog.spot.co.id.obat-obatan antivirus //dokumenhtml diakses Sabtu, 23 oktober 2010 Anonim, 2009. Farmakologi dan terapi obat antivirus. diakses

http://blog.rileks.com.//farmakologi-dan-terapi/obat//antivirus Sabtu, 23 oktober 2010.

Gunawan, Suilistia Gan. Dkk. 2007. edisi 5. Farmakologi dan Terapi. Jakarta; Gaya baru Gunawan, Suilistia Gan. Dkk. 1995. edisi 4. Farmakologi dan Terapi. Jakarta ; Gaya baru Kee, Joyce L dan Hayes, Evelyn R. 1996. Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta ; EGC Drs.Tan Hoan Tjay dan Drs. Kirana Rahardja. 2007. Obat-obat Penting ed. 6 depkes RI. Jakarta. Mary J. Mycek, Ph.D. dkk. 1995. Ed. 2. Farmakologi Ulasan bergambar. Jakarta; EGC