Anda di halaman 1dari 31

Cara Mencuci Tangan Cara Mencuci Tangan yang Benar dan Steril.

Pentingnya mencuci tangan untuk menjaga kesehatan dan terhindar dari penyakit.Sebaiknya mengajarkan kebiasaan baik mencuci tangan kepada anak yang masih kecil, karna salah satu penyakit pembunuh anak nomor 1 di Indonesia adalah diare, yang dapat dicegah dengan mengajarkan anak untuk mencuci tangan. Berikut beberapa penyakit akibat tidak cuci tangan yang dapat dicegah dengan mencuci tangan dengan benar dan bersih : diare, cacingan, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), TBC, penyakit yang mematikan seperti SARS, flu burung (H5N1) dan flu babi (H1N1). Cara mencuci tangan yang bersih harus menggunakan sabun dan di bawah air yang mengalir.

Berikut langkah-langkah teknik mencuci tangan yang benar : * Basahi tangan dengan air di bawah kran atau air mengalir. * Ambil sabun cair secukupnya untuk seluruh tangan. Akan lebih baik bila sabun mengandung antiseptik. * Gosokkan kedua telapak tangan. * Gosokkan sampai ke ujung jari. * Telapak tangan tangan menggosok punggung tangan kiri (atau sebaliknya) dengan jari-jari saling mengunci (berselang-seling) antara tangan kanan dan kiri. Gosok sela-sela jari tersebut. Lakukan sebaliknya. * Letakkan punggung jari satu dengan punggung jari lainnya dan saling mengunci. * Usapkan ibu jari tangan kanan dengan telapak kiri dengan gerakan berputar. Lakukan hal

yang sama dengan ibu jari tangan kiri. * Gosok telapak tangan dengan punggung jari tangan satunya dengan gerakan kedepan, kebelakang dan berputar. Lakukan sebaliknya. * Pegang pergelangan tangan kanan dengan tangan kiri dan lakukan gerakan memutar. Lakukan pula untuk tangan kiri. * Bersihkan sabun dari kedua tangan dengan air mengalir. * Keringkan tangan dengan menggunakan tissue dan bila menggunkan kran, tutup kran dengan tissue. Mengeringkan dengan tissue lebih baik dibandingkan mengeringkan tangan menggunakan mesin pengering tangan yang umum ada di mal. Karena mesin pengering tangan yang dipakai secara umum menampung banyak bakteri yang dapat menularkan ke orang lain. Mencuci tangan umumnya dilakukan : saat sebelum makan, sebelum menyiapkan makanan, setelah memegang daging mentah, sebelum dan setelah menyentuh orang sakit, sesudah menggunakan kamar mandi, setelah batuk atau bersin atau membuang ingus, setelah mengganti popok atau pembalut, sebelum dan setelah mengobati luka, setelah membersihkan atau membuang sampah, setelah menyentuh hewan atau kotoran hewan, dll. Walaupun banyak yang meremahkan dan mengganggap kebiasaan cuci tangan itu tidak penting, mulailah dari sekarang membiasakan diri untuk selalu mencuci tangan dengan baik dan benar agar hidup Anda dan keluarga dapat lebih sehat. http://www.zonakesehatan.com/caramencuci-tangan-yang-benar-dan-steril.html

Mencuci Tangan adalah tindakan yang sering kali kita anggap sepele, namun merupakan hal yang sangat penting dalam menjaga higiene tangan maupun kulit serta

salah satu upaya efektif dalam mencegah infeksi nosokomial. Apapun yang anda lakukan dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap klien, sebelum dan sesudah kontak dengan klien segera cuci tangan .

The centers for disease control and prevention(CDC) mengeluarkan rekomendasi baru
untuk menjaga higiene tangan di lingkungan perawatan kesehatan. Higiene tangan adalah istilah yang digunakan unutk mencuci tangan menggunakan antiseptik pencuci tangan. Mencuci tangan dengan menggunakan antiseptik pencuci tangan serta mencuci tangan dengan benar lebih efektif dalam mengurangi infeksi nosokomial dari pada mencuci tangan dengan cara biasa. Mencuci Tangan sebaiknya dilakukan :

Sebelum dan sesudah memeriksa klien. Sebelum dan sesudah memakai sarung tangan. Jika terjadi kontaminasi pada tangan seperti : memegang instrumen dan item lain yang kotor, menyentuh selaput lendir, darah atau cairan tubuh (sekresi dan ekskresi), terjadi kontak lama dan intensif dengan pasien.

Sebelum melakukan prosedur invasif nonbedah (memasang infus, mengambil sampel darah, memasang kateter urine, menghisap nasotrakea). Bila berpindah dari bagian tubuh terkontaminasi ke bagian tubuh bersih (luka bedah) selama perawatan klien. Setelah menggunakan kamar mandi. Sebelum makan. Peralatan Minimal untuk Mencuci Tangan Di IRD, poliklinik, maupun ruang rawat inap, puskesmas, tempat pelayanan publik seperti kamar mandi umum, perlu disediakan area cuci tangan seperti wastafel, minimal terdapat :

Sabun (batang atau cair, yang antiseptik maupun nonantiseptik) Wadah sabun yang berlubang supaya air bisa terbuang keluar Air mengalir (pipa, atau ember dengan keran), Handuk/lap sekali pakai (tisu, atau kain yang dicuci setelah sekali pakai)

Cara Mencuci Tangan yang Baik dan Benar

Pengalaman Klinik

Saya teringat pada suatu hari saat sedang dinas di instalasi gawat darurat, seorang ibu Ny N datang mengajak anaknya laki-laki 3 th yang mengeluh diare, Ny N agak heran mengapa akhir-akhir ini anaknya sering sekali diare semenjak 1 tahun terakhir. Padahal Ny N sudah memasak makanan dengan baik begitu pula saat menyajikannya. Ny N mengetahui bahwa anaknya suka sekali bermain pasir di halaman rumahnya, sang anak akan menangis jika Ny N tidak mengijinkan anaknya bermain pasir, begitu juga karena Ny N sibuk mengerjakan pekerjaan sambilan di rumahnya yaitu memasang manik-manik untuk menambah uang dapur keluarga. Jika anak sudah tidak rewel dan mau bermain sendiri sambil ngemil, Ny N merasa senang karena dapat mengerjakan pekerjaannya tanpa diganggu oleh sang anak. Meskipun Ny N telah memasak serta menyajikan makanan dengan baik tapi ada hal kecil yang mungkin sepele luput dari perhatiannya, yaitu kurangnya kebiasaan mencuci tangan. Mencuci Tangan Kesehatan merupakan komponen penting dalam tumbuh kembang anak disamping nutrisi, stimulasi dini, dan imunisasi. Pada postingan kali ini, kita akan membahas khususnya tangan. Mengapa tangan ? Karena tangan merupakan salah satu anggota tubuh yang paling banyak bersentuhan dengan berbagai objek di sekitar kita. Sehingga boleh dikatakan mencuci

tangan termasuk sebagai salah satu kunci hidup sehat.


