Anda di halaman 1dari 130

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.

com

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Globalisasi membawa dampak yang besar terhadap perekonomian Indonesia, secara khusus pada industri perbankan nasional. Bank-bank asing dan campuran dengan gencar menarik dana dari masyarakat melalui penawaran produk-produk keuangan yang bervariasi dengan pengelolaan yang dianggap lebih baik. Dua bank asing yang beroperasi di Indonesia bahkan mampu masuk dalam peringkat 15 besar penghimpunan dana pihak ketiga terbanyak (Direktori Perbankan Indonesia, 2006). Hal ini menunjukkan semakin ketatnya persaingan antara bank-bank umum domestik dengan bank asing maupun campuran Untuk menghadapi gempuran bank asing dan campuran tersebut, bank-bank di Indonesia perlu meningkatkan daya saingnya. Daya saing dapat diperoleh dengan melakukan manajemen biaya (cost management) yang menurut Ernst dan Whinney (1987) terdiri dari beberapa strategi yaitu pengurangan biaya (expense reduction), efisiensi operasi (operating efficiencies), peningkatan pendapatan (revenue

enhancement), dan pertumbuhan kontribusi (contribution growth). Secara khusus, menurut Timoth Koch (1997), strategi efisiensi operasi (operating efficiencies) dapat dicapai dengan berbagai cara yaitu: Pertama, menurunkan biaya tetapi mempertahankan jumlah produk dan jasa. Hal ini umumnya meliputi mengurangi pekerja sambil meningkatkan tingkat kerja yang dibutuhkan untuk mempertahankan output, sehingga lebih sedikit orang dapat melakukan pekerjaan yang sama atau lebih. Kedua, 1

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com meningkatkan tingkat output tetapi mempertahankan tingkat pengeluaran. Hal ini mencakup masalah economies of scale dan economies of scope, yang dilakukan dengan meningkatkan output atau menambah/mempertahankan jenis produk. Ketiga,

memperbaiki alur kerja (improving work flow). Hal ini meliputi meningkatkan produktivitas dengan mempercepat tingkat pekerjaan atau fungsi dilakukan. Caranya misalkan menghilangkan waktu pemeriksaan yang berlebihan (redundant reviews of task) untuk mempersingkat waktu dalam menyelesaikan pekerjaan. Adapun dalam dunia perbankan, operating efficiency ratio sering didefinisikan sebagai sebagai total operating expenses dibagi total operating revenues (Rose, 1996). Untuk memilih salah satu atau beberapa cara di antara ketiga langkah efisiensi operasi diatas, beberapa indikator telah dikembangkan selama dekade belakangan ini, yaitu economies of scale, economies of scope, dan technical change. Ketiga indikator tersebut berguna untuk menunjukkan nature/ sifat fungsi biaya perusahaan dan potensipotensi peningkatan (improvement) yang dapat dilakukan perusahaan untuk

meningkatkan efisiensi operasinya. Dari sudut pandang biaya, economies of scale dikatakan terjadi apabila tambahan tiap unit output menyebabkan penurunan biaya rata-rata sehingga dapat menurunkan total biaya (Yu, 2003). Dari sudut pandang produksi, economies of scale terjadi apabila kenaikan input sebesar dua kali lipat diikuti oleh kenaikan output yang lebih besar dari dua kali lipat (Pindyck dan Rubinfield, 1995). Adapun economies of scope terjadi apabila produksi dari sejumlah m jenis produk oleh satu perusahaan mengeluarkan biaya yang lebih sedikit daripada memproduksi sejumlah produk yang sama oleh sejumlah m perusahaan, dimana tiap perusahaan

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com berspesialisasi pada satu produk. Dengan kata lain, dengan adanya economies of scope perusahaan mampu memanfaatkan skala perusahaannya untuk menghasilkan berbagai jenis output bersamaan secara lebih efisien dibandingkan apabila sejumlah output yang sama dihasilkan oleh beberapa buah perusahaan dalam skala serupa yang menghasilkan tiap-tiap output secara terspesialisasi. Sedangkan technical change/progress merupakan peningkatan teknologi maupun kemampuan manajemen untuk mengelola inputnya dalam suatu proses produksi secara efektif dan efisien. Dalam hal ini, technical progress sering digambarkan sebagai peningkatan fungsi produksi, dimana untuk input tertentu dapat dihasilkan output yang lebih banyak, atau kemampuan menghasilkan output tertentu dengan jumlah input yang lebih sedikit maupun biaya yang lebih murah. Ketiga indikator tersebut, economies of scale, economies of scope dan technical change penting diketahui untuk mempertimbangkan langkah-langkah strategis yang perlu dilakukan bank untuk meningkatkan efisiensi operasinya. Dengan mengetahui secara jelas tingkat scale dan scope economies, serta technical change, pemerintah dapat merancang kebijakan untuk memacu perbankan nasional agar bergerak dengan lebih efisien, lebih menguntungkan, dan lebih kompetitif. Koch & MacDonald (2000: 902) dalam Kuncoro (2002) menyebutkan bahwa economies of scale dan scope dapat memberikan beberapa keuntungan pada bank. Pertama, Skala, keanekaragaman produk (produk diversity), identifikasi merek, yang dapat menghasilkan manfaat melalui penjualan produk dalam jumlah dan variasi yang lebih banyak kepada pelanggan. Kedua, pengurangan biaya tetap yang diperlukan untuk identifikasi merek, distribusi aneka macam produk dan jasa, dan kebutuhan pengeluaran

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com yang besar untuk membiayai teknologi yang diperlukan. Ketiga, meningkatkan leverage operasional yang dihasilkan dengan cara berbagi biaya overhead dari sumber operasional dan pendapatan yang lebih besar. Keempat, mengurangi risiko penghasilan, yang bisa memperbesar nilai suatu usaha dengan cara menciptakan produk-produk dan sumber pendapatan yang lebih variatif. Dalam rangka memperkuat fundamental industri perbankan, Bank Indonesia mulai tahun 2004 mengimplementasikan Arsitektur Perbankan Indonesia (API) yang merupakan suatu kerangka dasar pengembangan sistem perbankan Indonesia yang bersifat menyeluruh untuk rentang waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan semenjak berlakunya (Siaran Pers No.6/6/Bgub/Humas Bank Indonesia). Adapun arah kebijakan pengembangan industri perbankan di masa datang tersebut perlu dilandasi oleh visi mencapai suatu sistem perbankan yang sehat, kuat dan efisien guna menciptakan kestabilan sistem keuangan dalam rangka membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional (Burhanudin Abdullah, 2004). Untuk mencapai visi Arsitektur Perbankan Indonesia tersebut, Bank Indonesia menetapkan 6 sasaran pokok yang ingin dicapai atau sering disebut 6 pilar penunjang API. Salah satu sasaran yang ingin dicapai adalah menciptakan struktur perbankan domestik yang sehat dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan mendorong pembangunan ekonomi nasional yang berkesinambungan. Seiring perjalanan waktu, disadari bahwa perkembangan perbankan secara global juga menuntut adanya penyesuaian terhadap program-program API agar pada waktunya nanti industri perbankan nasional mampu bersaing pada tataran internasional dengan sumber daya

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com manusia yang unggul, teknologi informasi yang memadai dan infrastruktur pendukung yang cukup. Dengan program penguatan struktur perbankan nasional tersebut, diharapkan dalam kurun waktu 10-15 tahun ke depan dapat terbentuk struktur perbankan nasional sebagai berikut:

Gambar 1.1 Struktur Perbankan Indonesia sesuai Visi API

Permodalan Rp. triliun

Bank Internasional 50

Bank Nasional 10 Bank dengan fokus

Daerah 0.1

Korporasi

Ritel

Lainnya

BPR

Bank dengan kegiatan usaha terbatas

Sumber: Booklet Perbankan Indonesia 2006

Dalam hal ini diharapkan untuk 10-15 tahun ke depan, Industri perbankan Indonesia akan memiliki bank dengan skala internasional (aset Rp. 1000 triliun dan modal > Rp.50 triliun) sebanyak 2-3 buah. Perbankan nasional juga akan memiliki bank

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com dengan skala nasional (aset Rp.200 triliun dan modal Rp. 10-50 triliun) sebanyak 3-5 buah. Bank-bank fokus seperti bank daerah, korporasi, ritel, dll (modal Rp.100 milyar 10 triliun) diharapkan akan berjumlah sebanyak 30-50 bank. Perbankan nasional juga perlu ditopang oleh kehadiran Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dengan modal yang minimal mencapai Rp. 100 milyar. Untuk mencapai struktur tersebut, Bank Indonesia mendorong diadakannya konsolidasi yang bertujuan sebagai berikut: Pertama, memperkuat kelembagaan perbankan melalui penguatan modal yang sepadan dengan kebutuhan investasi untuk menjawab tantangan ke depan. Kedua, mendorong perbankan untuk melakukan persiapan yang lebih matang dalam bidang teknologi informasi, kualitas sumber daya manusia, dan praktik standard manajemen resiko, sehingga pada tahun 2011, bank dapat beroperasi sesuai dengan strata bank yang dipilih sebagaimana rekomendasi API. Ketiga, mendorong perbankan untuk memiliki daya saing yang tinggi sehingga mampu mendukung pertumbuhan ekonomi minimum per tahun dan menghadapi globalisasi serta tantangan eksternal yang semakin kompleks (Booklet Perbankan Indonesia, 2006). Seiring dengan itu, Bank Indonesia juga mengevaluasi tiap bank secara berkala untuk menetapkan bank-bank yang memenuhi kriteria bank yang berkinerja baik (BKB) dan Bank Jangkar. Adapun pengertian Bank Kinerja Baik (BKB) adalah bank-bank yang memenuhi kriteria selama 2004-2006 sebagai berikut: Pertama, memiliki modal inti lebih besar dari Rp. 100 miliar; Kedua, memiliki tingkat kesehatan secara keseluruhan tergolong sehat (sekurang-kurangnya peringkat komposit 2) dengan faktor manajemen tergolong baik; Ketiga, memiliki rasio kewajiban pemenuhan modal minimum (CAR) sebesar 10%; Keempat memiliki tata kelola (governance) dengan rating yang baik.

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Bank-bank kinerja baik (BKB) berpotensi untuk menjadi bank jangkar apabila memenuhi kriteria sebagai berikut: Pertama, bank memiliki kapasitas untuk tumbuh dan berkembang dengan baik, didukung permodalan yang kuat dan stabil serta memiliki kemampuan mengabsorbsi risiko dan mendukung kegiatan usaha. Hal ini tercermin dari minimum CAR 12% dan rasio modal inti (Tier 1) /ATMR minimum 6%; Kedua, Bank juga memiliki kemampuan untuk tumbuh secara berkesinambungan yang tercermin dari profitabilitas yang baik. Hal ini tercermin dari rasio Return on Asset (ROA) minimal 1,5%. Ketiga, Bank berperan dalam mendukung fungsi intermediasi perbankan guna mendorong pembangunan ekonomi nasional yang tercermin dari pertumbuhan ekspansi kredit sesuai dengan prinsip kehati-hatian. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit secara riil minimum 22% per tahun atau LDR minimum 50% dan rasio non-performing loan di bawah 5% (net). Keempat, bank telah menjadi perusahaan terbuka atau memiliki rencana untuk menjadi perusahaan terbuka dalam waktu dekat. Kelima, bank memiliki kemampuan dan kapasitas untuk menjadi konsolidator dengan tetap memenuhi kriteria sebagai BKB. Menurut Ryan Kiryanto (2004), konsep API tentang struktur perbankan, kewajiban modal minimum Rp 100 miliar, kriteria bank kinerja baik dan bank jangkar akan membawa konsekuensi bagi perbankan. Pertama, akan terjadi merger alamiah antarbank untuk memperbesar modal bank. Kedua, akan masuk investor atau pemilik baru yang mampu menambah modal bank dengan konsekuensi masuknya investor asing. Ketiga, akan terjadi proses akuisisi oleh bank bermodal besar terhadap bank bermodal pas-pasan. Keempat, akan terjadi likuidasi alamiah (self liquidation) apabila bank tidak mampu memenuhi ketentuan modal minimum.

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Melihat konsekuensi tersebut, upaya Bank Indonesia untuk memperkuat struktur industri perbankan nasional perlu ditunjang dengan mendorong tercapainya skala yang efisien (economies of scale) dari bank-bank komersial. Bank yang memiliki skala/kapasitas yang baik (asset yang cukup dan sehat) dan manajemen yang baik perlu diberikan kesempatan untuk semakin meningkatkan outputnya dengan berperan sebagai konsolidator bagi bank lainnya. Sedangkan bank-bank yang tidak memiliki skala efisien yang cukup (diseconomies of scale dan diseconomies of scope) dan tingkat technical recess yang relatif terlalu besar perlu ditunda untuk menjadi konsolidator dan berdiversifikasi dan berfokus pada perbaikan internal perusahaan. Hal ini disebabkan karena dalam keadaan demikian, merger dan akuisisi maupun diversifikasi malah berpotensi untuk meningkatkan biaya operasi dan menyebabkan kemunduran daya saing bank-bank tersebut. Bank-bank yang memiliki diseconomies of scale dan scope maupun technical recess yang relatif terlalu besar berpeluang untuk mengalami economies of scale dan scope serta technical progress dengan menata ulang manajemennya. Dalam situasi economies of scale dan scope-lah, suatu bank komersial hendaknya didorong untuk menjadi konsolidator dengan melakukan merger dan akuisisi (M&A) maupun melakukan diversifikasi lebih jauh. Menyadari hal di atas, diperlukan suatu penelitian yang berfokus pada scale dan scope economies, serta technical change. Secara khusus di Indonesia, penelitian semacam itu sangat dibutuhkan oleh industri perbankan yang sedang mengalami restukturisasi secara cepat. Penelitian demikian dapat berguna untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar scale dan scope economies, dan technical change untuk

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com menilai kelayakan bank-bank komersial besar di Indonesia dalam melakukan ekspansi perusahaan maupun diversifikasi secara efisien.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang muncul dalam penelitian ini adalah: 1. Apakah bank-bank umum swasta devisa besar memiliki economies of scale? 2. Apakah bank-bank umum swasta devisa besar di Indonesia memiliki economies of scope? 3. Apakah bank-bank umum swasta devisa besar di Indonesia mengalami technical progress?

C. Tujuan Penelitian

Perbankan nasional khususnya bank-bank umum swasta devisa telah menghadapi kompetisi yang ketat dari bank-bank asing beberapa tahun belakangan. Oleh sebab itu, bank-bank umum swasta devisa di Indonesia diharapkan dapat meningkatkan daya saingnya. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah meningkatkan efisiensi operasi (operating efficiencies) . Hal ini dapat dilaksanakan melalui beberapa cara yaitu Pertama, menurunkan biaya tetapi mempertahankan jumlah produk dan jasa. Hal ini umumnya meliputi mengurangi pekerja sambil meningkatkan tingkat kerja yang dibutuhkan untuk mempertahankan output, sehingga lebih sedikit orang dapat melakukan pekerjaan yang

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com sama atau lebih. Kedua, meningkatkan tingkat output tetapi mempertahankan tingkat pengeluaran. Hal ini mencakup masalah economies of scale dan economies of scope, yang dilakukan dengan meningkatkan output atau menambah/mempertahankan jenis produk. Ketiga, memperbaiki alur kerja (improving work flow). Hal ini meliputi meningkatkan produktivitas dengan mempercepat tingkat pekerjaan atau fungsi dilakukan. Caranya misalkan menghilangkan waktu pemeriksaan yang berlebihan (redundant reviews of task) untuk mempersingkat waktu dalam menyelesaikan pekerjaan.. Agar bank-bank umum swasta devisa dapat mengambil keputusan yang benar dalam peningkatan efisiensi operasinya, diperlukan pemahaman yang jelas akan tingkat scale dan scope economies, maupun technical change yang telah dimiliki sebelumnya. Penelitian ini dimaksudkan untuk memberi penjelasan akan nature dari fungsi biaya bank-bank umum di Indonesia, secara khusus bank umum swasta devisa besar. Melalui pemodelan fungsi biaya bank-bank tersebut, dapat dicari tingkat scale dan scope economies serta technical progress yang telah dicapai. Hal ini dapat membantu pengambil kebijakan nasional maupun praktisi perbankan untuk mengambil keputusankeputusan yang berhubungan dengan peningkatan efisiensi operasi Mengingat dan menimbang hal di atas, maka penelitian ini ditujukan untuk 1. menjelaskan keadaan economies of scale yang dialami bank-bank umum swasta devisa besar selama periode 2004:1 hingga 2006:12 2. menjelaskan keadaan economies of scope yang dialami bank-bank umum swasta devisa besar selama periode 2004:1 hingga 2006:12 3. menjelaskan keadaan technical change yang dialami bank-bank umum swasta devisa besar selama periode 2004:1 hingga 2006:12 serta menganalisa hasil-

10

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com hasilnya untuk memilih upaya peningkatan efisiensi operasi (operating efficiencies) bank-bank tersebut.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini dapat bermanfaat secara langsung maupun tidak langsung untuk: 1. Bagi pengambil kebijakan di sektor perbankan, hasil penelitian ini berguna untuk memberikan gambaran tentang kondisi economies of scale, economies of scope, serta technical change yang dimiliki bank-bank umum swasta devisa besar Indonesia. 2. Bagi akademisi, penelitian ini dapat menjadi dasar dalam melakukan penelitian empiris lebih lanjut berkenaan dengan struktur biaya perbankan maupun scale dan scope economies, serta technical change dalam industri perbankan. 3. bagi penulis, penelitian ini menjadi sarana untuk mengintegrasikan ilmu-ilmu yang telah didapat dalam masa perkuliahan, serta mengembangkan daya pikir dan kreatifitas dalam menganalisis suatu fenomena ilmiah.

E. Metodologi Penelitian dan Data 1. Model dan Data Penelitian ini dimulai dengan studi literatur yang ekstensif menyangkut economies of scale, economies of scope dan technical change. Artikel-artikel yang relevan dikumpulkan dari perpustakaan dan internet. Secara umum, sumber-sumber yang

11

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com digunakan dalam penulisan ini berasal dari jurnal-jurnal ekonomi internasional maupun regional. Dalam proses tersebut, ditemukan paper yang menjadi referensi utama dalam penentuan model penelitian ini, yaitu model fungsi biaya yang dibentuk oleh Murray dan White (1983). Setelah melakukan studi literature, tahap kedua dilakukan dengan mengumpulkan data. Penelitian ini menggunakan data sekunder bulanan dari Direktori Perbankan Bank Indonesia edisi cetak maupun web dari (www.bi.go.id) selama kurun waktu (2004:12006:12). Pemilihan tahun 2004 sebagai waktu dimulainya penelitian, dikarenakan periode tersebut dianggap lebih stabil dari periode-periode sebelumnya yang masih turbulen karena dampak krisis moneter, dimana banyak bank-bank umum dibatasi kegiatan usahanya bahkan dibekukan. Selain itu, pada periode tersebut pemerintah membentuk tim khusus untuk memulai program API, termasuk program konsolidasi perbankan yang berfungsi untuk membentuk blueprint perbankan nasional. Dengan munculnya program ini, pemerintah menunjukkan dukungannya untuk membantu bankbank agar dapat beroperasi secara lebih efisien. Adapun penelitian ini dimaksudkan untuk memberi masukan objektif akan program pemerintah tersebut. Data yang digunakan berakhir pada tahun 2006 mengingat ketersediaan data yang dipublikasikan bank Indonesia ketika penelitian ini dimulai baru terbatas hingga periode tersebut. Adapun data yang digunakan merupakan data bulanan dalam bentuk panel data 10 bank umum swasta devisa yang merupakan bagian dari 15 bank dengan nilai aset terbesar (systemically important banks/SIBs). Menurut Bank Indonesia, 15 bank ini merupakan sumber utama pertumbuhan kredit nasional sehingga maju atau tidaknya bank-bank tersebut penting untuk menjamin keberhasilan program-program pemerintah

12

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com dalam industri perbankan nasional, maupun perekonomian secara luas. Adapun 10 bank yang dipilih diasumsikan memiliki teknologi produksi yang mirip mengingat bank-bank tersebut merupakan bank-bank dengan kelompok aset yang besar, merupakan bank swasta (kepemilikan saham pemerintah di bawah 50 persen) serta telah menjadi perusahaan terbuka sejak akhir tahun 2003. Kepemilikan saham yang terbuka (tbk.) juga menjamin terjaganya good corporate governance yang diawasi langsung oleh Badan Pengawasan Pasar Modal (Bapepam). Tahap ketiga dilakukan dengan menentukan fungsi biaya dengan menggunakan model Transcedental Logarithmic (Translog). Fungsi ini digunakan untuk menangkap interaksi antara variabel-variabel input dan output secara lebih fleksibel dibandingkan fungsi Cobb-Douglas dan Constant-Elasticity-Substitution (CES). Untuk estimasi, model ini menggunakan persamaan least squares dummy variabel atau pooled least squares dengan fixed effects yang dimodifikasi dari penelitian Murray dan White (1983). Dengan menggunakan Microsoft Excel dan Eviews, data-data dari bank-bank tersebut kemudian ditransformasi dan dihitung. Dalam penelitian ini akan diestimasi sebuah model persamaan fungsi biaya yang dimodifikasi Murray dan White (1983). Untuk itu, dilakukan beberapa tes spesifikasi sebagai tes yang umum dilakukan untuk regresi yang bersifat panel data. Setelah dilakukan tes spesifikasi diperoleh bahwa bentuk fungsi yang lebih baik digunakan adalah fungsi least squares dengan fixed effects yang telah direstriksi. Berdasarkan latar belakang tersebut, fungsi biaya (1) didefinisikan sebagai berikut:

13

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Ln TC=


3

AK DK +
K =1
3 ij

10

ci lnQi
i =1
3 2

+ j ln Pj + ij ln Qi ln Q j +
j =1 i =1 j =1


i =1 j =1

ln Pi ln Pk +


i =1 j =1

ij

ln Pi ln Q j + i ln Qi T +
i =1

P T
i =0 i i

+BtT

+BttT2.............................(1.1)

Dimana: TC = Nilai logaritma natural dari total biaya (jumlah dari biaya bunga, biaya tenaga kerja, dan biaya modal) per bulan (flows) Dk = Dummy dari masing-masing bank umum swasta devisa besar Q1 = Nilai logaritma natural dari kredit dalam rupiah (berhubungan dengan bank dan pihak lain) + Kredit dalam mata uang asing (terkait dengan bank dan pihak lain) per bulan (flows). Q2 = Nilai logaritma natural dari sekuritas (rupiah dan dollar) + obligasi pemerintah per bulan (flows) P1 = Nilai logaritma natural dari rata-rata biaya bunga untuk tiap rupiah dari tabungan dan pinjaman per bulan (flows). P2 = Nilai logaritma natural dari rata-rata biaya tenaga kerja per bulan (flows). P3 = Nilai logaritma natural dari rata-rata biaya modal per bulan (flows). T = indeks waktu sebagai proxy teknologi ak dimana k = 1,2,....10 merupakan koefisien dari dummy variabel konstanta masingmasing bank umum swasta devisa besar. c1, c2, 1 , 2, 3, 11, 12, 22, 11, 12, 13, , 22, , 23,, 33, 11, 12, 21, 22, 31, 32 = koefisien elastisitas variabel independen terhadap variable dependen total biaya.

