Anda di halaman 1dari 9

ILMU UKUR TAMBANG

DISUSUN OLEH:

AYU YUSRIKA DBD 111 0055

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS PALANGKA RAYA 2014

ILMU UKUR TAMBANG


A. PENDAHULUAN Sebagai mahasiswa fakultas teknik, kita mengenal istilah Ilmu Ukur Tanah dan Ilmu Ukur Tambang. Ilmu Ukur Tanah biasanya dipelajari di teknik sipil, sedangkan Ilmu Ukur Tambang pastinya dipelajari di teknik pertambangan. Kedua ilmu ini sama-sama diapikasikan dalam kegiatan pengukuran untuk mencari dan mengumpulkan sejumlah data. Data yang didapat dari hasil pengukuran ini nantinya akan dibuat menjadi sebuah peta yang kelak digunakan untuk keperluan tertentu. Selain istilah yang hampir sama, peralatan yang digunakan dalam Ilmu Ukur Tanah maupun Ilmu Ukur Tambang pun tidak banyak perbedaan sehingga langkah maupun cara kerja keduanya tidak jauh berbeda. Namun kedua ilmu ini tentunya memiliki perbedaan. Ilmu Ukur Tanah umumnya diaplikasikan pada pengukuran di permukaan tanah. Sedangkan Ilmu Ukur Tambang dikhususkan penggunaannya untuk pengukuran pada pekerjaan tambang bawah tanah. Ada 2 jenis tambang yang kita kenal, yaitu tambang terbuka dan tambang bawah tanah. Seperti yang diketahui bahwa peta merupakan komponen yang sangat penting dalam memulai pekerjaan tambang. Pembuatan peta tentunya dilakukan pertama kali sebelum memulai pekerjaan penambangan. Pada tambang terbuka kita dapat menggunakan Ilmu Ukur Tanah dalam kegiatan pengukurannya karena lokasinya yang berada di permukaan. Sedangkan pada tambang terbuka, kita memerlukan Ilmu Ukur Tambang untuk memperoleh data mengenai kedudukan lubang bukaan maupun pembuatan peta tambang. Berkaitan dengan penjelasan singkat diatas, dapat disimpulkan bahwa peran Ilmu Ukur Tambang sangat penting dalam pekerjaan tambang bawah tanah. Informasi yang didapat dari peta tambang nantinya akan menjadi salah satu pertimbangan apakah kegiatan penambangan dapat dilakukan atau tidak. Artikel ini disusun untuk mempelajari lebih banyak mengenai Imu Ukur Tambang. Pada bagian pembahasan selanjutnya akan dijelaskan mengenai Ilmu Ukur Tambang secara lebih detail.

B.

PENGERTIAN ILMU UKUR TAMBANG Ilmu ukur tambang (undergound surveying) adalah suatu kegiatan pengukuran yang dilakukan dalam pekerjaan tambang bawah tanah (undergound mining) untuk mengetahui dan memperoleh data mengenai : Kedudukan lubang bukaan terhadap peta topograpi yang ada Gambaran lubang-lubang tambang (peta tambang) Kemajuan arah penggalian serta besar tonase penggalian di dalam stope Peta ukur tambang ini dimaksudkan untuk mengetahui hubungan daerah kerja tambang dengan batas daerah pertambangan, sehingga dapat diperoleh suatu keterangan untuk menetapkan arah penggalian lebih lanjut, untuk menghitung berapa besar material (ore) yang telah digali dan kemungkinan berapa banyak ore yang akan digali, juga untuk memperoleh data dari daerah kerja tambang menurut grafik yang mungkin dibuat, apabila diadakan suatu penambahan kerja yang effisien. Selain itu, ilmu ukur tambang itu sendiri erat kaitannya dengan awal bukaan tambang, menyajikan secara grafis (rencana atau bagian dari rencana) pekerjaan bawah tanah, bentuk dan kejadian gambaran penyebaran bahan galian (tambang), serta struktur yang ada dari kenampakan bumi. Ilmu ukur tambang juga berfungsi dalam memecahkan berbagai permasalahan ukur tambang (eksplorasi, konstruksi, dan eksploitasi). Sebelum membicarakan lebih lanjut tentang cara-cara pengukuran di dalam tambang dan cara-cara perhitungannya, perlu diketahui terlebih dahulu tentang dasar-dasar pengertian untuk pengukuran tambang. 1. Bearing, adalah suatu sudut yang diukur ke kiri atau ke kanan antara garis Utara (North), Selatan (South) dengan titik tertentu. 2. Azimuth, adalah suatu sudut yang ukur dari titik Utara atau Selatan ke suatu titi tertentu menurut arah jarum jam.