Mencuci tangan dengan benar merupakan upaya mencegah penyebaran penyakit yang paling praktis, murah dan penting. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa

mencuci tangan dengan baik membuat anak menjadi jarang sakit, terutama pilek dan diare. Seperti yang kita ketahui, penyakit infeksi dapat ditularkan melalui berbagai cara antara lain dengan menyentuh atau memegang benda yang ada kuman penyakitnya. Jadi jelaslah penularan penyakit dapat diminimalisasi dengan mencuci tangan secara benar. Saat Tepat Mencuci Tangan (Panduan Bagi Orang Tua Di Rumah) Kapan sebaiknya kita (orang tua) mencuci tangan ? Mencuci tangan sebaiknya dilakukan apabila :

Hendak memegang dan memangku anak Sebelum makan, memasak dan menyajikan makanan, memberi makan anak Akan memberi obat pada anak Sesudah bermain dengan air yang dipergunakan lebih dari satu orang Sesudah mengganti popok bayi/anak Sesudah menggunakan toilet atau sesudah membantu anak di toilet Sehabis membersihkan kotoran berupa cairan tubuh (ingus, lendir, darah, muntahan), membersihkan hidung sesudah bersin, membersihkan mulut (air liur), atau membersihkan luka.

Sehabis mengolah makanan mentah terutama daging dan produk peternakan lainnya Sehabis memegang binatang peliharaan atau binatang lainnya Sehabis bermain pasir Setelah selesai membersihkan dan mengurus sampah. Anakpun Harus Dibiasakan Mencuci Tangan Mencuci tangan juga tidak terbatas pada pengasuh bayi/anak, tapi juga harus mulai dibiasakan pada anak sejak usia dini. Mencuci tangan sesudah main pasir, akan mencegah penyakit akibat parasit. Sedangkan mencuci tangan sesudah makan sangat penting terutama bila anak makan tanpa menggunakan sendok karena dengan mencuci tangan, kita membuang air liur yang terkena di tangan yang biasanya mengandung berbagai kuman dan jasad renik

Cara mencuci tangan yang baik dan benar pada anak tidak jauh beda dengan cara pada orang dewasa, yang menjadi catatan adalah setelah mencuci tangan jika tidak memungkinkan mengeringkan tangan menggunakan tisu sekali pakai, dapat mengguankan handuk yang bersih, dan jangan menggunakan satu handuk secara bersama-sama, setiap anggota keluarga harus memiliki satu handuk, bila perlu diberi nama dan digantung setelah menggunakannya pada tempat yang sirkulasi udaranya baik. Jangan Lupa Cuci Tangan ! (Panduan Untuk Praktisi Keperawatan) Sebagai praktisi keperawatan, kita memang dituntut selalu dekat dengan klien untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, setiap saat setiap waktu kita dituntut untuk selalu siap bila klien memerlukan bantuan kita. Terutama adalah perawat yang bertugas di instalasi rawat darurat, yang merupakan ujung tombak pelayanan suatu rumah sakit. sering kali kita berhadapan dengan situasi yang benar-benar gawat darurat. Klien kecelakaan datang tidak sadar tubuh berlumuran darah, saat kita pindahkan dari mobil ke brankar klien tiba-tiba muntah, dan sering kali kita keciptratan muntahannya. Kita dituntut berpacu dengan respon time, dimana waktu yang kita punya dari klien tiba di pintu depan IRD sampai mendapat penanganan kita hanya beberapa detik saja, terkadang kita tidak sempat memakai sarung tangan. Tapi tidak apa kita bekerja bertim, saat kita memindahkan klien, teman yang lain ada waktu beberapa detik untuk memakai sarung tangan maupun skort yang akan membantu kita. Setelah itu biarkan teman yang telah siap tadi mengambil alih tugas kita sehingga kita sempat mencuci tangan yang kotor setelah memindahkan klien tadi. Itu tadi adalah sebagian kecil pengalaman saya yang sedang bertugas jaga di instalasi gawat darurat. Menolong klien adalah utama namun jangan lupa keselamatan kita. sedapat mungkin kita sebelum berhubungan dengan klien gunakan sarung tangan dulu, namun kadang pada situasi tertentu kita tidak sempat memakai sarung tangan, tapi selalu ingat segera cuci tangan. Kita tidak tahu apakah klien mengidap suatu penyakit yang menular (HIV, Hepatitis) atau tidak.

Tips Cara Cuci Tangan Dengan Sabun Yang Baik Dan Benar - Mencuci Tangan Membunuh Kuman Mencuci tangan adalah kegiatan membersihkan bagian telapak, punggung tangan dan jari agar bersih dari kotoran dan membunuh kman penyebab penyakit yang merugikan kesehatan manusia serta membuat tangan menjadi harum baunya. Banyak orang yang menyepelekan dan melupakan aktifitas mencuci tangan setelah melakukan suatu pekerjaan dan sebelum makan sehingga mereka beresiko terserang penyakit yang berasal dari kuman di tangan. Mencuci tangan yang baik dan sehat membutuhkan beberapa peralatan sebagai berikut di bawah ini : 1. Sabun / antiseptik 2. Air bersih 3. Lap / tisu kering bersih Untuk hasil yang maksimal disarankan mencuci tangan dengan baik, tidak terburuburu, serius dan teliti yaitu minimal dilakukan selama 20 detik. Dengan melakukan pencucian tangan yang bersih dan teratur dapat menjauhkan kita dari virus, bakteri dan kuman penyebab penyakit yang umumnya menyerang sistem pencernaan tubuh kita. Salah satu penyakit yang biasa diakibatkan oleh kuman yang ikut masuk ke dalam tubuh manusia bersama makanan adalah diare alias mencret. Selain di disebabkan oleh kuman penyakit, diare juga dapat ditimbulkan oleh kekurangan cairan tubuh alias dehidrasi (kurang minum). Proses Langkah / Tahap Mencuci Tangan Dengan Sabun Antiseptik Yang Baik : 1. Basahi sampai bersih dan rata tangan kita dengan air bersih yang mengalir. 2. Sabuni telapak tangan kita sampai berbusa secukupnya dengan sabun batang / cair yang dapat membunuh kuman. 3. Usap-usap kedua telapak tangan kita sampai rata. 4. Usap kedua bagian punggung tangan sampai merata. 5. Bersihkan jari dan kuku jari kita sampai bersih. 6. Bilas dengan air bersih yang mengalir sampai busa sabun tidak ada yang tersisa. 7. Lap tangan kita dengan lap tangan atau tisu yang bersih sampai kering. Tips Tambahan : - Sebaiknya kuku jari tangan kita tidak dibiarkan panjang, karena dapat menjadi sarang penyakit. Jika memang suka kuku panjang maka rawatlah dengan baik dan hindarkan dari benturan / cedera kuku agar kuku tidak terluka atau terlepas.