14

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com 1, 2, 1, 2, 3, Bt, Btt = koefisien yang menunjukkan elastisitas indeks teknologi terhadap
B B

variabel dependen total biaya.

Dalam hal ini parameter dalam fungsi biaya diasumsikan mematuhi kondisi simetri ( ij = ji ), (ij = ji) , untuk semua ij, serta mematuhi restriksi linear homogenitas terhadap harga input agar properties/ sifat-sifat dari fungsi biaya dapat terpenuhi. Restriksi linear homogenitas terhadap input dapat kita terapkan secara langsung pada persamaan dengan melakukan restriksi, sebagai berikut:

i =1

= 1;

i =1

ij

= 0 , untuk setiap j;


i =1 j =1

ij

= 0;

i =1

=0

Fungsi biaya diestimasi dengan menggunakan ordinary least squares untuk menghasilkan hasil parameter yang konsisten dan unbiased.

2. Alat Analisis

Beberapa alat analisis diperlukan untuk menentukan sifat /nature proses produksi dalam fungsi biaya adalah sebagai berikut:

15

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com a. Uji Wald

Uji Homotheticity, menguji apakah fungsi produksi memiliki expansion

path yang linear, dimana marginal rate of substitution (rasio input


optimal) bersifat independen terhadap tingkat output dan bergantung hanya pada harga relatif (Jae Wan Chu, 1994). Hipotesis yang digunakan adalah: H0 : ij = 0; j = 0 Ha : ij 0; j 0 untuk i = 1,2,....n dan j = 1,2,....n

Uji Homogeneity dalam output dengan tingkat k, menguji apakah kenaikan output sebesar, misalkan t akan mengakibatkan kenaikan total biaya sebesar tk(Murray dan White, 1983). Hipotesis yang digunakan adalah: H0 : i = 0; ij = 0; j = 0 Ha : i 0; ij 0; j 0 untuk i = 1,2,....n dan j = 1,2,....n

Uji Linear Homogeneity dalam output/ constant return to scale, menguji apakah kenaikan output akan meningkatkan total biaya secara

proporsional / dalam perubahan relatif yang sama (Murray dan White, 1983). Hipotesis yang digunakan adalah: H0 :

c1 = 1,
i

ij = 0 untuk setiap j,
i

= 0 untuk setiap j

16

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Ha :

c1 1,
i

ij 0 untuk setiap j,
i

0 untuk setiap j

Uji Cobb-Douglas, menguji apakah fungsi translog dapat disederhanakan atau direduksi menjadi fungsi yang lebih sederhana seperti Cobb-Douglas (Santoso, 1988). Hipotesis yang digunakan adalah: H0 : ij = ij = ij = i = ij = Bt = Btt = 0 Ha : ij ij ij i ij Bt Btt 0

Uji-uji di atas diperiksa dengan metode Wald test, dimana signifikansi nilai diperoleh dengan cara membandingkan nilai 2 (chi-square) statistik terhadap

2 table pada probabilitas 5 persen.

Dari fungsi biaya (1) tersebut, kemudian dapat diestimasi tingkat scale dan scope

economies, serta technical change, sebagai berikut:


b. Overall Economies of Scale (OES)

Dari fungsi biaya, tingkat economies of scale diukur dengan menghitung perubahan biaya rata-rata akibat perubahan output, dengan asumsi harga input tetap (Molyneux, Altunbas dan Gardener, 1997; Noulas, Ray dan Miller, 1990). Economies of

scale dikatakan terjadi apabila kenaikan output, dengan harga input tetap, menghasilkan
peningkatan biaya total yang lebih sedikit, sehingga menyebabkan penurunan dalam biaya rata-rata.

17

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Adapun cara mengukur OES dapat dilakukan sebagai berikut:

OES = Dimana : TC = Total Biaya Qi = Output ke-i

ln Q
i =1

ln TC
i

Nilai estimasi OES < 1 menandakan adanya increasing return to scale atau adanya economies of scale, yaitu peningkatan tiap unit output akan menyebabkan biaya rata-rata yang lebih kecil, sehingga kenaikan total biaya menjadi lebih kecil. Jika OES = 1, menunjukkan adanya constant return to scale. Jika OES > 1, maka terjadi

decreasing returns to scale.

c. Quasi Scope (QSCOPE)

Quasi Scope dirancang untuk mengidentifikasi nilai economies of scope


perusahaan dengan mengakomodasi bentuk fungsional translog yang tidak dapat didefinisikan pada range tertentu (pada nilai nol). Qscope didasarkan pada konsep bahwa perusahaan-perusahaan yang menghasilkan output bersama/campuran (tidak

berspesialisasi pada salah satu jenis output atau menghasilkan salah satu jenis output dalam jumlah yang tidak signifikan) menghasilkan biaya yang berbeda apabila menghasilkan output secara terspesialisasi (berkonsentrasi menghasilkan satu jenis output saja). Dalam hal ini merupakan proporsi dari output tidak terspesialisasi yang

18

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com dihasilkan, apabila perusahaan berspesialisasi. Menurut Adams et.al. (2002), Qscope dapat didefinisikan sebagai berikut:

QSCOPE = [ C({1- (m-1) }y1, y2, ., ym; p) + C{y1, {1-(m-1) y2, y3,. ym;p) + C{ y1, y2,.{1-9m-1) ]ym ;p) C (y1,y2,,ym ;p) ]
/ C (y1,y2,,ym ;p)

Dimana m merupakan jumlah output dan p merupakan vector dari variabel independen lainnya. Ketika = 0, QSCOPE ekuivalen dengan ukuran scope economies yang sering dipakai (Overall Economies of Scope). Dalam hal ini 1/m merupakan nilai maksimum dari . Nilai positif menujukkan adanya economies of scope, sedangkan nilai negatif menunjukkan sebaliknya. Bila = 0, maka nilai Qscope menjadi nilai overall economies of scope (Yu, 2003) SC =
TC (Q1 ,0) + TC (0, Q2 ) TC (Q1 , Q2 ) TC (Q1 , Q2 )

Dimana : terdapat diasumsikan terdapat dua jenis ouput: Q1 dan Q2, TC(Q1, 0) merupakan fungsi biaya terspesialisasi pada Q1 TC(0, Q2) merupakan fungsi biaya terspesialisasi pada Q2 TC (Q1, Q2) merupakan fungsi biaya produksi bersama

19

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


d. Perubahan Teknologi (Technical/Technological Change)

Perubahan teknologi merujuk pada pergerakan ke dalam (inward) dari isokuan produksi dalam input space, dimana jumlah output yang sama dapat dihasilkan oleh kurang dari jumlah kombinasi input yang lebih sedikit dari yang diperlukan sebelumnya. Menurut Tadesse (2004), dengan fungsi biaya (1), tingkat perubahan teknologi (rate of

technological change / RTC) dapat diukur sebagai berikut:

RTC = dlnTC/ dT

Adapun estimasi terhadap perubahan teknologi terbagi atas tiga komponen, yaitu: (a) perubahan teknologi murni (pure technological change); (b) perubahan teknologi bias skala (scale-biased technical change); (c) perubahan teknologi bias input (input-biased technical change). Dalam hal ini, kemajuan teknologi (technical progress) terjadi jika nilai-nilai technical change lebih kecil dari nol, dimana total biaya yang dikeluarkan bank akan berkurang seiring perkembangan waktu (Mandanugraha, Hadad, 2003). Sedangkan stagnasi teknologi (technical recess) terjadi apabila nilai-nilai

technical change lebih besar dari nol (Tadesse, 2004).

F. Sistematika Penulisan

Penulisan penelitian ini disusun dalam urutan sebagai berikut:

20

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com BAB I : Pendahuluan Bab ini membahas mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan metodologi yang digunakan dalam penelitian ini.

BAB II: Landasan Teori dan Tinjauan Pustaka Bab ini membahas teori-teori sebagai landasan penelitian ini beserta hasil-hasil penelitian sebelumnya.

BAB III: Perkembangan Industri Perbankan Indonesia Bab ini membahas perkembangan/gambaran umum dari industri perbankan nasional.

BAB IV: Metodologi Penelitian dan Analisis Hasil Estimasi Bab ini membahas metodologi penelitian dan data-data yang digunakan dalam penelitian ini. Dalam bab ini juga dibahas hasil estimasi dengan menggunakan data-data tersebut beserta interpretasi atas hasil estimasi tersebut.

BAB V: Kesimpulan dan Saran Bab ini membahas kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian beserta saransaran yang dapat diberikan setelah melakukan penelitian.

21

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com

BAB II LANDASAN TEORI DAN STUDI EMPIRIS SEBELUMNYA

A. Teknologi Produksi

Menurut Pindyck dan Rubinfeld (1995) teknologi produksi merupakan hubungan yang menunjukkan bagaimana input (seperti tenaga kerja dan modal) ditransformasi menjadi output (mobil dan televisi). Teknologi produksi ditunjukkan dalam bentuk fungsi produksi, yang menunjukkan secara ringkas bagaimana input diubah menjadi output.

1.Fungsi Produksi

Fungsi produksi menunjukkan output tertinggi Q yang dapat dihasilkan sebuah perusahaan untuk setiap kombinasi input (Pindyck dan Rubinfield, 1995). Secara sederhana, kita mengasumsikan 2 buah input, misalkan tenaga kerja (K) dan modal (L), sehingga kita dapat menuliskan fungsi produksi sebagai

Q = F (K, L)

Persamaan diaplikasikan pada teknologi tertentu yaitu proses dan metode yang dimiliki untuk mentransformasi input menjadi output. Ketika teknologi menjadi lebih baik/maju dan fungsi produksi berubah, sebuah perusahaan dapat memperoleh lebih banyak output dengan input tertentu.

22

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Fungsi Produksi menggambarkan hal-hal yang technically feasible ketika perusahaan beroperasi secara efisien yaitu perusahaan menggunakan kombinasi input sefektif mungkin.

2. Jenis fungsi Produksi

Terdapat 2 kasus ekstrem fungsi produksi yang dapat menunjukkan range substitusi input yang dimungkinkan dalam proses produksi. Dalam kasus pertama, ditunjukkan bahwa input dalam produksi merupakan pengganti sempurna satu dengan lainnya. Pada Gambar 2.1 bagian (a) terlihat bahwa isokuan Q1, Q2, dan Q3 berbentuk garis lurus, sehingga untuk menghasilkan jumlah output yang sama dapat digunakan berbagai kombinasi input Dalam kasus kedua, ditunjukkan bahwa metode produksi bersifat terbatas, dimana garis isokuan berbentuk huruf L. Dalam hal ini, fungsi produksi hanya terdapat satu kombinasi input yang dapat digunakan untuk menghasilkan output. Menambah satu input saja tidak akan meningkatkan output (Gambar 2.1 bagian b).

23

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


Gambar 2.1. Input-input yang bersubstitusi sempurna dan Input-input dengan proporsi tetap

Modal per bulan

Q1

Q2

Q3 Tenaga kerja per bulan

(a) Isokuan dengan input-input yang bersubstitusi sempurna

Modal per bulan

C B A Q1 Q2

Q3

Tenaga kerja per bulan (b) Isokuan dengan input-input yang memiliki proporsi tetap Sumber: Pindyck dan Rubinfield (1995), hal 194-195

24

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


3. Returns to Scale

Menurut Pindyck dan Rubinfield (1995); Griffith dan Wall (1995) dalam jangka panjang, ketika semua input bersifat variabel, perusahaan harus mempertimbangkan cara terbaik untuk meningkatkan output. Salah satu caranya adalah mengubah skala operasi dengan meningkatkan semua input dalam produksi. Return to scale menunjuk pada tingkat kenaikan output ketika input meningkat bersamaan. Ada tiga jenis kasus return to

scale, yaitu:

a. Increasing Retuns to Scale

Jika output bertambah lebih dari dua kali lipat ketika input bertambah dua kali lipat, terjadi increasing returns to scale. Hal ini dapat terjadi karena dalam skala operasi yang lebih besar memungkinkan manajer dan pekerja berspesialisasi dalam tugasnya dan menggunakan pabrik dalam skala besar dan peralatan yang lebih baik.

b. Constant Return to Scale

Kemungkinan kedua dalam return to scale yaitu output juga meningkat dua kali ketika input bertambah dua kali lipat. Hal ini disebut constant return to scale. Dalam

constant return to scale, ukuran perusahaan dalam operasi tidak berdampak kepada
produktivitas faktor-faktor produksinya.

25

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


c. Decreasing Returns to Scale

Kemungkinan lain, output dapat meningkat kurang dari dua kali lipat ketika input meningkat dua kali lipat. Ada beberapa hal yang dapat mendorong terjadinya hal ini. Pertama,kesulitan dalam mengorganisasikan dan menjalankan operasi dalam skala besar yang mendorong produktivitas yang menurun dari tenaga kerja dan modal. Kedua, komunikasi antara pekerja dan manajer menjadi sulit untuk diawasi dan tempat kerja menjadi semakin tidak mengenal satu sama lain (impersonal) .

Gambar 2.2. Return to Scale

Modal

Modal

6 4 2 5 10 (a)

30 20

4 30 20 2 10

10 15 Pekerja O 5 (b) 10

Pekerja

Sumber: Pindyck dan Rubinfield (1995), hal. 199 Ketika proses produksi perusahaan menunjukkan constant returns to scale seperti yang ditunjukkan garis 0A pada gambar 2.3 bagian (a), isokuan dipisahkan dalam jarak

26

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com yang sama seiring dengan peningkatan output secara proporsional dan bertahap. Sedangkan increasing returns to scale ditunjukkan pada gambar 2.3 bagian (b) yaitu ketika isokuan bergerak dalam jarak yang semakin dekat ketika input meningkat secara proporsional sepanjang garis.

4. Return to Scale dan Homogenitas

Menurut Gisser (1981), kita dapat menjelaskan homogenitas sebagai berikut, misalkan sebuah persamaan fungsi produksi awal (Q0) dengan dua input:

Q0 = F (L,K)

Lalu kita meningkatkan kedua faktor produksi dengan proporsi yang sama, v. Sekarang kita mengobservasi tingkat output baru Q* dimana:

Q* = F (vL, vK)

Jika v dapat difaktorkan (yaitu dikeluarkan dari tanda kurung sebagai faktor bersama), maka tingkat output yang baru Q* dapat diekspresikan sebagai fungsi dari v (terhadap pangkat ) dan tingkat output awal Q0.

Q* = v F(L,K) Atau

27

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Q* = v Q0

Fungsi Produksi dapat disebut sebagai homogen (homogeneous) .

Jika v tidak dapat difaktorkan, maka fungsi produksi disebut non-homogen (non-

homogeneous). Jadi dapat dikatakan bahwa fungsi produksi homogen terjadi apabila
tiap output dikalikan v, maka v dapat difaktorkan seluruhnya dari fungsi produksi.

Tingkat homogenitas . Perlu dicatat bahwa nilai pangkat () dari v disebut juga sebagai tingkat homogenitas dari fungsi produksi dan merupakan tingkat return to

scale.

Jika = 1, maka kita memiliki constant returns to scale Jika > 1, maka kita memiliki increasing returns to scale Jika < 1, maka kita memiliki decreasing returns to scale

B. Fungsi Biaya

Dengan teknologi produksi yang ada, perusahaan harus memutuskan bagaimana cara memproduksi yang terbaik. Menurut Pindyck dan Rubinfield (1990), input-input dapat dikombinasikan dengan cara-cara yang berbeda untuk menghasilkan jumlah output yang sama. Kita mengetahui pula bahwa tingkat optimal biaya minimum dapat dicapai dengan memilih kombinasi input. Dalam hal ini, biaya perusahaan tergantung

28

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com pada tingkat output dan menunjukkan bagaimana biaya-biaya ini mungkin berubah sepanjang waktu.

1. Minimisasi Biaya Dalam Berbagai Variasi Tingkat Output

Perusahaan yang meminimumkan biaya memilih dari berbagai kombinasi input untuk menghasilkan tingkat output tertentu. Untuk melakukan hal ini perusahaan menentukan kuantitas input yang meminimumkan biaya untuk setiap tingkat output dan menghitung biaya yang terjadi. Misalkan kita mengasumsikan perusahaan menyewa tenaga kerja L dengan upah (w) = Rp.15/jam dan biaya modal r = Rp.40/jam. Dengan harga input demikian kita bisa menggambarkan garis isokos perusahaan dengan persamaan:

C=(Rp.15/jam)(L) + (Rp. 40/jam)(K)

Dalam gambar 2.3. bagian a, garis terendah mewakili biaya Rp. 1000, yang tengah Rp. 2000, dan yang tertinggi Rp. 3000. Titik A, B dan C merupakan titik pertemuan isokos dan isokuan, yang menunjukkan cara dengan biaya paling rendah untuk mencapai output yang diinginkan Adapun kurva yang melewati titik tangen antara garis isokos perusahaan dan isokuan disebut expansion path. Expansion path menggambarkan kombinasi-kombinasi tenaga kerja dan modal yang dipilih perusahaan untuk meminimumkan biaya pada setiap tingkat output.

29

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


2. Expansion Path dan Biaya Jangka Panjang

Dalam gambar 2.3. bagian a, expansion path, menggambarkan kombinasi dengan biaya minimum dari tenaga kerja dan modal yang dapat digunakan untuk menghasilkan tingkat output pada jangka panjang sebagai contoh, kenaikan input untuk tingkat produksi yang bervariasi. Dalam gambar 2.3. bagian b, kurva biaya total jangka panjang mengukur tingkat biaya untuk menghasilkan tingkat output yang berbeda pada biaya minimum.

Gambar 2.3. Expansion Path dan Kurva Biaya Total Jangka Panjang

Modal Rp. 3000 isokos Rp. 2000 isokos

Expansion path

Rp. 1000 isokos

300 unit 200 unit 100 unit

50 100 150 (a) Expansion Path Perusahaan

Tenaga kerja

30

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com

Modal per bulan Biaya total jangka panjang

Tenaga kerja per bulan (b) Kurva Biaya Total Jangka Panjang Sumber: Pindyck dan Rubinfield (1995), hal. 223

3. Sifat-sifat Fungsi Biaya

Untuk fungsi biaya dalam bentuk: c = f (w, y)........(2.1) Dimana: c = biaya w = harga faktor y = output

Maka sifat-sifat fungsi biaya menurut Varian (1992, 1967) sebagaimana dicatat oleh Mardanugraha (2005) dan Santoso (1988): a. Non-decreasing dalam w Jika w w , maka c (w, y) c (w, y)

31

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com b. Homogen derajat satu dalam w C(tw,y) = tc(w,y) untuk t > 0 c. Konkaf (concave) dalam w C(tw + (1-t)w, y) tc(w,y) + (1-t)c(w,y), untuk 0 t 1 d. kontinyu dalam w c adalah fungsi kontinyu dari w, untuk w 0

Menurut pendapat Mardanugaraha (2005) agar properties dari fungsi biaya dipenuhi, maka fungsi biaya dapat direstriksi dengan fungsi pangsa input, yang merupakan turunan pertama dari fungsi biaya untuk setiap input. Murray dan White (1983) menyatakan bahwa beberapa restriksi terhadap fungsi pangsa input dapat dilakukan di dalam fungsi biaya sendiri. Mengenai hal ini, Jae Wan Chung (1994) menunjukkan bahwa persamaan akan memenuhi kriteria tersebut (adding-up criterion, dimana suatu sistem persamaan menunjukkan restriksi jumlah pangsa input untuk tiaptiap harga input berjumlah satu), apabila memenuhi restriksi linear homogenitas terhadap harga input.

4. Teori Dualitas

Dualitas Shephard adalah dualitas yang terjadi antara fungsi produksi dan fungsi biaya. Menurut Jae Wan Chung (1994), dalam perilaku minimisasi biaya, untuk setiap fungsi produksi, selalu dapat diturunkan fungsi biaya yang menunjukkan teknologi produksi yang sama. Teori ini memungkin peneliti untuk mentransformasi output space

32

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com ke dalam cost space atau dengan kata lain menunjukkan sifat-sifat produksi melalui sifatsifat fungsi biaya.

C. Economies of Scale

Dalam jangka panjang, merupakan keinginan perusahaan untuk merubah proporsi input sebagaimana perubahan tingkat output (Pindyck dan Rubinfield, 1995). Ketika proporsi output berubah, expansion path perusahaan tidak selalu berupa garis lurus, dan konsep returns to scale tidak lagi berlaku. Sebaliknya, kita mengatakan bahwa perusahaan menikmati economies of scale ketika ia dapat melipatgandakan outputnya dengan kenaikan biaya yang lebih sedikit. Sebaliknya, diseconomies of scale terjadi ketika untuk melipatgandakan output membutuhkan lebih dari dua kali biaya. Istilah

economies of scale meliputi increasing return to scale sebagai sifat khusus, namun
menjadi lebih umum karena ia merefleksikan proporsi input yang berubah sebagaimana perusahaan merubah tingkat produksinya. Dalam tingkat yang lebih umum kurva biaya rata-rata jangka panjang berbentuk U menunjukkan bahwa perusahaan menghadapi

economies of scale untuk tingkat output yang relatif rendah dan diseconomies of scale
untuk tingkat yang lebih tinggi dari suatu titik tertentu.

Economies of scale sering diukur dalam bentuk elastisitas biaya (C) output (Q)
yang disebut Ec. Ec merupakan persentase perubahan biaya produksi yang terjadi karena peningkatan satu persen output:

Ec = (C/ C)/( (Q/ Q)

33

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com

Untuk melihat bagaimana Ec menghubungkan ukuran biaya, kita menulis ulang persamaan sebagai berikut:

Ec = (C/ Q )/(C/ Q) = MC/AC

Dengan demikian, Ec bernilai 1 jika biaya marginal dan biaya rata-rata sama. Dalam hal ini, biaya-biaya meningkat secara proporsional dengan output, dan tidak terdapat economies dan diseconomies of scale (constant return to scale). Ketika terjadi

economies of scale (ketika biaya-biaya meningkat lebih sedikit dari proporsi output),
biaya marginal lebih sedikit dari biaya rata-rata (keduanya menurun) dan Ec lebih kecil dari 1. Akhirnya, ketika terjadi diseconomies of scale, biaya marginal lebih besar dari biaya rata-rata dan Ec lebih besar dari 1.

1. Technical dan Non-technical Economies of Scale

Menurut Griffith dan Wall (1995), dalam hal produksi, kita membicarakan mengenai increasing returns to scale dalam jangka panjang. Dari segi biaya, hal ini disebut economies of scale. Economies of scale menggambarkan penurunan kurva LRAC dengan slope menurun. Alasan utama dapat dibagi menjadi dua kategori utama: technical dan non-technical economies of scale.

34

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Beberapa factor dibalik economies of scale meliputi aspek technical dari proses produksi. Adapun aspek technical itu dapat dibagi sebagai berikut:

a. Technical Economies of Scale

1) Ketidakterbagian (Indivisibility)

Beberapa proses produksi tertentu; seperti tehnik perakitan massal dapat dioperasikan secara efisien pada volume output yang besar dan tidak dapat dioperasikan dengan efisien dalam output yang lebih rendah. Kita dapat menyebut ketidakmampuan untuk mengecilkan proses produksi tanpa mempengaruhi efisiensi operasi sebagai

indivisibility dalam proses produksi.