C.

PERBEDAAN PENGUKURAN PADA UNDERGROUND TRAVERSING DAN SURFACE TRAVERSING Perbedaan pengukuran dalam tanah (underground traversing) dan pengukuran pada permukaan (surface traversing) dapat dilihat pada beberapa hal, yaitu sebagai berikut.

Penerangan (light) pada Underground Traversing sangat diperlukan, karena untuk pembacaan sudut vertikal atau horizontal pembacaan benang silang pada instrumen serta pada pembacaan alat ukur.

Kurang begitu nyata atau teliti seperti yang dilakukan pada ukur tanah, jadi pengulangan pembacaan perlu dilakukan untuk mencegah atau memperkecil kesalahan.

Daerah atau ruang pengukuran tak sebebas seperti pada ukur tanah, sehingga lebih sulit dalam pemasangan instrumen maupun dalam pelaksanaan pengukurannya.

Yang digunakan dalam surveying adalah plumbob dengan tali penggantungnya pada patok (station). Penggunaan rod pada underground traversing boleh dikatakan tidak dilakukan, mengingat tinggi mine haulage tunnel agak kurang dari panjang rod tersebut, dan sebagai pengganti rod adalah patok tadi.

Cara pemasangan Theodolite (transite), di mana pada perintisan di permukaan anting-anting ditepatkan pada titik patok yang berada di bawah, tetapi untuk perintisan tambang bawah tanah titik as dari sumbu I ditepatkan dengan plum bob yang tergantung pada atap (roof), kecuali instrument tersebut tidak ada as sumbu pertamanya (misal Theodolite T0), maka plum bob tersebut dipindahkan dulu ke bawah dengan block station.

Data yang perlu diambil disini meliputi : Pengukuran sudut horizontal (double) Pengukuran sudut vertical (double) Pengukuran jarak(slope distance) Pengukuran tinggi alat Pengukuran tinggi plum bob yang digantungkan (HS dan BI) Kolom catatan, misalnya tinggi level dan sebagainya.

Harus memperhatikan gangguan aliran air, rembesan air dan sebagainya, juga instrument yang harus dilindungi dari pengaruh rembesan air tersebut.

Adanya pengaruh medan magnet, misalnya pada rel, jalan-jalan kereta dorong,pada bijih yang sifatnya magnetik (hematit, pyrolusite dan sebagainya).

Karena pengaruh-pengaruh tersebut diatas maka sangat diperlukan ketelitian pembacaan yang sangat hati-hati. Juga perlu dipehatikan pada daerah sekitar patok yang akan dipasangi instrument tersebut, karena batuan dalam batuan induk (country rock) yang tidak kuat dapat mengakibatkan kecelakaan bagi operator (surveyor) dan istrument itu sendiri. Perlu diperhatikan untuk tidak memasang instrument pada daerah bebatuan lepas, daerah penirisan maupun pada pitth. Pengukur (transimen) umumnya kurang memperhatikan hal ini, untuk pengukuran jarak pendek akan menimbulkan kesalahan sudut tertentu. D. CARA PENGUKURAN Peralatan ukur tambang pada umumnya tidak jauh berbeda dengan alatalat ukur tanah, kecuali apabila alat tersebut tidak dapat digunakan untuk pengukuran dalam tanah (Underground Traversing) maka digunakan atau diperlukan alat-alat khusus. Adapun peralatan dan perlengkapan yang digunakan adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Theodolite (instrument) Dumpey level Rambu ukur Kompas Poket tape (10 meter) Pita yang dapat digulung (200-250 feet) Unting-unting Plumb bob Magnifying glass (loupe)

10. Buku catatan data 11. Pencil 12. Perlengkapan-perlengkapan lain seperti lampu dan lain-lain. Tim kerja (man crew) cukup tiga orang dengan pembagian tugas sebagai berikut : - Satu orang mencatat data dalam buku - Satu orang sebagai pengukur - Satu orang lagi sebagai pembawa pita ukur (chain man)