Tip Cara Mencuci Tangan Yang Baik dan Benar Posted on September 7, 2012 Mencuci tangan adalah cara mudah untuk mencegah infeksi. Memahami kapan harus mencuci tangan Anda, cara benar menggunakan pembersih tangan dan bagaimana untuk mendapatkan anak-anak Anda ke dalam kebiasaan. Ketidak tahuan anak dalam mencuci tangan dengan baik dan benar atau tidak mencuci tangan sama sekali. Merupakan salah satu jalan yang cepat bagi kuman untuk memasuki tubuhnya. Akibatnya anak akan mudah terkena beberapa penyakit seperti diare, pilek dan penyakit lainnya. Mengingat pentingnya cuci tangan, maka setiap tanggal 15 Oktober dicanangkan sebagai Hari Cuci Tangan Sedunia. Biasakan diri dan keluarga Anda untuk mencuci tangan sekarang juga. Anda juga sebaiknya mengajarkan kebiasaan baik mencuci tangan ini kepada anak Anda yang masih kecil. Seorang anak senang sekali mempelajari dan menyentuh segala sesuatu tanpa tahu apakah benda tersebut kotor atau tidak. Lalu memasukkan tangannya ke dalam mulut atau memakan makanan tanpa mencuci tangan. Akibatnya sang anak dapat menderita penyakit. Menurut penelitian, penyakit pembunuh anak nomor 1 di Indonesia adalah karena diare, padahal hal ini dapat dicegah dengan mengajarkan anak untuk mencuci tangan. Sering mencuci tangan-adalah salah satu cara terbaik untuk menghindari sakit dan menyebarkan penyakit. Cuci tangan hanya membutuhkan sabun dan air atau alkohol pembersih tangan berbasis pembersih yang tidak memerlukan air. Cari tahu kapan dan bagaimana mencuci tangan dengan benar. Ketika mencuci tangan Anda

Saat Anda menyentuh orang, permukaan dan benda-benda sepanjang hari, Anda mengakumulasi kuman di tangan Anda. Pada gilirannya, Anda dapat menginfeksi diri sendiri dengan kuman dengan menyentuh mata, hidung atau mulut. Meskipun tidak mungkin untuk menjaga tangan Anda bebas kuman, mencuci tangan Anda sering dapat membantu membatasi perpindahan bakteri, virus dan mikroba lainnya.

Selalu mencuci tangan sebelum:


Menyiapkan makanan atau makan Mengobati luka, memberikan obat, atau merawat orang sakit atau terluka

Memasang atau melepas lensa kontak Menyiapkan makanan, terutama daging mentah atau unggas Menggunakan toilet atau mengganti popok Menyentuh mainan hewan atau binatang, kalung anjing, atau limbah Membuang ingus, batuk atau bersin ke tangan Anda Mengobati luka atau merawat orang sakit atau terluka Penanganan sampah kimia, rumah tangga atau berkebun, atau apapun yang bisa terkontaminasi seperti kain pembersih atau sepatu kotor Selain itu, mencuci tangan Anda setiap kali mereka terlihat kotor. Kapan waktu mencuci tangan Anak perlu diajari kapan harus mencuci tangan, dan beri pengetahuan jika ia tidak melakukannya. Waktu-waktu yang diperlukan untuk mencuci tangan seperti, sebelum dan sesudah makan, setelah buang air kecil atau besar, setelah bermain kotor, mengupil, batuk, bersin, dan sebagainya. Mencuci tangan umumnya dilakukan saat sebelum makan, sebelum menyiapkan makanan, setelah memegang daging mentah, sebelum dan setelah menyentuh orang sakit, sesudah menggunakan kamar mandi, setelah batuk atau bersin atau membuang ingus, setelah mengganti popok atau pembalut, sebelum dan setelah mengobati luka, setelah membersihkan atau membuang sampah, setelah menyentuh hewan atau kotoran hewan.

Selalu mencuci tangan anda setelah:


Cara mencuci tangan Baik dan benar

Untuk anak perempuan, diberitahu untuk melepas cincin atau gelang sebelum mencuci tangan, agar seluruh bagian tangan dapat dicuci. Jelaskan juga bahwa sebelum mencuci tangan dengan sabun, basahi terlebih dahulu bagian seluruh bagian tangan dengan air hangat.

Cara mencuci tangan dengan baik

Mencuci tangan Ketika mencuci tangan, teteskan sabun cuci tangan secukupnya lalu menggosokkan tangan yang sudah diberi sabun hingga berbusa. Lama mencuci tangan sebaiknya sekitar 20 detik. Ingatlah untuk menggosok semua permukaan, termasuk bagian belakang tangan, pergelangan tangan, sela-sela jari dan di bawah kuku Anda. Bilas dengan baik.

Gosokkan kedua telapak tangan. Gosokkan sampai ke ujung jari. Telapak tangan tangan menggosok punggung tangan kiri (atau sebaliknya) dengan jari-jari saling mengunci (berselang-seling) antara tangan kanan dan kiri. Gosok sela-sela jari tersebut. Lakukan sebaliknya.

Letakkan punggung jari satu dengan punggung jari lainnya dan saling mengunci. Usapkan ibu jari tangan kanan dengan telapak kiri dengan gerakan berputar. Lakukan hal yang sama

dengan ibu jari tangan kiri. Gosok telapak tangan dengan punggung jari tangan satunya dengan gerakan kedepan, kebelakang dan berputar. Lakukan sebaliknya. Pegang pergelangan tangan kanan dengan tangan kiri dan lakukan gerakan memutar. Lakukan pula untuk tangan kiri.

Setelah 20 detik mencuci tangan, beri tahu anak untuk membilas tangannya dengan air selama 10 detik untuk menghilangkan sabun. Keringkan tangan dengan tisu atau handuk, terakhir gunakan tisu baru. Keringkan tangan dengan handuk bersih atau sekali pakai atau pengering udara. Jika memungkinkan, gunakan handuk untuk mematikan kran.

Penting Diketahui

Perlu diingat bahwa sabun antibakteri tidak lebih efektif dalam membunuh kuman daripada sabun biasa. Menggunakan sabun antibakteri bahkan dapat menyebabkan perkembangan bakteri yang resisten terhadap agen antimikroba produk sehingga sulit untuk membunuh kuman ini di masa depan.

Mengeringkan dengan tissue lebih baik dibandingkan mengeringkan tangan menggunakan mesin pengering tangan yang umum ada di mal. Karena mesin pengering tangan yang dipakai secara umum menampung banyak bakteri yang dapat menularkan ke orang lain.

Mencuci tangan Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa

Lekukan sidik jari adalah contoh bagaimana partikel partikel dapat terperangkap di antara lekukan kulit pada telapak tangan, dan tetap tidak terlihat oleh mata.