2) Spesialisasi (Specialisation)

Dengan kenaikan output, menjadi lebih mungkin untuk menggunakan tenaga kerja terspesialisasi dan perlengkapan modal, dengan kenaikan output per unit input. Ide ini mirip dengan pendapat Adam Smith division of labor, dimana dengan kuantitas pekerja yang sama menghasilkan output lebih besar dengan berspesialisasi pada empat proses terpisah daripada empat orang mencoba melakukan semua proses. Pengulangan (practices make perfect), penghematan waktu dengan tidak bergerak antara proses yang terpisah, dan jumlah factor-faktor yang terkait dengan produktivitas tenaga kerja yang lebih besar dengan adanya spesialisasi.

35

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


3) Dimensi yang meningkat (Increased dimension)

Dalam banyak kasus, produksi meliputi material seperti input dan kapasitas sebagai output menengah atau akhir. Keekonomian dari dimensi yang meningkat terjadi mengingat material sebagai input meningkat secara kuadrat sedangkan volume (kapasitas) meningkat dengan kubik. Hal ini menyebabkan biaya material per unit kapasitas menurun dengan kenaikan kapasitas (outputnya)

4) Proses yang berhubungan (Linked processes)

Dapat terjadi bahwa output akhir dapat dihasilkan dengan menghubungkan atau mengkombinasikan proses yang terpisah. Sering kali diperlukan output yang besar sebelum semua proses yang terpisah dapat disatukan dengan cara optimal. Misalkan barang X memerlukan tiga proses terpisah dalam produksinya, setiap proses memerlukan peralatan yang terspesialisasi dengan kapasitas sebagai berikut:

Proses A: peralatan terspesialisasi menghasilkan 20 unit per jam Proses B: peralatan terspesialisasi menghasilkan 30 unit per jam Proses C: peralatan terspesialisasi menghasilkan 40 unit per jam

Hanya ketika barang X diproduksi dengan tingkat 120 unit per jam, akan mungkin untuk menghindari biaya dari kapasitas yang idle (sebagai contoh 6 mesin untuk proses A, 4 untuk proses B, dan 3 untuk proses C). Dengan kata lain, pengali umum paling

36

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com rendah dari proses yang berhubungan namun terpisah ini adalah angka yang besar. Dengan peningkatan output menuju nilai ini, kita dapat memperoleh economy of linked

process.

5) Kapasitas cadangan (Reserve Capacity)

Perusahaan seringkali membangun dalam bentuk reserve capacity untuk menghadapi saat-saat yang tidak diduga, seperti kerusakan, kenaikan penawaran dari material mentah, order besar yang tidak terduga, dan sebagainya. Karena perusahaan besar biasanya beroperasi dengan mesin dan tenaga kerja dalam jumlah besar, lebih sedikit peralatan atau tenaga kerja yang diperlukan sebagai cadangan untuk menghadapi kebutuhan mendadak. Sebagai contoh, jumlah orang yang dibutuhkan untuk memperbaiki kerusakan pabrik atau peralatan biasanya meningkat lebih sedikit dari proporsi kenaikan skala operasi.

b. Non-technical Economies of Scale

Beberapa keuntungan dari economies of scale erat kaitannya dengan aspek non-

technical dari operasi perusahaan seperti berikut:

37

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


1) Keekonomian keuangan (Financial Economies)

Perusahaan besar sering memperoleh pembiayaan dengan biaya yang lebih rendah dari perusahaan kecil. Contohnya: pihak yang meminjamkan dana sering memberi bunga yang lebih rendah pada perusahaan yang lebih besar yang dipercaya lebih aman atau mampu untuk meningkatkan dana jaminan untuk mendukung pinjaman. Lebih jauh, biaya administrasi (fees, dll) dalam mengatur pinjaman yang lebih besar biasanya meningkat lebih sedikit daripada ukuran pinjaman yang meningkat. Lagipula perusahaan besar sering memperoleh akses pada sumber pembiayaan yang lebih murah seperti modal kerja melalui penerbitan saham (sering kali lebih murah dari pinjaman atau penerbitan

debentures). Penerbitan saham yang lebih besar juga akan membantu menyebarkan biaya
administrasi awal, membuat penerbitan saham yang besar lebih murah per unit modal yang dibangun dengan penerbitan saham kecil.

2) Keekonomian administratif dan manajerial (Administrative and managerial economies)

Infrastruktur manajerial dan administratif dari suatu perusahaan (kantor pusat, regional, fungsional, dan daerah) dapat dihasilkan untuk meningkatkan hasil dengan biaya overhead administratif/manajerial yang mengalami kenaikan yang lebih kecil.

38

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


3) Keekonomian pembelian besar (Economies of bulk purchase)

Perusahaan besar dapat membeli dalam jumlah besar dengan diskon yang lebih besar pula, dari seluruh range input yang digunakan dalam operasi perusahaan.

4) Keekonomian penjualan dan pemasaran (Selling and Marketing Economies)

Biaya penjualan yang beraneka ragam meningkat lebih sedikit dari proporsi skala output. Sebagai contoh, biaya iklan di koran dan majalah atau biaya iklan di radio atau televisi, meningkat dalam proporsi yang lebih sedikit dari skala, dan karenanya menurunkan biaya iklan per unit output. Serupa dengan itu dengan tenaga jual yang tetap atau jaringan distribusi yang serig kali menangani pekerjaan yang lebih besar denga kenaikan input yang lebih kecil. Perusahaan besar juga dapat mengikuti persetujuan ekskulsif dengan dealer yang ada untuk menawarkan range produk tertentu. Dengan menghemat biaya menciptakan outlet distribusi sendiri, biaya penjualan per unit dapat dikurangi. Aktivitas pengembangan dan penelitian (Research & Develeopment) merupakan sumber daya utama untuk meningkatkan kualitas produk dalam mengembangkan produk baru, hal utama dalam strategi pemasaran yang sukses. Aktivitas pengembangan dan penelitian merupakan overhead yang mahal yang dapat dilakukan hanya oleh perusahaan besar. Bagaimanapun, ketika perusahaan berkembang, biaya overhead tadi dapat

39

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com disebarkan dalam tingkat output yang lebih besar, mengurangi biaya R & D per unit output.

2. Internal versus External Economies

Terkadang pembedaan dibentuk antara economies of scale internal dan eksternal.

Internal economies merupakan hasil dari perusahaan yang berkembang dalam ukuran. External economies merupakan hasil dari pertumbuhan industri, dimana industri
merupakan bagiannya. Yang terjadi adalah pertumbuhan ukuran industri dapat menyebabkan perkembangan berbagai jasa pendukung yang tersedia bagi perusahaanperusahaan dalam industri, sehingga menurunkan biaya. Keuntungan dalam external

economies menjadi lebih besar ketika industri dilokalisasi dalam suatu area tertentu.
Sebagai contoh, industri bertumbuh dari segi:

Pasar yang terspesialisasi dapat berkembang untuk membeli bahan dasar atau menjual barang akhir (katun, jagung, dll)

Tenaga kerja yang terspesialisasi dapat berkembang, didorong oleh institusi pendidikan lokal atau agen pelatihan yang sesuai dengan budaya lokal dalam penyediaan keahlian tersebut.

Penyedia komponen terspesialisasi dapat berkembang, menyediakan material yang customized

Jasa keuangan terspesialisasi dapat berkembang untuk menyediakan kebutuhan perusahaan pada sektor industri tersebut

40

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com

Dari keadaan tersebut, biaya usaha dari perusahaan individu dapat turun karena ukuran industri berkembang. External economies muncul secara independen dari perubahan ukuran perusahaan tertentu dalam industri.

3. Diseconomies of Scale

Perusahaan besar umumnya memiliki proses pembuatan keputusan yang penuh birokrasi, yang menyebabkan penundaan waktu dan distrosi dalam aliran informasi antara pasar yang sebenarnya dan manajemen tingkat atas. Hal ini menyebabkan munculnya

diseconomies of scale. Ada saatnya dimana biaya rata-rata jangka panjang mencapai tititk
terendah dalam suatu industri. Istilah minimum efficient size sering digunakan untuk menjelaskan tingkat output pada saat biaya rata-rata jangka panjang mulai meningkat kembali dari titik terendah tersebut.

4. Biaya-biaya dan Scale Economies

Menurut Herrera (2002), dalam mempelajari teknologi bank, penting sekali untuk mengestimasi fungsi biayanya. Dalam hal ini bank sebagai sebuah perusahaan akan meminimumkan biayanya, sehingga pada saat yang sama akan meningkatkan keuntungan. Dalam bank, biaya-biaya operasi sangatlah penting, karena dengan

meminimumkan biayanya, akan meningkatkan keuntungan. Pada sisi yang lain, biaya

41

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com operasi terkait dengan upaya bank sebagai produsen berbagai jasa-jasa keuangan yang berbeda, sedangkan biaya keuangan terkait dengan analisis profitabilitas dan kebijakan alokasi kredit. Dari sudut pandang ini, biaya-biaya operasi juga penting bagi perusahaan perbankan sebagai penyedia berbagai jasa keuangan. Cara yang sederhana untuk menjustifikasi keberadaan bank-bank adalah menekankan perbedaan antara input dan output mereka. Menurut pendekatan produksi, input-input seperti tenaga kerja dan model, diperlukan untuk menghasilkan produk perbankan. Dalam konteks ini, pembedaan antara aliran (flow) dan jumlah stok (stock) penting. dimana, modal merupakan variabel stok dan tenaga kerja merupakan variabel aliran, dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang kedua input adalah variabel. Oleh sebab itu, ketika sebuah perusahaan perbankan mengembangkan ukuran dan meningkatkan produksi, biaya rata-rata menurun. Hal ini secara langsung diasosiasikan dengan scale economies.

Scale economies dalam produksi menunjukkan bahwa biaya rata-rata menurun


ketika output meningkat. Hal ini ditunjukkan dengan turunnya kurva biaya rata-rata jangka panjang (LRAC) perusahaan. Kurva biaya rata-rata jangka pendek harus paling tidak setinggi biaya jangka panjang rata-rata.

42

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


Gambar 2.4. Kurva biaya rata-rata jangka panjang dan jangka pendek

Biaya rata-rata jangka pendek

Cost of per unti of output

Biaya rata-rata jangka panjang

Economies of Scale
Output

Diseconomies of Scale

Scale economies berhubungan dengan efisiensi teknologi dihasilkan dari ukuran


yang tepat dan diasosiasikan dengan spesialisasi dan pembagian tenaga kerja. Scale economies terjadi dengan mencapai titik minimum yang lebih rendah dalam short-run average cost curve (SRAC) dimana perusahaan mengembangkan kapasitas operasinya. Dalam hal ini kurva biaya rata-rata jangka panjang (LRAC) dalam bentuk yang ideal, berbentuk kurva U, namun dapat pula bervariasi dalam bentuk lain.

43

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


D. Economies of Scope

Banyak perusahaan memproduksi lebih banyak dari satu produk. Terkadang produk sebuah perusahaan erat terkait dengan produk yang lain. Seperti peternakan ayam memproduksi daging dan telur. Namun sering kali pula, perusahaan menghasilkan produk yang tidak berhubungan secara fisik. Dalam kedua kasus tersebut, perusahaan mungkin menikmati keuntungan produksi dan biaya ketika menghasilkan dua produk atau lebih. Keuntungan ini dapat menghasilkan penggunaan bersama dari input atau fasilitas produksi, prgram pemasaran bersama, atau kemungkinan untuk menabung biaya atas administrasi umum. Dalam kasus tertentu, produksi dari satu produk memberikan by-

product yang otomatis yang tidak terhindarkan yang berharga bagi perusahaan. Misalkan
penghasil lempengan besi menghasilkan serbuk besi dan scrap yang juga dapat mereka jual (Griffith dan Wall, 1995).

1. Kurva Transformasi Produk

Kurva ini menunjukkan berbagai kombinasi dari dua output yang berbeda (produk) yang dapat dihasilkan dengan beberapa set input tertentu. Figur (a) menunjukkan dua kurva transformasi produk, yang menunjukkan berbagai kombinasi dari dua output yang dapat dihasilkan dengan input tenaga kerja dan mesin tertentu. Kurva O1 menggambarkan semua kombinasi dari dua output yang dapat dihasilkan dengan tingkat input yang rendah dan kurva O2 menggambarkan kombinasi output yang diasosiasikan dengan dua kali input.

44

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


Gambar 2.5. Kurva Transformasi Produk

Jumlah traktor

O2 Kurva Transformasi Produk O1

Jumlah mobil

Sumber: Pindyck dan Rubinfield (1995), hal. 230

Kurva transformasi produk O1 dan O2 berbentuk concave karena terdapat

economies of scope dalam produksi.

2. Economies of Scope dalam industri

Economies of Scope muncul dari keuntungan biaya yang diperoleh dari campuran
produksi, dan muncul dari dua situasi utama. 1. ketika jumlah komoditas yang berhubungan diproduksi menggunakan fasilitas pemrosesan bersama, sehingga mengurangi biaya keseluruhan bersama. 2. ketika biaya dari suatu output turun ketika output lain dari produksi kian meningkat, dengan adanya cost complementary. Sebagai contoh, bahan kimia X merupakan by-product dari bahan kimia Y, peningkatan dari produksi Y

45

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com menurunkan biaya marginal dalam produksi X. Hal ini ditunjukkan dalam industri penyulingan minyak.

3. Economies dan Diseconomies of Scope

Menurut Pindyck dan Rubinfield (1990); Griffith dan Walls (1995), economies of

scope terjadi jika produksi output bersama oleh sebuah perusahaan lebih besar dari output
yang dihasilkan oleh dua perusahaan berbeda yang menghasilkan produk sendiri-sendiri (dengan produksi input yang sama dialokasikan antar dua perusahaan). Jika produksi output sebuah perusahaan lebih kecil dari yang dapat dicapai perusahaan yang terpisah, maka proses produksi meliputi diseconomies of scope. Kemungkinan ini terjadi jika produksi dari satu produk bertabrakan dengan produksi output yang lain. Tidak terdapat hubungan langsung antara economies of scale dan economies of

scope. Perusahaan dengan dua output dapat menikmati economies of scope bahkan bila
proses produksi meliputi diseconomies of scale. Misalkan, penghasil seruling besar (flute) dan seruling kecil (piccolo) menghasilkan keduanya bersama-sama daripada

menghasilkannya sendiri-sendiri. Namun proses produksi yang meliputi pekerja terdidik (highly skilled) paling efektif jika dilakukan dalam skala kecil. Sama dengan itu, perusahaan dengan produksi bersama dapat memiliki economies of scale untuk setiap produk individu namun tidak perlu menikmati economies of scope. Bayangkan, misalkan sebuah conglomerate besar yang memiliki beberapa perusahaan dapat memproduksi dalam skala yang besar namun tidak dapat mengambil keuntungan dari economies of

scope karena mereka dilakukan terpisah.

46

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com

Economies of Scope merupakan tingkat keekonomian yang produksi yang


menghasilkan multi-produk dan multi-jasa. Sebagai contoh, jika sebuah bank menghasilkan dua benda, Q1 dan Q2, scope economies terjadi jika biaya rata-rata untuk memproduksi barang bersama-sama, lebih kecil dari biaya rata-rata untuk memproduksi mereka secara terpisah.

E. Technical Progress

Proses produksi yang baru atau disempurnakan dapat terus dikembangkan. Hal ini sering disebut sebagai kemajuan teknis (technical progress). Dalam hal ini, technical

progress diartikan sebagai suatu inovasi proses. Technical progress ditunjukkan sebagai pergeseran ke atas dari fungsi produksi.
Dengan cara lain, technical progress dapat juga ditujukkan sebagai penurunan dalam isokuan. Dalam hal ini, output yang sama dihasilkan dengan output yang lebih sedikit atau output yang lebih banyak dengan input faktor yang sama. Menurut J.Hicks (Griffith dan Wall, 1995) , Kita dapat membedakan tiga jenis

technical progress, tergantung dari dampak progress tersebut terhadap MRTS (slope
isokuan).

Capital deepening technical progress terjadi bila produk marginal dari capital
meningkat lebih besar dari produk marginal tenaga kerja.

47

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com

Labour deepening technical progress terjadi bila marginal produk dari tenaga kerja
meningkat melebihi marginal produk dari modal;

Neutral technical progress terjadi bila proses inovasi meningkatkan produk


marginal dari kedua faktor dengan persentase yang sama. Sebagai dampak rasio MPL/MPK tidak terpengaruhi. Sehingga MRTSLK tetap konstan.

F. Keputusan Merger dan Diversifikasi berdasarkan Economies of Scale dan Scope

Pencarian scale economies sering dipandang sebagai alasan utama untuk merger dan akuisisi. Dalam hal ini, perusahaan-perusahaan dengan non-decreasing (increasing atau constant) returns to scale dipandang sebagai target akuisisi yang menarik karena mereka berada pada range ukuran optimal (dalam hal constant returns to scale) atau memiliki kesempatan untuk menjadi lebih efisien melalui pertumbuhan (dalam hal

increasing returns to scale). Dengan kata lain, perusahaan yang beroperasi dengan decreasing returns to scale mungkin dipandang sebagai terget yang kurang menarik
karena mereka sudah terlalu besar dari segi scale economies dan harus dikurangi ukurannya untuk mencapai skala optimal (Cumins, Tennyson, Weiss, 1998). Tujuan lain dalam merger dan akuisisi adalah meningkatkan pangsa pasar dalam usaha utama perusahaan atau untuk berdiversifikasi menuju pasar baru dalam bentuk penawaran produk maupun secara geografis. Dalam tujuan ini pula, perusahaan yang memiliki non-decreasing return to scale akan lebih atraktif sebagai target akuisisi atau merger daripada yang memiliki range decreasing returns to scale karena pertumbuhan

48

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com mendatang kurang memungkinkan untuk memiliki dampak ekonomi yang buruk bagi perusahaan daripada yang memiliki non-decreasing returns to scale (Cumins, Tennyson, Weiss, 1998). Mengingat kita mempelajari teknologi peroduksi dari bank-bank, terlihat alami untuk membangun estimasi atas fungsi produksi. Namun demikian, hal ini tidak mudah. Sebuah bank umumnya memiliki banyak produk, sehingga model statistik atas fungsi produksi memiliki banyak variabel endogen dan sulit untuk diestimasi. Untuk alasan ini efisiensi bank biasanya difokuskan pada fungsi biaya atau fungsi keuntungan. Ini merupakan pendekatan yang tepat, sebagaimana dalam duality theorem, kita mengetahui bahwa fungsi biaya dapat merangkum informasi yang relevan atas teknologi perusahaan. Dengan berkonsentrasi pada fungsi biaya, kita dapat berkonsentrasi pada total biaya sebagai variable endogen (Schure dan Wagenvoort, 2001). Dalam pengertiannya, fungsi biaya memberikan biaya minimum untuk menghasilkan suatu perangkat output spesifik untuk harga input tertentu. Oleh sebab itu, dengan menciptakan persamaan yang berhubungan dengan biaya total terhadap vektor output dan harga input, kita dapat mendefinisikannya sebagai fungsi biaya dengan mengasumsikan bank-bank dalam data meminimumkan biaya. Dalam analisis fungsi biaya dibuat asumsi demikian (Schure dan Wagenvoort, 2001). Ketika institusi perbankan dapat mencapai economies of scale, yaitu menurunkan biaya rata-rata dengan meningkatkan ukurannya, ia menjadi perhatian banyak orang dan memiliki arti penting bagi ekonom, regulator, dan lembaga simpanan itu sendiri. Deregulasi memperbolehkan bank-bank, thrift, dan lembaga kredit untuk meningkatkan ukurannya, dan memperoleh tingkat economies of scale yang tersedia bagi mereka

49

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com dengan melonggarkan restriksi terhadap kemampuan mereka untuk mengambil lembaga keuangan lain dan mengoperasikannya dalam area geografis yang lebih luas. Sebagai tambahan, kemajuan teknologi dalam pemrosesan infromasi dan praktek keuangan memperluas kemungkinan economies of scale. Hasil yang dicapai dalam efisiensi dapat menguntungkan bagi pemilik dan pelanggan lembaga keuangan secara spesifik serta perekonomian secara umum (Frbsf economic letter, 2005). Adanya economies of scale juga mampu menyediakan insentif yang besar terhadap konsolidasi industri, dimana perusahaan bertumbuh dan merger untuk menurunkan biaya mereka dan ketika perusahaan yang lebih kecil merasa lebih sulit untuk terus berkompetisi dengan pesaing yang semakin efisien dan bertumbuh. Sehingga, ketika teknologi meningkat dan deregulasi semakin baik, jumlah total lembaga simpanan menurun dari 40000 pada tahun 1980 menjadi kurang dari 20000 pada tahun 2004 di Amerika Serikat. Dan pada periode yang sama, tingkat aset rata-rata (dalam dollar pada tahun 2004) dari bank meningkat empat kali lipat dan credit unions meningkat sepuluh kali lipat (Frbsf economic letter, 2005).. Bagaimanapun, bukti yang secara umum menunjukkan pentingnya economies of

scale dalam perbankan cukup bervariasi. Seperti Kwan dan Wilcox (2002) menyebutkan,
studi akademik jarang sekali menemukan bukti bahwa merger bank mengurangi biaya bank. Mereka juga menyarankan penurunan biaya paska merger terlihat tersembunyai oleh konvensi akuntansi. Pada tahun 2004. Pengeluaran bukan bunga dan pendapatan bersih (relatif terhadap aset bank) dari bank-bank kecil berbeda sedikit saja dari bankbank besar (Frbsf economic letter, 2005).

50

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


G. Economies of Scale dan Scope dalam perspektif perbankan

Menurut (Swedia, 1999) diluar faktor-faktor umum seperti biaya tetap yang menyebar dalam volume yang lebih besar, ada beberapa alasan mengapa bank-bank diharapkan dapat menunjukkan economies of scale. Pertama, bank-bank yang lebih besar dapat mendiversifikasikan asset-asetnya, dengan menyebar resiko, yang akan menurunkan resiko keseluruhan dan menghilangkan kerugian keuangan. Kedua, dengan menggunakan informasi konsumen, terutama evaluasi dari kemampuan kredit konsumen, terkadang diperkirakan berubah secara positif dengan ukuran bank, yang akhirnya menyebabkan kerugian kredit yang lebih kecil. Ketiga image bank dan reputasi yang secara normal berhubungan positif dengan ukuran, yang menunjukkan rating lebih tinggi dan biaya pembiayaan yang lebih rendah mengenai pembiayaan. Bank-bank menawarkan produk yang beraneka ragam. Motif ekonomi dibalik diversifikasi dapat dijelaskan dengan eksplorasi economies of scope melalui penyebaran biaya tetap dalam berbagai range produk, atau kelengkapan biaya di antara produkproduk yang berbeda Swedia (1999):

Pemrosesan informasi yang lebih efisien. Jika kualitas konsumen diketahui oleh bank karena kebiasaanya mengenai penyimpanan dana, hal ini dapat menjadi keuntungan untuk mengevalueasi, misalkan kemampuan kredit, yang tidak dapat hanya menurunkan kerugian kredit tetapi juga menurunkan biaya marketing, misalkan melalui cross-selling produk baru pada konsumen yang sama.

Penggunaan sumber daya tetap yang efisien seperti jaringan cabang dan sistem informasi (IT).

Diversifikasi dari resiko pasar, misalkan resiko ekonomi yang lebih rendah.

51

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com

Diversifikasi jenis produk kepada produk-produk yang memerlukan capital

adequacy requirements yang lebih rendah, semisal produk off-balance sheet, yang
menurunkan biaya ekonomi.

Diversifikasi dari resiko keuangan, seperti biaya suku bunga, resiko likuiditas dan resiko leverage. Resiko keuangan terkonsentrasi pada departemen keuangan sentral dimana mereka terdiversifikasi dan dioptimalkan.