Pada kegiatan pengukuran, yang pertama kali dilakukan adalah pengukuran sudut dan jarak miring. Prosedur yang baik untuk pengukuran di bawah tanah ialah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Pasang alat (instrument) Catat HI (tinggi instrument) Catat jarak kanan dan kiri instrument Mulai pada nol dan mengambil BS dengan jarak gerak perlahan-lahan. Lepaskan penggerak atas dan bidik FS. Baca dan catat HA, lepaskan penggerak bagian bawah dan putar di lingkaran vertical ke depan operator dan baca VA. Arahkan teleskop ke BS dengan menggerkkan penggerak ke bagian bawah. Lepaskan penggerak bagian atas dan bidik FS. Baca HA dan VA, pada sudut datar pembacaan VA untuk kedua kalinya tidak perlu. Jika HA dibuat double, ulangi proses setelah posisi 0 dan tempatkan teleskop dalam posisi langsung. 10. Setelah semua pengukuran regular lengkap, pembantu membawa ujung 0 dari pita ke patok FS dan diukur SO. Sebelum memulai pengukuran instrument harus ditempatkan kea rah patok FS. 11. Gerakkan ke patok FS dan catat HS.

E.

KESIMPULAN Ilmu ukur tambang pada dasarnya hampir sama dengan ilmu ukur tanah yang dikenal di teknik sipil. Yang membedakan keduanya adalah pengaplikasiannya. Ilmu ukur tanah digunakan untuk pengukuran dipermukaan, sedangkan ilmu ukur tambang lebih dkhususkan pada pengukuran dalam tanah sehingga digunakan di tambang bawah tanah. Adapun ilmu ukur tambang merupakan kegiatan pengukuran yang dilakukan dengan tujuan sebagai berikut. Untuk mengetahui kedudukan lubang bukaan terhadap peta topography yang ada Untuk mengetahui gambaran lunbang-lubang tambang (peta tambang). Untuk mengetahui kemajuan arah penggalian serta besar tonase penggalian didalam stope. Menyajikan secara grafis (rencana atau bagian dari rencana) pekerjaan bawah tanah. Mengetahui bentuk dan kejadian gambaran penyebaran bahan galian (tambang). Mengetahui struktur yang ada dari kenampakan bumi. Untuk memecahkan berbagai permasalahan ukur tambang (eksplorasi, konstruksi, dan eksploitasi). Perbedaan antara pengukuran dalam tanah dan pengukuran permukaan yang sangat penting yaitu berkaitan dengan masalah penerangan, daerah (ruang) pengukuran, dan penggunaan plumbob. Pada pengukuran dalam tanah penerangan sangat diperlukan untuk pembacaan rambu ukur dan pembacaan sudut. Dengan adanya kendala tersebut, maka beberapa hal yang penting untuk diperhatikan adalah sebagai berikut. 1. Penerangan pada pengukuran bawah tanah sangat diperlukan. Digunakan untuk memberikan cahaya pada ruang bawah tanah dan pada pembacaan benang silang. 2. Daerah atau ruang pengukuran tak sebebas seperti pengukuran di permukaan sehingga lebih sulit dalam pemasangan instrumen maupun dalam pelaksanaan pengukuran. 3. Digunakan Plumbobs jika tinggi lubang bukaan tidak memungkinkan untuk didirikan rambu ukur.

4.

Kelembaban dan aliran air menyebabkan permukaan lensa instrumen mudah mengembun sehingga perlu perawatan khusus terhadap instrumen. Kelembaban dan aliran air tersebut juga berpengaruh terhadap alat ukur yang lainnya seperti pita ukur, rambu ukur, dan lainnya.

5.

Adanya pengaruh-pengaruh magnetik seperti dari rel, muck sheets, dan magnetik dari bijih. Mengenai peralatan dan perlengkapan pada dasarnya tidak jauh

berbeda dengan peralatan dan perlengkapan yang digunakan pada ilmu ukur tanah. Namun pada ilmu ukur tambang diperlukan beberapa peralatan tambahan yang khusus digunakan untuk pengukuran dalam tanah.

F.

DAFTAR PUSTAKA http://www.4shared.com/office/ZuWKcwnk/MATERI_KULIAH_Ilmu_Ukur_Ta mban.html http://iptekduniapertambangan.blogspot.com/2011/12/ilmu-ukurtambang.html http://www.michanarchy.com/2013/04/ilmu-ukur-tambang.html

Anda mungkin juga menyukai