Mencuci tangan adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari jemari dengan menggunakan air ataupun cairan lainnya oleh manusia dengan tujuan untuk menjadi bersih, sebagai bagian dari ritual keagamaan, ataupun tujuan-tujuan lainnya. Perilaku mencuci tangan berbeda dengan perilaku cuci tangan yang merujuk pada kata kiasan. Mencuci tangan baru dikenal pada akhir abad ke 19 dengan tujuan menjadi sehat saat perilaku dan pelayanan jasa sanitasi menjadi penyebab penurunan tajam angka kematian dari penyakit menular yang terdapat pada negara-negara kaya (maju). Perilaku ini diperkenalkan bersamaan dengan ini isolasi dan pemberlakuan teknik membuang kotoran yang aman dan penyediaan air bersih dalam jumlah yang mencukupi. Daftar isi [sembunyikan]

1 Macam-macam cara mencuci tangan


o o o o o

1.1 Mencuci tangan dengan air 1.2 Mencuci tangan dengan air panas 1.3 Mencuci tangan dengan sabun 1.4 Mencuci tangan dengan cairan 1.5 Mencuci tangan dengan tisu basah

2 Referensi [sunting]Macam-macam cara mencuci tangan [sunting]Mencuci tangan dengan air

Berwudhu

Wadah pencuci tangan dan jeruk nipis yang disediakan di Rumah Makan Ritual mencuci tangan di dunia dipraktikan sebagai bagian dari budaya maupun praktik keagamaan. Dalam agama Hindu terdapat ritual mencuci tangan Bah', dalam agamaYahudi dinamakan tevilah dan netilat yadayim. Praktek yang mirip adalah ritual lavabountuk agama Kristen, wudhu untuk agama Islam, dan Misogi di kuil Shinto. Di beberapa rumah makan di Indonesia seperti rumah makan padang, rumah makan sunda, atau warung-warung makan lainnya dimana mengonsumsi makanan dirasakan lebih umum dengan menggunakan tangan langsung (tanpa alat makan seperti sendok dan garpu), penjual kadang-kadang menyediakan wadah berupa mangkuk kecil berisi air (sering juga disebut dengan kobokan) untuk mencuci tangan disertai dengan irisan jeruk nipis untuk menghilangkan bau sesudah makan. Praktek mencuci tangan yang dianjurkan pada umumnya adalah dilakukan dibawah air yang mengalir, karena air dalam keadaan diam dan digunakan untuk mencuci tangan yang kotor bisa menjadi tempat sup kuman karena berkumpulnya kotoran yang mungkin mengandung kuman penyakit di satu tempat dan menempel lagi saat tangan diangkat dari wadah mencuci tangan tersebut. [sunting]Mencuci tangan dengan air panas Walaupun ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa mencuci tangan dengan air panas lebih efektif untuk membersihkan tangan, namun pendapat ini tidak disertai dengan pembuktian ilmiah. Temperatur dimana manusia dapat menahan panas air tidak efektif untuk membunuh kuman. Beberapa pendapat lain menyatakan bahwa air panas dapat membersihkan kotoran, minyak, ataupun zat-zat kimia, namun pendapat populer ini sebenarnya tidak terbukti, air panas tidak membunuh mikro organisme. Temperatur yang nyaman untuk mencuci tangan adalah sekitar 45 derajat celsius, dan temperatur ini tidak cukup panas untuk membunuh mikro

organisme apapun. Namun temperatur yang jauh lebih panas (umumnya sekitar 100 derajat celsius) memang dapat membunuh kuman. Tidak efektifnya temperatur air untuk membunuh kuman juga dinyatakan dalam prosedur standar mencuci tangan untuk operasi medis dimana air keran dibiarkan mengalir deras hingga 2 galon per menit dan kederasan air inilah yang membersihkan kuman, sementara tinggi rendahnya temperaturnya tidak signifikan [1]. [sunting]Mencuci tangan dengan sabun Artikel utama untuk bagian ini adalah: Mencuci tangan dengan sabun Mencuci tangan dengan sabun adalah praktik mencuci tangan yang paling umum dilakukan setelah mencuci tangan dengan air saja. Walaupun perilaku mencuci tangan dengan sabun diperkenalkan pada abad 19 dengan tujuan untuk memutus mata rantai kuman, namun pada praktiknya perilaku ini dilakukan karena banyak hal di antaranya, meningkatkan status sosial, tangan dirasakan menjadi wangi, dan sebagai ungkapan rasa sayang pada anak. Pada fasilitas-fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, mencuci tangan bertujuan untuk melepaskan atau membunuh patogen mikroorganisme (kuman) dalam mencegah perpindahan mereka pada pasien. Penggunaan air saja dalam mencuci tangan tidak efektif untuk membersihkan kulit karena air terbukti tidak dapat melepaskan lemak, minyak, dan protein dimana zat-zat ini merupakan bagian dari kotoran organik. Karena itu para staf medis, khususnya dokter bedah, sebelum melakukan operasi diharuskan mensterilkan tangannya dengan menggunakan antiseptik kimia dalam sabunnya (sabun khusus atau sabun anti mikroba) atau deterjen [2] [3]. Untuk profesi-profesi ini pembersihan mikro organisme tidak hanya diharapkan "hilang" namun mereka harus bisa memastikan bahwa mikro organisme yang tidak bisa "bersih" dari tangan, mati, dengan zat kimia antiseptik yang terkandung dalam sabun. Aksi pembunuhan mikroba ini penting sebelum melakukan operasi dimana mungkin terdapat organisme-organisme yang kebal terhadap antibiotik. [sunting]Mencuci tangan dengan cairan Pada akhir tahun 1990an dan awal abad ke 21, diperkenalkan cairan alkohol untuk mencuci tangan (juga dikenal sebagai cairan pencuci tangan, antiseptik, atau sanitasi tangan) dan menjadi populer. Banyak dari cairan ini berasal dari kandungan alkohol atau etanol yang dicampurkan bersama dengan kandungan pengental seperti karbomer, gliserin, dan menjadikannya serupa jelly, cairan, atau busa untuk memudahkan penggunaan dan menghindari perasaan kering karena penggunaan alkohol. Cairan ini mulai populer digunakan karena penggunaannya yang mudah, praktis karena tidak membutuhkan air dan sabun.

Penggunaan cairan sanitasi tangan berbentuk jel dan berbahan dasar alkohol dalam sebuah penelitian di Amerika pada 292 keluarga di Boston menunjukkan bahwa cairan ini mengurangi kasus diare di rumah hingga 59 persen. Dr. Thomas J. Sandora, seorang dokter di Divisi Penyakit Menular pada RS Anak-anak Boston (Division of Infectious Diseases at Children's Hospital Boston) dan juga penulis untuk buku "Tangan Sehat, Keluarga Sehat" ("Healthy Hands, Healthy Families.") mengemukakan bahwa penelitian ini adalah penelitian pertama yang menunjukkan bahwa penggunaan cairan sanitasi tangan menunjukkan bahwa perilaku ini mengurangi penyebaran kuman di rumah. Keluarga yang direkrut untuk penelitian ini adalah keluarga yang menitipkan anak-anaknya di tempat penitipan anak dan menunjukkan aktivitas mencuci tangan dengan sabun dengan frekuensi yang sama saat direkrut untuk penelitian. Lalu separuh dari keluarga itu diberikan cairan sanitasi tangan dan selebaran yang memberitahu tentang pentingnya kebersihan tangan. Sementara separuhnya lagi, befungsi sebagai kontrol dan menerima selebaran tentang nutrisi dan diminta untuk tidak menggunakan cairan pencuci tangan. Hasilnya keluarga yang menggunakan cairan sanitasi tangan mengindikasikan 59 persen angka diare yang lebih rendah dibandingkan kelompok yang berfungsi sebagai kontrol. Penelitian lain oleh Harvard Medical School dan RS Anak-anak Boston (Division of Infectious Diseases at Children's Hospital Boston) yang dipublikasikan pada bulan April 2005 menunjukkan efek perlindungan pada penderita ISPA dalam keluarga yang menggunakan cairan sanitasi tangan atas inisyatif mereka sendiri. Cairan sanitasi ini menjadi alternatif yang nyaman bagi para orang tua yang tidak sempat berulangkali ke wastafel untuk mencuci tangan mereka saat harus merawat anak mereka yang sakit. Walaupun mencuci tangan dengan sabun dan air efektif untuk mengurangi penyebaran sebagian besar infeksi namun untuk melakukannya dibutuhkan wastafel, dan sebagai tambahan rotavirus (virus yang paling sering ditemukan dalam kasus diare di tempat penitipan anak di Amerika), tidak dapat dibersihkan secara efektif dengan sabun dan air, namun dapat dimatikan dengan alkohol [4]. Sesuai perkembangan zaman, dikembangkan juga cairan pembersih tangan non alkohol. Namun apabila tangan benar-benar dalam keadaan kotor, baik oleh tanah, darah, ataupun lainnya, maka penggunaan air dan sabun untuk mencuci tangan lebih disarankan karena cairan pencuci tangan baik yang berbahan dasar alkohol maupun non alkohol walaupun efektif membunuh kuman cairan ini tidak membersihkan tangan, ataupun membersihkan material organik lainnya. Dalam perdebatan yang mana perilaku yang lebih efektif di antara menggunakan cairan pembersih tangan atau mencuci tangan dengan sabun, Wallace Kelly, Infection Control R.N. (Paramedik untuk Pengendalian Infeksi) [5] berpendapat bahwa keduanya efektif dalam membersihkan bakteria-bakteria tertentu. Namun cairan pembersih tangan berbahan dasar