Keputusan merger untuk mengakuisisi perusahaan seharusnya dimotivasi untuk meningkatkan kekayaan dari pemegang saham perusahaan yang mengakuisisi. Menurut Dermine (1999), merger dan akuisis dalam perbankan membawakan isu kebijakan untuk tiga alasan utama. Pertama adalah konsentrasi, kekuatan pasar dan margin bunga yang terlalu besar sehingga mengganggu pertumbuhan ekonomi riil. Kedua, ada kekhawatiran bahwa bank-bank besar akan memberikan perhatian yang lebih sedikit terhadap perusahaan kecil dan menengah. Ketiga, ancaman stabilitas sistemik, dalam premis dimana default terhadap bank-bank besar akan berakibat biaya besar, sehingga negaranegara kecil sulit melakukannya. Dalam Dermine (1999) terdapat 11 alasan ekonomi dimana 8 di antaranya telah disebutkan Kane (2000). Alasan-alasan ekonomi dari merger bank menurut Dermine (1999) adalah: (1) Economies of scale berbasis biaya: Efisiensi biaya dicapai dengan menurunkan biaya rata-rata per unit output dengan memperluas suatu bisnis tertentu. (2) Economies of scale berbasis merek: ukuran besar akan membiarkan pengenalan merek pada biaya yang lebih rendah. Ini merupakan jenis khusus dari economies

52

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com

of scale berbasis biaya, berhubungan dengan biaya pemasaran per unit produk
terjual. (3) Economies of scale berbasis penerimaan: Ukuran dan dasar modal yang besar memungkinkan underwriting terhadap pinjaman besar atau surat berharga, memiliki dampak yang positif terhadap permintaan jasa underwriting. (4) Ketika bank menjadi sangat besar, lebih mungkin untuk dikualifikasikan sebagai

too big too fail oleh otoritas publik. Hal ini memberikan keuntungan kompetitif
dalam hal biaya pembiayaan yang lebih rendahuntuk tingkat modal dan resiko tertentu, serta posisi yang lebih luas yang diterima oleh pihak lain. (5) Economies of scope berbasis biaya: Efisiensi biaya dicapai dengan menyediakan

range yang luas terhadap produk-produk dan jasa-jasa terhadap dasar konsumen.
(6) Economies of scope berbasis Penjualan/Penerimaan: Harapan cross-selling (menjual produk di luar produk perbankan, seperti asuransi) produk baru kepada dasar konsumen yang ada. (7) Economies of scope berbasis diversifikasi keuangan: teori portfolio standard menunjukkan bahwa portfolio dari resiko yang bekorelasi tidak sempurna akan mengurangi volatilitas keuntungan keseluruhan. Diversifikasi finansial dapat dicapai dengan pemberian berbagai jenis produk, kepada kelompok konsumen yang berbeda, atau melalui penyebaran resiko kredit pada industri atau tempat (8) X-efficiency: X-efficiency menunjuk pada kenyataan bahwa volume output yang ada, dimana perusahaan tidak beroperasi dengan efisiensi biaya yang maksimum, sebagai contoh struktur biaya yang terlalu tinggi. Sumber dari efisiensi ini sering dilihat sebagai motivasi utama dari merger domestik, dimana dua bank melakukan

53

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com merger dapat berkoordinasi lebih mudah untuk pengurangan ukuran atau jaringan cabang yang terlalu besar (9) Kekuatan pasar: merger horisontal akan mengurangi jumlah perusahaanperusahaan yang beroperasi dalam suatu pasar yang membawa pada kompetisi yang lebih sedikit dan margin yang lebih besar. (10)

Economies of scale berbasis pertahanan: mencapai ukuran (capital clout)

yang bertindak sebagai ukuran pertahanan terhadap takeover (11)

Quite life atau hipotesis hubris: argumen ini menyebutkan bahwa

keuntungan yang leibh tinggi yang didorong oleh economies of scale dan kekuatan pasar dapat dicapai manajemen dalam bentuk gaji yang lebih tinggi, bonus, serta pengurangan resiko (hipotesis quite life).

Walter (2004) menekankan lima alasan mengapa lembaga keuangan melakukan merger. Alasan pertama adalah perluasan pasar. Motivasi merger dan transaksi akuisisi dalam sektor jasa keuangan adalah perluasan pasar. Sebuah perusahaan ingin berkembang secara geografis ke dalam pasar-pasar yang dipandang lemah. Atau ia ingin memperluas range produknya karena adanya kesempatan yang menarik yang dapat melengkapi apa yang telah dilakukan. Atau ia ingin memperluas cakupan kliennya, untuk alasan serupa. Kedua adalah economies of scale. Jika terdapat economies of scale, ukuran yang meningkat akan menghasilkan nilai pemegang saham dan efisiensi keuangan. Jika

diseconomies terjadi, keduanya akan hilang. Alasan ketiga adalah economies of scope
biaya. Economies of scope biaya menyatakan bahwa bila produksi bersama dari dua produk atau jasa dicapai dengan lebih murah daripada memproduksi terpisah. Bank dapat

54

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com menghasilkan simpanan biaya dengan membagai sistem transaksi dan biaya overhead, biaya informasi dan monitoring, dan lainnya. Alasan keempat adalah efisiensi operasi. Alasan dibalik perbedaan fungsi produksi, efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan tenaga kerja dan modal; sumber daya dan aplikasi dari teknologi yang tersedia, sebagaimana akuisisi input, desain organisasi, kompensasi dan sistem insentifmenunukkan bahwa dengan manajemen yang lebih baik (X-efficiencies). Akhirnya, alasan terakhir adalah revenue economies of scope. Dari sisi penerimaan, economies of

scope menunjuk pada cross-selling yang muncul ketika biaya overall dari pembeli jasajasa keuangan yang beraneka ragam lebih sedikit dari biaya membeli mereka dari penyedia yang terpisah. Biaya-biaya ini meliputi biaya jasa ditambah informasi, pencarian, monitoring, kontrak, dan biaya transaksi lain.

H. Studi-Studi Empiris Sebelumnya

Studi Economies of Scale dalam lembaga keuangan memiliki sejarah panjang (Allen dan Liu, 2005) . Studi mengenai berbagai institusi keuangan telah dilakukan di banyak Negara, sedikit yang berfokus pada lembaga-lembaga di Indonesia. Secara umum, kebanyakan studi menemukan hanya sedikit economies of scale dalam struktur biaya perusahaan. Dalam studi-studi yang menemukan increasing returns to scale,

economies of scale yang diukur terlihat lebih kuat pada perusahaan kecil-menengah
daripada perusahaan besar. Untuk beberapa studi terbaru, ditemukan bukti increasing

return to scale dalam bank-bank komersial pada tahun 1990-an (Berger dan Mester 1999,
Stiroh 2000).

55

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Adapun studi akan Economies of Scope dimulai oleh Panzar dan Willig (1975) pada Bell Laboratories, kemudian diteruskan Ian E. Gorman (1985) dari segi tataran teoritis. Sedangkan studi technical change sering sekali dilakukan bersamaan dengan pencarian nilai economies of scale dan economies of scope. Hal ini misalkan dilakukan oleh Glass, McKillop (1992) yang menemukan terjadinya technical change di Bank Irlandia. Namun sejauh ini, penelitian technical change masih belum sesering economies

of scale dan scope.


Keterbatasan kerangka Cobb-Douglas yaitu bank diasumsikan untuk

menghasilkan satu (composite) output dengan input dan teknologi yang sama (Allen dan Liu, 2005). Asumsi ini tidak dilakukan dalam penelitian ini mengingat bahwa bank-bank memiliki jenis bisnis yang terdiversifikasi. Kerangka Cobb-Douglas juga memiliki bentuk fungsional yang sangat restriktif. Lawrence (1989) menunjukkan bahwa tidak tertolaknya hasil dalam Cobb-Douglas disebabkan spesifikasi

ad-hoc

yang

menghilangkan kemungkinan untuk melengkapi biaya multi-produk. Dalam kasus British Columbia Credit Unions, Murray dan White (1983) menunjukkan bahwa tidak ada kondisi produksi restriktif yang umumnya dikenakan oleh peneliti dengan menggunakan kerangka Cobb-Douglas dapat memberikan perwakilan yang valid terhadap teknologi dari perusahaan yang mereka pelajari. Sebaliknya, penulis menggunakan spesifikasi translog untuk menangkap sifat-sifat yang heterogen dari sifatsifat aktivitas intermediasi perbankan. Dengan menggunakan data dari tahun 1976 hingga 1977, Murray dan White (1983) menemukan bahwa kebanyakan credit unions dalam sample mengalami increasing returns to scale yang signifikan.

56

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Fungsi biaya translog pertama kali diperkenalkan oleh Christensen, Jorgenson dan Lau (1971). Schmidt dan Lovell (1979) menunjukkan bahwa dalam asumsi minimisasi biaya, teknologi fungsi produksi dari sebuah perusahaan dapat dituliskan dalam sebuah fungsi biaya. Diewert dan Kopp (1982) menunjukkan dalam fungsi biaya frontier apapun, seperti fungsi translog, dapat diturunkan tanpa mengetahui fungsi produksi yang ada. Pengetahuan mengenai scale economies dari bank-bank diperoleh dari turunan biaya bank terhadap output. Penggunaan sering kali diaplikasikan terhadap data cross-section pada bank-bank dan diestimasi untuk beberapa tahun. Parameter untuk economies of

scale umumnya dirata-ratakan selama tahun-tahun sampel. Berger dan Humphrey (1997)
memberikan survey yang detail mengenai literatur ini. Beberapa penelitian dalam biaya perbankan, dibedakan dengan pengenalan akan metode ekonometri yang baru. Metode-metode ini berakar pada teori produksi dan didasarkan pada pembentukan fungsi-fungsi biaya. Studi-studi formal dimulai oleh Benston (1965) yang menandai dua perubahan penting dalam metodologi: (a) biaya detail yang diperoleh dari analisis biaya fungsional dari Sistem Federal Reserve di Amerika Serikat, dan (b) biaya marginal yang dihitung untuk output bank yang spesifik. Di Jepang, meski terdapat dorongan yang besar terhadap konsolidasi, sedikit penelitian akademis yang dilakukan mengenai biaya dan efisiensi perbankan Jepang. Hal ini berbeda dengan banyaknya penelitan serupa dalam kinerja institusi keuangan Amerika Serikat (Berger and Humphrey, 1997). Namun demikian terdapat beberapa penelitian mengenai economies of scale yang dilaksanakan di Jepang. Tachibanaki et al (1991) mengestimasi fungsi biaya translog

57

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com output menggunakan sample 61 bank antara tahun 1985 dan 1987 dan menemukan adanya bukti economies of scale untuk semua ukuran bank pada tiga tahun masa studi. McKillop et al (1996) menggunakan fungsi biaya composite yang dikembangkan oleh Pulley dan Braunstein (1992) untuk menganalisa biaya dan efisiensi dalam bankbank Jepang besar. Data yang berhubungan dengan data tahunan dari lima bank Jepang terbesar dari periode 1978 -91 dan McKillop et al (1996) menggunakan pendekatan intermediasi dalam model tiga output, tiga input dengan berbagai varian model fungsi biaya, meliputi Translog dan Generalised Translog. Meskipun demikian, McKillop et al (1996) menemukan bukti adanya economies of scale yang signifikan secara statistik untuk semua bank pada rata-rata sampel. Lebih jauh, nilai parameter economies of scale ditemukan bervariasi namun menunjukkan economies of scale. Akibatnya, McKillop et al (1996) menyebutkannya sebagai penemuan increasing return to scale untuk semua ukuran bank pada bank-bank Jepang (hal. 1652). Penemuan ini berbeda melihat kebanyakan studi empiris di negara-negara lain cenderung menunjukkan economies of scale tercapai pada tingkat output yang relatif rendah. Menarik untuk diperhatikan, bahwa McKillop et al (1996) menemukan bahwa pola economies of scale ini terjadi untuk seluruh tahun sampel kecuali untuk akhir tahun 1980-an dan selanjutnya dimana hasil-hasil menunjukkan constant returns melekat pada semua model (hal. 1665). Hal ini berhubungan dengan Fukuyama (1993) yang menemukan bahwa berdasarkan data 1990/1991, mayoritas bank perkotaan

menunjukkan constant returns to scale, menunjukkan bahwa bank-bank perkotaan cenderung beroperasi mendekati minimum efficient scale. (Batchelor, Drake, and Simper , 2000, hal. 1107).).

58

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Penelitian mengenai economies of scale, dan technical change dalam industri perbankan di Indonesia sejauh yang diketahui penulis baru dilakukan dua kali yaitu oleh Mardanugraha dan Hadad (2005), Margono dan Sharma (2004). Menurut hasil penelitian Mardanugraha dan Hadad (2005) pada periode Juni 1993-Juni 2003, bank-bank besar umumnya masih mengalami economies of scale (increasing dan constant return to scale). Hal ini mirip dengan hasil penelitian Margono dan Sharma (2004) untuk periode 19932000 yang menunjukkan beberapa bank menunjukkan adanya scale economies, namun

dengan nilai yang lebih kecil setelah masa krisis.

59

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com

BAB III PERKEMBANGAN INDUSTRI PERBANKAN DI INDONESIA

Pasar keuangan Indonesia mulai berkembang pesat sejak paket deregulasi pasar keuangan pada tahun 1988 diluncurkan. Ini ditandai dengan pesatnya perkembangan industri perbankan. Perkembangan pasar keuangan Indonesia mengikuti pola yang terjadi di pasar keuangan negara lain, yaitu perkembangan lembaga keuangan formal diawali dengan berkembanganya industri perbankan. Sehingga tidak aneh jika bank merupakan lembaga keuangan yang pertama kali muncul dan berkembang pesat di Indonesia Dalam tempo singkat, industri perbankan booming di negeri ini. Jumlah bank meningkat pesat. Begitu pula dengan masalah aset dan pelayanan. Masyarakat yang tadinya belum familiar dengan bank menjadi bankable. Bahkan, bank mulai memasyarakat hingga ke pelosok desa (Sri Adiningsih, 2003). Dibalik pertumbuhannya yang begitu pesat pada era 90-an, industri perbankan Indonesia terus mengalami restrukturisasi selama dekade belakangan ini. Semenjak krisis moneter 1997/1998 hingga tahun 2003, pemerintah Indonesia melalui BPPN telah melakukan program-program restrukturisasi untuk menyehatkan perbankan. Beberapa bank yang bermasalah telah diambil alih oleh pemerintah untuk dilikuidasi maupun dijual kembali kepada sektor swasta. Beberapa bank dengan kondisi yang lebih baik dimerger satu dengan yang lainnya. Program restrukturisasi terus berlangsung hingga saat ini. Perubahan blueprint sistem perbankan Indonesia kembali dilaksanakan dengan dikeluarkannya Arsitektur Perbankan Indonesia (API) pada tanggal 9 januari 2004. Program API mencakup

60

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com beberapa pilar, salah satu pilarnya adalah menciptakan struktur perbankan domestik yang sehat, mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (Booklet Perbankan Indonesia, 2006). Enam tahun setelah krisis, sektor perbankan mampu memberikan kontribusi yang positif terhadap perekonomian Indonesia. Bank Indonesia bahkan mengusung paradigma baru yaitu banks leading the development dimana perbankan diharapkan bisa menjadi penggerak dan pengarah berbagai kegiatan ekonomi. Prinsip dasar ini merupakan kebalikan dari prinsip umum yang biasa dijadikan landasan kegiatan usaha perbankan,

banks follow trade (Burhanuddin Abdullah, 2008).


Besarnya kontribusi perbankan terhadap perbankan ditunjukkan dari besarnya kontribusi langsung perbankan terhadap Produk Domestik Bruto maupun melalui jalur tidak langsung yaitu dengan melakukan credit channeling pada masyarakat. Adapun persentase sektor perbankan terhadap Produk Domestik bruto dari tahun ke tahun secara berturut-turut adalah 4,1 persen pada tahun 2004, 4,1 persen pada tahun 2005 dan 3,9 persen pada tahun 2006 (Tabel 3.1.) Penurunan kontribusi ini diatasi oleh perkembangan lembaga keuangan non perbankan dan sektor keuangan lainnya. Tabel 3.2. menunjukkan bank komersial terus mengeluarkan kredit kepada perekonomian dengan nilai yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pertumbuhan tertinggi dicapai ditunjukkan oleh kredit konsumsi sebesar 27,4%, diikuti kredit modal kerja 21,1 % dan kredit investasi 16,6%. Dengan pertumbuhan yang sedemikian rupa, total kredit yang berhasil dialirkan adalah sebesar 792.297 milyar rupiah. Bagaimanapun, besar harapan bahwa kredit investasi akan mampu mengimbangi pertumbuhan kredit lainnya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

61

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


Tabel 3.1. Kontribusi Sektor Perbankan Terhadap Produk Domestik Bruto Pada Harga Konstan Tahun 2000 Pada Tahun 2004-2006
2004 Persen Sektor 1. Pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan 2. Pertambangan dan penggalian 3. Industri pengolahan 4. Listrik, gas dan air bersih 5. Bangunan 6. Perdagangan, hotel, dan restoran 7. Pengangkutan dan komunikasi 8. Keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan Bank Lembaga keuangan bukan bank Jasa penunjang keuangan Sewa bangunan Jasa perusahaan 9. jasa-jasa 9.1 4.1 0.7 0.1 2.7 1,5 9,2 7.7 6 9,2 9.2 8,9 9,2 5,4 9.2 4.1 0.7 0.1 2,7 1,6 9,2 6.8 4.6 8.1 4.5 8,3 9,4 5 9.2 3.9 0.8 0.1 2,8 1,7 9,2 5.6 1.7 7 7.3 8,7 9,7 6,2 14,9 9,7 28,4 0,7 5,8 16,4 5,8 2,8 -4,5 6,4 5,3 7,5 5,7 13,4 14,5 9,4 28,1 0,7 5,9 16,8 6,3 2,7 3,1 4,6 6,3 7,4 8,4 13 14,1 9,1 27,8 0,7 6,1 16,9 6,7 3 2,2 4,6 5,9 9 6,1 13,6 tase Pertum buhan 2005 Persen tase Pertum buhan 2006 Persen tase Pertum buhan

Total PDB
Sumber : Biro Pusat Statistik dihitung

100

5,03

100

5,68

100

5,48

62

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


Tabel 3.2 Kredit Bank Umum Berdasarkan Jenis Penggunaan (miliar rupiah)
Pertumbuhan 2004 Jenis Penggunaan Modal Kerja Investasi Konsumsi Total 289.666 118.723 151.081 559.470 354.557 134.400 206.691 695.648 414.749 151.209 226.339 792.297 2005 2006 rata-rata 21,1 16,6 27,4 21,7

Sumber: Buku Statistik Perbankan Indonesia (SPI) (diolah)

Menurut Bank Dunia (2006), Perbankan merupakan segmen sistem keuangan terbesar, mengatur sekitar 80 persen dari aset keuangan. Dalam hal ini, bank-bank umum di Indonesia mendapatkan pendanaannya dari dana jangka pendek dalam negeri maupun luar negeri. Seperti bank-bank di negara lain, lebih dari 90 persen dari simpanan di bankbank umum Indonesia memiliki maturitas kurang dari satu bulan. Hal ini mengakibatkan bank-bank terpaksa menawarkan pinjaman jangka pendek dengan bunga mengambang agar neraca memiliki maturity match yang baik. Struktur keuangan tersebut juga membatasi keinginan bank untuk membiayai aset jangka panjang. Bank dan lembaga keuangan non-bank adalah elemen utama dari sistem keuangan yang sehat dan stabil. Sebagaimana dapat kita lihat dari Tabel 1.3., institusi keuangan non-bank (keuangan, asuransi, perusahaan sekuritas, dll) telah mencapai seperempat dari total aset perbankan. Ketika bank-bank mendominasi sistem keuangan di banyak negara, bisnis, rumah tangga dan sektor publik, semuanya bergantung pada ketersediaan range yang luas dari produk keuangan bank untuk memenuhi kebutuhan keuangannya.

63

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


Tabel 3.3 Struktur sektor keuangan (trilyun rupiah) tahun 2004-2005
Persentase Aset Tahun Jenis lembaga dan Tahun (trilyun Rp) terhadap asset total terhadap PDB asset Persentase asset

2005

Bank

1470

79.7

53.9

Lembaga Keuangan Non-Bank 2005 2005 2005 2005 Perusahaan keuangan Pegadaian Reksadana Perusahaan modal usaha Obligasi korporasi 2005 2004 2004 2004 2004 terhutang Lembaga keuangan rakyat Perusahaan asuransi Dana Pensiun Perusahaan sekuritas Total

374,5 67,7 4,8 29,4 2,7

20,3 3,7 0,3 1,6 0,1

13,7 2,5 0,2 1,1 0,1

62,8 14,7 75,1 107,1 10,1 1884,5

3,4 0,8 4,1 5,8 0,5 100

2,3 0,6 2,8 4,7 0,4 67,6

2004 2005

Kapitalisasi pasar modal Kapitalisasi pasar modal

680 801

N/A N/A

30,1 29,4

Sumber: Bapepam & LK, Bank Indonesia, Bank Dunia; Catatan: angka PDB yang digunakan adalah PDB tahun 2005

Selain lembaga keuangan non-bank, bank-bank Indonesia juga menghadapi persaingan secara tidak langsung dengan bank-bank regional, khususnya di Asia Tenggara. Bank-bank di Singapura dan Malaysia menjadi kompetitor utama bagi 64

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com perbankan di Indonesia. Tidak hanya melakukan bisnis di Indonesia, bank-bank tersebut juga secara meyakinkan mengakuisisi saham-saham mayoritas bank bank umum di Indonesia. Fullerton Financial Holdings (Singapura) melalui Asia Finance Indonesia consorsium , misalkan, telah mengakuisisi Bank Danamon dan Bank Internasional

Indonesia pada tahun 2003, UOB dan OCBC (Singapura) telah membeli bank buana dan Bank NISP. Malaysia Banking Berhard & CIMB bank berhard juga memiliki saham kepemilikan di Bank Niaga dan Lippo Bank. Minat asing terhadap industri perbankan Indonesia cukup beralasan. Dari Tabel 3.4, kita memahami bahwa ROAA (Return on Average Assets) dan ROAE (Return on

Average Equity) dari Perbankan Indonesia masih berada di atas rata-rata rasio yang sama
di Negara lain dan hanya satu peringkat di bawah Kamboja pada tahun 2006. Meskipun tingkat profitabilitas perbankan cukup baik, namun belum ditemukan tren kestabilan profitabilitas dari bank-bank umum di Indonesia. ROAA Indonesia dari tahun 2004-2006 telah berfluktuasi dari 3,1 persen (2004), menjadi 2,3 persen (2005) dan sedikit meningkat menjadi 2,9 persen (2006). Hal ini disebabkan karena penurunan tingkat pemberian kredit atau LDR (Loan Deposit Ratio) dalam industri perbankan nasional dari 71,5 persen menjadi 62,5 persen pada periode (2004-2006). Sehubungan dengan rasio LDR, perbankan Thailand memiliki posisi yang lebih baik dari Indonesia dengan rasio sebesar 83,8 persen. Ini membuat mereka menempati peringkat teratas dalam hal LDR bersama dengan bank-bank umum di Singapura pada tahun 2006.