alkohol tidak efektif dalam membunuh bakteria yang lain seperti e-coli dan salmonela. Karena alkohol tidak menghancurkan spora-spora namun dengan mencuci tangan dengan sabun spora-spora tersebut terbasuh dari tangan. Menurutnya metode terbaik adalah menentukan saat keadaan tidak memungkinkan untuk mengakses air dan sabun, maka cairan pencuci tangan jauh lebih baik daripada tidak menggunakan apapun. Di Amerika Serikat cairan pencuci tangan dilarang oleh Departemen Pemadam Kebakaran dari sekolah-sekolah karena kekhawatiran bahwa cairan tersebut dapat merangsang api menjadi besar, namun Rumah Sakit Tallahasee Memorial Hospital diperbolehkan untuk menaruh cairan pencuci tangan dalam jumlah tertentu. Cairan pencuci tangan yang disarankan adalah yang mengandung paling sedikit 60 persen alkohol dan bahan pelembab [6].

Cairan pembunuh kuman yang berbahan dasar alkohol tidak efektif untuk mematikan materi organik, dan virus-virus tertentu sepertinorovirus, spora-spora bakteria tertentu, dan protozoa tertentu. Untuk membersihkan mikro organisme - mikro organisme tersebut tetap disarankan menggunakan sabun dan air. Karena praktis, cairan-cairan pencuci tangan inipun mulai diproduksi dan diperkenalkan secara komersil. [sunting]Mencuci tangan dengan tisu basah

Rediwipes tisu basah yang dinyatakan dapat membunuh bakteri E-coli dan Salmonella Tisu basah diperkenalkan pada awalnya untuk membersihkan tidak hanya tangan, tetapi juga kotoran bayi, permukaan meja, dan di AS dianjurkan untuk peralatan rumah tangga laiinya. Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC) (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular) di Amerika serikat sebayak 76 juta dari 300 juta orang yang tinggal di AS sakit setiap tahunnya karena penyakit yang dibawa bersamaan dengan masuknya

makanan. Sebanyak 300.000 masuk rumah sakit dan dan setiap tahun 5.000 orang meninggal dunia karena penyakit dibawa bersamaan dengan masuknya makanan[7] . Tisu basah menjadi alternatif membersihkan tangan setelah mencuci tangan dengan sabun karena lebih praktis dan tidak memerlukan air. Beberapa tisu basah telah mengembangkan kandungan wewangian beralkohol, atau anti bakteri, ataupun minyak almond untuk menjaga kulit tangan agar tidak terasa kering. Namun menurut dr. Handrawan tisu basah tidak baik untuk mencuci tangan karena hanya mengembalikan kuman bolak-balik di tangan [8]. Dalam beberapa kasus khusus, sebuah perusahaan di AS mengeluarkan tisu basah yang berlabel Rediwipes yang menyatakan dapat membunuh 99.9 persen bakteri yang terdapat dirumah termasuk bakteri Salmonella dan E. coli. Tisu ini dianjurkan untuk digunakan dalam membersihkan tangan dan peralatan dapur lainnya sebelum masak agar mencegah kontaminasi bakteri silang antara tangan, bahan masakan, dan peralatan dapur sehingga tidak menyebar

Mencuci tangan dengan sabun Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa

Mencuci tangan dengan sabun

Lekukan sidik jari adalah contoh bagaimana partikel partikel dapat terperangkap di antara lekukan kulit pada telapak tangan, dan tetap tidak terlihat oleh mata.

Poster mencuci tangan dengan sabun

Anak-anak SD belajar mempraktikkan mencuci tangan dengan sabun yang benar di dalam kelas Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia untuk menjadi bersih dan memutuskan mata rantai kuman. Mencuci tangan dengan sabun dikenal juga sebagai salah satu upaya pencegahan penyakit. Hal ini dilakukan karena tangan seringkali menjadi agen yang membawa kuman dan menyebabkan patogen berpindah dari satu orang ke orang lain, baik dengan kontak langsung ataupun kontak tidak langsung (menggunakan permukaan-permukaan lain seperti handuk, gelas). Tangan yang bersentuhan langsung dengan kotoran manusia dan binatang, ataupun cairan tubuh lain (seperti ingus, dan makanan/minuman yang terkontaminasi saat tidak dicuci dengan sabun dapat memindahkan bakteri, virus, dan parasit pada orang lain yang tidak sadar bahwa dirinya sedang ditularkan [1]) PBB telah mencanangkan tanggal 15 Oktober sebagai Hari Mencuci Tangan dengan Sabun Sedunia. Ada 20 negara di dunia yang akan berpartisipasi aktif dalam hal ini, salah satu di antaranya adalah Indonesia. Daftar isi [sembunyikan]

1 Sabun untuk mencuci tangan


o o

1.1 Kesadaran masyarakat untuk mencuci tangan dengan sabun 1.2 Jenis sabun untuk mencuci tangan

2 Mencegah penyakit

2.1 Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan mencuci tangan dengan sabun

3 Perilaku dan penelitian tentang mencuci tangan dengan sabun di dunia 4 Referensi 5 Pranala luar [sunting]Sabun untuk mencuci tangan Mencuci tangan saja adalah salah satu tindakan pencegahan yang menjadi perilaku sehat dan baru dikenal pada akhir abad ke 19. Perilaku sehat dan pelayanan jasa sanitasi menjadi penyebab penurunan tajam angka kematian dari penyakit menular yang terdapat pada negaranegara kaya (maju) pada akhir abad 19 ini. Hal ini dilakukan bersamaan dengan isolasi dan pemberlakuan teknik membuang kotoran yang aman dan penyediaan air bersihdalam jumlah yang mencukupi. Mencuci tangan dengan air saja lebih umum dilakukan, namun hal ini terbukti tidak efektif dalam menjaga kesehatan dibandingkan dengan mencuci tangan dengan sabun. Menggunakan sabun dalam mencuci tangan sebenarnya menyebabkan orang harus mengalokasikan waktunya lebih banyak saat mencuci tangan, namun penggunaan sabun menjadi efektif karena lemak dan kotoran yang menempel akan terlepas saat tangan digosok dan bergesek dalam upaya melepasnya. Didalam lemak dan kotoran yang menempel inilah kuman penyakit hidup. Efek lainnya adalah, tangan menjadi harum setelah dicuci dengan menggunakan sabun dan dalam beberapa kasus, tangan yang menjadi wangilah yang membuat mencuci tangan dengan sabun menjadi menarik untuk dilakukan. [sunting]Kesadaran masyarakat untuk mencuci tangan dengan sabun Ditempat tempat dimana mencuci tangan merupakan praktik umum yang dilakukan sehari-hari, dan banyak terdapat sabun dan air bersih, orang tidak menyadari untuk mencuci tangannya dengan sabun. Sebuah penelitian di Inggris mengungkapkan bahwa hanya separuh orang yang benar-benar mencuci tangannya setelah membuang hajat besar/ kecil. Penelitian lain di Amerika Serikat pada dokter-dokter disana terungkap bahwa dokter banyak lupa mencuci tangannya setelah menangani pasien satu dan berganti ke pasien lainnya dengan frekuensi yang cukup tinggi. Para staf kesehatan sepenuhnya mengerti betapa pentingnya mencuci tangan dengan sabun, namun hal ini tidak dilakukan karena: ketidadaan waktu (tidak sempat), kertas untuk pengeringnya kasar, penggunaan sikat yang menghabiskan waktu dikeringkan sehingga merepotkan.
[2]

dan

lokasi wastafel yang jauh dimana tangan harus berkali-kali dicuci menggunakan sabun dan

Pencucian tangan khusus dalam lingkungan medis biasanya membutuhkan banyak sekali sabun dan air untuk memperoleh busa dan saat telapak tangan digosok secara sistematis dalam kurun waktu 15-20 detik dengan teknik mengunci antar tangan, setelah tangan dikeringkan pun para tenaga medis tidak diperkenankan untuk mematikan air atau membuka pegangan pintu, apabila hal ini mereka harus lakukan, tangan harus dilidungi dengan kertas tisyu atau handuk kering bersih [3]. Pada lingkungan pemukiman yang padat dan kumuh, kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dengan benar dapat menurunkan separuh dari penderita diare. Penelitian ini dilakukan di Karachi, Pakistan dengan intervensi pencegahan penyakit dengan melakukan kampanye mencuci tangan dengan sabun secara benar yang intensif pada komunitas secara langsung. Komunitas yang mendapatkan intervensi dan komunitas pembanding yang mirip yang tidak mendapatkan intervensi menunjukkan bahwa jumlah penderita diare berkurang separuhnya. Keterkaitan perilaku mencuci tangan dengan sabun dan penyakit diare, penelitian intervensi, kontrol kasus, dan lintas sektor dilakukan menggunakan data elektronik dan data yang terkumpul menunjukkan bahwa risiko relatif yang didapat dari tidak mencuci tangan dari percobaan intervensi adalah 95 persen menderita diare, dan mencuci tangan degan sabun dapat mengurangi risiko diare hingga 47 persen [4]. [sunting]Jenis sabun untuk mencuci tangan Segala jenis sabun dapat digunakan untuk mencuci tangan baik itu sabun (mandi) biasa, sabun antiseptik, ataupun sabun cair. Namun sabun antiseptik/ anti bakteri seringkali dipromosikan lebih banyak pada publik. Hingga kini tidak ada penelitian yang dapat membuktikan bahwa sabun antiseptik atau disinfektan tertentu dapat membuat seseorang rentan pada organisme umum yang berada di alam[5]. Perbedaan antara sabun antiseptik dan sabun biasa adalah, sabun ini mengandung zat anti bakteri umum seperti Triklosan yang memiliki daftar panjang akan resistensinya terhadap organisme tertentu. Namun zat ini tidak resisten untuk organisme yang tidak terdapat didaftar, sehingga mereka mungkin tidak seefektif apa yang diiklankan[6]. [sunting]Mencegah penyakit

Diagram F transmisi penyakit diambil dari sumber: Wagner dan Lanoix Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu cara paling efektif untuk mencegah penyakit diare dan ISPA, yang keduanya menjadi penyebab utama kematian anak-anak. Setiap tahun, sebanyak 3,5 juta anak-anak diseluruh dunia meninggal sebelum mencapai umur lima tahun karena penyakit diare dan ISPA. Mencuci tangan dengan sabun juga dapat mencegah infeksi kulit[7], mata [7], cacing yang tinggal di dalam usus [7], SARS, dan flu burung[8]. Pada sebuah penelitan yang dipublikasikan Jurnal Kedokteran Inggris (British Medical Journal) pada November 2007 menyatakan bahwa mencuci tangan dengan sabun secara teratur dan menggunakan masker, sarung tangan, dan pelindung, bisa jadi lebih efektuf untuk menahan penyebaran virus ISPA seperti flu dan SARS. Temuan ini dipublikasikan setelah Inggris mengumumkan bahwa mereka menggandakan obat-obatan anti virus sebagai persiapan pandemik flu yang mungkin terjadi dimasa depan. Berdasarkan 51 riset, peneliti menemukan bahwa pendekatan melalui perlindungan fisik yang murah sebaiknya diberikan prioritas dalam rencana nasional mengatasi pandemik flu, saat bukti-bukti banyak menunjukkan bahwa penggunaan vaksin dan obat-obatan anti virus tidak efisien untuk menghentikan penyebaran influenza. Ke 51 penelitian ini membandingkan intervensi untuk mencegah penularan virus ISPA dari binatang ke manusia atau manusia ke manusia dengan isolasi, karantina, menjauhkan diri secara sosial, perlindungan diri dan perlindungan melalui perilaku sehat, intervensi lainnya hingga tidak melakukan apapun juga. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa secara individual mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker, sarung tangan dan pelindung lebih