65

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


Tabel 3.4. Rasio-rasio keuangan dari bank-bank umum di kawasan Asia Tenggara (%) tahun 2004-2006
ROAA % Negara Cambodia Indonesia Vietnam Singapore Malaysia Thailand Phillipines 2004 2,54 3,1 1,29 0,87 1,27 1,02 0,92 2005 2 2,35 1,28 1,05 1,18 1,56 1,23 2006 2,97 2,57 1,62 1,38 1,28 1,27 1,25 2004 11,94 19,92 13,08 7,14 12,39 14,2 6,48 ROAE% 2005 11,27 13,56 11,84 7,24 13,92 14,46 9,66 2006 16,66 16,57 14,7 11,66 13,95 11,36 10,08 2004 34,5 71,5 69,6 82,8 62 78,9 58,4 LDR% 2005 52,3 62,27 65,72 65,93 66,1 76,86 60,07 2006 56,7 62,5 65,9 67,4 64 83,8 50,4

Sumber: BankScope-Bureau Van Dijk and Biro Riset InfoBank (birl)

Table 3.5. Indikator kinerja bank-bank umum di Indonesia lainnya tahun 2004-2007
CAR Jenis
Bank Persero BUSN Devisa BUSN Non Devisa BPD Regional Bank Campuran Bank Asing Total

BOPO 2006 21,2 19,8 2004 75,53 78,25 2005 95,17 88,31 2006 97,1 82,5 2004 6,23 5,35

NIM 2005 5,78 5,24 2006 5,77 5,67

2004 20,7 18,1

2005 19,4 16,9

16,3 19,1

15,3 19,2

19,3 19,1

83,94 73,85

97,48 76,17

92,3 76,2

8,52 10,5

5,35 9,56

6,8 8,2

28,4 16,5 19,42

28,8 21,9 19,3

30,8 24,5 21,27

76,95 75,71 76,64

74,92 82,8 89,5

79,1 81,2 86,98

3,46 4,4 5,88

3,81 4,78 5,63

4,59 4,91 5,8

Sumber: Buku Statisitk Perbankan Indonesia (SPI), diolah

66

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Menilik lebih dekat pada struktur bank umum di Indonesia, kita dapat membagi industri perbankan menjadi 6 bagian, yaitu Bank Persero, Bank umum Swasta Nasional devisa (BUSN Devisa), Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa (BUSN Non Devisa), Bank pembangunan Daerah Regional (BPD Regional), Bank Campuran, Bank Asing. Dari perspektif kecukupan modal, CAR (Capital Asset Ratio) dapat dilihat bahwa bank-bank umum di Indonesia telah mencapai hasil yang baik dalam beberapa tahun terakhir. Rasio CAR bahkan terus meningkat dari 19,42 persen pada tahun 2004 menjadi 21,27 persen pada tahun 2006. Meskipun begitu, BOPO (Rasio biaya operasi terhadap pendapatan operasi) masih cukup tinggi pada tingkat 80 persen pada tahun 2006.

Menanggapi hal tersebut, Agusman (2007) menilai tingkat BOPO yang tinggi menunjukkan ketidaefisienan pada operasi bank. Beberapa faktor seperti biaya sumber daya manusia, jaringan kantor yang kurang efisien, dan teknologi informasi yang tidak terpakai dapat berkontribusi pada kenaikan biaya operasi. Dalam hal ini, bank perlu mengikuti beberapa reformasi efisiensi untuk menghadapi rencana implementasi Basel II secara menyeluruh yang akan mengikutsertakan resiko operasional dalam proses pengawasan. Di sisi lain, Tabel 3.5. menunjukkan bahwa NIM (Net Interest Margin) dari bank umum Indonesia telah mencapai tingkat yang cukup tinggi sebesar 6 persen. Menurut Komang Darmawan (2008), dengan keadaan tingkat suku bunga sekarang ini yang sebesar 4-6%, yang umumnya dilakukan bank-bank umum adalah mengucurkan dana kredit dengan tingkat pinjaman sebesar 13-16%. Hal ini akan mampu memberikan spread sebesar 6-12%. Sebagian dari dana tersebut juga dapat ditempatkan pada surat berharga pemerintah seperti SBI (Sertifikat Bank Indonesia) atau SUN (Surat Utang Negara)

67

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com dengan tingkat return 8-10%. Meskipun begitu, mereka masih dapat menikmati spread

margin sebesar 2-6%. Oleh karen itu, disebutkan pula bahwa NIM Perbankan Indonesia
terbesar di ASEAN (Kompas, 2004). Relatif terhadap negara lain, bank umum di Indonesia memiliki ruang pengembangan yang cukup besar, khususnya dalam aspek kredit dan efisiensi struktur biaya jasa keuangan.
Tabel 3.6. Bank-bank Umum di Indonesia berdasarkan total Aset 2004-2007
2004 Kategori Bank A Bank Persero BUSN Devisa BUSN Non-Devisa BPD Regional Bank Campuran Bank Asing 0 8 31 10 7 3 B 1 17 9 15 13 3 C 1 9 0 1 0 5 D 3 2 0 0 0 0 A 0 10 31 5 5 2 B 1 13 7 20 14 4 C 1 10 0 1 0 5 D 3 2 0 0 0 0 A 0 6 28 1 2 2 B 1 15 8 18 14 3 C 1 12 0 7 1 6 D 3 2 0 0 0 0 A 0 5 26 1 0 1 B 0 14 9 18 15 4 C 2 11 1 7 2 6 D 3 5 0 0 0 0 2005 2006 2007

Sumber: Buku Statisitk Perbankan Indonesia (SPI) 2007

Note: A: Aset <Rp.1 triyun B: Aset Rp. 1 hingga 10 trilyun C: Aset Rp. 10 hingga 50 trilyun D: Aset >Rp. 50 trilyun

68

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


Tabel 3.7. Konsentrasi Industri dari Bank-bank Umum di Indonesia (Berdasarkan Kredit yang dihasilkan)
Indikator CR4 (%) HHI 2004 43,9 617,421 2005 41,9 573,218 2006 41,1 556,868 Trend konsentrasi Menurun Menurun

Sumber: Buku Statisitk Perbankan Indonesia (SPI) 2005 & 2006, diolah.

Merupakan hal yang penting untuk memahami peta strategik dari industri perbankan umum di Indonesia berdasarkan nilai aset/kapasitasnya. Dari table 6.6, dapat dilihat bahwa dari tahun 2004 hingga 2007, jumlah bank-bank komersial di tiap kategori relatif stabil dibandingkan periode sebelumnnya. Pergeseran yang paling jelas terjadi adalah peningkatan jumlah bank swasta nasional devisa dengan aset di atas 50 trilyun rupiah yang berlipat ganda dari 2 buah menjadi 5 buah pada tahun 2007. Perubahan lain yang bisa kita perhatikan adalah pergeseran jumlah bank pembangunan daerah regional dari kategori asset kurang dari 1 trilyun rupiah naik tingkat menjadi kategori bank dengan asset 10 trilyun rupiah. Untuk mengukur tingkat konsentrasi dalam industri perbankan di Indonesia, kita dapat menggunakan rasio CR4 (Concentration Ratio-4) dan HHI (Herfindahl Index). Ditemukan bahwa CR4 telah menurun sedikit dari 43,9 persen pada tahun 2004 menjadi 41,1 persen pada tahun 2006. Hal ini berarti di dalam industri terdapat empat bank besar yang menguasai kurang lebih dari 40% pasar. Mengingat nilai masih berkisar pada nilai 0,4 maka, bisa dikatakan pasar perbankan masih cukup kompetitif (QuickMBA, 2007). HHI indeks menunjukkan nilai yang menurun yaitu dari 617,421 menjadi 556,868 dalam 3 tahun. Menurut standar yang digunakan oleh departemen hukum di Amerika serikat, indeks HHI dapat digunakan sebagai acuan untuk mengevaluasi dampak merger terhadap 69

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com derajat konsentrasi industri yang ada. Nilai HHI yang berada kurang dari 1000 menunjukkan nilai yang relatif tidak terkonsentrasi atau penuh persaingan (QuickMBA, 2007). Secara keseluruhan baik, CR-4 maupun HHI indeks menunjukkan bahwa industri perbankan Indonesia menunjukkan persaingan yang semakin ketat seperti yang dapat dilihat dalam nilai trend konsentrasi pada tabel 3.7. yang nilainya menurun. Memahami keadaan industri bank umum di Indonesia, pemerintah menyadari pula terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memastikan efisiensi dalam system perbankan. Salah satu diantaranya adalah dengan mendorong kecukupan modal yang juga menjadi dasar dari skala operasi yang lebih baik. Menurut API (Booklet Perbankan Indonesia, 2006), upaya peningkatan modal bank-bank umum dilaksanakan melalui perancangan yang matang dalam business plan dengan memuat target waktu, cara dan tahap pencapaian. Adapun cara pencapaiannya dapat dilakukan melalui: a. penambahan modal baru baik dari shareholder lama maupun investor baru; b. merger dengan bank (atau beberapa bank) lain atau Bank Jangkar untuk mencapai persyaratan modal minimum baru; dan atau c. penerbitan saham baru atau secondary offering di pasar modal. Meskipun demikian, upaya peningkatan permodalan bank umum yang semula ditempuh melalui mekanisme pasar masih dipandang kurang efektif. Sehingga sejak pertengahan tahun 2005 dilakukan upaya yang lebih tegas melalui program percepatan konsolidasi perbankan yang bersifat light handed directive approach. Strategi peningkatan permodalan bank umum dengan light handed directive approach ditandai dengan penetapan modal inti minimum secara bertahap, yaitu sebesar Rp 80 miliar pada akhir tahun 2007 dari sebesar Rp 100 miliar pada akhir tahun 2010. Strategi ini pun

70

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com bukan merupakan strategi akhir yang akan dilaksanakan Bank Indonesia mengingat tidak tertutup kemungkinan untuk melakukan pendekatan yang lebih tegas (heavy handed

approach) apabila strategi yang saat ini dilaksanakan tidak menunjukkan upaya
keberhasilan (Booklet Perbankan Indonesia, 2006).

71

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com

Bab IV METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini ditujukan untuk menemukan tingkat economies of scale, economies

of scope, dan technical change dalam industri perbankan di Indonesia serta menganalisa
hasilnya dalam upaya merancang strategi peningkatan efisiensi operasi (operating

efficiencies) bank-bank umum swasta devisa besar di Indonesia.


Pada bab ini akan diuraikan mengenai data-data yang digunakan, pembentukan model beserta alat-alat analisis yang digunakan untuk memahami nature fungsi biaya yang akan digunakan untuk memperoleh tingkat economies of scale, economies of scope, dan technical change dari industri perbankan, secara khusus bank-bank umum swasta devisa besar periode 2004:1 hingga 2006:12

A. Model Penelitian

Model penelitian adalah model yang didasarkan dari Murray dan White (1983) dan Yu (2003). Dalam penelitian di atas, pendekatan yang digunakan untuk mengukur vektor ouput yang dihasilkan bank-bank dengan multi-produk adalah pendekatan intermediasi (intermediation approach). Dalam pendekatan intermediasi, simpanan (deposits) dianggap sebagai input yang digunakan untuk menghasilkan pinjaman (loans) sebagai output. Penelitian ini juga berasumsi bahwa bank-bank umum di Indonesia beroperasi dalam lingkungan yang kompetitif dan memiliki tujuan meminimumkan biaya. Model 72

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com fungsi biaya yang dihasilkan dalam penelitian tersebut diharapkan dapat menjelaskan proses produksi dari bank-bank multi-produk di Indonesia. Dalam penelitian yang dilakukan Murray, White (1983) proses produksi lembaga keuangan multi-produk dapat digambarkan sebagai berikut :

Output (Qi) = f (inputj ) ........ (4.1) Dimana: Qi = vektor output Inputj = input-input yang digunakan (j = 0,1,2,3..)

Secara umum, fungsi produksi yang digunakan dalam penelitian perbankan relatif serupa untuk setiap kasus negara. Hanya saja terdapat beberapa modifikasi yang dapat dilakukan sesuai dengan penjabaran input dan variabel-variabel tambahan lain yang dianggap mempengaruhi struktur biaya bank. Untuk itu, penulis mencoba untuk mengadopsi model produksi dan biaya dari Murray dan White (1983) sebagai referensi penelitian ini karena model yang digunakan penelitian tersebut dianggap cukup mewakili struktur produksi dan biaya perbankan bank-bank umum/komersial swasta devisa besar di indonesia yang menjadi objek observasi penelitian ini. Penulis menambahkan variabel

technical/technological change yang digunakan oleh Glass dan McKillop (1992) untuk
mengestimasi scale dan scope economies bank of Ireland dari tahun 1972 -1990. Menurut Murray dan White (1983), estimasi fungsi biaya dengan menggunakan fungsi translog dilakukan untuk menghindari kelemahan-kelemahan dari fungsi biaya Cobb-Douglas dan CES. Menurut fungsi Cobb-Douglas dan CES, return to scale

73

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com diharuskan konstan pada setiap tingkat output. Hal ini dapat memberikan gambaran yang bias terhadap hubungan biaya pada tingkat output yang berbeda beda. Meskipun demikian, fungsi biaya Murray dan White (1983) memiliki keterbatasan dimana beberapa

properties fungsi biaya seperti monotonicity dan concavity tidak mendapat restriksi dari
awal dan tidak diuji setelah model estimasi dikerjakan. Namun, penelitian ini mampu mengoreksi keterbatasan penelitian sebelumnya dengan menghitung standar error dari estimasi economies of scale dan economies of

scope, maupun technical change. Karena fungsi dari parameter yang diestimasi bersifat
nonlinear, maka exact standard error tidak dapat dihitung (Mester 1987). Namun penelitian ini menghitung standard error dengan mengikuti pendekatan Fuller (1962).

Standard Error dihitung dengan menggunakan matrix D D, dimana

merupakan

variance covariance matrix dari parameter dan D merupakan matriks dari parameter yang
hendak diestimasi. Adapun Model awal yang digunakan oleh Murray dan White (1983) adalah sebagai berikut:

Ln TC=
3

ci lnQi
i =1 2 ij

+ j ln Pj + ij ln Qi ln Q j +
j =1 i =1 j =1


i =1 j =1

ij

ln Pi ln Pk +


i =1 j =1

ln Pi ln Q j .............................(4.2)

Dimana : TC adalah total biaya perusahaan Qi adalah output input perusahaan Pj adalah harga input perusahan

74

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Maka model yang digunakan dalam penelitian ini yang didasarkan dari model di atas dapat dituliskan sebagai berikut:

Ln TC = a1D1 + a2D2+ a3D3+ a4D4+ a5D5+ a6D6+ a7D7+ a8D8+ a9D9+ a10D10+ c1 lnQ1 + c2 lnQ2 + 1 ln P1+ 2 ln P2 + 3 ln P3 + 11 (lnQ1)2 + 12 ln Q1Q2 + 22 (lnQ2)2 + 11 (lnP1)2 + 12 lnP1lnP2 + 13 lnP1lnP3 + 22 (lnP2)2 + 23 lnP2lnP3 + 33 (lnP3)2 +11 lnP1lnQ1 +12lnP1lnQ2 +21ln P2 lnQ1 +22 lnP2lnQ2 +31lnP3lnQ1 +32lnP3lnQ12+ 1lnQ1T+2lnQ2T +1lnP1T +2lnP2T +3lnP3T +BtT +BttT2.............................(4.3) Dimana: Ln = logaritma natural TC = Nilai dari nilai total biaya riil (jumlah dari biaya bunga, biaya tenaga kerja, dan biaya modal) Dk = Dummy dari masing-masing bank umum swasta devisa besar ( k = 1,2,..10) Q1 = Nilai kredit dalam rupiah riil (berhubungan dengan bank dan pihak lain) + Kredit dalam mata uang asing riil (terkait dengan bank dan pihak lain). Q2 = Nilai dari sekuritas riil (rupiah dan dollar) + obligasi pemerintah riil. P1 = Nilai dari rata-rata biaya bunga untuk tiap rupiah dari tabungan dan pinjaman riil. P2 = Nilai dari rata-rata biaya tenaga kerja riil. P3 = Nilai rata-rata biaya modal riil. T = indeks waktu sebagai proxy teknologi ak dimana k = 1,2,....10 merupakan koefisien dari dummy variabel konstanta masingmasing bank umum swasta devisa besar.

75

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com c1, c2, 1 , 2, 3, 11, 12, 22, 11, 12, 13, , 22, , 23,, 33, 11, 12, 21, 22, 31, 32 1, 2, 1, 2, 3, Bt, Btt = koefisien elastisitas variabel independen terhadap variable dependen total biaya.
B B

Dalam hal ini parameter dalam fungsi biaya diasumsikan mematuhi kondisi simetri ( ij = ji ), (ij = ji) untuk semua ij, serta mematuhi restriksi linear homogenitas terhadap harga input agar properties/ sifat-sifat dari fungsi biaya dapat terpenuhi. Restriksi linear homogenitas terhadap input dapat kita terapkan secara langsung pada persamaan dengan melakukan restriksi, sebagai berikut:

i =1 3

= 1;

i =1 3

ij

= 0 , untuk setiap j;


i =1 j =1

ij

= 0;

i =1

=0

Persamaan fungsi biaya diatas kemudian diestimasi dengan metode least square untuk memperoleh estimasi yang efisien dan unbiased.

B. Deskripisi Data

Penelitian ini menggunakan data sekunder bulanan dari Direktori Perbankan Bank Indonesia edisi cetak maupun web dari (www.bi.go.id) selama kurun waktu (2004:12006:12) yang telah di-riilkan dengan tahun dasar (IHK 2002 =100). Pemilihan tahun 2004 sebagai waktu dimulainya penelitian, karena periode tersebut dianggap lebih stabil

76

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com dari periode-periode sebelumnya yang masih turbulen karena dampak krisis moneter di Indonesia, dimana beberapa bank-bank umum dibatasi kegiatan usahanya bahkan dibekukan. Selain itu, pada periode tersebut pemerintah Indonesia membentuk tim khusus untuk memulai program API, termasuk program konsolidasi perbankan yang berfungsi untuk membentuk blueprint perbankan nasional. Dengan munculnya program ini, pemerintah menunjukkan dukungannya untuk membantu bank-bank agar dapat beroperasi secara lebih efisien. Adapun penelitian ini dimaksudkan pula untuk memberi masukan objektif akan program pemerintah tersebut. Data yang digunakan berakhir pada tahun 2006 mengingat ketersediaan data yang dipublikasikan Bank Indonesia ketika penelitian ini dimulai baru terbatas hingga periode tersebut. Adapun data yang digunakan merupakan data bulanan dalam bentuk panel data 10 bank umum swasta devisa yang merupakan bagian dari 15 bank dengan nilai aset terbesar (systemically important banks/SIBs). Menurut Bank Indonesia, 15 bank tersebut merupakan sumber utama pertumbuhan kredit nasional sehingga maju atau tidaknya bank-bank tersebut penting untuk menjamin keberhasilan program-program pemerintah dalam industri perbankan nasional, maupun perekonomian secara luas. Adapun 10 bank yang dipilih diasumsikan memiliki teknologi produksi yang mirip mengingat bank-bank tersebut merupakan bank-bank dengan kelompok aset yang besar, merupakan bank swasta (kepemilikan saham pemerintah di bawah 50 persen), serta telah menjadi perusahaan terbuka sejak akhir tahun 2003. Kepemilikan saham yang terbuka (tbk.) juga menjamin terjaganya good corporate governance yang diawasi langsung oleh Badan Pengawasan Pasar Modal (Bapepam).

77

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Selain memiliki tingkat produksi output dalam jenis dan jumlah yang relatif serupa, bank-bank tersebut juga menggunakan input yang kurang lebih sama satu sama lain. Oleh sebab itu, dapat diasumsikan bahwa 10 bank-bank umum swasta devisa besar yang menjadi objek observasi penelitian ini beroperasi dalam teknologi yang serupa satu sama lain. Di bawah ini adalah bank-bank umum swasta devisa besar Indonesia yang menjadi observasi penelitian, yaitu sebagai berikut:

Tabel 4.1. Bank-bank umum swasta devisa besar di Indonesia yang sebagai observasi penelitian untuk periode 2004:1 hingga 2006:12 Nilai Aset Rata-rata Desember 2003Simbol Nama Bank Desember 2006
152.352.101,75 9.212.400,25 65.344.722,25 39.996.044,50 28.872.087,75 20.534.088,00 32.972.574,75 18.848.674,50 26.811.655,25 32.598.384,50

_F _G _H _I _J _K _L _M _N _O

PT. Bank Central Asia, Tbk PT. Bank Century, Tbk PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk PT. Bank Internasional Indonesia, Tbk PT. Bank Lippo, Tbk PT. Bank Mega, Tbk PT. Bank Niaga, Tbk PT. Bank Nisp, Tbk PT. Pan Indonesia Bank, Tbk PT. Bank Permata, Tbk

Sumber: Direktorat Pasar Modal Indonesia (2006) diolah (nilai dalam jutaan rupiah) Adapun variable-variabel yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari definisi variable oleh Yu (2003) yang dapat didefinisikan sebagai berikut:

78

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


1. Variabel dependen

Variabel dependen yang digunakan dalam model penelitian adalah Total Biaya Riil, dimana:

TC, Total biaya Riil

Total biaya Riil didefinisikan sebagai jumlah total dari biaya-biaya input, yaitu biaya bunga riil, biaya personalia riil dan biaya administrasi dan umum riil.

2. Variable Independen a. P1, harga rata-rata dari tingkat bunga

P1 merupakan harga/biaya bunga rata-rata per rupiah dari nilai total simpanan yang mengandung bunga dan seluruh dana yang dipinjam oleh bank.

Beban Bunga = P1.R

Dimana R = (nilai total deposits riil) + (dana yang dipinjam oleh bank riil). Sehingga biaya bunga rata-rata dapat dihitung dengan persamaan berikut:

P1 = (nilai beban bunga riil)/ (nilai total deposits + dana yang dipinjam oleh bank riil).

Dalam hal ini, nilai total deposits didefinisikan sebagai jumlah total dari giro, simpanan berjangka, tabungan yang dimiliki bank.

79

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com

b. P2, harga rata-rata tenaga kerja

P2 = (nilai beban personalia riil)/ (jumlah seluruh pekerja bank).

Dalam hal ini, biaya tenaga kerja didefinisikan sebagai gaji, biaya lembur, bonus, dan biaya lain yang menyangkut personalia. Mengingat data jumlah pekerja yang didapatkan merupakan jumlah pekerja tahunan, maka dilakukan interpolasi data dengan metode linear dari data low frequency (tahunan) menjadi high frequency (bulanan) dengan menggunakan Eviews.

c. P3, harga rata-rata modal

Harga rata-rata modal dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

P3 = (Nilai beban administrasi dan umum riil) / (nilai biaya tetap bersih riil) = (Nilai beban administrasi dan umum riil) / (nilai biaya tetap riil nilai akumulasi depresiasi riil).