efektif untuk menahan laju penyebaran virus ISPA, dan lebih efektif lagi bila dikombinasikan. Para peneliti juga akan mengadakan evaluasi lanjutan akan kombinasi manakah yang terbaik untuk diterapkan. Penelitian lainnya yang dibulikasikan oleh Cochrane Library journal pada Oktober 2007 menemukan bahwa mencuci tangan dengan air dan sabun adalah cara yang sederhana dan efektif untuk menahan virus ISPA, mulai dari virus flu sehari-hari hingga virus pandemik yang mematikan [9]. Sebuah penelitian lain tentang kebijakan kesehatan yang dilakukan oleh Bank Dunia menunjukkan bahwa perilaku sehat seperti mencuci tangan dengan sabun kurang dipromosikan sebagai perilaku pencegahan penyakit, dibandingkan promosi obat-abatan flu oleh staf kesehatan. Hal ini diperparah apabila lokasi penduduk terpencil dan sulit terjangkau media cetak maupun elektronik (seperti radio dan TV) [10]. [sunting]Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan mencuci tangan dengan sabun 1. Diare. Penyakit diare menjadi penyebab kematian kedua yang paling umum untuk anakanak balita. Sebuah ulasan yang membahas sekitar 30 penelitian terkait menemukan bahwa cuci tangan dengan sabut dapat memangkas angka penderita diare hingga separuh [11]. Penyakit diare seringkali diasosiasikan dengan keadaan air, namun secara akurat sebenarnya harus diperhatikan juga penanganan kotoran manusia seperti tinja dan air kencing, karena kuman-kuman penyakit penyebab diare berasal dari kotoran-kotoran ini. Kuman-kuman penyakit ini membuat manusia sakit ketika mereka masuk mulut melalui tangan yang telah menyentuh tinja, air minum yang terkontaminasi, makanan mentah, dan peralatan makan yang tidak dicuci terlebih dahulu atau terkontaminasi akan tempat makannya yang kotor. Tingkat kefektifan mencuci tangan dengan sabun dalam penurunan angka penderita diare dalam persen menurut tipe inovasi pencegahan adalah: Mencuci tangan dengan sabun (44%), penggunaan air olahan (39%), sanitasi (32%), pendidikan kesehatan (28%), penyediaan air (25%), sumber air yang diolah (11%)[12] 2. Infeksi saluran pernapasan adalah penyebab kematian utama untuk anak-anak balita. Mencuci tangan dengan sabun mengurangi angka infeksi saluran pernapasan ini dengan dua langkah: dengan melepaskan patogen-patogen pernapasan yang terdapat pada tangan dan permukaan telapak tangan dan dengan menghilangkan patogen (kuman penyakit) lainnya (terutama virus entrentic) yang menjadi penyebab tidak hanya diare namun juga gejala penyakit pernapasan lainnya. Bukti-bukti telah ditemukan bahwa praktik-praktik menjaga kesehatan dan kebersihan seperti - mencuci tangan sebelum dan sesudah makan/ buang air besar/kecil - dapat mengurangi tingkat

infeksi hingga 25 persen [7]. Penelitian lain di Pakistan menemukan bahwa mencuci tangan dengan sabun mengurangi infeksi saluran pernapasan yang berkaitan dengan pnemonia pada anak-anak balita hingga lebih dari 50 persen[13]. 3. Infeksi cacing, infeksi mata dan penyakit kulit, . Penelitian juga telah membuktikan bahwa selain diare dan infeksi saluran pernapasan penggunaan sabun dalam mencuci tangan mengurangi kejadian penyakit kulit; infeksi mata seperti trakoma, dancacingan khususnya untuk ascariasis dan trichuriasis. [sunting]Perilaku dan penelitian tentang mencuci tangan dengan sabun di dunia

Peternakan kuman, ilustrasi untuk mencuci tangan dengan sabun Berbagai macam masyarakat di dunia mencuci tangan dengan sabun untuk alasan yang berbeda-beda, walaupun pada umumnya perilaku mencuci tangan dengan sabun itu secara luas diketahui untuk membersihkan tangan dari kuman namun perilaku ini tidak otomatis dilakukan untuk tujuan tersebut.

Sebuah studi awal dengan pendekatan kualitatif di Kerala, India menunjukkan bahwa orang dewasa menginginkan tangan yang bersih atas dasar kenyamanan, tangan yang tidak bau, menunjukkan kecintaan mereka terhadap anak-anaknya, dan mempraktikkan tanggung jawab sosial mereka dalam masyarakat.

Di Ghana, tercatat 25 persen dari seluruh kematian yang dialami oleh balita adalah diakibatkan oleh diare, penyakit ini juga menjadi tiga besar penyakit yang diderita oleh anak-anak. Balita umumnya mengalami tiga hingga lima kali diare selama satu tahun dan

jumlah yang kurang lebih sama dialami oleh penderita penyakit infeksi pernapasan. Perhitungan ini berarti 9 juta kejadian penyakit diare dapat dicegah setiap tahunnya dengan mencuci tangan menggunakan sabun. Penduduk di Ghana adalah pengguna sabun yang aktif, mereka membeli banyak sabun untuk kebutuhan sehari-harinya. Namun hampir seluruh sabun digunakan untuk mencuci piring dan mandi. Pada penelitian mendasar yang dilakukan di Ghana, 75 persen ibu rumah tangga mengaku telah mencuci tangan mereka dengan sabun, namun setelah dilakukan penelitian terstruktur, ternyata hanya 3 persen yang benar-benar melakukannya, sementara 32 persen hanya mencuci tangan mereka dengan air. Beberapa alasan mengapa ibu-ibu ini menggunakan sabun karena mereka merasa merasa tangan terasa bersih dan segar setelah kotoran terlepas, mencuci tangan ddengan sabun juga merupakan salah satu cara untuk menunjukkan bahwa mereka menyayangi anak mereka, dan pada saat yang sama meningkatkan status sosial mereka. Kampanye mencuci tangan dengan sabun dimulai pada tahun 2003 di Ghana melibatkan masyarakat dan pihak swasta (Procter & Gamble) dan pada tahun 2007 menunjukkan 13 persen kenaikan perilaku mencuci tangan dengan sabun setelah menggunakan toilet dan 41 persen kenaikan perilaku mencuci tangan dengan sabun sebelum makan [14].

Indonesia perilaku sanitasi pada umumnya diperkenalkan melalui program pemerintah pada tahun 1970, dimana masyarakat diajarkan untuk menggunakan MCK dan mandi dua kali sehari (Lumajang, Jawa). Lalu program ini dilanjutkan dengan memperkenalkan perilaku sehat mencuci tangan dengan sabun sebelum makan di sekolah-sekolah dasar. Guru dan staf kesehatan bersama membuat tempat air (dari kaleng cat bekas atau ember plastik, apapun yang tersedia) untuk digunakan oleh anak-anak. Lalu para staf kesehatan melatih guru untuk memeriksa kebersihan para muridnya. Di Pakel, Lumajang, guru juga menyimpan catatan kebersihan anak didiknya untuk melihat apakah perilaku mereka berubah, dalam catatan terlihat bahwa selain penurunan tingkat absensi (tidak sekolah), kini anak-anak juga menjadi rajin beribadah tengah hari karena tersedianya air untuk wudhu, yang sebelumnya tidak bisa mereka lakukan karena kesulitan akses air. [15]. Di daerah lain di Indonesia perilaku mencuci tangan dengan sabun juga diperkenalkan melalui program dokter kecil di tahun 2007 [16]. Dalam sinetron Si Entong yang ditayang di TPI pada 31 Agustus 2008 [17], tampak Entong menjadi pelaku penyuluhan cilik mengajak masyarakat untuk mencuci tangan di pos kesehatan di kediamannya. Perilaku mencuci tangan dengan sabun untuk memutus mata rantai penularan penyakit juga menjadi salah satu strategi nasional oleh Departemen Kesehatan dengan tujuan membangun masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat. Strategi STBM ini juga merupakan implementasi strategi utama

Departemen Kesehatan yaitu untuk memobilisasi dan memberdayakan masyarakat agar memilih hidup sehat [18].