Studi-studi sebelumnya mengenai struktur biaya perbankan mendefinisikan biaya modal sebagai jumlah dari berbagai konsep biaya seperti sewa, depresiasi, peralatan, dan perlengkapan (Mester, 1987; Murray dan White, 1983). Data tersebut tidak diambil secara langsung dari neraca dan laporan rugi-laba. Oleh sebab itu, data biaya modal yang digunakan untuk kasus ini adalah beban administrasi dan umum. Beban administrasi dan umum yang ada memang tidak hanya meliputi biaya modal namun juga biaya lain seperti

80

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com air, dan listrik. Akan tetapi nilai biaya lain-lain tersebut relatif kecil, sehingga nilai beban administrasi dan umum dianggap dapat mewakili biaya modal bank-bank komersial. Pendekatan empiris terhadap definisi output dalam studi ini didukung secara oleh penelitian yang dilakukan Molyneux, Altunbas dan Gardener (1997) mengenai model

scale dan scope economies dalam pasar perbankan. Definisi output yang juga mendukung
penelitian ini berasal dari Peiyi Yu (2003), Kolari dan Zardkoohi (1987) dan studi lainnya.

Dalam studi ini, output didefinisikan sebagai total investasi dan total pinjaman

d. Q1, total pinjaman riil

Dalam model, total pinjaman terdiri dari:

Q1 = Nilai kredit dalam rupiah (berhubungan dengan bank dan pihak lain) + Kredit dalam mata uang asing (berhubungan dengan bank dan pihak lain) riil.

e. Q2, total investasi

Total investasi terdiri dari:

Q2 = Nilai sekuritas (Rupiah dan Dollar) riil + nilai obligasi pemerintah riil

81

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Sekuritas dan Obligasi pemerintah terdiri dari tiga kategori (diperdagangkan, siap dijual, dan dimiliki hingga jatuh tempo).

Tabel 4.2. Nilai Mean, Median, dan Min-Max dari Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian (Periode 2004:1 hingga 2006:12)
Variabel Notasi Mean Median Maximum Minimum

TC? 1.390.000 985.000 8.340.000 34.900 Total Biaya Q1? 13.900.000 10.900.000 42.200.000 962.000 Total Pinjaman Q2? 10.400.000 6.130.000 50.400.000 1.000.000 Total Investasi Harga Tingkat P1? 0.0345 0.0314 0.0938 0.0012 Bunga Harga Tenaga P2? 33.825.579 31.172.802 130.000.000 77.411 Kerja P3? 0.49954 0.40915 3.11916 0.00086 Harga Modal T? 18.50 18.50 36.00 1.00 Indeks Waktu Sumber: Neraca dan laporan rugi laba bank dalam Direktorat Perbankan 2004-2006(diolah) Catatan: Nilai Total biaya, pinjaman dan investasi dalam jutaan rupiah

Tabel 4.2. menunjukkan nilai-nilai mean, median, maximum dan minimum dari variabel-variabel independen dan dependen yang digunakan dalam penelitian.

Alasan Penggunaan Panel Data dalam penelitian ini

Menurut Baltagi dalam Gujarati (2003: 637), terdapat beberapa keuntungan dalam menggunakan panel data, yaitu: 1. Dengan mengkombinasikan time series dan observasi cross-section, panel data memberikan data yang lebih informatif, lebih variatif, dan mengurangi kolinearitas antar variabel, derajat kebebasan yang lebih banyak, efisiensi yang lebih besar. 2. Dengan mempelajari bentuk cross-section berulang-ulang dari observasi, panel data lebih baik untuk mempelajari dinamika perubahan.

82

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com 3. Panel data dapat mendeteksi lebih baik dan mengukur efek-efek yang tidak dapat diobservasi dalam cross-section murni maupun data time series murni. 4. Panel data memungkinkan kita untuk mempelajari model perilaku yang lebih rumit. Sebagai contoh, fenomena seperti economies of scale dan perubahan teknologi yang dapat dilakukan lebih baik dengan panel data daripada crosssection murni maupun data time series murni. 5. Dengan membuat data tersedia dalam jumlah lebih banyak, panel data dapat meminimumkan bias yang dapat terjadi bila kita mengagregatkan individu atau perusahaan ke dalam agregat yang luas. 6. Secara garis besar, panel data dapat memperkaya analisis empiris dengan berbagai cara yang mungkin tidak terjadi jika kita hanya menggunakan cross-

section atau data time series.


7. Panel data tidak memerlukan uji ekonometri. Uji Ekonometri dilakukan untuk mengetahui apakah spesifikasi model yang digunakan sudah memenuhi asumsi klasik atau belum. Uji in meliputi normalitas, linearitas, homoskedastisitas, non-autokorelasi dan non-multikolinearitas. Menurut Gujarati (2003) dalam Putra (2007:71) dan Yudhistira (2007) disebutkan apabila dalam penelitian menggunakan data panel, maka uji asumsi klasik tidak perlu dilakukan sebab dalam data panel berlaku asumsi: a. Parameter regresi tidak berubah dari waktu ke waktu. b. Varians error dari fungsi regresi homoskedastisitas. c. Error dari fungsi regresi dari waktu ke waktu tidak saling berhubungan.

83

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


C. Metode Estimasi

Metodologi Estimasi dimulai dengan melakukan penyusunan dan transformasi data di dalam software Microsoft Excel. Setelah melakukan transformasi data di dalam bentuk

Excel, dimana data yang ada di-riilkan dan ditransformasi dalam bentuk logaritma
natural, penelitian dapat dilanjutkan ke dalam pengujian dalam Eviews 4. Pengerjaan dalam Eviews 4 dimulai dengan melakukan dua uji spesifikasi utama, yaitu: a. Uji Spesifikasi Panel Data, yang terdiri dari Uji Chow Uji LM Uji Hausman

b. Uji Linear Equation Restriction

Setelah model fungsi biaya yang terbaik diperoleh, model fungsi biaya tersebut kemudian diestimasi, dan dianalis/dievaluasi dengan menggunakan beberapa alat analisis yang dapat dilakukan di Eviews maupun Excel, yaitu: a. Uji Wald, yang terdiri dari Uji Homotheticity Uji Homogeneity dalam output Uji Linear Homogeneity dalam output/ constant return to scale Uji Cobb-Douglas

c. Overall Economies of Scale d. Quasi Scope (Qscope)

84

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com

e. Technical Change

Di bawah ini merupakan keterangan lebih lanjut dari metodologi estimasi yang dilakukan dalam penelitian. Untuk mendapatkan model terbaik, kita perlu melakukan beberapa uji spesifikasi model, sebagai berikut:

1.Uji-Uji Spesifikasi Model a. Uji Spesifikasi Panel Data

FIXED EFFECT

Hausman Test RANDOM Chow Test EFFECT

POOLED LEAST SQUARE

LM Test

Gambar 4.1. Pemilihan Model Terbaik Panel Data

85

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


1) Uji Chow

Uji Chow adalah pengujian F Statistics adalah pengujian untuk memilih apakah model yang digunakan Pooled Least Square atau Fixed Effect (Modul Panel Data Ekonometri II FE UGM, 2005). Dalam pengujian ini dilakukan dengan hipotesa sebagai berikut: H0: Model PLS (Restricted) H1: Model Fixed Effect (Unrestricted) Dasar penolakan terhadap hipotesa nol tersebut adalah dengan menggunakan F Statistik seperti yang dirumuskan oleh Chow:

CHOW =
Dimana:

( RRSS URSS ) /( N 1) URSS /( NT N K )

RRSS = Restricted Residual Sum Square (Merupakan Sum of Square Residual yang diperoleh dari estimasi data panel dengan metode pooled least square/common

intercept)
URSS = Unrestricted Residual Sum Square (Merupakan Sum of Square Residual yang diperoleh dari estimasi data panel dengan metode fixed effect) N= Jumlah data cross section T= Jumlah data time series K=Jumlah variabel penjelas

2)

Uji LM

Uji LM adalah pengujian untuk memilih model PLS atau model Random Effect (Modul Panel Data Ekonometri II FE UGM, 2005). Dalam pengujian ini dilakukan dengan hipotesa sebagai berikut:

86

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com H0: Model PLS (Restricted) Ha: Model Random Effect (Unrestricted) Dasar penolakan terhadap hipotesa nol tersebut adalah dengan menggunakan table distribusi chi_square seperti yang dirumuskan oleh Breusch_Pagan:

LM

nT [ i =1n 2(T 1)
n

[ eit ]2 e
i =1 t =1 t =1 n 2 it

1] 2

ket.:

e
i =1 t =1

2 it

= Restricted Residual Sum Square (Merupakan Sum of Square Residual yang diperoleh dari estimasi data panel dengan metode pooled least

square/common intercept)

[ eit ]2 = jumlah error kuadrat dari model Random Effect


i =1 t =1

N= Jumlah data cross section T= Jumlah data time series

3)

Uji Hausman

Uji Hausman adalah uji untuk memilih model Fixed Effect atau Random Effect (Modul Panel Data Ekonometri II FE UGM, 2005). Dalam pengujian ini dilakukan dengan hipotesa sebagai berikut: H0: Random Effects Model Ha: Fixed Effects Model Dasar penolakan terhadap hipotesa nol tersebut adalah dengan menggunakan table distribusi chi_square.

87

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


b. Uji Linear Equality Restriction

Dalam teori ekonomi, sering terjadi dimana koefisien dalam model regresi memenuhi restriksi tertentu (linear equality restrictions) (Gujarati, 2003). Dalam fungsi biaya, hal ini juga terjadi dimana untuk memenuhi sifat/properties fungsi biaya, beberapa restriksi dapat dimasukkan ke dalam model. Untuk mengetahui apakah restriksi dapat dimasukkan atau tidak, perlu dibandingkan antara regresi least-square yang restricted (telah direstriksi) dan yang unrestricted (belum direstriksi). Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan uji F sebagai berikut: F = (RSSR-RSSUR)/m RSSUR/(n-k) =
2 2 ( U R U UR )/m

U
2 R

2 R

/(n k )

Dimana:

U U

= RSS (Residual sum of squares) dari regresi tanpa restriksi = RSS dari regresi berestriksi

2 UR

m = jumlah restriksi linear k = jumlah parameter dalam regresi tanpa restriksi n = jumlah observasi Dalam pengujian ini dilakukan dengan hipotesa sebagai berikut: H0:

i = 1;
i =1 3

ij = 0 , untuk setiap j;
i =1 3

ij = 0 ;
i =1 j =1 3 2

i =1 3

=0

Ha:

i =1

1;

i =1

ij

0 , untuk setiap j;


i =1 j =1

ij

0;

i =1

88

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


2. Alat Analisis/Evaluasi Hasil Estimasi Model Fungsi Biaya

Setelah kita mendapatkan fungsi biaya dan pangsa dari bank-bank umum besar di Indonesia, ada beberapa tes yang perlu dilakukan untuk mengetahui nature dari fungsi biaya yaitu:
a. Uji Wald / Struktural

Uji Wald menghitung test statistik dengan mengestimasi regresi yang tidak dibatasi (unrestricted regression) tanpa memaksakan restriksi koefisien yang dinyatakan dalam hipotesis nol. Statistik Wald mengukur seberapa dekat estimasi yang tidak dibatasi mampu memenuhi restriksi/batasan dalam hipotesis nol. Jika restriksi memang terjadi, maka estimasi yang tidak dibatasi akan mendekati restriksi yang ada (Quantitative Micro Software, 2001). Adapun restriksi yang hendak diuji dalam sistem fungsi biaya adalah sebagai berikut: Uji Homotheticity, menguji apakah fungsi produksi memiliki expansion path yang linear, dimana marginal rate of substitution (rasio input optimal) bersifat independen terhadap tingkat output dan bergantung hanya pada harga relatif (Jae Wan Chu, 2004). Hipotesis yang digunakan adalah:

H0 : ij = 0; j = 0 Ha : ij 0; j 0 untuk i = 1,2,....n dan j = 1,2,....n

89

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Uji Homogeneity dalam output dengan tingkat k, menguji apakah kenaikan output sebesar, misalkan t akan mengakibatkan kenaikan total biaya sebesar tk (Murray dan White, 1983). Hipotesis yang digunakan adalah:

H0 : i = 0; ij = 0; j = 0 Ha : i 0; ij 0; j 0 untuk i = 1,2,....n dan j = 1,2,....n

Uji Linear Homogeneity dalam output/ constant return to scale, menguji apakah kenaikan output akan meningkatkan total biaya secara

proporsional / dalam perubahan relatif yang sama (Murray dan White, 1983). Hipotesis yang digunakan adalah: H0 :

c1 = 1,
i

ij = 0 untuk setiap j,
i

= 0 untuk setiap j

Ha :

c1 1,
i

ij 0 untuk setiap j,
i

0 untuk setiap j

Uji Cobb-Douglas, menguji apakah fungsi translog dapat disederhanakan atau direduksi menjadi fungsi yang lebih sederhana seperti Cobb-Douglas (Santoso, 1988). Hipotesis yang digunakan adalah:

H0 : ij = ij = ij = i = ij = Bt = Btt = 0 Ha : ij ij ij i ij Bt Btt 0

90

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Uji-uji di atas diperiksa dengan uji Wald, dimana signifikansi nilai diperoleh dengan cara membandingkan nilai 2 (chi-square) statistik terhadap 2 table pada probabilitas 5 persen.

Selain di uji sifat-sifatnya, dari fungsi biaya juga dapat diestimasi tingkat scale dan scope economies, serta technical change sebagai berikut:

b. Overall Economies of Scale (OES)

Dari fungsi biaya, tingkat economies of scale diukur dengan menghitung perubahan biaya akibat perubahan output, dengan asumsi harga input tetap (Molyneux, Altunbas dan Gardener, 1997; Noulas, Ray dan Miller, 1990). Economies of scale dikatakan terjadi apabila kenaikan output, dengan harga input tetap, menghasilkan peningkatan biaya total yang lebih sedikit, karena adanya penurunan dalam biaya ratarata. Adapun cara mengukur OES dapat dilakukan sebagai berikut:

OES = Dimana : TC = Total Biaya Qi = Output ke-i

ln Q
i =1

ln TC
i

91

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Nilai estimasi OES < 1 menandakan adanya increasing return to scale atau adanya economies of scale, yaitu peningkatan tiap unit output akan menyebabkan biaya rata-rata yang lebih kecil. Jika OES = 1, menunjukkan adanya constant return to scale. Jika OES > 1, maka terjadi decreasing returns to scale.

c. Quasi Scope (QSCOPE)

Quasi Scope dirancang untuk mengidentifikasi nilai economies of scope perusahaan dengan mengakomodasi bentuk fungsional translog yang tidak dapat didefinisikan pada range tertentu (pada nilai nol). Qscope didasarkan pada konsep bahwa perusahaan-perusahaan yang menghasilkan output bersama/campuran (tidak

berspesialisasi pada salah satu jenis output atau menghasilkan salah satu jenis output dalam jumlah yang tidak signifikan) menghasilkan biaya yang berbeda apabila menghasilkan output secara terspesialisasi (berkonsentrasi menghasilkan satu jenis output saja). Dalam hal ini merupakan proporsi dari output tidak terspesialisasi yang dihasilkan, apabila perusahaan berspesialisasi. Menurut Adams et.al. (2002), Qscope dapat didefinisikan sebagai berikut:

QSCOPE = [ C({1- (m-1) }y1, y2, ., ym; p) + C{y1, {1-(m-1) y2, y3,. ym;p) + C{ y1, y2,.{1-9m-1) ]ym ;p) C (y1,y2,,ym ;p) ]
/ C (y1,y2,,ym ;p)

Dimana m merupakan jumlah output dan p merupakan vector dari variabel independen lainnya. Ketika = 0, QSCOPE ekuivalen dengan ukuran scope economies

92

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com yang sering dipakai (Overall Economies of Scope). Dalam hal ini 1/m merupakan nilai maksimum dari . Nilai positif menujukkan adanya economies of scope, sedangkan nilai negatif menunjukkan sebaliknya. Bila = 0, maka nilai Qscope menjadi nilai overall economies of scope (Yu, 2003) SC =
TC (Q1 ,0) + TC (0, Q2 ) TC (Q1 , Q2 ) TC (Q1 , Q2 )

Dimana : terdapat diasumsikan terdapat dua jenis ouput: Q1 dan Q2, TC(Q1, 0) merupakan fungsi biaya terspesialisasi pada Q1 TC(0, Q2) merupakan fungsi biaya terspesialisasi pada Q2 TC (Q1, Q2) merupakan fungsi biaya produksi bersama.

d. Perubahan Teknologi (Technical/Technological Change)

Perubahan teknologi merujuk pada pergerakan ke dalam (inward) dari isokuan produksi dalam input space, dimana jumlah output yang sama dapat dihasilkan oleh kurang dari jumlah kombinasi input yang lebih sedikit dari yang diperlukan sebelumnya. Menurut Tadesse (2004), dengan fungsi biaya (1), tingkat perubahan teknologi (rate of technological change / RTC) dapat diukur sebagai berikut:

RTC = dlnTC/ dT

Adapun estimasi terhadap perubahan teknologi terbagi atas tiga komponen, yaitu: (a) perubahan teknologi murni (pure technological change); (b) perubahan 93

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com teknologi bias skala (scale-biased technical change); (c) perubahan teknologi bias input (input-biased technical change). Dalam hal ini, kemajuan teknologi (technical progress) terjadi jika nilai-nilai technical change lebih kecil dari nol, dimana total biaya yang dikeluarkan bank akan berkurang seiring perkembangan waktu (Mandanugraha, Hadad, 2003). Sedangkan stagnasi teknologi (technical recess) terjadi apabila nilai-nilai technical change lebih besar dari nol (Tadesse, 2004).

D. Hasil-Hasil Estimasi dan Nilai Perhitungan dalam Penelitian

1. Hasil Uji Spesifikasi Model a. Hasil Uji Spesifikasi Model Panel Data

Model Panel data mengalami tiga uji, yaitu Uji Chow, Uji LM dan Uji Hausman. Adapun hasil-hasil pengujian tersebut adalah seperti di bawah ini:

1) Hasil Uji Chow

Dalam melakukan uji Chow diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut: CHOW = ( RRSS URSS ) /( N 1) URSS /( NT N K ) ( 5.450823 - 1.434465 ) /(10 1) 1.434465 /(10 * 36 10 27)

CHOW =

94

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com

CHOW =

0.446262 0.004441

CHOW = 100,4859 Hasil penghitungan uji Chow menghasilkan nilai Fhitung sebesar 100,4859, Nilai Ftabel dengan Denumerator ( N 1) sebanyak 9 dan Denominator (NT N K) sebanyak 323 untuk = 1% dan = 5% adalah 2,41dan 1,88. Karena nilai Fhitung >Ftabel, maka Ha yang diterima, sehingga berdasarkan penggunaan uji Chow, model yang cocok untuk penelitian ini adalah model fixed effect atau least squares dummy variable.

2) Uji LM

Uji LM digunakan untuk membandingkan Pooled Least Square dan Random Effect. Oleh sebab itu, perlu dicari hasil regresi dengan Random Effect. Akan tetapi, untuk melakukan regresi Pooled Least Squares dengan Random Effects, diperlukan jumlah cross section > dari jumlah koefisien. Dalam penelitian ini jumlah cross section terdiri dari 10 bank umum devisa, adapun variable koefisien yang digunakan dalam penelitian terdapat 27 variabel independent (cross section < koefisien). Hal ini menyebabkan regresi dengan Random effect tidak dapat dilakukan, sehingga Uji LM dan Hausman menjadi tidak berlaku dalam uji spesifikasi.

95

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


1) Uji Hausman

Uji Hausman digunakan untuk membandingkan Random Effect dengan Fixed Effect. Akan tetapi karena tidak dapat digunakan Random Effect dalam persamaan seperti yang disebutkan di atas, maka uji ini tidak dilakukan.

Dari ketiga uji spesifikasi terhadap model panel data di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa model yang tepat untuk menjelaskan fungsi biaya adalah model LeastSquares Dummy Variable.

b. Uji Linear Equality Restriction

Untuk melakukan uji linear restriction terhadap restriksi linear homogenitas terhadap output (terdiri dari 7 restriksi), dapat dilakukan perhitungan sebagai berikut: F = (RSSR-RSSUR)/m RSSUR/(n-k) F = (1,471924-1,434465)/7 1,434465/(360-37) F = 0,005351 0,00444 F = 1,2048 Hasil penghitungan uji restriksi linear homogenitas terhadap output menghasilkan nilai Fhitung sebesar 1,2048, Nilai Ftabel dengan Denumerator ( N 1) sebanyak 7 dan Denominator (NT N K) sebanyak 323 untuk = 1% dan = 5% adalah 2,01dan 2,64. Karena nilai Fhitung <Ftabel, maka H0 diterima. artinya dengan fungsi biaya dalam penelitian ini dapat menggunakan restriksi linear homogenitas terhadap output.

96

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Selain dengan menggunakan uji F, pengujian restriksi ini juga dapat diuji dengan menggunakan Uji Wald. Hasil menunjukkan bahwa 2 statistik yang diperoleh adalah sebesar 10,5609. Nilai ini lebih kecil dari 2 tabel pada probabilitas 0,05 dan degree of freedom sebesar jumlah restriksi yaitu 7 sebesar 14,0671. Oleh sebab itu H0 diterima, yang berarti kesimpulannya tetap sama bahwa restriksi linear homogenitas terhadap harga input dapat digunakan

2. Hasil Estimasi Fungsi Biaya

Hasil Estimasi dari Fungsi Biaya dummy least square variable (fixed effects) yang telah direstriksi linear homogenitas terhadap harga input adalah sebagai berikut:

97

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com

Tabel 4.3. Hasil Estimasi Parameter Fungsi Biaya dengan Model Restricted Least Squares Dummy Variable

Estimasi Persamaan Pooled Least Squares dengan Fixed Effects

Output lnQ1 LNQ2 2,188 (0,454) 2,650 (0,314)

Harga Faktor Produksi LNP1 LNP2 LNP3 5,332 (0,327) -0,988 (0,376) -3,344 (0,168)

Cross Product Output LNQ1Q1 LNQ1Q2 LNQ2Q2 0,132 (0,018) -0,176 (0,012) 0,064 (0,014)

Cross Product Harga LNP1P1 LNP1P2 LNP1P3 0,128 (0,003) -0,076 (0,006) -0,051 (0,006)

LNP2P2 0,098 (0,009)

LNP2P3 -0,022 (0,004)

LNP3P3 0,072 (0,005)

LNP1Q1 -0,017 (0,009)

LNP1Q2 -0,094 (0,008)

Cross Product Output dan Harga LNP2Q1 LNP2Q2 LNP3Q1 LNP3Q2 -0,048 (0,010) 0,036 (0,009) 0,065 (0,006) 0,057 (0,005)

LNP1T 0,011 (0,000)

LNP2T -0,016 (0,000)

LNP3T 0,006 (0,000)

LNQ1T 0,004 (0,000)

LNQ2T

TT

C_F

C_G -37,490 (7,146)

C_H -36,430 (7,143)

C_I -36,773 (7,150)

Konstanta C_J C_K -36,704 (7,157) -37,077 (7,155)

C_L -37,070 (7,151)

C_M -37,253 (7,155)

C_N -37,056 (7,153)

C_O -36,832 (7,152)

-0,001 0,249 (0,000) (0,012) R-squared Adjusted R-squared

-0,00048 -35,844 (0,000) (7,128) 0,996027 0,995584

Catatan: angka dalam kurung adalah standar error


tidak signifikan pada = 1% = 2,576

98

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Parameter yang diestimasi serta standard error dari fungsi biaya ditunjukkan pada table 4.3. Secara keseluruhan, fungsi total biaya yang diperoleh menunjukkan goodnessof-fit yang baik dengan R-squared sebesar 0,966027, dan adjusted R-squared menunjukkan nilai 0,995584. Hal ini menunjukkan bahwa secara statistik 99,558 persen variasi total dari biaya dapat dijelaskan oleh model regresi di atas. Nilai R-squared tersebut mendekati nilai R-squared dalam penelitian Murray dan White (1983) sebesar 0,999, Yu (2003) sebesar 0,99 dan Mester (1987) sebesar 0,994. Hampir semua dari nilai estimasi signifikan secara statistik pada = 1%, kecuali variabel cross-product output kredit dan harga faktor modal (LNP1Q1), yang baru signifikan pada = 10%. Adapun fungsi biaya yang diperoleh dalam penelitian ini merupakan fungsi biaya non-linear yang dilinearkan. Oleh karenanya, fungsi hubungan variabel independen dengan variabel dependen tidak dapat sepenuhnya secara langsung dijelaskan dari persamaan fungsi biaya itu sendiri. Akan tetapi, perlu dilakukan penurunan fungsi (alat analisis), seperti yang dilakukan untuk mencari tingkat economies of scale untuk menjelaskan hubungan output dengan total biaya, maupun mencari tingkat technical change untuk menjelaskan hubungan tren /waktu terhadap total biaya.