Pada sebuah penelitian di Filipina yang dipublikasikan oleh Bank Dunia pada tahun 2008 perilaku praktik-pratek kesehatan yang baik, seperti mencuci tangan dengan sabun dapat mengurangi biaya-biaya kesehatan hingga US$455 juta dollar. Sumbangan terbesar dari angka ini terkait dengan angka kematian (yang menjadi biaya terbesar), dan biaya lainnya terkait dari dampak ekonomi seperti kehilangan kesempatan (waktu) untuk sekolah dan memperoleh pendidikan karena sakit, hilangnya waktu produktifitas anggota keluarga karena harus mengurus penderita, biaya-biaya yang harus dibayar di fasilitas kesehatan termasuk biaya administrasi, obat, penanganan kesehatan, dan transportasi. [19].

Pakistan Upaya mensosialisasikan perilaku sehat sanitasi dan mencuci tangan dengan sabun di Nigeria dimulai oleh sebuah program yang diprakarsai oleh UNICEF dengan menggunakan anak sekolah sebagai agen perubahan. Dalam membentuk perilaku sanitasi mandiri dan pengetahuan akan hidup yang bersih dan sehat anak-anak sekolah dirangsang untuk membentuk kelompok kelompok sekolah seperti klub sehat & hak untuk anak, yang melibatkan orang tua dan mengajak partisipasi komunitas di desa untuk ikut serta dalam proyek-proyek sanitasi. Salah satu sekolah memprakarsai Klub Lingkungan Sehat dimana para murid mempromosikan perilaku mencuci tangan dengan sabun untuk komunitas dan memperkenalkan teknik-teknik untuk menjaga kebersihan air dalam penggunaannya seharihari di rumah dan berusaha agar pengetahuan untuk hidup bersih ini diterapkan dirumah. Dengan pertolongan dari guru-guru sekitar 12 anak perempuan dan 18 anak lelaki yang mendirikan klub lalu mengoperasikan dan merawat fasilitas klub serta mengawasi penggunaan sumur bor. Klub tersebut membiayai aktivitasnya dengan menjual ember plastik dan bejana tembikar yang dilengkapi dengan keran. Dua tahun setelah intervensi ini, perilaku mencuci tangan dengan sabun meningkat hingga 95 persen. Guru mulai melaporkan bahwa para murid datang kesekolah dalam keadaan bersih, dan kasus cacingan serta penyakit-penyakit kulit lainnya berkurang. Tidak hanya itu, angka kehadiran murid pun naik dengan teratur per tahunnya, dari 320 murid ketika program pertama kali diperkenalkan, hingga 538 murid pada tahun 2001.

Cegah Hepatitis A dengan Sering Mencuci Tangan

Hepatitis A sangat berhubungan dengan pola hidup yang bersih. Penularan virus ini pada umumnya melalui virus yang ditemukan pada tinja. Hepatitis A juga dapat ditularkan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Meskipun tidak begitu berbahaya seperti hepatitis b atau c, namun penyakit ini bisa menyebabkan kanker hati. Yang membahayakannya lagi adalah sampai saat ini masih belum ditumukannya pengobatan yang spesifik untuk penyakit yang satu ini. Tapi jika pasien yang terkena penyakit mampu merawat tubuhnya hingga bersih dan tidak adanya komplikasi, maka penyakit ini akan sembuh dalam satu-dua bulan. Salah satu upaya untuk mencegah terkena virus ini adalah dengan mencuci tangan dengan sabun, karena dengan tubuh yang higienis dan sanitasi yang baik akan membunuh virus penyakit ini. Upaya pencegahan selanjutnya adalah dengan diberikan vaksinasi yang bisa dilakukan hingga orang-orang yang memiliki resiko terkena hepatitis A tinggi.

Bisakah "Hand Sanitizer" Gantikan Cuci Tangan?


Penulis : Natalia Ririh | Rabu, 8 Agustus 2012 | 11:00 WIB

Dibaca: 4325

Komentar: -

Share:

SHUTTERSTOCK

Tuangkan hand sanitizer ke telapak tangan dalam jumlah cukup banyak untuk membuat tangan basah ketika digosok.

TERKAIT:

Gerakan Cuci Tangan untuk Tangkal Hepatitis A Agar Steril, Cuci Tangan Bisa Sampai 20 Kali "Sneeze Efect" di Toilet, Apa Itu? Jaga Kebersihan Tangan demi Kesehatan Kebiasaan Cuci Tangan Masih Rendah JAKARTA, KOMPAS.com - Perkembangan teknologi semakin mempermudah aktivitas seseorang, tak terkecuali dalam urusan cuci tangan. Produk pembersih tangan atau disebut hand sanitizer pun diperkenalkan untuk mempermudah diri saat membersihkan tangan. Karena praktis, orang terkadang lebih senang memakai produk pembersih tangan ketimbang mencuci tangannya dengan sabun. Apakah produk ini mampu menggantikan peranan cuci tangan dengan sabun? Ahli mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) R. Fera Ibrahim saat ditemui di Jakarta, Senin (6/8/2012) mengatakan membersihkan tangan menggunakan hand sanitizer hanya bersifat melumpuhkan kuman. Sedangkan, cuci tangan pakai sabun dapat membuat kuman lepas dari kulit dan larut bersama air yang mengalir. Dengan cuci tangan, proses penyebaran kuman patogen ke dalam tubuh pun terputus.

"Hand sanitizer itu diperbolehkan untuk membersihkan tangan. Dengan catatan tangan tidak dalam keadaan sangat kotor. Kalau kotor sekali maka harus mencuci tangan menggunakan sabun. Jika hanya dengan pembersih tangan, kumannya masih ada di tangan," katanya. Kondisi tangan tidak terlalu kotor misalnya setelah mengetik di depan komputer atau laptop, berjabat tangan atau setelah membaca buku. Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Premiere Bintaro T. Bahdar Johan menambahkan, saat proses mencuci tangan dengan sabun, keberadaan air mengalir sangatlah penting. Apabila membilas tangan menggunakan wadah misalnya baskom, kuman masih berpotensi menempel di tanga. Tetapi, dengan diguyur maka kuman akan lebih cepat hilang. Cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, menurutnya, paling baik dilakukan sekitar 20 detik. Proses cuci tangan dengan sabun meliputi, tangan dibasahi air kemudian diberi sabun. Lalu, seluruh bagian tangan dibersihkan mulai dari telapak tangan, punggung tangan, sela-sela jari, dan kuku. Selanjutnya, tinggal membilas seluruh bagian yang terkena sabun dengan air.

Daftar pustaka http://childrengrowup.wordpress.com/2012/09/07/tip-cara-mencuci-tangan-yang-baikdan-benar/ http://www.google.co.id/webhp?source=search_app#hl=id&sclient=psyab&q=mencuci+tangan&oq=mencuci+tangan&gs_l=hp.1.0.0l4.1306.6668.0.12337.16.9. 1.6.6.1.365.2485.27j2.9.0...0.0...1c.1.PtJ0AI1dcP8&pbx=1&bav=on.2,or.r_gc.r_pw.r_qf.&fp=63a318f5e40a 351&biw=1024&bih=653 http://id.wikipedia.org/wiki/Mencuci_tangan http://id.wikipedia.org/wiki/Mencuci_tangan_dengan_sabun http://forum.kompas.com/kesehatan/88162-cegah-hepatitis-dengan-sering-mencucitangan.html