3. Hasil Uji Wald/ Struktural

Uji Wald/Struktural digunakan untuk menguji sifat-sifat yang mungkin melekat pada fungsi biaya yang diestimasi. Adapun hasil Uji Wald yang diperoleh adalah sebagai berikut:

99

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com

Tabel 4.4. Uji Wald/ Struktural Pada Fungsi Biaya No 1 2 3 4 Uji Yang Dilakukan UJI HOMOTHETICITY UJI HOMOGENEITY TERHADAP OUTPUT UJI LINEAR HOMOGENITY TERHADAP OUTPUT/CONSTANT RETURN TO SCALE UJI COBB-DOUGLAS Tes Statistik
723,1675 1965,056 2296,641 12121,36

Degree of freedom
8 11 7 22

Nilai kritis 2 pada 0,05


155,073 196,751 140,671 339,244

Keputusan
H0 Ditolak H0 Ditolak H0 Ditolak H0 Ditolak

100

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Tabel 4.4 menunjukkan hasil-hasil tes struktural untuk keadaan homotheticity, homogeneity terhadap output, constant return to scale serta Cobb-douglas. Homotheticity, yang menunjukkan pemisahan output dari variable-variabel lainnya (tidak adanya crossproduct output dengan variable lain) dalam fungsi biaya, ditolak pada tingkat 5 persen. Penolakan terhadap restriksi homotheticity menunjukkan bahwa marginal rates of subsitutiton dalam produksi tidak independen terhadap efek skala dan harga-harga relatif. Dengan kata lain, kombinasi faktor yang optimal tidak independen terhadap skala output sehingga expansion path yang terbentuk tidaklah linear. Homogeneity terhadap output juga ditolak pada tingkat 5 persen. Hal ini berarti dengan nilai harga input tertentu, kenaikan output sebesar t tidak menyebabkan kenaikan total biaya sebanyak tk, dimana k sebagai tingkat homogenitas. Selain itu, asumsi constant return to scale juga ditolak pada nilai 5 persen. Hal ini dapat diartikan bahwa pada fungsi biaya bank-bank umum swasta devisa besar, pada harga input tertentu, kenaikan output sejumlah tertentu tidak menyebabkan kenaikan total biaya dengan jumlah yang proporsional. Dari hasil uji struktural bahwa fungsi biaya translog yang digunakan menolak restriksi Cobb-Douglas pada tingkat 5%. Hal ini berarti fungsi translog ternyata tidak dapat disederhanakan/direduksi menjadi fungsi Cobb-Douglas. Hal ini juga menunjukkan pemilihan fungsi translog (lebih fleksibel) dalam penelitian fungsi biaya bank-bank umum swasta devisa besar merupakan hal yang tepat.

2. Nilai Perhitungan Overall Economies of Scale (OES)

Nilai Overall Economies of Scale adalah sebagai berikut:

101

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


Tabel 4.5.Overall Economies of Scale (OES) 10 Bank Umum Swasta Devisa Besar di Indonesia
Bank _F Nilai OES

0,06 (0,039)*** _G 0,52 (0,031)*** _H 0,19 (0,031)*** _I 0,25 (0,023)*** _J 0,36 (0,018)*** _K 0,37 (0,018)*** _L 0,38 (0,027)*** _M 0,46 (0,022)*** _N 0,33 (0,020)*** _O 0,34 (0,023)*** Catatan : angka dalam kurung adalah standar error OES dievaluasi pada nilai mean untuk tiap bank pada tahun (2004-2006), dengan harga input dianggap konstan pada harga mean *** signifikan lebih kecil dari 1 pada 1 % = 2,326 ** signifikan lebih kecil dari 1 pada 5 % = 1,645 * signifikan lebih kecil dari 1 pada 10 % = 1,282

102

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Nilai-nilai overall economies of scale seluruhnya menunjukkan nilai positif dan lebih kecil dari satu. Hal ini menunjukkan bahwa bank-bank umum swasta devisa besar di Indonesia mengalami increasing return to scale pada periode 2004-2006. Hal ini menunjukkan bahwa 10 bank yang menjadi objek dalam penelitian dapat meningkatkan efisiensi operasinya dengan meningkatkan jumlah outputnya. Hal ini disebabkan dalam kondisi increasing return to scale, kenaikan output akan menyebabkan turunnya biaya rata-rata bank. Atau dengan kata lain, kenaikan output menyebabkan kenaikan total biaya dalam persentase yang relatif lebih kecil. Dalam hal ini, nilai OES terkecil (paling mendekati nilai 1) dimiliki oleh Bank Century (_G) diikuti oleh Bank NISP (_M) dan Bank Niaga (_L). Keadaan ini menunjukkan bahwa kenaikan output dari ketiga bank tersebut akan menyebabkan kenaikan total biaya yang relatif lebih besar dibandingkan bank-bank lainnya. Nilai overall economies of scale terbesar (paling mendekati nilai nol) dipegang oleh Bank Central Asia (_F) diikuti oleh Bank Danamon Indonesia (_H) dan Bank Internasional Indonesia (_I). Keadaan ini menunjukkan bahwa kenaikan output dari ketiga bank di atas akan menyebabkan kenaikan total biaya yang relatif lebih kecil dibandingkan bank-bank lainnya. Adapun nilai-nilai OES tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Untuk Nilai OES untuk Bank Central Asia (_F) sebesar 0,06 berarti tingkat teknologi yang ada, kenaikan total output sebesar 1 persen menyebabkan kenaikan total biaya sebesar 0,06 persen, Demikian pula dengan bank-bank lainnya. Nilai OES Bank Century (_G) sebesar 0,52 berarti kenaikan 1 persen total output akan menimbukan kenaikan total biaya sebesar 0,52 persen. Nilai OES Bank Danamon (_H) sebesar 0,19 berarti kenaikan total output sebesar 1 persen akan meningkatkan total biaya sebesar 0,19

103

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com persen. Nilai OES Bank Internasional Indonesia (_I) sebesar 0,25 berarti kenaikan output sebesar 1 persen akan meningkatkan total biaya sebesar seperempat persen. Nilai OES bank Lippo (_J) sebesar 0,36 berarti kenaikan total output sebesar 1 persen akan meningkatkan total biaya sebesar 0,36 persen. Selanjutnya, nilai OES Bank Mega (_K) sebesar 0,37 dapat dimaksudkan kenaikan total output sebesar 1 persen akan meningkatkan total biaya sebesar 0,37 persen. Nilai OES Bank Niaga (_L) sebesar 0,38 berarti kenaikan total output sebesar 1 persen akan meningkatkan total biaya sebesar 0,38 persen. Nilai OES Bank Nisp (_M) sebesar 0,46 berarti kenaikan total output sebesar 1 persen akan meningkatkan total biaya sebesar 0,46 persen. Nilai OES Bank Pan Indonesia Bank (_N) senilai 0,33 berarti kenaikan total output sebesar 1 persen akan meningkatkan total biaya sebesar 0,33 persen. Terakhir, kenaikan nilai OES Bank Permata (_O) sebesar 0,34 berarti kenaikan total output sebesar 1 persen akan meningkatkan total biaya sebesar 0,34 persen. Adapun kenaikan total output ini dievaluasi dari kenaikan terhadap mean output masing-masing bank.

5. Nilai Perhitungan Quasi Scope

Quasi Scope digunakan untuk mengetahui ada tidaknya economies of scope dalam suatu perusahaan. Adapun nilai Quasi Scope yang diperoleh dari fungsi biaya bank-bank umum swasta devisa besar di Indonesia adalah sebagai berikut:

104

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


Tabel 4.6. Quasi Scope Bank umum swasta devisa besar di Indonesia
QSCOPE Bank _F

=0,001

=0,01

=0,1

23,18 4,10 1,30 (0,356)*** (0,388)*** (0,420)*** _G 7,68 1,31 0,40 (0,345)*** (0,381)*** (0,416) _H 10,43 2,59 1,02 (0,354)*** (0,387)*** (0,420)*** _I 12,08 2,48 0,90 (0,352)*** (0,386)*** (0,419)** _J 10,10 1,86 0,64 (0,349)*** (0,384)*** (0,418)* _K 7,46 1,76 0,74 (0,350)*** (0,385)*** (0,418)** _L 4,04 1,26 0,54 (0,352)*** (0,386)*** (0,419)* _M 3,80 1,18 0,54 (0,349)*** (0,384)*** (0,418)* _N 10,00 2,41 0,94 (0,351)*** (0,385)*** (0,418)** _O 6,37 1,70 0,72 (0,351)*** (0,386)*** (0,419)** Catatan: Angka dalam kurung adalah standard error Nilai QScope dievaluasi pada mean variable tiap-tiap bank (2004-2006) *** signifikan lebih besar dari 0 pada 1 % = 2,326 ** signifikan lebih besar dari 0 pada 5 % = 1,645 * signifikan lebih besar dari 0 pada 10 % = 1,282

105

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Dalam hal Quasi Scope, di dalam tabel ditunjukkan bahwa penelitian ini menggunakan =0,001, =0,01 dan =0,1 untuk mengunji sensitivitas model pada nilai output mendekati nol. Adapun nilai Quasi Scope bank-bank umum swasta devisa besar menunjukkan adanya nilai yang positif pada tiap-tiap nilai pendekatan. Hampir seluruh nilai Quasi Scope signifikan lebih besar dari nol, kecuali untuk Bank Century pada nilai =0,1. Pada saat produksi semakin tidak terspesialisasi (nilai semakin besar) nilai Quasi Scope semakin menurun. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat teknologi yang ada, bank-bank umum swasta devisa besar secara umum mengalami keadaan economies of scope, dimana total biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan beberapa output dalam jumlah yang sama dalam satu bank lebih murah daripada total biaya yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan beberapa output secara terpisah dalam beberapa bank. Adapun, nilai-nilai Quasi Scope yang didaptakan cukup besar dan cukup bervariasi untuk tiap bank. Bank-bank yang mengalami economies of scope paling besar adalah Bank Central Asia (_F) , Bank Internasional Indonesia (_I) dan Bank Danamon Indonesia (_H) . Sedangkan bank-bank yang mengalami economies of scope paling kecil adalah Bank NISP, Bank Niaga dan Bank Permata. Untuk mengetahui ada tidaknya economies of scope, kita dapat memperhatikan nilai Quasi Scope yang paling mendekati nilai nol, yaitu nilai Quasi Scope dengan Nilai =0,001. Pemahaman yang tidak jauh berbeda dapat kita peroleh dengan Quasi Scope pada =0.01 dan =0,1, namun nilai =0,001 dalam hal ini cukup untuk membuktikan keberadaan economies of scope.

106

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Quasi Scope masing-masing bank umum devisa dapat dijelaskan sebagai berikut: Nilai Quasi Scope Bank Central Asia (_F) sebesar 23,18 berarti biaya dari produksi terspesialisasi (specialized production) masing-masing output akan lebih besar 2318 persen daripada biaya produksi bersama (joint production). Nilai Quasi Scope Bank Century (_G) sebesar 7,68 berarti biaya dari produksi terspesialisasi tiap output di Bank tersebut akan lebih mahal 768 persen dari biaya produksi bersama. Nilai Quasi Scope Bank Danamon Indonesia (_H) sebesar 10,43 berarti biaya produksi terspesialiasi di bank tersebut akan lebih mahal 1043 persen dari biaya produksi bersama. Nilai Quasi Scope Bank Internasional Indonesia (_I) sebesar 12,08 berarti nilai produksi terspesialisasi bank tersebut akan lebih mahal 1208 persen dari nilai produksi bersama. Nilai Quasi Scope Bank Lippo (_J) sebesar 10,10 persen berarti nilai produksi terspesialisasi bank tersebut akan lebih mahal 1010 persen dari biaya produksi bersama. Selanjutnya, Nilai Quasi Scope Bank Mega (_K) menunjukkan nilai 7,46, yang berarti biaya produksi terspesialisasi akan lebih mahal 746 persen dari biaya produksi bersama bank tersebut. Kemudian Nilai Quasi Scope Bank Niaga (_L) sebesar 4,04 berarti biaya produksi terspesialisasi bank tersebut akan lebih mahal 404 persen dari biaya produksi bersamanya. Nilai Quasi Scope Bank NISP (_M) sebesar 3,08 berarti nilai produksi bersama bank NISP akan lebih mahal 308 persen dari biaya produksi bersamanya. Nilai Quasi Scope Pan Indonesia Bank (_N) sebesar 10,00 berarti biaya produksi terspesialisasi bank tersebut akan lebih mahal 1000 persen dari biaya produksi bersamanya. Nilai Quasi Scope Bank Permata (_O) sebesar 6,37 berarti biaya produksi terspesialisasi bank tersebut akan lebih mahal 637 persen dari biaya produksi

107

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com bersamanya. Adapun, biaya produksi bersama masing-masing bank dinilai pada tingkat mean masing-masing output diproduksi pada periode penelitian.

6. Nilai Perhitungan Perubahan Teknologi /Technical Change

Technical Change diperoleh untuk mengetahui tingkat perubahan teknologi pada perusahaan. Dalam hal ini, technical change yang dimaksud adalah total technical change. Adapun total technical change terdiri dari pure technical change, scale-biased technical change dan input-biased technical change. Input-biased technical change masih dapat dibagi lagi sesuai dengan input-input yang digunakan dalam fungsi biaya. Dari hasil perhitungan terhadap fungsi biaya berdasarkan rumus yang berlaku, didapatkan nilai technical change pada 10 bank umum swasta devisa besar di Indonesia, sebagai berikut:

108

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


Tabel 4.7. Rate of Technical/Technological Change Bank-Bank umum swasta devisa besar di Indonesia
TOTAL TECHNICAL CHANGE -0,003
(N/A)

Bank _F _G _H _I _J _K _L _M _N _O

PURE TECHNICAL CHANGE 0,24


(1,21E-02) ***

SCALE-BIASED TECHNICAL CHANGE 0,085


(1,07E-02) ***

INPUT-BIASED TECHNICAL CHANGE -0,329


(8,75E-03) ***

InterestBiased -0,043
(1,45E-03) ***

Labor-biased -0,280
(7,87E-03) ***

Capitalbiased -0,005
(3,39E-04) ***

0,008
(4,77E-04) ***

0,24
(1,21E-02) ***

0,076
(9,65E-03) ***

-0,308
(8,19E-03) ***

-0,037
(1,25E-03) ***

-0,269
(7,56E-03) ***

-0,002
(9,57E-05) ***

0,009
(N/A)

0,24
(1,21E-02) ***

0,085
(1,05E-02) ***

-0,316
(8,44E-03) ***

-0,038
(1,26E-03) ***

-0,273
(7,68E-03) ***

-0,005
(2,96E-04) ***

0,001
(N/A)

0,24
(1,21E-02) ***

0,083
(1,03E-02) ***

-0,322
(8,60E-03) ***

-0,041
(1,37E-03) ***

-0,275
(7,72E-03) ***

-0,007
(4,07E-04) ***

-0,006
(N/A)

0,24
(1,21E-02) ***

0,080
(1,01E-02) ***

-0,327
(8,68E-03) ***

-0,045
(1,52E-03) ***

-0,275
(7,72E-03) ***

-0,006
(4,00E-04) ***

0,012
(N/A)

0,24
(1,21E-02) ***

0,081
(1,01E-02) ***

-0,310
(8,29E-03) ***

-0,038
(1,28E-03) ***

-0,264
(7,43E-03) ***

-0,007
(4,33E-04) ***

0,007
(2,87E-04) ***

0,24
(1,21E-02) ***

0,086
(1,02E-02) ***

-0,320
(8,51E-03) ***

-0,040
(1,34E-03) ***

-0,277
(7,77E-03) ***

-0,003
(1,89E-04) ***

0,007
(N/A)

0,24
(1,21E-02) ***

0,084
(1,00E-02) ***

-0,317
(8,49E-03) ***

-0,037
(1,25E-03) ***

-0,273
(7,68E-03) ***

-0,006
(3,97E-04) ***

0,006
(N/A)

0,24
(1,21E-02) ***

0,083
(1,02E-02) ***

-0,317
(8,53E-03) ***

-0,038
(1,28E-03) ***

-0,268
(7,52E-03) ***

-0,011
(6,73E-04) ***

-0,003
(N/A)

0,24
(1,21E-02) ***

0,084
(1,02E-02) ***

-0,327
(8,76E-03) ***

-0,039
(1,31E-03) ***

-0,281
(7,89E-03) ***

-0,007
(4,33E-04) ***

Catatan: Angka dalam kurung adalah standard error Nilai technical change dievaluasi pada mean variabel (2004-2006) *** signifikan berbeda dari 0 pada 1 % = 2,326 ** signifikan berbeda dari 0 pada 5 % = 1,96 * signifikan berbeda dari 0 pada 10 % = 1,645

109

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Dari tabel 4.7. diperoleh nilai tingkat perubahan teknikal/teknologi secara umum maupun dalam bentuk yang lebih rinci. Dalam hal ini, total technical change terdiri dari pure technical change, scale-biased technical change dan input-biased technical change. Adapun input-biased technical change dalam penelitian ini dapat dibagi dalam tiga kategori yaitu: interest-biased technical changed, labor-biased technical change, dan capital-biased technical change. Kebanyakan nilai technical change yang ditampilkan memiliki nilai yang signifikan, kecuali pada beberapa nilai total technical change yang signifikansinya belum dapat dibuktikan dengan pasti karena standar error-nya tidak dapat diestimasi. Dari 10 bank umum swasta devisa besar yang ada, hanya tiga buah yang menunjukkan adanya total technical change (bernilai negatif) yaitu Bank Central Asia (_F) , Bank Lippo (_J) , dan Bank Permata (_O). Hal ini tidak berarti bahwa bank-bank lain di luar ketiga bank tersebut tidak sepenuhnya melakukan perubahan teknologi, dapat saja terjadi perubahan namun perubahan teknologi yang ada hanya sanggup memperlambat kenaikan total biaya, dimana seiring bertambahnya waktu terjadi peningkatan total biaya dalam jumlah yang relatif kecil (lihat: nilai total technical change). Hal ini juga disebabkan oleh nilai input-biased technical change yang seluruhnya bernilai negatif yang dikompensasi oleh pure technical change dan scale-biased technical change yang bernilai positif. Pure technical change dapat diartikan sebagai perubahan teknologi pada lingkungan di luar bank yang mempengaruhi total biaya bank itu sendiri. Hal ini dapat berupa regulasi pemerintah, biaya tidak langsung (keamanan, transportasi, dll). Adapun scale-biased technical change adalah perubahan teknologi yang dipengaruhi oleh skala produksi. Kenaikan skala produksi secara umum memang dapat berpengaruh dalam jalur teknologi

110

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com untuk menyebabkan penurunan total biaya. Dalam hal ini, yang terjadi adalah kenaikan skala output yang memungkinkan diadakannya perubahan teknologi Untuk memperoleh informasi yang lebih dalam, nilai technical change yang dikedepankan dalam penelitian ini adalah input-biased technical change. Dalam hal ini, input-biased technical change dapat menunjukkan informasi mengenai sumber utama technical change yang berasal dari pengelolaan/manajemen input dari tiap-tiap bank umum swasta devisa besar yang ada. Ditinjau dari input-biased technical change, bank umum swasta devisa besar yang mengalami technical change terbesar adalah Bank Central Asia (_F), Bank Lippo (_J) dan Bank Permata (_O). Sedangkan bank yang mengalami technical change terkecil adalah Bank Century (_G), Bank Mega (_K), dan Bank Danamon Indonesia (_H). Keseluruhan nilai input-biased technical change adalah signifikan atau diterima secara statistik. Adapun nilai-nilai input-biased technical change (IBTC) tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Nilai Input-biased technical change (IBTC) Bank Central Asia (_F) sebesar -0,329 terdiri dari interest-biased technical change (CBTC) sebesar -0,043 dan Labor-biased technical change (LBTC) sebesar -0,28 serta Capital-biased technical change (LBTC) sebesar -0,005. Hal ini berarti bahwa seiring berjalannya waktu terjadi penurunan total biaya yang disebabkan oleh manajemen input yang semakin baik, dimana seiring perubahan satu satuan waktu (per bulan), rata-rata terjadi perubahan teknologi dari sisi input yang mampu menghemat total biaya sebesar 0,329 persen, hal ini disumbangkan oleh sisi bunga sebesar 0,043 persen, tenaga kerja sebesar 0,28 persen dan tanah/lahan sebesar 0,005 persen.

111

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Nilai Input-biased technical change (IBTC) Bank Century (_G) sebesar -0,308 terdiri dari interest-biased technical change (CBTC) sebesar -0,037 dan Labor-biased technical change (LBTC) sebesar -0,269 serta Capital-biased technical change (LBTC) sebesar -0,002. Hal ini berarti bahwa seiring berjalannya waktu terjadi penurunan total biaya yang disebabkan oleh manajemen input yang semakin baik, dimana seiring perubahan satu satuan waktu (per bulan), rata-rata terjadi perubahan teknologi dari sisi input yang mampu menghemat total biaya sebesar 0,308 persen, hal ini disumbangkan oleh sisi modal sebear 0,037 persen tenaga kerja sebesar 0,269 persen dan tanah/lahan sebesar 0,002 persen. Nilai Input-biased technical change (IBTC) Bank Danamon Indonesia (_H) sebesar -0,316 terdiri dari interest-biased technical change (CBTC) sebesar -0,038 dan Labor-biased technical change (LBTC) sebesar -0,273 serta Capital-biased technical change (LBTC) sebesar -0,005. Hal ini berarti bahwa seiring berjalannya waktu terjadi penurunan total biaya yang disebabkan oleh manajemen input yang semakin baik, dimana seiring perubahan satu satuan waktu (per bulan), rata-rata terjadi perubahan teknologi dari sisi input yang mampu menghemat total biaya sebesar 0,316 persen hal ini disumbangkan oleh sisi modal sebear 0,038 persen, tenaga kerja sebesar 0,273 persen dan tanah/lahan sebesar 0,005 persen. Nilai Input-biased technical change (IBTC) Bank Internasional Indonesia (_I) sebesar -0,322 terdiri dari interest-biased technical change (CBTC) sebesar -0,041 dan Labor-biased technical change (LBTC) sebesar -0,275 serta Capital-biased technical change (LBTC) sebesar -0,007. Hal ini berarti bahwa seiring berjalannya waktu terjadi penurunan total biaya yang disebabkan oleh manajemen input yang semakin baik, dimana

112

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com seiring perubahan satu satuan waktu (per bulan), rata-rata terjadi perubahan teknologi dari sisi input yang mampu menghemat total biaya sebesar 0,322 persen, hal ini disumbangkan oleh sisi modal sebear 0,041 persen, tenaga kerja sebesar 0,275 persen dan tanah/lahan sebesar 0,007 persen. Nilai Input-biased technical change (IBTC) Bank Lippo (_J) sebesar -0,327 terdiri dari interest-biased technical change (CBTC) sebesar -0,045 dan Labor-biased technical change (LBTC) sebesar -0,275 serta Capital-biased technical change (LBTC) sebesar -0,006. Hal ini berarti bahwa seiring berjalannya waktu terjadi penurunan total biaya yang disebabkan oleh manajemen input yang semakin baik, dimana seiring perubahan satu satuan waktu (per bulan), rata-rata terjadi perubahan teknologi dari sisi input yang mampu menghemat total biaya sebesar 0,327 persen, hal ini disumbangkan oleh sisi modal sebear 0,045 persen, tenaga kerja sebesar 0,275 persen dan tanah/lahan sebesar 0,006 persen. Nilai Input-biased technical change (IBTC) Bank Mega (_K) sebesar -0,310 terdiri dari interest-biased technical change (CBTC) sebesar -0,038 dan Labor-biased technical change (LBTC) sebesar -0,264 serta Capital-biased technical change (LBTC) sebesar -0,007. Hal ini berarti bahwa seiring berjalannya waktu terjadi penurunan total biaya yang disebabkan oleh manajemen input yang semakin baik, dimana seiring perubahan satu satuan waktu (per bulan), rata-rata terjadi perubahan teknologi dari sisi input yang mampu menghemat total biaya sebesar 0,31 persen, hal ini disumbangkan oleh sisi modal sebear 0,038 persen, tenaga kerja sebesar 0,264 persen dan tanah/lahan sebesar 0,007 persen.

113

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Nilai Input-biased technical change (IBTC) Bank Niaga (_L) sebesar -0,320 terdiri dari interest-biased technical change (CBTC) sebesar -0,040 dan Labor-biased technical change (LBTC) sebesar -0,277 serta Capital-biased technical change (LBTC) sebesar -0,003. Hal ini berarti bahwa seiring berjalannya waktu terjadi penurunan total biaya yang disebabkan oleh manajemen input yang semakin baik, dimana seiring perubahan satu satuan waktu (per bulan), rata-rata terjadi perubahan teknologi dari sisi input yang mampu menghemat total biaya sebesar 0,32 persen, hal ini disumbangkan oleh sisi modal sebear 0,04 persen, tenaga kerja sebesar 0,277 persen dan tanah/lahan sebesar 0,003 persen. Nilai Input-biased technical change (IBTC) Bank Nisp (_M) sebesar -0,317 terdiri dari interest-biased technical change (CBTC) sebesar -0,037 dan Labor-biased technical change (LBTC) sebesar -0,273 serta Capital-biased technical change (LBTC) sebesar -0,006. Hal ini berarti bahwa seiring berjalannya waktu terjadi penurunan total biaya yang disebabkan oleh manajemen input yang semakin baik, dimana seiring perubahan satu satuan waktu (per bulan), rata-rata terjadi perubahan teknologi dari sisi input yang mampu menghemat total biaya sebesar 0,317 persen, hal ini disumbangkan oleh sisi modal sebear 0,037 persen, tenaga kerja sebesar 0,273 persen dan tanah/lahan sebesar 0,006 persen. Nilai Input-biased technical change (IBTC) Pan Indonesia Bank (_N) sebesar 0,317 terdiri dari interest-biased technical change (CBTC) sebesar -0,038 dan Laborbiased technical change (LBTC) sebesar -0,268 serta Capital-biased technical change (LBTC) sebesar -0,011. Hal ini berarti bahwa seiring berjalannya waktu terjadi penurunan total biaya yang disebabkan oleh manajemen input yang semakin baik, dimana

114

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com seiring perubahan satu satuan waktu (per bulan), rata-rata terjadi perubahan teknologi dari sisi input yang mampu menghemat total biaya sebesar 0,317 persen, hal ini disumbangkan oleh sisi modal sebear 0,038 persen, tenaga kerja sebesar 0,268 persen dan tanah/lahan sebesar 0,011 persen. Nilai Input-biased technical change (IBTC) Bank Permata (_O) sebesar -0,327 terdiri dari interest-biased technical change (CBTC) sebesar -0,039 dan Labor-biased technical change (LBTC) sebesar -0,281 serta Capital-biased technical change (LBTC) sebesar -0,007. Hal ini berarti bahwa seiring berjalannya waktu terjadi penurunan total biaya yang disebabkan oleh manajemen input yang semakin baik, dimana seiring perubahan satu satuan waktu (per bulan), rata-rata terjadi perubahan teknologi dari sisi input yang mampu menghemat total biaya sebesar 0,327 persen, hal ini disumbangkan oleh sisi modal sebear 0,039 persen, tenaga kerja sebesar 0,281 persen dan tanah/lahan sebesar 0,007 persen. Untuk nilai pure technical change, setiap bank memiliki nilai yang sama yaitu 0,24 yang berarti untuk setiap perubahan waktu, terjadi peningkatan total biaya bank sebesar 0,24 persen. Nilai ini menunjukkan perubahan teknologi yang berada di dalam maupun luar manajemen perusahaan bank yang tidak berhubungan dengan skala maupun harga input perusahaan. Nilai scale-biased technical change bank-bank umum swasta devisa besar memiliki kemiripan satu sama lain, dimana nilai berkisar antara 0,076 hingga 0,085. Seperti yang dijelaskan sebelumnya nilai-nilai ini berpengaruh kecil terhadap total biaya. Adapun nilai technical change yang positif menunjukkan bahwa perubahan teknologi

115

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com yang dipengaruhi skala tidak dapat menurunkan total biaya melainkan hanya menyebabkan perubahan total biaya secara dalam proporsi yang kecil secara searah. Dengan menjumlahkan semua faktor spesifik dari technical change di atas diperoleh nilai dari total technical change untuk masing-masing bank umum swasta devisa besar. Namun demikian, nilai total technical change yang signifikan secara statistik hanyalah nilai total technical change pada Bank Century dan Bank Niaga yang berturut-turut adalah 0,008 dan 0,007. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa secara umum tidak ditemukan total technical progress (total technical change yang bernilai negatif) pada bank-bank umum swasta devisa besar tersebut.

116

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Penelitian ini menggunakan model translog (transcendental logarithmic) dengan metode least-squares dummy variable dan restriksi linear terhadap harga input untuk mengidentifikasi fungsi biaya bank-bank umum swasta devisa besar pada periode 2004:1 hingga 2006:12. Adapun penelitian ini bertujuan untuk memahami potensi peningkatan efisiensi operasi (operating efficiencies) dari 10 bank umum swasta devisa besar, ditinjau dari segi economies of scale, economies of scope dan technical change.

Beberapa hal dapat disimpulkan dari penelitian ini, yaitu: 1) Nilai Economies of Scale yang diwakili dengan indikator Overall Economies of Scale (OES) masing-masing bank umum swasta devisa besar yang termasuk dalam observasi menunjukkan nilai yang positif dan lebih kecil dari satu. Hal ini menunjukkan adanya increasing return to scale, dimana kenaikan output akan menyebabkan kenaikan total biaya dalam jumlah yang lebih kecil, atau biaya meningkat dalam proprosi yang lebih kecil dari kenaikan ouput. Nilai OES terkecil dimiliki oleh Bank Century diikuti oleh Bank NISP dan Bank Niaga, yang berarti bahwa bank-bank tersebut memiliki kesempatan untuk meningkatkan efisiensi operasinya dengan meningkatkan output, dengan tingkat kenaikan biaya yang lebih besar relatif dibandingkan bank lainnya. Sedangkan nilai OES terbesar diraih oleh Bank Central Asia diikuti oleh Bank Danamon Indonesia dan Bank

117

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Internasional Indonesia. Hal ini berarti ketiga bank umum tersebut juga memiliki kesempatan untuk meningkatkan efisiensi operasinya dengan meningkatkan output, yang disertai dengan kenaikan biaya yang relatif lebih kecil dari bankbank lainnya dalam observasi. Keadaan tersebut menunjukkan kecenderungan bahwa bank-bank umum swasta devisa dengan asset yang lebih besar memiliki nilai OES yang lebih baik dibandingkan dengan bank-bank umum swasta devisa dengan asset yang lebih kecil.

2) Ditinjau dari sisi economies of scope yang diwakili oleh indikator Quasi Scope, terlihat bahwa 10 bank umum swasta devisa besar dalam observasi juga menunjukkan adanya economies of scope. Dengan adanya nilai Qscope yang positif pada nilai = 0.001, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi output secara terspesialisasi (memproduksi output secara terpisah) lebih besar daripada biaya untuk memproduksi output secara bersamaan. Hal ini berarti bahwa bank-bank umum swasta devisa besar mampu menggunakan skalanya (economies of scope) untuk menghasilkan berbagai jenis produk secara bersama-sama, yaitu produk kredit maupun produk investasi secara lebih efisien.

3) Ditinjau dari sisi Technical Change, penelitian ini menunjukkan bahwa dari sudut pandang total technical change, yaitu jumlah dari pure technical change, scalebiased technical change dan input biased technical change, ditemukan keragaman nilai. Tiga buah bank menunjukkan adanya total technical progress (technical

118

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com change yang memiliki hubungan berlawanan/negatif terhadap total biaya), dan sisanya sebanyak tujuh bank menunjukkan total technical recess (technical change yang memiliki hubungan searah/positif terhadap total biaya). Meskipun demikian, dari keseluruhan tingkat total technical change yang diperoleh hanya terdapat dua bank yang memiliki nilai total technical change yang signifikan secara statistik. Adapun kedua bank adalah Bank Century dan Bank Niaga yang masing-masing menunjukkan nilai technical recess, dimana total biaya bertambah seiring pertambahan waktu. Lebih jauh mengenai tingkat technical change, penelitian ini meninjau lebih dalam pada kemampuan manajemen meningkatkan teknologi dengan beradaptasi terhadap peraturan dan lingkungan (pure technical change), menggunakan skalanya (scale-biased technical change) dan mengelola inputnya (input-biased technical change). Dalam hal ini, ditemukan nilai nilai indikator pure technical change dan scale-biased technical change yang bernilai positif yang menunjukkan bahwa perubahan teknologi murni dan bias skala hanya mampu memperlambat kenaikan total biaya (technical recess). Sedangkan input-biased technical change bernilai negatif yang menunjukkan adanya technical progress pada pengelolaan masing-masing input, baik tingkat bunga, tenaga kerja, maupun modal (input-biased technical progress).

119

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com


B. Saran

Beberapa saran yang dari hasil penelitian ini, yaitu: 1) Bagi pengambil kebijakan pada bank-bank umum swasta devisa yang menjadi objek penelitian, adanya economies of scale menunjukkan bahwa bank-bank umum swasta devisa besar memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi operasinya dengan meningkatkan output. Dengan meningkatkan output, biaya rata-rata bank akan menurun, sehingga total biaya bank meningkat dalam persentase yang lebih kecil dibandingkan persentase peningkatan output. Hal ini dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi operasi dari bank-bank umum swasta devisa besar tersebut dan memperkuat kemampuan daya saingnya. Adanya economies of scope juga memberi sinyal yang baik bagi bankbank bersangkutan untuk mempertahankan produk dan jasanya dalam bentuk produk kredit dan produk investasi. Dalam hal ini, kemampuan pengelolaan multi-produk yang ada perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan untuk memperoleh sinergi yang lebih besar di antara kedua produk. Dari sisi technical change, bank-bank umum swasta devisa besar masih perlu bekerja keras untuk meningkatkan kemampuan teknologinya (alur kerja,dll) dari waktu ke waktu. Hal ini perlu dilakukan baik dengan mempertahankan pengelolaan input (input-biased technical change), memanfaatkan skala untuk menerapkan teknologi yang lebih baik (scale-biased technical change), maupun memperbaiki kemampuan teknis/teknologi perusahaan untuk menghadapi perubahan lingkungan luar yaitu deregulasi peraturan pemerintah, persaingan

120

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com pasar, permintaan konsumen yang berkembang, maupun perubahan lingkungan bisnis (pure technical change).

2) Untuk penelitian lebih lanjut, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk mengembangkan penggunaan fungsi biaya dalam bentuk lain di luar translog. Hal ini berguna untuk menggali pengertian sebanyak mungkin mengenai sifat-sifat fungsi produksi dari lembaga multi-output dan multi-input seperti bank. Selain itu, penelitian ini juga dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi penelitian selanjutnya untuk menentukan berbagai indikator indikator yang baru seperti total factor productivity, elastisitas permintaan input (input demand elasticity) maupun elastisitas substitusi input (input elasticity of substitution). Indikator-indikator yang baru dapat ditambahkan sesuai dengan tujuan penelitian mendatang, terutama yang belum dibahas dalam penelitian ini.

121

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Burhanudin, 2004. API: Bahan bakar Perbankan Indonesia, Infobank no.305, Agustus 2004, Tofik Iskandar Abdullah, Burhanudin, 2008. Tiga arah Kebijakan Bi, Menjawab Tantangan Eksklusif Sosial. Infobank No. 347 Februari 2008 Vol XXX, Tofik Iskandar Adiningsih, Sri, 2003. Mau ke Mana Pasar Keuangan Indonesia?. Infobank Vol xxv. Agustus 2003 No. 292. Adams, Robert et.al, 2004. Scale Economies, Scope Economies, and Technical Change in Federal Reserve Payment Processing, Journal of Money, Credit and Banking, Vol.36, No.5 (Oktober 2004). Agusman, 2007. BI minta Perbankan Nasional Lebih Efisien. Sinar Harapan, Sigit Wibowo. Website: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0712/14/uang01.html Allen, Jason dan Liu, Ying, 2005. Efficiencies and Economies of Scale of Large Canadian Banks.Working Paper 2005 -13, Bank of Canada. Altunbas, Yener dan Phil Molyneux, 1996. Economies of Scale and Scope in European Banking. Applied Financial Economics, 1996,6, 367-375 Anggraeni, Tantri, 2006. Analisis Hubungan Kinerja Operasional dengan Kinerja Profitabilitas Bank Umum yang terdaftar di BEJ Periode 2000.1 2005:3. Skripsi S1 Fakultas Ekonomi UGM. Tidak dipublikasikan.

122

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Batchelor, Dan; Leigh Drake dan Richard Simper, 2000. Scale Economies and Technological Change in Japanese Banking: An Application of an Entry/Exit Model Bank Dunia, 2006. Membuka Potensi Sumber Daya Keuangan Dalam Negeri Indonesia: Peran Lembaga Keuangan Non-Bank. Dokumen Bank Dunia. Benston, G., 1965.Branch banking and economies of scale. Journal of Finance, 20, 312-331. Berger, A.N. and L.J. Mester, 1999. What Explains the Dramatic Changes in Cost and Profit Performance of the U.S. Banking Industry?. Wharton School Center for Financial Institutions, University of Pennsylvania Working Paper No. 99-10. Berger, A.N. and D.B. Humphrey, 1997. Efficiency of Financial Institutions: International Survey and Directions for Future Research. European Journal of Operational Research 98: 175212. Biro Pusat Statistik, Berbagai Tahun diambil dari website Bank Indonesia :www.bi.go.id Bank Indonesia, 2006. Booklet Perbankan Indonesia Vol.3, No.1, Maret 2006 Buku Statistik Perbankan Indonesia (SPI) 2004, 2005, 2006, 2007, Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan, Bank Indonesia Christensen, L.R., D.W. Jorgenson, and L.J. Lau, 1971. Conjugate Duality and the Transcendental Logarithmic Production Function. Econometrica 39: 25556. Chung, Wan Jae, 1994. Utility and Production Functions, Theory and Applications. Cambridge: Blackwell.

123

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Cornwell, C., P. Schmidt, and R.C. Sickles, 1997. Production Frontiers with CrossSectional and Time-Series Variation in Efficiency Levels. Journal of Econometrics 46: 185200. Cummins, J.David; Tennyson, Sharon; Weiss, A. Mary, 1998. Efficiency, Scale Economies, and Consolidation in the U.S. Life Insurance Industry Darmawan, Komang, 2007. Best Banks 2007. PT. Perusahaan Pengelola Aset (Persero), Majalah Investor IX/17, 11 Juli 10 Agustus 2007. website:

http://www.ptppa.com/detilnews.asp?id=4086&kode=5 Dermine, Jean, 1999.The Economics of Bank Mergers in the European Union: A Review of the Public Policy Issues. Report Commission by Dutch Ministry of Finance Fontainebleau: INSEAD. Diewert, W.E. and R.J. Kopp, 1982. The Decomposition of Frontier Cost Function Deviations into Measures of Technical and Allocative Efficiency. Journal of Econometrics 19: 31931. Direktorat Pasar Modal Indonesia 2006, Insitute for Economic and Financial Research. Direktori Perbankan Indonesia 2006 Vol.8, September 2007, Bank Indonesia Do Swedish Bank Economies of Scale or Economies of Scope?, Swedish Competition authority, diperoleh dari www.kkv.se/upload/Filer/Forskare studenter/projekt/1997/proj130-1997_3.pdf Ernst dan Whinney, 1987. Bank Profitability Paper, from Timoth Koch, Bank Management. FE UGM dan FE UI, 2005. Modul Panel Data Ekonometri II FE UGM dan FE UI

124

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Fukuyama, H., 1993. Technical and scale efficiency in Japanese commercial banks: A nonparametric approach. Applied Economics 25, 1101-12. Fuller, W, 1962. Estimating the reliabilitiy of quantities derived from empirical production functions. Journal of Farm Economics, 44, 83-99 Glass, J.C dan McKillop, 1992. An Empirical Analysis of Scale and Scope Economies and Technical Change in an Irish Multiproduct banking firm. Journal of Banking and Finance 16 (1992) 423 -437. North Holland. Gorman, Ian, 1985. Conditions for economies of scope in the presence of fixed costs. Rand Journal of Economics vol. 16. No. 3 autumn Griffiths, Alan dan Wall, Stuart, 1996. Intermediate microeconomics. Theory and applications, Singapore: Longman. Gisser, Micha, 1981. Intermediate Price Theory: Analysis, Issues, and applications. McGraw-Hill. Gujarati, Damodar. N. 2003. Basic Econometrics 4th Edition, Singapore: McGraw-Hill. Herrera, Oscar, 2002. Guatemala: Banking Technology and its Characteristics, A Scale Economies Model. Economic Research Department, Banco De Guatemala. InfoBank, 2007. BankScope-Bureau Van Dijk and Biro Riset InfoBank (birl). InfoBank No. 343. Oktober 2007. Kane, Edward J, 2000. Incentives for Banking Megamergers: What Motives Might Regulators Infer from Event-Study Evidence?, Journal of Money, Credit and Banking, Agustus, 2000, 32(3), hal 671 701. Kiryanto, Ryan, 2004. Implikasi Penataan Lanskap Perbankan Indonesia. Kompas, diperoleh dari Website uni sosial demokrat :www.unisosdem.org

125

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Koch, Timothy, 1995. Bank Management. Florida: The Dryden Press Kompas, 2004. Keuntungan Perbankan Indonesia Tertinggi di Asteng. Kompas, Senin, 16 Agustus 2004. Kuncoro, Mudrajad, 2002. Manajemen Perbankan: Teori dan Aplikasi.

Yogyakarta:BPFE Kolari, James dan Zardkoohi, Asghar, 1990. Economies of Scale and Scope in Thrift Institutions: The Case of Finnish Cooperative and Savings Banks. Scand j. Of Economics 92 (3), 437 -451, 1990. Lawrence, C. 1989. Banking Costs, Generalized Functional Forms, and Estimation of Economies of Scale and Scope. Journal of Money, Credit, and Banking 21: 36879. Mardanugarha, Eugenia; Muliaman Hadad D. 2005. Evaluation of Bank Merger In Indonesia. Lessons from Parametric Cost Function. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Juni 2005. Margono, Heru; Subhash Sharma, 2004. Cost efficiency, Economies of Scale, Technological Progress and Productivity in Indonesian Banks. McKillop, D.G., Glass, J.C., Morikawa, Y., 1996. The composite cost function and efficiency in giant Japanese banks. Journal of Banking and Finance 20, 1651-71. Mester, Loretta, 1987. A Multiproduct Cost Study of Savings and Loans. The Journal of Finance. Vol XLII, No.2. June 1987. Molyneux, Philip; Yener Altunbas dan Edward Gardener, 1997. Efficiency in European Banking. New York: John Wiley & Sons.

126

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Murray, John dan White, Robert, 1983. Economies of Scale and Economies of Scope in Multiproduct Financial Institutions: A Study of British Columbia Credit Unions. The Journal of Finance. Vol XXXVIII, No. 3. June 1983. Noulas, Athanasios G.; Subhash C.Ray dan Stephen M.Miller, 1993. Return to Scale and Input Substitution for Large U.S. Banks. Journal of Money, Credit and Banking 22, no.1: 94 -108 Panzar, J dan R. Willig, 1975. Economies of Scale and Economies of Scope in MultiOutput Production. Econ.disc.paper no.3. Bell Laboratories. Pindyck, Robert.dan Daniel L. Rubinfeld, 2005. Microeconomics. Fifth Edition. Prentice Hall. Quantitative Micro Software, 2001. Eviews Help Quick MBA, 2007. Website: www.QuickMba.com Santoso, Bagus, 1988.Permintaan Masukan (Input) dalam Produksi Padi pada Padi Sawah di Indonesia 1976 -1985. Skripsi S1 Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Schure, Paul dan Wagenvoort, Rien, 1999. Economies of Scale and Efficiency in European Banking: New Evidence. Economic and Financial Report 1999/01. European Investment Bank Siaran Pers No.6/6/Bgub/Humas Bank Indonesia. Website Bank Indonesia: www.bi.go.id Stiroh, K.J, 2000. How Did Bank Holding Companies Prosper in the 1990s? . Journal of Banking and Finance 24: 170347.

127

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com Tachibanaki, T., Mitsue, K., and Kitagawa, H., 1991.Economies of scope and shareholding of banks in Japan. Journal of Japanese and International Economies 5, 261--281. Tadesse, Solomon. Consolidation, Scale economies and Technological Change in Japanese Banking. Center for International Business Education and Research (CIBER), University of Maryland at College Park. Triton, Hariwijaya, 2007. Teknik Penulisan Skripsi & Tesis: Oryza. Varian, Hal R, 1978. Microeconomic Analysis, W.W Norton & Co, Inc, 1978 Walter, Ingo, 2004. Mergers and Acquisitions in Banking and Finance: What Works, What Fails, and Why,Oxford University Press. Wilcox, James, 2005. Economies of Scale and Continuing Consolidation of Credit Unions. FRBSF Economic Letter Number 2005-29, November 4, 2005. Yu, Peiyi, 2003. Competitive issues in the Taiwanese Banking Industry: Mergers and Universal Banks. The Developing Economies, XLI-3. Yudhistira, Hendra W, 2007. Industri Tekstil dan Produk Tekstil Indonesia tahun 1999 dan 2004. Pendekatan Struktur, Kinerja dan Kluster. Skripsi S1 FE UGM. Tidak dipublikasikan.

128

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com

129

Created by Romora Edward Sitorus Copyrighted www.garisgaris.wordpress.com

130